Anda di halaman 1dari 17

TUGAS PELAYANAN PRIMA

Analisis Pelayanan Publik di Kantor Samsat Bengkulu

Oleh : FITRAH INSANI NPM: DID008043

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BENGKULU 2011

sangat diharapakan guna memperbaiki kualitas makalah penulis selanjutnya. Penulis .Wb. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak memiliki kekurangan dan kelemahan di sana sini baik dalam segi penulisan maupun dalam segi penyajian materi yang saya paparkan. karena berkat perjuangan dan jasa-jasa beliaulah kita dapat merasakan alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Solawat beriring salam tak lupa saya limpahkan untuk junjungan alam nabi besar Muhammad SAW. Untuk itu.Wb. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan baru kepada para pembaca serta dapat menambah wawasan bagi para pembaca. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan Makalah ini tepat pada waktunya.KATA PENGANTAR Asslamualaikum Wr. Billahitaufik walhidayah Wassalamu¶alaikum Wr. kritik dan saran yang bersifat membangun. Dalam penyusunan makalah ini penulis mengangkat tema tentang ³Pelayanan publik´.

.........................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN I................17 ...........................11 BAB III PENUTUP III.........................................................................................................15 III....a Latar Belakang..............................................d Metode Penulisan..............................................................................................................4 BAB II Kerangka Teori II....................a Efektifitas..............................................................i DAFTAR ISI......................................................................................................................................................................................................b Tujuan........1 I...........b.................5 II...................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...........................4 I.......................b Saran...................9 BAB III PEMBAHASAN Pelayanan publik di kantor Samsat bengkulu..........c Rumusan Masalah.......................................................................................................................................a Kesimpulan...........................16 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................... Efisiensi........................................................................4 I.......................................

seringkali memperoleh perlakuan istimewa dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Elite politik dan birokrasi. Dinamika ekonomi dan politik yang amat tinggi. Meluasnya praktik-praktik KKN (Kolusi. Paspor dan berbagai perijinan tetapi juga ketika mereka mengonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor swasta.BAB 1 PENDAHULUAN I. seperti praktik monopoli dan ologopoli yang amat merugikan kepentingan publik.a Latar Belakang Dalam penyelenggaraan pelayanan publik. KKN tidak hanya telah membuat pelayanan birokrasi menjadi amat sulit dinikmati secara wajar oleh masyarakatnya. dan atau yang dekat dengan mereka.Birokrasi dan para pejabatnya lebih menempatkan dirinya sebagai penguasa dari pada sebagai pelayan masyarakat. tetapi juga membuat masyarakat harus membayar lebih mahal pelayanan yang diselenggarakan oleh swasta. Korupsi dan Nepotisme)dalam kehidupan birokrasi publik semakin mencoreng image masyarakat terhadap birokrasi publik. Hal seperti ini sering mengusik rasa keadilan dalam masyarakat yang merasa diperlakukan secara tidak wajaroleh birokrasi publik. Masyarakat harus membayar lebih mahal tidak hanya ketika menyelesaikan urusan KTP. Inisiatif dan kreatifitas birokrasi dalam merespons krisis dan dampaknya sama sekali tidak memadai. Akses terhadap pelayanan dan kualitas pelayanan publik sering berbeda tergantung pada kedekatannya dengan elite birokrasi dan politik. Berkembangnya budaya paternalistik ikut memperburuk sistem pelayanan publik melalui penempatan kepentingan elite politik dan birokrasi sebagai variabel yang dominan dalam penyelengaraan pelayanan publik. Masyarakat yang mengharapkanbirokrasi publik dapat memberi respons yang tepat dan cepat terhadap krisis yang terjadi menjadi amat kecewa karena ternyata tindakan . KKN diyakini oleh publik menjadi sumber dari biaya birokrasi dan distorsi dalam mekanisme pasar. Akibatnya sikap dan perilaku birokrasi dalam penyelegaraan pelayanan publik cenderung mengabaikan aspirasi dan kepentingan masyarakat. seperti kendaraan bermotor. sebgai akibat dari krisis tersebut ternyata tidak dapat direspons dengan baik oleh birokrasi publik sehingga membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin sulit dan tidak pasti. Rendahnya kemampuan birokrasi merespons krisis ekonomi memperparah krisis kepercayaan terhadap birokrasi publik. orientasi pada kekuasaan yang amat kuat selama ini telah membuat birokrasi menjadi semakin jauh dari misinya untuk memberikan pelayanan publik. jalan tol dan komoditas lainnya.

