Anda di halaman 1dari 112

PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK SQUAT JUMP DAN TWO-FOOT ANKLE HOP TERHADAP POWER OTOT TUNGKAI SISWA KELAS

VII SMPN 25 SURAKARTA TAHUN 2011 DENGAN PARAMETER LOMPAT JAUH TANPA AWALAN (LJTA)

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi Diajukan oleh : Arif Pristianto J 110 070 001

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA


2011 PERSETUJUAN UJIAN SIDANG SKRIPSI

PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK SQUAT JUMP DAN TWO-FOOT ANKLE HOP TERHADAP POWER OTOT TUNGKAI SISWA KELAS VII SMPN 25 SURAKARTA TAHUN 2011 DENGAN PARAMETER LOMPAT JAUH TANPA AWALAN (LJTA)

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dalam ujian skripsi jurusan Fisioterapi DIV Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hari

: Jumat

Tanggal : 11 November 2011

Pembimbing I

Pembimbing II

Agus Widodo, SSt.FT, M.Fis

Dwi Kurniawati, SSt.FT

PENGESAHAN

PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK SQUAT JUMP DAN TWO-FOOT ANKLE HOP TERHADAP POWER OTOT TUNGKAI SISWA KELAS VII SMPN 25 SURAKARTA TAHUN 2011 DENGAN PARAMETER LOMPAT JAUH TANPA AWALAN (LJTA) Yang dipersiapkan dan disusun oleh: Arif Pristianto J 110 070 001

Telah dipertahankan di depan Dewan penguji Pada tanggal : 11 November 2011 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat.
1. Umi Budi Rahayu, SSt.FT, M.Kes 2. Agus Widodo, SSt.FT, M.Fis 3. Dwi Kurniawati, SSt.FT

( ( ( )

) )

Surakarta, 11 November 2011 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta Dekan

Arif Widodo, A.Kep, M.Kes SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NIM Fakultas Jurusan Judul Skripsi : Arif Pristianto : J 110 070 001 : Ilmu Kesehatan : Diploma IV Fisioterapi : Pengaruh Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Terhadap Power Otot Tungkai Siswa Kelas VII SMPN 25 Surakarta Tahun 2011 Dengan Parameter Lompat Jauh Tanpa Awalan (LJTA) Menyatakan bahwa Skripsi tersebut adalah karya saya sendiri dan bukan karya orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya. Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi akademis. Surakarta, 11 November 2011 Peneliti Arif Pristianto MOTTO

Kita tidak akan mengetahui hasil dari apa yang kita lakukan sebelum kita mencoba Sesuatu mungkin mendatangi mereka yang mau menunggu, namun hanya akan didapatkan oleh mereka yang semangat mngejarnya. (Abraham Lincoln) Belajar dari masa lalu, hidup untuk hari ini, berharap untuk hari esok. Yang penting kita tidak pernah berhenti bertanya. (Albert Einstein) hidup untuk dijalani bukan untuk dipikirkan Jalani hidup dengan semangat tersenyumlah selalu percayalah bahwa habis gelap pasti akan terbit terang. setelah derasnya hujan & badai maka akan muncul pelangi yang indah (Bang Ayip) Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim) AKU SAYANG IBU & AYAH

PERSEMBAHAN

Terima kasih kupanjatkan hanyalah pada-Mu Allah SWT yang telah memberikanku kehidupan yang bermakna, memberikan kesehatan dan

kesempatan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Kupersembahkan skripsi ini kepada :
Allah SWT Tuhan semesta alam, Nabi Muhammad SAW semoga sholawat

dan salam selalu tercurah kepada Beliau beserta keluarga & sahabatnya, Islamku, Indonesiaku, dan almamater yang aku banggakan. Kedua orang tuaku yang sangat kucintai dan kusayangi. Berkat kasih sayang, motivasi, doa, dan materi yang engkau berikan, aku bisa seperti sekarang ini. Adekku, yang menjadi motivasiku untuk lebih berprestasi dalam berusaha dan berkarya agar aku dapat menjadi contoh kakak yang baik. Seluruh keluarga besarku yang telah memberikan motivasi, doa, dan bantuan moril selama aku kuliah hingga sekarang ini. Seseorang yang pernah ada di hati, dan tanpa ia sadari telah memberikan aku semangat untuk maju dan menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih. Semua teman-temanku, baik di kampus, di kost maupun di luar.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mencurahkan rahmat dan berkah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Pengaruh Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Terhadap Power Otot Tungkai Siswa Kelas VII SMPN 25 Surakarta Tahun 2011 Dengan Parameter Lompat Jauh Tanpa Awalan (LJTA). Diajukan guna melengkapi tugas tugas dan demi melengkapi persyaratan untuk menyelesaikan Program Pendidikan Diploma IV Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Bambang Setiadji, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2. Bapak Arif Widodo, A.Kep, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. 3. Ibu Umi Budi Rahayu, SSt.FT., M.Kes, selaku Ketua Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

4. Bapak Agus Widodo, SSt.FT., M.Fis dan ibu Dwi Kurniawati, SSt.FT sebagai

pembimbing I dan II yang telah dengan sabar dan ikhlas membimbing saya dalam pembuatan skripsi ini. 5. Ibu Umi Budi Rahayu, SSt.FT., M.Kes sebagai penguji saya yang telah meluangkan waktunya untuk menguji saya dan memberikan saran-sarannya agar skripsi ini lebih sempurna. Maaf jika selama ini saya membuat ibu repot. 6. Bapak dan Ibu dosen serta staff karyawan Program Diploma IV Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. 7. Bapak Drs. HM. Joko Riyanto, S.H., MM selaku Kepala Sekolah SMPN 25 Surakarta yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian di SMPN 25 Surakarta. 8. Bapak Dr. Anung Prawoto Hadi, MM selaku Wakil Kepala Sekolah sekaligus guru olahraga SMPN 25 Surakarta dan bapak Joko Harwanto, S.Pd selaku guru olahraga siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta yang telah membantu saya selama penelitian ini berlangsung. 9. Bapak dan ibu pemimbing praktek komprehensif I dan komprehenshif II yang telah memimbing saya dan teman-teman pada saat praktek di lahan dan memberikan ilmunya untuk kami. 10. Bapak Naryo dan ibu Anik Zulaikhah selaku orang tuaku tercinta dan tersayang, terima kasih atas semua doanya hingga anakmu dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 11. Dwi Novita Eka Sari, adekku satu-satunya dan sangat kusayangi, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berdoa demi kelancaran dan selesainya skripsiku ini.

12. Siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011, yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini. 13. Teman-temanku Fisio D IV 07 : Fajri, Dini, Younk, Warma, Bemmy, Eddy, Mawaddah, Lisa, Ana, Rida, Indah, Sinta, Amel, Mirna...... yang telah membantuku dalam penyusunan skripsi dan penelitian ini. 14. Seluruh teman-teman fisioterapi DIV angkatan 2007 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih banyak untuk semuanya yang telah rela berbagi canda dan tawa serta duka di kelas kita tercinta.
15. Keluarga besar Wisma Cendrawasih, terutama mas Yudi, Budi, Pramono,

Dhani, Dini, serta pak Genjik. Terima kasih karena kalian selalu membuatku tertawa saat aku sedang galau serta memberi inspirasi saat aku sedang frustrasi.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Surakarta, 11 November 2011 Penulis ABSTRAK PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI, 11 NOVEMBER 2011

ARIF PRISTIANTO/J 110 070 001 PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK SQUAT JUMP DAN TWO-FOOT ANKLE HOP TERHADAP POWER OTOT TUNGKAI SISWA KELAS VII SMPN 25 SURAKARTA TAHUN 2011 DENGAN PARAMETER LOMPAT JAUH TANPA AWALAN (LJTA) VI Bab, 71 Halaman, 8 Tabel, 14 Gambar, 3 Grafik, 5 Lampiran (Dibimbing oleh: Agus Widodo, SSt.FT, M.Fis dan Dwi Kurniawati, SSt.FT). Latar Belakang: Power otot tungkai merupakan kemampuan dasar yang penting dalam banyak cabang olahraga. Power otot tungkai dapat dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini yaitu antara 12-15 tahun. Pada usia tersebut tubuh masih mengalami perkembangan fisik serta neuromusculuskletal. Latihan untuk peningkatan power otot tungkai dapat divariasikan pada penambahan beban, jumlah ulangan, frekuensi latihan serta lama latihan yang mengarah pada hasil lompatan. Latihan yang dapat diaplikasikan adalah latihan pliometrik dengan metode squat jump dan two-foot ankle hop. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta dan mengetahui perbedaan pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan Quasi Eksperimen. Pelaksanaan penelitian dialkukan pasa siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta sebanyak 38 orang yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok squat jump dan kelompok two-foot ankle hop. Dosis latihan yang diberikan selama 4 minggu, 3 kali per minggu dilakukan 2 - 3 set dengan jumlah pengulangan 8 - 12 kali dengan periode istirahat 2 - 3 menit di sela - sela set. Pengukuran power otot tungkai menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA). Teknik pengambilan data dilakukan dengan desain penelitian pre post test dengan analisis data mengunakan uji T-Test. Hasil Penelitian: Pemberian latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai sebelum dan sesudah didapatkan hasil yang signifikan. Hasil uji beda pengaruh antara latihan pliometrik squat jump dan twofoot ankle hop diperoleh p-value 0,612, sehingga disimpulkan tidak ada beda pengaruh antara pemberian latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop. Kesimpulan: Latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terbukti dapat meningkatkan power otot tungkai. Antara latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan. Kata kunci: Power otot tungkai, Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop, Lompat Jauh Tanpa awalan (LJTA).

ABSTRACT DIPLOMA IV PROGRAM STUDY OF PHYSIOTHERAPY HEALTH SCIENCE FACULTY MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF SURAKARTA MINI THESIS, 11 NOVEMBER 2011 ARIF PRISTIANTO/J 110 070 001 EFFECT OF PLYOMETRIC SQUAT JUMP AND THE TWO-FOOT ANKLE HOP EXERCISES OF LIMB MUSCLES POWER CLASS VII SMPN 25 SURAKARTA YEAR 2011 WITH PARAMETER STANDING LONG JUMP 6 Chapters, 71 Pages, 8 Tables, 14 Pictures and 3 Graphs, 5 Appendixs (Consultants: Agus Widodo, SSt.FT, M.Fis and Dwi Kurniawati, SSt.FT) Background: Limb muscle power is an important basic skill in many sports. Limb muscle power can be trained and improved at an early age is between 12-15 years. At that age the body is experiencing physical development and neuromusculuskeletal. Exercise to increase limb muscle power can be varied in the addition of load, number of replicates, the frequency of exercise and prolonged exercise leading to the results of a leap. Exercise that can be applied is a plyometric exercise by the method of squat jump and the two-foot ankle hops. Purpose: To know the effect and the different effect of plyometric squat jump and two-foot ankle hops exercise on limb muscle power class VII SMPN 25 Surakarta. Method of Research: This research is a Quasi Experiment. Implementation of research done on class VII student son SMPN 25 Surakarta as many as 38 people are divided into two groups: squat jump group and the two-foot ankle hops group. Exercise dose given for 4 weeks, 3 times per week do 2-3 sets with the number of repetition 8-12 times with a rest period of 2-3 minutes in between - between sets. Limb muscle power measurement using the standing long jump. Technique of data retrieval is done by the research design pre - post test with test data analysis using T-Test. Results: Provision of plyometric squat jump and the two-foot ankle hops exercise on the limb muscle power before and after the significant results obtained. The influence of different test results between plyometric squat jump and the two-foot ankle hops exercises obtained p-value 0.612, so it concluded there was no difference between the provision of plyometric squat jump and the two-foot ankle hops exercises. Conclusion: plyometric squat jump and the two-foot ankle hops exercises shown to improve the limb muscle power. Between the plyometric squat jump and the two-foot ankle hops exercises there was no significant difference in effect. Key words: Limb Muscle Power, Plyometric Squat Jump and the Two-Foot Ankle Hops, Standing Long Jump.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................. HALAMAN PERSETUJUAN...............................................................

i ii

HALAMAN PENGESAHAN................................................................ iii HALAMAN PERNYATAAN................................................................ MOTTO.................................................................................................. PERSEMBAHAN................................................................................... iv v vi

KATA PENGANTAR............................................................................ vii ABSTRAK.............................................................................................. x

DAFTAR ISI.......................................................................................... xii DAFTAR TABEL.................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xvi DAFTAR GRAFIK................................................................................ xvii DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................xviii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.................................................................. B. Identifikasi Masalah......................................................................... C. Pembatasan Masalah........................................................................ D. Rumusan Masalah............................................................................ E. Tujuan Penelitian.............................................................................

1 6 8 9 9

F. Manfaat Penelitian........................................................................... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Kerangka Teori................................................................................ 11

1. Power Otot Tungkai..................................................................... 11 2. Latihan Pliometrik........................................................................ 15 a. Pengertian pliometrik.......................................................... 15 b. Latihan pliometrik squat jump dan two foot ankle hop....... 21 c. Tinjauan kinesiologi dan biomekanik................................. 24 d. Proses terjadi gerakan pliometrik dalam jaringan............... 26 e. Pedoman pelaksanaan latihan pliometrik............................

............................................................................................. 32
1. Lompat Jauh Tanpa Awalan (LJTA)............................................ 34 a. Pengertian LJTA............................................................................. 34 b. Kinesiologi dan biomekanik dalam fase LJTA............................... 38 A. Kerangka Pikir................................................................................. 43 B. Kerangka Konsep............................................................................. 46 C. Hipotesis.......................................................................................... 46

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat........................................................................... 47 B. Metode Penelitian............................................................................ 47 1. Jenis Penelitian....................................................................... 47 2. Desain Penelitian.................................................................... 47 3. Rancangan Penelitian............................................................. 48 A. Populasi dan Sampel........................................................................ 48 1. Populasi........................................................................................ 48 2. Sampel.......................................................................................... 48 A. Variabel Penelitian........................................................................... 49 1. Jenis Variabel............................................................................... 49 2. Definisi Konsep............................................................................ 50 3. Definisi Oprasional....................................................................... 51 A. Pengumpulan Data........................................................................... 52 1. Jenis Data..................................................................................... 52 2. Sumber Data................................................................................. 53

3. Cara Pengambilan Data................................................................ 53 A. Langakah-Langkah Penelitian......................................................... 53 1. Alat Dan Bahan .................................................................................. 53 2. Jalannya Penelitian.............................................................................. 53 A. Pengolahan Data.............................................................................. 55

BAB IV HASIL PENELITIAN


A. Deskripsi Subyek Penelitian............................................................ 56 B. Deskripsi Karakteristik Subyek Penelitian...................................... 56 1 Karakteristik Responden Menurut Umur............................... 57 2 Karakteristik Responden Menurut Tinggi Badan...................

................................................................................................ 58
3 Karakteristik Responden Menurut Berat Badan.....................

................................................................................................ 59
A. Hasil Uji Analisis ............................................................................ 61 1. Uji Normalitas Data...................................................................... 61 2. Uji Analisa Data........................................................................... 62

BAB V PEMBAHASAN
A. Pembahasan Hasil Penelitian..................................................... 65 B. Keterbatasan Penelitian.............................................................. 69

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan................................................................................ 70 B. Implikasi.................................................................................... 70 C. Saran.......................................................................................... 71

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Banyaknya Kontak Kaki Tiap Season............................................ Tabel 2.2 Fase Stretch Shorthening Cycle...................................................... Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur...................................... Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tinggi Badan.......................... Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Berat Badan............................ Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data.............................................................. Tabel 4.5 Hasil Uji Paired Sample T-Test...................................................... Tabel 4.6 Hasil Uji Independent Sample T-test..............................................

18 30 57 58 60 61 62 63

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skala intensitas pliometrik.......................................................... Gambar 2.2 Jenjang latihan olahraga.............................................................. Gambar 2.3 Lompatan squat jump................................................................. Gambar 2.4 Lompatan two-foot ankle hop..................................................... Gambar 2.5 Skema gerak komponen elastis dalam pliometrik...................... Gambar 2.6 Skema gerak stretch refleks dalam pliometrik........................... Gambar 2.7 Urutan gerak lompat jauh tanpa awalan..................................... Gambar 2.8 Lintasan gerak yang ditentukan oleh sudut dengan kecepatan . yang sama pada sudut yang berbeda........................................... Gambar 2.9 Fase awalan pada LJTA.............................................................. Gambar 2.10 Fase tolakan pada LJTA............................................................. Gambar 2.11 Fase melayang di udara pada LJTA........................................... Gambar 2.12 Fase pendaratan pada LJTA....................................................... Gambar 2.13 Kerangka pikir penelitian...........................................................

19 20 22 23 28 29 36

37 39 40 41 42 45

Gambar 2.14 Kerangka Konsep penelitian.......................................................

46

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Grafik 4.2 Grafik 4.3

Distribusi Umur Responden....................................................... Distribusi Tinggi Badan Responden........................................... Distribusi Berat Badan Responden.............................................

57 59 60

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian Lampiran 2 Surat Persetujuan Lampiran 3 Jadwal Program Latihan Lampiran 4 Surat Bukti Penelitian Lampiran 5 Data Penelitian Kelompok Squat Jump Lampiran 6 Data Penelitian Kelompok Two-Foot Ankle Hop Lampiran 7 Hasil Olah Data Lampiran 8 Dokumentasi Lampiran 9 Daftar Riwayat Hidup

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Mensana end Corporisano merupakan suatu ungkapan yang sangat terkenal dan akrab terdengar di telinga kita, bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Salah satu cara untuk memperolehnya adalah melalui olahraga. Menurut Sajoto (1995) ada empat dasar yang menjadi tujuan manusia dalam melakukan olahraga. Pertama, mereka yang melakukan kegiatan olahraga hanya untuk rekreasi. Kedua, mereka yang melakukan kegiatan olahraga untuk tujuan pendidikan. Ketiga, mereka yang melakukan kegiatan olahraga untuk penyembuhan penyakit atau pemulihan kesehatan. Keempat, mereka yang melakukan olahraga untuk sasaran prestasi tertentu. Bagi seorang atlet olahraga, prestasi adalah tujuan akhir dari segala usaha yang dilakukannya. Menurut Depdikbud (1994), prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan/dikerjakan), jadi pada dasarnya prestasi olahraga adalah hasil kerja fisik yang dicapai sesuai dengan cabang olahraga dan tentunya dipengaruhi banyak faktor. Salah satu faktor pendukung tercapainya prestasi adalah kondisi kesegaran jasmani para atlet itu sendiri. Unsur-unsur kesegaran jasmani menurut Nieman DC (1993) yang dikutip oleh Ismaryati (2008) dibedakan menjadi dua kelompok yaitu unsur-unsur kesegaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan dan unsur-unsur kesegaran jasmani yang berkaitan dengan olahraga. Unsur-unsur kesegaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan

yaitu daya tahan aerobik, komposisi tubuh, kelentukan, kekuatan otot dan daya tahan otot. Sedangkan unsur-unsur kesegaran jasmani yang berkaitan dengan olahraga antara lain kelincahan, keseimbangan, koordinasi, kecepatan, power dan waktu reaksi. Power merupakan salah satu komponen penting dalam kesegaran jasmani. Power merupakan kombinasi antara kecepatan dan kekuatan yang sangat dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan dalam banyak pertandingan (McNeely, 2007). Salah satu power otot yang banyak diandalkan dalam olahraga adalah power otot tungkai. Power otot tungkai adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan sekelompok otot tungkai untuk menghasilkan kekuatan yang maksimal dengan waktu sependek-pendeknya (Weineck, 2000). Penggunaan power otot tungkai dapat kita lihat pada atlet lompat jauh yang harus mencapai jarak sejauh-jauhnya dalam lompatan, pemain bola basket yang melompat untuk menembak bola, pemain volley yang harus melompat tinggi untuk menahan bola dari lawan, pemain bulutangkis ketika meloncat untuk mensmash shuttle cock, dan masih banyak olahraga lain yang mengandalkan otot tungkai. Oleh karena peningkatan power otot tungkai dirasa sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal. Power otot tungkai dapat ditingkatkan melalui latihan-latihan yang mengarah pada hasil lompatan. Bentuk latihan tersebut salah satunya adalah pliometrik. Menurut KONI (2000) pliometrik adalah metode latihan untuk meningkatakan kekuatan otot tertentu. Latihan ini adalah salah satu metode untuk mengembangkan daya ledak (explosive power). Latihan pliometrik dimulai oleh pelatih atletik asal Rusia tahun 1960 yang bernama Yuri

Veroshanki yang melakukan eksperimen dengan latihan depth jump dan shock sebagai teknik pliometrik untuk meningkatkan kemampuan reaktif atlet lompatnya dan eksperimen tersebut mengalami kesuksesan saat pertandingan, Veroshanki berpendapat latihan pliometrik dapat membantu mengembangkan seluruh sistem neuromuskuler untuk gerakan-gerakan power, tidak hanya untuk jaringan yang berkonstraksi (Godfrey, 2006). Sejak saat itu pliometrik mulai diminati dan dikembangkan untuk meningkatkan power otot. Dalam latihan pliometrik, ada beberapa metode serta tehnik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan daya ledak otot tungkai antara lain squat jump dan two-foot ankle hop (Radcliffe dan Farentinos, 2002). Kedua tehnik ini termasuk dalam metode jump in place yaitu lompatan yang dilakukan di tempat tanpa ada pergeseran posisi. Selain itu, metode ini merupakan bentuk latihan dasar bagi otot tungkai. Squat jump diawali dengan berdiri pada dua kaki selebar bahu, badan membungkuk dan pinggul serta lutut ditekuk 900, kemudian kedua tangan dilipat di atas bahu. Lakukan lompatan ke atas dengan cepat kemudian mendarat di posisi semula. Sedangkan pelaksanaan two-foot ankle hop dimulai dengan berdiri pada dua kaki selebar bahu dan posisi badan tegak, lompatan hop pada satu tempat dengan kedua kaki serta pergelangan kaki memanjang secara maksimal pada saat lompatan hop ke atas. Latihan two-foot ankle hop juga disebut vertical jump karena bentuk lompatan yang lurus ke atas. Penelitian Bisri (2005) terhadap daya tahan otot tungkai pada Lembaga Pendidikan Sepak Bola Sambirejo Selection dengan pemberian latihan squat jump yang divariasikan dalam intensitas dan volume didapatkan adanya

peningkatan terhadap daya tahan otot tungkai sebesar 56%. Sedangkan penelitian Ilham (2011) tentang latihan two-foot ankle hop atau vertical jump yang dikombinasikan dengan latihan sprint terhadap hasil lompat jauh siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 3 Sukoharjo didapatkan adanya peningkatan terhadap hasil lompat jauh. Namun dari kedua jenis latihan tersebut mana yang paling baik bila diaplikasikan untuk peningkatan power otot tungkai remaja. Latihan peningkatan power otot tungkai sebagai basic training harus diberikan sejak dini dan terprogram. Latihan yang tidak terprogram pada remaja tidak dianjurkan sebelum mereka cukup matang, karena dapat menghambat pertumbuhan jika tidak terkontrol dengan benar (Chu, 1992). Oleh karena itu perlu dirancang suatu program yang benar untuk para pemula seperti siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta. Brandon (2006) mengatakan exercise terhadap remaja umur 12-15 tahun baik untuk tumbuh dan berkembang karena pada umur tersebut kekuatan masih dapat dibentuk secara bersamaan dengan perkembangan sistem neuromusculuskletal yang masih berlangsung dan dalam umur remaja pertengahan ini sangat tepat dalam pembangunan basic skill di bidang olahraga. Menurut Rogers (2008) untuk atlit pemula atau orang-orang yang belum terlatih dapat diberikan dosis latihan dengan intensitas 2 - 4 set lompatan, 2 - 3 kali seminggu, selama 4 8 minggu. Perkembangan hasil latihan dapat dilihat dari hasil lompatan. M. Moeslim (1995) dalam Harsuki (2003) mengatakan pengukuran power otot tungkai dapat dilakukan menggunakan alat maupun dengan tes kemampuan. Tes tersebut antara lain loncat tegak (vertical jump), lompat jauh tanpa awalan (LJTA), dan loncat tiga kali (triple jumps). Dalam penelitian ini

peneliti akan menggunakan lompat jauh tanpa awalan (LJTA) sebagai parameter peningkatan power otot tungkai. Lompat jauh merupakan gerakan melompat mengangkat kaki ke atas depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara atau melayang di udara yang dilakukan dengan cepat dan mendarat sejauh mungkin (Syarifuddin, 1992). LJTA dilakukan tanpa melakukan approach run (lari awalan) atau dengan kata lain langsung melompat ke depan dari garis batas untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya. Program latihan harus diawasi dan diarahkan oleh pelatih profesional atau fisioterapis olahraga. Dalam bidang olahraga, peran fisioterapi dapat diaplikasikan dengan menganalisa dan merancang suatu program latihan untuk meningkatkan power otot, salah satunya power otot tungkai sesuai dengan KEPMENKES nomor 376 tahun 2007 yang menyatakan bahwa : Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi.

Setelah mengumpulkan informasi dari beberapa sumber di atas, serta menangkap fenomena di lapangan tentang perlunya latihan pliometrik sebagai salah satu metode basic training untuk meningkatkan power otot tungkai yang nantinya akan diukur melalui hasil lompat jauh tanpa awalan (LJTA), maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh latihan

pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 dengan parameter lompat jauh tanpa awalan (LJTA).

B. Indentifikasi Masalah Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi atlet di sekolah. Faktor tersebut antara lain kondisi fisik, program pelatihan, nutrisi, sarana dan prasarana latihan serta kondisi psikologis. Kondisi fisik atlet merupakan salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan prestasi atlet (Sajoto, 1995). Metode latihan yang tepat juga turut berpengaruh dalam pembentukan fisik. Program latihan yang baik dapat membantu meningkatkan hasil yang maksimal bagi atlet olahraga sekolah. Menurut Kilpatrick (2003) latihan dan pembinaan yang terprogram serta berkesinambungan dengan ditunjang oleh status gizi yang baik dan memadai dapat mempengaruhi prestasi para atlit. Melalui program latihan yang baik dan terarah maka kondisi fisik atlet sekolah dapat dilatih untuk ditingkatkan sehingga kemungkinan tercapainya peningkatan prestasi olahraga sekolah. Kenyataan di lapangan, program latihan yang dilakukan untuk membentuk atlet sekolah sebagian besar tertuju pada peningkatan skill dan pembentukan kerja sama tim. Padahal kondisi dan kemampuan fisik atlet merupakan hal dasar yang harus dibentuk dan ditingkatkan guna mencapai hasil optimal. Salah satu kondisi fisik yang dapat ditingkatkan melalui program latihan yang tepat adalah power. Menurut Pyke dan Watson (1978) yang dikutip oleh Ismaryati (2008) power merupakan daya ledak otot atau kekuatan

eksplosif dari otot. Kemampuan tersebut sangat berperan dalam gerakan yang bersifat mendadak dan disertai kekuatan maksimal. Setiap atlet memiliki power yang berbeda-beda, perbedaan ini karena adanya beberapa faktor yang dimiliki oleh masing-masing atlet disamping faktor latihan (Adams et al., 2000). Salah satu power yang penting untuk dilatih adalah power otot tungkai. Power otot tungkai merupakan salah satu dasar atau basic yang penting dalam beberapa olahraga. Banyak cabang olahraga yang membutuhkan power atau daya ledak otot tungkai seperti sepak bola, basket, lompat jauh, lari cepat, karate, dan tae kwon-do. Untuk dapat menendang dengan kuat serta melompat yang jauh dan tinggi diperlukan power otot tungkai yang besar dan kuat. Bagi atlet pemula perlu diberikan latihan dasar untuk meningkatkan power otot tungkai sebelum diarahkan pada latihan yang dikhususkan untuk olahraga tertentu. Dalam melatih power otot tungkai, dapat digunakan salah satu metode latihan yaitu pliometrik. Adapun tehnik latihan pliometrik yang dapat dijadikan basic peningkatan power otot tungkai adalah tehnik squat jump dan two-foot ankle hop. Keduanya merupakan bentuk lompatan jump in place. SMPN 25 Surakarta merupakan salah satu sekolah unggulan di kota Surakarta dan telah banyak meraih prestasi dalam olahraga yang mengandalkan power atau daya ledak otot tungkai seperti lari 100 meter atau lari sprint serta sepak bola. Untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi tersebut perlu adanya pembibitan atlet sekolah. Selain itu bagi cabang olahraga lain yang masuk dalam ekstrakurikuler sekolah latihan ini juga dapat dijadikan dasar peningkatan power otor tungkai.

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis ingin melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 dengan parameter lompat jauh tanpa awalan (LJTA).

C. Pembatasan Masalah Karena keterbatasan alat ukur, biaya dan waktu, maka yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah pengaruh latihan pliometrik squat jump dan twofoot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur melalui tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA) yang dicapai oleh subyek sebelum dan setelah menjalani latihan. Untuk sudut lompatan diusahakan seragam agar hasil lompatan benar-benar murni karena dipengaruhi oleh power otot tungkai.

D. Rumusan Masalah
1. Apakah ada pengaruh latihan pliometrik squat jump terhadap power otot

tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA) ?
2. Apakah ada pengaruh latihan pliometrik two-foot ankle hop terhadap power

otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA) ?
3. Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan pliometrik squat jump dan

two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa

awalan (LJTA) ?

A. Tujuan Penelitian 1. Tujuan khusus a. Untuk mengetahui pengaruh latihan pliometrik squat jump terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA). b. Untuk mengetahui pengaruh latihan pliometrik two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).

2. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beda pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).

B. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman dalam

menggembangkan dan mengabdikan diri pada dunia kesehatan khususnya fisioterapi olahraga.

2. Bagi fisioterapi Menambah khasanah keilmuwan fisioterapi terutama dalam lingkup fisioterapi olahraga. 3. Bagi pelatih Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran latihan yang dapat digunakan dalam upaya meningkatkan prestasi dan sebagai bahan evaluasi tentang latihan pliometrik terhadap perkembangan kemampuan.
4. Bagi siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011

Meningkatkan power otot tungkai yang nantinya dapat dijadikan dasar berbagai cabang kegiatan ekstrakurikuler olahraga di sekolah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori 1. Power Otot Tungkai

Power merupakan salah satu dari komponen biomotorik yang penting dalam kegiatan olahraga (Arsil, 1999). Banyak cabang olahraga yang mengandalkan power otot yang besar. Power disebut juga sebagai daya ledak otot atau kemampuan eksplosif dari otot. Kekuatan eksplosif adalah penggunaan kekuatan otot secara maksimal dalam satuan waktu tertentu. Menurut Kraemer et al, (2001) power didefinisikan sebagai hasil usaha dalam satuan unit waktu yang disebabkan kontraksi otot untuk

memindahkan benda pada ruang atau jarak tertentu. Power merupakan suatu ukuran dari performa otot, yang berkaitan dengan kekuatan dan kecepatan gerak. Besarnya otot berkontraksi dan berkembangnya gaya pada seluruh range of motion serta hubungannya dengan kecepatan dan gaya merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi power (Sudaryanto dan Erna, 2009). Daya ledak atau power merupakan komponen skill related fitness yang penting. Menurut Sajoto (1995) power tergantung dari dua faktor yang saling berkaitan yaitu kekuatan dan kecepatan dalam melakukan gerakan. Kekuatan merupakan komponen biomotor yang paling utama, karena dengan kekuatan dapat meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan, Tanpa kekuatan yang memadai, maka kegiatan yang bersifat mendasar menjadi sulit dan tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa bantuan kekuatan. Sedangkan kecepatan merupakan komponen fisik yang juga esensial. Kecepatan bukan hanya berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan cepat, akan tetapi menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai suatu target, tentunya disertai dengan kekuatan semaksimal mungkin. Secara umum power dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan sekelompok otot untuk menghasilkan kekuatan yang maksimal dengan waktu sependek-pendeknya. Sehingga power dapat dirumuskan sebagai berikut: Power = kekuatan x kecepatan = Kekuatan x jarak Waktu Secara aplikatif power diperlukan dalam gerakan yang bersifat eksplosif seperti melempar, melompat, menendang dan memukul. Untuk

mencapai hasil yang diinginkan, gerakan tersebut membutuhkan kekuatan yang besar dan dilakukan dalam waktu yang cepat. Menurut McNeely (2007) power merupakan kombinasi antara kecepatan dan kekuatan dari atlet yang sangat dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan dalam banyak pertandingan. Power merupakan satu komponen kondisi fisik yang dapat menentukan prestasi seseorang dalam keterampilan gerak. Setiap atlet memiliki power otot yang berbeda-beda, perbedaan ini karena adanya beberapa faktor yang dimiliki oleh masing-masing atlet disamping faktor latihan (Adams et al., 2000). Faktor yang menentukan power otot secara spesifik menurut Malatesta et al. (2003), adalah : a. Banyak sedikitnya serabut otot tipe cepat IIA dalam tubuh. b. Tergantung banyak sedikitnya energi dalam otot (ATP).
c. Kekuatan dan kecepatan.

d. Lamanya waktu rangsangan dibatasi secara konkrit. e. Koordinasi gerakan yang harmonis. Salah satu power yang penting dalam olahraga adalah power otot tungkai. Power otot tungkai adalah komponen kondisi fisik yang menyangkut masalah kemampuan seorang atlet pada saat menggunakan otot tungkai (Sajoto, 1995). Power otot tungkai merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang dibutuhkan di hampir semua cabang olahraga. Gerakan menendang, melompat yang jauh dan tinggi serta berlari cepat membutuhkan power otot tungkai yang kuat. Menurut Weineck (2000)

power otot tungkai dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan sekelompok otot tungkai secara maksimal untuk

menghasilkan kekuatan yang maksimal dengan waktu sependek-pendeknya. Semakin kuat dan cepat otot tungkai bekerja maka semakin besar power otot tungkai tersebut. Dengan adanya power otot tungkai yang besar maka gerakan apapun yang berhubungan dengan daya ledak otot tungkai dapat dilakukan dengan maksimal sehingga hasilnya menjadi lebih baik dan tentunya akan memaksimalkan pencapaian prestasi. Besar kecilnya power otot tungkai dipengaruhi oleh otot yang melekat dan membungkus tungkai tersebut. Terjadinya gerakan pada tungkai tersebut disebabkan adanya otot-otot dan tulang, otot sebagai alat gerak aktif dan tulang alat gerak pasif (Lori, 1999). Pada dasarnya otot terdiri dari empat macam komponen yaitu : 1) jaringan otot terdiri dari sel-sel otot, 2) jaringan ikat, 3) saraf dan 4) pembuluh darah. Seberkas otot terdiri dari fasiculus. Fasiculus merupakan kumpulan dari serabut kontraktil atau miofibril. Miofibril terdiri dari unit-unit kontraktil yang disebut sarcomere. Ketahanan otot dapat dikatakan baik apabila otot mampu berkontraksi berturut-turut secara maksimal untuk jangka waktu yang lama (Ginther, 2006). Oleh karena itu penting untuk melatih kemampuan otot pada tungkai sehingga power otot tungkai juga akan meningkat. Power otot tungkai merupakan perpaduan antara kekuatan otot tungkai dan kecepatan gerakan, sehingga untuk meningkatkan power otot tungkai, maka faktor kekuatan otot dan kecepatan harus ditingkatkan secara bersama-sama melalui program latihan yang sistematis. Pada latihan-latihan

peningkatan power otot tungkai harus diberikan beban yang lebih resistif dan temporal. Beban lebih resistifnya berupa perubahan arah yang cepat pada suatu anggota tubuh atau seluruh tubuh, seperti mengatasi gaya akibat terjatuh, terpental, meloncat, melangkah lebar atau melompat. Beban lebih temporal dapat dilakukan dengan berkonsentrasi pada pelaksanaan gerakan secepat dan seintensif mungkin (Chu, 1992). Bentuk latihan untuk meningkatkan kemampuan otot tungkai termasuk power adalah latihanlatihan yang membentuk kontraksi isotonik, kontraksi isometrik dan kontraksi isokinetis. Latihan untuk power dan daya tahan otot dapat divariasikan pada penambahan beban, jumlah ulangan, frekuensi latihan serta lama latihan (Malisoux et al., 2006). Power otot tungkai dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kerja otot tungkai yang dilatih dalam jangka waktu tertentu atau mengurangi jumlah waktu yang diinginkan untuk menghasilkan gaya yang diharapkan (Sudaryanto dan Erna, 2009). Persaingan dalam pertandingan olahraga dari waktu ke waktu semakin keras dan kompetitif. Seiring dengan meningkatnya persaingan tersebut semakin meningkat pula dominasi power sebagai salah satu kunci untuk meraih sukses, termasuk power otot tungkai. Beberapa cabang olahraga yang membutuhkan power otot tungkai seperti cabang olahraga beladiri, lari cepat (sprint), atletik, permainan bola basket, bola voli, sepakbola dan lain sebagainya, memerlukan variasi latihan dalam meningkatkan kemampuan atletnya. Oleh karena itu perlu adanya program pembibitan atlet yang dimulai dari usia sekolah tentunya dengan pemberian latihan sebagai basic peningkatan power otot tungkai yang benar dan berjenjang.

1. Latihan Pliometrik
a. Pengertian pliometrik

Istilah pliometrik pertama kali dimunculkan pada tahun 1975 oleh Fred Wilt, salah seorang pelatih atletik dari Amerika. Istilah tersebut berasal dari bahasa latin yaitu Plyometrics yang merupakan kombinasi kata plyo dan metrics yang berarti peningkatan yang dapat diukur (Chu, 1992). Sejarah latihan pliometrik dimulai pada tahun 1960. Yuri Veroshanki pelatih atletik asal Rusia menggunakan metode latihan pliometrik kepada atlet lompatnya dan mengalami kesuksesan yang luar biasa di pertandingan. Karena kontribusinya tersebut Yuri Veroshanki mendapat gelar sebagai bapak penelitian pliometrik (Godfrey, 2006). Pliometrik mulai mendapat perhatian dalam dunia olahraga ketika atlet pelari cepat Valery Borzov asal Rusia memenangkan Olimpiade Munich di Jerman Barat tahun 1972 pada nomor lari 100 meter dengan catatan waktu 10 detik padahal 6 tahun sebelumnya waktu yang dicapai adalah 13 detik, kemajuan yang dicapai Valery didapat karena dari umur 14 tahun sampai berumur 20 tahun ia rutin melakukan latihan pliometrik. Latihan pliometrik adalah latihan yang memungkinkan otot untuk mencapai kekuatan maksimal dalam waktu yang sesingkat mungkin. Istilah lain dari latihan pliometrik adalah stretch-shortening cycle (Chu,1992). Latihan pliometrik didasari pada pengertian sebuah kontraksi otot eccentric (memanjang) dengan sangat kuat kemudian diikuti segera dengan sebuah kontraksi otot concentric (memendek) yang sama. Lebih

lanjut dikatakan drill pliometrik dapat dilanjutkan dengan bentuk-bentuk gerak dan kecepatan sesuai dengan penampilan cabang olahraganya (Sorensen et al., 1996). Bentuk latihan pliometrik merupakan salah satu cara terbaik untuk mengembangkan power eksplosif yang dapat diaplikasikan dalam berbagai cabang olahraga yang menuntut adanya power yang merupakan gabungan antara kekuatan dan kecepatan seperti dalam olah raga lari sprint, lompat jauh, sepak bola, voli, basket, bulu tangkis, renang, angkat berat, baseball, tenis, dll. Latihan pliometrik merupakan salah satu latihan favorit yang dilakukan oleh para pelatih saat ini, terutama kepada cabang olah raga yang membutuhkan kemampuan daya ledak otot tungkai atau otot lengan (Lubis, 2005). Latihan pliometrik merupakan latihan yang bertujuan untuk menghubungkan gerakan kecepatan dan kekuatan untuk menghasilkan gerakan-gerakan eksplosif. Istilah ini sering digunakan dalam

menghubungkan gerakan lompat yang berulang-ulang atau latihan reflek regang untuk menghasilkan reaksi yang eksplosif. Menurut Radcliffe dan Farentinos (2002) latihan pliometrik adalah suatu latihan yang memiliki ciri khusus, yaitu kontraksi otot yang sangat kuat yang merupakan respons dari pembebanan dinamik atau regangan yang cepat dari otot-otot yang terlibat. Radcliffe dan Farentinos juga membagi latihan pliometrik menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) latihan untuk anggota gerakan bawah (pinggul dan tungkai), (2) latihan untuk batang tubuh, dan (3) latihan untuk anggota gerak atas. Dalam penelitian ini latihan pliometrik yang akan diaplikasikan adalah untuk anggota gerak bagian bawah.

Volume latihan pliometrik untuk anggota gerak bawah dapat dibedakan menurut kemampuan atlet berdasarkan kontak kaki. Chu (1992) menyarankan volume latihan sebagai berikut:

Tabel 2.1. Banyaknya Kontak Kaki Tiap Season (Chu, 1992) LEVEL Menengah

Pemula Akhir musim Masa istirahat Awal Kompetisi Musim Kompetisi

Profesional

Intensitas Ren-Sed Sed-tinggi Sedang Sed-Tinggi

60 100 100 150 120 200 100 250 150 300 150 450 Tergantung olahraga Fase pemulihan

Gerakan dalam latihan pliometrik untuk anggota gerak bawah bertujuan memaksimalkan kemampuan otot-otot tungkai, karena kelompok otot ini merupakan pusat power gerakan olahraga dan memiliki keterlibatan utama dengan semua jenis olahraga. Menurut Radclife dan Farentinous (2002) gerakan-gerakan latihan untuk otot tungkai sengaja dirancang untuk menggerakkan tungkai dan gerakan otot-otot khusus yang dipengaruhi oleh Bounding, Hopping, Jumping, Leapping, Skipping, Ricochet. Gerakan dimulai dari gerak yang sederhana ke gerakan yang kompleks dan memiliki tekanan lebih tinggi. Chu (1992) mencoba menggambarkan skala intensitas untuk latihan pliometrik yaitu sebagai berikut :

High

Depth jump Box drills Multiple hops and jumps Standing Jumps

Low

Jump in place Exercise Gambar 2.1. Skala intensitas pliometrik (Chu, 1992) Pemahaman yang terpenting dalam latihan pliometrik adalah,

kondisi otot dalam keadaan siap dalam kemampuan otot yang ingin dilatih dan peningkatan harus dilakukan secara bertahap (Ebben et al., 2004). Tahap pemberian latihan dapat ditinjau dari gerakan latihan maupun usia

atlet. peroide yang tepat untuk memulai latihan adalah saat remaja atau berusia sekitar 12-15 tahun. Pada usia tersebut remaja berada dalam tahap pembangunan basic skill dalam taraf multilateral (permulaan dan pembentukan). Selain itu, menurut Brandon (2006) latihan terhadap remaja usia 12-15 tahun baik untuk tumbuh dan berkembang karena pada usia tersebut kekuatan masih dapat dibentuk bersamaan dengan perkembangan sistem neuromusculoscletal yang cepat dan masih berlangsung. Dalam perkembangan gerak latihan olahraga, usia 12-15 tahun dapat

dikategorikan dalam spesialisasi tahap awal yang terdapat pada gambaran segitiga jenjang pertumbuhan dan perkembangan yang disusun oleh Gehri et al. (1998) berikut :

Top Prestasi

Spesialisasi

Perkembangan Multi Lateral Gambar 2.2. Jenjang latihan olahraga (Science of Coachng, Modifikasi dari Gehri et al., 1998) Latihan pliometrik bagi calon atlet atau atlet pemula dapat dimulai dari tehnik dasar sebagai basic peningkatan power otot. Latihan dapat dikembangkan ke tahap berikutnya dengan gerakan yang lebih kompleks sesuai dengan tujuan dan bentuk olahraganya. Tehnik latihan pliometrik yang dapat digunakan untuk peningkatan kemampuan dasar tungkai antara lain tehnik squat jump dan two-foot ankle hop. Tehnik lompatan ini termasuk dalam metode jump in place, yaitu lompatan yang dilakukan di tempat, tanpa ada pergeseran posisi ke depan, ke belakang, ataupun ke samping (Cissik, 2004). Jump in place sendiri merupakan materi latihan dasar dalam pliometrik untuk meningkatkan power otot tungkai oleh karena itu latihan pliometrik dengan tehnik squat jump dan two-foot ankle hop dapat dijadikan pilihan sebagai latihan dasar untuk meningkatkan power otot tungkai. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa latihan pliometrik adalah metode latihan untuk meningkatkan daya ledak otot dengan bentuk kombinasi latihan isometrik dan isotonik (eksentrikkosentrik) yang mempergunakan pembebanan dinamik. Regangan yang terjadi secara mendadak sebelum otot berkontraksi kembali

memungkinkan otot-otot untuk mencapai kekuatan maksimal dalam waktu yang singkat. Latihan dapat diberikan pada usia remaja yaitu usia 12 15

tahun dengan program latihan yang telah tersusun dengan baik. Bentuk latihan pliometrik yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kemampuan dasar otot tungkai antara lain squat jump dan two-foot ankle hop. Latihan dapat dikembangkan ke tahap berikutnya dengan gerakan yang lebih kompleks sesuai dengan tujuan dan bentuk olahraganya.
b. Latihan pliometrik squat jump dan two foot ankle hop 1) Latihan pliometrik squat jump

Bentuk latihan squat jump diawali dengan berdiri tegak, kaki dibuka selebar bahu, kemudian pinggul dan lutut ditekuk. Posisi tangan dilipat di belakang bahu atau di atas pundak yang berfungsi sebagai tambahan beban mekanik. Lakukan lompatan ke atas setinggi mungkin. Usahakan mendarat di tempat semula dengan posisi jongkok seperti pada awal gerakan lalu bersiap melompat kembali (Burgoon, 2003). Untuk lebih jelasnya tentang bentuk pelaksanaan latihan squat jump dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 2.3. Lompatan squat jump (Pliometrik training chapter 19, Arlington University) Dosis aplikasi latihan pliometrik squat jump yang akan diterapkan berdasarkan Rogers (2008) adalah selama 4 minggu, 3 kali per minggu dan dilakukan 2 - 3 set dengan jumlah pengulangan 8 - 12 kali dengan periode istirahat 2 - 3 menit di sela - sela set. Gerakan lompat naik turun menggunakan irama metronom. Pada waktu hitungan ke satu, lompat ke atas, hitungan turun hitungan dilanjutkan, kemudian hitungan ganjil lompat ke atas dan ketika hitungan genap turun.

2) Latihan pliometrik two foot ankle hop

Latihan pliometrik two-foot ankle hop dimulai dengan berdiri pada dua kaki selebar bahu dan posisi badan tegak, digunakan hanya untuk momentum, lompatan hop pada satu tempat. Pergelangan kaki memanjang secara maksimal pada satu lompatan hop ke atas (Lubis, 2005). Usahakan mendarat pada posisi semula seperti pada awal gerakan kemudian bersiap melompat lagi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

b Gambar 2.4. Lompatan two-foot ankle hop

(a) Posisi awal, (b) lompatan, (c) mendarat (Lubis, 2005) Dosis aplikasi latihan pliometrik two-foot ankle hop yang akan diterapkan sama dengan squat jump yaitu selama 4 minggu, 3 kali per minggu dilakukan 2 - 3 set dengan jumlah pengulangan 8 - 12 kali dengan periode istirahat 2 - 3 menit di sela - sela set. Gerakan lompat naik turun juga menggunakan menggunakan irama metronom. Hitungan ganjil lompat ke atas dan ketika hitungan genap turun. a. Tinjauan kinesiologi dan biomekanik Tehnik lompatan latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop hampir sama. Kedua bentuk latihan ini merupakan lompatan vertikal ke atas dan kembali mendarat di tempat semula, akan tetapi pada squat jump lengan dilipat di belakang leher sedangkan pada two-foot ankle hop posisi lengan menggantung bebas. Apakah posisi lengan akan

mempengaruhi hasil lompatan? hal tersebut juga akan dibuktikan dalam penelitian ini. Dalam memulai latihan, dibutuhkan posisi awalan yang benar. Posisi awalan dalam kedua latihan pliometrik ini adalah membungkuk dimana sendi hip dan knee ditekuk 900, selanjutnya sendi ankle yang langsung kontak dengan dasar pijakan/lantai akan menyesuaikan agar keseimbangan tubuh terjaga. Menurut Markovic dan Jaric (2007), otot-otot yang berperan dalam latihan squat jump dan two-foot ankle hop adalah quadriceps, hamstring dan gastrocnemius. Pada posisi awalan dan saat melompat terjadi kontraksi otot secara eksentrik dan konsentrik yang bergantian antara otot-otot tersebut. Salah satu kajian dalam fisioterapi adalah sistem lever. Lever adalah suatu tangkai yang panjang yang dapat bergerak pada titik tertentu yaitu pada axis yang terletak di sepanjang lever tersebut (Kotzmanindiz, 2006). Bagian-bagian dari sistem lever adalah :
1) Fulkrum atau pusat gerakan

Adalah suatu titik tertentu atau axis dimana lever tadi bergerak (selanjutnya disingkat F). 2) Lengan usaha Adalah jarak tegak lurus antara Fulkrum dengan titik usaha (Effort = E) dimana usaha itu bekerja dari luar. 3) Lengan berat Adalah jarak tegak lurus antara Fulkrum dengan titik berat (Weight = W), dimana gaya berat beban itu bekerja.

Dan dengan demikian dapat dibagi dalam kelas-kelas: 1) Lever I Yang termasuk lever I adalah keadaan dimana Fulkrum terletak diantara titik berat (W) dan titik usaha (E). keuntungan ini tergantung panjang lengan usaha atau lengan beratnya. 2) Lever II Yang termasuk lever II adalah keadan dimana titik berat (W) terletak diantara Fulkrum dan titik usaha (E). Karena disini lengan usaha selalu lebih panjang dari lengan W nya maka keuntungan mekanis terletak pada E nya. 3) Lever III Yang termasuk lever III adalah keadaan dimana titik usaha (E) terletak diantara titik berat (W) dengan Fulkrum. Jadi disini yang untung adalah W nya, karena lengan W, selalu lebih panjang daripada lengan E nya. Latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop termasuk dalam sistem lever II. Tubuh sebagai titik berat (W) terletak di tengah dan otot-otot tungkai merupakan titik usaha (E) sedangkan yang berperan sebagai titik tumpu (F) adalah ankle.
a. Proses terjadi gerakan pliometrik dalam jaringan

Gerakan melompat dalam latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop dilakukan semampunya dan setinggi-tingginya, ditekankan pada loncatan yang maksimal, sedangkan kecepatan pelaksanaan merupakan

faktor kedua, dan jarak horizontal tidak diperhatikan pada saat jumping. Latihan ini sangat baik untuk otot-otot gluteal, quadriceps, hamstring serta gastrocnemius. Squat jump dan two-foot ankle hop dapat diterapkan sebagai dasar latihan untuk berbagai cabang olahraga, karena

menggunakan kekuatan dan kecepatan tungkai (Young et al., 1999). Menurut Markovic dan Jaric (2007), dalam latihan squat jump dan two-foot ankle hop pada saat fase memulai melompat terjadi kontraksi isotonic konsentrik rectus femoris, eksentrik hamstring dan konsentrik gastrocnemius. Kontraksi ini akan bertahan sampai gerakan melompat dilakukan dengan gerak stretch refleks untuk mengirim impuls neuromuscular ke spinal cord agar mampu melakukan lompatan dengan baik. Kemudian saat gerakan melompat dilakukan terjadi kontraksi isotonic eksentrik rectus femoris, konsentrik hamstring dan eksentrik gastrocnemius. dan pada akhir fase take off gerak otot rectus femoris dan gastrocnemius mengirim energi mekanik secara luas mulai bagian proksimal sendi sampai pada bagian distal. Sedangkan otot hamstring mengirim beberapa energi mekanik untuk kembalinya dari gerak hip. Energi elastis di dalam tendon dan otot-otot ditingkatkan dengan suatu peregangan yang cepat (seperti gerak otot saat fase eksentrik), lalu dengan singkat disimpan. Jika gerak otot saat fase konsentrik mengikuti dengan segera, maka energi yang tersimpan itu akan dibebaskan atau dilepaskan, mendukung produksi kekuatan secara total (Potteiger et al., 1999). Komponen penting dalam otot untuk gerakan pliometrik yaitu :

1) The series elastic component (SEC), ketika diregangkan, menyimpan

energi elastis kemudian meningkatkan kekuatan yang dihasilkan.


2) Contractile component (CC) (yaitu aktin, miosin, dan cross-bridges)

adalah sumber utama dari gerak gaya otot selama gerak konsentrik.
3) Paralel elastic component ( PEC) (yaitu epimisium, perimisium,

endomysium, dan sarkolema) menggunakan suatu kekuatan yang pasif dengan peregangan otot yang tidak dirangsang.

PEC

FORCE

CC SEC

Gambar 2.5. Skema gerak komponen elastis dalam pliometrik (modifikasi dari Padua dan McGrath, 2008) Model ini melibatkan potensiasi (perubahan karakteristik-

karakteristik gaya gerak potensial dari komponen-komponen contractile otot yang disebabkan oleh peregangan) dari gerak otot konsentrik dengan

menggunakan refleks peregangan. Refleks peregangan adalah respon tubuh yang tanpa disengaja oleh karena satu stimulus eksternal untuk meregangkan otot-otot. Ketika muscle spindle dirangsang, refleks peregangan akan trangsang, sehingga mengirim sinyal kepada jaringan saraf didalam spinal cord melalui serabut-serabut syaraf type Ia Setelah bersinaps dengan neuron motor alfa di dalam jaringan saraf dalam spinal cord, impuls berjalan pada serabut-serabut agonis extrafusal, menyebabkan suatu tindakan otot yang refleksif (Luebbers et al., 2003).

Ia fibers Dorsal root Ventral root Extrafusal muscle fiber Intrafusal muscle fiber (muscle spindle) Alpha motor neurons

Gambar 2.6. Skema gerak stretch refleks dalam pliometrik (Markovic dan Jaric, 2007)

Tipe respon gerak stretch reflex yang juga dimasukkan dalam fasilitasi autogenik yang diciptakan dari Stimulasi gerak saraf Tipe Ia terinisiasi melalui penguluran otot secara proporsional, respon yang ditimbulkan untuk rata-rata penguluran pada muscle spindle mengirim impuls ke spinal cord melalui saraf tipe Ia. Dengan stimulus di saraf spinal hubungan dibuat dgn interneuron yang memproduksi tingkatan

potensial aksi di lokal jaringan yang menginhibisi otot antagonis dan mengeksitasi otot secara sinergis saat otot itu terulur (Markovic dan Jaric, 2007).

Stretch Shortening Cycle (SSC) bertujuan untuk mengoptimalkan kedua ruang simpan energi dari SEC dan rangsangan refleks peregangan untuk memudahkan peningkatan maksimal di dalam perekrutan serabut otot dalam jangka waktu yang minimal atau secepat mungkin. Rata-rata tingkat peregangan musculotendinous yang tercepat adalah hal yang penting yang berpengaruh terhadap perekrutan otot dan aktivitas sebagai hasil SSC (Malisoux et al., 2005). Fase-fase SSC yang terjadi dalam gerakan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.2. Fase Stretch Shorthening Cycle (Markovic dan Jaric, 2007) Fase 1) Eksentrik Aksi Kejadian Fisiologis Penguluran serabut otot Penyimpanan energi elastis agonis dalam SEC

2) Amortisatio n

Muscle Spindle terstimulasi Berhenti sejenak dantara Saraf tipe Ia afferent fase 1 dan 3 bersinaps dengan alpha motor neuron Alpha motor neuron mengirim sinyal kepada group otot agonis Pemendekan serabut otot Energi elastis dilepaskan agonis dari SEC Alpha motor neuron menstimulasi group otot agonis

3) Konsentrik

Siklus

peregangan

(eksentrik)

mempersiapkan

unsur-unsur

contractile untuk suatu siklus pemendekan (konsentrik). Serabut-serabut muscle spindle secara paralel merasakan panjang otot dan percepatan peregangan lalu mengirim info ini kepada Central Nervus System (CNS). Dorongan impuls mengembalikan informasi tersebut dari CNS ke otot sehingga memudahkan refleks kontraksi memendek dari otot yang diregangkan. Ketika otot secara aktif memendek, komponen yang bertanggung jawab adalah CC. selain itu terdapat Golgi Tendon Organ (GTO) yang menghalang kontraksi otot yang berlebihan. Sedangkan ketika otot secara aktif memanjang, komponen-komponen yang bertanggung jawab untuk menghasilkan kekuatan adalah CC, SEC, dan PEC. Secara detail, tugas dari komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :
1) SEC dan PEC memberikan tahanan saat gerakan otot diperpanjang.

2) CC mengendalikan kecepatan dan kualitas gerakan. 3) GTO berfungsi sebagai inhibisi aktivitas kontraksi otot yang berlebih.

Menurut Gregory et al. (2008) untuk mengulang gerakan dengan memberikan kemudahan untuk membatasi produksi kekuatan otot maka saat otot memendek, GTO dirangsang untuk mengirimkan dorongan impuls kepada jaringan saraf dalam spinal cord. Peran GTO excitatory selama gerakan pliometrik akan meningkat sehingga lebih banyak rangsangan yang diperlukan untuk mefasilitasi suatu respon dari GTO dengan tujuan untuk meningkatkan toleransi peregangan tambahan (Potteiger et al., 1999). Ketika peregangan terjadi dengan gerak yang ditoleransi lebih baik, dimungkinkan akan ada sebuah kemampuan untuk menciptakan suatu reflek peregangan yang lebih kuat sehingga mengakibatkan peningkatan gerakkan selama fase konsenrik. Menurut Darkin (2006) jika fase Amortization diperpanjang, maka akan menghalangi refleks peregangan dan produksi energi akan hilang sia-sia.
e. Pedoman pelaksanaan latihan pliometrik

Latihan pliometrik memiliki pedoman khusus yang harus diikuti sehingga hasil latihan akan tepat dan efektif. Menurut Radclife dan Farentinos (2002) pedoman pelaksanaan latihan pliometrik antara lain :
1) Pemanasan dan pendinginan (warm up dan warm down)

Latihan pliometrik membutuhkan kelenturan dan kelincahan, maka semua latihan harus diikuti dengan periode pemanasan dan pendinginan yang tepat dan memadai. peregangan, dan kalistenik

sederhana merupakan aktifitas yang sangat dianjurkan sebelum dan sesudah latihan. 2) Intensitas tinggi Kecepatan pelaksanaan dan kerja maksimal sangat penting untuk memperoleh efek latihan yang optimal. Kecepatan peregangan otot lebih penting dari pada besarnya peregangan. Respon reflek yang dicapai makin besar jika otot diberi beban yang cepat. Karena latihanlatihan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (intensif), maka penting untuk diberikan kesempatan beristirahat yang cukup diantara serangkaian latihan terus-menerus. 3) Beban lebih yang progresif Program latihan pliometrik harus diberikan beban lebih yang resistif, temporal, dan spatial. Beban lebih yang tepat ditentukan dengan mengontrol ketinggian turun atau jatuhnya atlet, beban yang digunakan, dan jarak tempuh. Pemberian beban yang tidak tepat dapat mengganggu keefektifan latihan atau bahkan menyebabkan cedera. Jadi, dengan menggunakan beban yang melampui tuntutan beban lebih yang resistif dari gerakan-gerakan pliometrik tertentu dapat meningkatkan kekuatan tetapi tidak meningkatkan power eksplosive. Beban yang dapat digunakan seperti bola medicine, dumbell, atau sekedar berat tubuh. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beban berat badan dari kemampuan maksimal. 4) Memaksimalkan gaya dan meminimalkan waktu

Gaya maupun kecepatan gerak sangat penting dalam latihan pliometrik. Makin cepat rangkaian aksi yang dilakukan, maka makin besar gaya yang dihasilkan dan makin jauh jarak yang dapat dicapai dalam sekali gerakan. 5) Lakukan sejumlah ulangan Banyaknya ulangan atau repetisi berkisar antara 8 sampai 12 kali dengan semakin sedikit ulangan untuk rangkaian yang lebih berat dan lebih banyak ulangan untuk latihan-latihan yang lebih ringan. Banyaknya ulangan tidak hanya ditentukan oleh intensitas latihan, tetapi juga oleh kondisi subyek, pelaksanaan tiap ulangan, dan nilai hasil. Mengingat latihan tersebut untuk meningkatkan reaksi syaraf, otot, keekplosifan, kecepatan dan kemampuan untuk membangkitkan gaya (tenaga) tertentu. 6) Istirahat yang cukup Periode istirahat 2-3 menit disela-sela set biasanya sudah memadai untuk sistem neuromoskuler yang mendapat tekanan karena latihan pliometrik untuk pulih kembali. Latihan pliometrik 2-3 hari perminggu dapat memberikan hasil optimal. 7) Bangun landasan yang kuat terlebih dahulu Landasan kekuatan penting dan bermanfaat dalam pliometrik, suatu program latihan beban harus dirancang untuk mendukung, dan bukannya menghambat pengembangan power eksplosive. 8) Program latihan individualisasi

Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, program latihan pliometrik dapat diindividualisasikan, sehingga kita harus tahu apa yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap atlet dan seberapa banyak latihan yang dapat membawa manfaat.

1. Lompat Jauh Tanpa Awalan (LJTA)


a. Pengertian LJTA

Keberhasilan suatu program latihan dapat dilihat dari hasil evaluasi dari kemampuan subyek yang menjalani program latihan. Perbandingan pengukuran awal dan akhir yang signifikan menjadi ciri keberhasilan dari program yang dibuat. Pengukuran baik secara kualitas maupun kuantitas yang dilakukan sebelum dan sesudah menjalani program latihan haruslah sama. M. Moeslim dalam Harsuki (2003) mengatakan bahwa tes atau metode pengukuran yang dilakukan harus memenuhi kriteria berikut : 1) Validitas : tes seharusnya mengukur sesuai dengan tujuannya atau mengukur unsur-unsur penting yang harus diukur. 2) Reliabilitas : hasil pengukuran suatu tes harus mendapatkan hasil sama atau seragam antara tes pertama dengan tes ulangannya. 3) Obyektifitas : pengukuran suatu tes bila dilakukan oleh dua atau lebih tester harus mendapatkan hasil sama. 4) Ekonomis : suatu tes hendaknya ekonomis dalam hal waktu, peralatan, tenaga, dan dana.
5) Kesederhanaan / simplisitas : tes harus mudah pelaksanaannya dan

dapat diinterprestasikan.

6) Tuntutan pelaksanaan baku : tes harus ada tuntutan pelaksanaan baku

secara tertulis, baik bagi testie maupun tester. Pengukuran daya ledak atau power otot tungkai dapat dilakukan menggunakan alat ukur maupun dengan tes-tes tertentu yang mengarah pada kemampuan ekplosif otot tungkai. M. Moeslim dalam Harsuki (2003) mengatakan tes untuk mengukur daya ledak otot tungkai atau power dapat dilakukan dengan lompat jauh tanpa awalan (LJTA), loncat tegak (vertical jump), dan loncat tiga kali (triple jump). Dalam penelitian ini parameter yang akan digunakan adalah lompat jauh tanpa awalan (LJTA). Lompat jauh adalah bentuk gerakan melompat untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya (Sidik, 2010). Lompat jauh tanpa awalan (LJTA) dilakukan tanpa adanya approach run atau lari awalan, jadi langsung melakukan lompatan ke depan. Power otot tungkai saat melakukan tolakan serta sudut lompatan sangat berpengaruh untuk mencapai jarak yang diinginkan. Pelaksanaan tes LJTA menurut M. Moeslim dalam Harsuki (2003) dengan cara subyek berdiri tepat di belakang garis pembatas dan kedua kaki sejajar. Kedua lutut ditekuk serta kedua lengan ke belakang. Tanpa melakukan lari awalan kedua kaki langsung bertolak bersama dan melompat sejauh-jauhnya ke depan. Jarak lompatan dihitung dari garis batas sampai dengan garis terdekat anggota badan yang menyentuh tanah/landasan. Lakukan tes tersebut dua kali secara berurutan, ambil jarak terjauh dan catat dalam centimeter (cm).

Gambar 2.7. Urutan gerak lompat jauh tanpa awalan (healthmango.com, 2010) Sudut lompatan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan LJTA. Secara biomekanika suatu benda akan memperoleh jarak terjauh yang ditempuh jika dilakukan dalam gerak vertikal dengan sudut elevasi 45o, dengan syarat bahwa gerakan yang dilakukan pada satu bidang datar yang letak titik tolakannya mempunyai ketinggian sama dengan ketinggian tempat mendarat (Soedarminto dan Soeparman, 1993).

55o 45o 35o

Gambar 2.8.

Lintasan gerak yang ditentukan oleh sudut dengan kecepatan yang sama pada sudut yang berbeda (Applied Kinesiology and Biomechanics, Jensen et al., 1998) Ketidakseragaman sudut lompatan akan mengurangi keakuratan hasil lompatan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan diusahakan agar sampel mengerti tentang sudut lompatan yang baik melalui simulasisimulasi lompatan dan latihan posisi awalan sebelum dilakukan tes LJTA.

a. Kinesiologi dan biomekanik dalam fase LJTA

Dalam pelaksanaan LJTA terdapat beberapa fase dimana otot tungkai yang berperan serta sudut sendi berbeda-beda. Berikut penjelasan tentang tinjauan kinesiologi dan biomekanika dalam fase-fase yang terdapat pada LJTA.
1) Fase awalan

Awalan dalam LJTA merupakan persiapan sebelum melakukan lompatan yang sangat berguna dalam menentukan gerak lintasan pada waktu melakukan tolakan ke atas depan. Pada fase ini pelompat memposisikan diri sebelum lompatan dilakukan. Agar dapat

menghasilkan daya tolakan yang besar maka fase awalan harus dilakukan dengan mantap serta menghentak (Syarifuddin, 1992). Besarnya sudut lintasan lompatan ditentukan dari posisi awalan.

Pada fase ini terjadi kontraksi isotonic konsentrik pada hamstring sedangkan otot quadriceps dan gastrocnemius mengalami kontraksi isotonic eksentrik. Bersarnya sudut pada sendi knee adalah 900 , sedangkan hip < 900 sehingga badan membungkuk ke depan. Kemudian berhenti sejenak pada posisi ini untuk bersiap melakukan tolakan. Seperti halnya lompatan pada latihan pliometrik, maka pada posisi ini menganut sistem lever II.

Gambar 2.9. Fase awalan pada LJTA (Program Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UNS, 2011) 2) Fase tolakan Tolakan atau tumpuan adalah perpindahan yang sangat cepat antara awalan dan melayang. Seluruh tenaga dan pikirannya, harus

ditujukan terhadap ketepatan bertumpu. Agar dapat melayang lebih jauh, selain dari posisi awalan dibutuhkan daya ledak atau power dari tungkai yang besar yang disertai dengan ayunan lengan dan tungkai. Menurut Adisasmita (1992) pada waktu menumpu seharusnya badan sudah condong ke depan, titik berat badan harus terletak tegak dimuka titik sumber tenaga, yaitu tungkai menumpu pada saat pelompat menumpu. Untuk dapat melakukan tolakan atau tumpuan yang sangat kuat ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu : posisi awalan sebelum melakukan tolakan dan daya ledak (power) yang merupakan kecepatan vertical yang diperoleh dari kekuatan tolakan atau tumpuan. dalam melakukan tolakan, power atau daya ledak dari otot tungkai sangat berpengaruh dalam hasil lompatan. Dalam fase ini terjadi kontraksi isotonic konsentrik yang cepat pada quadriceps dan gastrocnemius. Sedangkan grup otot hamstring akan berkontraksi secara eksentrik.

Gambar 2.10.

Fase tolakan pada LJTA (Program Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UNS, 2011) 3) Fase melayang di udara Dalam tehnik lompat jauh, setelah pelompat menumpu pada balok lompat atau garis pembatas maka pelompat tersebut melayang di udara. Naiknya badan setelah tumpuan (melayang) adalah salah satu faktor yang sering dilalaikan oleh para pelompat. Setelah menumpu dengan kaki tumpu, pelompat terkadang tidak memberi waktu lagi untuk lebih lama di udara. Biasanya dengan tergesa-gesa tungkai tumpuannya didaratkan pada bak pasir. Dalam hal ini penting sekali meluruskan tungkai tersebut dengan cepat untuk memperoleh ketinggian sehingga kita dapat melayang lebih tinggi. Pada waktu naik badan harus ditahan dalam keadaan sikap tidak kaku (rileks). Kemudian melakukan gerakan-gerakan sikap tubuh untuk menjaga keseimbangan dan untuk memungkinkan pendaratan yang lebih sempurna. Menurut Soedarminto dan Soeparman (1993) untuk membantu tolakan ke atas lengan harus diayunkan setinggi mungkin atau prinsipnya adalah momentum dari bagian tubuh dipindahkan pada keseluruhan. Ayunan kaki ke atas mengunci sendi karena kerjanya Ligamentum iliofemoral. Oleh karena itu lutut kaki tumpu harus sedikit ditekuk.

Gambar 2.11. Fase melayang di udara pada LJTA (Program Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UNS, 2011)

4) Fase pendaratan Fase pendaratan merupakan fase akhir dari LJTA. Mendarat dilakukan dengan tumit terlebih dahulu mengenai tanah (Adisasmita, 1992). Pada saat pelompat menginjak tanah lengan diayunkan ke depan, lutut ditekuk dan badan membungkuk ke depan. Gerakan ini membawa titik berat badan jatuh di bawah garis melayang, memberikan momentum pada badan serta mencegah jatuh ke belakang yang berakibat mengurangi jarak lompatan (Soedarminto dan Soeparman, 1993). Seorang pelompat harus mengetahui posisi mendarat dengan benar. Menurut Kosasih (1993) mendarat yang baik adalah ketika mendarat atau jatuh dengan kedua kaki dan tangan ke depan.

Gambar 2.12. Fase pendaratan pada LJTA (Program Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UNS, 2011)

A. Kerangka Pikir

Hasil prestasi yang dicapai oleh atlet baik tingkat senior maupun pemula dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah power otot dari atlet tersebut. Tungkai manusia terdiri dari beberapa tulang yang tersusun menjadi beberapa sendi serta digerakkan oleh banyak otot. kemampuan otot tungkai untuk mengeluarkan tenaga maksimal dalam waktu yang singkat pada satu gerakan misalnya melompat atau menendang disebut daya ledak otot atau power. Menurut Potteiger et al, (1999) power adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat. Daya ledak atau power melibatkan komponen strength (kekuatan) dan speed (kecepatan gerak) (Sudaryanto dan Erna, 2009). Banyak cabang olahraga yang membutuhkan power otot tungkai yang besar. Oleh karena itu, latihan untuk meningkatkan kemampuan otot tungkai khususnya daya ledak atau power sangat penting terutama di usia dini. Power otot tungkai dapat ditingkatkan melalui latihan-latihan yang mengarah pada

hasil lompatan. Bentuk latihan tersebut salah satunya adalah pliometrik. Pliometrik adalah macam latihan yang bertujuan menghubungkan gerakan kecepatan dan kekuatan untuk menghasilkan gerakan-gerakan eksplosif (Radcliffe dan Farentinos, 2002). Latihan pliometrik untuk otot tungkai memiliki banyak metode serta tehnik dalam lompatan. Salah satunya adalah metode jump in place dengan tehnik squat jump dan two-foot ankle hop (Lubis, 2005). Latihan ini merupakan dasar untuk peningkatan kemampuan otot tungkai. Bentuk latihan ini merupakan suatu rangkaian gerakan lompat yang eksplosive secara cepat di tempat. Latihan squat jump dan two-foot ankle hop ditekankan pada lompatan yang maksimal, sedangkan kecepatan pelaksanaan merupakan faktor kedua, dan jarak horizontal tidak diperhatikan pada saat jumping. Latihan ini lebih efektif dan efisien karena tidak menggunakan alat. Pengukuran power otot tungkai dapat dilakukan dengan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA). LJTA dilakukan tanpa adanya approach run atau lari awalan. Pelaksanaan tes LJTA adalah subyek berdiri tepat di belakang garis pembatas, kedua kaki sejajar. Kedua lutut bengkok, kedua lengan ke belakang. Tanpa awalan kedua kaki bertolak bersama dan meloncat sejauh-jauhnya ke depan. Jarak loncatan dihitung dari garis batas sampai dengan garis terdekat anggota badan yang menyentuh tanah/landasan (M. Moeslim dalam Harsuki 2003). Seperti yang telah disebutkan di atas, latihan pliometrik dapat dijadikan basic untuk peningkatan power otot tungkai sebelum seorang atlet mendapat latihan khusus sesuai dengan cabang olahraganya. Latihan yang dapat

digunakan sebagai latihan dasar peningkatan power otot tungkai antara lain squat jump dan two-foot ankle hop. Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh latihan pliometrik squat jump dan twofoot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur berdasarkan peningkatan jauhnya hasil lompat jauh tanpa awalan.

GenetikOtot Olahraga Peningkatan Power DosisPeningkatan Kerja Latihan Sistem Latihan Pliometrik Power Pliometrik Prestasi dan Latihan Otot Jenis TungkaiMeningkat Hasil kelamin Jauh Tanpa Kapiler Otot Two-Foot Ankle Hop Otot Tungkai Squat Sekolah Lompat Atlet Jump Usia Siswa kelasSurakarta SMPNAwalan 25 VII Aktivitas 25 SMPN Nutrisi Surakarta TB/BB Tahun 2011

Gambar 2.13. Kerangka pikir penelitian

A. Kerangka Konsep

Subyek Hasil Lompatan Latihan Pliometrik Sebelum Setelah Program Latihan Squat Jump

Subyek Hasil Lompatan Latihan Pliometrik Sebelum Setelah Program Latihan Two-Foot Ankle Hop

Gambar 2.14. Kerangka konsep penelitian

B. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah :


1. Ada pengaruh latihan pliometrik squat jump terhadap power otot tungkai

siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).

2. Ada pengaruh latihan pliometrik two-foot ankle hop terhadap power otot

tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).
3. Ada perbedaan pengaruh antara latihan pliometrik squat jump dan two-foot

ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA). BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian ini akan dilakukan di SMPN 25 Surakarta yang beralamat di Jln. Dr. Muwardi no. 36 Kalitan Laweyan, Surakarta. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan mulai tanggal 12 September hingga 14 Oktober 2011.

B. Metode Penelitian
1.

Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperiment yang sering disebut juga sebagai eksperimental semu karena tidak semua variabel dapat dikontrol oleh peneliti.

2.

Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah pre and post test two group design dengan membandingkan perlakuan antara dua jenis latihan pliometrik yaitu squat jump dan two-foot ankle hop yang diberikan secara rutin sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu dan diawali dengan pre test sebelum dilakukan latihan kemudian dilakukan post test setelah program latihan selesai.

3.

Rancangan Penelitian

XB OA 2 1

O1

: pre test sebelum program latihan O2 : post test sesudah program latihan

XA XB

: Diberikan program latihan pliometrik squat jump : Diberikan program latihan pliometrik two-foot ankle hop

A. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan suatu variable menyangkut masalah yang diteliti. Variabel tersebut bisa berupa orang, kejadian, perilaku atau sesuatu yang akan dilakukan penelitian (Nursalam, 2002). Populasi pada penelitian ini adalah siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang telah disetujui oleh pihak sekolah sebanyak 55 orang (3 kelas).

2. Sampel Alimul (2003) mengatakan bahwa sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Apabila Subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sampel akan dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing akan diberi program latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop. Sampel dipilih berdasarkan pertimbangan kriteria sebagai berikut : a. Kriteria inklusi 1) Siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 2) Berusia 12 15 tahun 3) Tidak atau belum tergabung dalam klub olahraga fisik 4) Memiliki tinggi badan dan berat badan ideal 5) Bersedia mengikuti program latihan a. Kriteria eksklusi 1) Adanya cidera dalam jangka satu bulan sebelum program latihan
2) Adanya kecacatan fisik atau kelainan postur

3) Menolak untuk mengikuti program latihan dengan alasan tertentu


a. Kriteria Pengguguran (drop out)

1) Tidak mengikuti program penelitian sebanyak 3 kali baik secara

berturut-turut maupun terputus 2) Mengalami cidera akibat hal-hal di luar program latihan

A. Variable penelitian 1. Jenis Variabel Variabel yang ada pada penelitian ini dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

a. Variabel independen (variabel bebas)

Menurut Alimul (2003) variabel independen adalah sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen. Pada penelitian ini yang merupakan variabel independen adalah perlakuan (treatment) yang berupa latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop. b. Variabel dependen (variable terikat) Menurut Alimul (2003) variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas atau independen. Pada penelitian ini yang dimaksud variabel dependen adalah power otot tungkai siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur melalui tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).

1. Definisi Konsep

a. Power merupakan salah satu unsur kesegaran jasmani yang penting dalam

melakukan olahraga. Power otot tungkai adalah aplikasi fungsional dari kekuatan dan kecepatan yang tercipta dari konstraksi otot-otot tungkai secara maksimal sehingga seseorang mampu menghasilkan kekuatan yang maksimal dengan waktu sependek-pendeknya (Sudaryanto dan Erna, 2009).
b. Latihan pliometrik squat jump merupakan lompatan yang diawali dengan

berdiri tegak, kaki dibuka selebar bahu, kemudian berjongkok hingga pinggul dan lutut ditekuk 900. Posisi tangan dilipat di belakang bahu atau di atas pundak yang berfungsi sebagai tambahan beban mekanik. Lakukan lompatan ke atas setinggi mungkin. Usahakan mendarat di tempat semula dengan posisi jongkok seperti pada awal gerakan lalu bersiap melompat kembali (Burgoon, 2003).
c. Latihan pliometrik two-foot ankle hop merupakan lompatan lurus ke atas

atau disebut juga vertical jump. Latihan ini dimulai dengan berdiri pada dua kaki selebar bahu dan posisi badan tegak, digunakan hanya untuk momentum, lompatan hop pada satu tempat. Pergelangan kaki memanjang secara maksimal pada satu lompatan hop ke atas (Lubis, 2005). Mendarat pada posisi semula dengan lutut ditekuk seperti pada awal gerakan kemudian bersiap melompat lagi.
d. Lompat jauh tanpa awalan (LJTA) merupakan salah satu tes kemampuan

untuk mengukur daya eksplosif kedua tungkai (M. Moeslim dalam Harsuki, 2003). Pengukuran dapat dilakukan untuk mengukur jarak dalam

lompatan. Power atau daya ledak otot tungkai sangat berpengaruh terhadap hasil lompatan.

1. Definisi Operasional
a. Squat jump adalah lompatan di tempat dengan bentuk lompatan lurus ke

atas namun kedua lengan dilipat di pundak atau belakang leher. Dosis aplikasi dalam latihan pliometrik ini adalah selama 4 minggu, 3 kali per minggu dilakukan 2 3 set dengan jumlah pengulangan 8 12 kali dengan periode istirahat 2 3 menit di sela - sela set.
b. Two-foot ankle hop merupakan lompatan lurus ke atas dengan keadaan

lengan atau tangan menggantung bebas. Dosis aplikasi dalam latihan pliometrik ini adalah selama 4 minggu, 3 kali per minggu dilakukan 2 3 set dengan jumlah pengulangan 8 12 kali dengan periode istirahat 2 3 menit di sela - sela set.
c. Pengukuran power otot tungkai dilakukan menggunakan tes lompat jauh

tanpa awalan (LJTA) yang dilakukan dengan cara subyek berdiri tepat di belakang garis pembatas, kedua kaki sejajar. Kedua lutut bengkok, kedua lengan ke belakang. Tanpa melakukan lari awalan kedua kaki bertolak bersama dan meloncat sejauh-jauhnya ke depan. Jarak loncatan dihitung dari garis batas sampai dengan garis terdekat anggota badan yang menyentuh tanah/landasan. Lompatan dilakukan sebanyak dua kali secara berurutan dan diambil jarak terjauh. Pelaksanaan tes dilakukan sebelum subyek menjalani program latihan serta setelah selesai menjalani program

latihan. Perbedaan/selisih antara lompatan awal (pre test) dan akhir (post test) latihan akan menjadi parameter keberhasilan latihan.

A. Pengumpulan Data 1. Jenis Data Data yang diperolah dalam penelitian ini adalah data berjenis kuantitatif yang berbentuk angka-angka.

2. Sumber Data Data dalam penelitian ini diperoleh melalui studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian baik buku maupun jurnal. Selain itu, peneliti juga melakukan pengamatan dan tes secara langsung terhadap sampel.

3. Cara Pengambilan Data Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan wawancara awal pada pihak sekolah yaitu kepala sekolah dan guru olahraga. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan serta tes pada sampel.

A. Langkah - Langkah Penelitian 1. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah : a. Lapangan rumput dan lapangan berpasir/tanah

b. Rollmeter c. Timbangan berat badan d. Pengukur tinggi badan e. Kamera digital/SLR

1. Jalannya Penelitian Langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memulai penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Melakukan pengamatan tentang prestasi atlet sekolah SMPN 25 Surakarta dalam olahraga dan bentuk latihan yang diterapkan. b. Menyusun proposal penelitian dengan bantuan dosen pembimbing. c. Pelaksanaan seminar proposal dan persiapan penelitian di sekolah. d. Mengurus perijinan penelitian kepada pihak sekolah. e. Melakukan pendataan tinggi badan dan berat badan terhadap masingmasing sampel untuk mendapatkan berat badan ideal setiap sampel. f. Melakukan pemilihan sampel dari populasi yang tersedia yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan oleh peneliti.
g. Memberikan pengarahan dan penjelasan tentang bentuk dan tujuan latihan

serta tata cara melakukan lompat jauh tanpa awalan (LJTA) agar didapatkan tehnik dan sudut lompatan yang seragam dari setiap sampel.
h. Melakukan tes awal (pre test) untuk mengetahui jarak LJTA yang dicapai

masing-masing sampel sebelum melaksanakan program latihan.

i. Hasil tes awal LJTA dikelompokkan berdasarkan lompatan terjauh dan terdekat, kemudian sampel dibagi dalam dua kelompok berdasarkan hasil lompatan mereka.
j. Melakukan program latihan disertai pemanasan dan stretching sesuai

dengan waktu dan intensitas yang telah ditentukan.


k. Melakukan tes akhir (post test) untuk mengetahui jarak LJTA yang dicapai

masing-masing sampel setelah melaksanakan program latihan.

A. Pengolahan Data Metode pengolahan dan analisa data dalam penelitian ini menggunakan hasil pre dan post perlakuan dengan Paired Sample T-Test bila data berdistribusi normal dan menggunakan Wilcoxon bila data berdistribusi tidak normal. Normalitas data sendiri dapat diuji dengan uji statistik normalitas Kolmogorov Smirnov Test. Uji beda data dilakukan dengan Uji Beda Dua Sampel Independen (Independent Sample T-Test) apabila data berdistribusi normal dan uji Mann Whitney apabila data berdistribusi tidak normal. Data dianalisis dengan program komputer model SPSS 17.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Subyek Penelitian Penelitian dilakukan di SMPN 25 Surakarta. Alasan peneliti mengadakan penelitian di sekolah ini adalah agar SMPN 25 dapat mempertahankan sekaligus mengembangkan prestasi para siswa dalam olahraga yang banyak mengandalkan power otot tungkai. Waktu penelitian dilaksanakan mulai tanggal 12 September hingga 14 Oktober 2011. Desain penelitian yang digunakan adalah pre and post test two group design dengan membandingkan perlakuan antara dua jenis latihan pliometrik yaitu squat jump dan two-foot ankle hop yang diberikan secara rutin sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu dan diawali dengan pre test sebelum dilakukan latihan kemudian dilakukan post test setelah program latihan selesai. Populasi dalam penelitian adalah siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang telah disetujui oleh pihak sekolah sebanyak 55 orang. Sedangkan yang terpilih sebagai sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi adalah 38 orang dan dibagi menjadi dua kelompok.

B. Deskripsi Karakteristik Subyek Penelitian Distribusi karakteristik subyek penelitian yang masuk dalam analisis statistik yaitu umur, tinggi badan, dan berat badan secara berturut-turut akan dijelaskan melalui tabel dan grafik.

1. Karakteristik Responden Menurut Umur Distribusi responden berdasarkan umur dipaparkan dalam tabel 4.1 sebagai berikut. Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur Squat Jump F 1 2 3 12 tahun 13 tahun 14 tahun Jumlah 13 5 1 19 % 68.42% 26.32% 5.26% 100% Two Foot Ankle Hop F 12 6 1 19 % 63.16% 31.58% 5.26% 100%

No

Umur

14 12 10 8 6 4 2 0

13 12

6 5

12 tahun

13 tahun

14 tahun

Grafik 4.1. Distribusi Umur Responden

Squat jump tw o-f oot ankle hop

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, tampak pada kelompok latihan pliometrik squat jump memiliki sampel terbanyak pada usia 12 tahun yaitu 13 responden (68,42%) dan yang terkecil pada usia 14 tahun yaitu 1 responden (5,26%). Sedangkan pada kelompok latihan pliometrik two-foot ankle hop, memiliki sampel terbanyak pada usia 12 tahun yaitu 12 responden (63,16%), dan yang terkecil pada usia 14 tahun yaitu 1 responden (5,26%).

2. Karakteristik Responden Menurut Tinggi Badan

Distribusi responden berdasarkan tinggi badan dipaparkan pada tabel 4.2 sebagai berikut. Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tinggi Badan Squat Jump F 3 9 5 2 19 % 15,79% 47,37% 26,32% 10,53% 100% Two Foot Ankle Hop F 4 4 8 3 19 % 21,05% 21,05% 42,11% 15,79% 100%

No 1 2 3 4

Tinggi Badan 139 - 145 146 - 152 153 - 159 160 - 166 Jumlah

7 6 1 0 2 8 5 9 4 3 t s 1

w q 6 5 4 3 o u 0 3 6 9 a f t o o 1 t j 6 5 4 u 6 9 2 5 a m n p k l e h o p

Grafik 4.2. Distribusi Tinggi Badan Responden Berdasarkan tabel 4.2 di atas, tampak pada kelompok latihan pliometrik squat jump memiliki responden paling banyak dengan tinggi badan 146-152 cm yaitu sebanyak 9 responden (47,37%) dan paling sedikit dengan tinggi badan 160-166 cm sebanyak 2 responden (10,53%). Sedangkan pada kelompok latihan pliometrik two-foot ankle hop memiliki responden paling banyak dengan tinggi badan 153-159 cm sebanyak 8 responden (42,11%) dan paling sedikit dengan tinggi badan 160-166 cm sebanyak 3 responden (15,79%).

3. Karakteristik Responden Menurut Berat Badan

Distribusi responden berdasarkan berat badan dipaparkan pada tabel 4.3 sebagai berikut.

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Berat Badan Squat Jump F 3 8 6 2 0 19 % 15.79% 42.11% 31.58% 10.53% 0.00% 100% Two-Foot Ankle Hop F 3 9 5 1 1 19 % 15.79% 47.37% 26.32% 5.26% 5.26% 100%

No 1 2 3 4 5

Berat Badan 30 37 kg 38 45 kg 46 53 kg 54 61 kg 62 69 kg Jumlah

7 4 0 1 2 5 6 9 8 3 t s 6 5 4 3 w q 2 4 6 8 0 o u a f t o 6 5 4 3 o 9 1 3 5 7 t j u a m n p k l e

h o p

Grafik 4.3. Distribusi Berat Badan Responden Berdasarkan tabel 4.3 di atas, tampak pada kelompok latihan pliometrik squat jump memiliki responden paling banyak dengan berat badan 38-45 kg

yaitu sebanyak 8 responden (42,11%) dan paling sedikit dengan berat badan 54-61 kg sebanyak 2 responden (10,53%). Sedangkan pada kelompok latihan pliometrik two-foot ankle hop memiliki responden paling banyak dengan berat badan 38-45 kg sebanyak 9 responden (47,37%) dan paling sedikit dengan berat badan 54-61 serta 62-69 kg yang masing-masing sebanyak 1 responden (5,26%).

