Anda di halaman 1dari 15

PERPUSTAKAAN SEBAGAI PENGGERAK MiNAt Baca masyarakat

SaraSehan Sehari : Waktunya yang Muda Bicara

8 Februari 2012

Oleh : Heny Rahmawati Mahasiswi Program Profesi FTUI Alumni SMP Plus Berkualitas Lengkong Mandiri Lengkong Wetan, Serpong, Tangeran Selatan

KATA PENGANTAR
Perpustakaan adalah pusat dari gudang ilmu pengetahuan yang sering diabaikan, terutama jika minat baca dari suatu kelompok masyarakat tidak membudaya. Hal ini telah lama menjadi perhatian dari Yayasan bangun Bina Anak Indonesia (YBBAI) yang pada awalnya memang terpusat pada penyediaan fasilitas membaca dengan mendirikan perpustakaan-perpustakaan di beberapa tempat. Sebagai Pilot Project, YBBAI membantu 2 sekolah dasar di Bandung yaitu di SDN Banjar Sari dan SDN Sukaluyu dengan memberikan bantuan cuma-cuma berupa meja-meja serta rak-rak buku bagi kedua sekolah dasar tersebut. Tidak disangka, antusias murid dan seluruh jajaran pengelola serta staff pengajar sangatlah besar. Peresmian perpustakaan kedua sekolah dasar tersebut dilaksanakan pada hari yang sama, dengan diliput oleh sejumlah media ibu kota. Berawal dari hal ini, YBBAI semakin yakin bahwa sebenarnya minat baca dikalangan murid sekolah sangat besar, asal perpustakaan perpustakaan sekolah berbenah diri menjadi sebuah tempat yang nyaman bagi para murid untuk menikmati bacaan bacaan yang berguna. Beberapa tahun kemudian, YBBAI berkembang dengan konsep yang lebih matang. Dalam pendirian Kampung Pendidikan Mandiri di Lengkong Wetan, disediakan perpustakaan bagi masyarakat di desa ini. Adapun hal ini dimaksudkan agar warga desa dapat memiliki akses mudah dan murah atas buku buku bacaan bermutu. Sehingga terjadi peningkatan SDM di Lengkong Wetan, karena pada awalnya desa ini minus fasilitas untuk membaca. Realita miris, yang menjadi perhatian YBBAI adalah tingkat/level SDM warga desa ini yang rendah. Padahal desa ini berbatasan langsung dengan kompleks perumahan modern oleh BSD City dan Bintaro Jaya. BSD City dan Bintaro Jaya telah eksis selama lebih dari 20 tahun, tetapi hal ini tidaklah menyebabkan warga desa Lengkong Wetan bermayoritas sebagai buruh dan petani. kemudian menjadi lebih baik tingkat penghidupannya. Hingga kini, kebanyakan warga asli desa ini tetap

Berdasarkan hal tersebut, maka YBBAI dengan tekad yang semakin kuat berhasil membangun satu perpustakaan knock down di sebelah SDN 02 Lengkong Wetan. Ternyata kemudian konsep berkembang lagi, dengan adanya permohonan warga setempat agar di desa tersebut disediakan juga gedung sekolah bagi putra-putri mereka. Dan kini dengan bantuan dari berbagai pihak, juga atas dukungan warga maka SMP dan SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri telah berjalan sekian tahun. Alumni dari sekolah binaan YBBAI ini kini telah berhasil menduduki bangku perkuliahan di berbagai universitas di Bandung dan Jakarta. Dengan demikian, apa yang direncanakan oleh YBBAI sebagaimana tertuang dalam visi dan misinya tidak lagi merupakan sebuah impian belaka. YBBAI telah melahirkan karya nyata sebagai buah dari kekuatan dan kebulatan tekadnya dalam memberikan kesempatan bagi putra-putri desa Lengkong Wetan untuk bersama dengan anak-anak lainnya di Indonesia menghadapi era globalisasi.

