Anda di halaman 1dari 23

KIMIA ANALISIS FARMASI II PENETAPAN KADAR PARACETAMOL, PSEUDOEFEDRIN DAN DEXTROMETORFAN DALAM TABLET YANG MENGANDUNG PARACETAMOL , PSEUDOEFEDRIN,

DEXTROMETHORPHAN, CTM DAN GUAIAFENESIN DENGAN TEKNIK KLT SPEKTROFOTODENSITOMETRI

I.

Tujuan Praktikum ini dilakukan bertujuan untuk menetapkan kadar parasetamol, pseudoefedrin, dan dextrometorfan dalam sediaan tablet yang mengandung parasetamol, pseudoefedrin, dextromethorphan, CTM, dan guaiafenesin dengan menggunakan metode KLT spektrofotodensitometri. Dasar Teori 2.1 Paracetamol Parasetamol atau asetaminofen adalah: turunan a para-aminophenol memiliki khasiat sebagai analgesik, antipiretik, dan aktivitas antiradang yang lemah. Parasetamol merupakan analgesik non-opioid sering dicoba pertama untuk pengobatan gejala berbagai tipe sakit kepala termasuk migrain dan sakit kepala tipe tensi (Sweetman, 1982).

II.

Struktur Kimia Paracetamol Pemerian : serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit. Berat jenis : 1.263 g/cm3 Titik lebur : 169C (336F) Kelarutan : dalam air 1,4 g/100 mL atau 14 mg/mL (20C); larut dalam air medidih, dan dalam NaOH 1 N; mudah larut dalam etanol, methanol, dimetilformamide, etilendiklorid, aseton, etil asetat, tidak larut dalam kloroform, praktis tidak larut dalam eter, pentana dan benzene (Galichet, 2004). 2.2 Dextromethorphan Struktur Kimia Dekstrometorphan Dextromethorphan adalah golongan antitusif yang bekerja pada pusat batuk di medulla. Senyawa ini merupakan antagonis reseptor NMDA (N-methyl-D-aspartate). Meskipun memiliki struktur seperti morfin, dextromethorphan tidak memiliki efek analgesik dan sedikit efek sedatif (Sweetman, 1982). Rumus molekul : C18H25NO Berat molekul : 271,4 g/mol Titik lebur : 109 113 0C Pemerian : serbuk hablur, hampir putih sampai agak kuning; tidak berbau Kelarutan : praktis tidak larut dalam air; mudah larut dalam kloroform.

Kelarutan Berdasarkan Farmakope Pelarut/Preparat Paracetamol Pseudoefedrin Air Etanol(95%) Aseton P Gliserol P Propilenglikol P Alkali Hidroksida Kloroform P Eter P 70 bagian 7 bagian 13 bagian 40 bagian 9 bagian Larut 1.6 bagian 4 bagian 6 bagian Sedikit larut

Dekstromethorphan HBr 60 bagian 10 bagian Mudah larut Praktis tidak larut

Harga Rf System TA TB TC TD TE TF TL TAD TAE TAF TAJ TAK TAL Harga Rf Parasetamol Pseudoefedrin Dekstromethorpan 95 33 33 00 54 42 4 18 15 45 17 47 32 63 06 26 77 9 10 42 30 0 05 1 73 30

Keterangan : Sistem TA TB TC TD TE TF TL TAD TAE TAF TAJ TAK TAL 2.3

Fase Gerak Methanol : larutan amonia kuat Sikloheksana : toluen : dietilamin Kloroform : methanol Kloroform : aseton Etil asetat : methanol : larutan amonia kuat Etil asetat Aseton Kloroform : methanol Methanol Methanol : n-butanol Kloroform : etanol Kloroform : sikloheksana : asam asetat Kloroform : methanol : asam propionat

Perbandingan 100 : 1,5 75 : 15 : 10 90 : 10 80 : 20 85 : 10 : 5

90 : 10 60 : 40 (ditambahkan 0,1 mol/L NaBr 90 : 10 4:4:2 72 : 18 : 10

KLT Spektrofotodensitometri Kromatografi lapis tipis (disingkat KLT) atau dalam bahasa inggris disebut thin layer chromatography (TLC) merupakan salah satu contoh kromatografi planar disamping kromatografi kertas. Berbeda dengan kromatografi kolom yang mana fase diamnya dikemas dalam kolom, maka pada kromatografi lapis tipis (TLC), fase diamnya adalah berupa lapisan seragam pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik (Gandjar dan Rohman, 2009). Fase gerak atau pelarut pengembang akan bergerak naik sepanjang fase diam karena adanya gaya kapilaritas pada sistem pengembangan menaik(ascending). Pemilihan fase gerak baik untuk TLC maupun HPTLC didasarkan pada keterpisahan senyawa-senyawa dalam analit yang didasarkan pada nilai Rf atau hRf (100Rf). Nilai Rf diperoleh dari membagi jarak pusat kromatografik dari titik awal dengan jarak pergerakan pelarut dari titik awal. Penghitungan nilai hRf ditunjukkan dengan persamaan dibawah ini.

Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka tetapi lebih sering dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem yang paling sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Berikut ini beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak: fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan teknik sensitif; daya elusi harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2-0,8; polaritas fase gerak dapat mempengaruhi kecepatan migrasi

solut dan penentuan harga Rf; untuk campuran ionik dan polar lebih baik digunakan campuran pelarut sebagai fase geraknya dengan perbandingan tertentu (Gandjar dan Rohman, 2009). KLT digunakan secara luas untuk analisis solut-solut organik terutama dalam bidang biokimia, farmasi, klinik dan forensik, baik untuk analisis kualitatif dengan cara membandingkan nilai Rf solut dengan nilai Rf senyawa baku atau untuk analisis kualitatif. Penggunaan KLT dapat berupa analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Pada analisis kualitatif, KLT dapat digunakan untuk uji identifikasi senyawa baku. Parameter pada KLT yang digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf. Dua senyawa dikatakan identik jika mempunyai nilai Rf yang sama jika diukur pada kondisi KLT yang sama. Untuk meyakinkan identifikasi dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari 1 fase gerak dan jenis pereaksi semprot (Gandjar dan Rohman, 2009). Untuk analisis kuantitatif pada KLT dapat digunakan dua cara. Pertama, bercak pada plat KLT diukur langsung pada lempeng dengan menggunakan ukuran luas atau dengan teknik densitometri. Cara kedua adalah dengan mengerok bercak lalu menetapkan kadar senyawa yang terdapat dalam bercak tersebut dengan metode analisis yang lain, misalkan dengan metode spektrofotometri (Gandjar dan Rohman, 2009). Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan KLT biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng KLT (atau secarain situ). Densitometer dapat bekerja secara serapan atau flouresensi, dimana kebanyakan densitometer mempunyai sumber cahaya yang diarahkan menuju monokromator (untuk memilih rentang panjang gelombang yang cocok antara 200-800), sistem untuk memfokuskan sinar pada lempeng, pengganda foton, dan rekorder (Gandjar dan Rohman, 2009). Densitometer dapat bekerja secara serapan atau flouresensi. Kebanyakan densitometer mempunyai sumber cahaya monokromator (rentang panjang gelombang 190 s/d 800 nm) untuk memilih panjang gelombang yang cocok, sistem untuk memfokuskan sinar pada lempeng, pengganda foton, dan rekorder (Gandjar dan Rohman, 2009). Penggunaan monokromator lebih menguntungkan karena memudahkan pengubahan panjang gelombang dan menghasilkan berkas sinar dengan sedikit panjang gelombang. Jenis sumber cahaya tergantung pada panjang gelombang cahaya yang digunakan, yaitu: lampu hidrogen, raksa atau, ksenon untuk pengukuran sinar UV dan lampu wolfram untuk panjang gelombang sinar tampak (Munson, 1991). Output detektor dikonversikan menjadi signal dan diamplifikasi. Sebagai tambahan untuk scanning instrumen densitometer dilengkapi dengan digital konverter, dan data akan diproses secara digitalisasi oleh komputer. Analis dapat bekerja dengan densitometri pada jangkauan panjang gelombang 190 s/d 800 nm. Terjadinya penyimpangan baseline yang disebabkan oleh variasi ketebalan dan ketidakseragaman lapisan pada densitometer sangat kecil dan level signalnya relatif tinggi. Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan TLC biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng TLC (atau secara in situ) (Gandjar dan Rohman, 2009).

Prinsip kerja spektrofotodensitometri berdasarkan interaksi antara radiasi elektromagnetik dari sinar UV-Vis dengan analit yang merupakan noda pada plat. Radiasi elektromagnetik yang datang pada plat diabsorpsi oleh analit, ditransmisi atau diteruskan jika plat yang digunakan transparan. Radiasi elektromagnetik yang diabsorpsi oleh analit atau indikator plat dapat diemisikan berupa flouresensi dan fosforesensi (Sherma and Fried 1994). Sumber radiasi pada spektrodensitometri ada tiga macam tergantung pada rentang panjang gelombang dan prinsip penentuan. Lampu deuterium dipakai untuk pengukuran pada daerah ultraviolet (190-400 nm) dan lampu tungsten digunakan untuk pengukuran pada daerah sinar tampak (400-800 nm) sedangkan untuk penetuan secara fluoresensi digunakan lampu busur merkuri bertekanan tinggi (Deinstrop, 2007).

Untuk penentuan kadar, yang ditetapkan adalah absorpsi maksimum kurva absorpsi. Jika absorpsi ini untuk penentuan kadar adalah sangat rendah atau senyawa mula-mula mengabsorpsi di bawah 220 nm, maka seringkali senyawa diubah dulu menjadi suatu zat warna melalui reaksi kimia, dan absorpsi ditentukan dalam daerah sinar tampak (kolorimetri). Walaupun pada semua penentuan kadar absorpsi yang diukur, penyelesaian percobaannnya sangat berbeda. Berikut ini adalah contoh penyelesaiannya : a. Menggunakan Hukum Lambert Beer A= cd

A adalah daya serap, adalah daya serap molar (dalam mole cm-1), c adalah kadar (dalam mole liter-1) dan d adalah panjang jalur (dalam cm).

Persamaan di atas berlaku menyeluruh sebagai dasar pokok analisis kuantitatif dengan spektroskopi serapan. Suatu cara sederhana untuk mengkantitasi suatu bahan penyerap ialah dengan mengukur daya serapnya pada panjang gelombang tertentu dan menyubstitusikan A, dan d ke persamaan di atas untuk mendapatkan c (Munson, 1991). b. Menggunakan Kurva Kalibrasi.

