2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

Siti Wuryan A Prayitno. Cempaka Putih. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. Basmajian JV. Laboratorium Ortodonti MScD. Jl. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. 1974. Weinstein L. Cermin Dunia Kedokt. SKM. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr.913X KETUA PENGARAH Prof. bila menggunakan bahasa Indonesia. Box 3117 JKT. bila tujuh atau lebih. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. 2.DR. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Swartz MN. Drg. Bila terpisah dalam lembar lain. 4. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut.kalbe. Boenjamin Setiawan Ph. 64: 7-10.H.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. kedokteran dan farmasi. 3. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. Erik Tapan . satu muka. Bila tidak ada. Gedung Enseval Jl. hendaknya diberi keterangan mengenai nama.Medical Rehabilitation. Dr. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Hal 174-9. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. Suprapto Kav. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Bagian Periodontologi. Contoh : 1. 1990. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah.4208171 E-mail : cdk@kalbe.co. Budi Riyanto W. 1984. Kalbe Farma Tbk. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. sebutkan semua. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris.O. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. 90 : 95-9). Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. Tlp. eds.457-72. Cempaka Putih. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. . Sodeman WA.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. E-mail : cdk@kalbe. 021 . Baltimore. DR.Prof.Prof. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Temprint http://www. 4. Sri Oemijati.id/cdk . Bila pengarang enam orang atau kurang.O. Philadelphia: WB Saunders.Prof. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. 1st ed. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Soebianto PENCETAK PT. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Kirby RL. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. .co. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Dalam: Sodeman WA Jr. Jakarta 10510.Dr.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Jakarta 10510 P. PhD. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Box 3117 JKT. Dr.co. P. Letjen. .id http: //www. Letjen Suprapto Kav. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . Gedung Enseval. Oen L.co.Dodi Sumarna .Prof. SpOrt. PELAKSANA Sriwidodo WS.Prof.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Tlp. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. Hendro Kusnoto. . Drg.D . juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. (021) 4208171. akan diberitahu secara tertulis. London: William and Wilkins. Dr. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Sjahbanar Zahir MSc. DR.kalbe.

2004 . Rizalina A Asnir. Faculty of Medicine. Lia Amalia Dept of Child Health. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. There is still no accurate and successful management method for this problem . Jakarta. Conventional treatment is still not satisfactory. particularly at the anterior commissure. chronic cough. and retinoic acid are still debatable. referred to dizziness or a sense of imbalance. of Acupuncture Dr. The role of medications such as alphainterferon. ribavirin. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. Cermin Dunia Kedokt. recurrent respiratory infections also may occur. Yvonne Siboe Dept. treated with acupuncture and showed good improvement. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. North Sumatera and Bali. of ENT. 144. can be due to vestibular system disorder. Medan. in Indonesia it is found in North Sulawesi. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. Firmansyah Dept. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. Cermin Dunia Kedokt.lys bso. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. The mainstay of treatment is surgical ablation. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family.raa. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. acyclovir. University of Indonesia. North Sumatra. L. 47-51 ppi. 13-15 dmr.2004. Adam Malik General Hospital. Cermin Dunia Kedokt.2004. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. Cipto Mangunkusumo General Hospital. 144.fih Vertigo is a common complaint. Jakarta. paroxysms of chocking. 144. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno.2004: 144.

Adam Malik. Kata kunci : rinitis atrofi.14. rinitis fetida. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.11. vitamin A1.5.2. maka pengobatannya belum ada yang baku.12.7.16. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.12. 144.1-5. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas.7.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.11 3) Sinusitis kronik1. Kokobasilus.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.7.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.20 Tetapi dari segi umur.11-14 dan di negara sedang berkembang. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.7.10.7. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta.12. sehingga pengobatannya belum ada yang baku.17 Cermin Dunia Kedokteran No. Diphteroid bacilli.7.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.10. umur berkisar dari 10-37 tahun.7. Bacillus mucosus.11-15 SINONIM : Ozaena.11.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.5. Kuman lain adalah Stafilokokus. 7.12.7.11-14 dan di negara sedang berkembang.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.1-5.11-15 terutama pada usia pubertas.7. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H. dilakukan operasi .9.1-11 Secara klinis.11. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita. sosial ekonomi rendah. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.12.2. 2004 5 . rinitis krustosa.9.1.1-5.12.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.7.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.2.1-4.1-5.5.1-5. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.4.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.9.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.11-15 terutama pada usia pubertas.7. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.11.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4. 4 wanita dan 2 pria.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.

5. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia.1.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc.1.7.4.11 Dapat berupa: perforasi septum. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. miasis hidung. sinusitis.19 dan fibrosis dari tunika propria. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas.12. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. adanya krusta (kerak) berwarna hijau. pemeriksaan Fe serum.10. terlihat rongga hidung sangat lapang. Campuran : Na bikarbonat 28.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. Selain faktor-faktor di atas. rontgen foto sinus paranasal. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.17 10) Herediter5. Mantoux test. faringitis.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. atrofi konka.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4.21 KOMPLIKASI4. b.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal.8.10 dan rinitis atrofi sekunder.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.9.16 12) Golongan darah. warna makin pudar. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun.4. mukosa hidung tipis dan kering. hidung pelana.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. krusta sedikit. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. terdapat anosmia yang jelas.13 . jika krusta diangkat. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. c. pemeriksaan darah rutin. keluhan anosmia belum jelas.1-5. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. midline granuloma. 144.5. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. rongga hidung tampak lebar sekali. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika.15. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3.3. lepra. dapat ditemukan krusta di nasofaring.3. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa.2.16. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5. rinoskleroma dan tbc.4 g NaCl 56.3 2) Obat cuci hidung. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. sakit kepala.oleh karena itu secara patologi. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. krusta banyak. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik.12. mukosa makin kering. Larutan garam dapur d.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. ingus kental berwarna hijau.3.4. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis.3. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c. Antara lain : a. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat. kadang-kadang kuning atau hitam. sekret purulen dan berwarna hijau. rinitis kronik lepra. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.1.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.9.4. 2004 .4 g Na diborat 28. gangguan penciuman (anosmi). epistaksis dan hidung terasa kering.10.11. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. dilakukan dua kali sehari.

5. Colman BH. 576-80. Groves J. 19. 20. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. Edisi 13. 4. Kepala dan Leher. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. Surgery of the Upper Respiratory System. tulang. Gamea AM. New York : Georg Thieme Publishers. 1994. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. Tenggorok . 10-5. 229. 549-55. Hidung . Textbook of Ear. 4) Vitamin A 3 x 10. 6th ed. 381-2. 1992. Dalam : Boies (ed). 12 : 325-33. Soetjipto D.Atrophic Rhinitis-Pathology. 492.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. Wood DG. Indication. 1996. setelah krusta diangkat. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. Ujung Pandang: 1986. 1993. Samiadi D. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. campuran Triosite dan Fibrin Glue. 1997. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 1994. Becker W. 2nd ed.3) Obat tetes hidung .4. 193-411. Disease of the Nose. Montgomery WW. 112 : 543-6.Nose & Throat Diseases and Head . 1996. 8. Jakarta : FKUI. 1997. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. maka pengobatannya belum ada yang baku. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. Mangunkusumo E.Neck Surgery. Sherief SG. 4/8/26-7. Baser B. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. oestradiol dalam minyak Arachis 10. J Laryngol Otol 1990 . Ear. Infective Rhinitis and Sinusitis. Sreeramamoorthy B. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 16. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. Hiranandani NL.Chen C. Kader MA. 4th Bristol:Wright. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. 3. Edisi ke 3. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Elhamd KA.J Laryngol Otol 1992 . Sayed RH. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. Jiang R. 6. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung.Hidung. 144. 1980.000 U / ml. KEPUSTAKAAN 1. 349-51. 40-1. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. C. 1996. diobati sampai tuntas1-5. Pitfalls. Etiology and Management. Ramalingam KK.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Sutomo. Mewengkang N. Jakarta : FKUI. 104 : 404-7. Maqbool M. 221-2. 264-7. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. 1997. 91-3. 218-21. Massegur H. Hartley C. 114 : 254-9. Nose and Throat Diseases. bahan sintetis seperti Teflon. Jilid 1.Gray RF. Hagrass. 173-82. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari.5.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. New York : Georg Thieme Verlag. 17. Kumar S. 1992. Throat and Ear. Pfaltz CR. Samsudin. Maran AGD. Doyen A. 1-4.Hsu C. 13. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. 1986. Bertrand B.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. A Pocket Reference. 9. A Short Practice of Otolaryngology. 218-9.106: 702-3. 14th ed Singapore : ELBS. J Laryngol Otol 1998. Calcutta : The New Book Stall. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Elloy P. Lobo CJ. 10. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati.1. Oleh karena etiologinya belum pasti. dermofit. Singapore : PG Publishing. Laryngoscope 1996. Oxford : Butterworth . 22. Cermin Dunia Kedokteran No. Penyakit Telinga . Ballenger JJ. 106 : 652-7. 14. Mangunkusumo E. natrium bikarbonat. 1987. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. 7. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. Madras : All India Publisher. Sydney. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. 26-7.11-14 Sinha. 2. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. Naumann HH. Fundamental of Ear.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. 1993. 12. Farrington WT. 499. Disease of the Nose. Buku Ajar Penyakit THT. Weir N. Ujung Pandang. Head and Neck Surgery. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Throat and Ear and Head and Neck. Alih Bahasa : Wijaya. Am J Rhinol 1998 . Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap.A Synopsis of Otolaryngology. 202-5. 23. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan.Heinemann. Grewal DS. 11. Vol. 1985. 21. Jakarta: EGC. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali.Edisi 6. 113-4.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Rinitis Atrofi. 1403-6. THT FKUI. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. 2004 7 . kemudian dipindahkan ke lubang hidung. Technique. Hilger PA. 15. 90-2. J Laryngol Otol 2000. Nose and Throat Diseases. Naumann HH.10-14. 18.

diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Kata kunci : papiloma laring. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. higiene yang buruk.2. anak. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. infeksi saluran nafas kronik. 144. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. berwarna kemerahan.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. dan pertumbuhannya eksofilik. walaupun tidak ganas. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. hidung. kelainan imunologis. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. rapuh. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. trakea dan paru. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu.4. pemeriksaan fisis. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. tetapi lokasi tersering adalah laring. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 . Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. Cipto Mangunkusumo. mudah berdarah. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak.

80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. Obat yang digunakan antara lain antivirus. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. Jackson I ditandai dengan sesak. tetapi tidak untuk lesi parenkim.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru.3. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi.8. nodul pita suara atau kista laring kongenital. rapuh. mikrokauter. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. paralisis pita suara. carbondioxide laser surgery. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. seperti kembang kol. infeksi saluran napas kronik. laringomalasea. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. b. sesak. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. stridor inspirasi ringan. dan stridor inspirasi. epigastrium. 2004 9 . pemeriksaan fisis. Basheda dkk. steroid. serta pertumbuhannya eksofilik. Cermin Dunia Kedokteran No. dan terkadang gagal napas. dan mudah berdarah.17.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas.18 d.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. retraksi suprasternal.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. dan podofilin topikal. tanpa sianosis. laringofissure.. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. kriosurgeri. hormon (dietilstilbestrol). Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. tetapi ada faktor lain yang berperan.5-18 tahun. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. sianosis ringan. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. mikrolaringoskopi dengan diatermi. dan kelainan imunologis. mikrolaringoskopi langsung. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. 144. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. dan pasien tampak mulai gelisah.7. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. dan sianosis lebih jelas. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. kemerahan.18-20 c. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). asma bronkial. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk.

Kashima H. 107:915-47. Bashida SG. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. 17. 100:1458-64. 102:580-3. Kohlmoos HW. 101:1162-6. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Pediatric respiratory papillomatosis. 2004 . Mehta AC. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Papilloma of the larynx in children. 107:327-32 Green GE. Skripsi. 4. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. 6. 20. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. ekstirpasi yang tidak sempurna. de Boer G. Harley C. Steinberg BM. Haglund S. 13. et al. 308:1261-4. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. 97:678-85. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Arch Otolaryngol 1995. 33:1-12. Laryngoscope 1991. 16. Steinberg BM. Pou AM. 144. 19. Arch Otolaryngol 1995. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Recurrent respiratory papillomatosis. 14. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Rimell EM.249-60. Hidvigi J. 3. Losin. tetapi dapat meluas ke trakea. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Winkler B. 122:942-4. 18. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. h. 108:226-9. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Leventhal B. 2. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. 12.h. THT FKUI. Abramson AL. Ossof RH. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. bronkus. Topp WC. Birzgalis AR. Schneider PS.13 Meskipun jarang. 102:300-10. Derkay CS. Pignatari SSN. 119:554-7. Shikowitz MJ. Chest 1991. Mulloly VM. Current Diagnosis and Treatment. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Otolaryngol Clin N Am 2000. The Manchester experience 1974-1992. Laryngoscope 1997. Mounts P. 33:187-207. KEPUSTAKAAN 1. Darrow DH. A preliminary study. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. 115:322-5. 15. diduga akibat tindakan trakeostomi. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. Bristol General Hospital. 7. Myers EN. dan paru.669-75. N Engl J Med 1983. Lundwuist P. Fairman DH. 11:242-52. 98:1324-9. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. 1982. Gray SD. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. White A. Otolaryngol Clin N Am 2000. Fagan JJ. Haliwell M. Dere H. Laryngoscope 1987. Steinberg BM. Laryngoscope 1992. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Werkheven JA. 9. Yasin AR. Shoemaker DL. Erisen L. Laryngoscope 1998. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Prognostic role of viral typing and cofactors. Orlowski JP. Elo J.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. 5. Abramson AL. Laryngol and Otol 1994. 1977. Arch Otolaryngol 1981. Bauman NM. Agung IB. 10. Hamilton. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. Cantell K. Derkay CS. 121:1386-91. Smith RJH. Bajtai A. 8.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Smith EM. Task force on recurrent respiratory papillomas. 11. .

sehingga terbentuklah kista. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.5%. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.11 Lokasi yang sering adalah1.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86.10. jika sering terjadi peradangan.1.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher. 2004 11 . 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista. rata-rata pada usia 5.5 : .6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.9.5.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.10. 144. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.5.13.9.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34. maka epitel duktus juga ikut meradang. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.1.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.9% .4.3.5 tahun. merupakan 40% dari tumor primer di leher.4%. bagian tengah korpus hiod.4. dekade ke tiga 13. sehingga mengalami degenerasi kistik.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.000 pasien anak.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.suprahioid : 24.4-10. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920.intra lingual : 2.4.10. pada dekade ke dua 20.tirohioid : 60.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.1.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%. umur sampai 5 tahun terdapat 38%. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.3.4.1% .1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher.suprasternal : 12. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus. Adam Malik.1% .6%.

Vol. 755. 9. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher.submental : 2 . Karmody CS. 295-6. Ransom ER. Ellis PDM.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. 120 (5): 757-9. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. 12. Edisi 13.2. J. Massa Jinak Leher. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. 2000. Jilid 1.7. dapat di atas atau di bawah tulang hioid.1985. 1994. Philadelphia : WB Saunders Co. 144. antara lain insisi dan drainase.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. Ujung Pandang. 88. 8. 14.5. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. Otolaryngol. 381-2. THT FKUI. 6th ed.Otolaryngology. 2004 . DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Untuk fistula. Oxford: Butterworth – Heinemann. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Foramen sekum dijahit. Aberrant thyroglossal cyst. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Thawley S. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Montgomery WW. 1997. 1. Panje WR (eds. Thyroglossal duct remnants. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Walsh N. 5. Waddell A. Otol. 1996. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Jakarta : EGC. 6. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. Kejadian fistel ini antara 15-34%. 6th ed. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Jakarta : Bina Rupa Aksara.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. 1987.6.infrahioid : 43 . Bila ada fistula.). aspirasi perkutan. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.). Surgery of the Upper Respiratory System. eksisi sederhana. Ballenger JJ. Singapore : ELBS. Sobol M. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. 108 : 1105-7. Oxford : Butterworth . diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. 122: 1094-6.transhioid : 2 . kadangkadang lebih besar. Kohut RI et al. Throat and Ear and Head and Neck. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. II. Maran AGD. 7. 1994. 1996.11 Diagnosis Banding 1. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 1990. Bluestone CD. Developmental Anomalies of the Neck. Benign Tumors. otot lidah yang longgar dijahit. 183. 2nd ed. Philadelphia : Lea & Febiger. 3. 1986. O’Hanlon DM. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. 5/16/14. posisi terlentang. 6/30/8-12. Head and Neck Surg. Kepala dan Leher. 10. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. 2nd ed. Damijanti T. yaitu kista beserta duktusnya.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Laryngol. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. 4. KEPUSTAKAAN 1. Dalam Boies. korpus hioid. Benign diseases of the neck. Buku Ajar Penyakit THT. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. 114: 128-9. Philadelphia : WB Saunders Co. Johnson JT. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum.9 Bila terinfeksi. 2. kepala dan leher hiperekstensi. mudah digerakkan. Corry J et al. 1989.1. Laryngol. Penyakit Telinga.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. Bailey JB. Branchial cleft anomalies. Dalam : Head and Neck Surgery . Scheetz MD (eds. benjolan akan terasa nyeri. Disease of Nose. thyroglossal cysts and fistulae. Urben SL. J. Leichtman LG. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik.5. Colman BH. 1997.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. 19. Simko MEJ. dibuat irisan memanjang di garis media. Vol.suprahioid : 18 . PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. 14th ed. berbatas tegas. Dalam: Pediatric Otolaryngology. 11. Kista dermoid 3.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Suparjadi S. 1983 . Philadelphia : JB Lippincott Co. Hidung. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. 1987. 1313-14. bulat. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst.Heinemann. 4. Congenital Neck Masses and Cysts. 760-7. Lingual tiroid 2. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Edisi 6. 1362-69.. Greinwald JH. Cohen JI. Stool SE. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. Otol. Pincu RL. 2. 13. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. Samsudin. Saleh H. Robertson N et al. Tenggorok. Vol.6. A Handbook for Students and Practitioners. sampai tulang hioid. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. 415-21. Konsistensi massa teraba kistik. Alih Bahasa : Wijaya C. tidak nyeri. Kista brankial Lipoma1.

