Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Kekayaan spesies fauna di dunia sangatlah banyak jumlahnya. Terdapat ribuan jumlahnya. Kucing, Felis silvestris catus, adalah sejenis karnivora. Kata "kucing" biasanya merujuk kepada "kucing" yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada "kucing besar" seperti singa, harimau, dan macan. Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM, dari kerangka kucing di Pulau Siprus. Orang Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung yang menyimpan hasil panen. Saat ini, kucing adalah salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia. Kucing yang garis keturunannya tercatat secara resmi sebagai kucing trah atau galur murni (pure breed), seperti persia, siam, manx, sphinx. Kucing seperti ini biasanya dibiakkan di tempat pemeliharaan hewan resmi. Jumlah kucing ras hanyalah 1% dari seluruh kucing di dunia, sisanya adalah kucing dengan keturunan campuran seperti kucing liar atau kucing kampung. Kucing merupakan hewan yang sangat lekat dengan kehidupan manusia baik dalam kehidupan liar maupun yang dipelihara. Kucing telah mengalami domestikasi ratusan bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu. Kegunaan lain dari kucing adalah sebagai hewan coba pada praktikum anatomi bagi mahasiswa kedokteran hewan dan untuk percobaan dalam

fisiologi karena besarnya memadai dan untuk keperluan ilmu bedah. Namun hewan ini sangat mahal dipelihara di laboratorium untuk jangka waktu lama, oleh sebab itu kucing jarang diternakkan untuk penelitian. Fasilitas dengan kualitas hygiene yang sangat tinggi untuk budidaya kucing di laboratorium agar berhasil baik. Banyak penyakit menular yang ditimbulkan dan dapat menimbulkan pengaruh buruk pada program peternakan jika standar ini tidak dapat dipertahankan. Untuk menunjang keberhasilan dalam budidaya kucing maka pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi reproduksi serta tingkah laku reproduksi sangat diperlukan. Meski kucing sudah mengalami domestikasi ribuan tahun yang lalu, kucing merupakan hewan soliter dan dalam melakukan proses reproduksi masih membutuhkan kondisi kehidupan alamiah. Oleh sebab itu pemahaman tingkah laku kucing dalam melakukan aktivitas reproduksi terutama tingkah laku ketika melakukan perkawinan baik praperkawinan dan pascaperkawinan sangat penting guna keberhasilan dalam budidaya. b. Tujuan 1. Untuk mempelajari anatomi dan morfologi kucing 2. Untuk mengetahui sistem reproduksi kucing dan pola perkawinannya

BAB II PEMBAHASAN

1. Karakteristik dan Morfologi Kucing peliharaan atau kucing rumah adalah salah satu predator terhebat di dunia. Tetapi karena ukurannya yang kecil, kucing tidak begitu berbahaya bagi manusia, satu-satunya bahaya yang dapat timbul adalah kemungkinan terjadinya infeksi rabies akibat gigitan kucing dan juga cakaran dari kuku kucing yang sangat perih dan menyakitkan. Kucing dapat berakibat fatal bagi suatu ekosistem yang bukan tempat tinggal alaminya. Pada beberapa kasus, kucing berperan atau menyebabkan kepunahan.. Kucing dianggap sebagai "karnivora yang sempurna" dengan gigi dan saluran pencernaan yang khusus. Gigi premolar dan molar pertama membentuk sepasang taring di setiap sisi mulut yang bekerja efektif seperti gunting untuk merobek daging. Tidak seperti karnivora lain, kucing hampir tidak makan apapun yang mengandung tumbuhan. Meskipun memiliki reputasi sebagai hewan penyendiri, kucing biasanya dapat membentuk koloni liar tetapi tidak menyerang dalam kelompok seperti singa. Setiap kucing memiliki daerahnya sendiri (jantan yang aktif secara seksual memiliki daerah terbesar, sedang jantan steril memiliki daerah paling kecil) dan selalu terdapat daerah "netral" dimana para kucing dapat saling mengawasi atau bertemu tanpa adanya konflik teritorial atau agresi. Di luar daerah netral ini, penguasa daerah biasa akan mengejar

kucing asing, diawali dengan menatap, mendesis, hingga menggeram, dan bila kucing asing itu tetap tinggal, biasanya akan terjadi perkelahian singkat. Kucing yang sedang berkelahi menegakkan rambut tubuh dan melengkungkan punggung agar mereka tampak lebih besar. Serangan biasanya terdiri dari tamparan di bagian wajah dan tubuh dengan kaki depan yang kadang disertai gigitan. Luka serius pada kucing akibat perkelahian jarang terjadi karena pihak yang kalah biasanya akan lari setelah mengalami beberapa luka di wajah. Jantan yang aktif biasanya sering terlibat banyak perkelahian sepanjang hidupnya. Hal ini tampak pada berbagai luka di bagian wajah, seperti hidung atau telinga. Kucing betina kadang juga terlibat perkelahian untuk melindungi anak-anaknya bahkan kucing steril pun akan mempertahankan daerah kecilnya dengan gigih. Karena memiliki kekerabatan yang dekat dengan binatang gurun, ketahanan kucing terhadap panas dan dinginnya iklim daerah subtropis agak terbatas. Kucing tidak tahan terhadap kabut, hujan, dan salju, meskipun ada beberapa jenis seperti Norwegian Forest Cat dan Maine Coon yang mampu bertahan; dan berusaha mempertahankan suhu tubuh normalnya, yaitu 39C, dalam keadaan basah. Kebanyakan kucing tidak suka berendam dalam air, kecuali jenis Turkish Van. Masa kehamilan atau gestasi pada kucing berkisar 63 hari. Anak kucing terlahir buta dan tuli. Mata mereka baru terbuka pada usia 8-10 hari. Anak kucing akan disapih oleh induknya pada usia 6-7 minggu dan kematangan seksual dicapai pada umur 10-15 bulan. Kucing dapat

mengandung 4 janin sekaligus karena rahimnya memiliki bentuk yang khusus dengan 4 bagian yang berbeda. Kucing biasanya memiliki berat badan antara 2,5 hingga 7 kilogram dan jarang melebihi 10 kg. Bila diberi makan berlebihan, kucing dapat mencapai berat badan 23 kg. Tapi kondisi ini amat tidak sehat bagi kucing dan harus dihindari. Dalam penangkaran, kucing dapat hidup selama 15 hingga 20 tahun, kucing tertua diketahui berusia 36 tahun. Kucing peliharaan yang tidak diperbolehkan keluar rumah dan disterilkan dapat hidup lebih lama (mengurangi risiko perkelahian dan kecelakaan). Kucing liar yang hidup di lingkungan urban modern hanya hidup selama 2 tahun atau bahkan kurang dari itu. Kucing dapat melihat dalam cahaya yang amat terang. Mereka memiliki Selaput pelangi atau iris membentuk celah pada mata yang akan menyempit. Meskipun demikian, penyempitan ini juga mengurangi bidang pandang kucing. Suatu organ yang disebut tapetum lucidum digunakan dalam lingkungan dengan sedikit cahaya. Seperti kebanyakan predator, kedua mata kucing menghadap ke depan, menghasilkan persepsi jarak dan mengurangi besarnya bidang pandang. Mata kucing memiliki persepsi trikomatik yang lemah. Ketika cahaya yang ada terlalu sedikit untuk melihat, kucing akan menggunakan "kumis" atau misainya (vibrissae) untuk membantunya menentukan arah dan menjadi alat indera tambahan. Misai dapat mendeteksi

perubahan angin yang amat kecil, membuat kucing dapat mengetahui adanya benda-benda di sekitarnya tanpa melihat. Kucing memiliki kelopak mata ketiga yang disebut membrana niktitans. Kelopak ketiga ini terdiri dari suatu lapisan tipis yang dapat menutupi mata dan nampak ketika mata kucing terbuka. Membran ini menutup sebagian ketika kucing sedang sakit. Kadang kucing yang amat mengantuk atau gembira juga memperlihatkan membran ini. Umumnya semua daun telinga kucing tegak. Jenis Scottish Fold adalah salah satu jenis kucing dengan mutasi genetik yang langka ini. Ketika marah atau takut, daun telinga kucing jenis ini akan tertekuk ke belakang sementara si kucing mengeluarkan suara menggeram atau mendesis. Ketika mendengarkan suatu suara, daun telinga kucing akan bergerak ke arah sumber suara; daun telinga kucing dapat mengarah ke depan, ke samping, bahkan seolah menoleh ke belakang. Kucing menyimpan energi dengan cara tidur lebih sering ketimbang hewan lain. Lama tidur kucing bervariasi antara 12-16 jam per hari, dengan angka rata-rata 13-14 jam. Tetapi tidak jarang dijumpai kucing yang tidur selama 20 jam dalam satu hari. 2. Anatomi Sistem Perkembangbiakan a. Jantan Secara umum sistematika organ reproduksi kucing hampir sama dengan mamalia lain yang terdiri atas: testis, saluran kelamin dengan kelenjar kelamin dan alat kopulasi (penis). Saluran-saluran kelamin terdiri vas eferens,

