Anda di halaman 1dari 35

I.1 I.2 I.3 I.4 I.

LATAR BELAKANG TUJUAN PENULISAN ALASAN PEMILIHAN TOPIK RUMUSAN MASLAH TEKNIK PENGUMPULAN DATA

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang Kesenian, merupakan sebuah hasil maha karya manusia yang tidak bisa terlepas dari kehidupannya. Dari seni, akan tercipta sebuah keharmonisan dan kenikmatan, baik secara fisik maupun batiniah. Seni merupakan salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dengan perkembangan manusia yang berubah, seperti di era saat ini, era globalisasi. Seni tradisional, merupakan seni asli daerah yang sepatutnya kita lestarikan, dan dewasa ini kita harus selektif terhadap berbagai seni modern, yang sudah mengandung unsur kebarat-baratan. Cara yang sepatutnya kita lakukan adalah selalu menggunakn seni tradisional tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh kesenian tradisional yang dewasa ini mulai redup adalah karawitan. Sebuah seni tradisonal asli jawa yang dalam permainanya memaadukan sebi vokal dan seni instrumental. Seni tersebut memang memiliki keunikan tersendiri, seni ini bisa dikatakan sebagai center dari seni lain, karena karawitan dapat menggabung dengan seni lain semisal seni jaranan. Di Tulungagung pelestarian karawitan mulai nampak, semisal terdapat beberapa paguyuban karawitan dan kesenian karawitan mulai dijadikan salah satu ekstrakulikuler di berbagai sekolah di Tulungagung.

Sehingga, dalam makalah ini kami akan mengupas secara mendalam seni karawitan, yang nantinya akan kami bahas pada bab II makalah kami.

I.2 Alasan Pemilihan Topik Karawitan merupakan seni unik yang sekarang ini jarang dimainkan oleh kebanyakan orang. Namun dibalik semua itu karawitan merupakan seni tradisional yang berperan aktif dalam perkembangan seni lainnya. Seni karawitan semisal, dapat dipadukan dengan seni lain seperti seni jaranan. Sehingga topik kami dalam makalah ini adalah kesenian karawitan yang berada di Kabupaten Tulungagung.

I.3 Pembatasan Topik

Pada makalah ini, kami membatasi pembahasan permasalahan hanya pada: 1. Identifikasi Kesenian Karawitan 2. Beberapa instrumen music yang terdapat pada karawitan 3. Upaya Pelestarian Kesenian Karawitan Dengan membatasi permasalahan, yang dibahas, kami berharap para pembaca lebih mudah untuk memahami konteks masalah/ topik yang kami angkat.

I.4 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini antara lain : 1. Memenuhi tugas penyusunan makalah, dari mata pelajaran kesenian. 2. Menambah pengetahuan mengenai kesenian tradisional, khusunya karawitan. 3. Meningkatkan kreativitas dan daya imajinasi siswa dalam menyusun makalah ini. 4. Menanamkan rasa bangga terhadap kesenian Indonesia terutama dari daerah jawa 5. Ikut serta dalam upaya pelestarian kesenian tradisional yang saat ini mulai luntur.

I.5 Teknik Pengumpulan Data Dalam penyusunan makalah ini, kami mengharapkan hasil yang semaksimal mungkin. Oleh karena itu, kami berusaha mengumpulkan data-data atau refrensi yang akurat, sehingga makalah ini dapat terselasaikan dengan baik. Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan : y Teknik Pengamatan / Observasi

Dalam teknik ini kami melakukan pengamatan di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa, Kabupaten Tulungagung yang merupakan pusat latihan Paguyuban Anggana Raras.

Teknik Wawancara

Dalam teknik ini, kami mencari narasumber yang akurat, yaitu salah satu anggota paguyuban Anggana Raras, yaitu bapak Dandung P.S. y Teknik Study Elektronik

Untuk melengkapi data dan mencari informasi pendukung , kami melakukan pengumpulan data dari internet.

