Anda di halaman 1dari 59

KASUS KASUS PELANGGARAN HAM INTERNASIONAL OFFERING (A) ANGKATAN 2011

NO 1 URAIAN KASUS NAMA MAHASISWA 1. Genosida Terhadap Bangsa Kurdi. AFIDA OKTAFIANA Genosida ini dilakukan oleh rezim yang Saddam Hussein yang memerintah Irak di seputaran tahun 1980. Suku Kurdi berasal dari rumpun bangsa Indo-Eropa. Menurut dikenal sebagai suku yang mendiami daerah pegunungan di perbatasan Irak, Iran, dan Turki sejak 8000 tahun yang lalu. Saddam Hussein membumihaguskan kawasan utara yang didiami Kurdi. Penyelesaianya : Mereka ingin menyelesaikan HAM dari negara induk, lalu mendirikan negara Kurdi. 2. Pembantaian warga Armenia Kasus ini terjadi pada akhir Perang Dunia I (dari tahun 1915-1917) yang dilaporkan banyak beberapa pihak yang dibantai oleh tentara Kerajaan Ottoman Turki. Akibat munculnya nasionalisme Armenia, orang Turki membantai beribu-ribu orang Armenia antara tahun 1894 hingga 1896. Akan tetapi pembantaian yang paling mengerikan terjadi pada bulan April 1915, saat berlangsungnya Perang Dunia I. Ketika itu orang Turki melakukan pembersihan etnis dengan menggiring orang-orang Armenia ke gurun pasir Suriah dan Mesopotamia. Menurut perkiraan para sejarawan, antara 600.000 hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh atau mati kelaparan dalam peristiwa ini. Pembantaian terhadap orang Armenia konon merupakan genosida pertama pada abad ke-20. Penyelesaianya : Para pelanggar HAM diadili secara inabsentia dan dinyatakan bersalah. 3. Pesiden Meksiko, Felipe di selidiki ICC Pesiden Meksiko, Felipe di selidiki ICC dikarenakan terjerat kasus HAM dengan dugaan pembunuhan dan penyiksaan warga sipil selama menggelar operasi memerangi pedagang obat bius. Yang mana peristiwa ini terjadi pada tahun 2006. Solusi yang sempat dijalankan : Pengacara untuk kasus HAM mengirim Netzai Sandoval untuk menyelidiki

tewasnya ratusan warga sipil ditangan aparat keamanan dan anggota geng obat bius. dan Kasus telah dilimpahkan pada pihak ICC di Belanda dan ICC berjanji akan menyampaikan hasil kajian mereka setelah mempelajari permohonan tersebut. 2 GENOSIDA KAMBOJA ALLUKVAN Pelanggaran HAM di Kamboja, pada 17 April 1975 sampai 6 Jamuari 1979, Pelakunya rezim Khmer Merah dibawah pimpinan Pol Pot, Pembantaian sekitar 1,7 juta warga Kamboja, Bentuk pelanggarannya pembantaian secara massal warga Kamboja. Penyelesaiannya : proses peradilan bagi pelaku genosida di Kamboja terbilang cukup lama, mulai dari pengajuan ke Badan Perserikatan Bangsa-bangsa, pembentukan badan peradilan, penangkapan dan penahanan para terdakwa hingga akhirnya diadili . 2. MAVI MARMARA Pelanggaran HAM di perairan internasional di Laut Tengah, pada 31 Mei 2010, Pelakunya tentara Israel, Penembakan kepada aktivis pro palestina dan penghilangan orang secara paksa (penculikan), pembunuhan, penyiksaan dan pelecehan terhadap Wanita, Bentuk pelanggarannya penembakan kepada aktivis pro palestina dan warga sipil dunia. Penyelesaiannya: Dewan HAM PBB menyelenggarakan persidangan untuk mengeluarkan resolusi mengecam Israel. Hal ini dilakukan setelah Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk oleh Dewan HAM PBB menyatakan Israel melanggar HAM dalam kasus penyerangan relawan kemanusiaan di kapal Mavi Marmara. 3. GENOSIDA ARMENIA Pelanggaran HAM di Armenia, pada tahun 1915-1917, Pelakunya Tentara Kerajaan Ottoman Turki, Pembantaian 600.000 hingga 1,5 juta Warga Armenia, Bentuk pelanggarannya Pembantaian/pembersihan etnis. Penyelesaian : Hingga sekarang pemerintahan Turki tidak mau mengakui kejahatan tersebut dengan menyatakan bahwa jumlah korban yang jatuh lebih kecil dan mereka mati karena perang saudara bukan karena pembersihan etnis. 1.

1.

Kasus perang antara etnis Serbia Bosnia dengan Kroat Bosnia Tempat : dengan Herzegovina 1992. Pelanggaran HAM : perselisihan antara etnis Serbia Bosnia dengan Kroat Bosnia. Yang melanggar : 30 orang kelompok bersenjata Garda Kroasia atau pasukan Kroasia dibawah pimpinan Dobrosav Paraga. Yang dilanggar : tewasnya 29 orang penduduk sipil Serbia Bosnia, 7 orang wanita di perkosa dan 3 diantaranya dibunuh. Aspek yang dilanggar : mengambil hak hidup orang lain. Penyelesaian : wilayah etnis Serbia Bosnia dengan Kroat Bosnia dipisahkan sehingga tidak terjadi peperangan lagi. 2. Genosida Bangsa Aborigin. Tempat : Australia 1788

AMIR TAMA WITANTRA

Pelanggaran-pelanggaran : pembantaian Aborigin. Yang melanggar : james cook. Yang dilanggar : Bangsa Aborigin Aspek yang dilanggar : merampas wilayah banngsa Aborigin. Penyelesaian : 4
1. Perang antara etnis Serbia Bosnia dengan etnis Kroat Bosnia.

ARINA RAHMA PUTRI

Perang ini terjadi pada awal tahun 1992 di desa Sijekovac dekat kota BosanskiBrod (bagianutara Bosnia Herzegovina). Konflik dimulaidariseranganpihakKroat Bosnia, terhadappenduduk Serbia Bosnia.Perang inimenewaskan 29 orang penduduksipil Serbia Bosnia Herzegovina, 7 orang wanita

Serbia Bosnia menderitaperkosaandan 3 di antaranyadibunuh. Aspek yang dilanggar adalah hak untuk hidup, dan hak atas rasa aman. Disini telah menewaskan orangorang yang belum tentu bersalah, dan wanita yang tidak dilindungi. Selain itu melanggar aspek kerukunan beragama,karena seolah tidakadasuatu ideologi yang mengikatkesadaranberbangsa.Perang ini sedikit surut, karena disadari adanya kepentingan yang sama antara kedua etnis. Namun pada akhirnya perang kembali meluas ke wilayah-wilayah lain. 2. Politik Apartheid di Afrika Selatan. Perlawanan mengenai perjuangan kesetaraan ras antara kulit hitam dan kulit putih dimulai ketika pada tahun 1976, terjadi huru-hara di Soweto yang mengakibatkan pertumpahan darah. Sekitar 500 hingga 1000 wargakulithitamterbunuhdalaminsidenitu. Ketikakerusuhanterjadidanbeberapatahunsetelahnya, banyakanakdanremaja yang ditangkap. Tokoh yang berjuang dalam kesetaraan ras adalah Nelson Mandela. Aspek HAM yang dilanggar adalah hak memperoleh keadilan, dimana setiap orang tanpa diskriminasi berhak untuk memperoleh keadilan,baik diadili maupun mengadilidan memperoleh putusan yang adil dan benar. Upaya penyelesaian yaitu pada tahun 1976 diberlakukan konvensi apartheid. Kemudian pada 1990, presidenAfrika Selatan waktuitu, Frederik Willem de Klerk, membebaskan Nelson Mandela yang dipenjara akibat menjalankan politik dibawah tanah danbeberapatahananpolitislainnya. ANC dan PAN sahmenjadiorganisasipolitik. Padatahun 1994, Nelson Mandela terpilihsebagaipresidenpertamaAfrika Selatan versibaru.
3. Pembantain

di Republik Rwanda. Terjadi suatu diversifikasi suku antara suku Hutu yang dianggapsebagaisuku yang minoritassedangkan Tutsi yang dianggapsebagaisuku yang lebih tinggi eksistensinya. Perang ini dimulai tepatnya pada tahun 1994, memuncaknya benihbenih kebencianketikaparaMilitan Hutu mengadakangenosidamassaluntukmembantaipara Cokroaches / Tutsi, danmenyamakanmerekadengantidaklebihdariderajatseekorsapiuntukdibantai. Aspek HAM yang dilanggar adalah hak memperoleh keadilan, dimana seharusnya

ada persamaan kelakuan antara Hutu maupun Tutsi. Upaya penyelesaiannya adalah melalui humanitarian intervension yang dilakukanolehPBB, namun gagal. Hal inidapatterjadikarenatidakadanyadukungandaripemerintah Rwanda danmasyarakat Rwanda sendiri yang mayoritasadalahsuku Hutu. Merekadengansengajamengusirpasukanperdamaian PBB dari Rwanda. Sebagaiorganisasiinternasional, PBB tidakdapatmelakukanapa-apajika Rwanda telahmenolakmandat yang diberikan PBB di dalamwilayahkedaulatannya. 5 Di Gaza pada tahun 2003, pelaku Israel, korban Warga Gaza, aspek HAM yang ARI NOPRIANSYAH RISTA dilanggar Genosida itu dilakukan dengan cara memberlakukan blokade total terhadap wilayah Jalur Gaza yang menyebabkan krisis kemanusiaan dan memiskinkan 1,5 juta warga Gaza. Penyelesaian: Sudah di proses di Mahkamah Internasional isi putusannya serba hanya melakukan kealpaan, tidak terbukti telah melakukan pembantaian. 1. a.Kasus : Pembantaian Srebrenica, 1995 ARNY RYZKIA b. Waktu kejadian : Pada 6 Juli 1995 c. Tempat kejadian : Di Srebrenica d. Pelaku : pasukan Korps Drina dari tentara Serbia Bosnia. Selain pasukan Serbia Bosnia, pasukan paramiliter Serbia,Scorpion (kalajengking) juga turut bersalah atas pembantaian ini. e. Korban : Selama 5 hari pembantaian ini, 8000 Muslim Bosnia telah . Dan korban yang dikonfirmasi sampai saat ini mencapai 8.373 jiwa. f. Aspak pelanggaran : Pembantaian Pasukan Korps Drina dari tentara Serbia dan pasukan pramiliter Serbia terhadap rakyat muslim di srebrinica

g. Proses Hukum : Dalam hal ini tidak diketahui pasti hukuman apa yang di berikan terhadap Serbia tetapi kekeputusan Mahkamah Internasional tersebut disebutkan bahwa Serbia tidak bersalah atas tindakan genosida. Namun, MI tetap mengecam Serbia karena gagal mencegah ataupun mengadili pelaku pembantaian ini, sekalipun Serbia memiliki hubungan erat dengan militer Serbia Bosnia.

2. a. Kasus : Nasib TKI di Malaysia,Ratusan Wanita Dijadikan Pelacur

b. Waktu Kejadian : Senin, 31 Mei 2004 c. Tempat Kejadian : Di Malaysia d. Pelaku : disebutkan dalam kasus, pelakunya adalah Acong (agen penyalur) dan Alex e. Korban : TKI yang bekerja di Malaysia dan di antaranya adalah Isa (18), Tarmini (22). f. Aspek Pelanggaran : Penipuan, Pemerkosaan, Penyiksaan, dan penjualan perempuan g. Proses hukum : pemerintah akan memperkuat diplomasi dengan negara lain, lebih mengetati TKI yang bekerja di negara lain agar tidak terjadinya TKI ilegal. 7 1. Kasus : Pembantaian Genosida Rwanda. Waktu kejadian : 6 April 1994 dalam periode 100 hari pada tahun 1994. Tempat Kejadian : di Rwanda, Afrika Tengah. Pelaku : sekelompok ekstremis Hutu yang dikenal sebagai Interahamwe, Pasukan khusus Pengawal Presiden dengan bantuan instruktur Perancis, kelompok militan Rwanda, Interahamwe dan Impuzamugambi. ASTIK DIAH MARTIANI

Korban : 800.000 suku Tutsi dan Hutu moderat dan Twa, Juvenal Habyarimana, presiden Burundi, Perdana Menteri Rwanda. Apek Pelanggaran : Pembantaian, Pembunuhan. Cara Penyelesaian : Pembunuhan besar-besaran di Rwanda tidak mendapatkan perhatian besar dari dunia internasional khususnya Perancis, Inggris dan Amerika Serikat. Veto dari Dewan Keamanan PBB yang akhirnya menurunkan jumlah pasukan penjaga perdamaian dari 2500 personel menjadi 450 personel tidak mampu mengatasi masalah. "Pihak luar gagal mencegah pembantaian selama 100 hari di Rwanda". Jadi sampai saat ini dewan keamanan PBB belum mampu mengatasi masalah pembantaian Genosida Rwanda tersebut. 2. Kasus : Pembantaian Genosida Srebrenica. Waktu Kejadian : pada Juli 1995 selama 5 hari. Tempat Kejadian : Di daerah Srebrenica, Bosnia, Eropa. Pelaku : Pasukan Serbia Bosnia pimpinan Jenderal Ratko Mladi, Pasukan paramiliter Serbia Scorpion (kalajengking). Korban : 8000 lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak meninggal dan 8.373 jiwa hilang. Aspek Pelanggaran : Pembantaian, pembunuhan massal. Cara penyelesaian : Dalam keputusan Mahkamah Internasional tersebut disebutkan bahwa Serbia tidak bersalah atas tindakan genosida. Namun, MI tetap mengecam Serbia karena gagal mencegah ataupun mengadili pelaku pembantaian ini, sekalipun Serbia memiliki hubungan erat dengan militer Serbia Bosnia. Tentara Belanda meninggalkan Srebrenica, dan juga meninggalkan persenjataan dan perlengkapan mereka. Selama 5 hari pembantaian ini. Mungkin semenjak itu kasus pembantaian srebrenica dapat terselesaikan. Namun terdapat kemungkinan

lain, bahwa kasus ini belum dapat terselesaikan oleh pihak PBB sampai saat ini. Selain itu belum ada kepastian juga bagaimana kepastian penyelesaian dari kasus ini. 8 1. Kasus : Israel Cegah Warganya Nikahi Orang Palestina. Waktu Kejadian : Pada tahun 2012 Tempat Kejadian : Pelaku : Pihak yang melakukan peanggaran HAM ini adalah Pemerintah Israel. Korban : Yang menjadi korban dalam dalam pelanggran HAM ini adalah warga Palestina yang ingin menikahi warga Israel. Aspek Pelanggaran : Pembatasan atau membatasi pernikahan antara warga Palestina dengan warga Israel keturunan dari Arab. Pi emerintahan Israel menuduh waraga Palestina ingin menikahi warga Israel. Padahal keturunan Arab hanya ingin mencari tempat tinggal di wilayah Israel. Proses Hukum : Menurut ACRI ( kelompok pembela HAM di Israel ), membuat peraturan untuk mengatur waraga Palestina, yakni pria Palestina di atas 35 tahun dan wanita diatas 25 tahun yang telah menikah dengan warga Isrel. Keturunan Arab, hanya boleh tinggal sementara di Israel. Mereka memiliki izin terbatas untuk bekerja dan bertemu keluarga, perizinan pun harus diatur dengan waktu singkat, agar mereka tidak mendapatkan manfaat sosial. BETY WULANSARI

Genosida Rwanda 1. Pembantaian Etnis Besar-besaran di Rwanda: Pada tanggal 6 April 1994 di ibukota Rwanda dan di Kota Nyarubuye, Pelakunya kelompok militant, Korbannya para menteri, pastor, dan rakyat biasa hingga 800.000 jiwa, Aspek pelanggaran membunuh (massal) siapa saja yang mendukung misi dari Habyarimana yaitu mempersatukan etnis, Penyelesaiannya Veto dari Dewan keamanan PBB yang akhirnya menurunkan jumlah pasukan penjaga perdamaian dari 2500 personel menjadi 450 personel mencoba meredakan situasi di Rwanda lalu di lanjut pada Konfrensi, namun hal itu tidak dapat meredakan dan mengatasi masalah tersebut. Penghapusan Politik Apertheid 2. Menciptakan Dasar Apartheid: pada Tahun 1948 di Afrika Selatan, Pelakunya Dr. Daniel Francois Malan (1948-1954), F.W. de Klerk, korbannya Ras kulit hitam, Aspek Pelanggaran Diskriminasi Ras, Penyelesaiannya Munculnya F.W. de Klerk di panggung politik Afrika Selatan menandai berakhirnya politik apartheid, lalu F.W. de Klerk mengadakan reformasi politik di Afrika Selatan. F.W. de Klerk dan Nelson Mandela berusaha menjadikan Afrika Selatan sebagai negara yang menjamin kebebasan, perdamaian, dan keadilan.

CHANDRA PRATAMA

10

Pelarangan sholat jumat di Xianjiang China. Peristiwa ini terjadi di Xianjiang China pada bulan juli 2009 Pada peristiwa ini Pemerintah China melanggar HAM karena melarang umat

DESSY WURRY ANGGRAEINI

Islam melaksanakan sholat jumat.Dan yang dilanggar haknya adalah umat Islam. Aspek HAM yang keyakinan/kepercayaan dilanggar adalah pelarangan ibadah sesuai

Penyelesaian : Pemerintah menganggap bahwa pelaksanaan acara keagaman itu untuk mendukung tiga kekuatan (ekstrimisme,separatisme dan terorisme) yang berusaha memecah wilayah Xianjiang dari China. 11 1. Genosida Rwanda DHEA NITA Tanggal 6 April 1994, di Rwanda Afrika, Oleh para pemimpin Katolik dan Kristen, Korban 800.000 minoritas etnis tutsi dan Hutu moderat, Pembunuhan terhadap 7000 etnis minoritas Tutsi yang mencari perlindungan di sebuah biara Benedictine, Seorang pimpinan kelompok etnis Hutu yang bertanggung jawab atas pembantaian massal di Rwanda ditangkap di Kongo dan PBB masih mencari beberapa buronan lainnya yang terkait dalam kasus yang sama. 2. Penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong Tanggal 5 Oktober 2007, di China, oleh pemerintah china, para praktisi yang berlatih Falun Gong, penganiayaan terhadap praktisi dengan sangat kejam. Penyelesaian : 3. Genosida di Armenia Sekitar Perang Dunia I tahun 1915-1917, di Armenia, Oleh tentara Kerajaan Ottoman Turki, 600.000 hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh, pembunuhan secara sadis terhadap orang-orang Armenia dan penganiayaan agama; pajak; yang berat dan tindakan kekerasan. Penyelesaian :-

12

Penahanan anak-anak migrant di AS dengan tuduhan melakukan kenakalan FAHREZA RAKHMAD ZATI remaja. Peristiwa ini terjadi sepanjang tahun 2003, di AS. Pelaku dalam peristiwa (110711407065) ini adalah polisi dan penjaga penjara AS. Korbannya adalah 6000 anak migrant, dan sepanjang tahun 2003, sudah 65 orang yang menjalani hukuman mati di AS, total 885 orang yang menjalani hukuman mati. Aspek pelanggarannya yaitu penahanan pada anak-anak remaja dan pembunuhan. Penyelesaian: AS dinilai juga telah melanggar aturan internasional dalam menerapkan hukuman mati ini karena telah mengenakkannya pada anak dibawah umur 18 tahun. Seharusnya pemerintah AS menghapus ataran itu

13

1.Tragedi rawa gede Kejadian ini dilakukan/pelakunya oleh Belanda terhadap Indonesia yaitu karawang tepatnya didesa rawa gede kab karawang ,jawa barat. Waktu kejadian ini pada tgl 9 desember 1947 Jumlah korban tewas 431 dan yang menjadi korban yaitu rakyat Indonesia (rawagedea) Aspek pelanggran nya adalah genosida atau pembunuhan masal penyelaisaian kasus bermula aksi protes janda para korban bersama para aktifis dikedutaan belanda sejak tahun 2005 dan akhirnya baru pada tgl 14 september 2001 pengadilan den haag (belanda) memutus bersalah kepada belanda dan belanda harus member ganti rugi/kompensasi terhadap seluruh korban. di

FATHUL AZIZ

2.Pembantaian muslim di xinjiang cina Aspek pelanggaran yaitu genosida/pembunuhan masal

Waktu kejadian pada tgl 5 juli 2009 Tempat kejadian diUrumqi yang merupakan ibukota propinsi xinjiang cina Jumlah korban tewas dari etnis uighur 150,kemudian 800 lainnya terluka berat dan 1434 ditawan soleh pemerintah cina. Pelaku pelanggaran ini dilkukan oleh etinis han dan dibantu oleh pemerintah cina sendiri terhadap etnis uighur yang bragama muslim Penyelaisaian kasus ini belum jelas masih Dalam proses diPBB dan didukung oleh organisasi islam seperti OKI

3.diskriminasi ras di afrika selatan Aspek pelanggaranya yaitu diskriminasi ras Waktu kejadian terjadi mulai tahun 1948 ampai 1994 yaitu dengan disahkannya dasar aparthid pada tahun 1948. Tempat kejadian di Afrika selatan Pelakunya yaitu para Afrikaner atau orang belanda yang menjajah AFSEL dan menjadi pemerintah AFSEL terhadap penduduk AFSEL asli yang berkulit hitam Penyelesaian mulai pada tahun 1990an pada saat presiden AFSEL yaitu FW De Klark membolehkan berdirinya organisasi anti aparthid berdiri seperti ANC,dan membebaskan tokoh ANC yaitu nelson Mandela yang semula dipenjara dan lambat laun aprthid dihapuskan dan nelson mandela menjadi presiden kulit hitam yang pertama.

14

1. Kasus pertama : genosida yahudi (pembantaian yang dilakukan nazi FIRDAUSY D jerman kkepada orang-orang yahudi) Waktu : belum jelas, yang ada sampai tahun 1944 kejadian itu Tempat : jerman Aspek pelanggaran : . Genosida Yahudi/ Holocaust.

Pelaku : pemimpin nazi Yang dilanggar : orang-orang yahudi Penyelesaian : dihukum mati

2.Kasus kedua : pelanggaran terhadap konvensi jenewa Waktu : 1949 Tempat : bekas yogoslavia Asperk pelanggaran : kejahatan terhaadap kemanusiaan, pelanggaran hokum/kebiasaan perang dll. Penyelesaian : diadili dan di hokum.

15

1. Pembantaian warga Armenia Kasus ini terjadi pada akhir Perang Dunia I (dari tahun 1915-1917) yang dilaporkan banyak beberapa pihak yang dibantai oleh tentara Kerajaan Ottoman Turki. Akibat munculnya nasionalisme Armenia, orang Turki membantai beribu-ribu orang Armenia antara tahun 1894 hingga 1896. Akan tetapi pembantaian yang

HERLINSYA DWIYANA

paling mengerikan terjadi pada bulan April 1915, saat berlangsungnya Perang Dunia I. Ketika itu orang Turki melakukan pembersihan etnis dengan menggiring orang-orang Armenia ke gurun pasir Suriah dan Mesopotamia. Menurut perkiraan para sejarawan, antara 600.000 hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh atau mati kelaparan dalam peristiwa ini. Pembantaian terhadap orang Armenia konon merupakan genosida pertama pada abad ke-20. Penyelesaianya : Para pelanggar HAM diadili secara inabsentia dan dinyatakan bersalah. 2. Pesiden Meksiko, Felipe di selidiki ICC Pesiden Meksiko, Felipe di selidiki ICC dikarenakan terjerat kasus HAM dengan dugaan pembunuhan dan penyiksaan warga sipil selama menggelar operasi memerangi pedagang obat bius. Yang mana peristiwa ini terjadi pada tahun 2006. Solusi yang sempat dijalankan : Pengacara untuk kasus HAM mengirim Netzai Sandoval untuk menyelidiki tewasnya ratusan warga sipil ditangan aparat keamanan dan anggota geng obat bius. dan Kasus telah dilimpahkan pada pihak ICC di Belanda dan ICC berjanji akan menyampaikan hasil kajian mereka setelah mempelajari permohonan tersebut. 1. Tragedy Santa Cruz, kejadian ini terjadi pada tanggal 12 November 1991, di KHOIRUNNISA BAZILA Santa Cruz, Dili, Timor Leste. Pelaku peristiwa ini adalah 72 perwira militer Indonesia. Yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah korbannya 200 warga Santa Cruz, Dili, Timor Leste tewas dan 400 lainnya terluka. Aspek pelanggarannya yaitu Pembantaian. Penyelesaian: seharusnya peran pemerintah ataupun organisasi PBB sangat penting untuk menuntaskan kasus tersebut. Karena sudah 20 tahun kasus tersebut terkatung-katung penyelesaiannya yang tidak kunjung selesai. Dan sebagai bangsa yang besar seharusnya Indonesia juga ikut andil dalam penyelesaian kasus

16

tersebut. Untuk mencari perilaku penembakan tersebut untuk diadili. Agar korban penembakan yang masih hidup bisa menuntut haknya. 2. Genosida Rwanda, kejadian ini terjadi pada tanggal tanggal 6 April 1994, di Rwanda, Afrika Tengah. Pelaku dalam peristiwa ini adalah sekelompok ekstremis Hutu yang dikenal sebagai Interahamwe. Korbannya 800.000 suku Tutsi dan Hutu moderat. Aspek pelanggarannya yaitu pembantaian. Penyelesaian: bagaimanapun bahwa kasus tersebut merupakan suatu kasus HAM yang berat. Dan kasu tersebut harus diselesaikan dengan menuntaskan kasus tersebut maka agar kejadian tersebut tidak akan terjadi kembali. Karena semestinya kedudukan kita sama. 3. Pelanggaran HAM terhadap wartawan di dunia, pada tahun ini. Kejadian ini terjadi di seluruh dunia terutama Timur Tengah, Benua Amerika, Asia, Afrika, dan Eropa, pelakunya adalah para aparat atau pemerintahan korup. Korbannya para wartawan jurnalistik tercatat 66 meninggal dunia, 1.959 wartawan di dunia mengalami penganiayaan atau ancaman, 71 wartawan diculik, dan 1.044wartawan lainnya dipenjara pemerintah setempat. Aspek pelanggaranya yaitu penganiayaan, pembunuhan, penculiakan dan penahanan. Penyelesaian: kan sudah ada contohnya undang-undang di dunia mengenai wartawan. Seharusnya wartawan diberi perlindungan dengan adanya unddangundang tersebut. Dengan itu para wartawan tersebut sudah mempunyai badan huku yang berlaku. 4. Pembantaian Srebenica atau biasa disebut Genosida Srebenica. Peristiwa ini terjadi pada Juli 1995, di daerah Srebenica, Bosnia. Pelakunya pasukan Serbia Bosnia pimpinan Jendral Ratko Mladic. Korbannya mencapai 8.373 jiwa. Aspek pelanggarannya yaitu pembantaian. Penyelesaian: parlemen Yugoslavia bertindak secara tegas mengenai pembunuhan yang terjadi pada remaja dan etnis-etnis muslim Bosniak di sana. Karena dalam menyelesaikan perkara tersebut dibutuhkan suatau ketegasan oleh pemerintah tersebut. Yang menetapkan bahwa hal tersebut merupakan sebagai genosida dan

17

menetapkan para militer Serbia ikut bersalah dan harus mempertanggungjawabkan kasus terssebut Kasus :pelaggaran yang di lakukan prajurit AS trhadap tahanan LENA SUMIATI AS. waktu kejadian :untuk waktu kejadian pelanggaran tidak diketahui secara pasti namun pengkajian masalah tersebut pada tahun 2000 tepat kejadian pelaku Serikat korban : tempat kejadiaan berada di penjara AS. :Pelaku dari kasus tersebut iallah Prajurit sedanggkan korbannya adllah salah satu tahanan dari AS Aerika

aspek pelanggaran :tahanan tersebut di pukuli sampai tewas, padahal diadu di tahan lima bulan sebagai penebus ataskesalahannya namun entah motif apa, para prajurit dari AS menyiksanya tanpa alasan yang jelas sampai diya harus kehilangan nyawanya atas kesewenagwenagan AS. penyelesaiaan :kasusi ni di ajukan AI (Amnesti Internasional) ke PBB namun untuk selanjutnya apa ada respon atau keadan tersebut saya tidak mengetahuinya. 18 1. a. Kasus : Genosida Armania b. Waktu kejadian : antara tahun 1894 hingga 1896. c. Tempat kejadian : Di Armenia d. Pelaku : orang Turki e. Korban : Orang Armania f. Aspek pelanggaran : Pembantaian orang Armania dan antara 600.000 hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh atau mati kelaparan dalam peristiwa ini. LIA NURUL FAUZIAH

g. Proses hukum : Uni Eropa menyatakan bahwa salah satu persyaratan bagi Turki untuk masuk ke Uni Eropa ialah dengan mengakuinya genosida ini 2. a. Kasus : kamboja "killing fields" di Tuol Sleng b. Waktu Kejadian : pada 1975-1979 c. Tempat kejadian : Di kamboja dan tepatnya di penjara S-21 atau di Toul Sleng d. Pelaku : rezim Khmer Merah e. Korban : orang dari seantero Kamboja f. Aspek pelanggaran : Pembantaian, penganiayaan, pemerkosaan oleh rezim Khamer Merah terhadap orang seantrreo Kamboja g. Proses hukum : Penegakan hukum tetap diberlakukan ke sejumlah pemimpin papan atas Khmer Merah yang berwatak kriminal, khususnya Deuch yang bernama asli Kaing Khek Iev. Pada 1975-1979, Deuch menjabat sebagai Direktur S-21. Sejak 1999, Deuch mendekam di tahanan menanti persidangan atas pelanggaran HAM. 19 1. KasusPelanggaran HAM di Rwanda Republik Rwanda adalahnegarakecil yang terletak di Timur-Tengah dariAfrikabertetanggadengan Uganda, Burundi, the Democratic Republic of the Congo dan Tanzania. Di Negara initerjadipelanggaran HAM ketikapejelejahanBelgia yang berpuncakpadatahun 1994. KasusinibermulaolehadudombaBelgiaterhadapSuku Hutu dansuku Tutsi.Duasukuinimerupakankorbandariadudomba yang dilakukanBelgia.Padapuncakyabeberapa orang sukuHutu membunuhPresiden yangberasaldarisukunyasendiridanmenuduhpembunuhnyaadalahsuku Tutsi.Hal inidenganharapan agar semuawarga Hutu melakukanpembantaianterhadap Tutsi.Akhirnyapecahlahgenosida di Rwanda.Sekitar 1.000.000 orang meninggaldalamkejadianini.Kasusiniadalahpelanggaran HAM yang berat yang berawaldariaspeketnishinggaberujungpadahakuntukhidup.Dalamkasus ii LUTFI INDRA SEPTIAWATI

pernahadaupayapenyelesaiandarikeduakepalasukutetapigagal.Setelahitudiumumka nlahdaftarkriminalGenosidaoleh PBB, sebagiansudahtertangkap, dansebagianmasihbebasberkeliaran. 2. Apartheid di Afrika Selatan Kasus Apartheid inimunculdi Afrika Selatan sejaktahun 1948 danbarudicabuttahun 1994. Kasusiniadalahbentukdiskriminasiraskulitputihterhadapraskulithitam.Raskulithita mmendiami 80% dariwilayahAfrikaSelata, sementara 20% untukraskulithitam, ras Kulitwarnalainnyadairidari Asia yang terdiridaridari India dan Pakistan. Diskriminasisemakinkuat, seorangtokohbernama Nelson Mandela yang memperjuangkankesetaraannrasmendirikanKongresNasionalAfrikaA(ANC) danberdiri pula Konngres PAN Afrika. Karenaperjuangannya Nelson Mandela dipenjaraseumurhidup.Padatahun 1976, terjadihuru-hara di Soweto.Berawaldariaksiboikotsekolah, kemudianmenjadipertumpahandarah.Sekitar 500 hingga 1000 wargakulithitamterbunuhdalaminsidenitu.Kasus di Afrika Selatan inimendapatperhatianbesardaridunia, termasukdari PBB yang memblokirAfrika Selatan danpadatahun 1976 diberlakukankonvensianti apartheid.Padatahun 1990 Nelson Mandela dibebaskandaripenjaradanpadatahun 1994 menjadipresidenAfrika Selatan. 3. Pelanggaran HAM terhadapkaumSyiah di Arab Saudi Padatahun 2008 pemerintah Arab Saudi menyegelsembilan masjid kaumSyiah di negaratersebut.Pemerintah Arab Saudi jugamelarangkaumSyiahmelakukansholatjamaah di rumahsendiri.MerekamewajibkawargamuslimSyiahmenandatanganisuratperjanjian untuktidakmelakukanshalatberjamaah di rumah. Pemerintah Arab Saudi melakukanpenangkapanterhadap Ali Al-Maki lantaranmendirikanshalatjamaah di rumahnya.KuatnyapengaruhulamaradikalWahabidalamrezim Arab Saudi, terutama di

lingkunganDepartemenDalamNegerimenyebabaknditerapkannyaberagamkebijaka n yang diskriminatifdanmemberatkanbagiwargaSyiah. Hal initentumerupakanpelanggaran HAM terkaittentangkebebasamumatberagama.Kasusinimendapatkecamandariaktivis HAM dariKairotetapibelummendapatpenanganandari PBB. 4. Perang Antar Etnis Serbia Bosnia dengan Etnis Kroat Bosnia Tahun 1992 di Desa Sijekovac dekat kota Bosanki Brod (bagian utara Bosnia Herezegovina). Dimulai dari serangan pihak Kroat Bosnia terhadap penduduk Serbia Bosnia. Penduduk sipil Serbia Bosnia Herzegovina, 29 meninggal, 7 wanita diperkosa, dan 3 wanita dibunuh. Aspek HAM yang dilanggar adalah hak hidup dan hak rasa aman. Perang surut karena disadari ada kepentingan yang sama antar kedua etnis namun kembali terejadi perang dan meluas ke wilayah lain. 20 Menteri Luar Negeri Pusat Pengawas Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Islam MAULIDI SYAMSID DLUHA Iran mengumumkan laporan pelanggaran HAM di Amerika Serikat dalam sebuah publikasi dan pengamatan Laporan HAM AS tahunan di Markas PBB di Jenewa, Kamis (4/11/2010). Menurut laporan Kantor Berita IRNA, kantor Pusat Informasi dan Media Kementerian Urusan Luar Negeri Iran menekankan, AS sebagai negara yang menetapkan patokan perlindungan HAM di dunia belum dapat memenuhi tugasnya. Hal ini dikaitkan dengan AS yang belum mampu menutup penjara Guantanamo dan penjara Abu Ghraib, walaupun telah ditentang masyarakat internasional, PBB dan bahkan janji Presiden Barack Obama. Mereka menekankan dalam laporannya, AS juga belum bergabung dengan konvensi yang berhubungan dengan hak-hak ekonomi, sosial dan kebudayaan yang paling penting serta termasuk di dalam dokumen terpenting HAM. Bahkan Komite Hak Anak-Anak dari PBB juga telah mengumumkan bahwa AS

telah menjadi salah satu penghasil serta penyebar terbesar hal-hal porno anak di bawah umur. Saat ini AS merupakan sebuah negara di antara dua di dunia yang masih belum bergabung dengan Konvensi Internasional Hak Anak-Anak. Kekecewaan juga diungkapkan dalam laporan yang menyebutkan sejak 2001 tongkat kejut listrik milik tentara AS telah menewaskan 334 warga.

Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengatakan kasus kekerasan yang dialami Sumiati TKW di Arab Saudi itu tergolong pelanggaran HAM berat Patrialis juga Korban Kasus Pelanggaran HAM Unjuk Rasa di Kejaksaan Rabu 22

Juli 2009 12 40 WIB Pelanggaran HAM di Arab Saudi Meningkat tiap Tahun Publikasi Angka Kemiskinan Jakarta Kompas Arab Saudi mengakui adanya pelanggaran hak berbagai kasus pelecehan Dari 335 000 TKI yang ada di Arab Saudi Kesehatan Kemiskinan HAM Terbaru Pegiat Hak Asasi Manusia di Indonesia kuatirkan prospek Terlalu banyak kasus pelanggaran HAM yang penyelesaiannya mendeportasi seorang jurnalis muda Arab Saudi yang di kasus pelanggaran ham tki di arab saudi kasus pelanggaran ham di arab CONTOH PELANGGARAN HAM DI ARAB SAUDI berita pelanggaran ham tki contoh kasus pelanggaran ham tki satunya adalah Indonesia hak asasi manusia HAM secara tegas di Banyak kasus yang terjadi atas pelanggaran hak asasi anak Turki Inspirasi Arab Baru Jamin Tio juga menjelasan hampir di semua kota besar di Arab Saudi memberlakukan hukum qisas untuk kasus kasus nurul mustafa peristiwa kasus pelanggaran ham berat di libya HAM di masyarakat tertutup seperti Arab Saudi dan Korea pembelaan hak asasi manusia seperti misalnya pada kasus pelanggaran bentuk pelanggaran hak asasi manusia di Rights dalam memonitor dan menindaklanjuti kasus kasus pelanggaran HAM terhadap buruh migran di Saudi turunnya visa panggilan kerja agensi penyalur TKI di Arab Saudi Arab Saudi Sekolahkan Anak Yatim Korban DOM Aceh BRP Sekretaris Komite Solidaritas Hak Asasi Manusia HAM Daerah persoalan pelanggaran HAM di masing dua kasus di 21 1. Apartheid di Afrika Selatan Apartheid di Afrika Selatan merupakan kasus politik yang berpacu pada perbedaan ras kulit yang terjadi di Afrika Selatan. Politik apartheid berlangsung dari tahun 1948 hingga tahun 1990. Pada masa ini, diberikan tempat yang berbeda untuk ras kulit putih dan kulit hitam. Politik apartheid ini melakukan diskriminasi kepada ras kulit hitam mulai dari tempat tinggal, tempat wisata, sekolah, universitas, bahkan tempat-tempat pelayanan umum seperti; rumah sakit, kantor, dll. Apartheid telah memakan korban jiwa sekitar 500-1000 warga kulit hitam. Aspek pelanggaran yang terjadi dalam apartheid adalah diskriminasi ras dan pembunuhan membabi buta yang dilakukan pelaku pembunuhan. Politik apartheid diselesaikan dengan bergantinya presiden baru F.W. de Klerk yang M HIDAYAT DWI OKTARA

memperjuangkan anti apartheid bersama Nelson Mandela dengan cara penghapusan undang-undang yang menunjang politik apartheid, mengembangkan hubungan yang mendalam antara ras kulit putih dan kulit hitam, serta pada akhirnya diselenggarakannya pemilu multiras. 2. Genosida di Kamboja Kejahatan genosida di kamboja terjadi mulai dari 17 April 1975 hingga 6 Januari 1979 di Kamboja. Kasus tersebut dilakukan oleh rezim Khmer Merah yang berusaha melakukan kegiatan-kegiatan pemerasan dan pemaksaan terhadap warga Kamboja. Akibat kejadian tersebut 1,7 sampai 2,5 juta dari penduduk yang berjumlah 8 juta meninggal dunia karena pembunuhan, kelaparan, kelelahan, dan eksekusi yang dilakukan oleh Khmer Merah. Penyelesaian dari rezim tersebut adalah dikirimnya pasukan Vietnam untuk membebaskan Kamboja dari rezim kejam tersebut. Setelah itu pemerintahan dipimpin oleh pemerintahan sementara yang mengubah kehidupan baru di Kamboja. Masalah tersebut akhirnya di tahun 2007 para pelaku Khmer Merah diadili setelah bertahun-tahun masalah tersebut diproses hingga ke PBB. 3. Apil Fool, Tragedi Pembantaian Umat Islam Spanyol Pembantaian Umat Islam tersebut terjadi pada 1 april 1487 atau 892 H di daerahdaerah Islam yang pada penguasaan terakhir berada di daerah Granada, Spanyol. Pembantaian keji tersebut dilakukan oleh tentara salib yang ingin menghancurkan Islam dari Spanyol. Korban dari pembantaian tersebut adalah Umat Muslim di Spanyol yang mayoritas terdiri dari wanita-wanita dan anak-anak yang masih kecil. Aspek pelanggaran tersebut jelas merupakan kejahatan genosida yang memakan seluruh penduduk Islam di Spanyol. Penyelesaian dari tragedi tersebut hingga kini tidak jelas karena terjadi pembelokan makna dari sejarah tersebut. Dunia seolah-olah telah tertipu oleh makna 1 April yang dimaknai dengan Aril fools day yang merupakan hari dengan acara kejutan atau keisengan sehingga tidak heran bahkan umat Islam sendiri pun ada yang merayakan hari yang sebenarnya adalah hari kesedihan ini.

4. Genosida Rwanda genosida Rwanda, adalah sebuah pembantaian 800.000 suku Tutsi dan Hutu moderat dalam periode 100 hari pada tahun 1994 oleh sekelompok ekstremis Hutu yang dikenal sebagai Interahamwe. Aspek pelanggaran tersebut adalah pembunuhan massal yang dilakukan oleh kelompok ekstremis Hutu tanpa rasa kemanusiaan. Penyelesaian dari kasus tersebut sampai sekarang tidak jelas karena tidak mendapat sorotan dunia khususnya Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Salah satu penyebab utamanya adalah negeri ini tidak memiliki nilai kepentingan strategis di mata internasional MIFTAKHUL ARIF PRASETYA 1. Diskriminasi Rezim Al Saud di Arab Saudi Dilaporkan terjadi pada hari Kamis, 16 Februari 2012 tetapi sudah terjadi sejak abad ke 20 di Riyadh, Arab Saudi. Pelakunya yang tak lain dan tak bukan adalah Pemerintah Riyadh Arab Saudi yaitu Raja Al Saud. Korbannya adalah warga Arab Saudi yang bermazhab Syiah yang mayoritas tinggal di wilayah timur negara Arab Saudi. Aspek yang dilanggar antara lain memberlakukan warga Syiah seperti warga tingkat kedua atau warga asing dan menempatkannya di tingkat sosial yang terendah. Selain itu warga Syiah juga menjadi kelompok paling teraniaya di Arab Saudi. Provinsi timur Arab Saudi yang merupakan wilayah berpenduduk Syiah adalah wilayah yang tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah kerajaan. Pemerintah Riyadh memperlakukan berbeda terhadap wilayah ini, misalnya dalam hal pendidikan, kesehatan dan pembangunan jalan. Warga Syiah juga tidak mendapat posisi penting dalam pemerintahan. Jabatan-jabatan penting, seperti bagian keamanan, negara, militer dan polisi diserahkan kepada keluarga kerajaan dan kelompok Wahabi. Bahkan warga Syiah di provinsi timur negara ini tidak pernah mendapat pekerjaan penting. Manajemen dan pengelolaan sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga lain di wilayah itu diserahkan kepada warga non-Syiah. Selama abad 20, pemerintah Riyadh dan Wahabi telah memberlakukan tiga diskriminasi; mazhab, ekonomi dan politik terhadap warga Syiah, bahkan hingga kini sikap diskriminasi itu tetap subur di Arab Saudi. Rezim Al Saud juga membatasi aktivitas-aktivitas keagamaan warga Syiah. Kebijakan rezim Al Saud terhadap warga Syiah seperti sikap rezim Apartheidterhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan. Cara penyelesaiannya hingga sampai saat ini belum ada tetapi

22

seharusnya para pejabat pemerintah Arab Saudi tidak harus membeda-bedakan warga Syiah dengan warga non Syiah, warga Syiah harus diberlakukan sama dengan warga Arab Saudi lainnya. Seperti diperbolehkan warga Syiah untuk ditempatkan di bidang-bidang yang dianggap sensitif dan harus tetap mendapat perhatian serius dari pemerintah kerajaan Arab Saudi. Dengan begitu tidak akan ada lagi yang namanya deskriminasi oleh pemeritah Arab Saudi dan pelanggaran HAM terhadap warga Syiah. 23 1. Pembantaian umat islam di Spanyol MOCH RICHO Pembantaian atau genosida yang di lakukan oleh pasukan salib terhadap umat PERMANA islam di Granada,Spanyol pada tanggal 1 april. Ribuan umat islam menjadi korban. Penyelesaian: 2. Pembantaian Nanking Pembantaian Nanking(Rape of Nanking),pembantaian di sertai penyiksaan dan permerkorsaan penduduk nanking,china yang dilakukan oleh tentara jepang pada tanggal 13 Desember 1937 hingga awal Februari 1938. Terdapat 300.000 korban jiwa pada waktu itu. Penyelesaian: kasus ini di tangani oleh Mahkamah Militer Internasional kawasan Asia Timur, namun sampai hari ini tidak jelas hasil akhirnya. Dan pada saat itu Persatuan Liga bangsa-bangsa (sekarang PBB) tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi hal ini, dikarenakan bahwa kawasan Asia adalah kawasan teritorial yang dikuasai oleh jepang. 3. Genosida oleh nazi jerman kepada penduduk yahudi. Genosida besar-besaran yang di lakukan oleh Nazi Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler terhadap yahudi Jerman pada tahun 1942 di jerman. Di perkirakan lebih dari 6jt penduduk yahudi yang jadi korban. Genosida ini di lakukan dengan cara tembakan-tembakan, penyiksaan, dan gas racun. Penyelesaian: Belum ada penyelesaian yang pasti tentang kasus ini, yang pasti BAGUS

adalah Sesudah perang Adolf Eichmann seorang pejabat tinggi Nazi yang menjadi pengelola kampanye genosida tersebut ditangkap dan diadili oleh pemerintahan Israel tahun 1961-1962 dan dihukum mati. 24 1. Peristiwa Holocaust Holocaust terjadi di Jerman pada saat rezim Hitler berkuasa dengan Nazi. Kejadian ini terjadi pada periode 1940-1945 pada saat Nazi ingin menguasai Eropa. Pelaku Holocaust adalah pembunuhan masal dengan mengunakan gas beracun yang dilakukan oleh para tentara Nazi dibawah pimpinan Adolf Hitler. Korban Holocaust sendiri adalah warga Eropa keturunan Yahudi yang berasl dari Jerman, Polandia dan negara-negara yang dikuasai oleh Nazi, ditengarai jumlah korban Holocaust adalah sekitar 6 juta jiwa. Aspek pelanggaranya pada Holocaust adalah pembunuhan sadis dengan memasukkan korban ke dalam ruangan kemudian diberi gass beracun. Penyelesaian: Holocaust adalah kasus pembunuhan masal sepanjang sejarah, akan tetapi dunia tidak tinggsl diam atas kejadian ini, pasca perang dunia II semua yang ikut serta kejadian ini menjadi buronan internasional. Sebagai penjahat perang dan kemudian dihukum mati. 2. Pembantaian Rwanda Pembantaian Rwanda terjadi di Rwanda Afrika Tengah. Kejadian ini terjadi dalam periode 100 hari pada tahun 1994. Peristiwa pembantaian Rwanda dimulai 6 April 1994 sampai kurang lebih 100 hari kedepannya. Pelaku pembantaian Rwanda yang terjadi di Rwanda adalah sekelompok ekstremit Hutu yang dikenal sebagai interahamwe. Korban pada pembantaian Rwanda adalah 800.000 warga yang berasal dari suku Tutsi dan Hutu moderat. Aspek pelanggaran pada aspek pembantaian Rwanda adalah pembunuhan yang dilakuakan dengan cara genosida. Penyelesaian: pembunuhan besar-besaran ini sayangnya tidak mendapatkan perhatian besar padahal dengan jumlah korban sebanyak itu dunia Internasional PBB haruslah turun tangan. Itupun teerlambat dengan 2500 personal tidak mampu mengatasi tersebut. Disini pemerintah harus bersikap tegas karena ini termasuk M TAUFAN SOFYAN

perang saudara.
3. Pelarangan pengunaan jilbab di Perancis

peristiwa ini terjadi di Eropa tepatnya di negara Prancis, peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 2009 mungkin bahkan sampai sekarang. Pelakunya yaitu pemerintah yang mengeluarkan kebijakan Prancis tentang pelarangan penggunaan jilbab, ini mendapat banyak kecaman. Terutama dari para negara sahabat yang mayoritas muslim. Kebijakan ini merupakan pelanggaran HAM, khususnya bagi para warga muslim yang berada di Prancis. Padahal warga muslim perancis juga banyak. Aspek pelanggarannya yaitu, kebijakan ini adalah pelanggaran HAM kepada warga muslim, mereka tidak diperkenankan untuk menggunakan jilbab, ini merupakan pelanggaran mengatasnamakan agama. Penyelesaian: pemerintah perancis harus mencabut keputusan ini karena di Perancis sendiri banyak yang muslim, seharusnya Prancis bisa bertoleransi. 4. Genosida Srebenica Genosida srebenica terjadi di daerah Srebenica Bosnia. Pembantaian ini terjadi pada Juli 1995. Pelaku pembantaian Srebenica adalah pasukan Serbia Bosnia pimpinan Ratko Mladic. Selain itu pasukan Serbia Bosnia, pasukan para militer. Serbia Scorpion juga ikut serta dalam peserta ini. Korban pembantaian Srebenica ini adalah sekita 8000 remaja dan laki-laki etnis Bosnia. Aspek pelanggaran yang dilakukan adalahpembunuhan masal dengan mengatasnamakan agama. Penyelesaian: kasus ini adalah kasus pembunuhan masal terbesar pasca perang dunia II. Ini adalah saudara di negara pecahan Yugoslavia. Mungkin menjadi pemisah Serbia Bosnia menjadi negara sendiri merupakan jalan terbaik. 25 Pembinasaan Bangsa Armenia Oleh Imperium Utsmani Turki. Tanggal 24 april 1915, terjadi pembinasaan bangsa Armenia oleh imperium Utsmani Turki. Anak-anak dan wanita ditelantarkan tanpa air dan pangan di gurun pasir. Wanita diperkosa dan dibunuh, laki-laki dibantai secara massal. Sisanya MOHAMMAD NUR KHOTIB

mati karena kelaparan, penyakit dan bunuh diri. Perkiraan jumlah korban pembantaian sekitar 1,5 juta rakyat Armenia. Daerah pembantaian meliputi Armenia (Assyiria) di tenggara Turki (Mesopotamia kuno). Penyelesaian : Perjuangan rakyat Armenia saat ini hanyalah untuk sebuah pengakuan.Penyidikan dilakukan tahun 1919 dan 1921. Terkuaklah rencana dan pelaksanaan operasi genosida itu. Pelaku genosida terbukti dan dinyatakan bersalah. Parlemen Inggris untuk Wales. Amerika pun mengakui genosida Armenia. Hal itu terwujud melalui keputusan Senat Amerika tahun 1997. 25 Pelanggaran HAM Amerika Serikat Kapan dan di mana sejak April 2004, di beberapa penjara serangan Amerika Serikat, penjara Abu Ghuraib di Irak, Afganistan, dan Guantanmo. Siapa yang melanggar : militer Amerika Serikat Yang di langgar itu siapa : tahanan Amerika Serikat, penjara abu Ghuraib di Irak, Afganistan, dan Guantanmo. Aspek yang di langgar : hak-hak sipil dan politik. Penyelesaian kasus itu amerika Serikat harus mengambil tindakan cepat untuk menghapus semua bentuk penyiksaan danperlakukan buruk terhadap tahanan oleh personel Militer dan sipil, di teritori mana saja di bawa juridiksinya, dan harus segera serta melakukan tindakan investigasi secara mendalam, menuntut semua yang bertanggung jawab bagi tindsakan semacam itu, dan menjamin mereka di hokum secara wajar, menurut keseriusan kejahatan. Analisis : komite HAM harus tegas kepada Amerika Serikat kalau Amerika MUHAIMINA

Serikat itu benar-benar melanggar HAM berat. PBB harus ikut bertindak kepada Amerika Serikat, karena Amerika Serikat telah meratifikasi konfensi PBB yang menentang penyiksaan dan konvensi ke tiga dan keempat Gevena. 26 27 1. Genosida Bangsa Aborigin

MUKHAMMAD BURHANUDDIN NOVIA MARISA

Waktu kejadian Tempat kejadian Pelaku Korban

: Pada tahun 1770-1900. : Di pantai timur Australia : Kolonisasi Inggris pimpinan James Cook : Penduduk aborigin Australia

Aspek Pelanggaran : Pengambilan alih daerah pantai timur Australia secara paksa,Selain itu menjadi bencana besar bagi penduduk aborigin Australia, serta penyebaran penyakit dengan sengaja. Penyelesaian : Hak Asasi bangsa Aborigin harus tetap di pertahankan,karena seorang James Cook yang mengambil alih daerah tersebut tidak memiliki Hak sama sekali atas daerah tersebut,maka dari itu harusnya di tuntut di Mahkamah Internasional,Karena hal itu sudah merugikan banyak pihak. Selain itu juga, cara James Cook melakukan pembantaian secara besar-besaran yang pada akhirnya merugikan banyak nyawa melayang,dan itu semua yang pada akhirnya menuntut Hak-hak Asasi Manusia suku aborigin untuk hidup.

2.

Pembantaian Bangsa Armenia Waktu kejadian Tempat kejadian : Sekitar Perang Dunia I (dari tahun 1915 1917) : Di gurun pasir Suriah dan Mesopotamia

Pelaku Korban

: Tentara Kerajaan Ottoman Turki : Orang-orang Armenia

Aspek Pelanggaran : Sebagian besar tanah orang Armenia dikuasai oleh orang Turki Ottoman, Serta pembantaian beribu-ribu orang Armenia, Penyelesaian : Dengan di pojokkannya Bangsa Turki Ottoman sebagai bangsa yang telah melakukan Genosida di Armenia, itu akan membuat bangsa turki malu apabila terdengar oleh bangsa lain. Serta penyangkal adanya Genosida di Armenia, tidak menutup kemungkinan sebagian besar ilmuwan dari negara Barat dan Rusia percaya adanya genosida pernah terjadi dan dilaksanakan secara sistematis oleh kaum Turki Muda.

3. Pembantaian di Rwanda

Waktu kejadian tanggal

: Periode 100 hari pada tahun 1994. Tepatnya pada

6 April 1994

Tempat kejadian Pelaku

: Kota Nyarubuye berjarak 100 km dari timur Kigali : Sekelompok ekstremis Hutu yang dikenal sebagai

Interahamwe

Korban : Etnis Tutsi Aspek Pelanggaran : Pembantaian suku tutsi di Rwanda, yang di dunia internasional juga dikenal sebagai genosida Rwanda, oleh sekelompok ekstremis Hutu.

28

Penyelesaian : Hak hidup etnis Tutsi patut di perjuangkan, padahal pembunuhan Presiden Rwanda masih belum jelas tentang siapa pembunuhnya. Dan sekelompok ekstremis Hutu ini sudah asal memblokade jalan yang menurutnya itu cara terbaik untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan Presiden Rwanda. Bukan dengan cara melakukan pembantaian yang justru menambah masalah baru dan kemungkinan besar masih ada korban baru yang berjatuhan 1. Tragedy Santa Cruz SAMSUL ARIFIN kejadian ini terjadi pada tanggal 12 November 1991, di Santa Cruz, Dili, Timor Leste. Pelaku peristiwa ini adalah 72 perwira militer Indonesia. Yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah korbannya 200 warga Santa Cruz, Dili, Timor Leste tewas dan 400 lainnya terluka. Aspek pelanggarannya yaitu Pembantaian. Penyelesaian: seharusnya peran pemerintah maupun organisasi PBB sangat penting untuk menuntaskan kasus tersebut. Karena sedah 20 tahun kasus tersebut terkatung-katung penyeleseiannya yang tidak kunjung selesai. 2. Pembantaian Srebenica pembantaian Srebenica terjadi di daerah Srebenica Bosnia. Pembantaian ini terjadi pada Juli 1995. Pelaku pembantaian Srebenica adalah pasukan Serbia Bosnia pimpinan Ratko Mladic. Selain itu pasukan Serbia Bosnia, pasukan para militer. Serbia Scorpion juga ikut serta dalam peserta ini. Korban pembantaian Srebenica ini adalah sekita 8000 remaja dan laki-laki etnis Bosnia. Aspek pelanggaran yang dilakukan adalah pembunuhan masal dengan mengatasnamakan agama. Penyelesaian: Untuk menyelesaikan kasus tersebut,parlemen Yugoslavia bertindak secara tegas mengenai pembunuhan yang terjadi pada ramaja dan etrnis-etnis muslim Bosniak di sana. Karana dalam menyelesaikan perkera tersebut di butuhkan suatu ketegasan oleh pemerintahan tersebut. Yang menetapkan bahwa hal tersebut merupakan sebagai genosida dan menetapkan para militer Serbia ikut bersalah dan harus mempertanggung jawabkan kasus tersebut. Jika Serbia tidak mau mempertanggungjawabkan kejadian tersebut peran PBB yang mengambil alih

kasus tersebut. 3. Tentara Israel langgar HAM di Gaza, peristiwa ini terjadi di Gaza pada pertengahan tahun 2008-2009. Pelaku pada peristiwa ini adalah tentara Israel yang membunuh warga sipil. Korbannya Sekitar 1300-an warga Palestina dan 13 warga Israel tewas dalam serangan Israel ke Gaza. Aspek pelanggaran kasus ini adalah pembunuhan. Penyelesaian: Konflik di tubuh dua negara serumpun tersebut memang tidak pernah kunjung terselesaikan kasusnya. Seharusnya peran PBB sangat penting untuk menyelesaikan kasus tersebut. Yaitu, dengan memberi sangsi yang tegas terhadap Israel. Dengan cara apapun kasus tersebut bisa terselesaikan kerena sudah melanggar HAM berat di dunia. 4. 66 Jurnalis Tewas di Dunia pada tahun 2011, ini terjadi pemerintah dan para aparat. jurnalis meninggal dunia dan Aspek pelanggarannya pada penculikan dan penahanan. pada saat ini, di seluruh dunia. Pelakunya ialah Korbannya ialah para jurnalis di dunia, yaitu 66 yang lainnya ada yang diculik, dan di penjarakan. kasu ini adalah pembunuhan atau pembantaian,

29

Penyelesaian: Seharusnya wartawan di beri perlindungan dengan adanya undangundang. Dengan itu para wartawan tersebut sudah mempunyai badan hukum yang berlaku. 1.PELANGGARAN HAM AMERIKA SERIKAT SELVIA MAYANG SARI Artikel ini dikutip dari buku Human Rights Violation by The United States of America yang dikeluarkan pada 2007 oleh Departemen HAMKementerian Politik Luar Negeri, Iran. Ini merupakan buku pertama yang ditulis mengenai pelanggaran HAM berat oleh AS yang terang-terangan berdasarkan sumbersumber dari berbagai lembaga internasional. Buku ini menggunakan lebih dari 117

referensi sebagai sumber data dan informasi tentang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh AS. Ketaatan, promosi dan perlindungan HAM berdasarkan penghormatan pada perbedaan budaya dalam kerangka universalitas merupakan salah satu pilar kehidupan modern saat ini, yang ditandai dengan globalisasi yang sedang tumbuh. Negara-negara bertanggung-jawab dalam domain HAM berdasarkan kenyataan mereka memiliki instrumen-instrumen kekuatan yang diperlukan untuk memberi arah dan efektualitas kepada kekuatan aktif globalisasi. Karena itu, perangai HAM para pemain yang lebih berpengaruh di dunia memiliki dampak besar pada semua aspek kehidupan modern, termasuk penetapan standar dan aplikasi HAM di dunia. Jelas, pelanggaran hak-hak sipil dan politik oleh Pemerintahan AS terhadap mereka yang ada di dunia dalam apa yang disebut perang terhadap teror tak dapat disamakan dengan pelanggaran HAM oleh sebuah pemerintahan kecil dalam wilayah yang kecil. Situasi yang mengerikan di tempat-tempat seperti Tanjung Guantanamo dan Bagram dan kisah-kisah tentang pusat-pusat penahanan rahasia di seluruh dunia akan berdampak negatif terhadap struktur konsep hukum internasional tentang HAM dan penerapannya di dunia. Lebih parah lagi, itu akan digunakan sebagai rujukan oleh pihak lain, menemukan interpretasi negatif atas ketentuan hukum internasional terhadap HAM di dalam kultur unilateralisme yang sedang tumbuh. Sejak April 2004, ketika potret pertama muncul mengenai personel militar AS menghina, menyiksa, dan juga memperlakukan dengan buruk tahanan di penjara Abu Ghuraib di Irak, pemerintahan AS berulangkali mencoba memotret pelanggaran HAM itu sebagai insiden yang terpisah, kerja segelintir tentara yang buruk yang bertindak tanpa perinta. Kenyataannya, satu-satunya aspek pengecualian dari pelanggaran di Abu Ghuraib adalah potret. Tetapi kenyataannya pola pelanggaran ini tidak berasal dari aksi beberapa tentara yang melanggar hukum. Kejadian itu berasal dari keputusan yang dibuat oleh Pemerintahann AS

untuk membelokkan, mengabaikan, atau mengesampingkan hukum. Kebijakan administrasi yang menciptakan iklim Abu Ghuraib dalam tiga cara fundamental pengelakkan dari hukum intenasional, menerapkan metode interogasi yang bersifat memaksa dan pendekatan tidak melihat kejahatan, tidak mendengar kejahatan pemerintahan Bush. Kendati fakta bahwa AS telah meratifikasi Konvensi PBB yang menentang penyiksaan dan Konvensi Ketiga dan Keempat Geneva, dan bahwa Pemerintahan AS telah mengakui bahwa perjanjian-perjanjian dimaksud mengikat dalam perang untuk pembebasan Irak, terlihat bahwa Pemerintahan Bush mengklaim para tahanan yang diambil dari Abu Ghuraib tidak digolongkan sebagai tahanan perang dibawah hukum internasional. Bagaimanapun, dalam jawaban, beberapa ahli hukum telah mengungkapkan bahwa AS dapat diwajibkan untuk mengadili beberapa prajuritnya untuk kejahatan perang dan dibawah Konvensi Ketiga dan Keempat, tahanan perang orang sipil yang ditahan dalam suatu perang tak dapat diperlakukan dalam perangai yang merendahkan, dan pelanggaran dalam seksi itu adalah pelanggaran berat. Sejak kejatuhan pemerintahan Taliban di Afganistan, pasukan pimpinan AS telah menangkap dan menahan ribuan orang dan warga negara asing lain di seluruh . Fasilitas penahanan AS yang utama di adalah di pangkalan udara Bagram. CIA juga menahan tahanan yang tak jelas jumlahnya, di pangkalan udara Bagram dan lokasi lain di Afghanistan, termasuk di Kabul . Ada banyak laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh personel militer dan intelijen AS di Afghanistan. Menurut Human Rights Watch, personel militer dan intelijen AS di Afghanistan melakukan sistem interogasi yang meliputi penggunaan deprivasi tidur, deprivasi indera, dan memaksa tahanan untuk duduk atau berdiri dalam posisi yang menyakitkan untuk periode waktu yang lama.. Dalam hal ini, AS telah gagal memberi penjelasan yang cukup atas tuduhan perlakukan buruk terhadap tahanan oleh personel militar dan intelijen AS di Afghanistan. Human Rights

Committee telah mencatat dengan keprihatinan kekuarangan-kekurangan menyangkut kemerdekaan, ketidak-berpihakan, dan efektivitas investigasi menjadi tuduhan penyiksaan dan kekejian, perlakukan atau hukuman yang tidak manusiawi atau merendahkan yang ditimpakan oleh militer dan personel non militer AS atau pekerja kontrak, di fasilitas penahanan di Guantanmo, Afghanistan, Irak, dan lokasi di luar negeri lainnya, dan pada kasus-kasus kematian yang dicurigai di tempat tahanan di salah satu lokasi-lokasi ini. The Committee menyesal AS tidak memberikan informasi cukup menyangkut penuntutan yang dilontarkan, hukumanhukuman dan reparasi yang dijamin buat korban. Sejak 2002 Kamp Guantanamo telah menjalankan perannya sebagai penjara militer dan kamp interogasi dan menahan lebih dari 775 tahanan dari 44 negara dan kebanyakan orang-orang yang dicurigai oleh pemerintahan AS sebagai operatif Al-Qaeda dan Taliban; terlebih, penggunaaan Guantanmo sebagai penjara militer telah diserang oleh organisasi-organisasi hak asasi manusia dan para pengritik lain, yang mengutip laporan-laporan bahwa para tahanan telah disiksa atau diperlakukan secara kejam. The Committee Against Torture (CAT) menyuarakan keprihatinannya atas laporan-laporan yang bisa dipercaya mengenai tindakan penyiksaan atau kekejian, tidak manusiawi dan perlakukan yang menghina atau hukuman yang dilakukan oleh anggota militer dan sipil tertentu di dan Irak. Juga menjadi keprihatinan bahwa investigasi dan penuntutan banyak kasus-kasus ini, termasuk suatu hasil dalam kematian tahanan, telah membawa pada hukuman yang lembut, termasuk sifat administratif atau kurang dari satu tahun penjara. Dalam hal ini, AS harus mengambil tindakan cepat untuk menghapus semua bentuk penyiksaan dan perlakukan buruk terhadap tahanan oleh personel militer dan sipil, di teritori mana saja dibawah juridiksinya, dan harus segera serta melakukan tidakan investigasi secara mendalam, menuntut semua yang bertanggung jawab bagi tindakan semacam itu, dan menjamin mereka

dihukum secara wajar, menurut keseriusan kejahatan. Jelas, AS telah secara eksplisit dan sistematik melanggar standar internastional menyangkut perlakukan manusiawi terhadap tahanan yang membawa pada keberatan yang dimunculkan oleh organisasi internasional inter alia Human Rights Commission and Committee Against Torture. 2. KASUS PELANGGARAN HAM IRAN DIBAHAS PARLEMEN DI JERMAN Sejak beberapa minggu terakhir seluruh dunia khawatir, Sakineh Ashtiani di Iran harus menjalani hukuman rajamnya, dengan dakwaan perzinaan. Parlemen Jerman juga membicarakan kasus Sakineh dan situasi HAM di Iran. Masih ada secercah harapan. Dalam beberapa hari terakhir ini terdengar kabar bahwa hukuman rajam Sakineh Ashtiani tidak jadi dilaksanakan. Sakineh Ashtiani adalah perempuan Iran yang dijatuhi hukuman rajam oleh pengadilan dengan dakwaan perzinaan. Ute Granold, dari fraksi Uni Kristen Demokrat Jerman CDU/CSU sangat berhati-hati dalam menanggapi informasi ini. "Terdengar kabar dari Dewan Hak Azasi Manusia Iran, bahwa akan ada amnesti. Apakah itu benar, kami tidak tahu. Tapi saya pikir, tekanan publik, dan tentunya tekanan publik internasional menunjukkan bahwa orang bisa mengubah sesuatu," kata Ute Granold. Namun masih belum jelas apakah memang akan ada pengampunan bagi Sakineh Ashtiani, atau hukuman rajam itu dialihkan menjadi hukuman yang lain. Masih belum diketahui pula bagaimana nasib kedua jurnalis Jerman yang ditangkap ketika berusaha mewawancarai putra Sakineh Ashtiani. Kedua pewarta itu saat ini mendekam di tahanan. Maka dari itu parlemen Jerman memutuskan untuk terus menekan pemerintah Iran. Semua partai politik di Jerman, kecuali Partai Kiri yang

mengeluarkan pernyataan sendiri, menuntut pengampunan Ashtiani dan perbaikan situasi hak azasi manusia di Iran. Hukuman mati atas dakwaan perzinaan, keluar dari agama Islam, atau pun homoseksualitas menjadi agenda sehari-hari di Iran. Itulah yang disebutkan oleh Volker Beck, ketua fraksi Partai Hijau di parlemen Jerman. Ditambahkannya, "Pengakuan atau tuntutan para saksi pada umumnya merupakan hasil tekanan atau bermuara pada pertikaian keluarga. Para saksi seringkali menarik kembali pengakuannya, tapi hukuman matinya tetap dijatuhkan." Selain itu, sejak pemilihan presiden yang lalu dan protes terhadap pemerintah Iran setelahnya, meningkat ancaman terhadap para tokoh oposisi. Sejak aksi protes berkepanjangan digelar di Iran, ribuan orang ditangkap, namun ratusan di antaranya berhasil menyelamatkan diri ke Turki. Marina Schuster dari Partai Demokrat Liberal FDP mengatakan, "Dan oleh sebab itu pemerintah Jerman, setelah apa yang disebut Revolusi Hijau, memutuskan untuk menerima warga Iran yang mengungsi ke Turki dan tidak tahu mereka harus tinggal di mana. Saat ini ada 29 orang yang datang ke Jerman."Jerman ingin menerima keseluruhan 50 pengungsi jenis ini. Angelika Graf dari partai oposisi, Partai Sosial Demokrat (SPD), menyambut keputusan ini. "Kami akan lebih senang lagi, kalau mungkin, jumlah 50 orang pengungsi itu ditingkatkan. Kami ingin agar ini dikaji, ujar Graf. Namun fraksi-fraksi di parlemen Jerman tidak menemukan kesepakatan berkaitan usulan SPD tersebut. 3. APRESIASI HAM DI BELANDA Oleh Jafaruddin - PEMBANTAIAN Rawagede adalah salah satu bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang dilakukan tentara Belanda. Penduduk Rawagede dibantai secara tragis dan sadis pada 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama. Ratusan warga sipil menjadi korban dalam pembantaian tersebut. Ketika itu tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang.

Pertempuran kemudian berkobar di daerah antara Karawang dan Bekasi, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dari kalangan sipil. Lebih sadis lagi, 4 Oktober 1948, tentara Belanda kembali melancarkan pembersihan. Perkiraan jumlah korban tewas dalam pembantaian itu bervariasi, mulai dari 150 orang hingga lebih dari 430 orang. Sebagian besar penduduk laki-laki Desa Rawagede dieksekusi. Menurut saksi mata saat itu, para lelaki tersebut dijejerkan dan ditembak mati Menyimak fakta sejarah di atas memang menyedihkan pembantaian terhadap warga sipil, dan kekejaman tersebut juga patut dikutuk. Apa yang dialami oleh masyarakat Rawagede ketika itu, juga pernah dialami masyarakat Indonesia di sejumlah provinsi lain, lebih-lebih di Aceh mulai masa Daerah Operasi Militer (DOM), yang terjadi beruntun tahun 1999 Seperti Simpang KKA, gedung KNPI, pembantaian Tgk Banqiah dan santrinya, Pembantaian di Krueng (sungai) Arakundou, Aceh Timur. Kemudian Bumi Flora 2001 dan selanjutnya darurat militer. Namun, setelah peristiwa itu, bagaimana upaya penyelesaian yang dilakukan Pemerintah Belanda terhadap masyarakat Rawagede untuk menebus dosanya. Bagaimana pula penyelesaian yang dilakukan Pemerintah Indonesia juga Aceh terhadap seberat kasus pelanggaran yang masih teringat jelas di ingatan korban dan masyarakat. Pelajaran Penting Baru-baru ini Pengadilan Den Haag memenangkan gugatan janda korban pembantaian Rawagede (sekarang terletak di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang) pada tahun 1974 dan mengaku negaranya bersalah dalam peristiwa tersebut. Dalam putusannya, majelis hakim memerintahkan Pemerintah Belanda membayar kompensasi kepada janda korban pembantaian di Rawagede. Gugatan hukum ini diajukan 11 janda korban brutalitas tentara Belanda pada 9 Desember

1947, dua tahun setelah Indonesia merdeka. Gugatan dilakukan sejak 2008 di Pengadilan Belanda di Den Haag. Pada 14 September 2011, pengadilan memutuskan, Pemerintah Belanda dinyatakan bersalah dan harus membayar kompensasi kepada para keluarga korban peristiwa itu (kompas.com). Dalam putusan itu banyak pelajaran penting yang dapat dipetik, dan menjadi cermin bagi Pemerintah Indonesia dan juga Pemerintah Aceh. Karena masih banyak kasus pelanggaran berat yang terjadi masa silam, belum ada penyelesaian. Sementara korban masih mengalami trauma yang berkepanjangan, tapi tak penuntasan kasus dan pemenuhan hak korban. Mengapa penting? Karena dalam putusan Pengadilan Den Haag bukan hanya tersirat kesadaran hakim untuk menegakan hukum yang independen dan integritas. Tapi juga menunjukkan keberpihakannya kepada penghormatan HAM dan pemenuhan hak korban pelanggaran HAM. Pengadilan Den Haag serius untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Buktinya, hakim menolak penerapan statute of limitation atau kejadian yang telah kedaluwarsa yang terjadi lebih dari lima tahun. Hakim masih mempertimbangkan fakta pelanggaran HAM yang terjadi, selama hak-hak korban belum terpenuhi, meski kasusnya terjadi 64 tahun silam. Keseriusan lain yang dilakukan Pemerintah Belanda terhadap kasus tersebut, meminta maaf berkali-kali kepada masyarakat Rawagede sebelum mengeluarkan bantuan berupa kompensasi atas vonis yang telah ditetapkan pengadilan Den Haag. Putusan tersebut mendapat respon yang luar biasa dari para pihak di Indonesia tak terkecuali lembaga Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), yang ikut mengapresiasi. Nah, bagaimana dengan kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dan provinsi Aceh. Kita belum melihat adanya keinginan baik dari pemerintah untuk benarbenar menyelesaikannya sebagai langkah menegakan hukum. Indonesia memiliki sejumlah kasus pelanggaran HAM berat. KontraS mencatat ada delapan kasus HAM berat di Indonesia yang belum tersentuh proses hukum.

Di antaranya, kasus pembantaian Massal 1965 yang menewaskan 1,5 juta orang, kasus Penembakan Misterius petrus dari 1982 sampai 1985 yang menewaskan 1.678 warga. Kasus di Timor Timur Pra referendum 1974-999 yang menewaskan ratusan ribu warga, kasus-kasus di Aceh Pra DOM yang menewaskan ribuan warga. Kasus di Papua 1966 yang menewaskan ribuan warga, kasus Dukun Santet Banyuwangi tahun 1998 yang menewaskan puluhan warga. Kendati ada kasus yang diselesaikan, tapi sampai sekarang masih macet di tengah jalan. Ini mengindikasikan pemerintah kita belum serius untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Padahal kasus Rawagede yang di putuskan putusan Pengadilan Den Haag sudah 64 tahun silam terjadi. Bahkan sekarang hanya tinggal ahli waris. Tapi kenapa kasus Indonesia yang masih membekas di ingatan para korban belum diselesaikan? Potensi Terjadi Menurut penulis ada dua kemungkinan yang berdampak bagi Indonesia dengan belum adanya penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Pertama, kasus-kasus serupa sangat berpotensi terjadi ke depan lagi, karena tak ada sanksi yang dapat memberi pelajaran kepada para pelaku. Kasus pelanggaran Ham terus meningkat di Indonesia salah satu faktornya karena tak ada penyelesaian. Bahkan kemungkinan lain Indonesia akan mendapat nomor urut satu di Dunia sebagai negara terbanyak kasus pelanggaran HAM. Kedua, korban dan ahli waris korban pelanggaran HAM menjadi apatis terhadap penegakan hukum di Indonesia. Bahkan juga bisa berkemungkinan ke depan akan terjadi aksi pemberontak sebagai reaksi tidak adanya perhatian pemerintah untuk menyelesaikan. Untuk menyelesaikan kasuskasus pelanggaran HAM di Indonesia, Pemerintah Indonesia bisa bercermin kepada putusan Pengadilan Den Haag terhadap kasus Rawagede. Karena kasus ini sudah terjadi 64 tahun lalu, tapi kenapa Pemerintah Belanda mampu

menyelesaikannya. Padahal Kitab Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang digunakan Indonesia adalah produk Belanda zaman dulu. Jadi sangat berkemungkinan untuk diselesaikan. Hanya satu saja yang menjadi persoalan adalah, apakah pemerintah berkeinginan untuk menyelesaikan? Bagi Aceh Pasca ditandatangani MoU Helsinki, pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) dan Pengadilan HAM di Aceh sudah didengungkan untuk pengusutan kasus pelanggaran HAM masa lalu. Tapi sampai sekarang raqan KKR belum juga jelas juntrungnya. Penulis memprediksi jika pada kepemimpinan eksekutif dan legislatif periode sekarang Rancangan Qanun (Raqan) KKR tak bisa dilahirkan, besar kemungkinan pada periode kepemimpinan ke depan semakin tak jelas. Mengapa? Karena pilot Aceh sekarang Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar sangat erat dengan para korban konflik, mereka juga bagian dari korban konflik. Begitu juga anggota DPR Aceh yang didominasi oleh Partai Aceh (PA). Mereka juga sangat erat dengan korban konflik. Seharusnya raqan KKR juga menjadi prioritas bagi mereka untuk pengungkapan kasus pelanggaran di Aceh, kemudian pemenuhan hak mereka. Semoga!* 4. IRAN PELAJARI KASUS PELANGGARAN HAM NATO DI LIBYA Duta Besar Iran untuk Italia Mohammad Ali Hosseini Jumat (14/10/2011) menyerukan negara-negara Eropa untuk mempelajari berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia yang dibuat oleh negara-negara anggota NATO di Libya. Seruan itu dibuat dalam pertemuan di Roma antara Hosseini dan Ketua Komisi Hak Asasi Manusia di Senat Italia Pietro Marcenaro.

Mengacu pada berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia di Libya yang dibuat oleh anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Hosseini mendesak badan-badan internasional yang bertanggung jawab atas isu-isu hak asasi manusia untuk masuk dan mempelajari situasi di Libya, di mana banyak warga sipil menjadi korban resolusi Dewan Keamanan PBB.Mengecam komentar-komentar Marcenaro tentang sejumlah putusan peradilan baru yang dikeluarkan oleh pengadilan Iran, Dubes Hosseini mengatakan bahwa standar kebijakan Barat berhadapan dengan masalah hak asasi manusia itu sendiri, dan Barat menggunakan isu tersebut untuk mempengaruhi politik negara-negara tertentu, dua masalah utama yang dihadapi masalah hak asasi manusia. Hosseini juga mengatakan bahwa Teheran siap untuk mengadakan pembicaraan yang jelas dan transparan dengan negara-negara Eropa tentang masalah hak asasi manusia. Sementara itu, tim Italia mengatakan bahwa semua negara di dunia yang bertanggung jawab untuk menghormati hak asasi manusia. Marcenaro menyebut Iran sebagai satu negara dengan demokrasi yang dinamis. 5. PELANGGARAN HAM YANG MELUAS DILAKUKAN AS MAKIN

Amnesty Internasional (AI) dalam laporannya yang dirilis Rabu (3/5) menilai Amerika Serikat sebagai negara yang telah banyak merusak kerangka hukum internasional tentang hak asasi manusia, dengan melakukan prosedur-prosedur penjatuhan sangsi yang mengarah pada penyiksaan terhadap para tahanan

baik di AS maupun di penjara-penjara AS di seluruh dunia. "Pemerintah AS bukan hanya sudah gagal mengambil langkah untuk menghapus penyiksaan, tapi sudah menimbulkan iklim di mana penyiksaan dan tindakan sewenang-wenang bisa makin meluas, termasuk dengan cara upaya AS mempersempit definisi penyiksaan," kata Curt Goering, Deputi Senior Direktur Eksekutif Amnesty Internasional di AS. "Meskipun pemerintah AS terus melontarkan kecamannya terhadap tindak penganiayaan dan tindakan yang sewenang-wenang, pernyataan mereka bertentangan dengan apa yang mereka lakukan di lapangan," sambung Goering. Laporan AI tersebut sudah dikirim ke Komite PBB Anti Penyiksaan untuk diteliti sejauh mana AS sudah melakukan pelanggaran terhadap konvensi internasional anti penyiksaan dan kekezaman lainnya, melakukan tindakan atau hukuman yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia. Komite PBB yang anggotanya terdiri dari para ahli itu melakukan kajian secara periodik terhadap negara-negara yang ikut menandatangani konvensi tersebut, dan untuk AS rencananya akan dilakukan pada hari Jumat (5/5) besok. Kajian terhadap pelanggaran HAM AS dilakukan pada tahun 2000 lalu. Laporan AI sepanjang 47 halaman menyebutkan bahwa penganiayaan 'mejalela' di penjara-penajara milik AS yang ada di Irak, Afghanistan, Guantanamo dan di beberapa tempat lainnya. "Bukti-bukti atas makin meluasnya penyiksaan dan tindakan kejam lainnya, serta perlakuan yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia terhadap para tahanan yang ada di penajara-penajara AS, terus bermunculan," demikian bunyi laporan itu, yang juga mencantumkan kasus-kasus tahanan yang tewas di penjara-penjara AS di Irak dan Afghanistan akibat penyiksaan. Laporan AI juga

menyebutkan, terkait dengan maraknya pelanggaran HAM yang dilakukan AS tidak ada satupun agen-agen AS yang dituntut atas tindak kekezaman dan kejahatan perang."Hukuman terberat yang dijatuhkan pada orang yang terlibat dalam kasus tewasnya tahanan akibat penyiksaan di penjara AS, cuma lima bulansama dengan hukuman yang mungkin anda terima di AS jika ketahuan mencuri sepeda," kata Goering. "Dalam kasus ini, hukuman lima bulan diberikan pada pelaku yang telah menyiksa seorang sopir taxi berusia 22 tahun, yang kepalanya ditutup dan dirantai ke atas atap sambil ditendangi dan dipukuli hingga tewas," sambug Goering. Belum lagi kasus-kasus lainnya, seperti penganiayaan terhadap para tahanan Irak di penjara Abu Ghraib yang sempat ditayangkan oleh televisi Australia beberapa waktu lalu, foto-foto dan video yang memperlihatkan kondisi para tahanan, beberapa di antara dalam keadaan berdarah-darah, kepalanya ditutup, diikat ke tempat tidur atau pintu dengan penjaga AS yang tersenyumsenyum di samping para tahanan yang disiksa itu. Komite Palang Merah Internasional (ICRC) bahkan menyebut gambar-gambar itu sangat mengerikan dan merupakan bukti yang jelas atas pelanggaran hukum internasional tentang kemanusiaan. Dalam laporannya, AI menjelaskan bahwa langkah-langkah yang dilakukan AS dalam merespon kasus-kasus penyiksaan di penjara-penjara yang dikelolanya atas dasar apa yang mereka sebut perang terhadap terorisme, masih sangat jauh dari cukup. "Ketika pemerintah AS terus-menerus mengklaim bahwa penyiksaan terhadap para tahanan di penjara-penjaranya terutama dilakukan oleh segelintir prajuritnya yang menyimpang, ada bukti yang nyata yang mengatakan sebaliknya," kata Javier Zuniga, Direktor AI untuk program AS. Ia mengungkapkan, kebanyakan penyiksaan dan dan tindakan sewenang-wenang dilakukan secara langsung berdasarkan prosedur sangsi dan kebijakan yang resmi, termasuk teknik interogasi yang disetujui langsung oleh Menteri Pertahanan

30

Donald Rumsfeld. Beberapa surat kabar AS sudah banyak yang menurunkan laporan tentang keterlibatan Rumsfeld dan mantan komandan AS di Irak, Letnan Jenderal Ricardo Sanchez yang memberikan wewenang dan kebebasan pada para tentara AS yang bertugas di Abu Ghraib untuk mengadopsi beragam taktik penyiksaan dan penganiyaan yang digunakan di kamp penjara Guantanamo."AS sudah lama melakukan pendekatan yang selektif atas standar-standar yang berlaku secara internasional, tapi beberapa tahun belakangan ini, pemerintah AS telah mengambil langkah-langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk mengabaikan kewajibannya terhadap kesepakatan-kesepakatan internasional," papar Zuniga. "Ini merupakan ancaman yang bisa merusak seluruh kerangka hukum hak asasi internasional-termasuk konsensus larangan keras terhadap penyiksaan dan kekezaman lainnya, hukuman dan tindakan yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia," tegas Zuniga. 1. a) Kasus : Pembantaian Rwanda SYILVIA DEWI AYU b) Waktu Kejadian : Pada tahun 1994 c) Tempat Kejadian : Pristiwa ini terjadi di Rwanda d) Pelaku : sekelompok ekstremis Hutu yang dikenal sebagai Interahamwe e) Korban : 800.000 suku Tutsi dan Hutu moderat f) Aspek Pelanggaran : Pembantaian Interahamwe terhadap suku Tutsi dan hutu moderat g) Proses Hukum :Dewan Keamanan PBB yang akhirnya menurunkan jumlah pasukan penjaga perdamaian dari 2500 personel menjadi 450 personel namun tidak mampu mengatasi masalah

2. a) Kasus : Pelanggaran HAM yang terjadi di Kapal Mavi Marmara b) Waktu Kejadian : Kejadianya pada Hari Senin tanggal 31 Mei 2010 c) Tempat Kejadian : Kejadiannya di Peraian Gaza Palestina d) Pelaku : Yang melanggar adalah Pasukan Israel e) Korban : 19 relawan/aktivis pro-Palestina, jurnalis, dan anggota parlemen di perairan internasional. f) Aspek Pelanggaran : Hak Hidup, Hak Kebebasan, kasus penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi dan pelanggaran konvensi Jenewa atas kejahatan perang dan kasus lainnya e) Proses Hukum : Dewan HAM PBB menyelenggarakan persidangan untuk mengeluarkan resolusi mengecam Israel. Hal ini dilakukan setelah Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk oleh Dewan HAM PBB menyatakan Israel melanggar HAM dalam kasus penyerangan relawan kemanusiaan di kapal Mavi Marmara. Kelompok pengacara Turki telah memasukkan gugatan mereka terhadap Israel atas kasus penyerangan di armada kebebasan ke Pengadilan Pidana Internasional (ICC) di Den Haag. Jika pengadilan menerima kasus itu, pejabat Israel yang bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut. 31 1. Benito Mussolini Waktu kejadian : Oktober 1935 Tempat kejadian : Eithopia Pelaku : Mussolini WILMA DANY PERMATA

Korban : 30 ribu penduduk Eithopia

Aspek pelanggaran : Pembantaian, yang dilakukan karena untuk mewujudkan misi tertentu yaitu mengatasi krisis ekonomi . Cara penyelesaian : masalah ini akan di laporkan kepada pengadilan HAM Internasional, untuk mengusut dan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut ke tingkat pengadilan Hak Asasi Internasional, karena ini bagian dari pelanggaran ham tingkat tinggi. Tahun 1922 dia diangkat oleh Raja Viktor Emanulle III sebagai Perdana Menteri pada usia 39 thn.Kemudian dia mulai mencabut semua undang-undang yg dinilai membatasi kekuasaanya, 1925 Mussolini mengubah statusnya menjadi Kepala Pemerintahan dari sebelumnya Perdana Menteri dan tidak lagi bertanggung jawab pada parlemen, hanya raja yg bisa menurunkannya.Mussolini juga mengambil alih dan mengepalai tujuh bidang kementrian. Mussolini juga mengepalai Partai Fasis dan milisi fasis local yaitu MVSN atau Blackshirts yg kerap meneror warga dan juga membentuk satuan \polisi rahasia OVRA. Untuk mengatasi krisis ekonomi membuat kebijakan emas bagi negeri dng cara meminta secara suka rela pada rakyatnya.Sebagai mantan jurnalis dia tahu bahwa media sangat efektif untuk melancarkan pemerintahannya maka dia menggunakan media sebagai propaganda Fasisme menggantikan Liberalisme dan Demokrasi.Oktober 1935 dia menaklukan Eithopia dng serangan udara dan senjata kimia.Dia juga mengeksekusi 30 ribu penduduk Eithopia yg diduga melawan seorang gubernur colonial. 32 PELANGGARAN HAM KOREA UTARA Pelanggaran HAM yang terjadi di Korea Utara dilakukan dalam lingkup luas, termasuk penyiksaan dan hukuman tidak manusiawi dan brutal tanpa proses legal serta ekskusi dengan motif politik dan agama yang terjadi dalam penjara Korea Utara terhadap para narapidana. Lebih dari 200.000 tahanan diyakini ditahan di kamp ini yang menjadi korban penyiksaan. Beberapa diantara mereka adalah WINDA AYU BETYANA

orang Kristen yang dikirim ke penjara yang kejam hanya untuk menyangkal iman di dalam Kristus. Penyelesaian: Sidang umum Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pertama kalinya mensahkan sebuah resolusi, yang menuduh Korea Utara melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia. Antara lain penganiayaan dan kerja paksa. Hal yang juga meresahkan adalah meluasnya kekurangan pangan, yang menghambat pertumbuhan badan dan perkembangan mental anak-anak. Demikian disebutkan dalam resolusi tersebut. Untuk resolusi yang diusulkan Uni Eropa itu, Korea Selatan bersikap abstain. PBB telah mengadopsi resolusi tentang situasi HAM Korea Utara setiap tahun sejak tahun 2005. Pada tahun 2009, resolusi itu diadopsi dengan suara sepakat 97, menolak 19 dan 65 abstain. Tetapi pada tahun 2011, para anggota yang melontarkan kesepakatan mencapai 112 negara.Resolusi tahun ini hampir sama isinya dengan apa yang dicapai pada tahun 2010. Untuk pertama kalinya, resolusi itu mengangkat masalah perlindungan HAM di kamp penjara politik di Korea Utara dan kejahatan kekarasan seksual terhadap wanita termasuk prostitusi dan perdagangan wanita. 33 PEMBANTAIAN RAS ARMENIA a) Waktu dan tempat kejadian PEMBANTAIAN RAS ARMENIA merujuk kepada sebuah peristiwa sekitar Perang Dunia I (dari tahun 1915 - 1917). Akibat munculnya nasionalisme Armenia, orang Turki membantai beribu-ribu orang Armenia antara tahun 1894 hingga 1896. Akan tetapi pembantaian yang paling mengerikan terjadi pada bulan April 1915, saat berlangsungnya Perang Dunia I. b) Pelaku Selama berabad-abad, Armenia ditaklukkan oleh orang Yunani, Romawi, Persia, WINDA NIKITA

Bizantium, Mongol, Arab, Turki Ottoman, dan Rusia. Sejak abad ke-17 hingga masa Perang Dunia I, sebagian besar tanah orang Armenia dikuasai oleh orang Turki Ottoman, yang mengakibatkan orang Armenia menderita Korban
c) Menurut perkiraan para sejarawan, antara 600.000 hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh atau mati kelaparan dalam peristiwa ini. Pembantaian terhadap orang Armenia konon merupakan genosida pertama pada abad ke-20. d) Aspek pelanggaran

Kasus ini aspek pelanggaran terhadap warga Armenia adalah diskriminasi, penganiayaan agama, pajak yang berat dan tindakan kekerasan meski mereka merupakan salah satu suku bangsa minoritas terbesar di kerajaan Ottoman. e) Penyelesaian Parlemen Israel, Knesset, akan menggelar rapat dengar pendapat untuk menentukan apakah akan mengakui peristiwa pembunuhan orang-orang Armenia oleh kekaisaran Ottoman Turki pada era Perang Dunia I sebagai sebuah genosida atau bukan.Sesi dengar pendapat tersebut akan digelar di Komite Luar Negeri dan Pertahanan. Komite tersebut sebelumnya menyebutkan bahwa dengar pendapat tersebut akan dilangsungkan dalam dua minggu. 2) Holocaust Pemusnahan Orang Eropa Keturunan Yahudi Secara Sistematis Oleh Jerman Nazi a) Waktu dan tempat kejadian Holocaust terjadi pada tahun 1940-1945 saat Nazi ingin menguasai Eropa di Jerman pada saat rezim hilter berkuasa dengan Nazi. b) Pelaku Kasus ini adalah pembunuhan masal yang dilakukan oleh para tentara Nazi

dibawah pimpinan Adolf Hilter. c) Korban Korban Holocaust sekitar 6 juta jiwa yang terdiri dari warga Eropa keturunan Yahudi yang berasal dari Jerman, Polandia dan Negara-negara yang dikuasai oleh Nazi. d) Aspek Pelanggaran Aspek pelanggaran Holocaust sendiri adalah tentang pembunuhan massal dengan memasukkan korban ke dalam ruangan kemudian diberi gas beracun, e) Penyelesaian Solusi dari "Persoalan Yahudi" (Jerman:'Die Endlsung der Judenfrage') merupakan rencana Nazi Jerman untuk melakukan genosida secara sistematis terhadap populasi kaum Yahudi Eropa selama Perang Dunia II. Sesudah perang Eichmann ditangkap dan diadili oleh pemerintahan Israel tahun 1961-1962 dan dihukum mati. 3) Larangan Penggunaan Jilbab Di Prancis a) Waktu dan Tempat Kejadian Kasus ini terjadi pada tahun 2009 mungkin masih sampai sekarang dan terjadi di Prancis. b) Pelaku Pelakunya sendiri adalah pemerintah Prancis yang mempunyai kebijakan tentang larangan menggunakan jilbab. c) Korban Korbannya adalah warga Prancis yang muslim,. d) Aspek Pelanggaran

Aspek pelanggarannya adalah warga muslim di Prancis dilarang memakai jilbab, kasus ini merupakan pelanggaran HAM karena termasuk pelanggaran yang mengatasnamakan agama demi kebijakan pemerintah itu sndiri. e) Penylesaian Sebaiknya Pemerintah Prancis harus mencabut peraturan ini, dan lebih menghargai antar umat beragama karena hal ini termasuk mengekang individu dalam persoalan agamanya sehingga dapat melanggar HAM, disamping ituwarga muslim yang ada di Prancis juga cukup banyak. 34 1.Genosida Terhadap Masyarakat Kongo Genosida terhadap masyarakat kongo terjadi pada tahun 1885 hingga abat ke 20.terjadi di kongo. Pemerintahan kolonial Raja Leopold II dari Belgia adalah salah satu penguasa yg menerapkan sistim kerja paksa, pembunuhan massal dan penyiksaan.jumlah korban masyarakat kongo sekitar 30 juta jiwa.penyelesaian konflik tersebut adalah Human Rights Watch menyerukan kepada pemerintah Kongo dan misi penjaga perdamaian PBB untuk meningkatkan perlindungan pengungsi di wilayah tersebut, untuk memastikan bahwa program-program kemanusiaan diprioritaskan. 2.peristiwa nanjing di cina. Peristiwa nanjing cina terjadi pada tahun Pada tahun 1937-1938,dan terjadi di cina. Dalam periode enam minggu, setelah Jepang mencaplok kota Nanjing. Selama periode ini,di perkirakan korban sekitar 350.000 orang warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak dibunuh oleh prajurit Tentara Kekaisaran Jepang.Orang yang bertanggung jawab atas pembantaian Nanjing itu adalah Jenderal Iwane Matsui dan terutama Pangeran Asaka Yasuhiko. Penyelesaiannya adalah meminta pemerintah Jepang untuk meminta maaf dan memberikan ganti rugi kepada korban peristiwa nanjing di cina. 35 1. Genosida terhadap Etnis Minoritas Myanmar. 1998. Terjadi di Myanmar, YULIANA LESTARI Rezim Militer dibawah kepemimpinan Jendral Than Shwe, Korban Etnis YESTIAN A.W

Minoritas di Myanmar. Aspek yang dilanggar adalah Pembunuhan arbitrase dan ektrayudisial, pemerkosaan sistematis, pembunuhan, penahanan arbitrase dengan alasan politik, kerja paksa, militerisasi paksa, penolakan gerakan kebebasan, pembatasan ketat akan agama, pers, ide/gagasan, dan asosiasi. Penyelesaian ASEAN turut berupaya dalam menyelesaiakan masalah pelanggaran HAM di Myanmara salahsalah satunya yaitu dengan menciptakan pengadilan HAM di wilayah ASEAN. Selain itu PBB juga turut memaksa agar perdana menteri Mtanmar yang menjabat turun tahta. 2. Pelanggaran HAM di Kamboja. Pelaku Kaing Guek Eav alias Kamerad Duch. Korban penghuni tahanan S-21 atau Tuol Sleng di Phnom Penh. Aspek yang dilanggar kejahatan kemanusiaan, pembunuhan dan kejahatan perang. Akibat dari kejahatan yang dilakukan tersebut sebanyak 15000 orang yang di tahan dan hanya 7 orang yang selamat dan 3 orang yangsekarang masih hidup. Penyelesaian yang dilakukan adalah dengan mengadili pelaku kejahatan ( KaingGuek Eav ). 36 1. Kasus: bus sekolah dibajak,15 siswa disandera Tempat : nigeria,29.9.2010 Pelanggaran : pembajakan dan penculikanyang melanggar bersenjata Yang di langgar : 15 siswa Aspek yang di langggar : pelanggaran terhadap kebebasan seseorang. Penyelesaian : para aparat kepolisian harus bekerja extra untuk Membebaskan siswa yang disandra. : seseorang yang ZAKKI IMAM ROSYADI

2.kasus : 5 pensiun polisi tewas dibunuh militan nigeria

Tempat : kano ,kota maiduguri , bagian borno,7-9-2010 Pelanggaran : pembunuhan terhadap 5 pensiunan polisi Yang melanggar : militan nigeria Yang di langgar : 5 pansiunan polisi Aspek yang di langggar : mengambil hak hidup orang lain, Penyelesaian : polisi terus mengawasi 3 tempat pergerakan kelompok militan tersebut karna serangan mendadak sering terjadi.

3. Selama 2011,israil bunuh 114 warga palestine

Tempat : jalur gaza,palestine 2011 Pelanggaran : pembunuhan dan perampasan hak. Yang melanggar : pasukan israel Yang di langgar : 15 anak anak,2 wanita dan 467 warga. Aspek yang di langggar : merampas dan mengambil hak seseorang dengan sewenang wenang,termasuk hak hidup. Penyelesaian : seharusnya pbb bertindak tegas,bahwa kebebasan itu adalah hak segala bangsa.

4.kasus : pelanggaran ham terjadi dipenjara liberia tempat : liberia, monrovia (21/9/2011). pelanggaran : membiarkan para narapidana kelaparan dan sakit,akibat kurang makan. yang melanggar : para aparat kepolisian yang di langgar : 1500 sampai 1700 narapidana dalam 15 penjara aspek yang di langggar : hak hidup seseorang dalam masa tahanan Penyelesaian : melaporkan pada amnesti intrnational agar bertindak cepat untuk menyelesaikan kasus ini. 37
1. KASUS : PEMBANTAIAN PENDUDUK ZUHROTUN RAWAGEDE DI DAERAH RAWAGEDE YANG DILAKUKAN TENTARA 110711407068 BELANDA . Waktu : 9 Desember 1947 . Tempat Kejadian : Kampung Rawagede sekarang terletak di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang . Pelaku : Tentara Belanda Korban : Sejumlah 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini . Aspek Pelanggaran : tentara Belanda menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja belasan tahun . Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede. Tanpa ada pengadilan, tuntutan ataupun pembelaan . Tentra Belanda melakukan kejahatan perang . Penyelesaian : Pimpinan Republik kemudian mengadukan peristiwa pembantaian ini kepada

NASUKHA

Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Jasa Baik untuk Indonesia) dari PBB. Namun tindakan Komisi ini hanya sebatas pada kritik tanpa ada sanksi yang tegas atas pelanggaran HAM, apalagi untuk memandang pembantaian rakyat yang tak bedosa sebagai kejahatan perang . Tahun 1969 atas desakan Parlemen Belanda, Pemerintah Belanda membentuk tim untuk meneliti kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan oleh tentara tentara kerajaan Belanda . Tuntutan kepada pemerintah Belanda pertama kali disampaikan oleh Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa Indonesia [KNPMBI] . Yayasan KUKB bersama para janda, penyintas (survivor), dan saksi korban pembantaian di Rawagede menuntut kompensasi dari Pemerintah Belanda . Gugatan hukum ini diajukan 11 janda korban brutalitas tentara Belanda, dua tahun setelah Indonesia merdeka. Gugatan dilakukan sejak 2008 di Pengadilan Belanda di Den Haag. Pada 14 September 2011, pengadilan memutuskan, Pemerintah Belanda dinyatakan bersalah dan harus membayar kompensasi kepada para keluarga korban peristiwa itu . 2. KASUS : PELANGGARAN HAM AMERIKA SERIKAT DI IRAK . Waktu : Sejak Maret tahun 2003 . Tempat Kejadian : Irak Pelaku : Pasukan Tentara Amerika Serikat . Korban : 1.2 juta warga Irak yang terbunuh sejak penyerangan terhadap negeri tersebut pada tahun 2003 . tentara Amerika yang tewas mencapai 4500 orang . Aspek Pelanggaran :

o perang Irak telah menciderai hukum internasional. Perang ini dilakukan tanpa izin Dewan Keamanan PBB dan dengan demikian, perang Irak telah menginjakinjak hak asasi manusia. Terungkapnya penyiksaan di luar batas perikemanusiaan merupakan contoh kasus pelanggaran HAM selama pendudukan 8 tahun Amerika di Irak. o Dalam laporan pelanggaran hak asasi manusia UNAMI bulan Agustus

disebutkan, sekitar 3.009 warga sipil Irak tewas akibat sejumlah tindak kekerasan o Studi yang dilakukan oleh Organisasi Riset Inggris (ORB) dan dipublikasikan pada 2007 menyebutkan bahwa 1.2 juta warga Irak yang terbunuh sejak penyerangan terhadap negeri tersebut pada tahun 2003. o Setiap bulan, aparat kepolisian Irak menemukan ratusan mayat yang menunjukkan tanda-tanda adanya 'penyiksaan yang kejam dan pembunuhan dengan cara eksekusi.' Mayat-mayat yang ditemukan dalam kondisi yang mengerikan, tubuh terbakar akibat bahan-bahan kimia, kulitnya melepuh, tulang belakang, tangan dan kaki patah, bola mata dan gigi hilang, serta luka-luka yang diakibatkan oleh mesin bor atau paku dan luka-luka yang disiram zat asam. o Anak-anak Irak menghadapi secara langsung pembunuhan terhadap mereka melalui serangan ke kampung-kampung dan kawasan berpenghuni sejak pecahnya perang yang dilakukan oleh AS, dimana anak-anak tersebut menjadi korban mortir, ranjau, senjata uranium, dsb, Pembantaian di Haditsah pada tahun 2005 merupakan bukti nyata pelanggaran HAM anak tersebut. Selain itu, juga peledakan bom, penembakan para sniper, dsb, yang juga merenggut nyawa orangorang tidak berdosa, termasuk anak-anak. o Tentara AS dan Inggris (Sekutu) melakukan penyiksaan terhadap anak-anak., bahkan pemerkosaan bagi anak perempuan. Sebanyak 10.000 wanita Irak masih mendekam di tahanan dan penjara sejak penjajahan AS tersebut. o Akibat dari embargo dan penjajahan, memunculkan krisis ekonomi dan hancurnya harga mata uang dinar Irak sehingga memunculkan kemiskinan dan kelaparan bagi mayoritas rakyat Irak yang menyebabkan anak-anak kekurangan gizi dan rentan penyakit. lebih dari 8 juta warga Irak, mayoritas anak-anak sangat membutuhkan bantuan pangan dan setengah penduduk Irak dalam keadaan miskin. o Menurunnya jaminan kesehatan dan pembunuhan terencana terhadap dokter dan tenaga medis menyebabkan bertambahnya beban mereka terutama anak-anak akibat kekurangan dokter dan para tenaga medis tersebut. Institut Brooking menyebutkan bahwa sebanyak 2000 dokter Irak terbunuh, dan sebanyak 250 orang telah diculik. Hampir separuh dokter Irak meninggalkan negeri tersebut, bahkan mencapai lebih dari 75 % diantara mereka dokter, ahli farmasi, dan suster (perawat) sejak 2003. o Menggunakan politik pelaparan selama berminggu-minggu, bahkan

berbulan-bulan, di kota yang dikepung tentara AS sebagai hukuman jamaah sehingga menambah beban dan kesengsaraan bagi anak-anak yang menyebabkan kematian mereka. Selain itu, 70 % faasilitas kesehatan, persediaan air bersih yang tercemar, dsb, juga menyebabkan tingkat kematian bagi anak-anak,. 9. Tercemarnya udara kota-kota besar dengan racun kimia, dan senjata leser yang menyebabkan bertambahnya pengidap kanker, kelainan janin dalam kandungan dan leukimi . Penyelesaian : Ahad 18 desember 2011 secara resmi perang Irak diumumkan telah berakhir. Perang yang berlangsung selama 8 tahun 8 bulan dan 28 hari ini sangat merugikan rakyat Amerika, Irak dan masyarakat internasional. Kepala staf gabungan militer amerika serikat , Jendral Pace mengtakan bahwa intuk menyelesaikan ketegangan yang terjadi , harus diapstikan terwujudnya tiga hal yaitu : Terjaminnya keamanaan , pemerintah yang baik dan kestabilan perekonomian . : PENJARA ISRAEL JADIKAN ANAK-ANAK PALESTINA OBYEK SEKSUAL . Waktu Kejadian : Tempat Kejadian : Palestina Pelaku : Militer Israel Korban : 100 anak Palestina yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual aparat keamanan Israel yang menangkap mereka . Aspek Pelanggaran :
3. KASUS

Defence for Children International (DCI), organisasi hak anak internasional yang bermarkas di Jenewa menyatakan, mereka punya bukti bahwa anak-anak Palestina yang berada di penjara-penjara Israel menjadi obyek penyelewengan seksual oleh aparat keamanan Israel. Israel melarang anak-anak yang Palestina yang mereka tangkap, didampingi

pengacara saat proses penahanan, kecuali jika kasusnya sudah masuk proses pengadilan dan anak-anak itu tidak diberi akses untuk bertemu dengan keluarganya . Militer Israel dalam pernyataan tertulisnya menolak semua tuduhan yang diajukan DCI dan mengatakan bahwa mereka sudah memperlakukan tawanan anak-anak di penjara sesuai hukum internasiona yang berlaku. Penyelaesaian : DCI mengumpulkan pernyataan di bawah sumpah dari sekitar 100 anak Palestina yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual aparat keamanan Israel yang menangkap mereka. Dari jumlah itu, terdapat 14 pernyataan anak Palestina yang mengatakan bahwa mereka telah mengalami pelecehan seksual atau diancam dengan kekerasan seksual untuk menekan anak-anak Palestina itu agar mengakui perbuatan yang dituduhkan aparat keamanan Israel. DCI menyampaikan keberatan mereka tentang tindakan aparat keamanan terhadap anak-anak Palestina itu pada pihak berwenang di Israel . DCI juga sudah menyerahkan laporannya beserta bukti-bukti yang mereka kumpulkan ke lembaga Pelaporan Khusus PBB untuk kasus-kasus penyiksaan agar lembaga internasional itu melakukan tekanan pada Israel supaya menghentikan pelecehan seksual yang dilakukan aparatnya tehadap anak-anak Palestina yang berada di penjara-penjara Israel. Begitupula organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional mengkritik kebijakan-kebijakan penjara Israel terhadap tawanan anak-anak, khususnya anakanak Palestina.

38

1. Kasus pelanggaran HAM di Rwanda, terjadi di Rwanda pada tahun 1994. ZULFATUL ARIFIANTI Pelakunya adalah kaum Hutu. Penyebab dari pembantain kaum Tutsi oleh kaum Hutu dikarenakan kaum Tutsi disamakan derajatnya dengan seekor sapi untuk dibantai. Selain itu adanya kesenjangan social yang semakin mencolok antara kaum Hutu dan Tutsi. Korban kurang lebih 250.000 dari suku Tutsi dan 50.000 dari suku Hutsi Penyelesainnya pasukan perdamaian PBB masuk ke dalam Rwanda namun pasukan ini kemudian di usir oleh Rwanda. 2. Perang Bosnia dan Herzegovina terjadi pada Maret 1992 dan November 1995. Pihak yang terlibat Bosnia dan Republik Federal Yugoslavia dan Kroasia. Penyelesaiannya dimana Dewan Keamanan PBB dengan otoritas yang di milikinya menetapkan konflik tersebut sebagai situasi yang mengancam perdamaian dan keamanan dunia. Selanjutnya, dengan Resolusi Nomor 827/1993 Dewan Keamanan PBB menetapkan pembentukan ICRY sebagai suatu lembaga peradilan intemasional ad hoe yang di maksudkan untuk mengadili pelaku pelanggaran HAM berat (Gross Violations Of Human Right) di wilayah bekas Yugoslavia. Korban dari perang ini diperkirakan ratusan ribu tewas baik penduduk sipil maupun militer. 3. Pemberlakuan sistem Apartheid di Afrika Selatan Terjadi hingga tahun 1990 dan berakhir 1994 Penetapan sistem apartheid yang diberlakukan untuk warga kulit hitam dimana mereka ditempatkan di wilayah termiskin yang disebut sebagai homelands atau tanah air. Mereka memiliki semacam pemerintahan administrasi mandiri. Mereka secara ekonomi, sosial dan politik dikucilkan. Pada tahun 1970 diberlakukan Undang-Undang Kewarganegaraan Tanah Air Bantu Sekitar 500 hingga 1000 warga kulit hitam terbunuh Penyelesainya yaitu Dewan Keamanan PBB memblokir Afrika Selatan dan pada tahun 1976 diberlakukan konvensi anti apartheid. Pelanggaran ham di Filipina . NIKEN FITRI APRILIA

39

1. Kasus : baku tembak antara kepolisian manila dengan sekelompok orang tidak dikenal. 2. Waktu : senin, 20 februari 2012. 3. Kejadian : puluhan pria bersenjata dengan membawa bom & granat menyerang sebuah penjara. 4. Tempat : sebuah penjara di manila. 5. Pelaku : polisi meyakini bahwa pelakunya adalah kelompok pemuda anggota front pembebasan islam moron. 6. Korban : 3 orang tidak dikenal tewas, dan 15 warga sipil luka-luka. 7. Aspek pelanggaran : kepolisian mempunyai HAK untuk mengamankan para narapidana, namun sekelompok millitan datang tanpa konfirmasi dan menyerang hingga terjadinya baku tempak yang melibatkan masyarakat sipil hingga 15 orang terluka dan 3 orang tidak dikenal tewas. Selain itu, kelompok pembebasan islampun mempunyai HAK untuk membebaskan saudaranya yang berada dipenjara, mereka dituduh oleh pihak kepolisian melakukan hal yang tidak mereka lakukan, dan para pihak membebasan islam moron tidak diberi kesempatan untuk melakukan dialog damai dengan pihak terkait. Hal ini jelas melanggar HAK-HAK ASASI MANUSIA. 8. Penyelesaian : pihak kepolisian mengadakan dialog damai terhadap pihak manapun saat terdakwa terbukti bersalah. Pihak kepolisianpun harus mengizinkan siapapun beraspirasi untuk membebaskan salah satu kelompoknya dengan aksi damai, agar tidak terjaadi kerusuhan. Tidak ada lagi penudingan tanpa bukti.