epididimis dan vas deferens sedang kelenjar-kelenjar kelamin hanya terdiri dari prostata sedang kelenjar vesikula seminalis dan bulbouretralis (cowpers) tidak dijumpai. Organ primer / testis berjumlah dua buah yang terdapat di dalam kantong luar yang disebut skrotum. Saluran-saluran kelamin berpangkal pada testis dan menyambung ke uretra yang kemudian menjadi bagian dari penis dan merupakan jalan bersama spermatozoa dengan urine serta sekresi kelenjar-kelenjar kelamin. Kelenjarkelenjar kelamin terletak pada atau disekitar saluran-saluran kelamin dan bermuara ke dalam uretra. Sistem reproduksi pada kucing secara anatomik berhubungan dengan saluran pengeluaran urin yang terdiri dari ginjal dan vesika urinaria, serta saluran-salurannya, sehingga seluruh sistem ini disebut traktus urogenitalis. Setiap testis tergantung di dalam kantong skrotum dengan funikulus spermatikus (spermatic cord), yang terletak di bagian leher skrotum dan terdiri atas arteri spermatik dalam yang berkelok-kelok di bagian atas testis, vena spermatik dalam yang muncul dari plexus pampiniformis, merupakan anyaman di sekeliling arteri spermatik. Plexus pampiniformis membentuk bundelan spermatic cord dan muncul dari beberapa vena yang meninggalkan kepala testis. Bagian lain dari funikulus spermatikus adalah saraf otonomik dari ginjal dan plexus mesenteric dari belakang, pembuluh limfe dan otot kremaster dalam yang membungkus bagian-bagian tersebut di atas. Semua komponen teresbut terdapat di dalam lapisan viseral tunika vaginalis sedang duktus deferens lewat sendiri di tengah-tengah mesorchium.

Testis dan Skrotum Testis sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa dan mensekresikan hormon kelamin jantan atau testosteron. Pada kantong skrotum atau bursa inguinal kucing terpisah dengan rongga perut. Testis kucing mengalami penurunan dari rongga perut ke dalam kantong skrotum (decensus testiculorum) ketika berumur 4 12 minggu dan mulai menghasilkan spermatozoa pada umur 6 - 7 bulan. Kemampuan berkopulasi kucing jantan dan menghasilkan spermatozoa fertil bila berumur lebih dari setahun. (Laing et al., 1988) Fungsi dari skrotum adalah mengatur perubahan temperatur skrotum sehingga proses spermatogenesis dapat berlangsung secara normal dan melindungi testis dari gangguan-gangguan luar berupa pukulan, panas, dingin, serta gangguan mekanis lainnya. Terhadap temperatur luar testis, skrotum melindungi testis, dengan jalan mengedurkan dan

mengkontraksikan muskulus kremaster testis. Pada keadaan temperatur luar dingin, dinding skrotum mengeriput, muskulus kremaster berkontraksi dan testis tertarik, lebih dekat dengan tubuh, hal ini perlu agar tidak banyak panas yang terbuang. Apabila udara disekeliling panas, otot-otot skrotum relaksasi (mengendur) dan skrotum menggantung menjauhi tubuh, dengan demikian memungkinkan banyak panas yang terbuang. Keseluruhan Ini merupakan proses termoregulasi skrotum. Suhu di dalam kantong skrotum 1-

