Anda di halaman 1dari 11

PRINSIP PERKEMBANGANMenurut Hurlock (1978) bahwa ada 10 fakta dasar mengenai perkembangan - yang biasanya disebut "prinsip-prinsip

perkembangan", yaitu : y y Prinsip pertama perkembangan adalah bahwa perkembangan menyangkut perubahan, tujuan perkembangan adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuan bawaan. Prinsip kedua perkembangan adalah bahwa perkembangan awal lebih penting daripada perkembangan selanjutnya, karena dasar awal sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan pengalaman. Apabila perkembangan membahayakan penyesuaian pribadi dan sosial anak, ia dapat diubah sebelum menjadi pola kebiasaan. Prinsip ketiga perkembangan menekankan kenyataan bahwa perkembangan tmbul dari interaksi kematangan dan belajar dengan kematangan yang menetapkan batas bagi perkembangan. Prinsip keempat perkembangan adalah bahwa pola perkembangan dapat diramalkan, walaupun pola yang dapat diramalkan ini dapat diperlambat atau dipercepat oleh kondisi lingkungan di masa pralahir dan pascalahir. Prinsip kelima perkembangan adalah bahwa pola perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang dapat diramalkan. Yang terpenting diantaranya ialah adanya persamaan pola perkembangan bagi semua anak; perkembangan berlangsung dari tanggapan umum ke tanggapan spesifik, perkembangan terjadi secara berkesinambungan, berbagai bidang berkembangan dengan kecepatan yang berbeda; dan terdapat korelasi dalam perkembangan. Prinsip keenam perkembangan adalah bahwa terhadap perbedaan individu dalam perkembangan yang sebagian karena pengaruh bawaan dan sebagian karena kondisi lingkungan. Ini berlaku baik dalam perkembangan fisik maupun psikologis. Prinsip ketujuh perkembangan adalah bahwa terdapat periode dalam pola perkembangan yang disebut periode pralahir, masa neonatus, masa bayi, masa kanak-kanak awal, akhir masa kanak-kanak dan masa puber. Dalam semua periode ini terdapat saat-saat keseimbangan dan ketidakseimbangan; serta pola perilaku yang normal dan yang terbawa dari periode sebelumnya biasanya disebut perilaku "bermasalah". Prinsip kedelapan perkembangan adalah adanya harapan sosial untuk setiap periode perkembangan. Harapan sosial ini berbentuk tugas perkembangan yang memungkinkan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa anak-anak mampu menguasai berbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik. Prinsip kesembilan perkembangan adalah bahwa setiap bidang perkembangan mengandung kemungkinan bahaya - baik fisik maupun psikologis - yang dapat mengubah pola perkembangan. Prinsip kesepuluh perkembangan adalah bahwa kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode dalam pola perkembangan. Tahun pertama kehidupan biasanya yang paling bahagia dan masa puber biasanya yang paling tidak bahagia.

y

y

y

y

y

y

y

y

Hamalik (2004) berpendapat bahwa ada tujuh prinsip dasar dalam perkembangan manusia, yaitu :

Sekalipun mungkin pola-pola kepribadian terbentuk pada usia sebelum sekolah. Gambaran yang jelas dari integrasi antara lain tampak dalam berbicara. bagian-bagian badan dapat dengan jelas dibeda-bedakan. tetapi perlu disadari bahwa perkembangan itu berlangsung seumur hidup. kognitif. Seorang anak kecil mula-mula mengalami kesulitan untuk mengucapkan suatu kata. Perkembangan adalah proses yang berlangsung secara teratur. konsep dan pengetahuan adalah contoh-contoh diferensiasi dan pengkhususan-pengkhususan. Yusuf (2008) menjabarkan prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut : y Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process). Perkembangan itu merupakan diferensiasi dan integrasi. Pola-pola tingkang laku berkembang secara berurutan. Setiap individu memiliki laju perkembangan sendiri-sendiri. yaitu tingkah laku yang terkoordinasi. Mula-mula bayi itu hana merupakan sebuah sel yang bulat. Pertumbuhan fisik pada usia sebelum lahir merupakan gambaran yang jelas dari diferensiasi. Laju perkembangan bersifat individual. Adapun integrasi. manifestasi sifat-sifat kepribadian mengalami perubahan selama manusia hidup. Perkembangan berlangsung secara terus menerus sejak masa konsepsi sampai mencapai kematangan atau masa tua. Kematangan berpengaruh terhadap hasil-hasil latihan. bahasa. saraf dan otak harus berkembang dulu sampai tingkatan tertentu. Selanjutnya integrasi terjadi. selangkah demi selangkah. menjulurkan lidahnya keluar. harmonis. Beberapa anak mencapai kematangan lebih awal daripada anak-anak lainnya. Perkembangan berlangsung lebih cepat pada tahun-tahun permulaan. artinya otot. Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau beajar sepanjang hidupnya. sosial emosional dan moral) saling mempengaruhi. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu*. Setiap tahapan perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya. Setiap aspek perkembangan individu (fisik. dan efisien terjadi bersama-sama dengan diferensiasi. Kemudian pada usia 9 minggu. sifat atau pengetahuan harus mempunya dasar-dasar yang mendahuluinya. y y . Perkembangan ketrampilan. ekspresi muka dan sebagainya. tatkala sudah menjadi embrio. Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi. motorik.y y y y y y Perkembangan sebagai fungsi interaksi antara organisme dengan lingkungan. Latihan dan pengajaran dapat berlangsung secara produktif jika pertumbuhan dalam diri individu kelak terjadi secara memadai. Setiap ketrampilan. dan kemudian ia mengucapkan suatu kata yang mungkin dapat kita pahami. dan ia menjadi seorang pembicara yang fasih tatkala ia mengucapakan kata-kata dibarengi dengan gerakan-gerakan tangan. Menurut aliran interactionist bahwa pembawaan menyediakan potensi-potensi yang berinteraksi dengan lingkungan yang dinamis. Perkembangan yang paling cepat terjadi pada tahun-tahun permulaan.

kita seharusnya menyadari betul hal ini dan menggunakan kesadaran ini untuk mengorganisasikan pengalamanpengalam belajar anak. 6. Karena dimensi-dimensi perkembangan tersebut berhubungan satu sama lain. dan dari tengah : paru-paru. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan * Yelon dan Weinsten (Yusuf. kemampuan mereka untuk menjelajahi lingkungan menjadi meluas dan pergerakan mereka ini. perkembangan manusia itu muai dari kepala ke kaki (cephalocaudal). misalnya. Maksudnya. Dimensi-dimensi perkembangan anak³fisik. Kostelnik. Ini berarti bahwa anggota tubuh individu itu akan dapat berfungsi setelah matang strukturnya. 2008) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan itu sebagai berikut : 1. 1. Perkembangan itu berlangsung dari konkret ke abstrak. jantung dan sebagainya ke pinggir : tangan (proximal-distal) 2. membantu anak-anak berkembang secara optimal dalam semua dimensi perkembangan dirinya. perkembangan itu berlangsung dari umum ke khusus (spesifik). bermanfaat untuk perencanaan kurikulum untuk berbagai kelompok usia anak. Chepalocaudal dan proximal-distal. Sebagai contoh. Soderman. Demikian juga perkembangan dalam keterampilan berbahasa mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk membangun hubungan-hubungan sosial dengan orang dewasa dan anak-anak yang lain. & Whiren 1993). 3. ketika para bayi mulai belajar berjalan.y y y Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. sosial. Perkembangan dalam satu dimensi dapat membatasi atau memfasilitasi perkembangan pada dimensi-dimensi lainnya (Sroufe. & DeHart 1992. Perkembangan itu terdiferensiasi. Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat) Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. dan spiritual³ berhubungan erat satu sama lain. Sebagai pendidik. pada gilirannya. Perubahan dalam satu dimensi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh dimensi lain. dan pada gilirannya keterampilan-keterampilan dalam interaksi sosial ini dapat mendukung atau menghambat perkembangan bahasa mereka. Struktur mendahului fungsi. kognitif. anak-anak batita (bayi sampai usia tiga tahun) dan anak usia prasekolah hampir pasti digerakan oleh kebutuhan untuk mendukung perkembangan . Kurikulum untuk bayi. 4. Maksudnya. Perkembangan itu berlangsung dari "outter control ke inner control" Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Tulisan berikut ini akan mencoba menjelaskan prinsip-prinsip penting dalam perkembangan anak. kesadaran akan adanya hubungan antar semua bagian perkembangan ini. 5. Cooper. Perkembangan itu berlangsung dari egosentrisme ke perspektivisme. emosi. mempengaruhi perkembangan kognitif mereka.

