Anda di halaman 1dari 10

Sebatas Angan

Kelabu

Warna kusam seperti jelaga di langit mendung siang hari

Kea menelusuri padang ilalang di bawah sinar senja membayung. Ada getir yang tiba-tiba hadir di sisi ruang hatinya. Di sini semuanya terjalin, satu tahun yang lalu, di tengah padang ilalang panjang, Reino memintanya untuk menjadi bagian dari kehidupannya.

Diikuti gerak jatuh dedaunan yang melayang mengikuti angin malam berembus kencang. Nasibnya berakhir di berbagai tempat. Cermin ketidakberdayaan melawan sesuatu yang lebih kuat. Ah, seperti itu jugakah dirinya, tak berdaya melawan getar kasih pada Reino, hingga tak tega melarangnya pergi? Hari yang pernah mereka lalui melintas dibawa angin, membawa sepucuk daun kering jatuh di atas telapak tangan. Kepala Kea menengadah menatap langit. Terbayang olehnya hari ketika cinta itu masih terasa manis... Malam itu, Kea berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan, melewati tumpukan ban, kaleng-kaleng oli yang sudah kosong dan besi-besi yang tergantung di salah satu sudut dinding. Di depannya, sesuatu yang besar tampak ditutupi oleh kain parasut berwarna abu-abu. Reino mendekat dan meminta Kea untuk menarik lepas penutupnya. Dengan ragu-ragu Kea menariknya.

Kea terbelalak, mulutnya terbuka lebar, dan matanya terpaku pada benda itu. Ia membekap mulutnya sendiri karena tak percaya pada apa yang dilihatnya.

³Bagaimana? Kamu orang pertama yang melihatnya lho!´ Reino penasaran pada pendapat Kea.

³Luar biasa, No!´ hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Kea. Mobil Evo VII bermesin turbo, sungguh menarik! Kea tidak dapat melepas pandangannya dari mobil itu, terutama pada tampilan grafis non tribal yang menghiasi bodi benda itu.

³No, bukannya kamu mau beli Subaru?´ tanya Kea. Reino menggeleng, ³Aku memilih Evo VII setelah membandingkannya dengan Subaru. Lihatlah, tampilannya lebih keren dan akselerasinya lebih mantap!´ Kea menatap pemuda itu dalam, menyadari sesuatu pada pemuda itu. Hatinya bergetar takut. Ia berkata pelan, ³No, apa kamu tidak takut mati karena kecelakaan saat balapan?´

Reino mengusap pipi Kea lembut, ³Balapan adalah hidupku, Kea. Dan, tadi siang aku sudah menyetujui untuk balapan dengan Izar.´

Kea memeluknya, membenamkan kepalanya di dada Reino yang kukuh. ³Aku selalu cemas saat kamu balapan...´

³Tenanglah, Kea. Jagoanmu ini selalu menang dalam setiap balapan!´ Reino mengecup puncak kepala kekasihnya.