Bila tidak diketahui dan terokan murni analit tersedia, kurva kalibrasi dapat dibuat (daya serap terhadap kadar). Lereng kurva tersebut adalah d dan bila d diketahui maka dapat dihitung. Terokan tunggal yang diketahui kadarnya dapat digunakan untuk menentukan , tetapi hal ini kurang handal daripada penggunaan lereng kurva kalibrasi. Selain itu kadar terokan yang tak diketahui dapat dibaca langsung dari kurva kalibrasi dengan mencari daya serap yang tak diketahui pada kurva dan menarik garis tegak lurus ke bawah pada sumbu kadar. Metode ini sangat bermanfaat terutama jika nyata terlihat adanya penyimpangan terhadap hukum Beer (ketaklurusan) (Munson, 1991). 2.4 Metode Baku Dalam Dalam metoda ini kita menambahkan ke dalam sampel sejumlah tertentu (jumlah yang diketahui) zat standar (Baku Dalam). Kromatogram yang diperoleh dibandingkan dengan kromatogram sampel atau campuran senyawa dalam sampel. Metoda ini mempunyai keuntungan dibanding dengan metoda baku luar karena dapat mengkompensasi variasi volume injeksi dan juga untuk perubahan yang kecil dari sensitivitas detektor atau perubahan kromatografi yang bisa terjadi. Karena kita tidak perlu menginjeksi dalam jumlah yang sama setiap waktu, maka metoda ini biasanya mempunyai presisi yang lebih baik dari pada menggunakan baku luar. Dari kromatogram standar dapat dihitung respons faktor relatif sebagai berikut : C/A r = -----Cs/As r = respons faktor relatif C = Konsentrasi Kornponen Sampel A = Lebar atau Tinggi Puncak Komponen Sampel Cs = Konsentrasi Baku Dalam As = Lebar atau Tinggi Baku Dalam Di dalam campuran sampel digunakan rumus berikut : Cs Cu = Aux r x ----As Cu = Konsentrasi komponen sampel Au = Lebar atau Tinggi Puncak Cs = Konsentrasi Baku Dalam As = Lebar atau Tinggi Puncak Baku Dalam

Pendekatan lain adalah mengkoreksi setiap lebar puncak pada campuran yang diketahui dengan mengalikannya dengan respons faktor relatif. Hal ini menghasilkan lebar puncak yang diperoleh dengan respons detektor yang sama untuk setiap komponen. Komposisi dari campuran kemudian diperoleh dengan normalisasi lebar Puncak yang telah dikoreksi. Untuk bekerja dengan metoda ini sekali lagi kita harus yakin bahwa kita telah melihat semua komponen di dalam campuran sebagai sebagai Puncak-puncak yang terpisah pada kromatogram (Effendy, 2004). Internal standar adalah senyawa yang telah diketahui kadarnya dengan pasti, berbeda dengan analit namun memiliki sifat yang hampir mirip. Respon dari analit dibandingkan dengan respon dari internal standar untuk menentukan konsentrasi analit. Internal standar digunakan ketika jumlah sampel yang dianalisis bervariasi atau adanya variasi respon instrument dari satu tahap ke tahap berikutnya yang sulit dikontrol. Juga digunakan ketika kehilangan sampel tidak bisa dihindarkan pada saat preparasi sampel dalam analisis. Jika kita menginjeksikan atau memipet sejumlah kecil volume, variasi yang terjadi dari satu pengambilan ke pengambilan berikutnya dapat menimbulkan kesalahan relatif yang cukup besar. Internal standar digunakan untuk mereduksi variasi serta meningkatkan presisi ( mengecilkan nilai standar deviasi )

III. Alat dan Bahan 3. 1 Alat y Timbangan elektrik y Mortar dan stamper y Kertas saring y Vial y Labu ukur y Labu erlenmeyer y Gelas beaker y Pipet ukur y Micro syringe y Chamber pengembangan y Seperangkat alat spektrofotodensitometer y Oven 3.2 Bahan y Tablet Bodrex Migra y Serbuk Parasetamol baku y Serbuk Kafein baku y Serbuk Dekstrometorfan Baku y Metanol Proanalisis y Metanol teknis y Akuades y TLC aluminium sheets silica gel 60 F 254 ukuran10 x 10 cm

IV.

Prosedur Kerja 4.1 Pembuatan Larutan Induk

a)

