2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. (021) 4208171.Dr. 2. 4. Dalam: Sodeman WA Jr. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. 1st ed. .O.id http: //www. Temprint http://www. Cempaka Putih. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Dr. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.Prof. Drg.Dodi Sumarna .O. .co. Cempaka Putih.Medical Rehabilitation. Philadelphia: WB Saunders.kalbe. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. satu muka. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Jl. 1974. Sodeman WA. Suprapto Kav. Letjen Suprapto Kav.Prof. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. 64: 7-10. SKM. Box 3117 JKT. Box 3117 JKT. bila menggunakan bahasa Indonesia. PhD. PELAKSANA Sriwidodo WS. Soebianto PENCETAK PT.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. Hal 174-9. Tlp. bila tujuh atau lebih.co.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Bila tidak ada. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . Boenjamin Setiawan Ph. Jakarta 10510 P. Bila pengarang enam orang atau kurang. Swartz MN.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. 1990. 4. P.Prof. Kalbe Farma Tbk. . kedokteran dan farmasi. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Sri Oemijati. London: William and Wilkins. Kirby RL.913X KETUA PENGARAH Prof. Bila terpisah dalam lembar lain.co. akan diberitahu secara tertulis. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Hendro Kusnoto.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Bagian Periodontologi. Laboratorium Ortodonti MScD. Cermin Dunia Kedokt. 021 .kalbe. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris.Prof. Gedung Enseval Jl. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Weinstein L. DR. Letjen. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku.co. eds. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris.D . 90 : 95-9). Baltimore.DR. Dr.4208171 E-mail : cdk@kalbe. Contoh : 1. 1984. E-mail : cdk@kalbe. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Siti Wuryan A Prayitno. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Oen L.457-72. Tlp. Gedung Enseval. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya.H. Basmajian JV.id/cdk . hendaknya diberi keterangan mengenai nama. DR. sebutkan semua. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. Dr. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Drg. 3. Jakarta 10510. . Sjahbanar Zahir MSc.Prof. Budi Riyanto W. SpOrt.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Erik Tapan .

2004 . Faculty of Medicine. L.2004. There is still no accurate and successful management method for this problem . Adam Malik General Hospital.2004. Cermin Dunia Kedokt. Cermin Dunia Kedokt. North Sumatera and Bali. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. Jakarta. chronic cough. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. Medan. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. Papillomata have a characteristic wart-like appearance.2004: 144. of ENT. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. 13-15 dmr. The role of medications such as alphainterferon. Cipto Mangunkusumo General Hospital. in Indonesia it is found in North Sulawesi. acyclovir. ribavirin. and retinoic acid are still debatable. treated with acupuncture and showed good improvement. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. 144. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. 144. particularly at the anterior commissure.lys bso.raa. 47-51 ppi. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. Yvonne Siboe Dept. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. Firmansyah Dept. referred to dizziness or a sense of imbalance. North Sumatra. recurrent respiratory infections also may occur. of Acupuncture Dr. Lia Amalia Dept of Child Health. paroxysms of chocking. Jakarta.fih Vertigo is a common complaint. Cermin Dunia Kedokt. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. can be due to vestibular system disorder. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. Conventional treatment is still not satisfactory. 144. The mainstay of treatment is surgical ablation. University of Indonesia. Rizalina A Asnir.

beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.7.14.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.11-15 SINONIM : Ozaena.12.16.11. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas. 2004 5 .7. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti.1-5.2. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.5.11. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. maka pengobatannya belum ada yang baku.11. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering.5.12. sehingga pengobatannya belum ada yang baku.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.12.2.7. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.7. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.7.12. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.11-14 dan di negara sedang berkembang.2.1-4.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita. Bacillus mucosus.4. sosial ekonomi rendah.11.11-14 dan di negara sedang berkembang. 144. umur berkisar dari 10-37 tahun. Kokobasilus.1-5.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.10.1-5.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.11-15 terutama pada usia pubertas.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. Adam Malik.9.1.7. Diphteroid bacilli. vitamin A1. Kata kunci : rinitis atrofi.11 3) Sinusitis kronik1.7. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.5.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.1-11 Secara klinis.9.20 Tetapi dari segi umur. rinitis krustosa.1-5. Kuman lain adalah Stafilokokus.10.7.1-5. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. rinitis fetida.11-15 terutama pada usia pubertas.12. dilakukan operasi . 7.9.7.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.17 Cermin Dunia Kedokteran No.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.7. 4 wanita dan 2 pria.7.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.12. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.

Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. midline granuloma. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. lepra.1.12. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3.3.4. epistaksis dan hidung terasa kering. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala.15.4. Campuran : Na bikarbonat 28.13 . kadang-kadang kuning atau hitam.4 g Na diborat 28. pemeriksaan darah rutin. 2004 . Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a.1-5.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. krusta sedikit. faringitis.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.5. b. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. Antara lain : a.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat.5. hidung pelana. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas.10.3 2) Obat cuci hidung.17 10) Herediter5.3. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. dilakukan dua kali sehari. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. Selain faktor-faktor di atas.9. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. terlihat rongga hidung sangat lapang. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. Mantoux test.4.16.7. terdapat anosmia yang jelas. keluhan anosmia belum jelas.16 12) Golongan darah.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc.4. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3. mukosa hidung tipis dan kering. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.11.8. warna makin pudar.21 KOMPLIKASI4.9. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.10 dan rinitis atrofi sekunder. c. rongga hidung tampak lebar sekali. mukosa makin kering.10. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. pemeriksaan Fe serum. sakit kepala.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik. krusta banyak.oleh karena itu secara patologi. dapat ditemukan krusta di nasofaring. mukosa tampak kemerahan dan berlendir.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. rontgen foto sinus paranasal.12.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. jika krusta diangkat. 144.3.1. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. ingus kental berwarna hijau. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang.4 g NaCl 56.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.2. sinusitis. miasis hidung.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun.3.19 dan fibrosis dari tunika propria. rinoskleroma dan tbc. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. Larutan garam dapur d. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. sekret purulen dan berwarna hijau. rinitis kronik lepra. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b.11 Dapat berupa: perforasi septum.1. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4. atrofi konka.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. gangguan penciuman (anosmi).7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat.

Wood DG. 23. 91-3. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok .5. Calcutta : The New Book Stall. Textbook of Ear.000 U / ml. Elloy P. Sydney. 202-5. 1985. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta.A Synopsis of Otolaryngology. Sayed RH. Baser B. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. New York : Georg Thieme Publishers. Singapore : PG Publishing. 1996. Jilid 1. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Oxford : Butterworth . mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. 492. 2nd ed. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. Vol. Oleh karena etiologinya belum pasti. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. tulang. 4th Bristol:Wright.Edisi 6. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. 9. Becker W. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. 349-51.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. 1994. 8. Head and Neck Surgery. 576-80. 4) Vitamin A 3 x 10. Kepala dan Leher. Hidung . Farrington WT. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. 1992. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. 1986. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. 1996. Sherief SG.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. Penyakit Telinga . 40-1. 16. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 13. Pitfalls. 499. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Ujung Pandang: 1986.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. 1993. campuran Triosite dan Fibrin Glue. Hiranandani NL. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 1997. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. 18. 2004 7 . 549-55. THT FKUI. 6th ed. Ear.Atrophic Rhinitis-Pathology. Groves J. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Kader MA. kemudian dipindahkan ke lubang hidung.Heinemann. dermofit. New York : Georg Thieme Verlag. Ballenger JJ. 3. Naumann HH.Nose & Throat Diseases and Head . 1980. KEPUSTAKAAN 1. 26-7. Surgery of the Upper Respiratory System. 2. 112 : 543-6.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. Madras : All India Publisher. Bertrand B. J Laryngol Otol 1998. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. 11.Gray RF. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. 10-5. diobati sampai tuntas1-5. Technique. Colman BH. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology.Chen C. 1996. Ramalingam KK. Soetjipto D. 19. 114 : 254-9. Grewal DS. Pfaltz CR.Neck Surgery. Montgomery WW.106: 702-3. 17. Hartley C. Naumann HH. Ujung Pandang. Fundamental of Ear. 218-9. 6. Throat and Ear. 5. 1994. Disease of the Nose. 22. 264-7.3) Obat tetes hidung . Edisi 13. 1-4. 144. 193-411. Lobo CJ. 1997. 221-2.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. 1987. 14th ed Singapore : ELBS. 10. Rinitis Atrofi. A Short Practice of Otolaryngology. Tenggorok . maka pengobatannya belum ada yang baku. J Laryngol Otol 1990 . Samsudin. 4/8/26-7.Hidung. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis.4. Elhamd KA. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. Weir N. Doyen A. Disease of the Nose. 1997.J Laryngol Otol 1992 . J Laryngol Otol 2000. 113-4. Jakarta: EGC. Mangunkusumo E. Etiology and Management. 381-2. 218-21. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. 7. 12 : 325-33. 4. Throat and Ear and Head and Neck. Dalam : Boies (ed). Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Jakarta : FKUI. 20. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93.Hsu C. Mangunkusumo E. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Hilger PA. Jakarta : FKUI. C. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Sutomo. Hagrass. 1992.1.11-14 Sinha. Maqbool M. 14. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. A Pocket Reference. 173-82. Cermin Dunia Kedokteran No. 104 : 404-7. Samiadi D. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati.10-14.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. Massegur H. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. 21.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 90-2. 15. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. Mewengkang N. Infective Rhinitis and Sinusitis. Nose and Throat Diseases. setelah krusta diangkat. Edisi ke 3. Laryngoscope 1996. Nose and Throat Diseases. Am J Rhinol 1998 . natrium bikarbonat. 106 : 652-7. Kumar S. oestradiol dalam minyak Arachis 10. 12. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. Indication. Alih Bahasa : Wijaya. Gamea AM. Maran AGD. 229. Sreeramamoorthy B. bahan sintetis seperti Teflon. Jiang R. 1993. 1403-6.

hidung. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. kelainan imunologis. Cipto Mangunkusumo. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. berwarna kemerahan. dan pertumbuhannya eksofilik. rapuh.5 Terdapat dua jenis papiloma laring.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak.4.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. infeksi saluran nafas kronik.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. pemeriksaan fisis. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Kata kunci : papiloma laring. walaupun tidak ganas. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. trakea dan paru. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. 144. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. mudah berdarah. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. anak. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. higiene yang buruk. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. tetapi lokasi tersering adalah laring. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol.2. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. 2004 .

mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. epigastrium. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. dan pasien tampak mulai gelisah. asma bronkial. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. tetapi ada faktor lain yang berperan. b. serta pertumbuhannya eksofilik. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. dan terkadang gagal napas. paralisis pita suara. retraksi suprasternal. dan kelainan imunologis. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. mikrolaringoskopi langsung. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. Cermin Dunia Kedokteran No. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. mikrokauter. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. tetapi tidak untuk lesi parenkim. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. seperti kembang kol. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat.7.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. sianosis ringan. Jackson I ditandai dengan sesak. Basheda dkk. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson.8.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. carbondioxide laser surgery. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. 6 di antaranya di bawah 12 tahun.5-18 tahun. steroid. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru.17.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. rapuh. pemeriksaan fisis. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. tanpa sianosis. 2004 9 . stridor inspirasi ringan.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. hormon (dietilstilbestrol). Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal.18 d. laringomalasea. infeksi saluran napas kronik. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. dan podofilin topikal. nodul pita suara atau kista laring kongenital. mikrolaringoskopi dengan diatermi. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. dan stridor inspirasi.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. Obat yang digunakan antara lain antivirus. dan mudah berdarah. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. laringofissure. kriosurgeri.3. dan sianosis lebih jelas.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. sesak.18-20 c.. 144.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. kemerahan. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring.

1977. Laryngol and Otol 1994. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. 308:1261-4. 107:327-32 Green GE. 18. 33:187-207. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. et al. 108:226-9. Gray SD. tetapi dapat meluas ke trakea. Steinberg BM. de Boer G. ekstirpasi yang tidak sempurna. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. 122:942-4. Rimell EM. Kashima H. Bashida SG. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. Steinberg BM. Topp WC. Haglund S. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Mounts P. Abramson AL. Smith EM. Leventhal B. 16. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Papilloma of the larynx in children. Bauman NM. Bristol General Hospital. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. 10. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. 15. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. 11. Otolaryngol Clin N Am 2000. 19. 5. Agung IB. 102:300-10. Pignatari SSN. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Harley C. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. 121:1386-91. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission.669-75. Hamilton. Losin. Schneider PS. 100:1458-64. 20. Smith RJH. 2. 144. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. 115:322-5. Otolaryngol Clin N Am 2000. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. 4. Prognostic role of viral typing and cofactors. Laryngoscope 1992. dan paru. 3. Lundwuist P. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. 13. Bajtai A. The Manchester experience 1974-1992. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. 102:580-3. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Current Diagnosis and Treatment. Derkay CS. 17. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Cantell K. Winkler B.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Orlowski JP. Ossof RH. bronkus. 33:1-12. 97:678-85. Mehta AC. Fairman DH. diduga akibat tindakan trakeostomi. Darrow DH. 9. N Engl J Med 1983.h. White A. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Dere H. 119:554-7. Elo J. Abramson AL. THT FKUI. KEPUSTAKAAN 1. 2004 . Haliwell M. Task force on recurrent respiratory papillomas. 101:1162-6. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Laryngoscope 1997. 98:1324-9. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. Pediatric respiratory papillomatosis. Fagan JJ. 1982. . 12. Shoemaker DL. Shikowitz MJ. 8. Kohlmoos HW. Laryngoscope 1991. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis.13 Meskipun jarang. Laryngoscope 1998. 107:915-47. Laryngoscope 1987. Mulloly VM. Yasin AR. 14. Derkay CS. Myers EN. 7. h. Arch Otolaryngol 1981. Chest 1991. Arch Otolaryngol 1995. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Arch Otolaryngol 1995. Recurrent respiratory papillomatosis. A preliminary study. Hidvigi J. 6.249-60. Werkheven JA. Erisen L. Steinberg BM. Birzgalis AR. 11:242-52. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Skripsi. Pou AM.

sehingga mengalami degenerasi kistik. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.tirohioid : 60. Kista ini lebih sering terjadi pada anak. dekade ke tiga 13. jika sering terjadi peradangan.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya. Adam Malik.9.suprahioid : 24.3. sehingga terbentuklah kista.9% .13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.1% .5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.4.3.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher. bagian tengah korpus hiod. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.5. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. maka epitel duktus juga ikut meradang.4.5.4.intra lingual : 2. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.1.11 Lokasi yang sering adalah1.9. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.10.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.1% .5 tahun. merupakan 40% dari tumor primer di leher. rata-rata pada usia 5.5 : .4%.000 pasien anak.13.1.5%.10. 2004 11 .6%.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.10.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.1.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. 144.4-10.suprasternal : 12.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.4.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34. pada dekade ke dua 20. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.

Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya.). Jakarta : Bina Rupa Aksara. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. yaitu kista beserta duktusnya. 14. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 10. Kohut RI et al. antara lain insisi dan drainase. 7. 3. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. Urben SL.11 Diagnosis Banding 1. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Corry J et al. 1986. II. Saleh H. Foramen sekum dijahit. Kejadian fistel ini antara 15-34%. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. kepala dan leher hiperekstensi.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 11. 114: 128-9.1. Ujung Pandang. Ransom ER. J. 2nd ed. 1. Kepala dan Leher. Benign Tumors. kadangkadang lebih besar. 5/16/14. Branchial cleft anomalies. 1994.9 Bila terinfeksi. Stool SE.2.1985. Scheetz MD (eds. korpus hioid. Edisi 6. Maran AGD. Surgery of the Upper Respiratory System. Walsh N. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. Leichtman LG. benjolan akan terasa nyeri. Thawley S.suprahioid : 18 . Montgomery WW. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. Panje WR (eds. Thyroglossal duct remnants. 13. 1994.transhioid : 2 . 2004 . Bailey JB. 12. Alih Bahasa : Wijaya C. Otol. Disease of Nose. Laryngol. Massa Jinak Leher. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. O’Hanlon DM. Singapore : ELBS. Lingual tiroid 2. Penyakit Telinga. 1996.6. 2000. Edisi 13. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %.. 2. thyroglossal cysts and fistulae. Cohen JI. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. 1989.6. 381-2. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. 760-7. Karmody CS. Jakarta : EGC.submental : 2 . 1987. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Vol. 144. Waddell A. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Colman BH. Benign diseases of the neck. Oxford: Butterworth – Heinemann.7. Oxford : Butterworth .10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. KEPUSTAKAAN 1. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. Pincu RL. 6th ed. Throat and Ear and Head and Neck. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. 1997. Otol. sampai tulang hioid.5. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. Simko MEJ.Heinemann. berbatas tegas. 88. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Ellis PDM. 1983 . Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. 6th ed. 1996. 183. Philadelphia : WB Saunders Co. 1990. otot lidah yang longgar dijahit. Samsudin. Kista dermoid 3. dibuat irisan memanjang di garis media. Developmental Anomalies of the Neck. Hidung. 19. 120 (5): 757-9. 2nd ed. Vol. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. 4. posisi terlentang. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. eksisi sederhana. Ballenger JJ. 4. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. 122: 1094-6. 295-6. Tenggorok. Bluestone CD. Konsistensi massa teraba kistik. Damijanti T. 755. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. aspirasi perkutan. Sobol M. 8. Dalam: Pediatric Otolaryngology. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Kista brankial Lipoma1. Philadelphia : WB Saunders Co. 415-21. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. 6. Johnson JT. J.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. THT FKUI. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%.Otolaryngology. Robertson N et al.5. A Handbook for Students and Practitioners.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. Greinwald JH. 1313-14. 1987. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. 2.infrahioid : 43 . Vol. Head and Neck Surg.). 108 : 1105-7. 6/30/8-12. Bila ada fistula. Philadelphia : JB Lippincott Co. Dalam : Head and Neck Surgery . Aberrant thyroglossal cyst. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. Buku Ajar Penyakit THT. 1997. Congenital Neck Masses and Cysts. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. Suparjadi S. Philadelphia : Lea & Febiger. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. mudah digerakkan. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. 1362-69. Laryngol. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. 14th ed.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. 5. Untuk fistula. tidak nyeri. bulat. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Dalam Boies. Otolaryngol.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. Jilid 1. 9.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%.

Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis). PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.1.2. Mesir. Kolumbia. Eropa dan Afrika.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.9.2. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang. radiasi dan pembedahan. 2004 13 . India. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. trakea dan bronkus. Guatemala. Rizalina A Asnir. Uganda.2 Belinoff melaporkan 94. tetapi sering pada dewasa muda. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. tapi endemik di beberapa negara di Asia.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.11.7.8.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. Sumatera Utara dan Bali. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. subglotis.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. Philipina dan Indonesia. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. Amerika.1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir. Sumatera Utara dan Bali. orofaring.6. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No.8. Rusia. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.9. Rumania. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Adam Malik. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring.1. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek.1.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870).8. Cekoslovakia. 144.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.1-7 Di Indonesia. Sumatera Utara dan Bali.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. Ukraina.1. Salvador. Nigeria.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.2-4. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.2.5.

8. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. Siprofloksasin.13. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch.Rifampisin 450 mg/ hari . dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior).Stadium II (Granulomatous. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. konsistensi padat. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas.15 1. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras.2. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2.12 1. sering seperti rinitis biasa. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). Jamur : Histoplasmosis. Russel body. 144. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. bakteriologi. serologi (test komplemen fiksasi.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung.10 2. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. perluasan dan lamanya penyakit. Atrofi. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.15 Diagnosis Banding2. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma.Khloramphenikol.Streptomisin : 0. histopatologi. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. Klofazimin1.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi. Sarkoidosis 3. test aglutinasi) dan imunokimia. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. Proses infeksi granulomatosa a. Dimulai dengan cairan hidung encer. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas.14: . Lepra b. Infiltratif. hiperplasi pseudo epiteliomatosa. sakit kepala. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. kemerahan.6. laring.8. 3. Sifilis. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior.2. Kemudian terjadi invasi. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas.1.8 1. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. radiasi dan tindakan bedah.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa.6. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali. mudah berdarah.810. kemerahan. faring.5-1 g/ hari .Stadium III (Skleromatous.8-11. trakea dan bronkus. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. tetapi hasilnya belum memuaskan. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. sumbatan hidung yang berkepanjangan. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. dapat terjadi gangguan penciuman.710. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya.7. 2. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. permukaan licin tanpa ulkus. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan.1. .Stadium I (Kataralis.patologis yang khas.3.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi.2.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia.11. Pada stadium II. Bakteri : Tuberkulosis.7. . kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk. Sporotrikosis. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. Dari pemeriksaan. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan.9. Blastomikosis.14. Koksidioidomikosis c. Pada stadium I. Stenosis. limfosit dan histiosit. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . 2004 .

USA: WB Saunders Co. 6.Sinus paranasal .thedoctorsdoctor. EGC. 1997. h 224556. hidung. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . 4.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi.9 4.Orbita : proptosis. Binarupa Aksara. Balenger JJ. Ed VI. Ear. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Chitale A. Vol III. Acute and chronic laryngeal infections. htm Colman BH. Ramalingam KK. hidung. tenggorok. atelektasis paru. Jakarta. Vol 1. Chest. Scleroma.14. In A Short Practice of Otolaryngology. h 368-70. 9. 61. Vol III. Ed III. 1990.10. Infective rhinitis and sinusitis. Ed VI. In Scott-Brown’s Otolaryngology. 10.32/micro/v17n04. Longman Singapore Publ. h 210. 1990. In: Otolaringology. 2004 15 .9. 3. http//www. 1994. throat and ear and head and neck. h 128-34. nose and throat diseases. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. Cermin Dunia Kedokteran No. 5. Surabaya. http//www.com/diseases/rhinoscleroma.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Masna PW.13. Rinoskleroma di RS. Dalam: Penyakit telinga.htm. Diseases of the nasal cavity.afip. Groves C. Ben-izhak O. 206-7. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. Oren I et al. Jakarta. ed IV. 13. 8. Throat and Ear. p. June 2000. 11. 16. Granuloma kronis pada muka. 1998.162. 1993. kebutaan . Wilson WR. Kariadi Semarang. Jilid I. Buku Ajar penyakit THT. Dalam Boies (ed). ed I India: All India Publishers. Ed II. Becker W. Vol 17. Suardana W. Wiratno dkk. 12. 1993. Penyakit hidung. Infections of the nose. 40. USA: WB Saunders Co. 3. p. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. p. Medan.103. 15. Wein N. Butterworth-Heinemann.atlases. Pfaltz CR. 4. p. 603-7. In Otolaryngology. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. ed 13.129. No 4. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal.muni. Ed X. Ahmad M. Vol IV. p. 1991. Shapiro J.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Yigla M. Benign Tumours and Granulomas in Nose. asfiksia dan kematian. Sreemamoorthy B. Pranowo S. Sydney: March. Tjekeg M dkk. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. Laring. Agustus. p. Montgomery WW. faring dan telinga. h 457-66. Ed III. Nauman HH. In: Diseases of the nose.1. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. New York: Thieme medical publishers inc. 14. 1851-52. 144. Desasouza S. 2089.1. Infectious disease of the paranasal sinuses. uvula.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm.4. Dr.7. 7. orofaring 2. Hilger PA. http//www. January. 1997. PG Publishing. Great Britain: 1997. 1991. Organ sekitar hidung : . Maran AGD. kepala dan leher.1 KEPUSTAKAAN 1. Monduzzi. 2. 1983. Fried MP. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna.Palatum mole. 3. Department of pathology. 1980.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. Juli.

Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Cipto Mangunkusumo. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. 144. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. kanker payudara dan kanker kulit. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.000. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. pola hidup. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. di samping Mediteranian.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. yakni 4. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan.7 kasus baru per tahun per 100. kulit hitam dan Hispanics. .000 penduduk1.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No.000 penduduk per tahun. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. Sebaliknya. bangsa Korea. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Antara lain disebutkan faktor makanan. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini.000 penduduk. seperti perokok berat. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. diasin). Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis.

Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. terlebih pada stadium dini. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. USG hati. capsid antigen dan early antigen. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). 2004 17 . Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. disusul oleh keturunan Melayu (6. telur asin. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. 144. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Pada 1966. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. banyak kasus yang terlambat didiagnosis.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama.000). 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. Selain gangguan motorik. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. Untuk menegakkan diagnosis. debu kayu serta asap kayu bakar.5 per 100. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Sedangkan pemeriksaan lain. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja.5 per 100. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang.5 per 100.000 penduduk). KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. seperti foto paru.

Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Metode brakhiterapi. terutama pada kasus dini. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. 80: 827–41. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. 3. (Eds). Azis MF. Jakarta Indonesia 1988. 1996. KEPUSTAKAAN 1. Raymond L. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. 2. Ross RK. Pengobatan radiasi. Djakaria M. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Vol. 2nd. Lyon. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. 6. Whelan SL. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Yu MC. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. 2004 . In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). and risk of nasopharyngeal carcinoma. Cancer in Asia and Pacfic. 10: 15-24. Himawan S. Yu MC. Hildesheim A et al. bawah serta klavikula. Henderson BE. 5. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. No. Young J. ed. 7. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Henderson BE. Parkin DM. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. bahkan setelah selesai terapi. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. Ferlay J. France : IARC Scient.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. 1997. YKI. p. 603 –18. Syafril A. karies gigi akan lebih mudah terjadi. Cancer Incidence in Five Continents. Cancer epidemiology and prevention. 471–86. In : Tjokronagoro A. Cancer Res. 52: 3048 –51. Herbal medicine use. N. York: Oxford University Press. Ferlay J. Yusuf A. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. p. Parkin DM. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). 143. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. Soetjipto D. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. Pisani P. 1981. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. 4. Fachrudin D. Epstein Barr virus. 1992. Susworo. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. 144. Nasopharyngeal cancer. Publ. IARC Press. Int J Cancer. (Lihat lampiran/ halaman 19). Ho JHC. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. 1990.

144. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. 2004 19 .LAMPIRAN : Gambar 1. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Cermin Dunia Kedokteran No. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.

Streptococcus β-hemolyticus. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%.3 %.11%. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”.52%. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. 87. Streptococcus pneumoniae 3. Streptococcus βhemolyticus 6. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. termasuk Indonesia. Betalaktam. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%.1 %. 53. 40% dan 80%. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. 2004 napasan atas maupun bagian bawah. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73.2%. Streptococcus sp. Metoda penelitian cross-sectional. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. yakni sebesar 68. usia 5-15 tahun 29. B. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. 144. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. serta lebih dari 50% penyebabnya . terutama infeksi pernapasan akut (ISPA).9 %. Branhamella catarrhalis.04%. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.8 %.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. Branhamella catarrhalis 22.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54.5%. Departemen Kesehatan RI.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang.5 % dan dewasa 23.82%.

2. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. yakni dengan mengukur zona hambatan. batuk. fermentasi karbohidrat. Branhamella catarrhalis (22. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31.76) 1 (0.05%). Tabel 1. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. 5. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. 6. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus.11%). terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus.53) 1 (0. Streptococcus non-haemolyticus (3. 9. 3.9%). Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. 8. kecuali terhadap Cefradin. Branhamella. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton. Streptococcus pneumoniae (3. Cermin Dunia Kedokteran No. Proteus. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. terhadap antimikroba golongan betalaktam. dan kotrimoksazol(4). 4. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. Pseudomonas.93% dan 5.82) 4 (3. 7. berturut-turut 9.2) 30 (22. sifat hemolisis agar darah. 10. 1. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54.71 %.4 % . dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam.adalah virus(1). Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No.82) 5 (3. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun.53) 2 (1. B hemolyticus diperoleh 6. hiperemis. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. (Tabel 1). dan memerlukan terapi antimikroba.46 %. 2004 21 .05) 2 (1.9) 8 (6. 144. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. makrolida.76) 1 (0. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas.2 %. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. viridans sebanyak 54.53) 2 (1. Untuk kuman S.11) 5 (3. 11.04%. Escherichia.35%. dan uji-uji khusus lainnya. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. Staphylococcus. Streptococcus β-haemolyticus (6. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. dan Haemophillus(2). sakit menelan.2%).76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. yakni sebesar 68. Klebsiella. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3). dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. 12. Antimikroba golongan betalaktam.82%).82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2).

MKI 1996. 3. Trihendrokesowo dkk. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson.0 20.23 4. Makrolid dan Fluorokuinolon. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan.41 4. 46(9): 467-76.7 %. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala.9 6. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0. 8. 2.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. Fachrudin D. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . Cefota = Cefotaksim. 9.2 22.2 %. Cefpi = Cefpirome. Resistensi kuman S. 144. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. Streptococcus pneumoniae 3. Cefoti = Cefotiam. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Sulb = Sulbenislin. Dirjen Binkesmas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners.11 3.57 5. 26.82 %. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .87 5. Streptococcus β-hemolyticus 6. pneumoniae S. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. . yakni sebesar 68. P. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin.04 9. Departemen Kesehatan R I.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini.53 1. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S.11%. non-haemolyticus K. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54.48%.05 1. Cefrad = Cefradin.. 5. makrolid 15 %.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2.05 )(10).29 1.7 %.76 0. 2. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. Cefep = Cefepime. 3. MKI 4 (2/3): 56-60. 6. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia.2%.04 %. pneumoniae Acinobacter spp.82 3.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi. Tabel 3. .52 2. 1.33 0 0 0 0 20.9 %.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2.0 %. Amx = Amoksisilin. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya.52 87. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. epidermidis PeG 2.viridans dan S. 7. 5. β-haemolyticus S. Dwiprahasta I. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. aureus 0 %. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif.53 1. 4. 1996. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.05 2. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S.67%. KEPUSTAKAAN 1.7 % dan 96. Branhamella catarrhalis 22. aeruginosa S.53 0. viridans B. Yeast (ragi) S. Ceftri = Ceftriakson. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11.76 0. sefalosporin 7.82%. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.Tabel 2. catarrhalis S.23 0 3.5%. amoksisilin dan ampisilin(2). karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No.turut adalah Golongan B Laktam. Abdoerachman H. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46. 2 (1): 6-12.82 3.12). Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53.35 3.93 6.5 40.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.33 53. MKI 1987.04%. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. .2 % dan 66.33 3. aureus Alkaligenes spp. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. 12. 4. Josodiwondo S. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. 60% dan 20%.0 80. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik.82 30. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%.

KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia. : 021-4786 4646. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai.php Hotel Bumi Minang. Sugito. Sirot J. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae.com/index. 8.id Bali. Watson A. Herman MJ.id Jakarta. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist.id Hotel Horison.com Website : www.co. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. Nukman R. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI .or.: 021-79184052 Website: http://www. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. : 021-3928658. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. Saulnier P. 11. 1988. : 0751-37771. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. Telp. Sirot S. Occurrence and Classsification. : 0274-37430 Website: http://telmed.or.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . In : Rolinson GN. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. : 021-3919653. 5.interna.org KPP Bioteknologi ITB. Batam Telp. Hartono TE.id Hotel Planet Holiday. : 0274-587555.com Hotel Sahid Jaya. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email.net Hotel Planet Holiday. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. J Internat Med Res 1986. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. Beta Lactamase. : 022-2534115. Antibiotik Beta Laktam. rs. Surakarta .kalbe. Fax : (021)-3913982 Website : www. Rai IB.idki. Meeting on Respiratory Care Ind. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. Faks.id Website : www. Laporan penelitian 1998. Med Progr January 2003. 10. Fax : 021-3914830 Website : www.org website : www.or. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt.6. 1242. : 021-31934636. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr.or.id Hotel Grand Hyatt.obgyn-bandung. Kariadi Semarang. 14:193-9. Idajadi A.id Hotel Sahid Jaya. Bandung Telp.id Bali International Convention Center Telp. Slombe B.com Web-site : www.id Karawaci.respina.itb. : (021)-3148610.com. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No.co.3907703.fkumy. : 021-330956. 9. Telp. : 022-2039086 / 2035042. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Jakarta Telp. Tarigan HMM. Yogyakarta Telp. Tangerang Telp. 7. Jakarta. 12. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp.pluit@rad. 1994.id Jakarta Convention Centre Telp. 6-17. : 0778-7024522. Suprihati. : 021-4532202. 144. 2004 23 .idai. (eds). Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. Jones A. Batam Telp. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. 6685070. : 0274-37430. Surakarta. roga@biotech. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika.or. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Jakarta Telp.com. distribution of phenotypes related to beta lactamase production.net. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis.International Symposium on Infection Control Informasi terkini.internafkunand. Bandung Telp. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.1988.ac.net. Padang Telp. Gedung AR Fachruddin. Bali Telp.pluit-hospital.net. : 021-5684085 ext. 6685006 Fax : 021-4535833. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. Wibisono MY.

Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. 144. dan lain sebagainya. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. tengah. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Secara definisi. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. Misalnya. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. sangat luas. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. biasanya di atas 120 dB. dan dalam. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. Di telinga tengah ini. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. alat-alat transportasi berat. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. Untuk itu. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. penurunan kemampuan kerja. Hal ini perlu diketahui. cara yang digunakan untuk . Anatomi Telinga Secara anatomi. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja.

makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Untuk menghindari kelelahan auditorik. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. 3). pendengaran orang tersebut berkurang. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. 2004 25 . Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. Makin tinggi tekanan udara. nilai ambang di atasnya. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). 2). Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. 144. amplitudo. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. dengan kata lain. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. yaitu trauma akustik. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. pengeras suara. di udara terbuka. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. Pada trauma akustik. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. atau kerusakan langsung organ Corti. dsb). kerusakan tulang-tulang pendengaran. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. dan durasi. dsb).

tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. dan 6000 Hz. status kesehatan. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). tes rekruitmen. getaran. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. Pemeriksaan telinga. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. spektrum suara. Pada pemeriksaan fisik. 4000. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. frekuensi yang diuji. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. serta faktor-faktor lain seperti usia. dan pola pajanan temporal. dan sering timbul tinitus. disritmia jantung. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. 144. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). berbicara dengan suara menggumam. Dari data observasi di lingkungan industri. Weber. jenis kelamin. meningkatnya tekanan darah. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain.setelah pajanan suara. Bila sudah terjadi kerusakan. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. durasi total pajanan. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. hidung. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. dan sebagainya. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. . Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). 2000. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. refleks pernapasan berupa takipneu. spektrum bising. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. trauma telinga karena agen fisik lainnya. dan sebagainya. hari ataupun lebih lama. alat transmisi ke telinga. Namun perlu diingat. Pada skala frekuensi. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. pengukuran impedance. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. 1000. Secara sederhana. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. 3000. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. durasi pajanan. seperti faktor fisika lain berupa panas. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). dilakukan pemeriksaan audiometri. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. dan sebagainya. Untuk menilai ambang pendengaran.

durasi masing-masing pekerjaan. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). riwayat penyakit dahulu. riwayat pelatihan militer. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. interupsi suara berulang. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. barang atau jasa yang dihasilkan. Selain itu. Penggunaan alat pelindung telinga. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. keluhan utama. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. riwayat keluarga. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. tinggi rendah dan irama percakapan. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Jika dipergunakan alat bantu dengar. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. Suara yang asing. tanggal bekerja dan umur saat itu. terutama pada lingkungan industri. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. kondisi medis. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. 144. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. riwayat pekerjaan. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. Cermin Dunia Kedokteran No.

Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Zenz C. dan Hearing Conservation. Jakarta : 2001 Department for Environment. 2004 . Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. In : Zenz C. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. 28 Cermin Dunia Kedokteran No.penggunaan alat pelindung diri. 144. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. St. In . 3. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Horvarth EP. Noise. KEPUSTAKAAN 1. McGraw-Hill Book Comp. Occupational Hearing Loss. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. http://www. 2.gov. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 2.htm. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dickerson OB. New York : 1979. Mosby. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. February 6th. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5.uk/ environment/noise/health/page05. Iskandar N. 2nd ed. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Harris CM (ed). Food and Rural Affair. 2004. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. 3rd ed. Handbook of Noise Control. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini).defra. cermat. Nilland J. Occupational Medicine. (chief ed). Pemeriksaan refleks kedua mata 4. Edisi 5. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. 4. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. Louis : 1994 Soepardi ES.

1 – 108. 3. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. mudah emosi. 2.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. meriam dll.5 detik berturut-turut. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. 2004 29 . dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana.16 %. Cermin Dunia Kedokteran No.81% dengan paparan kebisingan 86. dsb. prevalensi NIHL 31.1997). 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . misalnya suara gergaji sirkuler. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Di Indonesia. melainkan ada periode relatif tenang. tembakan. suara dapur pijar. kebisingan di lapangan terbang dll 4.96 dB).14% dan gangguan keseimbangan saja 27.43%. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. gangguan pendengaran saja 17. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada. 1000 atau 4000 Hz). Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27.2 dB (Lusianawaty). kipas angin. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. gergaji sirkuler. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. suara katup gas.71%.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. rerata akselerasi getar 4. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%.2m/dt2. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. 144. Menurut WHO (1995).105 dB (Sundari. Di perusahaan plywood di Tangerang. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. suara katup mesin gas. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. Di Quebec-Canada.

terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. ledakan dan Di Indonesia.waktu pemulihan bervariasi . namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. keselamatan tenaga kerja. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan. 4. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. c. Tabel 1. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. stres. peningkatan nadi. dan lain-lain.non-patologis . • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . bising bernada tinggi sangat mengganggu. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam.bersifat sementara . Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. cepat marah. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.patologis . gangguan komunikasi dan ketulian. b. 1.25 atau kurang 5. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. 144. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. kelelahan. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. susah tidur. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). seperti gangguan fisiologis. Ketulian bersifat progresif. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. seperti letusan. 2. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. 2004 . intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. 3. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS .5 0. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. Gangguan fisiologis Pada umumnya. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. kurang konsentrasi. d. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. 5. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. gangguan psikologis. daya dengarnya akan pulih sempurna. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula.

Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. ruang isolasi. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. b. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. 5. 7. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. 1996): 1. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. 144. hubungan baik dengan karyawan. langit-langit dan lantai. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. 3. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. dan lain-lain). Serta bisa mengurangi stres. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. Bagi karyawan Mencegah ketulian. kesejahteraan bukan santunan. 1994). Utamakan pencegahan bukan pengobatan. Kontrol engineering dan administrasi 3. 6. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. antara lain: 1. Problem mencari arah/asal suara d. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. bersifat menetap (irreversible). 2. 2004 31 . Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. Integrated dengan program K3 4. Problem komunikasi di tempat kerja b. 2. 1. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Bagi pengusaha Taat hukum. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. 5. jadwal kerja . Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. mengurangi angka kecelakaan. Berupa policy statement 3. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. proaktif bukan reaktif. 4. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Cermin Dunia Kedokteran No. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. cepat sembuh secara parsial atau komplit. misalnya : a. c. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Monitoring paparan bising 2. rotasi kerja. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. 5. Dilaksanakan oleh semua jajaran. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. Dukungan manajemen 2. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. 6. tinitus. namun merupakan pedoman. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. Tuli ini biasanya bersifat akut. menunjukkan itikad baik. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. Economic self-sufficiency handicap e. Problem dalam mendengarkan musik c.lainnya. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. meningkatkan produktivitas. mengurangi angka kesakitan. 3.

menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. 5. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. Penjadualan pengoperasian mesin 4. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. Mengatur jadual produksi 2.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. Pre-employment 2. contohnya : 1. Annual monitoring 3.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : .jika karena penyakit.periksa dokter . Setiap tahun. 144. 4. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). kecepatan putaran atau isolasi. bila STS persisten atau membaik IV. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. b. Rotasi tenaga kerja 3. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. 7. Evaluasi : . Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD..untuk baseline 14 jam bebas bising. yang sering juga disebut survei bising.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . bertujuan untuk : 1. memberi pelumas secara teratur. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. 2.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Mengikuti peraturan III. konsul THT Lakukan revisi baseline. 2004 . Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. Base line atau data dasar : . Pre-employment/preplacement/Baseline 2. 2. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). Penempatan ke tempat bising 3. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. 3.Bila sudah memakai. diharuskan memakai . Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. pengukuran dengan peta. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : .I.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . mengencangkan bagian mesin yang longgar. ukur maximun dan minimumnya. Kecocokan. berdasarkan lokasi tempat kerja. ukur tempat dan ruang kerja. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. 6. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. beri petunjuk ulang . Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1.paling lama dalam waktu 2 minggu . Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. tenaga mesin. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. 5. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1.Bila belum menggunakan APD. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). 2.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). Exit Policy mengenai audiogram : 1. . lakukan tahap selanjutnya c.komunikasikan dengan karyawan tersebut . Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. KONTROL . Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. bila bising > 85 dB 4. dan lain-lain. 2. SOP pengukuran harus ada dan jelas. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. konsulkan ke dokter THT .periksa data kalibrasi alat .periksa tempat kerja . 4. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. atau menggunakan APD 2. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). bila lebih dari 85 dB.Bila perlu. 3.

bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. misalnya pelatihan dan penyuluhan. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. 4. Penyuluhan khusus. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. Cermin Dunia Kedokteran No. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. APD yang digunakan. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. Tidak saja untuk melindungi pekerja. 2. 144.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. V. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. 3. VI. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. Audit Eksternal. dengan sasaran : 1. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. 3. 5. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. perusahaan harus menyediakan APD ini. Kemudahan pemakaian. formable type b. VII. PROGRAM AUDIT 1. 3. Beberapa tipe sumbat telinga : a. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. 2004 33 . dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. Hasil pengukuran kebisingan. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. Nyaman dipakai. biaya. 2. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. Kontrol engineering dan administratif. custom-molded type c. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. 2. kesertaan supervisor dalam program. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. 2.

10 Juli 2004 Website : http://telmed. 2004 .Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No.fkumy. 144.

perawatan luka operasi di stoma. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. cara membersihkan kanul dalam. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. 2004 35 . Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. sering saling tertukar. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. mengurangi efektifitas refleks batuk. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). bukan dari saluran napas bagian atas. humidifikasi buatan. Bogor. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. 144. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. Selanjutnya dikatakan. pemeriksaan periodik kanul dalam. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. Cermin Dunia Kedokteran No. Berdasarkan permasalahan tersebut. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara.

Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. kasa perban. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. Sebelum mengangkat kanul. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Cara membersihkan kanul dalam. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. Jika udara rumah kering.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. d). Alat ini dipasang pada kanul trakea. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. Pada waktu ekspirasi. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. jangan diberi tekanan negatif. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Condensor humidifier. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. penjepit. sebagai berikut: 1). Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). c). Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Buatlah larutan sabun di dalam botol. c). Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. 2). Pastikan tidak ada air memasuki stoma. b). tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. Akan timbul gangguan saat menelan. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. Alat ini relatif lebih efisien. 2004 . d). Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Bila didapatkan sekret yang kental. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Beberapa jam pertama pasca bedah. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Dengan adanya trakeostomi. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Bila penderita bernafas spontan. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. dan cairan penggosok perak. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. 144. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). siapkan alat-alat untuk resusitasi. menggunakan lap atau kasa perban. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). b). mungkin akan bermasalah. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. saringan. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Sebelum melakukan pengisapan. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. sehingga perlu dilakukan pengisapan. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. panci bergagang.

Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. Setelah air mendidih.2a). Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. 6). Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. 2004 37 . 4). 2). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. 4). Untuk mengangkat kanul trakeostomi.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. Cermin Dunia Kedokteran No. 3). Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. 7). 1). tuangkan air dari panci. Angkat saringan dari panci bergagang. Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. 5). Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. Tarik kanul dalam ke belakang. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. didihkan kanul dalam selama 5 menit. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. 3). 2b). 3). dan tempatkan kembali saringan dalam panci. Gambar 1. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. Biasanya. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. 144. 8). pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. Jika kanul dari perak telah memudar. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. 5). Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. Gambar 2. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. kemudian bersihkan dan cuci. ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. Setelah kanul dalam bersih. 2).

Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. 5). Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 2).Cara melakukan : 1). 2). khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Di samping itu. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. 3). Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci.4). Bersihkan alat-alat dengan air sabun. 3). jika udara dalam rumah kering. untuk mengeluarkan udara di dalamnya. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Gambar 4. tempatkan kasa di atas kanul. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. 2004 . Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. 4). Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. 4). Siapkan alat-alat. atau jika kanul teriritasi. Lepaskan balon karet. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Gb. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. 144. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Jika mesin penghisap tidak didapat. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb.

Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. mengganti kanul. Jika kasa tidak terlipat. 705-17.. 5). menghisap discharge. cara membersihkan kanul trakea. 6). Maran AGD. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. 4). A Textbook of ear. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. In : Logan Turner's Diseases of the nose. Boies LR. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. Gambar 6. Cermin Dunia Kedokteran No. panjangnya 6 inci. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. 3).dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. 5th ed. 2. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. Bireell JF. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Adams GL. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. 2004 39 . 5). Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. KEPUSTAKAAN 1. throat and ear. 1977 . Me Dowall GD. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. 2). 5th ed. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. 1). 144. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. nose and throat diseases. Tracheostomy. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Me Kailum JR. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5.5). Tracheostomy. 1567-73. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. Me Klay K. Bristol : John Wright and Sons Ltd. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. Paparella MM. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. 1978 . kasa 4 x 4 inci. 6). Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. merebus kanul dalam.

In: Paparella. Embriology and anatomy of the larynx. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. 1976 . Shapiro RS. 89 : 521-8. Skripsi di Bagian THT/RSCM. 4th ed. Tracheostomy and laryngotomy. Lee KJ. London : Butterworths. Vol. 5. Olving JH. Otolaryngology. Victor LD. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. 17. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. Evans JNG. 12. 19 September 1981. Montgomery WW. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. Otolaryngology. 2nd ed. 242-8. In : Ballantyne.3. Toledo PS. Ann Otol 1980. Inc. 107 : 114-6. An experimental study. Steel PM. nose and throat. Batsakis JC. 20. Philadelphia : WB Saunders Co. Laryngoscope 1981. Vol II. respiratory apparatus. Operative Surgery. 84 : 781-6. Conway WA. Shumrick DA. Fujita S. An atlas of head and neck surgery.obgyn-bandung. Montgomery WW. 88 : 589-97. Philadelphia: WB Saunders. Shumrick (eds). Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. Basic sciences and related disciplines. 87 : 99-108. The Otolaryngology board. 144. Krikotirotomi. JAMA 1981. 1979 . 3rd ed. Basic sciences and related disciplines.. 1973. Arch Otolaryng 1981 . 11. 16. Roth T. Putney FJ. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Complications and postoperative care after tracheostomy. 14. 1973 . Grooves. Silicone tracheal canula. Evans CC. J Laryngol Otol 1981. 1. 9. London : Butterworths. (eds). Feldman SA. Scott-Brown's diseases of the ear. Ann Otol 1980. A preparation guide. Magilligon DJ. 7. 95: 61-8. Davies J. 6. Laryngo-tracheoplasty. 8. Nose and throat. Fundamental international techniques. Martin WM. 1973. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. vol I. Lulenski GC. 15. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. 433-75. Natvig K. Vol I. 2nd ed. Ann Otol 1978 . 2004 .org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. 18. Philadelphia : WB Saunders Co. 10. In: Ballantyne J. Co. Paparella MM. Lore JM. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. London : Edward Arnold Ltd. Bandung. Siregar Z. Ann Otol 1975 . New York : Medical Examination Publ. Wright D. Lulenski GC. Crawley BE. 246 : 34750. 688-708. 1955. 4. Tood GB. (ed). Zorick FJ. Galood HD. 89 (suppl 73): 1-7. 1971 : 31-61. diaphragma and esophagus. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). (eds). Arch Otolaryngol. 13. Basic sciences. 91: 355-61. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. 62 : 272-6. 19. J Laryngol Otol 1974 . 1973 : 170-96.

umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. rasa oleng. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. karena berjalan dengan kedua tungkainya. 2004 41 . Bogor. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No.1) . unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). 144. Gambar 1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. tak stabil (giddiness. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor.

Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). yang berkembang menjadi gejala mual. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. vestibulum dan proprioseptik. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. Mabuk Udara 4. 5. mual dan muntah. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. akibatnya akan timbul vertigo. (Skema) Oleh karena itu. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. nistagmus. serebelum) atau rasa melayang.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. belajar dan daya ingat. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. 3). teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. 2004 . 2. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. timbul reaksi dari susunan saraf otonom. letak lesi dan penyebabnya. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. Skema Klasifikasi Vertigo 6. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan.(Gb. 144. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. 3.

Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. Fungsi vestibuler/serebeler a. Gambar 4. Uji Romberg (Gb. c. vestibularis. Uji Unterberger. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. bising karotis. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. paroksimal. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. rasa naik perahu dan sebagainya. 144. hipertensi. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. 7). berputar.duduk dan berdiri. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. gagal jantung b. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. Cermin Dunia Kedokteran No. hipertensi. Dalam menghadapi kasus vertigo. serebelum. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. kanamisin. progresif atau membaik. kronik. penyakit paru juga perlu ditanyakan. salisilat. goyang. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. baik kelainan sistemik. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. 2004 43 . ketegangan.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. hilang timbul. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. tujuh keliling. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. hipoglikemi. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. hipotensi. penyakit jantung. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. anemi. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. keletihan. Juga kemungkinan trauma akustik.batang otak. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. kongestif. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. hipotensi.

Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Gambar 9. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. Uji Tunjuk Barany e. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas.1. Uji Babinsky-Weil (Gb. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. 144. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. 9) Perhatikan adanya nistagmus. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. jika ada gangguan vestibuler unilateral. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. 2004 . a.

selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. berupa gerakan mata melirik ke atas. Foto Rontgen tengkorak. pendengaran. b.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. okulomotor. dengan tes-tes Rinne. kampus visus. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. tahan selama 30 detik. Bekesy Audiometry. Gambar 9.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. SISI. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Tabel 3. otot wajah. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf.5 mg 1 dd 0. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli.iv. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Pemeriksaan Penunjang 1. Arteriografi.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. iv im. Antivert Phenergan. Sentral: tidak ada periode laten. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. b. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. Stenvers (pada neurinoma akustik). Pencitraan: CT Scan. 2004 45 . dan fungsi menelan. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. kemudian duduk tegak kembali.iv. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. bawah. tahan selama 30 detik. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. a. 2. leher. kemudian duduk tegak kembali. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. gangguan cara berjalan). dan Schwabach memendek. Magnetic Resonance Imaging (MRI). Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). VIII. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). 2.Elektromiografi (EMG). Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. parestesi) dan serebeler (tremor. 3.fungsi sensorik (hipestesi. c. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). 4. Tone Decay. (Tabel 3). TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. sensorik wajah. Weber dan Schwabach. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). 144. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi.

24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. demikian juga gentamisin. Aspek Neurologi dari Vertigo. Monograf. Kusumastuti K. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. selain vertigo. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. 2004 . 4. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. diuretik ringan bersama diet rendah garam. membatasi asupan garam. terapi profilaktik juga belum memuaskan.. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. Sedjawidada R. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. 2002. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. tanpa tahun. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. KEPUSTAKAAN 1. berhenti merokok. Monograf. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. Syeban ZS. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting.(eds. Diagnosis dan Terapi. hal. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. Andradi S. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Dalam: Joesoef AA. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. Seri edukasi. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. Harahap TP. tanpa tahun.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. bisa alat dan saraf vestibuler. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Perdossi. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. antiinflamasi nonsteroid. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. Di awal sakit. 5. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam.). metronidaziol dan minosiklin. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. asam nalidiksat. Vertigo. diuretik loop. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan.xiii-xxviii. yang makin lama makin cepat. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. 7. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. Obat penyekat alfa adrenergik. Neurootologi klinis:Vertigo. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. Kelompok Studi Vertigo. sedangkan kanamisin. Joesoef AA. 3. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. Patofisiologi. Tinjauan umum mengenai vertigo.vestibularis. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). 2. 14 Desember 1991. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. tanpa tahun.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. diduga disebabkan oleh infeksi virus. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. 144. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. Duphar. 6.1999.

bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. berlangsung beberapa menit atau hari. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . tumor fossa cranii posterior. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. Labirin picu (trigger labyrinth). Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas.Vertigo posisional paroksismal benigna. pening. Sindrom Cogan. 3. otonomik (pucat. 144. pusing.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. Arakhnoiditis pontoserebelaris. Vertigo paroksismal 2. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. mumet. kemudian menghilang sempurna. dapat disertai gejala lain. kelainan gigi/ odontogen. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. sempoyongan. 3. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. Sindrom Lermoyes. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. muntah) dan pusing (2). DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). termasuk di sini adalah : . Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. kepala terasa enteng. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut.Vertigo posisional paroksismal laten. . kemudian berangsur-angsur mengurang. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. peluh dingin. Cipto Mangunkusumo. rasa melayang (1). Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. L. Migren ekuivalen. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. Epilepsi. Yang tanpa disertai keluhan telinga. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. Di antara serangan. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). rasa mengambang. tujuh keliling. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. 2004 47 . unstable). mual. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. 2.

hipoparatiroid. arteriosklerosis. e. kelainan psikis. c.Psikiatrik 4. sindrom sinus karotis. ensefalitis vestibularis. 2. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. 2. perdarahan labirin. ETIOLOGI 1. Pemeriksaan khusus : . otitis media dengan efusi. b. sindrom arteria vestibularis anterior. e. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. 2004 4. Pemeriksaan tambahan : . herpes zoster otikus. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. trauma. 2. vertigo postural.Pemeriksaan mata . Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. 2. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. akan diproses lebih lanjut. kelainan okuler. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. Anamnesis. lues. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. fobia. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. abses. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. hipoglikemi. Terapi kausal . hipotensi ortostatik. Telinga bagian luar : serumen. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. 3.EEG. d. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. : infeksi. 2. rudapaksa dengan perdarahan. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran.Radiologik dan Imaging . trauma. dan vestibulospinalis.Pemeriksaan otologik . 3. 6. ensefalitis. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . sklerosis multipleks. serangan vaskular. f.VIII. fibrilasi atrium paroksismal. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. unsteadiness. anemia. meningitis Tb. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. ensefalitis pontis. Epilepsi. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. 3.Audiometri dan BAEP . perdarahan. kelainan endokrin. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. EMG. Nervus VIII. siringobulbi. labirintitis akuta. c. Migren. III. dibedakan menjadi : 1. : Hipertensi kronis. tumor medula adrenal. hipoglikemi. hipertensi kardiovaskular. neuritis n.(2). Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. b. alergi. kolesteatoma. Trauma kepala/ labirin. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. 5. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . trombosis arteria serebeli posterior inferior. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin.ENG . DIAGNOSIS 1. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. kelainan kardiovaskuler. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. Penyakit SSP : a. tumor. Inti Vestibularis: infeksi. Hipoksia – Iskemia otak. keadaan menstruasi-hamilmenopause.Laboratorium . benda asing. di samping itu. dan proprioseptik. 144. susunan vestibuloretikularis. blok jantung. Intoksikasi. sklerosis multipleks. otitis media purulenta akuta. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. lesi labirin akibat bahan ototoksik. neurosa cemas. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. sindrom pasca komosio. visual. vertigo epidemika. pelagra. berangsurangsur mereda. sinkop. dibedakan menjadi: 1. tumor serebelopontin.Pemeriksaan fisik umum. Dalam kondisi fisiologis/normal. Lues serebri. Pemeriksaan fisik : . cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.Pemeriksaan neurologik . Infeksi : meningitis. hematobulbi. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. TERAPI Terdiri dari : 1. Kelainan endokrin: hipotiroid. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak.Vertigo servikalis. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. dan EKG. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. intoksikasi obat. sindrom hiperventilasi. labirintitis.Hipotensi ortostatik . Tumor. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. d. mabuk gerakan. labirintitis kronis. hidrops labirin (morbus Meniere ). tumor.serangan akut. stenosis dan insufisiensi aorta. IV dan VI. Kelainan psikiatrik: depresi. trauma. sklerosis multipel.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). assamica dan irrawadiensis.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3.49%.7 2.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. tanaman teh Camellia sinensis O. kariostatik serta hipokolesterolemik.K. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. dengan harga obat-obatan yang mahal. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis.3 Menurut Graham HN (1984). anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. 52 Cermin Dunia Kedokteran No. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus.3 Selain itu di negara-negara Barat. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. Juga karena bahannya mudah didapat. kanker.2 Di masa sekarang.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. var. 2004 . Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. assamica. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departeman Kesahatan RI.5. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. irrawadiensis. yaitu sinensis. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. 144.5.Var. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik.K.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas.

5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak.29 2.21 3.83 4. 13. 6. 14. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. epigalo katekin 3.275-12.43 1. indeks massa tubuh: 24. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.75.74 6.82. 20. 8. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4. Setelah 4 jam berpuasa.31 0. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. 19.99 3. 120. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. Apabila proses fermentasi telah selesai. epigalo katekin galat sebesar 4. 28.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda. 3.3.enzim. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434. 12. 29.09 0. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang. 12.98 5. kemudian diaduk selama 3 menit.63 Trace Trace Trace 2. 11.03 0. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l.7 3.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme.68 12. 10. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. 5. 1.86 1. 30.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C). 26. 23. 10.40. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC). Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu. 144. 16.79 4. usia rata-rata 21. 13. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). selanjutnya digulung dan dikeringkan.16 4. 9.0). Komposisi teh hitam(3) No.110 µmol/l).09 4. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. 8. 22. 3.85 0. 2004 53 .477 µmol/l (kisaran 4.50 0. 2. 4. Daun teh dilayukan lebih dahulu. 7.17 1.13 3. 25.7 Tabel 2. 1. 17.15 0.90 1. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus. 6.42 20. 21. 18.57 3.62 35.74 0. 14. 4. 24.25 1.93. setelah 60. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki.1 tahun. Pada proses ini.70 0. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh.70 5.01 0. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten.23 4.50 0. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. 9. 5 wanita.96 percobaan 430 µmol/l. 2.56 0. 15.84 4.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2. 11.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1.02 0.20 8. 5.21 6. 27. Komposisi teh hijau(3) No.50 0.9.69 0. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. 7.

18. Drewnowski A.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. 1997. J Nat’l Cancer Inst. 13. 1997. Goldbohm RA. 3. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. 9. Toda M. and Health Effects. Mou TH. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Gershon-Cohen J. Kushi LH. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Wakabayashi K. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. Fluorine in Tea and Caries in Rats. Imai K.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Nair MK. 1998. Prima Kardia Pers. McLaughin JK. 1994. hal ini dapat dijelaskan. 1987 . Preventive Medicine 1992. Brants HA. Yogyakarta. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. 1-477. Bag. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Lee MJ.05). Van-den Brandt – PA. 11 : 3840. 5. Zheng W. Nakachi K. dan radikal peroksil. and Disease Prevention. Baraas F.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. 173 : 304-312. Cermin Dunia Kedokt. Environ Health Perspect. 10. Van Het Hof KH. 55(2) : 31-43. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Kono S. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Jakarta.54 g /200 g. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. 37 (8) : 739-60. Prima Kardia Pers. Sutarmaji A. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. Nutrition News. Nature 1954. Potensi Antioksidan pada Teh. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Shimamura T. KEPUSTAKAAN 1. 1996. Jakarta. et al. Crit Rev Food Sci Nutr.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. McClendon JF. 1997 : 82-3. 26 (6) : 769-75. 2004 . Hyderabad. Brussel: 1995 . bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Japan. 1997. 7. 11. Shinchi K. 21 : 526-31. Weststrate JA. Preventive Medicine. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. UGM Press. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Teh juga telah diuji teratogenik. Baraas F. Chen L. 1990. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu.14-18 Diperkirakan.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. Van-Popel-G. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam.19 Selain itu pada wanita post menopause. Jakarta. 1989 . Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. 21. Okubo S. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. 52 : 389-95. Tjitrosoepomo G. Jakarta. Langseth L. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Hong CP. 19. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Van Steenis CGGJ. 128: 49-51. cet ke-1. et al. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. 6. ILSI European Monograph Series. 1994. 23. 20. Nakayama M. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. 1-24. 52 : 1162-70. 144. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. 17. Antioxidants. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Prog Clin Biol Rev. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. 12. Blot WJ. body weight. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Tuminah S. Yang CS. Letters in Applied Microbiology. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Doyle TJ. Chow WH. Popkin BM. J Epidemiol. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. Dirghantara E. Eur J Clin Nutr. 24. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. O2•− . Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. 2. In Liss AR. termasuk pada wanita post menopause. Am J Epidemiol. kolesterol LDL. Folsom AR. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Sellers TA. Jakarta.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. Yanai F. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. Biokimia FKUI. Jufri M. FMIPA UI. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. Oxidants. FMIPA UI. 1999 : 11-2. 2001 : 1-15.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan.20. 14. cet ke-2. cet ke-1. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Kono S. Nutr Rev. 1996. 313 : 229. Ikeda N. 88 (2) : 93-100. Thorpe G. Van den Berg H. Ferraro T. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Substansi seperti tanin (dari teh). Consumption. Hertog MG. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Selain itu. 1999. et al. 1984 : 29-74. 15. 20 (2) : 1-6. 1-495. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Graham HN. 4. Maxwell S. cet ke-4. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. 22.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. 144 (2) : 175-82. Astuti M. Zhi YW. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. 2000. Jakarta. Yang GY. 16. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. 6 (3) : 128-33. 1996. National Institute of Nutrition. baik teh hitam maupun teh hijau. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Jufri M. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Cancer Research 1992. Shinchi K. Suga K. Imanishi K. 8. Pradnya Paramita.

Faktor. Cermin Dunia Kedokteran No. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). Departemen Kesehatan RI. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. demam akut 2-7 hari. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun.414 kematian(1). HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. 144.871 kasus dan 1. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. (Tabel 1). Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. dan mengisi informed consent. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas.April 2001.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. 2001) . Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari .32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. dirawat di rumah sakit.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. 2004 55 . Sri Susilowati.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI.

Tabel 4.3% positif dan 48. Data Kasus DBD 1999. Sub. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. 5. Tabel 3. 3.Tabel 1.74 3. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1.3 48.53 0. Jakarta.3%. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51. Profil Kesehatan Indonesia 1999.6849). Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. Clarke DH. Desember 1999.74 31.55 1. tahun 1995: 50. Berita Epidemiologi. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus.19%.82%. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan. 2.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. 1958.24%(5).Dit.7 100. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% . penderita berada pada derajat I dan II. J.50%. Am.16 6. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21.44 10. hasil uji HI positif sebesar 51.7 11. Cassals J. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.Jen.1:1). Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.61 100.42 3. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. tahun 1997: 34. 144. KEPUSTAKAAN l. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. 4. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo.21%. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. Departernen Kesehatan RI 2000.07 1. 7: 561. tahun 1998: 36. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. 2004 . 56 Cermin Dunia Kedokteran No. 2000. 2001.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut.5% . Tabel 2. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.21 0. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes.4 100.7% negatif. yaitu: tahun 1994: 34. Muchlastriningsih E et al.53 1.7% dan derajat II sebanyak 44.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51. Surveilans Dit. tahun 1996: 32. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . Trop. Hyg. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. Med. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif.9 66. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses.

Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. 3000 IU dan 10. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. seperti: FeSO4. sakit kepala. Jakarta – Indonesia Tlp.kalbe. fatigue. Gedung Enseval. : (021) 428 73680 Website : http://www. edema. 3000 IU. Senin – Jumat (07. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. 144.5%/minggu). Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat.30) Cermin Dunia Kedokteran No. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu.00-15. Jangan dibekukan dan dikocok. Letjend. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. mual. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. meskipun dapat dihentikan setiap saat. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. 2004 57 . Jl. diare. terlindung dari cahaya. artralgia. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. 1998. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. Fax.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. • Hipersensitif terhadap human albumin. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis.: (021) 428 73888-89. suhu 2-8°C.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU.co. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. Suprapto. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula).000 IU. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. KALBE FARMA Tbk. pruritus dan urtikaria. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. 10. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol.

Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral. Sumber: http://ivertigo./hearing/hrexam. 2004 .apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 144.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 1990). Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.net.

(2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. dll. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. information processing. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. merawat data. atau artificial intelligence. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. dll. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. dr HM Goh. dan beberapa area yang lebih spesifik. 2. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. dental informatics. computer in medicine. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. seperti: tanya jawab. melihat rekam medik dll. 5. dll. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. contohnya: computational physics. telekardiologi. seperti: computer science. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). dan informatics. kedokteran nuklir. informatika yang berorientasi pada aplikasi. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. (Dr. Akhir-akhir ini. 4. medical information science. radiologi. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dan informatika terapan. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. seperti: proses pendaftaran pasien. teleradiologi. Biaya dan keuntungan sistem informasi. 144. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. computational linguistics. proses kontrol. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). health informatics. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 59 . misalnya menginformasikan jam praktek dokter. sifat website pun sudah mulai berubah. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. aspek keamanan dan legalitas. dll. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. artikel kesehatan. Sebaliknya. 3. dll.

dan Portal Kedokteran www. APAMI Board Meeting. batu ginjal. eHealth Asia 2004. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. RSIA HERMINA Daan Mogot . RS Mitra International.co. J. Erik Tapan.Hj. 2004 . dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. 6 April 2004 Pada malam hari. membuka acara eHealth Asia 2004. dan sebagainya. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut.id/seminar. menghisap rokok.Pudji Rahardjo. Pada topik yang diberi tanda Breaking News.PD-KGH. dan infeksi.Pudji Rahardjo. dan sebagainya. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. batu ginjal. Sp. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr.co. 144. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". 6 .kalbe. (tampak dalam foto dr. J. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue.Jakarta. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. setelah menyelesaikan acara ilmiah. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. Untuk itu kita jangan sampai lengah. Demikian dikatakan dr. Sp. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Hotel Acasia. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah.PD-KGH.043 orang. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". menghisap rokok. 6 April 2004.id. Kuala Lumpur. bisa diakses di http://www. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Pudji Rahardjo. Dalam sambutan tertulisnya.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. Tele-education kesehatan via satellite. yang di klik rata-rata 2. SpPD-KGH. Demikian dikatakan dr. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. Studio mini Jakarta Eye Center.kalbe. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Kuala Lumpur.000 kali per hari. Wakil dari Indonesia. dan infeksi. Hotel Acasia. Laporan lengkap dari simposium. Mohammad Taha bin Arif.

Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. karena dapat mencegah atrofi villi usus.PD. Seminar Integrated Hospital Marketing. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. Hotel Shangri La Jakarta. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. Danial Abadi. Prof. SpS(K).(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. 25 . Zubairi Djorban. Jakarta. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. Ed. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu.Jakarta. dr. Amiruddin Aliah. Dr. di Jakarta selama 2 hari. Cermin Dunia Kedokteran No. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. K.16 % (WKNPG : 2. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. 25 . lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. 144. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09.02 % (WKNPG : 5. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. Seminar IT PERMAPKIN. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. termasuk dari Kalbe Group. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. MM dan Prof. SpS(K). Arifin Limoa. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. Sp. Jakarta. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Jakarta. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. Sie. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease).9 %).26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. 2004 61 . tetap menjaga kelangsungan fungsi usus.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. Demikian dikatakan dr. SpPD. enterosit dan kolonosit. 23 . SpS(K)). Jakarta. menjadi terapi yang bersifat spesifik. dr. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini.5 %) dan wanita 11. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. dr. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. Bali International Convention Center. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. 27 . Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. radiasi dan operasi. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Dr. Demikian dikatakan Prof. H. dari kiri ke kanan: dr. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). Hotel Mandarin Oriental . Slamet Suyono.26 Mei 2004. Hotel Borobudur Jakarta. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. SPS(K). seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. Menurut Budi Sampurna. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. Sebabnya.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. 24 Mei 2004.

mereka di amati selama rata-rata 1. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. 116 di antaranya juga diberi 500 mg. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.bb/hari selama 5 hari.7. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. 144. baik di tempat tidur (odds ratio 2. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. 31 di antaranya fraktur femur.89. tinggi badan. kemudian dimatikan selama 12 minggu.95 (95%CI: 1. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal.3 – 0.0 (paling empuk). juga di korteks temporal anterior bilateral.36.8) dan bukan perokok (0.9) di kalangan bukan perokok. risiko frakturnya 4. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%). 0. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. nyeri saat berbaring (p=0. 2004 .8).3. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral.0 (paling keras) sampai 10.24 – 3. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition).0001) tidak tergantung usia. 95%CI 0. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2. sepanjang tahun 1997-2000. Lancet 2003. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0.24 – 8. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.9) dan keluhan mukosal (0. Sejumlah 233 pasien mendapat 0. 95%CI: 1.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah. Sekelompok peneliti di Montreal.6.6. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama.5. p<0. 0.5 – 0. 0. 0.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. 362: 1699-707 brw 0.9). Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5.2 – 0.99) juga terhadap keluhan respirasi (0. Selama periode studi. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. 0. 0. Lancet 2003. sex.6. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0.8. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.059).ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol.10. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan.9) dan keluhan muskuloskeletal (0.4. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100). Setelah 90 hari mereka dievaluasi. 1.93.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre.50 – 2. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5.5 – 0.7 tahun.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0.44 kali (95%CI: 2.4 g IVIg/kg. 0.93) maupun saat bangkit (1. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2.7.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi. p<0. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita.97 – 3. Lancet 2004. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk.9 ± 0. berat badan. selama 48 minggu. Selama masa itu terjadi 121 fraktur.7 – 0.4-0. Daerah frontal.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras.13 – 4.52. Lancet 2003.

89 (95%CI: 1.40.07-3. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak.41. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1.68. 95%CI 0. 36. 100 mg/kg. 95%CI 0. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut.03). Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre.46 – 0. p=0.09). 0.bb sulfametoksazol iv dan 2 g. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0.92. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan.88. 6. 144. 48 dan 60 bulan kemudian.93. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik. Di akhir percobaan. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.4.003). Pemantauan dilakukan setelah 12.bb trimetoprim. N Engl J Med 2004. 95%CI 0.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. Risk ratio penggunaan prednisolon 0. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.95 (95%CI 0.55-1. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo. BMJ 2004.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan.9. 24. data diolah dari 207 (53%) peserta. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. 192 menggandakan dosisnya.27-9. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. demikian juga risiko infark miokard non fatal. risiko infark miokard non fatal.72.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0.15. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya. N Engl J Med 2004.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. Lancet 2004. (OR 1. Kematian.62.35. Saat gejalanya mulai memburuk. 95%CI 0.91. p=0.15 – 1.56-0.06). p=0.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. 2004 63 . keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari. 95%CI: 0.18 – 0. 406 sebagai kontrol.97-2. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo. OR=1. stroke non fatal. emboli paru.64. logrank x2 5.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. p=0. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. p=0.65.71). baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. p=0. dan pasien menolak punksi lumbal.011).363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. p=0. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. jalan kaki.

Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. 6. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . 3. 5. 2004 . D D 2. E A 3. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. JAWABAN RPPIK : 1. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo .Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 7. 9. B B 5. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. 4. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. 8. 9. 144. E C 4. 10. 10. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful