Anda di halaman 1dari 16

Kata Pengantar

Dunia pendidikan saat ini sedang terfokus pada pembentukan sekolah-sekolah vokasional yaitu sekolah yang khusus untuk mengembangkan suatu keterampilan. Walaupun SMP Plus Berkualitas Lengkong Mandiri (SMP Plus BLM) adalah sebuah sekolah umum, perhatiannya pada salah satu jenis keterampilan yaitu, menulis dan jurnalistik akhirnya mengantarkan kepada kesepakatan untuk mengangkat jurnalistik sebagai ikon sekolah ini. Dalam kaitan dengan hal tersebut, SMP Plus BLM menyelenggarakan Sarasehan Sehari : Waktunya yang Muda Bicara sebagai kesempatan bagi alumni untuk mendukung matang. Tema-tema mengenai pendidikan, dunia baca, softskills, entrepreneur, serta kemampuan pemahaman terhadap faktor-faktor pendukung kemajuan menyeluruh bagi desa Lengkong Wetan kali ini diangkat sebagai fokus utama makalah alumni. Sementara makalah yang disajikan ini, inti sarinya adalah pengamatan terhadap dunia pendidikan di Indonesia yang cenderung terkesan eksklusif, mudah diakses oleh masyarakat karena lebih perkotaan saja. Demikian sehingga paradigma bakat-bakat menulisnya agar

kastanisasi dunia pendidikan berlangsung dan mudah terlihat terutama pada desa yang berbatasan langsung dengan kompleks perumahan modern. Akibatnya terjadi kesenjangan mutu SDM yang besar antara keduanya. Dilain pihak, kedekatan lokasi tentunya menyebabkan interaksi ekonomi dan sosial. Dan sudah dapat dipastikan bahwa warga pedesaan akan selalu diibaratkan laksana warga kelas 2. Keprihatinan tersebut seharusnya menjadi PR bagi Departemen Pendidikan Indonesia, mengingat sebagian besar penduduk Indonesia adalah masyarakat pedesaan. Ketika Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia (YBBAI) datang ke desa ini, titik terang mulai tampak. Sekolah-sekolah binaan YBBAI terbukti mampu mengentaskan kastanisasi dunia pendidikan di Indonesia dengan kiprah-kiprahnya selama lebih dari 10 tahun belakangan ini. Sekolah TK/SMP/SMK Plus BLM yang dikelola oleh YBBAI memang dimaksudkan untuk menampung putra-putri warga desa Lengkong Wetan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Berbeda dengan banyaknya sekolah swasta di kompleks BSD City dan Bintaro jaya, TK/SMP/SMK Plus BLM tidak membebankan warga desa dengan biaya tinggi. Kemudahan tersebut masih

ditambah lagi dengan adanya program orang tua asuh bagi siswa siswi tertentu. Juga program beasiswa bagi alumni untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Hingga saat ini, SMP dan SMK Plus telah berhasil meluluskan 5 angkatan berturutturut yang kini 17 orang daripadanya telah duduk dibangku perkuliahan, seperti di ITI, UI (Jakarta) dan AGP (Bandung). Demikian sekilas pintas, bagaimana YBBAI mengentaskan kastanisasi pendidikan melalui program-programnya. Dan berapa tahun kedepan, akan lahir sarjana serta akademisi-akademisi dari alumni sekolah ini.

Penyusun

Bab I Pendahuluan
I.1. Latar Belakang
Kastanisasi dunia pendidikan di Tanah Air tak pernah dijadikan kambing hitam sebagai penanggung jawab atas rentannya persatuan dan kesatuan Bangsa. Padahal hal ini telah ditanamkan sejak zaman penjajahan berabad lalu melalui politik Devide et Impera nya. Secara tidak sengaja, kita masih saja melestarikan politik pecah belah tersebut dalam sistem di dunia pendidikan Tanah Air. Akibat yang langsung dapat dilihat adalah ketidaksejahteraan kehidupan yang masih dialami sebagian besar penduduk pedesaan. Penduduk pedesaan tidak berkembang kemampuan nalarnya karena tidak diberikan kesempatan untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi. Menjadi kaum kelas dua adalah hal yang umum terjadi bagi masyarakat lokal yang kediamannya bersisian langsung dengan kompleks perumahan modern seperti desa Lengkong Wetan yang bertentangga dengan BSD City dan Bintaro Jaya. Ketidaksinkronan timbul akibat privatisasi sektor pendidikan. Sekolahsekolah swasta yang banyak terdapat di BSD City dan Bintaro Jaya tidak memberikan kesempatan bagi putra-putri warga lokal untuk turut serta bersekolah bersama. Mahalnya biaya adalah faktor utama, padahal seharusnya ada program subsidi silang yang diberlakukan. Ini adalah satusatunya cara untuk berkembang bersama-sama. Berbagi fasilitas dengan warga lokal, terutama karena lahan keseluruhan di daerah ini adalah lahan warga yang diambil alih kepemilikan. Walaupun telah syah dalam hukum jual beli, tetapi sebagai sesama warga negara adalah wajib berbagi fasilitas. terutama fasilitas yang terkait dengan sektor yang memegang peran penting dalam hajat hidup masyarakat banyak.