1. Rusia. Rizalina A Asnir.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga. 144. Eropa dan Afrika. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang. Mesir. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. Sumatera Utara dan Bali.2. Adam Malik. Nigeria. Ukraina. Cekoslovakia.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia.5. tetapi sering pada dewasa muda.2-4.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870).8. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. India. Salvador.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas. radiasi dan pembedahan. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara.1.1. tapi endemik di beberapa negara di Asia. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Kolumbia. Rumania.7.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan.1. trakea dan bronkus. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Guatemala.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.2. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.9.8.1. Sumatera Utara dan Bali.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.9.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir.2 Belinoff melaporkan 94. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek.11.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).8 Pengobatan meliputi medikamentosa.8. Sumatera Utara dan Bali. orofaring. Philipina dan Indonesia.6. 2004 13 . Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani.2.1-7 Di Indonesia. Uganda. Amerika. subglotis.

8. tetapi hasilnya belum memuaskan.3.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa.12 1.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. Jamur : Histoplasmosis. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). sering seperti rinitis biasa.8-11. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz. Russel body. mudah berdarah.1. Pada stadium II. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi.810. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. dapat terjadi gangguan penciuman. sakit kepala.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan.6.Streptomisin : 0. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Kemudian terjadi invasi. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. Blastomikosis. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya. limfosit dan histiosit. permukaan licin tanpa ulkus.patologis yang khas. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan. Dari pemeriksaan. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. Sarkoidosis 3. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod.7. histopatologi.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No.14. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. laring.13. hiperplasi pseudo epiteliomatosa.15 1.14: . Stenosis. . Dimulai dengan cairan hidung encer. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali. Pada stadium I.Stadium III (Skleromatous. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa.10 2.7. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk.2. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. 144. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif.Rifampisin 450 mg/ hari . sumbatan hidung yang berkepanjangan.Stadium I (Kataralis.9. 2004 . berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas.11.1.6.710.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. bakteriologi. radiasi dan tindakan bedah. Bakteri : Tuberkulosis. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. Lepra b. Atrofi.8 1. kemerahan. Sporotrikosis. trakea dan bronkus. Koksidioidomikosis c. . tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak.2. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area. kemerahan. Klofazimin1.15 Diagnosis Banding2. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . Infiltratif. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. konsistensi padat.5-1 g/ hari . Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. Siprofloksasin. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. test aglutinasi) dan imunokimia. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis.Khloramphenikol. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk. serologi (test komplemen fiksasi. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2. faring. Sifilis. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. 3. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan.8. perluasan dan lamanya penyakit. 2.2. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. Proses infeksi granulomatosa a.Stadium II (Granulomatous.

4.Sinus paranasal . komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Ed VI.32/micro/v17n04. Balenger JJ. http//www. faring dan telinga.com/diseases/rhinoscleroma. In Otolaryngology. 1993. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. Jakarta. Agustus. Benign Tumours and Granulomas in Nose. Sreemamoorthy B. http//www.7. h 368-70. 3. 11. 144. 14. Buku Ajar penyakit THT. 12.afip.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. 603-7. Department of pathology. 1997. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung.14. Montgomery WW. ed I India: All India Publishers. In A Short Practice of Otolaryngology. Ramalingam KK. Jakarta. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. 16.1. USA: WB Saunders Co.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Ear. Fried MP. p. Laring. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Vol 17.htm. Infective rhinitis and sinusitis.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . 1997. atelektasis paru. 5. Longman Singapore Publ. In Scott-Brown’s Otolaryngology.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . 10. Kariadi Semarang.atlases. Wiratno dkk. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. Maran AGD. Hilger PA. hidung. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. EGC. throat and ear and head and neck. h 128-34. kepala dan leher. No 4. Tjekeg M dkk.thedoctorsdoctor. Dalam Boies (ed). 1998. orofaring 2.162. Acute and chronic laryngeal infections.13. Ahmad M. 3. Vol IV.Palatum mole. p. Butterworth-Heinemann. p. Juli. ed 13. 1991.4. http//www. Ed II. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. 1851-52. p. USA: WB Saunders Co. hidung.103. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. 4. Oren I et al. Chitale A.9 4.1 KEPUSTAKAAN 1. Surabaya. Vol 1. h 457-66. 1994. Infectious disease of the paranasal sinuses. Medan. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. Infections of the nose. Groves C. Ed VI. asfiksia dan kematian. Ed III. 6. 1983. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. Desasouza S. In: Diseases of the nose. Penyakit hidung. Ed X. 2. Masna PW. htm Colman BH. January. h 224556. June 2000.10.1. nose and throat diseases. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. Throat and Ear. Pfaltz CR. Becker W. uvula. 1980. Rinoskleroma di RS. Wein N. 7. Sydney: March. 2089. Jilid I. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. 1991. p. PG Publishing. 1990. Granuloma kronis pada muka. 40. Scleroma. Cermin Dunia Kedokteran No. Dalam: Penyakit telinga. p. Chest. Ed III. Pranowo S.129. 2004 15 .muni. 1990. Yigla M. 3. Wilson WR. Vol III. Dr. 1993. Ben-izhak O. Binarupa Aksara.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm. Diseases of the nasal cavity. In: Otolaringology. 9. New York: Thieme medical publishers inc. Suardana W.Orbita : proptosis. ed IV.9. Vol III. 8. 61. Nauman HH. 206-7. Monduzzi.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. 13. Great Britain: 1997. tenggorok. h 210. Shapiro J. Organ sekitar hidung : . kebutaan . 15.

Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). di samping Mediteranian.000. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. 144. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. kanker payudara dan kanker kulit. yakni 4. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF.000 penduduk per tahun. diasin). sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini.000 penduduk. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. bangsa Korea. Antara lain disebutkan faktor makanan. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. . KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. seperti perokok berat. pola hidup. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut.000 penduduk1. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini.7 kasus baru per tahun per 100. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. Sebaliknya. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. kulit hitam dan Hispanics. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Cipto Mangunkusumo.

Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. USG hati. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. telur asin. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. terlebih pada stadium dini. Pada 1966. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. Sedangkan pemeriksaan lain. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. disusul oleh keturunan Melayu (6. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish).000). Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No.5 per 100. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. 144. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya.5 per 100. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Untuk menegakkan diagnosis.5 per 100. debu kayu serta asap kayu bakar. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata.000 penduduk). 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. 2004 17 . Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Selain gangguan motorik. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). capsid antigen dan early antigen. seperti foto paru. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi.

ed. Pisani P. 1997. Whelan SL. Publ. Lyon. Azis MF. Ferlay J. France : IARC Scient. Cancer Res. bahkan setelah selesai terapi. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. and risk of nasopharyngeal carcinoma. N. Epstein Barr virus. 3. Pengobatan radiasi. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. No. Cipto Mangunkusumo General Hospital. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). 80: 827–41. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Soetjipto D. 1990. bawah serta klavikula. Cancer in Asia and Pacfic. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Jakarta Indonesia 1988. terutama pada kasus dini. Int J Cancer. Parkin DM. Susworo. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 1996. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. 5. Yu MC. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. 4. 471–86. 1992. 2nd. Ferlay J. 7. p. York: Oxford University Press. (Lihat lampiran/ halaman 19). Cancer epidemiology and prevention. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. 143. YKI. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. Fachrudin D. karies gigi akan lebih mudah terjadi. 52: 3048 –51. 10: 15-24. Yusuf A. Metode brakhiterapi. 1981.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Herbal medicine use. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Parkin DM. 144. 2. Ho JHC. p. Yu MC. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. In : Tjokronagoro A. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. 6. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. KEPUSTAKAAN 1. Young J. Cancer Incidence in Five Continents. Henderson BE. Nasopharyngeal cancer. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. Raymond L. Hildesheim A et al. Vol. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. 2004 . Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. (Eds). Ross RK. IARC Press. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Himawan S. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Syafril A. Djakaria M. Henderson BE. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. 603 –18.

Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. 144.LAMPIRAN : Gambar 1. Cermin Dunia Kedokteran No. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. 2004 19 .

Streptococcus sp.5 % dan dewasa 23. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. yakni sebesar 68. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). 2004 napasan atas maupun bagian bawah. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. B.2%. Streptococcus βhemolyticus 6. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999.3 %. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. 53. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. usia 5-15 tahun 29. Betalaktam. Branhamella catarrhalis 22. Departemen Kesehatan RI. Streptococcus pneumoniae 3.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati.8 %. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. termasuk Indonesia. Branhamella catarrhalis. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). Metoda penelitian cross-sectional.82%. Streptococcus β-hemolyticus. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47.5%. 87.9 %.11%. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. 40% dan 80%. serta lebih dari 50% penyebabnya .04%. 144.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%.1 %.52%. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam.