Orientasi kepada kekuasaan membuat birokrasinya menjadi semakin tidak responsif dan tidak sensitif terhadap kepentingan masyarakatnya. bahkan mungkin menjadi semakin jauh dari tujuan yang dimiliki ketika membentuk birokrasi itu.birokrasi cenderung reaktif dan tidak efektif. Dalam situasi seperti ini. Dengan menggunakan metafora biologi. Perluasan misi birokrasi ini sering kali tidak didorong oleh keinginan birokrasi itu agar dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan . Pemerintah dan birokrasinya telah gagal menyelenggarakan pelayanan publik yang efisien. Kemampuan dari suatu sistem pelayanan publik dalam merespons dinamika yang terjadi dalam masyarakatnya secara tepat dan efisien akan sangat ditentukan oleh bagaimana misi dari birokrasi dipahami dan dijadikan sebagai basis dan kriteria dalam pengambilan kebijakan oleh birokrasi itu. Dominasi birokrasi dalam kehidupan politik dan ekonomi selama ini ternyata juga menciptakan berbagai distorsi dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang cenderung memperburuk krisis ekonomi dan politik yang terjadi. dalam tubuh birokrasi dan pemerintah yang mempengaruhi kapasitas dan perilakunya.Osborn dan Plastrik (1998) menjelaskan lima DNA. maka amat sulit mengharapkan pemerintah dan birokrasinya mampu mewujudkan kinerja yang baik. Ada banyak penjelasan yang bisa digunakan untuk memahami mengapa pemerintah dan birokrasinya gagal mengembangkan kinerja pelayanan yang baik. bahkan cenderung dibiarkan sehingga masyarakat menjadi semakin tidak percaya terhadap kemampuan birokrasi dalam menyelesaikan krisis ini. konsekuensi. Berbagai persoalan yang terjadi dipusat dan didaerah tidak dapat diselesaikan dengan baik. responsif dan akuntabel. Praktik-praktik KKN yang terjadi dalam kehidupan birokrasi telah membuat birokrasi menjadi semakin jauh dari masyarakatnya. kode genetika. Birokrasi publik diIndonesia sering kali tidak memiliki misi yang jelas sehingga fungsi-fungsi dan aktifitas yang dilakukan oleh birokrasi itu cenderung semakin meluas. Pengelolaan dari kelima sistem kehidupan birokrasi ini akan menentukan kualitas sistem pelayanan publik. akuntabilitas. Berbagai fenomena diatas menunjukkan betapa rapuhnya kepercayaan dan legitimasi pemerintah dan birokrasinya dimata publik. Sikap dan perilaku dari suatu birokrasi dan pemerintah dalam menyelengarakan pelayanan publik akan sangat ditentukan oleh bagaimana kelima DNA dari birokrasi itu dikelola. Ini semua terjadi karena pemerintah dan birokrasinya telah gagal menempatkan dirinya menjadi institusi yang bisa melindungi dan memperjuangkan kebutuhan dan kepentingan publik. yaitu misi (purpose). kekuasaan dan budaya. Kelima sistem DNA ini akan saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam membentuk perilaku birokrasi publik.

