Anda di halaman 1dari 16

LENGKONG SERPONG DENGAN 4 TONGGAK SEJARAHNYA

8 Februari 2012 Sarasehan Sehari: Saatnya yang Muda Bicara

Di susun Oleh : Yuli Mulyana


SMP Plus Berkualitas Lengkong Mandiri Jln. Raya Parigi, Lengkong Wetan, Serpong, TangSel Provinsi Banten.

Kata Pengantar
Lengkong merupakan sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Baik lengkong maupun Serpong telah menitihkan catatan sejarah perjuangan, terhitung sejak zaman VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie ) hingga masa Perang kemerdekaan. Dan dari peristiwa tersebut terdapat empat tonggak sejarah perjuangan di Lengkong dan Serpong, diantaranya adalah : 1. Pertempuran Lengkong Tahun 1682 antara pasukan Sultan Agung Tirtayasa dari Banten melawan Pasukan VOC ( kompeni Belanda ) 2. Peristiwa Penyadaran di Lengkong Tahun 1936 oleh para Tokoh Pergerakan Nasional dari Partai Serikat Islam Indonesia ( PSSI ) seperti Haji Agus Salim, H.O. Said Cokroaminoto, Moh. Rum, Moh. Natsir, A.M. Sangaji, Sabirin dan lain-lain. 3. Peristiwa Heroik Lengkong 25 Januari 1946. Dalam melaksanakan tugas kemanusiaan di Lengkong untuk melucuti tentara Jepang dan memulangkannya, sebanyak 34 Taruna Militer Akademi Tangerang dibawa pimpinan Direkturnya Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto Djojohadikusumo dan Letnan Soetopo gugur. 4. Pertempuran Serpong 26 Mei 1946 di Serpong, antara pasukan pejuang dibawah pimpinan Haji Ibrahim dan abuyah Hatim melawan tentara Nica yang bermarkas dipekebunan karet di serppong. Dalam pertemmpuran ini tewas 189 pejuang. Jenasahnya dikebumikan di Makam yang kita kenal dengan Taman Makam Pahlawan Seribu Serpong. Dengan adanya peristiwa bersejarah di Lengkong, maka tidak berlebihan jika Lengkong dan sekitarnya dijadikan sebuah lokasi yang patut dilestarikan dengan tatanan yang disesuaikan pada perkembangan zaman. Pelestarian tersebut dapat diartikan sebagai melestarikan nilai-nilai perjuangan dari pahlawan yang telah mengorbankan apa saja demi meraih kemerdekaan termasuk pengorbanan keringat, airmata, harta benda bahkan nyawa. Kita semua yang hidup di alam kemerdekaan ini

sudah selayaknya tetap mengemban misi para pahlawan dengan berbagai cara, sebagai bentuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajah. Perlu diingat bahwa , masyarakat Lengkong pada masa itu adalah leluhur warga lokal dari desa Lengkong Wetan dan sekitarnya. Anak cucu mereka semua patut turut merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Putra-putri desa Lengkong harus turut mengecap pembangunan merata yang berkesinambungan di negri yang telah merdeka ini. Untuk bersama membangun negara kearah peradaban kemanusiaan yang lebih maju.Dan peradaban kemanusiaan yang lebih maju tersebut, dapat diraih salah satunya melalui pendidikan. Untuk itu, Yayasan Bangun Bina Anak Indonesia (YBBAI) mengajak semua pihak untuk turut serta memberikan peluang bagi putraputri desa Lengkong Wetan dan sekitarnya agar alam kemerdekaan dapat dirasakan, dan dinikmati oleh mereka. Penyusun

DAFTAR ISI
hal

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I


1.1 1.2 1.3

i ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang Maksud dan Tujuan Identifikasi Masalah 1

BAB II
2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5.

PEMBAHASAN
Sultan Ageng Tirtayasa Vs Kompeni (1682) Peristiwa Penyadaran Lengkong (1936) Peristiwa Lengkong 25 Januari 1946 Pertempuran Serpong 26 Mei 1946 Prof. Dr. Subroto Letjen TNI (Purn.) Kemal Idris Mayor TNI ( Purn.) Oetarjo. Pejuang Bangsa, Pejuang Pendidikan, Pejuang YBBAI Lengkong Masa Kini

2.6.

BAB III
3.1. 3.2.

PENUTUP
Kesimpulan Saran-saran

BAB I Pendahuluan

1.1.

Latar Belakang
Lengkong Wetan, desa yang memiliki serentetan kisah perjuangan dimasa lalu ini, nyaris hanya diminati oleh segelintir orang yang hanya berkepentingan mengambil alih kepemilikan lahan untuk disesuaikan dengan kebutuhan pribadi dan kelompok. Hingga hari ini, tidak terlihat adanya kemerdekaan pernah tumpah di bumi Lengkong Wetan. Pelestarian lokasi tersebut padahal dapat dimulai dengan menyediakan fasilitas bagi kepentingan warga desa, terutama fasilitas pendidikan dan perumahan rakyat yang mudah di akses oleh segenap warga desa ini. Munculnya banyak sekolah-sekolah bertaraf internasional di sekitaran desa Lengkong Wetan, tidaklah memperbaiki keadaan. Tingkat sosial dan ekonomi warga desa yang rendah, masih menjadi kendala yang sulit untuk dituntaskan bahkan untuk hak memperoleh pendidikan yang sewajarnya. Kondisi sulit ini seharusnya sudah terpecahkan jika pelaksana sektor pendidikan tidak diberikan kepada wewenang perorangan atau kelompok. Karena privatisasi sektor sektor penting seperti sektor pendidikan ini, sering sekali tidak memihak pada kebutuhan rakyat kebanyakan. Sehingga pada akhirnya, mutu SDM di desa ini masih sangat rendah. Warga desa sulit untuk mengikuti perkembangan pembangunan. tanah leluhurnya sendiri. Disamping itu, rendahnya mutu SDM bahkan menyebabkan warga desa ini laksana menjadi warga negara kelas 2 bahkan di langkah pelestarian lokasi yang dapat mengingatkan kita semua, bahwa perjuangan merebut

Warga desa berhak memperoleh perhatian sepantasnya dari Pemerintah Daerah yang terkait, terutama karena letak lokasi yang bertetangga dengan dua kompleks perumahan modern Bintaro Jaya dan BSD City. Fasilitas umum yang kurang, terutama fasilitas pendidikan menyebabkan ini sama saja dengan kebanyakan desa-desa lainnya di tanah air. Letak lokasi yang berdampingan dengan kompleks Bintaro Jaya dan BSD City, memperuncing perbedaan sumber daya manusia antara kedua warga desa dan warga perumahan modern tersebut.

1.2.

Maksud dan Tujuan


1.2.1. Maksud

1.2.2.

Tujuan

Mengetengahkan kisah perjuangan warga Lengkong dan Serpong sebagai rasa penghargaan kepada para pejuang dan keturunannya. .. Mendukung rencana YBBAI untuk membangun Museum Lengkong di kompleks KPM, sebagai salah satu cara untuk melestarikan .. .

1.3.

Identifikasi Masalah

Bab II Pembahasan
Mengutip sebuah ungkapan Latin kuno ; HISTORIA VITAE MAGISTRA EST yang artinya SEJARAH ADALAH GURU KEHIDUPAN mengingatkan kita semua untuk perlu belajar dari semua masa lalu untuk memperoleh kearifan dalam mengatur kehidupan masa sekarang dan yang akan datang. Bung Karno sebagai Bapak Perjuangan Bangsa kita, juga pernah menegaskan bahwa :jangan sekali-kali melupakan sejarah yang secara luas dapat diartikan bahwa sejarah masa lalu, harus ditempatkan sebagai fundamen, dasar berpijak, cermin sebagai tempat kita melihat diri kita dari waktu ke waktu. Mengapa sejarah perlu dipelajari ? Apa yang ada sesungguhnya dalam sebuah sejarah ? Ya, jawabannya adalah SANGAT PENTING KITA MEMPELAJARI SEJARAH. Karena, telah bagitu banyak orang yang terjatuh karena ia tidak belajar dari sejarah. Bahkan kolektif peradaban pun akan bisa runtuh jika pada saat mereka tidak bisa belajar dari sejarah. Sejarah yang mengajak kita melihat masa lalu dengan data dan fakta. Sejarah yang menunjukkan bukti dan latar belakang terjadinya sesuatu. Sejarah juga tidak hanya sekedar menjelaskan apa, tapi mengapa dan bagaimana sesuatu itu harus ada dan ditempatkan. Sejarah mengajarkan moral, penalaran, politik, kebijakan, perubahan, masa depan, dan keindahan dengan memberikan petuah-petuah yang membuat kita memahami seperti apa kita menempatkan atau menggunakan aspek-aspek tadi dalam sebuah kehidupan realita pada masa kini.

2.1.

SULTAN AGENG TIRTAYASA VS KOMPENI (1682)

Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Abdulfatah sejak tahun 1651 hingga 1672. Sultan Abdulfatah lebih dikenal dengan sebutan Sultan Ageng

Tirtayasa. Di bawah pimpinannya Banten mengalami masa kejayaan, baik dalam bidang perdagangan luar negeri, irigasi, dan pertanian serta pemerintahan. Tetapi Sultan Ageng Tirtayasa sangat memusuhi Kompeni Belanda atau VOC. Alasannya adalah pertama karena VOC merebut wilayah kekuasaannya yakni Jayakarta ( yang kini adalah Jakarta), dan yang kedua karena Belanda ingin memonopoli perdagangan. Maka dari itu, selama pemerintahannya Sultan Ageng Tirtayasa berkali-kali berusaha melakukan penyerangan kepada VOC di Batavia atau di pos-pos VOC yang berada di seputar Batavia seperti Angke, Pesing dan Tangerang. Salah satu penyerangan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa adalah ke Lengkong. Di ketahui dalam sebuah Arsip Resolutie 1 April 1682 diceritakan bahwa Batavia ( VOC ) telah mengirim pasukan bantuan di bawah pimpinan Van Happel dengan tugas melindungi daerah-daerah yang telah dikuasi disepanjang kali Angke dan yang menuju Tangerang. Dari sini mereka menuju peninggilan gula Tengkwa atau Santiga untuk bergabung dengan pasukan terdahulu. Bulan Mei 1682, sekitar 700-800 pasukan Banten menghadang gerak maju pasukan Belanda. Pasukan Belanda berhasil mematahkan pasukan Banten serta menewaskan 130 tentara Banten. Kompeni Belanda kemudian melanjutkan penyerangan ke Lengkong. Di dalam perjalan ke Lengkong ini, pasukan kompeni dihadang oleh pasukan Banten. Dalam pertempuran Banten , pihak VOC sesuai catatan dalam Arsip Resolutie 17 Juni, sebanyak 6 serdadu kompeni tewas, 39 luka-luka. Bahkan dalam bulan Oktober 1682 Pasukan Banten berhasil menguasai pos pertahanan menuju Batavia. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian ditangkap Belanda oleh kelicikan dan politik adu domba yanng dilakukan VOC antara Sultan Ageng Tirtayasa dan puteranya sendiri, Sultan Haji. Pada tahun 1692 Sultan Ageng Tirtayasa dijebloskan ke penjara di Batavia. Dan pada tahun 1695 beliau wafat dan dimakamkan di masjid Agung Banten.

2.2. PERISTIWA PENYADARAN LENGKONG (1936)

Tokoh Pergerakan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang bernaung di bawah Partai Serikat Islam Indonesia ( PSII ) diantaranya adalah Haji Oemar Said Cokroaminoto, Haji Agus Salim, A.M.Sangaji, Moh.Rum, dan Mohamad Natsir. Mereka-mereka itulah yang menjadi Tokoh Pergerakan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Para tokoh ini pun dikenal oleh masyarakat Lengkong sekitar tahun 1930-an. Para tokoh tertarik dengan Desa Lengkong ini karena desa ini pernah menjadi tempat berlangsungnya pertemuan para tokoh PSII diatas yang dikenal dengan Peristiwa Penyadaran. Tahun 1930-an, ditubuh PSII terdapat pertentangan faham dikalangan PSII. Maka dari itu Haji Agus Salim membuat Barisan Penyadar PSII dalam bulan November 1936 yang kemudian menjelma menjadi partai penyadar yang dipimpin oleh H.Agus Salim dan A.M.Sangaji. semua ini bermula dari kemelut yang terjadi dalam tubuh partai Serikat Islam Indonesia ( PSI ), diantaranya sebagai berikut : Pada bulam Maret 1935, H.Agus Salim sebagai ketua Dewan Partai SI melihat bahwa sikap pemerintah cenderung tidak menguntungkan partainya. Maka ia kemudian mengeluarkan pernyataan politik, yang dikenal sebagai Pedoman Politik atau istilah lain Memori Salim , untuk menyelamatkan partai SI. Sekitar tanggal 9-11 Mei 1935 terjadi perpecahan dikalangan pimpinan PSII, yang tercermin dalam dua kelompok yang masing-masing mempertahankan sikapnya. Pertama adalah kelompok pimpinan dalam Dewan Partai di bawah pengaruh Agus Salim, A.M.Sangaji, Moh.Rum dan Sabirin. Kedua kelompok pimpinan dalam Lajnah Tanfidziyah (LT) dibawah pengaruh Abikusno, Wondoamiseno, dan S.M. Kartasuwiryo. Abikusno memeprjuangkan politik non koperasi (tidak mau bekerja sama) dengan pihak kolonial, sedangkan H.Agus Salim cenderung pada sikap untuk bekerjasama dengan kekuasaan kolonial kedua kelompok yang saling bersengketa itu mengadakan suatu pertemuan bersama antara Dewan Partai dan Lajnah Tanfidziyah di Jakarta, yang memutuskan untuk menangguhkan pembahasan masalah Pedoman Politik pada kongres yang akan datang. Sebelum kongres diselenggarakan, Abiskusno dan

sekretarisnya S.M. Kartosuwiryo mengundurkan diri dari Lajnah Tanfidziyah dan kemudian memimpin PSII cabang Jakarta. Kedudukannya kemudian digantikan oleh A.M. Sangaji dan Sabirin. Antara tanggal 8-12 Juli 1936 Abikusno terpilih menjadi ketua partai PSII pada kongres partai ke-22 di Batavia. Ia kemudian mengangkat S.M. Kartosuwiryo sebagai Wakil Ketua (Ketua Muda) PSII. Kartosuwiryo ditugaskan oleh kongres untuk menyusun suatu brosur tentang sikap hijrah partai PSII. Pedoman Politik Salim tidak dimasukkan dalam agenda pembicaraan kongres. Wondoamiseno sebagai pimpinan kongres memberikan alasannya, bahwa tidak dibahasnya Pedoman Politik itu karena sempitnya waktu untuk mempelajari secara matang.

Pada tanggal 30 November 1936 sebagai akibat ketidak-setujuannya terhadap politik non-koperasi PSII dan politik hijrah S.M Kartosuwiryo, H. Agus Salim membentuk fraksi tersendiri didalam tubuh partai PSII dibawah pimpinan Mohammad Rum, yang bernama Barisan Penyadar PSII (BP-PSII) Maksud barisan ini ialah hendak menyadarkan PSII itu atas kehendakkehendak zaman yang sudah berubah itu. Barisan Penyadar PSII ini dimaksudkan hanya bergerak dalam lingkungan PSII, yaitu mengajak supaya setiap anggota partai sadar akan hak-haknya dalam organisasi, yang selama dan sesudah kongres PSII ke-22 dilanggra oleh Lajnah Tanfidziyah dan Dewan Partai. Dengan cepat aksi Barisan Penyadar ini menyebar ke cabangcabang PSII diseluruh Indonesia. Dukungan yang sangat besar diberikan oleh cabang PSII Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Pada tanggal 19 Desember 1936 aksi oposisi dari Salim melalui Barisan Penyadar ini menggoyahkan kedudukan Abikusno. Oleh karena itu pimpinan PSII mengadakan rapat bersama antara Dewan Partai dan Lajnah Tanfidziyah. Rapat tersebut menegaskan bahwa hijrah adalah politik resmi partai dan memerintahkan kepada semua pimpinan partai untuk menyebarluaskan politik ini. Rapat juga melarang cabang-cabang untuk memberi

bantuan

kepada

Barisan

Penyadar

dalam

mengadakan

pertemuan-

pertemuannya serta membahas pula kemungkinan-kemungkinan pencatatan terhadap tokoh-tokoh Pergerakan Penyadar. Akhir Januari 1937 Partai SI memberlakukan skorsing kepada pemimpin pusat dan daerah Barisan Penyadar. Pada tanggal 13 Februari 1937 H. Agus Salim, Mohammad Rum, Sabirin, Sangaji, Muslikh dan 23 anggota fraksi Salim yang lainnya dikeluarkan dari keanggotaan PSII. Antara tanggal 23-26 Februari 1937 pemecatan-pemecatan terhadap tokoh-tokoh Barisan Penyadar, membulatkan tekad mereka untuk membentuk partai sendiri, lepas dari PSII. Oleh karena itu suatu konferensi dengan maksud ini kemudian diselenggarakan di Jakarta. Konferensi ini mengambil satu keputusan penting, yaitu membentuk partai sendiri dengan nama Pergerakan Penyadar. Pada tahun 1936 H.Agus Salim, Mohamad Natsir dan sejumlah Tokoh PSII serta utusan perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia, melakukan perundingan di Desa Lengkong dalam upaya Penyadaran terhadap masyarakat termasuk tentang arti kemerdekaan. H.Agus Salim bahkan sempat memberi nama seorang bayi laki-laki yang lahir di Desa Lengkong pada hari itu dengan nama Sadar Dadih, putera dari Sakim bin Utanesan. Bahkan pula H. Agus Salim sempat menanam sebatang pohon kelapa yang sampai hari ini masih hidup dihalaman gedung SMP-SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri. Bapak Sadar Dadih sendiri adalah seorang pejuang pendidikan yang merelakan tanah miliknya untuk lokasi dibangunnya Sekolah Dasar di Desa Lengkong Wetan.

2.3. PERISTIWA LENGKONG 25 JANUARI 1946


Lengkong hanyalah sebuah desa kecil. Walaupun kecil usianya sudah 300 tahun. Orang Belanda menyebutnya Linkon atau Lincong. Terdapat beberapa nama Lengkong yang kita kenal sampai sekarang, antara lain Lengkong Wetan, Lengkong Karya, Lengkong Gudang, Lengkong Kiayi dnan lain-lain. Sebagian dari kawasan Lengkong ini telah berubah wajah menjadi perumahan elit kota Internasional modern BSD City.

Lengkong Wetan dan Lengkong Karya letaknya diapit oleh BSD City dan Bintaro Jaya. Dibalik kekecilan desa tersebut, Lengkong menyimpan sejarah yang menarik. Salah satunya adalah Peristiwa 25 Januari 1946. Peristiwa tersebut bermula dari tugas kemanusiaan Internasional yang

dilimpahkan sakutu kepada Indonesia untuk melucuti dan memulangkan pasukan Jepang yang kalah perang, dalam Perang Dunia ke-II. Ada empat pihak yang terkait dengan Peristiwa Lengkong ini. Pihak pertama, kantor tentara Penghubung di Jakarta yang dipimpin oleh Mayor M.T. Haryono dibantu Mayor Utaryo, Mayor Wibowo dan lain-lain. Pihak kedua adalah Resimen IV Tangerang. Pihak ketiga, Akademi Militer Tangerang dengan direktur ajkademinya Mayor Daan Mogot. Sementara pihak keempat adalah kapten Abe dan tentang Jepang yang bermarkas di Lengkong. Pihak MA Tangerang dibawah pimpinan Daan Mogot, ditugaskan untuk melaksanakan tugas kemanusiaan Internasional, yaitu melucuti senjata Jepang di Lengkong dan memulangkannya. Pada saat masih terjadinya perundingan antara Menteri Luar Negeri H.Agus Salim yang dibantu oleh Mayor Utaryo dengan pimpinan tentara Jepang, tersebar info bahwa tentara NICA akan bergerak dari arah Parung dan Bogor untuk merebut Lengkong. Karena disana, ada gudang senjata Jepang. Walaupun telah berulang kali diadakan perundingan oleh para pejuang untuk mendapatkan senjata, namun selalu gagal karena ditolak kapten Abe. Pada tanggal 25 Januari 1946, tepatnya jam 16.00 WIB, rombongan 70 siswa MA Tangerang yang didampingi Mayor Wibowo dari Kantor Penghubung Jakarta dan dua orang perwira lain yaitu Letnan Soebijanto Djojohadikusumo dan Letnan Soetopo berangkat menuju Lengkong. Pada saat senjata tengah dilucuti dan berlangsungnya perundingan antara Mayor Daan Mogot dan kawan-kawan serta Kapten Abe, terdengarlah letusan senjata secara tiba-tiba. Tentara Jepang yang curiga langsung mengambil kembali senjatanya dan menenbaki taruna MA. Dalam peristiwa itu, gugur 34 Taruna Militer Akademi Tangerang, dengan tiga perwira yakni Mayor Daan Mogot, Letnan Soetopo, dan Letnan Soebijanto.

