Anda di halaman 1dari 132

BAHAN AJAR MANDIRI

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN


3 SKS Modul 1 : Permasalahan dan Kebijakan Perlindungan Tanaman Modul 2 : Peraturan Perundang-Undangan Mengenai Perlindungan Tanaman dan Pestisida Modul 3 : Pengendalian Hama Terpadu sebagai Sistem Perlindungan Tanaman di Indonesia Modul 4 : Paradigma Perlindungan Pasca-PHT: Dari Perlindungan Tanaman Menjadi Perlindungan Kehidupan Secara Lintas Sektoral Modul 5 : Pengelolaan Program Perlindungan Tanaman Modul 6 : Tantangan Perlindungan Tanaman ke Depan

Oleh:
Ir. I Wayan Mudita, M.Sc.
DIBIAYAI OLEH DANA DIPA UNDANA TAHUN ANGGARAN 2010

JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA


2010

BAHAN AJAR MODUL

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN


3 SKS Modul 1 : Permasalahan dan Kebijakan Perlindungan Tanaman Modul 2 : Peraturan Perundang-Undangan Mengenai Perlindungan Tanaman dan Pestisida Modul 3 : Pengendalian Hama Terpadu sebagai Sistem Perlindungan Tanaman di Indonesia Modul 4 : Paradigma Perlindungan Pasca-PHT: Dari Perlindungan Tanaman Menjadi Perlindungan Kehidupan Secara Lintas Sektoral Modul 5 : Pengelolaan Program Perlindungan Tanaman Modul 6 : Tantangan Perlindungan Tanaman ke Depan

Oleh:
Ir. I Wayan Mudita, M.Sc.
DIBIAYAI OLEH DANA DIPA UNDANA TAHUN ANGGARAN 2010

JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA


2010

Bahan Ajar Mandiri

LEMBAR PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa modul berjudul Kebijakan Perlindungan Tanaman adalah karya asli saya dan belum pernah dibiayai dari sumber dana lain serta sesuai dengan Standar Penulisan Bahan Ajar Berbentuk Modul bagi dosen di lingkungan Universitas Nusa Cendana. Apabila di kemudian hari ternyata pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.

Kupang, 8 Desember 2010

Ir. I Wayan Mudita, M.Sc. NIP: 19590721 198601 1 002

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

LEMBAR PENGESAHAN

Nama Matakuliah Penulis

: Kebijakan Perlindungan Tanaman : Ir. I Wayan Mudita, M.Sc.

Telah diperiksa dengan sebenar-benarnya bahwa naskah modul tersebut asli dan sesuai Standar Penulisan Bahan Ajar Berbentuk Modul bagi dosen Universitas Nusa Cendana

Mengetahui: a.n. Dekan Fakultas Pertanian Undana Pembantu Dekan Bidang Akademik,

Kupang, 10 Desember 2010

Reviewer,

Ir. Marthen R. Pellokila, MP, Ph.D. NIP: 19650317 198903 1 002

Ir. H.J.D. Lalel, MSi., Ph.D. NIP: 19640620 198901 1 001

Kebijakan Perlindungan Tanaman

ii

Bahan Ajar Mandiri

KATA PENGANTAR
... what I see is a few scientist have gotten in bed with the politicians and true science has been averted to meet their agenda.

John McClintcck (2009) Selesainya penulisan modul matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman ini hanya dimungkinkan atas perkenanan Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu, kepada-Nya penulis pertama-tama menyampaikan puji syukur yang setinggi-tingginya. Penulisan modul ini tidak lepas pula dari dukungan dana DIPA Undana Tahun Anggaran 2010 dan dorongan yang diberikan oleh pimpinan universitas, khususnya pimpinan LP3 Undana, pimpinan fakultas, khususnya Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Pertanian Undana, Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Undana, reviewer, rekan-rekan pengasuh matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman, serta rekan-rekan lainnya. Untuk dukungan dana tersebut dan dorongan yang telah diberikan, penulis menyampaikan terima kasih.

Modul ini disusun sebagai bagian dari upaya untuk terus memperbaiki proses pembelajaran di lingkungan Universitas Nusa Cendana, khususnya di lingkungan Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. Modul menjadi bagian yang sangat penting dalam membantu mahasiswa mengikuti proses pembelajaran dengan kurikulum berbasis kompetensi. Selain itu, modul juga bermanfaat bagi dosen dalam menyiapkan pelaksanaan proses pembelajaran dan bagi jurusan dalam menyusun borang akreditasi. Mengingat pentingnya modul tersebut maka upaya telah dilakukan secara maksimal untuk menyusunnya sesuai dengan Standar Penulisan Bahan Ajar Berbentuk Modul bagi dosen Universitas Nusa Cendana. Namun mengingat terbatasnya waktu yang tersedia yang disertai dengan berbagai kesibukan lainnya maka berbagai kekurangan tetap tidak dapat dihindarkan. Untuk semakin menyempurnakan isi modul ke depan, kritik dan saran sangat diharapkan dari mahasiswa, rekan-rekan dosen, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Penyusunan modul dilakukan untuk matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman didasarkan atas pertimbangan bahwa matakuliah ini merupakan matakuliah inti dalam Kebijakan Perlindungan Tanaman iii

Bahan Ajar Mandiri

kurikulum berbasis kompetensi Jurusan Budidaya Fakultas Pertanian Undana. Matakuliah ini menggantikan matakuliah Pengendalian Hama Terpadu yang semula dimasukkan sebagai kurikulum inti, tetapi setelah mempertimbangkan bahwa matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman mempunyai cakupan yang lebih luas maka matakuliah Pengendalian Hama Terpadu digantikan dengan matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman dan SKS matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman yang pada kurikulum sebelumnya sebesar 2 SKS ditingkatkan menjadi 3 SKS. Dimasukkannya matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman sebagai kurikulum inti diharapkan dapat menyeimbangkan komponen teknis dengan komponen sosial dalam kurikulum berbasis kompetensi Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Undana.

Pada akhirnya, terlepas dari berbagai kekurangan yang masih ada, semoga modul ini bermanfaat bagi mahasiswa dan pihak-pihak lain yang memerlukan. Semoga pula, dengan kritik dan saran yang diharapkan dari mahasiswa dan para pihak lainnya, modul ini dapat semakin disempurnakan ke depan.

Kupang, awal Desember 2010

Penulis
McClintcck, J. (2009) Response to Growth of Crops, Weeds, CO2 and Lies. Diakses pada 1 Desember 2010 dari: http://buythetruth.wordpress.com/2009/07/11/growth-of-crops-weeds-co2-and-lies/

Kebijakan Perlindungan Tanaman

iv

Bahan Ajar Mandiri

DAFTAR ISI
Halaman LEMBAR PERNYATAAN i LEMBAR PENGESAHAN ii KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR x DAFTAR LAMPIRAN xii TINJAUAN MATAKULIAH xiii PETA KOMPETENSI xv MODUL 1 PERMASALAHAN DAN KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN 1 PENDAHULUAN 1 Pokok-pokok Isi dan Manfaat 1 Kompetensi Khusus 1 Indikator dan Petunjuk Belajar 2 KEGIATAN BELAJAR 1: PERMASALAHAN PERLINDUNGAN TANAMAN DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN 2 Uraian 2 Latihan 6 Rangkuman 6 KEGIATAN BELAJAR 2: PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENENTUKAN KEBIJAKAN 6 Uraian 6 Latihan 11 Rangkuman 11 PENUTUP 11 Tes Formatif 11 Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar 13 Tindak Lanjut 13 Glosarium 14 Daftar Pustaka 15 MODUL 2 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERLINDUNGAN TANAMAN DAN PESTISIDA 16 PENDAHULUAN 16 Pokok-pokok Isi dan Manfaat 16 Kompetensi Khusus 17 Indikator dan Petunjuk Belajar 17 KEGIATAN BELAJAR 1: PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN MENGENAI PERLINDUNGAN TANAMAN 18 Uraian 18 Latihan 21 Kebijakan Perlindungan Tanaman v

Bahan Ajar Mandiri

Rangkuman KEGIATAN BELAJAR 2: PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN MENGENAI PESTISIDA Uraian Latihan Rangkuman KEGIATAN BELAJAR 3: MENGKRITISI PERTAURAN PERUNDANG-UNDANGAN Uraian Latihan Rangkuman PENUTUP Tes Formatif Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Tindak Lanjut Glosarium Daftar Pustaka MODUL 3 PENGENDALIAN HAMA TERPADU SEBAGAI SISTEM PERLINDUNGAN TANAMAN DI INDONESIA PENDAHULUAN Pokok-pokok Isi dan Manfaat Kompetensi Khusus Indikator dan Petunjuk Belajar KEGIATAN BELAJAR 1: LATAR BELAKANG, KONSEP, DAN HAKEKAT PHT Uraian Latihan Rangkuman KEGIATAN BELAJAR 2: PENGAMBILAN KEPUTUSAN, PENERAPAN, DAN PENGORGANISASIAN PHT Uraian Latihan Rangkuman KEGIATAN BELAJAR 3: KEBERHASILAN, KEKURANGAN, DAN PERKEMBANGAN PHT Uraian Latihan Rangkuman PENUTUP Tes Formatif Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Tindak Lanjut Glosarium Daftar Pustaka MODUL 4 PARADIGMA PERLINDUNGAN PASCA-PHT: DARI PERLINDUNGAN TANAMAN MENJADI PERLINDUNGAN KEHIDUPAN SECARA LINTAS SEKTORAL PENDAHULUAN Kebijakan Perlindungan Tanaman

21 22 22 24 25 25 25 28 28 28 28 30 31 31 32 33 33 33 33 34 34 34 38 38 39 39 43 43 44 44 48 48 48 48 51 52 52 53

55 vi

Bahan Ajar Mandiri

Pokok-pokok Isi dan Manfaat Kompetensi Khusus Indikator dan Petunjuk Belajar KEGIATAN BELAJAR 1: SEKTOR PERLINDUNGAN DAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PHT Uraian Latihan Rangkuman KEGIATAN BELAJAR 2: PERUBAHAN PARADIGMA PERLINDUNGAN MENJADI LINTAS SEKTORAL Uraian Latihan Rangkuman PENUTUP Tes Formatif Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Tindak Lanjut Glosarium Daftar Pustaka MODUL 5 PENGELOLAAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN PENDAHULUAN Pokok-pokok Isi dan Manfaat Kompetensi Khusus Indikator dan Petunjuk Belajar KEGIATAN BELAJAR 1: TAHAP DAN DAUR PENGELOLAAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN Uraian Latihan Rangkuman KEGIATAN BELAJAR 2: PENDEKATAN KERANGKA KERJA LOGIS DALAM PERANCANGAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN Uraian Latihan Rangkuman KEGIATAN BELAJAR 3: PERANCANGAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN DENGAN PENDEKATAN KERANGKA KERJA LOGIS Uraian Latihan Rangkuman PENUTUP Tes Formatif Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Tindak Lanjut Glosarium Daftar Pustaka MODUL 6 TANTANGAN PERLINDUNGAN TANAMAN KE DEPAN Kebijakan Perlindungan Tanaman

55 55 56 56 56 61 61 61 61 66 67 67 67 60 70 70 71 72 72 72 73 73 73 73 77 77

78 78 83 83

84 84 88 88 89 89 92 92 92 94 vii

Bahan Ajar Mandiri

PENDAHULUAN Pokok-pokok Isi dan Manfaat Kompetensi Khusus Indikator dan Petunjuk Belajar KEGIATAN BELAJAR 1: PERUBAHAN KEBIJAKAN UNTUK MENGANTISIPASI PERMASALAHAN PERLINDUNGAN TANAMAN Uraian Latihan Rangkuman PENUTUP Tes Formatif Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Tindak Lanjut Glosarium Daftar Pustaka

95 95 95 96

96 96 101 101 102 102 103 103 104 104

Kebijakan Perlindungan Tanaman

viii

Bahan Ajar Mandiri

DAFTAR TABEL
Tabel Halaman 4.1. Definisi bahaya sebagaimana ditetapkan oleh lembaga/konvensi internasional yang menangani sektor yang bersangkutan 63 4.2. Standardisasi langkah-langkah penilaian risiko yang semula berbeda-beda antar kelembagaan/konvensi yang kerkaitan dengan kehidupan dan kesehatan mahluk hidup 64 4.3. Standardisasi langkah-langkah pengelolaan risiko yang semula berbedabeda antar kelembagaan/konvensi yang kerkaitan dengan kehidupan dan kesehatan mahluk hidup 65

Kebijakan Perlindungan Tanaman

ix

Bahan Ajar Mandiri

DAFTAR GAMBAR
Tabel Halaman 1.1. Penggerek buah kakao: (a) Larva dan imago PBK, (b) Kerusakan yang ditimbulkan oleh, dan (c) Sarungisasi buah kakao yang direkomendasikan pemerintah sebagai tindakan perlindungan 3 1.2. Belalang kembara: (a) Gerombolan belalang kembara dan (b) Kerusakan yang ditimbulkan oleh belalang kembara, dan (c) Tindakan perlindungan tanaman yang dilakukan 4 1.3. Program jagungisasi: (a) Tanaman jagung yang dibudidayakan secara monokultur dan (b) Jagung yang disimpan dalam rumah bulat dirusakkan oleh kumbang bubuk 5 1.4. Gambar 1.4. Jeruk Keprok Soe: (a) Gejala CVPD, (b) Hasil uji PCR menunjukkan CVPD positif, dan (b) Tindakan perlindungan tanaman dengan mengoleskan bubur Kalifornia 6 1.5. Kebijakan perlindungan tanaman: (a) Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan (b) Petugas pemerintah sedang melakukan pengambilan sampel untuk pemantauan OPT 8 2.1. Tindakan perlindungan tanaman: (a) Petugas karantina sedang melakukan pemeriksaan, (b) Penyemprotan insektisida untuk mengendalikan wereng cokelat, dan (d) Pembakaran untuk melakukan eradikasi 21 2.2. Ketentuan aplikasi pestisida dan residu pestisida: (a) Peralatan keamanan aplikasi pestisida baku, (b) Pemberian peringatan pada lahan setelah dilakukan aplikasi pestisida, dan (c) Laboratorium canggih untuk melakukan pengujian residu pestisida 24 2.3. Lalat puru Cecidochares connexa merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan gulma kirinyu (Chromolaena odorata), apakah juga termasuk OPT? (a) Lalat dewasa, (b) puru dengan lubang keluar, dan (c) larva di dalam puru 26 3.1. Pestisida dan wereng cokelat: (a) Aplikasi pestisida secara terjadwal pada masa pra-PHT, (b) Nimfa dan imago wereng cokelat menggerombol pada pangkal rumpun padi, dan (c) tanaman padi mengering setelah diserang wereng cokelat. Gambar (c) adalah tanaman padi di persawahan PT Sanghyang Seri dan BB Padi Sukamandi yang juga tidak luput dari serangan OPT tersebut 36 3.2. Kegiatan SL-PHT: (a) Pengamatan agro-ekosistem pada SLPHT padi, (b) Pengenalan OPT dan musuh alami pada SL-PHT kakao, dan (c) Pengamatan agro-ekosistem pada SL-PHT kedelai 41 3.3. Melalui SL-PHT petani berdiskusi, membuat percobaan, dan belajar rumitnya interaksi antara OPT dengan musuh alaminya: (a) Kegiatan berdiskusi serta melakukan percobaan dan pengamatan dan (b) Gambar yang dibuat petani mengenai interaksi antara musuh alami dan OPT 46 3.4. Penggunaan dan subsidi pestisida kimiawi di Indonesia, benarkah berkurang hanya karena PHT? (a) Penggunaan pestisida dan produksi beras dan (b) Nilai subisi pestisida dalam USD 46 4.1. Komponen tatakelola pemerintahan yang baik (good governance) 59 5.1. Daur pengelolaan program terdiri atas langkah-langkah penilaian (assessment), perancangan dan pelaksanaan (design and implementation), pemantauan (monitoring), evaluasi (evaluation), perenungan (reflection), 74 Kebijakan Perlindungan Tanaman x

Bahan Ajar Mandiri

dan pengalihan (transition) 5.2. Contoh pohon masalah yang digunakan sebagai metode untuk melaksanakan analisis masalah 5.3. Contoh pohon tujuan yang digunakan sebagai metode untuk melaksanakan analisis tujuan 6.1. Pertumbuhan penduduk dunia yang menunjukkan kecenderungan eksponensial 6.2. Anomali suhu udara permukaan bumi sejak 1850 sampai 2006 terhadap rerata suhu antara 1961 sampai 1990 (garis merah, disertai dengan kisaran galat 5-95%) berikut variasi sepuluh tahunannya (kurva biru) 6.3. Kecenderungan linier suhu tahunan: (a) 1901-2005 (oC per abad) berdasarkan data selama 66 tahun dan (b) 1979-2005 (oC per dasawarsa) berdasarkan data selama 18 tahun. Nilai tahunan diperoleh bila terdapat nilai anomali suhu valid selama 10 bulan. Kawasan berwana abu-abu menunjukkan tidak tersedia cukup data untuk menghitung kecenderungan 6.4. Hari pertama munculnya imago Diaphorina citri pada tahun pertama menurut hasil simulasi (tahun dimulai 1 Juli) dampak pemanasan global terhadap pemencaran OPT tersebut ke Australia: (a) tahun 1990, (b) Tahun 2030, dan (c) tahun (2070). Biru menyatakan sebelum 20 Juli dan bergerak ke arah merah yang menyatakan setelah 1 Desember 6.5. Ketahanan hayati di batas negara: (a) Pemeriksaan oleh petugas karantina Indonesia, (b) Pemeriksaan dengan bantuan anjing oleh petugas karantina Selandia Baru, dan (c) Pemeriksaan dengan bantuan anjing oleh petugas karantina Australia

80 82 97

98

98

99

99

Kebijakan Perlindungan Tanaman

xi

Bahan Ajar Mandiri

DAFTAR LAMPIRAN
Tabel Halaman 1. Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester Matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman 106 2. Kunci jawaban tes formatif modul matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman 109

Kebijakan Perlindungan Tanaman

xii

Bahan Ajar Mandiri

TINJAUAN MATAKULIAH

Nama Matakuliah SKS Semester

: Kebijakan Perlindungan Tanaman : 3 (2-1) : Genap

1. Pokok-pokok Materi Modul Modul matakuliah Kabijakan Perlindungan Tanaman ini terdiri atas enam bagian yang masing-masing dibagi menjadi sejumlah kegiatan belajar sebagai berikut:
Modul Permasalahan dan Kebijakan Perlindungan Tanaman Kegiatan Belajar Permasalahan Perlindungan Tanaman dan Dampak yang Ditimbulkan Pengertian, Ruang Lingkup, dan FaktorFaktor yang Dapat Menentukan Kebijakan Pokok-pokok Materi Contoh-contoh permasalahan perlindungan tanaman di Indonesia dan NTT serta dampak yang ditimbulkan Pengertian perlindungan tanaman, organisme pengganggu tumbuhan, kebijakan, dan kebijaksanaan, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta ruang lingkup kebijakan perlindungan tanaman Uraian singkat UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Perlindungan Tanaman, UU No. 12 Tahun 1992 tentang Karantina Ikan, Hewan, dan Tumbuhan, PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman dan PP No. 16 Tahun 2004 tentang Karantina Tumbuhan Uraian singkat PP No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida dan Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian //// Nomor: //.// tentang Batas

Peraturan Peraturan PerundangPerundangundangan Mengenai undangan Mengenai Perlindungan Tanaman Perlindungan Tanaman dan Pestisida Peraturan Perundangundangan Mengenai Pestisida

Maksimum Residu Pestisida pada Hasil Pertanian Mengkritisi Pertauran Kritik terhadap ketidak konsistenan isi Perundang-undangan peraturan perundang-undangan satu dengan yang lain dan dengan teori dalam bidang perlindungan tanaman Pengendalian Hama Latar Belakang, Konsep, Sejarah penerapan PHT di Indonesia, konsep Terpadu Sebagai dan Hakekat PHT PHT, dan hakekat PHT Sistem Pengambilan Keputusan, PHT sebagai instrumen pengambilan keputusan Perlindungan Penerapan, dan perlindungan tanaman dan penerapan Tanaman di Pengorganisasian PHT Indonesia Keberhasilan, Uraian mengenai keberhasilan dan kekurangan Kekurangan, dan PHT serta perkembangan penerapan PHT di

Kebijakan Perlindungan Tanaman

xiii

Bahan Ajar Mandiri

Modul

Kegiatan Belajar Perkembangan PHT Paradigma Sektor Perlindungan dan Perlindungan Pasca- Pemangku Kepentingan PHT: Dari Dalam PHT Perlindungan Perubahan Paradigma Tanaman Menjadi Perlindungan Menjadi Perlindungan Lintas Sektoral Kehidupan Secara Lintas Sektoral Pengelolaan Tahap dan Daur Program Pengelolaan Program Perlindungan Perlindungan Tanaman Tanaman

Pokok-pokok Materi Indonesia dan negara-negara lain Sektor Penerapan PHT dan pemangku kepentingan yang terkait dengan PHT pada berbagai sektor pembangunan Ketahanan hayati (biosecurity) sebagai konsep yang memadukan berbagai sektor yang terkait dengan perlindungan melalui risiko yang ditimbulkan oleh organisme pengganggu Pengelolaan program atau proyek perlindungan tanaman melalui tahap-tahap penilaian, perancangan dan pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, perenungan, dan pengalihan yang dilaksanakan berturut-turut dalam urutan melingkar sehingga membentuk daur pengelolaan Pengertian pendekatan kerangka kerja logis dan tahap-tahap penerapannya untuk meancang program atau proyek perlindungan tanaman Merancang program atau proyek perlindungan tanaman dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis dan mengisi matriks kerangka kerja logis Berbagai tantangan yang akan dihadapi oleh perlindungan tanaman dan perubahan kebijakan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan tersebut

Pendekatan Kerangka Kerja Logis dalam Perancangan Program Perlindungan Tanaman Perancangan Program Perlindungan Tanaman dengan Pendekatan Kerangka Kerja Logis Tantangan Perubahan Kebijakan Perlindungan untuk Mengantisipasi Tanaman Ke Depan Permasalahan Perlindungan Tanaman

2. Manfaat Modul Modul matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman ini diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk melaksanakan proses pembelajaran mandiri dalam mengikuti pendidikan dengan kurikulum berbasis kompetensi, mempermudah tim dosen untuk menyajikan materi pembelajaran dalam hal konsistensi antar anggota tim dosen pengasuh matakuliah dan antar kelas-kelas paralel, dan membantu pimpinan jurusan dalam mengelola proses pembelajaran di jurusan. Modul ini juga diharapkan bermanfaat bagi para pihak lain yang berkepentingan dengan kebijakan perlindungan tanaman.

3. Tujuan/Kompetensi Umum Pembelajaran Setelah menyelesaikan perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan pemahaman dan kemampuan melakukan analisis dan sintesis terhadap: 1) Permasalahan perlindungan tanaman dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah dalam bidang perlindungan tanaman berikut paradigma yang melandasinya. Kebijakan Perlindungan Tanaman xiv

Bahan Ajar Mandiri

2) Berbagai produk perundang-undangan yang telah ditetapkan sebagai landasan hukum pengambilan kebijakan perlindungan tanaman. 3) Berbagai faktor yang menentukan pengambilan kebijakan perlindungan tanaman dan kemungkinan dampak yang ditimbulkan. 4) Tanggung jawab para pemangku kepentingan dalam pengambilan kebijakan perlindungan tanaman. 5) Perubahan permasalahan perlindungan tanaman yang terjadi di masa depan seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi secara global.

4. Petunjuk Umum Cara Mempelajari Modul Materi matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman disajikan dalam enam modul, mulai dari Modul 1 sampai Modul 6 sebagai sudah dijelaskan pada Pokok-pokok Materi Modul. Modul-modul tersebut perlu dipelajari secara berurutan dengan menuntaskan seluruh kegiatan belajar yang terdapat dalam satu modul sebelum melanjutkan ke modul berikutnya. Untuk mempelajari materi setiap modul, mahasiswa diharapkan terlebih dahulu bagian pendahuluan untuk memperoleh gambaran mengenai isi modul dan kompetensi khusus yang diharapkan dan kemudian dilanjutkan dengan membaca secara kritis uraian, mengerjakan latihan, dan memahami rangkuman yang diberikan pada setiap kegiatan belajar, sebelum diakhiri dengan mengerjakan tes formatif pada bagian akhir setiap modul. Tergantung pada hasil tes formatif, mahasiswa dapat melanjutkan mempelajari modul selanjutnya atau kembali harus memperdalam modul yang bersangkutan bila tes formatif menunjukkan hasil belum cukup atau gagal. Untuk memperdalam dan memperluas wawasan pemahaman, mahasiswa diharapkan membaca glosarium serta mencari dan membaca pustaka yang diberikan pada bagian penutup setiap modul

Kebijakan Perlindungan Tanaman

xv

Bahan Ajar Mandiri

PETA KONSEP

PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN

PENGENDALIAN HAMA TERPADU

PERMASALAHAN PERLINDUNGAN TANAMAN

PENGELOLAAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN

KETAHANAN HAYATI

TANTANGAN KE DEPAN

Kebijakan Perlindungan Tanaman

xvi

Bahan Ajar Mandiri

MODUL 1 PERMASALAHAN DAN KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN

PENDAHULUAN

Pokok-pokok Isi dan Manfaat Sebagaimana telah dipelajari dalam matakuliah Dasar-dasar Perlindungan tanaman dan matakuliah lainnya dalam bidang perlindungan tanaman, tanaman menghadapi gangguan oleh berbagai jenis organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang bila tidak diberikan perhatian secara semestinya akan menimbulkan kerugian dan berbagai permasalahan lainnya. Pokok bahasan mengenai permasalahan dan kebijakan perlindungan tanaman ini dikemas dalam dua kegiatan belajar yang saling berkaitan: 1) Permasalahan perlindungan tanaman dan dampak yang ditimbulkan, menguraikan berbagai permasalahan perlindungan tanaman dengan contoh-contoh yang relevan dengan keadaan di Provinsi NTT dan Indonesia. 2) Pengertian, ruang lingkup, dan faktor-faktor yang menentukan kebijakan, menguraikan pengertian kebijakan, ruang lingkup kebijakan perlindungan tanaman, dan faktor-faktor yang menentukan pengambilan kebijakan perlindungan tanaman. Modul ini merupakan modul yang menjadi dasar untuk memahami modul-modul selanjutnya bahwa untuk memahami perlindungan tanaman secara utuh dibutuhkan bukan semata-mata ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga kebijakan yang tepat yang harus diambil oleh pemerintah.

Kompetensi Khusus Setelah mempelajari kedua kegiatan belajar yang menjadi bagian dari modul ini mahasiswa diharapkan mampu: 1) Mengidentifikasi berbagai permasalahan perlindungan tanaman yang dihadapi di lapangan 2) Memahami pengertian dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan kebijakan perlindungan tanaman 3) Menguraikan ruang lingkup kebijakan perlindungan tanaman

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

Indikator dan Petunjuk Belajar Keberhasilan mempelajari modul ini diukur berdasarkan keberhasilan memahami permasalahan secara utuh dari contoh-contoh yang diberikan. Untuk mempelajari modul ini, uraian pada setiap pokok bahasan perlu dibaca secara kritis dengan menyimak inti dari setiap alinea dan membandingkan satu contoh dengan contoh lainnya untuk kemudian menentukan topik permasalahannya atau konsep yang dimuat. Setiap kegiatan belajar memerlukan waktu 100 menit sehingga untuk mempelajari modul ini diperlukan waktu 200 menit.

KEGIATAN BELAJAR 1: PERMASALAHAN PERLINDUNGAN TANAMAN DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN

Uraian Penggerek buah kakao (Conopomorpha chamerella), biasa disingkat menjadi PBK, merupakan OPT paling penting pada budidaya kakao. Imago C. cramerela meletakkan telur pada buah muda dan kemudian larva yangbaru menetas segera menggerek masuk ke dalam buah untuk memakan daging yang menyelaputi biji sehingga menyebabkan biji menjadi rusak dan sulit dilepaskan dari dalam buah dan dipisahkan satu sama lain. Untuk melindungi buah kakao, pemerintah pusat mengeluarkan rekomendasi pengendalian secara mekanik dengan cara membungkus buah muda menggunakan kantong plastik (lazim disebut sarungisasi). Rekomendasi yang didasarkan atas hasil penelitian pada perkebunan yang membudidayakan kakao secara intensif di dataran rendah ternyata sulit dapat diterapkan pada perkebunan rakyat, yang pada umumnya membudidayakan kakao dalam areal terbatas di lereng-lereng bukit secara ekstensif tanpa pemangkasan pohon. Petani tidak mampu untuk menerapkannya terutama karena secara teknis sulit dilakukan (harus memanjat pohon dengan risiko terjatuh di lereng yang terjal dan harus menempuh perjalanan jauh ke kota untuk membeli kantong plastik) dan secara secara budaya memerlukan biaya tinggi (untuk memangkas pohon harus didahului dengan upacara adat).

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

(a) (b) Gambar 1.1. Penggerek buah kakao: (a) Larva dan imago PBK, (b) Kerusakan yang ditimbulkan oleh, dan (c) Sarungisasi buah kakao yang direkomendasikan pemerintah sebagai tindakan perlindungan. Sumber: Foto (a) dan (c) dari situs Kementerian Pertanian (http://database.deptan.go.id/ditlinbun/WebPages/InfoPerlinbun/hama_ kakao.htm) Belalang kembara (Locusta migratoria) merupakan OPT yang secara rutin menghancurkan tanaman pangan, khususnya jagung dan padi, di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Belalang biasanya akan menjadi eksplosif ketika terjadi musim hujan dengan curah hujan yang tinggi yang pada tahun-tahun sebelumnya terjadi musim kemarau yang kering. Pada musim hujan, nimfa berkembang pesat di padang rumput yang banyak terdspat di wilayah Provinsi NTT. Nimfa dan imago yang mula-mula berkembang di padang rumput tersebut kemudian secara bergerombol dalam jumlah yang sangat besar akan membinasakan tanaman dalam waktu singkat. Oleh karena itu, eksplosi belalang kembara hampir selalu diikuti dengan terjadinya rawan pangan. Untuk mengatasi masalah ini, sampai tahun 1990-an pemerintah kabupaten selalu melakukan pengendalian dengan insektisida kimiawi dan bahkan meminta agar pemerintah provinsi atau pemerintah pusat melakukan penyemprotan insektisida kimiawi dengan menggunakan pesawat terbang. Padalah jauh sebelumnya, yaitu sejak tahun 1980-an, pemerintah pusat telah menetapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai sistem perlindungan tanaman. Dengan PHT, pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan pestisida hanya dibenarkan sebagai pilihan terakhir. Pengendalian belalang kimia secara hayati baru dilakukan sejak 2008 dengan dukungan teknis dan pendanaan dari FAO.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

(a) (b) (c) Gambar 1.2. Belalang kembara: (a) Gerombolan belalang kembara dan (b) Kerusakan yang ditimbulkan oleh belalang kembara, dan (c) Tindakan perlindungan tanaman yang dilakukan Jagung merupakan tanaman pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Provinsi NTT. Untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan pokok tersebut, penduduk pada umumnya membudidayakan jagung secara tradisional dengan menggunakan sistem perladangan tebas bakar (shifting cultivation) sekali dalam setahun pada musim hujan. Jagung yang dibudidayakan pada umumnya adalah jagung lokal secara campuran dengan berbagai jenis tanaman pangan lain, palawija, dan sayuran. Selain karena jagung lokal produksinya memang rendah, budidaya dalam pola campuran membuat produksi bahkan semakin rendah lagi. Bukan hanya itu, jagung untuk kebutuhan pangan selama satu tahun disimpan secara sangat sederhana sehingga sangat mudah dirusakkan oleh kumbang bubuk (terutama Sitophilus spp.). Di Timor Barat misalnya, bila tidak dilakukan pengasapan selama tiga bulan pertama sejak panen, kehilangan hasil oleh kumbang bubuk dapat mencapai 40%. Untuk mengatasi produksi jagung yang rendah tersebut, pemerintah Provinsi NTT menggulirkan program intensifikasi jangung yang dinenal dengan istilah jagungisasi. Melalui program tersebut, pemerintah mengintroduksi jagung hibrida dan jagung komposit unggul untuk menggantikan jagung lokal. Padahal jagung hibrida dan jagung komposit unggul lebih disukai oleh kumbang bubuk. Bila selama tiga bulan pertama setelah panen tidak dilakukan pengasapan maka kehilangan hasil dapat mencapai 60%. Sementara itu, perbaikan teknologi penyimpanan tidak dilakukan sampai kemudian pada 2008 Bank Dunia memperkenalkan penyimpanan secara kedap udara dalam drum dan jerigen plastik.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

Gambar 1.3. Program jagungisasi: (a) Tanaman jagung yang dibudidayakan secara monokultur dan (b) Jagung yang disimpan dalam rumah bulat dirusakkan oleh kumbang bubuk Jeruk keprok merupakan tanaman buah-buahan unggulan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Karena merupakan tanaman unggulan maka kemudian ditetapkan sebagai varietas unggul nasional dengan nama Jeruk Keprok Soe (JKS). Sebelum ditetapkan sebagai varietas unggul nasional, berbagai proyek telah dilaksanakan untuk meningkatkan luas tanam dan membudidayakan JKS secara lebih intensif. JKS yang secara tradisional dibudidayakan dengan menanam anakan asal biji sebagai tanaman pekarangan bercampur dengan berbagai tanaman lain kemudian diubah menjadi ditanam dari bibit okulasi secara monokultur dalam areal di luar lahan pekarangan. Penanaman secara intensif dan dalam areal yang luas sebenarnya sangat berpotensi menimbulkan terjadinya eksplosi OPT. Pada tanaman jeruk keprok, OPT yang paling merusak adalah penyakit CVPD yang disebabkan oleh bakteri yang di Asia adalah Candidatus Liberibacter asiaticus. Penyakit ini di luar negeri sebelumnya disebut greening dan sekarang disebut huanglongbing (pucuk menguning, disingkat HLB). Pada 2003, peneliti dari Balai Penerapan Teknologi Pertanian Naibonat telah menemukan penyakit ini pada JKS. Temuan tersebut diperkuat kembali oleh Kantor Karantina Kelas I Kupang pada 2007 dan kemudian oleh Mudita & Natonis pada 2009. Tetapi pemerintah Kabupaten TTS sampai saat ini membantah bahwa JKS telah tertular CVPD dan mengatakan peneliti yang menemukan CVPD pada JKS sebagai peneliti yang tidak berkompeten. Menurut pemerintah Kabupaten TTS, penyakit yang diderita oleh JKS hanyalah penyakit diplodia basah dan diplodia kering dan merekomendasikan penggunaan bubur Kalifornia, yaitu campuran yang dibuat dari bahan belerang dan kapur yang dipanaskan dalam air, sebagai tindakan perlindungan tanaman.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

(a) (b) (c) Gambar 1.4. Jeruk Keprok Soe: (a) Gejala CVPD, (b) Hasil uji PCR menunjukkan CVPD positif, dan (b) Tindakan perlindungan tanaman dengan mengoleskan bubur Kalifornia Latihan Setiap contoh yang terdapat dalam uraian memuat satu atau beberapa topik permasalahan. Buatlah tabel yang terdiri atas dua kolom, kolom pertama memuat contoh dan kolom kedua memuat topik permasalahan. Bandingkan hasil yang diperoleh dengan hasil yang diperoleh mahasiswa lain.