Dalam sistem penyelenggaraan pelayanan publik. Dengan cara pandang seperti ini. maka informasi tepat dan lengkap mengenai kinerja birokrasi dapat diperoleh dan kebijakan reformasi birokrasi yang holistik dan efektif bisa dirumuskan dengan mudah.Tentunya kegagalan birokrasi dalam merespons krisis ekonomi dan politik secara baik juga amat ditentukan oleh bagaimana sistem kekuasaan. maka diharapkan perbaikan . maka kecenderungan semacam ini tidak hanya akan membengkakkan birokrasi publik. Apalagi dalam birokrasi publik diIndonesia yang cenderung menjadikan prosedur dan peraturan sebagai panglima.sosial ekonominya. tetapi juga membingungkan masyarakat pengguna jasa birokrasi. Dengan melaksanakan kebijakan seperti ini. yang muncul sebagai akibat dari krisis ekonomi dan politik yang sekarang ini terjadi diIndonesia. Para pejabat birokrasi sering mengabaikan perubahan yang terjadidalam lingkungan dan alternatif cara pelayanan yang mungkin bisa mempermudah para pengguna layanan untuk bisa mengakses pelayanan secara lebih mudah dan murah. intensif dan budaya yang berkembang dalam birokrasi selama ini. Ketidakpastian misi juga membuat orientasi birokrasi dan pejabatnya pada prosedur dan peraturan menjadi amat tinggi. Dalam situasi yang fragmentasi birokrasi amat tinggi. Ketaatan dan kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan menjadi indikator kinerja yang dominan sehingga keberanian untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan kreatifitas dalam merespons perubahan yang terjadi dalam masyarakat menjadi amat rendah. maka ketidakjelasan misi birokrasi publik mendorong para pejabat birokrasi publik menggunakan prosedur dan peraturan sebagai kriteria utama dalam penyelenggaraan pelayanan. tetapi didorong oleh keinginan birorasi untuk memperluas aksesnya terhadap kekuasaandan anggaran. tetapi juga menghasilkan duplikasi dan konflik kegiatan dan kebijakn antar departemen dan berbagai non departemen. tentu tidak cukup hanya dengan menganalisisnya dari satu aspek yang sempit. akuntabilitas. tetapi harus bersifat menyeluruh dengan memperhatikan semua dimensi persoalan yang dihadapi oleh birorasi serta keterkaitan sati dengan yang lainnya. Birokrasi yang seperti ini tentu amat sulit menghadapi dinamika yang amat tinggi. Untuk memahami kinerja birokrasi dalam penyelengaraan pelayanan publik. Uraian diatas menjelaskan bahwa kemempuan pemerintah dan birokrasinya dalam menyelenggarakan pelayanan publik amat dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Rutinitas dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan benar dalam penyelengaraan pelayanan publik. konflik kebijakan antar departemen dan lembaga non departemen bukan hanya melahirkan inefisiaensi. Krisis ini mengajarkan kepada kita betapa rapuhnya sistem birokrasi publik diIndonesia dalam menghadapi perubahan-perubahan yang cepat dalam lingkungannya.

1. baik yang sifatnya internal maupun yang secara langsung berpengaruh terhadap praktik penyelengaraan pelayanan seperti budaya birokrasi. Mencari Solusi terhadap permasalahan yang ada. Memenuhi tugas mata kuliah Pelayanan Prima I. responsif dan akuntabel. Makalah ini sedikit mengupas bagaimana berbagai faktor tersebut berhubungan dengan kinerja penyelengaraan pelayanan publik yaitu Pelayanan Pajak Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) Bermotor di SAMSAT Bengkulu.Dengan menggunakan data yang diperoleh baik dari survei maupun media massa dan wawancara dilapangan.d Metode Penulisan Adapun metode penulisan yang saya gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan pokok bahasan. Internet dan majalah Serta pengalaman Penulis yang langsung Di kantor SAMSAT saat penulis membayar pajak motor yang kemudian data-data tersebut penulis analisis. Berbagai faktor. I. dimana data-data tersebut saya dapatkan dari berbagai artikel dari Koran. . seperti budaya dan kondisi politik lokal ikut mempengaruhi kinerja birokrasi dalam menyelengarakan pelayanan publik. Mengetahui implementasi pelayanan publik di SAMSAT Bengkulu b. kewenangan diskresi dan sistem intensif dijelaskan dalam makalah ini. etika pelayanan. c.c.b. Rumusan masalah Adapun rumusan masalah yang saya kaji dalam makalah ini adalah tentang Bagaimana Pelayanan Publik dikantor SAMSAT Bengkulu. Tujuan penulisan Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : a. makalah ini menjelaskan berbagai faktor yang menjadi penyebab dari kegagalan birokrasi publik dalam menyelengarakan pelayanan publik secara efisien. Lebih dari itu makalah ini juga menjelaskan bagaimana lingkungan eksternal birokrasi.kinerja birokrasi dalam penyelengaraan pelayanan publik akan bisa segera dinikmati oleh masyarakat luas.