Larutan Baku Induk Parasetamol (1 mg/mL) Ditimbang dengan seksama 10 mg serbuk parasetamol baku. Serbuk dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, ke dalamnya ditambahkan 5 mL metanol P, kocok secara mekanik. Ditambahkan metanol P sampai tanda batas, homogenkan. b) Larutan Baku Induk Kafein(1 mg/mL) Ditimbang dengan seksama 10 mg serbuk kafein baku. Serbuk dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, ke dalamnya ditambahkan 5 mL metanol P, kocok secara mekanik. Ditambahkan metanol P sampai tanda batas, homogenkan. c) Larutan Baku Induk Dekstrometorfan (1 mg/mL) Ditimbang dengan seksama 10 mg serbuk dekstrometorfan baku. Serbuk dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, ke dalamnya ditambahkan 5 mL metanolP, kocok secara mekanik. Ditambahkan metanol P sampai tanda batas, homogenkan. 4.2 Pembuatan Larutan Baku Pembanding a) Standar Internal Dekstrometorfan (konsentrasi awal 1 mg/mL) Dibuat standar internal dekstrometorfan yang memiliki kadar akhir analisis sebesar1000 ng, yang ada di dalam 10 L (1 totolan), maka: 1000 ng/ 10 L m 100 ng/L m 100 g/mL Sehingga jika dalam 5 mL larutan akan terkandung 500 g dekstrometorfan. Maka dari stok larutan standar yang sudah ada (konsentrasi 1 mg/mL) volume larutan yang diambil adalah : V1. C1 = V2. M2 1 mL . 100 g/mL = X . 1 mg/mL 100 g = 1 mg/mL . X

X = 0,1 mL = 100 L b) Baku pembanding parasetamol (konsentrasi awal 1 mg/mL) Larutan baku pembanding parasetamol ini dibuat dalam 5 konsentrasi, yaitu 350ng/10 L; 700 ng/10 L; 1400 ng/10 L; 2800 ng/10L; dan 5600 ng/10 L dengan kesetaraan 350 ng/10 L = 35 g/mL. Sehingga dalam 1 ml larutan akan terkandung 35 g parasetamol. Maka volume larutan baku induk yang diambil adalah: V1. C1 = V2. C2 1 mL . 35 g/mL = X . 1 mg/mL 35 g = 1 mg/mL . X

X X

= 0,035 mL = 35 L

Dengan cara yang sama diperoleh : Seri Jumlah Konsentrasi yang larutan parasetamol dibuat(g/mL) yang dipipet dari larutan baku parasetamol (L) 1 35 35 2 70 70 3 140 140 4 280 280 5 560 560 c)

Jumlah yang ditotol (ng)

350 700 1400 2800 5600

Baku pembanding kafein (konsentrasi awal 1,0 g/L) Larutan baku pembanding kafein ini dibuat dalam 5 konsentrasi, yaitu 50 ng/10 L; 100 ng/10 L; 200 ng/10 L; 400 ng/10L; dan 800 ng/10 L serta dengan kesetaraan 50 ng/ 10 L = 5 g/mL. Sehingga jika dalam 1 mL larutan akan terkandung 5 g kafein maka volume larutan baku induk yang diambil adalah sebagai berikut: V1. M1 = V2. M2 1 mL . 5 g/mL = X . 1 mg/mL = 0,005 mL = 5 L Dengan cara yang sama diperoleh : Seri larutan 1 2 3 4 5 Jumlah kafein yang dipipet dari larutan baku kafein (L) 5 10 20 40 80 Konsentrasi yang dibuat(g/mL) 5 10 20 40 80 Jumlah yang ditotol (ng) 50 100 200 400 800

Secara keseluruhan, volume Dekstrometorfan, Parasetamol, dan Kafein yang dipipet dari larutan baku untuk membuat seri larutan standar: Seri Larutan Parasetamol Kafein Dextrometorphan (L) (L) (L) 1 35 5 100 2 70 10 100 3 140 20 100 4 280 40 100 5 560 80 100

4.3 Preparasi Sampel a) Pembuatan Larutan Uji Menurut Farmakope Indonesia edisi IV Timbang dan serbukkan tidak kurang dari 20 tablet. Timbang seksama, sejumlah serbuk tablet setara dengan lebih kurang 100 mg paracetamol, masukkan ke dalam labu ukur 200 mL. Tambahkan lebih kurang 100 mL fase gerak kocok selama 10 menit encerkan dengan fase gerak sampai tanda. Saring larutan melalui penyaringan dengan porositas 0,5 pm atau lebih halus, buang 10 mL filtrat sebagai larutan uji. Pembuatan Larutan Sampel dalam Praktikum Sebanyak 3 tablet Bodrex Migra ditimbang dan digerus hingga halus. Kemudian ditimbang sejumlah serbuk tablet yang setara dengan 70 mg paracetamol dan 1 mg kafein, dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Lalu ditambahkan metanol hingga tanda batas, digojog selama 5 menit. Setelah itu, dari larutan tersebut diambil 1 mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL. Ditambahkan 0,5 mL internal standar dextrometorphan (konsentrasi 1 mg/mL). Kemudian ditambahkan metanol hingga tanda batas, digojog selama 5 menit, dan disaring. Filtrat ditampung. Perhitungan : Berat 3 tablet Bodrex Migra : Sampel 1 : 2,2785 gr Sampel 2 : 2,2770 gr Sampel 3 : 2,2920 gr Kandungan tablet : 350 paracetamol 50 mg kafein Berat serbuk yang mengandung 70 mg parasetamol Kandungan parasetamol : x berat serbuk = 70 mg Massa serbuk sampel 1 = 0,1519 gr. Dengan cara yang sama diperoleh berat serbuk pada sampel 2 dan 3 adalah sebesar 0,1518 gr dan 0,1528 gr Berat serbuk yang mengandung 10 mg kafein Kandungan kafei : x berat serbuk = 10 mg Karena diasumsikan berat serbuk yang setara dengan 70 mg paracetamol telah mengandung 10 mg kafein sehingga penimbangan hanya dilakukan sekali. Kadar dextrometorphan, paracetamol, dan kafein dalam larutan sampel adalah sebagai berikut : a. Dextrometorfan

b)

