Anda di halaman 1dari 6

PEMAKAIAN FLUOR PADA ANAK

Indikasi dan Kontraindikasi Penggunaan Fluor Menurut Donley (2003), meliputi : Indikasi: y pasien anak di bawah 5 tahun yang memiliki resiko karies sedang sampai tinggi y y y gigi dengan permukaan akar yang terbuka gigi yang sensitive anak-anak dengan kelainan motorik, sehingga sulit untuk membersihkan gigi (contoh:Down syndrome) y pasien yang sedang dalam perawatan orthodontic

Kontraindikasi y y y pasien anak dengan resiko karies rendah pasien yang tinggal di kawasan dengan air minum berfluor ada kavitas besar yang terbuka

Bentuk Sediaan dan Dosis Fluor Untuk Anak 1. Pemberian Fluor Secara Sistemik 1) Fluoridasi air minum

Konsumsi air yang terFluoridasi merupakan solusi terbaik bagi anak-anak untuk mencegah kerusakan gigi yang parah sekaligus penyerapan fluor berlebihan. Batasan optimum fluorida untuk air minum adalah 0,7 - 1 ,2 ppm, sehingga apabila air minum lokal sudah difluoridasi, maka tidak diperlukan lagi tambahan asupan fluorida selain pasta gigi. Suplemen

fluorida dibutuhkan dalam kondisi tertentu, terutama bagi mereka yang mendapatkan air minum dengan kandungan fluoryang rendah. Dilaporkan bahwa kebutuhan suplemen fluor dipengaruhi oleh usia dan kandungan fluor dalam sumber air lokal. Apabila kandungan fluor pada sumber air lokal kurang dari 0,3 ppm, maka suplemen fluor yang dibutuhkan oleh anak-anak usia 6 bulan - 3 tahun adalah 0,25 mg/hari, anak usia 3-6 tahun sebanyak 0,5 mg/hari, dan anak usia 6-16 tahun sebanyak 1 mg/hari. Kebutuhan suplemen fluor menjadi lebih rendah apabila kandungan fluor dalam sumber air lokal lebih tinggi, misalnya 0,3 - 0,6 ppm, maka anak usia 6 bulan - 3 tahun tidak memerlukan suplemen fluor, sedangkan untuk anak usia 3 - 6 tahun, kebutuhannya menjadi berkurang separuhnya yaitu 0,25 mg/ hari dan 0,5 mg/hari untuk anak usia 6 - 16 tahun. Namun jika kandungan fluor lebih besar dari 0,6 ppm, maka untuk semua usia tersebut sudah tidak diperlukan lagi suplemen fluor. 2) Pemberian fluor melalui makanan
Makanan tambahan fluoride hanya dianjurkan untuk mereka (terutama anakanak) yang tinggal di daerah yang sumber airnya rendah fluor atau tidak difluoridasi. Fluoride dapat berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan. Apabila pemakaian fluoride tidak terkontrol dan tidak disiplin, maka tidak akan mencapai sasaran dan dapat menyebabkan kerusakan gigi. Contohnya adalah fluorosis. (Ars creation, 2010). 3) Pemberian fluor dalam bentuk obat-obatan Pemberian fluor dapat juga dilakukan dengan tablet, baik itu dikombinasikan dengan vitamin-vitamin lain maupun dengan tablet tersendiri. Pemberian

tablet fluor disarankan pada anak yang berisiko karies tinggi dengan air minum yang tidak mempunyai konsentrasi fluor yang optimal (2,2 mg NaF, yang akan menghasilkan fluor sebesar 1 mg per hari) (Ami Angela, 2005). Tablet fluor dapat diberikan sejak bayi berumur 2 minggu hingga anak 16 tahun. Umur 2 minggu-2 tahun biasanya diberikan dosis 0,25 mg, 2-3 tahun diberikan 0,5 mg, dan 3-16 tahun sebanyak 1 mg (Nova, 2010).

Anjuran pemberian dosisnya :

(1 tablet NaF = 2,21mg NaF = 1mg F)

y y y

Anak usia 0-2 tahun Anak usia 2-3 tahun

: 1 tablet untuk 1 quart hari : 1 tablet untuk selang 1 hari

Anak usia 3-10 tahun : 1 tablet / hari

Bila air minum yang mengandung fluor 0,5 ppm maka tablet tidak dianjurkan.

Di Indonesia menurut Suwelo anjuran pemberian tablet adalah untuk daerah daerah yang kadar fluor air minumnya < 0,3 ppm, dengan dosis pemakaian :

y y y y

Anak usia 0-2 tahun : 0,25 mg / hari atau tablet Anak usia 2-4 tahun : 0,5 mg / hari atau tablet Anak usia > 4 tahun : 0,5 1 mg tablet / hari atau 1 tablet Untuk air kemasan : 0,002 0,28 ppm

2. Penggunaan Fluor Secara Topikal


1) Topikal Aplikasi Yang dimaksud dengan topikal aplikasi fluor adalah pengolesan langsung fluor pada enamel. Setelah gigi dioleskan fluor lalu dibiarkan kering selama 5 menit, dan selama 1 jam tidak boleh makan, minum atau berkumur (Lubis, 2001). Sediaan fluor dibuat dalam berbagai bentuk yaitu NaF, SnF, APF yang memakainya diulaskan pada permukaan gigi dan pemberian varnish fluor. NaF NaF merupakan salah satu yg sering digunakan karena dapat disimpan untuk waktu yang agak lama, memiliki rasa yang cukup baik, tidak mewarnai gigi serta tidak mengiritasi gingiva. Senyawa ini dianjurkan penggunaannnya dengan konsentrasi 2%, dilarutkan dalam bentuk bubuk 0,2 gram dengan air destilasi 10 ml. Konsentrasi senyawa SnF yang dianjurkan adalah 8%. Konsentrasi ini diperoleh dengan melarutkan bubuk SnF2 0,8 gramdengan air destilasi 10 ml. Larutan ini sedikit asam dengan pH 2,4-2,8. APF lebih sering digunakan karena memiliki sifat yang stabil, tersedia dalam bermacam-macam rasa, tidak menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak mengiritasi gingiva. Bahan ini tersedia dalam bentuk larutan atau gel, siap pakai, merupakan bahan topikal aplikasi yang banyak di pasaran dan dijual bebas. APF dalam bentuk gel sering mempunyai tambahan rasaseperti rasa jeruk, anggur dan jeruk nipis. Pemberian varnish fluor diberikan setiap empat atau enam bulan sekali pada anak yang mempunyai resiko karies tinggi. Salah satu varnish fluor adalah

duraphat (colgate oral care) merupakan larutan alkohol varnis alami yang berisi 50 mg NaF/ml (2,5 % sampai kira-kira 25.000 ppm fluor). Varnish dilakukan pada anak-anak umur 6 tahun ke atas karena anak dibawah umur 6 tahun belum dapat menelan ludah dengan baik sehingga dikhawatirkan varnish dapat tertelan dan dapat menyebabkan fluorosis enamel (Angela, 2005).

Sebaiknya diberikan pada saat anak control rutin ke dokter gigi yaitu tiap 6 bulan sekali. Reduksi karies maksimum didapat :

Larutan NaF 2% : 4x / tahun Larutan Na acidulated fluoride : 1-2x / tahun Larutan SnF2 8% : 1-2x / tahun

2) Pasta gigi fluor

Penyikatan gigi dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor terbukti dapat menurunkan karies (Angela, 2005). Akan tetapi pemakaiannya pada anak pra sekolah harus diawasi karena pada umunya mereka masih belum mampu berkumur dengan baik sehingga sebagian pasta giginya bisa tertelan. Kebanyakan pasta gigi yang kini terdapat di pasaran mengandung kira-kira 1 mg F/g ( 1 gram setara dengan 12 mm pasta gigi pada sikat gigi) (Kidd dan Bechal, 1991). 3) Obat kumur dengan fluor Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pemberian 0,25% larutan NaF 2 kali sehari untuk obat kumur mampu mereduksi karies sebesar 80 90%

(dalam periode > 10 tahun). Terdapat dosis letal fluor yang apabila tertelan dapat menyebabkan kematian yaitu 0,5 gr NaF yang apabila termakan anak usia 5-8 tahun dapat menyebabkan kematian. Selain itu diperkirakan 0,3 gr NaF yang dimasukkan dalam 4 fl O2 (120cc) obat kumur juga mendekati dosis letal yang potensial (bila terminum semua). Oleh karenanya pengawasan orangtua sangat penting pada saat anak menggunakan obat kumur yang mengandung fluor. Selain itu hendaknya orangtua lebih berhati hati dalam penyimpanan preparat fluor, sebaiknya dijauhkan dari jangkauan anak anak.

Sumber : Herdiyati, Yetty & Inne Sasmita. 2010. Penggunaan Fluor Dalam Kedokteran Gigi. http://blogs.unpad.ac.id/yettynonong/files/2010/12/PenggunaanFluor-dalam-Kedokteran-Gigi.pdf

Roni Saputra. Flour Terhadap Kesehatan Gigi. http://www.scribd.com/doc/65635726/Flour-Terhadap-Kesehatan-Gigi Rasuna, Gilang. 2010. Penggunaan Fluor Sebagai Pencegahan Karies Gigi Sejak Dini. http://gilangrasuna.wordpress.com/2010/06/12/penggunaanfluor-sebagai-pencegahan-karies-gigi-sejak-dini/