Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PELAKSANAAN SEMINAR (DISKUSI ILMIAH) BAGIAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SAM RATULANGI TENTANG KEMUNGKINAN

N KRIMINALISASI TERHADAP TINDAK HUBUNGAN SEKSUAL ANTARA DUA ORANG YANG TIDAK KAWIN

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS SAM RATULANGI FAKULTAS HUKUM MANADO, 2006

LAPORAN PELAKSANAAN SEMINAR (DISKUSI ILMIAH) BAGIAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SAM RATULANGI TENTANG KEMUNGKINAN KRIMINALISASI TERHADAP TINDAK HUBUNGAN SEKSUAL ANTARA DUA ORANG YANG TIDAK KAWIN Staf Dosen dalam Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, Manado, pada tanggal 11 Oktober 2006, setelah mendengarkan pembawaan makalah oleh Frans Maramis, SH, MH, dan Joyce R.A. Sondakh, SH, MH, pendapat-pendapat yang dikemukakan, dan melakukan diskusi terhadap pokok tersebut, telah menarik kesimpulan dan memberikan rekomendasi sebagai berikut: A. Kesimpulan 1. Paham yang sesuai dengan UUD 1945 adalah adanya pembedaan antara Negara/norma-norma hukum dengan Agama/norma-norma agama di mana antara kedua hal ini ada keterkaitan, bukan paham yang memisahkan (separation) atau sebaliknya pahan kesatuan (Einheit) antara Negara/normanorma hukum dengan Agama/norma-norma agama. Berdasarkan paham ini, maka Agama/norma-norma agama memiliki peran dalam penentuan delik susila, tetapi di samping itu perlu pula dipertimbangkan dari berbagai aspek dan sejumlah faktor lain. 2. Kriminalisasi dengan tujuan untuk meningkatkan moral bangsa yang telah merosot dan pencegahan HIV/AIDS tidak akan mencapai tujuannya karena ancaman pidana dan pemenjaraan tidak efektif untuk mencegah dilakukannya tindak-tindak seksual, sedangkan, di lain pihak, kriminalisasi terhadap tindak seksual ini mengakibatkan terjadi pemidanaan dan pemenjaraan terhadap orang-orang yang tindakannya tidak merugikan pihak ketiga atau setidaknya paling kecil kerugian yang ditimbulkan terhadap pihak ketiga dibandingkan dengan tindak seksual yang lain. 3. Kriminalisasi karena tuntutan kelompok-kelompok masyarakat, suatu bentuk demokrasi rakyat di zaman Socrates, bukan hal yang dapat dibenarkan karena pembentuk undang-undang yang berwenang mempertimbangkan kriminalisasi dari berbagai aspek dan faktor lain. 4. Kriminalisasi akan memperbanyak dan memperbesar pusat-pusat kekuasaan lain di samping Negara, yaitu kekuasaan pemuka-pemuka Agama dan kekuasaan kelompok-kelompok masyarakat. 2

5. Kriminalisasi merupakan awal campur tangan Negara yang terlalu besar terhadap hal-hal yang bersifat amat pribadi sehingga menimbulkan bahaya dianutnya paham bahwa seorang individu (manusia) semata-mata hanya suatu bagian (part, onderdeel) kecil dari sistem mesin kemasyarakatan yang besar belaka. 6. Terdapat berbagai aspek dan faktor lain yang menolak kriminalisasi terhadap tindak seksual ini, yaitu: 1) Tindak seksual ini yang paling kecil, jika ada, menimbulkan kerugian pada pihak ketiga dibandingkan dengan tindak seksual yang lain. Pemenjaraan tidak seimbang dengan kerugian yang ditimbulkan. Untuk tindak perzinaan dalam arti overspel (Pasal 284 KUHP sekarang) ada suami/isteri yang dirugikan dan melanggar lembaga suci perkawinan, untuk incest ada susunan kekeluargaan yang dirusak dan mau kawin pun tidak boleh/dilarang. 2) Kasus itu lebih tepat diselesaikan dalam lingkungan keluarga sebagai masalah keluarga. Masyarakat cenderung sangat keras dan kejam dalam bereaksi terhadap tindak seksual orang lain, tetapi kepentingan individual pasangan pelaku dan keluarga merupakan kepentingan yang konkrit sedangkan kepentingan masyarakat dalam hal ini bersifat lebih abstrak. 3) Adanya ancaman pidana dan pemidanaan tidak akan efektif jika tujuan kriminalisasi tindak seksual ini untuk meningkatkan moral bangsa dan pencegahan HIV/AIDS. 4) Pasangan itu mungkin berencana kawin, tidak perlu dipermalukan. Jika dijadikan tindak pidana, sekalipun tindak pidana aduan, tetap dapat disidik oleh Polisi dengan dibawa ke kantor polisi. 5) Ada faktor perkembangan kejiwaan dan biologis yang menjadi latar belakang tindak seksual ini, yaitu: a. Dari sudut psikoanalisis (psychoanalysis) dari Sigmund Freud, yang berpendapat bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga struktur kepribadian pokok, yaitu Id, Ego dan Superego, maka seks merupakan enerji pendorong (libido) terbesar pada Id (instink) manusia yang sepenuhnya berada di alam bawah sadar (unconscious) manusia. Tindak seksual ini, yang berlatar belakang pada dorongan yang manusiawi, sedangkan di lain pihak, tidak ada unsur kekerasan dan pemaksaan serta tidak ada kerugian pada pihak lain, tidak perlu diperlakukan secara keras. Jika pada tindak seksual ini ada suatu kesalahan maka lebih tepat ditangani dengan upaya yang lain, di luar hukum pidana. b. Pada perempuan ada rentang yang makin lebar antara rata-rata usia mentruasi pertama dengan rata-rata usia kawin yang berlatar belakang pada turunnya usia mentruasi pertama disebabkan gizi yang makin baik dan naiknya usia kawin disebabkan pendidikan dan pekerjaan, sehingga rentang waktu menghadapi libido seksual makin lebar.

B. Rekomendasi Agar Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menolak kriminalisasi terhadap tindak seksual berupa laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan. Manado, 11 Oktober 2006

TIM PERUMUS 1. 2.

