Anda di halaman 1dari 15

PENATAAN ULANG PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN UB

BAB I A. Latar Belakang Universitas Brawijaya merupakan salah satu universitas terbesar di Indonesia dengan keunggulan dan berbagai prestasi yang telah dicapainya. Hal ini menjadikan Universitas Brawijaya sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling diminati di Indonesia. Oleh karena itu, jumlah calon mahasiswa dari tahun ke tahun semakin meningkat di Malang. Semakin meningkatnya jumlah pendatang dari luar Malang dari tahun ke tahun mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di sekitar kampus pun juga ikut menggeliat. Sebagai contoh, usaha kos-kosan, usaha warung makan, usaha laundry, usaha warnet dll. Salah satu kebutuhan pendatang yang paling fundamental adalah kebutuhan akan makanan. Konsumsi makanan yang terus bertambah mengakibatkan semakin berkembangnya usaha kuliner. Misalnya kemunculan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berdagang di sekitar lingkungan kampus UB. PKL sendiri memiliki banyak makna, ada yang mengatakan term PKL berasal dari orang yang berjualan dengan menggelar barang dagangannya dengan bangku/meja yang berkaki empat kemudian jika ditambah dengan sepasang kaki pedagangnya maka menjadi berkaki lima sehingga timbullah julukan pedagang kaki lima1. Tak hanya itu saja, ada juga yang memaknai PKL sebagai pedagang yang menggelar dagangannya di tepi jalan yang lebarnya lima kaki (5 feet ) dari trotoar atau tepi jalan. Ada pula yang memaknai PKL dengan orang yang melakukan kegiatan usaha berdagang dengan maksud memperoleh penghasilan yang sah, dan dilakukan secara tidak tetap dengan kemampuan yang terbatas, berlokasi di tempat atau puast-pusat keramaian2.

WITA
2

Penertiban PKL = Pemberdayaan PKL,dprdkutaikartanegara.go.id,03/08/2006 12:54

Ibid

Maraknya PKL di lingkungan kampus berbuntut pada munculnya berbagai persoalan. Ada aggapan bahwa keberadaan PKL yang semrawut dan tidak teratur mengganggu ketertiban, keindahan serta kebersihan lingkungan kampus UB. Lokasi berdagang yang sembarangan bahkan cenderung memakan bibir jalan sangat mengganggu lalu lintas baik bagi pejalan kaki maupun pengendara motor/mobil. Selain itu, parkir kendaraan para pembeli yang tidak teratur juga sangat mengganggu ketertiban. Belum lagi masalah limbah atau sampah. Selama ini para PKL belum sadar akan pentingnya kebersihan sehingga keindahan di lingkungan kampus pun sulit diwujudkan. Mutu barang yang diperdagangkan juga harus diperhatikan, sehingga nantinya tidak merugikan konsumen. Sebenarnya sudah sejak lama pihak kampus berusaha menertibkan PKL, tetapi persoalan yang ada belum juga terselesaikan. Para PKL tetap ngotot untuk berjualan di lingkungan kampus. Walaupun sudah ada peraturan dan kesepakatan antara pihak kampus dan para PKL, akan tetapi hal tersebut kurang diindahkan sehingga jumlah PKL terus meningkat. Upaya tegas dan sejumlah kebijakan baru perlu diberlakukan agar penertiban PKL dapat diwujudkan. B. Rumusan Masalah Nasib 59 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sudah puluhan tahun mangkal di dalam kampus Universitas Brawijaya (UB) Malang sedang di ujung tanduk. Tiba-tiba saja Rabu (15/3) lalu mereka menerima surat edaran yang ditandatangani Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan UB agar tidak lagi berjualan di lingkungan kampus. Deadline bagi para pedagang ini dibatasi hingga Senin (21/3) mendatang. Surat edaran ini pun direspon cepat oleh PKL bahkan juga mahasiswa UB. Kemarin mereka menggelar aksi solidaritas berupa pengumpulan tandatangan menolak penggusuran PKL dari lokasi mereka berjualan yaitu di kawasan dekat Student Centre (SC) dan Samantha Kridha UB. Atau tepatnya di depan kantor unit kegiatan mahasiswa (UKM).3 Timbulnya masalah PKL yang merupakan masalah lingkungan ini, telah menimbulkan berbagai macam pertanyaan dalam hubungannya dengan
3

http://malang-post.com. Diunduh pada 26 Maret 2010

sebab, keberadaan dan efek atau dampak yang diakibatkan dari masalah PKL tersebut. Pertanyaan-pertanyaan seputar masalah PKL ini dapat diuraikan seperti dalam beberapa point berikut: 1. Apakah PKL selalu mengakibatkan dampak buruk? 2. Apakah ada keuntungan dengan adanya PKL tersebut? 3. Bagaimana mengatasi masalah PKL?

