Anda di halaman 1dari 5

PENGUSAHA BATIK

1. Naomi Susilowati ± Pengusaha Batik (Mantan Kernet Bus) Kegetiran hidup tak menyurutkan perjuangan Naomi Susilowati Setiono (46) dalam menjalani kesehariannya. Dengan berapi-api, wanita sederhana ini menuturkan kisah hidupnya yang diawali sebagai tukang cuci baju, pemotong batang rokok, kernet bus antarkota, dan akhirnya menjadi pengusaha serta perajin batik lasem. Semua ini karena kebaikan Tuhan, ujarnya mensyukuri perbaikan hidup yang dialaminya. Meski bukan pengusaha batik nomor wahid di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, perempuan peranakan Tionghoa ini sangat terkenal di dunia perbatikan, khususnya batik lasem. Hingga tak heran, rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster batik lasem, yang hingga kini belum diberi nama. Dalam waktu dekat, cluster ini akan dinamai menjadi semacam asosiasi perajin/pengusaha batik lasem. Jenis batik lasem (atau laseman) yang perkembangannya jauh tertinggal dibanding batik solo dan yogya ini terus digeluti, meski masih menggunakan peralatan tradisional. Naomi yang memimpin Batik Tulis Tradisional Laseman Maranatha di Jalan Karangturi I/I Lasem, Rembang, ini mengerahkan 30 perajin guna mendukung usahanya. Selain mengemban status single parent, Naomi terkenal aktif sebagai pendeta di gereja setempat. Bahkan, akhir-akhir ini ia disibukkan dengan mengisi seminar maupun pemaparan ke berbagai instansi mengenai seluk-beluk batik lasem. Ia juga tengah merintis pengaderan perajin batik ke sekolah-sekolah secara gratis. Kalau tidak kami sendiri yang mengader, siapa lagi? Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, ujarnya. Naomi mengaku pernah melontarkan gagasannya kepada Bupati Rembang Hendarsono (saat itu) untuk menyisipkan cara membatik ke dalam pelajaran muatan lokal. Sayangnya, ide ini tak ditanggapi dan dianggap tidak bisa berhasil. Akhirnya, ia langsung turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan gagasannya itu. Kini, ia masih menunggu tanggapan dari sekolah-sekolah. Jika masalah tempat, saya bisa meminjam balai desa, tak perlu keluar uang, ujarnya. Meski sangat sibuk, produktivitasnya tak berubah. Setiap bulan Naomi dan rekanrekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 150 potong batik tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Cina dan Jawa ini dikirim ke berbagai daerah, seperti Serang (Banten), Medan (Sumut), dan Surabaya (Jatim). Naomi menjelaskan, usaha batik yang digeluti sejak tahun 1990 ini merupakan limpahan dari orangtua. Namun, ia tidak semata-mata menerima begitu saja.

baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Saya juga tidak boleh memasuki rumah besar. Di tempat ini ia menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci pakaian. Saya ditempatkan di bawah pembantu. Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan bawahan. Karena kurang cekatan. orangtuanya memutuskan tinggal dengan adikadiknya di Jakarta. malam hari digunakannya untuk membuat desain. ujarnya. Rp 375 per hari. Jika siang hari turun tangan dalam memproses batik. Ia hengkang dan berpindah sebagai kernet bus Semarang-Lasem. Kompas. lulusan Sekolah Menengah Apoteker Theresiana Semarang ini mendapatkan masalah sehingga dikucilkan dari keluarga yang saat itu terpandang di wilayahnya. Ia memberi kesempatan kepada perajin untuk menunaikan ibadah shalat. Itu pun dengan berbagai cemooh.000-an. Singkat cerita. hingga memberi pewarnaan diperhatikannya dengan saksama. Dari titik inilah Naomi dipercaya untuk melanjutkan usaha batik warisan turun-temurun ini. tahun 1990. 23 Januari 2006) e-ti *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) . (Ichwan Susanto. Mulai dari desain. ibu dari Priskila Renny (23) dan Gabriel Alvin Prianto (17) ini masih tetap eksis di dunia perbatikan. ia hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit. Perlakuan ini ia terima dengan lapang dada. Padahal teman-teman dapat memotong rokok berkarung-karung. batik lasem mulai menggeliat dan dilirik kembali oleh para pencinta batik. Sedikit demi sedikit ia mempelajari cara pembuatan batik lasem. Mau minta air dan makan ke pembantu. ujarnya yang pernah bercita-cita sebagai arkeolog. ini. Hingga suatu hari. memegang canting. Ia menganggap perajin adalah rekan usaha yang sama-sama membutuhkan dan menguntungkan. bisa mendapat uang Rp 2. ia pindah sebagai buruh pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus. Hingga kini. Tergiur penghasilan yang lebih tinggi. Kesempatan ini digunakan Naomi untuk mengubah sistem dan aturan main bagi pekerjanya. Ini salah satu sistem baru yang saya terapkan. melapisi kain dengan malam. Ditolak dari keluarga yang telah mengasuhnya 21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. ujar lulusan Sekolah Tinggi Theologia Lawang. orangtuanya memintanya kembali ke Lasem.Pada tahun 1980. saya memberikannya. Jatim. Usaha batik tidak ada yang meneruskan. Ia pun pindah ke Kabupaten Kudus. Sesuai kewajiban yang ingin mereka jalankan. Perlahan namun pasti.

