2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. bila tujuh atau lebih. PhD. Dr. DR. 64: 7-10. Gedung Enseval.H. Letjen.kalbe. .co. 1984.Dodi Sumarna . Weinstein L. . (021) 4208171. Laboratorium Ortodonti MScD. 4. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. PELAKSANA Sriwidodo WS. Tlp.D .id/cdk . Box 3117 JKT. Jl. Hendro Kusnoto.Prof. kedokteran dan farmasi. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.co. Sri Oemijati. .Prof. Sodeman WA. Boenjamin Setiawan Ph. E-mail : cdk@kalbe.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. SKM. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . satu muka. Basmajian JV. Bagian Periodontologi. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Jakarta 10510 P.457-72. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Cempaka Putih. akan diberitahu secara tertulis.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. London: William and Wilkins. Budi Riyanto W. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. sebutkan semua. Bila tidak ada. 1974. P. Oen L. Sjahbanar Zahir MSc. Jakarta 10510. Hal 174-9. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. Kirby RL.co.O.Dr. Drg. Cempaka Putih. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. 1st ed. Box 3117 JKT. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Contoh : 1. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Bila pengarang enam orang atau kurang. Letjen Suprapto Kav. SpOrt. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Siti Wuryan A Prayitno. Kalbe Farma Tbk. 1990. 4. Erik Tapan . bila menggunakan bahasa Indonesia. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Dr. DR.Prof. Swartz MN. Dr. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya.O. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Drg. Suprapto Kav.4208171 E-mail : cdk@kalbe. Gedung Enseval Jl.DR.kalbe. Bila terpisah dalam lembar lain.co. Baltimore. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas.id http: //www. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Soebianto PENCETAK PT. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. 90 : 95-9). hendaknya diberi keterangan mengenai nama. Pathogenetic properties of invading microorganisms. 2. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut.Prof. Temprint http://www. Tlp. . Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Philadelphia: WB Saunders.913X KETUA PENGARAH Prof.Prof. Cermin Dunia Kedokt. 3. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . eds. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Dalam: Sodeman WA Jr.Medical Rehabilitation. 021 . Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran.

North Sumatra. Cermin Dunia Kedokt. Rizalina A Asnir. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. ribavirin. Yvonne Siboe Dept. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. Jakarta. paroxysms of chocking. of ENT. The role of medications such as alphainterferon. Firmansyah Dept. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. Cermin Dunia Kedokt. treated with acupuncture and showed good improvement. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. referred to dizziness or a sense of imbalance. North Sumatera and Bali. Lia Amalia Dept of Child Health. chronic cough. 144. 2004 . laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. 13-15 dmr. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir.2004.2004.2004: 144. in Indonesia it is found in North Sulawesi.raa. Conventional treatment is still not satisfactory. Adam Malik General Hospital. acyclovir. L.fih Vertigo is a common complaint. Cermin Dunia Kedokt.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. and retinoic acid are still debatable. University of Indonesia. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. recurrent respiratory infections also may occur. 47-51 ppi. Jakarta. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. can be due to vestibular system disorder. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease.lys bso. The mainstay of treatment is surgical ablation. 144. particularly at the anterior commissure. of Acupuncture Dr. There is still no accurate and successful management method for this problem . Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. Faculty of Medicine. Medan. 144.

1-5. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas. 4 wanita dan 2 pria.7. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.5. Adam Malik.9.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.11-14 dan di negara sedang berkembang. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun. rinitis krustosa.11-15 SINONIM : Ozaena.11-15 terutama pada usia pubertas.1-4. Kokobasilus. 7. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.14.20 Tetapi dari segi umur.9.12.9.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.1-5.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria. Kuman lain adalah Stafilokokus.7.7. sehingga pengobatannya belum ada yang baku.2.11.5.7. vitamin A1.7. 144.11.1-5. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Kata kunci : rinitis atrofi. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.11. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.10.2.1-5. Bacillus mucosus.10. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.7.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.7.12.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita. rinitis fetida.2.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.12. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah. Diphteroid bacilli. 2004 5 .16.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.7.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.17 Cermin Dunia Kedokteran No. maka pengobatannya belum ada yang baku.11 3) Sinusitis kronik1.7.12.11. sosial ekonomi rendah.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.5. dilakukan operasi . lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.12. umur berkisar dari 10-37 tahun.1-5.1.1-11 Secara klinis. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.7.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.7.12.11-14 dan di negara sedang berkembang.11-15 terutama pada usia pubertas.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.4.

dapat ditemukan krusta di nasofaring. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul).3.3. terlihat rongga hidung sangat lapang. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. mukosa makin kering.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. gangguan penciuman (anosmi). Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. rontgen foto sinus paranasal.1-5.5.16 12) Golongan darah.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. sinusitis.16.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5.10 dan rinitis atrofi sekunder. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler. sekret purulen dan berwarna hijau. jika krusta diangkat. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a. faringitis.21 KOMPLIKASI4. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.3 2) Obat cuci hidung. atrofi konka.4.4 g NaCl 56. dilakukan dua kali sehari.11 Dapat berupa: perforasi septum.10.7. lepra.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. rongga hidung tampak lebar sekali.9.1.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman. terdapat anosmia yang jelas.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut.1.3. miasis hidung. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. krusta banyak. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis.12. rinoskleroma dan tbc. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Antara lain : a.1.8. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis.4 g Na diborat 28. Campuran : Na bikarbonat 28. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. midline granuloma. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. rinitis kronik lepra. hidung pelana. ingus kental berwarna hijau.4. 2004 . keluhan anosmia belum jelas. warna makin pudar. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen.11.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.3.15. Mantoux test.19 dan fibrosis dari tunika propria. pemeriksaan darah rutin. pemeriksaan Fe serum. 6 Cermin Dunia Kedokteran No.5. Larutan garam dapur d. krusta sedikit. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4. c. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa.10.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik. kadang-kadang kuning atau hitam. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia.12.4.9. sakit kepala. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau.13 . mukosa hidung tipis dan kering. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi. b. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika.17 10) Herediter5. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. epistaksis dan hidung terasa kering.oleh karena itu secara patologi.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat.2. 144. Selain faktor-faktor di atas.4.

Nose & Throat Diseases and Head . Oxford : Butterworth . Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. KEPUSTAKAAN 1. 173-82. 492. 1994. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. Textbook of Ear. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. Pitfalls. A Pocket Reference.5. Head and Neck Surgery. Ujung Pandang: 1986. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. Ballenger JJ. 1997. Calcutta : The New Book Stall. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. 19. Elloy P. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. Kumar S. 10. 26-7. J Laryngol Otol 1990 . 12. oestradiol dalam minyak Arachis 10. 20. 1993. 40-1. 91-3. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. 104 : 404-7.A Synopsis of Otolaryngology. 14th ed Singapore : ELBS.Atrophic Rhinitis-Pathology. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Doyen A. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok .3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Oleh karena etiologinya belum pasti. maka pengobatannya belum ada yang baku. 11. 576-80. Sayed RH. Am J Rhinol 1998 . 112 : 543-6. Disease of the Nose.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Hilger PA. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. 2. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta.Chen C. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. Maqbool M. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. 4th Bristol:Wright. 3. tulang. Kader MA. 381-2. Hagrass. 1992.4.10-14. Naumann HH. Rinitis Atrofi. Vol. Becker W. Samiadi D. Ujung Pandang. THT FKUI. 2004 7 . 7. Mangunkusumo E. Colman BH. 9.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. 193-411. 1996. J Laryngol Otol 2000.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. 90-2. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. J Laryngol Otol 1998. 13. Nose and Throat Diseases. Madras : All India Publisher. Throat and Ear and Head and Neck. 1980.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. dermofit. 10-5. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. 22. 499.Gray RF. 1992.Hsu C. 106 : 652-7. 15. 1996. 14.11-14 Sinha. 6th ed. Hidung . diobati sampai tuntas1-5. Sreeramamoorthy B. 549-55. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. 12 : 325-33. Hartley C. 1997. Penyakit Telinga . Farrington WT. 1986. 349-51. Buku Ajar Penyakit THT. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Sherief SG. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. Indication. Wood DG. Nose and Throat Diseases. Soetjipto D.Neck Surgery. Naumann HH. 1403-6. Bertrand B.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Sutomo. Lobo CJ. 16.Hidung. 144.3) Obat tetes hidung . 1987. 1997. 264-7. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. Maran AGD. C. New York : Georg Thieme Publishers. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati.1. 4.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Technique.J Laryngol Otol 1992 .000 U / ml. campuran Triosite dan Fibrin Glue. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. 23. Groves J. Edisi ke 3. Etiology and Management. 18. 4) Vitamin A 3 x 10. Dalam : Boies (ed). Jakarta : Bina Rupa Aksara. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. A Short Practice of Otolaryngology. Mewengkang N. Surgery of the Upper Respiratory System. 114 : 254-9. 1985. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. 5. 221-2. 21. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. natrium bikarbonat. Sydney. Edisi 13. Massegur H. Laryngoscope 1996. 229. Samsudin. Kepala dan Leher.106: 702-3. Jilid 1. 1996. Mangunkusumo E. Gamea AM. Jiang R. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. Weir N. 8. 1-4. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. 1993.Heinemann. Elhamd KA. Jakarta : FKUI. 4/8/26-7. Grewal DS. Baser B. Pfaltz CR. Cermin Dunia Kedokteran No. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. Disease of the Nose. 202-5. 2nd ed. Fundamental of Ear. 6. 1994. Ear. Alih Bahasa : Wijaya. 113-4. 218-21. Montgomery WW.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. Tenggorok . Jakarta : FKUI. New York : Georg Thieme Verlag. Jakarta: EGC. Infective Rhinitis and Sinusitis. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Throat and Ear. Singapore : PG Publishing. 218-9. setelah krusta diangkat. 17. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan.Edisi 6. Ramalingam KK. Hiranandani NL. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. bahan sintetis seperti Teflon.