BAB II Kerangka Teori

BAB IV

Pembahasan

BAB V Alternatif Kebijakan

Sehubungan dengan hal tersebut, kami menawarkan sejumlah solusi untuk mengatasi permasalahan seputar PKL. Solusi yang kami tawarkan tersebut adalah Membentuk Tim Khusus untuk menangani PKL yang dinamakan Tim Pemberdayaan PKL Merelokasi para pedagang PKL ke tempat baru, dengan membentuk semacam foodcourt Mengeluarkan Surat Ijin Berjualan, surat kontrak, menetapkan sewa bagi PKL dengan biaya rendah Menyediakan area parkir yang memadai di sekitar foodcourt Menyediakan tempat penampungan sampah Standarisasi kualiatas dan kebersihan makanan uji kelayakan makanan Memberdayakan paguyuban PKL (sebagai wahana dialog dan sharing antara pihak kampus dan PKL) C. Rasional Menurut kami solusi yang kami tawarkan tersebut merupakan pilihan yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan seputar PKL. Penanganan PKL tidak mudah, oleh karena itu sebagai langkah awal perlu dibentuk Tim Khusus untuk menanganinya. Tim ini terdiri dari sejumlah divisi yang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing. Divisi-divisi ini antara lain : divisi perencanaan dan riset: mendesign pembangunan sarana fisik (foodcourt), dan mengidentifikasi permasalahan seputar PKL yang ada di lapangan. divisi keuangan: mengurusi uang sewa, alokasi dana, mengelola keuangan dari hasil parkir, mencari sponsor, dll. divisi infrastruktur: bertanggung jawab atas pembangunan dan pemeliharaan parkir,tempat sarana fisik, seperti pembangunan foodcourt, area pembuangan sampah serta menjaga kebersihan

kebersihan di sekitar foodcourt. divisi ketertiban dan keamanan mengurusi ketertiban mulai dari tata letak lokasi berjualan, area parkir, hingga masalah keamanan

divisi administrasi mengurusi sewa, surat perjanjian kontrak bagi PKL (rolling berjualan) dan surat ijin berjualan bagi PKL divisi keorganisasian dan Humas bertanggung jawab atas paguyuban PKL, sebagai wahana sharing, sosialisasi kebijakan maupun komplain, serta memberdayakan para PKL

divisi kesehatan bertugas menguji kelayakan makanan yang diperjualbelikan apakah memenuhi standar kesehatan, menentukan variasi makanan yang dijual Dengan dibentuknya Tim Khusus Pemberdayaan PKL yang memiliki

berbagai divisi ini, otomatis implementasi kebijakan lebih mudah dijalankan. Setiap tahap yang direncanakan telah ada divisi yang memback up sehingga lebih mudah dipertanggungjawabkan. Menurut kami solusi yang kami tawarkan tersebut mampu menjawab permasalahan seputar PKL. Adanya foodcourt diharapkan mampu mengatasi PKL yang semrawut. Disamping itu, adanya sarana pendukung seperti area parkir yang memadai, tempat pembuangan sampah yang layak juga turut berkontribusi mewujudkan ketertiban dan keindahan kampus. Mutu makanan yang diperjualbelikan pun akan lebih terjamin kesehatan maupun kebersihannya sebab telah ada divisi kesehatan yang mengurusi kelayakan makanan. Adanya paguyuban PKL diharapkan mampu mendekatkan antara pihak kampus (penentu kebijakan) dengan para PKL. Paguyuban ini bertujuan untuk mensosialisasikan kebijakan, menampung komplain dari PKL maupun sebagai wahana dialogis untuk menyelesaikan berbagai persoalan. C. Tujuan Ada berbagai tujuan yang ingin dicapai dalam implementasi kebijakan ini. Sasaran utamanya adalah penertiban PKL di seputar kampus sehingga tidak mengganggu ketertiban maupun keindahan kampus. Oleh karena itu perlu dibangun suatu foodcourt dengan berbagai sarana pendukung. Output dari kebijakan iniadalah terciptanya ketertiban, keindahan serta kebersihan di lingkungan kampus. Sedangkan Outcome yang diharapkan dari kebijakan ini adalah mampu memberdayakan PKL sehingga lebih tertib dan tertata dalam berdagang. Selain itu, dengan dibangunnya