³Apa?´ Reino membelalakkan matanya. bangga. Angin berembus kian dingin dan menusuk tulang. Mereka mengerubungi mobil Reino yang tampak menawan. ³Dengarkan aku. Ia merangkum wajah Kea. ³Kumohon.. Pemuda berambut itu memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Berdua.³Balapan itu mengerikan. hidup dan mati berada di tangan Tuhan. ³Sebaiknya kamu batalkan saja balapan ini. Kabut tipis mengaburkan sedikit pandangan. Teman-teman satu klubnya sudah berkumpul di sana terlebih dulu. jangan pergi. di mana saja. Jurang terjal menganga di bawah sana. ³Wow. . ³Percaya padaku. Fa?´ tanya salah satu teman Reino penuh kekaguman. Di sisi lainnya terdapat tebing batu yang tinggi. ³Jangan takabur. Reino hanya tersenyum.. menatap pemuda yang tersenyum itu.Kea mengurai pelukannya. Mereka agak menjauh ke pinggir jalan. Reino terlihat sangat bersemangat. Ujung hidung mereka bersentuhan. lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kea. menjauh dari Reino. lo nggak salah nih modif mobil lo.. Tapi sebaliknya. Ia menatap sekelilingnya. Kea. jalanan aspal licin akibat hujan yang turun seharian tadi. No! Maut bisa datang kapan saja.´ --- KILAT kembali berkelebat.. No! Taruhannya nyawa! Kalau kamu sampai ken²´ ³Ssstt!´ jari hangat Reino menyentuh bibirnya.. Tapi. aku akan baik-baik saja!´ katanya pelan sambil mengecup kening Kea sekilas. memeluk erat tubuh Reino. membicarakan sesuatu. memanggil Reino untuk segera memulai balapan. Reino memarkir mobilnya di tepi jalan. tapi tak mengatakan apa-apa.´ ujar Kea lirih. kemudian berbalik untuk menuju mobil. ³Ayolah. Kegelisahan tampak di wajah Kea. Kea.´ Kea melonggarkan pelukannya.. Reino menoleh sambil mengancungkan ibu jarinya. Kea! Kamu jangan kayak anak kecil gini! Balapan tidak seburuk yang kamu bayangkan!´ ³Reino. Ia tersenyum tipis. misterius. Untuk sesaat mereka terdiam hingga suara klakson dari mobil abu-abu milik Izar. Kea menarik tangan Reino menjauh dari teman-temannya. dan dalam situasi apa saja!´ Reino kembali memeluk Kea. aku akan baikbaik saja. Diusapnya rambut gadis itu sambil melantunkan lagu Now and Forever-Richard Marx lirih di telinga Kea. No!´ kata Kea.´ Ekspresi wajah Reino berubah serius. dipagari oleh pohon-pohon yang besar di pinggir jalan. Gadis itu meletakkan kepalanya di sana. ³Aku akan selalu hidup untukmu. Percaya padaku. tangannya ditahan oleh Kea.

gadis berambut panjang yang mengenakan rok mini dan pakaian minim ini mengayunkan bendera. sesuatu terjadi! Ban mobilnya menggilas sesuatu yang tajam. Reino tidak dapat mengendalikan mobilnya.. Ia tidak dapat menghindar. ia langsung menginjak gas mobil dalam-dalam. Izar awalnya mempin. Ban-ban mobil mereka bergesekkan dengan jalan. Jalanan makin menyempit. berada di depan Reino. sampai jarum di spidometer menunjukkan kecepatan maksimum. sebuah dinding batu terjal menghadang di depan. Jarak garis finis semakin dekat. ia menabrakkan bemper depannya pada bemper belakang mobil Reino. Mata Reino terbelalak lebar. Tak ada lagi yang terlihat. lalu mendahuluinya. dan ke kanan jalanan licin dengan tidak terkendali. sinis. Kendaraan itu bergerak liar tak tentu arah. Pohon-pohon di pinggir jalan melesat bagai kilatan cahaya. Suara deru mesin makin meraung kencang dan mobil Reino melaju semakin cepat. menimbulkan bunyi decitan saat berbelok. Belum bisa menyusul. menjajari mobil Izar. Namun. Lalu. Tatapannya tertuju ke depan. Kemudian. tapi kemudian berhasil kembali stabil dan tetap memimpin. ia tidak terima. Ia mengubah posisi perseneling. membawa sebuah bendera dan mengayunkannya ke atas. Izar mendengus kesal. diikuti Reino di belakang yang berusaha menyusul. kalau saja itu terjadi.. menyalakan mesin yang kini mulai terdengar deruannya meraung-raung. Perlahan. sedangkan di sisi kanan terdapat dinding tebing yang tinggi dan kokoh. tidak ada pilihan! Saatnya berbelok. ke kiri. Izar menyalip cepat dan sempat menyenggolkan belakang mobilnya ke bagian depan mobil Reino.. Untunglah tidak turun hujan. tanpa disadarinya. namun perbuatannya membuat mobilnya mengarah pada jurang. membuat mobil Reino sulit untuk mendahului. Mereka menggunakan kecepatan penuh. Di sisi kirinya. Mobil Reino dan Izar langsung melesat cepat dengan suara mesin yang menderu-deru. Ia mencoba mengerti makna senyum Reino. Mobil Reino dan Izar saling susul-menyusul. Mobil Izar ada di depannya. Kini semua menjadi samar. kemudian menginjak gas lebih dalam. ia menemukan celah untuk mendahului mobil Izar. Ah. . Ia mencoba membanting stir. Mobil Izar menjajari di sisinya. Jalan yang sangat sempit. --- BLAR! Kilat menyambar. Mobil terseret ke depan. Lalu. akan semakin sulit medan yang mereka lalui licin. Reino mengendurkan injakan gasnya agar mobil melambat. membuat mobil Reino kehilangan keseimbangan. Sudah dipastikan. Reino lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia mengusap rambut gadisnya itu perlahan. Reino sesaat menoleh pada Izar. Dalam hitungan ketiga. Jarak yang terpaut hanya sedikit. Reino terguncang-guncang di dalam mobil. Tatapan mereka beradu. ³Kamu percaya aku kan. Tikungan paling tajam yang pernah ditemuinya. Kabut mulai menipis dengan semakin beranjaknya hari. Kea? ³ Kea tidak menjawab. seorang gadis berjalan ke depan mobil Reino dan Izar. terjal dan berbatu. membuat mobil pemuda itu oleng sesaat. Sebuah tikungan tajam berjarak beberapa meter lagi. membelah langit malam.Reino tersenyum. jurang dalam menganga.

Tampak Reino di sana. Mereka menangis bersama. Tak ada Reino.. Langit begitu hitam. Yang tersisa hanyalah besi ringsek. dan serbuk putih bercampur cairan merah.´ Kelabu membawa dingin dan sepi . ³Aku selalu hidup untukmu. pecahan kaca.. ³Tabah ya. Kea. Kakak Reino menarik Kea ke dalam pelukannya. amukan malam di luar sana bersamaan dengan badai di dalam dadanya. menutup tubuhnya. Tak ada lengan kukuh dan dada bidangnya. Kea. Asap tebal membumbung langit.. Tak ada bisikan lembutnya. Melambaikan tangan dengan senyum samar. mengalir dalam satu jeritan panjang memecah keheningan malam. kelam ketika tubuh kaku itu diturunkan ke liang lahat.´ Air matanya menitik.´ ujar kakak Reino di telinga gadis itu. Kak. ³Reino belum pergi..Hujan di luar sana bersatu dengan hujan di wajah Kea.. tempat tidur abadi untuk jagoannya yang tak tertandingi! Bongkahan tanah beriring doa dari seluruh pelayat.

terasi. tauge dan daun singkong di tampah dagangan. Ia mengambil gorengan yang baru saja aku sajikan. Kutambahkan air asam jawa dan kacang tanah yang sudah kuhaluskan. ³Pagi. Seperti biasa aku membungkus bahan-bahan yang sudah kugoreng terpisah dengan air asam jawa dan kacang tanah. setelah sebelumnya aku pergi ke pasar dengan sepeda. ³Terima kasih. Mas. gula merah dan garam. Khawatir kalau kesiangan aku akan kehabisan sayuran segar. bayam. Mbak!´ sapa lelaki itu ramah. Pagi-pagi sekali aku sudah menggoreng cabai merah. lalu menyiapkan bumbu kacang untuk bumbu pecel. Kurasakan tubuhku bergetar. nyaris tidak bersuara. penuh senyum. cabai rawit. Hari ini. . Matanya yang menatapku begitu sejuk. Wajahnya begitu segar dengan rambut tersisir rapi dan aroma parfum yang sangat kukenal. ia mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam. membuatku tidak dapat berpaling.Gadis Penjual Pecel dan Lelaki Itu LELAKI itu mendekat. Aku merapikan kangkung. air putih.´ jawabku seraya ikut memberi senyum. bawang merah. Di sebelah bakul²tempatku menyimpan piring plastik.´ katanya. Semakin dekat. bawang putih dan kencur. Ia datang dengan lengkungan di bibir. air asam jawa dan lap²aku menyiapkan tempat yang terbuat dari plastik untuk menyiapkan gorengan. ³Pagi. kol. ³Kembaliannya untuk Mbak saja.´ sahutku pelan. sendok. Tanganku terus bergerak menghaluskan bahan-bahan yang sudah kugoreng bersama daun jeruk. Lelaki itu ikut tersenyum saat ia memberikan uang sebagai bayaran gorengan yang diambilnya.

Tangannya menjinjing dua tas plastik besar. *** . Ternyata sulit melepas sesuatu yang telah terpaku. Kuambil kertas pembungkus. Salahkah jika aku jatuh cinta padanya? ³Pecel dua ya. dibungkus. Dan mungkin. Pikiranku melayang memikirkan lelaki itu. Bermimpi. Bukan aku tak mau berhenti berharap. dialah alasanku untuk selalu bersemangat berjualan. Sesekali kumasukan air.Ia berjalan memunggungiku. Aku dan lelaki itu berbeda. Tidak mungkin dia menyukaiku. Dia adalah orang berpendidikan. kemudian kusiram dengan bumbu. tapi perasaan ini tak mau hilang. Aku menjerit dalam hati sambil terus mengaduk bumbu kacang.´ ujar seorang ibu yang sepertinya baru kembali dari pasar.´ Lelaki itu telah pergi. Aku selalu suka memandanginya. ³Sepuluh ribu. sedangkan aku hanyalah lulusan SMP kampung yang datang ke kota untuk mencari rezeki menjadi tukang pecel yang biasa berjualan di dekat halte. Pakai lontong dan gorengan dua. menunggu bus yang datang. kemudian berdiri di halte. ³Berapa. lalu kuaduk lagi. Lelaki itu akan kembali sore nanti untuk membeli pecel yang sudah kusiapkan untuknya. Mbak. Aku berusaha menghilangkan bayangan lelaki itu dari kepalaku. kutaruh sayuran dan gorengan yang telah kupotong-potong. Mbak?´ tanya ibu itu lagi. Aku duduk di samping daganganku sambil menunduk.

Ia tampak begitu lahap. Desau angin mengusik bayangan kaku di depan mataku. itu saja. Giginya yang rapi dan bersih terlihat saat ia tersenyum lebar. Ya. Aku merasa terjerat olehnya. karena pasti tidak akan rugi. Rambut depannya tergurai. ³Terima kasih. Serakah jenenge. Kalau ia mengikatku. Napasku tiba-tiba saja menjadi tidak menentu melihat garis-garis wajah yang terangkum dalam pesona senyumnya. Kulipat uangku. ³Ada pecel untuk saya?´ tanyanya. Mataku berkeliling dan menemukan lelaki itu sedang berjalan ke arahku. Lelaki itu merogoh saku celana dan memberikan uang kepadaku.MULUTNYA mengunyah gorengan. Uang dari lelaki itu masih kugenggam erat.´ katanya sambil berjalan pergi. . kemudian kumasukkan ke dalam saku celana. Mataku terus mengikuti langkahnya. nenek selalu mengajariku untuk tidak memedulikan berapa banyak yang didapat. Tubuhnya basah oleh hujan. Selamanya. ia lapar. Mataku terus menatapnya. Mungkin karena lelah. *** ´BATHI kuwi ora usah okeh-okeh. Aku suka melihat wajahnya yang dipenuhi bintik-bintik air. Jalan di depan kami begitu sepi. Hanya beberapa kali terlihat angkutan umum melintas. Sebenarnya aku tidak butuh uang untuk pecel yang kubuatkan spesial untuknya. aku rela ia tidak melepaskanku. Akhirnya ia hilang dari pandanganku bersama debaran yang kian menghalus.´ Kata-kata nenekku bergema di kepalaku ketika aku tengah menghitung uang. Aku mengangguk. Mbak. Segera kuberikan pecel yang telah kubungkus dengan kantung plastik hitam. Aku hanya ingin melihat senyumnya.