1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. kelainan imunologis. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol.4. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. hidung. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. dan pertumbuhannya eksofilik. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. mudah berdarah. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. Kata kunci : papiloma laring. rapuh. 144. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Cipto Mangunkusumo. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru.2. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. infeksi saluran nafas kronik. 2004 . walaupun tidak ganas. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. pemeriksaan fisis. trakea dan paru. higiene yang buruk. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. berwarna kemerahan. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. tetapi lokasi tersering adalah laring. anak. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak.

Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. dan stridor inspirasi. laringomalasea. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. laringofissure. Obat yang digunakan antara lain antivirus. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. tetapi tidak untuk lesi parenkim. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. seperti kembang kol.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker.5-18 tahun. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. stridor inspirasi ringan. kemerahan.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. retraksi suprasternal. dan kelainan imunologis. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. hormon (dietilstilbestrol). Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. asma bronkial. mikrolaringoskopi langsung. sesak. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas.7.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. pemeriksaan fisis. dan podofilin topikal. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. b.18-20 c. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. rapuh. steroid. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. infeksi saluran napas kronik. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. sianosis ringan. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. 144.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. epigastrium. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. 2004 9 .18 d. kriosurgeri. tetapi ada faktor lain yang berperan. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah.3. tanpa sianosis. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. dan mudah berdarah. dan sianosis lebih jelas.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. Cermin Dunia Kedokteran No. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. Basheda dkk.8. dan terkadang gagal napas. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren.17. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. mikrolaringoskopi dengan diatermi. dan pasien tampak mulai gelisah. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. serta pertumbuhannya eksofilik. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring.. Jackson I ditandai dengan sesak. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). mikrokauter. paralisis pita suara. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. nodul pita suara atau kista laring kongenital. carbondioxide laser surgery.

Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. 10. 122:942-4. 107:327-32 Green GE. Bauman NM. Gray SD. 8. Erisen L. Haliwell M. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. ekstirpasi yang tidak sempurna. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. Orlowski JP. Laryngol and Otol 1994. h. Kohlmoos HW. 2004 . Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. diduga akibat tindakan trakeostomi. Leventhal B. 100:1458-64. Mehta AC. 121:1386-91. Dere H. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Papilloma of the larynx in children. Pou AM. 3. Yasin AR.h. Fagan JJ. KEPUSTAKAAN 1. Shikowitz MJ. 108:226-9. 19. Elo J. 98:1324-9. Arch Otolaryngol 1995. 115:322-5. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. 102:580-3. tetapi dapat meluas ke trakea. Hidvigi J. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Ossof RH. 7. 144. Topp WC. The Manchester experience 1974-1992. Arch Otolaryngol 1995. Derkay CS. 9. Shoemaker DL. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Derkay CS. 17. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. Smith RJH. 33:187-207. Otolaryngol Clin N Am 2000. 97:678-85. N Engl J Med 1983. Bristol General Hospital. 107:915-47. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Haglund S.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. 20. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. Hamilton. Lundwuist P. 33:1-12. Harley C. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. 18. 13. THT FKUI. 15. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. dan paru. Laryngoscope 1998. Laryngoscope 1987. A preliminary study. 101:1162-6. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. Schneider PS. Prognostic role of viral typing and cofactors. . Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Darrow DH. Otolaryngol Clin N Am 2000. 4.669-75. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. bronkus. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. 14. 6. Mulloly VM.249-60. Winkler B. Cantell K. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. 2. Pignatari SSN. Steinberg BM. 119:554-7. Agung IB. Abramson AL. Laryngoscope 1992. Arch Otolaryngol 1981. Recurrent respiratory papillomatosis. Steinberg BM. White A. 1977. 1982. Birzgalis AR. Task force on recurrent respiratory papillomas. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. 308:1261-4. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Kashima H. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Rimell EM. Current Diagnosis and Treatment. 11:242-52. 16. Skripsi. Losin. Smith EM. Bashida SG. de Boer G. Werkheven JA. Pediatric respiratory papillomatosis. et al.13 Meskipun jarang. 102:300-10. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Chest 1991. Abramson AL. Myers EN. Bajtai A. Fairman DH.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. 12. Laryngoscope 1991. Mounts P. 5. Steinberg BM. 11. Laryngoscope 1997.

1.1.3. rata-rata pada usia 5.intra lingual : 2.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun. bagian tengah korpus hiod.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher.4.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.000 pasien anak.5 : .9. sehingga mengalami degenerasi kistik.11 Lokasi yang sering adalah1.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher. merupakan 40% dari tumor primer di leher.9% . seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.5%.4%.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.1.9.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher. Adam Malik. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. 144.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.6%.4-10.1% .14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.1% . Kista ini lebih sering terjadi pada anak.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.3. pada dekade ke dua 20. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.tirohioid : 60. sehingga terbentuklah kista.5.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%. dekade ke tiga 13.10. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 2004 11 .4.5. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.10.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.13. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.suprasternal : 12.4.10.4. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea. jika sering terjadi peradangan.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86.suprahioid : 24.5 tahun. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No. maka epitel duktus juga ikut meradang.

Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Oxford: Butterworth – Heinemann. Singapore : ELBS. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. mudah digerakkan. THT FKUI. 2nd ed. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. 1986. 381-2. 1996. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. Jakarta : EGC. sampai tulang hioid. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Developmental Anomalies of the Neck. Hidung.1. 4.5.1985. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%.7. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. 6th ed. 10. 8. Leichtman LG. Congenital Neck Masses and Cysts. otot lidah yang longgar dijahit. 1997. Philadelphia : JB Lippincott Co. 755. Robertson N et al. Scheetz MD (eds. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Buku Ajar Penyakit THT. aspirasi perkutan. 14. 5.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. 1. Dalam Boies.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi.6. 1994. 2. 4. Greinwald JH. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. Damijanti T. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Throat and Ear and Head and Neck. Branchial cleft anomalies. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 1996. Vol. 7. Surgery of the Upper Respiratory System. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. kepala dan leher hiperekstensi. Foramen sekum dijahit. Ellis PDM. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Philadelphia : WB Saunders Co. 12. II. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. eksisi sederhana. Vol. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst.. 2004 . kadangkadang lebih besar. Philadelphia : WB Saunders Co. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia.Otolaryngology. Suparjadi S.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. 6th ed. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Pincu RL. Karmody CS. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. thyroglossal cysts and fistulae. Waddell A.suprahioid : 18 .11 Diagnosis Banding 1. 1987. berbatas tegas. 1990. 114: 128-9. J. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. Laryngol. Konsistensi massa teraba kistik. Tenggorok. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Ballenger JJ. A Handbook for Students and Practitioners. 2nd ed. Lingual tiroid 2.Heinemann. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. Vol. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. 3. 6. Massa Jinak Leher. Kista brankial Lipoma1. Walsh N. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista.transhioid : 2 . 108 : 1105-7. Aberrant thyroglossal cyst.). Disease of Nose. Kejadian fistel ini antara 15-34%. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Simko MEJ. posisi terlentang. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. Thyroglossal duct remnants.2. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. 13. 415-21. Oxford : Butterworth . Benign diseases of the neck. 295-6. 5/16/14. tidak nyeri.infrahioid : 43 . J. benjolan akan terasa nyeri. Benign Tumors. bulat. Stool SE. Panje WR (eds. 1987. Kohut RI et al. 183. dibuat irisan memanjang di garis media.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. KEPUSTAKAAN 1. Bluestone CD. 2. 120 (5): 757-9. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. 760-7. Bila ada fistula. 11. Philadelphia : Lea & Febiger. 14th ed. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. Otol. Jilid 1. 1362-69. Urben SL. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Montgomery WW.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm.5.6. Ujung Pandang. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Thawley S. antara lain insisi dan drainase.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Cohen JI. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Otolaryngol. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Otol. 122: 1094-6.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. Maran AGD. Corry J et al. 1994. Head and Neck Surg. korpus hioid. 9. 2000.).submental : 2 . Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 1997. Kepala dan Leher. Samsudin.9 Bila terinfeksi. O’Hanlon DM. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. Laryngol. Edisi 6. 144. Saleh H. Johnson JT. Dalam: Pediatric Otolaryngology. 19. Edisi 13. 6/30/8-12. Bailey JB. Kista dermoid 3. 1983 . fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. Dalam : Head and Neck Surgery . Ransom ER. Colman BH. yaitu kista beserta duktusnya. Alih Bahasa : Wijaya C. Sobol M. 1313-14. Penyakit Telinga. Untuk fistula. 1989. 88.

mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.1. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma.8.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.9.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. Mesir. Guatemala. Nigeria.1.2. Adam Malik. 144. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Salvador. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan.6. Rusia. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia. Ukraina.7.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir. subglotis. Kolumbia.1. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Amerika.5. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. Sumatera Utara dan Bali. Rizalina A Asnir. tapi endemik di beberapa negara di Asia.1-7 Di Indonesia.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.2. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek. Philipina dan Indonesia. Eropa dan Afrika. India.2. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. Rumania.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. Uganda. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.9. radiasi dan pembedahan. Sumatera Utara dan Bali.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. Cekoslovakia.1.2-4.1. orofaring.11. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). 2004 13 .8. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Sumatera Utara dan Bali. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan.2 Belinoff melaporkan 94. tetapi sering pada dewasa muda.8. trakea dan bronkus.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.

kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. Infiltratif. sering seperti rinitis biasa.12 1. Pada stadium I.5-1 g/ hari .2.1. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. 144. mudah berdarah. 3. faring. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi.Stadium II (Granulomatous.patologis yang khas.8.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area. Koksidioidomikosis c. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi.3. test aglutinasi) dan imunokimia. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. Lepra b. Sifilis. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior.11. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel).Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. Proses infeksi granulomatosa a. Sporotrikosis. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. Kemudian terjadi invasi. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi. Stenosis. sakit kepala. trakea dan bronkus.710.Streptomisin : 0. hiperplasi pseudo epiteliomatosa. Dari pemeriksaan. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.15 1. kemerahan.2. Siprofloksasin. bakteriologi. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch.1. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. Dimulai dengan cairan hidung encer. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Klofazimin1. kemerahan.Rifampisin 450 mg/ hari .8.14. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut.8-11.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. Sarkoidosis 3. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa.Stadium III (Skleromatous. serologi (test komplemen fiksasi. Blastomikosis. 2. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. limfosit dan histiosit.Stadium I (Kataralis. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Jamur : Histoplasmosis.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya.2. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini.Khloramphenikol. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2.15 Diagnosis Banding2. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. tetapi hasilnya belum memuaskan. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. permukaan licin tanpa ulkus. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. histopatologi. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz.8 1. 2004 .10 2.6.6. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali.810. Bakteri : Tuberkulosis. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. Russel body.7. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. laring. Atrofi. . dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior).7. dapat terjadi gangguan penciuman.13. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. .9. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. perluasan dan lamanya penyakit. Pada stadium II. radiasi dan tindakan bedah.14: .11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. sumbatan hidung yang berkepanjangan. konsistensi padat. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk.

ed I India: All India Publishers. 7. 3. ed 13. Butterworth-Heinemann. Ed III.13. 1990. 206-7. kepala dan leher. 61. New York: Thieme medical publishers inc. Jakarta. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. 1998. 40. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. 10.7. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Wiratno dkk. Acute and chronic laryngeal infections. 2004 15 . Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. Ear.com/diseases/rhinoscleroma. ed IV. Infective rhinitis and sinusitis. Becker W. throat and ear and head and neck. atelektasis paru. Granuloma kronis pada muka. Cermin Dunia Kedokteran No.9. In A Short Practice of Otolaryngology. Throat and Ear. Sydney: March. h 457-66.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. In Scott-Brown’s Otolaryngology. asfiksia dan kematian. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. 12. Shapiro J. p.muni. 13. Chest. Binarupa Aksara. p. Juli. h 210. p.Sinus paranasal . Vol 17. p.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. 2089. Kariadi Semarang. No 4. h 224556. 1991. Infections of the nose.Orbita : proptosis.htm. Chitale A. Desasouza S. tenggorok. Ed III. Surabaya. h 368-70. Laring. 1991. Ed II. Benign Tumours and Granulomas in Nose. 1851-52. Buku Ajar penyakit THT. Scleroma. Infectious disease of the paranasal sinuses. 1997. 8. faring dan telinga. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. Sreemamoorthy B. htm Colman BH. EGC. nose and throat diseases. 16. orofaring 2. Organ sekitar hidung : . January. Maran AGD. In: Otolaringology.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Dr. Groves C. Ed X. 3. June 2000.atlases.Palatum mole.9 4.1. Yigla M. http//www. 5. USA: WB Saunders Co. USA: WB Saunders Co. kebutaan . h 128-34. Tjekeg M dkk. Great Britain: 1997. Agustus.162.thedoctorsdoctor.afip. In: Diseases of the nose. http//www.14. Oren I et al. Fried MP. 4.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm. p. 11. Diseases of the nasal cavity. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. Medan. Pfaltz CR. Nauman HH. 1993.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Jilid I. Masna PW. 1983. Montgomery WW. 1994. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Ben-izhak O. Ahmad M.1 KEPUSTAKAAN 1. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. Jakarta. Ramalingam KK. Ed VI. PG Publishing.10. 1990. 603-7. p. Rinoskleroma di RS. Vol 1. Ed VI. Dalam: Penyakit telinga. hidung. Pranowo S.129. 6.103. 2. Monduzzi.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . Balenger JJ. uvula. http//www. 1980. Penyakit hidung. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. Dalam Boies (ed). Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. Vol III. 1997. Vol III.1. hidung. 9. 14. Longman Singapore Publ. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung.4.32/micro/v17n04. Department of pathology. 3. Vol IV. Wilson WR. Suardana W. Hilger PA. 144. 15. 1993. In Otolaryngology. Wein N. 4.

Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi.000 penduduk per tahun.7 kasus baru per tahun per 100. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. kulit hitam dan Hispanics. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. yakni 4. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. di samping Mediteranian. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. Sebaliknya. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. pola hidup. seperti perokok berat. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik.000. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. bangsa Korea. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. Antara lain disebutkan faktor makanan. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. diasin).2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). kanker payudara dan kanker kulit. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah.000 penduduk. 144. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. Cipto Mangunkusumo. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak.000 penduduk1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. .

Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. disusul oleh keturunan Melayu (6. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama.000). GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. USG hati. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. 2004 17 . Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish).5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. seperti foto paru. Selain gangguan motorik. capsid antigen dan early antigen. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. 144. Sedangkan pemeriksaan lain. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Untuk menegakkan diagnosis. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB).5 per 100. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV).5 per 100. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF.000 penduduk). Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak.5 per 100. telur asin. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. debu kayu serta asap kayu bakar. terlebih pada stadium dini. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. Pada 1966. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata.

Cancer Incidence in Five Continents. France : IARC Scient. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. Epstein Barr virus. 1990. Cancer epidemiology and prevention. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. 1997. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Parkin DM. Himawan S. p. 6. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Yusuf A. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. 143. 1981. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. Susworo. Publ. Yu MC. N. Ferlay J. No. Syafril A. Int J Cancer. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. 5. (Eds). YKI. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. bahkan setelah selesai terapi. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. Vol. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. and risk of nasopharyngeal carcinoma. Cancer in Asia and Pacfic. In : Tjokronagoro A. Henderson BE. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). 7. p. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. (Lihat lampiran/ halaman 19). karies gigi akan lebih mudah terjadi. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. 144. 603 –18. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. Pengobatan radiasi. Lyon. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. 2. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. KEPUSTAKAAN 1. Ferlay J. Raymond L.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Ross RK. Henderson BE. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Young J. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). Ho JHC. Pisani P. 80: 827–41. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. ed. Jakarta Indonesia 1988. 3. Yu MC. 2004 . Herbal medicine use. 1992. Hildesheim A et al. terutama pada kasus dini. bawah serta klavikula. York: Oxford University Press. IARC Press. Cancer Res. 1996. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Djakaria M. Whelan SL. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. 4. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. Fachrudin D. 10: 15-24. Parkin DM. 52: 3048 –51. Soetjipto D. Metode brakhiterapi. Azis MF. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 471–86. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Nasopharyngeal cancer. 2nd.

LAMPIRAN : Gambar 1. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala. 2004 19 . Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2.