gaya belajar. kemudian mengharapkan mereka untuk menampilkan tugas-tugas perkembangan kelompok usia tersebut tanpa mempertimbangkan keragaman kemampuan adaptasi setiap individu anak. Penekanan perlakuan anak secara individual sesuai dengan keunikan masing-masing anak tidaklah sama dengan ´individualisme. latar belakang dan pengalaman keluarga. Gallahue 1993. keterampilan-keterampilan. sosial. Sementara untuk anak-anak usia sekolah dasar perencanaan kurikulum diarahkan sebagai usaha-usaha untuk membantu anak-anak mengembangkan pemahaman-pemahaman konseptual yang dapat diaplikasikan pada mata pelajaran yang dipelajari. 2. emosi. Semua anak memiliki kelebihan. Riset-riset perkembangan manusia menunjukkan bahwa tahapantahapan pertumbuhan dan perubahan anak usia 9 tahun pertama rentang kehidupan relatif stabil dan dapat diprediksikan tahapannya (Piaget 1952. Setiap anak adalah seorang pribadi unik dengan pola dan waktu pertumbuhan bersifat individual. sejumlah mungkin memiliki kebutuhan belajar dan perkembangan yang khusus. Pengetahuan mengenai perkembangan yang khas untuk setiap rentang usia anak membantu para orangtua atau pendidik untuk mempersiapkan lingkungan belajar dan merencanakan tujuantujuan kurikulum yang reaslistik dan pengalaman-pengalaman belajar yang tepat menurut perkembangan anak. bahasa. Keragaman individual paling tidak dalam dua makna: keragaman dari rata-rata/normatif arah perkembangan dan keunikan setiap anak sebagai individu (Sroufe. Perkembangan anak berlangsung dalam sebuah tahapan yang relatif teratur di mana kemampuan-kemampuan. Pengakuan bahwa keragaman individual bukan hanya diharapkan tapi juga dihargai menuntut kita sebagai orang dewasa ketika berinteraksi dengan anak-anak memperlakukan mereka secara tepat dengan keunikannya masing-masing. sebagaimana halnya untuk kepribadian. kebutuhan-kebutuhan. pengakuan ini menuntut kita untuk tidak menganggap anak hanya sebagai anggota kelompok usia. dan pengetahuanpengetahuan anak sebelumnya. Case & Okamoto 1996). & DeHart 1992). Erikson 1963. tetapi memiliki harapan-harapan yang kaku menurut norma kelompok tidak mencerminkan kenyataan yang terjadi bahwa adanya . dan pengetahuan-pengetahuan lanjut anak terbangun atas kemampuan-kemampuan. 3. dan kognitif³meskipun bagaimana perubahan-perubahan ini mewujud dan makna yang dilekatkan pada perubahan tersebut mungkin bervariasi menurut kontek budaya.yang sehat pada semua bagian diri anak. dan minatminat masing-masing. hendaknya mengantarkan kita pada kesadaran bahwa usia anak hanyalah sebuah gambaran kasar untuk kemasakan perkembangan anak. Pemahaman tentang keragaman yang luas bahkan pada anak-anak usia kronologis (usia yang dihitung sejak anak lahir) yang sama. temperamen. Dyson & Genishi 1993. termasuk untuk keberfungsian semua dimensi perkembangan dalam diri anak. Perubahan-perubahan yang dapat diramalkan ini terjadi pada semua bagian perkembangan³ fisik. keterampilan-keterampilan. Memiliki pengharapan tinggi terhadap anak adalah penting. Perolehan perkembangan bervariasi untuk setiap anak.µ Alih-alih demikian. Cooper.

. dengan implikasi-implikasi penting dan menetap terhadap kapasitas-kapasitas anak untuk belajar (Dana Alliance for Brain Initiatives 1996). keberhasilan mereka selanjutnya dalam belajar membaca sangat dipengaruhi oleh hal tersebut. Demikian juga. seperti dibacakan secara teratur. baik karena kerusakan fisik atau lingkungan. Wieder & Greenspan 1993). Harapan norma kelompok dapat memberi dampak yang sangat merusak terutama untuk anak-anak dengan kebutuhan perkembangan dan belajar yang khusus (NEGP 1991. Meskipun keterlambatanketerlambatan dalam perkembangan bahasa. Sebaliknya. & Bailey 1992). memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Sebagai contoh. Parker & Asher 1987). maka hal tersebut juga memiliki pengaruh minimal. Kohn 1993). 1984. merupakan sebuah strategi yang efektif dalam jangka pendek. Pengalaman-pengalaman awal juga dapat memberi pengaruh yang bersifat menunda. penanganan sejenis menuntut pertimbangan-pertimbangan tersebut. tiga tahun pertama kehidupan menjadi periode paling optimal untuk perkembangan bahasa verbal (Kuhl 1994). & Whiren 1993. ada periode-periode optimal untuk jenis-jenis perkembangan dan belajar tertentu. anak-anak yang gagal untuk mengembangkan kompetensi sosial minimal dan diabaikan atau ditolak teman-teman sebayanya memiliki resiko tinggi untuk drop out sekolah. Mallory 1992. Kostelnik. Wolery. Sebagai contoh. 4. Jika pengalaman-pengalaman positif atau negatif sering terjadi. Pengalaman-pengalaman awal anak. Sebagai contoh. memberi uang kepada anak untuk membaca dalam jangka panjang merusak keinginan anak untuk membaca sebagai kesenangan dan budaya. Mungkin yang paling meyakinkan adalah hasilhasil penelitian yang menunjukkan bahwa pengalaman-pengalaman sosial dan sensorik motorik selama tiga tahun pertama kehidupan secara langsung mempengaruhi perkembangan neurologis otak. Hymel. & Renshaw. Pada dimensi tertentu dalam rentangan kehidupan. dan bahkan memiliki dampak seperti bola salju (Katz & Chard 1989. Pola-pola yang sama dapat diamati pada bayi-bayi yang menangis dan menunjukkan usaha-usaha sejenis dalam berkomunikasi yang ditanggapi secara teratur. menjadi anak-anak dan remaja nakal. bersifat kumulatif dalam arti bahwa jika sebuah pengalaman frekuensi kejadiannya jarang. dapat diperbaiki kemudian. Strain. lama. pengalaman seorang anak prasekolah bersama anak-anak dalam tahun-tahun prasekolah membantu dia mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial dan kepercayaan diri yang memungkinkan dia memiliki teman-teman/persahabatan dalam tahun-tahun pertama sekolah dan pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menguatkan kompetensi sosialnya. ketika anak-anak memiliki atau tidak memiliki pengalaman literasi sejak dini. terhadap perkembangan selanjutnya. baik positif atau negatif. baik positif atau negatif. dan menunjukkan permasalahan kesehatan mental ketika mereka dewasa (Asher. mereka memberikan dampak yang sangat kuat. Soderman.perbedaan yang nyata dalam perkembangan dan belajar individual anak dalam tahun-tahun awal kehidupan. sementara motivasi intrinsik (dari dalam) lebih efektif untuk membentuk perilaku dalam jangka panjang (Dweck 1986. Sejumlah bukti menyarankan bahwa mengandalkan penguatan ekstrinsik (dari luar) seperti permen atau uang untuk membentuk perilaku anak. beberapa bentuk perkembangan dan belajar terjadi sangat optimal. Pengalaman-pengalaman awal memberikan pengaruh yang bersifat kumulatif maupun tertunda terhadap perkembangan anak.