8 oF lebih rendah dari pada suhu di rongga perut. Pengendoran dan pengerutan dari skrotum ini terjadi setelah masa dewasa tercapai. Skrotum kucing terletak pada regio inguinal dan anus yang

merupakan kantong membranous dan membagi testis menjadi dua bagian terpisah. (Getty, 1975). Ukuran testis kucing adalah 1,6 x 1,1 x 1,10 Cm (Laing et al., 1988). Saluran Kelamin Dan Kelenjar-kelenjar Asesor Epididimis adalah saluran kelamin yang terletak dekat testis dan merupakan saluran yang berkelok-kelok. Bagian dari epididimis adalah kaput epididimis berbentuk seperti huruf U, pipih dan terletak di bagian proksimal dari testis, korpus epididimis mengarah ke distal dan terdapat pada bagian posterior testis, dan kauda epididimis terletak di bagian distal testis, bentuknya agak lonjong sebesar ibu jari. Saluran yang meninggalkan kauda epididimis disebut vas deferens. Fungsi dari epididimis adalah: transpor, penyerapan air, pendewasaan dan penyimpanan sperma. Fungsi dari epitel epididimis adalah untuk absorbsi cairan asal sel Sertoli dan sebagian untuk sekretoris. Transpor spermatozoa yang diangkut dari rete testis ke 13-15 duktuli eferentis testis oleh tekanan cairan di dalam testis. Perjalanan melalui vas eferens ini dibantu oleh gerakan-gerakan silia dari lapisan epitel yang membatasi lumen, pada waktu otot pada dinding saluran berkontraksi. Pendewasaan sperma terjadi di dalam epididimis, sperma yang telah mengalami pendewasaan ditandai oleh letak dari endapan sitoplasma

(sitoplasmic droplets). Sebelum

terjadi

pendewasaan letak

endapan

sitoplasma di bagian proksimal atau tepat dibelakang kepala sperma tapi setelah terjadi proses pendewasaan berpindah ke bagian badan sperma (endapan distal), tanda lain dari proses pendewasaan ini adalah dehidrasi pada nucleoplasma yang terdapat di dalam kepala, sehingga bentuk kepala yang semula bulat menjadi lonjong meruncing. Dalam bentuk semacam ini spermatozoa mempunyai potensi membuahi yang optimal. Penyimpanan spermatozoa terdapat di bagian kauda epididimis. Konsentrasi sperma di tempat ini sangat tinggi dan lumen epididimis meluas. Pemindahan spermatozoa ke dalam epididimis berjalan secara pasif. Sperma mengalir ke epididimis sebagai akibat dari desakan sperma baru yang dihasilkan oleh tubulus seminiferus. Dari epididimis pemindahan sperma terjadi secara aktif yaitu dengan bantuan kontraksi otot polos dan gerak cilia mukosa duktus epididimis dan vas deferens. Sperma yang akan dipancarkan, ditampung terlebih dahulu dalam ampula. Dalam posisi distal ampula sperma mendapatkan seminal fluid yang dihasilkan oleh glandula prostata dan glandula bulbouretralis. Cairan yang dibentuk oleh kelenjarkelenjar asesoris bersama-sama dengan spermatozoa pada saat orgasmus melaui proses ejakulasi. Ejakulasi terjadi secara refleks dan rangsangan penyebab terjadinya ejakulasi pada glans penis, nervus rangsangan pudenda. ini diteruskan ke plexus Oleh plexus hipogastricus

lumbosacralis melalui

dikirimkan rangsangan motorik melalui nervus origentus ke otot-otot polos

vas deferens. Kontraksi ini memompa spermatozoa dan sekresi kelenjarkelenjar asesoris keluar melalui uretra yang ada di dalam penis sehingga semen dapat dipancarkan melalui orificium uretra eksternum. Vas deferens atau duktus deferens adalah merupakan saluran berdinding otot tebal sehingga membentuk seperti tali dan jika diraba terasa kenyal. Saluran tersebut menyalurkan sperma dari kauda epididimis ke dalam uretra. Dari kauda epididimis, vas deferens ini berjalan sejajar dengan korpus epididimis, dan di dekat kaput epididimis menjadi lurus, bersama-sama dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Vas deferens bersama dengan pembuluh darah dan serabut saraf berada di dalam suatu pembungkus yang disebut funiculus spermaticus yang berjalan melewati kanalis inguinalis masuk ke rongga perut. Sebelum memasuki uretra, lumen vas deferens meluas, tempat perluasan ini disebut ampula atau kelenjar ampula. Pada saat hewan jantan mengusik betina menjelang kopulasi, sperma di dalam kauda epididimis di alirkan ke ampula oleh gerakan peristaltik vas deferens. Kelenjar-kelenjar asesoris kucing terdiri dari kelenjar prostata dan kelenjar bulbouretralis (cowper). Ukuran kelenjar prostat relatif besar dan berwarna kekuningan serta terletak pada daerah cranial pubis. Kelenjar bulbouretralis pada kucing ada satu pasang, berukuran sebesar kacang polong dan terletak pada bagian caudal kelenjar prostata. Sekresi dari kelenjar ini berupa lendir dan merupakan cairan semen yang ditumpahkan menjelang ejakulasi, bentuk kelenjar ini bulat, berselubung tebal, kompak, teletak di atas uretra dekat dengan jalan keluarnya dari cavum pelvis.