Hukum pendidikan semestinya berlaku seperti yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dimana Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. Juga menjunjung tinggi sila ke 5 dari Pancasila yang berbunyi Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia maka ketimpangan ini dapat ditanggulangi dengan mudah laksana mencabut ilalang tepat dari akarnya. Karena harfiah dari sebuah keadilan adalah pemerataan, dalam hal ini pemerataan di sektor pendidikan. Sehingga kastanisasi pendidikan di Indonesia dapat tuntas, khususnya di desa Lengkong Wetan.
To acquire knowledge, one must study, but to acquire wisdom, one must observe Untuk memperoleh pengetahuan, orang harus belajar, tapi untuk memperoleh kebijaksanaan, kita harus mengamati. Marilyn Vos Savan

I.2. Maksud dan Tujuan 1.2.1. Maksud


Mengangkat tema stratifikasi dunia pendidikan sebagai paradigma lama yang dapat dituntaskan dengan niat dan membelenggu anak bangsa untuk menjadi tuan di negeri sendiri. Karena sulitnya akses pendidikan di desa-desa tanah air. Menjadikan kejadian ini sebagai tanggung jawab bersama yang harus di tanggulangi, penyamarataan pendidikan yang kurang disadari menjadi masalah utama. Mengangkat tema besar diskriminasi pendidikan yang mestinya tidak terjadi di bangsa ini, kepedulian yang kurang, menjajah bangsa sendiri melalui uang dan pendidikan.

I.2.2.Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut dibawah ini :

o Untuk

menyentuh

hati

para

pemerhati

masalah

pendidikan

di

Indonesia, pelaku dunia industri untuk bekerja sama fasilitas pendidikan mudah akses hingga ke pelosok negeri.

menyediakan

o Untuk membuka cara pikir dan cara pandang kita terhadap polemik dunia pendidikan di tanah air. o Untuk mengetengahkan cara jitu YBBAI bagi pengentasan kastanisasi pendidikan khususnya di Lengkong Wetan.

o Memberikan masukan bagi sekolah-sekolah swasta, untuk melaksanakan


program subsidi silang, orang tua asuh dan beasiswa kepada putra-putri warga lokal agar dapat pemerataan pendidikan. mendukung program pemerintah untuk

I.3. Identifikasi masalah


1. Menyadari bahwa kastanisasi dunia pendidikan di Indonesia sebagai

penyebab tidak meratanya pendidikan, yang mengakibatkan timbulnya perbedaan besar potensi SDM antara perkotaan dan desa-desa. 2. Mengupas lebih dalam hal yang terjadi Desa Lengkong Wetan, terutama dikaitkan dengan keadilan. dampak pembangunan yang tidak berasaskan pada yang tidak memberikan Khususnya fasilitas pendidikan

kemudahan akses bagi masyarakat lokal.

