2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

1974. bila menggunakan bahasa Indonesia. Jakarta 10510 P. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Drg. Bagian Periodontologi. Sri Oemijati. Hendro Kusnoto. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 .co. Drg. 1984. 1st ed.Dr. .H. Suprapto Kav. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . (021) 4208171. PELAKSANA Sriwidodo WS. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Bila pengarang enam orang atau kurang. eds. .4208171 E-mail : cdk@kalbe. Bila terpisah dalam lembar lain. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Letjen Suprapto Kav. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. 2.DR.co. DR. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Oen L. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Dr. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Soebianto PENCETAK PT. Contoh : 1. Kirby RL.id http: //www. Dr. Box 3117 JKT. Erik Tapan . 64: 7-10. London: William and Wilkins. Dalam: Sodeman WA Jr. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. 021 .id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Bila tidak ada. Cempaka Putih. Siti Wuryan A Prayitno. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya.Prof. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis.457-72. 3.Prof. . bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Dr. PhD. bila tujuh atau lebih. SKM. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. sebutkan semua. Letjen. DR.id/cdk . Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.co. Sodeman WA. satu muka. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. 4. Gedung Enseval. Tlp. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. Swartz MN.O. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. Weinstein L. hendaknya diberi keterangan mengenai nama.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Gedung Enseval Jl. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Hal 174-9. Boenjamin Setiawan Ph. 4.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. Temprint http://www. akan diberitahu secara tertulis. kedokteran dan farmasi. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut.D . Jl. Laboratorium Ortodonti MScD.Dodi Sumarna .kalbe.Prof.co. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. E-mail : cdk@kalbe. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . Budi Riyanto W.Prof. Sjahbanar Zahir MSc. 1990.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Nama (para) pengarang ditulis lengkap.O.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi.913X KETUA PENGARAH Prof.kalbe.Medical Rehabilitation. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Cermin Dunia Kedokt. 90 : 95-9). SpOrt. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. . Cempaka Putih. Box 3117 JKT.Prof. Basmajian JV. Tlp. Baltimore. Philadelphia: WB Saunders. Jakarta 10510. Kalbe Farma Tbk. P.

Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. There is still no accurate and successful management method for this problem . chronic cough. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. 144. Cermin Dunia Kedokt. acyclovir. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. Conventional treatment is still not satisfactory. The mainstay of treatment is surgical ablation. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. Cermin Dunia Kedokt. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life.lys bso. referred to dizziness or a sense of imbalance. Rizalina A Asnir. L. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. and retinoic acid are still debatable. of ENT. paroxysms of chocking. particularly at the anterior commissure. 144. recurrent respiratory infections also may occur. ribavirin. 13-15 dmr.2004. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx.2004: 144. The role of medications such as alphainterferon. Adam Malik General Hospital.2004. Lia Amalia Dept of Child Health. Firmansyah Dept. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta. University of Indonesia. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. in Indonesia it is found in North Sulawesi. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Jakarta. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. can be due to vestibular system disorder. Medan.raa. 144. 2004 . North Sumatera and Bali.fih Vertigo is a common complaint. Faculty of Medicine.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. North Sumatra. of Acupuncture Dr. treated with acupuncture and showed good improvement. 47-51 ppi. Yvonne Siboe Dept. Cermin Dunia Kedokt.

sehingga pengobatannya belum ada yang baku.7.10. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering.9. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.20 Tetapi dari segi umur.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.7. Kuman lain adalah Stafilokokus. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta.1-5.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.12. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah.2.11-15 SINONIM : Ozaena.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.5. maka pengobatannya belum ada yang baku.5. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.7.9. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. dilakukan operasi .13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. Diphteroid bacilli. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.1-5.11-14 dan di negara sedang berkembang. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda.1-4.10. Kokobasilus.9.1-11 Secara klinis. rinitis fetida. 144.7.2. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.7.11.12. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas. umur berkisar dari 10-37 tahun.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.11.7.16.12.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. rinitis krustosa.11-15 terutama pada usia pubertas.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.7.1-5.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.1. vitamin A1.7.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita. Adam Malik.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.7.12.5. 2004 5 .14.1-5.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4. 4 wanita dan 2 pria.11-15 terutama pada usia pubertas.11-14 dan di negara sedang berkembang.17 Cermin Dunia Kedokteran No.12.1-5. 7.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.4.2. Kata kunci : rinitis atrofi. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.11. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.11. Bacillus mucosus.7.11 3) Sinusitis kronik1.12. sosial ekonomi rendah.7.

dapat ditemukan krusta di nasofaring. 144. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang.5. Larutan garam dapur d. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. sekret purulen dan berwarna hijau.10.15.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa.16 12) Golongan darah. Mantoux test. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b.1.9. epistaksis dan hidung terasa kering. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau.17 10) Herediter5.9. gangguan penciuman (anosmi). PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik.11 Dapat berupa: perforasi septum.oleh karena itu secara patologi. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.8.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. lepra. mukosa makin kering. ingus kental berwarna hijau. sinusitis. adanya krusta (kerak) berwarna hijau. pemeriksaan darah rutin. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A.10 dan rinitis atrofi sekunder. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.10. terdapat anosmia yang jelas. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. c.3.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. miasis hidung. krusta banyak. kadang-kadang kuning atau hitam. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. atrofi konka. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. Antara lain : a.1-5. dilakukan dua kali sehari.4 g NaCl 56.12. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik. krusta sedikit.16. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. warna makin pudar. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. midline granuloma. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5.4. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. sakit kepala. faringitis.4.4 g Na diborat 28. rongga hidung tampak lebar sekali.2.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.1. hidung pelana. jika krusta diangkat. rinoskleroma dan tbc. 2004 .3 2) Obat cuci hidung. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul).3. rinitis kronik lepra. pemeriksaan Fe serum.3. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. keluhan anosmia belum jelas. Selain faktor-faktor di atas. rontgen foto sinus paranasal. Campuran : Na bikarbonat 28.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a. terlihat rongga hidung sangat lapang.13 . Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.1.21 KOMPLIKASI4.5. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. b.7. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3.3.4.12. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.11. mukosa hidung tipis dan kering.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun.19 dan fibrosis dari tunika propria.4.

A Synopsis of Otolaryngology.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. 549-55. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. Montgomery WW. 21. Sutomo. THT FKUI. Laryngoscope 1996. Sydney.Chen C. 6. Pfaltz CR. dermofit. 1992. 1996. oestradiol dalam minyak Arachis 10. 4th Bristol:Wright. 221-2. J Laryngol Otol 1990 . Maqbool M. Lobo CJ. 113-4. Hidung . 229. Mewengkang N. 1993. Nose and Throat Diseases. tulang. Disease of the Nose. Baser B.11-14 Sinha. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. natrium bikarbonat. Buku Ajar Penyakit THT. Farrington WT. 499. 1985. Pitfalls. 19. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. 90-2. Elloy P. Head and Neck Surgery. 1993. Rinitis Atrofi. Edisi 13. Samsudin. 5. C. New York : Georg Thieme Publishers. Jiang R. Sayed RH. Oxford : Butterworth . 11. Etiology and Management.106: 702-3. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. 1997. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok .Nose & Throat Diseases and Head . Nose and Throat Diseases. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari.Hsu C. 40-1. Ballenger JJ. Becker W. 492. 9. Sreeramamoorthy B. J Laryngol Otol 2000. Kumar S. 1996. 104 : 404-7. Ramalingam KK. Maran AGD. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. Jakarta : FKUI. 381-2. 1403-6. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. 12. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. KEPUSTAKAAN 1. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 26-7.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. Calcutta : The New Book Stall. Technique. 2004 7 . Soetjipto D. Ear.4. 4) Vitamin A 3 x 10. Madras : All India Publisher. Mangunkusumo E.Neck Surgery. Groves J. 91-3.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Textbook of Ear. Hiranandani NL. 202-5. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. 1994. 114 : 254-9. Fundamental of Ear.Heinemann. 15. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. setelah krusta diangkat. Elhamd KA. 8. Hartley C. Hagrass.1. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Wood DG. 18. 4/8/26-7. 1986. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. 23. Infective Rhinitis and Sinusitis. Doyen A.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. 173-82.10-14. 20. 16. J Laryngol Otol 1998. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. campuran Triosite dan Fibrin Glue. 1-4. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. 3. Alih Bahasa : Wijaya. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. 17. 10. Grewal DS. Kepala dan Leher. 4. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Tenggorok . 2nd ed. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. Am J Rhinol 1998 . diobati sampai tuntas1-5.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. 6th ed. A Short Practice of Otolaryngology. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Gamea AM. 264-7. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap.Hidung. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. 218-9. Oleh karena etiologinya belum pasti. 14th ed Singapore : ELBS. 14. Kader MA. Massegur H.Edisi 6. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. Indication. bahan sintetis seperti Teflon. 22. 218-21. 10-5. 112 : 543-6. 349-51. Jakarta : FKUI. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins.000 U / ml. Jilid 1. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. Bertrand B. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Naumann HH. 1996. 1997. Colman BH. Ujung Pandang.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Throat and Ear and Head and Neck. 144. Disease of the Nose. New York : Georg Thieme Verlag. Singapore : PG Publishing. Edisi ke 3. 193-411.Gray RF. Ujung Pandang: 1986. Naumann HH. Dalam : Boies (ed). Weir N. 12 : 325-33. Mangunkusumo E. Hilger PA. 1980. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Jakarta: EGC. 106 : 652-7. 1994. 1992.Atrophic Rhinitis-Pathology. maka pengobatannya belum ada yang baku. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Sherief SG. 2. 1997. Cermin Dunia Kedokteran No. 7.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun.3) Obat tetes hidung .J Laryngol Otol 1992 . 13. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Surgery of the Upper Respiratory System. 576-80. Vol. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Samiadi D. Throat and Ear. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results.5. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. A Pocket Reference. 1987. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. Penyakit Telinga .

Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. tetapi lokasi tersering adalah laring. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. anak. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas.2. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. 2004 .5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. mudah berdarah. kelainan imunologis. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. infeksi saluran nafas kronik. trakea dan paru. rapuh. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. higiene yang buruk. Cipto Mangunkusumo. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. walaupun tidak ganas. dan pertumbuhannya eksofilik. pemeriksaan fisis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. 144. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. berwarna kemerahan.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. Kata kunci : papiloma laring.4. hidung. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol.

dan pasien tampak mulai gelisah.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. dan stridor inspirasi. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. retraksi suprasternal. rapuh.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. carbondioxide laser surgery. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). tetapi ada faktor lain yang berperan.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring.. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. dan sianosis lebih jelas. nodul pita suara atau kista laring kongenital.3. sesak. laringomalasea.17. tanpa sianosis. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. dan mudah berdarah. serta pertumbuhannya eksofilik. kriosurgeri. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. dan kelainan imunologis. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. kemerahan. epigastrium. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. laringofissure. 2004 9 . dan terkadang gagal napas.18-20 c. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. infeksi saluran napas kronik. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. mikrolaringoskopi dengan diatermi. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat.18 d. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. seperti kembang kol. paralisis pita suara. stridor inspirasi ringan.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. Jackson I ditandai dengan sesak. sianosis ringan. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. Basheda dkk.5-18 tahun.7. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. mikrokauter. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. hormon (dietilstilbestrol). Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis.8. steroid. Cermin Dunia Kedokteran No.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. asma bronkial. mikrolaringoskopi langsung. pemeriksaan fisis. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. tetapi tidak untuk lesi parenkim.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. 144. dan podofilin topikal. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. Obat yang digunakan antara lain antivirus. b. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi.

16. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. 115:322-5. Hamilton. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. diduga akibat tindakan trakeostomi. Mehta AC. Otolaryngol Clin N Am 2000. Arch Otolaryngol 1995. Lundwuist P. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. THT FKUI. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Bashida SG. Prognostic role of viral typing and cofactors. 17. 1977. Ossof RH. 121:1386-91. 33:187-207. Late recurrences of laryngeal papillomatosis.h. Abramson AL. Harley C. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Pignatari SSN. Dere H.13 Meskipun jarang. 119:554-7. Derkay CS. A preliminary study. 15. Shoemaker DL. Myers EN. tetapi dapat meluas ke trakea. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. 100:1458-64. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. The Manchester experience 1974-1992. 108:226-9. Orlowski JP. 102:300-10. 7. 9.669-75. Laryngoscope 1991. 2. Losin. Bajtai A. Derkay CS. Smith RJH. Hidvigi J. 11. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Topp WC. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. 107:915-47. Chest 1991. Steinberg BM. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. et al. Laryngoscope 1998. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Shikowitz MJ. Schneider PS. Kashima H. Darrow DH. Papilloma of the larynx in children. 18. 97:678-85. Elo J. Mounts P. Kohlmoos HW. 19. 101:1162-6. 33:1-12. ekstirpasi yang tidak sempurna. Laryngol and Otol 1994. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. 4. Cantell K. 107:327-32 Green GE.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Smith EM. Pediatric respiratory papillomatosis. Fagan JJ. White A. bronkus. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. 122:942-4. Laryngoscope 1997. Steinberg BM. Rimell EM. N Engl J Med 1983. Mulloly VM. dan paru. 10. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. de Boer G. Otolaryngol Clin N Am 2000. 11:242-52.249-60. 1982. Erisen L. 20. h. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Steinberg BM. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. 308:1261-4. Pou AM. Current Diagnosis and Treatment. Winkler B. Laryngoscope 1992. 14. Leventhal B. Haglund S. . Arch Otolaryngol 1995. 102:580-3. Fairman DH. 144. 5. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. Recurrent respiratory papillomatosis. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Laryngoscope 1987. Bristol General Hospital. Agung IB. Birzgalis AR. Skripsi. Werkheven JA. Task force on recurrent respiratory papillomas. Yasin AR. Abramson AL. Arch Otolaryngol 1981. 2004 . 6.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Bauman NM. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. Haliwell M. KEPUSTAKAAN 1. 8. Gray SD. 12. 3. 13. 98:1324-9. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study.

Kata kunci : Kista duktus tiroglosus. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher.tirohioid : 60.3.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.4%. dekade ke tiga 13.5. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.10. sehingga terbentuklah kista.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.000 pasien anak.4-10.4.1. Adam Malik.1% . sehingga mengalami degenerasi kistik.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.4. merupakan 40% dari tumor primer di leher.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86.4.9.suprahioid : 24. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 11 .3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.1% .9% .13.9.3.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher.1.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34. bagian tengah korpus hiod.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.4.10.11 Lokasi yang sering adalah1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. jika sering terjadi peradangan.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.1. pada dekade ke dua 20.5 : .11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.6%.5%.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 144. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.suprasternal : 12.5 tahun. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya.5. rata-rata pada usia 5. maka epitel duktus juga ikut meradang.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.intra lingual : 2.10. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.

1986. Bailey JB. Vol. Cohen JI. Benign Tumors. berbatas tegas. Edisi 13. Benign diseases of the neck. Congenital Neck Masses and Cysts. 1990. Jakarta : EGC. Simko MEJ. 5/16/14. Singapore : ELBS. 760-7. Stool SE. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. Sobol M. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. 183. 122: 1094-6. Suparjadi S. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. 14. Corry J et al. Bila ada fistula. 381-2. 1997. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Dalam: Pediatric Otolaryngology. Saleh H. otot lidah yang longgar dijahit. 5. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Waddell A. Massa Jinak Leher.6.9 Bila terinfeksi. Hidung. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat.1985. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. O’Hanlon DM. Kista brankial Lipoma1. Bluestone CD. Colman BH. Philadelphia : WB Saunders Co. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. 1996. II.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma.7. Laryngol. 114: 128-9. sampai tulang hioid. Penyakit Telinga. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. 10. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. Otolaryngol. 1994. 6th ed. 1996. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. J. bulat. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. 2nd ed. THT FKUI.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. Karmody CS. 7. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. Lingual tiroid 2.Otolaryngology. 6/30/8-12. Kepala dan Leher. 8. 415-21.11 Diagnosis Banding 1. 19. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Otol. A Handbook for Students and Practitioners. 2004 . Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. yaitu kista beserta duktusnya. Alih Bahasa : Wijaya C.6. Konsistensi massa teraba kistik. posisi terlentang. 1313-14. 108 : 1105-7. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. 120 (5): 757-9. Tenggorok.Heinemann. antara lain insisi dan drainase. dibuat irisan memanjang di garis media.submental : 2 . 144. Scheetz MD (eds. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Panje WR (eds.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. 295-6. 88. kadangkadang lebih besar. Dalam Boies. Kista dermoid 3. KEPUSTAKAAN 1. Robertson N et al. Kohut RI et al. Ransom ER. 12.infrahioid : 43 . Aberrant thyroglossal cyst. 13. Developmental Anomalies of the Neck. Philadelphia : Lea & Febiger. Walsh N. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati.2. mudah digerakkan. Oxford: Butterworth – Heinemann. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. Laryngol. eksisi sederhana. Branchial cleft anomalies.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. J. korpus hioid. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. 755.5. 2000. tidak nyeri. Pincu RL.transhioid : 2 . Edisi 6. 1987. Philadelphia : WB Saunders Co. Surgery of the Upper Respiratory System. thyroglossal cysts and fistulae. Untuk fistula. Maran AGD.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. benjolan akan terasa nyeri.suprahioid : 18 . Leichtman LG. Jilid 1.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm.). Kejadian fistel ini antara 15-34%. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. Vol. 1997. aspirasi perkutan. 1362-69. 11.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. Ujung Pandang. 6th ed. Dalam : Head and Neck Surgery . 2. Oxford : Butterworth . Jakarta : Bina Rupa Aksara. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. Thawley S. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Otol. Montgomery WW. Philadelphia : JB Lippincott Co. 9. Head and Neck Surg. 2nd ed. Thyroglossal duct remnants. Urben SL. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. 6.. Damijanti T. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Disease of Nose.). Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Ballenger JJ. Vol.1. 1994. 1987. Buku Ajar Penyakit THT. 4. kepala dan leher hiperekstensi. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. Johnson JT. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 1. 1989. Throat and Ear and Head and Neck. 3. Foramen sekum dijahit. 14th ed. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. 2. 4. 1983 . 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Greinwald JH. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Samsudin. Ellis PDM.5.

Uganda. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif.1. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. Cekoslovakia.5. Rusia.1.6. Sumatera Utara dan Bali. Guatemala.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.8 Pengobatan meliputi medikamentosa.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.11.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. 2004 13 . rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.2-4. trakea dan bronkus. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.2. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung. Kolumbia.2. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring. radiasi dan pembedahan. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).8.2.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. Rizalina A Asnir. Nigeria.1. India. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia. Sumatera Utara dan Bali. Rumania. Salvador. subglotis. tetapi sering pada dewasa muda. Mesir.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. Philipina dan Indonesia. orofaring.9. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung.2 Belinoff melaporkan 94. Ukraina.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.8.7. tapi endemik di beberapa negara di Asia. Amerika. Sumatera Utara dan Bali.1-7 Di Indonesia.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. Adam Malik. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. 144. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.8.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif.9.1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). Eropa dan Afrika.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara.1.

Jamur : Histoplasmosis. Dimulai dengan cairan hidung encer. Kemudian terjadi invasi. 2. konsistensi padat.Stadium II (Granulomatous. 144. radiasi dan tindakan bedah.15 Diagnosis Banding2. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. perluasan dan lamanya penyakit. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. limfosit dan histiosit. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2.Streptomisin : 0. Sporotrikosis.Khloramphenikol. Atrofi. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. Sarkoidosis 3. kemerahan.710.8. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif.6.10 2. Pada stadium I. sumbatan hidung yang berkepanjangan. Dari pemeriksaan.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk.1. Siprofloksasin.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut.2.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas.14: . Klofazimin1.14.11. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi. .1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. Bakteri : Tuberkulosis.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari .15 1.8. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya.Stadium III (Skleromatous. serologi (test komplemen fiksasi.2. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2.7. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas.Rifampisin 450 mg/ hari .13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar.810.13. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.6. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan.patologis yang khas. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. dapat terjadi gangguan penciuman. mudah berdarah. Proses infeksi granulomatosa a. Blastomikosis.12 1. Lepra b. sering seperti rinitis biasa. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. 2004 . Sifilis. Pada stadium II. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis.1. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. sakit kepala. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali.8-11. 3. tetapi hasilnya belum memuaskan.Stadium I (Kataralis. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz.3. . Infiltratif. laring.8 1. histopatologi. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi.5-1 g/ hari . Russel body. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior).9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa. faring. test aglutinasi) dan imunokimia. trakea dan bronkus. Stenosis. permukaan licin tanpa ulkus. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.2. bakteriologi. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk.9.7. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Koksidioidomikosis c. kemerahan. hiperplasi pseudo epiteliomatosa.

Orbita : proptosis. orofaring 2. Dalam Boies (ed).1 KEPUSTAKAAN 1. Infections of the nose. 1993. Infective rhinitis and sinusitis. New York: Thieme medical publishers inc.thedoctorsdoctor. 12.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. Diseases of the nasal cavity. 15. Ed VI.Palatum mole. Cermin Dunia Kedokteran No. faring dan telinga. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. Fried MP.13. In Otolaryngology. 61. throat and ear and head and neck. 6. p. 2004 15 .atlases. 7. Ed II. Benign Tumours and Granulomas in Nose. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. 40. p. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. 11.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Wiratno dkk. Great Britain: 1997. 2089.1. atelektasis paru. Throat and Ear. Wilson WR. No 4.14. hidung. p.com/diseases/rhinoscleroma. 1998. Yigla M. Ed III.muni.10. ed I India: All India Publishers. Vol IV. 16.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . kebutaan .htm. Tjekeg M dkk. 3. hidung. 1993. In Scott-Brown’s Otolaryngology. Butterworth-Heinemann. Vol 17. Laring. 1991. In A Short Practice of Otolaryngology. Granuloma kronis pada muka. http//www. Jakarta. USA: WB Saunders Co. Dr. ed IV. PG Publishing. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. 144. 4. Monduzzi. Jakarta. kepala dan leher. 1990.32/micro/v17n04. Ramalingam KK. Ed VI. Ahmad M. p. Ear. Sydney: March. Scleroma. Jilid I. 1997. Penyakit hidung. Organ sekitar hidung : . 14. Acute and chronic laryngeal infections. Ben-izhak O. Vol III. http//www. Montgomery WW. Maran AGD. nose and throat diseases. Becker W. 3. 9. 13. 10. Ed III.162. asfiksia dan kematian. h 128-34. Longman Singapore Publ. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. h 368-70. p. 4. h 210. Desasouza S.1. Balenger JJ. Masna PW. Dalam: Penyakit telinga. Chitale A. Chest. 1990. 1994. htm Colman BH. ed 13. Groves C.103. 5. 206-7.Sinus paranasal .9. In: Diseases of the nose. Nauman HH. In: Otolaringology. 1997. January. Vol III. Rinoskleroma di RS. Infectious disease of the paranasal sinuses. Shapiro J.129. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. EGC. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung.4. Suardana W. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. Ed X. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. 1851-52.afip. Pfaltz CR. h 224556. 1983.7. Surabaya. Binarupa Aksara. tenggorok. Agustus. Sreemamoorthy B. Vol 1. Hilger PA. USA: WB Saunders Co. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. Medan. Pranowo S.9 4. 8. http//www. Wein N. Kariadi Semarang. h 457-66. Department of pathology. 1991.ce/atl-en/sect-sect-58/html. 1980.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. 603-7. Buku Ajar penyakit THT. uvula. Juli. June 2000. p. 2. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. 3. Oren I et al.

tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. kanker payudara dan kanker kulit. bangsa Korea. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. Cipto Mangunkusumo. seperti perokok berat. pola hidup. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. kulit hitam dan Hispanics. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel.000 penduduk. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. diasin).000 penduduk per tahun. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Antara lain disebutkan faktor makanan. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. 144. yakni 4. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap.7 kasus baru per tahun per 100. . Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah.000. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia.000 penduduk1.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. di samping Mediteranian. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. Sebaliknya. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.

selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. Pada 1966. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain.000 penduduk). Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling.000).000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. 144. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. terlebih pada stadium dini. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF.5 per 100. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. telur asin. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. USG hati.5 per 100.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Selain gangguan motorik. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). 2004 17 . seperti foto paru. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Untuk menegakkan diagnosis. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. debu kayu serta asap kayu bakar.5 per 100. disusul oleh keturunan Melayu (6. capsid antigen dan early antigen. Sedangkan pemeriksaan lain.

The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. Soetjipto D. Himawan S. (Lihat lampiran/ halaman 19). Metode brakhiterapi. 471–86. IARC Press. bawah serta klavikula. Henderson BE. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. Ross RK. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. ed. Pengobatan radiasi. 2004 . Young J. terutama pada kasus dini. 144. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Lyon. 3. 1990. In : Tjokronagoro A. and risk of nasopharyngeal carcinoma. Susworo. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. 80: 827–41. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. 5. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. 2nd. (Eds). France : IARC Scient. Int J Cancer. karies gigi akan lebih mudah terjadi. Herbal medicine use. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Ho JHC. 6. Ferlay J. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. Jakarta Indonesia 1988.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. 10: 15-24. York: Oxford University Press. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Whelan SL. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Syafril A. 4. Parkin DM. Parkin DM. No. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. 2. Pisani P. p. Fachrudin D. Hildesheim A et al. KEPUSTAKAAN 1. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. 1992. 1997. Yu MC. Cancer Incidence in Five Continents. bahkan setelah selesai terapi. Azis MF. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). Raymond L. 1996. 52: 3048 –51. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. YKI. Yusuf A. Henderson BE. Publ. 143. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. 7. Vol. Ferlay J. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Djakaria M. Cancer epidemiology and prevention. p. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Yu MC. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. Cancer in Asia and Pacfic. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. Nasopharyngeal cancer. N. Cancer Res. Epstein Barr virus. 603 –18. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. 1981.

Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. Cermin Dunia Kedokteran No. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3.LAMPIRAN : Gambar 1. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala. 2004 19 . 144.

dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). yakni sebesar 68.5 % dan dewasa 23. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). Metoda penelitian cross-sectional. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%. usia 5-15 tahun 29. Departemen Kesehatan RI. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. B. termasuk Indonesia.52%. 144.5%.82%.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang.2%. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. 40% dan 80%. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.1 %. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. 53.8 %. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73.3 %. Streptococcus pneumoniae 3. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin.11%. Streptococcus βhemolyticus 6. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. serta lebih dari 50% penyebabnya . Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. Betalaktam. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. 2004 napasan atas maupun bagian bawah.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati.04%. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Streptococcus β-hemolyticus. Branhamella catarrhalis 22.9 %. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. Streptococcus sp. Branhamella catarrhalis. 87.

Klebsiella. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. Pseudomonas.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). Branhamella catarrhalis (22. Tabel 1. 144. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. 2. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. terhadap antimikroba golongan betalaktam. Streptococcus non-haemolyticus (3. Staphylococcus.05) 2 (1. batuk. 5. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4.2) 30 (22. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit.11) 5 (3. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. Cermin Dunia Kedokteran No.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2).05%). Untuk kuman S. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. Escherichia. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. dan kotrimoksazol(4).04%. Streptococcus β-haemolyticus (6. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. 1. 6.adalah virus(1). dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. 2004 21 . (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).93% dan 5.4 % . 11. Branhamella. dan Haemophillus(2). Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. yakni sebesar 68. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. sifat hemolisis agar darah. viridans sebanyak 54. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. fermentasi karbohidrat. Streptococcus pneumoniae (3. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. 4.46 %. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. (Tabel 1). Proteus. berturut-turut 9. 7.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas.9%). Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. makrolida.53) 2 (1. 9.35%. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya.82%). Antimikroba golongan betalaktam. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999.82) 5 (3. B hemolyticus diperoleh 6. 3. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. 12. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton.71 %. sakit menelan. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus.53) 1 (0. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp.82) 4 (3. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No.11%). 10. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. dan memerlukan terapi antimikroba. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin.2 %. kecuali terhadap Cefradin.2%).76) 1 (0. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100.76) 1 (0. dan uji-uji khusus lainnya.53) 2 (1.9) 8 (6. hiperemis. yakni dengan mengukur zona hambatan. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. 8.

53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68.9 %.76 0.41 4.11 3. Cefep = Cefepime. Ceftri = Ceftriakson. 1. Cefrad = Cefradin. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54.82%.82 3. 3. MKI 4 (2/3): 56-60.0 %.53 1. MKI 1987. 9. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. 5. 144.05 2.53 1. . 2. KEPUSTAKAAN 1.35 3.. Trihendrokesowo dkk. Branhamella catarrhalis 22. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. Yeast (ragi) S. β-haemolyticus S.52 87.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3. 5. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. non-haemolyticus K. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya.5 40. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. P. Tabel 3.2 %. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. 60% dan 20%. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. 8. pneumoniae Acinobacter spp.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2.2 % dan 66.5%. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT.turut adalah Golongan B Laktam. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. . tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin.05 1. 4. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson. pneumoniae S.82 30. Cefpi = Cefpirome. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3.04%. Streptococcus pneumoniae 3. . akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia. Sulb = Sulbenislin.9 6. 12. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan.29 1. Makrolid dan Fluorokuinolon. sefalosporin 7.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. 6. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala.12).7 %.52 2.57 5. makrolid 15 %.04 9. 46(9): 467-76. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68.82 3. Dwiprahasta I.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.53 0. 4. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No. 2. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .Tabel 2. 26. amoksisilin dan ampisilin(2).0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G.11%.2%. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies.93 6.05 )(10).82 %. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. viridans B. Fachrudin D.87 5. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. Streptococcus β-hemolyticus 6. aeruginosa S. aureus 0 %. 7.7 % dan 96.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S.viridans dan S. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.2 22. catarrhalis S.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3.04 %. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0.23 4. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. Cefoti = Cefotiam.33 0 0 0 0 20. yakni sebesar 68. MKI 1996.76 0. 2 (1): 6-12.33 53. aureus Alkaligenes spp. Dirjen Binkesmas.48%. Resistensi kuman S. Josodiwondo S. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini.7 %.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi. epidermidis PeG 2. Cefota = Cefotaksim. 1996.67%. Amx = Amoksisilin. Abdoerachman H. 3. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif.0 20.0 80. Departemen Kesehatan R I.23 0 3.33 3.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46.

rs. Bali Telp.com Web-site : www. Surakarta.obgyn-bandung. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung.com. Sugito.id Website : www. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. Wibisono MY. Amsterdam : Excerpta Medica 1980.id Hotel Planet Holiday. J Internat Med Res 1986. Surakarta .com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Tarigan HMM. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Batam Telp. Batam Telp. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. : 0274-587555.php Hotel Bumi Minang. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email.or.or. Fax : (021)-3913982 Website : www. Laporan penelitian 1998.org website : www. 12. : 0274-37430. Nukman R. Jakarta Telp.pluit-hospital. : 021-330956.or. : 021-31934636.respina. Tangerang Telp. Bandung Telp. Herman MJ. Saulnier P. : 022-2039086 / 2035042. 6-17.id Bali. Slombe B. : 021-3928658. 5.net.internafkunand. 144. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. 6685070. Hartono TE.kalbe.idki. Med Progr January 2003. Kariadi Semarang. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Bandung Telp.id Hotel Sahid Jaya.or. : (021)-3148610. 1994.or. (eds).com.com Website : www. 11. : 021-3919653.ac. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.1988. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae. Rai IB. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. : 021-4532202. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. Jakarta. 9. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. : 0778-7024522.6.id Hotel Horison. Gedung AR Fachruddin. 14:193-9. Watson A.fkumy.org KPP Bioteknologi ITB.net Hotel Planet Holiday. 6685006 Fax : 021-4535833.co.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI . Faks. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt. 7.idai.id Jakarta.id Jakarta Convention Centre Telp.net.3907703. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. roga@biotech. Fax : 021-3914830 Website : www. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. Beta Lactamase. Meeting on Respiratory Care Ind. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Suprihati. Antibiotik Beta Laktam. Padang Telp.pluit@rad. 2004 23 . Occurrence and Classsification.id Bali International Convention Center Telp. Jakarta Telp. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro. Idajadi A. 1242. distribution of phenotypes related to beta lactamase production.itb. : 022-2534115. 1988. Yogyakarta Telp.: 021-79184052 Website: http://www.com/index.interna. Jones A. : 0751-37771. 10.id Karawaci. : 021-4786 4646.com Hotel Sahid Jaya.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. In : Rolinson GN. 8. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Telp. Telp.id Hotel Grand Hyatt.co. : 021-5684085 ext.net. : 0274-37430 Website: http://telmed. Sirot J. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. Sirot S.

Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. Hal ini perlu diketahui. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. biasanya di atas 120 dB. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. cara yang digunakan untuk . Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. alat-alat transportasi berat. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. Misalnya. Anatomi Telinga Secara anatomi. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. dan lain sebagainya. Secara definisi. sangat luas. 144. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. Di telinga tengah ini. Untuk itu. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. dan dalam. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. penurunan kemampuan kerja. tengah.

yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. pengeras suara. atau kerusakan langsung organ Corti. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. dsb). Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. Makin tinggi tekanan udara. pendengaran orang tersebut berkurang. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. amplitudo. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. dsb). namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. nilai ambang di atasnya. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. dan durasi. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. dengan kata lain. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. yaitu trauma akustik. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. 2). Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. 3). diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Untuk menghindari kelelahan auditorik. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. kerusakan tulang-tulang pendengaran. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. 144. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 25 . Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. di udara terbuka. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Pada trauma akustik. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat.

Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. seperti faktor fisika lain berupa panas. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. 1000. spektrum suara. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. pengukuran impedance. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. Dari data observasi di lingkungan industri. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). meningkatnya tekanan darah. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. Pemeriksaan telinga.setelah pajanan suara. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. durasi pajanan. 2000. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. hari ataupun lebih lama. 144. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. Secara sederhana. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. 3000. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. dan sebagainya. Namun perlu diingat. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). dan sebagainya. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. Bila sudah terjadi kerusakan. dilakukan pemeriksaan audiometri. getaran. Pada skala frekuensi. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. status kesehatan. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. alat transmisi ke telinga. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. serta faktor-faktor lain seperti usia. . tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. dan sebagainya. frekuensi yang diuji. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. Weber. trauma telinga karena agen fisik lainnya. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. dan pola pajanan temporal. dan sering timbul tinitus. dan 6000 Hz. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. spektrum bising. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. refleks pernapasan berupa takipneu. Untuk menilai ambang pendengaran. berbicara dengan suara menggumam. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. tes rekruitmen. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. Pada pemeriksaan fisik. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. jenis kelamin. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. disritmia jantung. 4000. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. hidung. durasi total pajanan.

Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. Jika dipergunakan alat bantu dengar. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). tanggal bekerja dan umur saat itu. barang atau jasa yang dihasilkan. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. Suara yang asing. kondisi medis. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. riwayat pekerjaan. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. riwayat keluarga. interupsi suara berulang. riwayat penyakit dahulu. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. Penggunaan alat pelindung telinga. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. tinggi rendah dan irama percakapan. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Selain itu. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. terutama pada lingkungan industri. keluhan utama. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. durasi masing-masing pekerjaan. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Cermin Dunia Kedokteran No. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. riwayat pelatihan militer. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. 144. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja.

4. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. Handbook of Noise Control. Food and Rural Affair.defra. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. http://www. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain.uk/ environment/noise/health/page05. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Occupational Medicine. Iskandar N. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. 2004 . Louis : 1994 Soepardi ES. Dickerson OB. 2nd ed. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. 2. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta : 2001 Department for Environment. 2004. McGraw-Hill Book Comp. St. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Occupational Hearing Loss. In . Edisi 5. dan Hearing Conservation. Noise. Mosby. February 6th. 144. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Harris CM (ed). In : Zenz C. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.penggunaan alat pelindung diri. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Horvarth EP.htm. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. cermat. Zenz C. KEPUSTAKAAN 1. (chief ed). Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. 3. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. 3rd ed. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. 2. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Nilland J. New York : 1979.gov.

2. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. gergaji sirkuler. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana.96 dB). Roestam Subbagian Kedokteran Kerja.81% dengan paparan kebisingan 86. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. suara katup gas. meriam dll. dsb.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. Cermin Dunia Kedokteran No. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara.1 – 108. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0.1997).14% dan gangguan keseimbangan saja 27. 2004 29 . Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.105 dB (Sundari. Menurut WHO (1995). Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. kebisingan di lapangan terbang dll 4.43%. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. suara dapur pijar. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.2 dB (Lusianawaty).2m/dt2. prevalensi NIHL 31. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. Di Quebec-Canada. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. 144. gangguan pendengaran saja 17. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. melainkan ada periode relatif tenang. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. tembakan. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. 1000 atau 4000 Hz).55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian.16 %. suara katup mesin gas. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . misalnya suara gergaji sirkuler. 3. kipas angin. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja.5 detik berturut-turut. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara.71%. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. Di Indonesia. mudah emosi. Di perusahaan plywood di Tangerang. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. rerata akselerasi getar 4.

susah tidur. 2004 .01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. gangguan psikologis.waktu pemulihan bervariasi . peningkatan nadi. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Tabel 1. d. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . kurang konsentrasi.patologis . keselamatan tenaga kerja. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. stres. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. seperti letusan. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. Gangguan fisiologis Pada umumnya. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. 144. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising.bersifat sementara . Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. dan lain-lain. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. cepat marah. bising bernada tinggi sangat mengganggu. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. gangguan komunikasi dan ketulian. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. 5. daya dengarnya akan pulih sempurna. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. 2. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. b. 4.5 0. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg).non-patologis . sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. Ketulian bersifat progresif. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. c. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. ledakan dan Di Indonesia. 3. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. seperti gangguan fisiologis.25 atau kurang 5. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. kelelahan. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. 1.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif.

angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Berupa policy statement 3. antara lain: 1. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). Cermin Dunia Kedokteran No. 1. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Dukungan manajemen 2. 5. jadwal kerja . Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. mengurangi angka kecelakaan. 2. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. 2. 144. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. cepat sembuh secara parsial atau komplit. Economic self-sufficiency handicap e. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. tinitus. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. langit-langit dan lantai. 6. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. 7. misalnya : a. Monitoring paparan bising 2. 5. mengurangi angka kesakitan. proaktif bukan reaktif. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. Tuli ini biasanya bersifat akut. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. 1994). terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. Problem dalam mendengarkan musik c. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). menunjukkan itikad baik. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. b. Bagi karyawan Mencegah ketulian. c. meningkatkan produktivitas. dan lain-lain). 5. ruang isolasi. 2004 31 . Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. Bagi pengusaha Taat hukum. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. 6.lainnya. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. Serta bisa mengurangi stres. 3. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. Dilaksanakan oleh semua jajaran. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. namun merupakan pedoman. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. hubungan baik dengan karyawan. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Integrated dengan program K3 4. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. kesejahteraan bukan santunan. Problem mencari arah/asal suara d. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. rotasi kerja. 1996): 1. 3. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. Problem komunikasi di tempat kerja b. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Kontrol engineering dan administrasi 3. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. 4. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. bersifat menetap (irreversible).

Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. dan lain-lain. bila STS persisten atau membaik IV. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. ukur maximun dan minimumnya. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. contohnya : 1. KONTROL . Penjadualan pengoperasian mesin 4. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis .. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja.untuk baseline 14 jam bebas bising. 6. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. Evaluasi : . konsul THT Lakukan revisi baseline. 3. beri petunjuk ulang . Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan.paling lama dalam waktu 2 minggu .periksa tempat kerja .dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . memberi pelumas secara teratur. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. tenaga mesin. yang sering juga disebut survei bising.Bila belum menggunakan APD.periksa dokter . kecepatan putaran atau isolasi. 2. Setiap tahun. 144. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). diharuskan memakai . Annual monitoring 3. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. 4. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). Mengikuti peraturan III. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. Exit Policy mengenai audiogram : 1.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . 7. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. 2004 .periksa data kalibrasi alat . 5. Penempatan ke tempat bising 3. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. Pre-employment 2.komunikasikan dengan karyawan tersebut .Bila perlu.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. 2. mengencangkan bagian mesin yang longgar.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. atau menggunakan APD 2. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti.Bila sudah memakai. . b. bila bising > 85 dB 4. SOP pengukuran harus ada dan jelas. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). lakukan tahap selanjutnya c. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. Kecocokan.jika karena penyakit. 5. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3.I. 4. Mengatur jadual produksi 2. pengukuran dengan peta. konsulkan ke dokter THT . bila lebih dari 85 dB. bertujuan untuk : 1. 2. 2. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. berdasarkan lokasi tempat kerja. ukur tempat dan ruang kerja. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. Rotasi tenaga kerja 3. Base line atau data dasar : . 3. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No.

dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. 3.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. Cermin Dunia Kedokteran No. dengan sasaran : 1. PROGRAM AUDIT 1. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. biaya. Penyuluhan khusus. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. 2. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. V. APD yang digunakan. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. Tidak saja untuk melindungi pekerja. 3. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. Audit Eksternal. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. kesertaan supervisor dalam program. 2. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. VII. 2. 144. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. misalnya pelatihan dan penyuluhan. Nyaman dipakai. Kemudahan pemakaian.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. VI. 2. custom-molded type c. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. formable type b. 3. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. Hasil pengukuran kebisingan. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. 5. 4. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. 2004 33 . perusahaan harus menyediakan APD ini. Kontrol engineering dan administratif. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. Beberapa tipe sumbat telinga : a.

Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta. 10 Juli 2004 Website : http://telmed.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 144.fkumy. 2004 .

petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. sering saling tertukar. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. humidifikasi buatan. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. mengurangi efektifitas refleks batuk. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. perawatan luka operasi di stoma. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. cara membersihkan kanul dalam. bukan dari saluran napas bagian atas. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. 2004 35 . Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. 144. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. Bogor. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. pemeriksaan periodik kanul dalam. Berdasarkan permasalahan tersebut. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. Selanjutnya dikatakan. Cermin Dunia Kedokteran No. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah.

Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. kasa perban. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Akan timbul gangguan saat menelan. Sebelum melakukan pengisapan. Pada waktu ekspirasi. 2004 . Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Bila didapatkan sekret yang kental. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. d). Sebelum mengangkat kanul. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. mungkin akan bermasalah. panci bergagang. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. dan cairan penggosok perak. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. b). Cara membersihkan kanul dalam. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. Alat ini dipasang pada kanul trakea. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). penjepit. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. menggunakan lap atau kasa perban. Condensor humidifier. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. 2). selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. b). Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. 144. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. saringan. Bila penderita bernafas spontan. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). c). Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. d). Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. c). tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Dengan adanya trakeostomi. siapkan alat-alat untuk resusitasi. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). Beberapa jam pertama pasca bedah. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. sehingga perlu dilakukan pengisapan. jangan diberi tekanan negatif. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. Jika udara rumah kering. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. sebagai berikut: 1). Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Alat ini relatif lebih efisien. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang.

pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. 4). Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. 3). 3). cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. 2). Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. 144.2a). ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. 7). Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. 5). 2b). 5). Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. dan tempatkan kembali saringan dalam panci. Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). 2004 37 . Setelah air mendidih. Angkat saringan dari panci bergagang. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. Tarik kanul dalam ke belakang. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. Jika kanul dari perak telah memudar. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. Biasanya. 3). 2). tuangkan air dari panci. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. kemudian bersihkan dan cuci. 6). bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. Gambar 2. 8). 1). Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. Cermin Dunia Kedokteran No. 4). oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. Setelah kanul dalam bersih. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. didihkan kanul dalam selama 5 menit. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. Gambar 1.

5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. Gambar 4. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. 2). penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. jika udara dalam rumah kering. Di samping itu. tempatkan kasa di atas kanul. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Siapkan alat-alat. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. 3). 5). Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. 3). Gb. 144. atau jika kanul teriritasi. 2004 . 2). Lepaskan balon karet. Jika mesin penghisap tidak didapat. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. 4).4). untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. 4).Cara melakukan : 1). Bersihkan alat-alat dengan air sabun. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi.

kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. 6). Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. menghisap discharge. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. 1978 . Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. 4). KEPUSTAKAAN 1. panjangnya 6 inci. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. Bireell JF. Me Kailum JR. Boies LR. 5). Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. Maran AGD. Bristol : John Wright and Sons Ltd. 1977 . 3). 5th ed. 1567-73. 5th ed. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. Adams GL. throat and ear. Gambar 6. A Textbook of ear. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. 5).dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya.. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. mengganti kanul. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi.5). kasa 4 x 4 inci. cara membersihkan kanul trakea. merebus kanul dalam. Paparella MM. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. In : Logan Turner's Diseases of the nose. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. Tracheostomy. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. 144. 2004 39 . 2. nose and throat diseases. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. Jika kasa tidak terlipat. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Me Dowall GD. 2). In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. 6). Cermin Dunia Kedokteran No. 1). 705-17. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. Me Klay K. Tracheostomy.

Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Crawley BE. Otolaryngology. Olving JH. J Laryngol Otol 1981. Evans JNG. The Otolaryngology board. Magilligon DJ.obgyn-bandung. Shumrick (eds). 20. Arch Otolaryng 1981 . 4th ed. London : Butterworths. Conway WA. 144. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. 688-708. Lulenski GC. Complications and postoperative care after tracheostomy.3. 4. 19. 1979 . Zorick FJ. Philadelphia : WB Saunders Co.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Shapiro RS. Galood HD. Skripsi di Bagian THT/RSCM. Roth T. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. 2004 . Evans CC. In: Paparella. 10. 2nd ed. Montgomery WW. Basic sciences. Feldman SA. Paparella MM. An experimental study. Davies J. Lulenski GC. 14. 6. 15. 433-75. vol I. respiratory apparatus. Lore JM. 13. (eds). 242-8. Ann Otol 1975 . Basic sciences and related disciplines. Krikotirotomi. 89 (suppl 73): 1-7. Ann Otol 1980. 88 : 589-97. Otolaryngology. 1973 . nose and throat. 17. Basic sciences and related disciplines. Laryngo-tracheoplasty. 8. An atlas of head and neck surgery. London : Edward Arnold Ltd. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. Fujita S. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Arch Otolaryngol. Victor LD. Inc. Tood GB. Wright D. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. 95: 61-8. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. Putney FJ. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. 107 : 114-6. Laryngoscope 1981. 1973. London : Butterworths. Natvig K.. Vol II. Silicone tracheal canula. (eds). Martin WM. In : Ballantyne. 1. 1973. Grooves. 5. Steel PM. Ann Otol 1980. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Siregar Z. (ed). In: Ballantyne J. Ann Otol 1978 . Vol I. 12. Operative Surgery. Bandung. Philadelphia : WB Saunders Co. 1955. 1973 : 170-96. Philadelphia: WB Saunders. A preparation guide. 11. diaphragma and esophagus. JAMA 1981. 87 : 99-108. Fundamental international techniques. 18. 16. Nose and throat. Co. New York : Medical Examination Publ. Shumrick DA. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). 9. Lee KJ. 91: 355-61. 1976 . 62 : 272-6. 19 September 1981. 1971 : 31-61. Vol. Batsakis JC. Montgomery WW. 3rd ed. 2nd ed. 89 : 521-8. Scott-Brown's diseases of the ear. 84 : 781-6. Toledo PS. Embriology and anatomy of the larynx. J Laryngol Otol 1974 . 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. Tracheostomy and laryngotomy. 246 : 34750. 7.

selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. Gambar 1. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. tak stabil (giddiness. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. Bogor. rasa oleng. 2004 41 . Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. 144. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). karena berjalan dengan kedua tungkainya. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan.1) .

mual dan muntah. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. 2. vestibulum dan proprioseptik. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. 3. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor).2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. nistagmus. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. serebelum) atau rasa melayang. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. letak lesi dan penyebabnya. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. (Skema) Oleh karena itu. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. 3). berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). timbul reaksi dari susunan saraf otonom. 144. 5. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. Skema Klasifikasi Vertigo 6. yang berkembang menjadi gejala mual. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. belajar dan daya ingat.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus.(Gb. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. akibatnya akan timbul vertigo. 2004 . Mabuk Udara 4.

Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. kongestif. vestibularis. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. Uji Unterberger. penyakit jantung. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. rasa naik perahu dan sebagainya. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. goyang. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang.duduk dan berdiri. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. salisilat. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. keletihan. hipotensi. kronik. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. Cermin Dunia Kedokteran No. tujuh keliling. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. anemi. hipoglikemi. c. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. hipertensi. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. Uji Romberg (Gb. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. hilang timbul. paroksimal. hipertensi. Dalam menghadapi kasus vertigo. berputar. Fungsi vestibuler/serebeler a. gagal jantung b. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5.batang otak. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. serebelum. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. hipotensi. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. 144. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. 7). baik kelainan sistemik. 2004 43 . Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. penyakit paru juga perlu ditanyakan. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. ketegangan. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. kanamisin. bising karotis. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. progresif atau membaik. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. Juga kemungkinan trauma akustik. Gambar 4. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu).

Uji Babinsky-Weil (Gb. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. jika ada gangguan vestibuler unilateral. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. a. 9) Perhatikan adanya nistagmus. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 . Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. Gambar 9. Uji Tunjuk Barany e. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. 144.1.

Foto Rontgen tengkorak. gangguan cara berjalan). sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). (Tabel 3). iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. pendengaran. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. sensorik wajah. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.5 mg 1 dd 0. Arteriografi. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). 2004 45 . Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. kemudian duduk tegak kembali. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif.iv. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Tabel 3. Gambar 9. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). tahan selama 30 detik. Stenvers (pada neurinoma akustik). dengan tes-tes Rinne. iv im. 4. 144. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Weber dan Schwabach. Sentral: tidak ada periode laten. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. VIII. 2. c. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. SISI. b. kampus visus. b. leher.iv. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. dan fungsi menelan.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. otot wajah. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. tahan selama 30 detik. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. parestesi) dan serebeler (tremor. okulomotor.fungsi sensorik (hipestesi.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. dan Schwabach memendek. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. 2. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. a.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. Tone Decay. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. Antivert Phenergan. Pemeriksaan Penunjang 1. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif.Elektromiografi (EMG). Magnetic Resonance Imaging (MRI). Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. 3. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. berupa gerakan mata melirik ke atas. Bekesy Audiometry. bawah. kemudian duduk tegak kembali. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. Pencitraan: CT Scan. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin.

yang makin lama makin cepat. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. tanpa tahun. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. Obat penyekat alfa adrenergik. Duphar. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. Tinjauan umum mengenai vertigo. 2004 . selain vertigo. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. Sedjawidada R.). vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. Seri edukasi. tanpa tahun. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. 6. Neurootologi klinis:Vertigo. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. 2002. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. 3. Patofisiologi. diuretik loop. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. diuretik ringan bersama diet rendah garam.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. asam nalidiksat.vestibularis. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler.. 7. Di awal sakit. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. membatasi asupan garam. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. 14 Desember 1991. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Andradi S. Monograf.(eds. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. Diagnosis dan Terapi. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. diduga disebabkan oleh infeksi virus. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. 4. bisa alat dan saraf vestibuler. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Aspek Neurologi dari Vertigo. sedangkan kanamisin. Monograf. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. KEPUSTAKAAN 1. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. demikian juga gentamisin.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. Perdossi. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. terapi profilaktik juga belum memuaskan. Syeban ZS. tanpa tahun. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. 5. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer.xiii-xxviii. Joesoef AA. metronidaziol dan minosiklin. Vertigo. Kelompok Studi Vertigo. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. antiinflamasi nonsteroid. Dalam: Joesoef AA. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu.1999. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. 2. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. hal. Kusumastuti K. 144. Harahap TP. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. berhenti merokok. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur.

2004 47 . berlangsung beberapa menit atau hari. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. unstable). Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Arakhnoiditis pontoserebelaris. Di antara serangan. Migren ekuivalen. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. termasuk di sini adalah : . terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . . mual. pening. tujuh keliling. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. muntah) dan pusing (2). Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. Vertigo paroksismal 2. mumet. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. Yang tanpa disertai keluhan telinga.Vertigo posisional paroksismal laten. kelainan gigi/ odontogen. 3. L. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. kemudian berangsur-angsur mengurang. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. tumor fossa cranii posterior. Labirin picu (trigger labyrinth). Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. dapat disertai gejala lain. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. Cipto Mangunkusumo. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. kemudian menghilang sempurna. DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). sempoyongan. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. peluh dingin. 2. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. pusing. Sindrom Cogan. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. kepala terasa enteng. penderita sama sekali bebas keluhan. 3. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. Sindrom Lermoyes. 144. otonomik (pucat. rasa melayang (1). Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. rasa mengambang.Vertigo posisional paroksismal benigna. Epilepsi. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi.

sklerosis multipleks. otitis media dengan efusi. b. Inti Vestibularis: infeksi. sindrom arteria vestibularis anterior. Telinga bagian luar : serumen. Intoksikasi. Dalam kondisi fisiologis/normal. 2004 4. akan diproses lebih lanjut. Kelainan psikiatrik: depresi. benda asing. dan proprioseptik. 2. c.Psikiatrik 4. 144. keadaan menstruasi-hamilmenopause. IV dan VI. ensefalitis.Pemeriksaan neurologik . dan EKG. c. tumor serebelopontin. ensefalitis pontis. Migren. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. 5. arteriosklerosis.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . 48 Cermin Dunia Kedokteran No. 6.(2). cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. fibrilasi atrium paroksismal. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. Kelainan endokrin: hipotiroid. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. sindrom hiperventilasi. tumor. hipotensi ortostatik. herpes zoster otikus. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. dibedakan menjadi: 1. unsteadiness. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. kelainan psikis. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. lesi labirin akibat bahan ototoksik. Penyakit SSP : a. 3. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. 2. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. Terapi kausal .ENG . ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. siringobulbi. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. otitis media purulenta akuta.Radiologik dan Imaging . alergi. tumor medula adrenal. mabuk gerakan. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. meningitis Tb. sklerosis multipel. vertigo epidemika. d. di samping itu.Hipotensi ortostatik . yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. 3. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. rudapaksa dengan perdarahan. sinkop. Infeksi : meningitis. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. 2. kelainan okuler. b.Laboratorium . e. susunan vestibuloretikularis.Pemeriksaan fisik umum. intoksikasi obat. f. hematobulbi. stenosis dan insufisiensi aorta. dibedakan menjadi : 1. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. neurosa cemas. labirintitis. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. trauma.serangan akut. Anamnesis. Trauma kepala/ labirin. blok jantung. ETIOLOGI 1. hipoglikemi. ensefalitis vestibularis. kelainan endokrin. EMG. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. neuritis n. trauma. 2. hipertensi kardiovaskular. sklerosis multipleks. Nervus VIII. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. vertigo postural. d. lues.Pemeriksaan otologik . hidrops labirin (morbus Meniere ). 2. anemia. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. trauma. TERAPI Terdiri dari : 1. hipoglikemi.VIII. Pemeriksaan khusus : . tumor. hipoparatiroid. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. 3. sindrom pasca komosio. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. abses. Pemeriksaan fisik : . III. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. perdarahan. Epilepsi.EEG. dan vestibulospinalis. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. trombosis arteria serebeli posterior inferior. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. pelagra. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. sindrom sinus karotis. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. visual. Hipoksia – Iskemia otak. perdarahan labirin. Pemeriksaan tambahan : . Vertigo yang dipengaruhi posisi : . berangsurangsur mereda. Tumor. labirintitis akuta.Vertigo servikalis. fobia. serangan vaskular. kolesteatoma. Lues serebri. e.Pemeriksaan mata . DIAGNOSIS 1. labirintitis kronis. : Hipertensi kronis.Audiometri dan BAEP . kelainan kardiovaskuler. : infeksi.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. Juga karena bahannya mudah didapat. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas.49%.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. yaitu sinensis. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. kanker. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi.7 2. 2004 . murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang.3 Selain itu di negara-negara Barat. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. irrawadiensis. Departeman Kesahatan RI. dengan harga obat-obatan yang mahal.K. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik.Var. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam.5. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. 52 Cermin Dunia Kedokteran No.K.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. assamica.2 Di masa sekarang. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke. var. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). assamica dan irrawadiensis. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. 144. tanaman teh Camellia sinensis O. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis.3 Menurut Graham HN (1984). terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus.5. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. kariostatik serta hipokolesterolemik. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim.

98 5. 1. 16.enzim. 12. Setelah 4 jam berpuasa.20 8. 10.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2.09 4. 24. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434.9.96 percobaan 430 µmol/l. 20.57 3.69 0. Apabila proses fermentasi telah selesai. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. epigalo katekin galat sebesar 4. usia rata-rata 21.15 0.16 4. 1. Komposisi teh hijau(3) No.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek.50 0.70 5.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.40.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. 27. 13.13 3.84 4. 17. 10. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu.62 35. epigalo katekin 3. 4.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1.29 2.3. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4.74 0. setelah 60.1 tahun. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. 15.50 0.74 6. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. 120. 14.68 12.23 4. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh. 26. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8. 28. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC).50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2.09 0. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan.99 3.110 µmol/l). kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin.275-12.79 4.21 3. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki. 6. 25. 4. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%.56 0. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.75.02 0.43 1. Daun teh dilayukan lebih dahulu. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir.82. indeks massa tubuh: 24. 9.85 0. 2. 18.7 Tabel 2.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0.63 Trace Trace Trace 2. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. 5. 7.17 1. 8. 7. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7.25 1. 22. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten.83 4. 2. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. 8.50 0.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C).01 0.86 1. 23. 6. 5.21 6. 30.7 3.0). 2004 53 . 9.70 0. 13.90 1. 29. 21. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus.42 20. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang. 14. 3. 11.477 µmol/l (kisaran 4. Pada proses ini. selanjutnya digulung dan dikeringkan. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan).93. 12. Komposisi teh hitam(3) No. kemudian diaduk selama 3 menit. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. 144. 19.31 0. 3. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7.03 0. 5 wanita. 11.

Wakabayashi K. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. Antioxidants. Van-den Brandt – PA. Shinchi K. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. KEPUSTAKAAN 1. Baraas F. Teh juga telah diuji teratogenik. Folsom AR. Jakarta. Hertog MG. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. Hyderabad. 23. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. 1-495. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. Weststrate JA. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. 1999. 1996. 13. 1998. 52 : 1162-70. 7.05). Nakachi K. Ferraro T.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. 1994. Eur J Clin Nutr. 11 : 3840. Jakarta. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Am J Epidemiol. J Epidemiol. McClendon JF. Kushi LH. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. J Nat’l Cancer Inst. Cermin Dunia Kedokt.54 g /200 g. 20 (2) : 1-6. Lee MJ. Jakarta. cet ke-4. 6. Brants HA. In Liss AR. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. Crit Rev Food Sci Nutr. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. 1996. 14. Jufri M. Popkin BM. 9. 1-477. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Ikeda N. Van Steenis CGGJ. 1997. Biokimia FKUI. Potensi Antioksidan pada Teh. Jakarta. 1-24.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. 10. Van Het Hof KH. hal ini dapat dijelaskan. cet ke-1. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. Chen L. Yogyakarta. Prima Kardia Pers. 52 : 389-95. 2000. cet ke-2. Gershon-Cohen J. Jakarta. Preventive Medicine. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Preventive Medicine 1992. 18. 26 (6) : 769-75.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. 19. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. Bag. 2004 . 24. Toda M. Prima Kardia Pers. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. Suga K. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Pradnya Paramita. 16. body weight. UGM Press. 20. Van-Popel-G. Zheng W. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. National Institute of Nutrition. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. 128: 49-51. 37 (8) : 739-60.19 Selain itu pada wanita post menopause. Goldbohm RA. Chow WH. Nutr Rev. Cancer Research 1992. baik teh hitam maupun teh hijau.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. Substansi seperti tanin (dari teh). Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. O2•− . Graham HN. 21 : 526-31. 1997. Mou TH.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. Shimamura T. FMIPA UI. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Nakayama M. 8. and Disease Prevention. Shinchi K. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. 1984 : 29-74. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. Jufri M. Langseth L. Tuminah S. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Tjitrosoepomo G. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. Baraas F. 1997. Nair MK. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. Hong CP. termasuk pada wanita post menopause. Van den Berg H. Zhi YW. 144. et al. 12.14-18 Diperkirakan. Prog Clin Biol Rev. Yanai F. 11. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Dirghantara E. 144 (2) : 175-82. 1987 . and Health Effects. et al. 55(2) : 31-43. FMIPA UI. Antioksidan dan Penyakit Jantung. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Astuti M. 1994.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. 3. 1996. Selain itu. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. Oxidants. kolesterol LDL. 1990. 21. Fluorine in Tea and Caries in Rats. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. 1997 : 82-3. Kono S. 17. Sellers TA. Nutrition News. 15. Maxwell S. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Imai K. Sutarmaji A.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. Jakarta. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. McLaughin JK. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. ILSI European Monograph Series. Imanishi K. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Yang CS. Japan. 6 (3) : 128-33. 2001 : 1-15. Environ Health Perspect. Okubo S.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. Kono S. 22. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. 5. Drewnowski A. 4. Consumption. cet ke-1. et al. Doyle TJ. BMJ (27 July) [Medline] 1996. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. Thorpe G. 313 : 229. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Blot WJ. 173 : 304-312. 88 (2) : 93-100. dan radikal peroksil. 1989 . Nature 1954. Brussel: 1995 . Yang GY. 2.20. Letters in Applied Microbiology. 1999 : 11-2.

dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). 2004 55 . tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. demam akut 2-7 hari.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. dirawat di rumah sakit. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. Departemen Kesehatan RI. dan mengisi informed consent. 144. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Faktor.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI.871 kasus dan 1. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya. Cermin Dunia Kedokteran No. 2001) . (Tabel 1).32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9.414 kematian(1). Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. Sri Susilowati.April 2001. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI.

Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. tahun 1998: 36.Dit. Departernen Kesehatan RI 2000. Desember 1999. 3.42 3.74 31. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .50%. yaitu: tahun 1994: 34. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara.7% dan derajat II sebanyak 44.44 10. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan.82%. Cassals J. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua.Jen.7 11. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51.9 66.21 0. Hyg. 5.3% positif dan 48. hasil uji HI positif sebesar 51.3%. 2. Tabel 3.24%(5). tahun 1996: 32.53 1.07 1. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. penderita berada pada derajat I dan II. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. Med.53 0. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding. 2004 .7 100. Surveilans Dit.19%. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia.5% . dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif.1:1).00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi. Muchlastriningsih E et al. Profil Kesehatan Indonesia 1999.Tabel 1.7% negatif. KEPUSTAKAAN l.16 6. 1958. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26.55 1. Data Kasus DBD 1999. Sub.3 48. Tabel 2. tahun 1995: 50.61 100. 2000. J. 2001. Clarke DH.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. Am. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus. Tabel 4. Jakarta. 4. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) .4 100. Berita Epidemiologi. 144.6849). tahun 1997: 34. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. Trop. 7: 561. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.21%.74 3.

00-15. 2004 57 . Letjend. sakit kepala. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. mual. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. Jangan dibekukan dan dikocok.kalbe. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol.000 IU. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. Fax. Jl. 3000 IU.5%/minggu).id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. meskipun dapat dihentikan setiap saat. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. artralgia. 1998. seperti: FeSO4. edema. Gedung Enseval. Jakarta – Indonesia Tlp. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. Suprapto. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. 3000 IU dan 10. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. pruritus dan urtikaria. 10. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. terlindung dari cahaya. fatigue.co. : (021) 428 73680 Website : http://www. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. diare. suhu 2-8°C. • Hipersensitif terhadap human albumin. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. KALBE FARMA Tbk. 144. Senin – Jumat (07.: (021) 428 73888-89.30) Cermin Dunia Kedokteran No.

1990). Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal. Sumber: http://ivertigo. 2004 .apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No.net. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral. 144./hearing/hrexam.

Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. 2. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. dr HM Goh. seperti: proses pendaftaran pasien. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). radiologi. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. dll. 3. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. computer in medicine. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. Sebaliknya. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). dll. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. Biaya dan keuntungan sistem informasi. seperti: tanya jawab. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. kedokteran nuklir. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. dental informatics. aspek keamanan dan legalitas. information processing. teleradiologi. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 59 . misalnya menginformasikan jam praktek dokter. telekardiologi. artikel kesehatan. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. 5. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. dan informatics. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. dan informatika terapan. health informatics. contohnya: computational physics. computational linguistics. dll. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. proses kontrol. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. merawat data. 144. dll. dll. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. Akhir-akhir ini. sifat website pun sudah mulai berubah. informatika yang berorientasi pada aplikasi. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. 4. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. medical information science. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. atau artificial intelligence. melihat rekam medik dll. dan beberapa area yang lebih spesifik. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. (Dr. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. seperti: computer science. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran.

Mohammad Taha bin Arif. 6 April 2004 Pada malam hari. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Studio mini Jakarta Eye Center.kalbe. dan infeksi. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. dan sebagainya. yang di klik rata-rata 2.Pudji Rahardjo. Wakil dari Indonesia. menghisap rokok. 144. dan infeksi. menghisap rokok. Sp. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. membuka acara eHealth Asia 2004. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. Demikian dikatakan dr. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. setelah menyelesaikan acara ilmiah. dan Portal Kedokteran www. J. Hotel Acasia.043 orang.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. APAMI Board Meeting.Hj. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004.PD-KGH.PD-KGH. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Untuk itu kita jangan sampai lengah. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern.id. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. Erik Tapan. batu ginjal. batu ginjal. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut.id/seminar.kalbe. 6 April 2004. Hotel Acasia. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. 6 . Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. SpPD-KGH. RSIA HERMINA Daan Mogot . diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. dan sebagainya. Demikian dikatakan dr. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk.000 kali per hari. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. Dalam sambutan tertulisnya. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. Laporan lengkap dari simposium. bisa diakses di http://www. (tampak dalam foto dr. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. eHealth Asia 2004. 2004 . berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Kuala Lumpur. RS Mitra International. Sp.Pudji Rahardjo.Jakarta. Tele-education kesehatan via satellite. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. Kuala Lumpur. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern.co. J.co. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. Pudji Rahardjo.

Dr. enterosit dan kolonosit.16 % (WKNPG : 2. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. di Jakarta selama 2 hari. Sp. SpPD. Hotel Borobudur Jakarta.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. Bali International Convention Center. 27 . Ed. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. Arifin Limoa. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. K. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Seminar IT PERMAPKIN. karena dapat mencegah atrofi villi usus. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya.PD.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. Sebabnya. 25 . 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Zubairi Djorban. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. Jakarta. SpS(K). dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. 24 Mei 2004. Hotel Shangri La Jakarta. 144. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress.5 %) dan wanita 11. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. MM dan Prof. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. menjadi terapi yang bersifat spesifik. Dr. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. dari kiri ke kanan: dr. SpS(K)). 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Prof.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. Jakarta. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. Hotel Mandarin Oriental . 25 . Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. Danial Abadi.02 % (WKNPG : 5. Seminar Integrated Hospital Marketing. Sie. Demikian dikatakan dr. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat.9 %). Demikian dikatakan Prof. radiasi dan operasi. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. dr. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. SPS(K). dr. Amiruddin Aliah. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. Jakarta. Menurut Budi Sampurna. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. dr. termasuk dari Kalbe Group.26 Mei 2004. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. 23 . 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). 2004 61 .Jakarta. SpS(K). Demikian salah satu yang ditekankan Prof. Cermin Dunia Kedokteran No.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Jakarta. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. Slamet Suyono. H.

95%CI: 1.13 – 4.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. 116 di antaranya juga diberi 500 mg. Lancet 2003. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan.4-0.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.6. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami. 144.3. 0. p<0. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.7. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus. skala kekerasan kasur berkisar dari 1.0001) tidak tergantung usia.9) dan keluhan mukosal (0.8) dan bukan perokok (0. Daerah frontal. 0.93) maupun saat bangkit (1. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk. kemudian dimatikan selama 12 minggu.50 – 2. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita. tinggi badan.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2.8).0 (paling empuk). Lancet 2003.7 – 0.95 (95%CI: 1. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition).5 – 0.7 tahun.bb/hari selama 5 hari.7.97 – 3.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. 0.10. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).36. selama 48 minggu. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1.6. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral.9) dan keluhan muskuloskeletal (0.3 – 0.24 – 3. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik.24 – 8. baik di tempat tidur (odds ratio 2. 1. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. Lancet 2004. Setelah 90 hari mereka dievaluasi.89. sex.4 g IVIg/kg.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre.99) juga terhadap keluhan respirasi (0. Lancet 2003. 0. juga di korteks temporal anterior bilateral.93. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal.8.9) di kalangan bukan perokok. 2004 .0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi. 31 di antaranya fraktur femur. 0. 95%CI 0.9 ± 0. p<0. 362: 1699-707 brw 0. berat badan.52.6. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.4. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama. mereka di amati selama rata-rata 1.9).2 – 0. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100). sepanjang tahun 1997-2000.5.0 (paling keras) sampai 10. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. 0. risiko frakturnya 4.5 – 0. nyeri saat berbaring (p=0. Sejumlah 233 pasien mendapat 0. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. Sekelompok peneliti di Montreal.059). mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0. Selama periode studi.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras.44 kali (95%CI: 2. 0. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0.

07-3.71).350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan.56-0. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0.41. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik.97-2.15. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. Risk ratio penggunaan prednisolon 0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo. emboli paru. 192 menggandakan dosisnya. 95%CI 0. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan.011). p=0.92.35.91. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna.68. 2004 63 . data diolah dari 207 (53%) peserta. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia. jalan kaki.62. 95%CI: 0.18 – 0. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.88. p=0. demikian juga risiko infark miokard non fatal. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. 6. p=0.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol.89 (95%CI: 1. Kematian.09). Pemantauan dilakukan setelah 12.003). 100 mg/kg.95 (95%CI 0. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya. 95%CI 0. 0. p=0. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral.65.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. Lancet 2004. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre.06).bb sulfametoksazol iv dan 2 g. 48 dan 60 bulan kemudian. N Engl J Med 2004.bb trimetoprim. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari. BMJ 2004. dan pasien menolak punksi lumbal. p=0.64. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0.4. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral.46 – 0. 406 sebagai kontrol.9. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. N Engl J Med 2004. risiko infark miokard non fatal. p=0. (OR 1.55-1. 95%CI 0.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg.15 – 1. p=0.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo.27-9.72. Saat gejalanya mulai memburuk. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. 36. 95%CI 0. 24.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004.40.03). logrank x2 5. OR=1. 144.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak. stroke non fatal.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. Di akhir percobaan.93.

E A 3. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. 9. 6. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 144. JAWABAN RPPIK : 1. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. 7. 9. E C 4.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 2004 . D D 2. B B 5. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . 5. 10. 4. 3. 8. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. 10. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7.