Penis dan Preputium Penis pada kucing terbagi atas tiga bagian yaitu bagian pangkal, badan dan ujung tudung (glans) penis. Ukuran penis sangat pendek dan bagian pangkal penis dapat membesar seperti balon bila mengalami ereksi. Namun demikian beberapa spesies ditemukan os (tulang) penis pada bagian glans penis yang panjangnya 3-4 mm (seringkali ditemukan dalam keadaan rudimenter). Panjang glans penis sekitar 1 Cm dan diselimuti oleh spina (papilla numerous) yang tajam pada kucing. Preputium merupakan selubung bagian ujung anterior penis, selubung ini merupakan suatu lipatan kulit. Selaput lendir dari preputium ini berkelenjar dan sekresinya bersifat lemak, sekresi kelenjar ini bercampur dengan epitel yang rusak sehingga berbau merangsang yang disebut smegma prepusium. Muara luar prepusium disebut orificium praeputii. Gambaran histologis testis Testis sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu : menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa dan mensekresikan hormon kelamin jantan atau testosteron. Spermatozoa dihasilkan di dalam tubulus seminiferus atas pengaruh FSH (Follicle stimulating Hormone), sedangkan testosteron diproduksi oleh sel-sel interstitial dari Leydig atas pengaruh ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone) dari kelenjar hipofisa anterior, oleh karena itu testis mempunyai fungsi sebagai reproduksi dan endokrinologis. Fungsi reproduksi dari testis adalah menghasilkan sel-sel spermotozoa dari dinding tubulus seminiferus. Saluran tubulus seminiferus

mempunyai panjang bila dibentangkan secara keseluruhan sampai beberapa kilometer. Proses pembentukan sperma disebut spermatogenesis, proses ini berlangsung di dalam tubulus seminiferus. Proses spermatogenesis terdiri dari empat tahap, yaitu : 1. proliferasi 2. tumbuh 3. masak 4. transformasi (metamorfosa). 1. Tahap proliferasi terjadi sejak pra lahir sampai beberapa waktu sesudah fetus dilahirkan, setelah itu berhenti. Spermatogenesis baru diteruskan setelah individu menginjak umur dewasa kelamin. Bakal sel kelamin yang sudah ada pada membrana basal dari tubulus seminiferus melepaskan diri dan setelah mengalami pembelahan secara mitosis menghasilkan sejumlah spermatogonia. 2. Pada tahap tumbuh, spermatogonium aktif membagi diri secara mitosis sebanyak empat kali, sehingga dari sebuah spermatogonium akan menghasilkan 16 buah dan tumbuh menjadi spermatosit primer. 3. Pada tahap menjadi masak dimulai dengan pembelahan meiosis, sehingga spermatosit primer berubah menjadi spermatosit sekunder, yang jumlah kromosomnya hanya setengah dari jumlah kromosom dari spermatosit primer. Setelah itu selama beberapa jam spermatosit sekunder membagi diri secara mitosis menjadi spermatid. Proses dari spermatogonium sampai dengan menjadi spermatid disebut spermatositogenesis. 4. Pada tahap metamorfosa, spermatid berubah menjadi spermatozoa. Proses perubahan dari spermatid menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis,

ciri-ciri dari proses spermiogenesis adalah : aparat golgi menjadi tudung anterior atau akrosoma. Inti spermatid menjadi kepala sperma. Dari sentriol keluar ekor. Plasma membran menjadi selubung tubuh sperma dan mitokondria mengumpul di bagian ekor. Kecepatan bergerak dari spermatozoa dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan suhu, pada suhu 37
o