Bab II Pembahasan
II.1. Pendidikan sebagai Pilar Kesejahteraan Bangsa
Pendidikan adalah laksana pilar bagi kesejahteraan suatu bangsa. Tanpa adanya pilar pendidikan yang kokoh, maka akan mustahil untuk mewujudkan suata kesejahteraan yang memadai bagi bangsa ini. Indonesia merupakan Negara yang memiliki daerah yang luasnya 1.919.440 Km2 dan merupakan negara terluas ke-15 di dunia. Serta dengan penduduk yang terbanyak ke-4 di dunia yaitu 259.940.857 jiwa, memiliki peraturan yang jelas mengenai pendidikan seperti tertuang dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yaitu Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan dan ayat 2 setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Namun apakah anda satu pendapat dengan saya bahwa kebijakan itu tidak berjalan secara menyeluruh di semua bagian Indonesia, pendirian sekolah yang masih terbatas saat ini untuk daerah terpencil, dan pengaksesan buku yang masih kurang padahal Negara ini telah mencanangkan Budaya membaca sejak dini. Masalah kompleks dalam dunia pendidikan kita adalah kurang sadarnya masyarakat terhadap masa depan. Masa depan yang baik memang tidak semua di dapat dari pendidikan namun pendidikan memegang persentasi dalam kesuksesan bagi banyak orang. Semua dimulai dari masa remaja dimana semua masih terlihat asing dan tinggi nya rasa ingin tahu, dan masa remaja adalah masa penentuan untuk masa mendatang. Semua bertahap dan mengalami proses, budaya yang terjadi kali ini tentang pendidikan memang sudah mendarah daging di Indonesia, namun ini semua bisa berbuah manis ketika kita semua mampu mencerna apa yang terjadi dan bertindak walau dengan tindakan kecil.

Tanpa harus menyalahkan beberapa pihak atas masalah ini, ini tanggung jawab kita bersama, yang wajib kita pikul dan kita emban bersama sebagai warga di negara kesatuan.

Remaja adalah masa dimana perkembangan pola pikir seseorang menjadi lebih matang, dan kemampuan mengambil sikap dan cara pandang yang berbeda dengan masa yang lain, dan dimasa ini pula lah seseorang mengambil keputusan yang besar dalam hidupnya. banyak dari remaja yang tidak tahu bagaimana bertindak ketika mengalami masalah, atau bahkan bingung untuk mengambil keputusan. Di masa ini lebih banyak belajar banyak hal, tapi tahukah kita peran remaja untuk masa mendatang bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi lingungan dan bahkan bagi Negara ?

Apakah yang kita lihat sekarang tentang fenomena remaja, masa remaja seakan masa yang sulit dihadapi. perkembangan yang terjadi pada negara kita adalah suatu yang patut kita banggakan dan patut kita syukuri, perkembangan yang ada membawa kita pada dunia dan metamorfosa ke bentuk yang jauh berbeda dari masa penjajahan dulu dan sekarang, perkembangan membawa dampak positif dan tentunya dampak negative, dampak positif tentunya dampak yang sangat bermanfaat dan dampak yang perlu kita kembangkan, namun dampak negative perlu kita perangi bersama-sama, kita lihat permasalahan itu sebagai tantangan bagi negara kita untuk menjadi negara yang lebih berkembang lagi dalam tujuan pokok negara mensejahterakan masyarakatnya.

Remaja tangan bangsa pada masa mendatang yang nantinya akan membuat kebijakan pemerintah dan ikut serta dalam membentuk Negara, kemanakah Negara akan dibawa dan akan menjadi Negara apakah nantinya Indonesia kelak itu ada di tangan remaja para penerus bangsa. Semua masih menjadi misteri tidak bisa dipastikan hanya bisa menerka dan tidak bisa di cegah tapi bisa di hindari. Salah satunya adalah dengan cara menstabilkan dunia pendidikan di tanah air.

Kita semua tentunya tidak mau menjadi penerus tahta kemiskinan yang di turuni oleh nenek- kakek kita, yang mungkin mereka sedih melihat apa yang mereka lihat tentang kenyataan bahwa penerusnya menderita karena masih rendahnya tingkat pendidikan anak cucunya yang menyebabkan tingkat kehidupan atau ekonomi semakin susah dan tidak jelas. Untuk itu kita sebagai remaja harus bangkit melalui pendidikan, budaya membaca harus di tingkatkan untuk mengasah kemampuan berpikir kita, sehingga kita tidak terjajah secara ekonomi dan kelak menjadi pemimpin di kampung sendiri dan di desa sendiri. Dunia pendidikan sekarang ini terlihat seperti lahan bisnis,banyak oknum yang menjadikan sekolah sebagai bisnis untuk mengambil keuntungan. Dan banyak tindakan dunia pendidikan menyumbang angka dalam maraknya korupsi di Negara ini.

semakin berkembangnya dunia pendidikan maka semakin banyak muncul di Indonesia lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mengejar keuntungan tanpa menyadari tujuan dan arti pendidikan yang semestinya. Mendirikan lembaga pendidikan yang tujuan untuk ikut mencerdaskan bangsa kita yang selama ini masih memprihatinkan masalah pendidikan adapun demikian perlu kita waspadai bahwa banyak oknum-oknum yang sengaja dengan mengambil keuntungan dari keadaan ini dengan mendirikan lembaga pendidikan di Indonesia tanpa memperhatikan fasilitas pendukung dunia pendidikan untuk mencapai tujuan memuaskan menciptakan sumber daya manusia yang baik, bukan hanya untuk terjun di dunia kerja, inilah salah satu ketimpangan yang terjadi Indonesia . Budaya korupsi dinilai dapat muncul karena kurangnya pembelajaran sejak usia dini. Untuk itu, diperlukan materi pembelajaran antikorupsi di dunia pendidikan di Indonesia. Yang akan membantu Indonesia dari lingkar korupsi yang selama ini membelenggu. Salah kaprah pendidikan bukan hanya dalam bidang keuangan tapi juga dalam bidang pengajarannya pendidikan dijadikan sebagai tempat dimana mencetak tenaga kerja, dan dicekoki dengan persepsi sekolah hanya untuk bekerja saja. Seakan dunia pendidikan di Negara kita adalah pendidikan yang menciptakan para buruh. Jika dibandingkan dengan beberapa negara maju di dunia, jumlah entrepreneur atau wirausahawan di Indonesia masih rendah. Terbukti, dari 231,83 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 4,6 juta saja yang berwirausaha. "Jumlah itu masih cukup rendah atau jika dipersentasekan baru 2 persen dari total jumlah penduduk".

Sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) boleh jadi menjadi proyeksi percontohan kualitas oleh sekolah Negeri dan Swasta yang ada di tanah air. Tetapi pada prosesnya, RSBI yang banyak terdapat di sekitar desa Lengkong Wetan justru membangun kastanisasi atau penggolongan di dunia pendidikan. RSBI dengan fasilitas mewah dan komplit ini, identik dengan biaya pendidikan yang mahal. Tidak terjangkau oleh semua orang. Sehinga uang sudah menjadi tahap

Sedangkan sekolah biasa, dengan fasilitas seadanya dan dengan iuran yang juga tak begitu besar bahkan beberapa gratis. Disitulah tempat warga biasa yang tidak mampu untuk mengeluarkan dana besar. Kejadian ini seakan menjadi budaya dalam Indonesia, kami rakyat kecil tidak merasakan rasanya kebersamaan di antara kami dengan anak-anak di sekolah mahal tersebut, seperti ada tembok pemisah di antara kami, namun inilah kenyataan yang harus dialami oleh sekolah biasa non internasional. Di situasi ini saya belajar banyak tentang ekonomi dan pendidikan, masyarakat dengan ekonomi rendah hanya bisa merasakan pendidikan kelas bawah dengan [tingkatan yang tentu juga tidak tinggi sesuai kemampuan ekonomi, akhirnya semakin terpuruk dengan keadaan, tidak adanya ekonomi yang mencukupi dan pendidikan yang rendah menyebabkan kemiskinan menjadi warisan turun temurun. Dan orang kaya dengan uang yang banyak semakin berkembang dengan pendidikan yang berkualitas. Saat ini memang terlihat banyak solusi untuk mengatasi hal ini, namun tidak adanya bukti nyata dan kontinuitas menyebabkan Negara kita masih dalam keterbelengguan kemiskinan. Kepedulian adalah langkah nyata yang untuk menjadikan semua yang tidak mungkin menjadi mungkin dalam dunia pendidikan, seperti halnya yang di lakukan oleh Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia yang telah berperan aktif dalam memajukan pendidikan di daerah, inilah sebuah karya nyata dalam mewujudkan sekolah kampung yang mewujudkan impian masyarakat desa

II.2. Pembangunan dan Pendidikan


Bila kita lihat dimana ada pembangunan selalu adanya permasalahan dengan penduduk pribumi. Ini terjadi di hampir semua daerah pembangunan di Indonesia.

Papua seperti yang kita lihat, adanya pertambangan disana merupakan pembangunan yang patut kita banggakan sebagai keberhasilan para pendahulu, namun mereka tidak mendapatkan hasil yang layak dari daerahnya sendiri, pendidikan mereka masih terpinggirkan. Dan kehidupan yang masih sangat terpinggirkan.