9) 8 (6. Staphylococcus.76) 1 (0. 7. 11.71 %. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun.53) 2 (1. sifat hemolisis agar darah.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. kecuali terhadap Cefradin. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent.2 %. 2004 21 . Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton.53) 1 (0. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. Proteus. Tabel 1. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam.adalah virus(1). Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. hiperemis. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. dan memerlukan terapi antimikroba. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. batuk. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. Streptococcus non-haemolyticus (3. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus.11) 5 (3. kadang-kadang disertai folikel bereksudat.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. 6. berturut-turut 9. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2).76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). Streptococcus pneumoniae (3. Pseudomonas.05%). yakni dengan mengukur zona hambatan. Escherichia. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. 2. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S.9%). dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4.82) 4 (3. Branhamella catarrhalis (22. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. 4. dan uji-uji khusus lainnya.2%). Cermin Dunia Kedokteran No. 12.76) 1 (0. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. (Tabel 1). termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. Streptococcus β-haemolyticus (6. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA.93% dan 5. dan kotrimoksazol(4). makrolida. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. dan Haemophillus(2).46 %. 144. Antimikroba golongan betalaktam. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. 9. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).35%. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.2) 30 (22. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100.4 % . Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. yakni sebesar 68. 3. 10. sakit menelan. 1. 8. viridans sebanyak 54. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C.05) 2 (1. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit. Klebsiella.04%. Untuk kuman S.82) 5 (3. B hemolyticus diperoleh 6. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita.11%). berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. 5.82%). Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. fermentasi karbohidrat. Branhamella.53) 2 (1. terhadap antimikroba golongan betalaktam.

2. Cefep = Cefepime. Streptococcus pneumoniae 3.41 4. MKI 4 (2/3): 56-60.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2.2 % dan 66. catarrhalis S.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. 7. . Streptococcus β-hemolyticus 6. MKI 1996. Departemen Kesehatan R I.0 20. Trihendrokesowo dkk. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68.33 53.2 22. 2.52 2. 46(9): 467-76.48%. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3.viridans dan S.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. Fachrudin D. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan.7 %. 5. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya.53 0. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies.82 3. pneumoniae S.93 6.turut adalah Golongan B Laktam.5%.05 2. .76 0. P. 60% dan 20%. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin.67%.9 %.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G. penisilin spektrum sedang dan sempit 13.7 % dan 96.87 5. Josodiwondo S. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. Dirjen Binkesmas. Cefrad = Cefradin. Abdoerachman H. Sulb = Sulbenislin. viridans B. makrolid 15 %. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . KEPUSTAKAAN 1.23 4. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. 6.11 3. Yeast (ragi) S. .viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .33 3. pneumoniae Acinobacter spp. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif.11%.82 3. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53.04 %.9 6.82 30. Amx = Amoksisilin.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.53 1.57 5. Branhamella catarrhalis 22. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. 5. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. epidermidis PeG 2. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala. Ceftri = Ceftriakson.82%. Tabel 3. 9. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.76 0. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46.0 %.04 9. Resistensi kuman S. 12.23 0 3. 1996. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0.29 1.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. Dwiprahasta I. aureus Alkaligenes spp.33 0 0 0 0 20. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia.0 80. yakni sebesar 68.5 40. MKI 1987.05 )(10). 144. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.82 %. 26. 4.Tabel 2. aureus 0 %.53 1. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson.2 %. Cefota = Cefotaksim. Makrolid dan Fluorokuinolon.04%. 4. 3.12). 2 (1): 6-12.. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. amoksisilin dan ampisilin(2). Cefoti = Cefotiam. sefalosporin 7. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S.05 1. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. Cefpi = Cefpirome. 1. aeruginosa S. β-haemolyticus S. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54.52 87.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No.35 3. 3. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners.7 %. 8. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. non-haemolyticus K. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin.2%.

roga@biotech.com Web-site : www.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. 6685006 Fax : 021-4535833. Slombe B. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt.php Hotel Bumi Minang.internafkunand. rs. : 0274-37430 Website: http://telmed. Idajadi A.3907703. Surakarta. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro. Bandung Telp.com Hotel Sahid Jaya. Laporan penelitian 1998. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy.org website : www. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. Telp.id Bali International Convention Center Telp. Meeting on Respiratory Care Ind. Fax : (021)-3913982 Website : www.id Jakarta. : 022-2039086 / 2035042.obgyn-bandung. Fax : 021-3914830 Website : www.com Website : www.net Hotel Planet Holiday. Sirot S.pluit@rad. : 021-31934636. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. : 0778-7024522.interna. 1242.id Jakarta Convention Centre Telp.respina. Herman MJ. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut.net. Bandung Telp. Saulnier P. : 021-5684085 ext.or.or. Beta Lactamase. Padang Telp. : 021-3919653.co. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. : (021)-3148610. 10. Gedung AR Fachruddin.id Hotel Horison.id Website : www.com/index.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . Hartono TE.1988. 1988. Faks. : 0274-587555.or. 9. Tangerang Telp.or. (eds).idki. : 021-3928658. Med Progr January 2003.itb.id Bali. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. Wibisono MY. Rai IB. J Internat Med Res 1986.idai. Batam Telp. 144. 6685070. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. In : Rolinson GN.net. Tarigan HMM.id Hotel Sahid Jaya. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.com.: 021-79184052 Website: http://www. : 0751-37771. Antibiotik Beta Laktam.net. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. Jakarta Telp. Telp. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. 12. : 022-2534115. Occurrence and Classsification.org KPP Bioteknologi ITB. Jakarta Telp. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. : 021-4532202. Yogyakarta Telp. Surakarta . 14:193-9. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.id Hotel Planet Holiday.id Hotel Grand Hyatt. Sugito. Jakarta.pluit-hospital. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung.kalbe. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI . Suprihati. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola.ac. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Sirot J. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika.com. Batam Telp. 7. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. 11. 6-17. Watson A. Jones A. 8. Bali Telp. 2004 23 . 1994. 5. Nukman R.co. : 021-330956. Kariadi Semarang.fkumy. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.6. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. : 0274-37430.or.id Karawaci. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. : 021-4786 4646. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai.

Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. dan lain sebagainya. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. biasanya di atas 120 dB. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. alat-alat transportasi berat. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). dan dalam. Anatomi Telinga Secara anatomi. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. Untuk itu. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. Secara definisi. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. tengah. Di telinga tengah ini. sangat luas. 144. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. cara yang digunakan untuk . Misalnya. penurunan kemampuan kerja. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. Hal ini perlu diketahui. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini.

Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. 144. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. yaitu trauma akustik. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. dengan kata lain. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Makin tinggi tekanan udara. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. di udara terbuka. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. 2004 25 . Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. atau kerusakan langsung organ Corti. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). dsb). makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. dan durasi. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. pengeras suara. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. kerusakan tulang-tulang pendengaran. pendengaran orang tersebut berkurang. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. 3). GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. Untuk menghindari kelelahan auditorik. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. 2). dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. dsb). amplitudo. Pada trauma akustik. nilai ambang di atasnya.

Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi.setelah pajanan suara. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. 4000. dan sebagainya. getaran. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). Bila sudah terjadi kerusakan. hari ataupun lebih lama. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. spektrum suara. durasi total pajanan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. dan sebagainya. spektrum bising. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. 3000. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. Pada skala frekuensi. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. Weber. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. Pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. meningkatnya tekanan darah. . Namun perlu diingat. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. durasi pajanan. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). 144. status kesehatan. dilakukan pemeriksaan audiometri. dan sering timbul tinitus. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. dan pola pajanan temporal. frekuensi yang diuji. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. Secara sederhana. alat transmisi ke telinga. Untuk menilai ambang pendengaran. 1000. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. serta faktor-faktor lain seperti usia. trauma telinga karena agen fisik lainnya. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. berbicara dengan suara menggumam. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. disritmia jantung. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. dan 6000 Hz. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. seperti faktor fisika lain berupa panas. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. hidung. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. dan sebagainya. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. 2000. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. jenis kelamin. pengukuran impedance. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. Dari data observasi di lingkungan industri. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. refleks pernapasan berupa takipneu. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. tes rekruitmen. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. Pemeriksaan telinga. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising.

Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. riwayat penyakit dahulu. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. Penggunaan alat pelindung telinga. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Selain itu. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. Suara yang asing.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. Jika dipergunakan alat bantu dengar. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. tinggi rendah dan irama percakapan. keluhan utama. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. tanggal bekerja dan umur saat itu. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. riwayat keluarga. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. kondisi medis. interupsi suara berulang. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. riwayat pekerjaan. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. barang atau jasa yang dihasilkan. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. durasi masing-masing pekerjaan. riwayat pelatihan militer. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. terutama pada lingkungan industri.

In .uk/ environment/noise/health/page05. Jakarta : 2001 Department for Environment. New York : 1979. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. 4. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Occupational Medicine. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi 5. 2nd ed. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). 144. 2004. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Iskandar N. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti.gov. Noise.defra. http://www. dan Hearing Conservation. Dickerson OB. Nilland J. Horvarth EP. Zenz C. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. cermat. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Mosby. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. February 6th. St. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. 3. Food and Rural Affair. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. 2. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. KEPUSTAKAAN 1. Harris CM (ed). Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. 2004 . Louis : 1994 Soepardi ES. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. Occupational Hearing Loss. 3rd ed. Handbook of Noise Control.htm.penggunaan alat pelindung diri. 2. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. (chief ed). In : Zenz C. McGraw-Hill Book Comp.

96 dB). Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. suara katup mesin gas. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . 1000 atau 4000 Hz). 2004 29 . Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja.105 dB (Sundari. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja.16 %. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. Di Indonesia. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Menurut WHO (1995). Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. gangguan pendengaran saja 17.1 – 108. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. suara dapur pijar.1997). Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. meriam dll. tembakan. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. melainkan ada periode relatif tenang. mudah emosi. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. dsb. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. Di perusahaan plywood di Tangerang.43%. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Di Quebec-Canada. 144. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya.5 detik berturut-turut. kipas angin. kebisingan di lapangan terbang dll 4. suara katup gas.2 dB (Lusianawaty).55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . 3. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. Cermin Dunia Kedokteran No. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. 2.81% dengan paparan kebisingan 86. rerata akselerasi getar 4.71%.14% dan gangguan keseimbangan saja 27. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. misalnya suara gergaji sirkuler. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. gergaji sirkuler. prevalensi NIHL 31.2m/dt2.

yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual.5 0. gangguan komunikasi dan ketulian. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. keselamatan tenaga kerja. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Tabel 1. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.patologis . Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. kurang konsentrasi. susah tidur. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. c. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan.waktu pemulihan bervariasi . 144. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. daya dengarnya akan pulih sempurna. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. kelelahan. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. 1. 4. 3. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan.non-patologis . Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. b. dan lain-lain. d. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. 2004 . sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. seperti letusan. 5. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. 2. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. bising bernada tinggi sangat mengganggu. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. ledakan dan Di Indonesia. Gangguan fisiologis Pada umumnya. cepat marah. gangguan psikologis. peningkatan nadi. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. seperti gangguan fisiologis. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. stres. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi.25 atau kurang 5. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu.bersifat sementara .Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Ketulian bersifat progresif.

Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c.lainnya. Kontrol engineering dan administrasi 3. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. 7. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. Problem komunikasi di tempat kerja b. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. 3. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. misalnya : a. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. Cermin Dunia Kedokteran No. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). kesejahteraan bukan santunan. menunjukkan itikad baik. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. Berupa policy statement 3. dan lain-lain). 6. Dukungan manajemen 2. 1994). Dilaksanakan oleh semua jajaran. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. Problem mencari arah/asal suara d. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. 2. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. ruang isolasi. tinitus. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. bersifat menetap (irreversible). 6. 5. 1996): 1. antara lain: 1. 5. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. 4. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. proaktif bukan reaktif. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. Monitoring paparan bising 2. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. Problem dalam mendengarkan musik c. 2. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. Bagi pengusaha Taat hukum. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. Tuli ini biasanya bersifat akut. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. menutup sumber kebisingan dengan barrier. 5. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. Economic self-sufficiency handicap e. 144. langit-langit dan lantai. 1. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. namun merupakan pedoman. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. rotasi kerja. hubungan baik dengan karyawan. Integrated dengan program K3 4. jadwal kerja . Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. mengurangi angka kecelakaan. cepat sembuh secara parsial atau komplit. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Bagi karyawan Mencegah ketulian. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). 3. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. c. Serta bisa mengurangi stres. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. mengurangi angka kesakitan. 2004 31 . meningkatkan produktivitas. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. b.

konsul THT Lakukan revisi baseline. Base line atau data dasar : . Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. mengencangkan bagian mesin yang longgar.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . b.I. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. bila bising > 85 dB 4. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik.periksa tempat kerja .engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. memberi pelumas secara teratur. 2. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . Annual monitoring 3.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . 2.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. pengukuran dengan peta. menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara.Bila perlu. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5.Bila belum menggunakan APD. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. konsulkan ke dokter THT . bila lebih dari 85 dB. ukur tempat dan ruang kerja. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . Penempatan ke tempat bising 3.periksa dokter . dan lain-lain. Mengatur jadual produksi 2. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. yang sering juga disebut survei bising. Exit Policy mengenai audiogram : 1. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). lakukan tahap selanjutnya c. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1.untuk baseline 14 jam bebas bising.komunikasikan dengan karyawan tersebut . 7. bila STS persisten atau membaik IV. 6. 4. 5. tenaga mesin. SOP pengukuran harus ada dan jelas. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. 2.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . Mengikuti peraturan III.jika karena penyakit. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. kecepatan putaran atau isolasi. 3. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. 2. Kecocokan. Evaluasi : . Rotasi tenaga kerja 3. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. ukur maximun dan minimumnya.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja.paling lama dalam waktu 2 minggu . . 144. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1.periksa data kalibrasi alat . Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. 3. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. 5. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. KONTROL . Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. bertujuan untuk : 1. 4. atau menggunakan APD 2. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. berdasarkan lokasi tempat kerja. Penjadualan pengoperasian mesin 4. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis).. beri petunjuk ulang . Pre-employment 2. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran.Bila sudah memakai. contohnya : 1. 2004 . catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Setiap tahun. diharuskan memakai .

Kemudahan pemakaian. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. 3. 2. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. 2.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. Penyuluhan khusus. Tidak saja untuk melindungi pekerja. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. custom-molded type c. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. Audit Eksternal. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. biaya. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. 3. formable type b. 4. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. VI. Nyaman dipakai. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. 2. Kontrol engineering dan administratif. PROGRAM AUDIT 1. kesertaan supervisor dalam program. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. V. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. Beberapa tipe sumbat telinga : a. perusahaan harus menyediakan APD ini. 144. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. misalnya pelatihan dan penyuluhan. 3. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. VII. 5. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. 2004 33 . Hasil pengukuran kebisingan. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. dengan sasaran : 1. 2. Cermin Dunia Kedokteran No. APD yang digunakan. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri.

net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No.fkumy.Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta. 10 Juli 2004 Website : http://telmed. 2004 . 144.

Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Cermin Dunia Kedokteran No.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. 2004 35 . Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. cara membersihkan kanul dalam. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. Berdasarkan permasalahan tersebut. 144. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. Bogor. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. mengurangi efektifitas refleks batuk. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. pemeriksaan periodik kanul dalam. Selanjutnya dikatakan. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. bukan dari saluran napas bagian atas. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. humidifikasi buatan. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. perawatan luka operasi di stoma. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. sering saling tertukar. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis.

Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. b). Sebelum mengangkat kanul. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). Pada waktu ekspirasi. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. penjepit. kasa perban. d). laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. saringan. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Beberapa jam pertama pasca bedah. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. sehingga perlu dilakukan pengisapan. menggunakan lap atau kasa perban. c). Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. mungkin akan bermasalah. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). Bila penderita bernafas spontan. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. c). sebagai berikut: 1). Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Jika udara rumah kering. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. 2004 . dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Cara membersihkan kanul dalam. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. b). kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. Bila didapatkan sekret yang kental. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. 2). Buatlah larutan sabun di dalam botol. Akan timbul gangguan saat menelan. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Condensor humidifier. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. siapkan alat-alat untuk resusitasi. Alat ini relatif lebih efisien. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Dengan adanya trakeostomi. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. 144. d). panci bergagang. Sebelum melakukan pengisapan. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. jangan diberi tekanan negatif. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. dan cairan penggosok perak.

Untuk mengangkat kanul trakeostomi. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. tuangkan air dari panci. 1). 4). 2). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. Setelah air mendidih.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. Tarik kanul dalam ke belakang. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. 144. Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. Gambar 1. kemudian bersihkan dan cuci. 3). rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. 7).2a). Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. didihkan kanul dalam selama 5 menit. 5). oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. 8). 6). Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. 3). kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. 2). dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. 2004 37 . Cermin Dunia Kedokteran No. 3). kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. 2b). ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. Biasanya. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. Setelah kanul dalam bersih. 4). 5). Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Gambar 2. dan tempatkan kembali saringan dalam panci. Jika kanul dari perak telah memudar. Angkat saringan dari panci bergagang.

tempatkan kasa di atas kanul. 3). Di samping itu. Jika mesin penghisap tidak didapat.4). Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. Lepaskan balon karet. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. 5). atau jika kanul teriritasi. 4). Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. 2004 . Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci.Cara melakukan : 1). untuk mengeluarkan udara di dalamnya. 2). Gambar 4. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. jika udara dalam rumah kering. 144. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Gb. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. 2). Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. 3). Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. Siapkan alat-alat. 4).

Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. 1). Me Dowall GD. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Me Klay K. KEPUSTAKAAN 1. 4). Maran AGD. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. menghisap discharge. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. 1978 . 2.. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. kasa 4 x 4 inci. merebus kanul dalam. Me Kailum JR. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. nose and throat diseases. Bireell JF. throat and ear. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. 6). panjangnya 6 inci. Cermin Dunia Kedokteran No. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Paparella MM. 1977 . cara membersihkan kanul trakea. Bristol : John Wright and Sons Ltd. 144. 5).dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. Jika kasa tidak terlipat. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. 3). 5th ed. 5th ed. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. 2). In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. In : Logan Turner's Diseases of the nose.5). mengganti kanul. Adams GL. 2004 39 . Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. 5). Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. 1567-73. Tracheostomy. Tracheostomy. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. 705-17. Gambar 6. A Textbook of ear. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. Boies LR. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. 6).

Complications and postoperative care after tracheostomy. London : Butterworths. Laryngo-tracheoplasty. 16. Basic sciences and related disciplines. (eds). Bandung. 1973 : 170-96. Vol. Ann Otol 1980. Philadelphia: WB Saunders. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). 1976 . Paparella MM. In: Ballantyne J. J Laryngol Otol 1981. 1. Davies J. 1973. 4th ed. respiratory apparatus. 6. Arch Otolaryng 1981 . Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea.. Batsakis JC. Co. 1971 : 31-61. vol I. 242-8. diaphragma and esophagus. Ann Otol 1980. Fundamental international techniques. 8. (ed). 19. Lulenski GC. Montgomery WW. Feldman SA. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Laryngoscope 1981. Silicone tracheal canula. The Otolaryngology board. Krikotirotomi. Basic sciences. An experimental study. JAMA 1981. Shapiro RS. 7. Evans JNG. Evans CC. 5. Nose and throat. Basic sciences and related disciplines. 688-708. London : Edward Arnold Ltd. 89 (suppl 73): 1-7. 89 : 521-8. Skripsi di Bagian THT/RSCM. Philadelphia : WB Saunders Co. 17. 144. Siregar Z. 15. 11. Fujita S. Toledo PS. 20. Olving JH. Arch Otolaryngol. Conway WA. 91: 355-61. 2nd ed. Embriology and anatomy of the larynx. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. Shumrick DA. nose and throat. 1973 . (eds). 1973. Inc. Natvig K. A preparation guide. Tood GB. Magilligon DJ. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. J Laryngol Otol 1974 . 12. Wright D. 2004 . 84 : 781-6. Crawley BE. 95: 61-8. An atlas of head and neck surgery. Otolaryngology. Martin WM. Steel PM. Shumrick (eds). Operative Surgery. 1955. Tracheostomy and laryngotomy. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. New York : Medical Examination Publ. 10. Lulenski GC. Lee KJ. 62 : 272-6.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. 87 : 99-108. 1979 . Zorick FJ. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. In: Paparella. Ann Otol 1975 . Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Montgomery WW. 88 : 589-97. Scott-Brown's diseases of the ear. In : Ballantyne. Philadelphia : WB Saunders Co. Putney FJ. Roth T. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. London : Butterworths. Vol II. 4. Vol I. 433-75. Grooves.3. 3rd ed. 107 : 114-6. 13. Lore JM. Otolaryngology. 14. 246 : 34750. Ann Otol 1978 . Galood HD. 2nd ed.obgyn-bandung. Victor LD. 18. 19 September 1981. 9.

karena berjalan dengan kedua tungkainya. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. tak stabil (giddiness. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb.1) . yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Bogor. 2004 41 .TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. rasa oleng. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. Gambar 1. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). 144. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.

gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. vestibulum dan proprioseptik. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. mual dan muntah. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. Skema Klasifikasi Vertigo 6. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. letak lesi dan penyebabnya. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. yang berkembang menjadi gejala mual. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. 5.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. serebelum) atau rasa melayang.(Gb. timbul reaksi dari susunan saraf otonom. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. belajar dan daya ingat. nistagmus. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. 2004 . Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. 3. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. 3). Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. 2. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. akibatnya akan timbul vertigo. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). Mabuk Udara 4. (Skema) Oleh karena itu. 144.

Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. penyakit paru juga perlu ditanyakan. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. tujuh keliling. kongestif. rasa naik perahu dan sebagainya. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. bising karotis. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. Uji Unterberger. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. Fungsi vestibuler/serebeler a. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. ketegangan. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. serebelum. kanamisin. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. Juga kemungkinan trauma akustik. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai.duduk dan berdiri. paroksimal. salisilat. progresif atau membaik. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. hipotensi. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). goyang. kronik. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. Gambar 4. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. hipertensi. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. c. berputar. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya.batang otak. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. kepala dan badan berputar ke arah lesi. 2004 43 .ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. gagal jantung b. penyakit jantung. hipotensi. baik kelainan sistemik. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. hipoglikemi. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. hipertensi. Cermin Dunia Kedokteran No. vestibularis. 7). hilang timbul. 144. anemi. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. keletihan. Uji Romberg (Gb. Dalam menghadapi kasus vertigo.

Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. a. Gambar 9. Uji Tunjuk Barany e. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. jika ada gangguan vestibuler unilateral. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa.1. 144. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. 2004 . Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. Uji Babinsky-Weil (Gb. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. 9) Perhatikan adanya nistagmus.

Pada tuli konduktif tes Rinne negatif.iv. (Tabel 3). Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. 144. a. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). kemudian duduk tegak kembali. b. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. Pencitraan: CT Scan. Magnetic Resonance Imaging (MRI). 2. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. Bekesy Audiometry. dengan tes-tes Rinne. 3. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. Arteriografi. sensorik wajah. Tone Decay. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. berupa gerakan mata melirik ke atas. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. leher. VIII. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Pemeriksaan Penunjang 1. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). dan Schwabach memendek. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin.iv. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. SISI. tahan selama 30 detik.5 mg 1 dd 0. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. gangguan cara berjalan). Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus.Elektromiografi (EMG).rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. parestesi) dan serebeler (tremor. okulomotor. iv im. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. Tabel 3. 4. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. kemudian duduk tegak kembali. 2004 45 . kampus visus. Foto Rontgen tengkorak. dan fungsi menelan. Antivert Phenergan. otot wajah. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. tahan selama 30 detik. pendengaran. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. c. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. Weber dan Schwabach. bawah.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. b. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Stenvers (pada neurinoma akustik). lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh.fungsi sensorik (hipestesi. 2.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. Sentral: tidak ada periode laten. Gambar 9. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik.

Vertigo.(eds. Di awal sakit. Andradi S. asam nalidiksat. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan.1999.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. tanpa tahun. tanpa tahun. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. Kelompok Studi Vertigo. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. 14 Desember 1991. Neurootologi klinis:Vertigo. Kusumastuti K. Aspek Neurologi dari Vertigo. Duphar. 2. Syeban ZS. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati.). Monograf. Diagnosis dan Terapi. bisa alat dan saraf vestibuler. diduga disebabkan oleh infeksi virus. KEPUSTAKAAN 1. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. Dalam: Joesoef AA. sedangkan kanamisin. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator.. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. hal. demikian juga gentamisin. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. Joesoef AA. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). Tinjauan umum mengenai vertigo. 2004 . Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. 144. diuretik loop. Patofisiologi. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. 7. Seri edukasi. Harahap TP. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Perdossi. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. 6. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. berhenti merokok.xiii-xxviii. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. terapi profilaktik juga belum memuaskan. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Monograf. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. antiinflamasi nonsteroid.vestibularis. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. 3. selain vertigo. Sedjawidada R. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. 4. tanpa tahun. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. membatasi asupan garam. metronidaziol dan minosiklin. 5. 2002. Obat penyekat alfa adrenergik. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. diuretik ringan bersama diet rendah garam. yang makin lama makin cepat.

L. Sindrom Lermoyes. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. Yang tanpa disertai keluhan telinga. Arakhnoiditis pontoserebelaris. peluh dingin. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Sindrom Cogan. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. kepala terasa enteng. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). 144. Migren ekuivalen. Epilepsi. pening. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). muntah) dan pusing (2). rasa melayang (1). kelainan gigi/ odontogen. Cipto Mangunkusumo. kemudian menghilang sempurna. otonomik (pucat. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. pusing. mumet. tumor fossa cranii posterior. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. mual. 3. dapat disertai gejala lain. . DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2).PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. berlangsung beberapa menit atau hari. Di antara serangan. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. tujuh keliling. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. 3. Vertigo paroksismal 2. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. penderita sama sekali bebas keluhan. 2. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. rasa mengambang. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi.Vertigo posisional paroksismal laten. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. sempoyongan. Labirin picu (trigger labyrinth).Vertigo posisional paroksismal benigna. 2004 47 . unstable). kemudian berangsur-angsur mengurang. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. termasuk di sini adalah : .

Pemeriksaan fisik umum. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Trauma kepala/ labirin. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. kelainan endokrin. sklerosis multipleks. di samping itu. herpes zoster otikus. Epilepsi. Inti Vestibularis: infeksi. perdarahan labirin. hematobulbi. sindrom sinus karotis. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis.Hipotensi ortostatik . Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. trombosis arteria serebeli posterior inferior.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. d. dan proprioseptik. sindrom hiperventilasi. kelainan kardiovaskuler. dan EKG. b. 3. lues. 2.ENG . otitis media purulenta akuta. d. Nervus VIII. serangan vaskular. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. fobia. kelainan okuler. Hipoksia – Iskemia otak. rudapaksa dengan perdarahan. perdarahan. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1.Pemeriksaan otologik . Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. : Hipertensi kronis. pelagra. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. stenosis dan insufisiensi aorta. : infeksi. Penyakit SSP : a. akan diproses lebih lanjut. Anamnesis. sklerosis multipleks. berangsurangsur mereda. lesi labirin akibat bahan ototoksik. ensefalitis. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. anemia. benda asing. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. sindrom pasca komosio. keadaan menstruasi-hamilmenopause. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . IV dan VI. e. susunan vestibuloretikularis. siringobulbi. 3. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. sklerosis multipel. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. arteriosklerosis. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. tumor medula adrenal. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. vertigo epidemika. vertigo postural. labirintitis. ETIOLOGI 1. f. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Migren. Tumor.VIII. 2. ensefalitis vestibularis. 3. hipoglikemi. Intoksikasi. Pemeriksaan khusus : . labirintitis kronis. 2. neurosa cemas. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. visual. tumor. TERAPI Terdiri dari : 1. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan.Vertigo servikalis. blok jantung. e. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. dibedakan menjadi : 1. neuritis n. 2. Telinga bagian luar : serumen.Radiologik dan Imaging . kolesteatoma. EMG. dibedakan menjadi: 1. ensefalitis pontis.Audiometri dan BAEP .Pemeriksaan mata . sinkop. 2. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. kelainan psikis. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. abses. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Kelainan endokrin: hipotiroid. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. trauma. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. meningitis Tb. Pemeriksaan fisik : . trauma. Terapi kausal . hipertensi kardiovaskular. alergi. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Infeksi : meningitis.EEG. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. III.serangan akut. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. b. 2004 4.Pemeriksaan neurologik . sindrom arteria vestibularis anterior. dan vestibulospinalis. fibrilasi atrium paroksismal. 144.Psikiatrik 4. labirintitis akuta. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. hipoparatiroid. hipoglikemi. tumor serebelopontin. intoksikasi obat. 5. c. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. mabuk gerakan. trauma.Laboratorium . Lues serebri. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. hipotensi ortostatik. hidrops labirin (morbus Meniere ). c. tumor. otitis media dengan efusi. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. 6. unsteadiness. Dalam kondisi fisiologis/normal.(2). Kelainan psikiatrik: depresi. Pemeriksaan tambahan : . DIAGNOSIS 1.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen.2 Di masa sekarang.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi.5. irrawadiensis.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5.Var. dengan harga obat-obatan yang mahal.49%. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. kanker. Departeman Kesahatan RI. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. 144.5. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. Juga karena bahannya mudah didapat.K. tanaman teh Camellia sinensis O. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. var. assamica. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis.7 2.3 Menurut Graham HN (1984). kariostatik serta hipokolesterolemik. assamica dan irrawadiensis. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. 2004 .3 Selain itu di negara-negara Barat.K. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. 52 Cermin Dunia Kedokteran No. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). yaitu sinensis. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia.

16. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. 30.7 Tabel 2. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum.42 20.70 5.477 µmol/l (kisaran 4.275-12. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang.20 8. 2.50 0.68 12. 20. 2.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. 10.09 0.09 4. 27.93. 1. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan).4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.50 0.84 4. 23.15 0. Setelah 4 jam berpuasa. 12.21 3.56 0. 5.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. 3.17 1. Komposisi teh hijau(3) No.03 0. biasanya dilakukan selama 2-4 jam. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir. usia rata-rata 21. Pada proses ini.83 4. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. 14. Apabila proses fermentasi telah selesai. 1. 4.98 5.74 6.99 3.25 1.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. 13.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. 29.110 µmol/l). Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. 21. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu. 28.7 3. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4. setelah 60. selanjutnya digulung dan dikeringkan. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus.43 1. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. epigalo katekin 3.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2. 8.50 0.40. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8. 9. 10. 11. 120. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%.0). Komposisi teh hitam(3) No. 7. 22. 2004 53 .74 0. 6. 26. 24.29 2.16 4. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%.75. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2.13 3. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. 13. 17. kemudian diaduk selama 3 menit. 11. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. 4.63 Trace Trace Trace 2. indeks massa tubuh: 24. 144. epigalo katekin galat sebesar 4.90 1.9. 19.79 4. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. 14.82.69 0.3. 12. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC).85 0. 8.23 4.1 tahun. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh.62 35.57 3.02 0. 5 wanita.70 0. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten. 5. 18. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. 3.86 1. 7.21 6. 6.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C).31 0. 9. 25.96 percobaan 430 µmol/l. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l.01 0. Daun teh dilayukan lebih dahulu.enzim. 15.

1996. FMIPA UI. Crit Rev Food Sci Nutr. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. 88 (2) : 93-100. Nutrition News. 1994. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. 21. and Disease Prevention. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Jakarta. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. 14. Substansi seperti tanin (dari teh). 1996. 173 : 304-312. 15. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. 1999 : 11-2. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. Sutarmaji A.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. 52 : 1162-70. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Selain itu. 17. baik teh hitam maupun teh hijau. Chow WH. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Baraas F. Sellers TA. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Jakarta. ILSI European Monograph Series. Wakabayashi K. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. cet ke-2. 8. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Doyle TJ. McClendon JF. Jufri M. Jakarta. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. 1-24.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. Ferraro T. Nair MK. 11 : 3840. Folsom AR. Consumption. termasuk pada wanita post menopause. Van den Berg H. Popkin BM. Teh juga telah diuji teratogenik. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. Japan. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. 19. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Jakarta. 313 : 229. Tuminah S. cet ke-1. Oxidants. Cermin Dunia Kedokt. 22. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. 3. 37 (8) : 739-60. Letters in Applied Microbiology. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Tjitrosoepomo G.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. National Institute of Nutrition. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. Cancer Research 1992. et al. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Pradnya Paramita. Okubo S. 1999. 20 (2) : 1-6. KEPUSTAKAAN 1. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. 7. Fluorine in Tea and Caries in Rats. 2004 .terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. Goldbohm RA. 26 (6) : 769-75. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. 55(2) : 31-43. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Imanishi K. 144. 21 : 526-31. 128: 49-51. FMIPA UI.19 Selain itu pada wanita post menopause. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. Kono S. Shinchi K. In Liss AR. 13. 1-477. J Nat’l Cancer Inst. Hyderabad. Preventive Medicine. Jufri M. 23. Zhi YW. 11. Shinchi K. 1984 : 29-74. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Potensi Antioksidan pada Teh. et al.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. hal ini dapat dijelaskan. Prima Kardia Pers. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Nakachi K. Langseth L. J Epidemiol. Toda M. 10. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity.05). Hong CP. Eur J Clin Nutr. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Zheng W. Van Het Hof KH. Yogyakarta. Mou TH. 4. 2001 : 1-15. Nature 1954. 1989 . 6. Kushi LH.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. 1990. 12. kolesterol LDL. 1997. 16. Van-den Brandt – PA. 24. cet ke-4.14-18 Diperkirakan. 1997. Prima Kardia Pers. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. Jakarta. 9. body weight. Drewnowski A. Nutr Rev. 20. 1996. Brussel: 1995 . Preventive Medicine 1992. Hertog MG. dan radikal peroksil. Shimamura T. Yang CS. Weststrate JA. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Suga K. Yanai F. 18. Ikeda N. Baraas F. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Antioxidants. Lee MJ. Kono S. 5. Biokimia FKUI. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. 144 (2) : 175-82. Environ Health Perspect.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Astuti M.54 g /200 g. 1987 . et al. 1-495. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Graham HN. cet ke-1. 1994. Prog Clin Biol Rev. 1997. Blot WJ. Dirghantara E. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. Nakayama M.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. Imai K. Van Steenis CGGJ. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. 1997 : 82-3. Maxwell S. Bag. 6 (3) : 128-33. Brants HA. McLaughin JK. Chen L. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. 52 : 389-95. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. Jakarta. UGM Press. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. Thorpe G.20. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. and Health Effects. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. 2. Am J Epidemiol. 1998. 2000. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Gershon-Cohen J. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Yang GY. Van-Popel-G. O2•− .

68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. 2001) .32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. (Tabel 1). 144. dan mengisi informed consent. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. Departemen Kesehatan RI. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. 2004 55 . Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes.414 kematian(1).HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. demam akut 2-7 hari. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Faktor. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Sri Susilowati. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun.871 kasus dan 1. Cermin Dunia Kedokteran No. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya.April 2001. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. dirawat di rumah sakit.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi.

2.19%.1:1).55 1. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua.82%. 3.74 31.21 0. tahun 1995: 50.Tabel 1. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. 2004 . dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif. Profil Kesehatan Indonesia 1999.74 3.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51.4 100.3 48.3% positif dan 48. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26.7 11. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. penderita berada pada derajat I dan II.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. Berita Epidemiologi. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. 2000. tahun 1998: 36. KEPUSTAKAAN l.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi. 2001. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur.53 1.61 100. yaitu: tahun 1994: 34. 1958.7% dan derajat II sebanyak 44. Data Kasus DBD 1999.21%. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. J. Trop.5% . Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21.16 6. Tabel 2.9 66. 7: 561. Cassals J. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Desember 1999. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. Departernen Kesehatan RI 2000. Muchlastriningsih E et al.3%. 56 Cermin Dunia Kedokteran No.Jen. Med. Tabel 4. Hyg. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun.7 100.Dit. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Tabel 3. tahun 1996: 32. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara.44 10. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51. Sub.42 3.7% negatif.50%. Clarke DH. Jakarta.53 0. 144.6849). hasil uji HI positif sebesar 51. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.07 1. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .24%(5). Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding. tahun 1997: 34. 5. Am. 4. Surveilans Dit.

co. seperti: FeSO4. meskipun dapat dihentikan setiap saat. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. suhu 2-8°C. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC.5%/minggu).kalbe. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. diare. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). edema. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. KALBE FARMA Tbk. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. 2004 57 . Jakarta – Indonesia Tlp. terlindung dari cahaya. 1998.000 IU.: (021) 428 73888-89. 3000 IU. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. • Hipersensitif terhadap human albumin. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. Letjend. Gedung Enseval. 3000 IU dan 10.30) Cermin Dunia Kedokteran No.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. 144. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. Fax. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. : (021) 428 73680 Website : http://www. sakit kepala. Senin – Jumat (07. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL.00-15. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. artralgia. pruritus dan urtikaria. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. Jangan dibekukan dan dikocok. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. 10. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. fatigue. mual. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. Jl. Suprapto.

net.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 144.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 1990). 2004 ./hearing/hrexam. Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral. Sumber: http://ivertigo.

dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. dll. informatika yang berorientasi pada aplikasi. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. Sebaliknya. radiologi. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. kedokteran nuklir. dll. dll. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. artikel kesehatan. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. seperti: tanya jawab. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. seperti: computer science. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). medical information science. aspek keamanan dan legalitas. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. 2. 5. Akhir-akhir ini. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). atau artificial intelligence. seperti: proses pendaftaran pasien. dan informatika terapan. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. computer in medicine. health informatics. information processing. dan beberapa area yang lebih spesifik. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. sifat website pun sudah mulai berubah. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. dll. (Dr. teleradiologi. 3. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. contohnya: computational physics. dll. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. telekardiologi. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. melihat rekam medik dll. misalnya menginformasikan jam praktek dokter.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. dental informatics. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. dan informatics. Biaya dan keuntungan sistem informasi. computational linguistics. proses kontrol. 2004 59 . Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). merawat data. 144. 4. dr HM Goh. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation.

kalbe. 6 . Studio mini Jakarta Eye Center. yang di klik rata-rata 2. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Demikian dikatakan dr. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia.co. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut.Hj. dan Portal Kedokteran www. Sp.043 orang. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah".PD-KGH. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. RS Mitra International. Erik Tapan. Untuk itu kita jangan sampai lengah. bisa diakses di http://www.Jakarta.000 kali per hari. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. Mohammad Taha bin Arif. eHealth Asia 2004. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. menghisap rokok. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. batu ginjal. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Kuala Lumpur.id/seminar. (tampak dalam foto dr. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. Wakil dari Indonesia. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. RSIA HERMINA Daan Mogot . dan sebagainya. 6 April 2004 Pada malam hari. 2004 . Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. J. APAMI Board Meeting. Pudji Rahardjo. Dalam sambutan tertulisnya. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. Laporan lengkap dari simposium. membuka acara eHealth Asia 2004. Tele-education kesehatan via satellite. J. dan infeksi. SpPD-KGH. batu ginjal.kalbe. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. 144. dan sebagainya. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. menghisap rokok. Sp. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. dan infeksi.Pudji Rahardjo. setelah menyelesaikan acara ilmiah. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang.co. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. Demikian dikatakan dr. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. 6 April 2004. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Hotel Acasia. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. Hotel Acasia.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya.PD-KGH.Pudji Rahardjo. Kuala Lumpur.id. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No.

Cermin Dunia Kedokteran No. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Menurut Budi Sampurna. H. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. enterosit dan kolonosit. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. K. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. dr. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut.02 % (WKNPG : 5. karena dapat mencegah atrofi villi usus. 25 . Sie. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. termasuk dari Kalbe Group. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. dr. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). Hotel Shangri La Jakarta. 25 . kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. SpS(K)). dari kiri ke kanan: dr.16 % (WKNPG : 2. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Bali International Convention Center. Dr. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. Dr. 2004 61 .Jakarta. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. Hotel Mandarin Oriental . Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. Demikian dikatakan dr. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. MM dan Prof. Slamet Suyono.PD.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. SpS(K). 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Jakarta. Seminar Integrated Hospital Marketing. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. SpPD. Zubairi Djorban. di Jakarta selama 2 hari. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. 23 .28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. Hotel Borobudur Jakarta. radiasi dan operasi. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. Danial Abadi. Jakarta. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004.9 %). Demikian dikatakan Prof. 27 . 24 Mei 2004.5 %) dan wanita 11. Prof. Jakarta. Ed. menjadi terapi yang bersifat spesifik. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. dr. Amiruddin Aliah. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). SPS(K). Jakarta. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. 144. Seminar IT PERMAPKIN. SpS(K). Sebabnya. Sp. Arifin Limoa. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli.26 Mei 2004. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf.

36. selama 48 minggu. 0. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama. p<0.97 – 3.13 – 4.4-0. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik.5.8). 31 di antaranya fraktur femur. kemudian dimatikan selama 12 minggu. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami.9) dan keluhan mukosal (0.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi.24 – 8.24 – 3.44 kali (95%CI: 2.3.7 tahun.5 – 0. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1.52. 0. 0.0 (paling keras) sampai 10. tinggi badan.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5.7. risiko frakturnya 4. 0.50 – 2. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal. sepanjang tahun 1997-2000.93) maupun saat bangkit (1.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.8) dan bukan perokok (0.6. 2004 . Sekelompok peneliti di Montreal.5 – 0. berat badan.3 – 0. 95%CI: 1.6. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. mereka di amati selama rata-rata 1. Lancet 2004.2 – 0. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. p<0.6. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100). siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali.7. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.0001) tidak tergantung usia.9). 116 di antaranya juga diberi 500 mg.95 (95%CI: 1. 95%CI 0. 0. Daerah frontal.99) juga terhadap keluhan respirasi (0. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. 362: 1699-707 brw 0. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita. juga di korteks temporal anterior bilateral.4. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan.89. 144.93.9) dan keluhan muskuloskeletal (0.8. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition). sex. Lancet 2003. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. 1. Sejumlah 233 pasien mendapat 0.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0.059).5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre. 0. Lancet 2003.4 g IVIg/kg. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. nyeri saat berbaring (p=0. Lancet 2003. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.9) di kalangan bukan perokok. 0.bb/hari selama 5 hari.7 – 0. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5.10. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0.9 ± 0. Setelah 90 hari mereka dievaluasi. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2. baik di tempat tidur (odds ratio 2. Selama periode studi. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).0 (paling empuk).

55-1. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan.07-3.bb trimetoprim. 95%CI 0.91. p=0. 95%CI: 0. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut.62. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari. 95%CI 0. Risk ratio penggunaan prednisolon 0.15 – 1.4.64.011). Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. Saat gejalanya mulai memburuk. 6. N Engl J Med 2004. 24.46 – 0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo. Di akhir percobaan.72. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya.bb sulfametoksazol iv dan 2 g.88. 0. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. p=0.003). emboli paru. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. Pemantauan dilakukan setelah 12. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda.41. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo.56-0. OR=1. (OR 1. 100 mg/kg.9. p=0. 144. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol. jalan kaki. N Engl J Med 2004. 2004 63 .97-2. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. dan pasien menolak punksi lumbal. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut.27-9.09). 95%CI 0.68. 95%CI 0. 192 menggandakan dosisnya. 48 dan 60 bulan kemudian. data diolah dari 207 (53%) peserta.95 (95%CI 0. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No.18 – 0. p=0.89 (95%CI: 1. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. BMJ 2004. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. 406 sebagai kontrol. Kematian. p=0. 36.15. risiko infark miokard non fatal.65. logrank x2 5.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0.93. Lancet 2004. p=0.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg.40. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik.92.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak. demikian juga risiko infark miokard non fatal. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.71). p=0. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan .8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera.06).03).35. stroke non fatal.

Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. 2004 . a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. 3. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. 10. E A 3. 4. 7. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. D D 2. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. JAWABAN RPPIK : 1. 6. E C 4.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 144. 9. 5. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . 9. 8. B B 5. 10.