Vpengenceran. Cpengenceran = Vsampel. Csampel

sulfonamida
Sulfonamida bersifat mikrobiostatik untuk sejumlah besar bakteri gram positif dan gram negatif, dan berbagai protozoa (seperti coccidia, Plasmodium spp). Sulfonamida digunakan biasanya dengan kombinasi agen kemoterapi lainnya untuk merawat infeksi saluran kencing, malaria, coccidiosis dll. Sulfonamida bertindak sebagai analog struktural dari asam p-aminobenzoik (PABA), yang menghambat PABA saat pembentukan asam dihidropteroik dalam sintesis asam folat. Organisme yang membuat sendiri asam folatnya dan tidak dapat memakai pasokan eksogen dari vitamin menjadi sensitif terhadap sulfonamida, karena selnya dapat menyerap obat ini, sementara organisme yang memerlukan asam folat eksogen untuk pertumbuhannya tidak sensitif. Penundaan periode beberapa generasi terjadi antara paparan sel yang sensitif pada sulfonamida dan penghambatan pertumbuhan; pada saat ini sel menghabiskan pasokan asam folat endogen yang telah dibuat sebelumnya. Efek penundaan ini memungkinkan sulfonamida dipakai bersama dengan antibiotik (misalnya penisilin) yang hanya aktif terhadap organisme yang tumbuh. Efek penghambat sulfonamida dapat dinetralkan dengan memasok sel dengan metabolit yang normalnya membutuhkan asam folat untuk sintesisnya (misalnya purin, asam amino tertentu); zat demikian dapat hadir misalnya dalam pus, sehingga sulfonamida menjadi tidak efektif dalam perawatan infeksi suppuratif tertentu. Bakteri yang siap mengembangkan resistansi pada sulfonamida, seperti modifikasi Streptococcus pneumoniae yang dihasilkan lewat mutasi satu langkah pada sintetase asam dihidropteroik dapat mengurangi afinitas enzim sulfonamida tanpa mengurangi afinitasnya pada PABA. Hambatan dari plasmid juga muncul dan dapat terlibat, misalnya plasmid tersandi sintase asam dihidropteroik resistan sulfonamida.

Gugus Fungsi Sulfonamida

Banyak jenis sulfonamida yang berbeda misalnya dalam sifat klinisnya, toksisitasnya, dll. Sebagian besar turunan memiliki penyusun nitrogen dari grup sulfonamida (NH2.C6H4.SO2.NHR). Substitusi grup p-amino menghasilkan hilangnya aktifitas anti bakterial, namun turunan demikian dapat dihidrolisa in

vivomenjadi turunan yang aktif. Sebagai contoh, p-Nsuccunylsulfatiazol dan fitalilsulfatiazol tidak aktif dan sulit diserap perut, namun mereka terhidrolisa pada usus bawah untuk melepaskan komponen aktif sulfatiazol; obat ini telah digunakan misalnya pada saat sebelum dan sesudah bedah perut. Contoh-contoh sulfonamida antara lain: 1. Sulfacetamida (N-[(4-aminofenil)sulfonil]-asetamida); 2. Sulfadiazin 3. Sulfadimetoksin (4-amino-N-(2,6-dimetoksi-4pirimidinil)benzenesulfonamida) 4. Sulfadimidin (=sulfametazin: 4-amino-N-(4,6-dimetil-2pirimidinil)benzenesulfonamida); 5. Sulfaguanidin (4-amino-N-(aminoiminometil)benzenesulfonamide);

6. Sulfametizol (4-amino-N-(5-metil-1,3,4-tiadiazol-2il)benzenesulphonamide); 7. 8. Sulfametoksazol (4-amino-N-(5-metil-3-isoxazolil)benzenesulfonamida); sulfatiazol (4-amino-N-2-tiazolilbenzenesulfonamida); dan sebagainya.

SULFONAMIDA Maret 14, 2009 Disimpan dalam Uncategorized BAB.1 I PENDAHULUAN Dalam kimia, gugus fungsi sulfonamida dituliskan -S(=O)2-NH2, sebuah gugus sulfonat yang berikatan dengan amina. Senyawa sulfonamida adalah senyawa yang mengandung gugus tersebut. Beberapa sulfonamida dimungkinkan diturunkan dari asam sulfonat dengan menggantikan gugus hidroksil dengan gugus amina. Dalam kedokteran, istilah sulfonamida kadang-kadang dijadikan sinonim untuk obat sulfa, yang merupakan turunan sulfanilamida. Struktur senyawaan sulfonamide BAB II PEMBAHASAN Sulfonamida adalah kemoterapeutik yang pertama digunakan secara sistemik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia Sulfonamida merupakan kelompok obat penting pada penanganan infeksi saluran kemih (ISK). Demi pengertian yang baik, pertama tama akan dibicarakan sepintas lalu beberapa aspek dari aspek dari ISK Infeksi saluran kemih (ISK) hampir selalu diakibatkan oleh bakteri aerob dari flora usus. Penyebab infeksi bagian bawah atau cystitis ( radang kandung) adalah pertama kuman gram negative. Pada umumnya, seseorang dianggap menderita ISK bila terdapat lebih dari 100.000 kuman dalam 1 ml urine. Antara usia lebih kurang 15 dan 60 tahun jauh lebih banyak wanita daripada pria menderita ISK bagian bawah, dengan perbandingan Ca dua kali sekitar pubertas dan lebih dari 10 kali pada usia60 tahun . hal ini dapat dijelaskan bahwa fakta bahwa sumber infeksi kebanyakan adalah flora usus. Pada wanita, uretranya hanya pendek (2 -3 cm), sehingga kamdung kemih mudah dicapai oleh kuman kuman dari dubur melalui perineum, khususnya pada basil basil E.coli. pada pria disamping uretranya lebih panjang (15-18 cm), cairan prostatnya juga memiliki sifat sifat bakterisid sehingga menjadi pelindung terhadap infeksi oleh kuman kuman patogen