foodcourt diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para PKLsehingga dapat meningkatkan taraf hidup mereka. D. Mekanisme dan Rancangan Secara garis besar tahap-tahap kegiatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut : 1. Identifikasi permasalahan 2. Membentuk Tim Khusus Pemberdayaan PKLmembagi ke sejumlah divisi dengan jobdesk masing-masing. 3. Menyusun rencana atau agenda kebijakanmelibatkan sejumlah aktor yang terkait, menyusun target waktu pelaksanaan 4. Sosialisasi Kebijakanmenyosialisasikan rencana kebijakan tersebut kepada PKL 5. Perumusan Kebijakanmenetapkan kebijakan tersebut 6. Implementasi kebijakanmelaksanakan target kebijakan 7. Evaluasi dan Monitoring Kebijakan menggunakan indikator kinerja untuk mengevalusi pelaksanaan kebijakan 8. Gubahan atau Revisi Kebijakantindak lanjut terhadap saran, kritik, maupun komplain terkait dengan pelaksanaan kebijakan. 9. Keberlanjutanprospek dari kebijakan tersebut serta merespons implikasi yang muncul (finansial,sumberdaya, komitmen manajemen) Penjelasan : 1. Identifikasi Permasalahan Keberadaan PKL yang semrawut dan tidak teratur sangat mengganggu ketertiban, keindahan serta kebersihan lingkungan kampus UB. Lokasi berdagang yang sembarangan bahkan cenderung memakan bibir jalan sangat mengganggu lalu lintas baik bagi pejalan kaki maupun pengendara motor/mobil. Selain itu, parkir kendaraan para pembeli yang tidak teratur juga sangat mengganggu. Belum lagi masalah limbah atau sampah di sekitar tempat berjualan. 2. Pembentukan Tim Khusus Pemberdayaan PKL Tim ini terdiri atas Ketua, Wakil Ketua dan dibantu oleh sejumlah divisi yang menangani permasalahan tertentu. Tim ini dibentuk oleh Rektorat yang memang

diberi tugas khusus untuk menangani PKL di lingkungan UB. Masa kerja dari tim ini adalah 5 tahun. Sedangkan orang-orang yang duduk dalam tim ini adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya dan ditunjuk oleh Rektorat. Divisi-divisi yang ada dalam tim ini adalah : divisi perencanaan dan riset: mendesign pembangunan sarana fisik (foodcourt), dan mengidentifikasi permasalahan seputar PKL yang ada di lapangan. divisi keuangan: mengurusi uang sewa, alokasi dana, mengelola keuangan dari hasil parkir, mencari sponsor, dll. divisi infrastruktur: bertanggung jawab atas pembangunan dan pemeliharaan sarana fisik, seperti pembangunan foodcourt, area parkir,tempat pembuangan sampah serta menjaga kebersihan kebersihan di sekitar foodcourt. divisi ketertiban dan keamanan: mengurusi ketertiban mulai dari tata letak lokasi berjualan, area parkir, hingga masalah keamanan divisi administrasi: mengurusi sewa, surat perjanjian kontrak bagi PKL (rolling berjualan) dan surat ijin berjualan bagi PKL divisi keorganisasian dan Humas: bertanggung jawab atas paguyuban PKL, sebagai wahana sharing, sosialisasi kebijakan maupun komplain, serta memberdayakan para PKL divisi kesehatan: bertugas menguji kelayakan makanan yang diperjualbelikan apakah memenuhi standar kesehatan, menentukan variasi makanan yang dijual 3. Menyusun Rencana Kebijakan Ada dua agenda utama dalam kebijakan ini, yaitu membangun foodcourt dan pemberdayaan PKL. a. membangun foodcourt - pemilihan lokasi Lokasi yang dipilih untuk merelokasi para PKL adalah di lembah UB. Di kawasan ini masih banyak lahan kosong. Dengan lahan yang luas tersebut diharapkan lebih mampu menampung para PKL dan menyediakan area parkir yang lebih memadai. Di samping itu, para PKL memang sudah biasa berjualan di sekitar lembah