A. Hasil Uji Analisis 1. Uji Normalitas Data Sebelumnya dilakukan uji kenormalan data dengan menggunakan analisa Kolmogorov Smirnov Test. Cara menguji normalitas yaitu dengan membandingkan probabilitas (p) yang diperoleh dengan taraf signifikansi () 0,05. Apabila p > maka data terdistribusi normal atau sebaliknya. Berdasarkan hasil uji normalitas data, diperoleh nilai signifikan (nilai p) pada hasil LJTA sebelum dan sesudah diberikan latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop berturut-turut 0,956 dan 0,685 maka disimpulkan bahwa data berdistribusi normal (p > 0,05). Secara rinci, uji normalitas dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data Variabel Squat jump two-foot ankle hop Nilai p 0,956 0,685 Kesimpulan Normal Normal

Sumber : data diolah 2. Uji Analisis Data


a. Pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop

terhadap power otot tungkai dengan parameter LJTA Setelah dilakukan uji kenormalan data, maka pengujian statistik dilakukan dengan uji Paired Sample T-Test yaitu suatu uji parametrik untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel bebas berupa latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop serta variabel terikat yaitu power otot tungkai siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang akan diukur melalui tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA). Berikut hasil uji Paired Sample T-Test dengan bantuan SPSS 17. Tabel 4.5 Hasil Uji Paired Sample T-Test Variabel Hasil LJTA pada Squat jump Hasil LJTA pada two-foot ankle hop Sumber : Data diolah Hasil perhitungan uji Paired Sample T-Test sebagaimana nampak pada tabel di atas, diperoleh nilai signifikan (p-value) sebesar 0,002 dan 0,003. Hipotesis penelitian diterima jika nilai probabilitas aktual lebih kecil dari probabilitas yang disyaratkan (0,05). Nilai p 0,002 0,003 Kesimpulan Ha diterima Ha diterima

Perbandingan nilai probabilitas pada kelompok latihan pliometrik squat jump menunjukkan nilai probabilitas aktual lebih kecil dari probabilitas yang disyaratkan atau 0,002 < 0,05. Berdasarkan kriteria tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari latihan pliometrik squat jump terhadap power otot tungkai siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur melalui tes LJTA. Sedangkan pada kelompok latihan pliometrik two-foot ankle hop diperoleh nilai signifikan (p-value) sebesar 0,003. Karena 0,003 < 0,05 maka hal ini menunjukkan ada pengaruh yang signifikan dari latihan pliometrik two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur melalui tes LJTA.
b. Perbedaan pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle

hop terhadap power otot tungkai dengan parameter LJTA Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan pengaruh latihan

pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur melalui tes LJTA maka dilakukan uji beda pengaruh yaitu menggunakan analisa data uji Independent Sample T-Test. Tabel 4.6 Hasil Uji Independent Sample T-Test Variabel Squat jump Mean 16,421 Mean difference 2,473 Nilai p 0,612 Kesimpulan Ha ditolak

two-foot ankle hop

13,947

Sumber : Data diolah Dari hasil analisa menggunakan uji Independent Sample T-Test pada tabel 4.6, tampak rata-rata pengaruh untuk latihan squat jump sebesar 16,421 dan untuk latihan two-foot ankle hop sebesar 13,947 sehingga diperoleh p-value sebesar 0,612. Karena 0,613 > 0,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop yang diberikan secara rutin sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu terhadap power otot tungkai siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur melalui tes LJTA.

BAB V PEMBAHASAN

A. Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimen untuk mengetahui pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop serta beda pengaruh dari kedua jenis latihan pliometrik tersebut terhadap power otot tungkai siswa putra kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur melalui tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA). Populasi penelitian ini adalah siswa putra di SMPN 25 Surakarta tahun 2011 dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 38 orang yaitu total populasi yang memenuhi persyaratan inklusi dan eksklusi. Penelitian ini dilakukan tanggal 12 September hingga 14 Oktober 2011. Desain penelitian yang digunakan adalah pre and post test two group design dengan membandingkan perlakuan antara dua jenis latihan pliometrik yaitu squat jump dan two-foot ankle hop yang diberikan secara rutin sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu dan diawali dengan pre test sebelum dilakukan latihan kemudian dilakukan post test setelah program latihan selesai. Power otot tungkai merupakan salah satu dari komponen biomotorik yang penting dalam kegiatan olahraga (Arsil, 1999). Latihan terhadap power secara umum dapat memberikan pengaruh yang baik pada adaptasi sistem saraf pusat serta peningkatan kekuatan dan kemampuan otot. Menurut Radcliffe dan Farentinos (2002), power otot tungkai dapat ditingkatkan melalui latihan-

latihan yang mengarah pada hasil lompatan. Bentuk latihan tersebut salah satunya adalah pliometrik. Radcliffe dan Farentinos (2002) mengatakan bahwa latihan pliometrik merupakan bentuk latihan yang bertujuan menghubungkan gerakan kecepatan dan kekuatan untuk menghasilkan gerakan-gerakan eksplosif. Istilah ini sering digunakan dalam menghubungkan gerakan lompat yang berulang-ulang atau latihan reflek regang untuk menghasilkan reaksi yang eksplosif dan dengan rutinitas latihan sesuai dosis untuk memberikan adaptasi pada muscle spindle dan motor unit. Macam latihan tersebut terdapat beberapa jenis, antara lain squat jump dan two-foot ankle hop yang merupakan latihan level dasar dari pliometrik. Latihan pliometrik dapat meningkatkan power otot tungkai dengan bentuk kombinasi latihan isometrik dan isotonik (eksentrik-kosentrik) yang mempergunakan pembebanan dinamik. Beban dinamik dalam hal ini merupakan berat tubuh. Regangan yang terjadi secara mendadak sebelum otot berkontraksi kembali atau suatu latihan yang memungkinkan otot-otot untuk mencapai kekuatan maksimal dalam waktu yang sesingkat mungkin (Radcliffe dan Farentinos, 2002). Dengan power otot tungkai yang besar, memungkinkan seseorang untuk melakukan lompatan maupun tendangan yang lebih maksimal. Dalam penelitian ini power otot tungkai diukur menggunakan tes kemampuan yaitu lompat jauh tanpa awalan (LJTA). Hasil dari penelitian ini didapatkan adanya pengaruh yang signifikan dari latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop yang diberikan selama 4 minggu, 3 kali per minggu dan dilakukan 2 - 3 set dengan jumlah pengulangan

8 - 12 kali dengan periode istirahat 2 - 3 menit di sela - sela set terhadap power otot tungkai sampel yang diukur menggunakan tes LJTA. Pada kelompok squat jump dengan jumlah sampel 19 orang hasil ratarata lompatan pada tes awal sebesar 142,39 cm. Kemudian setelah menjalani program latihan dengan dosis yang telah ditentukan, hasil rata-rata lompatan pada tes akhir sebesar 157,6 cm. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh peningkatan sebesar 15,21 cm pada kelompok squat jump atau 10% dari ratarata hasil awal. Sedangkan pada kelompok two-foot ankle hop dengan jumlah sampel dan dosis latihan yang sama, rata-rata hasil lompatan pada tes awal adalah 151,26 cm. Kemudian rata-rata hasil lompatan tersebut meningkat menjadi 163 cm pada tes akhir. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh peningkatan sebesar 11,73 cm atau meningkat 7% dari hasil awal pada kelompok two-foot ankle hop. Peningkatan power otot tungkai setelah menjalani program latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop didapatkan dari respon fisiologis di dalam jaringan otot yaitu Stretch Shortening Cycle (SSC). Respon ini bertujuan untuk mengoptimalkan kedua ruang simpan energi dari Series Elastic Component (SEC) dan rangsangan refleks peregangan untuk memudahkan peningkatan maksimal di dalam perekrutan serabut otot dalam jangka waktu yang minimal atau secepat mungkin. Rata-rata tingkat peregangan musculotendinous yang tercepat adalah hal yang penting yang berpengaruh terhadap perekrutan otot dan aktivitas sebagai hasil SSC (Malisoux et al., 2005). SEC merupakan komponen penting di dalam otot yang berperan menyimpan energi elastis ketika otot diregangkan kemudian

meningkatkan kekuatan yang dihasilkan. Selain itu, selama latihan pliometrik berlangsung akan terjadi fase adaptatif dari otot sehingga meningkatkan ambang rangsang Golgi Tendon Organ (GTO) yang berperan sebagai inhibitor aktivitas kontraksi otot yang berlebih. Proses adaptatif tersebut juga berpengaruh terhadap tingkat metabolisme energi. Lompatan yang cepat dan kuat menggunakan sumber tenaga dari metabolisme anaerobic murni sebagai sumber energi. Sumber energi yang dapat segera digunakan untuk gerakan secara mendadak adalah derivat phospat organik berenergi tinggi yang terdapat di dalam otot. Senyawa phospat tersebut adalah phosporylcreatine yang dihidrolisis menjadi creatin dan grup phospat dengan melepas sejumlah energi (Ginther, 2006). Untuk gerakan yang bersifat mendadak atau cepat, metabolisme energi sangat bergantung pada ATP-PC (adenosine triphosphate-phosphocreatinase) sistem energi (Robinson et al., 1997)...... Creatine (Cr) merupakan jenis asam amino yang tersimpam di dalam otot sebagai sumber energi. Di dalam otot, bentuk creatine yang sudah ter-fosforilasi yaitu phosphorylcreatine (PCr) akan mempunyai peranan penting dalam proses metabolisme energi secara anaerobik di dalam otot untuk menghasilkan ATP (Gambetta, 2004). Dengan kata lain kontraksi otot membutuhkan energi dan otot akan berperan sebagai mesin pengubah energi kimia menjadi kerja mekanik. Perbedaan tehnik lompatan dalam latihan pliometrik squat jump dan twofoot ankle hop secara umum terdapat pada posisi tangan dimana dalam latihan pliometrik squat jump kedua tangan dilipat di belakang leher sedangkan pada latihan pliometrik two-foot ankle hop kedua tangan menggantung bebas. Dalam

latihan pliometrik beban yang digunakan berasal dari beban mekanik tubuh. Namun dari hasil penelitian ini posisi tangan tidak memberikan beda beban mekanik yang besar sehingga tidak ada beda pengaruh yang signifikan antara latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop.

B. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan waktu, biaya dan tenaga menyebabkan penelitian ini tidak dapat dilakukan dengan maksimal. Faktor lain yang turut mempengaruhi power otot tungkai dan menjadi keterbatasan dalam penelitian ini adalah aktivitas sampel penelitian di luar program latihan serta asupan nutrisi dari masing-masing sampel penelitian yang turut mempengaruhi kondisi fisik sampel. Untuk sudut lompatan peneliti telah mencoba untuk menyeragamkan sudut lompatan melalui pengarahan-pengarahan serta simulasi yang dilakukan di akhir minggu selama program latihan berlangsung.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan dari analisa hasil statistik, dapat diambil kesimpulan :


1. Ada pengaruh latihan pliometrik squat jump terhadap power otot tungkai

siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).
2. Ada pengaruh latihan pliometrik two-foot ankle hop terhadap power otot

tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).
3. Tidak ada perbedaan pengaruh antara latihan pliometrik squat jump dan

two-foot ankle hop terhadap power otot tungkai siswa kelas VII SMPN 25 Surakarta tahun 2011 yang diukur menggunakan tes lompat jauh tanpa awalan (LJTA).

A. Implikasi Hasil penelitian ini semakin memperkuat anggapan yang menyatakan bahwa latihan pliometrik dapat meningkatkan power otot tungkai. Power otot tungkai itu sendiri merupakan kemampuan dasar yang diperlukan dalam banyak cabang olahraga untuk gerakan-gerakan yang cepat dan kuat seperti melompat dan menendang.

Terdapat banyak macam latihan pliometrik, pada penelitian ini peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh latihan pliometrik squat jump dan two-foot ankle hop karena kedua jenis latihan pliometrik ini merupakan latihan tingkat dasar atau level low dari jenjang latihan pliometrik. Kedua jenis latihan ini baik untuk diterapkan pada remaja. Pemahaman tentang macam latihan dan merencanakan latihan yang tepat sangat penting sehingga hasil yang didapatkan sesuai dengan tujuan latihan. Fisioterapi sebagai salah satu profesi yang berkompeten dalam merancang suatu program latihan fisik memiliki peran penting dalam keberhasilan latihan, namun dibalik itu sangatlah dibutuhkan peran aktif responden atau secara luas oleh para calon atlet dalam pelaksanaan latihan tersebut. Beberapa yang harus diperhatikan yaitu dosis latihan, asupan makanan serta aktifitas fisik.

B. Saran Penelitian ini dilaksanakan dengan banyak keterbatasan sehingga peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian lanjutan yang lebih spesifik dan beragam variabelnya. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilaksanakan dangan jumlah sampel yang lebih banyak serta menggunakan pengukuran baik alat maupun suatu tes kemampuan yang lebih variatif dan akurat. Selain itu diharapkan penelitian selanjutnya dilakukan dengan jangka waktu lebih panjang sehingga dapat diketahui keefektifitasan lama program latihan pliometrik yang telah dilakukan. Kepada responden serta calon atlit lainnya diharapkan untuk lebih memperhatikan dosis latihan, asupan makanan/nutrisi, dan aktivitas lain yang

dapat mempengaruhi kemampuan otot maupun kondisi fisik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar, yaitu power otot tungkai sehingga nantinya setelah masuk dalam olahraga tertentu diharapkan responden dapat meningkatkan kemampuan fisik sesuai dengan cabang olahraga serta memperdalam skill agar dapat mencapai prestasi yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA Adams K, OShea JP, OShea KL, et al. 2000. The effect of six weeks of squat. plyometric training on muscle function and athletic performance. Journal of Strength and Conditioning Research. Adisasmita, Yusuf. 1992. Olahraga Pilihan Atletik. Jakarta: Depdikbud. Alimul, A. Azis, 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika. Arsil. 1999. Pedoman Pembinaan Kondisi Fisik. Padang : Fakultas Ilmu Keolahragaan UNP. Bisri, Muhammad. 2005. Perbedaan Hasil Latihan Squat Antara Volume Tetap Intensitas Bertambah Dan Volume Bertambah Intensitas Tetap Terhadap Daya Tahan Otot Tungkai Pada Lembaga Pendidikan Sepak Bola Sambirejo Selection Semarang Tahun 2005. Semarang : UNNES. Brandon, Raph. 2006. Power Training: How contrast power training maximizes Performance. http://www.pponline.co.uk/encyc/0603.htm. (diakses 29 April 2011) Burgoon, L. 2003. What is a Squat Jump?. http://www.wisegeek.com/what-is-asquat-jump.htm. (diakses 5 Agustus 2011) Cissik, John. M., MS. 2004. Pliometric Fundamentals. NSCAs Performance Training Journal vol 3 no 2. Chu, Donald. A. 1992. Jumping into Plyometrics. Champaign, Illinois : Human Kinetics Pub. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Nasional. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua Cetakan Ketiga. Jakarta : Balai Pustaka. Darkin, Leith. 2006. Increase Your Punching Power. http://www.martialartsandsportscience.com.au. (diakses 29 April 2011) Ebben WP, Carroll RM, Simenz CJ. 2004. Strength and conditioning practices of National Hockey League strength and conditioning coaches. Journal of Strength and Conditioning Research. Gambetta. 2004 Exercise training program for fitness and sport. http://www.thestretchinghanbook.com/newsletter.htm. (diakses 12 November 2011) Gehri DJ, Ricard MD, Kleiner DM, et al. 1998. A comparison of plyometric training techniques for improving vertical jump ability and energy production. Journal of Strength and Conditioning Research. Ginther, Mark. 2006. Strength Training for the NMA Fighter. http://www.veloforce.com/newsletter.htm. (diakses 29 April 2011)

Godfrey, Richard. 2006. Detraining Why a change really is better than a rest. http://www.pponline.co.uk/encyc/detraining.htm. (diakses 23 April 2011) Gregory, J E, C. L. Brockett, D. L. Morgan, N. P. Whitehead, U. Proske. 2008. Effect of eccentric muscle contractions on Golgi tendon organ responses to passive and active tension in the cat. The Journal of Phusiology. http://jp.physoc.org/cgi/content/full/538/1/209. (diakses 21 Mei 2011) Harsuki, H., MA. 2003. Perkembangan Olah Raga Terkini, Kajian Para Pakar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. healthmango.com. 2010. Gambar Lompat Jauh Tanpa Awalan. http://www.healthmango.com/fitness/standing-long-jump/. (diakses 19 Oktober 2011) Ilham, Anthony. (2011). Pengaruh Sprint Training dan Pliometrik Vertical Jump Terhadap Hasil Lompat Jauh Siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah 3 Sukoharjo Tahun 2010. Surakarta : UMS. Ismaryati. 2008. Tes Dan Pengukuran Olahraga, Cetakan 2. Surakarta: LPP UNS dan UNS Press. Jensen, R. Clayne, et. al. 1998. Applied kinesiology and Biomechanics. Singapura: Mc. Grow-Hill International Book Company. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 376/MENKES/SK/III/2007. Tentang Standar Profesi Fisioterapi. Nomor

Kilpatrick, J.T cit Pyke, F. 2003. Nutrition and diet for high performance athletes paper presentated at the national sport seminar. Yogyakarta : IKIP KONI. 2000. Panduan Kepelatihan. Jakarta : KONI Kosasih, Engkos. 1993. Olahraga Tehnik dan Program Latihan. Jakarta: Akademika Presindo. Kotzamanidis C. 2006. Effect of plyometric training on running performance and vertical jumping in prepubertal boys. J Strength Cond Res. Kraemer WJ., Mazzetti SA., Nindl BC., et al. 2001. Effect of resistance training on womens strength/power and occupational performances. Med Sci Sports Exercise. Lori, A.1999. Plyometrics for volleyball. In: Best of Coaching Volleyball, Book III: The Related Elements. Lubis, Johansyah. 2005. Mengenal Latihan Pliometrik. http://www.koni.or.id. (diakses 14 April 2011) Luebbers PE, Potteiger JA, Hulver MW, et al. 2003. Effects of plyometric training and recovery on vertical jump performance and anaerobic power. Journal of Strength and Conditioning Research. Malatesta D, Cattaneo F, Dugnani S, et al. 2003. Effects of electromyostimulation training and volleyball practice on jumping ability. Journal of Strength and Conditioning Research.

Malisoux L, Francaux M, Nielens H, et al. 2005. Stretch-shortening cycle exercises: an effective training paradigm to enhance power output of human single muscle fibers. J Appl Physiol. Markovic G, Jaric S. 2007. Is vertical jump height a body size independent measure of muscle power?. J Sports Sci. In press. McNeely, Ed. 2007. Introduction to Plyometrics. NSCAs Performance Training Journal vol 6 no 5. Notoatmojo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan (Edisi Revisi). Jakarta : PT. Rieke Cipta. Padua, Darin A. dan McGrath, Melanie. 2008. An Evidence Based Review on the Effectiveness of Plyometric Training. Sports Medicine Research Laboratory : University of North Carolina at Chapel Hill Potteiger JA, Lockwood RH, Haub MD, et al. 1999. Muscle power and fiber. Plyometric and squat-plyometric training on power production. J Appl Sport Science Reserach. Radcliffe, JC. dan Farentinos, RC. 2002. Pliometrik untuk Meningkatkan Power. Terjemahan M. Furqon H. dan Muchsin Doewes. Surakarta : Program Studi Ilmu Keolahragaan, Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Robinson LE, Devor ST, Merrick MA, et al. 2004. The effects of land vs. aquatic plyometrics on power, torque, velocity, and muscle soreness in women. J Strength Cond Res Rogers, Paul. 2008. Phase 1 And 2 To Early To Mid Pre-Season. http://www.weighttraining.about.com/od/weighttrainingforsport/a/baseball 2.htm. (diakses 28 April 2011) Sajoto, M. 1995. Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang : Semarang Press. Sidik, dikdik Zafar, M.Pd. 2010. Mengajar dan Melatih Atletik. Bandung : Remaja Rosdakarya. Soedarminto dan Soeparman. 1993. Materi Pokok Kinesiologi. Jakarta: Depdikbud. Sorensen, H., Zacho, M., Simonsen. 1996. Dynamics of martial arts high front kick. Journal of Sports Sciences. Sudaryanto, dan Erna. 2009. Perbedaan Pengaruh Quadriceps Bench Exercise Antara Beban 5 RM Dan 10 RM Terhadap Peningkatan Daya Ledak Tungkai. Makassar : Ikatan Fisioterapi Makassar. Syarifuddin, Aip. 1992. Atletik. Jakarta : Depdikbud. Weineck, J. 2000. Optimales training. Auflage. Balingen : Spitta Verlag GmbH. Wilson, Greg.______. Pelatihan Kekuatan Untuk Anak Umur 7-14 tahun : Program Tingkat 1 dan 2. Jakarta : Komite Olahraga Indonesia

Young WB, Wilson GJ, Byrne C. 1999. A comparison of drop jump training methods. Effects on leg extensor strength qualities and jumping performance. Int J Sports Med.

Lampiran 1

Lampiran 2

Lampiran 3 JADWAL PROGRAM LATIHAN PLIOMETRIK SQUAT JUMP DAN TWO-FOOT ANKLE HOP SISWA PUTRA KELAS VII SMPN 25 SURAKARTA TAHUN 2011

Pertemua n I

Program Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop


1. Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) 2. Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop

II

3. 1. 2.

III

3. 1. 2.

IV

3. 1. 2.

3. 1. 2.

VI

3. 1. 2.

VII

3. 1.

Jumlah set : 2 Jumlah repetisi : 8 Istirahat antar set : 2 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 2 Jumlah repetisi : 8 Istirahat antar set : 2 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 2 Jumlah repetisi : 8 Istirahat antar set : 2 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 8 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 8 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 8 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit)

2. Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop

VII

3. 1. 2.

IX

3. 1. 2.

3. 1. 2.

XI

3. 1. 2.

XII

3. 1. 2.

3.

Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 10 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 10 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 10 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 12 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 12 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit) Pendahuluan : Pemanasan dan Streching (15 menit) Latihan Pliometrik Squat Jump dan Two-Foot Ankle Hop Jumlah set : 3 Jumlah repetisi : 12 Istirahat antar set : 3 menit Penutup : Pendinginan (10 menit)

Lampiran 4

Lampiran 5

DATA KELOMPOK SQUAT JUMP

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Nama Ardi Yuda Natanael Noer Achmad Septian P Nur Tri Ardianto Mohammad Bagus Susilo Teguh Sugiarto Saputro Avishai Raviv Mulyono Ega Wahana Putra Irvan Adit Yuswanto Jefri Mahendra Allan Sea Jaladara Rinaldo Okta Millano Ahmad Saifulloh Ian Widjatmoko M Aldo Alfiansyah Rasyid Nur Fitroh Yoga Adi Pratama Alga Wahyu Alyahya Ivan Rizky Matias Refo R P

TB (cm) 148 145 141 150 139 148 146 159 154 150 157 150 156 160 150 160 153 149 151

BB Usia (Kg) (tahun) 44 40 31 55 30 30 45 53 46 54 51 41 39 45 40 46 47 42 46 12 12 12 12 13 12 12 12 12 13 13 12 13 12 12 14 12 12 13

Hasil Lompatan Awal 193 134,5 128 184 161,5 171 106 `121 112 106 105 114 165 155 165 188 181 130 123,5

Hasil Lompatan Akhir 201 139 131 202 157 182 110 130,5 166 111 122 125.5 158 162 188 208 192 155,5 154

Lampiran 6

DATA KELOMPOK TWO-FOOT ANKLE HOP

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Nama Reza Tahtusah Putra Fiqar Handiyan Nurfaizi Rendi Yohan A Mochammad A Nashuha Nanda Ari Perkasa Alfino Dwi Cahyo Ilham Galang Preasetyo Richo Fidiya S Achmad Syahrul Raharjo Fauzi Diky p Amar Rizal Rico Hardiyanto Putro Gusti Rian San Mahendra Okta Vianto Radika Mauludhani Mahdi Fernanda Dio Syah Putra Yudi Adi Prasetyo Airlangga Kusuma Bangsa Alvaris Ilham W

TB (cm) 143 155 157 146 155 157 150 158 165 140 157 145 160 161 141 156 157 151 149

BB Usia (Kg) (tahun) 33 39 51 45 50 39 45 45 65 45 49 33 46 57 39 44 46 40 37 13 12 12 12 13 13 12 13 14 12 12 12 12 13 12 12 13 12 12

Hasil Lompatan Awal 129 135 191 139 111 127 112 141 131 112 188 158 220 206 180 204 140 140 110

Hasil Lompatan Akhir 167 136 202 149 115 128,5 138 163 131,5 121 198 137 222 211 182 212 170 173 141

Lampiran 7

Descriptives: Squat jump

Descriptive Statistics N TB BB USIA SEBELUM SESUDAH Valid N (listwise) 19 19 19 19 19 19 Minimum 139 30 12 103.0 110.0 Maximum 160 55 14 193.0 208.0 Mean 150.84 43.42 12.37 142.395 157.605 Std. Deviation 5.919 7.448 .597 30.8327 31.3836

Descriptives: two-foot ankle hop


Descriptive Statistics N TB BB USIA SEBELUM SESUDAH Valid N (listwise) 19 19 19 19 19 19 Minimum 140 33 12 103.0 110.0 Maximum 165 65 14 193.0 208.0 Mean 152.79 44.63 12.42 142.395 157.605 Std. Deviation 7.138 7.840 .607 30.8327 31.3836

T-Test

Paired Samples Statistics Mean 142.395 157.605 151.263 163.000 N 19 19 19 19 Std. Deviation 30.8327 31.3836 35.7287 33.6803 Std. Error Mean 7.0735 7.1999 8.1967 7.7268

Pair 1 Pair 2

sebelum latihan squat sesudah latihan squat sebelum latihan two-foot ankle hop sesudah latihan two-foot ankle hop

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 sebelum latihan squat & sesudah latihan squat sebelum latihan two-foot ankle hop & sesudah latihan two-foot ankle hop 19 19 Correlation .830 .912 Sig. .000 .000

P aired S am p les T est P aired Differenc es 95% Confidenc e Interv al of the D ifferenc e Lower Upper -23.9483 -18.8280 -6.4728 -4.6457

M ean P air 1 P air 2 s ebelum latihan s quat -15.2105 s es udah latihan s quat s ebelum latihan two-foot ank le hop - s es udah -11.7368 latihan tw o-foot ank le hop

S td. E rror S td. Dev iation M ean 18.1286 14.7124 4.1590 3.3753

t -3.657 -3.477

df 18 18

S ig. (2-tailed) .002 .003

Normalitas: sebelum

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test sesudah latihan two-foot ankle hop 19 163.000 33.6803 .164 .164 -.114 .716 .685

N Normal Parameters a,b Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative

sesudah latihan squat 19 157.605 31.3836 .117 .117 -.097 .512 .956

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Normalitas: sesudah
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test sebelum latihan two-foot ankle hop 19 151.263 35.7287 .245 .245 -.124 1.066 .206

N Normal Parameters a,b Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative

sebelum latihan squat 19 142.395 30.8327 .182 .182 -.105 .795 .552

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

T-Test

Group Statistics LATIHAN HASIL LOMPATAN Squat Jump two-foot ankle hop N 19 19 Mean Std. Deviation 16.4211 16.97732 13.9474 12.51099 Std. Error Mean 3.89487 2.87022

In d ep en d en t S a m p les T est Lev ene's T e s t fo r E qua lity of V a ria nc es t-tes t for E qu ality of M ea ns

F H A S IL LO M P A T A N E qual v a ria nc es as s um ed E qual v a ria nc es no t as s u m ed .33 6

S ig. .566

t .51 1 .51 1

df 36 3 3.09 8

M ean S td . E rror S ig. (2-tailed) D ifferen c e D ifferenc e .6 12 .6 13 2.473 68 2.473 68 4 .8 38 19 4 .8 38 19

ples Test t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -7.33863 -7.36859 12.28600 12.31596

df 36

Sig. (2-tailed) .612 .613

Mean Difference 2.47368 2.47368

Std. Error Difference 4.83819 4.83819

3.098

Lampiran 8

Gambar 1: Timbangan berat badan

Gambar 2 : Stature Meter (pengukur tinggi badan)

Gambar 3 : Meteran

Gambar 4 : pengarahan pada sampel

Gambar 5 : pemanasan sebelum latihan

Gambar 6 : lapangan

Gambar 7 : simulasi lompatan

Gambar 8 : tes LJTA

Gambar 9 : pengukuran LJTA

Lampiran 911 : lompatan squat jump Gambar

Gambar 12 : lompatan two-foot ankle hop

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Arif Pristianto

Tempat tanggal lahir : Pontianak, 14 November 1989 Alamat : Jl. Adisucipto Gg. Wonodadi 1 No. 1 Kec. Sungai Raya, Kab. Kubu Raya, Kal-Bar No telepon : 085245963373

Riwayat Pendidikan : 1. SDN 08 Sungai Raya, lulus tahun 2001. 2. SMPN 1 Sungai Raya, lulus tahun 2004. 3. SMAN 1 Sungai Raya, lulus tahun 2007. 5. Program Studi D4 Fisioterapi UMS angkatan 2007.

Surakarta, 8 November 2011

Arif Pristianto