C sekitar 100 mikron per detik. Didalam praktek inseminasi buatan, pergerakan spermatozoa menunjukkan kemampuan membuahi sel telur. 5. Volume ejakulat, kepadatan sperma serta jumlah total spermatozoa berbeda-beda tergantung dari bangsa, umur dan frekuensi ejakulasi. Pada mempunyai volume 2 15 ml, jumlah sepermatozoa 60 -300 juta / ml dan jumlah spermatozoa 0,5 2,7 milyar / ejakulat.

b. Betina Ovarium Merupakan alat kelamin betina yang bertanggung jawab atas diferensiasi dan pelepasan oosit matang untuk fertilisasi dan

perkembangbiakan dari spesies. Ovarium juga sebagai organ endokrin yang memproduksi hormon steroid yang memungkinkan berkembangnya ciri-ciri seksual betina sekunder dan mendukung kebuntingan Pada umumnya, ovarium terdapat dua buah, yaitu kanan dan kiri yang terletak di dalam rongga pelvis.Strukturnya oval, Ovarium tidak terikat dengan tuba falopii dengan saluran telur yang terbuka ke arah fimbriae, Tuba Falopii

Pangkal dari tuba falopii terdapat fimbrae, fimbrae adalah struktur berbentuk corong yang berfungsi menangkap ovum yang telah di ovulasi oleh ovarium dan akan di teruskan ke arah tuba falopii. Tuba falopii merupakan saluran reproduksi betina yang kecil, berliku-liku dan kenyal serta terdapat sepasang dan merupakan saluran penghubung antara ovarium dan uterus. Uterus Biasanya memiliki dua buah tanduk (kornua uteri), satu buah tubuh (korpus uteri), dan satu buah leher rahim (servik uteri). Tipe bentuk uterus pada kucing adalah Uterus Bipartitus. Uterus tipe ini dimiliki juga oleh sapi, domba, anjing, dan kuda. Uterus tipe ini mempunyai satu servik, korpus uteri jelas terutama pada kuda, mempunyai kornua uteri, dan terdapat sebuah septum pemisah kedua kornua uteri. Vagina Merupakan saluran kelamin betina yang berfungsi sebagai tempat penumpahan semen. Vagina juga merupakan jalur pengeluaran fetus dan plasenta pada saat partus Implantasi Implantasi adalah proses bersarangnya blastosis dalam rahim, sehingga terjadi hubungan antara selaput ekstra embrionik dengan selaput lendir rahim. Pada reptilia, unggas dan mamalia bertelur, implantasi berarti proses melekatnya blastosis pada kuning telur oleh karena embrio berkembang di luar tubuh induk. Pada waktu terjadi implantasi, blastosis

berperan aktif. Dengan teknik sinematografi dapat diperlihatkan bahwa dari blastosis ada penjuluran kaki palsu menembus lapisan epitel rahim. Pada stadium progestasi, rahim mampu mengimplantasi sepotong jaringan otot / tumor. Keadaan ini menunjukkan bahwa rahim juga aktif pada waktu implantasi. Kegagalan implantasi merupakan salah satu sebab hewan menjadi tidak bunting. Sinkronisasi antara blastosis dan kesiapan endometrium merupakan faktor penting untuk kesempurnaan implantasi. Perlambatan perkembangan atau keterlambatan blastosis masuk ke dalam rahim atau endometrium belum siap menerima blastosis mengakibatkan kegagalan implantasi. Sinkronisasi antara blastosis dan keadaan rahim penting pada proses pelaksanaan transfer embrio. Menjelang terjadi implantasi, zona pelusida lenyap dengan jalan lisis. Sebelum implantasi, cairan blastosul mengandung banyak ion kalium dan bikarbonat. Bahan ini berasal dari cairan rahim. Setelah terjadi implantasi, jumlah kalium dan bikarbonat berkurang, sehingga sama dengan kadar yang terdapat di dalam serum induk. Tetapi kadar protein dan glukosa fosfor serta klor yang mula-mula rendah menjadi tinggi, sehingga mencapai kadar seperti di dalam serum induk. Menurunnya kadar bikarbonat mungkin akibat meningkatnya kadar ensim karbonik anhidrase di dalam endometrium rahim. Kadar ensim meningkat menyebabkan asam karbonat terurai menjadi CO2 dan O2 yang akan dikeluarkan melalui peredaran darah induk. Pelepasan bikarbonat dari blatosis mempermudah tropoblas melekat pada selaput lendir rahim, dengan demikian

memperlancar implantasi. Setelah zona pellusida lenyap, sel-sel tropoblas langsung berhadapan dengan epitel rahim dan sel-sel tersebut

berproliferasi. Pada saat itu blastosis berubah menjadi semacam gelembung, panjangnya bisa lebih dari beberapa sentimeter dan cakram embrio berupa suatu penebalan di bagian tengah gelembung tersebut. .Plasenta Plasenta ialah suatu sistem yang terdiri dari dua komponen, yaitu selaput ekstra embrionik dan selaput lendir rahim yang berintegrasi menjadi satu kesatuan untuk keperluan pertukaran timbal balik faali antara induk dan fetus dan di samping itu, dapat menghasilkan hormon. Plasenta induk adalah endometrium rahim dan plasenta fetus adalah khorioalantois. Masalah kebuntingan merupakan proses anabolic, yaitu ketika induk berusaha menyediakan bahan untuk pembentukan jaringan embrio dan mempertahankan kelangsungan hidupnya sendiri. Plasentasi sendiri mencakup implantasi, penjelmaan embrio dan terjalinnya hubungan antara induk dan fetus selama kebuntingan. Pembentukan plasenta mencakup pertambahan vili khorion, ruangan antara vili dan desidua basali. Vili terdiri dari selapis sel-sel epitel yang menjulur ke dalam selaput lendir rahim. Mula-mula dibentuk vili primer kemudian vili tersebut ada yang bercabang membentuk vili sekunder. Vili merupakan bentuk seperti jari. Pada manusia, vili sudah dibentuk pada hari ketiga masa kehamilan. Vili tersebut menyebar di berkembangnya seluruh permukaan khorion, tetapi dengan akhirnya vili menjadi tidak merata

khorion

penyebarannya dan pada bulan keempat masa kehamilan hampir sebagian khorion tidak bervili lagi. Khorion tidak bervili disebut khorion halus (smooth chorion) dan khorion bervili disebut khorion frondusum. Dengan berkembangnya plasenta, pola pengambilan bahan makanan dari induk berubah dari histotropik menjadi hemotropik. 3. Perilaku Perkembangbiakan Dalam kondisi normal kucing betina dapat birahi beberapa kali dalam setahun dan menunjukan kemampuan dalam bereproduksi. Periode ini dikenal dengan siklus estrus (birahi) yang menyertai perubahan perilaku reproduksi. Betina menjadi dewasa kelamin pada umur 6 8 bulan tetapi baru dikawinkan bila berumur satu tahun (Anonimus, 2002). Aktivitas reproduksi seekor kucing secara normal dapat berlanjut sampai dengan umur 14 tahun, dan dilaporkan adanya kebuntingan kucing yang telah berumur 20 tahun. Kemampuan reproduksi ini akan terus menurun seiring dengan bertambahnya umur dan peningkatan jumlah anak dalam satu kelahiran. Perilaku kopulasi kucing sangat sulit diamati karena seringkali kucing melakukan kopulasi pada malam hari (noctunal). Lama koitus sangat pendek kurang lebih 10 detik dan akan diulang dengan interval 5 15 menit kemudian. Dalam waktu satu jam sepasang kucing dapat melakukan perkawinan sebanyak 10 kali sehingga memungkinan terjadi kebuntingan menjadi sangat tinggi. Pola perkawinan kucing tergantung pada pengalaman seksual kucing jantan dan betina serta peran hormon reproduksi. Kucing betina biasanya

tahan terhadap godaan kucing jantan hingga terjadi kopulasi pertama, hal ditujukan dengan usaha-usaha kucing jantan untuk menunjukan keinginan kawin sebanyak 6 kali dan mengekspresikan kelibidoanya sebanyak 20 kali hingga kucing betina bersedia melakukan kopulasi. Setelah kopulasi tersebut, kucing betina menjadi lebih progresif menerima pejantan. Kucing betina yang telah dewasa kelamin dengan siklus birahi antara 14 hingga 21 hari dan lama birahi 3 4 hari. Tanda birahi kucing betina diketahui dari perubahan perilaku antara lain selalu mengeong, sering keluar sarang, menjepit ekor dengan kaki belakang, meregangkan kaki belakang dan sering kecing. Kucing jantan tidak tertarik dengan kucing betina yang tidak birahi (anestrus) / tahap metestrus dan kucing jantan menjadi lebih agresif bila kucing betina pada fase proestrus dan estrus dengan mencium / membau urin kucing betina. Seekor kucing betina dalam keadaan birahi sangat menarik pasangan potensialnya untuk mendekat. Setiap perkawinan didahului dengan persiapan ritual percumbuan. Selama periode ritual tersebut keduanya seakan-akan menjaga jarak untuk tidak saling kontak. Hal ini diperlukan untuk menyiapkan mental dan merangsang sekresi hormon reproduksi. Ritual tersebut sangat khas pada kucing dan sangat berbeda pada masing-masing spesies yang merupakan bentuk usaha perlindungan untuk menghindari perkawinan antar spesies. Kucing jantan yang tertarik pada kucing betina birahi akan

berteriak memanggil betina. Suara ini merupakan daya tarik agar kucing

betina keluar dari sarang dan kucing jantan mengencingi sekitar sarang memberi bau spesifik yang menandakan kucing jantan sedang menanti dan menunjukkan daerah kekuasaannya. Bila keduanya bertemu dan melakukan ritual tersebut kemudian keduanya berkejar-kejaran untuk mendapatkan tempat untuk kawin. Selama fase prosetrus kucing betina akan menolak kucing jantan dan saat mulai estrus kucing betina menjadi lebih aktif dan nervous serta senantiasa memangil-mangil kucing jantan dengan ekspresi tangisan birahi. Kucing betina menggosok-gosakan kepala dan leher pada obyek tertentu seperti lantai sambil berguling-guling dan tingkah laku ini lebih intensif saat kehadiran kucing jantan. Ketika kucing jatan datang, kucing betina kemudian menurunkan posisi tubuh dengan menaikan daerah pelvis dan menekuk ekor ke samping. Beberapa spesies kucing betina tidak melalui fase ini tapi hanya menekuk siku depan dan menaikkan posisi pelvis. Reaksi ini terinduksi ketika kucing betina ditekan dengan lembut bagian belakang dan bagian pelvis tersentuh. Jika kucing betina tidak siap dinaiki maka dia akan mengelilingi kucing jantan. Waktu melakukan perkawinan, kucing jantan akan menggigit leher kucing betina dan diperlukan partisipasi kucing betina dalam posisi penentrasi penis karena lokasi penis di bawah ekor yang menyulitkan dalam kopulasi. Secara normal penis akan ereksi dan melakukan penetrasi dalam vagina dengan sudut 20 30o untuk beberapa kali penetrasi dan diikuti dengan ejakulasi. Ketika penis akan dicabut biasanya kucing betina akan menjerit

kesakitan yang disebabkan pada glans penis kucing terdapat papilla yang sangat tajam. Kucing jantan setelah mencabut penis dikuti gerakan kucing betina untuk menjaga jarak dengan kucing jantan kemudian dilanjutkan membersihkan masing-masing genital dengan menjilat sampai bersih. Setelah waktu jeddah beberapa menit hingga satu jam biasanya terjadi pengulangan perkawinan hingga terjadi 7 kali ejakulasi. Seusai kopulasi, kucing betina dan jantan dengan teliti membersihkan masing-masing genital dengan menjilat sampai bersih. Perkawinan selanjutnya dapat dilakukan beberapa kali dengan kucing jantan lain sebab kucing bukan hewan monogamy. Selama satu siklus birahi kucing betina dapat melakukan kopulasi dengan beberapa kucing jantan sehingga anak yang dihasilkan berasal dari kucing jantan yang berbeda. Hal ini perlu diperhatikan oleh pemilik atau usaha pembibitan kucing jika kucing betina akan keluar sarang setelah kopulasi untuk mencari kucing jantan lain dari pada mengulang perkawinan dengan kucing jantan yang sama. Oleh sebab itu pencegahan dapat dilakukan untuk tidak kontak dengan pejantan lain yang tidak diinginkan paling sedikit 10 hari setelah perkawinan BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Kucing merupakan salah satu hewan karnivora yang sangat mudah dipelihara dan memiliki sistem reproduksi yang hampir sama dengan manusia

2. Pola perilaku perkawinan pada kucing dipengaruhi oleh pengalaman seksual kucing dan pengaruh hormon. B. Saran 1. Diharapkan dapat melihat langsung ataupun video agar dapat lebih mengerti tentang perilaku pada kucing