Forman 1994). dan kemungkinan memperlihatkan pengaruh negatif dari stereotif negative dan diskriminasi. Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan anak paling baik dipahami dalam kontek keluarga. Anak-anak yang memiliki banyak kesempatan dan dukungan orang dewasa untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan motorik besar (berlari. komunitas yang sehat dipengaruhi oleh bias-bias masyarakat yang lebih luas. Lebih lanjut. Gandini. bermain drama. tetapi anakanak usia 2 tahun menggunakan satu benda melakukan satu hal dalam bermain (sebuah kotak untuk menelepon atau menggunakan sendok sebagai gitar). Sebagai contoh. menyusun model. anak-anak belajar untuk mengenali rumah mereka dan tempat-tempat lain yang mereka kenal lebih dahulu sebelum mereka dapat memahami kata-kata kiri dan kanan atau membaca peta sebuah rumah. pengetahuan itu sendiri menjadi meningkat (Edwards. . deskripsi-deskripsi verbal dan tertulisa (Katz1995). Program-program yang tepat menurut tahapan perkembangan menyediakan banyak kesempatan kepada anak-anak untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan mereka yang bersifat pengetahuan dengan menyediakan sebuah pengalaman langsung yang bervariasi dan membantu anak-anak menguasai pengetahuan yang bersifat simbolik melalui representasi pengalaman-pengalaman mereka dalam media yang beragam seperti menggambar. dll) selama periode ini memiliki keuntungan kumulatif menjadi lebih baik dan mampu dalam menguasai keterampilanketerampilan motorik yang lebih kompleks pada tahun-tahun berikutnya. Perkembangan berjalan dalam arah yang dapat diprediksikan menuju sebuah kondisi yang lebih kompleks. tahun-tahun prasekolah tampaknya menjadi periode optimal untuk perkembangan motorik yang mendasar dan karenanya keterampilan-keterampilan motorik mendasar lebih mudah dan lebih efisien dicapai pada periode usia ini (Gallahue 1995). komunitas. Malaguzzi 1993. seperti rasisme atau seksisme. Representasi modalitas sensori (baca panca indera) dan media juga bervariasi menurut usia anak. Sebagai contoh. melukis. 1993) menyediakan sebuah model ekologis untuk memahami perkembangan manusia. bahkan seorang anak diasuh dalam keluarga yang mencintai dan mendukungnya. 6. Bahkan setiap anak yang masih kecil mampu untuk menggunakan beragam media untuk merepresentasikan konsep-konsep pemahaman mereka. melempar. lebih terorganisasi. 1989. Kontek-kontek yang beragam ini berhubungan satu sama lain dan semuanya memiliki pengaruh terhadap anak yang sedang berkembang. Bronfenbrenner (1979. kebanyakan bayi dan anak yang baru belajar berjalan kebanyakan belajarnya menggunakan panca indera dan motorik.Demikian juga. Sebagai contoh. melompat. melalui representasi pengetahuan mereka. anak-anak yang memiliki pengalaman awal terbatas kemungkinan besar mengalami kesulitan untuk menguasai kompetensi fisik dan menunjukkan keterlambatan ketika mencoba berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas olahraga tingkat lanjut. dan lebih terinternalisasi. & Forman 1993. Sebaliknya. 5. setting pendidikan. Perkembangan dan belajar terjadi dalam dan dipengaruhi oleh kontek social cultural yang majemuk. Belajar selama periode anak usia dini berlangsung dari pengetahuan yang berbentuk perilaku menuju pengetahuan yang berbentuk simbolik (Bruner 1983). dan masyarakat yang lebih luas.