Setelah peristiwa itu, direktur MA Tangerang dijabat oleh Kapten Kemal Idris. Beliau pernah berjuang bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan diwilayah Tangerang dalam pertempuran Balaraja, Pesing, dan sekitarnya. Terjadinya peristiwa Lengkong adalah karena pihak Jepang dalam hal ini Kapten Abe melanggar ketentuan persetujuan RI dan sekutu, pada tanggal 30 November 1945 bahwa para komandan Jepang setempat harus tunduk kepada komandan Militer RI yang bertanggung jawab atas penetapan tanggal dan prosedur pemukangan pasukan Jepang. Peristiwa 25 januari 1946 itu, kini dikenang sebagai Hari Bhakti Taruna dan di lokasi kejadian kini berdiri sebuah monumen yang bernama monumen Daan Mogot. Khusus mengenai perjuangan Bapak Kemal Idris di kawasan Tangerang, beliau menegaskan bahwa dahulu dimasa perjuangan, rakyat telah membantunya. Maka kini beliau ikut membantu rakyat khususnya rakyat Lengkong dengan mendukung berdirinya SMP+BLM guna mendidik anak-anak di desa ini dan sekitarnya. Dan beliau berpesan agar usaha dan cita-cita mulia YBBAI dapat diwujudkan ketingkat perguruan tinggi di Lengkong. Atas segala perjuangan bagi Bangsa dan kepedulian Bapak bagi kami anakanak Lengkong. Kami ucapkan terimakasih. Semoga Tuhan memberkati. Amin..

2.4. PERTEMPURAN SERPONG 1946


Setelah terjadinya peristiwa heroik yang menelan banyak korban di Lengkong 25 Januari 1946, pada tanggal 26 Mei 1946 kembali terjadi pertempuran antara pejuang kita yaitu pejuang RI dengan tentara NICA di Serpong. Walaupun indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya namun tentara NICA tetap ingin menguasai Serpong, sebagai batu loncatan untuk menguasai Tangerang. NICA pada saat itu berkedudukan disekitar perkebunan karet di Serpong dan terus melakukan intimidasi terhadap rakyat, yang pada saat itu perhatian rakyat tertuju pada Peristiwa Lengkong 25 Januari 1946.