II.1

IDENTIFIKASI KARAWITAN

II.2 SEJARAH SENI KARAWITAN II.3 PENYEBARAN SENI KARAWITAN II.4 ALAT MUSIK SENI KARAWITAN II.5 PESINDEN DALAM KARAWITAN II.6 UPAYA PELESTARIAN SENI KARAWITAN II.7 BIODATA TOKOH DAN HASIL WAWANCARA

BAB II PEMBAHASAN

I.1

Identifikasi Karawitan Karawitan adalah seni suara daerah baik vokal atau instrumental yang

mempunyai klarifikasi dan perkembangan dari daerahnya itu sendiri. Karawitan di bagi 3, yaitu: 1. Karawitan Sekar Karawitan Sekar merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan terhadap unsur vokal atau suara manusia. 2. Karawitan Gending Karawitan Gending merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan unsur instrumental atau alat musik. 3. Karawitan Sekar Gending Karawitan Sekar Gending adalah salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya terdapat unsur gabungan antara karawitan sekar dan gending Pengertian dari karawitan itu sendiri secara khusus dapat diartikan sebagai Seni Musik Tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia.

I.2 Sejarah Seni Karawitan Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrument sebagai pernyataan musical yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari

bahasa jawa rawit berarti rumit, berbelit belit, tetapi rawit juga bararti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada nondiatonis ( dalam laras slendro dan pelog ) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memilikia fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar. Seni gamelan jawa mengandung nilai-nilai histories dan filsofis bagi bangsa Indonesia. Dikatakan demikian sebab gamelan jawa merupakan salah satu seni budaya yang siwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni. Secara Hipotesis, masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah mengenal sepuluh keahlian, diantaranya adalah wayang dan gamelan. Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana. Kini siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa yang termasuk kategori pusaka (Timbul Haryono, 2001). Secara filosofis gamelan jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikaian disebabkan filsafat hidup masyarakt Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jwa serta berhubungan dekat dengan perkembangan religi yang dianutnya. Istilah gamelan telah lama dikenal di Indonesia, sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa Kuno. Arti kata gamelan, sampaio sekarang masih dalam dugaan-dugaan. Mungkin juga kata gamelan terjadi dari pergeseran atau

perkembangan dari kata gembel. Gembel adalahalat untauk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan dipukul-pukul. Barang yang sering dipukul namanya pukulan, barang yang sering diketok namanya ketokan atau kentongan, barang yang sering digembal namanya gembelan. Kata gembelan ini bergeser atau berkembang menjadi gamelan. Mungkin juga karena cara membuat gamelan itu adalah perunggu yang dipukul-pukul atau dipalu atau digembel, maka benda yang sering dibuat dengan cara digembel namanya gembelan, benda yang sering dikumpul-kumpulkan namanya kempelan dan seterusnya gembelan berkembang menjadi gamelan. Dengan kata lain gamelan adalah suatu benda hasil dari benda itu digembel-gembel atau dipukulpukul (Trimanto,1984). Bagi masyarakat Jawa gamelan mempunyai fungsi estetika yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Kita harus bangga memiliki alat kesenian tradisional gamelan. Keagungan gamelan sudah jelas ada. Duniapun mengakui bahwa gamelan adalah alat musik tradisional timur yang dapat mengimbangi alat musik barat yang serba besar. Di dalam suasana bagaimanapun suara gamelan mendapat tempat di hati masyarakat. Gamelan dapat digunakan untuk mendidik rasa keindahan seseorang. Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan, rasa kesetiakawanan tumbuh, tegur sapa halus, tingkah laku sopan. Semua itu karena jiwa seseorang menjadi sehalus gendhing-gendhing (Trimanto, 1984).

I.3 Penyebaran Seni Karawitan Penyebaran seni karawitan terdapat di Pulau Jawa, Sumatra, Madura dan Bali. Karawitan memainkan alat musik bernama gamelan, sebagai contoh Gamelan Pelog/Salendro, Gamelan Cirebon, Gamelan Degung dan Gamelan Cianjuran (untuk bentuk sajian ensemble/kelompok). Dalam prakteknya, karawitan biasa digunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian, tapi tidak tertutup kemungkinan untuk mengadakan pementasan musik saja.