Johnny Lembong, SH, MH Ketua Bagian Hukum Pidana 3. 4.

Frans Maramis, SH, MH Pemakalah

Joyce R.A. Sondakh, SH, MH Pemakalah

Nontje Rimbing, SH, MH Sekr. Bagian Hukum Pidana

LAMPIRAN PESERTA DISKUSI


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Johnny Lembong,SH,MH Nontje Rimbing,SH,MH Frans Maramis,SH,MH Joyce R.A. Sondakh,SH,MH Deby Telly Antow,SH Daantje Katuuk,SH Tonny Rompis,SH Roy R. Lembong,SH,MH Ernest Runtukahu,SH,MH Cilia Damopolii,SH Hironimus Taroreh,SH Philip Tambayong,SH Sofietje H. Liju, SH, MH Irma Nachrawi,SH Jantje D. Suoth,SH Jabatan Ketua Bagian Hukum Pidana FH Unsrat Sekretaris Bagian Hukum Pidana FH Unsrat Pemakalah Pemakalah Moderator Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta/Ketua Bagian Hukum Tata Negara FH Unsrat Tandatangan

LAMPIRAN KEMUNGKINAN KRIMINALISASI TERHADAP TINDAK HUBUNGAN SEKSUAL ANTAR DUA ORANG YANG TIDAK KAWIN 1 Frans Maramis ** PENDAHULUAN Dalam RUU KUHPidana, Ditjen Peraturan Perundang-undangan Depkeh dan HAM Tahun 2004, ada Pasal 484 yang rumusan selengkapnya (Anonim, 2004: 121):
(1) Dipidana karena zina, dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun: a. laki-laki yang berada dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan perempuan yang bukan istrinya; b. perempuan yang berada dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan laki-laki yang bukan suaminya; c. laki-laki yang tidak dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan perempuan, padahal diketahui bahwa perempuan tersebut berada dalam ikatan perkawinan; atau d. perempuan yang tidak dalam ikatan perkawinan melakukan persetubuhan dengan laki-laki, padahal diketahui bahwa laki-laki tersebut berada dalam ikatan perkawinan; e. Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan. (2) Tindak pidana sebagaimana diniaksud dalam ayat (1) tidak dilakukan penuntutan kecuali atas pengaduan suami, istri, atau pihak ketiga yang tercemar. (3) Terhadap pengaduan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku ketentuan Pasal 24, Pasal 25 dan Pasal 27. (4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan di sidang pengadilan belum dimulai.

Dalam rancangan penjelasan pasal diberi keterangan bahwa ketentuan dalam pasal ini mengatur mengenai tindak pidana permukahan, dengan tidak membedakan antara mereka yang telah kawin dan yang belum kawin. Begitu pula tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan dalam melakukan tindak pidana tersebut. Pokok yang akan dibahas di sini, yaitu ketentuan draft Pasal 484 ayat (1) huruf e, tentang dipidana karena zina laki-laki dan perempuan yang masingmasing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan. Jadi, ada rencana untuk melakukan kriminalisasi terhadap tindak hubungan seksual (persetubuhan) antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah. Kemungkinan untuk ini akan dibahas dari sudut: 1. Apakah paham yang menjadi dasar untuk melakukan kriminalisasi terhadap suatu tindak seksual, khususnya dalam hal ini persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah?

Dibawakan dalam Seminar Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Unsrat Kemungkinan Kriminalisasi Terhadap Tindak Hubungan Seksual Antara Dua Orang Yang Tidak Kawin, Fakultas Hukum Unsrat, Manado, 11-10-2006. ** Dosen Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, Manado.

2. Apa sajakah argumentasi yang mendukung dan menolak rencana kriminalisasi tersebut? ISTILAH Dalam bahasa Inggris dikenal pembedaan antara fornication dan adultery. Fornication adalah hubungan seksual antara pasangan yang tidak kawin (unmarried persons), sedangkan adultery adalah hubungan seksual di mana setidaknya salah satu pihak terikat dalam perkawinan. Pengertian adultery ini sama dengan overspel dalam Pasal 284 KUHPidana Indonesia. Mengenai istilah zina, dalam Wikipedia diberikan keterangan bahwa, Zina ( ) is an Arabic term for Extramarital sex. Zina merupakan istilah bahasa Arab yang berarti sex di luar perkawinan. Istilah zina ini mencakup fornication dan adultery. Dalam pemberian hukuman ada perbedaan, yaitu Extramarital sexual intercourse may be punished by up to 100 lashes, while adultery is punished by Rajm (stoning) (hubungan seksual luar kawin dapat dihukum sampai 100 cambukan, sedangkan adultery dihukum dengan rajam (pelemparan batu)). Pokok bahasan dalam makalah ini adalah fornication yaitu laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan (Pasal 484 ayat (1) huruf e RUU KUHPidana). PAHAM-PAHAM DASAR KRIMINALISASI TINDAK SEKSUAL Ada dua paham yang saling berhadapan mengenai dasar kriminalisasi terhadap tindak seksual. Di negara seperti Inggris, ada pandangan yang kuat bahwa negara tidak boleh banyak campur tangan dalam masalah-masalah yang dianggap merupakan masalah pribadi yang tidak merugikan orang lain. Dasar pikiran dari pandangan ini tergambar dari kata-kata seorang ahli pikir mereka, John Stuart Mill (18061873) dalam esei-nya On Liberty (Ebenstein, 1960: 251) bahwa: The object of this essay is to assert one very simple peinciple, as entitled to govern absolutely the dealings of society with the individual in the way of compulsion and control, whether the means used be physical force in the form of legal penalties, or the moral coercion of the public opinion. That principle is, that the sole and for which mankind are warranted, individually or collectively, in interfering with the liberty of action of any of their number, is self-protection. That the only purpose for which power can be rightfully exercised over any member of a civilized community against his wil, is to prevent harm to others. (Sasaran esei ini adalah menjelaskan suatu asas yang amat sederhana, yang mutlak menguasai hubungan antara masyarakat dengan individu berkenaan dengan paksaan dan pengendalian, baik cara yang dipakai adalah kekuatan fisik maupun tekanan moral melalui pendapat umum. Asas tersebut, yang merupakan tujuan satu-satunya di mana manusia, baik secara individu maupun kolektif, dijamin dalam mencampuri kebebasan bertindak salah seorang anggotanya adalah asas self-protection. Tujuan satu-satunya di mana kekuasaan dapat digunakan secara patut terhadap seorang anggota suatu masyarakat beradab bertentangan dengan kehendak orang itu, yaitu untuk mencegah kerugian pada orang lain.) 7