UB sehingga mudah untuk merelokasi mereka. Alasan lain memilih tempat ini adalah karena tempatnya sejuk dan bernuansa alami sehingga sangat cocok dijadikan tempat santai sembari menikmati jajanan yang di jual oleh para PKL. konsep tempat Mengkonsep dan mendesign foodcourt adalah tugas dari divisi perencanaan. Dalam membuat design, divisi ini nantinya akan dibantu oleh tim arsitek dari UB Konsep yang dikedepankan adalah sederhana, bersih dan nyaman. Adapun detail konsepnya adalah sebagai berikut : Luas bangunan foodcourt 20 meter x 20 meter, dilengkapi dengan area parkir,listrik yang memadai, taman, kamar mandi dan kran air serta tempat pembuangan sampah dan limbah yang memadai. Foodcourt menghadap ke arah jalan (utara). Taman berada di depan foodcourt, area parkir berada di samping kanan sedangkan untuk kmar mandi dan kran air ada di belakang foodcourt. Untuk tempat pembuangan sampah berada di lokasi yang agak jauh. Atap foodcourt dibuat permanen (dari genteng) dengan dinding setengah terbuka sehingga dalam keadaan panas maupun hujan PKL tetap bisa berjualan. Grobak-grobak para PKL diletakkan di bagian tersendiri dari tempat duduk pembeli (mirip kantin Fisipol). Grobak-grobak tersebut ditata berdasarkan kapling-kapling yang sudah tersedia, kapling 1 untuk penjual makanan, kapling 2 untuk penjual minuman dan kapling 3 untuk penjual jajanan atau kudapan. Daya tampung foodcourt ini adalah untuk 20 grobak. Untuk para pembeli disediakan tempat duduk dari bangku kayu yang berjumlah kurang lebih 30 buah. Ada juga tempat duduk yang sifatnya lesehan dengan tikar. Para pembeli juga bisa memilih tempat duduk di sekitar taman yang ada di foodcourt. Sehingga bisa diperkirakan kapasitas pembeli dari foodcourt ini kurang lebih 100 orang. Konsep yang ditawarkan adalah self service. Artinya pembeli memesan dan membawa sendiri makanan yang dikehendaki, kemudian membayar makanan tersebut dan duduk di tempat yang telah disediakan. Konsep pemakaian

Untuk berjualan di foodcourt ini, para PKL harus memenuhi prosedur yang telah ditetapkan oleh Tim Khusus Pemberdayaan PKL. Adapun detailnya adalah sebagai berikut. : Sistem yang dipakai adalah sistem sewa atau kontrak dengan jangka waktu 2 tahun. Kontrak ini nantinya bisa diperpanjang atau bis juga dialihkan ke pihak lain. Ini bertujuan agar ada rolling PKL sebab belum tentu semua PKl bisa ditampung difoodcourt. Bagi para PKL yang berjualan di foodcourt dikenakan uang sewa. Untuk penjual makanan sebasar Rp 300.000,- per tahun, penjual minuman Rp. 200.000,- per tahun dan untuk penjual jajanan Rp. 150.000,- per tahun. Uang sewa ini bisa dibayar di muka ataupun dicicil tiap bulannya. Uang ini nantinya akan dialokasikan untuk uang keamanan, perawatan infrastruktur, uang kebersihan, membayar listrik dan keperluan lainnya. Pihak yang menyewakan hanya menyediakan tempat dan sarana pendukung saja, untuk Gerobak dan keperluan dagang ditanggung sendiri oleh penjual. Untuk berjualan di tempat tersebut, para PKL harus mendaftar dulu ke Tim Khusus Pemberdayaan PKL. Sistem yang dikembangkan adalah siapa cepat ia dapat dengan catatan memenuhi syarat kualifikasi ( lolos uji kelayakan makanan). Setelah lolos seleksi, para PKL menandatangani surat perjanjian kontrak dan kesepakatan membayar sewa. Para PKL tersebut nantinya akan memperoleh Surat Ijin Berjualan sebagai bukti syahnya. Dalam kebijakan ini juga berlaku standarisasi harga guna menghindari persainagn antar penjual. Untuk para pembeli yang membawa kendaraan bermotor dikenakan uang parkir. Untuk sepeda motor besarnya Rp 500,- dan untuk mobil Rp 1000,-. Uang parkir ini dikelola sendiri oleh Tim Khusus Pemberdayaan PKL dalam hal ini yang berwenang adalah divisi keuangan. Sedangkan tukang parkirnya diambil dari masyarakat awam. Setiap PKL bertanggung jawab atas kebersihan foodcourt. Di samping itu, juga menjalin kerjasama dengan Dinas Kebersihan Kota untuk menangani sampah. Pengamen maupun pengemis diperbolehkan mengais rejeki di sekitar foodcourt tetapi menempati sisi-sisi bagian luar (di taman misalnya).

b. pemberdayaan PKL Memberdayakan PKL merupakan wewenang dari divisi pengorganisasian dan Humas. Fokus utama kegiatan ini adalah memaksimalkan fungsi paguyuban PKL agar mereka memiliki bargaining position. Setiap 1 bulan sekali dilaksanakan forum dialog antara pembuat kebijakan dengan para PKL guna membahas masalah-masalah yang muncul di lapangan. Setiap 3 bulan sekali, para PKL diberi penyuluhan dan pelatihan, mulai dari srtategi berdagang, kewirausahaan hingga manajemen. Selain itu, para PKL juga diberi pinjaman modal untuk lebih mengembangkan usahanya. Aktor atau lembaga yang terlibat Ada banyak aktor maupun lembaga yang nantinya akan dilibatkan dalam kebijakan ini, antara lain : Rektorat sebagai penentu kebijakan ( yang mengesahkan kebijakan) Tim Khusus Pemberdayaan PKLsebagai penanggung jawab program atau tim pelaksana Paguyuban PKLikut berperan dalam menyosialisasikan kebijakan kepada para PKL Bank atau pihak sponsormemberi bantuan modal untuk membangun foodcourt maupun memberi pinjaman modal bagi para PKL Dinas Kebersihan Kotaikut berperan dalam mengelola sampah maupun limbah di sekitar foodcourt Tim Arsitek UB ikut berperan dalam mendesign foodcourt baik bangunannya maupun lay outnya. Ahli Gizi UBikut berperan dalam menguji kelayakan makanan yang dijual oleh PKL Petugas SKK ( Satuan Keamanan Kampus)ikut berperan dalam memelihahar keamanan dan ketertiban sekitar foodcourt Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan ikut berperan dalam memberdayakan PKL, misal memberi pelatihan kewirausahaan dan manajemen Masyarakat awamdapat difungsikan sebagai tenaga kerja, misal sebagai tukang parkir maupun buruh bangunan pada saat membangun foodcourt. Target Pelaksanaan Pembangunan Foodcourt ini ditargetkan selesai dalam kurun waktu 6 bulan atau sekitar 24 minggu, dengan rincian jadwal sebagai berikut :

1. minggu ke1 rapat kerja Tim Khusus Pemberdayaan PKL untuk mengidentifikasi masalah 2. minggu ke 2 - 4 pembuatan rencana kebijakan (merumuskan konsep) 3. minggu ke 5 perumusan dan pengesahan kebijakan 4. minggu ke 6-10 sosialisasi kebijakan dan pendataan PKL 5. minggu ke11-18 implementasi kebijakan (membangun foodcourt dan fasilitas pendukung lainnya) 6. minggu ke 19-21 pendaftaran dan seleksi untuk para PKL, tanda tangan kontrak dan kesepakatan lainnya. 7. minggu ke 22-23 pembagian kapling berjualan, dan penempatan gerobak milik para PKL 8. minggu ke 24 peresmian ( para PKL sudah bisa mulai berjualan) 4. Sosialisasi Kebijakan Setelah rencana kebijakan tersebut disusun, pihak pembuat kebijakan kemudian menyosialisasikannya kepada para PKL. Sebelum disyahkan atau dirumuskan, dalam tahap ini nantinya akan diperoleh masukan maupun saran dari para PKL. Harapannya, dengan adanya sosialisasi ini maka pihak pembuat kebijakan bisa mengakomodir keinginan para PKL sehingga tidak merugikan kedua belah pihak. 5. Perumusan Kebijakan Setelah rencana kebijakan tersebut disepakati, barulah disyahkan. Dalam hal ini yang berwenang mengesahkan rencana kebijakan adalah Rektor UB. 6. Implementasi Kebijakan Implementasi kebijakan merupakan realisasi dari rencana atau agenda kebijakan tersebut. Dalam hal ini adalah pembangunan foodcourt dan pemberdayaan PKL. 7. Evaluasi dan Monitoring Kebijakan Setelah kebijakan tersebut dilaksanakan maka perlu dievaluasi dan dimonitoring. Untuk menilai implementasi kebijakan tersebut harus digunakan berbagai indikator. Hal ini bertujuan untuk melabeli apakah kebijakan tersebut berhasil atau gagal. Indikator yang digunakan antara lain : Indikator utama : di lingkungan UB tidak ada lagi PKL yang sembarangan berjualan kecuali di foodcourt

lingkungan kampus menjadi lebih bersih jalan di sekitar kampus menjadi lapang sebab tidak dipakai untuk berjualan maupun parkir

indikator tambahan : pendapatan PKL meningkat mulai bermunculan usaha kecil dan menengah lainnya pendapatan universitas meningkat

8. Gubahan atau Revisi Kebijakan Dalam perjalanannya, tentu saja pelaksanaan kebijakan ini menuai banyak sekali hambatan. Komplain, tuntutan maupun masukan dari para PKL tentu sulit untuk dihindari. Berpijak pada hal inilah, maka kebijakan yang sudah ada perlu disempurnakan atau direvisi agar bisa lebih mengakomodir keinginan semua pihak. 9. Keberlanjutan Apabila program ini dinilai berhasil, maka ada kemungkinan untuk dilanjutkan dan terus dikembangkan. Caranya adalah dengan mengoptimalkan peran foodcourt bagi PKL. Jika animo para PKL maupun pembeli sangat besar, maka foodcourt bisa diperluas ataupun membuka foodcourt serupa di lokasi lain. Dengan demikian, semua PKL yang ada di sekitar UB bisa direlokasi ke foodcourt. Tidak hanya itu saja, pemberdayaan PKL juga harus dioptimalkan agar para PKL nantinya tidak hanya berburu keuntungan saja. Mereka perlu dibekali keterampilan lain yang mendukung seperti kewirausahaan dan manajemen. Namun untuk merealisaikan program lanjutan tersebut, harus diperhatikan juga implikasi finansial maupun komitmen manajemen dari pihak penanggung jawab. Untuk memperluas maupun membangun foodcourt baru tentu saja membutuhkan dana. Hal itu tidak bisa ditutupi dari uang sewa para PKL saja, oleh karena itu perlu menjalin kerja sama dengan pihak sponsor. Selain itu Tim Khusus Pemberdayaan PKL juga perlu melibatkan para PKL dalam merumuskan kebijakan. Bahkan kalau perlu, paguyuban PKL diberi kewenangan untuk mengelola sendiri foodcourt tersebut. Dan Tim Khusus Pemberdayaan PKL hanya berfungsi sebagai pengawas saja. E. Penutup Membangun foodcourt dan pemberdayaan PKL merupakan solusi kebijakan yang kami tawarkan untuk mengatasi PKL di lingkungan kampus UB. Untuk merealisasikan kebijakan tersebut, kami mengklasifikasikannya ke dalam berbagai tahapan. Dengan adanya foodcourt diharapkan ketertiban, keindahan serta kebersihan

di kawasan kampus bisa diwujudkan. Selain itu adanya pemberdayaan PKL ini dimaksudkan agar kebijakan ini menghasilkan outcome bagi para PKL, misalnya menaikkan pendapatan mereka sehingga bisa memperbaiki taraf hidup.