Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Seperti bidang lainnya yang selalu berubah menurut perkembangan zaman. Maka bidang ketenagakerjaan kini menunjukkan kebutuhan yang meningkat bagi calon dan orang lain. Kini people skill. Apapun pegawai untuk memiliki keterampilan mengelola diri sendiri keterampilan tersebut lazim disebut dengan softskill atau

istilahnya, keduanya berkaitan erat dengan kecerdasan emosional dan ketahanan mental dalam diri seseorang. Kebutuhan akan softskill terasa sangat mendasar untuk meningkatkan nilai kepemimpinan dan kerja sama tim didalam organisasi dan sektor bisnis. Dua dasawarsa lalu, softskill masih belum umum dibicarakan di Indonesia. Berbarengan dengan munculnya trend baru dalam dunia bisnis yang sangat tergantung pada kecakapan seseorang dalam seminar, lokakarya dan pelatihan-pelatihan. Terkait dengan hal ini, Yayasan bangun Bina Anak Indonesia (YBBAI) dalam programnya berencana akan mengembangkan prasarana softskill yang dikemas dalam proyek Eco Lengkong Resort. Eco Lengkong Resort sedianya akan menjadi wadah bagi kegiatan Outbond. Selayaknya kegiatan Outbond, maka disini akan disajikan paket-paket pelatihan softskill motivasi, fun games dan lainnya. Tapak lokasi Eco Lengkong Resort adalah berada di dalam Kampung Pendidikan Lengkong Mandiri. Kampung Pendidikan Mandiri sendiri adalah lokalisasi pembangunan prasarana dan sarana pendidikan terpadu oleh YBBAI, sebagai program pemerataan pendidikan bagi masyarakat di desa Lengkong Wetan ini. seperti charakter dan Team Building, kelas membentuk hubungan berdasarkan rasa percaya dan interaksi yang produktif, maka softskill mulai dibudayakan melalui

Daftar Isi
Bab I Pendahuluan 1.1. 1.3. Bab II Maksud .................................................................................. 1 Identifikasi Masalah ........................................................ 2

1.2. Tujuan .................................................................................... 2

Penjabaran 2.1. Pentingnya Softskill dalam Dunia Kerja .................... 3 2.1.1. Mengapa ......................................................................... 3 2.2. Kebutuhan Soft Skill Di Dunia Kerja ............................. 6 2.3. Pentingnya Belajar Softskill ............................................ 7 2.4. Manfaat Softskill Bagi Remaja ..................................... 8

Bab III

Penutup 3.1. Kesimpulan dan Saran .......................................................... 10

Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini, dunia kerja mengungkapkan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis saja (hardskill), tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain ( softskill). Sikap dan perilaku karyawan merupakan hal yang paling sering dikeluhkan oleh hampir sebagian besar manajemen perusahaan dan organisasi di tanah air. Dari lesunya motivasi, ketidak cakapan sebuah kepemimpinan, munculnya kasus-kasus karyawan yang indispliner, hingga kerjasama tim yang lemah adalah dikarenakan kurangnya porsi softskill yang diberikan di bangku sekolah dan perkuliahan. Untuk itu, Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia (YBBAI) dalam deklarasinya pada saat mendirikan Kampung Pendidikan Mandiri (KPM) Lengkong, telah merencanakan pengembangan bagi fasilitas softskill sebagai bagian dari konsep pendidikan yang terpadu. Hal ini merupakan alur fikir dari YBBAI sebagai usahanya dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi masyarakat desa Lengkong Wetan sekaligus mengentaskan kurangnya porsi softskill yang ditentukan didalam kurikulum. Selayaknya hal ini dijadikan pertimbangan bagi pihak pengelola dan pelaksana sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi untuk menyediakan sarana dan prasarana softskill yang mudah akses. Juga mengetuk hati pihak penyusun peraturan-peraturan di sektor pendidikan agar muatan softskill diberikan tempat yang sama besar seperti muatan hardskill ( ilmu pengetahuan dan teknis) di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi.

1.2.
1.2.1.

Maksud dan Tujuan


Maksud Maksud disusunnya makalah ini adalah untuk mengungkapkan pentingnya softskill dalam dunia kerja. Dimana nilai-nilai kepemimpinan dan kerjasama tim masih menjadi kendala terbesar untuk meraih kesuksesan. Identifikasi manfaat softskill sebagai jalan menuju kesuksesan juga merupakan dasar perumusan maksud dari penyusunan makalah ini.

1.2.2.

Tujuan Mengenali lebih jauh hal-hal dibawah terminologi softskill. Memberikan masukan yang dapat memperbaiki sikap dan perilaku khususnya murid-murid dari sekolah binaan YBBAI dan masyarakat desa Lengkong Wetan pada umumnya. Memberikan masukan/saran/ide kepada sekolah-sekolah binaan YBBAI agar softskill dapat diangkat sebagai ekstra kurikuler bagi peningkatan pemberdayaan diri guru dan peserta didik. Membagikan softskill, pengetahuan dan manfaat-manfaat dari sebagai salah satu keterampilan yang patut

dikembangkan sebagai bagian dari pengembangan SDM.

1.3. Batasan Masalah/Identifikasi Masalah


Mengetengahkan pentingnya softskill untuk dikembangkan sedari usia sekolah. Sehingga softskill layak dibudayakan dalam dalam kegiatan belajar dan mengajar sebagai bagian dari kehidupan akademis sehari-hari. Mengetengah kurangnya perhatian terhadap prasarana dan sarana penunjang softskill di sektor pendidikan (sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi), termasuk muatan kurikulum yang pada umumnya lebih ditekankan pada muatan hardskill saja.

Mengetengahkan softskill untuk disetarakan dengan bakat alamiah lainnya. Dengan demikian maka bakat softskill patut di identifikasi dan kemudian dilatih agar menjadi sebuah keterampilan yang bermanfaat bagi pengembangan sumber daya dalam diri seseorang.

Bab II Penjabaran

2.1.

Pentingnya Softskill dalam Dunia Kerja


2.1.1. Mengapa ? Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Dalam suatu penelitian mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya ditentukan 80% oleh softskill. Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Jika berkaca pada realita saat ini, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan penting dalam dunia pendidikan. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi para pendidik.

1. Apa

Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal.

Secara garis besar softskill dapat digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill.

Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management , proactivity, conscience)

Interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy).

Hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Di kalangan para praktisi SDM, pendekatan ala hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill oke, tetapi soft skillnya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirementnya. Saat rekrutasi karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skillnya lebih rendah. Alasannya sederhana : memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi rekrutasi Recruit for Attitude, Train for Skill. Hal tersebut menunjukkan bahwa : hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skillnya yang baik. Faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan softskills.

2. Bagaimana

Para ahli manajemen percaya bahwa bila ada dua orang dengan bekal hard skill yang sama, maka yang akan menang dan sukses di masa depan adalah dia yang memiliki soft skill lebih baik. Mereka adalah benar-benar sumber daya manusia unggul, yang tidak hanya semata memiliki hard skill baik tetapi juga didukung oleh soft skill yang tangguh.

Pada posisi bawah, seorang karyawan tidak banyak menghadapai masalah yang berkaitan dengan soft skill. Masalah soft skill biasanya menjadi lebih kompleks ketika seseorang berada di posisi manajerial atau ketika dia harus berinteraksi dengan banyak orang. Semakin tinggi posisi manajerial seseorang di dalam piramida organisasi, maka soft skill menjadi semakin penting baginya. Pada posisi ini dia akan dituntut untuk berinteraksi dan mengelola berbagai orang dengan berbagai karakter kepribadian. Saat itulah kecerdasan emosionalnya diuji.

Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Namun harus kalian ketahui bahwa suatu kegiatan Outbond yang lebih dikenal dengan games, ternyata didalamnya terdapat pembelajaran mengenai softskill, yaitu suatu pembentukan karakter dan motivasi yang dapat mendukung pengembangan softskill itu snediri. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas kepada orang lain.

2.2

Kebutuhan SoftSkills Di Dunia Kerja

Tenaga kerja yang memiliki kecerdasan emosional (Emotional Quatient) sangat mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut disamping kecerdasan intelektual. Berdasar hasil survey Nasional Assosiation of Colleges and Employers USA (2002) terhadap 457 pimpinan perusahaan menyatakan bahwa Indeks Kumulatif Prestasi (IPK) bukanlah hal yang dianggap penting dalam dunia kerja. Yang jauh lebih penting adalah sotfskill antara lain kemampuan komunikasi, kejujuran, kerjasama, motivasi, kemampuan beradaptasi dan kemampuan interpersonal dengan orientasi nilai pada kinerja yang efektif. Kemampuan softskill diatas, sebetulnya masuk dalam kecerdasan emosional yang menurut definisi adalah Kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, Kemampuan memotivasi diri, Kemampuan mengendalikan diri/ mengelola emosi pada diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain (Daniel Goleman). Ada lima kecedasan emosial yang dibutuhkan didunia kerja sekarang ini, yaitu : 1. Kesadaran Emosional , yang meliputi kedewasaan emosi dalam pengambilan keputusan yang win-win solution. 2. Pengelolaan Emosional (pengedalian diri) yang meliputi kemampuan kepekaan, sabar dan tabah dalam menjalankan tugas. 3. Motivasi Diri, yang meliputi kemampuan berpikir positif, ulet dan pantang menyerah 4. Empati pada Sesama ; yang meliputi kemampuan memahami, merasakan, peduli, hangat, akrab dan kekeluargaan 5. Ketrampilan Sosial , yang meliputi kemampuan bermusyawarah, bekerjasama, kepentingan umum/tim) Di sisi lain secara teori, di dalam dunia kerja, ada 3 (tiga) unsur utama yang harus dipenuhi agar seseorang dikatakan memiliki kompetensi yang meliputi kompetensi knowledge atau cognitive domain, skill atau psychomotor domain, serta attitude atau affective domain.(Jayagopan Ramasamy, Malaysia 2006). Dalam teori tersebut dikatakan bahwa kompetensi tersebut harus bisa diukur (measurable), dinilai, ditunjukkan (demonstrable) dan diamati (observable) melalui perilaku pada saat melaksanakan tugas. Sasaran akhir dari kompetensi

adalah perilaku yang diharapkan (desired behaviour) dan perlu ditunjukkan dalam melaksanakan tugas. kompetensi yang berkaitan langsung dengan bidang kerja.

2.3. Pentingnya Belajar Softskill


Berikut ini adalah contoh Softskill : 1. kemampuan berkomunikasi Komunikasi secara umum didefinisikan sebagai "menanamkan atau pertukaran pikiran, pendapat, atau informasi melalui pidato, menulis, atau tanda-tanda". Meskipun ada yang namanya komunikasi satu arah, komunikasi dapat dirasakan lebih baik sebagai proses dua arah yang di dalamnya ada pertukaran dan perkembangan pikiran. Komunikasi adalah dasar yang paling kuat dalam interaksi di setiap lingkungan seperti sekolah, kampus dan sebagainya. 2.manajemen konflik sebagai mahasiswa akan sangat diperlukan kemampuan dalam menangani masalah yang sering muncul dalam setiapa aspek kehidupan. 3.kemampuan bekerja sama dengan team ternyata kemampuan ini sangat besar andilnya dalam lingkungan kerja. Banyak diantara mahasiswa yang cenderung berpikir bisa bekerja sendiri tanpa melibatkan oranglain padahal pemahaman ini sangat salah. Di lingkungan kampus kemampuan ini diasah melalui kerja kelompok. 4.pengambilan keputusan dalam kondisi yang mendesak kemampuan ini sangat diperlukan. Untuk kondisi tertentu kemampuan ini harus dibuat walaupun terkadang mengesampingkan prosedur atau aturan yang baku yang telah disepakati bersama. Contohnya dalam bidang kedokteran menyelamatkan ibu atau bayinya. 5. Negosiasi Negosiasi adalah suatu dialog dimaksudkan untuk menyelesaikan perselisihan, untuk menghasilkan kesepakatan atas tindakan, untuk tawar-menawar untuk

keuntungan individual atau kolektif, atau hasil kerajinan untuk memuaskan berbagai kepentingan. Ini adalah metode utama alternatif penyelesaian sengketa. Dengan tulisan ini setidaknya telah menambah pengetahuan saya tentang pentingnya soft sklill dan berharap hal ini dibaca oleh mahsiswa yang sedang menempuh pendidikannya.

2.4. Manfaat Softskill Bagi Remaja


1. Kesadaran Emosional , yang meliputi kedewasaan emosi dalam pengambilan keputusan yang win-win solution. 2. Pengelolaan Emosional (pengedalian diri) yang meliputi kemampuan kepekaan, sabar dan tabah dalam menjalankan tugas. 3. Motivasi Diri, yang meliputi kemampuan berpikir positif, ulet dan pantang menyerah 4. Empati pada Sesama ; yang meliputi kemampuan memahami, merasakan, peduli, hangat, akrab dan kekeluargaan 5. Ketrampilan Sosial , yang meliputi kemampuan bermusyawarah, bekerjasama, kepentingan umum/tim) Remaja adalah generasi penerus masa depan bangsa. Remaja yang ulet, tangguh, berpengetahuan luas, mampu bersikap dan berperilaku dengan ketauladanan sebagai calon pemimpin yang memiliki rasa empathi, kecerdasan sosial dan emosional penting dibentuk dari sekarang. Hal ini terasa mendesak mengingat bahwa pada era persaingan global dewasa ini, perbaikan karakter bangsa melalui profesionalisme di segala bidang harus terpenuhi. Dengan demikian bisa meningkatkan kesiapan kita dalam menghadapi persaingan di pasar bebas. Hal ini bisa dicapai dengan pengaplikasian soft skill ke dalam perkuliahan/pendidikan formal lainnya. Menurut beberapa penelitian, baik di dalam maupun di luar negeri diperoleh fakta bahwa untuk meraih suatu kesuksesan ada karakter khusus (soft skill) yang harus dikuasai. Beberapa diantaranya yaitu: mampu bekerja sama, motivasi kerja yang tinggi, bertanggung jawab, dapat mengatasi masalah

dengan baik, Jujur, mempunyai kepercayaan diri, ketrampilan berkomunikasi dll. Tampaknya, apa yang diberikan di bangku sekolah tidak lagi sesuai dengan apa yang dibutuhkan di lapangan kerja. Terutama kurikulum masih sebagian besar ditekankan hanya untuk meningkatkan inteligensi murid/ siswa. Pengembangan keterampilan lain termasuk softskill masih minim terutama di sekolah-sekolah umum. Ketidakseimbangan itu, tentu saja perlu segera diatasi, antara lain dengan memberikan bobot yang lebih kepada pengembangan soft skills. Para pelaku pendidikan , khususnya di perguruan tinggi, diharapkan dapat mendukung program pengembangan soft skills, baik melalui intrakurikulum maupun kegiatan ko/ekstrakurikuler. Peningkatan kompetensi lulusan berbasis soft skills sangat mendesak, karena, pertama, untuk memenuhi kebutuhan para pengguna lulusan perguruan tinggi di dunia kerja dengan orientasi produktivitas tinggi. Kedua, untuk mewarnai dunia kerja ke arah perbaikan karakter bangsa. Hal itu diperlukan dengan alasan, fakta bahwa sejak dahulu belum terwujud kejayaan bangsa di bidang ekonomi, hukum, politik, dan moral. Ratusan ribu sarjana ekonomi dihasilkan tiap tahun, namun ekonomi masih belum membaik. Begitu pula ratusan ribu sarjana hukum dihasilkan tiap tahun, tetapi hukum masih belum menemukan bentuk. Kita kembalikan saja hal ini pada nilai-nilai moral sebagai dasar pembentuk dari karakter (sikap dan perilaku) yang kini perbaikannya sudah sangat dipermudah, salah satunya dengan adanya pelatihan-pelatihan softskill.

Bab III Penutup


3.1.

Kesimpulan dan Saran.


Ketauladanan sikap dan perilaku pengelola dan staff pengajar di sekolahsekolah adalah yang mudah diserap oleh peserta didik. Apalagi dalam rentang usia remaja, seorang peserta didik selalu mencari panutan untuk ditiru. Suri ketauladanan yang paling mudah diserap adalah dengan mencontoh perilaku dan sikap guru di sekolah-sekolah, terutama karena interaksi yang terjadi setiap harinya.

Keterampilan akan softskill layak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari terminologi SDM. Pembelajaran softskill yang terbaik adalah dengan cara menularkan. Demikian pentingnya keterampilan softskill bagi peningkatan SDM bangsa sehingga softskill layak dibudayakan menjadi budaya yang dibanggakan seperti halnya kita semua bangga akan budaya daerah masing-masing.

Pendidikan karakter di sekolah-sekolah adalah bagian

dari pengembangan

softskill. Kurikulum pendidikan karakter sekarang tidak lagi harus kaku dan hanya diberikan di ruangan kelas dalam bentuk teori. Banyak cara untuk merubah kurikulum pendidikan karakter menjadi suatu kegiatan bersama dengan cara yang menyenangkan. Untuk itu perlu adanya masukan yang lebih variatif dari kepala bidang pendidikan dan kurikulum di sekolah-sekolah untuk menentukan jenis dan menjadwalkan kegiatan termaksud demi mengembangkan softskill peserta didik. Softskill sebagaimana juga bakat bakat alami lainnya, adalah wajib ditemukan/diidentifikasi dan di asah menjadi keterampilan. Untuk itu kegiatan terkait pelatihan softskill harus di integrasikan secara lebih terstruktur di dalam kegiatan sekolah. Kurikulum bermuatan softskill layak dibentuk, ditentukan dan ditetapkan dalam peraturan-peraturan oleh Departement Pendidikan.