Tingkat pencapaian sasaran itu menunjukkan tingkat efektivitas (Gibson. sehingga efektivitas hanya berkepentingan terhadap output. waktu) telah tercapai.BAB II KERANGKA TEORI II. 1992). dan mencapai target yang diharapkan. Makin besar persentase target yang dicapai. Tetapi jika perusahaan itu hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar kurang dari 500 buah. Konsep ini telah tertuju pada . Menurut Koesoemaatmaja (1979) yang dikutip oleh Arifin (2003: 23) pengertian efektivitas adalah: Efektivitas (hasil guna) mempunyai pengetian perbandingan antara hasil yang terlaksana secara nyata dengan hasil yang direncanakan (target). Menurut Rosyidi (1980). maka perusahaan tersebut dikatakan efektif. 1992). Jadi yang dimaksud disini adalah apabila suatu kegiatan dilakukan secara sempurna dan mencapai target sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Jones (1996). Sedangkan menurut Hidayat(1986) dalam tulisannya yang berjudul ´konsep dasar dan pengertian produktifitas serta interprestasi hasil pengukuran´ yang dikutip oleh Arifin (2003: 25) menjelaskan bahwa pengertian efektivitas adalah: ³Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas. maka kegiatan itu dikatakan telah mencapai efektivitas. Secara umum efektivitas digunakan sebagai ukuran di dalam mencapai keberhasilan usaha atau pencapaian sasaran yang ditetapkan. berpendapat bahwa efektivitas menunjuk kepada keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai tujuan (objectivitas). Tingkat pencapaian sasaran itu menunjukkan tingkat efektivitas (Gibson.a Efektivitas Perkataan efektivitas meskipun sering diucapkan tetapi memiliki pengertian dan makna yang berbeda. Efektivitas yang bertumpu pada pendekatan tujuan diartikan sebagai pencapaian sasaran yang telah disepakati atas usaha bersama. maka perusahaan tersebut dikatakan tidak efektif. sehingga beberapa ahli berupaya untuk mendefinisikan efektivitas tersebut. bahwa efektivitas digunakan untuk menyebutkan bahwa sesuatu itu telah berhasil dilaksanakan secara sempurna. maka makin tinggi tingkat efektivitasnya. Efektivitas yang bertumpu pada pendekatan tujuan diartikan sebagai pencapaian sasaran yang telah disepekati atas usaha bersama. kualitas. dan ternyata tujuan tersebut berhasil. Jadi efektivitas didasarkan pada gagasan bahwa organisasi diciptakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. tepat. Misalnya. jika sesuatu perusaan ingin menambah mesin dan karyawannya agar dapat memenuhi permintaan pasar terhadap produknya sebanyak 500 buah.

maka indikator yang sering dipakai adalah membandingkan antara realisasi dengan target yang ingin dicapai. Suatu organisasi sudah tentu melaksanakan berbagai macam kegiatan dan memiliki berbagai jenis output. 1987: 64). sehingga tidak mungin pengukuran efektivitas organisasi dilakukan dengan menggunakan kriteria tunggal (Lubis. Masalah penggunaan masukan tidak menjadi isu dalam konsep ini. pendekatan dalam pengukuran efektivitas organisasi salah satu adalah tujuan rasional (rasional goal model). menurut Hidayat dan Sucherly (1986). Menurut Quinn dan Rohrbaugh. 2005: 141): .pengeluaran. dalam tulisannya yang berjudul ³peningkatan produktifitas organisasi pemerintahan dan pegawai negeri di Indonesia´. Secara sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output (target/result) (Djamil. dan produktivitas serta efisiensi (sebagai tujuan). Biasanya efektivitas suatu organisasi dilihat dari hasil (kuantitas) yang dicapai. tidak pada input (masukan). Menurut Gibson dalam Siagian yang dikutip oleh Tanklisan mengatakan efektivitas dapat diukur sebagai berikut (Tangkilisan. jadi bila dilihat dari kacamata seorang birokrat. Konsep ini lebih berorientasi pada output (keluaran). kriteria perencanaan. yang dikutip oleh Kasim (1993). Dari pengertian-pengertian diatas. 2009: 10). yang dikutip oleh Arifin (2003: 26) memberi pengertian efektivitas sebagai berikut: ³Untuk mengukur karya aparat pemerintah. Pada umumnya organisasi pemerintah (yang tidak bertujuan mencari laba) berorientasi pada pencapaian efektivitas. yang melibatkan berbagai faktor baik didalam maupun diluar organisasi. yaitu menekankan pada fokus ekternal dan pengawasan. Konsep pengukuran yang membandingkan kedua hal tersebut adalah efektivitas. penetapan tujuan (sebagai cara). Efektivitas merupakan suatu konsep yang luas mencakup berbagai factor baik di dalam maupun diluar oraganisasi. upaya (effort) mengejar target adalah rasional. bearti semakin tinggi tingkat efektivitas pelayanan jasa pemerintahan´. Efektivitas menggambarkan tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan.´ Selain itu. karena semakin besar antara realisasi dibandingkan denga target. Pendekatan tujuan rasional atau pendekatan sasaran (goal approach) ini dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan identifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut. baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. dapat disimpulkan bahwa efektivitas merujuk pada pencapaian tujuan (goal).

Perencanaan yang matang 5. Efisiensi= Output/ Input Rasio efisiensi tidak dinyatakan dalam bentuk absolute tetapi dalam bentuk relatif.b Efisiensi. 1996: 9). Proses analisis dan perumusan kebijaksanaan yang mantap 4. Menurunkan input pada tingkat input yang sama d. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama b. maka perbaikan efisiensi dapat dilakukan dengan cara (Arifin 2003: 21) a. maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi. Efisiensi ini berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk meningkatkan tingkat efektivitas tertentu atau mencapai hasil yang diinginkan. keuntungan dan manfaat. Efisiensi. Kejelasan strategi pencapaian tujuan. Tersedianya sarana dan prasarana 7. rasio dapat dilihat dari perbandingan antara output dengan input (Jones. Semakin besar output dibanding input. Semakin sedikit input yang dilakukan oleh organisasi dan menghasilkan output yang semakin besar maka organisasi tersebut dikatakan semakin efisien. Karena efisiensi diukur dengan membandingkan keluaran dan masukan. Efisiensi dapat diukur dengan melihat banyaknya input yang dilakukan oleh suatu organisasi untuk mencapai suatu output. Penyusunan program yang tepat 6. yang merupakan sinonim dari rasionalitas ekonomi adalah merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha yang terakrir umumnya di ukur dari ongkos monoter. Meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi peningkatan input c. Untuk mengukur efisiensi tersebut parameternya adalah biaya. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik II. Menurunkan input dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan output . 3. Kejelasan tujuan yang hendak dicapai 2. Penilaian terhadap efisiensi ditujukan untuk menjawab pengorbanan yang minim (usaha/biaya minimal) untuk mencapai hasil maksimal (manfaat/keuntungan). rasio.1. Menurut Jones Pendlebury.

sosial. Jumlah tersebut termasuk yang paling besar dalam sejarah perkembangan jumlah pegawai negeri diIndonesia. dalam arti fungsi pelayanan publiknya. Perekrutan pegawai dijajaran birokrasi pemerintah terus menerus dilakukan tanpa memperhatikan kejelasan kriteria. Menurut Rohdewohld (1995). profesionalitas dan kebutuhan organisasi.5 persen (belum termasuk pegawai pusat yang ditempatkan didaerah). pemerintah berusaha menciptakan lapangan pekerjaan untuk menampung jumlah pegawai negeri yang melebihi kapasitas.penyediaan lapangan kerja baru dibidang pemerintahan dan pelayanan oleh pemerintah menjadi sebuah keharusan. Penambahan jumlah pegawai negeri sipil secara besar-besaran semasa pemerintahan Orde Baru membawa dua konsekuensi pentung. Hampir segala aspek kehidupan masyarakat tersentuh oleh birokrasi semenjak penduduk lahir hingga meninggal dunia selalu berurusan dengan birokrasi pemerintah. Kedua. Penciptaan struktur organisasi baru diberbagai instansi pemerintahan. seni. sedangkan jumlah pegawaia negeri ditingkat pusat mencapai 87. Birokrasi kemudian cenderung lebuh berperan untuk mengurus kehidupan publik. Realitas tersebut menjadikan birokrasi terasa begitu dominan dalam mengatur kehidupan masyarakat. agama maupun budaya yang harus memerlukan mekanisme perijinan birokrasi yang sangat rumit.hal tersebut belum termasuk berbagai kegiatan politik. pada tahun 1993 jumlah pegawai negeri telah mencapai jumlah 4. Seorang penduduk yang lajir diharuskan mengurus surat keterangan lahir dan akta lahir di kantor Catatan Sipil. Pertumbuhan jumlah pegawai negeri sipil apabila diklasifikasikan menurut tingkatan pemerintah terlihat bahwa jumlah pegawai negeri yang adea didaerah hanya mencapai 12. perkembangan jumlah pegawai negeri terus mengalami peningkatan sangat tinggi. ekonomi. Sebagai kepanjangan tangan dari .BAB III PEMBAHASAN Kompleksitas masalah pembangunan yang dihadapi pemerintah Orde Baru menghendaki adanya perubahan struktur birokrasi yang membuat tubuh birokrasi menjadi semakin membengkak. Pertama. Selama pemerintah Orde Baru berkuasa.009.000 Orang. akibat dari jumlah pegawai negeri yang terlalu besar menjadikan dominasi peran birokrasi dalam kehidupan publik menjadi sangat tinggi. Penambahan jumlah instansi dan pegawai birokrasi pemerintah tersebut pada akhirnya tidak membawa dampak pada terciptanya efisiensi pelayanan publik. baik dipusat maupun didaerah tumbuh begitu pesat tanpa memperhatikan analisis kebutuhan organisasi serta penyiapan sumberdaya manusianya. Dalam kurun waktu tidak lebih dari sepuluh tahun.5 persen.

Setelah memiliki kelengkapan persayaratan.. ekonomi.pemerintah pusat.5000. birokrasi didaerah hanya menjalankan fungsi pelaksanaan regulasi atau kebijakan yang telah ditentukan birokrasi pusat untuk melakukan pengaturan atas segala kehidupan masyarakat. Dalam pelayanan selanjutnya pengguna jasa membayar jumlah pajak kepada kasir di loket III sesuai dengan nomor antrian. Peran dan posisi birokrasi yang hampir tidak terbatas menjadikan birokrasi sangat sulit dikontrol oleh publik. slip pendaftaran ditanda tangani .sebagai pembayaran pendaftaran. Selain kompleksitasnya masalah pembangunan yang dihadapi. pemerintah Orde Baru membentuk jaringan organisasi birokrasipemerintahan yang mampu menjangkau sampai ke lapisan terbawah masyarakat. Biaya Administrasi STNK dan Biaya Administrasi TNKB. Petugas menerima berkas tersebut dengan menggantikan slip pendaftaran yang dikembalikan kepada pengguna jasa yang bertuliskan Rp. sosial. Ketika pengguna jasa telah membayar pendaftaran. korupsi dan nepotisme menjadi sulit terdeteksi. Dalam kwitansi pajak STNK meliputi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). sehingga munculnya patologi birokrasi seperti kolusi. proses pembayaran dan pengesahan terlihat banyak yang terlibat didalamnya oknum baik petugas maupun calo. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) Asli dan Fotokopi dan KTP Pemilik Asli. pemerintahan Orde Baru dengan berbagai pertimbangan politik. Pelayanan Publik di kantor SAMSAT Bengkulu Dalam penyelengaraan pelayanan pajak Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) bermotor di SAMSAT Bengkulu penuh dengan KKN. pengguna jasa mendaftarkan ke Loket I pendaftaran dengan menyerahkan berkas kelengkapan persyaratan pajak STNK. Selama Orde Baru berkuasa jaringan Organisasi pemerintah terbentuk mulai dari pusat sampai Rukun Tetangga secara hierarkis. pada Loket II petugas pengesahan menerima slip pendaftaran untuk ditukarkan dengan kwitansi pembayaran pajak STNK sesuai tahun keluarnya kendaraan. Menyadari hal tersebut. Pelayanan STNK berawal dari persyaratan pengajuan. budaya maupun geografis wilayah Indonesia yanga demikian besar memerlukan adanya suatu sistem pengendalian birokrasi yang efektif dalam menjangkau sasaran pembangunan. Persyaratan pengguna jasa atau pemakai kendaraan dalam mengajukan persyaratannya terdiri dari STNK Asli. Sumbangan Wajib (SW) Jasa Raharja. Perubahan tata pemerintahan dilakukan secara sistematis selama Orde Baru berkuasa. Maka dengan selesainya membayar berarti pengguna jasa tinggal mengambil STNK yang baru yaitu lembar pajak 1 tahun di gantikan dengan slip .

dijawab dengan mudah oleh . saya mengalami dari tahun 2009. Dalam pembayaran pajak STNK merasakan keanehan ketika KTP Pemilik kendaraan tidak ada.000. mulai dari membayar pajak 1 tahun sepeda motor dan kehilanagan STNK. Saya hanya dapat membawa sepeda motor dan STNK Asli ke SAMSAT karena teman saya sedang bekerja di Jakarta. Cara pandang saya tidak langsung memvonis hal tersebut sebagai uang suap tetapi sebagai konsekuensi hukum walaupun secara tertulis tidak ada. Dan peristiwa berikutnya dalam pembayaran perpanjangan Plat Nomor 5 tahun yang sarat dengan KKN.pembayaran dan tertera waktu tagihan pajak untuk tahun depan. Rencana sepeda motor tersebut akan digunakan untuk transportasi pekerjaannya sebagai kolektor koperasi. Mengenai penyelenggaraan pelayanan publik di SAMSAT Bengkulu. Pada peristiwa ini saya membantu sepeda motor temannya yang hanya adaa STNK dan sepeda motor.-. maka akan terjadi kolusi secara terus menerus hingga membudaya dan mendarah daging. Tujuannya tidak lain untuk transportasi kinerja dan memberikan konsekuensi baik secara hukum maupun konsekuensi sosial. Tidak mudah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada birokrasi pemerintah dalam suatu penyelengaraan pelayanan publik. Maka kita sebagai pengguna jasa harus kritis dan berani untuk membuka persoalan dalam tataran politik. Padahal seandainya saya melihat didalam kantor SAMSAT tidak terdapat tarif atau aturan mengenai tebusan KTP sebesar Rp. Banyak peristiwa menarik dan banyak persoalan yang harus diselesaikan sebagai kepedulian terhadap kebersihan dan efisiensi pelayanan untuk mensejahterakan masyarakat.25000. Persyaratan perpanjangan Plat Nomor 5 tahun harus membawa sepeda motor untuk cek fisik. alhamdulillah juga dipercaya oleh teman dan tetangga untuk membayarkannya. Karena pendidikan dan etika dalam pelayanan tidak dipahami oleh keduanya cenderung terjadi pembodohan dan ketergantungan oleh kekuasaan uang. Mereka menanyakan pembayaran pajak atau perpanjangan Plat Nomor. Selain motor sendiri. Penulis sudah 2 kali dalam melakukan pembayaran pajak 1 tahun maupun perpanjangan Plat Nomor 5 tahun.-. Melihat kondisi yang seadanya dari sepeda motor langsung didatangi tukang parkir dan calo yang mendekat didepan kantor SAMSAT bengkulu kepada saya. BPKB Asli dan fotokopi serta KTP Pemilik Asli. Tetapi hal tersebut jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya teguran baik kepada aparat pelayanan SAMSAT maupun pengguna jasa. Waktu yang dibutuhkan untuk membayar pajak yaitu satu sampai satu setengah jam. petugas menyarankan untuk menebus uang Rp. Pada loket IV yatu penyerahan STNK dan Plat Nomor Polisi untuk melayani pengguna jasa dalam mengambil STNK baik yang membayar pajak maupun perpanjangan Plat Nomor. STNK Asli.25.

Sebagai warga negara yang terlibat langsung dengan penyelenggaraan pemerintahan sudah pasti akan bersinggungan peraturan baik dalam Undang-undang maupun Perda. dapat mendorong perbaikan didalam sistem pelayanan publik khususnya bagi aparat pelayanan publik dan pengguna jasa administrasi pemerintahan. Berdasarkan penjelasan permasalahan yang telah penulis analisis. Ternyata dapat digantikan denda sebesar Rp. Makakelegaan itu tidak berlangsung lama walaupun masalah suadah terselesaikan tinggal menuggu pembayaran tagihan pajak tahun depan. Melihat hal tersebut saya sebagai pengguna jasa merasaa lega setelah ada solusi dan denda yang sudah dilunasi oleh teman saya. SH mengatakan mengenai pengertian pajak yaitu iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-undang dapat dipaksakan dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik yang langsung dapat ditunjuk digunakan untuk . BPKB masih dijadikan jaminan pada koperasi serta KTP Pemilik tidak berda ditangan saya.saya dengan mengatakan mau membayar perpanjangan Plat Nomor. Masih beruntung kami masih bisa menyelesaikan persoalan pembayaran. Dr. Maka penulis dapat memahami pentingnya pelayanan publik yang dilihat dari pelaku dan pengguna jasa untuk mengukur bagaimana peayanan publik dalam pembayaran pajak STNK dapat berjalan efektif dan Efisien dengan prioritas peningkatan pendapatan asli daerah sebagai penunjang pembangunan. Dibawah pohon kami membicarakannya dan bagaimana cara membayarnya. itulah namanya.35000.. dalam hal ini pembayaran pajak STNK di kantor SAMSAT. Hal ini saya rasakan sebagai hilangnya kepercayaaan teman dan tetangga kepada aparat pelayanan yang telah dialami langsung oleh pengalaman saya. Seperti yang kita lakukan yaitu kewajiban dalam membayar pajak. Rahmat Sumitro.25. MenurutProf.25000.000. Saya membuka persoalan perpanjangan STNK dengan menceritakan yang sebenarnya. nomor rangka mesin sudah digesek dan mendapatkan Lembaran Ditlantas yang resmi.-. Kelegaan itu hilang saat saya dikenal sebagai calo atau pengantar dalam pembayaran pajak dan perpanjangan STNK.. Di satu sisi ada persoalan 2 tahun pajak yang lalu belum terbayar. Selain itu saya menyempatkan diri untuk berkenalan dengan calo tersebut. Seperti halnya KTP pemilik ditebus Rp.dan BPKB sebesar Rp.pertahun. Nanang mengatakan bahwa pembayaran perpanjangan STNK dalam kondisi seperti anda dapat diatasi yang terpenting sepeda motor dapat dicek fisik dan STNK Asli dibawa kekantor SAMSAT. Nanang seorang yang berprofesi sebagai calo pembayaran pajak dan perpanjangan STNK di SAMSAT Kota bengkulu. Setelah itu kami menghitung 2 tahun pajak yang belum dibayar.

pemerintah lebih mengedepankan supremasi hukum sebagai konsekuensi pidana dan ditindak lanjuti dengan konsekuensi sosial. Setelah terwujud pemerintah dalam perekrutan pegawai langkah selanjutnya mereka yang sudah menjadi pegawai dapat di didik dan dilatih dalam rangka menguji kembali keahlian dari ilmunya serta kepribadiannya. Sebagai solusi dan tindak lanjut permasalahan tersebut. Ketika penyelenggaraan pelayanan pajak STNK dikantor SAMSAT terjadi kolusi kepada oknum aparat. Kejaksaan Agung. politik. yang mana pemerintah kabupaten atau pemerintah kota sebagai kepanjangan tangan pemerintah propinsi. Sekarang pemerintah membutuhkan kinerja yang profesional dan orientasi pada kesejahteraan sosial. Pembayaran pajak STNK diselenggarakan oleh pemerintah propinsi dengan sistem Dekonsentrasi. . Pengalaman yang terjadi adalah prosedur administrasi mulai dari bawah sampai keatas secara hierarkis tidak mampu menyelesaikan masalah malahan menambah sumber baru yaitu monopoli aparat penyelenggara pelayanan yang hanya dapat tunduk kepada atasannya. Tidak terbatasnya kewenangan aparat membuat kontrol masyarakat sulit dilakukan pada akhirnya cenderung menimbulkan patologi birokrasi. Sedangkan untuk hasil dari pemungutan pajak STNK akan langsung diterima pemerintah propinsi sebagai lembaga negara yang memiliki kewenangan. Seperti POLRI pada kepemimpinan Jenderal Polisi Sutanto yang telah bekerjasama dengan BIN. Birokrasi yang rumit merupakan permasalahan klasik yang diturunkan melalui era orde baru status quo. Pengelolaan pendapatan pajak STNK dilaksanakan oleh UPTD SAMSAT dan UPTD Dipenda kabupaten /kota. KPK dan CIA dalam memberantas oknum yang terlibat pelanggaran kode etik pegawai. Pemungutan iuran tersebut hanya dapat dilakukan oleh negara yaitu aparat penyelenggara pelayanan publik. Penempatan pegawai dapat melihat prestasi dan hasil dari penelitian mengacu pada kepuasan dan pemecahan problem masyarakat. Melalui seleksi pegawai yang adil dan proposional dapat melihat permasalahan yang sebenarnya terjadi ditengah masyarakat baik dari segi ekonomi. Maka pemerintah bersama dengan aparat hukum langsung menindak dengan membuktikan kepada masyarakat luas melalui media masa. Untuk melengkapi tingkat efisiensi secara empiris mereka harus praktek latihan dan penelitian dilapangan sebagai penyempurnaan profesi. Selanjutnya pihak swasta memberikan sosialisasi tindak pidana oleh aparat kepada masyarakat luas untuk mendapatkan ketidakpercayaan. hukum dan budaya. Mengenai permasalahan kurang efisiensinya pelayanan oleh aparat sebagai dampak negatif yang disebabkan besarnya jumlah pegawai dan penambahan jumlah instansi.pembiayaan sarana umum.

KPK dan Masyarakat dalam menindak lanjuti f. BAB IV PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan uraian diatas maka penulis dapat memberikan kesimpulan bahwa dalam menyelenggarakan pelayanan pajak dikantor SAMSAT Kota Bengkulu harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a.Selain itu. POLRI. menjunjung tinggi nilai-nilai hukum terhadap aparat penyelenggara pelayanan dan masyarakat pengguna jasa e. melaksanakan dan mengawasi dengan penmerintah. Maka disamping sebagai pengguna jasa diharapkan mampu melakukan pengawasan yang obyektif. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan kontribusi materi dan kontrol perilaku aparat penyelenggara berupa teguran. BIN. penempatan pegawai yang adil dan proposional d. peran masyarakat disini tidak lain adalah ikut mendukung. surat peringatan maupun dialog secara langsung. adanya konsekuensi hukum dan konsekuensi sosial . Pengadilan. bekerjasama antara SAMSAT.perekrutan pegawai didasarkan pada keahlian (profesionalisme) c. pemahaman tentang pajak oleh aparat penyelenggara pelayanan dan masyarakat b.

Agus. Yogyakarta. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Gadjah Mada University Press.DAFTAR PUSTAKA Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tetang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas Dwiyanto. 2006. .