Betalaktam.5 % dan dewasa 23. Streptococcus β-hemolyticus.5%.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. serta lebih dari 50% penyebabnya .3 %. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. B. usia 5-15 tahun 29.82%.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. termasuk Indonesia. Metoda penelitian cross-sectional. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. Streptococcus βhemolyticus 6.04%. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. 87.2%. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. Streptococcus pneumoniae 3. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). 2004 napasan atas maupun bagian bawah. yakni sebesar 68.11%. Branhamella catarrhalis 22. 40% dan 80%. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. 53. Branhamella catarrhalis.1 %. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. Departemen Kesehatan RI.52%.9 %. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans.8 %. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). 144. Streptococcus sp. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

82) 4 (3.53) 1 (0. 2004 21 .4 % .04%. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. 2.53) 2 (1. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999.11) 5 (3. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton.05) 2 (1. 6. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. 10. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. 144. Branhamella catarrhalis (22. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. 12. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. Streptococcus β-haemolyticus (6. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. Escherichia. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam.53) 2 (1. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. 7. terhadap antimikroba golongan betalaktam. 11. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).93% dan 5. Pseudomonas. yakni sebesar 68. Cermin Dunia Kedokteran No. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. Untuk kuman S. Proteus. dan kotrimoksazol(4). 8. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam.2%).11%). 9. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. viridans sebanyak 54. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. 5. B hemolyticus diperoleh 6.adalah virus(1).82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. dan memerlukan terapi antimikroba. 3. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. dan uji-uji khusus lainnya.71 %. Antimikroba golongan betalaktam. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit.76) 1 (0. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. berturut-turut 9. (Tabel 1). fermentasi karbohidrat. hiperemis. Streptococcus pneumoniae (3. Staphylococcus. yakni dengan mengukur zona hambatan.2) 30 (22. Tabel 1. Streptococcus non-haemolyticus (3. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin.82%).9%). dan Haemophillus(2). kecuali terhadap Cefradin. 1. sifat hemolisis agar darah.2 %.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. sakit menelan. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31.35%. Klebsiella. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. makrolida. Branhamella. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya.82) 5 (3. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. 4. batuk.46 %. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.76) 1 (0.9) 8 (6. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni.05%). dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2). Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam.

7 % dan 96.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. Makrolid dan Fluorokuinolon. Dwiprahasta I. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. MKI 1987.35 3.0 20. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini. Tabel 3. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. . karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No.05 1. Dirjen Binkesmas.87 5.0 80. 5. pneumoniae Acinobacter spp. aeruginosa S.82 %. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54. yakni sebesar 68.33 0 0 0 0 20.23 4.41 4.33 3.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3.05 2. . amoksisilin dan ampisilin(2).viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2. Amx = Amoksisilin.23 0 3. Josodiwondo S. 4.04%.2 % dan 66.48%. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S.5 40.82%.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. 3. Streptococcus β-hemolyticus 6.04 9. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia. Abdoerachman H.7 %.52 2. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. 6. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. catarrhalis S.turut adalah Golongan B Laktam. Branhamella catarrhalis 22.76 0. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. Cefota = Cefotaksim.76 0. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54.82 3.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.Tabel 2. 5. 9. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya. Yeast (ragi) S. Cefoti = Cefotiam. 2.67%. MKI 1996. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. 1.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73.04 %. Resistensi kuman S.12). 1996. 4.52 87. MKI 4 (2/3): 56-60.05 )(10). Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif. 2 (1): 6-12.viridans dan S. sefalosporin 7.33 53. 8.53 0. 46(9): 467-76. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson.82 30.0 %. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. penisilin spektrum sedang dan sempit 13.53 1. β-haemolyticus S.11 3.93 6.2 %. Streptococcus pneumoniae 3. makrolid 15 %. 12.11%. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46. 2. .5%. 7.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68. aureus 0 %.82 3. 144. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G.53 1. 26. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. pneumoniae S. Fachrudin D. 3. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. Cefep = Cefepime. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif.9 %. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. Cefpi = Cefpirome. Trihendrokesowo dkk. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan.. Departemen Kesehatan R I. non-haemolyticus K.57 5. epidermidis PeG 2.9 6. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. KEPUSTAKAAN 1. aureus Alkaligenes spp.29 1. viridans B.7 %. Ceftri = Ceftriakson.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.2 22. Sulb = Sulbenislin. Cefrad = Cefradin. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. P.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. 60% dan 20%. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners.2%.

rs. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. 6-17. : 0274-37430.id Jakarta Convention Centre Telp. Gedung AR Fachruddin.com Web-site : www. Hartono TE. roga@biotech. 6685070.respina. 8. 2004 23 . Jakarta Telp.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. : 021-4532202. Slombe B. Sugito. 12.org website : www.or. 7.id Hotel Planet Holiday. : 021-5684085 ext. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. Batam Telp.id Website : www.idai.kalbe. Nukman R. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia .co.net Hotel Planet Holiday.net. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. Fax : (021)-3913982 Website : www. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. Faks. Surakarta .id Hotel Horison. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. : 0274-37430 Website: http://telmed. 11.or. Antibiotik Beta Laktam. Herman MJ. Laporan penelitian 1998. Suprihati.interna. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai.com Website : www. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. Jones A. Batam Telp.id Hotel Sahid Jaya. Beta Lactamase.id Karawaci. : 0778-7024522. Sirot S. : 0751-37771. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Wibisono MY. In : Rolinson GN. : 022-2039086 / 2035042. : 0274-587555. Bandung Telp. 1242.com/index. 10.fkumy. Idajadi A.net. 14:193-9. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Padang Telp. Bandung Telp. : 022-2534115. Jakarta Telp. Amsterdam : Excerpta Medica 1980.3907703. Meeting on Respiratory Care Ind. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email. 5. 1988. : 021-4786 4646. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.id Jakarta. Med Progr January 2003. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt.obgyn-bandung.: 021-79184052 Website: http://www.itb. Yogyakarta Telp.pluit-hospital. Fax : 021-3914830 Website : www. Telp.com. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI . Telp. Saulnier P.1988. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah.idki.org KPP Bioteknologi ITB. 6685006 Fax : 021-4535833. Tangerang Telp. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist.com Hotel Sahid Jaya.co. Occurrence and Classsification.or. Watson A. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. : 021-3928658. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. : (021)-3148610.com. 144. Bali Telp. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin.internafkunand.id Hotel Grand Hyatt. Jakarta.6. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. : 021-3919653. : 021-31934636.pluit@rad.id Bali. 1994.ac. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia. J Internat Med Res 1986. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Sirot J. Surakarta. Tarigan HMM. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae.id Bali International Convention Center Telp. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Kariadi Semarang. : 021-330956. Rai IB. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo.or.php Hotel Bumi Minang. (eds). 9.net.or. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro.

Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Anatomi Telinga Secara anatomi. penurunan kemampuan kerja. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Secara definisi. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. cara yang digunakan untuk . suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. biasanya di atas 120 dB. tengah. Misalnya. sangat luas. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. Hal ini perlu diketahui. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. alat-alat transportasi berat. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. dan lain sebagainya. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Untuk itu. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. 144. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. dan dalam. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. Di telinga tengah ini.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh.

Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. Makin tinggi tekanan udara. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Pada trauma akustik. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. kerusakan tulang-tulang pendengaran. 2004 25 . 2). Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Untuk menghindari kelelahan auditorik. yaitu trauma akustik. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. nilai ambang di atasnya. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. 3). maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. atau kerusakan langsung organ Corti. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. dsb). Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. dan durasi. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. 144. dengan kata lain. di udara terbuka. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. amplitudo. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. dsb). Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. pendengaran orang tersebut berkurang. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). pengeras suara.

refleks pernapasan berupa takipneu. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. dan sebagainya. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. Secara sederhana. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. Untuk menilai ambang pendengaran. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. Pada skala frekuensi. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. . serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. Bila sudah terjadi kerusakan. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. hidung. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. 4000. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. 1000. Namun perlu diingat. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. tes rekruitmen. durasi pajanan. Pemeriksaan telinga. spektrum suara. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. spektrum bising. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. seperti faktor fisika lain berupa panas. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. 3000. pengukuran impedance. trauma telinga karena agen fisik lainnya. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. berbicara dengan suara menggumam. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. status kesehatan. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain.setelah pajanan suara. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. disritmia jantung. Weber. getaran. dan 6000 Hz. alat transmisi ke telinga. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. hari ataupun lebih lama. dan sebagainya. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. meningkatnya tekanan darah. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. Pada pemeriksaan fisik. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. dan sering timbul tinitus. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. 2000. serta faktor-faktor lain seperti usia. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. frekuensi yang diuji. jenis kelamin. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. dilakukan pemeriksaan audiometri. durasi total pajanan. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. 144. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. dan sebagainya. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. dan pola pajanan temporal. Dari data observasi di lingkungan industri. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan.

mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Jika dipergunakan alat bantu dengar. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). riwayat pekerjaan. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. Selain itu. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. barang atau jasa yang dihasilkan. terutama pada lingkungan industri. kondisi medis. Penggunaan alat pelindung telinga. tanggal bekerja dan umur saat itu. riwayat penyakit dahulu. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. keluhan utama. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. riwayat pelatihan militer. Cermin Dunia Kedokteran No. Suara yang asing. durasi masing-masing pekerjaan. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. interupsi suara berulang. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. riwayat keluarga. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. 144. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. tinggi rendah dan irama percakapan. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja).

Zenz C. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. 4. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. 2nd ed. 144. Occupational Medicine. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. Dickerson OB. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. Pemeriksaan refleks kedua mata 4.uk/ environment/noise/health/page05. http://www. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. dan Hearing Conservation.defra. Noise. Louis : 1994 Soepardi ES. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5.htm. cermat. (chief ed). KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. 2004 . Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. 2. 2004. In : Zenz C. Jakarta : 2001 Department for Environment. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Food and Rural Affair. Harris CM (ed). Pemeriksaan dengan garpu tala 6.gov. Handbook of Noise Control. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 3. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. Nilland J. 2. Horvarth EP. In . KEPUSTAKAAN 1. February 6th. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.penggunaan alat pelindung diri. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. 3rd ed. McGraw-Hill Book Comp. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). Edisi 5. Iskandar N. St. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Mosby. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. New York : 1979. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Occupational Hearing Loss. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1.

Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise.105 dB (Sundari. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. prevalensi NIHL 31.14% dan gangguan keseimbangan saja 27. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas.2 dB (Lusianawaty). Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Cermin Dunia Kedokteran No. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000.5 detik berturut-turut. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. 3. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. melainkan ada periode relatif tenang. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. Di Indonesia. suara katup mesin gas. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada. tembakan. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. 2. Menurut WHO (1995).55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . suara dapur pijar. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. 144. Di Quebec-Canada. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. mudah emosi.1 – 108. kipas angin. misalnya suara gergaji sirkuler. suara katup gas.71%.2m/dt2. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising.81% dengan paparan kebisingan 86. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. meriam dll. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. 1000 atau 4000 Hz). dsb.1997). rerata akselerasi getar 4. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. gangguan pendengaran saja 17. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. gergaji sirkuler. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. 2004 29 .43%. kebisingan di lapangan terbang dll 4. Di perusahaan plywood di Tangerang.96 dB).16 %. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya.

Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). 4. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. kurang konsentrasi. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. ledakan dan Di Indonesia. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. seperti gangguan fisiologis. 2004 . Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS .reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja.5 0. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. gangguan komunikasi dan ketulian. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural.waktu pemulihan bervariasi .patologis .non-patologis . gangguan psikologis. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. 3. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. keselamatan tenaga kerja. dan lain-lain.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. peningkatan nadi.bersifat sementara . Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. seperti letusan. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. c. 144. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. Tabel 1. daya dengarnya akan pulih sempurna. d. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. b. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. susah tidur. stres. cepat marah. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam.25 atau kurang 5. 5. Gangguan fisiologis Pada umumnya. 2. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. kelelahan. 1. Ketulian bersifat progresif. bising bernada tinggi sangat mengganggu. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang.

hubungan baik dengan karyawan. meningkatkan produktivitas. menunjukkan itikad baik. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. dan lain-lain). Problem dalam mendengarkan musik c. 3. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. Kontrol engineering dan administrasi 3. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. Dukungan manajemen 2. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Tuli ini biasanya bersifat akut. tinitus. mengurangi angka kesakitan. 2004 31 . dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. bersifat menetap (irreversible). 144.lainnya. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. Economic self-sufficiency handicap e. 1. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). Bagi pengusaha Taat hukum. 1994). Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. misalnya : a. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. 5. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. rotasi kerja. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. kesejahteraan bukan santunan. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. mengurangi angka kecelakaan. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. Problem komunikasi di tempat kerja b. 7. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. Bagi karyawan Mencegah ketulian. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. antara lain: 1. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. 6. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. 1996): 1. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. Berupa policy statement 3. 6. 2. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. c. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. Cermin Dunia Kedokteran No. 2. 3. ruang isolasi. Problem mencari arah/asal suara d. namun merupakan pedoman. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. proaktif bukan reaktif. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. b. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. langit-langit dan lantai. 4. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. Serta bisa mengurangi stres. 5. cepat sembuh secara parsial atau komplit. jadwal kerja . seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. menutup sumber kebisingan dengan barrier. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. 5. Integrated dengan program K3 4. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. Monitoring paparan bising 2. Dilaksanakan oleh semua jajaran. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri.

Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No.periksa tempat kerja . berdasarkan lokasi tempat kerja.untuk baseline 14 jam bebas bising. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. 2. 2004 . 2. ukur maximun dan minimumnya. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. Evaluasi : . . 3. ukur tempat dan ruang kerja. atau menggunakan APD 2. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . bertujuan untuk : 1. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. 5. Mengikuti peraturan III. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). 6. konsulkan ke dokter THT . Penempatan ke tempat bising 3.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis .periksa dokter . Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. Base line atau data dasar : . pengukuran dengan peta. contohnya : 1.komunikasikan dengan karyawan tersebut .dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer).. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. 7.I. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. SOP pengukuran harus ada dan jelas. memberi pelumas secara teratur. 5. 3. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. KONTROL . Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. 2. 144. menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. dan lain-lain.Bila sudah memakai. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . 4. beri petunjuk ulang . 2. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. konsul THT Lakukan revisi baseline. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Setiap tahun. Rotasi tenaga kerja 3. tenaga mesin. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. diharuskan memakai . b. mengencangkan bagian mesin yang longgar. lakukan tahap selanjutnya c.jika karena penyakit.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja.periksa data kalibrasi alat .bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. yang sering juga disebut survei bising. Exit Policy mengenai audiogram : 1.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. bila bising > 85 dB 4. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Pre-employment 2. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b).Bila perlu. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. 4. kecepatan putaran atau isolasi. Penjadualan pengoperasian mesin 4.paling lama dalam waktu 2 minggu . Kecocokan. bila STS persisten atau membaik IV. Annual monitoring 3. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja.Bila belum menggunakan APD. bila lebih dari 85 dB. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. Mengatur jadual produksi 2.

Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. 144. Tidak saja untuk melindungi pekerja. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. 3. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. 3. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. 2. V. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Kemudahan pemakaian. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. 2. misalnya pelatihan dan penyuluhan. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. VII. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. 2. Cermin Dunia Kedokteran No. APD yang digunakan. perusahaan harus menyediakan APD ini. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. 2. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. Penyuluhan khusus. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. 5. Nyaman dipakai. biaya. kesertaan supervisor dalam program. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. VI. Kontrol engineering dan administratif. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. dengan sasaran : 1. custom-molded type c. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. PROGRAM AUDIT 1. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. Audit Eksternal. 4. Beberapa tipe sumbat telinga : a. formable type b. Hasil pengukuran kebisingan. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. 3. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. 2004 33 .

2004 . 10 Juli 2004 Website : http://telmed.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No.Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta.fkumy. 144.

cara membersihkan kanul dalam. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. pemeriksaan periodik kanul dalam. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. sering saling tertukar. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. humidifikasi buatan. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Selanjutnya dikatakan. Bogor. 144. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. Cermin Dunia Kedokteran No. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. bukan dari saluran napas bagian atas. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. perawatan luka operasi di stoma. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. 2004 35 . Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. mengurangi efektifitas refleks batuk. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Berdasarkan permasalahan tersebut.

sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. panci bergagang. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. Akan timbul gangguan saat menelan. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Bila didapatkan sekret yang kental. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. penjepit. c). Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. 144. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. saringan. Beberapa jam pertama pasca bedah. Pada waktu ekspirasi. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Bila penderita bernafas spontan. Alat ini relatif lebih efisien. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Jika udara rumah kering. b). Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). b). Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. kasa perban. Sebelum melakukan pengisapan. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. 2004 . tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. d). Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Cara membersihkan kanul dalam. Dengan adanya trakeostomi. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. Sebelum mengangkat kanul. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. Buatlah larutan sabun di dalam botol. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. sebagai berikut: 1). Condensor humidifier. jangan diberi tekanan negatif. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. dan cairan penggosok perak. sehingga perlu dilakukan pengisapan. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. menggunakan lap atau kasa perban. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. 2). c). campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. d). mungkin akan bermasalah. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). siapkan alat-alat untuk resusitasi. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat.

2b). Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. Cermin Dunia Kedokteran No. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. 2004 37 . Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. Angkat saringan dari panci bergagang. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. tuangkan air dari panci. Jika kanul dari perak telah memudar. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. 8). ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. Setelah kanul dalam bersih. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. 144. Gambar 1. Setelah air mendidih. 1). Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. kemudian bersihkan dan cuci. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. 5). 5). Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. 3). Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb.2a). Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. Gambar 2. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. 2). dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. 2). Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. 3). dan tempatkan kembali saringan dalam panci. krusta dapat diangkat dengan merendamnya.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. didihkan kanul dalam selama 5 menit. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. 3). Tarik kanul dalam ke belakang. 7). Untuk mengangkat kanul trakeostomi. 4). 4). Biasanya. 6). oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores.

144. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. Jika mesin penghisap tidak didapat. 2). untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Di samping itu. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. jika udara dalam rumah kering. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. Lepaskan balon karet. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. atau jika kanul teriritasi. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. 2004 . hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. 3). Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. 4). tempatkan kasa di atas kanul. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. Gambar 4. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. Siapkan alat-alat. Gb. Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. 3). Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 2). Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3.4). Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. 4). Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi.Cara melakukan : 1). 5). Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. Bersihkan alat-alat dengan air sabun.