Falsafah hak asasi manusia (human rights) seperti ini membawa konsekuensi bahwa moralitas masyarakat (social morality) belaka ataupun ukuran agama belaka, tanpa adanya suatu akibat yang merugikan orang lain, bukan dasar untuk mengkualifikasikan suatu perbuatan sebagai kriminal. Pandangan ini juga jelas terdapat dalam Report of the Committe on Homosexual Offences and Prostitution 1957, yaitu laporan dari suatu komite (Wolfenden Committe) yang bertugas memberikan rekomendasi mengenai masalah homosex dan pelacuran. Menurut Wolfenden Committe fungsi hukum pidana adalah (Jones, 1976: 18-19): To preserve public order and decency, to protect the citizen from what is offensive or injurious and to provide sufficient safeguards against exploitation of others, particularly those who are specially vulnerable because they are young, weak in body or mind or inexperienced or in a state of special physical, official or economic dependence . . . Unless a deliberate attempt is to be made by society, acting through the agency of the law, the equate the sphere of crime with that of sin, there must remain a realm of private morality and immorality which is, in brief and crude terms not the laws business. (Untuk memelihara ketertiban publik, untuk melindungi warga dari apa yang merupakan serangan atau perugian dan untuk memberikan penjagaan yang cukup melawan pemerasan dan kebusukan orang lain, khususnya kepada mereka yang istimewa mudah dicederai karena mereka muda, berbadan atau berjiwa lemah, atau tidak berpengalaman atau berada dalam keadaan fisik, jabatan atau ketergantungan ekonomi yang khusus . . . Apabila masyarakat melakukan percobaan yang direncanakan, melalui sarana hukum, untuk menyamakan lingkungan kejahatan dengan apa yang merupakan dosa, haruslah ada tersisa sejumlah moralitas dan imoralitas pribadi yang, dengan kata-kata singkat dan keras, bukanlah urusan hukum.) Di Amerika Serikat, American Law Institute menyusun Model Penal Code yang memberikan pedoman tentang masalah ini sebagai berikut: We do not attempt to use power of the State to enforce purely moral or religious standard. To deem it inappropriate for the government to attempt to control behaviour has no substantial significance except as to the morality of the actor. Such matter are better left to religious, educational and other social influences. (Kami tidak mencoba menggunakan kekuasaan negara untuk memaksakan ukuran-ukuran moral atau agama yang murni. Dianggap tidak patut bagi pemerintah untuk mencoba mengendalikan tingkah laku yang tidak punya arti penting kecuali untuk moralitas si pelaku. Soal-soal demikian lebih baik diserahkan pada pengaruh agama, pendidikan dan lain-lain pengaruh sosial.) Pandangan di negara Inggris dan Amerika Serikat itu didasarkan pada prinsip Pemisahan antara Negara dan Agama (Separation between State and Church). Pada dasarnya organisasi negara tidak boleh campur tangan terhadap soal-soal agama dan sebaliknya organisasi agama tidak boleh campur tangan terhadap soal-soal negara.

Berseberangan dengan pandangan tadi adalah pandangan pembentuk KUHPidana Maroko. Menurut E. Brongersma dalam tulisannya di tahun 1964, sebagaimana yang dikutip oleh Seno Adji (1976: 12), dalam KUHPidana Marokko pada hakekatnya apa yang strafwaardig (patut dipidana) menurut Quran harus juga strafbaar (dapat dipidana) menurut KUHPidana. Untuk itu, berkenaan dengan delik susila, semua hubungan seksual di luar perkawinan, baik yang heteroseksual maupun yang homoseksual, dapat dipidana berdasarkan Pasal 490 dan 489 KUHPidana Marokko. Pandangan ini didasarkan pada paham (David, 1985: 28) bahwa hukum yang memiliki martabat penuh sebagai hukum (full dignity of law) adalah hukum agama (Islam), sedangkan kebiasaan setempat (yang dilihat sebagai fenomena dari kenyataan) serta hukum dan peraturan negara (yang dilihat semata-mata sebagai urusan administrasi), tidak memiliki martabat penuh sebagai hukum. Paham seperti ini berdasarkan pada prinsip Kesatuan (Einheit) antara Negara dan Agama. Di antara dua paham tadi ada pandangan-pandangan tengah yang lebih moderat. Di Indonesia ada pandangan dari Seno Adji (1976: 11) bahwa mengenai hubungan antara unsur agama dan norma hukum kita boleh mengadakan pembedaan (onderscheiding) akan tetapi suatu pemisahan (scheiding) antara kedua norma tersebut adalah kurang bijaksana. Juga dikatakan Seno Adji (1976: 131) bahwa kehidupan dan kenyataan hukum menuju ke aah yang berlainan dengan prinsip pemisahan, meskipun juga bukan prinsip Einheit yang kita anut. Menurut Seno Adji (1976: 136) ada suatu interrelationship, penjalinan antara Negara dan Agama. Selanjutnya dikatakannya (Seno Adji, 1976: 48-49) bahwa Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, sila pertama dari Pancasila yang merupakan causa UUD, kehidupan agama yang meresap dalam kalbu bangsa Indonesia, rasa keagamaan yang sangat sensitif dan yang mudah tergerak pada kesempatan-kesempatan tertentu, kesemuanya itu memberikan landasan yang kuat bagi unsur-unsur agama bagi tata hukum kita. Ia memberikan refleksinya, memancarkan sinar pada kehidupan hukum Indonesia. Dalam perundang-undangan pidana ia timbul dalam delik-delik agama dan seharusnya memegang peranan pula dalam delik-delik susila. Inti pandangan Seno Adji, yaitu tidak ada pemisahan tetapi juga tidak ada penyatuan antara Negara dan Agama serta antara norma hukum dan norma agama. Ada pembedaan antara Negara dan Agama serta antara norma hukum dan norma agama, sehingga norma-norma Agama tidak selalu harus menjadi hukum Negara, tetapi norma-norma Agama seharusnya memegang peran dalam penentuan delik agama dan delik susila. Walaupun demikian, masih tersisa pertanyaan tentang di mana batas dari peran norma-norma agama dalam kriminalisasi tindak seksual tertentu yang pada dasarnya tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain dan tidak dilakukan di depan umum. Hal ini harus dilihat kasus demi kasus. Jawaban terhadap pertanyaan ini juga perlu dengan memberikan perhatian pada pertimbanganpertimbangan seperti: 1) kehidupan bernegara yang harus memberikan perlindungan pada semua warga masyarakat yang beraneka ragam; 2) aspek psikologi sosial; dan, 3) pertimbangan-pertimbangan praktis. Paham yang bertitik tolak dari pandangan Seno Adji tadi lebih sesuai dengan jiwa UUD kita. 9