DAFTAR ISI

Cover............................................................................................................................................. i Kata Pengantar .............................................................................................................................. ii Daftar Isi........................................................................................................................................ iv BAB I Pendahulan .......................................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1 1.2 Maksud dan Tujuan .................................................................................................... 2 1.2.1 1.2.2 Maksud .................................................................................................... 2 Tujuan ..................................................................................................... 2

1.3 Identifikasi Masalah .................................................................................................... 3 BAB II Pembahasan........................................................................................................................ 4 2.1 Gudang ilmu yang diabaikan ....................................................................................... 4 2.2 Memasyarakatkan perpustakaan ................................................................................ 6 2.3 Peran pustakawan dalam mengelola perpustakaan .................................................... 6 2.4 Upaya membudayakan membaca ............................................................................... 8 BAB III Penutup ............................................................................................................................. 9 3.1 Kesimpulan ................................................................................................................ 9 3.2 Saran .......................................................................................................................... 10

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan.Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk membentuk bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat terbentuk jika dan minat baca sudah menjadi kebiasaan. Tetapi, sudah menjadi rahasia umum, bahwa kebiasaan masyarakat kita adalah kebiasaan menonton tayangan sinetron dan bermain game di tempat-tempat penyewaan. Ini adalah budaya yang tidak mendidik, terutama karena banyaknya waktu yang terbuang Demikian, sehingga dilain pihak kita harus meningkatkan budaya baca untuk menggunakan waktu luang .Apabila membaca sudah merupakan budaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan akan menjadi kebutuhan penting. Dalam dunia pendidikan walaupun akses pustaka melalui internet sudah relative lazim digunakan, buku-buku terbukti tetap memiliki fungsi penting sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi..Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan

sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

1.1.

Maksud dan Tujuan


1.1.1. Maksud warda desa Maksud dari makalah ini adalah menghimbau

Lengkong Wetan, agar membudayakan minat baca melalui penggunaan perpustakaan yang telah disediakan oleh YBBAI di desa ini. Dengan demikian, mutu SDM di Lengkong Wetan dapat ditingkatkan. 1.1.2. Tujuan pentingnya keberadaan perpustakaan

Tujuan saya membuat makalah ini adalah: 1. Mengentengahkan dalam fungsinya untuk meningkatkan sumber daya manusia. 2. Agar perpustakaan di Kampung Pendidikan Mandiri dapat lebih dijadikan perpustakaan yang professional dalam manajemennya. 3. Untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya budaya membaca bagi peningkatan SDM. 4. Menyadarkan kepada masyarakat, bahwa minat baca patut diangkat sebagai budaya, dilaksanakan diwaktu senggang untuk meningkatkan pengetahuan atas ilmu-ilmu dasar, teknologi dan pengetahuan umum. 5. Mengetengahkan kualitas tugas serta dan yang fungsi bertugas dari perbaikan di pustakawan/pustakawati, mendukung

pustakawan/pustakawati

perpustakaan Kampung Pendidikan Mandiri.

1.3.

Identifikasi Masalah
Sesuai dengan judul makalah Perpustakaan Sebagai Penggerak Minat Baca, maka masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut :

1. Mengetengahkan

kaitan

antara

minat

baca

dengan

peningkatan SDM khususnya di Lengkong Wetan. 2. Bagaimana agar perpustakaan baca masyarakat? 3. Bagaimana mengembangkan perpustakaan yang ada di Desa Lengkong untuk masyarakat sekitar? dapat meningkatkan minat

BAB II PEMBAHASAN
2.1 GUDANG ILMU YANG DIABAIKAN Perpustakaan disebut juga gudang ilmu karena di dalam perpustakaan terdapat beragam buku yang berbeda pembahasan. Jika kita bisa memanfaatkan buku dalam perpustakaan dengan membaca, kita akan mempunyai wawasan yang luas tentang pengetahuan yang belum kita ketahui sebelumnya.Perpustakaan sangat bermanfaat bagi anak sekolah, mahasiswa dan masyarakat umum karena di perpustakaan ada pembahasan yang tidak ada dalam mesin pencari seperti Google.Walaupun sekarang serba teknologi, tetapi perpustakaan tetap penting dan bermanfaat. Kisah pilu dunia pustaka seakan tiada habisnya. Terakhir, Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin terancam gulung tikar karena masalah subsidi terus menyusut (Jawapos, 31/3/2011). Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin Ajip Rosidi menyatakan akan menutup PDS itu karena kesulitan dana. Sebelumnya, Perpustakaan Bung Hatta di Yogyakarta yang menyimpan 40.000 buku juga ditutup dan bukunya dititipkan ke Universitas Gajah mada (Kompas, 27/3/2011). Kondisi seperti itu sama dengan kondisi yang tengah terjadi pada ribuan perpustakaan lain di tanah air kita. Hidup segan, mati tak tega.Budaya membaca agaknya masih belum bisa dibanggakan di negara kita, apalagi budaya menghargai bahan bacaan. Jika membaca saja belum membudaya, tentu tidak akan tercipta penghargaan terhadap bahan-bahan bacaan itu. Tidak adanya penghargaan terhadap bahan bacaan akan menyebabkan rendahnya minat kita menjaga dan mengembangkan bahan bacaan. Inilah yang menyebabkan pengelolaan perpustakaan kita apa adanya. Perpustakaan memiliki potensi yang besar untuk mencerdaskan bangsa.Namun kenyataannya potensi itu tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.Pengelola perpustakaan, baik di tingkat sekolah, universitas, maupun