Rangkuman Permasalahan perlindungan tanaman terjadi karena tersedia tiga komponen yang mendukung perkembangan OPT, yaitu OPT itu sendiri, tanaman yang rentan, dan faktor lingkungan yang mendukung. Ketika berbicara mengenai faktor lingkungan yang mendukung, perhatian diberikan hanya pada faktor lingkungan fisik. Faktor lingkungan sosial-ekonomi dan sosial-budaya pada umumnya kurang diperhatikan. Di kedua faktor terakhir tersebut, kebijakan pemerintah selalu diasumsikan dengan sendirinya benar, padahal tidak selalu demikian.

KEGIATAN BELAJAR 2: PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENENTUKAN KEBIJAKAN

Uraian Quite often, there are ill-informed reports that pesticides pose a risk to human/animal health and the environment. This confuses farmers and affects their ability to take informed decisions. The absence of a policy confounds the confusion. Kebijakan Perlindungan Tanaman 6

Bahan Ajar Mandiri

Kutipan ini diambil dari berita Business Lines (2007) yang mengabarkan kebingungan petani India karena di negara tersebut belum ada kebijakan (policy) mengenai pestisida. Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kebijakan itu? Clearly, the current set-up is far from delivering what the Indian agriculture expects from the crop protection sector to meet the challenges ahead. A complete overhaul is the need of the hour. The Government must begin the process by announcing a long-term and stable policy; the amendments to the Insecticides Act should follow. The focus of these should primarily be to (i) grant registration only to applicants submitting complete studies on "safety" and "efficacy", and (ii) make adoption of good manufacturing practices mandatory for all units.

Kutipan di atas merupakan lanjutan dari berita Business Lines (2007). Menurut berita ini, pemerintah perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi kebingungan petani. Kebijakan menurut berita ini merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh pemerintah untuk dapat dijadikan arahan oleh para pemangku kepentingan (stakeholders), termasuk petani, dalam mengambil tindakan yang tepat terhadap permasalahan perlindungan tanaman. Mengenai permasalahan pestisida di India, pemerintah diharapkan mengambil kebijakan yang dimulai dengan (a) memberikan ijin pendaftaran hanya kepada pestisida perusahan yang telah melakukan studi menyeluruh mengenai keamanan dan efikasi produk yang didaftarkannya dan (b) mengharuskan semua perusahaan pestisida menerapkan praktik fabrikasi pestisida yang baik (good manufactoring practices).

Kebijakan (policy) berbeda dengan kebijaksanaan (wisdom). Kebijakan diberlakukan sama kepada semua pihak, kebijaksanaan diberikan kepada suatu pihak dengan pertimbangan khusus mengenai keadaan pihak tersebut. Misalnya, petani yang kesulitan mengembalikan kredit usahatani karena mengalami gagal panen akibat banjir diberikan kebijaksanaan menunda waktu pengembalian kreditnya. Kebijaksanaan ini tidak berlaku bagi petani yang tidak mengalami gagal panen di desa yang sama sekalipun. Kebijaksanaan dibuat karena situasi khusus, kebijakan dalam keadaan situasi normal. Di Indonesia yang menganut sistem hukum kontinental, kebijakan dirumuskan dan/atau didasarkan pada peraturan perundang-undangan. Misalnya, Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan dasar seluruh bagi seluruh kebijakan perlindungan tanaman Kebijakan Perlindungan Tanaman 7

Bahan Ajar Mandiri

di Indonesia karena Undang-undang (UU) No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman telah mengatur bahwa PHT merupakan sistem perlindungan tanaman di Indonesia. Demikian juga dengan kewajiban pemerintah untuk ikut melakukan tindakan perlindungan tanaman bila terjadi eksplosi OPT sebagaimana telah diatur dengan UU yang sama.

(a) (b) Gambar 1.5. Kebijakan perlindungan tanaman: (a) Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan (b) Petugas pemerintah sedang melakukan pengambilan sampel untuk pemantauan OPT Kebijakan perlindungan tanaman diperlukan karena berbagai alasan, di antaranya: 1) OPT menimbulkan kerugian dalam areal yang luas terhadap banyak petani. Cakupan areal yang luas dan jumlah penduduk yang banyak memerlukan penanggulangan secara sistematis dan terkoordinasi agar tidak terjadi kekacaoan. Penanggulangan secara sistematis dan terkoordinasi memerlukan pengaturan. 2) Kegiatan perlindungan yang dilakukan oleh seorang petani dapat menimbulkan dampak yang merugikan petani lain. Kerugian petani lain dapat terjadi karena perpindahan OPT, dampak negatif kegiatan perlintan, dsb., sehingga berpotensi menimbulkan konflik. Kebijakan diperlukan untuk mengatur agar tidak terjadi pihak-pihak yang dirugikan akibat dilakukannya suatu tindakan perlintan. 3) Tindakan perlindungan tanaman dapat menimbulkan dampak yang justeru menimbulkan masalah baru. Penggunaan pestisida dapat menimbulkan resistensi OPT, resurgensi OPT, dan ledakan OPT sekunder sehingga terjadi masalah OPT baru. Penggunaan pestisida perlu diatur agar potensi terjadinya masalah baru dapat diminalisasi 4) Tindakan perlindungan tanaman dapat membahayakan kesehatan dan isu bahaya kesehatan dapat menimbulkan kerugian ekonomis yang luas. Pestisida Kebijakan Perlindungan Tanaman 8

Bahan Ajar Mandiri

menimbulkan residu pada hasil tanaman yang jika dikonsumsi dapat menimbulkan gangguan kesehatan akut. Adanya residu pada hasil pertanian dapat digunakan oleh negara lain untuk menolak masuknya produk pertanian ke negara yang bersangkutan sehingga terjadi kesulitan pemasaran hasil. 5) Tindakan perlindungan tanaman dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Drift pestisida dapat memasuki badan perairan dan tanah, masuk ke dalam rantai makanan dan menimbulkan pembengkakan biologis yang mematikan bagi organisme pada tingkat trofik tinggi (karnivora). Residu pestisida di alam dapat mengganggu berbagai proses ekosistem sehingga terjadi dampak kumulatif yang sulit dapat diprediksi.

Pada hakekatnya, kebijakan diperlukan agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan kegiatan perlindungan tanaman. Kebijakan dapat dibuat secara lokal melalui musyawarah masyarakat atau secara regional dan nasional melalui pembuatan undang-undang dan peraturan pemerintah. Pengambilan kebijakan diperlukan agar perlindungan tanaman dapat dilaksanakan secara terencana dan berkesinambungan sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan dan untuk mencegah terjadinya berbagai dampak negatif. Kesinambungan diperlukan agar efektivitas pengendalian benar-benar dapat dicapai. Pengambilan kebijakan merupakan tugas pelayanan yang harus diberikan oleh pemerintah kepada rakyat. Pemerintah yang telah dibiayai melalui pajak oleh masyarakat berkewajiban melayani masyarakat dalam mengatasi permasalahan yang timbul, termasuk permasalahan OPT. Kebijakan perlintan dilaksanakan oleh instansi pemerintah yang diberikan kewenangan dan tanggung jawab di bidang perlintan (direktorat perlintan pada ditjen pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan pada Deptan).

Perumusan kebijakan perlindungan tanaman di suatu negara dipengaruhi oleh beragam faktor. 1) Terjadinya eksplosi OPT yang berskala luas dan sangat merugikan secara nasional. Misalnya, PHT ditetapkan sebagai dasar kebijakan perlindungan tanaman di Indonesia setelah sebelumnya penggunaan pestisida secara besar-besaran ternyata menimbulkan resistensi dan resistensi OPT sasaran dan eksplosi OPT sekunder.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

2) Kesadaran lingkungan global yang semakin meningkat, terutama di negara-negara maju. Sejak buku The Silent Spring tulisan Rachel Carson beredar luas, kesadaran akan bahaya pestisida terus meningkat. Kesadaran mengenai bahaya pestisida tersebut semakin memperoleh momentum seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan di berbagai negara maju. 3) Globalisasi dan pasar bebas yang memungkinkan OPT dengan mudah menyebar seiring dengan meningkatnya perpindahan barang dan orang. Gobalisasi memungkinkan OPT berpindah melewati rintangan alam yang sebelumnya menjadi batas-batas sebaran geografiknya. Pasar bebas memungkinkan lebih banyak barang berpindah antar negara dan seiring dengan perpindahan barang tersebut juga terjadi pemencaran OPT yang menyebar dengan perantaraan barang. 4) Perubahan iklim berupa meningkatnya suhu permukaan bumi sebagai akibat dari meningkatnya kandungan gas-gas karbon dan belerang di udara. Meningkatnya suhu memungkinkan OPT yang sebaram geografiknya semula terbatas di kawasan tropika memencar ke kawasan sub-tropika dan yang semula hanya di dataran rendah memencar ke dataran tinggi. 5) Perubahan sistem politik dan pemerintahan, yang memungkinkan masyarakat menjadi lebih berani menyampaikan keluhan mengenai OPT secara lebih terbuka dan pemerintah daerah mempunyai kewenangan otonom untuk merumuskan kebijakan perlindungan tanamannya sendiri.

Kebijakan perlindungan tanaman mempunyai ruang lingkup yang luas. Sebagai dasar, melalui matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman akan dibahas aspek-aspek kebijakan perlindungan tanaman sebagai berikut: 1) Pengertian kebijakan perlindungan tanaman, faktor, faktor yang mempengaruhi, dan tantangan yang dihadapi ke depan (Modul 1 dan Modul 6) 2) Peraturan perundang-undangan sebagai dasar pengambilan kebijakan perlindungan tanaman (Modul 2) 3) PHT sebagai dasar seluruh kebijakan perlindungan tanaman di Indonesia (Modul 3) 4) Perkembangan PHT dan munculnya ketahanan hayati (biosecurity) sebagai paradigma perlindungan lintas sektoral (Modul 4) 5) Pengelolaan program perlindungan tanaman (Modul 5)

Kebijakan Perlindungan Tanaman

10

Bahan Ajar Mandiri

Ruang lingkup kebijakan perlindungan tanaman tersebut di atas masing-masing dibahas dengan menggunakan berbagai aspek dan sudut pandang kebijakan secara terpadu.

Latihan Carilah definisi kebijakan dan kebijaksanaan (antara lain dengan mengunjungi situs Wikipedia Indonesia). Kutiplah definisi yang diperoleh dan bandingkan dengan isi uraian pada kegiatan belajar ini.

Rangkuman Kebijakan merupakan sesuatu yang ditetapkan untuk dapat dijadikan arahan oleh para pemangku kepentingan, termasuk petani, dalam mengambil tindakan yang tepat terhadap permasalahan perlindungan tanaman. Kebijakan diperlukan agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan kegiatan perlindungan tanaman. Kebijakan dapat dibuat secara lokal melalui musyawarah masyarakat atau secara reginal dan nasional melalui pembuatan undang-undang dan peraturan pemerintah. Kebijakan perlindungan tanaman yang dirumuskan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang perlu dipahami oleh pihak yang merumuskan, pihak yang melaksanakan kebijakan, maupun oleh pihak yang menerima berbagai konsekuensi atas pelaksanaan kebijakan tersebut.

PENUTUP

Tes Formatif 1) Manakah permasalahan perlindungan tanaman yang terjadi karena pembuat kebijakan di daerah kurang memahami kebijakan nasional? (a) Kumbang bubuk (d) Jagungisasi (b) Belalang kembara (e) Penggerek buah kakao (c) CVPD

2) Mengapa sarungisasi buah kakao sulit dapat diterapkan pada perkebunan rakyat? (a) Kendala budaya (d) Kendala sosial (b) Kendala teknis (e) a sampai d benar (c) Kendala ekonomi

3) Permasalahan yang lebih rumit dapat terjadi manakala permasalahan perlindungan tanaman sebagai akar permasalahan justeru tidak disadari. Manakah dari permalahana berikut yang sesuai dengan pernyataan tersebut? Kebijakan Perlindungan Tanaman 11

Bahan Ajar Mandiri

(a) Ketahanan pangan (d) Kerugian usahatani

(b) Kamanan tanaman (e) a sampai d benar

(c) Kehilangan hasil

4) Jagungisasi merupakan program pemerintah Provinsi NTT yang dimaksudkan untuk: (a) Mengendalikan kumbang bubuk (d) Meningkatkan pendapatan petani 5) Semua permaslahan perlindungan tanaman yang disajikan dalam uraian terjadi karena: (a) Rekomendasi pengendalian salah (b) Petani tidak melakukan rekomendasi (d) Lingkungan fisik mendukung perkembangan OPT 6) Di antara pernyataan-pernyataan berikut ini, manakah yang merupakan kebijakan? a) Pemerintah kabupaten menolak mengakui keberadaan OPT agar dapat terus menjual bibit ke luar daerah. b) Pemerintah memberikan kelonggaran kepada perusahaan tertentu untuk memasukkan bibit. c) Pemerintah provinsi menetapkan peraturan daerah yang mengharuskan dilakukan pengawasan benih dilakukan dengan ketat. d) Pemerintah mencabut ijin perusahaan penangkar benih tertentu karena menolak menjual benih dengan harga murah kepada anak pejabat e) Pemerintah menginstruksikan agar petani membeli benih hanya dari perusahaan tertentu. 7) Dalam hal apakah kebijakan berbeda dari kebijaksanaan? (a) Keadaan memaksa (d) Keadaan darurat (b) Keperluan khusus (e) Keadaan bencana (c) Keadaan normal (e) Usahatani dilakukan secara monokultur (c) Kebijakan pemerintah kurang tepat (b) Mengatasi rawan pangan (e) a sampai d benar (c) Meningkatkan produksi jagung

8) Kebijakan perlindungan tanaman perlu dirumuskan, kecuali: a) OPT merugikan banyak petani dalam wilayah yang luas.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

12

Bahan Ajar Mandiri

b) Tindakan perlindungan tanaman oleh seorang petani akan menguntungkan petani lain. c) Tindakan perlindungan tanaman dapat menimbulkan dampak yang berpotensi menyebabkan masalah baru d) Tindakan perlindungan tanaman dapat membahayakan kesehatan. e) Tindakan perlindungan tanaman dapat menyebabkan biomagnifikasi. 9) Kabijakan perlindungan tanaman pada hakekatnya dimaksudkan untuk melindungi: (a) Kepentingan publik (b) Kepentingan petani saja (d) Kepentingan pihak tertentu (e) Kepentingan pemerintah (c) Kepentingan konsumen saja

10) Manakah di antara faktor-faktor berikut yang paling kurang mempengaruhi kebijakan perlindungan tanaman? (a) Eksplosi OPT berskala (b) Globalisasi luas (d) Kesadaran lingkungan (e) Alat mulut serangga (c) Pasar bebas

Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Usahakan terlebih dahulu menjawab setiap pertanyaan sendiri dan kemudian cocokkan hasilnya dengan kunci jawaban. Kunci jawaban diberikan pada Lampiran 2. Untuk menghitung nilai hasil belajar, setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar diberikan nilai 10. Nilai hasil belajar dihitung dengan menjumlahkan nilai jawaban dari seluruh pertanyaan dan kemudian mengkategorikan nilai yang diperoleh sebagai berikut: >80 70-<80 60-<70 50-<60 <50 : sangat memuaskan : memuaskan : cukup : kurang : gagal

Tindak Lanjut Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil kurang atau gagal, pelajari kembali keseluruhan materi modul. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil cukup, pelajari bagian dari kegiatan belajar yang memuat uraian mengenai pertanyaan yang Kebijakan Perlindungan Tanaman 13

Bahan Ajar Mandiri

tidak dapat dijawab dengan benar. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil memuaskan atau sangat memuaskan, persiapkan untuk mempelajari kegiatan belajar pada Modul 2. Apapun hasil belajar yang diperoleh, lakukan pengayaan pemahaman dengan membaca referensi yang dianjurkan pada Daftar Pustaka.

Glosarium eksplosi OPT: meningkatnya populasi OPT menjadi jauh lebih tinggi dari biasanya dalam waktu singkat, juga disebut ledakan OPT globalisasi: perpindahan lintas negara menyangkut orang, barang, kebudayaan, dsb., dalam waktu yang relatif cepat kebijakan: rencana atau pelaksanaan tindakan, sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah, partai politik, atau organisasi bisnis, yang dilakukan untuk mempengaruhi atau mengambil keputusan, tindakan, atau hal-hal lain; prinsip atau aturan yang digunakan oleh pemerintah, perusahaan, organisasi kemasyarakatan, atau perorangan untuk memandu pengambilan keputusan guna mencapai hasil secara rasional (apa dan mengapa), bukan prosedur atau protokol dilaksanakan (apa, bagaimana, di mana, kapan); kebijakan berbeda dengan hukum karena kebijakan memandu tindakan ke arah yang diinginkan sedangkan hukum memberikan sanksi terhadap pelanggaran; proses pengambilan keputusan kelembagaan, termasuk identifikasi berbagai alternatif program dan prioritas pengeluaran dan melakukan pemilihan di antara berbagai alternatif yang tersedia atas dasar dampak yang akan ditimbulkan. kebijaksanaan: kemampuan untuk memahami dan menerima keadaan orang, barang, kejadian, atau situasi yang memungkinkan kemampuan untuk memilih atau bertindak guna memperoleh hasil yang diharapkan organisme pengganggu tumbuhan: semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan, mencakup binatang hama, patogen, dan gulma pemangku kepentingan: pihak-pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan program/proyek, secara positif maupun negatif, individu maupun lembaga pemerintahan: organisasi yang digunakan untuk melaksanakan kewenangan, mengendalikan dan mengelola administrasi publik, serta mengarahkan dan mengendalikan tindakan anggota dan subyeknya; dalam arti luas pemerintahan dapat mencakup organisasi negara dari pusat ke daerah, organisasi perusahaan, organisasi akademik, organisasi keagamaan, dsb. perlindungan tanaman: segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan perubahan iklim: perubahan jangka panjang distribusi statistik pola iklim dalam jangka waktu antara dasawarsa sampai jutaan tahun, pada kawasan tertentu atau secara global sarungisasi: pengendalian OPT secara mekanik dengan cara membungkus buah muda menggunakan kantong plastik.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

14

Bahan Ajar Mandiri

Daftar Pustaka Chambers, R.; Pacey, A.; & Thrupp, L. A., eds. (1989) Farmer First: Farmer Innovation and Agricultural Research. London: Intermediate Technology Publications. Hardjono, J. (1983) Rural Development in Indonesia: The Top-down Approach. In Rural Development and the State. D. A. M. Leam & D. P. Chaudhri (eds.), pp. 3865. London: Methuen. Mudita, I W. fortcoming. Crossing community-government border: The governance of citrus biosecurity in the highlands of West Timor. In: Managing Biosecurity Across Border, I. Falk, K. Surata, M. Ndoen, & R. Wallace (eds.). E-mail confirmation by Prof. Ian Falk on 21 Dec. 2009. Mudita, I W., M.T. Surayasa, & U. Aspatria, 2009. Pengem-bangan Model Pengelolaan Ketahanan Hayati Penyimpanan Jagung Berbasis Masyarakat untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan di Wilayah Beriklim Kering. Program Hibah Kompetitif Penelitian Sesuai Prioritas Nasional. Kupang: Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana. Mudita, I.W., J.A. Londingkene, A.V. Simamora, T. Basuki, & Z. Naraheda, 2005. Pemetaan OPT Perkebunan di Kabupaten-kabupaten Ende, Sikka, dan Flores Timur, Prov. NTT. Kerjasama Dinas Perkebunan Prov. NTT dan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. Kupang: Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana. Mukun, L., Y.S. Mau, I W. Mudita, P. Taek, A.V. Simamora, T.S. Harini, N. Nik, 2009. Bio-ecology of Migratory Locust (Locusta migratoria) in East Nusa Tenggara, Indonesia. Collaboration beetween FAO United Nations and Faculty of Agriculture, Nusa Cendana University. Kupang: Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana. Peraturan Pemerintah No. 6 Republik Indonesia. (1995). Perlindungan Tanaman. Lembaran Negara Tahun 1995 No. 12, Tambahan Lembaran Negara No. 3586. Undang-undang No. 12 Republik Indonesia. (1992). Sistem Budidaya Tanaman. Lembaran Negara Tahun 1992 No. 46, Tambahan Lembaran Negara No. 3478. Undang-undang No. 32 Republik Indonesia. (2004). Pemerintahan daerah. Lembaran Negara Tahun 2004 No. 125, Tambahan Lembaran Negara No. 4437. Untung, K. (2007) Kebijakan Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

15

Bahan Ajar Mandiri

MODUL 2 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERLINDUNGAN TANAMAN DAN PESTISIDA

PENDAHULUAN

Pokok-pokok Isi dan Manfaat Kebijakan mengenai perlindungan tanaman dan pestisida di Indonesia dituangkan melalui beberapa peraturan perundang-undangan. Sesuai dengan ketentuan dalam UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (PPP) yang berlaku efektif sejak November 2004, tata urutan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia adalah: Undang-undang Dasar 1945, Undang-Undang (UU)/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu), Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), dan Peraturan Daerah (Perda, meliputi Peraturan Daerah Provinsi, Peraturan Daerah Kabupaten/Kota, dan Peraturan Desa). Pada modul ini diuraikan perturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman dan pestisida pada berbagai tingkatan hierarki, dari yang tertinggi sampai yang paling rendah. Modul 2 ini mencakup dua pokok bahasan, yaitu peraturan perundang-undang mengenai perlindungan tanaman dan peraturan perundang-undangan mengenai pestisida. Kedua pokok bahasan tersebut dikemas dalam tiga kegiatan belajar yang saling berkaitan: 1) Peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman 2) Peraturan perundang-undangan mengenai pestisida 3) Mengkritisi peraturan perundang-undangan Uraian pada modul ini diberikan untuk memahami kaitan antara isi peraturan perundang-undangan tersebut dengan konsep dan teori di bidang perlindungan tanaman serta konsistensi isi antar pasal dalam satu pertauran perundang-undangan dan konsistensi isi antar peraturan perundang-undangan pada berbagai tingkatan hierarki.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

16

Bahan Ajar Mandiri

Kompetensi Khusus Setelah mempelajari ketiga kegiatan belajar dalam modul ini mahasiswa diharapkan mampu: a) Menjelaskan fungsi peraturan perundang-undangan dalam kebijakan perlindungan tanaman b) Menyebutkan berbagai peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan tanaman dan menjelaskan garis besar isinya masing-masing c) Memahami dan mengkritisi peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan tanaman

Indikator dan Petunjuk Belajar Keberhasilan mempelajari modul ini diukur berdasarkan keberhasilan menyebutkan berbagai peraturan perundang-undangan yabf berkaitan dengan perlindungan tanaman, menjelaskan garis besar isinya masing-masing, dan memahami secara kritis isi peraturan perundang-undangan dalam hal konsistensinya satu sama lain dan kaitannya dengan teori perlindungan tanaman. Untuk mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan membaca materi Kegiatan Belajar 1, Kegiatan Belajar 2, dan Kegiatan Belajar 3 secara berurutan. Setelah membaca, mahasiswa diharapkan dapat mengunduh peraturan perundang-undangan yang dibahas dalam uraian dari internet dan membaca isinya secara lengkap. Setelah membaca isi setiap peraturan perundang-undangan, mahasiswa diminta untuk mengidentifikasi topik yang dimuat dan membandingkannya antara peraturan perundang-undangan yang satu dengan peraturan perundang-undangan lainnya dan membandingnyannya dengan teori perlindungan tanaman yang telah dipelajari dari matakuliah lain dalam bidang perlindungan tanaman, khususnya Dasardasar Perlindungan Tanaman. Setiap kegiatan belajar memerlukan waktu 100 menit sehingga untuk mempelajari ketiga kegiatan belajar dalam modul ini diperlukan waktu 300 menit.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

17

Bahan Ajar Mandiri

KEGIATAN BELAJAR 1: PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERLINDUNGAN TANAMAN

Uraian Perlindungan tanaman dilakukan melalui tiga kegiatan/tindakan, yaitu pencegahan masuknya OPT dari luar, pengendalian OPT yang sudah ada, dan eradikasi media pembawa maupun tanaman terserang OPT. Ketiga kegiatan ini diatur melalui UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Selanjutnya, pengaturan dalam dua UU tersebut dioperasionalkan melalui dua PP, yaitu PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman dan PP No. 14 Tahun 2002 tentang karantina Tumbuhan. Di antara keempat peraturan perundang-undangan, UU No. 12 Tahun 1992 dapat dipandang sebagai payung peraturan perundang-undang mengenai perlindungan tanaman. Hal ini karena UU No. 16 Tahun 1996 mengatur hanya satu di antara kegiatan/tindakan perlindungan tanaman sebagaimana yang telah ditetapkan dalam UU No. 12 Tahun 1992.

UU No. 12 Tahun 1992 terdiri atas 12 bab dan 66 pasal. Ketentuan mengenai perlindungan tanaman diatur pada Bab III mengenai Penyelenggaraan Budidaya Tanaman sebagai Bagian Keenam mengenai Perlindungan Tanaman mulai dari Pasal 20 sampai dengan Pasal 27. Pasal 20 menyatakan bahwa Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem pengendalian hama terpadu. Selanjutnya, Pasal 21 menyatakan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan melalui kegiatan berupa: 1) pencegahan masuknya organisme pengganggu tumbuhan ke dalam dan tersebarnya dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2) pengendalian organisme pengganggu tumbuhan; 3) eradikasi organisme pengganggu tumbuhan. Kegiatan perlindungan tanaman butir pertama sebagaimana diatur pada Pasal 21 selanjutnya diatur lebih lanjut pada Pasal 23 dan kemudian secara khusus melalui UU UU No. 16 Tahun 1996 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Ketiga butir Kebijakan Perlindungan Tanaman 18

Bahan Ajar Mandiri

kegiatan perlindungan tanaman diatur lebih lanjut pada Pasal 22 dan Pasal 24-Pasal 27 dan kususnya butir kedua dan butir ketiga, diatur lebih lanjut melalui PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman.

PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman terdiri atas 6 bab yang mencakup 29 pasal. Bab-bab dalam peraturan pemerintah tersebut adalah sebagai berikut: 1) Bab I Ketentuan Umum yang mencakup Pasal 1 sampai Pasal 4, memuat definisi mengenai istilah yang digunakan di dalam peraturan pemerintah ini (Pasal 1), waktu pelaksanaan kegiatan/tindakan perlindungan tanaman (Pasal 2), sistem dan tindakan perlindungan tanaman (Pasal 3), serta sarana dan cara perlindungan tanaman (Pasal 4). 2) Bab II Pencegahan Penyebaran OPT yang mencakup Pasal 5 sampai Pasal 7, memuat ketentuan mengenai tindakan karantina (Pasal 5), jenis tindakan karantina (Pasal 6), dan penentuan area karantina (Pasal 7). 3) Bab III Pengendalian OPT yang mencakup Pasal 8 sampai Pasal 22, memuat pemaduan teknik pengendalian (Pasal 8), pemantauan dan prakiraan OPT (Pasal 9), cara pengendalian OPT (Pasal 10), pelaksanaan pengendalian OPT (Pasal 11), sarana pengendalian OPT (Pasal 12-Pasal 16), pelaporan pelaksanaan pengendalian OPT (Pasal 17), kewajiban memantau, mencegah, dan mengendalikan dampak negatif pelaksanaan pengendalian OPT (Pasal 18), pestisida sebagai alternatif terakhir (Pasal 19), pengawasan pestisida (Pasal 20), pengendalian OPT yang berupa satwa liar (Pasal 21), dan petunjuk teknis pengendalian OPT (Pasal 22). 4) Bab IV Eradikasi yang mencakup Pasal 23 sampai Pasal 26, memuat ketentuan mengenai eradikasi OPT (Pasal 23), ketentuan mengenai sasaran eradikasi selain OPT (Pasal 24), pelaksanaan eradikasi (Pasal 25), dan ketentuan mengenai kompensasi atau bantuan (Pasal 26) 5) Bab V Ketentuan Peralihan yang mencakup Pasal 27 dan Pasal28. 6) Bab VI Ketentuan Penutup yang mencakup Pasal 29.

UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan terdiri atas 11 bab yang mencakup 34 pasal: 1) Bab I Ketentuan Umum yang mencakup Pasal 1 sampai Pasal 4, memuat definisi istilah (Pasal 1), azas (Pasal 2), tujuan (Pasal 3), dan ruang lingkup (Pasal 4). Kebijakan Perlindungan Tanaman 19

Bahan Ajar Mandiri

2) Bab II Persyaratan Karantina yang mencakup Pasal 5 sampai Pasal 8, memuat ketentuan pemasukan media pembawa ke wilayah RI (Pasal 5), pemindahan media pembawa antar area karantina (Pasal 6), pengeluaran media pembawa dari wilayah RI (Pasal 7), dan kewajiban tambahan (Pasal 8). 3) Bab III Tindakan Karantina yang mencakup Pasal 9 sampai Pasal 22, memuat ketentuan mengenai pengenaan tindakan karantina (Pasal 9), jenis tindakan karantina (Pasal 10), ketentuan mengenai setiap jenis tindakan karantina (Pasal 11Pasal 19), pelaksanaan tindakan karantina (Pasal 20), tindakan karantina terhadap obyek di luar media pembawa (Pasal 21), dan pungutan jasa karantina (Pasal 22). 4) Bab IV Kawasan Karantina yang mencakup Pasal 23, memuat penetapan suatu kawasan sebagai kawasan karantina. 5) Bab V Jenis Hama dan Penyakit, Organisme Pengganggu, dan Media Pembawa yang mencakup Pasal 24 dan Pasal 25, memuat penetapan jenis hama dan penyakit serta organisme pengganggu karantina dan jenis media pembawa yang dilarang (Pasal 24) serta ketentuan mengenai media pembawa lain (Pasal 25). 6) Bab VI Tempat Pemasukan dan Pengeluaran yang mencakup Pasal 26 dan Pasal 27, memuat penetapan tempat-tempat pemasukan dan ketentuan mengenai alat angkut transit (Pasal 28). 7) Bab VII Pembinaan yang mencakup Pasal 28 dan Pasal 29, memuat pembinaan kesadaran masyarakat (Pasal 28) dan penggalangan peranserta masyarakat (Pasal 29). 8) Bab VIII Penyidikan yang mencakup hanya Pasal 30, memuat ketentuan mengenai penyidikan oleh petugas karantina. 9) Bab IX Ketentuan Pidana yang mencakup hanya Pasal 31, memuat ketentuan mengenai sanksi pidana terhadap pelanggaran ketentuan karantina. 10) Bab X Ketentuan Peralihan yang mencakup hanya Pasal 32, memuat ketentuan mengenai berlakunya peraturan perundang-undangan lain yang tidak bertentangan. 11) Bab VI Ketentuan Penutup yang mencakup Pasal 33 dan Pasal 34, memuat peraturan perundang-undangan yang dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 33) dan mulainya berlaku undang-undang ini (Pasal 34).

PP No. 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan terdiri atas 13 bab yang mencakup 95 pasal. PP ini pada dasarnya merupakan pengulangan dari pasal-pasal dalam UU No. Kebijakan Perlindungan Tanaman 20

Bahan Ajar Mandiri

16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dengan ketentuan yang lebih rinci.

(a) (b) Gambar 2.1. Tindakan perlindungan tanaman: (a) Petugas karantina sedang melakukan pemeriksaan (Badan Karantina Pertanian, http://karantina.deptan.go.id/index.php?link= news&id=79), (b) Penyemprotan insektisida untuk mengendalikan wereng cokelat, dan (d) Pembakaran untuk melakukan eradikasi Latihan Unduhlan UU No. 12 Tahun 1992 dan PP No. 6 Tahun 1995, kemudian bacalah setiap peraturan perundang-undangan tersebut dengan seksama. Carilah apakah ada hal-hal yang tidak konsisten antara UU No. 12 Tahun 1992 dan PP No. 6 Tahun 1995 dan antara kedua pertauran perundang-undangan tersebut dengan teori mengenai perlindungan tanaman.