Maklum. Apalagi setelah ia menikah dengan Alwi Shihab. Boro-boro mempelajari. Sebab. ia tak sempat. kecuali untuk memasak blendâ¼´sejenis Foto: perekat untuk membuat batik perada. kuning. meski tak memakai merek tertentu. Selain itu. dan sebagainya. Hari-harinya praktis dihabiskan untuk membantu suaminya berdagang . saat itu wanita kelahiran Palembang ini sekolah di Solo (Jawa Tengah) dan tinggal di Mertodranan. sedangkan produk sejenisnya tidak. Depok. Rumah yang terletak di kawasan Sawangan Baru. Kebetulan. drum-drum itu tak punya Fauzan keistimewaan lain. ujar Salwa. kemudian setelah cairan itu kering diberi lapisan warna dengan menggunakan glatir. Pemilik rumah itu adalah Alwi Shihab dan Salwa. produk Salwa agak berbeda. misalnya. Biasanya. Batik khas Indonesia itu bukan cuma tersebar di kota-kota besar negeri ini. terutama Thailand dan Malaysia. Salwa juga berperan menularkan ilmu membuat batik perada kepada warga di sekitarnya. bisa jadi orang yang baru datang di daerah itu tak akan menyangka rumah itu sebuah home industry. Jadi. Pasar Kliwon. merah. putih. Meski begitu. seni menghias perada tidak bisa begitu saja didapat. perada berarti teknik menghias kembali kain batik yang sudah jadi dengan glatir (semacam bubuk). Batik bercorak bunga. Batik buatan Salwa memang digemari karena keunikannya. Pada garis tepi ornamen bunga tersebut diberi cairan blend. tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi pengusaha batik. tanpa hiruk pikuk para pekerjanya. dibanding dengan batik perada yang umumnya di jual di Jawa. Membuat batik perada memang tidak sesulit membatik yang harus mendesain corak dan gambarnya. Salwa kembali ke kampung halamannya untuk melanjutkan SMA. Lulus SMP. Dari kota inilah sedikit demi sedikit Salwa mempelajari seni membatik dan mengenal beragam jenis batik. Suami istri berdarah Arab ini bisa dibilang pengusaha batik perada yang sukses. wi-layah yang banyak memiliki perajin batik. Salwa mengasah keahliannya sejak duduk di bangku SMP. kata ibu beranak satu itu.2. mengamati seni tradisional ini pun. Pengetahuan ini ternyata kelak sangat membantunya dalam mengembangkan usaha yang ia rintis sekarang. lapisan warna itu beragam. tapi juga sudah menyeberang ke sejumlah negara Asia. konsumen bisa mengenali produk made in Salwa dari konturnya yang timbul. Dengan produksi sekitar 200 potong batik per hari. Saya mengambil ciri khas batik perada Palembang (Sumatera Selatan). Sebab. perak. itu sama saja dengan tetangga di kanan kirinya. Teduh. tenang. Saat itu. Perbedaannya terletak pada garis-garis ornamen yang timbul pada kain batik. Tapi yang paling laku dan banyak peminatnya yakni yang berwarna emas. industri rumahan yang mereka kelola kini beromzet tak kurang dari Rp 250 juta per bulan. misalnya emas. Juragan Batik dari Kota Pempek Irawati Maxi dan Nugroho Adhi KALAU saja tidak ada drum-drum oli bekas berjejer di depan rumahnya.

tapi cuma mencarikan kain sebagai bahan dasar dan menjual batik perada yang sudah jadi ke Jakarta. Seluruh proses produksinya dikerjakan di Palembang. Proses pembuatannya tak jauh berbeda dengan batik perada. Bahan baku lainnya. bersama suaminya yang setahun lebih tua. hanya Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Selama ini. misalnya. Sementara kaligrafi berukuran 100x60 sentimeter dijual seharga Rp 30 ribu per buah. mengapa harus bolak-balik. Kalau bisa dikerjakan di Jakarta. beludru. kata Salwa. Semua tergantung jenis kain dan tingkat kerumitan motifnya. satin. Berbagai merek bisa dipakai. Maka pada 1995. termasuk bingkainya. tapi hasilnya tidak memuaskan. Maka. Demikian pula dengan pembayarannya. hiasan dinding yang berukuran 75x120 sentimeter dijual seharga Rp 200 ribu per buah. Daun Dewa. Sementara untuk gliter-nya tidak dibuat sendiri karena bahan itu masih diimpor dari Jepang. Harga jual batik perada sendiri bervariasi.kain di Palembang. Memang. Untuk memasarkan batik perada buatannya ke luar Jawa dan luar negeri. sampai mengoleskan gliter pada kain tersebut. ia mulai merintis pembuatan batik perada ala Kota Pempek. keuntungan kecil tidak masalah. Para pelanggannya bisa membayar secara kontan maupun giro bilyet berjangka waktu 1 sampai 2 bulan. Salwa khusus mendatangkan dua orang perajin dari kampung halamannya. memberi perekat. harganya mulai Rp 30 ribu sampai ratusan ribu. ia pun mencoba berdagang batik perada. Tapi saat itu ia tidak terlibat dalam produksinya. Yang penting bagi mereka adalah uangnya bisa berputar cepat. biasanya dibeli di Tanah Abang. Maka. awalnya mereka beli jadi. Salwa dan Alwi pun melakukan sejumlah inovasi agar produk yang dihasilkan berkualitas bagus dan efisien. pada 1984. Berapa keuntungannya? Untuk setiap potong kain. biasanya Alwi . Untuk sepotong kain panjang. dan sutera asli. Untuk batik Danar Hadi biasanya dijual seharga Rp 75 ribu per potong. Palembang. dan kain panjang Cap Jago. biasanya kami mengambil untung tidak besar. Salwa biasa membeli gliter jadi di toko-toko kimia. Meski sudah lama memiliki bekal pengetahuan tentang batik. dari mulai memilih motif. Cuma. Alwi juga membuat kaligrafi dan hiasan dinding yang menggunakan bahan baku dari batik perada. santung. Salwa mulai sadar bahwa pakaian batik perada digemari oleh masyarakat. Untuk itu. Biasanya. Salwa melihat peluang bagus jika batik tersebut dibuat di Jakarta. Bahan dasarnya pun bisa dari kain katun. misalnya Danar Hadi. safir. batik jadi. Di pusat perdagangan tekstil itu. di ibu kota. Roda kehidupan Salwa berubah ketika suaminya membawanya hijrah ke Jakarta dan berdagang baju-baju konfeksi di Tanah Abang. bahan dasarnya biasanya terbuat dari kain polos dan Alwi harus menggambar desainnya dulu di atas kain tersebut. Dan yang paling mahal terbuat dari kain sutera yang bisa mencapai Rp 300 ribu per potong. Ternyata. kan tidak efisien ujar wanita 46 tahun itu. Untuk blend. toh tahun-tahun pertama memulai usahanya merupakan proses pembelajaran kembali bagi Salwa. batik perada ala Palembang ini laris manis. bagi pasangan itu. Alwi pun mencoba meramu sendiri bahan perekat itu. PEGAWAINYA IBU-IBU DI SEKITAR RUMAH Selain membuat batik perada.

Dan agar produksinya laku. Banyak di antara mereka adalah istri tukang ojek dan caddy di lapangan golf. Suatu saat ia ingin melakukannya tanpa menggunakan jasa perantara. Sementara yang dijual di Jakarta bisa mengambil sendiri dari rumah Salwa. Saya juga senang kalau akhirnya mereka bisa membuat batik perada sendiri. biasanya mereka bisa menyelesaikan 3-4 potong kain. Salwa sengaja tak mencantumkan merek. Memang. Oleh : Nama : Kiky Lestari (15) Kelas : XI Akuntansi 3 . Dalam sehari. mereka membutuhkan waktu 2-3 jam untuk memberi blend pada kain. hal itu bisa langsung diketahui dan dikembalikan ke si perajin untuk diperbaiki. tergantung motifnya. Para perajin itu diupah Rp 2. saat ini Salwa tak memiliki tenaga banyak untuk mengurus masalah itu. Karena. Meski demikian. Sementara perajin yang memberi blend adalah ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya. Untuk sementara begitu dulu. biasanya Salwa memberi nomor pada setiap kain. kalau pakai merek sendiri. Saat itu biasanya dimanfaatkan Salwa untuk menularkan ilmunya kepada para perajin. Jadi.000 sampai Rp 3. Kini. katanya. ujarnya. tuturnya sembari mengenang saatsaat ia belajar membatik. pemilik toko bebas memberi merek apa pun. Ia menjelaskan cara memberi blend yang benar agar batik perada yang dihasilkan memiliki kualitas bagus. bisa-bisa para pedagang tidak mau beli. Biasanya. Untuk mengontrol hasil karya para perajin itu.000 per kain. Begitu juga dengan proses ekspor. ia hanya memiliki karyawan tetap sebanyak 7 orang. Jadi. Tapi sampai saat ini kami belum punya tenaga karena sudah repot mengurus yang sekarang. Tugasnya memberi gliter pada kain yang sudah di beri blend. itu tak berarti ia mengubur keinginan memiliki merek sendiri. Jumlahnya mencapai 100 orang lebih.dan Salwa memakai jasa toko langganannya di Tanah Abang. bila ada yang cacat saat memberi blend.