Anak-anak memiliki kontribusi terhadap perkembangan dan belajar mereka sendiri sebagaimana halnya mereka berusaha untuk menanggapi pengalaman-pengalaman harian mereka di rumah. anak-anak yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris seharusnya mampu untuk belajar bahasa Inggris tanpa dipaksa untuk menyerah pada bahasa ibu mereka (NAEYC 1996a). pengakuan fundamental ini membuat para guru peka terhadap kebutuhan untuk mengakui bagaimana pengalaman cultural yang mereka miliki membentuk perspektif mereka dan untuk menyadari bahwa perspektif yang majemuk harus dipertimbangkan dalam keputusan-keputusan tentang perkembangan dan belajar anak-anak. Minick. atau kelompok etnis di mana mereka tinggal. Lebih dari itu. dan menerima sebuah cara yang beragam pada anak-anak untuk mengekspresikan pencapaian-pencapaian perkembangan yang mereka peroleh (Vygotsky 1978. New 1993. Tujuannya adalah bahwa semua anak belajar untuk berfungsi dengan baik dalam masyarakat secara keseluruhan dan bergerak secara nyaman di antara kelompok orang-orang yang memiliki latarbelakang yang sama maupun berbeda. Meskipun demikian. Sebagai contoh.Kultur merupakan pola-pola keyakinan dan perilaku. DeVries & Kohlberg 1990. Rogoff . Bruner 1996. Phillips 1994. mengalami langsung pengalaman fisik dan sosial sebagaimana halnya pengetahuan yang ditransmisikan secara kultural untuk menyusun pemahaman-pemahaman mereka sendiri tentang dunia yang ada di sekitar mereka. Wertsch 1985. 1994. Rogoff et al. Anak-anak mampu belajar untuk berfungsi di dalam lebih satu kontek budaya secara simultan. orang seringkali gagal untuk mengenali peran dominan yang yang dimainkan budaya dalam mempengaruhi perkembangan semua anak-anak. program usia dini dan komunitas. jika para guru menetapkan ekspektasi-ekspektasi yang rendah untuk anakanak berdasarkan budaya dan bahasa rumah mereka. 1993). mengakui bahwa perkembangan dan belajar dipengaruhi oleh kontek-kontek social dan cultural bukan berarti menuntut para guru untuk memahami semua nuansa setiap budaya yang mereka temui dalam praktek-praktek mereka. Forman. Demikian juga. Vygotsky 1978. & Stone 1993. Sebagaimana yang dikemukakan Bowman. Para guru seharusnya mempelajari budaya dari mayoritas anak didik terutama budaya mereka memiliki budaya yang berbeda dengan peserta didiknya. kelompok religi. Anak-anak adalah pembelajar aktif. Meskipun demikian. Wu. Prinsip-prinsip dari praktek yang sesuai dengan tahapan perkembangan didasarkan pada teori-teori dominan yang memandang bahwa perkembangan intelektual dari sebuah perspektif konstruktivis-interaktif (Dewey 1916. mengenali kompetensi yang sedang berkembang pada anak-anak. & Davidson 1989. Pendidikan seharusnya merupakan sebuah proses yang memiliki nilai tambah. hal ini akan menjadi tugas yang tidak mungkin. Wardle 1996). 220). anak-anak yang terbiasa memakai bahasa Inggris mendapatkan keuntungan dari belajar bahasa lainnya. 7. Karena kultur seringkali didiskusikan dalam kontek diversitas atau multikulturalisme. Guru-guru anak usia dini perlu memahami pengaruh kontek-kontek sosiokultural dalam belajar. anak-anak tidak dapat berkembang dan belajar secara optimal. yang diwariskan kepada generasi penerusnya oleh masyarakat atau kelompok social. ´aturanaturan perkembangan adalah sama untuk semua anak. Mallory & New 1994a. tetapi kontek-kontek social membentuk perkembangan anak ke dalam konfigurasi-konfigurasi yang berbedaµ (1994. Bowman & Stott 1994. Piaget 1952. Setiap budaya menstruktur dan memaknai perkembangan dan perilaku anak (Edwards & Gandini 1989. baik eksplisit dan implisit. Tobin.

