2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

64: 7-10.457-72. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah.Prof. Bila pengarang enam orang atau kurang. Dr. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. satu muka. kedokteran dan farmasi.DR. 4.H. E-mail : cdk@kalbe. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA .O. Dalam: Sodeman WA Jr. Soebianto PENCETAK PT. Tlp. Gedung Enseval Jl. Temprint http://www. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Sodeman WA. Contoh : 1. PhD. akan diberitahu secara tertulis. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. eds.Medical Rehabilitation. 1990.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan.Dodi Sumarna .kalbe. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Cempaka Putih. Dr. Letjen. Oen L. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. DR. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. 2. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. P. sebutkan semua. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. SpOrt. Jakarta 10510 P. 1974.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Erik Tapan . Letjen Suprapto Kav. bila menggunakan bahasa Indonesia. Jakarta 10510. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. 1st ed. Weinstein L.Prof. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Swartz MN. Siti Wuryan A Prayitno.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Philadelphia: WB Saunders. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Boenjamin Setiawan Ph. PELAKSANA Sriwidodo WS. Drg.co. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Box 3117 JKT.co. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Tlp.co. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta .Prof.4208171 E-mail : cdk@kalbe. Hal 174-9. Baltimore. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. Suprapto Kav. Laboratorium Ortodonti MScD. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. .kalbe. Sjahbanar Zahir MSc. 4.D . Gedung Enseval. SKM.Dr. Drg. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia.Prof. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . 021 .id http: //www. DR. 3. (021) 4208171. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. bila tujuh atau lebih. Bila tidak ada. Jl. Sri Oemijati. Box 3117 JKT. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. 1984. . 90 : 95-9). Hendro Kusnoto.id/cdk .co. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Kirby RL. Budi Riyanto W. . Cempaka Putih. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. Kalbe Farma Tbk. Cermin Dunia Kedokt. . Bagian Periodontologi.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Basmajian JV. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. Dr. Bila terpisah dalam lembar lain.O. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran.913X KETUA PENGARAH Prof. London: William and Wilkins. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr.Prof. Pathogenetic properties of invading microorganisms.

fih Vertigo is a common complaint. North Sumatra. recurrent respiratory infections also may occur. can be due to vestibular system disorder. 2004 . The mainstay of treatment is surgical ablation. There is still no accurate and successful management method for this problem . Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. Jakarta.2004. paroxysms of chocking. Cermin Dunia Kedokt. North Sumatera and Bali. 144.2004. Jakarta.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. Faculty of Medicine. 144. Adam Malik General Hospital. 144. Lia Amalia Dept of Child Health. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. and retinoic acid are still debatable. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. referred to dizziness or a sense of imbalance. University of Indonesia. chronic cough. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. in Indonesia it is found in North Sulawesi. 47-51 ppi. ribavirin. of ENT. Cipto Mangunkusumo General Hospital. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. Cermin Dunia Kedokt. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds.raa.2004: 144. The role of medications such as alphainterferon. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. Conventional treatment is still not satisfactory. Medan. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. Rizalina A Asnir. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. L. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life.lys bso. Firmansyah Dept. 13-15 dmr. particularly at the anterior commissure. of Acupuncture Dr. treated with acupuncture and showed good improvement. acyclovir. Cermin Dunia Kedokt. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. Yvonne Siboe Dept.

Kokobasilus. rinitis krustosa. umur berkisar dari 10-37 tahun.11.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.11.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.7. Bacillus mucosus. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.7. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.12. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.7.9. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.9.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.11.16. Adam Malik.7.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.11 3) Sinusitis kronik1.12. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta.7. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas. sosial ekonomi rendah.2.7. dilakukan operasi .5.17 Cermin Dunia Kedokteran No.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti.7.12.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.11-14 dan di negara sedang berkembang.11-15 SINONIM : Ozaena.11-14 dan di negara sedang berkembang. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda.10.11-15 terutama pada usia pubertas.1-5.2. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.7. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. 2004 5 . vitamin A1.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.7. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.11-15 terutama pada usia pubertas. Kuman lain adalah Stafilokokus. sehingga pengobatannya belum ada yang baku. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah.20 Tetapi dari segi umur. Kata kunci : rinitis atrofi.1-5. maka pengobatannya belum ada yang baku.11.7. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. 7.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.10.1-5.5.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.1.7.1-5.5.1-5.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.4. rinitis fetida.12.1-11 Secara klinis. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. 144.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.14.2.1-4. Diphteroid bacilli. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.12.12.9. 4 wanita dan 2 pria.

c. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. kadang-kadang kuning atau hitam.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. jika krusta diangkat.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.3. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. warna makin pudar. sinusitis. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. krusta sedikit.16 12) Golongan darah. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A.16. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. dapat ditemukan krusta di nasofaring.3.5. rinitis kronik lepra. rinoskleroma dan tbc.3.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang.4. Selain faktor-faktor di atas. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang.10.9.4. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4.10. keluhan anosmia belum jelas. sekret purulen dan berwarna hijau.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.3 2) Obat cuci hidung.1-5.3. ingus kental berwarna hijau.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc.21 KOMPLIKASI4.1. dilakukan dua kali sehari. 2004 .2.4 g NaCl 56. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. mukosa makin kering. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia.11 Dapat berupa: perforasi septum. mukosa tampak kemerahan dan berlendir.4. Antara lain : a. rontgen foto sinus paranasal.12. 144. Larutan garam dapur d. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. miasis hidung. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. pemeriksaan Fe serum.oleh karena itu secara patologi.15. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.4 g Na diborat 28. terlihat rongga hidung sangat lapang.1.4. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. Campuran : Na bikarbonat 28.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). gangguan penciuman (anosmi). 6 Cermin Dunia Kedokteran No. rongga hidung tampak lebar sekali. b.19 dan fibrosis dari tunika propria. hidung pelana. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman. atrofi konka. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. mukosa hidung tipis dan kering. pemeriksaan darah rutin.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik.13 . Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.11.5.8.10 dan rinitis atrofi sekunder. epistaksis dan hidung terasa kering.9.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. lepra. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat.1. midline granuloma. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. terdapat anosmia yang jelas. faringitis. Mantoux test.17 10) Herediter5. sakit kepala.12. krusta banyak. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis.7.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.