Para pejuang ingin mengusir

tentara NICA dari Serpong karena melihat

sikapnya. Gerakan rakyat ini dipelopori oleh seorang ulama yaitu Haji Ibrahim yang berpengaruh besar di wilayah Maja. Rakyat sepakat mengusir NICA dari Serpong. Sebagai pimpinan, pasukan bambu runcing Haji Ibrahim mempercayakan kepada tangan kannannya Abuyah Hatim. Basis pertahanan Haji Ibrahim berkedudukan di Cisawo, yang dikenai dengan Front Pertahanan Sompor. Dari sinilah TKR bersama pejuang menggalang ekuatan menghadapi tentara Belanda. Pada tanggal 23 Mei 1946, pasukan Haji Ibrahim dan Abuyah Hatim mulai bergerak dari Maja, bersenjatakan senjata tradisional seperti golok, pedang dan bambu runcing. Dengan kereta api mereka kemudian menuju Parung Panjang dan dilanjutkan ke desa Suradita. Tanggal 24 Mei 1946, Abuyah Hatim dan pasukannya bergerak menuju Kranggan termasuk desa Kademangan. Sehari kemudian tanggal 25 Mei 1946 pasukan Haji Ibrahim menyusul untuk bergabung. Di Kranggan mereka mengucapkan ikrar mengadakan penyerbuan terhadap pasukan Belanda. Pada hari kamis 26 Mei 1946, jam 9.30 bergeraklah iringan pasukan haji Ibrahim dari Kranggan. Gerakan pasukan dibagi dua. Pasukan Abuyah Hatim bergerak melalui Setu Rawa Buntu kemudian masuk ke Cilenggang dengan gerakan menusuk dari belakang. Sementara pasukan Haji Ibrahim bergerak terus melalui jalan raya desa ke Serpong langsung menghantam kedudukan musuh dari depan. Terjadilah pengosongan desa di dekat medan pertempuran. Kesatuan resimen IV Tangerang yang berada di Front terdepanb melihat situasi yang tidak menguntungkan pasukan Haji Ibrahim manyarankan agar gerak pasukan diundur dulu, untuk diatur penyerangan bersama yang lebih terencana dengan koordinasi yang baik. Namun semangat tempur pasukan Haji Ibrahim sudah tak dapat dipadamkan. Pasukan NICA saat itu mengambil tempat rumah seorang warga Cina. Melalui mata-mata, gerakan pasukan Haji Ibrahim dapat diketahui sehingga NICA sudah dalam posisi sigap menjemput musuh. Pasukan

Belanda ini kemudian menempati dua buah bukit yang ada di kanan kiri jalan yang dilewati iringan pasukan pejuang. Kedatangan pasukan pejuang dalam jumlah besar itu sempat menggoyahkan pihak NICA yang lalu dengan bendera warna putih menyongsong pasukan Haji Ibrahim seolah-olah ingin berdamai. Namun yang terjadi adalah pertempuran jarak dekat dengan persenjataan tempur yang tidak seimbang. Dengan senjata mutakhir, pasukan NICA menembaki para pejuang yang kemudian berhasil di ceraiberaikan. Korban yang jatuh mencapai 189 orang. Jenasah kemudian dimakamkan seadanya. Namun kemudian oleh rakyat dimakamkan kembali sebagaimana mestinya. Untuk mengenang jasa pahlawan tersebut maka makamnya kini dikenal dengan nama Makam Pahlawan Seribu Serpong yang terletak di pinggir Jl. Raya Serpong.

Bab III Penutup


3.1. Kesimpulan
Tidak ada hal lain yang dapat dilakukan dalam menyikapi apa yang telah dikorbankan oleh para pahlawan selain melestarikan nilai-nilai perjuangan mereka. Beribu daftar perjuangan besar kecil di seluruh pelosok tanah air, patut di catat agar generasi penerus perjuangan di alam kemerdekaan ini tetap memiliki arah dan tujuan yang sama. Penjajahan adalah berarti sebuah pemaksaan kehendak. Dan pemaksaan kehendak dalam bentuk lain tetap saja sebuah penjajahan. Bahkan penjajahan di alam kemerdekaan adalah lebih merugikan terutama karena sifatnya yang laten. Bumi Lengkong, pantas untuk dimerdekakan lebih lanjut. Yaitu dimerdekakan dari himpitan perkembangan kebutuhan masyarakat modern yang menghalalkan segala sistem kapitalisme. Jika dahulu pada masa perjuangan

merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah, leluhur warga Lengkong melengkapi diri dengan senjata tajam. Maka hari ini, warga Lengkong harus memiliki senjata yang disesuaikan dengan era globalisasi, yakni daya nalar dan fikir yang tajam melalui pendidikan. Dengan demikian gerak dinamis dunia luar di segala aspek kehidupan dapat diikuti secara mudah, dan tercapailah kemerdekaan hakiki seperti yang dicita-citakan oleh leluhur mereka.