Rangkuman Peraturan perundang-undangan pokok mengenai perlindungan tanaman mencakup UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tumbuhan, UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, PP. No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan PP. No. 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan. Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan tersebut mengatur berbagai aspek perlindungan tanaman, termasuk kewajiban pemerintah dan masyarakat. Pasal-pasal tersebut seharusnya dinyatakan dengan menggunakan istilah yang seluruhnya didefinisikan dengan jelas dan digunakan secara konsisten sehingga tidak membingungkan.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

21

Bahan Ajar Mandiri

KEGIATAN BELAJAR 2: PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PESTISIDA

Uraian Pestisida merupakan sarana perlindungan tanaman yang karena sifatnya yang berbahaya dan beracun maka pengaturannya dilakukan secara ketat. Peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai pestisida adalah: 1) UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Pasal 22 menyatakan bahwa (1) Dalam pelaksanaan perlindungan tanaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal21, setiap orang atau badan hukum dilarang menggunakan sarana dan/atau cara yang dapat mengganggu kesehatan dan/atau mengancam keselamatan manusia, menimbulkan gangguan dan kerusakan sumberdaya alam dan/atau lingkungan hidup dan (2) Ketentuan mengenai penggunaan sarana dan/atau cara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut oleh Pemerintah. 2) PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman (Pasal 15 mengenai ketepatan penggunaan dan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja, Pasal 16 mengenai perijinan penggunaan pestisida dengan menggunakan pesawat terbang, Pasal 17 mengenai kewajiban membuat laporan, Pasal 18 mengenai kewajiban memantau, mencegah, dan menanggulangi dampak negatif, Pasal 19 mengenai pestisida sebagai alternatif terakhir, dan Pasal 20 mengenai pengawasan pestisida). 3) PP No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Pemyimpanan dan Penggunaan Pestisida, terdiri atas Pasal 1 mengenai definisi pestisida, Pasal 2 mengenai pelarangan atas penggunaan pestisida yang tidak terdaftar, Pasal 3 mengenai kategori perijinan, Pasal 4 mengenai persyaratan perijinan, Pasal 5 mengenai biaya pendaftaran dan pemberian ijin, Pasal 6 mengenai larangan mengedarkan, menyimpan atau menggunakan pestisida yang telah memperoleh izin, Pasal 7 mengenai pemberian kewenangan untuk mengadakan pemeriksaan, Pasal 8 dan Pasal 9 mengenai sanksi pidana, Pasal 10 dan Pasal 11 mengenai kewenangan pengaturan lebih lanjut, dan Pasal 12 mengenai mulai berlakunya PP ini. 4) Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian Nomor:
//// //.//

tentang Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil

Pertanian. Keputusan bersama ini pada dasarnya merupakan ratifikasi terhadap Kebijakan Perlindungan Tanaman 22

Bahan Ajar Mandiri Codex Maximum Residue Limits for Pesticides and Extraneous Maximum Residue Limits yang diadopsi oleh the Codex Alimentarius Commission dari WHO/FAO. Pestisida dalam peraturan perundang-undangan didefinisikan sebagai semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk: 1) Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian; 2) Memberantas rerumputan; 3) Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan; 4) Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman tidak termasuk pupuk; 5) Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan ternak; 6) Memberantas atau mencegah hama-hama air; 7) Memberantas atau mencegah binatang binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan; 8) Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah atau air. Defisini ini adalah sebagaimana digunakan dalam PP No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Pemyimpanan dan Penggunaan Pestisida sehingga masih digunakan istilah memberantas yang tidak sesuai dengan istilah yang seharusnya digunakan menurut UU No. 12 Tahun 1992 dan PP No. 6 Tahun 1992 yang didasarkan atas sistem PHT.

BRMP memuat batas maksimum residu pestisida yang diperbolehkan untuk berbagai kategori bahan pangan dan pakan. Sesuai dengan ketentuan Codex Alimentarius, pestisida adalah: ... any substance intended for preventing, destroying, attracting, repelling, or controlling any pest including unwanted species of plants or animals during the production, storage, transport, distribution, and processing of food, agricultural commodities, or animal feeds or which may be administered to animals for the control of ectoparasites. The term includes substances intended for use as a plant-growth regulator, defoliant, desiccant, fruit thinning agent, or sprouting Kebijakan Perlindungan Tanaman 23

Bahan Ajar Mandiri

inhibitor and substances applied to crops either before or after harvest to protect the commodity from deterioration during storage and transport. The term normally excludes fertilizers, plant and animal nutrients, food additives and animal drugs. dan residu pestisida adalah: ... any specified substances in food, agricultural commodities, or animal feed resulting from the use of a pesticide. The term includes any derivatives of a pesticide, such as conversion products, metabolites, reaction products, and impurities considered to be of toxicological significance. (Note: The term "pesticide residue" includes residues from unknown or unavoidable sources (e.g., environmental), as well as known uses of the chemical). Mengenai Batas Maksimum Residu, Codex Alimentarius mengenal dua kategori, yaitu: 1) Batas Maksimum Residu (Maximum Residue Limits, MRL) yang didefinisikan sebagai ... the maximum concentration of a pesticide residue (expressed as mg/kg), recommended by the Codex Alimentarius Commission to be legally permitted in or in food commodities and animal feeds. 2) Batas Maksimum Residu Ekstraneus (Extraneous Maximum Residue Limits, EMR) yang didefinisikan sebagai ...a pesticide residue or a contaminant arising from environmental sources (including former agricultural uses) other than the use of a pesticide or contaminant substance directly or indirectly on the commodity.

Gambar 2.2. Ketentuan aplikasi pestisida dan residu pestisida: (a) Peralatan keamanan aplikasi pestisida baku (Integrated Plant Protection Center Oregon State University, http://www.ipmnet.org/tim/Pesticide_Ed/Pesticide_Education_Main_Page.htm), (b) Pemberian peringatan pada lahan setelah dilakukan aplikasi pestisida (http://foodworldorder.blogspot.com/2009_06_01_archive.html), dan (c) Laboratorium canggih untuk melakukan pengujian residu pestisida (http://thailand.ipminfo.org/pesticides/residue_testing.htm) Latihan Unduhlah Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian Nomor:
//// //.//

tentang Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil 24

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

Pertanian secara lengkap berikut lampirannya, lalu simaklah nilai BRMP untuk setiap jenis komoditas pertanian. Pikirkan bagaimana kira-kira-kira kewenangan mengenai pengujian residu sebaiknya diterapkan, apakah oleh pemerintah pusat atau didelegasikan kepada pemerintah daerah dengan memberikan alasannya masingmasing.

Rangkuman Pestisida perlu diatur melalui peraturan perundang-undangan agar, sebagai bahan berbaya dan beracun, penggunaannya efektif dan efisien serta tidak menimbulkan dampak yang merugikan kesehatan dan lingkungan hidup. Peraturan perundangundangan mengenai pestisida mengatur perijinan, peredaran, penggunaan, dan residu yang diperbolehkan pada bahan pangan dan pakan.

KEGIATAN BELAJAR 3: MENGKRITISI PERTAURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Uraian Peraturan perundang-undangan yang baik seharusnya dibuat sistematis dan lugas sehingga dapat mudah dimengerti. Untuk bisa demikian, istilah yang digunakan sedapat mungkin sesuai dengan istilah yang telah lazim, didefinisikan dengan tepat, dan digunakan secara konsisten. Berkaitan dengan hal ini maka beberapa aspek peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman dan pestisida perlu diberi catatan sebagai berikut: 1) Penggunaan istilah Organisme Pengganggu Tumbuhan sebagai istilah yang tidak lazim 2) Penggunaan beberapa istilah secara tidak konsisten 3) Penggunaan definisi dan konsep yang membingungkan

OPT merupakan istilah baru yang sebelumnya tidak dikenal dalam terminologi perlindungan tanaman. OPT didefinisikan sebagai semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan. Membaca definisi OPT seperti ini, timbul pertanyaan apakah organisme yang digunakan untuk Kebijakan Perlindungan Tanaman 25

Bahan Ajar Mandiri

merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian gulma termasuk dalam kategori OPT? Bila definisi OPT diikuti maka jawaban terhadap pertanyaan ini tentu saja dapat dikategorikan sebagai OPT. Padahal seharusnya tidak demikian, sebab organisme yang digunakan untuk merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian gulma justeru merupakan organisme bermanfaat dalam kategori musuh alami atau agen hayati. Definisi ini hanya dapat menjadi jelas bila diaitkan dengan definisi perlindungan tanaman sebagai segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan. Dengan defisisi mengenai perlindungan tanaman ini, OPT dipahami sendiri sebagai semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan sehingga diperlukan segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman.

Gambar 2.3. Lalat puru Cecidochares connexa merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan gulma kirinyu (Chromolaena odorata), apakah juga termasuk OPT? (a) Lalat dewasa, (b) puru dengan lubang keluar, dan (c) larva di dalam puru Istilah OPT ternyata juga tidak digunakan secara konsisten. Setelah ditetapkan istilah OPT, ternyata masih juga digunakan istilah hama sebagaimana pada pasal mengenai pengendalian hama terpadu. Penggunaan istilah OPT bahkan lebih tidak konsisten dalam UU No. 16 Tahun 1992 karena istilah organisme pengganggu hanya dipergunakan untuk karantina tumbuhan, sedangkan untuk karantina hewan dan ikat tetap digunakan istilah hama dan penyakit. Istilah lain yang juga digunakan secara tidak konsisten adalah istilah kegiatan perlindungan tanaman dalam UU No. 12 Tahun 1992 yang untuk hal yang sama dalam PP No. 6 Tahun 1995 digunakan istilah tindakan perlindungan tanaman. Demikian juga dengan istilah teknik pengendalian pada Pasal 8 PP No. 6 Tahun 1995 dan kemudian istilah cara pengendalian pada Pasal 10 PP yang sama.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

26

Bahan Ajar Mandiri

Istilah OPT, selain digunakan secara tidak konsisten, juga didefinisikan secara kurang jelas sehingga membingungkan. Dengan definisi yang diberikan maka timbul pertanyaan, apakah istilah hama yang digunakan dalam konteks pengendalian hama terpadu mempunyai pengertian yang sama atau tidak dengan OPT? Penjelasan atas pasal mengenai pengendalian hama terpadu menyatakan bahwa: Sistem pengendalian hama terpadu adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan ... (Penjelasan Ayat 1 Pasal 20 UU No. 12 Tahun 1992, cetak tebal ditambahkan) Menyimak penjelasan di atas, tersirat bahwa hama merupakan OPT merupkan hama pada populasi atau tingkat serangan tertentu. Namun, mengartikan OPT dan hama dengan pengertian seperti ini akan menimbulkan pertanyaan lain, bagaimana organisme dapat dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian sebelum mencapai populasi dan tingkat serangan tertentu?

PHT sendiri, yang ditetapkan sebagai sistem perlindungan tanaman, justeru diberi pengertian yang kurang tepat. Penjelasan Pasal 20 UU No. 12 Tahun 1992 menyebutkan bahwa: Sistem pengendalian hama terpadu adalah upaya pengendalian ... dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan, ... (Penjelasan Ayat 1 Pasal 20 UU No. 12 Tahun 1992, cetak tebal ditambahkan). PHT seharusnya mancakup bukan hanya kegiatan/tindakan pengendalian tetapi seluruh kegiatan/tindakan perlindungan tanaman (sebagaimana dinyatakan pada Ayat 1 Pasal 20). PHT juga bukan sekedar pengembangan satu atau lebih berbagai teknik pengendalian ke dalam satu kesatuan, melainkan merupakan proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan/tindakan perlindungan tanaman.

Masih terdapat banyak hal yang tidak konsisten dan membingungkan dalam peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman dan pestisida. Peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman dan pestisida ini merupakan ketentuan yang bersifat mengikat sehingga sekalipun kurang tepat, tetap harus ditaati dan dilaksanakan. Namun demikian, terbatas dari berbagai keterbatasan tersebut, tersedianya peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman dan

Kebijakan Perlindungan Tanaman

27

Bahan Ajar Mandiri

pestisida tersebut telah memungkinkan dasar hukum bagi berbagai kebijakan yang diatur lebih lanjut.

Latihan Bacalah UU No. 16 Tahun 1992 dengan seksama dan perhatikan penggunaan istilah OPT di dalamnya. Diskusikan dengan mahasiswa lainnya, apa kira-kira alasannya sehingga untuk tumbuhan digunakan istilah OPT sedangkan untuk hewan dan ikan digunakan istilah hama dan penyakit.

Rangkuman Peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan tanaman dan pestisida mempunyai berbagai kelemahan, tetapi tersedianya peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman dan pestisida tersebut telah memungkinkan dasar hukum bagi berbagai kebijakan yang diatur lebih lanjut.

PENUTUP

Tes Formatif 1) Dalam peraturan perundang-undangan, manakah dari hal-hal berikut yang seharusnya tidak boleh terjadi? a) Jumlah bab dan pasal terlalu banyak b) Pasal-pasal dalam PP mengulang pasal-pasal dalam UU c) Istilah tidak dijelaskan dan digunakan secara tidak konsisten d) Tidak mengatur mengenai sanksi pidana e) Tidak semua pasal diberikan penjelasan 2) Di antara keempat peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan tanaman, manakah yang secara teknis merupakan payung? (a) UU No. 12/1992 (d) PP No 14/2002 (b) UU No. 16/1992 (e) a sampai d tidak benar (c) PP No. 6/1995

3) Di antara istilah yang digunakan dalam UU No. 12 tahun 1992 dan UU No. 16 Tahun 1992, manakah istilah yang diciptakan yang tidak terdapat dalam buku-buku teks mengenai perlindungan tanaman Kebijakan Perlindungan Tanaman 28

Bahan Ajar Mandiri

(a) Organisme pengganggu (b) Hama (d) Gulma (e) Media pembawa

(c) Penyakit

4) Dalam UU No. 16 Tahun 1992, manakah istilah yang digunakan secara tidak konsisten? (a) Hama, penyakit, dan organisme pengganggu (d) Tempat pengeluaran dan tempat pemasukan (b) Media pembawa dan alat angkut (e) a sampai d semuanya benar (c) Kawasan karantina dan area karantina

5) Mengenai PHT sebagai sistem perlindungan tanaman, manakah dari pernyataan berikut mengenai hama yang benar? (a) OPT saja (b) OPTK saja (c) OPT dan OPTK

(d) Tidak selalu OPT atau (e) A sampai d semuanya OPTK salah

6) Pestisida perlu diatur secara ketat karena: a) Merupakan bahan berbahaya dan beracun b) Perlu digunakan secara efektif dan efisien c) Dapat menimbulkan dampak yang merugikan terhadap kesehatan dan lingkungan hidup d) Memenuhi ketentuan Codex Alimentarius e) a sampai d semuanya benar 7) Manakah yang tidak termasuk pestisida menurut peraturan perundang-undangan? (a) insektisida (d) zat pengatur tumbuh (b) fungisida (e) pupuk (c) herbisida

8) Manakah di antara pernyataan berikut yang tidak sesuai mengenai BMR? a) BMR mengatur hanya residu yang berasal dari aplikasi pestisida b) BMR diatur melalui SKB Menkes dan Mentan c) BMR dimaksudkan untuk melindungi konsumen d) BMR ditetapkan sama untuk setiap jenis bahan pangan dan pakan e) BMR ditetapkan sesuai dengan ketentuan Codex Alimentarius 9) Menyimak isi berbagai peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan tanaman dan pestisida, apa yang perlu disarankan? a) Baca secara kritis. b) Baca begitu saja. Kebijakan Perlindungan Tanaman 29

Bahan Ajar Mandiri

c) Baca pasal demi pasal. d) Baca pasal dan penjelasannya. e) Baca semua pasal sebab isi pasal satu dengan lainnya saling berkaitan. 10) Mengenai istilah OPT dan hama, manakah kesimpulan yang paling tepat? (a) OPT=hama (b) hama=padat populasi dan serangan OPT (d) OPT=hama dalam arti (e) a sampai d semuanya luas kurang tepat (c) OPT=hama, penyakit, dan gulma

11) Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sistem pada pasal mengenai PHT sebagai sistem perlindungan tanaman? (a) Landasan (d) Falsafah (b) Pendekatan (e) a sampai d semuanya benar 12) Pasal manakah yang dapat digunakan sebagai landasan hukum bahwa tindakan karantina dan eradikasi tanaman perlu dilakukan sesuai dengan PHT? (a) Pasal 20 UU No. 12 Tahun 1992 (b) Pasal 8 PP No. 6 Tahun 1995 (c) Pasal 2 UU No. 16 tahun 1992 (c) Strategi

(d) Ayat 3 Pasal 79 PP No. (e) a sampai d semuanya 14 Tahun 2001 benar

13) BRM berpotensi lebih menguntungkan negara-negara maju daripada negara-negara berkembang karena: (a) Codex Alimentarius memihak (d) Jenis komoditas perdagangan (e) Globalisasi (b) Fasilitas pengujian (c) Volume perdagangan

Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Kunci jawaban tidak diberikan langsung di sini melainkan secara terpisah pada Lampiran 2. Hal ini dilakukan dengan maksud agar mahasiswa terlebih dahulu menjawab setiap pertanyaan sendiri dan kemudian setelah selesai mencocokkan hasilnya dengan kunci jawaban. Untuk menghitung nilai hasil belajar, setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar diberikan nilai 10. Nilai hasil belajar dihitung dengan menjumlahkan nilai jawaban dari seluruh pertanyaan, membagi jumlah yang diperoleh Kebijakan Perlindungan Tanaman 30

Bahan Ajar Mandiri

dengan 13, dan kemudian mengalikan hasilnya dengan 10. Nilai yang diperoleh kemudian dikategorikan sebagai berikut: >80 70-<80 60-<70 50-<60 <50 : sangat memuaskan : memuaskan : cukup : kurang : gagal

Tindak Lanjut Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil kurang atau gagal, pelajari kembali keseluruhan materi modul. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil cukup, pelajari bagian dari kegiatan belajar yang memuat uraian mengenai pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan benar. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil memuaskan atau sangat memuaskan, persiapkan untuk mempelajari kegiatan belajar pada Modul 3. Apapun hasil belajar yang diperoleh, lakukan pengayaan pemahaman dengan membaca referensi yang dianjurkan pada Daftar Pustaka.

Glosarium eradikasi: tindakan pemusnahan terhadap tanaman, organisme pengganggu tumbuhan, dan benda lain yang menyebabkan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan di lokasi tertentu karantina: tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit hewan, hama dan penyakit ikan, atau organisme pengganggu tumbuhan dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah negara; tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah negara; pengendalian: tindakan yang dilakukan untuk menurunkan padat populasi organisme pengganggu tumbuhan sampai pada padat populasi yang yang tidak dapat merusak, mengganggu kehidupan,atau menyebabkan kematian tumbuhan peraturan pemerintah (PP): peraturan perundang-undangan di Indonesia yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya. Materi muatan PP adalah materi untuk menjalankan UU sebagaimana diatur dalam UU No.10 Tahun 2004 tentang Teknik Pembuatan Undang-undang bahwa PP sebagai aturan organik dari UU tidak boleh tumpang tindih apalagi bertolak belakang dengan UU pestisida: zat atau senyawa kimia, zat pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme renik, atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Kebijakan Perlindungan Tanaman 31

Bahan Ajar Mandiri

residu pestisida: zat tertentu yang terkandung dalam hasil pertanian, bahan pangan, atau pakan hewan baik sebagai akibat langsung maupun tak langsung dari penggunaan pestisida. istilah ini mencakup senyawa turunan pestisida, seperti senyawa hasil konversi metabolit, senyawa hasil reaksi, dan zat pencemar yang dapat memberikan pengaruh toksikologis. undang-undang (UU): ketentuan dan peraturan negara yg diajukan oleh pemerintah (eksekutif) untuk disahkan oleh parlemen (badan legislatif) atau dirancang oleh komisi di parlemen yang sesudah ditandatangani oleh kepala negara menjadi mempunyai kekuatan yang mengikat Daftar Pustaka Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian Nomor: 881/Menkes/SKB/VIII/1996 711/Kpts/TP.270/8/1996. Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil Pertanian. Peraturan Pemerintah No. 14 Republik Indonesia. (2002). Karantina Tumbuhan. Lembaran Negara Tahun 2002 No. 35, Tambahan Lembaran Negara No. 4196. Peraturan Pemerintah No. 6 Republik Indonesia. (1995). Perlindungan Tanaman. Lembaran Negara Tahun 1995 No. 12, Tambahan Lembaran Negara No. 3586. Peraturan Pemerintah No. No. 7 (1973). Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973 No. 12 Undang-undang No. 12 Republik Indonesia. (1992). Sistem Budidaya Tanaman. Lembaran Negara Tahun 1992 No. 46, Tambahan Lembaran Negara No. 3478. Undang-undang No. 16 Republik Indonesia. (1996). Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Lembaran Negara Tahun 1996 No. 56, Tambahan Lembaran Negara No. 3482.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

32

Bahan Ajar Mandiri

MODUL 3 PENGENDALIAN HAMA TERPADU SEBAGAI SISTEM PERLINDUNGAN TANAMAN DI INDONESIA

PENDAHULUAN

Pokok-pokok Isi dan Manfaat Sebagaimana telah diuraikan pada Modul 2, Pasal 20 UU No. 12 Tahun 1992 menetapkan bahwa PHT merupakan sistem perlindungan tanaman di Indonesia. Hal ini bermakna bahwa seluruh kebijakan perlindungan tanaman di Indonesia, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, harus didasarkan pada PHT. Modul mengenai permasalahan dan kebijakan perlindungan tanaman ini mencakup dua pokok bahasan, yaitu dasar-dasar pengendalian hama terpadu dan pengendalian hama terpadu lanjut. Kedua pokok bahasan tersebut dikemas dalam tiga kegiatan belajar yang saling berkaitan:
1) Latar belakang, konsep, komponen, dan hakekat PHT 2) Pengambilan keputusan, penerapan, dan pengorganisasian PHT 3) Keberhasilan, kekurangan, dan perkembangan PHT

Ketiga kegiatan belajar yang diuraikan pada Modul 3 ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa harus PHT dan apakah sebenarnya PHT itu? Apa sebenarnya komponen dan hakekat dari PHT dan bagaimana penerapannya? Bagaimana perkembangan penerapan PHT di Indonesia dan apa keberhasilan dan kekurangannya? Uraian ketiga kegiatan belajar pada modul ini dimaksudkan untuk memberikan panduan dalam mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kompetensi Khusus Setelah menyelesaikan ketiga kegiatan belajar yang diuraikan pada Modul 3 ini mahasiswa diharapkan mampu: a) Menyebutkan dan menjelaskan faktor-faktor yang mendorong ditetapkannya PHT sebagai sistem perlindungan tanaman b) Menjelaskan pengertian, konsep, dan falsafah PHT

Kebijakan Perlindungan Tanaman

33

Bahan Ajar Mandiri

c) Menyebutkan dan menjelaskan komponen PHT d) Menyebutkan dan menjelaskan perkembangan PHT di Indonesia e) Mengkritisi penerapan PHT di Indonesia

Indikator dan Petunjuk Belajar Keberhasilan mempelajari modul ini diukur berdasarkan keberhasilan memahami dan menjelaskan secara utuh faktor-faktor yang mendorong diterapkannnya PHT di Indonesia, pengertian, konsep, dan falsafah PHT, komponen PHT, perkembangan PHT, dan menyikapi keberhasilan dan kekurangan PHT secara kritis. Untuk mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan membaca materi Kegiatan Belajar 1, Kegiatan Belajar 2, dan Kegiatan Belajar 3 secara berurutan. Setelah membaca uraian setiap kegiatan belajar, mahasiswa diharapkan mengerjakan latihan yang diberikan dan mendiskusikannya dengan mahasiswa lainnyaUntuk mendalami uraian setiap kegiatan belajar, mahasiswa disarankan membaca pustaka yang direkomendasikan pada Daftar Pustaka. Setiap kegiatan belajar memerlukan waktu 100 menit sehingga untuk mempelajari ketiga kegiatan belajar dalam modul ini diperlukan waktu 300 menit.

KEGIATAN BELAJAR 1: LATAR BELAKANG, KONSEP, DAN HAKEKAT PHT

Uraian Sejak 1968 pemerintah Indonesia meluncurkan program bimbingan masal (BIMAS) sebagai upaya peningkatan produksi padi melalui penggunaan bibit unggul berdaya hasil tinggi, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan, dan penggunaan pestisida yang ketika itu disebut obat hama. Berikut adalah sebuah kutipan mengenai upaya pemerintah tersebut: Indonesia began the BIMAS rice intensification p rogramme in 1968 and since then there have been great increases in their total yields and overall production -overall an increase of more than three times. Most of this was due to better irrigation, shorter duration varieties and credit support for purchasing chemical fertiliser. Along with intensification were subsidies for certain inputs such as fertilisers and pesticides. The general belief in the 1960s was that more agrochemical inputs - both fertiliser and pesticides - meant higher yields and production. The government had funds from oil and was able to spend large sums of money on these inputs. In the year between 1976 and 1980 the subsidies Kebijakan Perlindungan Tanaman 34

Bahan Ajar Mandiri

for pesticides were over US$ 50 million per year and between 1981 and 1988 they exceeded US$ 150 million per year. BIMAS berhasil meningkatkan produksi sampai sebesar tiga kali. Lonjakan produksi ini berhasil dicapai melalui penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi, pupuk kimia, dan pestisida. Ketika itu revolusi hijau sedang pada puncak masa kejayaannya dan ekologi belum berkembang seperti sekarang.

Penggunaan varietas unggul serta pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan menorong terjadinya ledakan wereng cokelat yang merupakan vektor penyakit tungro. Varietas unggul berdaya hasil tinggi rentan terhadap wereng cokelat dan tungro. Untuk mengatasi ledakan hama ini varietas unggul baru yang tahan terhadap wereng cokelat (dikenal sebagai varietas unggul tahan wereng, VUTW) dikeluarkan dan pestisida digunakan semakin intensif. Namun setiap kali dihasilkan varietas baru, dalam waktu yang tidak terlalu lama muncul wereng cokelat wereng cokelat biotipe baru yang dapat mematahkan ketahanan VUTW. Pestisida pun harus digunakan semakin banyak tetapi ledakan populasi wereng cokelat terus saja terjadi. Ledakan wereng cokelat terjadi lambat pada saat menjelang panen sehingga seluruh biaya telah dikeluarkan petani, menyebabkan kerugian menjadi semakin besar.

Sejak 1977 Peter Kenmore, seorang mahasiswa S3 University of California Berkeley yang mendapat beasiswa Rockefeller, mulai meneliti ekologi wereng cokelat di IRRI. Dia menemukan bahwa terdapat faktor pembunuh alami yang menyebabkan populasi hama-hama lainnya rendah. Pada ekosistem sawah, dia menemukan (sebenarnya sudah ditemukan 15 tahun sebelumnya di Jepang, bahwa terdapat laba-laba, capung, berbagai jenis kumbang dan berbagai serangga parasitodi yang merusakkan telur, nimfa, dan imago wereng cokelat. Penggunaan pestisida, selain mendorong munculnya biotipe wereng baru, justeru mematikan musuh alami tersebut sehingga menyebabkan terjadinya resurgensi hama sasaran dan ledakan hama sekunder. Temuan ini kurang mendapatkan perhatian, bahkan di IRRI sendiri. IRRI terus sibuk berpacu menghasilkan VUTW baru setiap kali VUTW yang sudah ada dipatahkan ketahanannya oleh wereng cokelat biotipe baru. Ledakan wereng cokelat terjadi dengan interval teratur yang oleh pemulia tanaman disebut boom and bust karena VUTW tahan hanya sementara untuk kemudian ketahanannya lenyap begitu muncul wereng cokelat biotipe baru. Kebijakan Perlindungan Tanaman 35

Bahan Ajar Mandiri

(a) (b) (c) Gambar 3.1. Pestisida dan wereng cokelat: (a) Aplikasi pestisida secara terjadwal pada masa pra-PHT, (b) Nimfa dan imago wereng cokelat menggerombol pada pangkal rumpun padi, dan (c) tanaman padi mengering setelah diserang wereng cokelat. Gambar (c) adalah tanaman padi di persawahan PT Sanghyang Seri dan BB Padi Sukamandi yang juga tidak luput dari serangan OPT tersebut (http://www.kabarindonesia.com/ foto.php?jd=Tanaman+Padi+Kering+Diserang+Hama+Wereng+Coklat&pil=20100525 221009) Penelitian mengenai ekologi wereng cokelat di Indonesia dilakukan of Ida Nyoman Oka dari Deptan (sekarang Kementan) dan Kasumbogo Untung dari UGM awal 1980-an. Ketika pada 1985 terjadi lagi ledakan wereng cokelat, seorang staf Depkeu (sekerang Kemenkeu) mengingatkan Menkeu ketika itu bahwa subsidi pestisida sudah terlalu besar dan oleh karena itu perlu dicari cara untuk mengurangi penggunaan pestisida. Menkeu melaporkan hal ini kepada Presiden Soeharto yang kemudian, dengan mendasarkan pada hasil-hasil penelitian mengenai ekologi wereng cokelat yang dilakukan di Indonesia (dengan dukungan Dr. K. Sogawa, seorang pakar evoluasi wereng cokelat ternama dari Jepang), mendorong dikeluarkannya Instrukesi Presiden (Inpres) No. 3/1987 yang mncabut ijin dan melarang peredaran 57 jenis pestisida. Inpres ini merupakan tonggak awal PHT di Indonesia karena pada 1989 dicanangkan Program Nasional PHT dengan dukungan Program Antar-Negara PHT Padi FAO (dipimpin oleh Peter Kenmore) Program Nasional tersebut ditangani langsung oleh BAPPENAS yang memungkinkan Indonesia menjadi negara berkembang yang dinilai dunia sebagai berhasil menerapkan PHT.

Dengan latar belakang sebagaimana yang telah diuraikan, apakah sebenarnya PHT itu? Menurut Untung (2007), PHT yang dalam peraturan perundang-undangan disebutkan sebagai pengendalian hama terpadu sebenarnya adalah pengelolaan hama terpadu, dua konsep yang sebenarnya berbeda tetapi saling berkaitan. Dasar ilmiah pengendalian hama terpadu dikembangkan oleh para peneliti Universitas Kalifornia di Kebijakan Perlindungan Tanaman 36

Bahan Ajar Mandiri

Bekeley dan di Riverside selama kurang lebih 10 tahun sebelum kemudian diadopsi pada sebuah simposium yang disponsori FAO pada 1965. Pada simposium tersebut, pengendalian hama terpadu diartikan sebagai pemaduan cara pengendalian kimiawi dan hayati: ... applied pest control which combines and integrates biological and chemical control. Chemical control is used as necessary and in a manner which is least disruptive to biological control. Integrated control may make use of naturally occurring biological control as well as biological control effected by manipulated or induced biotic agents. (Stern et al. 1959) Sementara itu, istilah pengelolaan hama terpadu diusulkan pertama kali sebenarnya oleh pakar ekologi Australia P.W. Geier dan L.R. Clark pada 1961. Istilah pengelolaan hama terpadu tersebut mulai mendapat lebih banyak perhatian di AS sejak sejak publikasi artikel pada Annual Review of Entomology article in 1966, laporan National
Academy of Science (NAS) pada 1969, dan prosiding konferensi di North Carolina yang menghadirkan pakar dari Australia. Istilah pengendalian hama terpadu sebagaimana yang sekarang digunakan, digunakan pertama kali pada 1998 oleh M. Kogan. Menurut Kogan, pengelolaan hama terpadu merupakan:

... a decision support system for the selection and use of pest control tactics, singly or harmoniously coordinated into a management strategy, based on cost/benefit analyses that take into account the interests of and impacts on producers, society, and the environment (Kogan, 1998). Terdapat banyak sekali definisi mengenai pengelolaan hama terpadu. Namun demikian, PHT sebenarnya adalah sistem pendukung pengambilan keputusan untuk pemilihan dan penggunaan taktik pengendalian hama. Dalam hal ini hama diartikan dalam pengertian yang luas, mencakup binatang hama, patogen, dan gulma pada hewan, ikan, dan tanaman, bahkan pada fasilitas umum dan lingkungan hidup. Dengan demikian jelas bahwa PHT bukan sekedar pemaduan satu atau lebih cara pengendalian sebagaimana yang didefinisikan dalam UU No. 12 Tahun 1992 tentang Perlindungan Tanaman.

PHT pada hakekatnya merupakan sebuah paradigma baru perlindungan tanaman bahwa OPT merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekosistem pertanian (agro-ekosistem). Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agroekosistem, keberadaan OPT tidak dapat benar-benar dihindarkan melainkan sampai batas-batas tertentu perlu ditoleransi untuk memungkinkan terjaganya proses ekologis jejaring makanan karena OPT merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis organisme lain yang menggunakan OPT sebagai Kebijakan Perlindungan Tanaman 37

Bahan Ajar Mandiri

sumber makanannya yang dalam konteks perlindungan tanaman dikenal sebagai musuh alami. Penggunaan cara pengendalian untuk membasmi OPT berarti pada saat yang sama juga membasmi musuh alami sehingga proses ekologis menjadi terganggu sehingga populasi OPT memperoleh kesempatan untuk meledak. Oleh karena itu, PHT berbeda dengan perlindungan tanaman sebelumnya, tidak dimaksudkan untuk membasmi OPT, kecuali bila memang diperlukan, melainkan untuk menurunkan populasi sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang merugikan. Dengan demikian, PHT tidak dimaksudkan sekedar untuk memaksimalkan produksi pertanian, melainkan lebih untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan. Dalam pertanian berkelanjutan, produktivitas, yaitu produksi per satuan luas, perlu dijaga keseimbangannya dengan stabilitas, yaitu fluktuasi produksi, kemerataan, yaitu distribusi produksi dalam masyarakat, dan kemandirian, yaitu kemampuan petani dan masyarakat pada umumnya untuk menggunakan sumberdaya milik sendiri secara efektif dan efisien.

Latihan PHT merupakan aspek penting dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Keberlanjutan pertanian antara lain ditentukan oleh kinerja tingkat produksi, kestabilan ekosistem, kemerataan sumberdaya dan hasil, dan kemnadirian petani. Pikirkan dengan kritis, di antara kinerja tersebut, dengan kinerja manakah PHT sangat terkait dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan.

Rangkuman Penerapan PHT di Indonesia dilatarbelakangi oleh ledakan wereng cokelat yang terjadi secara berulang sehingga mengancam ketahanan pangan. Penerapan PHT sejak 1989 melalui Program Nasional PHT telah memungkinkan Indonesia menjadi negara berkembang yang diakui dunis sukses dalam menerapkan PHT. PHT berkembang dari konsep pengendalian hama terpadu menjadi pengelolaan hama terpadu. Dewasa ini, PHT bermakna lebih dari sekedar penggabungan satu atau dua cara pengendalian, melainkan merupakan sistem pendukung pengambilan keputusan untuk pemilihan dan penggunaan taktik pengendalian hama untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

38

Bahan Ajar Mandiri

KEGIATAN BELAJAR 2: PENGAMBILAN KEPUTUSAN, PENERAPAN, DAN PENGORGANISASIAN PHT

Uraian Sebagaimana didefinisikan oleh Kogan (1998), PHT sesungguhnya merupakan sistem dukungan pengambilan keputusan. Yang dimaksud dengan sistem dukungan pengambilan keputusan adalah berbagai cara yang dilakukan untuk menentukan apakah tindakan pengendalian sudah atau belum perlu dilakukan, apa saja yang perlu dipertimbangkan, dan bila perlu dilakukan, tindakan pengendalian apa yang sebaiknya dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dengan demikian, pengambilan keputusan sebenarnya merupakan bagian PHT yang paling penting. Bahkan, dapat dikatakan bahwa PHT sesungguhnya adalah perubahan pengambilan keputusan dari pengendalian dengan pestisida secara terjadwal menjadi pengendalian dengan berbagai cara pada waktu yang ditentukan dengan menggunakan pertimbangan tertentu sebagai dasar pengambilan keputusan. Pada pengendalian OPT dengan pestisida secara terjadwal, pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang tidak penting sebab pelaksanaan pengendalian telah dijadwalkan.