Kita lihat di daerah kita sendiri, kejadian serupa kita terima karena pembangunan, banyak pembangunan perumahan internasional di daerah kita. Namun kita sadari bahwa itu bukan untuk kita walaupun itu di bangun dari milik kita pribadi, yaitu lahan kakek-nenek kita yang di beli dengan harga murah karena ketidak tahuan nenekmoyang kita tentang nilai dimasa mendatang. Dan faktanya adalah warga kita hanya jadi pekerja kasar / buruh. Tidak diberikan peluanguntuk berkembang dan maju, dibiarkan terpuruk dan hidup dalam kekurangan meski mereka para perusahaan property tahu bahwa kita masih dalam keterpurukan dalam beberapa bidang, terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Daerah Lengkong tempat kita dan para pendahulu kita dilahirkan dan berkembang disini, di daerah ini para pendahulu kita ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dengan mengusir para penjajah yang mencoba memasuki Indonesia dan bertetap di Lengkong yang dulu hanya ada tiga nama Lengkong, yaitu Lengkong

Wetan, Lengkong Kyai dan Lengkong Gudang yang sekarang berkembang nama jadi beberapa nama, yaitu Lengkong Wetan Gudang Barat. Pendidikan seakan diombang-ambingkan oleh pembangunan yang semestinya yang terbagi menjadi Lengkong Karya, Lengkong Gudang yang sekarang menjadi Lengkong Gudang Timur dan Lengkong

memberikan dampak yang baik bagi pendatang terutama masyarakat asli. Masyarakat asli terpinggirkan dan hanya mampu menjadi pegawai rendah, sedangkan pendatang yang datang dengan sekarung uang berkuasa. Kehilangan otoritas sebagai pemilik daerah dan penduduk asli, bekerja rendahan di daerah sendiri, tunduk pada pendatang, dengan upah yang kurang dari cukup. Ini juga yang terjadi di bagian Indonesia lainya, sangat memprihatinkan, kita perlu orang maupun komunitas kecil atau besar untuk memperhatikan dan peduli masalah ini. Membayangkan Indonesia yang dulunya di jajah oleh Negara lain, sekarang bangsa sendiri yang menjajah.

II.3. Meratakan Pendidikan Desa- Internasional


Tepat pada tanggal 16 Maret 2010, ketua Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI) yang sekarang sudah berganti menjadi Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia (YBBAI), secara tidak sengaja mampir dan terperangah melihat Sekolah Dasar yang hanya berjarak 2 km dari sekolah Global Jaya dan sekolah Jepang di Bintaro Jaya, 3 km dari Swiss German University dan Santa Ursula, sekolah yang dekat dengan sekolah-sekolah berkualitas, elit nan mahal ini sedang dalam kondisi nyaris roboh, dan para siswa yang berjumlah sekitar 500 orang tidak memiliki buku-buku pelajaran karena tidak mampu membelinya. Keterpurukan ranah pendidikan dan ekonomi di daerah sendiri lah yang menjadi alasan pasti sebuah Yayasan yang peduli masyarakat lokal dan pendidikan memulai Langkah nyata memperbaiki dunia pendidikan, mulai dari pendirian perpustakaan anak di SDN Lengkong Wetan II dan SDN Lengkong Wetan III yang berdekatan dan saling menghadap. Dengan menekankan motto Melalui anak kita selamatkan bangsa , dengan tujuan tercapai minat baca anak mulai naik.

Timbulah permintaan dari warga sekitar untuk mendirikan sekolah tingkat SMP dan dengan pertimbangan yang matang akhirnya nama SMP Plus Berkualitas Lengkong Mandiri pun resmi menjadi sekolah SMP di Lengkong pada tahun 2004 dan mulai menerima murid baru pada ajaran 2004 / 2005 dan dengan murid perdana sebanyak 15 orang yang semuanya adalah warga Lengkong asli.Ini adalah awal dan di lanjutkan pembukaan sekolah SMK yang lagi-lagi karena permintaan yang kali ini diminta langsung oleh murid SMP Plus BLM. Sampai saat ini sekolah SMP sudah mencetak 241 alumni, dan sebanyak 17 alumni yang sudah lulus SMK berkesempatan mendapatkan sekolah lanjutan di beberapa Universitas dan Institute, serta Politeknik. Demikian, YBBAI hingga hari ini tetap Bb erjaya dengan motto sekolah bagus tidak harus mahal memiliki daya saing tersendiri untuk sekolah sejenis terutama di desa Lengkong Wetan dan sekitarnya. Memberikan kemudahan bagi warga Lengkong Wetan untuk mengakses pendidikan berkualitas , sehingga pilar kokoh pendidikan dapat juga berdiri di desa Lengkong Weta, untuk memajukan kesejahteraan warga desa ini.

