Anda di halaman 1dari 8

Tumor odontogenik yang biasanya jinak yang dikenal sebagai ameloblastoma pertama kali dikenal pada tahun 1827

oleh Cusack, tapi belum memiliki sebutan apapun pada saat itu. Pada tahun 1885 jenis neoplasma odontogenik tersebut dikenal sebagai adamantinoma oleh Malasses dan akhirnya bergant nama menjadi ameloblastoma pada tahun 1930 oleh Ivey danChurchill. Penggunaan nama ameloblastoma dan adamantinoma masih menjadi kontroversi, namun pada dasarnya mereka berbeda dalam hal istologi dan malignansinya. Odontogenic cysts,Tumors and Related Jaw Lesions (Chung, Cox, & Ochs, 2006) 1. Odontogenik berarti berasal dari struktur pembentuk gigi. 2. Tumor odontogenik sangat jarang. Hanya berkisar 1 % dari keseluruhan biopsi yang dilakukan ahli bedah mulut. 3. Lesi pada rahang perlu mendapat perhatian khusus karena potensinya menyebabkan kerusakan jaringan sekitar dan keperluan rekonstruksinya. KISTA ODONTOGENIK 1. Merupakan kista sejati yang dilapisi epitel 2. Lapiusan kista tersusun dari dsalah satu lapisan berikut : a. Sisa epitel enamel, yaitu sisa epitel yang mengelilingi mahkota giga setelah pembentukan enamel selesai, b. Terbentuk dari Malasseza, yaitu sisa selubung akar Hertwig yang terus berada di dalam ligamentum periodontal setelh pembentukan akar selesai, atau c. Sisa lamina gigi ( sisa dari serres) 3. Kista odontogenik dapat meradang dan terinfeksi, menyebabkan tanda dan gejala yang signifikan. 4. Dibagi menjadi dua sub : inflamantory cyst dan developmental cyst

INFLAMANTORY CYSTS Radicular cysts 1. Kista odontogenik yang paling sering ditemukan. 2. Tumbuh pada apeks gigi sebagai respon terhadap nekrosis pulpa akibat karies dentis atau trauma. 3. Tumbuh dari proses stimulasi inflamasi dan proliferasi sisa dari Malassez. 4. Debris seluler dalam lumen kista meningkatkan gradien osmotik dan cairan diangkut melewati dinding kista. 5. Vulume cairan kista makin meningkat dan akhirnya meningkatkan ukuran kista karena tekanan hidrolik. Pemeriksaan fisik dan radiologis 1. Sebagian besar kista radikuler, yang simptomatik, biasanya ditemukan secara tak sengaja dari pemeriksaaan radiologi 2. Kista radikuler jarang berdiameter lebih dari 1 cm, kecuali terjadi devitalisasi gigi yang berdekatan karena trauma. 3. Secara radiologis, kista radikuler berbentuk bundar atau oval, berbatas tegas, dan berdekatan/bersinggungan dengan apeks gigi terkait. 4. Kista dibatasi epitel skuamus berlapis dengan ketebalan yang bervariasi. Terdapat infiltrasi sel inflamatori yang bervariasi pada dindingnya, termasuk limfosit dan neutrofil. 5. Lumen kista mengandung debris seluler nekrotik. Tatalaksana 1. dilakukan ekstraksi gigi yang terinfeksi diikuti dengan enukleasi.

2. ekstraksi gigi yang tanpa diikuti pengambilan kista dapat menyebabkan pertumbuhan kista yang persisten. jika pengambilan kista tidak dilakukan secara complete, kista residual dapat tumbuh. Proses penyembuhan/pertumbuhan tulang terjadi dalam 6 bulan setelah kista radikuler diambil.

Developmental cysts Kista dentigerus 1. kista odontogenik tersering kedua 2. berkaitan dengan mahkota gigi yang tidak erupsi 3. kista bisa terletak lateral atau benar2 membungkus gigi yang terkait. 4. kista melekat pada region servikal gigi, biasanya molar ketiga bawah. 5. selain itu dapat juga megenai molar ketiga rahang atas, gigi taring atas dan bicuspids kedua mandibula juga sering terlibat karena gigi gigi diantara mereka sering terkena. Klinis dan radiologis 1. karena berkaitan dengan gigi impacted, akan terlihat area gigi yang kosong (missing tooth) di arkus. 4. kista biasanya asimptomatik. Dengan ukurannya yang makin membesar dapat menyebakan bone expansion 5. kista dentigerus berbatas tegas, biasanya terdapat gambaran radiolusensi unilokuler yang menyelubungi mahkota gigi yang gagal erupsi.

6. kista mandibula dapat mendesak gigi kedalam ramus atau tepi bawah mandibula. Sedangkan kista maksila dapat mendesak gigi kedalam sinus maksila kea rah dasar mata. Lumen kista dentigerus dilapisi epitel skuamusa bertingkat nonkeratin yang bervariasi dari 2 hingga 10 lapis.

Kista non odontogenik Kista duktus nasopalatine (kista kanalis incisivus) 1. kista duktus nasopalatia berasal dari sisa epitel kuktus nasopalatine dalam perkembangannya pada fase embrional. 2. Sebagian besar kista tersebut tumbuh di maksila anterior dekat dengan foramen incisivus. 3. kista duktus nasopalatina dapat asimtomatik maupun muncul pembengkakan jaringan lunakdi midline palatum durum anteriorkarena lesi telah menembus tulang 4. lesi berbatas tegas, heart-shaped, radiolusen unilokuler di midline palatum durum anterior. 5. jika kista berukuran besar, dapat menyerap, dapat menyerap akar gigi terkait. Beberapa kanalis incisivus normalsecara radiologis Nampak lebar, sehingga dapat mempersulit penegakan diagnose. 6. berkaitan dengan nomeor 5, ada kesepakatan dikalangan radiologist bahwa setiap lesi yang lebih besar dari 6 mm dianggap sebagai kista dan bukan pembesaran foramen incisivus. Jika tidak terdapat pembengkakan tulang atau jaringan lunak dan asimptomatik, diagnose duktus nasopalatina sulit ditegakkan. 7. histopatologi. Kista duktus nasopalatina dibatasi baik epitel skuamus bertingkat, kolumner bersilia atau epitel kuboid, atau ombinasi dari keduanya.

8. bervariasinya epitel tersebut menandakan apakah kista tersebut berasal dari epitel di palatum (skuamus bertingkat) atau lebih condong dari cavum nasi (kolumner bersilia). 9. treatment. Enukleasi biasa dilakukan walaupun dapat merusak syaraf dan pembuluh darah yang dapat mengakibatkan denervasi mukosa palatum anterior dan incisivus maksila. 10. jarang terjadi rekurensi.

Tumor odontogenik 1. Secara kolektif jarang namun merupakan kelompok lesi yang beragam dan komplikated. 2. tumor odontogenik tumbuh dari sel epitel atau sel mesenkim atau kedua duanya, yang berkaitan dengan struktur gigi. 3. sebagian besar tumor odontogenik adalah neoplasma murni, tetapi beberapa diantaranya berperilaku sebagai pertumbuhan hamartomatous. Tumor odontogenik pada umumnya berupa pembengkakan asimptomatik, yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya tulang, perpindahan posisi gigi dan ekspansi rahang. 4. jarang menyebabkan disfungsi nervus sensori. ODONTOMA 1. bukan true neoplasma namun lebih kearah pertumbuhan hamartomatous karena terbentuk selama pertubuhan gigi normal, hingga mencapai ukuran yang tetap. 2. lesi mengandung elemen enamel, dentin, cementum dan jaringan pulpa. 3. dapat diklasifikasikan menjadi :1)compound, jika membentuk struktur seperti gigi atau 2)kompleks, jika tak berbentuk

4. merupakan tumor odontogenik yang paling sering ditemui 5. lesi biasanya asimptomatik, ditemukan pada pemeriksaaan radiologi. 6. dapat menghambat erupsi gigi permanen 7. radioopaque dengan dinding batas tegas 8. pada dasarnya, odontoma tersusun oleh enamel,dentin,cementum dan jaringan pulpa 9. enukleasi dan kuretase

AMELOBLASTOMA 1. tanpa memperhitungkan odontoma, ameloblastoma merupakan tumor odontogenik yang paling sering. 2. tumbuh dari elemen epitel sisa dari perkembangan gigi: epitel enamel, sisa Serres, sisa Malassez atau lamina basalis mukosa rongga mulut. 3. lesi dapat juga tumbuh /terbentuk dari suatu folikel dental atau kista dentigerus. 4. beberapa kontroversi menyertai skema klasifikasi ameloblastoma 5. klasifikasi ameloblastoma :1) unicystic, 2) solid atau multicystic, atau 3) ameloblastoma perifer. 6. KLINIS & RADOLOGI. Ameloblastoma merupakan tumor jinak yang bersifat agresif. Dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat dan dapat tumbuh ke bagian yang dalam dan mengakibatkan deformitas wajah. 7. biasanya bersifat asimtomatik dan tidak mengakibatkan gangguan saraf sensorik. 8. paling sering mengenai mandibula posterior

9. radiografi. Tampak sebagai lesi radiolusens unilokulaer maupun multilokuler. Batas tidak jelas sehingga cukup sulit menentukan ukuran yang sesungguhnya. 10. dapat melakukan ekspansi ke kortikal bukal maupun lingual. Bahkan perforasi kortikal.

HISTOPATOLOGI 1. secara histology beragam. 2. bisa terdapat beragam focus, sehingga pengambilan sampel harus adkwat. 3. tidak berkapsul, sehingga menunjukkan pertumbuhan infiltrative ke jaringan sekitar. 4. epitel sel basal berupa kolumner hiperkromatik dan menunjukkan polaritas yang berbeda,

dimana nucleus bergerak dari kutub membrane basal ke kutub lainnya. Beberapa pola histology ameloblastoma telah dikenal. Dua terutama adalah pola folikular dan flexiform. TREATMENT. 1. Ameloblastoma yang terbatas pada batas epitel atau lumen dilakukan enukleasi dan kuretase. Kecil rekurens. 2. jika ameloblastoma tumbuh melintasi jaringan ikat atau kambuh, tindakan yang lebih agresif diperlukan. 3. jika memungkinkan, dilakukan reseksi hingga 1-1,5cm tulang yang membatasinya. 4. bila tidak melibatkan jaringan lunak dank eras di sekitarnya, angka kesembuhan mencapai 98%. 5. angka kekambuhan hingga 90% terjadi jika ameloblastoma yang lebih agresif dilakukan kuretase yang tidak adekwat.

6. follow up 5 tahun dan 10 tahun 7. metastaese menunjukkan lesi yang secara histologist sama dengan tumor primer. Walaupun tidak menunjukkan malignansi pada pemeriksaan sitologi, namun lesi tersebut dimasukkan sebagai ameloblastoma malignan. Jika pemeriksaan sitologi menunjukkan malignansi, maka disebut karsinoma ameloblastoma.