Pengambilan keputusan dalam PHT dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang saling berkaitan dan dengan melalui proses yang kompleks. Sebagaimana dengan PHT sendiri yang berkembang dari pengendalian hama terpadu menjadi pengelolaan hama terpadu, pengambilan keputusan juga terus mengalami perkembangan. Pada awalnya, ketika PHT masih pada tahap pengendalian hama terpadu, pengambilan keputusan dilakukan dengan dasar ambang ekonomi (AE). AE merupakan padat populasi OPT yang perlu dikendalikan untuk mencegah menjadi semakin meningkat mencapai padat populasi yang dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis (ambang luka ekonomis, ALE). AE sebagai dasar pengambilan keputusan ditetapkan oleh para pakar dengan menggunakan metode tertentu. Petani melakukan pemantauan agroekosistem dan mencocokkan apakah populasi OPT hasil pemantauan telah atau belum mencapai AE. Bila padat populasi hasil pemantauan telah mencapai AE maka tindakan perlindungan tanaman segera harus dilakukan. Sebaliknya bila padat populasi hasil pemantauan masih lebih rendah daripada AE maka tindakan perlindungan

Kebijakan Perlindungan Tanaman

39

Bahan Ajar Mandiri

tanaman belum perlu dilakukan sampai diperoleh hasil dari pelaksanaan pemantauan agro-ekosistem berikutnya.

Pengambilan keputusan berdasarkan AE banyak dikritik karena sebenarnya dilakukan bukan oleh petani sendiri melainkan dengan bantuan pakar untuk terlebih dahulu menetapkan AE. Selain itu AE dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama kemampuan merusak dari hama yang dikendalikan, biaya pengendalian, dan harga hasil tanaman sehingga dengan demikian AE bersifat dinamik (senantiasa berubah). Bila harus menunggu ditetapkan oleh para pakar maka akan selalu terlambat, tetapi bila harus ditetapkan oleh petani sendiri menjadi terlalu rumit. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan maka pengambilan keputusan dengan menggunakan instrumen AE semakin ditinggalkan dan digantikan dengan dasar pertimbangan yang lebih mudah dapat dilakukan oleh petani sendiri atau bila dilakukan oleh pakar maka harus dapat dilakukan dengan cepat seiring dengan dinamika OPT sendiri. Hal ini melahirkan cara pengambilan keputusan berbasis petani dan berbasis sistem pakar (expert system) dengan dukungan komputer dan dan jaringan Internet.

Pengambilan keputusan berbasis petani di Indonesia sebenarnya telah dimulai ketika PHT menjadi program nasional dan dilaksanakan melalui sekolah lapang PHT (SLPHT). Akan tetapi, perubahan tersebut tidak berlangsung dengan serta merta melainkan berlangsung beriringan dengan pengambilan keputusan berdasarkan AE. Semakin lama, setelah semakin banyak petani mengenyam SL-PHT maka pengambilan keputusan berbasis petani semakin dikedepankan dan pengambilan keputusan berdasarkan AE semakin ditingalkan. Pengambilan keputusan berbasis petani didasarkan atas pemikiran bahwa petani adalah ahli PHT. Petani adalah orang yang paling mengerti dan paling berkepentingan akan usahataninya sehingga petanilah yang seharusnya paling bisa dan paling berhak memutuskan. Pengambilan keputusan berbasis petani tetap mempertimbangkan populasi OPT hasil pemantauan agro-ekosistem, tetapi keputusan tidak diambil dengan mencocokkan padat populasi hasil pemantauan dengan AE, melainkan dengan mempertimbangkan banyak hal yang disepakati bersama oleh anggota kelompok yang mempunyai usahatani di suatu hamparan tertentu. Dengan demikian, pengambilan keputusan berbasis petani dilakukan oleh petani secara bersama-sama, tidak bisa hanya secara individual sebagaimana pada pengambilan Kebijakan Perlindungan Tanaman 40

Bahan Ajar Mandiri

keputusan berdasarkan AE. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa permasalahan OPT sesungguhnya adalah permasalahan perubahan keseimbangan ekologis sehingga untuk mengatasinya perlu dilakukan dalam satu wilayah hamparan secara bersama-sama dan dalam waktu bersamaan.

(a) (b) (c) Gambar 3.2. Kegiatan SL-PHT: (a) Pengamatan agro-ekosistem pada SLPHT padi, (b) Pengenalan OPT dan musuh alami pada SL-PHT kakao, dan (c) Pengamatan agroekosistem pada SL-PHT kedelai Pengambilan keputusan berbasis petani dapat dilakukan dengan menggunakan beragam pertimbangan tambahan selain sekedar padat populasi hasil pemantauan agroekosistem. Pemantauan agro-ekosistem tetap dilakukan tetapi hasilnya tidak bersifat final sebagaimana pada pengambilan keputusan berdasarkan AE, melainkan dimusyawarahkan untuk memperoleh keputusan bersama. Pengambilan keputusan melalui musyawarah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan bahnyak faktor lain, di antaranya pengalaman petani, hasil pemantauan musuh alami, biaya pelaksanaan, nilai hasil usahatani, dan sebagainya. Pengambilan keputusan melalui musyawarah tersebut dilakukan dengan menggunakan berbagai bantuan cara pengambilan keputusan, di antaranya pohon keputusan, yang semuanya telah dipelajari melalui SLPHT. Setelah diputuskan melalui musyawarah maka keputusan mengikat setiap orang yang mempunyai usahatani pada hamparan yang sama untuk melakukannya bersama-sama. Pengambilan keputusan berbasis petani mengharuskan petani mengikat diri dalam organisasi kelompok tani.

Pengambilan keputusan berbasis sistem pakar dilakukan bersama-sama oleh petani dan oleh pihak luar yang mengoperasikan sistem pakar yang digunakan. Pengambilan keputusan berbasis sistem pakar juga tidak hanya didasarkan semata-mata atas populasi OPT, melainkan berdasarkan berbagai faktor yang terlebih dahulu telah dipelajari secara Kebijakan Perlindungan Tanaman 41

Bahan Ajar Mandiri

mendalam dan diketahui mempengaruhi terjadinya ledakan OPT. Dengan demikian, pemantauan agro-ekosistem dalam pengambilan keputusan berbasis sistem pakar tidak hanya dilakukan terhadap OPT dan musuh alaminya, tetapi juga terhadap faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan OPT dan musuh alaminya. Faktor lingkungan yang lazim dipertimbangkan adalah kultivar tanaman, fase pertumbuhan tanaman, keadaan agroklimat, dan sebagainya. Pemantauan dapat dilakukan dengan melibatkan petani secara langsung maupun tidak langsung dan melaporkan hasilnya kepada sistem pakar untuk diproses secara terkomputerisasi. Hasil pemrosesan terkomputerisasi tersebut dikembalikan kepada petani untuk mengambil keputusan akhir pelaksanaannya. Di negara-negara maju, pelaporan hasil pemantauan kepada sistem pakar dan penyampaian hasil permosesan sistem pakar kepada petani dilakukan dengan dukungan Internet, tetapi hal ini belum memungkinkan di negara-negara sedang berkembang.

Pengambilan keputusan dilakukan terhadap berbagai hal, di antaranya cara pengendalian yang diterapkan, saat melakukan tindakan, cara pelaksanaan, dan sebagainya. Cara pengendalian dapat berupa cara mekanik, cara fisik, cara kimiawi, cara hayati, cara genetik, cara budidaya, dan cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmi pengetahuan dan teknologi. Di antara cara-cara tersebut ditentukan satu atau beberapa cara untuk diterapkan secara bersamaan. Dalam pemilihan cara-cara tersebut, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, cara kimiawi harus dipilih sebagai alternatif terakhir. Pemilihan sebagai alternatif terakhir tidak berarti bahwa setiap cara lain terlebih dahulu dicoba, melainkan dipertimbangkan masak-masak dan setelah melalui pertimbangan tersebut maka apabila tidak ada cara lain yang dipandang efektif barulah dapat digunakan cara kimiawi. Setelah cara pengendalian ditetapkan maka pelaksanaan pengendalian dilakukan sesuai dengan keputusan mengenai waktu pelaksanaan, apakah saat ini juga atau perlu menunggu beberapa waktu kemudian. Cara pelaksanaan bergantung pada dasar yang digunakan dalam pengambilan keputusan, apakah keputusan diambil berdasarkan AE, berdasarkan keputusan petani, atau berdasarkan sistem pakar. Pada pengambilan keputusan berdasarkan AE, elaksanaan dapat dilakukan secara perseorangan atau secara berkelompok (bila penetapan AE dilakukan secara berkelompok), sedangkan pada

Kebijakan Perlindungan Tanaman

42

Bahan Ajar Mandiri

pengambilan keputusan berdasarkan keputusan petani atau berdasarkan sistem pakar, pelaksanaan harus dilakukan secara berkelompok.

Pelaksanaan PHT secara berkelompok memerlukan pengorganisasian petani. Pengorganisasian petani pada mulanya dilakukan dengan pendekatan dari atas (top down), yaitu dibentuk atas dasar permintaan pihak luar, tetapi ke depan diharapkan dapat berlangsung dari bawah (bottom up), yaitu dibentuk oleh petani atas dasar kesadaran sendiri. Meskipun telah terjadi perubahan besar-besaran secara politik setelah reformasi, pengorganisasian dewasa ini masih sangat diwarnai oleh pendekatan dari atas. Pengorganisasian petani dengan pendekatan dari bawah masih belum begitu meluas, selain karena kesadaran politik petani masih sangat didominasi oleh politik partai, itikad pemerintah sendiri untuk mendorong berkembangnya kesadaran pengorganisasian petani dari bawah memang masih belum terlalu tampak. Program pemerintah yang murni dilaksanakan untuk menumbuhkan kesadaran berorganisasi di kalangan petani memang masih sangat jarang, kalau bukan justeru belum ada sama sekali. Kemampuan petani untuk berorganisasi masih sangat jauh ketinggalan dari kemampuan buruh karena petani didorong berorganisasi pada umumnya hanya untuk tujuan menyukseskan program pemerintah, termasuk program PHT. Kelompokkelompok tani PHT pada umumnya dibentuk manakala pemerintah memprogramkan PHT, yang kemudian untuk selanjutnya, setelah program selesai dilaksanakan, kelompok tani pun juga ikut menyelesaikan dirinya sendiri.

Latihan Carilah pustaka mengenai ambang ekonomi dan baca untuk memahami apa itu ambang ekonomi, bagaimana menentukannya, dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Setelah membaca dan memahami, pikirkan mengapa ambang ekonomi ditinggalkan dan kemudian digantikan dengan sekolah lapang sebagai instrumen pengambilan keputusan.

Rangkuman PHT pada dasarnya merupakan pengambilan keputusan. Pada mulanya, keputusan diambil oleh pihak luar melalui penentuan AE. Pada perkembangan selanjutnya, pengambilan keputusan dilakukan berbasis petani dan berbasis sistem pakar. Pada kedua pengambilan keputusan terakhir, diperlukan pengorganisasian petani. Pada Kebijakan Perlindungan Tanaman 43

Bahan Ajar Mandiri

mulanya petani perlu dibantu mengorganisasikan diri, tetapi ke depan seharusnya ditumbuhkan kesadaran petani sendiri untuk berorganisasi.

KEGIATAN BELAJAR 3: KEBERHASILAN, KEKURANGAN, DAN PERKEMBANGAN PHT

Uraian Secara konseptual, PHT merupakan sistem perlindungan tanaman yang sangat ideal. Hal ini tidak mengherankan karena PHT sebagai konsep sesungguhnya tumbuh dari keprihatinan terhadap berbagai dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh penggunaan pestisida secara terus menerus maupun berlebihan. Menjawab keprihatinan tersebut, PHT dikembangkan atas dasar pertimbangan ekologis, pertimbangan ekonomis, dan pertimbangan sosial. Pertimbangan ekologis tampak dari konsep mengenai pelestarian musuh alami melalui penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir secara hati-hati, pertimbangan ekonomis melalui perhitungan mengenai biaya pelaksanaan perlindungan tanaman, dan pertimbangan sosial melalui pelaksanaan sekolah lapangan dan pengorganisasian petani dalam kelompok tani.

Kini PHT sudah menjadi sistem arus utama (mainstream) perlindungan tanaman. Dalam perkembangan PHT sebagai arus utama tersebut, Indonesia telah mencatat keberhasilan yang mendapat pengakuan dunia. Penerapan PHT di berbagai negara berkembang lainnya dilakukan dengan menggunakan pola penerapan di Indonesia, terutama penerapan melalui sekolah lapang (SLPHT). Di dalam negeri sendiri, PHT telah dinyatakan berhasil mengurangi penggunaan pestisida secara drastis sehingga anggaran pemerintah yang sebelumnya digunakan untuk mensubsidi pestisida kini dapat digunakan untuk tujuan lain. PHT juga telah memelopori penerapan sekolah lapang yang kini digunakan dalam pelaksanaan program pertanian lainnya. PHT telah tercatat di Indonesia sebagai keberhasilan sehingga sebagian orang menerima begitu saja, tanpa merasa perlu mempertanyakan, seakan-akan kekurangan PHT merupakan keniscayaan. Begitu banyak publikasi mengenai PHT yang menyanjung keberhasilan PHT di Indonesia, sementara yang mencoba mengkritisi begitu sedikit. Padahal, cobalah tanyakan kepada petani sayuran, misalnya petani sayuran di Desa Noelbaki, Kecamatan

Kebijakan Perlindungan Tanaman

44

Bahan Ajar Mandiri

Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, bagaimana mereka melakukan perlindungan tanaman.

Di antara begitu banyak pakar yang memuji keberhasilan PHT, terdapat hanya sedikit yang tetap kritis. Di antaranya adalah A.P. Vayda dari Rutgers University dan I.H. Falk dari Charles Darwin University. Memang, kedua pakar ini tetap memuji PHT secara konseptual, tetapi kritis menyikapi keberhasilan pelaksanaannya. Menurut Vayda & Setyawati (1995), penurunan penggunaan pestisida sesungguhnya bukanlah karena PHT melainkan karena pemerintah mencabut subsidinya sehingga harga pestisida menjadi mahal dan tidak terjangkau petani. Maka, masih menurut Vayda & Setyawati (1995), PHT berhasil karena campur tangan kuat pihak pemerintah. Dalam bahasa kebijakan, PHT berhasil karena adanya dukungan politik, bukan semata-mata karena konsep PHT itu sendiri. Vayda (2009) juga mengkritik PHT sebagai lebih menitikberatkan pada pertimbangan ekologis dan ekonomis daripada pertimbangan sosial. Karena itu, Vayda (2009) menyimpulkan, jangan heran bila PHT akan perlahan-lahan menghilang manakala tidak lagi ada dukungan politik terhadap penerapannya. PHT, kata Vayda, bukanlah sekedar interaksi OPT dengan musuh alaminya sebagaimana yang diajarkan dalam SL-PHT, tetapi interaksi antar manusia (antar sesama petani, antara petani dengan konsumen, antara petani dengan pemerintah). PHT hanya menargetkan petani, sedangkan konsumen kurang mendapat perhatian. Akibatnya, karena tekanan konsumen yang lebih menginginkan produk bebas kerusakan oleh OPT daripada bebas residu pestisida maka petani yang sudah mengikuti SLPHT sekalipun akan kembali tergoda untuk menggunakan pestisida.

Kritik Falk terhadap PHT terfokus terutama pada aspek sosial penerapan PHT. PHT, menurut Falk, terlalu mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi dan hanya sedikit memberikan perhatian pada aspek sosial, terutama dalam konteks modal sosial (social capital). Menurut Falk, masyarakat terikat sebagai kesatuan yang mencakup ikatan menyatukan (bonding ties) antar anggota masyarakat, ikatan menjembatani (bridging ties) antara anggota masyarakat dengan pihak luar, dan ikatan menautkan (linking ties) antar anggota masyarakat dalam kedudukan yang berbeda, misalnya antara orang biasa dengan tokoh masyarakat setempat. Pembentukan kelompok untuk kepentingan pengorganisasian PHT yang dilakukan secara kurang hati-hati bukan tidak Kebijakan Perlindungan Tanaman 45

Bahan Ajar Mandiri

mungkin menimbulkan gangguan terhadap ikatan-ikatan tersebut yang pada akhirnya bermuara pada penerapan PHT menjadi tidak berkelanjutan.

(a) (b) Gambar 3.3. Melalui SL-PHT petani berdiskusi, membuat percobaan, dan belajar rumitnya interaksi antara OPT dengan musuh alaminya: (a) Kegiatan berdiskusi serta melakukan percobaan dan pengamatan dan (b) Gambar yang dibuat petani mengenai interaksi antara musuh alami dan OPT

(a) (b) Gambar 3.4. Penggunaan dan subsidi pestisida kimiawi di Indonesia, benarkah berkurang hanya karena PHT? (a) Penggunaan pestisida dan produksi beras dan (b) Nilai subisi pestisida dalam USD. Sumber: Soejitno (1999). PHT bersifat bukan hanya sektoral, melainkan sub-sektoral. Hal ini tersurat dari penggunaan istilah hama dalam PHT. Penggunaan kata hama menyebabkan PHT sukar dapat diterima di luar kalangan perlindungan tanaman. Karenanya, sekalipun sesuai dengan kosep PHT pemupukan N perlu dilakukan secara hati-hati karena dapat mengundang ledakan OPT, kalangan kesuburan tanah belum tentu dapat menerima Kebijakan Perlindungan Tanaman 46

Bahan Ajar Mandiri

begitu saja. Bagi kalangan perlindungan tanaman, tanaman sehat adalah tanaman yang kurang mengalami gangguan OPT, tetapi bagi kalangan lain tanaman sehat adalah tanaman yang tumbuh subur. Demikian juga dengan kepentingan pemasaran, hasil tanaman harus benar-benar bebas dari kerusakan oleh OPT padahal untuk hasil semacam itu diperlukan penggunaan banyak pestisida. Selain itu, pengambilan keputusan berdasarkan hasil pemantauan agro-ekosistem juga dipertanyakan. Pertanyaannya adalah, bila hasil pemantauan di satu agroekosistem menyatakan belum perlu dilakukan perlindungan tanaman, bagaimana bila hasil pemantauan di agroekosistem yang bertetangga menunjukkan justeru tindakan perlindungan tanaman harus segera dilakukan? Bukankah OPT merupakan mahluk hidup yang dapat berpindah dengan cepat sehingga diperlukan tindakan pengendalian bukan hanya ketika sudah ada tetapi seharusnya juga perlu diantisipasi sebelum ada? Lebih-lebih pada era globalisasi dan pasar bebas, cara berpikir yang cenderung sangat lokal ini perlu ditinjau kembali.

PHT memang perlu senantiasa dikritisi karena dengan cara begitu maka PHT dapat berkembang. Dalam sejarah penerapannya, PHT berkembang setidak-tidaknya dalam tiga fase penting: 1) PHT ambang ekonomi (PHT-AE), yaitu fase PHT sebagai pengendalian hama terpadu yang pengambilan keputusannya dilakukan untuk menentukan apakah aplikasi pestisida perlu dilakukan atau belum dengan membandingkab padat populasi OPT hasil pemantatau dengan AE. 2) PHT sekolah lapang (PHT-SL), yaitu fase PHT yang diorganisasikan oleh pihak luar (pemerintah, LSM) dengan pengambilan keputusan yang dilakukan berbasis keputusan oleh petani sendiri yang telah diberdayakan untuk melakukan pengambilan keputusan melalui sekolah lapang. 3) PHT masyarakat (PHT komunitas), yaitu fase PHT yang berkembang melalui penyadaran masyarakat untuk mampu mengorganisasikan diri dalam melaksanakan PHT. Penyadaran mula-mula dapat dilakukan oleh pihak luar tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan perlindungan tanaman selanjutnya dilakukan oleh masyarakat sendiri. Pada dua fase perkembangan PHT yang terakhir (fase 2 dan fase 3), pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan berbasis pada pengambilan keputusan oleh petani maupun pengambilan keputusan berbasis sistem pakar. Perkembangan fase-fase PHT Kebijakan Perlindungan Tanaman 47

Bahan Ajar Mandiri

tersebut sekaligus mereflesikan berbagai kekurangan PHT yang senantiasa terus disempurnakan seiring dengan perkembangan.

Latihan Jenis sayuran apakah yang biasanya dikonsumsi di rumah masing-masing? Tanyakan kepada ibu atau siapa saja yang biasa pergi berbelanja keperluan sehari-hari di pasar, bagaimana memilih sayuran yang baik. Apakah lebih baik memilih sayuran yang ada lubang berkas dimakan serangga atau yang tidak ada kerusakan sama sekali? Renungkan pertanyaan ini dengan mengaitkan uraian pada kegiatan belajar ini dengan kegiatan belajar 2 pada Modul 2.

Rangkuman PHT mempunyai banyak kelebihan, tetapi juga tidak luput dari kekurangan dalam pelaksanaannya. Kesuksesan Indonesia dalam melaksanakan PHT, khususnya PHT-SL, telah mendapat pengakuan dunia. Namun demikian, kesuksesan tersebut sebenarnya bukan tanpa cacat. Kekurangan PHT, terutama dalam pelaksanaannya tersebut, terus diperbaiki sehingga PHT berkembang dari PHT-AE menjadi PHT-SL dan akhirnya PHT masarakat.

PENUTUP

Tes Formatif 1) Manakah di antara pernyataan-pernyataan berikut yang sebenarnya kurang tepat mengenai PHT? a) Sistem perlindungan tanaman b) Dilakukan pertama terhadap wereng cokelat c) Paradigma baru perlindungan tanaman d) Pestisida sebagai alternatif terakhir e) Penggunaan satu atau lebih cara pengendalian 2) Dasar hukum awal penerapan PHT di Indonesia sebenarnya adalah: (a) UU No. 12/1992 (d) PP No 14/2002 (b) Inpres No. No. 3/1987 (c) PP No. 6/1995 (e) a sampai d tidak benar 48

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

3) PHT yang dimaksudkan dalam UU No. 12 Tahun 1992 sebenarnya adalah: a. Penggunaan satu atau beberapa cara pengendalian b. Pelarangan penggunaan pestisida secara berlebihan c. Sistem pendukung pengambilan keputusan d. Pengendalian OPT secara efisien e. a sampai d semuanya kurang tepat 4) Istilah hama dalam PHT mencakup: (a) Binatang hama (b) Binatang hama dan penyakit (d) Binatang hama, patogen, dan gulma (e) a sampai d semuanya benar (c) Binatang hama dan patogen

5) Dengan PHT, pengendalian OPT bermaksud untuk (a) Membasmi OPT (b) Menurunkan padat populasi OPT tertentu (d) Mengendalikan semua (e) Mencegah masuknya jenis OPT semua jenis OPT (c) Mengurangi jenis OPT

6) Inti dari PHT sesungguhnya adalah: a) Pengkombinasian berbagai cara pengendalian OPT b) Pengambilan keputusan pelaksanaan perlindungan tanaman c) Penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir d) Pelaksanaan perlindungan tanaman secara berkelompok e) Pengorganisasian pelaksanaan pengendalian OPT 7) Apakah yang dimaksud dengan pestisida digunakan sebagai alternatif terakhir? a) Semua cara dicoba terlebih dahulu sebelum digunakan pestisida b) Semua cara dilakukan terlebih dahulu kemudian baru pestisida c) Semua cara dipertimbangkan dahulu secara masak-masak, pestisida baru kemudian digunakan setelah cara lain dianggap kurang efektif dan efisien. d) Semua cara digunakan bersama-sama, pestisida digunakan terakhir kali e) Semua cara digunakan sebelum penggunaan pestisida 8) Manakah yang bukan merupakan keputusan dalam PHT? a) Tidak melaksanakan tindakan perlindungan tanaman b) Tindakan perlindungan tanaman belum perlu dilakukan c) Tindakan perlindungan segera harus dilakukan Kebijakan Perlindungan Tanaman 49

Bahan Ajar Mandiri

d) Tindakan perlindungan tanaman dilakukan setiap minggu sekali e) Tindakan perlindungan tanaman dilakukan satu minggu kemudian 9) Pertimbangan apa yang paling tepat digunakan sebagai alasan bahwa pelaksanaan PHT sebaiknya dilaksanakan oleh kelompok secara bersama-sama dan serempak? a) Pertimbangan keuntungan usahatani b) Pertimbangan adat istiadat setempat c) Pertimbangan dinamika kelompok d) Pertimbangan ekologis, ekonomis, dan sosial e) Pertimbangan sekolah lapang 10) Manakah yang benar mengenai pengorganisasian PHT seharusnya? a) Menumbuhkan kesadaran petani berorganisasi b) Meminta petani membentuk organisasi c) Memanfaatkan organisasi petani yang sudah ada d) Mensyaratkan dalam program bahwa hanya kelompok tani yang memperoleh bimbingan e) Mengharuskan petani peserta petani untuk membentuk kelompok 11) Di antara pernyataan-pernyataan berikut, manakah yang benar-benar merupakan keberhasilan PHT? a) Pengurangan penggunaan pestisida b) Penyadaran konsumen akan bahaya pestisida c) Pengakuan dunia akan keberhasilan pelaksanaan d) Pengorganisasian petani e) Pemahaman masyarakat mengenai ekologi 12) Di antara pernyataan-pernyataan berikut, manakah yang bukan merupakan kekurangan PHT? a) Bersifat sangat lokal b) Bersifat sangat sub-sektoral c) Bersifat sangat mementingkan ilmu pengetahuan dan teknologi d) Bersifat ekologis e) Bersifat kurang antisipatis 13) Di antara pernyataan-pernyataan berikut, manakah yang mengharuskan PHT perlu kembali dipikir ulang? a) Globalisasi dan pasar bebas Kebijakan Perlindungan Tanaman 50

Bahan Ajar Mandiri

b) Desentralisasi dan otonomi daerah c) Intensifikasi dan ekstensifikasi d) Pemanasan global dan lubang ozon e) Kesadaran dan keperdulian lingkungan hidup 14) Pada fase PHT mana pengambilan keputusan dilakukan dengan berbasis keputusan petani dan dengan berbasis sistem pakar? (a) PHT-AE (b) PHT-AE dan PHT-SL (c) PHT-SL dan PHT masyarakat (d) PHT-AE dan PHT masyarakat 15) Manakah di antara pilihan berikut yang menyebabkan PHT dituding lebih mementingkan kerumitan inetaraksi hayati daripada interaksi sosial? (a) Keputusan berdasarkan (b) PHT berlaku untuk AE tindakan pengendalian saja (d) Pestisida pilihan terakhir (e) Kombinasi berbagai cara pengendalian (c) Pengamatan agroekosistem (e) PHT masyarakat saja

Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Kunci jawaban diberikan secara terpisah pada Lampiran 2 dengan maksud agar mahasiswa terlebih dahulu menjawab setiap pertanyaan sendiri dan kemudian setelah selesai, baru mencocokkan jawaban yang diberikannya dengan kunci jawaban. Untuk menghitung nilai hasil belajar, setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar diberikan nilai 10. Nilai hasil belajar dihitung dengan menjumlahkan nilai jawaban dari seluruh pertanyaan, membagi jumlah yang diperoleh dengan 15, dan kemudian mengalikan hasilnya dengan 10. Nilai yang diperoleh kemudian dikategorikan sebagai berikut: >80 70-<80 60-<70 50-<60 <50 : sangat memuaskan : memuaskan : cukup : kurang : gagal

Kebijakan Perlindungan Tanaman

51

Bahan Ajar Mandiri

Tindak Lanjut Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil kurang atau gagal, pelajari kembali keseluruhan materi modul. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil cukup, pelajari bagian dari kegiatan belajar yang memuat uraian mengenai pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan benar. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil memuaskan atau sangat memuaskan, persiapkan untuk mempelajari kegiatan belajar pada Modul 4. Apapun hasil belajar yang diperoleh, lakukan pengayaan pemahaman dengan membaca referensi yang dianjurkan pada Daftar Pustaka.

Glosarium ambang ekonomi (AE): padat populasi opt (atau intensitas kerusakan yang ditimbulkan oleh padat populasi tersebut) yang harus segera dikendalikan untuk mencegahnya meningkat menjadi ambang luka ekonomi ambang luka ekonomi (ALE): padat populasi opt (atau intensitas kerusakan yang ditimbulkan oleh padat populasi tersebut) yang untuk mengendalikannya diperlukan biaya pengendalian yang sama dengan nilai kehilangan hasil yang dapat diselamatkan dengan melakukan pengendalian arus utama: cara berpikir, bertindak, berperilaku, dsb., yang dianut oleh sebagian besar orang modal sosial: agregat dari sumberdaya aktual atau potensial karena berada dalam jejaring atau hubungan yang kurang lebih melembaga mengenai saling menghargai dan saling menyadari kebutuhan; kemampuan untuk memperoleh manfaat dengan cara menjadi bagian dari suatu jejaring sosial atau struktur sosial lainnya pendekatan atas ke bawah: kepemimpinan atau pengambilan kebijakan yang dilakukan secara berjenjang dari pemimpin tertinggi ke pemimpin di bawahnya pendekatan bawah ke atas: kepemimpinan atau pengambilan keputusan yang mengedepankan partisipasi masyarakat pengelolaan hama terpadu: sistem pendukung pengambilan keputusan untuk melakukan pemilihan dan penggunaan cara pengendalian opt, secara tunggal atau dipadukan secara harmonis ke dalam suatu strategi pengelolaan, yang didasarkan atas analisis nisbah biaya/manfaat dengan mempertimbangkan kepentingan dari dan dampak terhadap produsen, masyarakat, dan lingkungan hidup Pengelolaan Hama Terpadu (PHT): sistem perlindungan tanaman di indonesia yang secara konseptual adalah pengelolaan hama terpadu pengendalian hama terpadu: pengendalian opt yang mengkombinasikan dan memadukan pengendalian kimiawi dengan pengendalian hayati. pengendalian kimiawi dilakukan sedemikian rupa sehingga mengganggu seminimal mungkin pengendalian hayati. pengendalian hayati dapat dilakukan agen pengendali yang tersedia secara alami (pengendalian alami) maupun agen pengendali yang dimanipulasi oleh manusia. PHT masyarakat: penerapan pht yang pengambilan keputusannya didasarkan atas hasil pemantauan agro-ekosistem yang dilaksanakan oleh sekelompok petani yang Kebijakan Perlindungan Tanaman 52

Bahan Ajar Mandiri

mengorganisasikan diri untuk berlatih bersama mengambil keputusan atas dasar pertimbangan yang disepakati bersama PHT ambang ekonomi: penerapan pht yang pengambilan keputusannya didasarkan atas ambang ekonomi PHT sekolah lapang: penerapan pht yang pengambilan keputusannya didasarkan atas hasil pemantauan agro-ekosistem yang dilaksanakan oleh petani yang diorganisasikan dan dilatih untuk mengambil keputusan atas dasar pertimbangan yang disepakati bersama sekolah lapang PHT: kegiatan pelatihan yang melibatkan 20-25 orang petani melalui pertemuan mingguan selama satu musim tanam dengan berorientasi pada peserta belajar (learner-centered), bersifat participatory, dan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berdasarkan pengalaman (experiential learning approach). Daftar Pustaka Bajwa, W. I.; & M. Kogan, (1997) Compendium of IPM Definitions (CID). Electronic Publication (http://www.ippc.orst.edu/IPMdefinitions). Berg, H. van den; P.A.C. Ooi; A.L. Hakim; H. Ariawan; & W. Cahyana (2001). Farmer Field Research: An Analysis of Experience from Indonesia. Manuscript (draft). Jakarta: The FAO Programme for Community IPM in Asia. Busyairi, M. A., ed. (1999) Membangun Pengetahuan Emansipatoris: Kasus Riset Aksi di Indramayu, Studi Kehidupan dan Gerakan Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi Putih. Jakarta: Lapesdam, Nahdlatul Ulama, The FAO Programme for Community IPM in Asia ICP Indonesia and Kelompok Tani Bumi Tani Kalensari, Indramayu. FAO (1966) Proc. FAO Symp. Integrated Pest Control. Rome, Oct. 11-15, 1965. Rome, Italy: FAO-UN. Part 1, 91 pp.; Part 2, 186 pp.; Part 3, 129 pp. Gallagher, K. (2003) Fundamental elements of a farmer field school. LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) 19: 5-6. Geier, P. W.; & Clark, L.R. (1961) An ecological approach to pest control. In Proceedings of the eighth technical meeting. International Union of Conservation of Nature and Natural Resources, Warsaw, 1960. pp. 10-18. Hardjono, J. (1983) Rural Development in Indonesia: The Top-down Approach. In Rural Development and the State, D. A. M. Leam & D. P. Chaudhri (eds.), pp. 3865. London: Methuen. Kogan, M. (1998) Integrated pest manent: Historical perspectives and contemporary development. Annu. Rev. Entomol. 43:243-70. Mangan, J., & Mangan, M.S. (2003) FFS for tree crops: Learning with Farmer Field Schools. LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) 19: 30-31. Meredia, K.M.; Dakono, D.; & Mota-Sanchez, D. (eds.) (2003) Integrated Pest Management in the Global Arena. Wallingford: CAB International Mudita, I W., & R.L. Natonis, 2008. Identification of social capital for understanding and raising plant biosecurity aware-ness, knowledge, and actions. Joint Publication Kritis and Learning Communities, special edition, 209-227. NAS (National Academy of Science) (1969). Insect-pest management and control. pp. 448- 449. Vol. 3. Principles of plant and animal pest control. Natl. Acad. Sci. Pub. 1695. 508 pp. Oka, I.N. (1988) Pengendalian Hama Terpadu dan Implementainya di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kebijakan Perlindungan Tanaman 53

Bahan Ajar Mandiri

Peraturan Pemerintah No. 6 Republik Indonesia. (1995). Perlindungan Tanaman. Lembaran Negara Tahun 1995 No. 12, Tambahan Lembaran Negara No. 3586. Polo Yech (2003) Farmer life schools: Learning with Farmer Field Schools. LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) 19: 11-12. Pontius, J.; Diltis, R.; & Bartlett, A. (Editors) (2002) From farmer field school to community IPM: Ten years of IPM training in Asia. Bangkok: FAO. Radcliffe, E.B.; Hutchison, W.D.; & Cancelado, R.E. (2009) Integrated Pest Management: Concepts, Tactics, Strategies and Case Studies. Cambridge: Cambridge University Press Singh, R.B. (2002) Preface. In: Pontius, J., Diltis, R. and Bartlett, A. (Eds.) From farmer field school to community IPM: Ten years of IPM training in Asia. FAO, Bangkok. Singh, H. (2003) Community forest management and FFS: Learning with Farmer Field Schools. LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) 19: 13-15. Soejitno, J. (1999) Integrated Pest Management in Rice in Indonesia: A Succes Story. Bangkok: APAARI, FAO Regional Office for Asia and the Pacific. Undang-undang No. 12 Republik Indonesia. (1992). Sistem Budidaya Tanaman. Lembaran Negara Tahun 1992 No. 46, Tambahan Lembaran Negara No. 3478. Untung, K. (1994) Konsep Pengendalian Hama Terpadu. Yogyakarta: Andi Offset. Untung, K. (2006) Pengantar Pengendalian Hama Terpadu. Edisi 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Vayda, A.P. (2009) Explaining Human Actions and Environmental Changes. Lanham: Altamira Press.

Vayda, A.P., & Setyawati, I. (1995) Questions about Culture-related Considerations in Research on Cognition and Agro-Ecological Change: Illustrations from Studies of Agricultural Pests Management in Java. In Cultural Dynamics in Development Processes, de Ruijter, A., & van Vucht Tijssen, L. (eds.), Pp.259268. UNESCO Publishing/Netherlands Commission for UNESCO. Winarto, Y. T. (1995) State Intervention and Farmer Creativity: Integrated Pest Management among Rice Farmers in Subang, West Java. Agriculture and Human Values 12(4): 4757. Winarto, Y. T. (1998) Hama dan Musuh Alami, Obat dan Racun: Dinamika Pengetahuan Petani Padi dalam Pengendalian Hama. Antropologi Indonesia 22(55): 5368. Winarto, Y. T. (2004a) Seeds of Knowledge: The Beginning of Integrated Pest Management in Java. Monograph 53. New Haven: Yale University Southeast Asia Studies. Winarto, Y.T. (2004) The Evolutionary Changes in Rice-crop Farming: Integrated Pest Management in Indonesia, Cambodia, and Vietnam. Southeast Asian Studies, 42(3): 241-272

Kebijakan Perlindungan Tanaman

54

Bahan Ajar Mandiri

MODUL 4 PARADIGMA PERLINDUNGAN PASCA-PHT:


DARI PERLINDUNGAN TANAMAN MENJADI PERLINDUNGAN KEHIDUPAN SECARA LINTAS SEKTORAL

PENDAHULUAN

Pokok-pokok Isi dan Manfaat Pada Modul 3 telah diuraikan keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan PHT, terutama PHT-SL. Sebagaimana telah pula dibahas pada Modul 3, keberhasilan tersebut tidak menjadikan PHT benar-benar tanpa kekurangan. Di antara berbagai kekurangan PHT, yang telah disebutkan tetapi belum dibahas tuntas pada Modul 3 adalah sifat PHT yang sangat sektoral, bahkan sub-sektoral, dan sifat yang cenderung reaktif, bukannya antisipatif, yaitu bertindak setelah ada OPT, bukannya sebelum OPT ada. Dalam modul ini akan diuraikan secara lebih rinci mengenai kedua karakteristik PHT tersebut dan berkembangnya paradigma baru dalam konteks perlindungan, dari sekedar perlindungan tanaman menjadi perlindungan kehidupan lintas sektoral. Modul mengenai paradigma perlindungan pasca-PHT dari perlindungan tanaman menjadi perlindungan lintas sektoral ini mencakup dua kegiatan belajar yang saling berkaitan: 1) Sektor perlindungan dan pemangku kepentingan dalam PHT 2) Perubahan paradigma perlindungan menjadi lintas sektoral Dengan membaca dan memahami uraian kedua kegiatan belajar pada modul ini akan diperoleh wawasan yang lebih menyeluruh mengenai PHT guna mengambil langkahlangkah penyempurnaan yang diperlukan.

Kompetensi Khusus Setelah membaca dan memahami uraian pada kedua kegiatan belajar dalam modul ini mahasiswa diharapkan dapat: a) Memahami PHT secara lebih menyeluruh dengan mengkritisi secara lebih tajam berbagai aspek pelaksanaannya b) Menjelaskan berbagai sektor yang berkaitan dengan perlindungan tanaman dan para pemangku kepentingan yang terkait Kebijakan Perlindungan Tanaman 55

Bahan Ajar Mandiri

c) Menyebutkan dan menjelaskan ketahanan hayati sebagai paradigma baru perlindungan lintas sektoral.

Indikator dan Petunjuk Belajar Keberhasilan mempelajari modul ini diukur berdasarkan kemampuan menyorotipelaksanaan PHT secara kritis, terutama dalam melihat berbagai kekurangannya sehingga dapat diupayakan perbaikannya. Untuk mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan membaca materi Kegiatan Belajar 1 dan Kegiatan Belajar 2 secara berurutan. Setelah membaca uraian setiap kegiatan belajar, mahasiswa diharapkan mengerjakan latihan yang diberikan dan mendiskusikannya dengan mahasiswa lainnya. Untuk mendalami uraian setiap kegiatan belajar, mahasiswa disarankan membaca pustaka yang direkomendasikan pada Daftar Pustaka. Setiap kegiatan belajar memerlukan waktu 100 menit sehingga untuk mempelajari kedua kegiatan belajar dalam modul ini diperlukan waktu 200 menit.

KEGIATAN BELAJAR 1: SEKTOR PERLINDUNGAN DAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PHT

Uraian UU No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman telah memperkokoh status PHT secara hukum sebagai sistem perlindungan tanaman di Indonesia. UU tersebut, sebagaimana telah dibahas pada Modul 2, terdiri atas 12 bab dan perlindungan tanaman merupakan bagian keenam dari Bab III Penyelenggaraan Budidaya Tanaman yang mencakup bagian-bagian: (1) Pembukaan dan Pengolahan Lahan, dan Penggunaan Media Tumbuh Tanaman, (2) Perbenihan, (3) Pengeluaran dan Pemasukan Tumbuhan dan Benih Tanaman, (4) Penanaman, (5) Pemanfaatan Air, (6) Perlindungan Tanaman, (7) Pemeliharaan Tanaman, (8) Panen, dan (9) Pascapanen. Meskipun pada PP No. 6 Tahun 1995 telah disebutkan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan mulai pada saat pra-tanam, tanam, dan pascapanen, penyebutan PHT sebagai sistem perlindungan tanaman pada Pasal 20 UU No. 12 Tahun 1992 menyiratkan bahwa PHT bukan menjadi bagian dari bagian-bagian lain dari penyelenggaraan budidaya tanaman. Bahkan dalam perlindungan tanaman sendiri, yang terdiri atas kegiatan/tindakan pencegahan Kebijakan Perlindungan Tanaman 56

Bahan Ajar Mandiri (karantina), pengendalian, dan eradikasi, adanya kata pengendalian dalam PHT mengesankan PHT hanya menjadi kepentingan kegiatan/tindakan pengendalian, bukan kegiatan/tindakan pencegahan (karantina) dan eradikasi.

Alinea di atas menunjukkan kedudukan PHT yang sangat sub-sektoral, yaitu hanya merupakan kepentingan sub-sektor perlindungan tanaman dari sektor pertanian dalam arti luas (pertanian tanaman, kehutanan, peternakan, perikanan) yang di banyak negara disebut sebagai sektor primer. Bahkan dalam sub-sektor perlindungan tanaman tersebut, PHT ditargetkan terutama bagi petani, sedangkan konsumen kurang mendapat perhatian. Padahal, selain petani sebagai produsen, konsumen merupakan pemangku kepentingan yang sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan PHT. Tanpa dukungan konsumen yang sadar akan bahaya pestisida maka petani akan terus didorong untuk menghasilkan produk pertanian yang bebas OPT daripada bebas pestisida. Dorongan menghasilkan produk bebas OPT, selain karena kepentingan konsumen, juga karena berbagai ketentuan perdagangan internasional yang mengharuskan produk yang diperdagangkan bebas OPT. Ketentuan ini dikenal sebagai hambatan non-tarif (nontariff barrier) yang sebenarnya tidak diperbolehkan dalam liberalisasi perdagangan.

Berbagai pihak yang seharusnya terkait dengan PHT disebut pemangku kepentingan PHT. Pemangku kepentingan terdiri atas pihak-pihak yang bukan hanya mendukung, melainkan juga pihak-pihak yang menolak PHT. Pemangku kepentingan PHT dengan demikian mencakup petani sendiri sebagai produsen, pedagang perantara, pedagang ekspor, konsumen dalam negeri, konsumen mancanegara, perusahaan pestisida, pemerintah daerah, pemerintah pusat, pemerintah negara asing, lembaga swadaya masyarakat, dan seterusnya. Setiap pemangku masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda-beda terhadap PHT. Kepentingan pemerintah pusat sebenarnya lebih pada pengurangan subsidi pestisida daripada pada PHT sebagai sistem perlindunngan tanaman yang bersahabat dengan lingkungan hidup dan aman bagi konsumen. Kepentingan pemerintah negara asing tentunya adalah untuk mengurangi risiko masuknya OPT berbahaya dan melindungi kepentingan penduduknya dari bahaya pestisida. Kepentingan produsen tentu saja adalah tetap dapat memasarkan produk pestisida dengan memproduksi pestisida-pestisida berspektrum sempit yang residunya dapat terurai dalam waktu singkat. Bagi perusahaan pestisida, sekalipun pestisida adalah Kebijakan Perlindungan Tanaman 57

Bahan Ajar Mandiri

alternatif terakhir, pestisida adalah alternatif terakhir yang pada akhirnya tidak ada alternatif lain lagi.

Bahkan di Indonesia sendiri, pada era desentralisasi dan otonomi daerah sekarang ini, kepentingan pemerintah terhadap PHT dapat berbeda antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hal ini dapat terjadi karena otonomi sendiri memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah otonom, yaitu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, untuk membuat kebijakan pemerintahan masing-masing, termasuk kebijakan sektor pertanian yang bersentuhan langsung dengan PHT dan kebijakan sektor-sektor lainnya yang tidak bersentuhan langsung dengan PHT tetapi dapat mempengaruhi pelaksanaan PHT. Keberpihakan kepada PHT pada setiap hierarki otonomi tersebut ditentukan oleh tatakelola pemerintahan (governance). Tatakelola pemerintahan merupakan apa yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kepentingan masyarakat, sedangkan pemerintah sendiri merupakan instrumen kekuasaan untuk mewujudkan tatakelola pemerintahan: In terms of distinguishing the term governance from government (both of them nouns) - "governance" is what a "government" does. It might be a geo-political government (nation-state), a corporate government (business entity), a sociopolitical government (tribe, family, etc.). or any number of different kinds of government. But governance is the kinetic exercise of management power and policy, while government is the instrument (usually collective) that does it. The term government is also used more abstractly as a synonym for governance, as in the Canadian motto, "Peace, Order and Good Gorervernment". Pada banyak kasus desentralisasi dan otonomi daerah, di berbagai pemerintahan daerah ternyata masih banyak pemerintah yang masih memposisikan diri sekedar sebagai penguasa yang tidak merasa berkepentingan untuk memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki untuk melayani kepentingan rakyat. Dalam keadaan demikian maka PHT yang berpihak pada kepentingan masyarakat menjadi terabaikan dari arus utama kebijakan pemerintahan.

Menurut OPM & CIPFA (2004), tatakelola pemerintahan yang baik berarti: 1) Berfokus pada tujuan organisasi dan pada hasil bagi masyarakat dan pengguna layanan 2) Berkinerja efektif dalam tugas pokok dan fungsi yang didefinisikan secara jelas

Kebijakan Perlindungan Tanaman

58

Bahan Ajar Mandiri

3) Mempromosikan nilai-nilai organisasi secara menyeluruh dan menunjukkan pelaksanaan nilai-nilai tersebut melalui berbagai kegiatan organisasi 4) Mengambil keputusan secara terbuka dan dengan menggunakan dasar yang jelas serta disertai dengan pengelolaan risiko terjadinya kegagalan 5) Mengembangkan kapasitas dan kemampuan organisasi untuk dapat bekerja secara efektif 6) Bekerja bersama-sama dengan para pemangku kepentingan untuk mewujudkan akuntabilitas menjadi benar-benar nyata Penelitian Mudita (2009) menunjukkan bahwa tatakelola pemerintahan yang buruk tidak mampu menerapkan PHT sebagaimana seharusnya. Dalam tatakelola pemerintahan yang buruk, kebijakan pemerintah justeru menjadi lebih merusak tanaman dibandingkan dengan OPT sendiri.

Gambar 4.1. Komponen tatakelola pemerintahan yang baik (good governance). Sumber: UN ESCAP (n.d) Untuk lebih meudah memasukkan kepentingan perlindungan tanaman dalam tatakelola pemerintahan sebagaimana diuraikan di atas, fokus seharusnya diberikan pada perlindungan. Hal ini karena perlindungan tanaman melibatkan pemangku kepentingan lintas sektoral dan pelaksanaannya dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar sektor pertanian sendiri. Menurut FAO (2007), kepentingan sektoral perlindungan tanaman mencakup kepentingan: 1) Kegiatan pemerintahan di luar pertanian (misalnya perdagangan, bea cukai, pariwisata, konservasi) Kebijakan Perlindungan Tanaman 59

Bahan Ajar Mandiri

2) Instansi berwenang sektor pertanian, kehutanan, perikanan, keamanan pangan, dan kesehatan 3) Opini dan keterwakilan publik 4) Industri (termasuk pengimpor dan pengekspor) 5) Produsen primer komoditas pangan dan pertanian (misalnya petani, nelayan) 6) LSM, kelompok minat khusus, dan media 7) Lembaga penelitian dan universitas Selain itu, masih menurut FAO (2007), pelaksanaan perlindungan tanaman dipengarui oleh berbagai faktor, di antaranya adalah: 1) Globalisasi 2) Teknologi baru dalam produksi pertanian dan pengolahan pangan 3) Meningkatnya perdagangan pangan dan hasil pertanian 4) Kewajiban hukum bagi negara penandatangan berbagai kesepakatan internasional 5) Meningkatnya perjalanan dan perpindahan manusia secara lintas batas 6) Kemajuan komunikasi dan akses informasi 7) Meningkatnya keperdulian terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan dampak pertanian terhadap keduanya 8) Perubahan dari independensi negara menjadi kesalingbergantungan antar-negara dalam melaksanakan perlindungan tanaman secara efektif 9) Sumberdaya operasional dan teknis yang terbatas 10) Ketergantungan yang sangat tinggi beberapa negara terhadap pangan impor

Kenyataan akan kepentingan berbagai sektor dan pengaruh berbagai faktor terhadap perlindungan tanaman sebagaimana diuraikan di atas tidak mungkin semuanya dapat diakomodasi melalui PHT. Hal ini mendorong berbagai negara, terutama negara-negara maju seperti Selandia Baru, Australia, dan Amerika Serikat, mulai mengembangkan strategi perlindungan yang lebih mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor dan lebih antisipatif melalui pengembangan kerjasama antar-negara. Namun demikian bukan berarti bahwa PHT ditinggalkan. PHT tetap dipertahankan sebagai tulang punggung kegiatan tindakan pengendalian yang kemudian semakin lebih diintegrasikan dengan kegiatan/tindakan pencegahan dan eradikasi. Untuk mencakup perlindungan yang bersifat lintas sektoral dikembangkan strategi baru yang akan diuraikan pada kegiatan belajar berikutnya. Kebijakan Perlindungan Tanaman 60

Bahan Ajar Mandiri

Latihan Bayangkan Anda adalah seorang pendamping lapang SL-PHT. Setelah beberapa lama berdiskusi dengan kelompok tani, seorang petani berbicara: Bapak, kami mengerti apa yang kita diskusikan dari tadi. Kita tidak boleh menggunakan pestisida karena pestisida adalah racun bagi musuh alami dan bagi diri kita sendiri. Tetapi Bapak, ketika saya menjual hasil sayuran di pasar, para ibu enggan membeli sayuran saya karena katanya banyak lubang bekas ulat. Para ibu di kota lebih suka sayur yang tidak ada lubang bekas ulat, Bapak. Karena itu, saya terpaksa kembali menggunakan pestisida. Bagaimana kira-kira Anda menanggapi petani ini? Renungkan baik-baik dan pertimbangkan berbagai aspek sebelum memberikan tanggapan.

Rangkuman PHT mempunyai sejumlah kelemahan, tetapi kelemahan yang sangat mendasar adalah sifatnya yang sangat sektoral dan sifatnya yang reaktif terhadap permasalahan OPT. Kedua karakteristik tersebut menyebabkan PHT kurang dapat menjadi arus utama dalam reformasi politik yang terjadi pasca-PHT di Indonesia. Untuk mengatasi kekurangan tersebut perlu ditinjau kembali strategi perlindungan tanaman yang menggunakan PHT sebagai satu-satunya sistem sebagaimana diatur dalam UU No. 12 Tahun 1992. Stragei yang dikembangkan seharusnya mampu merangkul kepentingan berbagai sektor dan dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan secara antisipatif, bukan hanya secara reaktif.

KEGIATAN BELAJAR 2: PERUBAHAN PARADIGMA PERLINDUNGAN MENJADI LINTAS SEKTORAL

Uraian Aspek PHT yang membedakannya dari sistem perlindungan tanaman lainnya adalah digunakannya istilah terpadu. Istilah terpadu tersebut mengesankan kekomprehensifan, koordinasi, kebersamaan, dan sebagainya. Namun demikian, istilah terpadu dalam PHT tidak mencakup semua pengertian tersebut. Akhirnya PHT menjadi terlalu berfokus pada petani dalam mengatasi permasalahan OPT dalam suatu Kebijakan Perlindungan Tanaman 61

Bahan Ajar Mandiri

agro-ekosistem. Padahal, seiring dengan meningkatnya gloalisasi dan pasar bebas, perlindungan tanaman seharusnya tidak hanya terpaku pada kegiatan on-farm, melainkan seharusnya mampu menembus batas-batas sektor. Hal ini, bersama dengan berbagai faktor yang dalam era globalisasi ini mempengaruhi perlindungan tanaman, mendorong lahirnya strategi yang dilandasi oleh cara memandang, cara memahami, dan cara bertindak lebih sesuai dengan perkembangan. Ditinjau dari cara memandang, cara memahami, dan cara bertindak tersebut maka perlindungan tanaman perlu dirumuskan dengan paradigma baru.

Paradigma baru tersebut kini dikenal sebagai ketahanan hayati (biosecurity). Menurut FAO (2007), ketahanan hayati merupakan: Pendekatan strategis dan terpadu yang mencakup kerangka kebijakan dan perundang-undangan (termasuk sarana dan prasarana maupun kegiatan) untuk menilai, mengelola, dan mengkomunikasikan risiko yang relevan terhadap manusia, kehidupan dan kesehatan hewan dan tumbuhan, serta risiko yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Ketahanan hayati mencakup keamanan pangan, zoonosis, introduksi hama dan penyakit hewan dan tumbuhan, introduksi dan pelepasan organisme hidup termodifikasi (living modified organisms, LMOs) berikut produknya (misalnya organisme termodifikasi secara genetik atau genetically modified organisms, GMOs), serta introduksi dan pengelolaan spesies asing invasif (invasive alien species, IAS). Dengan demikian ketahanan hayati merupakan konsep yang secara langsung relevan dengan keberlanjutan pertanian, dan berbagai aspek kesehatan masyarakat dan perlindungan lingkungan, termasuk keanekaragaman hayati. Definisi ketahanan hayati tersebut menyiratkan: 1) Perlindungan dilakukan terhadap kehidupan dan kesehatan mahluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan 2) Perlindungan dilakukan dengan mengedepankan kerangka kebijakan dan perundang-undangan, bukan hanya kerangka teknis 3) Perlindungan diintegrasikan dengan menggunakan risiko sebagai konsep pemersatu antar berbagai sektor pembangunan

Risiko (risk) sebagai konsep pemersatu dimaksudkan sebagai fungsi peluang timbulnya bahaya yang merugikan terhadap kesehatan dan kehidupan dalam rona ketahanan hayati tertentu dan keparahan pengaruh yang ditimbulkan. Bahaya (hazard) didefinisikan berbeda-beda antar sektor sebagaimana ditetapkan oleh lembaga internasional yang mengatur sektor yang bersangkutan (Tabel 4.1). Risiko, dengan demikian, menyangkut Kebijakan Perlindungan Tanaman 62

Bahan Ajar Mandiri

dua aspek bahaya, yaitu peluang terjadinya dan keparahan dampak yang ditimbulkannya. Dalam konteks perlindungan tanaman, pengertian bahaya disamakan dengan pengertian OPT.

Tabel 4.1. Definisi bahaya sebagaimana ditetapkan oleh lembaga/konvensi internasional yang menangani sektor yang bersangkutan
Sektor Definisi Lembaga Situs
Internet Food safety A biological, chemical or physical The Codex www.codexalimentarius.n agent in, or condition of, food with Alimentarius et/web/index_en.jsp the potential to cause an adverse Commission (CAC) health effect Zoonoses A biological agent that can be World Organisation www.oie.int/eng/en_ index.htm transmitted naturally between wild or for Animal Health domestic animals and humans. (OIE) Animal Any pathogenic agent that could World Organisation www.oie.int/eng/en_ index.htm health produce adverse consequences on the for Animal Health importation of a commodity. (OIE) www.ippc.int Plant health Any species, strain or biotype of International Plant plant, animal or pathogenic agent Protection injurious to plants or plant products. Convention (IPPC)* www.ippc.int Plant health A pest of potential economic International Plant quarantine importance to the area endangered Protection thereby and not yet present there, or Convention (IPPC) present but not widely distributed and being officially controlled. Biosafety A living modified organism (LMO) Cartagena Protocol www.biodiv.org/biosafety in relation that possesses a novel combination of on Biosafety to plants genetic material obtained through the and animals use of modern biotechnology that is likely to have adverse effects on the conservation and sustainable use of biological diversity, taking also into account risks to human health Biosafety A recombinant DNA organism Cartagena Protocol www.biodiv.org/biosafety in relation directly effecting or remaining in a on Biosafety to food food that could have an adverse effect on human health www.biodiv.org/conventi Invasive An invasive alien species outside its Convention on alien natural past or present distribution Biological Diversity on/ default.shtml species whose introduction and/or spread (CBD) threatens biodiversity * IPPC does not usually use the term hazard but instead uses the term pest. For a pest to be subject to pest risk analysis (PRA), it has to satisfy the criteria for definition of a quarantine pest.

Sebagaimana dengan perlindungan tanaman yang mengedepankan konsep pengelolaan, perlindungan kehidupan dan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan serta perlindungan lingkungan dalam ketahanan hayati juga dilakukan dengan konsep Kebijakan Perlindungan Tanaman 63

Bahan Ajar Mandiri

pengelolaan, tetapi dalam hal ini dilakukan terhadap risiko melalui langkah-langkah yang disebut analisis risiko (risk analysis) yang mencakup penilaian risiko (risk assessment), pengelolaan risiko (risk management), dan komunikasi risiko (risk communication). Penilaian risiko merupakan proses ilmiah yang dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya, mengkarakterisasi dampak buruk yang ditimbulkannya terhadap kesehatan, mengevaluasi taraf paparan penduduk atau populasi hewan/tumbuhan terhadap bahaya tersebut, dan mengestimasi risiko. Hasil penilaian risiko adalah profil risiko yang merupakan deskripsi mengenai konteks dan potensi risiko yang berkaitan dengan isue ketahanan hayati tertentu yang diperlukan untuk mengambil suatu tindakan. Tindakan yang diambil adalah pengelolaan risiko, yang merupakan langkah-langkah yang harus diambil oleh pihak yang berkompeten dalam mempertimbangkan hasil penilaian risiko, menentukan kebijakan alternatif dengan mempertimbangkan pandangan para pemangku kepentingan terhadap perlindungan kesehatan yang dimungkinkan, dan menentukan tindakan pengendalian yang diperlukan. Penilaian risiko dan pengelolaan risiko perlu dikomunikasikan secara terbuka melalui komunikasi risiko, yaitu pertukaran interaktif informasi dan opini mengenai risiko, isu-isu pengelolaan risiko, dan persepsi masyarakat terhadap risiko.

Penilaian risiko semula dilakukan dengan langkah-langkah yang berbeda antar kelembagaan/konvensi yang berkaitan dengan kehidupan dan kesehatan mahluk hidup. Melalui ketahanan hayati langkah-langkah penilaian risiko tersebut distandardisasi sebagaimana disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Standardisasi langkah-langkah penilaian risiko yang semula berbeda-beda antar kelembagaan/konvensi yang kerkaitan dengan kehidupan dan kesehatan mahluk hidup
Generic risk assessment process Identification of hazards Food safety (CAC) Hazard identification Animal health (OIE) Plant health (IPPC) Biodiversity and the environment (CBD) Hazard identification Pest categorization Characteristics of identification has the invasive species. already been carried Identify novel out as a stand-alone characteristics of process the LMO Release assessment. Assessment of No specific Exposure assessment probability of terminology introduction and spread Consequence Assessment of Evaluate assessment potential economic consequences consequences

Characterization of Exposure exposure to hazards characterization

Evaluation of likely Hazard adverse effects characterization associated with (including

Kebijakan Perlindungan Tanaman

64

Bahan Ajar Mandiri

Generic risk Food safety assessment process (CAC) hazards dose/response if available) Estimation of risks Risk characterization

Animal health (OIE) Plant health (IPPC) Biodiversity and the environment (CBD)

Risk estimate

Conclusion of risk assessment

Estimation of risks

Demikian juga dengan pengelolaan risiko, yang semula dilakukan dengan langkahlangkah yang berbeda antar kelembagaan/konvensi yang berkaitan dengan kehidupan dan kesehatan mahluk hidup, melalui ketahanan hayati distandardisasi sebagaimana disajikan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Standardisasi langkah-langkah pengelolaan risiko yang semula berbeda-beda antar kelembagaan/konvensi yang kerkaitan dengan kehidupan dan kesehatan mahluk hidup
Generic RMF (Biosecurity) Preliminary risk management activities No specific terminology Identification and selection of risk management options Implementation Food safety (CAC) Animal health (OIE) Plant health (IPPC) Biodiversity and the the environment (CBD) Preliminary risk No specific termin- Includes initiation No specific management ology but would of the process terminology activities include hazard (stage 1) and risk identification assessment (stage 2) No specific Risk evaluation* No specific No specific terminology terminology terminology Identification and Option evaluation Risk management No specific selection of risk (stage 3) (the terminology management evaluation and options selection of options) Implementation Implementation Implementation Implementation (stage 3 and beyond) Monitoring Monitoring and Monitoring and Monitoring and andreview review review (stage 3 and review beyond)

Monitoring and review

Komunikasi risiko sebelumnya tidak merupakan ketentuan sehingga merupakan sesuatu yang baru yang ditetapkan dalam ketahanan hayati. Langkah-langkah komunikasi dalam situasi darurat perlu disesuaikan dari langkah-langkah pada situasi normal. Langkahlangkah komunikasi risiko yang ditempuh pada situasi normal terdiri atas pembentukan tim komunikasi risiko, penentuan kebutuhan konunikasi risiko, identifikasi pemangku kepentingan yang relevan, penentuan pesan kunci, pendekatan dengan pemangku kepentingan yang relevan, penyiapan dan penggunaan sumber informasi yang dapat dipercaya, serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan dan hasil komunikasi risiko. Pada keadaan darurat, langkah-langkah komunikasi risiko perlu disesuaikan pada saat

Kebijakan Perlindungan Tanaman

65

Bahan Ajar Mandiri

keadaan darurat baru mulai, keadaan darurat diperpanjang, dan keadaan darurat diturunkan.

Penilaian, pengelolaan, dan komunikasi risiko dalam ketahanan hayati dilakukan melintasi batas-batas agroekosistem, bahkan batas-batas kabupaten, provinsi, dan negara. Dalam hal ini, ketahanan hayati menggunakan pendekatan pra-batas, batas, dan pasca-batas. Pada pendekatan pra-batas, penilaian, pengelolaan, dan komunikasi risiko dilakukan melalui kerjasama dengan pihak luar yang terkait. Pada pendekatan batas, penilaian, pengelolaan, dan komunikasi risiko dilakukan melalui karantina. Pada pendekatan pasca-batas, penilaian, pengelolaan, dan komunikasi risiko dilakukan di dalam wilayah negara, provinsi, kabupaten/kota, dan bahkan agro-ekosistem. Dalam konteks pasca-batas ini, PHT tetap merupakan sistem yang relevan.

Sebagaimana telah diuraikan, penggunaan risiko sebagai pemersatu sektor dalam ketahanan hayati dilakukan dengan mengedepankan kerangka kebijakan dan perundangundangan, bukan hanya kerangka teknis. Kerangka kebijakan antara lain tampak dari adanya standardisasi langkah-langkah, sedangkan kerangka perundang-undangan tampak dari kelembagaan/konvensi yang digunakan sebagai payung. Dengan melalui kerangka kebijakan dan kerangka perundang-undangan tersebut, ketahanan hayati memperluas cakupan perlindungan menjadi perlindungan terhadap kehidupan dan kesehatan mahluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Dengan kerangka demikian, ditinjau dari aspek perlindungan tanaman, ketahanan hayati merupakan paradigma baru dalam perkembangan paradigma perlindungan tanaman sebagai berikut: 1) Paradigma beragam cara secara tidak terpadu 2) Paradigma pestisida sebagai pamungkas 3) Paradigma PHT yang berkembang dari PHT-AE, PHT-SL, sampai PHT masyarakat 4) Paradigma ketahanan hayati

Latihan Pada Modul 2 telah dipelajari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan tanaman. Cobalah ingat kembali berbagai peraturan perundang-undangan tersebut dan kaitkan dengan ketahanan hayati yang dipelajari pada kegiatan belajar ini. Adakah di antara peraturan perundang-undangan tersebut yang dapat digunakan sebagai Kebijakan Perlindungan Tanaman 66

Bahan Ajar Mandiri

dasar implementasi ketahanan hayati di Indonesia? Bila ada peraturan perundangundangan yang mana dan bila tidak apa yang sebaiknya dilakukan?

Rangkuman Ketahanan hayati mengintegrasikan kegiatan perlindungan di berbagai sektor dengan menggunakan konsep risiko sebagai pemersatu melalui prosedur analisis risiko. Analisis risiko terdiri atas komponen penilaian risiko, pengelolaan risiko, dan komunikasi risiko. Penilaian risiko dan pengelolaan risiko terdiri atas langkah-langkah yang semula berbeda antar sektor kemudian dibakukan menjadi langkah-langkah yang sama di semua sektor, sedangkan komunikasi risiko merupakan komponen baru yang semula belum digunakan pada sektor manapun. Dengan ketahanan hayati, perlindungan dilakukan dengan mengedepankan kerangka kebijakan dan perundang-undangan, bukan hanya kerangka teknis, terhadap kehidupan dan kesehatan mahluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan.

PENUTUP

Tes Formatif 1) Manakah di antara pilihan berikut yang menyebabkan PHT bersifat sangat sektoral, bahkan sub-sektoral? a) Kata pengendalian dalam PHT b) Kata hama dalam PHT c) Istilah OPT dalam perlindungan tanaman d) Pasal 20 dalam UU No. 12 Tahun 1992 e) Kurang memberi perhatian pada konsumen 2) Manakah di antara pilihan berikut yang menyebabkan PHT bersifat reaktif dan bukan seharusnya antisipatif? a) Keputusan berdasarkan pemantauan agro-ekosistem b) Petani sebagai ahli PHT c) Ekologi sebagai prinsip PHT d) Pengorganisasian petani dari atas e) Pemangku kepentingan yang kurang mendapat perhatian Kebijakan Perlindungan Tanaman 67

Bahan Ajar Mandiri

3) Manakah di antara pilihan berikut yang merupakan tatakelola pemerintahan yang paling terkait dengan penerapan PHT? a. Berorientasi pada konsensus b. Tanggap c. Akuntabel d. Tidak pilih kasih e. Menjunjung tinggi hukum 4) Mengapa globalisasi dapat mempengaruhi perlindungan tanaman? a) Globalisasi memudahkan perpindahan orang dan barang b) Globalisasi menyebabkan perdagangan bebas c) Globalisasi mengharuskan pengurangan hambatan non-tarif d) Globalisasi menyebabkan karantina menjadi lemah e) Globalisasi meningkatkan kesadaran akan bahaya pestisida 5) Untuk mengembangkan strategi perlindungan tanaman yang lebih antisipatif diperlukan: a) Dukungan pemerintah pusat b) Dukungan pemerintah daerah tetangga dan negara tetangga c) Dukungan tokoh masyarakat dan tokoh adat d) Dukungan masyarakat lokal e) Dukungan para pemangku kepentingan lokal 6) Manakah di antara pernyataan berikut yang paling kurang tepat mengenai ketahanan hayati? a) Lintas disiplin, lintas sektor, dan lintas batas b) Antisipatif terhadap risiko c) Mengedepankan pendekatan teknis d) Menggunakan standar internasional sebagai rujukan e) Memerlukan kerjasama antar-wilayah dan antar-negara 7) Manakah yang merupakan bahaya dalam konteks ketahanan hayati? a) Banjir dan tanah longsor b) Letusan gunung berapi c) Ledakan OPT d) Gempa bumi e) Kekeringan berkepanjangan Kebijakan Perlindungan Tanaman 68

Bahan Ajar Mandiri

8) Manakah sektor yang tidak dicakup dalam ketahanan hayati a) Keanekaragaman hayati b) Pengetahuan tradisional c) Pencemaran bahan pangan d) Pandemi flu burung e) Eutrofikasi 9) Manakah di antara langkah-langkah pengelolaan risiko berikut yang tidak dicakup dalam langkah-langkah baku pengelolaan risiko ketahanan hayati? a) Evaluasi risiko b) Implementasi kegiatan/tindakan pengelolaan c) Pemantauan dan telaahan d) Identifikasi dan seleksi kegiatan/tindakan pengelolaan e) Kegiatan pengelolaan pendahuluan 10) Mengapa ketahanan hayati dapat dipandang sebagai paradigma baru perlindungan tanaman? a) Langkah-langkah pelaksanaan baru b) Cara pandang, cara berpikir, dan cara bertindak baru c) Ilmu pengetahuan dan teknologi baru d) Baru dikembangkan di negara-negara maju e) a sampai d semuanya benar

Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Kunci jawaban diberikan secara terpisah pada Lampiran 2. Hal ini dilakukan secara sengaja dengan maksud agar mahasiswa terlebih dahulu menjawab setiap pertanyaan sendiri dan kemudian setelah selesai, baru mencocokkan jawaban yang diberikannya dengan kunci jawaban. Untuk menghitung nilai hasil belajar, setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar diberikan nilai 10. Nilai hasil belajar dihitung dengan menjumlahkan nilai jawaban dari seluruh pertanyaan. Nilai yang diperoleh kemudian dikategorikan sebagai berikut: >80 70-<80 60-<70 50-<60 : sangat memuaskan : memuaskan : cukup : kurang 69

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

<50

: gagal

Tindak Lanjut Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil kurang atau gagal, pelajari kembali keseluruhan materi modul. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil cukup, pelajari bagian dari kegiatan belajar yang memuat uraian mengenai pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan benar. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil memuaskan atau sangat memuaskan, persiapkan untuk mempelajari kegiatan belajar pada Modul 5. Apapun hasil belajar yang diperoleh, lakukan pengayaan pemahaman dengan membaca referensi yang dianjurkan pada Daftar Pustaka.

Glosarium bahaya ketahanan hayati: mahluk hidup yang menimbulkan risiko ketahanan hayati, didefinisikan berbeda-beda untuk setiap sektor ketahanan hayati. Untuk ketahanan hayati tumbuhan didefinisikan sebagai spesies, strain, atau biotipe tumbuhan, hewan, atau agen patogenik yang dapat menimbulkan luka pada tanaman atau hasil tanaman ketahanan hayati: pendekatan strategis dan terpadu yang mencakup kerangka kebijakan dan perundang-undangan (termasuk sarana dan prasarana maupun kegiatan) untuk menilai, mengelola, dan mengkomunikasikan risiko yang relevan terhadap manusia, kehidupan dan kesehatan hewan dan tumbuhan, serta risiko yang berkaitan dengan lingkungan hidup. paradigma: cara pandang mengenai sesuatu yang diterima umum pada kurun waktu tertentu, kerangka filosofis atau teoritis mengenai sesuatu pemerintahan: instrumen kekuasaan untuk mewujudkan tatakelola pemerintahan pengelolaan risiko ketahanan hayati: langkah-langkah yang harus diambil oleh pihak yang berkompeten dalam mempertimbangkan hasil penilaian risiko, menentukan kebijakan alternatif dengan mempertimbangkan pandangan para pemangku kepentingan terhadap perlindungan kesehatan yang dimungkinkan, dan menentukan tindakan pengendalian yang diperlukan pengkomunikasian resiko ketahanan hayati: proses untuk menyampaikan risiko ketahanan hayati kepada para pemangku kepentingan dan meminta tanggapan mengenai risiko yang dihadapi penilaian risiko ketahanan hayati: proses ilmiah yang dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya, mengkarakterisasi dampak buruk yang ditimbulkannya terhadap kesehatan, mengevaluasi taraf paparan penduduk atau populasi hewan/tumbuhan terhadap bahaya tersebut, dan mengestimasi risiko risiko ketahanan hayati: fungsi peluang timbulnya bahaya yang merugikan terhadap kesehatan dan kehidupan dalam rona ketahanan hayati tertentu dan keparahan pengaruh yang ditimbulkan sektoral: bersifat terpisah pada bagian-bagian tatakelola pemerintahan: segala sesuatu yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kepentingan masyarakat Kebijakan Perlindungan Tanaman 70

Bahan Ajar Mandiri

Daftar Pustaka Delane, R. (2001) Biosecurity for Australia requires collective action from all stakeholdersif not you, then who? Paper presented at Bio Security -A Future Imperative,Annual Meeting of the Australian Academy of Technological Sciences and Engineering; 10 October; Curtin University, Perth,Western Australia. Diakses pada 24 Mei 2002 dari www.atse.org.au /publications/reports/wa-biosecurity.htm) FAO (2007). FAO Biosecurity Toolkit. Diakses pada 28 Juni 2009 dari www.fao.org/biosecurity/. Lovett, J. (2008). Foreword. Kritis-Learning Communities (Special Co-publication), pp. iii-x. Meyerson, L.A.; & Reaser, J.K. (2002a) A unified definition of biosecurity. Science 295: 44. Meyerson, L.A.; & Reaser, J.K. (2002b) Biosecurity: Moving toward a comprehensive approach. BioScience 52(7), 593-599. Mudita, I. W., & Natonis, R. L. (2008). Identification of social capital for understanding and raising plant biosecurity awareness, knowledge, and actions in Kupang District, East Nusa Tenggara Province. Kritis-Learning Communities , Special Co-publication, pp. 209-227. Nairn, M.E. (2001) An overview of Australias biosecurity record and future operating environment. Paper presented at Bio Security-A Future Imperative,Annual Meeting of the Australian Academy of Technological Sciences and Engineering; 10 October; Curtin University, Perth,Western Australia. Diakses pada 24 Mei 2002 dari www.atse.org.au /publications/reports/wa-biosecurity.htm)
OPM & CIPFA (Office for Public Management Ltd and The Chartered Institute of Public Finance and Accountancy), (2004). The Good Governance Standard for Public Services. London: Office for Public Management Ltd and The Chartered Institute of Public Finance and Accountancy.

Royce, P. (2008). A community approach to biosecurity in a remote Australian region. Kritis-Learning Communities, Special Co-publication, pp. 90-115. Wallace, R. (2008). Social partnership in learning: Embedding plant biosecurity in regional communities through enterprise development and learning. KritisLearning Communities, Special Co-publication, pp. 251-267. UN ESCAP (n.d.). What is good governance? Retrieved on 8 December 2010 from http://www.unescap.org/pdd/prs/ProjectActivities/Ongoing/gg/governance.asp

Kebijakan Perlindungan Tanaman

71

Bahan Ajar Mandiri

MODUL 5 PENGELOLAAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN

PENDAHULUAN

Pokok-pokok Isi dan Manfaat Pada modul-modul terdahulu telah diuraikan berbagai aspek kebijakan perlindungan tanaman. Untuk menjadikan kebijakan perlindungan nyata maka semua aspek dan konsep yang telah dipelajari perlu dirumuskan ke dalam program perlindungan tanaman. Dalam hal ini, dengan program dimaksudkan suatu rancangan berdimensi ruang dan waktu. Program dapat terdiri atas beberapa proyek yang dalam hal ini juga merupakan rancangan berdimensi ruang dan waktu, tetapi sudah dilengkapi dengan alokasi sumberdaya, terutama pembiayaan. Penyusunan suatu program perlindungan tanaman, sebagaimana dengan penyusunan program-program pembangunan lainnya, perlu dikelola dengan langkah-langkah yang terstruktur dengan jelas dan dengan menggunakan metodologi tertentu. Terdapat berbagai langkah-langkah pengelolaan program dan metodologi pelaksanaannya, tetapi pada modul ini akan digunakan satu di antaranya yang sesuai untuk kepentingan pengelolaan program perlindungan tanaman.

Modul mengenai pengelolaan program perlindungan tanaman ini mencakup dua pokok bahasan, yaitu dasar-dasar pengelolaan program dan pengelolaan program lanjut. Kedua pokok bahasan tersebut dikemas dalam tiga kegiatan belajar yang saling berkaitan: 1) Daur pengelolaan program perlindungan tanaman 2) Pendekatan kerangka kerja logis dalam perancangan program perlindungan tanaman 3) Perancangan program perlindungan tanaman dengan pendekatan kerangka kerja logis Secara keseluruhan modul ini menguraikan hal-hal dasar yang perlu diketahui mengenai pengelolaan program perlindungan tanaman. Uraian dalam ketiga pokok bahasan ini akan sangat bermanfaat untuk nanti bekerja di pemerintahan atau LSM.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

72

Bahan Ajar Mandiri

Kompetensi Khusus Setelah mempelajari ketiga kegiatan belajar yang diuraikan pada modul ini mahasiswa diharapkan mampu: a) Menjelaskan alasan dan langkah-langkah pengelolaan program perlindungan tanaman b) Menjelaskan proses pengelolaan program perlindungan tanaman menurut pendekatan kerangka kerja logis c) Melaksanakan perencanaan program perlindungan tanaman dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis

Indikator dan Petunjuk Belajar Keberhasilan mempelajari modul ini diukur berdasarkan kemampuan memahami dan melaksanaan perencanaan program perlindungan tanaman dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis. Untuk mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan membaca materi Kegiatan Belajar 1 dan Kegiatan Belajar 2 secara berurutan. Setelah membaca uraian pada kedua kegiatan belajar tersebut, mahasiswa diharapkan mengerjakan latihan yang diberikan dan mendiskusikannya dengan mahasiswa lainnya. Uraian pada Kegiatan Belajar 3 diharapkan dipelajari setelah mahasiswa benar-benar memahami uraian pada Kegiatan Belajar 1 dan Kegiatan Belajar 2. Untuk mendalami uraian setiap kegiatan belajar, mahasiswa disarankan membaca pustaka yang direkomendasikan pada Daftar Pustaka. Setiap kegiatan belajar memerlukan waktu 100 menit sehingga untuk mempelajari ketiga kegiatan belajar dalam modul ini diperlukan waktu 300 menit.

KEGIATAN BELAJAR 1: TAHAP DAN DAUR PENGELOLAAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN

Uraian Untuk kepentingan keterbukaan dan akuntabilitas sesuai dengan prinsip-prinsip tatakelola pemerintahan yang baik sebagaimana telah diuraikan pada Modul 4, suatu program perlindungan tanaman perlu dikelola dalam langkah-langkah pengelolaan yang terstruktur dengan jelas. Langkah-langkah pengelolaan suatu program merupakan Kebijakan Perlindungan Tanaman 73

Bahan Ajar Mandiri

langkah-langkah berurutan, tetapi untuk tujuan mengoptimalkan keberhasilannya maka langkah terakhir diperlukan untuk melakukan pembelajaran terhadap program yang telah dilaksanakan. Dengan demikian maka langkah-langkah pengelolaan program perlindungan tanaman tidak merupakan rangkaian langkah-langkah linier, melainkan langkah-langkah melingkar sehingga secara keseluruhan membentuk suatu daur. Pengelolaan program perlindungan tanaman dalam daur terdiri atas penilaian (assessment), perancangan dan pelaksanaan (design and implementation), pemantauan (monitoring), evaluasi (evaluation), perenungan (reflection), dan pengalihan (transition).

Gambar 5.1. Daur pengelolaan program terdiri atas langkah-langkah penilaian (assessment), perancangan dan pelaksanaan (design and implementation), pemantauan (monitoring), evaluasi (evaluation), perenungan (reflection), dan pengalihan (transition). Sumber: Dimodisikasi dari WVI (2007) Penilaian merupakan proses pendefinisian alasan yang tepat mengapa suatu program perlu dilaksanakan yang didukung dengan informasi mengenai masyarakat sasaran, pelaksana program, dan mitra lainnya. Tujuan penilaian adalah untuk memahami keadaan terkini secara kontekstual, mengidentifikasi dan memahami permasalahan perlindungan tanaman yang terjadi, mengidentifikasi peluang, kapasitas, dan sumberdaya yang tersedia, memahami bagaimana berbagai pihak dapat dilibatkan, serta memutuskan kelayakan dan menentukan prioritas. Penilaian dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah menentukan kaitan dengan program nasional, melakukan diskusi awal dengan mitra utama, menentukan sumber dana, melakukan analisis pemangku kepentingan awal, mengumpulkan dan menelaah informasi, menganalisis data dan menyusun proposal awal, memastikan kepastian pendanaan, dan melakukan

Kebijakan Perlindungan Tanaman

74

Bahan Ajar Mandiri

refleksi terhadap proses dan temuan penilaian. Setelah seluruh langkah-langkah penilaian dilaksanakan dan diperoleh hasil penilaian yang menyatakan program layak dilaksanakan maka langkah berikutnya adalah perancangan program.

Perancangan dan pelaksanaan program merupakan suatu proses perencanaan dengan berdasarkan pada hasil penilaian untuk menunjukkan bagaimana permasalahan perlindungan tanaman yang telah berhasil diidentifikasi akan ditangani. Perancangan program dilaksanakan dengan tujuan: membuat rencana logis dan strategis untuk menangani permasalahan perlindungan tanaman, memprioritaskan permasalahan yang perlu ditangani, menjamin pemangku kepentingan memahami peranan dan tanggung jawab masing-masing, memenetukan tindakan jangka pendek dan jangka panjang yang diperlukan, menentukan cara untuk mengukur kemajuan yang dicapai untuk mencapai tujuan, mempertimbangkan langkah-langkah alternatif yang diperlukan, menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk kepentingan pencairan dana. Perancangan program perlindungan tanaman dapat dilakukan dengan langkah-langkah: mendeskripsikan program, menyusun kerangka kerja logis, melengkapi dokumen rancangan program, menyepakati pelaksanaan, serta melakukan refleksi terhadap proses perancangan. Dua langkah pelaksanaan yang pertama, yaitu mendeskripsikan program dan menyusun kerangka kerja logis, merupakan bagian terpenting dari perancangan program. Kedua langkah ini akan dibahas lebih rinci pada kegiatan belajar berikutnya.

Pemantauan merupakan proses pengumpulan informasi secara rutin untuk menunjukkan bahwa masukan dan pelaksanaan telah dilakukan dan keluaran telah diperoleh sesuai dengan rencana dalam rancangan program. Pemantauan dilaksanakan dengan tujuan: menyampaikan informasi mengenai kemajuan pelaksanaan program kepada mitra, memahami perubahan mengenai perubahan sebagaimana yang diinginkan dalam rancangan program, memudahkan pelaksanaan dengan memberikan informasi mengenai perlunya perubahan, mendorong pelaksanaan agar lebih dipergiat, dan memberikan informasi terhadap langkah evaluasi. Pemantauan dilaksanakan dengan langkahlangkah: menilai potensi manfaat informasi yang akan diperoleh, menentukan tanggung jawab pelaksanaan pemantauan, memperbarui rencana pemantauan dan evaluasi, menetapkan nilai acuan (baseline) untuk tiap indikator dan menyiapkan laporan nilai acuan, memfinalisasi kesepakatan pelaksanaan pemantauan, merencanakan Kebijakan Perlindungan Tanaman 75

Bahan Ajar Mandiri

pengumpulan data, melaksanakan pengumpulan dan analisis data, melaporkan hasil pemantauan, dan melakukan refleksi terhadap proses pemantauan. Pemantauan berbeda dengan evaluasi program sebagaimana diuraikan berikut ini.

Evaluasi merupakan kegiatan terikat waktu yang dilakukan untuk menilai secara sistematik dan obyektif relevansi, kinerja dan keberhasilan, atau kekurangan bilamana terjadi demikian, dari program atau proyek yang sedang dalam pelaksanaan atau sudah selesai dilaksanakan. Evaluasi dilaksanakan dengan tujuan: memberikan informasi mengenai apa yang berhasil dilakukan, apa yang tidak, dan mengapa demikian, menentukan apakah asumsi yang mendasari program atau proyek adalah valid atau bukan, menentukan efisiensi, konsistensi, keefektifan, relevansi, dan keberlanjutan program atau proyek, memberikan panduan bagi pengambil keputusan dalam mereproduksi program atau proyek yang berhasil, memberikan penghargaan atas capaian mitra, mendokumentasikan pengetahuan dan topik penting untuk tujuan melakukan lobi, dan mempromosikan akuntabilitas dan pembelajaran. Evaluasi dilaksanakan dengan langkah-langkah: merencanakan evaluasi, menelaah konteks, merancang pelaksanaan evaluasi, melaksanakan evaluasi, menggunakan hasil nevaluasi, dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil evaluasi.

Perenungan merupakan perencanaan dan penyediaan waktu untuk mengajak mitra bersama-sama menganalisis informasi proyek atau program dan membuat keputusan dan rekomendasi mengenai perubahan yang perlu dilakukan terhadap program atau proyek yang mengarah pada dimungkinkannya transformasi program, individu, dan organisasi. Perenungan dilakukan dengan tujuan: menjamin pelajaran yang diperoleh dapat diterjemahkan ke dalam perubahan yang positif, menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman dan pengetahuan untuk memungkinkan dilakukan perancangan ulang program atau proyek, membantu untuk memahami arti penting bekerja bersama, mensistematisasi cara organisasi dan individu dapat melakukan pembelajaran bersama, dan mendorong pengembangan profesi secara berkelanjutan. Perenungan dilaksanakan melalui langkah-langkah: mengidentifikasi mitra untuk melakukan refleksi bersama, mengidentiifikasi topik refleksi, mengidentifikasi pemilik topik yang akan digunakan melakukan refleksi, mengidentifikasi fasilitator,

Kebijakan Perlindungan Tanaman

76

Bahan Ajar Mandiri

mempelajari dan menerapkan pelajaran yang diperoleh, dan mendokumentasikan pelajaran yang diperoleh.

Pengalihan merupakan langkah untuk mengakhiri atau mengubah dukungan program atau proyek terhadap masyarakat dan menyerahkan kepada masyarakat untuk melanjutkan hasil-hasil yang telah dicapai. Tujuan pengalihan program atau proyek adalah untuk menyiapkan dan mengelola rancangan dan pelaksanaan program atau proyek sedemikian rupa sehingga hasil dan sasaran yang dicapai dapat dilanjutkan oleh masyarakat sendiri. Langkah-langkah yang perlu dilakukan pada tahap pengalihan adalah: memasukan pembahasan mengenai keberlanjutan pada tahap penilaian langkah 4 dan 5, menyajikan ringkasan mengenai isu keberlanjutan pada tahap perancangan langkah 1 dan 2, menyelesaikan rencana transisi dengan memperhatikan tahap pemantauan langkah 4, mengkonfirmasi dan menyetujui strategi pengalihan sebagaimana direkomendasikan pada tahap evaluasi, dan melakukan perenungan terhadap strategi dan proses pengalihan.

Latihan Bayangkan Anda adalah seorang staf perencanaan pada Dinas Pertanian di suatu kabupaten yang merencanakan akan melaksanakan program intensifikasi budidaya jeruk keprok. Pikirkan kira-kira proyek apa saja yang menjadi bagian dari program tersebut.

Rangkuman Kebijakan perlindungan tanaman perlu diwujudkan dalam program atau proyek agar dapat direalisasikan. Program atau proyek perlindungan tanaman perlu dikelola agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Pengelolaan program atau proyek perlindungan tanaman dilakukan sebagaimana pada pengelolaan program atau proyek pembangunan pada umumnya, terdiri atas tahap-tahap penilaian, perancangan dan pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, perenungan, dan pengalihan yang dilaksanakan berturut-turut dalam urutan melingkar sehingga membentuk daur pengelolaan.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

77

Bahan Ajar Mandiri

KEGIATAN BELAJAR 2: PENDEKATAN KERANGKA KERJA LOGIS DALAM PERANCANGAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN

Uraian Pada Kegiatan Belajar 1 telah diuraikan tahap-tahap pengelolaan di dalam daur pengelolaan program atau proyek perlindungan tanaman. Di antara tahap-tahap dalam daur pengelolaan tersebut terdapat tahap perancangan dan pelaksanaan. Sebagaimana juga telah diuraikan, tahap perancangan dan pelaksanaan dilaksanakan dengan langlahlangkah: mendeskripsikan program, menyusun kerangka kerja logis, melengkapi dokumen rancangan program, menyepakati pelaksanaan, serta melakukan refleksi terhadap proses perancangan. Pada modul ini terutama akan dibahas secara lebih mendalam dua langkah yang pertama, yaitu mendeskripsikan program dan menyusun kerangka kerja logis. Kedua langkah ini diperlukan apabila program atau proyek dirancang dengan pendekatan kerangka kerja logis (logical framework approach atau logical framework analysis, LFA).

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan pendekatan kerangka kerja logis? Menurut WWF (2005): Pendekatan kerangka kerja logis merupakan proses analitik untuk merancang struktur dan mensistematisasi proses analisis terhadap suatu prakarsa program atau proyek. Pendekatan kerangka kerja logis berbeda dengan matriks kerangka kerja logis. Pendekatan kerangka kerja logis merupakan proses, sedangkan matriks kerangka kerja logis merupakan dokumentasi dari produk yang dihasilkan melalui proses pendekatan kerangka kerja logis. WWF (2005) menegaskan: It is useful to distinguish between LFA, which is a process involving stakeholder analysis, problem analysis, objective setting and strategy selection and the logical framework matrix, often called the logframe, which documents the product of the LFA process. Sebagaimana disebutkan di atas, pendekatan kerangka kerja logis dilaksanakan melalui langkah-langkah: analisis pemangku kepentingan (stakeholder analysis), analisis permasalahan (problem analisis), penetapan tujuan (objective setting), dan pemilihan strategi (strategy selection).

Kebijakan Perlindungan Tanaman

78

Bahan Ajar Mandiri

Pendekatan kerangka kerja logis merupakan metodologi perancangan program atau proyek yang digunakan oleh berbagai lembaga donor internasional. Menurut WVI (2007),pendekatan kerangka kerja logis dilakukan dengan langkah-langkah: identifikasi isu dan penyebab, analisis mitra dan kekuasaan, analisis tujuan, dan analisis strategi alternatif. AusAID (2005) menggunakan kerangka pikir yang berbeda dengan mengartikan pendekatan kerangka kerja logis sebagai cara berpikir logis yang terdiri atas analisis situasi (yang mencakup analisis permasalahan, analisis pemangku kepentingan, analisis tujuan, analisis strategi alternatif, dan pengaitan hasil analisis situasi dengan matriks kerangka kerja logis) serta pengisian matriks kerangka kerja logis. Dalam kegiatan belajar ini pendekatan kerangka kerja logis dimaksudkan sebagai proses analitik untuk merancang suatu program atau proyek dengan menggunakan logika matriks kerangka kerja logis berdasarkan atas hasil analisis situasi yang mencakup analisis permasalahan, analisis pemangku kepentingan, analisis tujuan, dan analisis strategi alternatif.

Analisis permasalahan dilakukan agar dapat diidentifikasi akar permasalahan perlindungan tanaman, bukan sekedar gejala permasalahan, untuk selanjutnya dirancang penanganannya. Perlu dicatat bahwa permasalahan perlindungan tanaman lebih dari sekedar permasalahan OPT. Analisis permasalahan secara menyeluruh dan mendalam diperlukan untuk dapat merancang kegiatan yang relevan dan berfokus. Analisis permasalahan lazim dilakukan dengan menggunakan teknik pohon permasalahan. Terdapat dua teknik untuk melakukan analisis permasalahan: (a) teknik berorientasi permasalahan fokus dan (b) teknik berorientasi tujuan. Pada teknik berorientasi permasalahan fokus, partisipan masing-masing diminta untuk menetapkan satu permasalahan dan kemudian permasalahan yang berhasil diidentifikasi oleh seluruh peserta digabungkan untuk ditentukan permasalahan mana yang merupakan permasalahan fokus dan bagaimana hubungan sebab akibatnya dengan permasalahan lainnya. Pada teknik berorientasi tujuan mula-mula ditetapkan sasaran program dan kemudian kemudian ditentukan kendala yang akan dihadapi untuk mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan logika sebab akibat. Kedua teknik ini sebenarnya sama saja, teknik mana yang digunakan tergantung pada kebiasaan.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

79

Bahan Ajar Mandiri

Gambar 5.2. Contoh pohon masalah yang digunakan sebagai metode untuk melaksanakan analisis masalah Setelah permasalahan berhasil diidentifikasi dan hubungan sebab-akibatnya ditentukan, selanjutnya perlu ditentukan bagi siapa permasalahan berdampak paling besar dan apa peran dan kepentingan pihak-pihak lainnya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pihak-pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan program atau proyek, secara positif maupun negatif, individu maupun lembaga, secara keseluruhan disebut pemangku kepentingan (stakeholders). Pemangku kepentingan mencakup penerima manfaat (beneficiaries), yaitu mereka yang menerima manfaat dari pelaksanaan program atau proyek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penerima manfaat terdiri atas kelompok sasaran, yaitu idividu atau lembaga yang terlibat langsung dalam program atau proyek, dan masyarakat bukan kelompok sasaran. Program atau proyek dapat dilaksanakan sendiri oleh suatu lembaga atau bersama dengan lembaga lain sebagai mitra. Analisis pemangku kepentingan dilakukan dengan tujuan untuk memahami kepentingan berbagai kelompok yang ada dalam masyarakat, menentukan kemampuan mereka untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan, dan merancang kegiatan yang dapat secara berimbang memberikan beban tanggung jawab sesuai dengan kapasitas masing-masing dan hubungan sosial yang berlaku. Analisis pemangku kepentingan pada dasarnya analisis untuk menanyakan permasalahan siapa dan bila kemudian dirancang suatu kegiatan, siapa yang akan menerima manfaat. Analisis Kebijakan Perlindungan Tanaman 80

Bahan Ajar Mandiri

pemangku kepentingan dilakukan dengan langkah-langkah: mengidentifikasi para pemangku kepentingan utama, menentukan peran, kepentingan, kekuasaan, dan kapasitas masing-masing untuk berpartisipasi, menentukan kemungkinan diperolehnya dukungan dan penolakan dari pemangku kepentingan tertentu, dan menentukan pemangku kepentingan mana saja yang perlu diikutsertakan dalam program atau proyek.

Pelaksanaan analisis permasalahan dan analisis pemangku kepentingan dapat dipertukarkan mana yang terlebih dahulu dan mana yang kemudian. Langkah selanjutnya adalah analisis tujuan. Analisis tujuan dilakukan dengan menggunakan teknik yang sama dengan yang digunakan pada analisis permasalahan, tetapi dengan membalikkan pernyataan mengenai permasalahan (negatif) dibalik menjadi pernyataan mengenai pernyataan tujuan mengatasi permasalahan (positif). Akan tetapi, tidak semua pernyataan permasalahan dalam analisis permasalahan memerlukan pernyataan tujuan sebab hasil analisis pemangku kepentingan akan menentukan lebih lanjut permasalahan mana saja yang perlu memperoleh prioritas penanganan. Selain itu, bila pada analisis permasalahan hubungan antara satu permasalahan dengan permasalahan lainnya merupakan hubungan sebab akibat, pada analisis tujuan hubungan antara satu tujuan dengan tujuan lainnya merupakan cara mencapai berbagai hierarki produk yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan.

Produk yang diharapkan diperoleh dari suatu program atau proyek yang dirancang dengan pendekatan kerangka kerja logis diberikan istilah dan definisi yang berbedabeda antar lembaga pengguna pendekatan tersebut. WWF (2005) menggunakan terminologi visi (vision), sasaran (goals), tujuan (objectives), dan hasil (results). WVI (2007) menggunakan istilah sasaran (goals), hasil (outcomes), dan keluaran (outputs). AusAID (2005) menggunakan terminologi sasaran/dampak (goals/impacts), tujuan/hasil (purposes/outcomes), tujuan komponen/hasil antara (component objectives/intermediate results), dan keluaran (outputs). Pada kegiatan belajar ini akan digunakan terminologi sasaran, hasil, dan keluaran dengan definisi sebagai berikut: 1) Sasaran: produk yang memberikan kontribusi terhadap pada tujuan sektorak atau nasional dan kontribusi terhadap dampak jangka panjang dan merupakan konsekuensi dari tercapainya sejumlah hasil. Sasaran bersifat kontributif, artinya Kebijakan Perlindungan Tanaman 81

Bahan Ajar Mandiri

ikut menyumbang, sehingga bukan seluruhnya merupakan produk program atau proyek. 2) Hasil: produk lanjutan yang dicapai secara keseluruhan, langsung maupun tidak langsung, sebagai konsekuensi dari tercapainya sejumlah sasaran melalui pelaksanaan beberapa kegiatan program atau proyek 3) Keluaran: produk langsung dan nyata yang dicapai melalui pelaksanaan satu kegiatan program atau proyek Merujuk pada definisi-definisi di atas maka dapat dikatakan bahwa hasil merupakan capaian yang diharapkan dari tercapainya sekumpulan keluaran dan sasaran merupakan capaian yang diharapkan dari tercapainya sejumlah hasil. Uraian lebih lanjut mengenai hierarki produk di atas akan diberikan pada Kegiatan Belajar 3.

Gambar 5.3. Contoh pohon tujuan yang digunakan sebagai metode untuk melaksanakan analisis tujuan Selama proses melakukan analisis permasalahan, pemangku kepentingan, dan tujuan, pandangan yang berbeda dari yang dapat dicakup dalam rancangan program atau proyek perlu dicatat dan dipertimbangkan sebagai strategi alternatif seandainya strategi yang telah dirancang tidak dapat dilaksanakan. Hal ini perlu dilakukan karena biasanya selalu terdapat lebih dari satu cara untuk mengatasi satu permasalahan. Berbagai cara yang Kebijakan Perlindungan Tanaman 82

Bahan Ajar Mandiri

mungkin dilakukan perlu didiskusikan dan disepakati untuk menentukan satu cara yang akan digunakan sebagai strategi utama dan beberapa cara sebagai strategi alternatif.

Produk dengan hierarki berbeda yang diperoleh dari analisis tujuan perlu dikaitkan dengan matriks kerangka kerja logis. Pengaitan dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Satu atau gabungan beberapa tujuan ranting yang sejenis pada pohon tujuan dapat dikaitkan dengan satu keluaran 2) Satu atau gabungan beberapa tujuan cabang yang sejenis pada pohon tujuan dapat dikaitkan dengan satu hasil 3) Satu atau gabungan beberapa tujuan pohon yang sejenis pada pohon tujuan dapat dikaitkan dengan satu sasaran Pengaitan ini akan lebih mudah dipahami dengan contoh sebagaimana akan dibahas lebih rinci pada Kegiatan Belajar 3.

Latihan Simaklah Gambar 5.2 dan Gambar 5.3 dan kemudian buatlah pohon masalah dan pohon tujuan untuk program prlindungan tanaman jeruk keprok.

Rangkuman Pendekatan kerangka kerja logis merupakan metodologi perancangan program atau proyek yang digunakan oleh banyak lembaga donor internasional. Meskipun terdapat perbedaan terminologi antar lembaga donor, perancangan program atau proyek dengan pendekatan kerangka kerja logis terdiri atas pelaksanaan analisis situasi dan penyajian hasil analisis situasi tersebut dalam matriks kerangka kerja logis. Analisis situasi terdiri atas analisis permasalahan, analisis pemangku kepentingan, analisis tujuan, dan analisis strategi alternatif. Hasil analisi tujuan kemudian dikaitkan dengan matriks kerangka kerja logis dengan memperhatikan hierarki produk tujuan yang dihasilkan.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

83

Bahan Ajar Mandiri

KEGIATAN BELAJAR 3: PERANCANGAN PROGRAM PERLINDUNGAN TANAMAN DENGAN PENDEKATAN KERANGKA KERJA LOGIS

Uraian Untuk melakukan perancangan program perlindungan tanaman dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis digunakan penurunan populasi dan produksi Jeruk Keprok Soe (JKS) sebagai kasus.

JKS merupakan jenis jeruk keprok asli Pulau Timor, khususnya dataran tinggi Kabupaten TTS dan Kabupaten TTU. Pada mulanya jeruk keprok ini dikembangbiakkan dengan biji. Sejak tahun 1970-an, pemerintah mulai mempertimbangkan jeruk keprok ini sebagai komoditas unggulan dan melatih petani untuk melakukan okulasi sehingga pengembangbiakan dapat dilakukan dengan bibit okulasi. Sejak akhir 1990-an, pemerintah Kabupaten TTS, Kabupaten TTU, dan Provinsi NTT melakukan pengembangan secara besar-besaran dengan membagikan bibit okulasi kepada petani. Bibit okulasi diadakan dari penangkar komersial yang memperoleh mata tempel dari pohon induk milik masyarakat yang diperiksa dan diberi peneng sebagai tanda layak sebagai pohon induk oleh petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengawasan dan Sertifikasi Benih (UPTD PSB) di bawah Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT. Menurut ketentuan, mata tempel harus berasal dari pohon induk yang ada pada Blok Pengadaan Mata Tempel (BPMT) yang dibangun oleh pemerintah kabupaten.

Meskipun telah dilakukan penanaman bibit okulasi secara besar-besaran, ternyata pupulasi jeruk keprok bukannya meningkat, melainkan terus menurun. Pohon jeruk keprok banyak yang mati muda maupun setelah berproduksi. Menurut pemerintah, kematian pohon jeruk tersebut terjadi hanya karena penyakit diplodia yang disebakan oleh jamur Botryodiplodia theobromae. Pemerintah menolah keberadaan penyakit lainnya sebagai penyebab, meskipun peneliti dan karantina telah menemukan adanya penyakit busuk phtophthora (Phytophthora citroptora), penyakit tristeza (citrus tristeza virus, CTV), dan penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD, disebabkan oleh bakteri Candidatis Liberibacter asiaticus yang dapat menular melalui mata tempel atau dengan perantaraan kutu loncat jeruk asia sebagai vektor). Pemerintah dengan tegas menyatakan bahwa JKS menderita CVPD dan mengharuskan segala informasi mengenai penyakit JKS hanya dapat dikeluarkan melalui satu pintu, yaitu pintu pemerintah. Untuk mengatasi permasalahan penyakit jeruk keprok ini, pemerintah merekomenfasikan pengendalian dengan menggunakan bubur Kalifornia. Menurut petani, meskipun mereka telah menggunakan bubur Kalifornia sebagaimana yang dianjurkan pemerintah, tanaman jeruk mereka tetap

Kebijakan Perlindungan Tanaman

84

Bahan Ajar Mandiri

mati. Petani mengakui bahwa populasi jeruk keprok terus menurun dari tahun ke tahun, tetapi pemerintah menyajikan data sebaliknya.

Untuk melakukan oerancangan program perlindungan tanaman JKS dari ancaman OPT, lakukanlah perancangan program dengan melibatkan 5-7 kawan dalam satu kelompok dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) Lakukanlah analisis permasalahan berdasarkan pendekatan berorientasi permasalahan fokus atau pendekatan berorientasi tujuan dengan menggunakan teknik pohon masalah. 2) Lakukanlah analisis pemangku kepentingan dengan menggunakan teknik tabel pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan yang perlu dilibatkan adalah masyarakat petani jeruk, penangkar jeruk komersial, pedagang perantara dan pengecer buah jeruk, pemerintah desa/kelurahan, pemerintah kabupaten, dan pemerintah provinsi. 3) Lakukanlah analisis tujuan dengan menggunakan teknik pohon tujuan dan kemudian susun berbegai tujuan yang dihasilkan ke dalam hirarki keluaran, hasil, dan sasaran. Rancangan program dapat mempunyai lebih dari satu sasaran, tetapi untuk kepentingan mempelajari cara perancangan program perlindungan tanaman dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis ini, sebaiknya digunakan hanya satu sasaran supaya pelaksanaannya tidak terlalu rumit. 4) Kaitkan hasil analisis tujuan dengan matriks kerangka kerja logis. Matriks kerangka kerja logis merupakan tabel yang terdiri atas baris dan kolom. Baris memuat berturut-turut dari atas ke bawah: sasaran, hasil, dan keluaran serta kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hierarki tujuan tersebut, sedangkan kolom memuat, berturut-turut dari kiri ke kanan, ringkasan tujuan/kegiatan, indikator, cara verifikasi, dan asumsi sebagai berikut: Ringkasan tujuan/kegiatan 1. Sasaran 1 1.1. Hasil 1 1.1.1. Keluaran 1 1.1.1.1. Kegiatan 1 1.1.1.2. Kegiatan 2 Dst. 1.1.2. Keluaran 2 1.1.2.1. Kegiatan 1 Kebijakan Perlindungan Tanaman 85 Indikator Cara verifikasi Asumsi

Bahan Ajar Mandiri

Ringkasan tujuan/kegiatan

Indikator

Cara verifikasi

Asumsi

1.1.2.2. Kegiatan 2 Dst. 1.2.4. Keluaran 3 Dst. 1.2. Hasil 2 Dst. Perhatikan penomoran dengan angka berdigit diperlukan untuk memudahkan pengkategorian, 1 digit menyatakan sasaran, dua digit menyatakan hasil, 3 digit menyatakan keluaran, dan 4 digit menyatakan kegiatan. 5) Tuliskan tujuan yang diperoleh dari hasil analisis tujuan pada kolom ringkasan tujuan/kegiatan dengan menempatkan pada baris yang sesuai dengan hierarkinya sebagaimana telah diuraikan pada Kegiatan Belajar 1. 6) Untuk setiap tujuan pada hierarki keluaran, tentukan kegiatan yang harus dilakukan berikut masukan (inputs) yang diperlukan untuk mencapai keluaran yang diharapkan. Masukan merupakan sumberdaya yang diperlukan agar suatu kegiatan dapat dilaksanakan, dapat meliputi tenaga, alat, bahan, biaya, dsb. Jumlah kegiatan tidak dibatasi, tetapi upayakan dalam batas-batas yang dapat dikelola. Selain kegiatan utama, juga dapat disertakan kegiatan alternatifnya bila diperlukan (berikan kode a untuk kegiatan utama dan b untuk kegiatan alternatifnya di belakang digit kode kegiatan). Isikan kegiatan utama dan kegiatan alternatifnya pada kolom ringkasan tujuan/kegiatan. 7) Isikan pada kolom indikator ukuran yang akan digunakan untuk menentukan capaian kegiatan, keluaran, hasil, dan sasaran. Indikator dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan, Bagaimana saya dapat mengetahui apakah sesuatu yang saya rencanakan benar-benar terjadi? Indikator sedapat mungkin memenuhi kriteria SMART (Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Timely), artinya spesifik, dapat diukur, dapat dilaksanakan, relevan, dan tepat waktu. 8) Isikan pada kolom cara vetifikasi cara yang dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna menentukan capaian yang diperoleh untuk setiap indikator yang dibuat. Cara verifikasi menjelaskan bagaimana data dikumpulkan, apa/siapa yang menjadi sumber data, siapa yang harus melakukan, kapan dan berapa sering harus dilakukan, dan bagaimana data yang telah dikumpulkan akan dianalisis.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

86

Bahan Ajar Mandiri

9) Isikan pada kolom asumsi dengan kondisi eksternal yang harus dipenuhi agar logika vertikal dapat dipenuhi. Logika vertikal bersama dengan logika horizontal merupakan cara berfikir logis sehingga matriks disebut matriks kerangka kerja logis. Logika vertikal merupakan logika sebagai berikut: a) Bila masukan dipenuhi maka kegiatan dapat dilaksanakan b) Bila kegiatan dapat dilaksanakan maka keluaran dapat diperoleh c) Bila keluaran dapat diperoleh maka akan didapat hasil d) Bila hasil dapat diperoleh maka akan didapat sasaran Sebaliknya, logika horizontal adalah sebagai berikut: a) Bila tersedia cara pengukuran maka indikator dapat ditentukan b) Bila indikator dapat ditentukan maka capaian dapat diukur c) Bila capaian dapat diukur dan asumsi dipenuhi maka tujuan pada hierarki yang lebih tinggi dapat diwujudkan Dengan demikian, asumsi juga merupakan bagian dari logika vertikal yang harus dipenuhi agar tujuan pada hierarki yang lebih tinggi dapat diwujudkan

Dalam perancangan program perlindungan tanaman JKS perlu diperhatikan bahwa permasalahan yang dihadapi tidak terbatas pada OPT atau cara pengendaliannya. Permasalahan juga dapat berupa kebijakan pemerintah yang kurang tepat, pengawasan yang kurang ketat, keperdulian masyarakat yang rendah, pengetahuan petani yang terbatas, kepentingan oknum pemerintah ikut berbisnis bibit jeruk, cara budidaya yang menguntungkan bagi perkembangan OPT, keadaan lingkungan yang mendukung perkembangan OPT, dan sebagainya. Permasalahan-permasalahan yang berhasil diidentifikasi perlu dikaitkan satu sama lain melalui logika hubungan sebab-akibat. Hubungan sebab-akibat tersebut digambarkan dalam bentuk bagan alir yang dapat dibuat dengan menggunakan program aplikasi komputer yang sesuai (misalnya Office Visio).

Mengingat permasalahan perlindungan tanaman tidak selalu harus permasalahan OPT maka kegiatan yang direncanakan juga tidak selalu harus berupa kegiatan pencegahan, pengendalian, atau eradikasi. Program perlindungan tanaman dapat terdiri atas kegiatan di luar pencegahan, pengendalian, atau eradikasi, misalnya kegiatan penggalangan kesadaran masyarakat, kegiatan penyebaran informasi, kegiatan konsultasi kebijakan, Kebijakan Perlindungan Tanaman 87

Bahan Ajar Mandiri

dan sebagainya. Kegiatan juga tidak harus ditujukan kepada petani sebagai kelompok sasaran, melainkan juga dapat ditujukan kepada aparat pemerintah, kepada penangkar, kepada murid dan mahasiswa, kepada pedagang, kepada konsumen, dan sebagainya.

Matriks kerangka kerja logis terdiri atas kolom-kolom yang isinya berupa uraian panjang (terutama kolom ringkasan ringkasan tujuan/kegiatan dan kolom cara verifikasi). Oleh karena itu, untuk memudahkan, matriks kerangka kerja logis sebaiknya dibuat dengan menggunakan program aplikasi tabel lajur (misalnya Office Excel). Dalam menyusun matriks kerangka kerja logis menggunakan program aplikasi tabel lajur, setiap kegiatan, keluaran, hasil, dan sasaran dibuat dalam baris yang berbeda dan diberikan kode digit yang sesuai. Program aplikasi pengolah kata (misalnya Office Word) juga dapat digunakan untuk membuat tabel dalam format melintang, tetapi karena ukurannya disesuaikan dengan ukuran kertas maka sulit dapat memuat banyak kolom yang masing-masing berukuran lebar besar.

Latihan Unduh matrik kerangka kerja logis pada prosiding Lokakarya Formation of an African Forest Pest Management Network dari situs http://www.fao.org/docrep/v9741e/ v9741e09.htm#project%20purpose. Bandingkan dengan matriks kerangka kerja logis yang sudah selesai dibuat. Cari persamaan dan perbedaannya serta kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Rangkuman Penyusunan program perlindungan tanaman dengan pendekatan kerangka kerja logis meliputi analisis situasi dan penuangan hasil analisis situasi ke dalam matriks kerangka kerja logis. Analisis situasi dilakukan dengan langkah-langkah analisis permasalahan, analisis pemangku kepentingan, analisis tujuan, analisis strategi alternatif, dan pengaitan hasil analisis tujuan dengan matriks kerangka kerja logis. Matriks kerangka kerja disusun dengan logika vertikal yang dari khusus ke umum terdiri atas kegiatan, keluaran, hasil, dan sasaran dan logika horizontal ringkasan tujuan/kegiatan, indikator, cara verifikasi, dan asumsi.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

88

Bahan Ajar Mandiri

PENUTUP

Tes Formatif 1) Manakah di antara pilihan berikut yang merupakan urutan dua tahap yang benar dalam daur pengelolaan program perlindungan tanaman? a) Penilaian-pemantauan b) Perancangan dan implementasi-pemantauan c) Pemantauan-perenungan d) Penilaian-evaluasi e) Pemantauan-pengalihan 2) Manakah dari pilihan berikut yang dilakukan terhadap proyek atau program perlindungan tanaman yang sedang dalam pelaksanaan atau selesai dilaksanakan? (a) Penilaian (d) Evaluasi (b) Perancangan (e) Perenungan (c) Pengalihan

3) Mengapa tahap pengalihan diperlukan dalam pengelolaan program atau proyek perlindungan tanaman? a. Untuk mempersiapkan keberlanjutan program atau proyek b. Untuk mengulangi keberhasilan program atau proyek di lokasi berbeda c. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya korupsi anggaran d. Untuk menyepakati kelanjutan program atau proyek oleh masyarakat e. Untuk memperbaiki kegagalan pelaksanaan pada tahun-tahun mendatang 4) Pemantauan dilakukan ketika proyek atau program: (a) Sudah selesai (b) Sedang direncanakan (c) Dalam pelaksanaan

(d) Sudah diserahterimakan (e) Sedang dinilai kelayakannya 5) Tahap perenungan bertujuan untuk: (a) Mempersiapkan pemangku kepentingan (b) Mempelajari keberhasilan dan kegagalan (d) Menghindari kerugian (e) Melakukan pemeliharaan 6) Manakah di antara pilihan berikut yang benar mengenai pendekatan kerangka kerja logis? Kebijakan Perlindungan Tanaman 89 (c) Menyepakati perbaikan

Bahan Ajar Mandiri

a) Metodologi perancangan program atau proyek secara berstruktur dan sistematik b) Matriks yang memuat sasaran, hasil, dan keluaran c) Analisis seara komprehensif untuk menentukan permasalahan, pemangku kepentingan, dan tujuan d) Pernyataan logis mengenai latar belakang, tujuan, dan sasaran program atau proyek e) a sampai d semuanya benar 7) Mnakah di antara pilihan berikut yang bukan merupakan bagian dari pendekatan kerangka kerja logis? (a) Pohon permasalahan (b) Pohon tujuan (c) Tabel pemangku kepentingan (d) Matriks kerangka kerja logis 8) Manakah di antara pilihan berikut yang kurang tepat mengenai sasaran program atau proyek? a) Berkontribusi terhadap tujuan pembangunan sektoral atau nasional b) Tujuan lebih lanjut dari satu atau gabungan beberapa hasil c) Diharapkan dicapai oleh kelompok sasaran maupun masyarakat bukan kelompok sasaran d) Produk berupa sesuatu yang seluruhnya dapat dicapai melalui pelaksanaan program atau proyek e) a sampai d semuanya salah 9) Mengapa strategi alternatif perlu dirumuskan dalam perancangan program atau proyek perlindungan tanaman? a) Lebih dari satu cara dapat digunakan untuk mencapai satu tujuan b) Kegiatan yang ditetapkan tidak mendapat dukungan pemangku kepentingan c) Penolakan oleh sebagian pemangku kepentingan d) Cadangan jika pencairan dana dihentikan e) Satu tujuan selalu lebih baik bila dicapai dengan banyak cara 10) Mengapa analisis tujuan perlu dikaitkan dengan matriks kerangka kerja logis? a) Matriks kerangka kerja logis merupakan produk pendekatan kerangka kerja logis b) Matriks kerangka kerja logis memuat sasaran, hasil, dan keluaran Kebijakan Perlindungan Tanaman 90 (e) Pohon keputusan

Bahan Ajar Mandiri

c) Matriks kerangka kerja logis menyajikan berbagai hierarki tujuan d) Matriks kerangka kerja logis menyajikan program untuk mudah dipahami e) Matriks kerangka kerja logis menyusun sasaran, hasil, dan keluaran dalam urutan logis 11) Manakah di antara pernyataan-pernyataan berikut yang merupakan sasaran? a) Meningkatnya kesejahteraan petani jeruk keprok soe b) Meningkatnya produksi jeruk keprok soe c) Meningkatnya populasi jeruk keprok soe d) Berkurangnya jumlah pohon jeruk keprok soe yang mati e) Terkendalinya penyakit jeruk keprok soe secara efektif 12) Manakah di antara pernyataan-pernyataan berikut yang merupakan indikator keluaran yang SMART? a) Jumlah petani yang dapat mengidentifikasi CVPD meningkat b) Jumlah petani yang dapat mengidentifikasi CVPD meningkat 20% c) Jumlah petani yang dapat mengidentifikasi CVPD meningkat 20% setelah 6 bulan pelaksanaan kegiatan d) Jumlah petani yang dapat mengidentifikasi CVPD meningkat 20% setelah 6 bulan pelaksanaan kegiatan dibandingkan dengan pada awal kegiatan e) Jumlah petani yang dapat mengidentifikasi CVPD meningkat 20% setelah 6 bulan pelaksanaan kegiatan dibandingkan dengan pada awal kegiatan penyuluhan 13) Manakah di antara pernyataan-pernyataan berikut yang merupakan urutan logika vertikal yang benar? a) Bila masukan dipenuhi maka keluaran dapat diperoleh b) Bila kegiatan dapat dilaksanakan maka akan didapat sasaran c) Bila keluaran dapat diperoleh maka akan didapat hasil d) Bila hasil dapat diperoleh maka akan didapat keluaran e) a sampai d semuanya salah 14) Manakah di antara pilihan berikut yang menguraikan cara yang dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data? (a) Cara verifikasi (b) Asumsi (c) Metode pendekatan kerangka kerja logis (d) Indikator (e) Ringkasan tujuan 91

Kebijakan Perlindungan Tanaman

Bahan Ajar Mandiri

15) Manakah di antara hierarki tujuan/kegiatan berikut yang mempunyai cakupan paling luas? (a) Masukan (d) Hasil (b) Kegiatan (e) Sasaran (c) Keluaran

Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Kunci jawaban diberikan secara terpisah pada Lampiran 2. Hal ini dilakukan secara sengaja dengan maksud agar mahasiswa terlebih dahulu menjawab setiap pertanyaan sendiri dan kemudian setelah selesai, baru mencocokkan jawaban yang diberikannya dengan kunci jawaban. Untuk menghitung nilai hasil belajar, setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar diberikan nilai 10. Nilai hasil belajar dihitung dengan menjumlahkan nilai jawaban dari seluruh pertanyaan. Nilai yang diperoleh kemudian dikategorikan sebagai berikut: >80 70-<80 60-<70 50-<60 <50 : sangat memuaskan : memuaskan : cukup : kurang : gagal

Tindak Lanjut Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil kurang atau gagal, pelajari kembali keseluruhan materi modul. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil cukup, pelajari bagian dari kegiatan belajar yang memuat uraian mengenai pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan benar. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil memuaskan atau sangat memuaskan, persiapkan untuk mempelajari kegiatan belajar pada Modul 5. Apapun hasil belajar yang diperoleh, lakukan pengayaan pemahaman dengan membaca referensi yang dianjurkan pada Daftar Pustaka.

Glosarium asumsi: kondisi eksternal yang harus dipenuhi agar logika vertikal dalam matriks kerangka kerja logis dapat dipenuhi. cara vetifikasi: cara yang dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna menentukan capaian yang diperoleh untuk setiap indikator yang dibuat. evaluasi: kegiatan terikat waktu yang dilakukan untuk menilai secara sistematik dan obyektif relevansi, kinerja dan keberhasilan, atau kekurangan bilamana terjadi Kebijakan Perlindungan Tanaman 92

Bahan Ajar Mandiri

demikian, dari program atau proyek yang sedang dalam pelaksanaan atau sudah selesai dilaksanakan. hasil: produk lanjutan yang dicapai secara keseluruhan, langsung maupun tidak langsung, sebagai konsekuensi dari tercapainya sejumlah sasaran melalui pelaksanaan beberapa kegiatan program atau proyek indikator: ukuran yang akan digunakan untuk menentukan capaian kegiatan, keluaran, hasil, dan sasaran. kelompok sasaran: idividu atau lembaga yang terlibat langsung dalam program atau proyek, dan masyarakat bukan kelompok sasaran. keluaran: produk langsung dan nyata yang dicapai melalui pelaksanaan satu kegiatan program atau proyek masukan: sumberdaya yang diperlukan agar suatu kegiatan dapat dilaksanakan, dapat meliputi tenaga, alat, bahan, biaya, dsb. matriks kerangka kerja logis: dokumentasi dari produk yang dihasilkan melalui proses pendekatan kerangka kerja logis. pemangku kepentingan: pihak-pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan program atau proyek, secara positif maupun negatif, individu maupun lembaga pemantauan: proses pengumpulan informasi secara rutin untuk menunjukkan bahwa masukan dan pelaksanaan telah dilakukan dan keluaran telah diperoleh sesuai dengan rencana dalam rancangan program. pendekatan kerangka kerja logis: proses analitik untuk merancang struktur dan mensistematisasi proses analisis terhadap suatu prakarsa program atau proyek; cara berpikir logis yang terdiri atas analisis situasi (yang mencakup analisis permasalahan, analisis pemangku kepentingan, analisis tujuan, analisis strategi alternatif, dan pengaitan hasil analisis situasi dengan matriks kerangka kerja logis) serta pengisian matriks kerangka kerja logis. penerima manfaat: mereka yang menerima manfaat dari pelaksanaan program atau proyek, baik secara langsung maupun tidak langsung. pengalihan: langkah untuk mengakhiri atau mengubah dukungan program atau proyek terhadap masyarakat dan menyerahkan kepada masyarakat untuk melanjutkan hasil-hasil yang telah dicapai. penilaian: proses pendefinisian alasan yang tepat mengapa suatu program perlu dilaksanakan yang didukung dengan informasi mengenai masyarakat sasaran, pelaksana program, dan mitra lainnya. perancangan: suatu proses perencanaan dengan berdasarkan pada hasil penilaian untuk menunjukkan bagaimana permasalahan perlindungan tanaman yang telah berhasil diidentifikasi akan ditangani. perenungan: proses perencanaan dan penyediaan waktu untuk mengajak mitra bersamasama menganalisis informasi proyek atau program dan membuat keputusan dan rekomendasi mengenai perubahan yang perlu dilakukan terhadap program atau proyek yang mengarah pada dimungkinkannya transformasi program, individu, dan organisasi. sasaran: produk yang memberikan kontribusi terhadap pada tujuan sektorak atau nasional dan kontribusi terhadap dampak jangka panjang dan merupakan konsekuensi dari tercapainya sejumlah hasil. Sasaran bersifat kontributif, artinya ikut menyumbang, sehingga bukan seluruhnya merupakan produk program atau proyek.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

93

Bahan Ajar Mandiri

Daftar Pustaka AusAID, (2005). AusGuideline: Activity Design 3.3. The Logical Framework Approach. Canberra: Commonwealth of Australia FAO (1995) Formation of an African Forest Pest Management Network.Workshop Proceedings organized by Kenya Forestry Research Institute (KEFRI) in collaboration with International Institute of Biological Control (IIBC) of Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) and funded by Canadian International Development Agency (CIDA) and Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) held in Muguga, Kenya, on 24-28 April 1995. Retrieved on 9 December 2010 from: http://www.fao.org/docrep/v9741e/v9741e00.htm#Contents WVI, (2007). LEAP: Learning through Evaluation with Accountability & Planning. 2nd ed. Washington, DC: World Vision International LEAP Team & World Vision Global Centre WWF, (2005). Resources for Implementing The WWF Standards: Logical Framework Analysis. Artemis Services.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

94

Bahan Ajar Mandiri

MODUL 6 TANTANGAN PERLINDUNGAN TANAMAN KE DEPAN

PENDAHULUAN

Pokok-pokok Isi dan Manfaat Menurut teori evolusi, hidup adalah soal perubahan. Hanya yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang dapat bertahan. Demikian juga dengan perlindungan tanaman, hanya jika dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka akan dapat mengatasi berbagai permasalahannya. Pada Modul 1 telah diuraikan berbagai faktor yang dapat menentukan kebijakan perlindungan tanaman. Faktor-faktor tersebut disinggung kembali pada Modul 4 mengenai ketahanan hayati. Untuk merencanakan program perlindungan tanaman sebagaimana diuraikan pada Modul 5, kemampuan untuk mengantiisipasi berbagai perubahan yang akan menjadi tantangan perlindungan tanaman ke depan sangat diperlukan. Berbagai tantangan tersebut diuraikan pada Modul 6 ini, yang terdiri atas satu pokok bahasan yang akan dipelajari dalam satu kegiatan belajar. Dengan mempelajari Modul 6 ini diharapkan mahasiswa dapat memperoleh wawasan yang lebih komprehensif mengenai perlindungan tanaman bahwa untuk dapat kebijakan perlindungan tanaman dengan sebaik-baiknya, diperlukan bukan hanya pengetahuan mengenai OPT tetapi juga pemahanan mengenai berbagai hal di luar OPT itu sendiri. Dengan mempelajari berbagai kecenderungan perubahan yang dapat menentukan pengambilan kebijakan maka diharapkan dapat dirumuskan kebijakan perlindungan tanaman yang lebih antisipatif, bukan hanya reaktif sebagaimana yang terjadi selama ini.

Kompetensi Khusus Setelah mempelajari kegiatan belajar dalam modul ini mahasiswa diharapkan mampu: a) Mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai faktor yang menjadi tantangan kebijakan perlindungan tanaman di masa depan b) Menjelaskan bagaimana berbagai kecenderungan perubahan yang akan terjadi di masa depan dapat digunakan untuk merumuskan kebijakan perlindungan yang antisipatif Kebijakan Perlindungan Tanaman 95

Bahan Ajar Mandiri

Indikator dan Petunjuk Belajar Modul 6 ini merupakan modul terakhir dari enam modul Kebijakan Perlindungan Tanaman. Sebagai modul penutup, keberhasilan mempelajari modul ini akan menentukan keberhasilan mempelajari matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman secara keseluruhan. Oleh karena itu, keberhasilan mempelajari modul init diukur berdasarkan kemampuan memahami berbagai kecenderungan yang akan mempengaruhi kebijakan perlindungan tanaman dalam kaitan dengan aspek-aspek yang telah dibahas pada mosul-modul sebelumnya. Untuk mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan membaca materi kegiatan belajar secara kritis. Setelah membaca uraian kegiatan belajar, mahasiswa diharapkan mengerjakan latihan yang diberikan dan mendiskusikannya dengan mahasiswa lainnya. Untuk mendalami uraian setiap kegiatan belajar, mahasiswa disarankan membaca pustaka yang direkomendasikan pada Daftar Pustaka. Setiap kegiatan belajar memerlukan waktu 100 menit yang juga merupakan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan modul ini.

KEGIATAN BELAJAR 1: PERUBAHAN KEBIJAKAN UNTUK MENGANTISIPASI PERMASALAHAN PERLINDUNGAN TANAMAN

Uraian Kecenderungan perubahan dewasaini terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Di antara berbagai kecenderungan perubahan tersebut, banyak yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan perlindungan tanaman. Kecenderungan perubahan tersebut berkaitan secara langsung karena berdampak terhadap tanaman dan OPT atau secara tidak langsung karena berdampak terhadap faktor lain yang mempunyai pengaruh langsung terhadap tanaman dan OPT. Tidak semua kecenderungan perubahan yang berkaitan tersebut akan dibahas, melainkan hanya beberapa yang diperkirakan mempunyai kaitan yang sangat kuat. Kecenderungan tersebut adalah peningkatan jumlah dan distribusi geografik penduduk, pemanasan global, globalisasi, liberalisasi perdagangan, terorisme, demokratisasi, serta desentralisasi dan otonomi daerah.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

96

Bahan Ajar Mandiri

Jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan dengan laju yang meningkat drastis selama dasawarsa terakhir. Hasil sensus 2010 masih belum final, tetapi jumlah penduduk Indonesia yang menurut sensus penduduk 1995 berjumlah 194,754 juta diproyeksikan akan menjadi 233,477 juta pada 2010 dan >273 juta pada 2025. Jumlah penduduk yang besar tersebut terutama terkonsentrasi di pulau Jawa, sedangkan pulaupulau lainnya, lebih-lebih lagi pulau-pulau di Indonesia Timur, mempunyai penduduk dengan kepadatan yang jarang. Jumlah penduduk yang besar memerlukan ketersediaan bahan pangan dalam jumlah besar, sedangkan distribusi penduduk yang tidak merata antar pulau menimbulkan kesulitan dalam pendistribusian. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah yang besar menghadapi ancaman yang berisiko tinggi dari eksplosi OPT, lebih-lebih bila bahan pangan pokok adalah satu jenis seperti halnya beras di Indonesia, karena kehilangan hasil yang sedikit saja akan dapat mengganggu ketahanan pangan. Secara global, permasalahan ketahanan pangan tidak hanya terkait dengan peningkatan jumlah penduduk yang cenderung mengikuti pola eksponensial, tetapi juga karena pasokan bahan pangan dipengaruhi pula oleh percaturan politik.

Gambar 6.1. Pertumbuhan penduduk dunia yang menunjukkan kecenderungan eksponensial Pemanasan global diprediksi akan terus terjadi terlepas dari berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya. Suhu permukaan bumi telah meningkat sebesar 0,75oC (0,18oC) sejak akhir abad ke-19, dan kecenderungan peningkatan selama 50 tahun terakhir sebesar 0,13oC (0,03oC) per dasawarsa merupakan peningkatan sebesar dua kali dari peningkatan sejak 100 tahun yang lalu. Peningkatan suhu tersebut memang Kebijakan Perlindungan Tanaman 97

Bahan Ajar Mandiri

terjadi secara tidak merata. Kawasan tertentu (bagian tenggara AS dan Atlantik Utara) justeru mengalami pendinginan sejak seabad terakhir. Pemanasan tertinggi terjadi di Amerika Utara dan Eurasia pada 40-70 LU. Pemanasan global memungkinkan OPT yang distribusinya semula terbatas di kawasan dataran rendah tropika menyebar ke pegunungan tropika dan ke kawasan sub-tropika sebagaimana yang diprediksi terjadi pada kumbang bubuk Sitophilus spp dari dataran rendah ke pegunungan dan kutu loncat jeruk asia Diaphorina citri dari kawasan tropika ke sub-tropika.

Gambar 6.2. Anomali suhu udara permukaan bumi sejak 1850 sampai 2006 terhadap rerata suhu antara 1961 sampai 1990 (garis merah, disertai dengan kisaran galat 5-95%) berikut variasi sepuluh tahunannya (kurva biru) Sumber: NOAA, http://www.ncdc.noaa. gov/oa/climate/globalwarming.html

(a) (b) Gambar 6.3. Kecenderungan linier suhu tahunan: (a) 1901-2005 (oC per abad) berdasarkan data selama 66 tahun dan (b) 1979-2005 (oC per dasawarsa) berdasarkan data selama 18 tahun. Nilai tahunan diperoleh bila terdapat nilai anomali suhu valid selama 10 bulan. Kawasan berwana abu-abu menunjukkan tidak tersedia cukup data untuk menghitung kecenderungan. Sumber: NOAA, http://www.ncdc.noaa.gov/oa/ climate/globalwarming.html

Kebijakan Perlindungan Tanaman

98

Bahan Ajar Mandiri

(a) (b) (c) Gambar 6.4. Hari pertama munculnya imago Diaphorina citri pada tahun pertama menurut hasil simulasi (tahun dimulai 1 Juli) dampak pemanasan global terhadap pemencaran OPT tersebut ke Australia: (a) tahun 1990, (b) Tahun 2030, dan (c) tahun (2070). Biru menyatakan sebelum 20 Juli dan bergerak ke arah merah yang menyatakan setelah 1 Desember. Sumber: Aurambout et al. (2009) Globalisasi memungkinkan perpindahan barang dan manusia dapat berlangsung dengan cepat melintasi batas alam yang sebelumnya memerlukan waktu sangat lama. Volume barang dan jumlah orang yang berpindah juga meningkat. Peningkatan tersebut memudahkan perpindahan OPT yang pemencarannya memerlukan bantuan barang dan orang sebagai media pembawa. Menyadari hal ini, banyak negara, terutama negaranegara maju seperti Selandia Baru, Australia dan AS, telah mengembangkan ketahanan hayati (biosecurity) sebagai pendekatan terintegrasi untuk menghadapi OPT bukan hanya di batas negara (border) atau setelah melampaui batas negara (post-border), melainkan ketika masih berada di luar batas negara masing-masing dengan menjalin kerjasama dengan negara-negara di mana OPT berbahaya telah ada (pre-border).

(a) (b) (c) Gambar 6.5. Ketahanan hayati di batas negara: (a) Pemeriksaan oleh petugas karantina Indonesia, (b) Pemeriksaan dengan bantuan anjing oleh petugas karantina Selandia Baru, dan (c) Pemeriksaan dengan bantuan anjing oleh petugas karantina Australia Liberalisasi perdagangan yang diwujudkan melalui pasar bebas yang melibatkan beberapa negara memungkinkan produk negara-negara yang tergabung dalam pasar bebas dapat beredar tanpa batasan tarif. Di satu pihak, liberalisasi perdagangan

Kebijakan Perlindungan Tanaman

99

Bahan Ajar Mandiri

memungkinkan barang dapat beredar dengan lebih mudah melewati batas-batas administratif negara. Di pihak lain, dengan alasan mengantisipasi ancaman masuknya OPT berbahaya dari negara lain, negara-negara maju menggunakan persyaratan karantina yang sangat ketat terhadap produk impor. Akibatnya, produk negara-negara berkembang sulit memasuki pasar negara-negara maju bukan karena hambatan tarif, tetapi hambatan non-tarif, sehingga bila permasalahan perlindungan tanaman tidak diperhatikan sebagaimana mestinya maka liberalisasi perdagangan akan menguntungkan negara-negara maju.

Ketegangan internasional sejak berakhirnya perang dingin ditandai antara lain dengan meningkatnya kegiatan terorisme. Kini, berbagai tindakan terorisme masih dilakukan dengan menggunakan senjata konvensional berupa bahan peledak. Seiring dengan kemajuan di bidang biologi bukan tidak mungkin di masa depan terorisme dilakukan dengan menggunakan senjata hayati, baik dengan sasaran langsung pada manusia maupun dengan sasaran tidak langsung terhadap ternak dan tanaman. Berbagai jenis organisme virulen dapat dibiakkan secara masal untuk kemudian dilepaskan sebagai senjata guna menghancurkan lawan. Dampak yang ditimbulkan mungkin tidak sedramatis dampak senjata konvensional, tetapi akan menimbulkan penderitaan berkepanjangan.

Demokratisasi yang semakin berkembang di Indonesia sejak runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998 memungkinkan setiap orang dapat menyampaikan aspirasinya secara terbuka, termasuk aspirasi mengenai kebutuhan bahan pangan bermutu. Bila dahulu orang menerima saja beras bermutu rendah, kini orang berani mengemukakan keluhannya bila tidak dapat memperoleh beras dengan mutu yang diinginkan. Demikian juga dengan harga, dahulu orang tidak berani berbuat macam-macam kalau harga beras naik, tetapi kini orang dapat melakukan unjuk rasa. Menghadapi kenyataan ini, pemerintah harus mampu menjaga mutu dan stabilitas harga beras padahal ke depan, permasalahan OPT akan semakin rumit. Untuk maksud tersebut pemerintah perlu merumuskan kebijakan pangan secara tepat dan antisipatif terhadap kemungkinkak perkembangan permasalahan perlindungan tanaman ke depan.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

100

Bahan Ajar Mandiri

Desentrasilisasi dan otonomi daerah memungkinkan daerah mengatur diri sendiri melalui perumusan kebijakan yang paling tepat bagi daerah masing-masing. Akan tetapi karena euforia setelah selama puluhan tahun pemerintahan dikendalikan secara sangat sentralistik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah justeru menghasilkan kebijakan yang kontra-produktif. Misalnya, ada pemerintah daerah yang membuat kebijakan untuk memungut retribusi terhadap bahan pangan yang dimasukkan dari daerah lain padahal daerah yang bersangkutan bukan penghasil bahan pangan yang dapat mencukupi kebutuhan penduduknya. Demikian juga dengan kebijakan dalam bidang perlindungan tanaman, ada pemerintah daerah yang tidak bersedia mengakui keberadaan OPT berbahaya tertentu karena khawatir tidak lagi dapat mempertahankan statusnya sebagai pusat produksi komoditas tertentu. Padahal, seiring dengan perubahan paradigma perlindungan tanaman, keberadaan OPT perlu dikomunikasikan sedini mungkin.

Berbagai tantangan perlindungan tanaman yang diperkirakan akan terjadi tersebut di atas perlu diantisipasi melalui perumusan kebijakan yang sesuai dengan paradigma perlindungan tanaman yang berkembang. Ketahanan hayati sebagai paradigma baru perlindungan tanaman mengharuskan dirumuskan kebijakan yang tidak hanya reaktif, tetapi proaktif. OPT tidak boleh lagi baru ditangani setelah pasca-batas, melainkan seharusnya sejak pra-batas. Untuk dapat merumuskan kebijakan perlindungan tanaman sejak pra-batas, diperlukan kemampuan untuk menjalin kerjasama dengan daerah dan negara tetangga.

Latihan Di antara berbagai kecenderungan yang paling banyak mendapat perhatian dewasa ini adalah pemanasan global. Pelajari lebih mendalam bagaimana sebenarnya pemanasan global terjadi dengan mengunjungi situs IPCC (International Panel on Climate Change) dan NOAA )National Oceanographic and Atmospheric Administration). Situs lainnya: http://timeforchange.org/definition-for-global-warming-what-is-global-warming

Rangkuman Berbagai kecenderungan perubahan yang terjadisaat ini di masa depan akan memperumit permasalahan perlindungan tanaman di masa depan. Kecenderungan tersebut di antaranya adalah peningkatan jumlah dan distribusi geografik penduduk, Kebijakan Perlindungan Tanaman 101

Bahan Ajar Mandiri

pemanasan global, globalisasi, liberalisasi perdagangan, teroriesme, demokratisasi, serta desentralisasi dan otonomi daerah. Untuk menghadapi permasalahan perlindungan tanaman yang semakin rumit, diperlukan kebijakan perlindungan yang bukan hanya bersifat reaktif, tetapi seharusnya lebih proaktif.

PENUTUP

Tes Formatif 1) Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi permasalahan perlindungan tanaman karena: a) Eksplosi OPT dapat menyebabkan ancaman terhadap ketahanan pangan b) Penduduk yang banyak memerlukan bahan pangan yang beanekaragam c) Laju pertumbuhan jumlah penduduk lebih tinggi daripada laju produksi pangan d) Penduduk yang banyak sulit diajak bekerjasama melaksanakan pengendalian OPT e) a sampai d semuanya benar 2) Manakah di antara pilihan berikut merupakan permasalahan perlindungan tanaman yang berkaitan dengan liberalisasi perdagangan? a) Hambatan tarif b) Hambatan non-tarif c) Karantina d) Pasar bebas e) Globalisasi 3) Bagi negara-negara tropik seperti halnya Indonesia, pemanasan global dapat menimbulkan masalah perlindungan tanaman karena: a. Pemencaran OPT ke kawasan sub-tropika b. Pemencaran OPT antar pulau c. Pemencara OPT dengan bantuan angin d. Pemencara OPT dengan bantuan air e. Pemencara OPT ke elevasi lebih tinggi 4) Di antara pilihan berikut, manakah permasalahan perlindungan tanaman yang terkait dengan globalisasi? Kebijakan Perlindungan Tanaman 102

Bahan Ajar Mandiri


a.

Pemencaran OPT ke kawasan sub-tropika

b. Pemencaran OPT ke elevasi lebih tinggi c.

Pemencaran OPT melewati batas alam yang sebelumnya sulit dilintasi

d. Pemencaran OPT antar pulau e.

a sampai d semuanya salah

5) Manakah di antara pilihan berikut yang merupakan tindakan perlindungan tanaman pra-batas? a) Melakukan pemantauan agro-ekosistem b) Melakukan pengendalian sebelum padat populasi mencapai AE c) Melakukan pergiliran tanaman d) Mendanai kegiatan perlindungan tanaman di daerah/negara tetangga e) Memperketat prosedur karantina

Kunci Jawaban dan Cara Menghitung Nilai Hasil Belajar Kunci jawaban diberikan secara terpisah pada Lampiran 2. Jawab semua pertanyaan terlebih dahulu dan kemudian baru cocokkan jawaban yang diberikannya dengan kunci jawaban pada Lampiran 1. Untuk menghitung nilai hasil belajar, setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar diberikan nilai 10. Nilai hasil belajar dihitung dengan menjumlahkan nilai jawaban dari seluruh pertanyaan dan kemudian mengalikan dengan 2. Nilai yang diperoleh kemudian dikategorikan sebagai berikut: >80 70-<80 60-<70 50-<60 <50 : sangat memuaskan : memuaskan : cukup : kurang : gagal

Tindak Lanjut Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil kurang atau gagal, pelajari kembali keseluruhan materi modul. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil cukup, pelajari bagian dari kegiatan belajar yang memuat uraian mengenai pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan benar. Bila penilaian hasil belajar menunjukkan hasil memuaskan atau sangat memuaskan, pelajari kembali materi kegiatan belajar pada modul-modul sebelumnya untuk menghadapi ujian akhir semester. Apapun hasil belajar Kebijakan Perlindungan Tanaman 103

Bahan Ajar Mandiri

yang diperoleh, lakukan pengayaan pemahaman dengan membaca referensi yang dianjurkan pada Daftar Pustaka.

Glosarium bioterorisme: terorisme yang dilakukan dengan melepaskan atau menyebarkan agen hayati yang terdapat secara alami atau dalam bentuk termofifikasi manusia. demokratisasi: tindakan untuk menjadikan demokratis, perubahan ke arah keadaan politik yang lebih demokratis, proses untuk mentransformasi sebuah institusi untuk memenuhi norma-norma demokrasi desentralisasi: proses untuk menyebar tatakelola pengambilan keputusan menjadi lebih dekat kepada masyarakat atau publik, pemindahan sebagian kekuasaan pemerintahan dari pusat ke daerah, proses sosial yang melibatkan perlindahan penduduk dan industri ke luar dari pusat perkotaan ke daerah di sekitarnya liberalisasi perdagangan: penghapusan atau pengurangan berbagai hambatan terhadap aliran barang dan jasa dari satu negara ke negara lain melalui antara lain penghapusan tarif (bea masuk, subsidi ekspor) dan hambatan non-tarif (lisensi, kuota, dan standar arbitrer). otonomi daerah: pemberian kewenangan kepada daerah untuk mengatur sebagian urusannya sendiri. Di Indonesia, otonomi daerah dimaksudkan sebagai pengalihan kewenangan dan fungsi dari pemerintahan pusat ke pemerintahan daerah pemanasan global: peningkatan suhu rerata udara permukaan dan lautan bumi sejak pertengahan abad ke-20 dan proyeksinya ke depan, peningkatan suhu teramati dan diproyeksikan dari udara permukaan dan lautan bumi terorisme: penggunaan kekerasan secara sistematik terhadap penduduk sipil untuk mencapai tujuan politik, agama, atau ideologi tertentu; tindakan kekerasan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan penderitaan yang menguras emosi demi untuk memperjuangkan agenda tertentu Daftar Pustaka APS (American Phytopathological Society) (2002). Crop biosecurity and countering agricultural bioterrorism: Responses of the American Phytopathological Society. APSNet Feature Story. Aurambout, J.P., Finlay, K.J., Luck, J., & Beattie, G.A.C. (2009) A concept model to estimate the potential distribution of the Asiatic citrus psyllid (Diaphorina citri Kuwayama) in Australia under climate changeA means for assessing biosecurity risk. Ecological Modelling, 220(19), 2512-2524. doi:10.1016/j.ecolmodel.2009.05.010 Brooks, S.G.; & Wohlforth, W.C. 2000. Power, globalization, and the end of the cold war: Reevaluating a landmark case for ideas. International Security, 25(3), 34 37. Delane, R. (2001). Biosecurity for Australia requires collective action from all stakeholdersif not you, then who? Paper presented at Bio Security -A Future Imperative,Annual Meeting of the Australian Academy of Technological Sciences and Engineering; 10 October; Curtin University, Perth,Western Hoyt, K.; & Brooks. S.G. (2003). A double-edged sword: Globalization and biosecurity. International Security 28(3), 123148 Kebijakan Perlindungan Tanaman 104

Bahan Ajar Mandiri

Leitenberg, M.; Leonard, J.; & Spertzel, R. (2004). Biodefense Crosses the Line. Politics and the Life Sciences 22(2), 1-2. McDade, J. E.; & Franz, D. 1998. Bioterrorism as a public health threat. Emerging Infectious Diseases (Special Issue) 4:493-494. http://www.cdc.gov/ncidod/eid/vol4no3/mcdade.htm) Mudita, I W. (2010) Ketahanan hayati (biosecurity) untuk mengantisipasi tantangan pembangunan pertanian ke depan. Makalah dipresentasikan pada Seminar dalam Rangka Ulang Tahun ke 29 Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana di Kupang pada 18 Desember 2010. Nairn, M.E. (2001). An overview of Australias biosecurity record and future operating environment. Paper presented at Bio Security-A Future Imperative,Annual Meeting of the Australian Academy of Technological Sciences and Engineering; 10 October; Curtin University, Perth,Western Australia. Diakses pada 24 Mei 2002 dari www.atse.org.au /publications/reports/wa-biosecurity.htm) Rogers, P.; Whitby, S.; & Dando, M. 1999. Biological warfare against crops. Scientific American 280:70-75.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

105

Bahan Ajar Mandiri

Lampiran 1. Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester Matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman
Nama Matakuliah Program Studi Kompetensi Matakuliah : : : Kebijakan Perlindungan Tanaman Jumlah SKS : 3 (2-1) Agroteknologi Fakultas : Pertanian Menghasilkan lulusan yang mampu memahami dimensi kebijakan dan mengaplikasikan pendekatan kebijakan dalam mengembangkan strategi dan program perlindungan tanaman yang tepat untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan Kriteria Penilaian Bobot (%)

Mgu 1

Kemampuan Akhir yang Diharapkan Materi/Pokok Bahasan Terstimulasi untuk menguasai Rancangan pembelajaran, kompetensi yang diharapkan kontrak kuliah, lembar tanggapan

2-3

4-5

6-7

Strategi Pembelajaran Latihan yang Dilakukan Pemeparan materi, a) Memberikan tanggapan balik dan usul proses pembelajaran, saran terhadap rencana proses dan motivasi untuk pembelajaran secara tertulis mencapai tujuan b) Teknik menjaga konsentrasi selama proses pembelajaran a) Mengidentifikasi masalah 1) Permasalahan, Ceramah, tanya a) Membagi mahasiswa dalam kelompok perlindungan tanaman pengertian, dan ruang jawab, diskusi yang terdiri atas 3-5 orang untuk b) Memahami pengertian kebijakan lingkup kebijakan menentukan satu permasalahan perlindungan tanaman perlindungan tanaman perlindungan tanaman yang ada di c) Menguraikan ruang lingkup NTT kebijakan perlindungan tanaman b) Meminta setiap kelompok untuk mendiskusikan permasalahan dan merangkum hasil diskusi dalam makalah (LK-1) untuk dikumpulkan pada minggu ke-4. a) Menjelaskan fungsi peraturan 2) Dasar hukum Ceramah, tanya a) Meminta mahasiswa untuk menelusuri perundang-undangan dalam kebijakan jawab, problem-based peraturan perundang-undangan kebijakan perlindungan tanaman perlindungan tanaman learning tertentu dan mengidentifikasi satu b) Menyebutkan berbagai peraturan topik dari berbagai peraturan perundang-undangan di bidang perundang-undangan tersebut perlindungan tanaman b) Meminta setiap mahasiswa untuk c) Mengkritisi peraturan perundangmengkritisi topik yang dipilih dan undangan di bidang perlindungan menyajikan dalam resume (LK-2) tanaman untuk dikumpulkan pada minggu ke-6 a) Menjelaskan alasan pestisida perlu 3) Kebijakan mengenai Ceramah, tanya a) Membagi mahasiswa dalam kelompok diatur melalui kebijakan khusus pestisida jawab, collaborative untuk menelusuri ijin peredaran b) Menyebutkan berbagai peraturan learning pestisida paling mutakhir perundang-undangan mengenai b) Meminta mahasiswa untuk pestisida mengunjungi toko sarana produksi c) Mengkritisi peraturan perundangpertanian guna mencari pestisida yang

Ketepatan, kekomprehensifan, kerapian

10

Ketepatan, kekomprehensifan, kekritisan, kerapian

20

Ketepatan, kekomprehensifan, kekritisan, kerapian

10

Kebijakan Perlindungan Tanaman

106

Bahan Ajar Mandiri

Mgu

Kemampuan Akhir yang Diharapkan Materi/Pokok Bahasan undangan mengenai pestisida

8-10

a) Menyebutkan dan menjelaskan 4) Dasar-dasar faktor-faktor yang mendorong pengendalian hama ditetapkannya PHT sebagai sistem terpadu (PHT) perlindungan tanaman 5) Pengendalian hama b) Menjelaskan pengertian, konsep, terpadu lanjut dan falsafah PHT c) Menyebutkan dan menjelaskan komponen PHT d) Menyebutkan dan menjelaskan perkembangan PHT di Indonesia e) Mengkritisi penerapan PHT di Indonesia

11-12 a) Memahami PHT secara lebih 6) Paradigma menyeluruh dengan mengkritisi perlindungan pascasecara lebih tajam berbagai aspek PHT pelaksanaannya b) Menjelaskan berbagai sektor yang berkaitan dengan perlindungan tanaman dan para pemangku kepentingan yang terkait c) Menyebutkan dan menjelaskan ketahanan hayati sebagai paradigma baru perlindungan lintas sektoral. 13-15 a) Menjelaskan alasan dan langkah- 7) Dasar-dasar langkah pengelolaan program Pengelolaan program perlindungan tanaman perlindungan tanaman b) Menjelaskan proses pengelolaan 8) Pengelolaan program program perlindungan tanaman perlindungan tanaman menurut pendekatan kerangka lanjut

Strategi Pembelajaran Latihan yang Dilakukan sudah dilarang beredar c) Meminta setiap kelompok membuat laporan mengenai temuan di lapangan (LK-3) untuk dikumpulkan pada minggu ke-8 Ceramah, tanya a) Membagi mahasiswa dalam kelompok jawab, project-based dan menugaskan setiap kelompok learning, discovery untuk memilih kelompok tani dan learning, jenis tanaman di suatu desa collaborative learning b) Menugaskan kelompok untuk menyiapkan daftar pertanyaan mengenai penerapan PHT oleh kelompok tani pada jenis tanaman yang telah dipilih c) Meminta setiap kelompok membuat laporan mengenai temuan lapangan (LK-4) untuk dikumpulkan pada minggu ke-11. Ceramah, tanya a) Meminta mahasiswa untuk jawab, problem-based menentukan paradigma perlindungan learning, self-directed tanaman yang digunakan saat ini learning b) Menugaskan mahasiswa untuk memilih satu jenis tanaman sebagai kasus untuk menentukan bagaimana seharusnya peran yang diambil oleh pemerintah daerah sehubungan dengan paradima pada butir (a) c) Meminta mahasiswa membuat resume (LK-5) untuk dikumpulkan pada minggu ke-13 Ceramah, tanya a) Membagi mahasiswa dalam kelompok jawab, project-based untuk memilih satu kategori tanaman learning, discovery (pangan, hortikultura, perkebunan) learning, b) Menugaskan kelompok untuk collaborative learning melakukan analisis situasi, analisis masalah, dan analisis strategi guna

Kriteria Penilaian

Bobot (%)

Ketepatan, kekomprehensifan, kekritisan, kekreatifan, kerapian

25

Ketepatan, kekomprehensifan, kekritisan, kerapian

10

Ketepatan, kekomprehensifan, kekritisan, kekreatifan, kerapian

15

Kebijakan Perlindungan Tanaman

107

Bahan Ajar Mandiri

Mgu

Kemampuan Akhir yang Diharapkan Materi/Pokok Bahasan kerja logis c) Melaksanakan perencanaan program perlindungan tanaman dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis

16

Strategi Pembelajaran Latihan yang Dilakukan menentukan permasalahan perlindungan tanaman c) Meminta kelompok untuk membuat matriks kerangka kerja logis program perlindungan tanaman untuk kategori tanaman yang dipilih (LK-6) untuk dikumpulkan pada minggu ke-16 a) Mengidentifikasi dan menjelaskan 9) Tantangan kebijakan Diskusi a) Meminta mahasiswa untuk berbagai faktor yang menjadi perlindungan tanaman menyebutkan faktor-faktor yang akan tantangan kebijakan perlindungan di masa depan menjadi tantangan perlindungan tanaman di masa depan tanaman di masa depan b) Menjelaskan bagaimana berbagai b) Meminta mahasiswa untuk kecenderungan perubahan yang mendiskusikan bagaimana kebijakan akan terjadi di masa depan dapat yang perlu diambil untuk menghadapi digunakan untuk merumuskan tantangan tersebut kebijakan perlindungan yang antisipatif

Kriteria Penilaian

Bobot (%)

Ketepatan, kekomprehensifan, kekritisan

10

Kebijakan Perlindungan Tanaman

108

Bahan Ajar Mandiri

Lampiran 2. Kunci jawaban tes formatif modul matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman Tes Formatif Modul 1 1. Jaban yang benar adalah b. Kebijakan nasional perlindungan tanaman didasarkan atas sistem Pengendalian Hama Terpadu yang mengamanatkan penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir. 2. Jawaban yang benar adalah e. Rekomendasi perlindungan tanaman kakao dari serangan PBK didasarkan atas penelitian pada perusahaan besar perkebunan kakao dengan lahan datar dan pohon kakao dipangkas pendek serta mempunyai modal usaha yang cukup untuk mempekerjakan tenaga kerja yang banyak untuk melaksanakan pembungkusan buah kakao dengan kantong plastik. Perkebunan kakao yang terdapat di daerah, termasuk di Provinsi NTT, dimiliki oleh petani yang mempunyai modal terbatas untuk membayar upah tenaga kerja. Kalaupun mempunyai modal, sulit dapat merekrut orang lain karena semua orang harus bekerja pada lahan masing-masing. Untuk membungkus buah kakao harus dengan memanjat karena pohon kakao pada perkebunan rakyat pada umumnya tidak dipangkas karena alasan pemali bahwa kalau dipangkas tanpa dibuatkan sesajen terlebih dahulu maka pohon tidak akan berbuah lebat. 3. Jawaban yang benar adalah a, ketahanan pangan merupakan akar dari banyak permasalahan perlindungan tanaman. Misalnya pada program jagungisasi, masyarakat membudidayakan jagung sebagai cadangan bahan pangan selama setahun sehingga harus dapat disimpan minimal selama satu tahun. 4. Jawaban yang benar adalah c karena program jagungisasi dilakukan melalui intensifikasi dengan menggunakan varietas unggul berdaya hasil tinggi, pembudidayaan secara monokultur, memberikan irigasi pada musim kemarau, dan dengan melakukan pemupukan. 5. Jawaban yang benar adalah c, pemerintah mengambil kebijakan yang kurang tepat dalam kaitan dengan pengendalian PBK, pengendalian belalang kembara, pelaksanaan program jagungisasi, dan penyembunyian OPT yang seharusnya dikendalikan pada tanaman jeruk. 6. Jawaban yang benar adalah c. Semua pilihan jawaban lainnya mengindikasikan adanya hal-hak khusus atau kepentingan yang menguntungkan pihak tertentu. 7. Jawaban yang benar adalah c. Dalam keadaan memaksa, darurat, bencana atau untuk keperluan khusus, kebijaksanaan dapat menjadi kebijakan. 8. Jawaban yang benar adalah b. Kebijakan perlindungan tanaman tidak perlu diambil karena adanya OPT merugikan banyak petani dalam wilayah yang luas, tindakan perlindungan tanaman dapat menimbulkan dampak yang berpotensi menyebabkan masalah baru, tindakan perlindungan tanaman dapat membahayakan kesehatan, tindakan perlindungan tanaman dapat menyebabkan biomagnifikasi. 9. Jawaban yang benar adalah a, kebijakan perlindungan tanaman diperlukan untuk melindungi kepentingan publik. 10. Jawaban yang benar adalah e. Alat mulut seranggan memang menentukan cara serangga merusak tanaman, tetapi tidak menentukan kemampuan menimbulkan tingkat kerusakan sehingga tidak menentukan pengambilan kebijakan.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

109

Bahan Ajar Mandiri

Tes Formatif Modul 2 1. Jawaban yang benar adalah c, setiap istilah yang digunakan perlu dijelaskan dan digunakan secara konsisten dalam seluruh pasal dan dalam pasal-pasal peraturan perundang-undangan lain yang terkait. 2. Jawaban yang benar adalah b. UU No. 12 Tahun 1992 mengatur tentang tindakan/kegiatan perlindungan tanaman yang terdiri atas pencegahan (karantina), pengendalian, dan eradikasi. UU No. 16 Tahun 1992 dan PP No. 14 Tahun 2002 mengatur kegiatan/tindakan pencegahan (karantina), sedangkan PP No. 6 Tahun 1995 merupakan penjabaran dari UU No. 12 Tahun 1992 dalam bidang perlindungan tanaman. 3. Jawaban yang benar adalah a. Istilah organisme pengganggu, tepatnya organisme pengganggu tumbuhan (OPT), sebelumnya tidak dikenal dalam buku-buku teks perlindungan tanaman. Istilah yang lazim digunakan adalah hama, penyakit, dan gulma. Ketiga istilah ini tidak benar-benar sama dengan OPT sebab penyakit bukanlah organisme, melainkan proses yang terjadi pada tanaman akibat infeksi oleh organisme penyebab (organisme patogenik atau patogen). 4. Jawaban yang benar adalah a. Istilah hama dan penyakit digunakan dalam kaitan dengan karantina hewan dan ikan, istilah OPT digunakan dalam kaitan dengan karantina tumbuhan. 5. Jawaban yang benar adalah c, konsep hama dalam PHT mencakup OPT dalam UU No. 12 Tahun 1992 dan OPTK dalam UU No. 16 tahun 1992. 6. Jawaban yang benar adalah e, yaitu pestisida merupakan bahan berbahaya dan beracun, perlu digunakan secara efektif dan efisien, dapat menimbulkan dampak yang merugikan terhadap kesehatan dan lingkungan hidup, serta untuk memenuhi ketentuan Codex Alimentarius 7. Jawaban yang benar adalah e. Pupuk tidak termasuk sebagai pestisida sebagaimana didefinisikan dalam PP No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Pemyimpanan dan Penggunaan Pestisida. 8. Jawaban yang benar adalah a. Selain residu yang berasal pestisida, BMR juga mencakup residu dari sumber lainnya. 9. Jawaban yang benar adalah a, bacalah secara kritis karena istilah dapat digunakan secara tidak konsisten dan tidak sesuai dengan teori mengenai perlindungan tanaman. 10. Jawaban yang benar adalah b, yaitu hama=padat populasi dan tingkat serangan OPT sesuai dengan penjelasan Ayat 1 Pasal 20 UU No. 12 Tahun 1992. 11. Jawaban yang benar adalah e. Sistem dalam hal ini diartikan sebagai landasan, pendekatan, strategi, atau falsafah. 12. Jawaban yang benar adalah a, Pasal 1 Ayat 1 UU No. 12 Tahun 1992 menyatakan bahwa Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem pengendalian hama terpadu Karena karantina dan eradikasi tanaman merupakan kegiatan/tindakan perlindungan tanaman maka harus dilakukan berdasarkan sistem PHT.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

110

Bahan Ajar Mandiri

13. Jawaban yang benar adalah b. Negara-negara maju mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap dan canggih untuk melakukan pengujian residu sehingga residu sekecil apapun akan dapat dideteksi. Negara-negara sedang berkembang pada umumnya mempunyai fasilitas yang terbatas, baik jumlah maupun tingkat kecanggihannya.

Tes Formatif Modul 3 1) Jawaban yang benar adalah b. Di Indonesia memang mula-mula dilakukan untuk mengatasi ledakan wereng cokelat, tetapi bukan berarti pertama kali digunakan terhadap wereng cokelat 2) Jawaban yang benar adalah b. Inpres No. No. 3/1987 sebenarnya tidak lmenyebutkan PHT secara langsung, tetapi memuat ketentuan mengenai pelarangan peredaran dan penggunaan jenis-jenis insektisida berspektrum lebar. Dengan larangan ini maka berarti secara tidak langsung memberikan dukungan terhadap penerapan PHT. 3) Jawaban yang benar adalah e. PHT dimaksudkan sebagai sistem perlindungan tanaman yang dilakukan dengan menggunakan satu atau beberapa cara pengendalian dan pestisida digunakan sebagai alternatif terakhir. PHT merupakan sistem pendukung pengambilan keputusan agar pengendalian OPT dapat dilakukan secara efisien. 4) Jawaban yang benar adalah d, obyek pengendalian dalam PHT adalah OPT sehingga mencakup binatang hama, patogen, dan gulma; bukan binatang hama, penyakit dan gulma karena penyakit bukan organisme. 5) Jawaban yang benar adalah b. PHT tidak dimaksudkan untuk mengendalikan semua OPT yang terdapat pada tanaman, melainkan untuk menurunkan padat populasi OPT tertentu. 6) Jawaban yang benar adalah b. Semua jawaban sebenarnya adalah sesuai dengan PHT, tetapi yang pokok adalah pengambilan keputusan pelaksanaan perlindungan tanaman. 7) Jawaban yang benar adalah c, yaitu semua cara dipertimbangkan dahulu secara masak-masak, pestisida baru kemudian digunakan setelah cara lain dianggap kurang efektif dan efisien. Pengertian penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir sering dipahami secara keliru. 8) Jawaban yang benar adalah d. PHT pada dasarnya merupakan instrumen pengambilan keputusan, di antaranya untuk memutuskan apakah perlu dilaksanakan suatu tindakan perlindungan tanaman. Keputusan bisa belum perlu dilakukan sehingga tindakan perlindungan tidak dilaksanakan atau baru perlu satu minggu kemudian setelah dilakukan pertimbangan terhadap hasil pemantauan dan analisis agroekosistem. 9) Jawaban yang benar adalah d karena pilihan d lebih lengkap dari pilihan lainnya yang semuanya juga benar. 10) Jawaban yang benar adalah a. Pengorganisasian petani seharusnya dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran petani berorganisasi, bukan untuk tujuan lainnya.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

111

Bahan Ajar Mandiri

11) Jawaban yang benar adalah c. Jawaban lainnya dapat diperdebatkan kebenarannya. Misalnya, penurunan penggunaan pestisida dimungkinkan karena adanya Inpres larangan peredaran dan penggunaan pestisida jenis tertentu. 12) Jawaban yang benar adalah d. Sifat ekologis merupakan kelebihan PHT 13) Jawaban yang benar adalah a. PHT perlu dipikirkan ulang karena globalisasi memungkinkan OPT berbahaya dapat masuk dengan cepat dari luar agro-ekosistem, sedangkan pasar bebas memungkinkan negara-negara maju menggunakan hambatan non-tarif untuk menolak masuknya produk pertanian yang masih mengandung residu pestisida. 14) Jawaban yang benar adalah c. Pada PHT-SL dan PHT masyarakat dilakukan pengambilan keputusan berdasarkan keputusan petani maupun berdasarkan sistem pakar, tergantung pada keperluan. 15) Jawaban yang benar adalah c. Melalui pengamatan agro-ekosistem petani belajar antara lain peristiwa makan memakan antara musuh alami dengan hama, padahal faktor sosial lainnya, misalnya kebijakan pemerintah daerah dan tekanan permintaan konsumen menentukan apakah petani akan mengurangi atau tetap menggunakan pestisida.

Tes Formatif Modul 4 1. Jawaban yang benar adalah a. Istilah pengendalian merupakan satu dari tiga tindakan/kegiatan perlindungan tanaman, yaitu pencegahan (karantina), pengendalian, dan eradikasi. Istilah hama juga bisa bersifat sangat sektoral bila diartikan dalam arti sempit, tetapi dalam PHT berarti luas (binatang hama, patogen, dan gulma). 2. Jawaban yang benar adalah a. Pengambilan keputusan berdasarkan hasil pemantauan berarti tindakan perlindungan tanaman baru dapat dilakukan setelah OPT ada di dalam hamparan. OPT yang belum ada di dalam hamparan tidak dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, meskipun OPT tersebut sangat berbahaya dan dapat memencar dengan cepat. 3. Jawaban yang benar adalah b. Pemerintahan yang dilaksanakan dengan tatakelola yang baik harus tanggap terhapap permasalahan yang dihadapi masyarakat, khususnya permasalahan yang memerlukan tindakan segera sebagaimana halnya permasalahan perlindungan tanaman. 4. Jawaban yang benar adalah a. Perpindahan orang dan barang menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat akan membantu pemencaran OPT melewati batas-batas alam yang tidak dapat dilewati oleh OPT bila harus memencar secara alami. 5. Jawaban yang benar adalah b. Untuk mengembangkan strategi perlindungan tanaman yang lebih antisipatif berarti diperlukan tindakan perlindungan ketika OPT belum ada di daerah sendiri. Dengan kata lain, OPT masih ada di daerah atau negara tetangga. 6. Jawaban yang benar adalah c. Semua pilihan jawaban lainnya benar mengenai ketahanan hayati, kecuali pilihan jawaban c. 7. Jawaban yang benar adalah c. Semua pilihan jawaban lainnya berada di luar konteks ketahanan hayati.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

112

Bahan Ajar Mandiri

8. Jawaban yang benar adalah e. Eutrofikasi merupakan fenomena yang terjadi karena oksigen di dalam badan perairan digunakan habis oleh tumbuhan air yang tumbuh subur karena pencemaran oleh pupuk. 9. Jawaban yang benar adalah a. Evaluasi risiko merupakan langkah pengelolaan risiko dalam bidang kesehatan hewan yang tidak dibakukan dalam langkah-langkah pengelolaan risiko ketahanan hayati. 10. Jawaban yang benar adalah b. Pengelolaan ketahanan hayati merupakan cara pandang, cara berpikir, dan cara bertindak baru dalam menghadapi risiko terhadap kehidupan mahluk hidup.

Tes Formatif Modul 5 1. Jawaban yang benar adalah b. Urutan pengelolaan program secara lengkap adalah penilaian, perancangan dan pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, perenungan, dan pengalihan. 2. Jawaban yang benar adalah d. Evaluasi merupakan kegiatan terikat waktu yang dilakukan untuk menilai secara sistematik dan obyektif relevansi, kinerja dan keberhasilan, atau kekurangan bilamana terjadi demikian, dari program atau proyek yang sedang dalam pelaksanaan atau sudah selesai dilaksanakan. 3. Jawaban yang benar adalah d. Pengalihan merupakan langkah untuk mengakhiri atau mengubah dukungan program atau proyek terhadap masyarakat dan menyerahkan kepada masyarakat untuk melanjutkan hasil-hasil yang telah dicapai. 4. Jawaban yang benar adalah c. Pemantauan merupakan proses pengumpulan informasi secara rutin untuk menunjukkan bahwa masukan dan pelaksanaan telah dilakukan dan keluaran telah diperoleh sesuai dengan rencana dalam rancangan program. 5. Jawaban yang benar adalah b. Perenungan merupakan proses perencanaan dan penyediaan waktu untuk mengajak mitra bersama-sama menganalisis informasi proyek atau program dan membuat keputusan dan rekomendasi mengenai perubahan yang perlu dilakukan terhadap program atau proyek yang mengarah pada dimungkinkannya transformasi program, individu, dan organisasi. 6. Jawaban yang benar adalah a. Pendekatan kerangka kerja logis merupakan metodologi perancangan program atau proyek secara berstruktur dan sistematik 7. Jawaban yang benar adalah e. Pohon permasalahan, pohon tujuan, tabel pemangku kepentingan, dan matriks kerangka kerja logis semuanya merupakan bagian dari pendekatan kerangka kerja logis. 8. Jawaban yang benar adalah d. Sasaran merupakan produk yang memberikan kontribusi terhadap pada tujuan sektorak atau nasional dan kontribusi terhadap dampak jangka panjang dan merupakan konsekuensi dari tercapainya sejumlah hasil. Sasaran bersifat kontributif, artinya ikut menyumbang, sehingga bukan seluruhnya merupakan produk program atau proyek. 9. Jawaban yang benar adalah a, lebih dari satu cara dapat digunakan untuk mencapai satu tujuan

Kebijakan Perlindungan Tanaman

113

Bahan Ajar Mandiri

10. Jawaban yang benar adalah c, matriks kerangka kerja logis menyajikan berbagai hierarki tujuan sehingga dengan mengaitkan maka setiap tujuan dalam analisis tujuan dapat ditentukan hierarkinya dalam matriks kerangka kerja logis. 11. Jawaban yang benar adalah a, meningkatnya kesejahteraan petani jeruk keprok soe. Sasaran ini terkait dengan konteks pembangunan pertanian secara nasional maupun di daerah. 12. Jawaban yang benar adalah e, jumlah petani yang dapat mengidentifikasi CVPD meningkat 20% setelah 6 bulan pelaksanaan kegiatan dibandingkan dengan pada awal kegiatan penyuluhan sesuai dengan ketentuan SMART. 13. Jawaban yang benar adalah c, bila keluaran dapat diperoleh maka akan didapat hasil. Hasil merupakan hierarki tujuan di atas keluaran. 14. Jawaban yang benar adalah a. Cara vetifikasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna menentukan capaian yang diperoleh untuk setiap indikator yang dibuat. 15. Jawaban yang benar adalah e. Sasaran merupakan hierarki tujuan di atas hasil dan keluaran sehingga cakupannya paling luas. Sasaran dapat mencakup beberapa hasil yang masing-masing mencakup beberapa keluaran.

Tes Formatif Modul 6 1. Jawaban yang benar adalah a. Jumlah penduduk yang besar memerlukan cadangan bahan pangan yang juga besar. Eksplosi OPT menyebabkan kehilangan hasil sehingga mengurangi produksi yang digunakan sebagai cadangan bahan pangan. Produksi bahan pangan merupakan aspek pasokan dalam ketahanan pangan (aspek lainnya adalah distribusi dan konsumsi). Pengurangan pasokan bahan pangan dalam jumlah sedikit akan berdampak besar terhadap ketahanan pangan bila jumlah penduduk banyak. 2. Jawaban yang benar adalah b. Liberalisasi perdagangan dimaksudkan untuk menghapus atau mengurangi berbagai hambatan terhadap aliran barang dan jasa dari satu negara ke negara lain melalui antara lain penghapusan tarif (bea masuk, subsidi ekspor) dan hambatan non-tarif (lisensi, kuota, dan standar arbitrer). Pemerintah negara-negara maju dapat menggunakan berbagai hambatan non-tarif untuk menghambat aliran barang dan jasa dari negara-negara berkembang. Ketentuan BRMP dapat dipandang sebagai hambatan non-tarif, demikian juga dengan berbagai lisensi terselubung lainnya, misalnya lisensi organik, dsb. 3. Jawaban yang benar adalah e. Pemanasan global akan menyebabkan suhu di wilayah pegunungan menjadi meningkat dari sebelumnya sehingga OPT yang semula hanya terdapat di dataran rendah dapat memencar ke pegunungan. 4. Jawaban yang benar adalah c. Globalisasi memungkinkan perpindahan orang dan barang dapat dilakukan melewati batas-batas alam yang sebelumnya sulit dapat dilewati dalam waktu singkat. 5. Jawaban yang benar adalah d. Negara-negara maju memberikan bantuan pengendalian OPT kepada negara tetangganya bukan tanpa tujuan, melainkan untuk menangkal OPT masuk ke negaranya.

Kebijakan Perlindungan Tanaman

114

Anda mungkin juga menyukai