Bab III. Penutup


III. 1. Kesimpulan
YBBAI melalui sekolah binaannya yang berlokasi di desa Lengkong Wetan telah berhasil membuktikan bahwa kastanisasi pendidikan di tanah air dapat sedikit demi sedikit diberantas. Hal ini terlihat, dengan berhasilnya putra putri masyarakat lokal dari desa tersebut yang sekarang sudah menduduki bangku perkuliahan di beberapa universitas ternama dan politeknik di Jakarta serta Bandung. Ekskul Ekskul di sekolah-sekolah selayaknya berfungsi sebagai kemudahan untuk mengasahnya menjadi keterampilan. ikon sekolah. Dan hal ini di dukung dengan wadah

penampung, yang mengidentifikasi bakat siswa dan memberikan SMP Plus BLM penyelenggaraan yang dibina oleh YBBAI sendiri telah mengangkat jurnalistik sebagai ekstrakurikuler jurnalistik. Dari sini diharapkan akan ditemukan siswa berbakat menulis dari tiap-tiap angkatan untuk kemudian dibina dan dibimbing lebih jauh lagi sehingga menjadi keterampilan yang siap pakai dikemudian hari. Sarasehan sehari ini adalah salah satu dari pernyataan bahwa YBBAI terus melakukan tindak lanjut bagi pengembangan keterampilan menulis tersebut. Untuk kedepannya, Yayasan akan terus membina alumni khususnya yang berbakat di bidang tulis menulis dengan aplikasi pada dunia kerja terkait. Sehingga akan disusulkan rencana untuk melakukan ekspedisi ke beberapa tempat di tanah air, dalam kaitannya untuk

menerbitkan travel dokumen, travel story dan lain sebagainya. Hal ini mengingat bahwa profesi travel journalist adalah sebuah pekerjaan yang masih langka di tanah air. Sementara dipihak lain, Indonesia masih memiliki banyak keanekaragaman dan kekayaan budaya yang masih juga belum tereksploitasi bagi dunia luar. Tentu saja dalam hal ini Yayasan sangat memerlukan dukungan dan bantuan dari pemerhati pendidikan, CSR-CSR kalangan industry, embassy/kedutaan asing serta Departemen Pariwisata untuk bersedia sebagai sponsor bagi ekspedisi yang akan dilaksanakan tersebut. Demikian, sehingga kesinambungan konsep identifikasi bakat asah keterampilan aplikasi di dunia kerja dapat direalisasikan.

III.2.

Saran dan Ide 1. Adanya ekstrakurikuler yang berkualitas di sekolah-sekolah yang ditujukan bagi putra putri desa manapun , yang berfungsi sebagai wadah untuk meningkatkan keterampilan siswa. Dan sekolah wajib terus membina alumninya hingga keterampilan tersebut menjadi keterampilan siap pakai yang berguna sebagai penunjang kehidupan di masa depan alumni. 2. Pemerintah Daerah tidak hanya mendukung pembangunan perumahan dan pusat pusat perbelanjaan saja, tetapi juga turut melestarikan keberlangsungan kehidupan masyarakat lokal, melalui klausul dalam peraturan-peraturan daerah yang mengajak pihak developer perumahan untuk turut memperhatikan kepentingan masyarakat lokal. 3. Terutama bagi pihak pelaku industri melalui CSR nya, dapat lebih memperhatikan kepentingan masyarakat lokal. Dengan demikian, gap-gap atau jurang pemisah yang terbentuk antara masyarakat lokal dengan masyarakat perkotaan dapat diperkecil. 4. Pemerintah Pusat melalui Pemerintah Daerah yang terkait, agar yang mudah diakses. mendukung gerakan pemerataan pendidikan

Mudah dari segi letak dan biaya, sehingga masyarakat lokal di daerah-daerah terpencil/desa dapat menikmati hak-haknya sebagai sesama warga negara Indonesia untuk mengecap pendidikan yang berkualitas.

****************************