Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN Istilah tasawwuf tidak dikenal dalam kalangan generasi umat Islam pertama (sahabat) dan kedua (tabiin),

ilmu tasawwuf menurut Ibn Khaldun merupakan ilmu yang lahir kemudian dalam Islam, karena sejak masa awalnya para sahabat dan tabiin serta generasi berikutnya telah memilih jalan hidayah (berpegang kepada ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi) dalam kehidupannya, gemar beribadah, berdzikir dan aktifitas rohani lainya dalam hidupnya. Akan tetapi setelah banyak orang islam berkecimpung dalam mengejar kemewahan hidup duniawi pada abad kedua dan sesudahnya, maka orangorang mengarahkan hidupnya kepada ibadat disebut suffiyah dan mutasawwifin. Dengan demikian, insan pilihan inilah kemudian yang mengembangkan dan mengamalkan tasawwuf sehingga diadopsi pemikirannya sampai sekarang ini. Akhlak dilihat dari sudut bahasa (etimologi) adalah bentuk jamak dari kata khulk, dalam kamus Al-Munjid berarti budi pekerti, perangkai tingkah laku atau tabiat. Di dalam Da`iratul Ma`arif, akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik. Selain itu, pengertian akhlak adalah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik, disebut akhlak yang mulia, sedangkan perbuatan buruk disebut akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya. Pokok pembahasan akhlak tertuju pada tingkah laku manusia untuk menetapkan nilainya, baik atau buruk, dan daerah pembahasan akhlak meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Dalam perspektif perbuatan manusia, tindakan atau perbuatan dikategorikan menjadi dua, yaitu perbuatan yang lahir dengan kehendak dan disengaja (akhlaki) dan perbuatan yang lahir tanpa kehendak dan tak disengaja. Nah disinilah ada titik potong antara tasawwuf dengan akhlak yang akan dibahas pada makalah ini.

HUBUNGAN ANTARA AKHLAK DENGAN ILMU TASAWUF

Tasawuf dan akhlak merupakan disiplin ilmu dalam Islam yang sangat erat sekali hubungannnya, dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Karena ketika kita membicarakan akhlak, aspek tasawuf tidak bisa dilepaskan. Demikian sebaliknya jika tasawuf dibincangkan maka akhlak menjadi hal utama yang harus dibahas. Untuk mengetahui seberapa pentingkah hubungan akhlak dengan tasawuf mungkin kita dapat mengkaji pendapat-pendapat ulama sebagai berikut.1 Artinya : Akhlak adalah pangkal permulaan tasawuf sedangkan tasawuf batas akhir dari akhlak.

Begitu juga halnya yang dikemuakakakan oleh Al-Kattany yang telah dikemukakan oleh al-Ghazali yang menyatakan hubungan akhlak dan tasawuf yang dinyatakan dalam perkataannya Artinya: Tasawuf itu adalah budi pekerti, barang siapa yang menyiapkan bekal atasmu dalam budi pekerti, maka berarti ia menyiapkan bekal atas dirimu dalam bertasawuf.

Pengalaman tasawuf yang dilakukan para sufi telah memberikan kesan kepada kita, bahwa tasawuf merupakan ajaran yang meruang lingkup kepada hubungan transenden; yang berarti hubungan hamba allah dan tuhannya, hal ini telah diperkuat oleh pendapat Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi, yang mengemukakan beberapa prinsip-prinsip ajaran taawuf, sebagaimana yang telah dikatakannya;
1 http://www.rokhim.net/2011/10/hubungan-akhlak-dan-tasawuf.html

: Artinya; Prinsip-prinsip tasawuf ada lima; yaitu taqwa kepada allah, mengikuti sunnah, menahan diri, rela dan bertaubat.

