Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Obat asli Indonesia adalah obat-obat yang diperoleh langsung dari bahanbahan alam yang terdapat di Indonesia, diolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan penggunaannya dalam pengobatan tradisional (Dalil ini sesuai dengan ketetapan yang tercantum dalam Undang-Undang tentang Farmasi tahun 1963 pasal 2 ayat c). Obat asli Indonesia hendaknya dipergunakan sebagai penyempurna usaha pengobatan dan mencakupi kebutuhan rakyat dalam logistik kesehatan. Penelitian (obat-obat asli Indonesia) terhadap hasil karya nenek moyang kita (babad, lontar, tambo) dalam hubungannya dengan latar belakang perkembangan ilmu pengobatan dan kebudayaan pada masa itu (Sastroamidjojo, 1997). Obat-obatan dalam bentuk tumbuh-tumbuhan dan mineral telah ada jauh lebih lama dari manusianya sendiri. Penyakit pada manusia dan nalurinya untuk mempertahankan hidup, setelah bertahun-tahun, membawa kepada penemuanpenemuan. Penggunaan obat-obatan walaupun dalam bentuk sederhana tidak diragukan lagi sudah berlangsung sejak jauh sebelum sejarah yang ditulis, karena naluri orang-orang primitif untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan merendamnya dalam air dingin atau menempelkan daun segar pada luka tersebut atau menutupnya dengan lumpur, hanya berdasarkan pada kepercayaan orangorang primitif belajar dari pengalaman dan mendapatkan cara pengobatan yang lebih efektif dari yang lain, dari dasar permulaan ini pekerjaan dengan terapi dimulai (Ansel, 1989). Tumbuhan obat mudah dikenali yaitu dapat diketahui dari baunya dan rasanya. Tumbuhan-tumbuhan obat berperan penting bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu pemerintah menganjurkan agar setiap tanah pekarangan yang masih kosong diwujudkan menjadi apotik hidup. Dalam rangka mewujudkan apotik hidup, membudidayakan berbagai tumbuhan dapat dikembangkan pada sebidang tanah yang khusus diperuntukkan tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat obat-obatan dengan pengelolaannya yang baik karena tumbuhan-tumbuhan yang mulus pertumbuhannya akan memberikan hasil-hasil yang baik bagi penggunaan

vii

sendiri maupun yang banyak dicari atau dibutuhkan oleh para pengusaha industri obat-obatan, apotik, maupun industri obat-obatan tradisional (Kertasapoetra, 1996). Saat ini dengan pesatnya perkembangan penelitian dalam bidang obat. Saat ini tersedia berbagai jenis pilihan obat sehingga diperlukan pertimbangan yang cermat dalam memilih obat untuk suatu penyakit. Temuan dan terobosan substansial di bidang obat telah memberikan konstribusi yang besar dalam meningkatan pelayanan kesehatan, namun perlu disadari bahwa obat dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan apabila penggunaannya tidak tepat. Obat sintesis merupakan obat yang telah banyak beredar dipasaran dengan bermacammacam merek dan kemasan, tetapi kelemahan dari jenis obat sintesis tersebut berupa efek samping yang dihasilkan dan juga harganya yang relatif mahal, bila dibandingkan dengan obat tradisional (Endarwati, 2005). Saat ini lebih dianjurkan menggunakan obat-obat tradisional, dengan begitu efek samping dari suatu obat dapat dikurangi. Oleh karena itu, dikembangkanlah budaya penggunaan obat dari alam, contohnya berupa batang Mandarahan yang hidup di wilayah Muara Hatip Desa Hulu Banyu Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan secara empiris diyakini berkhasiat sebagai obat pendarahan 1.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari pada percobaan ini adalah melakukan pemeriksaan

farmakognostik, yaitu pemeriksaan morfologi, anatomi, dan organoleptik tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.). 1.3 Manfaat Percobaan Maksud dari pada percobaan ini ialah untuk mengetahui morfologi, anatomi, dan organoleptik dari tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.), serta untuk mengetahui senyawa kimia yang terkandung pada tumbuhan tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA vii

2.1

Tumbuhan Kelembak merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan

untuk pengobatan di Indonesia. Bagian yang digunakan dalam tanaman ini adalah akar dan rhizomanya. Dengan indikasi untuk mengobati konstipasi, jaundice, amenorea (tidak haid). Zat aktif yang ada dalam tanaman ini antara lain turunan antrakinon (termasuk glikosida), rhein, emodin, chrysophanol, aloe- emodin, physcion (Depkes, 2010).

Gambar 2.1 Kelembak Rheum officinale atau kelembak ini tergolong tanaman C, fiksasi karbonnya terjadi melalui rubisko,enzim siklus Clvin yang menambahkan CO2 pada ribolusa bifosfat . produk fiksasi karbon organikn pertamanya ialah senyawa berkarbon 3 (3-fosfogliserat). Tumbuhan tipe C3 memproduksi sedikit makanan apabila stomatanya tertutup pada hari yang panas dan kering. Tingkat CO2 yang menurun dalam daun akan mengurangi bahan ke siklus Calvin. Yang membuat tambah parah, rubisko ini dapat menerima O2 sebagai pengganti CO2 . Karena konsentrasi O2 melebihi konsentrasi CO2 dalam ruang udara daun, rubisko menambahkan O2 pada siklus Calvin dan bukannya CO2. Produknya terurai, dan satu potong, senyawa berkarbon 2 dikirim keluar dari kloroplas. Mitokondria dan peroksisom kemudian memecah molekul berkarbon 2 menjadi CO2. Proses ini yang disebut Fotorespirasi. Akan tetapi tidak seperti respirasi sel, fotorespirasi tidak menghasilkan ATP. Dan tidak seperti fotosintesis, fotorespirasi tidak menghasilkan makanan, tapi menurunkan keluaran fotosintesis dengan menyedot bahan organik dari siklus Calvin. Tahapan siklus Calvin pada tanaman C3: Fase 1 : Fiksasi karbon, Siklus calvin memasukkan setiap molekul CO2 dengan menautkannya pada gula berkarbon 5 yang dinamai ribose bifosfat (RuBP). Enzim yang mengkatalis langkah ini adalah rubisko. vii

Produknya adalah intermediet berkarbon 6 yang demikian tidak stabil hinggga terurai separuhnya untuk membentuk fosfogliserat. Fase 2 : Reduksi, setiap molekul3-fosfogliserat menerima gugus fosfat baru. Suatau enzim mentransfer gugus fosfat dari ATP membentuk 1,3bifosfogliserat sebagai produknya. Selanjutnya sepasang electron disumbangkan oleh NADPH untuk mereduksi 1,3-bifosfogliserat menjadi G3P. G3P ini berbentuk gula berkarbon 3. Hasilnya terdapat 18 karbon karbohidrat, 1molekulnya keluar dan digunakan oleh tumbuhan dan 5 yang lain didaur ulang untuk meregenerasi 3 molekul RuBP Fase 3 : Regenerasi RuBP, Dalam suatu rangkaian reaksi yang rumity, rangkan karbon yang terdiri atas 5 molekul G3P disusun ulang oleh langkah terakhir siklus Calvin menjadi 3 molekul RuBP. Untuk menyelesaikan ini, siklus ini menghabiskan 3 molekul ATP . RuBP ini siap menerima CO2 kembali (Depkes, 2010). 2.1.1 Klasifikasi Tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) mempunyai klasifikasi sebagai berikut: Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Spermatophyta : Dicotyledonae : Polygonales : Polygonaceae : Rheum : Rheum officinale Baill. Sub divisi : Angiospermae 2 molekul 3-

(Depkes, 2010). 2.1.2 Morfologi Kelembak merupakan tumbuhan semak, tahunan, dan mempunyai tinggi 25-80 cm. Batangnya pendek, terdapat di dalam tanah, beralur melintang, masif, coklat. Daunnya tunggal, bulat telur, pangkal bentuk jantung dan

vii

berbulu,

ujung runcing, tepi rata, bertangkai 10-40 cm, pangkal tangkai daun

memeluk batang, panjang 10-35 cm, lebar 8-30 cm, hijau. Bunganya majemuk, berkelamin dua atau satu,bergabung menjadi malai yang bercabang, mahkota enam helai tersusun dalam lingkaran, benang sari sembilan, bakal buah bentuk segi tiga, tangkai putik melengkung, kepala putik tebal, putih kehijauan. Buahnya padi, bersayap tiga, bulat telur, merah. Akarnya tunggang, lunak, bulat, coklat muda (Depkes, 2010). 2.1.3 Nama Daerah Nama-nama daerah untuk kelembak yaitu di daerah Jawa Tengan dan Madura bernama Kelembak, dan di Sunda bernama Kalembak (Depkes, 2010). 2.1.4 Khasiat Tanaman ini mmiliki manfaat untuk: antispamodik, digunakan 2010). Mengobati konstipasi, jaundice, amenorea, akar kelembak menjadi komponen dalam rokok klembak menyan yg populer di kalangan masyarakat menengah ke bawah di DIY dan jateng kelembak juga dijadikan campuran dlm pembuatan jamu. Khasiat obatnya adalah sbg serta Pengobatan hepatitis B (Depkes, 2010). Masing-masing manfaat terperinci tiap bagiannya adalah sebagai berikut; Batangnya dapat mengobati malaria, sariawan dan batuk, Akarnya mengandung glikosida adstringent yang berkelakuan sebagai zat penyamak. Pada akarnya pula mengandung antrkuinon yang berefek purgative,dan tannin yang berefek melawan astringen atau dapat disebut maka dapat menimbulkan efek laksatif (Depkes, 2010). 2.1.5 Kandungan Kimia Secara umum tanaman ini mengandung kandungan : Asam Krisofat, krisofanin,rien-emodin, aloe-emodin, reokristin, alizarin, glukogalin, tetrazin, vii sebagai adstringent,tapi jika terlalu banyak dalam jumlah kecil efek astringen juga dibutuhkan,tapi laksatif penenang. Mengobati sembelit (konstipasi) dan membantu mengatasi penggumpalan darah dan nanah stomakik antimutagen, air tonik, purgatif, antipiretik,

astringent,

antiinflammatory,

antikolesterol, antiseptic, anti-hipertensi, antitumor dan antioksidan. Banyak untuk memudahkan besar dan sebagai pencahar (Depkes,

katekin, saponin, tannin 11,80%, amilum dan kuinon. Setiap bagian bagian tubuhnya mengandung zat-zat kimia yang berbeda; Akar dan daunnya mengandung flavonoida, di samping itu akarnya juga mengandung glikosida Reumemodin, krisofanol, rafontisin dan saponin, sedangkan daunnya sendiri mengandung polifenol, Antraglikosida dan frangula-emodin. Pada batangnya mengandung asam Krisofhanat, Emodian dan Rhein (Depkes, 2010). Antrakinon bebas sebagai krisofanol, aloe-emodin, rhein, emodin, dan emodin mono-etil eter (physcion). Senyawa tersebut juga terdapat dalam bentuk glikosida. Sejumlah glikosida dengan aglikon yang berhubungan dengan antrasena ditemukan dalam tanaman obat kelembak. Glikosida ini jika hidrolisis menghasilkan aglikon di-, tri-, atau tetrahidroksi antrakuinon atau modifikasinya. Contohnya jika frangulin dihidrolisis maka akan mengasilkan emodin (1,6,8trihidroksi-3-metil antrakuinon) dan rhamnosa. Antrakuinon bebas hanya memiliki sedikit aktivitas terapeutik. Residu gula memfasilitasi absorpsi dan translokasi aglikon pada situs kerjanya. Glikosida antrakuinon adalah katartik stimulant dan bekerja dengan cara meningkatkan tonus otot halus dari usus besar (Depkes, 2010). Biosintesis antrakuinon ditemukan dari studi mikroorganisma seperti Penicillium islandicum, spesies yang memproduksi derivate antrakuinon melalui pembentukan unit asetat melalui kondensasi dari kepala ke ekor. Yang pertama dibentuk adalah intermediet asam poli--ketometilen yang kemudian memberi variasi senyawa aromatic teroksigenasi mengikuti kondensasi intramolekular. Intermediet antranol dan antron akan membentuk antrakuinon. Emodin, senyawa seperti antrakuinon, dibentuk pada tanaman tinggi dengan jalur yang sama. Reaksi transglikosilasi membentuk glikosida muncul pada tahap akhir setelah inti antrakuinon terbentuk (Depkes, 2010). 2.1.6 Haksel Haksel yang dibuat pada tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) ini bagian akarnya yang berwarna coklat. Bentuk hakselnya adalah berupa potonganpotongan akar. 2.1.7 Serbuk

vii

Serbuk pada tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) ini diambil dari bagian akarnya. Serbuknya berwarna coklat tua dan berupa serbuk halus. 2.1.8 Pemeriksaan Farmakognostik Pemeriksaan farmakognostik tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) dilakukan dengan mengamati haksel dan serbuk yang meliputi pengamatan rasa, bau, warna, anatomi, dan karakterisasinya.

BAB III METODE PENGERJAAN 3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat Alat yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu: 1. Mikroskop elektrik 2. Kaca objek 4. Penggaris 5. Sendok tanduk vii

3. Pipet Tetes 3.1.2 Bahan

6. Cutter

Bahan yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu: 1. Serbuk tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) 2. Haksel tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) 3. Akuades 4. Florogusin 3.2 Cara Kerja

3.2.1 Pemeriksaan Haksel 1. Diambil haksel tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) 2. Diamati warna, bau, dan rasa haksel tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) 3.2.2 Pemeriksaan Serbuk 3.2.2.1 Pemeriksaan Anatomi 1. Diambil serbuk tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) 2. Serbuknya di letakannya pada kaca objek 3. Diamati pada mikroskop elektrik. 3.2.2.2 Pemeriksaan Organoleptis 1. Diambil serbuk tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) 2. Diperiksa Pemeriksaan warna, bau, dan rasanya. 3. Diamati karakteristiknya. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

4.1.1 Pemeriksaan Haksel

vii

Gambar 4.1 Haksel Karakteristik Bau Warna Rasa Keterangan Khas aromatis Coklatan Agak Pahit Tabel 4.1 Pemeriksaan Haksel 4.1.2 Pemeriksaan Serbuk 4.1.2.1 Pemeriksaan Anatomi Epidermis

Gambar 4.2 Pemeriksaan Serbuk Anatomi Pemeriksaan anatomi dengan mikroskop di dapatkan sel yang tak beraturan bentuknya dengan bagian-bagian epidermis. 4.1.2.2 Pemeriksaan Organoleptis

Gambar 4.3 Serbuk Kelembak Karakteristik Bau Warna Rasa Keterangan Khas aromatis Coklatan tua Pahit

Tabel 4.2 Organoleptis Serbuk 4.2 Pembahasan vii

Salah satu contoh dari tanaman yang berkhasiat sebagai obat adalah kelembak (Rheum officinale Baill.). Menurut masyarakat, tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) ini memiliki khasiat sebagai obat purgatif, antipiretik, antispamodik, antikolesterol, stomakik antimutagen, tonik, astringent, dan antiinflammatory, antioksidan. Di antiseptic, anti-hipertensi, antitumor

beberapa daerah, tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) sering diberikan nama yang berbeda-beda. Pada pemeriksaan farmakognostik ini dilakukan beberapa pemeriksaan, yaitu pemeriksaan morfologi, anatomi, dan organoleptis tanaman. Menurut hasil pemeriksaan morfologinya, tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) ini memiliki tinggi 25-80 cm. Batangnya pendek, terdapat di dalam tanah, beralur melintang, masif, coklat. Daunnya tunggal, bulat telur, pangkal bentuk jantung dan berbulu, ujung runcing, tepi rata, bertangkai 1040 cm, pangkal tangkai daun memeluk batang, panjang 10-35 cm, lebar 8-30 cm, hijau. Bunganya majemuk, berkelamin dua atau satu,bergabung menjadi malai yang bercabang, mahkota enam helai tersusun dalam lingkaran, benang sari sembilan, bakal buah bentuk segi tiga, tangkai putik melengkung, kepala putik tebal, putih kehijauan. Buahnya padi, bersayap tiga, bulat telur, merah. Akarnya tunggang, lunak, bulat, coklat muda. Pemeriksaan haksel didapatkan bahwa haksel tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) memiliki bau khas aromatis, rasa agak pahit dan warna coklat. Pemeriksaan anatomi serbuk tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) yang berwarna coklat tua diperiksa dengan menggunakan mikroskop elektrik, dimana anatomi yang terlihat yaitu bagian epidermis. Bagian anatomi ini terlihat dengan perbesaran 40 kali dengan ditetesi dengan larutan florogusin yang berfungsi untuk menyegarkan sel-sel yang telah mati, sehingga dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Serbuk tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) memiliki karakteristik serbuk yang halus berwarna coklat tua, rasanya pahit dan berbau khas aromatis. Serbuk tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) sesuai dengan Materia Medika Indonesia (MMI). Hasil dibandingkan dengan Materia Medika Indonesia (MMI) karena di Materia Medika Indonesia (MMI) merupakan karakteristik standar dari suatu simplisia.

vii

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan kesimpulan yang dapat diambil adalah :
1. Morfologi tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) mempunyai tinggi 25-

80 cm. Batangnya pendek, daunnya tunggal, bunganya majemuk, berkelamin dua atau satu, buahnya padi, akarnya tunggang.
2. Serbuk tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) yaitu dari akarnya yang

mempunyai rasa pahit, warna coklat tua, bau khas aromatis, serbuk yang halus dan hanya terlihat anatomi bagian epidermis . vii

3. Haksel tanaman kelembak (Rheum officinale Baill.) yaitu dari akarnya yang

memiliki warna coklat, bau khas aromatis, dan rasa yang agak pahit. 5.1 Saran Saran-saran yang dapat saya sampaikan adalah :
1. Tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) mempunyai khasiat untuk

mengobati berbagai macam jenis penyakit sehingga perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
2. Perlu

penelitian laboratorium tentang kandungan yang menyebabkab

tumbuhan kelembak (Rheum officinale Baill.) ini berkhasiat untuk mengobati berbagai jenis penyakit untuk menegaskan khasiat guna efektifitas dalam pemakaiannya.

DAFTAR PUSTAKA Ansel, C. Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Universitas Indonesia Press, Jakarta. Depkes. 2010. Isolasi Kuinon dari Akar Kelembak http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku1/ 1-251.pdf diakses pada tanggal 06 November 2011. Endarwati. 2005. Tanaman Indonesia. EGC, Jakarta. Kertasapoetra, G. 1996. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. PT Rineka Cipta, Jakarta. Sastroamidjojo, Seno. 1997. Obat Asli Indonesia. Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.

vii

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT PEMERIKSAAN FARMAKOGNOSTIK HAKSEL DAN SERBUK KELEMBAK (Rheum officinale Baill.)

vii

Oleh : Norain NIM J1E109036 Kelompok X Asisten : DESYANA NUFUS SHOLEHA NIM. J1E108054

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU NOVEMBER, 2011 LEMBAR PENGESAHAN Praktikum Farmakognosi I merupakan salah satu bagian dari keilmuan farmasi yang mempelajari tentang pemeriksaan farmakognostik dan identifikasi kimia sampel Praktek Lapangan dan Laboratorium. Laporan ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam ujian praktikum Farmakognosi I Program Studi Farmasi F-MIPA Universitas Lambung Mangkurat. Laporan ini telah diperiksa vii

kebenarannya oleh asisten praktikum pada tanggal 09 sampai dengan 10 November 2011.

Banjarbaru, November 2011 Asisten, Koordinator Praktikum,

Desyana Nufus Solehah Far., Apt NIM J1E108054 200604 2 001

Nashrul Wathan, S. NIP 19731225

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir Farmakognosi I guna memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti ujian praktikum Farmakognosi I. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Nashrul Wathan, S. Far., Apt selaku koordinator praktikum Farmakognosi I serta

vii

tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Desyana Nufus Solehah selaku asisten yang telah membantu proses penyelesaian laporan akhir ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pengetahuan yang penulis miliki masih sangat terbatas, sehingga kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah dikemudian hari. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Banjarbaru, November 2011

Novita Dewi Lestari NIM. J1E110005

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... KATA PENGANTAR ............................................................................................ DAFTAR ISI .......................................................................................................... DAFTAR TABEL .................................................................................................. BAB I 1.1 12 PENDAHULUAN .............................................................................. Latar Belakang ................................................................................... Tujuan Percobaan ............................................................................... ii iii iv vi 1 1 2

DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. vii

vii

1.3 BAB II 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.2 2.3 2.4 BAB III 3.1 3.1.1 3.1.2 3.2 3.2.1 3.2.2

Manfaat Percobaan ............................................................................. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. Tumbuhan ........................................................................................ Klasifikasi ........................................................................................ Morfologi ......................................................................................... Nama daerah .................................................................................... Khasiat ............................................................................................. Kandungan Kimia ............................................................................ Haksel .............................................................................................. Serbuk .............................................................................................. Pemeriksaan farmakognostik ........................................................... METODE PENGERJAAN .............................................................. Alat dan Bahan................................................................................. Alat .................................................................................................. Bahan ............................................................................................... Cara Kerja......................................................................................... Pemeriksaan Haksel ......................................................................... Pemeriksaan Serbuk .........................................................................

2 3 3 4 5 5 5 6 7 7 7 8 8 8 8 8 8 8 8 8 9 9 9 9 9 9

3.2.2.1 Pemeriksaan Anatomi ...................................................................... 3.2.2.2 Pemeriksaan Organoleptis ............................................................... BAB IV 4.1 4.1.1 HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ Hasil ................................................................................................. Pemeriksaan Haksel .........................................................................

4.1.2 Pemeriksaan Serbuk ..................................................................................... 4.1.2.1 Pemeriksaan Anatomi ...................................................................... 4.1.2.2 Pemeriksaan Organoleptis ............................................................... 4.2 BAB V 5.1 5.2

Pembahasan ..................................................................................... 11 PENUTUP ....................................................................................... 12 Kesimpulan ...................................................................................... 12 Saran................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 13

vii

DAFTAR TABEL Hal Tabel 4.1 Pemeriksaan Haksel .............................................................................. Tabel 4.2 Pemeriksaan Organoleptis ..................................................................... 8 8

vii

DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 2.1 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Kelembak ........................................................................................ Pemeriksaan Haksel ......................................................................... Pemeriksaan Anatomi ...................................................................... Pemeriksaan Organoleptis ............................................................... 3 9 9 9

vii