Gandini. Anak-anak membentuk hipotesis mereka sendiri dan membuktikannya melalui interaksi sosial. termasuk di dalamnya adalah para orangtua dan para guru. Ketika para guru dan orang dewasa menggunakan berbagai strategi untuk mendorong anak-anak melakukan refleksi atas pengalaman-pengalaman mereka melalui sebuah perencanaan. Selama masa usia dini. mengajukan pertanyaan-pertanyaan. dan memformulasikan jawaban-jawaban. Gelman & Baillargeon 1983). 8. Sebagai contoh. Prinsip ini menunjukkan bahwa . dan orang-orang lain menunjukkan hal yang berbeda dengan model yang secara mental telah tersusun dalam diri anak. akan tetapi yang mereka gunakan (seperti system alphabet atau numeric) merupakan sesuatu yang ditransmisikan kepada mereka oleh orang-orang dewasa dalam budaya mereka. Sejak lahir. Dalam pernyataan prinsip ini. merefleksikan dalam temuan-temuan mereka.1990. termasuk hal-hal penting yang secara kultural ditransmisikan agar anakanak berfungsi dengan baik di dunia ini. Pengajaran yang strategis tentu saja dapat meningkatkan belajar anak-anak. istilah pengalaman fisik dan sosial digunakan dalam kontek yang luas termasuk ekspose anak terhadap pengetahuan fisik. Sameroff & McDonough 1994. anak-anak secara kontinyu memproses pengalaman-pengalaman baru untuk membentuk ulang. Edwards. dan mereorganisasi struktur-struktur mental (Piaget 1952. Ketika objekobjek. anak dipaksa untuk menyesuaikan model atau mengubah struktur mental untuk mempertimbangkan informasi baru. belajar melalui pengalaman menggunakan benda-benda ( mengamati bahwa bola yang dilempar ke udara jatuh kembali). anak-anak secara aktif terlibat dalam menyusun pemahaman-pemahan mereka sendiri dari pengalaman-pengalaman dan pemahaman-pemahaman ini dimediasi oleh dan secara pasti terhubungan kepada kontek sosiokultural. pengajaran langsung kemungkinan besar tidak efektif dan gagal jika tidak disesuaikan dengan pengetahuan dan kapasitas-kapasitas kognitif anak dalam setiap tahapan perkembangannya. Vygotsky 1978. dan pengetahuan sosial. Sigel. Hohmann & Weikart 1995). di mana anak-anak tinggal di dalamnya. Kamii & Ewing 1996). diskusi-diskusi mengenai perkembangan menjadi terpolarisasi (lihat Seifert 1993). Case & Okamoto 1996) mengakui bahwa esensinya kedua perspektif teoritis tersebut adalah benar dalam menjelaskan aspek-aspek perkembangan kognitif selama usia dini. peristiwa-peristiwa. & Saunders 1984. Case & Okamoto 1996). Dengan demikian. Usaha-usaha terkini untuk mengatasi dikotomi yang jelas ini (Seifert 1993. Anak-anak usia dini secara aktif belajar dari mengamati dan berpartisipasi dengan anak-anak dan orang dewasa lain. manipulasi fisik. sementara penelitian lainnya telah mendemonstrasikan bahwa pengajaran tentang konsep-konsep spesifik atau strategi-strategi dapat memfasilitasi perkembangan struktur kognitif menjadi lebih matang (belajar mempengaruhi perkembangan) (Vygotsky 1978. anak-anak secara progresif menyusun pemahaman mereka atas berbagai symbol. maka pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh menjadi mendalam (Copple. memperluas. Teori Piaget menekankan bahwa perkembangan struktur kognitif tertentu merupakan prasyarat bagi belajar (contoh perkembangan mempengaruhi belajar). Gardner 1991. baik fisik maupun sosial. Dalam tahun-tahun belakangan ini. Stremmel & Fu 1993. Perkembangan dan belajar merupakan hasil interaksi antara maturasi biologis dan lingkungan. & Forman 1993. dan melalui proses-proses berpikir mereka sendiri³mengamati apa yang terjadi.