pemerintah daerah seringkali memandang keberadaan perpustakaan sebagai pelengkap saja.Akibatnya tidak ada keseriusan dalam mengembangkan budaya baca-tulis melalui perpustakaan. Tingginya penghargaan terhadap karya juga merupakan salah satu parameter keberhasilan penciptaan budaya membaca . Perpustakaan adalah salah satu sarana terbaik dalam meningkatkan budaya membaca tersebut.

Gambar 1. Perpustakaan Sekolah Perpustakaan sekolah sebagai pusat kegiatan belajar mengajar akan membantu program pendidikan untuk menyediakan sarana pengembangan wawasan dan penguasaan IPTEK serta mengembangkan kemampuan anak didik menggunakan sumber informasi. Bagi para pendidik , perpustakaan sekolah merupakan tempat untuk memperoleh sarana yang dapat membantu para pendidik dalam kegiatan mengajar, juga sebagai tempat untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Dengan kata lain Perpustakaan sekolah harus dapat membantu anak didik ataupun para pendidik dalam aktivitas belajar dan mengajar. Jadi, perpustakaan sekolah adalah bagian yang terintegrasi dengansarana edukatif lainnya.

2.2

MEMASYARAKATKAN PERPUSTAKAAN Perpustakaan adalah suatu wadah atau lembaga pengumpul informasi dan mengorganisasi seluruh informasi tersebut agar sistematis sehingga dapat

ditemukan kembali oleh masyarakat dengan mudah, cepat dan tepat. Masyarakat yang minus informasi-informasi terkini akan terhambat dalam aktifitas dan lamban berfikir, sehingga potensi sumber daya manusia di tanah air tetap rendah. Dengan demikian sangat penting adanya keberadaan perpustakaan di lingkungan masyarakat. Terutama karena perpustakaan bersifat dan berfungsi memberikan informasi. Disamping itu, perpustakaan adalah sebagai sarana belajar yang bisa digunakan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat dengan tanpa beban biaya tinggi. Fungsi perpustakaan selanjutnya mengajak masyarakat untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat di perpustakaan, misalnya mendiskusikan tema-tema tertentu yang aktual, memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi kalangan tertentu yang minim menggunakan referensi buku-buku bacaan, memotivasi dalam meningkatkan budaya baca masyarakat. Berbeda dengan informasi yang mudah diperoleh dari internet, maka sumber informasi berbasis perpustaan adalah lebih akurat dan lebih dapat dipercaya. 2.3 PERAN PUSTAKAWAN UNTUK MENGELOLA PERPUSTAKAAN Dalam memasyarakatkan perpustakaan, peran pustakawan sebagai pelaku kegiatan yang ada di perpustakaan sangat signifikan. Pustakawan harus aktif dalam mempromosikan perpustakaan dan meningkatkan budaya baca masyarakat.Pustakawan dan perpustakaan tidak boleh membuat jarak dengan masyarakat, bahkan harus menyatu aktif bersama masyarakat. Pustakawan harus bisa berperan sebagai aktivis masyarakat, yaitu sebagai penggerak pembelajaran, sebagai asisten informasi bagi masyarakat dan penggerak masyarakat dalam mendirikan perpustakaan. Sebagai mempunyai penggerak ketrampilan pembelajaran mengajak masyarakat, masyarakat pustakawan dalam harus

peningkatan

pengetahuan, misalnya hal-hal berikut: 1. Mengajak masyarakat untuk belajar melalui perpustakaan, terutama masyarakat umum yang tidak dapat belajar di lembaga pendidikan formal. Memotivasi kesadaran masyarakat untuk belajar dimana saja

dan kapan saja, tidak harus di lembaga pendidikan formal. Dan, menumbuhkembangkan budaya dan minat baca masyarakat. 2. Aktif mempromosikan pentingnya keberadaan perpustakaan, misalnya mengajak masyarakat berdiskusi, mengadakan bedah buku, membimbing masyarakat cara penelusuran informasi di perpustakaan, dan mengkampayekan perpustakaan sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat. 3. Pustakawan dituntut bisa menjadi pengubah kesadaran masyarakat, dari masyarakat yang tidak tahu tentang buku menjadi masyarakat yang cinta buku. Dengan demikian, maka pustakawan dan pustakawati seharusnya memiliki kecenderungan sikap sebagaimana dijabarkan di bawah ini : Gerak cepat dan dinamis dalam menyesuaikan diri terhadap pesatnya perkembangan informasi. Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, lisan maupun tulisan. Mampu memberikan rujukan bahan-bahan bacaan kepada pemakai jasa. Cakap dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi bukubuku bacaan. Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar laku dijual dan layak pakai. Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekerjasama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi (Profesionalisme Pustakawan di Era Global, 2001).

2.4

UPAYA MEMBUDAYAKAN MEMBACA Upaya yang telah dilakukan untuk membudayakan membaca yaitu : 1. Diskusi dan seminar Diskusi dan seminar sebagai usaha untuk meningkatkan minat baca lazim diselenggarakan. Tetapi tidak sekerap peluncuran buku-buku tertentu yang ditujukan bagi kepentingan benefit pihak penerbit. Sudah selayaknya pemerintah melalui badan-badan yang terkait pendidikan, mengangkat hasil-hasil tulisan dari kalangan akademisi untuk naik seminar dan diskusi.

Terutama bagi tulisan yang memiliki tema tema aktual dari berbagai aspek untuk mengangkat daya nalar masyarakat. 2. Membentuk kelompok/organisasi Salah satu upaya pengentasan rendahnya minat baca masyarakat, beberapa kelompok profesi membentuk organisasi seprofesi dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca sesuai dengan bidang masingmasing. Misalnya para penerbit buku mendirikan organisasi Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), para tokoh buku mendirikan Gabungan Toko Buku Seluruh Indonesia (GATSBI), para pustakawan mendirikan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), kelompok perpustakaan mendirikan Klub Perpustakaan Indonesia (KPI), para pencita buku mendirikan Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM), kelompok peduli minat baca mendirikan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), kelompokkelompok organisasi lainnya lainnya, mendirikan telah berbagai organisasi. Lembaga dalam Sosial upaya Masyarakat (LSM), Yayasan-yayasan membaca dan buku serta berbagai menebar kegiatan-kegiatan meningkatkan minat baca.

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan dan Ringkasan
Berdasarkan uraian bahasan Perpustakaan sebagai Pengerak Potensi dan Pencerdasan Anak dapat disimpulkan bahwa : 1. Perpustakaan merupakan salah satu prasarana untuk meningkatkan SDM di Indonesia. SDM yang rendah terbukti ada hubungannya dengan rendahnya minat dan kemampuan membaca masyarakat. Rendahnya SDM pada akhirnya akan mempersulit Pemerintah sendiri untuk mengatasi kerentanan atas kesatuan dan persatuan bangsa. Ketidakmampuan masyarakat untuk mengerti nilai-nilai aktual dari permasalahan politik, ekonomi, sosial dan budaya berasal dari kurangnya minat baca SDM yang kurang menguasai ilmu pengetahuan dan masyarakat.

teknologi tidak akan mampu turut serta dalam era persaingan global. Jika ini masih berlangsung, maka kita tidak akan mampu menjadi tuan di tanah air sendiri. 2. Perpustakaan di sekolah-sekolah bukanlah fasilitas penunjang pendidikan, melainkan fasilitas essensial dimana terpusatnya sentra-sentra kegiatan pendidikan di sekolah tersebut. 3. Pengelolaan perpustakaan harus professional berdasarkan kaidah dan aturan universal. Sehingga tercapai tujuan dan fungsi-fungsi utama dari dibangunnya sebuah perpustakaan. 4. Perpustakaan dalam lingkup khusus diperuntukan bagi kalangan tertentu untuk memenuhi tujuan yang khusus pula. Sementara perpustakaan umum memiliki tujuan yang lebih luas yang diperuntukkan kegunaannya bagi masyarakat umum dari berbagai kalangan. Pendirian sebuah perpustakaan seharusnya menentukan terlebih dahulu target tujuan dan fungsi-fungsi yang ditawarkan oleh perpustakaan yang dibinanya. 5. Pustakawan atau pustakawati adalah pekerjaan yang harus dihargai dengan value/nilai tinggi. Karena pekerjaan ini menuntut tingkat ketelitian dan keperdulian tinggi, serta tanggung jawab besar juga

wawasan pengetahuan umum yang luas. secara akademis.

Dengan demikian seorang

pustakawan atau pustakawati juga harus seorang yang terdidik baik

3.2. Saran-Saran
Bertolak dari peranan perpustakaan yang begitu banyak sumbangsihnya dalam menggerakan minat baca masyarakat, maka penyusun mengajukan saran-saran terkait seperti yang tertuang selanjutnya di bawah ini : 1. Perpustakaan sekolah harus dikelola secara professional , mengikuti aturan/kaidah universal yang berlaku. Perpustakaan sekolah di SMP Plus BLM masih membutuhkan banyak perubahan dan tambahan hingga pengelolaannya dapat di masukkan ke dalam kelompok perpustakaan bermutu. 2. Terkait dengan point 1. diatas, pustakawan dan pustakawati di perpustakaan sekolah wajib mengikuti training pengelolaan perpustakaan yang diselenggarakan oleh pihak-pihak terkait. 3. Pihak-pihak pemerhati pendidikan selayaknya sering menyelenggarakan lomba mengarang untuk kalangan umum dan akademis dari berbagai level. Thema dan judul dapat ditentukan, dan menerbitkan hasil tulisan pemenang ke beberapa media cetak di ibukota. Imbalan yang menarik bagi pemenangnya, berupa tabungan dan kemudahan lainnya akan menggairahkan minat baca umum dan kalangan akademis. 4. Pemerintah Daerah sebaiknya memberlakukan program penilaian perpustakaan-perpustakaan sekolah di daerah operasionalnya masingmasing, dengan mengeluarkan sertifikat-sertifikat akreditasi. Dengan demikian pihak management sekolah akan terpacu untuk terus menjaga kualitas perpustakaan yang dibinanya. 5. Pemerintah dapat menunjang program giat membaca dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan peraturan-peraturan bagi pelaku-pelaku industri mendirikan dan membina setidaknya satu taman baca. domestik ataupun asing untuk wajib satu perpustakaan untuk umum atau

6. Perpustakaan down

Medco-YBBAI yang dibangun dengan system knock contoh murah dan mudah bagi pengadaan siap pakai. Dengan harga sekitar Rp

merupakan

pembangunan perpustakaan

100.000.000,-/buah sudah termasuk dengan biaya lainnya (tahun 2002), perpustakaan ini siap dipergunakan dalam waktu dua hari saja. 7. Budaya gemar membaca dapat didukung dengan pendirian taman bacataman baca di pusat-pusat keramaian umum di mana saja. Selayaknya bahkan di pusat pusat perbelanjaan seperti Mal dan Plaza yang banyak tersebar di ibu kota, disediakan tempat bagi penyelenggaraan taman baca. Dengan demikian sebaiknya ada perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Daerah terkait binaan dengan YBBAI pihak pengembang untuk menggalakan program gemar membaca. 8. Sekolah-sekolah sebaiknya mewajibkan pustakawan/pustakawati untuk aktualisasi diri dengan cara mengikuti berbagai seminar tentang pengelolaan perpustakaan. 9. Murid-murid SMP/SMK Plus BLM sebaiknya disarankan untuk menjadi anggota dari klub-klub baca yang tersedia, untuk itu perlu adanya dukungan dari pihak pengelola dan pelaksana pendidikan di sekolah ini.

**************