I.4 Alat Musik Seni Karawitan Gong, kenong, saron, kendang, demung, kendang, slemthem, gender, gambang, bonang, rebab, siter, peking

1. Gamelan

1.1 Gambar Gamelan Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan

10

dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan. Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan. Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

11

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu slndro, plog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

a. Jenis-jenis Gamelan
y y y y y y y y y y

Gamelan Jawa Gamelan Bali Gamelan Sunda Gamelan Banyuwangi Gamelan Banjar Gamelan Kutai Gamelan Sasak Gambang Kromong Gambang Semarang Gamelan Amerika (American Gamelan)

2. Gong

1.2 Gambar Gong

12

Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang

kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.

a. Daftar gong
y y y y y y y y y

Agung Babendil Bonang Coil Gong Gandingan Gong ageng Kempul Kempyang and ketuk Kenong

13

y y y y y y y y y y

Khong mon Kulintang chau gong nipple gong (boa gong) feng gong tam tam paiste symphonic flat gong rin gong Umpan

3. Kenong

1.3 Gambar Kenong

14

4. Saron
Saron (atau disebut juga ricik) adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan. Dalam satu set gamelan biasanya punya 4 saron, dan kesemuanya memiliki versi pelog dan slendro. Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung, dengan ukuran fisik yang lebih kecil. Tabuh saron biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu. Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara saron 1 dan saron 2. Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya. Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi peperangan misalnya, ricik ditabuh dengan keras dan cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, ricik ditabuh lambat namun keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan.

1.4 Gambar Tubuh Saron

15

1.5 Gambar Saron Dalam memainkan saron, tangan kanan memukul wilahan / lembaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya. Teknik ini disebut memathet (kata dasar : pathet = pencet)

5. Kendang

1.6 Gambar Kendang

Kendang adalah instrumen dalam gamelan Jawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu.Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut

16

kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek. Kendang kebanyakan dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang sudah lama menyelami budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri pengendang, sehingga bila dimainkan oleh satu orang denga orang lain maka akan berbeda nuansanya.

6. Demung
Demung adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan. Dalam satu set gamelan biasanya terdapat 2 demung, keduanya memiliki versi pelog dan slendro. Demung menghasilkan nada dengan oktaf terendah dalam keluarga balungan, dengan ukuran fisik yang lebih besar. Demung memiliki wilahan yang relatif lebih tipis namun lebih lebar daripada wilahan saron, sehingga nada yang dihasilkannya lebih rendah. Tabuh demung biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu, lebih besar dan lebih berat daripada tabuh saron. Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara demung 1 dan demung 2, menghasilkan jalinan nada yang bervariasi namun mengikuti pola tertentu. Cepat lambatnya dan keras

17

lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya. Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi

peperangan misalnya, demung ditabuh dengan keras dan cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, demung ditabuh lambat namun keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan. Ketika sedang dalam kondisi imbal, maka ditabuh cepat dan keras.

1.7 Gambar Demung dan tabuh demung ( di atasnya ) Dalam memainkan demung, tangan kanan memukul wilahan / lembaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya. Teknik ini disebut memathet (kata dasar: pathet = pencet)

7. Slenthem
Slenthem merupakan salah satu instrumen gamelan yang terdiri dari lembaran lebar logam tipis yang diuntai dengan tali dan direntangkan di atas tabung-tabung dan menghasilkan dengungan rendah atau gema yang mengikuti nada saron, ricik, dan balungan bila ditabuh. Beberapa kalangan menamakannya sebagai gender penembung. Seperti halnya pada instrumen lain dalam satu set gamelan, slenthem tentunya memiliki versi slendro dan versi pelog. Wilahan