sebuah bawaan genetik kemungkinan memprediksi pertumbuhan yang sehat. dan menjadi lebih terlibat dalam permainan dengan memperluas dan mengelaborasi atas gagasan-gagasan anak. ruang. maka bahasa dan keterampilan-keterampilan literasi anak dapat ditingkatkan (Levy. Schrader 1989. Penelitian menunjukkan pentingnya permainan sosiodrama sebagai bagian dari kurikulum belajar untuk anak-anak usia 3 sampai 6 tahun. dan mengembangkan kapabilitas-kapabilitas simbolik mereka. Levy. Demikian juga halnya. baik disebabkan hereditas atau lingkungan. Sebagai contoh. Bermain menyediakan sebuah kontek bagi anak-anak untuk mempraktekkan keterampilanketerampilan yang baru dikuasai dan juga berfungsi sebagai sudut pengembangan kapasitaskapasitas untuk menjalankan peran-peran sosial yang baru. Plomin 1994a. & Phelps 1986. juga sebagai sebuah refleksi atas perkembangan mereka. Wolfgang. Fein 1981. permainan simbolik dapat mempromosikan perkembangan abilitas-abilitas representasi simbolik. Para penganut behavioris (aliran perilaku) memfokuskan pada pengaruh-pengaruh lingkungan sebagai penentu belajar. sementara para penganut maturasionis (aliran kemasakan biologis) menekankan pentingnya hereditas³karakteristik biologis bawaan. Bermain merupakan sebuah instrumen penting bagi perkembangan sosial. para guru anak usia dini mengakui bahwa bermain bagi anak merupakan sebuh kontek yang sangat mendukung untuk proses-proses perkembangan tersebut (Piaget 1952. & . Setiap perspektif benar sampai tingkatan tertentu dan selebihnya keduanya tidak mampu untuk menjelaskan belajar atau perkembangan. Disabilitas yang parah. Permainan anak memberi orang-orang dewasa pencerahan-pencerahan atas perkembangan anakanak dan kesempatan-kesempatan untuk mendukung pengembangan strategi-strategi baru. 1990. sebagai contoh. Morrow 1990. emosional.manusia merupakan produk hereditas (biologis) dan lingkungan dan kedua kekuatan ini berhubungan satu sama lain. Fromberg 1992. tetapi nutrisi yang tidak mencukupi dalam tahun-tahun awal kehidupan mengganggu terpenuhinya potensi tersebut. Vygotsky (1978) meyakini bahwa bermain mengarahkan perkembangan. Berk & Winsler 1995). Bermain memberi anak-anak kesempatan-kesempatan untuk memahami dunia. perkembangan dilihat sebagai hasil dari proses transaksional yang interaktif antara individu yang sedang tumbuh dan berkembang dengan pengalamanpengalaman dalam lingkungan fisik dan sosial (Scarr & McCartney 1983. Bergen 1988. mengekspresikan dan mengontrol emosi-emosi. Smilansky & Shefatya 1990. dan waktu yang tepat. menawarkan dukungan. seorang anak dengan temperamen yang dibawanya³sebuah kecenderungan psikologi dalam menanggapi situasi tertentu³membentuk dan dibentuk oleh bagaimana anak-anak lain dan orang-orang dewasa berkomunikasi dengan anak tersebut 9. Memahami bahwa anak adalah konstruktor-konstruktor aktif atas pengetahuan yang dimiliki dan bahwa perkembangan dan belajar sebagai hasil proses interaktif. Sekarang ini. kemungkinan dapat diperbaiki melalui intervensi yang sistematik dan tepat. dan memecahkan permasalahan yang komplek yang mungkin bisa atau tidak akan bisa mereka tangani (Mallory & New 1994b). Schaefer. mencoba tugas-tugas yang baru atau yang menantang. berinteraksi dengan orang lain dalam cara-cara yang secara sosial diterima. Ketika para guru menyediakan sebuah organisasi tematik untuk bermain. Pramling 1991. dan kognitif anak-anak. b).

Brophy 1992). dan caracara yang berbeda dalam merepresentasikan apa yang mereka ketahui. dalam sebuah tugas yang berada di atas jangkauan independensi anak. dan minat-minat mereka. kebanyakan anak-anak berhenti untuk mencoba. Selain mendukung perkembangan kognitif. dan membantu anak-anak untuk maju lebih jauh dengan memberi target pengalaman-pengalaman pendidikan sampai pada level kapasitas-kapasitas anak-anak yang memang sedang berubah. Oleh karena itu. untuk mengatasi konflik-konflik. dan perasaan-perasaan mereka ketika terlibat dalam bermain simbolik. 11. orang-orang dewasa dan teman sebaya yang lebih kompeten memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan dengan menyediakan dukungan-dukungan yang memungkinkan anak mampu mengambil langkah selanjutnya. 10. Anak-anak menunjukkan cara-cara yang berbeda dalam mengetahui dan belajar. inisiatif anak dan dukungan guru dalam bermain merupakan komponen esensial dalam praktek yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak (Fein & Rivkin 1986). Selama bermain. Anak-anal mengungkapkan dan merepresentasikan gagasan-gagasan. Dihadapkan pada kegagalan yang berulang. kebutuhankebutuhan. Perkembangan dan belajar merupakan proses-proses dinamik yang menuntut orang-orang dewasa memahami dan mengamati anak-anak secara lebih dekat dan kontinum agar sesuai dengan kurikulum dan mengajari anak-anak kompetensi-kompetensi emergensi. Pada kurun waktu tertentu. sehingga membuat mereka menjadi tertantang. Perkembangan tingkat lanjut dicapai ketika anak-anak memiliki kesempatan-kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru dikuasai.Koorland 1992). Bodrova & Leong 1996). dan untuk mendapatkan perasaan kompeten. untuk berinteraksi dengan orang lain. Melalui bermain. seorang anak belajar untuk mengatasi emosi. anak-anak juga dapat mengembangkan imajinasi-imajinasi dan kreativitas-kreativitas mereka. sebagaimana juga mereka mengalami sebuah tantangan dalam level di atas penguasaan mereka sekarang ini. emosi. Prinsip belajar adalah pertama-tama anak-anak dapat melakukan sesuatu dalam sebuah kontek suportif dan kemudian secara mandiri dan berada dalam sebuah kontek yang lebih beragam. para teoritisi belajar dan ahli psikologi perkembangan telah mengakui bahwa manusia . Selanjutnya. sangat dimotivasi untuk memahami apa yang sebagian besar mereka pahami dan untuk menguasai sebagian besar apa yang mereka mampu lakukan (White 1965. Manusia. bukan frustasi. Implikasinya adalah bahwa pada sebagian besar waktu para guru seharusnya menyediakan anak-anak dengan tugas-tugas yang dengan usaha-usahanya mereka dapat menyelesaikan dan mempresentasikannya sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. dan sosial anak-anak (Herron & Sutton-Smith 1971). Vygotsky 1978). Penelitianpenelitian mendemonstrasikan bahwa anak-anak perlu untuk mampu menegosiasikan sebagian besar tugas-tugas belajar dengan sukses untuk memelihara motivasi dan keteguhan mereka (Lary 1990. pemikiranpemikiran. bermain juga menyediakan sejumlah fungsi penting bagi perkembangan fisik. terutama anak-anak. Pada saat yang sama anak-anak secara kontinyu menghadapi situasi-situasi dan stimulasistimulasi yang memberi mereka kesempatan untuk bekerja pada tingkat kemampuan mereka yang sedang berkembang (Berk & Winsler 1995. Rogoff (1990) menggambarkan proses belajar yang dibantu orang dewasa sebagai ´partisipasi terbimbingµ untuk menekankan bahwa anak-anak secara aktif berkolaborasi dengan orang lain untuk bergerak maju menuju sebuah level pemahaman dan keterampilan yang lebih kompleks.