Sebagai kemoterapuetikum dalam resep, biasanya sulfa dikombinasikan dengan natrium bikarbonat atau natrium sitras untuk mendapatkan suasana alkalis, karena jika tidak dalam suasana alkalis maka sulfa sulfa akan menghablur dalam saluran air kecing, hal ini akan menimbulkan iritasi yang cukup mengerikan . Tapi tidak semua sulfa dikombinasikan dengan natrium bikarbonat atau natrium sitrat. Misalnya Trisulfa dan Elkosin. Hal ini karena pH-nya sudah alkalis, maka kristal urea dapat dihindari Sulfonamida berupa kristal putih yang umumnya sukar larut dalam air, tetapi garam natriumnya mudah larut. Rumus dasarnya adalah sulfanilamide. Berbagai variasi radikal R pada gugus amida (-SO2NHR) dan substitusi gugs amino (NH2) menyebabkan perubahan sifat fisik, kimia dan daya antibaktreri sulfonamida Rumus umum Sulfonamida R1H atau sisa ftalat atau suksinat R2-H radikal alifatis atau heterosiklik

A.Pemakaian 1.Kemoterapeutikum:Sulfadiazin,Sulfathiazol 2.Antidiabetikum:Nadisa,Restinon,dll 3.Desibfektan saluran air kencing:Thidiour 4.Diuretikum:Diamox B.Sifatsifat 1. Bersifat ampoter, karena itu sukar dpindahka dengan acara pengocokan yang digunakan dalam analisa organic 2. Mudah larut dalam aseton, kecuali Sulfasuksidin, Ftalazol dan Elkosin C.Kelarutan 1. Umumnya tidak melarut dalam air, tapi adakalanya akan larut dalam air anas.Elkosin biasanya larut dalam air panas dan dingin. 2. Tidak larut dalam eter, kloroform, petroleum eter, 3. Larut baik dalam aseton

4. Sulfa sulfa yang mempunyai gugus amin aromatik tidak bebas akan mudah larut dalam HCl encer. Irgamid dan Irgafon tidak lariut dalam HCl encer. 5. Sulfa sulfa dengan gugusan aromatik sekunder sukar larut dalam HCl, misalnya septazin, soluseptazin, sulfasuksidin larut dalam HCl, akan tetapi larut dalam NaOH 6. Sulfa dengan gugusan SO2NHR akan terhidrolisis bila dimasak dengan asam kuat HCl atau HNO3. D.Identifikasi a.cara kelarutan 1)Larutdalamair a)Garamgaramnatriumnya b)Sulfonamidum c) Sulfonamida = larut sebagian air 2)Diasamkan dengan asam cuka3% a)Larut:Sulfanilamid,Sulfacetamid,Soluseptazin b)Tidak larut:Sulfadiazin,Sulfamorazin,Sulfametazin,Sulfatiazol,Sulfapyridin Irgafen,Irgamid. c) Larut dalam alkohol96%,Sulfacetamid, Irgamid, Igafen, Sulfathiazol Na d) Tidak larut dalam alkohol96% Sulfadiazin Na, Sulfamerazin Na, Sulfametazin,Na,SulfapyridinNa,dan,SulfathiazolNa. e) Larut dalam asam cuka7% Sulfanalamid, Sulfacetamid, Soluseptazin f) Tidak larut dalam air larut dalam air panas : sulfanalamid, sulfasetamid g)Tidak larut dalam NaOH 10% Irgafen, Septiazin, Radilon, Sulfaguanidin

b.Larutan penampak noda 1)Larutan Roux;selektif,warnany atertentu 2)PereaksiErlich;junggadantahanlama,sensitive 3) Pereaksi p-DAB-HCl : jingga c.LarutanPengelusi 1.Butanol:NH4OH:air=4:1:5 Ketiganya dikocok dengan alat corong pisah, terjadi dua lapisan, lapisan atas adalah butanol, lapisan yang jernih adalah NH4OH 2.Butanol:pyridin=8:1

3.Butanol:HCl(15)=10:1 Yang dilihat adalah nilai RF nya yang dihitung daru ratio antara naiknya lapisan dengan naiknya pelarut pengelusi.