Dengan menganut paham bahwa untuk Indonesia norma-norma Agama seharusnya memegang peran dalam penentuan delik susila, maka tindak seksual yang tidak menimbulkan kerugian tetapi dilarang oleh Agama, dapat dijadikan tindak pidana, tetapi tidak dengan sendirinya secara otomatis. Tiap kasus perlu dipertimbangkan tersendiri dengan kajian lebih lanjut dari aspek seperti: 1) kehidupan bernegara yang memberikan perlindungan pada semua warga masyarakat yang beraneka ragam; 2) aspek psikologi sosial; dan 3) pertimbangan-pertimbangan praktis. ARGUMENTASI YANG MENDUKUNG KRIMINALISASI Beberapa argumentasi yang mendukung dilakukannya kriminalisasi terhadap tindak persetubuhan l aki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam
perkawinan yang sah, yaitu:

1. Perbuatan tersebut dilarang oleh norma-norma agama. Dengan menganut paham adanya pembedaan (bukan pemisahan ataupun kesatuan) antara Negara/norma-norma hukum dan Agama/normanorma agama, maka Agama/norma-norma agama seharusnya memiliki peran dalam penentuan delik seksual, tetapi perlu dipertimbangkan pula sejumlah faktor lain. Khususnya untuk persetubuhan laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah dan tidak ada unsur kekerasan dan pemaksaan serta tidak ada kerugian pada pihak ketiga, tidak ada alasan yang cukup untuk kriminalisasi. 2. Masyarakat kita menghendaki pelaku perbuatan tersebut dihukum. Masyarakat cenderung keras dalam menanggapi urusan seksual orang lain. Perlu tidaknya kriminalisasi (memenjarakan orang) perlu dikaji oleh pembentuk undang-undang dari berbagai sudut pertimbangan. 3. Kriminalisasi untuk meningkatkan moralitas bangsa kita yang merosot. Terhadap argumentasi ini dapat dikutipkan pandangan pembentuk undang-undang Belanda tahun 1911, yang walaupun melakukan penambahan beberapa delik susila dalam KUHPidana Belanda tetapi mengemukakan pendapat bahwa (Bemmelen, 1986: 174) dengan aturan-aturan pidana saja tidak akan dapat dicapai tujuan untuk mempertinggi kesadaran batin mengenai kesusilaan, dan bahwa aturan-aturan ini, sejauh tujuannya adalah untuk mendidik manusia untuk mengekang nafsu mereka, sering tidak mengenai sasarannya dan hanya melanggar kemerdekaan pribadi tanpa ada manfaatnya. 4. Membantu pencegahan HIV/AIDS. Jawaban terhadap argumentasi ini adalah sama dengan argumentasi meningkatkan moralitas bangsa. 5. Ada unsur kerugian yaitu terjadinya kehamilan pada pihak perempuan. Persoalan kemungkinan hamil di pihak perempuan perempuan sebagai korban (victim) - adalah persoalan lain, karena dengan kriminalisasi ini maka kedua belah pihak, yaitu laki-laki dan perempuan adalah pelaku tindak pidana.

10

ARGUMENTASI YANG MENOLAK KRIMINALISASI Beberapa argumentasi untuk menolak dilakukannya kriminalisasi terhadap tindak persetubuhan l aki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam
perkawinan yang sah, yaitu

1. Tindak seksual ini yang paling kecil, jika ada, menimbulkan kerugian pada pihak ketiga dibandingkan dengan tindak seksual yang lain. Pemenjaraan tidak seimbang dengan kerugian yang ditimbulkan. Untuk tindak perzinaan dalam arti overspel (Pasal 284 KUHP sekarang) ada suami/isteri yang dirugikan dan melanggar lembaga suci perkawinan, untuk incest ada susunan kekeluargaan yang dirusak dan mau kawin pun tidak boleh/dilarang. . 2. Kasus itu lebih tepat diselesaikan dalam lingkungan keluarga sebagai masalah keluarga. Masyarakat cenderung sangat keras dan kejam dalam bereaksi terhadap tindak seksual orang lain, tetapi kepentingan individual pasangan pelaku dan keluarga merupakan kepentingan yang konkrit sedangkan kepentingan masyarakat dalam hal ini bersifat lebih abstrak. 3. Adanya ancaman pidana dan pemidanaan tidak akan efektif jika tujuan kriminalisasi tindak seksual ini untuk meningkatkan moral bangsa dan pencegahan HIV/AIDS. 4. Pasangan itu mungkin berencana kawin, tidak perlu dipermalukan. Jika dijadikan tindak pidana, sekalipun tindak pidana aduan, tetap dapat disidik oleh Polisi dengan dibawa ke kantor polisi. 5. Dari sudut psikoanalisis (psychoanalysis) dari Sigmund Freud, yang berpendapat bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga struktur kepribadian pokok, yaitu Id, Ego dan Superego, maka seks merupakan enerji pendorong (libido) terbesar pada Id (instink) manusia yang sepenuhnya berada di alam bawah sadar (unconscious) manusia. Tindak seksual ini, yang berlatar belakang pada dorongan yang manusiawi, sedangkan di lain pihak, tidak ada unsur kekerasan dan pemaksaan serta tidak ada kerugian pada pihak lain, tidak perlu diperlakukan secara keras. Jika pada tindak seksual ini ada suatu kesalahan maka lebih tepat ditangani dengan upaya yang lain, di luar hukum pidana. 6. Pada perempuan ada rentang yang makin lebar antara usia mentruasi pertama dengan usia kawin. Mengenai rata-rata usia memperoleh menstruasi pertama ada berbagai pandangan tetapi secara umum ada kecenderungan penurunan. Salah satu contoh dikemukakan dalam suatu situs internet bahwa (www.mum.org/menarage.htm), Researchers noted the trend 140 years ago. In 1860 the average menarche happened at 16.6 years, in 1920 at 14.6, in 1950 at 13.1 and 1980, 12.5 years (para peneliti mencatat kecenderungan sejak 140 tahun lalu. Di tahun 1860 rata-rata menstruasi pertama terjadi pada 16.6. tahun, di tahun 1920 pada 14.6, ditahun 1950 pada 13.1 dan 1980, 12.5 tahun). Mengenai usia kawin bagi perempuan, dalam suatu situs internet dikemukakan bahwa, In Ancient Rome, girls were often married off when they were between the ages of twelve and fourteen. During the Middle Ages, the practice of youthful marriages continued and women married as early as fourteen. In 1371, , the average age at marriage for men was 24, and for women it was 16 (Masa Roma kuno, perempuan sering dikawinkan ketika berusia di antara 12 dan 14. Sepanjang Abad Pertengahan, praktek perkawinan remaja berlanjut dan perempuan kawin di usia 14. ... di tahun 1371, ..., rata-rata usia kawin untuk laki-laki 24, dan untuk perempuan 16). 11

Sekarang ini, karena pendidikan dan kerja perempuan cenderung kawin pada usia yang lebih tinggi. PENUTUP Kesimpulan: 1. Dari sudut paham pembedaan antara Negara/norma-norma hukum dan Agama/norma-norma agama, sekalipun Agama/norma-norma agama seharusnya berperan dalam penentuan delik susila, tetapi perlu pula dipertimbangkan dari berbagai aspek lain. 2. Tindak persetubuhan laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat perkawinan yang sah, sekalipun dilarang oleh norma-norma agama, tetapi tidak memenuhi syarat untuk kriminalisasi, sebab tidak ada unsur kekerasan dan pemaksaan, tidak ada kerugian pada pihak ketiga (kalaupun ada kecil sekali dan paling kecil dibandingkan tindak seksual lain) serta adanya sejumlah argumentasi yang menentang kriminalisasi tindak seksual ini. Rekomendasi: Tidak perlu dilakukan kriminalisasi terhadap tindak seksual ini. Manado, 11 Oktober 2006 DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2004. Rancangan Undang-undang tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Jakarta. Bemmelen, J.M. van. 1986. Hukum Pidana 3. Bagian khusus delik-delik khusus. Binacipta. Bandung. David, R. dan J.E.C. Brierly. 1985. Major Legal Systems in the World Today. 3rd edition. Setevens & Sons. London. Ebenstein, W. 1960. Great Political Thinkers. Plato to the Present. 3rd ed. Hold, Rinehart and Winston. New York-Chicago-San Francisco-Toronto. Jones, P.A., dan R. Card, Richard. 1976. Cross and Jones' Introduction to Criminal Law. 8th ed. Butterworths. London. Seno Adji, Oemar. 1976. Hukum (Acara) Pidana dalam Prospeksi. Cetakan ke-2. Erlangga. Jakarta. Sumber Internet: Average age of menarche, at the Museum of Mentruation and Womens Health, www.mum.org/menarage.htm.

12

Teen Marriage, http://marriage.about.com/cs/teenmarriage/a/teenmarriage.htm Zina (Arabic) Wikipedia, Free Online Encyclopedia http://en.wikipedia.org/wiki/Zina_%28sex%29

BIODATA Nama Pekerjaan Pendidikan Pengalaman pekerjaan Frans Maramis Dosen Fakultas Manado Hukum Universitas Sam Ratulangi,

Sarjana Hukum (Unsrat, 1981) dan Magister Hukum (Unsrat, 2006) 1. Pembantu Dekan Bidang Akademik FH UKIT (19851996) 2. Sekretaris Bagian Hukum Pidana FH Unsrat (19941998) 3. Deputi Pembantu Dekan Bidang Akademik FH Unsrat (2002-2006) 4. Ketua Unit Kajian Kriminologi (Sentra Kriminologi) FH Unsrat (2002-sekarang) 5. Pembantu Dekan Bidang Bidang Telematika dan Egovernment FH Unsrat (2006-sekrang) Penulis buku Perbandingan Hukum Pidana, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994

Pengalaman profesi

13

PERLUASAN PERZINAAN DALAM PEMBARUAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA Oleh: Joice Rianna Anita Sondakh

PENDAHULUAN Gejala menarik yang patut disoroti dewasa ini adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat misalnya perluasan perzinaan yang pengaruh-pengaruhnya dengan cepat menjalar ke bagian-bagian lain dari masyarakat dibelahan bumi ini. Perubahan-perubahan dan perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat mengenai nilai-nilai, kaidah-kaidah, pola-pola perilaku, organisasi, struktur lembaga-lembaga social, stratifikasi sosial kekuasaan, interaksi sosial dan lain sebagainya. Oleh karena luasnya bidang-bidang kehidupan di mana memungkin terjadinya perubahan dan perkembangan perluasan perzinaan tersebut, maka proses yang demikian itu hanya dapat diketahui oleh orang-orang atau pihakpihak yang meneliti kehidupan suatu masyarakat pada suatu tempat dan waktu tertentu, dan kemudian dibandingkan dengan lingkungan masyarakat yang lain pada waktu yang berlainan pula. Hal ini dilakukan mengingat salah salah satu indicator dari kompleksitas permasalahan ini adalah bahwa realitas perkembangan suatu masyarakat di suatu masyarakat tertentu, tidak lagi menjadi bagian tersendiri, melainkan secara struktural berkaitan dengan realitas perkembangan suatu masyarakat di daerah lainnya. Dalam lingkup diatas, maka aturan hukum menempati posisi yang strategis dengan peranan yang dapat dimainkannya sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang dicita-citakan. Pada sisi yang lain aturan hukum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dari pada warga-warga masyarakat akan ketertiban, dan sebagai pedoman bagaimana berperilaku, serta sebagai alat untuk menjaga keutuhan masyarakat dan sebagai suatu pengendalian social. Apabila aturan hukum dijadikan sebagai alat untuk pembaruan masyarakat mengenai perluasan perzinaan maka perlu dipahami peran hukum dalam system kehidupan social, ekonomi, dan politik. Dalam konteks inilah hukum dapat menjadi alat sekaligus bagian hidup bermasyarakat. Namun demikian, harus diingat bahwa para analisis dan penentu kebijakan harus tetap peka terhadap kelemahan-kelemahan atau kekurangan dalam perluasan perzinaan, yang mungkin untuk sementara waktu tidak terungkapkan. Dalam kaitan ini, tampaknya menjadi permasalahan pokok masa kini dan masa depan, yang patut mulai dipikirkan terutama oleh kalangan sarjana hukum lebih khusus para akademisi. PERLUASAN PERZINAAN DALAM PEMBARUAN KUHP Menetapkan kebijakan kriminalisasi kepada persoalan yang bersifat individu merupakan persoalan yang cukup sulit, hal ini disebabkan harus memperhatikan dan mempertimbangkan bermacam-macam factor. Proses kriminalisasi yang berlangsung terus harus didasarkan pada penilaian-penilaian yang teruji dan suatu evaluasi pengaruhnya terhadap keseluruhan system, jika 14

tidak maka akan menimbulkan kelebihan krisis kriminalisasi dan krisis pelampauan batas dari hukum pidana. Berdasarkan pemahaman ini, menetapkan kebijakan kriminalisasi pada perzinaan terletak pada persoalan tujuan yang ingin dicapai dengan mempertimbangkan antara nilai dari hasil itu dan nilai dari batas-batas kebebasan itu yang didasarkan pada suatu pertimbangan rasional. Tidak dapat dibayangkan menetapkan kriminalisasi terhadap suatu persoalan individu dengan tidak dibarengi oleh unsur pertimbangan-pertimbangan yang rasional disegala bidang. Mengenai konsep rasionalitas dibidang kebijakan kriminil, Karl O. Christiansen didalam tulisannya yang berjudul Some considerations on the Possibility of a Rational Criminal Policy, antara lain mengemukakan sebagai berikut: The fundamental prerequisite of defining a means, method or measure as rational is that the aim or purpose to be achieved is well defined. Without an aim we can not speak of rational means of criminal policy, in fact we cannot even use the term means or similar expressions. It should be emphasized, how ever, that the aims cannot be determined by any rational methods.. The purpose of goal certain activities is never in it self a result of a rational decision, and the characteristic of a rational criminal policy is nothing more than the application of rational methods. (Prasyarat yang fundamental dalam merumuskan suatu cara, metode atau tindakan yang rasioanl ialah bahwa tujuan yang ingin dicapai harus telah dirumuskan dengan baik.Tanpa suatu tujuan kita tidak dapat bicara tentang cara yang rasional dari kebijakan kriminil, bahkan sebenarnya kita tidak dapat menggunakan istilah means atau pernyataan-pernyataan lainnya yang serupa. Akan tetapi patutlah ditekankan, bahwa tujuan-tujuan itu tidak dapat ditetapkan dengan suatu metode yang rasional.. Tujuan dari suatu aktivitas tertentu tidak pernah merupakan hasil dari suatu keputusan yang rasional, dan karakteristik dari suatu kebijakan kriminil yang rasional tidak lain daripada metodemetode yang rasional). Bertolak dari konsepsi rasionalitas dari suatu kebijakan kriminil diatas, maka jelaslah bahwa kebijakan menetapkan suatu jenis sanksi pidana tertentu sebenarnya bukanlah awal dari suatu perencanaan yang strategis. Tujuan yang ingin dicapai dari setiap kebijakan kriminil harus terarah pada perlindungan masyarakat untuk mencapai kebahagiaan masyarakat, kehidupan cultural yang sehat dan menyegarkan, kesejahteraan masyarakat dan untuk mencapai suatu keseimbangan. Tujuan hukum pidana pada hakekatnya adalah untuk melindungi kepentingan umum dan menegakkan HAM, tetapi apabila Negara ingin melindungi kepentingan umum sementara HAM dilanggar, bagaimana hendaknya hal ini diselesaikan/diatur? Dalam perkembangan masyarakat yang semakin modern, pada dasarnya setiap orang harus menikmati HAM disamping hak lain yang diatur khusus oleh Negara. Kebebasan untuk menikmati hak-hak itu harus ditegakkan karena bilamana tidak maka akan menjadi suatu khayalan yang sia-sia dan jauh dari makna yang sesungguhnya. Dikaitkan dengan tujuan Hukum pidana adalah untuk melindungi kepentingan umum dan menegakkan HAM sementara dalam menegakkan hukum itu HAM dilanggar, maka perlu dilakukan pendekatan humanitas. Pendekatan humanitas dalam penggunaan sanksi pidana tidak hanya berarti bahwa pidana yang dikenakan kepada si pelanggar harus sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab, tetapi juga harus dapat membangkitkan kesadaran si pelanggar akan nilai-nilai pergaulan hidup masyarakat. Perlu ditegaskan pula bahwa 15