³Untuk saya?´ Ia menatapku seperti tidak percaya. ³Ayah saya sudah meninggal dan ibu saya sakit-sakitan. aku berlari untuk membelikan segelas teh hangat untuknya. Saya harus menghidupi adik-adik saya di kampung. ³Terima kasih.´ Aku menatapnya. ³ Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya.´ kataku. Mbak?´ ³Blitar. kenapa memilih menjadi penjual pecel? Tidak ingin bekerja yang lain?´ ³Bekerja apa. Rasanya senang bisa melakukan sesuatu untuknya. Seperti biasa. Ia kembali menyeruput tehnya. Lelaki itu mengangkat wajahnya. Mereka harus sekolah. Melihat wajahnya saja sudah cukup buatku. tanpa takut daganganku dibawa lari orang. Gugup. ³Teh untuk Mas. Kami akan menikmati hujan sambil bercengkrama. Entah ada dorongan dari mana. ³Perlu saya bayar teh ini?´ Aku kembali menggeleng.´ ³Usia Mbak masih muda. macet saat hujan. jadi aku bisa menemaninya duduk menatap hujan. Daganganku tinggal sedikit. ³Ada apa? Kenapa menatap saya seperti itu?´ Aku menggeleng. ³Asli mana.Kemeja kuning yang dikenakannya begitu lekat di badan. membayangkan jika ia suamiku. Mataku beralih pada kendaraan-kendaraan di depan kami. ia akan menciumku setelah kuberikan teh. Mas? Saya hanya bisa bikin pecel. Dia kembali tersenyum. Tangannya bergerak merapikan rambut yang terjuntai menutupi matanya. Malu. .´ Aku menghela napas. Tidak perlu dibayar. Menatapku dalam sambil membelai lembut rambut atau pipiku.

lalu pulang. Kendaraan-kendaraan yang melaju menyamarkan debaran di hatiku.³Terima ksih untuk tehnya. Setiap hari aku menunggunya. Kalau ia suamiku. Tak pernah kubayangkan jika aku benar-benar menjadi istrinya. Dengan bersemangat. ³Masih banyak rupanya. aku merasa ada yang kosong. Hari ini ia tampak begitu ceria. mengungkapkannya. Dibungkus. Persis seperti film India yang kerap kutonton tengah malam sambil menyiapkan bumbu pecel. ³Tidak usah. Aku terus menatap langkahnya. Ada bumbu rahasia dari nenekku yang membuat pecel buatanku berbeda dari pecel yang lain. Sisa gorengannya kubeli saja semua. Harus yang istimewa. Setelah jadi. Hatiku tak sabar. Dan setelah jejaknya terkikis gerimis. akan kubuatkan pecel seperti yang kubuatkan setiap ia minta. Ia datang bersama senyumnya. Dalam hati aku tersenyum. kuberikan pecel pesanannya. tapi sudah mendung dan sepi. Sepertinya tidak ada lagi yang datang untuk membeli daganganku. Kami akan melewati senja yang indah sambil berpegangan tangan.´ ujarku pelan. Tinggal sepuluh kan?´ Ia menghitung gorengan yang ada di wadah plastik. ingin aku . Lelaki itu memberikan uang padaku. *** MASIH setengah. Aku ingin melihatnya lagi. Langkahnya terdengar. Kalau ada kesempatan. Kurasakan dadaku mengembang. matanya berbinar. Ia melangkah. Aku akan menunggu lelaki itu. aku menyiapkan pecel pesanannya. Saya beli tiga ya.´ Aku hanya tersenyum.

Mas?´ Aku memasukkan uang ke bawah tampah.³Maksud Mbak?´ Wajah lelaki itu tampak bingung. ³Istri saya pulang dari dinas di luar kota. Tuhan. bisikku dalam hati. Bola mata itu begitu lekat.´ ³Tumben beli banyak. Semoga. Kakiku lemas. Pilu. . Dia kasih kabar kalau dia hamil. Saya sering cerita tentang pecel mbak dan dia penasaran ingin coba.´ Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya. ³Ambil saja.´ Oh. Lelaki itu tersenyum. Istri? Hamil? ³Aku yakin dia pasti suka pecel buatan Mbak. ³Oh-eh maksud saya«´ Aku membeku. jadi harus makan banyak.