E.Reaksi Reaksi Umum 1).Reaksielementer terhadap C, H, S : positif 2). Reasi terhadap gugus gugus amin : reaksi diazotasi, reaksi dengan pDAB-HCl,reaksikorekapi,danreaksiindohenol 3).Reaksi terhadap gugus sulfon :Zat + H2SO4 30% + 1 tts FeCl3 + HNO3 dan FeCl3 atau Barium Nitrat:endapan BaSO3 putih 4).Reaksi Purfurol:terhadap gugus amin bebas:1 tts reagen (2 % purfurel dalam asam asetat ) + zat memberi warna merah tua, ungu positif kecuali sulfasuksidin, thalazol, Septazin 5).Reaksi Vanilin:Huckhal dan Turftiti Terhadap derivat metil pyridin , diatas kaca arloji atau objek : 1 tts + H2SO4 + beberapa kristal vanilin,campurkan + zat panaskan diatas nyala api kecil : kuning atau hijau muda Kecuali : sulfamerazin Na : merah tua, sulfamezathin Na : merah tua Irgamid : hijau tua hitam dengan tepi merah

6).Rekasi Korek api Zat + HCl encer lalu kedalamnya dicelupkan korek api, maka timbul warna jingga sampai jingga kuning. Asam sulfanilat : Kuning 7). Rekasi Diazotasi : untuk amin aromatik primer Zat + 2 tts HCl 2 N dan air : + NaOH dan teteskan larutan 0,1 g beta-naftol dalam 2 ml NaOH, endapan jingga kemudian merah darah. Kalau yang dipakai alfa naftol:merah ungu. Gratisin : kekeruhan jingga kuning Negatif : sulfasuksidin, thalazol, septazin 8). Reaksi Erlich dengan p-DAB-HCl : reaksi yang umum dengan amin aromatic Pereaksi : p-DAB-HCl : 1 gram dalam 10 ml + air ad 100 ml zat + pereaksi 1-2 tetes diatas plat tetes : warna yang timbul adalah kuning jingga Kuning sitrun : Sulfametazin, Sulfadiazin, Sulfamerazin, Gratisin Kuning : Elkosin Kuning tua :Thazalol, Sulfanalamid Jingga :Sulfaguanidin 9).Reaksi dengan CuSO4 Larutan CuSO4 dalam air yang encer Reaksi ini diberikan oleh sulfa yang hetersiklik dalam NaOH dengan CuSO4:endapandanwarna:

Hijau : Elkosin, Globuoid, Eucacil, Sulfapyridin Ungu : Sulfadiazin, Sulfasuksidin, Sulfatiazol Putih : Irgafen, Sulfanalamid 10). Reaksi Indophenol Khusus untuk gugus amin aromatik dengan tempat para yang kosong Caranya :Panaskan zat 100 mg dalam tabung reaksi + 2 cc air sampai mendidih lalu segera + 2 tts NaoH dan 2 ml kaporit + 1 tts fenol liquafectum segera. Amati perubahan warna yang terjadi.

Albuoid : Hijau (hijau tua) Sulfaddiazin : Merah rosa Elkosin : Coklat Sulfaguanidin : kuning Cantrisin : Merah coklat Sulfamerazin : Merah rosa Irgafen : Hijau Sulfametazin : merah rosa Lucosil : Coklat merah Sulfanalamid : biru Sulfapyridin : coklat Sulfasuksidin : kuning lemah Sulfa thiazol : kuning jingga Thalazol : tak berwarna 11). Peraksi Roux pereaksi : Na Nitroprusida 10 Aquadest 100 NaoH 2 cc KmnO4 5 cc Cara melakukan reaksi Zat padat disimpan diatas plat tetes lalu + 1 tts perekasi lalu diaduk dengan batang penguluk. Dilihat perubahan warna yang terjadi. Albuoid : Coklat hijau hijau Sulfapyridin : ungu Elkosin : ungu coklat-ungu Sulfasuksidin : hijau kuning Sulfadiazin : ungu-hijau biru sulfathiazol : hijau kining Sulfaquanidin : ungu- coklat Sulfatiooreum: merah biru Sulfamezatinus : ungu hijau tua Irgafen : hijau kuning Lucosil : hijau kuning hiaju Thazalol : (-0) 12). Reaksi dengan KBrO3 Tablet harus diisolasi dahulu Caranya :Dalam tabung reaksi kecil 10 mg zat + 1 cc H2SO4 + 1 tts KBr jenuh. Amati perubahan yang terjadi As. Sulfanilat : ungu coklat Sulfanalamid :ungu,merah lama lama keruh Gratisin : coklat Sulfasuksidin : ungu coklat Marfanil : keruh putih kuning Thiadicur : kuning coklat Nadisan : coklat-ungu coklat Ftalazol : tidak berwarna Sulfadiazin : kuning jingga coklat merah 13). Pirolisa Semua sulfida bila dipanaskan diatas titik leburnya akan terurai dan timbul warna dari residu : Sulfadiazin : merah Sulfaguanidin : ungu Sulfanalamid : violet Sulfatiazol : coklat merah Atau akan membebaskan H2S

Elkosin Na Sulfamezatin Septazin Na Sulfamerazin Soluseptazain NaSulfathiazol Sulfamerazain Na Su;fadiazin Ultraseptyl Sulfamezatin Sulfatiazol Na-Irgamid Perhatian : yang melepaskan H2S adalah garamnya ! Atau melepaskan NH3 : melepaskan gas SO2 : Sulfaguanidin Lucosil Sulfanalmid ulfapyridin Sulfathiazol 14). Sublimasi Untuk beberapa sulfa yakni : Sulfadiazin, Sulfamerazin, Sulfamezatin, Thalazol, Elkosin. 15). Reaksi Kristal - Aseton air - Alkohol air - Dragendorf - Bouchardat - Eder - Asam pikrat 1 % dalam air - Asam pikrolon - Mayer - Cu kompleks - P-DAB-HCl - Asam sikikowolframat - AuBr3 - PtCl

Senyawa senyawa sulfonamida 1. Sulfadiazin - berupa bubuk volumineus, berwarna kekuningan, TL = 250 o -256o - Sedikit larut dalam air, alkohol dan aseton, larut baik dalam asam mineral, NaOH, basa- basa - Dengan pereaksi p-DAB-HCl : Kuning jingga - Dengan pereaksi Roux : ungu biru hijau - Dengan CuSO4 : ungu dan ada kristal - Dengan pereaksi indophenol : merah rosa - Dengan pirolisa : merah coklat- hijau - Dengan reaksi Raybin : Zat : resorsinolo 5 % dalam alkohol 96 % + 1 cc H2SO4 p dipanasi : merah carmin, bila diencerkan + 25 cc HAc biang, netralknan dengan amoniak : biru , berfluor, kuning hijau - Reaksi kristal Asam pikrat, bouchardat, dragendorf dan aseton- air

2. Sulfamerazin a. Berupa bubuk tak berwarna dan kuning muda, hampir tidak berasa, T.L 234 o b. Dengan pereaksi p-DAB-HCl : merah jingga c. Dengan pereaksi ROUX : ungu ungu biru biru, hijau hijau bagus dalam 15 menit d. Dengan CuSO4 : coklat abu abu e. Dengan Indophenol : rosa f. Dengan Vanilin : merah stabil g. Sublimat : 159 160 0 C h. Memberi reaksi Raybin : (+) i. Dengan reaksi Kristal

Sulblimasi, asam pikrat, aseton air, dragendorf, bouchardat, dan Fekompleks. a. Sulfamethyl Thiazol Berupa kristal putih, TL = 238 240 o C j. Sedikit larut dalam air, tak larut dalam eter dan alkohol k. Larut dalam alkali dan alkaloid l. Dengan pereaksi p-DAB-HCl : jingga m. Dengan KBrO3 : ungu lalu mengendap n. Dengan KBrO3 pekat : kuning coklat o. Dengan KBrO3 encer : kuning saja p. Dengan reaksi kristal Aseton air, bouchardat, dan sublimasi

b. Sulfamezatin q. Berupa bubuk putih, kuning muda, tak berasa, TL = 193 198 0 C r. Dalam air larut : 150 mg/100 cc s. Dengan peraksi ROUX : ungu merah ungu coklat, hijau tua kotor t. Dengan p-DAB-HCl : kuning jingga u. Dengan vanillin : merah jingga v. Dengan KBrO3 : ungu lemah-coklat kuning w. Dengan Indophenol : merah x. Dengan CuSO4 : jingga coklat y. Dengan pyrolisa : coklat keluar H2S z. Reaksi kristal Sublimas, aseton air, dragendorf, p-DAB-Cl, bouchardat, Fe-kompleks.

c. Sulfanilamid aa. Berupa bubuk tabur, berwarna putih, TL + 163 0 C bb. Larut dalam air cc. Dengan Roux : hijau coklat, hijau ungu, hijau kotor dd. Dengan p-DAB-HCl : kuning jingga ee. Dengan korek api : (+) ff. Dengan vanilin : kuning hijau gg. KBrO3 : ungu merah coklat hh. Dengan Indophenol : endapan biru langit ii. Dengan CuSO4 : biru gg. Pyrolisa : biru violet (gas NH3) bila + H2SO4 p + air : biru tinta kk. Diazotasi : (+) ll. Dengan amil alkohol : rosa jj. Bila di(+) Hac : Flour; ungu biru nn. Reaksi Kristal Sublimasi, aseton air, Fe-kompleks, asam pikrat, asam pikrolon,

d. Sulfaguanidin Berupa bubuk putih tak berasa dengan TL = 185 0 C oo. Larut dalam air (13 mg/100 cc), tak larut dalam NaOH, sedikit larut dalam aseton dan alkohol dan larut dalam asam mineral pp. Dengan pereaksi p-DAB-HCl : jingga qq. Dengan Roux : kuning, hijau-hijau rr. Dengan CuSO4 : Alkalis : biru tua Netral : negatif - Dengan indofenol ; kuning coklat (basa) - Pyrolisa : NH3 dan ungu - KBrO3 : ungu coklat tua - Penambahan NaOH dipanaskan NH3 keluar - zat + 3 tts HCl + 1 ml air + 2 tts NaNO2 0,1 % spritus : merah ungu ditarik dengan CHCl3 : hijau kuning

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswara, 1995, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran , Universitas Indonesia, Jakarat Tim Penyusun, 1979, Card System dan Reaksi Warna, SIE Kesdejahteraan HMF, Institut Teknologi Bandung, Bandung