Selanjutnya pekerjaan Taqwa yang dilakukan oleh para sufi membentuk sifat wara dan istiqamah. Mengikuti Sunnah dalam perkataan maupun perbuatan akan membentuk perilaku yang berakhlak mulia. Menahan diri dari hal-hal yang bersifat sementara (Al-irad), akan membentuk dirinya selalu sabar dan bertawakal. Bersikap rela (Ridha) dari pemberian Allah yang kadang relative sedikit atau banyak, membentuk dirinya bersikap Qanaah dan lapang dada. Bertaubat kepada allah yang dilakukan baik dengan cara terang-terangan maupun rahasia, dilakukan pada saat senang maupun susah, sehingga dapat membentuk dirinya berkepribadian yang suka bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar ketika mendapat kesusahan. Dari kelima prinsip yang dikemukakan syekh Muhammad Imam Kurdiahlah dapat diambil kesimpulan bahwa tasawuf hanya berupa transendel ( hubungan hamba dan Allah semata). Sementara akhlak lebih luas lagi yaitu yang mencakup hubungan manusia dengan seorang Allah dan hubungan manusia dan sesama makhluk,. Memang ada beberapa ide untuk mendapat keridhaan dari Allah, yaitu ide-ide itu mengaharapkan agar kegiatan tasawuf tidak hanya diarahkan kepada kegiatan vertikal saja, tetapi lebih dari itu ibadah horizontal dikaitkan juga, sehingga nantinya ulama tasawuf memikirkan kebutuhan umat manusia yang sangat mendesak, maka dari itu konsekuensinya istilah-istilah yang sering dipakai dikalangan sufi harus diartikan kembali. Misalnya zuhud yang selama ini diartikan sebagai sikap meninggalkan kesenangan duniawi yang dapat mengganggu kekonsentrasian beribadah dan lupa kepada tuhannya, hal tersebut harus dimaksudkan dampak negatifnya bukan Dzat dari pada kekayaannya itu sendiri. Karena kekayaan yang dimiliki manusia digunakan untuk mempermudah ibadah, hidup sederhana meninggalkan dari dunia kemewahan

dan untuk kesejahteraan umat manusia, hal tersebut bisa dikatakan zuhud. Jadi yang dihindari dari pada sikap zuhud bukan dzat daripada kekayaan itu sendiri, tapi efek negatif dari kekayaan itu. seperti sikap sombong, takabur, dan lalai terhadap kehidupan akhirat. Ide-ide seperti ini memang sangat sulit diterima oleh para kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang telah menekuni ajaran tasawuf, karena menjauhkan dari kehidupan dunia (zuhud) dan memfakirkan diri menjadi tradisi yang turun temurun bagi ajaran tasawuf sekarang. Perlu diketahui perumusan definisi zuhud yang menekankan sikap menjauhi dunia, dipengaruhi oleh suasana kehidupan para sahabat dan tabiin yang terlalu mengejar keduniaan, terutama pembesar kerajaan, sehingga soal agama nyaris ditingalkan. Barangkali sikap yang demikian dilatar belakangi oleh kehidupan yang mewah dengan cara yang foya-foya pada pembesar kerajaan Romawi dan Persia sebelum datangnya agama Islam, lalu tradisi tersebut dilakukan lagi oleh sebagian sahabat dan tabiin, terutama yang dilakukan oleh keluarga pembesar dinasti bani Umayyah dan Ab-Basyiah. Dari sinilah sehingga ulama tasawuf menyusun sistem kehidupan yang tercermin dalam ajarannya, dengan cara mendakwah sikap zuhud dan fakir, untuk menjauhi kehidupan mewah yang selalu membawa manusia lalai menekuni agamanya ketika itu. Ketika kita melihat hancurnya peradaban dan puncak kejayaan Islam dengan runtuhnya Dinasti Bani Ab-Basyiah di Baghdat, dari kejadian tersebut telah menyebar para kalangan umat Islam yang mulai menjauhi kehidupan dunia dengan cara mengasingkan diri, untuk memperbaiki moral dan akhlak umat Islam. Karena pada masa sebelumnya umat Islam mengalami krisis moral dan akhlak, dan terlalu banyak bergelimang dengan kehidupan dunia. Akan tetapi umat Islam dalam kegiatan yang bermula dari kehidupan Rasulullah s.a.w., dan para sahabatnya yang termasyhur namanya sebagai Ahlu suffah, hingga kehidupan tasawuf

spiritualnya keterlaluan sehingga ajaran tasawuf terkesan dengan mengharamkan kehidupan dunia. Yang menyebabkan aspek vertikal dan horizontal kurang seimbang. Dengan suasana yang berbeda antara masa lampau dengan masa sekarang maka definisi zuhud harus ditinjau kembali, sehingga tekanan zuhud bukan terletak pada menjauhi dunia akan tetapi menekankan pada efek pada negatif dari kekayaan dan kekuasaannya itu sendiri, sehingga para sufi tetap menekuni ajaran tasawufnya dan menekuni pula kegiatan bisnisnya. Pada akhirnya ajaran tasawuf tidak hanya menekankan kepada aspek vertikal saja, tetapi juga melakukan hubungan secara horizontal. Dan ajaran akhlak dan tasawuf dapat terpadu, akhlak sebagai hubungan hamba Allah dengan antar sesama dan tasawuf sebagai ajaran yang transenden. Berkenaan dengan hubungan akhlak dengan tasawuf lebih lanjut kita harus memahami beberapa istilah dalam ilmu tasawuf yang menghantarkan kita dapat memahami sepenuhnya antara akhlak dengan tasawuf, sebagai berikut;

1. Takhalli ialah membersihkan hati dengan mengosongkan hati dari sifat yang

tercela seperti rasa dengki, hasut, sombong dan rasa kecintaan yang berlebihan kepada dunia. Dunia dan isinya para sufi dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta yang kita akan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia, dalam artian dampak negatif dari pada dunia yang berlebihan harus dijauhi.
2. Tahalli ialah sebagai tahapan yang kedua yaitu

mengisi hati yang

dikosongkan tadi dengan sifat-sifat yang terpuji dengan cara berperilaku yang terpuji dan menyibukkan hatinya kapanpun dan di manapun dengan berdzikir kepada Allah karena mendekatkan diri dengan cara bedzikir menurut para sufi dapat membawa ketentraman pada hati, ibadah yang diwajibkan saja tidak

cukup, untuk lebih memuaskan pendekatan diri kepada tuhan diperlukan amalan-amalan khusus dengan cara berdzikir.
3. Tajalli, yang merupakan kelanjutan proses dari takhalli dan tahalli yang

intinya terbukanya pintu hijab yang membatasi manusia dengan tuhan, para kalangan sufi menyebut dengan ungkapan ma'rifah. Ketika seorang sufi melakukan tahapan yang utama yaitu tahapan takhalli (menghilangkan sifat-sifat tercela) , maka ia masih dalam tingkat berakhlak. Pada tahapan yang kedua yaitu tahalli seorang sufi dapat dikatakan berakhlak manakala masih menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji (Tahalli) , jika dalam tahap bersyariat, tarekat dan marifat (dalam arti tahalli) maka ia sudah dalam tahapan tasawuf. Setelah sang sufi sudah bertakhalli dan bertahalli (menghiasi dengan sifat terpuji dan bersyariat, tarekat dan marifat), ia akan menuju tahapan yang ketiga yaitu Tajalli sebuah tahapan yang terakhir dalam tasawuf yang disebut marifah. Selain daripada itu, ulama Tasawuf yang sering juga disebut Ulama al-Muhaqqin membuat tata cara peribadatan untuk mencapai tujuan Tasawuf, didasarkan atas konsepsi dan motivasi beberapa ayat Al-Quran dan Hadith, antara lain berbunyi: Firman Allah S.W.T yang bermaksud: Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (Q. S. At-Tiin: 4-5). Firman Allah S.W.T yang bermaksud: Hai orang-orang yang beriman; berdhikirlah (dengan) menyebut (nama) Allah, dhikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbhilah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Q. S. Al-Ahzab: 41-42).

Sabda Rasulullah S.A.W: Sembahlah Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya; maka apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka Ia pasti melihatmu.(H.R. Bukhary Muslim, yang bersumber dari Abu Hurairah). Dalam ayat pertama, diterangkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baik kejadian, namun karena perbuatan manusia itu sendiri, maka Allah mengembalikannya kepada tempat yang sangat hina. Tempat inilah yang dimaksudkan oleh Sufi sebagai neraka. Dan untuk menghindarinya, maka Sufi membuat tata cara mengabdikan diri kepada Allah, yang disebut dengan Suluk, di mana di dalamnya diwarnai oleh zikir, sebagaimana anjuran dalam ayat kedua di muka, dengan kalimat Udhkurullah Dhikran Katsira Sehingga Salik (peserta suluk) dapat mencapai tujuan Tasawufnya, yang disebut Marifah. Keterangan inilah yang memberikan gambaran, bahwa ajaran Tasawuf termasuk ajaran Islam,yang tercakup dalam sendi Ihsan, yang berfungsi untuk memperkuat pengamalan sendi Aqidah (Keimanan) dan sendi Shariah. Maka sering kita jumpai pembagian Tasawuf menjadi tiga macam, yaitu:
1. Tasawuf Aqidah; yaitu ruang lingkup pembicaraan Tasawuf yang menekankan

masalah-masalah metafisis (hal-hal yang ghaib), yang unsur-unsurnya adalah keimanan terhadap Tuhan, adanya Malaikat, Syurga, Neraka dan sebagainya. Karena setiap Sufi menekankan kehidupan yang bahagia di akhirat, maka mereka memperbanyak ibadahnya untuk mencapai kebahagiaan Syurga, dan tidak akan mendapatkan siksaan neraka. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut, maka Tasawuf Aqidah berusaha melukiskan Ketunggalan Hakikat Allah, yang merupakan satu-satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak. Kemudian melukiskan alamat Allah SWT, dengan menunjukkan sifat-sifat ketuhanan-Nya. Dan salah satu indikasi Tasawuf Aqidah, ialah pembicaraannya terhadap sifatsifat Allah, yang disebut dengan Al-Asman al-Husna, yang oleh Ulama Tarekat dibuatkan zikir tertentu, untuk mencapai alamat itu, karena beranggapan bahwa seorang hamba (Al-Abid) bisa mencapai hakikat Tuhan lewat alamatNya (sifat-sifat-Nya).

2. Tasawuf Ibadah; yaitu Tasawuf yang menekankan pembicaraannya dalam

masalah rahasia ibadah (Asraru al-Ibadah), sehingga di dalamnya terdapat pembahasaan mengenai rahasia Taharah (Asraru Taharah), rahasia Salat (Asraru al-Salah), rahasia Zakat (Asraru al-Zakah), rahasia Puasa (Asrarus al-Shaum), rahasia Hajji (Asraru al-Hajj) dan sebagainya. Di samping itu juga, hamba yang melakukan ibadah, dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

Tingkatan orang-orang biasa (Al-Awam), sebagai tingkatan pertama. Tingkatan orang-orang istimewa (Al-Khawas), sebagai tingkatan kedua. Tingkatan orang-orang yang teristimewa atau yang luar biasa (Khawas al-Khawas), sebagai tingkatan ketiga. Kalau tingkatan pertama dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada

umumnya, maka tingkatan kedua dimaksudkan sebagai para wali (Al-Auliya), sedangkan tingkatan ketiga dimaksudkan sebagai para Nabi (Al-Anbiya). Dalam Fiqh, diterangkan adanya beberapa syarat dan rukun untuk menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah. Tentu saja persyaratan itu hanya sifatnya lahiriah saja, tetapi Tasawuf membicarakan persyaratan sah atau tidaknya suatu ibadah, sangat ditentukan oleh persyaratan yang bersifat rahasia (batiniyah). Sehingga Ulama Tasawuf sering mengemukakan tingkatan ibadah menjadi beberapa macam, misalnya Taharah dibaginya menjadi empat tingkatan:

Taharah yang sifatnya mensucikan anggota badan yang nyata dari hadath dan najis.

Taharah yang sifatnya mensucikan anggota badan yang nyata dari perbuatan dosa.

Taharah yang sifatnya mensucikan hati dari perbuatan yang tercela. Taharah yang sifatnya mensucikan rahasia (roh) dari kecendrungan menyembah sesuatu di luar Allah SWT.

Karena Tasawuf selalu menelusuri persoalan ibadah sampai kepada halhal yang sangat dalam (yang bersifat rahasia), maka ilmu ini sering dinamakan Ilmu Batin, sedangkan Fiqh sering disebut Ilmu Zahir.
3. Tasawuf Akhlaqi; yaitu Tasawuf yang menekankan pembahasannya pada budi

pekerti yang akan mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga di dalamnya dibahas beberapa masalah akhlaq, antara lain:

Bertaubat

(At-Taubah);

yaitu

keinsafan

seseorang

dari

perbuatannya yang buruk, sehingga ia menyesali perbuatannya, lalu melakukan perbuatan baik.

Bersyukur (Asy-Shukru); yaitu berterima kasih kepada Allah,

dengan mempergunakan segala nikmat-Nya kepada hal-hal yang diperintahkan-Nya. Bersabar (Ash-Sabru); yaitu tahan terhadap kesulitan dan

musibah yang menimpanya.

Bertawakkal (At-Tawakkul); yaitu memasrahkan sesuatu kepada

Allah SWT. Setelah berbuat sesuatu semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan. Bersikap ikhlas (Al-Ikhlas); yaitu membersihkan perbuatan dari

riya (sifat menunjuk-nunjukkan kepada orang lain), demi kejernihan perbuatan yang kita lakukan. Ini baru sebagian kecil saja akhlaq baik terhadap Tuhan yang kita bicarakan, tetapi pembicaraan Tasawuf selalu menuju kepada pembahasan yang lebih dalam lagi, yaitu hingga menelusuri kerahasiaannya. Jadi pembicaraan taubat, syukur, sabar, tawakkal dan ikhlas, dibahas dengan mengemukakan indikasi lahiriyahnya saja, maka hal itu termasuk lingkup pembahasan akhlaq; tetapi bila dibahasnya sampai menelusuri rahasianya, maka hal itu termasuk Tasawuf. Sehingga dari sinilah kita dapat melihat perbedaan Akhlaq dengan Tasawuf, namun dari sisi lain dapat dilihat kesamaannya, yaitu keduanya sama-sama tercakup dalam sendi Islam yang ketiga (Ihsan).

Dari uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa akhlak merupakan awal dari pada menuju tasawuf dengan cara bertakhalli dan tahalli (dalam artian menghiasi dengan sifat-sifat terpuji) sedangkan tasawuf tujuan akhir dari pada akhlak yang dengan terpenuhinya tahapan tahalli (dalam arti bersyariat, tarekat, hakekat dan marifat) setelah para sufi sudah bertakhalli dan bertahalli maka tahapan ketiga yaitu tajalli yang sering disebut marifat sebagai kesuksesan dari pada bertasawuf. Akhlak pula dibagi menjadi 3, yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak kepada lingkungannya. Contoh- contoh dari ketiga akhlak tersebut adalah2:
1. Akhlak terhadap Allah swt,antara lain :

a) Al-Hubb, yaitu mencintai Allah SWT. melebihi cinta kepada apa dan siapapun

juga dengan mempergunakan firman-Nya dalam Al-Quran sebagai pedoman hidup dan kehidupan; Kecintaan kita kepada Allah SWT. diwujudkan dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
b) Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh keridhaan

Allah SWT.
c) Tawakal berserah diri kepada Allah swt.

2. Akhlak terhadap Manusia, diantaranya :

a) Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad SAW.), diantaranya : Mencintai Rasulullah SAW. secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya. Menjadikan Rasulullah SAW. sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan kehidupan. Menjalankan apa yang disuruh-Nya, tidak melakukan apa yang dilarangNya.

2 http://shintamexazan.blogspot.com/2011/06/hubungan-tasawuf-dengan-akhlak.html

b) Akhlak terhadap Orang Tua (birrul walidain), diantaranya : Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya. Berbuat baik kepada bapak-ibu dengan sebaik-baiknya, dengan mengikuti nasehat baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat bapak - ibu ridha.
Mendoakan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang

atau kedua - duanya telah meninggal dunia. c) Akhlak terhadap Diri Sendiri, diantaranya : Memelihara kesucian diri. Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan,menurut hukum dan akhlak Islam). Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain. d) Akhlak terhadap Keluarga, diantaranya :
Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga

Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak. Memelihara hubungan silahturrahim dan melanjutkan silahturrahmi yang dibina orang tua yang telah meninggal dunia. e) Akhlak terhadap Tetangga, diantaranya : Saling bantu di waktu senang, lebih-lebih tatkala susah. Saling beri-memberi, saling hormat-menghormati. Saling menghindari pertengkaran dan permusuhan. f) Akhlak terhadap Masyarakat, diantaranya : Memuliakan tamu.
Menghormati nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat

bersangkutan. Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita.

3. Akhlak terhadap Lingkungan Hidup, diantaranya :

a) Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup. b) Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, flora dan fauna yang sengaja diciptakan Allah SWT. untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya. c) Sayang pada sesama makhluk.

KESIMPULAN Tasawuf adalah proses pendekatan diri pada tuhan dengan cara mensucikan hati sesuci - sucinya. Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk. Jadi kaitan hubungan tasawuf dengan akhlak yaitu bahwa orang yang suci hatinya akan tercermin dalam air muka dan perilakunya yang baik. Selain itu, Akhlak dan tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesama manusia. Sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertikal antara manusia dengan tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak. Ilmu tasawwuf pada umumnya dibagi menjadi tiga, pertama tasawwuf falsafi, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan rasio atau akal pikiran, tasawwuf model ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran dari para tasawwuf, baik menyangkut filsafat tentang Tuhan manusia dan sebagainnya. Kedua, tasawwuf akhlaki, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan akhlak. Tahapan-tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding penghalang (hijab) yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur llahi tampak jelas padanya. Dan ketiga, tasawwuf amali, yakni tasawwuf yang menggunakan pendekatan amaliyah atau wirid, kemudian hal itu muncul dalam tharikat.

Sebenarnya, tiga macam tasawwuf tadi punya tujuan yang sama, yaitu sama-sama mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah), karena itu untuk menuju wilayah tasawwuf, seseorang harus mempunyai akhlak yang mulia berdasarkan kesadarannya sendiri. Bertasawwuf pada hakekatnya adalah melakukan serangkaian ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Ibadah itu sendiri sangat berkaitan erat dengan akhlak. Menurut Harun Nasution, mempelajari tasawwuf sangat erat kaitannya dengan Al-Quran dan Al-Sunnah yang mementingkan akhlak. Cara beribadah kaum sufi biasanya berimplikasi kepada pembinaan akhlak yang mulia, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di kalangan kaum sufi dikenal istilah altakhalluq bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau juga istilah al-ittishaf bi sifatillah, yaitu mensifati diri dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah. Jadi akhlak merupakan bagian dari tasawwuf akhlaqi, yang merupakan salah satu ajaran dari tasawwuf, dan yang terpenting dari ajaran tasawwuf akhlaki adalah mengisi kalbu (hati) dengan sifat khauf yaitu merasa khawatir terhadap siksaan Allah. Kemudian, dilihat dari amalan serta jenis ilmu yang dipelajari dalam tasawwuf amali, ada dua macam hal yang disebut ilmu lahir dan ilmu batin yang terdiri dari empat kelompok, yaitu syariat, tharikat, hakikat, dan ma`rifat.