kebijakan pidana yang modern selalu mensyaratkan adanya kebebasan individu. ( lihat pertanggungjawaban individu dari Marc Ancel). Tindakan perzinaan adalah perbuatan dosa, yang merupakan urusan agama. Namun sepanjang tidak adanya unsur kekerasan dan pemaksaan yang melatarbelakangi suatu perbuatan serta tidak adanya kerugian material, sanksi pidana tidak perlu. Menanggapi hal ini, menurut hemat saya, ada pembedaan antara norma agama dan norma hukum. Memang perzinaan adalah perbuatan dosa menurut semua ajaran agama yang diakui di Indonesia. Oleh sebab itu peran norma agama dalam penetapan delik susila setidak-tidaknya mendekati tujuan. Jika perzinaan telah menimbulkan factor kriminogen maka harus diambil langkah-langkah pemidanaan. Jika sanksi pidana tidak perlu maka akan menimbulkan kekosongan, dan disatu pihak dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dalam pembaruan KUHP, suara masyarakat dapat dianggap sebagai parameter. Sementara masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk . Bagaimana sebaiknya pembuat Undang-undang mengambil kebijakan yang berlaku secara nasional ? Dalam rangka menata masyarakat maupun mengarahkan masyarakat sesuai dengan tujuan yang dikehendaki, maka penggunaan hukum sebagai instrument kebijakan mempunyai arti yang penting. Penggunaan hukum sebagai sarana ini dikarenakan hukum memiliki beberapa kelebihan, yaitu hukum bersifat rasional, integrative, memiliki legitimasi, didukung oleh adanya mekanisme pelaksanaan dan memiliki sanksi. Penetapan pidana oleh pembuat kebijakan dimaksudkan untuk menyediakan seperangkat sarana bagi para penegak hukum dalam rangka menanggulangi kejahatan. Disamping itu dimaksudkan pula untuk membatasi para penegak hukum dalam menggunakan sarana berupa pidana yang telah ditetapkan. Kebijakan yang berlaku secara nasional antara lain yang mewujudkan masyarakat yang adil yang merata materiil dan spiritual demi kesejahteraan untuk mengayomi masyarakat. Kebijakan ini pula untuk pengaturan atau penyusunan secara rasional usaha-usaha pengendalian kejahatan oleh masyarakat sehingga tidak akan menimbulkan disparitas pidana. Tujuan akhir adalah perlindungan masyarakat. Kunci utama pembentukan hukum yang mengarah pada pembaruan KUHP terletak pada implementasi hukum itu. Disini, perlu dibedakan antara tujuan social hukum serta dimensi-dimensi tata hukum, dan pada pihak lain kebutuhan akan suatu kerangka bagi alternative penataan hukum. Dalam kaitan ini, ada tiga keadaan dasar hukum dalam masyarakat yaitu pertama, hukum represif, yaitu hukum yang merupakan alat kekuasaan represif. Tujuan hukum adalah ketertiban dan dasar keabsahannya adalah pengamanan masyarakat. Aturan-aturannya bersifat terperinci namun kurang mengikat pembuat aturan sehingga seringkali terjadi diskresi. Gagasan hukum represif mengandaikan bahwa setiap tata hukum merupakan keadilan yang beku dan mempunyai potensi represif oleh karena terikat pada status quo dan dengan menyelimuti otoritas, hukum membuat kekuasaan lebih efektif. Kedua, hukum otonom, yaitu hukum sebagai suatu pranata yang mampu menjinakkan represi dan melindungi integritasnya sendiri. Tujuan hukum adalah legitimasi yang didasarkan pada kejujuran procedural. Aturan-aturan mengikat baik bagi penguasa maupun yang dikuasai, dan diskresi dibatasi oleh hukum serta hukum lebih terbebas dari politik. Hukum otonom memiliki cirri-ciri sebagai berikut 16

: hukum dipisahkan dari politik dengan pemisahan fungsi-fungsi; tata hukum mendukung model aturan-aturan, prosedur adalah pusat hukum dan kepatuhan pada hukum dipahami sebagai kepatuhan yang ketat pada hukum positif. Ketiga, hukum responsif, yaitu hukum yang merupakan sarana respons atas kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi masyarakat. Tujuannya agar hukum lebih tanggap terhadap kebutuhan terbuka pada pengaruh dan lebih efektif dalam menangani masalah-masalah social. Ciri-cirinya, yaitu, dinamika perkembangan hukum meningkat otoritas tujuan; mengendalikan tuntutan kepada kepatuhan serta mengurangi kelakuan hukum; bantuan hukum menampilkan dimensi politik; terdapatnya perencanaan pranata-pranata hukum secara lebih kompeten. Masyarakat dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan pembuat Undang-undang. Dalam keadaan demikian maka partisipasi dalam pembentukan undang-undang dan kesempatan untuk berperan serta menentukan kebijakan lebih terbuka. Penerapan suatu aturan hukum dalam KUHP di wilayah dan masyarakat Indonsia haruslah berlaku secara nasional. Andaikata ada suatu pasal yang tidak bisa diterapkan di suatu daerah maka mungkin dalam penjelasan selanjutnya diberikan keterangan yang sejelas-jelasnya. Mengingat bahwa sesungguhnya banyak pihak yang terlibat dalam proses penerapannya. Penerapan pasal KUHP dimakudkan untuk mempengaruhi dan mengontrol perbuatan manusia sesuai dengan peraturan-peraturan dan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Akan menjadi efektif apabila mempunyai dampak positif bagi anggota masyarakat. Dengan perkataan lain, tindakan atau perbuatan manusia sebagai anggota masyarakat bersesuaian dengan keinginan pembuat undangundang. Pada akhirnya suatu aturan hukum akan terlembaga dalam suatu system apabila memenuhi syarat yaitu bagian terbesar masyarakat dalam suatu wilayah keseluruhan menerima aturan tersebut; aturan-aturan telah menjiwai bagian terbesar masyarakat dan aturan tersebut bersanksi. Namun demikian keefektifan suatu aturan hukum tergantung sekali pada dukungan-dukungan yang penuh dari nilai-nilai dan sikap-sikap masyarakat, dan oleh karenanya, seseorang tidak akan dapat begitu saja mengatur moralitas masyarakat dengan suatu peraturan perundang-undangan. Contohnya perluasan pelaku perzinaan kepada dua orang yang belum menikah. Menurut hemat saya, perluasan aturan perzinaan ini tidak perlu. Alasannya bahwa kasus ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Dalam usaha untuk mendorong dan memaksakan perubahan-perubahan social dalam masyarakat, permasalahannya sampai seberapa jauh akibat-akibat yang dapat ditimbulkan oleh adanya perluasan perzinaan itu ?. Kondisi-kondisi ini mungkin akan berpengaruh sekali terhadap keefektifan aturan hukum itu sebagai alat perubahan, yaitu: 1. apakah adanya perluasan perzinaan itu memang berkewenangan dan berwibawa ? 2. apakah perluasan perzinaan tersebut secara tepat telah dijelaskan dan diberi dasar-dasar pembenar, baik dari sudut hukum maupun dari sudut sosio historic? 3. apakah model-model ketaatan dapat dikenali dan dapat disiarkan secara luas? 4. apakah jangka waktu yang diperlukan untuk masa peralihannya telah dipertimbangkan dengan baik ? 5. apakah alat-alat penegak hukum telah menunjukkan rasa keterikatannya untuk ikut melaksanakan perluasan perzinaan itu ?

17

6. apakah pengenaan sanksi (baik yang positif maupun yang negative) dapat dilakukan untuk mendukung berlakunya perluasan perzinaan itu ? dan 7. apakah perlindungan yang nyata-nyata telah disediakan untuk mereka yang mungkin akan menderita akibat pelanggaran-pelanggaran yang terjadi terhadap perluasan perzinaan tersebut. Perluasan perzinaan akan sangat sulit apabila jika tidak cukup dukungan untuk itu karena perzinaan merupakan delik aduan yang mempunyai sifat individual dengan syarat esensial. Delik aduan dalam perzinaan perlu dipertahankan. Perkembangan kriminalitas dan perkembangan delik-delik khusus dewasa ini ditinjau dari intensitas dan frekuensi kejahatan, delik perzinaan masih lebih kecil dibandingkan dengan yang lainnya. Sehubungan dengan perzinaan yang dilakukan oleh dua orang yang tidak terikat pernikahan bila dicermati tidak dapat dilakukan pengaduan, hanyalah suami atau isteri yang dapat mengadukannya. Oleh sebab itu tidak perlu melakukan pembatasan terhadap pihak ketiga dalam mengadukan perzinaan karena yang berhak mengadukannya hanyalah suami atau isteri. Untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki dalam mengatasi masalah perzinaan ini, diperlukan adanya suatu pembinaan moral pada masyarakat. Tanpa langkah yang demikian, maka menjadi tidak bermakna, karena dalam konkritisasinya suatu pembinaan moral merupakan salah satu cara untuk mengatur perilaku masyarakat. Penetapan sanksi adat dalam perkembangan kriminalitas pada masyarakat modern untuk masalah perzinaan tidak diperlukan lagi. Dalam sanksi agama, setiap manusia mempunyai tanggungjawab kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa, jika ada pertobatan maka terjadi pengampunan yang diberikan oleh Tuhan. Tokoh adat di pedesaan, misalnya Hukumtua di Minahasa, dapat berperan dalam mengatasi masalah perzinaan di desa yang dipimpinnya dengan melakukan pembinaan moral dalam proses pergaulan social. Tokoh agama diperlukan dalam pembinaan moral masyarakat teristimewa mental dan spiritual masyarakat. KESIMPULAN Perluasan perzinaan dalam pembaruan KUHP tidak perlu. Nilai hidup dan sikap masyarakat harus diperhatikan. Perbuatan suatu peraturan hukum sebenarnya selalu merupakan semacam pengendapan konflik-konflik nilai yang terjadi dalam suatu masyarakat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan suatu aturan hukum sebenarnya terdapat dua kemungkinan yang terjadi, adanya suatu aturan hukum merupakan sarana untuk mencairkan adanya/timbulnya konflik dalam masyarakat atau merupakan tindakan yang memperkuat konflik yang terjadi dalam masyarakat. Pelaksanaan perluasan perzinaan akan sangat sulit apabila pada pengimplementasiannya tidak cukup dukungan untuk itu. Kepatuhan masyarakat akan tipis, apabila perluasan perzinaan ini bertentangan dengan pandangan atau pendapat yang dianut (berlaku) dalam suatu masyarakat, atau dianggap dengan kepentingan-kepentingan mereka. Pembuat kebijakan harus berusaha memperoleh suatu kompromi dengan masyarakat untuk menghindari konflikkonflik yang berkepanjangan.

18

DAFTAR PUSTAKA Ancel, Marc, 1965. Social Defence, A modern approach problem.Routledge & Kegan Paul, London. to criminal

Black, Henry Cambell MA, 1976..Black`s Law Dictionary, St. Paul. Minn, West Publishing Co. Christiansen, Karl O., 1974. Some Considerations on the Possibility of a Rational Criminal Policy.Resouce Material Series No 7, Tokyo. Muladi dan Barda NA, 1982. Pidana dan Pemidanaan. FH. Unissula, Semarang. Sudarto, 1982. Pemidanaan, Pidana dan Tindakan.Babinkumnas, Jakarta. BIODATA Nama Tempat/Tgl Lahir Pekerjaan Pendidikan Penelitian : : : : Joice Rianna Anita Sondakh Manado, 14 Oktober 1963 - Dosen Fakultas Hukum Unsrat Manado - Sarjana Hukum Unsrat 1987 Magister Hukum Pascasarjana Unsrat 2001 : 1. Kebijakan Pemerintah Kota dalam Memberikan Informasi Di Kota Bitung. 2004. 2. Pembuktian Infanticidesebagai suatu Tindak Pidana Melalui Visum Et Repertum.2005. 3..Kebebasan Berkontrak pada Production Sharing dalam rangka Penanaman Modal Asing (Analisis yuridis perlindungan hukum bagi para pihak yang bebas dari campur tangan pemerintah ) 2001. 4. Kajian terhadap Abortus Provokatus Criminalis sebagai suatu Tindak Pidana. 2006.

19