keamanan. auditori.terlahir untuk memahami dunia dalam cara-cara yang beragam dan bahwa setiap individu cenderung memiliki preferensi atau model belajar tertentu. sosial. Department of Health & Human Services 1996). Proses-proses merepresentasikan pemahaman yang mereka miliki. Anak-anak berkembang dan belajar dengan sangat baik dalam kontek sebuah komunitas di mana mereka aman dan dihargai. & Saunders 1984. atau taktil. gigi. dan kesehatan yang adekuat tapi juga pastikan layanan-layanan yang lebih komprehensif. . Perkembangan anak-anak dalam semua bagiannya dipengaruhi oleh abilitas mereka untuk membangun dan memelihara sebuah hubungan primer yang positif secara konsisten dengan orang-orang dewasa dan anak-anak yang lain (Bowlby 1969. dan emosi sebagaimana halnya perkembangan intelektual. Karena keamanan dan kesehatan fisik sekarang-sekarang ini seringkali terancam. dan mereka merasa secara psikologis aman. program-program untuk anak usia dini harusnya bukan hanya menyediakan nutrisi. kesehatan mental. Sigel. Forman 1994. Maslow (1954) mengkonseptualisasikan sebuah hierarki kebutuhan-kebutuhan dimana belajar tidak mungkin terjadi kecuali kebutuhan-kebutuhan fisiologis dan psikologis untuk aman terpenuhi lebih dahulu. sosial (NASBE 1991. Malaguzzi (1993) menggunakan metaphor ´100 bahasaµ untuk menggambarkan modalitas yang beragam yang digunakan anak-anak untuk memahami dunia dan merepresentasikan pengetahuan mereka. Sementara karya yang lain telah mengidentifikasi jenis pembelajar mandiri atau dependen (Witkin 1962). Hubungan-hubungan primer ini berawal dalam keluarga tetapi kemudian meluas seiring berjalannya waktu termasuk guru-guru anak-anak dan anggota-anggota komunitas. dapat membantu anak-anak memperdalam. spasial. 12. Garbarino et al. U. seperti fisik. Katz 1995). 1992). kinestetik tubuh. Stern 1985. dengan bantuan guru-guru. Gardner (1983) memperluas konsep ini dengan berteori bahwa manusia paling tidak memiliki tujuh ´intelegensi.S. Studi-studi perbedaan dalam modalitas belajar telah menemukan hal yang kontras antara pembelajar visual. praktek-praktek yang sesuai dengan tahapan perkembangan seharusnya memperhatikan dengan baik kebutuhan-kebutuhan fisik. setiap individu paling tidak memiliki kecerdasan dalam bidang-bidang lain: musikal. memperbaiki. kebutuhan-kebutuhan fisik mereka terpenuhi. intrapersonal dan interpersonal. Prinsip modalitas yang beragam memberi implikasi bahwa para guru seharusnya menyediakan bukan hanyak kesempatan-kesempatan setiap anak secara individual menggunakan preferensi model belajarnya sebagai menjadi modal kekuatan mereka (Hale-Benson 1986) tetapi juga kesempatan-kesempatan untuk membantu anak-anak mengembangkan intelegensi-intelegensi yang mereka sadari tidak begitu menonjol.µ Sebagai tambahan terhadap kecerdasan tradisional yang penting bagi keberhasilan sekolah yaitu kecerdasan bahasa dan logika matematis. oleh karena itu. dan memperluas pemahaman mereka (Copple.