18

Slenthem Pelog umumnya memiliki rentang nada C hingga B, sedangkan slenthem slendro memiliki rentang nada C, D, E, G, A, C'.

a. Cara memainkan
Cara menabuh slenthem sama seperti menabuh balungan, ricik, ataupun saron. Tangan kanan mengayunkan pemukulnya dan tangan kiri melakukan "patet", yaitu menahan getaran yang terjadi pada lembaran logam. Dalam menabuh slenthem lebih dibutuhkan naluri atau perasaan si penabuh untuk menghasilkan gema ataupun bentuk dengungan yang baik. Pada notasi C, D, E, G misalnya, gema yang dihasilkan saat menabuh nada C harus hilang tepat saat nada D ditabuh, dan begitu seterusnya. Untuk tempo penabuhan, cara yang digunakan sama seperti halnya bila menggunakan balungan, ricik, dan saron. Namun untuk keadaan tertentu misalnya demung imbal, maka slenthem dimainkan untuk mengisi kekosongan antara nada balungan yang ditabuh lambat dengan menabuh dua kali lipat ketukan balungan. Atau bisa juga pada kondisi slenthem harus menabuh setengah kali ada balungan karena balungan sedang ditabuh cepat, misalnya ketika gendhing Gangsaran pada adegan perangan.

8. Gambang Kromong
Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Bilahan Gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya

19

bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon). Orkes Gambang Kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsurunsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik lainnya yaitu gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong merupakan unsur pribumi. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya. Disamping lagu-lagu yang menunjukan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Persi, Balo-balo, Lenggang-lenggang Kangkung, Onde-onde, Gelatik Ngunguk dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Sipatmo, Phe Pantaw, Citnosa, Macuntay, Gutaypan dan sebagainya.

9. Bonang

1.8 Gambar Bonang Barung

20

1.9 Gambar Bonang Panembung

2.0 Gambar Bonang Penerus Satu set sepuluh sampai empat-belas gong- gong kecil berposisi horisontal yang disusun dalam dua deretan, diletakkan di atas tali yang direntangkan pada bingkai kayu. Pemain duduk di tengah-tengah pada sisi deretan gong beroktaf rendah, memegang tabuh berbentuk bulat panjang di setiap tangan. Ada tiga macam bonang, dibeda-bedakan menurut ukuran, wilayah oktaf, dan fungsinya dalam ansambel.

a. Bonang Barung :
Bonang berukuran sedang, beroktaf tengah sampai tinggi, adalah salah satu dari instrumen-instrumen pemuka dalam ansambel. Khususnya dalam teknik tabuhan pipilan, pola-pola nada yang selalu mengantisipasi nada-nada yang akan datang dapat menuntun lagu instrumen-instrumen lainnya. Pada jenis gendhing

21

bonang, bonang barung memainkan pembuka gendhing (menentukan gendhing yang akan dimainkan) dan menuntun alur lagu gendhing. Pada teknik tabuhan imbal-imbalan, bonang barung tidak berfungsi sebagai lagu penuntun ia membentuk pola-pola lagu jalin-menjalin dengan bonang panerus, dan pada aksen aksen penting bonang boleh membuat sekaran (lagu-lagu hiasan), biasanya di akhiran kalimat lagu.

b. Bonang Penerus :

Bonang yang paling kecil, beroktaf tinggi. Pada teknik tabuhan pipilan, bonang panerus berkecepatan dua kali lipat dari pada bonang barung. Walaupun mengantisipasi nada-nada balungan, bonang panerus tidak berfungsi sebagai lagu tuntunan, karena kecepatan dan ketinggian wilayah nadanya. Dalam teknik

tabuhan imbal-imbalan, bekerja sama dengan bonang barung, bonang panerus memainkan pola-pola lagu jalin menjalin.

10. Rebab

2.2 Gambar Rebab

22

Rebab,(Arab:

or

juga dilapalkan sebagai :rebap, rabab,

rebeb, rababah, al-rababa ) adalah alat musik gesek yang biasanya menggunakan 2 atau 3 dawai, alat musik ini banyak di temukan di negara-negara Islam. Alat musik yang menggunakan penggesek dan mempunyai tiga atau dua utas tali dari dawai logam (tembaga) ini badannya menggunakan kayu nangka dan berongga di bagian dalam ditutup dengan kulit lembu yang dikeringkan sebagai pengeras suara.

a. Dalam gamelan
Dalam musik Sunda, alat ini juga digunakan sebagai pengiring gamelan, sebagai pelengkap untuk mengiringi sinden bernyanyi bersama-sama dengan kecapi dan suling. Dalam gamelan Jawa, fungsi rebab tidak hanya sebagai pelengkap untuk mengiringi nyanyian sindhen tetapi lebih berfungsi untuk menuntun arah lagu sindhen

11. Siter dan celempung

2.2 Gambar Siter dan Celempung

23

Siter dan celempung adalah alat musik petik di dalam gamelan Jawa. Ada hubungannya juga dengan kecapi di gamelan Sunda. Siter dan celempung masing-masing memiliki 11 dan 13 pasang senar, direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri khasnya satu senar disetel nada pelog dan senar lainnya dengan nada slendro. Umumnya sitar memiliki panjang sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak ketika dimainkan, sedangkan celempung panjangnya kira-kira 90 cm dan memiliki empat kaki, serta disetel satu oktaf di bawah siter. Siter dan celempung dimainkan sebagai salah satu dari alat musik yang dimainkan bersama (panerusan), sebagai instrumen yang memainkan cengkok (pola melodik berdasarkan balungan). Baik siter maupun celempung dimainkan dengan kecepatan yang sama dengan gambang (temponya cepat). Nama "siter" berasal dari Bahasa Belanda "citer", yang juga berhubungan dengan Bahasa Inggris "zither". "Celempung" berkaitan dengan bentuk musikal Sunda celempungan. Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan. Jari kedua tangan digunakan untuk menahan, dengan jari tangan kanan berada di bawah senar sedangkan jari tangan kiri berada di atas senar. Siter dan celempung dengan berbagai ukuran adalah instrumen khas Gamelan Siteran, meskipun juga dipakai dalam berbagai jenis gamelan lain.

24

I.5

Pesinden dalam Karawitan

Pesinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu-satunya. Pesinden yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang. Pesinden juga sering disebut Sinden, menurut Ki-Mujoko Joko Raharjo (Alm) berasal dari kata "pasindhian" yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga disebut waranggana "wara" berarti seseorang berjenis kelamin wanita, dan "anggana" berarti sendiri. Pada zaman dahulu waranggana adalah satu-satunya wanita dalam pangung pergelaran wayang ataupun pentas klenengan. Sindhen memang seorang wanita yang menyanyi sesuai dengan gendhing yang di sajikan baik dalam klenengan maupun pergelaran wayang. Istilah sinden juga digunakan untuk menyebut hal yang sama di beberapa daerah seperti Sunda, Banyumas, Yogyakarta, Jawa Timur dan daerah lainnya, yang berhubungan dengan pergelaran wayang maupun klenengan. Sindhen tidak hanya satu orang dalam pergelaran tetapi untuk saat ini pada pertunjukan wayang bisa mencapai delapan hingga sepuluh orang bahkan lebih untuk pergelaran yang sifatnya spektakuler. Pada pergelaran wayang zaman dulu, Sinden duduk di belakang Dalang, tepatnya di belakang tukang gender dan di depan tukang Kendhang. Hanya seorang diri dan biasanya istri dari Dalangnya ataupun salah satu pengrawit dalam pergelaran tersebut. Tetapi seiring perkembangan zaman, terutama di era Ki Narto Sabdho yang melakukan berbagai pengembangan, Sindhen dialihkan tempatnya 25

menghadap ke penonton tepatnya di sebelah kanan Dalang membelakangi simpingan wayang dengan jumlah lebih dari dua orang. Di era modern sekarang ini Sindhen mendapatkan posisi yang hampir sama dengan artis penyanyi campursari, bahkan sindhen tidak hanya dibutuhkan untuk mahir dalam menyajikan lagu tetapi juga harus menjaga penampilan, dengan berpakaian yang rapi dan menarik. Sindhen tidak jarang menjadi "pepasren" (penghias) sebuah panggung pertunjukan wayang. Bila Sindhennya cantik-cantik dan muda yang nonton akan lebih kerasan dalam menikmati pertunjukan wayang. Perkembangan wayang saat ini bahkan Sindhen tidak hanya didominasi wanita tetapi telah muncul beberapa orang Sindhen laki-laki yang mempunyai suara merdu seperti wanita, tetapi dalam dandannya sindhen ini tetap memakai pakaian adat jawa selayaknya pengrawit pria lainnya dan beberapa waktu lalu Sindhen laki ini malah menjadi trend para Dalang untuk menghasilkan nilai lebih pada pergelarannya.

I.6

Upaya Pelestarian Seni Karawitan Dewasa ini, kesenian tradisional khusunya seni karawitan

perkembangannya mulai meredup dan terganti dengan seni-seni modern. Kita sebagai salah satu generasi penerus, sepatutnya melestarikan kesenian tradisional yang mencerminkan budaya nenek moyang kita. Sebenarnya, banyak cara yang dapat kita lakukan, agar seni karawitan tidak tergusur oleh budaya atau seni modern. Salah satunya adalah selalu menggunakan seni tersebut dalam kehidupan keseharian kita. Saat ini, mulai

26

nampak beberapa sekolah yang mengunakan seni karawitan sebagai salah satu kegiatan yang terdapat dalam ekstrakulikuler. Berdasarkan pengamatan kami, di Tulungagung terdapat 2 sekolah yang menggunakan seni karawitan sebagai penunjang kegiatan ekstrakulikuler, yaitu SMP Negeri 1 Tulungagung, dan SMA Negeri 1 Kedungwaru. Dalam perkembangannya SMP Negeri 1 Tulungagung dan SMA Negeri 1 Kedungwaru memang memberikan sarana khusus bagi siswanya yang ingin mengembangkan bakatnya di dunia karawitan, di SMP 1 Tulungagung instrument karawitan sudah tersedia dengan lengkap, yang merupakan sumbangan atau donator dari para wali murid. Penggunaan karawitan di kalangan siswa SMP biasanya di erdapat dalam setiap acara diesnatalis sekolah maupun acara penting lainnya. Selain itu, perlombaan karawitan di tingkat SMP maupun SMA juga dapat melestraikan seni tersebut, karena memotivasi siswa untuk mengikuti acara tersebut sehingga siswa dapat belajar bagaimana teknik untuk bermain seni karawitan.

27

KARAWITAN
I.7 Biodata Tokoh & hasil wawancara

28

1. Nama 2. Nama Panggilan 3. Alamat

: Dandun Priyo Sasongko : Pak Dandun : Desa Winong RT 2 RW 1 Kec. Kedungwaru, Tulungagung

4. Telp / Hp 5. TTL 6. Pekerjaan 7. Hobby

: 081335996495 : Tulungagung, 9 juli 1960 : Swasta : Dalam dunia kesenian. Contohnya, seni karawitan.

29

PERTANYAAN :
1. Latar belakang berdirinya kesenian karawitan ? y Grup pendapa kabupaten tahun 1981 anggana raras.

2. Kapan dan siapa pendirinya kesenian karawitan ? y Berdiri pada tahun 1976 oleh bapak Bupati Martawi Suroso

3. Bagaimana usaha pelestariannya ? y Dengan melalui berabagi kegiatan di sekolah terutama kegiatan ekstrakulikuler 4. Prestasi yang pernah diraih oleh grub karawitan anda apa saja ? y Prestasinya nihil karena karawitan ini khusus ( hanya untuk acaraacara di pendapa dan tulungagung ) dan bukan untuk lomba hanya untuk menghibur orang - orang khusus pendapa dan untuk menghibur para tamu saja. 5. Berapa anggota kesenian karawitan grup anda ? y Anggota 35 orang Pengrawit 20 orang, waranggo / sinden 4 orang 6. Apa perlu latihan setiap saat atau hanya pada saat akan tampil ? y Kalau jadwal latihan yang tetap setiap kamis malam, namun jika ada acara di pendapa kita menambah jam latihan atau hari latihan. 7. Dimana anda bersama grub anda biasa latihan kesenian karawitan ? y Di teras Pendapa

8. Berapa lama biasanya anda bersama grup anda latihan ? y Latihan setiap malam jumat, pukul 19.00-23.00 WIB.

30

9. Biasanya dipakai dalam acara apa saja seni karawitan ini ? y Ulang tahun kota Tulungagung, kirab pusaka Kyai Upas, acara penyambutan kalau ada tamu dari luar kota yang berkunjung di pendapa, saya dan grub saya juga selalu tampil. 10. Keunikan apa yang terdapat dalam kesenian karawitan ini ? y Keunikannya di lagu yang biasa dimainkan, tangga nada nya tetap, tidak bisa di aransemen (tangga nada paten). 11. Sejak kapan dan mengapa anda tertarik dengan dunia ini ? y Mulai tahun 1972. Kira-kira saat itu saya duduk di bangku kelas 6 SD. Saya tertarik dengan karawitan karena kesenian ini sudah turun-menurun dari keluarga saya terdahulu sampai sekarang. 12. Pekerjaan sambilan anda jika tidak ada job tampil ? y Swasta

13. Apa harapan Bapak pada kesenian Karawitan untuk selanjutnya ? y Pemuda-pemuda jaman sekarang harus ikut melestarikan kesenian ini. 14. Lagu-lagu apa saja yang biasa grub karawitan Bapak mainkan ? y Lagu jawa klasik, seperti gending, ketawang, ladrang

15. Alat-alat apa saja yang biasa digunakan dalam seni karawitan ? y Gong, kenong, saron, kendang, demung, kendang, slemthem, gender, gambang, bonang, rebab, siter, peking.

31

16. Pakaian yang biasa dipakai saat tampil di acara-acara ? y Seperti pakaian adat jawa pada umumnya. Memakai jarit, blangkon, keris, dan biskap. 17. Untuk bisa menjadi anggota karawitan di pendapa ini, ada seleksinya atau langsung dipilih oleh orang-orang dari pendapa sendiri ? y Sekarang pakai seleksi, kalau dulu lintas keluarga. Tes seleksinya hanya semacam peserta tes dapat memainkan alat musik apa saja

32

BAB III PENUTUP


III.1 Kesimpulan Demikianlah makalah yang berjudul Seni Karawitan Sebagai Ujung Tombak Pelestarian Budaya Tradisional Kabupaten Tulungagung ini telah tersusun dan terselesaikan dengan lancar. Dari uraian yang telah saya bahas pada bab II, kami dapat menarik kesimpulan mengenai kesenian karawitan. Kesimpulannya adalah sebagai berikut : 1. Kesenian karawitan merupakan salah satu kesenian tradisional yang terdiri dari seni musik dan seni instrumental. 2. Instrumen musik karawitan terdiri dari: Gong, kenong, saron, kendang, demung, kendang, slemthem, gender, gambang, bonang, rebab, siter, peking. 3. Pesinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu-satunya. Pesinden yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang. 4. Upaya pelestarian seni karawitan sangat diperlukan sehingga seni music tradisional tersebut tidak tergusur oleh seni modern yang ikut dalam arus globalisasi.

33

III.2

Kritik dan Saran Di dalam penulisan dan pembahasan makalah ini terdapat banyak hal yang

kurang dan belum sempurna. Oleh karena itu, kami selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca dan instansi terkait yang bersifat membangun demi kelengkapan makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami, dan setiap pihak yang berkepentingan atas makalah ini.

34

35