Me Kailum JR. Maran AGD. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. mengganti kanul. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. 4). cara membersihkan kanul trakea. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Boies LR. Jika kasa tidak terlipat. 1567-73. panjangnya 6 inci. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. nose and throat diseases. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. 144. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. menghisap discharge. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. Tracheostomy. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. 5th ed. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. 1). 705-17. 6). throat and ear. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. 2004 39 .dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. 5). merebus kanul dalam. 6). Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Me Dowall GD. Adams GL. In : Logan Turner's Diseases of the nose. KEPUSTAKAAN 1.5). 5). Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. 2). Bristol : John Wright and Sons Ltd. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Cermin Dunia Kedokteran No. Gambar 6. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. Me Klay K. 2. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. kasa 4 x 4 inci. A Textbook of ear. 1978 . Tracheostomy. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. 3). 1977 . Paparella MM. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. Bireell JF.. 5th ed. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5.

20. Scott-Brown's diseases of the ear.obgyn-bandung. Conway WA. Ann Otol 1975 . Evans CC. 144. 688-708. 5. 3rd ed. 10. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. 1973. Lulenski GC. Laryngoscope 1981. London : Butterworths. Putney FJ. Silicone tracheal canula. Victor LD. J Laryngol Otol 1981. 6. Grooves. Lee KJ. Magilligon DJ. 1955. Feldman SA. 11. Crawley BE. Steel PM. Toledo PS. Laryngo-tracheoplasty. 84 : 781-6. Philadelphia : WB Saunders Co. 88 : 589-97. 19 September 1981. 1971 : 31-61. Arch Otolaryng 1981 . Montgomery WW. Shumrick DA. Martin WM. 9. Inc. 2nd ed. nose and throat. 4. 7. (eds). In : Ballantyne. Batsakis JC. Basic sciences and related disciplines. Davies J. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. 87 : 99-108. 1973 . Ann Otol 1978 .org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. 16. 91: 355-61. London : Butterworths. A preparation guide. Otolaryngology. 1973. 13. 19. Nose and throat. Basic sciences. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Wright D. An atlas of head and neck surgery. Galood HD. An experimental study. Ann Otol 1980. Otolaryngology.3. Zorick FJ. 62 : 272-6. 1979 . Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. Krikotirotomi. 4th ed. (eds).. Natvig K. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. 18. Siregar Z. In: Ballantyne J. J Laryngol Otol 1974 . Arch Otolaryngol. 433-75. Tracheostomy and laryngotomy. Vol I. 14. 1973 : 170-96. Montgomery WW. Philadelphia: WB Saunders. The Otolaryngology board. 1976 . London : Edward Arnold Ltd. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). Fujita S. Embriology and anatomy of the larynx. diaphragma and esophagus. 17. Skripsi di Bagian THT/RSCM. Lulenski GC. Complications and postoperative care after tracheostomy. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. 107 : 114-6. Operative Surgery. Lore JM. 8. Vol. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. New York : Medical Examination Publ. Tood GB. 15. 89 : 521-8. In: Paparella. respiratory apparatus. 246 : 34750. (ed). 1. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Ann Otol 1980. Fundamental international techniques. Bandung. 95: 61-8. Basic sciences and related disciplines. vol I. Evans JNG. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. 12. Shapiro RS. Paparella MM. Vol II. 2nd ed. 2004 . Olving JH. Philadelphia : WB Saunders Co. Roth T. Shumrick (eds). 89 (suppl 73): 1-7. Co. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. 242-8. JAMA 1981.

144. tak stabil (giddiness. karena berjalan dengan kedua tungkainya. Gambar 1. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. rasa oleng. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. 2004 41 . Bogor.1) . sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi.

TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. vestibulum dan proprioseptik. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. yang berkembang menjadi gejala mual. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. 144. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). letak lesi dan penyebabnya. timbul reaksi dari susunan saraf otonom. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. 3. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. 2.(Gb.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. serebelum) atau rasa melayang. mual dan muntah. nistagmus. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Skema Klasifikasi Vertigo 6. 3). Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. (Skema) Oleh karena itu. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. akibatnya akan timbul vertigo. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. belajar dan daya ingat. 2004 . Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). Mabuk Udara 4. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. 5.

otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. Cermin Dunia Kedokteran No.duduk dan berdiri. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. Uji Romberg (Gb. keletihan.batang otak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. kronik. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Fungsi vestibuler/serebeler a. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. kongestif. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. kepala dan badan berputar ke arah lesi. goyang. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. salisilat. hipertensi. berputar. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. tujuh keliling. 2004 43 . ketegangan. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. 144. kanamisin. bising karotis. anemi. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. paroksimal. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. c. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. gagal jantung b. penyakit paru juga perlu ditanyakan. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. Gambar 4. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. hipoglikemi. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. hipotensi. hilang timbul. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. hipertensi. serebelum. vestibularis. Uji Unterberger. 7). Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. rasa naik perahu dan sebagainya. Juga kemungkinan trauma akustik. hipotensi. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Dalam menghadapi kasus vertigo. progresif atau membaik. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. penyakit jantung. baik kelainan sistemik.

lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. a. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. 2004 . Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. Gambar 9. Uji Tunjuk Barany e. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. jika ada gangguan vestibuler unilateral. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. Uji Babinsky-Weil (Gb. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas.1. 144. 9) Perhatikan adanya nistagmus. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb.

bawah. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. 2. iv im. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n.5 mg 1 dd 0. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). tahan selama 30 detik. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). selain kausal (jika ditemukan penyebabnya).iv. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. 2. Weber dan Schwabach. Bekesy Audiometry. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. b. Magnetic Resonance Imaging (MRI). Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. Foto Rontgen tengkorak. Stenvers (pada neurinoma akustik). Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). okulomotor. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. 3. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. b. otot wajah. VIII. parestesi) dan serebeler (tremor.Elektromiografi (EMG). penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. 4. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.iv.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. kemudian duduk tegak kembali. c. berupa gerakan mata melirik ke atas. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. Pencitraan: CT Scan. kampus visus. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri.fungsi sensorik (hipestesi. Arteriografi. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue).rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. 2004 45 . dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Pemeriksaan Penunjang 1. Tabel 3. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. Sentral: tidak ada periode laten. dengan tes-tes Rinne.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). dan fungsi menelan. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. Tone Decay. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Gambar 9. (Tabel 3). 144. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. SISI. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. leher. Antivert Phenergan. dan Schwabach memendek.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. gangguan cara berjalan). kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. sensorik wajah. tahan selama 30 detik. kemudian duduk tegak kembali. a. pendengaran. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik.

penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer.xiii-xxviii. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Syeban ZS. Kusumastuti K. Obat penyekat alfa adrenergik. Kelompok Studi Vertigo. 144. Di awal sakit. hal. metronidaziol dan minosiklin. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). Kelompok Studi Vertigo Perdossi. tanpa tahun. yang makin lama makin cepat. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Andradi S. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. Diagnosis dan Terapi. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. 5. terapi profilaktik juga belum memuaskan. asam nalidiksat. diuretik ringan bersama diet rendah garam. Harahap TP. Aspek Neurologi dari Vertigo. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. 14 Desember 1991. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. Duphar. Monograf.1999. Joesoef AA.. Dalam: Joesoef AA. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. antiinflamasi nonsteroid.vestibularis. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. diuretik loop.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. berhenti merokok. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. 2002. KEPUSTAKAAN 1. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. 2. 3. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. diduga disebabkan oleh infeksi virus. 7. 2004 . 4. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. Monograf. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. Neurootologi klinis:Vertigo. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. tanpa tahun. Sedjawidada R. tanpa tahun. bisa alat dan saraf vestibuler. Tinjauan umum mengenai vertigo. Vertigo. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. demikian juga gentamisin. sedangkan kanamisin. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Seri edukasi. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. membatasi asupan garam. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo.). umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Patofisiologi. 6. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. selain vertigo. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. Perdossi.(eds.

Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. muntah) dan pusing (2). peluh dingin. otonomik (pucat. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. Epilepsi. Di antara serangan. rasa melayang (1). Sindrom Cogan. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. kepala terasa enteng. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). kemudian menghilang sempurna. unstable). tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. Arakhnoiditis pontoserebelaris. rasa mengambang. kelainan gigi/ odontogen. Migren ekuivalen. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. Sindrom Lermoyes. mumet.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. tujuh keliling. 3. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Labirin picu (trigger labyrinth). Yang tanpa disertai keluhan telinga. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. L. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. berlangsung beberapa menit atau hari. 144. pening. Cipto Mangunkusumo. 2004 47 . DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. sempoyongan. 3. 2. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.Vertigo posisional paroksismal benigna. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. mual. dapat disertai gejala lain. . KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. Vertigo paroksismal 2. termasuk di sini adalah : . 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . kemudian berangsur-angsur mengurang. penderita sama sekali bebas keluhan. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. tumor fossa cranii posterior.Vertigo posisional paroksismal laten. pusing.

Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. unsteadiness. fibrilasi atrium paroksismal. kelainan kardiovaskuler. Infeksi : meningitis. Tumor. 6. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. kelainan okuler. kelainan endokrin. 2004 4. hipoglikemi. sklerosis multipleks. Anamnesis. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. benda asing. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. sindrom arteria vestibularis anterior. Kelainan psikiatrik: depresi. dan EKG. TERAPI Terdiri dari : 1. sumbatan arteria serebeli inferior posterior.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . 2. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. Kelainan endokrin: hipotiroid. dan vestibulospinalis. rudapaksa dengan perdarahan. ensefalitis pontis. sindrom sinus karotis. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. : Hipertensi kronis. sindrom hiperventilasi. 3. dibedakan menjadi : 1. dibedakan menjadi: 1.VIII. d. labirintitis kronis. 2. intoksikasi obat.Pemeriksaan neurologik . e. fobia. meningitis Tb. serangan vaskular. Migren. b. 3. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. tumor medula adrenal. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik.serangan akut. sklerosis multipel. tumor. neurosa cemas. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. akan diproses lebih lanjut. lues. sklerosis multipleks.Radiologik dan Imaging . blok jantung. e. tumor. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.(2). abses. Lues serebri. arteriosklerosis. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. Inti Vestibularis: infeksi. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. ensefalitis vestibularis. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. anemia. Trauma kepala/ labirin. 5. stenosis dan insufisiensi aorta. Pemeriksaan khusus : . 144. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. labirintitis akuta. trauma. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. hipertensi kardiovaskular. f.EEG.Pemeriksaan otologik .Pemeriksaan fisik umum. hipoparatiroid. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. III. trauma. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . vertigo epidemika. hipoglikemi. trombosis arteria serebeli posterior inferior. herpes zoster otikus.Laboratorium . Pemeriksaan tambahan : . Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. EMG. b. maka proses pengolahan informasi akan terganggu.Vertigo servikalis. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. hematobulbi. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. hidrops labirin (morbus Meniere ). 2. keadaan menstruasi-hamilmenopause. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin.Hipotensi ortostatik . lesi labirin akibat bahan ototoksik. Penyakit SSP : a. DIAGNOSIS 1. trauma. neuritis n. IV dan VI. kolesteatoma. siringobulbi. Telinga bagian luar : serumen. tumor serebelopontin.Psikiatrik 4. 2. perdarahan labirin. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. c. ETIOLOGI 1. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. sinkop. Pemeriksaan fisik : . : infeksi. labirintitis. vertigo postural. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. c. d. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. berangsurangsur mereda. susunan vestibuloretikularis.Audiometri dan BAEP . otitis media dengan efusi. kelainan psikis. sindrom pasca komosio. ensefalitis. Intoksikasi. mabuk gerakan. Hipoksia – Iskemia otak. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Terapi kausal . visual. otitis media purulenta akuta. Dalam kondisi fisiologis/normal. pelagra.Pemeriksaan mata . Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. alergi. perdarahan. Nervus VIII. dan proprioseptik. di samping itu. Epilepsi. 2. hipotensi ortostatik.ENG . 3.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

irrawadiensis. kanker. 52 Cermin Dunia Kedokteran No. kariostatik serta hipokolesterolemik. 144.5. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. dengan harga obat-obatan yang mahal.5. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas.49%. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. assamica. var. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. Juga karena bahannya mudah didapat.2 Di masa sekarang. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke.K.Var. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). tanaman teh Camellia sinensis O. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). Departeman Kesahatan RI. assamica dan irrawadiensis.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. yaitu sinensis. 2004 . Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat.K. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi.3 Menurut Graham HN (1984). genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang.7 2. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi.3 Selain itu di negara-negara Barat. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.

Pada proses ini.83 4. 12. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh.84 4. 28. 6. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan).42 20. 19. 144.09 0. Setelah 4 jam berpuasa.20 8.99 3. 5. 9. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki.3. 8. 8.01 0.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih.70 0. 9.23 4. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. 26. 17.21 3. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. 6. Apabila proses fermentasi telah selesai.43 1. 12. 24. 13.enzim.09 4. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. 11. kemudian diaduk selama 3 menit.86 1. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C). 1. 11.7 Tabel 2. 18. epigalo katekin 3. 29.56 0.93.25 1. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. setelah 60.74 6.74 0. 7. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4.1 tahun.50 0. 4. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. 1.15 0. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8. 15. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7.70 5. 23. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu.63 Trace Trace Trace 2.17 1.69 0.31 0. selanjutnya digulung dan dikeringkan.29 2. 2.82. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%.68 12.85 0. 14. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir.79 4.7 3.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No.477 µmol/l (kisaran 4.9. Daun teh dilayukan lebih dahulu. 21. 25. 2. 3. 7.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda. 27.21 6. usia rata-rata 21.75. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC).90 1. 2004 53 .98 5.0). 20.16 4. 14. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. 4. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l. indeks massa tubuh: 24.03 0.02 0. 3.96 percobaan 430 µmol/l. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang.50 0. 30. 5.13 3.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. Komposisi teh hijau(3) No. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.62 35.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. 16.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. 10. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati.40.275-12. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434. 10. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. 120.57 3. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten.50 0. Komposisi teh hitam(3) No. epigalo katekin galat sebesar 4.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. 22.110 µmol/l). 13. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2. 5 wanita.

Sutarmaji A. Jakarta. 1996. Chow WH. Jakarta. body weight. J Epidemiol. Yanai F.19 Selain itu pada wanita post menopause. Antioxidants. Nakachi K. 13. Blot WJ. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. 1996. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Popkin BM. McLaughin JK. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. Eur J Clin Nutr. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. Imanishi K. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Doyle TJ. 1984 : 29-74. Shinchi K. 1999. Astuti M. et al. 1996. Van Het Hof KH. Van-den Brandt – PA. Goldbohm RA. 10. Gershon-Cohen J. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. Prog Clin Biol Rev. 16. 2004 . Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Pradnya Paramita. 2001 : 1-15. Fluorine in Tea and Caries in Rats. 88 (2) : 93-100. Tjitrosoepomo G. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. Potensi Antioksidan pada Teh. 11 : 3840. dan radikal peroksil. Ferraro T. 21. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. 7. 20 (2) : 1-6. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Nakayama M. Van Steenis CGGJ. cet ke-1.54 g /200 g. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Graham HN. 1-477. 128: 49-51. In Liss AR. Yogyakarta. Nair MK. Kono S. 1997 : 82-3.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Mou TH. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. baik teh hitam maupun teh hijau.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Jufri M.14-18 Diperkirakan. 1997. cet ke-4. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. 37 (8) : 739-60. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. Cancer Research 1992. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. 3. 12. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. Baraas F. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Lee MJ. Preventive Medicine 1992. 22. 23. Baraas F.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar.20. cet ke-2. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. 18. 4. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. et al. termasuk pada wanita post menopause. 1987 . 24. 1997. Cermin Dunia Kedokt. Jufri M. 6. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. et al. 313 : 229. Shinchi K. 17. McClendon JF. Zheng W. O2•− . Environ Health Perspect. Preventive Medicine. kolesterol LDL. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. Van-Popel-G. Yang GY. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. J Nat’l Cancer Inst. 2000. KEPUSTAKAAN 1. 20. Hyderabad. 11. 1998. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. Langseth L. Suga K. Shimamura T. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. Nutrition News. Toda M. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. ILSI European Monograph Series. cet ke-1. Kono S. 1-495. 144. Consumption. Hertog MG. 19. 8. 1-24. Weststrate JA. Sellers TA. Oxidants. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. 2. 9. Crit Rev Food Sci Nutr. Hong CP. 1994. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. 52 : 389-95. 55(2) : 31-43. Folsom AR. 173 : 304-312. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Jakarta.05). Nutr Rev. Chen L. 1994. Jakarta. Imai K. Selain itu. Am J Epidemiol. Jakarta. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Jakarta. 26 (6) : 769-75. Antioksidan dan Penyakit Jantung.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. 1997. hal ini dapat dijelaskan. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Bag. Dirghantara E. Thorpe G. Tuminah S. FMIPA UI. Brants HA.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. UGM Press. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. 52 : 1162-70. 1989 . Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. Letters in Applied Microbiology. Kushi LH. 15. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. 1990. Prima Kardia Pers. Brussel: 1995 . Japan. 21 : 526-31. Van den Berg H. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Maxwell S.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. 6 (3) : 128-33. Nature 1954.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. National Institute of Nutrition. Substansi seperti tanin (dari teh). and Health Effects. Wakabayashi K. Okubo S. FMIPA UI. Prima Kardia Pers. Yang CS. Biokimia FKUI. 5. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Drewnowski A. and Disease Prevention. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Ikeda N. Teh juga telah diuji teratogenik. 1999 : 11-2. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Zhi YW. 14. 144 (2) : 175-82.

HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. Faktor.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. dan mengisi informed consent. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. dirawat di rumah sakit. 2004 55 . Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). demam akut 2-7 hari.871 kasus dan 1. Departemen Kesehatan RI. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. (Tabel 1). sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi.April 2001. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. Sri Susilowati. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya.414 kematian(1). Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. 2001) .

1:1). Surveilans Dit. J.Dit. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses.44 10. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus. tahun 1997: 34. Tabel 2. Trop. KEPUSTAKAAN l. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Tabel 3. Med. tahun 1996: 32.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia.7% negatif.5% . 144. 2001. 2. 1958. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. 5. Tabel 4.74 3.4 100.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55.16 6. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .Jen.82%. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1.74 31. Profil Kesehatan Indonesia 1999.24%(5). 7: 561.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51.7% dan derajat II sebanyak 44. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. tahun 1998: 36.21 0. Desember 1999. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. yaitu: tahun 1994: 34.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.50%. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan.3%.Tabel 1. 2000. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. 2004 .6849). 3. Muchlastriningsih E et al. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. Sub. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding.21%.19%. penderita berada pada derajat I dan II. 4. hasil uji HI positif sebesar 51. Departernen Kesehatan RI 2000. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.7 11. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. tahun 1995: 50. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.7 100.53 0. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.53 1. Cassals J. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26. Berita Epidemiologi.3 48. Am. Clarke DH.3% positif dan 48. Data Kasus DBD 1999. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21.9 66. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.55 1.61 100. Hyg.42 3.07 1. Jakarta.

dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. Suprapto. edema. pruritus dan urtikaria. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. Jangan dibekukan dan dikocok. 10. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. fatigue. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. diare.: (021) 428 73888-89. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL.co. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. 144. meskipun dapat dihentikan setiap saat.30) Cermin Dunia Kedokteran No. KALBE FARMA Tbk. Letjend.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). Jl. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. artralgia. Gedung Enseval. 3000 IU dan 10. sakit kepala.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. 1998. mual. Senin – Jumat (07.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. seperti: FeSO4. terlindung dari cahaya. 2004 57 . Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. Jakarta – Indonesia Tlp.00-15. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. 3000 IU. Reference: Bei Jing XieHe Hospital.5%/minggu). tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. suhu 2-8°C. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. Fax. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. • Hipersensitif terhadap human albumin.kalbe. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat.000 IU. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. : (021) 428 73680 Website : http://www.

144.net. Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal. 2004 ./hearing/hrexam.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. Sumber: http://ivertigo. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 1990).

penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. computational linguistics. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. 5. Akhir-akhir ini. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. atau artificial intelligence. medical information science. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. dr HM Goh. seperti: tanya jawab. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. seperti: computer science. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. teleradiologi. dll. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. merawat data. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. sifat website pun sudah mulai berubah. dll. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. dental informatics. seperti: proses pendaftaran pasien. Biaya dan keuntungan sistem informasi. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. kedokteran nuklir. telekardiologi. 4. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. melihat rekam medik dll. health informatics. contohnya: computational physics. dll.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. aspek keamanan dan legalitas. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. information processing. 2004 59 . Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). dan informatika terapan. informatika yang berorientasi pada aplikasi. 3. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. dll. dan beberapa area yang lebih spesifik. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. computer in medicine. artikel kesehatan. Sebaliknya. proses kontrol. (Dr. 144. dan informatics. 2. radiologi. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. dll.

dan sebagainya. Studio mini Jakarta Eye Center.Hj. Untuk itu kita jangan sampai lengah.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah".id. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. Laporan lengkap dari simposium. (tampak dalam foto dr. Tele-education kesehatan via satellite. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. Hotel Acasia. setelah menyelesaikan acara ilmiah. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya.043 orang. 6 April 2004. Pudji Rahardjo. APAMI Board Meeting.Jakarta. Demikian dikatakan dr.000 kali per hari. 6 . batu ginjal. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. Dalam sambutan tertulisnya. yang di klik rata-rata 2. Demikian dikatakan dr.co. menghisap rokok.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur.PD-KGH. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. Wakil dari Indonesia. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu.Pudji Rahardjo. Mohammad Taha bin Arif. dan Portal Kedokteran www. batu ginjal.id/seminar.co. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. J. dan infeksi. Kuala Lumpur. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. SpPD-KGH. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. eHealth Asia 2004. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. RSIA HERMINA Daan Mogot . dan sebagainya. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. dan infeksi. Kuala Lumpur. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. membuka acara eHealth Asia 2004. J. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. 2004 .kalbe. Pada topik yang diberi tanda Breaking News.kalbe. RS Mitra International. menghisap rokok. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. 144. Sp. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. bisa diakses di http://www. 6 April 2004 Pada malam hari. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2.Pudji Rahardjo. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. Erik Tapan. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu.PD-KGH. Hotel Acasia. Sp.

Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. dr.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. SpPD. Dr. MM dan Prof. Demikian dikatakan dr. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna.26 Mei 2004. Hotel Borobudur Jakarta. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. SpS(K). Sie. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat.9 %). dari kiri ke kanan: dr. 24 Mei 2004. dr. Dr. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. K. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Arifin Limoa.PD.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. radiasi dan operasi. menjadi terapi yang bersifat spesifik. Sp. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. enterosit dan kolonosit. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. Ed. karena dapat mencegah atrofi villi usus. 144. SpS(K)).00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Seminar IT PERMAPKIN. Cermin Dunia Kedokteran No. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. 25 . karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. H. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004.16 % (WKNPG : 2. Menurut Budi Sampurna. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini.5 %) dan wanita 11. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. termasuk dari Kalbe Group. SpS(K). Prof. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan.02 % (WKNPG : 5. Amiruddin Aliah. Jakarta. 27 . Demikian dijelaskan Handi Irawan. Demikian dikatakan Prof. Danial Abadi. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. Jakarta. 23 . Zubairi Djorban. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. Seminar Integrated Hospital Marketing. dr. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. Slamet Suyono. 2004 61 . Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. SPS(K). Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta.Jakarta. Hotel Mandarin Oriental .(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. Jakarta. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sebabnya. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Jakarta. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. Bali International Convention Center. Hotel Shangri La Jakarta. 25 . 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). di Jakarta selama 2 hari. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9.

siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali.5 – 0. selama 48 minggu.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2.7.36.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.3. berat badan. 0. 116 di antaranya juga diberi 500 mg. p<0. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami.0 (paling keras) sampai 10.99) juga terhadap keluhan respirasi (0.24 – 8. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).52. Lancet 2003. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral.13 – 4. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral.4. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0.93. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0. kemudian dimatikan selama 12 minggu. 95%CI 0. p<0. 0. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. 0.9) dan keluhan muskuloskeletal (0. 362: 1699-707 brw 0. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1. Daerah frontal. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.8) dan bukan perokok (0.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras.3 – 0. 0.24 – 3.059).bb/hari selama 5 hari.8). karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan. Sejumlah 233 pasien mendapat 0. risiko frakturnya 4.6. 0.7 tahun.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.0 (paling empuk). temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition). 0. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol.8. sepanjang tahun 1997-2000.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre. sex. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama.7 – 0. skala kekerasan kasur berkisar dari 1.2 – 0. tinggi badan.9 ± 0. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. Lancet 2003.95 (95%CI: 1. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2.44 kali (95%CI: 2.50 – 2.0001) tidak tergantung usia. 144. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu.9). mereka di amati selama rata-rata 1. Sekelompok peneliti di Montreal. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah. juga di korteks temporal anterior bilateral.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras.93) maupun saat bangkit (1. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik.5 – 0.9) dan keluhan mukosal (0. Lancet 2003.89.5. 95%CI: 1.97 – 3. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk.9) di kalangan bukan perokok. 31 di antaranya fraktur femur.7.4-0. 2004 .6.6. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal. 0. Lancet 2004.4 g IVIg/kg. 1. Setelah 90 hari mereka dievaluasi. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. baik di tempat tidur (odds ratio 2. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0. nyeri saat berbaring (p=0.10. Selama periode studi. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).

Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk.03). p=0.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.35. Lancet 2004. 24. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan .88. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. p=0. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. p=0. 406 sebagai kontrol.97-2. Di akhir percobaan.72. demikian juga risiko infark miokard non fatal.07-3. 6. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. 48 dan 60 bulan kemudian. data diolah dari 207 (53%) peserta. dan pasien menolak punksi lumbal. 95%CI 0. 144. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1.40.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. 100 mg/kg. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia. risiko infark miokard non fatal. Kematian.95 (95%CI 0.27-9.15 – 1. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. stroke non fatal.46 – 0.55-1.56-0. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan.91.bb sulfametoksazol iv dan 2 g. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik. BMJ 2004. 95%CI 0.18 – 0.4.65. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo.71).06). p=0. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. 0. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera.011).003).015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo.09).64.92. N Engl J Med 2004. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. N Engl J Med 2004.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo.93. (OR 1. 95%CI 0. Pemantauan dilakukan setelah 12.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda.41.89 (95%CI: 1.68.9. emboli paru.62. 95%CI: 0. 192 menggandakan dosisnya. Saat gejalanya mulai memburuk. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak.bb trimetoprim. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari. logrank x2 5.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. Risk ratio penggunaan prednisolon 0.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. OR=1.15. 36. 95%CI 0. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya. p=0. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. jalan kaki.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. p=0. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. 2004 63 . berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. p=0.

8. 9. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 10. 3. 144. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. D D 2. 2004 .Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 5. 4. 6. JAWABAN RPPIK : 1. 10. 9. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. E A 3. B B 5. E C 4. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. 7. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful