Anda di halaman 1dari 9

STATUS PENDERITA I. IDENTITAS Nama Umur Agama Alamat Pekerjaan No. RM II. ANAMNESIS A.

Keluhan Utama Gatal dan kemerahan di tangan kiri setelah gips dilepas. B. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien merupakan konsulan dari bagian Bedah. Kurang lebih 1 minggu yang lalu, pasien mengatakan tangan kiri terasa gatal setelah gips dilepas. Gatal disertai kulit kemerahan, kemudian pasien menggaruknya. Pasien mengatakan bahwa rasa gatal bertambah saat berkeringat. Untuk mengurangi rasa gatal, pasien memberi baby oil, tetapi keluhan tidak berkurang. Pasien juga mengatakan selalu memakai baby oil saat merasa gatal atau dingin dan tidak timbul gatal atau kemerahan setelah menggunakannya. Pasien tidak berobat. Kurang lebih 7 minggu yang lalu, pasien mengalami patah tulang tangan kiri sehingga tangan kiri di gips. Pasien memakai gips selama 6 minggu. Pasien tidak mengeluh gatal pada tangan kiri selama pemakaian gips. Selama 6 minggu, bagian tangan kiri yang tertutup gips tidak terkena air. Pasien mengatakan belum pernah digips sebelumnya. C. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sakit serupa Riwayat alergi obat Riwayat alergi makanan : disangkal : disangkal : disangkal : Ny. E : 61 tahun : Islam : Surakarta : Ibu rumah tangga : 308966

Tanggal pemeriksaan : 29 Oktober 2011

Riwayat asma Riwayat hipertensi Riwayat DM D. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat sakit serupa Riwayat alergi obat Riwayat alergi makanan Riwayat asma Riwayat hipertensi Riwayat DM E. Riwayat Kebiasaan

: (+) : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : (+) nenek penderita : disangkal : disangkal

Pasien mengatakan selama ini tidak menderita penyakit serupa. Pasien mandi dua kali sehari dengan sabun antiseptik. Setelah mandi, pasien menggunakan baju yang baru. Pasien makan tiga kali sehari, dengan nasi dan sayur serta lauk pauk seperti telur, ayam, ikan, tempe dan tahu. Pasien tidak pernah mengalami gatal atupun kelainan lain setelah mengkonsumsi makanan tersebut. F. Riwayat Ekonomi Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga. Penderita hidup dengan suaminya. Pasien membayar dengan ASKES PNS. I. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis 1. Keadaan Umum 2. Vital Sign : KU baik, CM, Gizi kesan cukup : Tekanan darah : tidak dilakukan Nadi Pernafasan Suhu tubuh 3. Kepala 4. Mata 5. Telinga 6. Hidung : 84x/menit : 22x/menit : afebril

: dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

7. Mulut 8. Pipi 8. Leher 9. Punggung 10. Dada 11. Abdomen 12. Gluteus 14. Ekstremitas atas 15. Ekstremitas bawah B. Status Dermatologis

: dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : lihat status dermatologis : dalam batas normal

13. Inguinal dan Anogenital : dalam batas normal

Regio ekstremitas superior sinistra tampak papul eritem dan pustul multiple, diskret. Regio intercubiti sinistra tampak plak eritem. I. DIAGNOSIS BANDING 1. Dermatitis kontak alergi e.c pemakaian gips dengan infeksi sekunder 2. Tinea korporis. 3. Dermatitis kontak iritan e.c pemakaian gips 4. Kandidiasis 5. Dermatitis atopik.

I.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan mikroskopis elemen jamur dengan KOH pada daerah intercubiti dan pustul Pemeriksaan mikroskopis dengan KOH pada intercubiti : Tidak ditemukan hifa bersepta dan bercabang. Tidak ditemukan spora.

Pemeriksaan mikroskopis dengan KOH pada pustul : Tidak ditemukan hifa bersepta dan bercabang. Tidak ditemukan spora.

2. Pemeriksaan gram pada pustul Pemeriksaan gram pada pustule : Didapatkan PMN 20-30/LPB, Coccus gram (+) 5-10/LPB

I.

DIAGNOSIS KERJA Dermatitis kontak alergi dengan infeksi sekunder.

II. PLANING Pemeriksaan penunjang uji temple setelah lesi hilang dan 1 minggu setelah penghentian kortikosteroid maupun antihistamin. III. TERAPI Non Medikamentosa : 1. Tidak menggaruk lesi 2. Meminum obat dan mengoleskan obat sesuai anjuran dokter 3. Monitoring perkembangan lesi. Medikamentosa : 1. Asam fusidat cream, dioles 2 kali sehari 2. Mebhydrolin napadisylate tablet, 2 kali sehari. I. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam Ad kosmetikam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

TUGAS 1. Perbedaan DKI dan DKA No . 1. 2. 3. Penderita 4. Reaksi 5. Lokasi Inflamasi lokal non imunologik Hanya di daerah yang terpapar iritan Penyebab Permulaan penyakit DKI Iritan Kontak pertama, tidak didahului fase sensitisasi Semua orang DKA Alergen Kontak berulang, didahului fase sensitisasi Orang yang sudah alergis Imunitas seluler (tipe IV, lambat) Di daerah yang terpapar alergen ataupun yang tidak terpapar, karena sel T 6. 7. Keluhan utama Uji tempel Burning sensation Eritem berbatas tegas, bila uji tempel diangkat reaksi berkurang memori berdar di seluruh tubuh Itching sensation Eritem batas tidak tegas, bila uji tempel diangkat reaksi menetap atau bertambah 2. Diagnosa banding yang lain untuk kasus ini adalah : Kandidiasis intertriginosa UKK yang ditemukan hampir sama dengan UKK kandidiasis intertriginosa yaitu lesi pada daerah lipatan berupa bercak berbatas tegas, eritematosa. Selain itu, lesi utama dikelilingi lesi satelit berupa

pustul-pustul. Akan tetapi, pada pemeriksaan mikroskopik kerokan dengan KOH tidak ditemukan hifa maupun spora, maka diagnosa banding ini dapat disingkirkan

Dermatitis atopik UKK dan gejala yang ditemukan pada pasien hampir sama dengan UKK dan gejala pada dermatitis atopik yaitu rasa gatal yang menyebabkan pasien menggaruk sehingga timbul berbagai macam UKK seperti papul dan eritem. Pada dermatitis, biasanya lesi ditemukan di daerah lipatan dan simetris, sedangkan pada pasien ini lesi hanya ditemukan unilateral. Akan tetapi perlu ditanyakan kembali pada pasien, mengingat pasien memliki riwayat asma, apakah pasien memiliki kriteria mayor maupun minor untuk menegakkan diagnosa ini.

1.

Pencampuran krim asam fusidat dan krim desoksimetason dilakukan dengan pertimbangan kedua bahan jenisnya sama yaitu krim. Pertimbangan yang kedua adalah untuk kepatuhan pasien, mengingat usia pasien yang sudah termasuk usia lansia. Akan tetapi, sebaiknya pencampuran ini tidak dilakukan. Sebaiknya diberikan antibiotik topikal terlebih dahulu. Setelah pustul hilang, pemeriksaan gram tidak ditemukan bakteri, dan masih ditemukan tanda peradangan dapat diberikan kortikosteroid topikal. Untuk saat ini, terapi untuk tanda peradangan dapat menggunakan antihistamin. Antihistamin akan menghambat aktivasi histamin yang dapat menyebabkan dilatasi vaskuler dan peningkatan permeabilitas.

2.

Mebhidrolin napadisilat termasuk agonis histamin (AH1) generasi pertama yang mempunyai efek sedatif. Hal ini dikarenakan anti histamine generasi pertama bersifat non selektif sehingga dengan sifat lipofilik yang dimilikinya dapat menembus sawar darah otak. AH1 akan menempel pada reseptor H1 di

otak. Dengan tiadanya histamine yang menempel pada reseptor H1 sel otak, kewaspadaan akan menurun dan timbul rasa mengantuk. Mebhidrolin napadisilat diresepkan pada pasien ini karena pasien mengeluh bahwa rasa gatal mengganggu tidur pasien. Selain itu, antihistamin ini diresepkan dengan pertimbangan usia pasien (61 tahun) yang bukan usia produktif.