13. 264-7. Ujung Pandang: 1986.10-14. 20. Baser B. Etiology and Management.Hidung. 202-5. 1993. Weir N. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. 14. 40-1. Hagrass. C. 499. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 492. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. 91-3. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. 21. 1980. Cermin Dunia Kedokteran No. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. Singapore : PG Publishing. Pfaltz CR. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Edisi ke 3. Bertrand B. Elloy P. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. J Laryngol Otol 2000. maka pengobatannya belum ada yang baku. 349-51. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. Hidung . Massegur H. 1-4. 1996. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. 10.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. 7. 19. 9. Jakarta : FKUI. 218-9. 1993.Nose & Throat Diseases and Head . New York : Georg Thieme Verlag.A Synopsis of Otolaryngology. 6. Penyakit Telinga . Nose and Throat Diseases.106: 702-3. Naumann HH. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. 12 : 325-33. A Pocket Reference. 218-21. 4th Bristol:Wright. Jakarta: EGC.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 17. Ramalingam KK.Neck Surgery. KEPUSTAKAAN 1.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. 1994. Alih Bahasa : Wijaya. 193-411. 23. 12. J Laryngol Otol 1998. Ujung Pandang.Heinemann. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Samiadi D. Infective Rhinitis and Sinusitis. 8. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita.4. 1996.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. campuran Triosite dan Fibrin Glue. THT FKUI. 4) Vitamin A 3 x 10. Soetjipto D. 549-55. Indication. 16. Sutomo. Colman BH. Head and Neck Surgery. Dalam : Boies (ed). Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 1403-6. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. Jiang R. oestradiol dalam minyak Arachis 10. Sydney.3) Obat tetes hidung . 2004 7 . Farrington WT. 2. 106 : 652-7. Kepala dan Leher. Wood DG.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. 1994. 1997. 5.000 U / ml. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Montgomery WW. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. 114 : 254-9. Jilid 1. Sherief SG. Ear. natrium bikarbonat. Grewal DS. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Jakarta : FKUI. 576-80. Am J Rhinol 1998 .5. Sayed RH. setelah krusta diangkat. 6th ed. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. Hiranandani NL. 112 : 543-6. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Naumann HH. Laryngoscope 1996.Edisi 6. J Laryngol Otol 1990 . 3. Maqbool M. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis.J Laryngol Otol 1992 . Hilger PA. 113-4. tulang. Pitfalls. 22. 14th ed Singapore : ELBS. Buku Ajar Penyakit THT. 229. 11. Textbook of Ear. Disease of the Nose.Hsu C. Technique. bahan sintetis seperti Teflon. 1987. New York : Georg Thieme Publishers. Rinitis Atrofi. 144. diobati sampai tuntas1-5. Groves J. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka.Atrophic Rhinitis-Pathology. Disease of the Nose. Kader MA. 1997. Nose and Throat Diseases.1. dermofit. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. 26-7. Samsudin. 221-2. Gamea AM. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. Edisi 13. Surgery of the Upper Respiratory System. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. Kumar S. Madras : All India Publisher.Gray RF. 1992.11-14 Sinha. 15. Vol. 90-2. Mewengkang N. 1992. Calcutta : The New Book Stall. Throat and Ear. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. Fundamental of Ear. 1996.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. 1986. Maran AGD.Chen C. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. A Short Practice of Otolaryngology. Hartley C.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Lobo CJ. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Sreeramamoorthy B. 18. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Elhamd KA. 4. Oxford : Butterworth . diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. Becker W. Tenggorok . 1985. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Oleh karena etiologinya belum pasti. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. 4/8/26-7. Ballenger JJ. 381-2. 1997. Mangunkusumo E. Doyen A. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 10-5. 173-82. 2nd ed. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 104 : 404-7. Throat and Ear and Head and Neck. Mangunkusumo E.

salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. hidung. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”.2. tetapi lokasi tersering adalah laring. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. infeksi saluran nafas kronik. trakea dan paru. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. mudah berdarah. 144. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. higiene yang buruk. walaupun tidak ganas. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.4. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. kelainan imunologis. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. pemeriksaan fisis. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. anak. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. 2004 . Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. Kata kunci : papiloma laring. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. dan pertumbuhannya eksofilik. rapuh.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Cipto Mangunkusumo. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. berwarna kemerahan. 8 Cermin Dunia Kedokteran No.

8. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi.. infeksi saluran napas kronik. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. dan podofilin topikal. dan kelainan imunologis. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun.18 d. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. sesak.17. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. carbondioxide laser surgery.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. tetapi ada faktor lain yang berperan. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. retraksi suprasternal. Basheda dkk.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. laringofissure. Cermin Dunia Kedokteran No. b.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. Jackson I ditandai dengan sesak. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. steroid.3. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. 144. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. laringomalasea. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. seperti kembang kol. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. dan sianosis lebih jelas. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. paralisis pita suara. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. kemerahan. pemeriksaan fisis. serta pertumbuhannya eksofilik. mikrolaringoskopi dengan diatermi. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2.7. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. tetapi tidak untuk lesi parenkim. hormon (dietilstilbestrol).18-20 c. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. asma bronkial. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. tanpa sianosis.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. epigastrium. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. sianosis ringan.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. mikrolaringoskopi langsung. rapuh. kriosurgeri. dan mudah berdarah.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal.5-18 tahun. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. nodul pita suara atau kista laring kongenital. dan pasien tampak mulai gelisah. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. dan terkadang gagal napas. dan stridor inspirasi. stridor inspirasi ringan. 2004 9 . Obat yang digunakan antara lain antivirus. mikrokauter.

Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Abramson AL. Laryngoscope 1997. Bristol General Hospital. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. Erisen L. 19. bronkus. THT FKUI. Myers EN. Bashida SG. 101:1162-6. 122:942-4. 121:1386-91. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. Laryngoscope 1991. Agung IB. Topp WC. 100:1458-64. Arch Otolaryngol 1995. Fagan JJ.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Yasin AR. 12. 16. 102:580-3. Laryngoscope 1998. 9. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. Papilloma of the larynx in children. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Otolaryngol Clin N Am 2000. Pignatari SSN. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Losin. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. 11. Bajtai A. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. 308:1261-4. Task force on recurrent respiratory papillomas. diduga akibat tindakan trakeostomi. 107:915-47. 4. 119:554-7. Haglund S. Laryngoscope 1987. Mehta AC. Smith EM.669-75. h. N Engl J Med 1983. 11:242-52.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. 33:1-12. dan paru. 8. Shikowitz MJ. 33:187-207. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. et al. Birzgalis AR. Skripsi.13 Meskipun jarang. Derkay CS. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. Kohlmoos HW. 98:1324-9. Werkheven JA. Shoemaker DL. Kashima H. Leventhal B. Derkay CS. White A. 2. Orlowski JP. 1977. KEPUSTAKAAN 1. Arch Otolaryngol 1995. 13. ekstirpasi yang tidak sempurna. Laryngoscope 1992. 14. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. 15. Steinberg BM.249-60. Prognostic role of viral typing and cofactors. Hamilton. Steinberg BM. Cantell K. Schneider PS. Rimell EM. Chest 1991. Harley C. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Darrow DH. Mounts P. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. Current Diagnosis and Treatment. Pediatric respiratory papillomatosis. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. Gray SD. 144. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. The Manchester experience 1974-1992. 7. 5. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Abramson AL. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. 115:322-5. Dere H. 20. Haliwell M. Steinberg BM. Hidvigi J. Mulloly VM. Laryngol and Otol 1994. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. . Elo J. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. 18. 17. 6. 1982. Smith RJH. Bauman NM. Recurrent respiratory papillomatosis. de Boer G. 3. 97:678-85. A preliminary study. Fairman DH. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. Ossof RH. 108:226-9. Pou AM.h. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. 107:327-32 Green GE. Otolaryngol Clin N Am 2000. Winkler B. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. 10. tetapi dapat meluas ke trakea. Arch Otolaryngol 1981. Lundwuist P. 2004 . 102:300-10. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas.

9. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.6%. 2004 11 . seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920.000 pasien anak. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus. Adam Malik.5 : . Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.11 Lokasi yang sering adalah1.3.4-10.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.9% .10. sehingga terbentuklah kista. dekade ke tiga 13. sehingga mengalami degenerasi kistik.5.13. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.4.1.3.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher.4.5. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86. bagian tengah korpus hiod.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher. pada dekade ke dua 20.1.1% . rata-rata pada usia 5.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.tirohioid : 60. merupakan 40% dari tumor primer di leher.suprahioid : 24.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.10. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya. jika sering terjadi peradangan.4.9. 144.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus.10.suprasternal : 12.intra lingual : 2. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.4%.5%.1% . maka epitel duktus juga ikut meradang. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.5 tahun.4.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%.1.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.

6/30/8-12. Foramen sekum dijahit. 108 : 1105-7.11 Diagnosis Banding 1. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. Cohen JI. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. berbatas tegas. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. 5. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 1987. Otol. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. kadangkadang lebih besar. Panje WR (eds. Jilid 1. Singapore : ELBS. 13. Benign Tumors. 2. 10. antara lain insisi dan drainase. 88. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. KEPUSTAKAAN 1. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. kepala dan leher hiperekstensi. Ransom ER. 1986. sampai tulang hioid. Vol. 2nd ed. tidak nyeri. Kista dermoid 3. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. 19. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. Colman BH.submental : 2 . 4.6.5. J. eksisi sederhana. Otolaryngol.Otolaryngology. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum.. 6th ed. 1989. Thyroglossal duct remnants.7. 1987.2. Vol. Scheetz MD (eds. Disease of Nose. 11. Ballenger JJ. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. posisi terlentang. mudah digerakkan.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Throat and Ear and Head and Neck. 2nd ed. Pincu RL. bulat. 14. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. Aberrant thyroglossal cyst. 1983 . 7. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. Urben SL. 381-2. 760-7. Hidung. Johnson JT. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. dibuat irisan memanjang di garis media. Ujung Pandang. Samsudin.1. Developmental Anomalies of the Neck.). Greinwald JH. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. 122: 1094-6. 144. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Konsistensi massa teraba kistik. 1996. 6th ed.1985. Kista brankial Lipoma1. Buku Ajar Penyakit THT. 2004 .11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma.transhioid : 2 . Oxford : Butterworth .suprahioid : 18 . 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Bailey JB. 1362-69. Suparjadi S. 8. Sobol M. Bluestone CD. 5/16/14. 14th ed. 1996. 1994. Branchial cleft anomalies.5.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. Edisi 6. 1994. Philadelphia : JB Lippincott Co. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. Surgery of the Upper Respiratory System. 295-6.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. J. Corry J et al. Kejadian fistel ini antara 15-34%. Montgomery WW. yaitu kista beserta duktusnya. Karmody CS.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Jakarta : EGC. 4. 1990. Dalam: Pediatric Otolaryngology. otot lidah yang longgar dijahit.6. Benign diseases of the neck. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. Philadelphia : WB Saunders Co. 415-21. Edisi 13. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. thyroglossal cysts and fistulae. 1997. Massa Jinak Leher.infrahioid : 43 . Oxford: Butterworth – Heinemann.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. Ellis PDM. Walsh N. THT FKUI. Bila ada fistula. Stool SE. O’Hanlon DM. Kepala dan Leher. II. Maran AGD. Dalam : Head and Neck Surgery . aspirasi perkutan. 6. Head and Neck Surg. Laryngol. Leichtman LG. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik.). Laryngol. 183. 1997. benjolan akan terasa nyeri. korpus hioid. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. Otol. 1313-14. A Handbook for Students and Practitioners. Penyakit Telinga. 120 (5): 757-9. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Robertson N et al. Alih Bahasa : Wijaya C. Tenggorok. 114: 128-9. Congenital Neck Masses and Cysts. 2000. Vol.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Saleh H. Untuk fistula.Heinemann. Simko MEJ. Dalam Boies.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. 2. 9. Damijanti T. 1.9 Bila terinfeksi. Philadelphia : Lea & Febiger. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Philadelphia : WB Saunders Co. Thawley S. 12. Lingual tiroid 2. 755. Kohut RI et al. 3. Waddell A. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %.

Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring.11. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. Salvador.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua. 144.1. Rusia.1. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.2 Belinoff melaporkan 94.8.5.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870).2.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma.1.2. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. Rumania.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. Adam Malik. Ukraina. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. Philipina dan Indonesia. Guatemala.6. Sumatera Utara dan Bali. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. Sumatera Utara dan Bali.1. Cekoslovakia. orofaring. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.8. 2004 13 .1. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Uganda. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang.8 Pengobatan meliputi medikamentosa.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga. Sumatera Utara dan Bali. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. trakea dan bronkus.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. Eropa dan Afrika.7. Mesir. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.1-7 Di Indonesia. tapi endemik di beberapa negara di Asia.2-4. Rizalina A Asnir.8. Kolumbia.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut.2.9. Nigeria.9. Amerika. subglotis. radiasi dan pembedahan. tetapi sering pada dewasa muda. India.

8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan.1. Blastomikosis.14. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. 144. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. Atrofi.Streptomisin : 0. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. faring. Pada stadium II.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa. serologi (test komplemen fiksasi. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi.7.14: .7. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz. sakit kepala.8.15 Diagnosis Banding2. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk.2. 2004 . Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. . Stadium sklerotik Fibrosis yang luas.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area. Proses infeksi granulomatosa a.2. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. Sifilis. tetapi hasilnya belum memuaskan.Khloramphenikol. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Sporotrikosis. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif. permukaan licin tanpa ulkus. laring. Lepra b.15 1.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. Siprofloksasin. Infiltratif.6.1. Kemudian terjadi invasi. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah.3. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras.10 2. Dari pemeriksaan. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. Klofazimin1. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. sering seperti rinitis biasa. radiasi dan tindakan bedah. Dimulai dengan cairan hidung encer. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.Rifampisin 450 mg/ hari . kemerahan. histopatologi. kemerahan.8 1.8-11. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2. Stenosis. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). perluasan dan lamanya penyakit. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Jamur : Histoplasmosis. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2. Pada stadium I.Stadium III (Skleromatous. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini.8. Sarkoidosis 3.5-1 g/ hari . Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan.11.6.710. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan.Stadium I (Kataralis.patologis yang khas. . kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas.9. sumbatan hidung yang berkepanjangan. Bakteri : Tuberkulosis.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No.2. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. Koksidioidomikosis c. test aglutinasi) dan imunokimia. trakea dan bronkus.13.Stadium II (Granulomatous. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. 2. mudah berdarah. limfosit dan histiosit. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. hiperplasi pseudo epiteliomatosa.12 1.810. dapat terjadi gangguan penciuman. 3. bakteriologi.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi. Russel body. konsistensi padat.

Ed II. Ramalingam KK. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. Balenger JJ.162. 1991. Wiratno dkk. 4. 10. 1990. No 4. Shapiro J.1 KEPUSTAKAAN 1. Butterworth-Heinemann. Dr.ce/atl-en/sect-sect-58/html.10. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. 1997.103. Ben-izhak O. Acute and chronic laryngeal infections.com/diseases/rhinoscleroma. Longman Singapore Publ. Hilger PA. Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Agustus. ed 13. Vol 1. June 2000. 61.atlases. 1990. Vol 17. faring dan telinga. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Montgomery WW. 1993. Ed III. p. Sreemamoorthy B. htm Colman BH. Ed VI.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. Infections of the nose. 1991. 1983. Jilid I. Rinoskleroma di RS. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. 16. 603-7. Becker W. Infective rhinitis and sinusitis. Chest. In: Diseases of the nose. 2004 15 . Jakarta.afip.muni. Sydney: March.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Wilson WR. New York: Thieme medical publishers inc. asfiksia dan kematian. p.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. Great Britain: 1997. Ed X. Department of pathology. 11. In Scott-Brown’s Otolaryngology. January. Ahmad M. 12. 206-7. Yigla M. 1980. 3. 1851-52.Orbita : proptosis. Tjekeg M dkk. Fried MP.1. Monduzzi. EGC.1. h 224556.129. In: Otolaringology.32/micro/v17n04. uvula. Ed III. hidung. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. Laring. Benign Tumours and Granulomas in Nose. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Groves C.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . 1994. hidung. p.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm. 1998. http//www. h 368-70. USA: WB Saunders Co. p.thedoctorsdoctor. 9. 1993. 40. p. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. 8. Dalam: Penyakit telinga. tenggorok. In Otolaryngology. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. p. Oren I et al. Pfaltz CR. Maran AGD. 13. 5. Vol III. Vol III. Jakarta. 7.9. Buku Ajar penyakit THT. 2089. Desasouza S. Infectious disease of the paranasal sinuses. Medan. h 210. PG Publishing.14. Dalam Boies (ed).htm. Surabaya.13. Vol IV. Penyakit hidung. Granuloma kronis pada muka. Wein N.Sinus paranasal . http//www. Ear. kebutaan . Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. ed IV. Juli. orofaring 2. Throat and Ear. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. In A Short Practice of Otolaryngology.Palatum mole. h 457-66.7. Pranowo S.4. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. throat and ear and head and neck. 6. http//www. 2. h 128-34. Binarupa Aksara. Masna PW. atelektasis paru. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. Scleroma. 3.9 4. Chitale A. Diseases of the nasal cavity. Kariadi Semarang. USA: WB Saunders Co. 4. 15. 1997. nose and throat diseases. 14. kepala dan leher. 3. ed I India: All India Publishers. Organ sekitar hidung : . Nauman HH. Suardana W. Ed VI.

tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. 144. kulit hitam dan Hispanics. kanker payudara dan kanker kulit. yakni 4. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar.7 kasus baru per tahun per 100. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini.000. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan.000 penduduk1.000 penduduk. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. pola hidup. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi.000 penduduk per tahun. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. Sebaliknya. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. diasin). putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. bangsa Korea. di samping Mediteranian.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. seperti perokok berat. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. Antara lain disebutkan faktor makanan. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. . atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Cipto Mangunkusumo. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. dan beberapa ras di Afrika bagian utara.

Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). 144. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya.000). kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Selain gangguan motorik. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. terlebih pada stadium dini. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. 2004 17 .5 per 100. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Untuk menegakkan diagnosis. seperti foto paru. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. debu kayu serta asap kayu bakar. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. disusul oleh keturunan Melayu (6. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan.5 per 100. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. Pada 1966.5 per 100. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut.000 penduduk). padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. pendengaran sedikit menurun serta mendesing.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. telur asin. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. capsid antigen dan early antigen. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. USG hati.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Sedangkan pemeriksaan lain.

Fachrudin D. 7. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. Ferlay J. Pisani P. 1981. (Eds). Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. 10: 15-24. 2nd. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. p. 144. Yusuf A. York: Oxford University Press. terutama pada kasus dini. Yu MC. Ho JHC. Jakarta Indonesia 1988. karies gigi akan lebih mudah terjadi. Henderson BE. Metode brakhiterapi. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. ed. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. In : Tjokronagoro A. Int J Cancer. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Cancer Res. 1997. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 471–86. Young J. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. Djakaria M. Parkin DM. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. (Lihat lampiran/ halaman 19). Parkin DM. N. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. 6. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. 4. Lyon. Soetjipto D. Ferlay J. Nasopharyngeal cancer. Epstein Barr virus. p. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Syafril A. Whelan SL. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. Himawan S. 1996. 2. 52: 3048 –51. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. KEPUSTAKAAN 1. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Herbal medicine use. 1992. Vol. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Ross RK. bawah serta klavikula. 1990. bahkan setelah selesai terapi. Henderson BE. 3. 603 –18. Publ. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. 80: 827–41. YKI. Yu MC. Pengobatan radiasi. 5. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Cancer in Asia and Pacfic. No. 143. and risk of nasopharyngeal carcinoma. Azis MF. 2004 . Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia).yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Cancer epidemiology and prevention. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). Raymond L. Susworo. France : IARC Scient. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Hildesheim A et al. Cancer Incidence in Five Continents. IARC Press.

144.LAMPIRAN : Gambar 1. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. 2004 19 . Cermin Dunia Kedokteran No. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2.

Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. 87. yakni sebesar 68.11%. Streptococcus βhemolyticus 6.1 %. Departemen Kesehatan RI. B. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. 144. serta lebih dari 50% penyebabnya . Streptococcus pneumoniae 3. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. Metoda penelitian cross-sectional.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3.9 %.2%.82%.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. usia 5-15 tahun 29. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. 2004 napasan atas maupun bagian bawah. Branhamella catarrhalis.52%. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%.8 %. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). Branhamella catarrhalis 22. 53. Streptococcus sp.5 % dan dewasa 23.04%. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%. Streptococcus β-hemolyticus. 40% dan 80%. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54.5%. Betalaktam.3 %. termasuk Indonesia.

5. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. dan uji-uji khusus lainnya. dan Haemophillus(2). dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2).82%). hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4. sifat hemolisis agar darah. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp.05) 2 (1.2) 30 (22.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). Streptococcus non-haemolyticus (3. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut.53) 2 (1.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. fermentasi karbohidrat.05%). Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. 144.9) 8 (6. hiperemis. Staphylococcus. Untuk kuman S.35%. makrolida.04%.adalah virus(1). Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. kadang-kadang disertai folikel bereksudat.11) 5 (3. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional.11%).76) 1 (0. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. Klebsiella. 1. 12. Proteus.2 %.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. Branhamella. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. 10. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. Antimikroba golongan betalaktam. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. Branhamella catarrhalis (22. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. dan kotrimoksazol(4). 2. 8. 7.9%). Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton. yakni dengan mengukur zona hambatan. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3). 9.46 %. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. batuk. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. 6. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent.71 %. terhadap antimikroba golongan betalaktam. Cermin Dunia Kedokteran No. yakni sebesar 68. Escherichia. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. dan memerlukan terapi antimikroba. Tabel 1. 11. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. 2004 21 . Streptococcus β-haemolyticus (6. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.82) 4 (3. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam.76) 1 (0. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit.53) 2 (1. 3. Pseudomonas.93% dan 5. Streptococcus pneumoniae (3. B hemolyticus diperoleh 6. viridans sebanyak 54. berturut-turut 9. kecuali terhadap Cefradin. 4. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. (Tabel 1).82) 5 (3.4 % . dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100.2%). Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. sakit menelan.53) 1 (0.

8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G. Resistensi kuman S. Cefota = Cefotaksim. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya.0 %. 4. Branhamella catarrhalis 22. Cefpi = Cefpirome. Fachrudin D.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3.05 )(10). Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. 4.76 0.04 %. Josodiwondo S. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. 5.82 3. 2 (1): 6-12. aureus Alkaligenes spp. Dwiprahasta I. aureus 0 %. Cefoti = Cefotiam.52 87. .5%.82 %.53 0.23 0 3. pneumoniae Acinobacter spp. non-haemolyticus K. 9. 60% dan 20%. 3.87 5. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. β-haemolyticus S. Streptococcus pneumoniae 3. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. Cefep = Cefepime. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. MKI 4 (2/3): 56-60.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68.05 1.5 40.11 3. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia. 6. pneumoniae S. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners. makrolid 15 %. 144.2%. Ceftri = Ceftriakson. MKI 1996. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala. Abdoerachman H.76 0. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif.viridans dan S. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No.7 % dan 96. 8.53 1.41 4.48%. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S. MKI 1987. epidermidis PeG 2.93 6. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. sefalosporin 7. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. 2. 1. KEPUSTAKAAN 1.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73.35 3.2 %.82%.7 %. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54.53 1. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. catarrhalis S. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. viridans B.33 3.Tabel 2. yakni sebesar 68. 26. Sulb = Sulbenislin. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin.82 30. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini.04%.0 80. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No..76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1.12). Streptococcus β-hemolyticus 6. aeruginosa S. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi.0 20. 1996. Yeast (ragi) S.9 6. . Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . amoksisilin dan ampisilin(2). Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%.05 2. Cefrad = Cefradin.turut adalah Golongan B Laktam.82 3.11%. 2.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2.67%.2 22. 3.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. Dirjen Binkesmas. 46(9): 467-76. Amx = Amoksisilin.04 9.52 2.23 4.33 0 0 0 0 20. 12. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. Makrolid dan Fluorokuinolon. 7.57 5. Departemen Kesehatan R I.2 % dan 66. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0. Trihendrokesowo dkk. .9 %.29 1.33 53. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut . P.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi. 5.7 %. Tabel 3.

Med Progr January 2003.com Hotel Sahid Jaya. : 021-3928658. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia. : 022-2039086 / 2035042.or. 1988.com. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. Telp.or. : 022-2534115. : 0274-37430. Occurrence and Classsification.id Jakarta Convention Centre Telp.id Hotel Grand Hyatt.net. (eds). Surakarta. Laporan penelitian 1998. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. 14:193-9. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline.fkumy.ac. : 0274-37430 Website: http://telmed.net. 144. Sirot J. Watson A. Rai IB.id Karawaci. Saulnier P.id Hotel Sahid Jaya. 10.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. 9. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. 6685070. Meeting on Respiratory Care Ind. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut.internafkunand.pluit@rad. : 021-5684085 ext. Surakarta . Gedung AR Fachruddin. Fax : 021-3914830 Website : www. Jones A. 1242. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy.org KPP Bioteknologi ITB. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. Beta Lactamase. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email. Bandung Telp.com Web-site : www. : 0778-7024522.net Hotel Planet Holiday. J Internat Med Res 1986. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro.com Website : www.co.com.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. Yogyakarta Telp. Batam Telp. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah.co.kalbe. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. : 021-4532202. : 021-330956. Tarigan HMM. roga@biotech. In : Rolinson GN. : 021-31934636. Sugito.itb. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt. Padang Telp. 6685006 Fax : 021-4535833. Jakarta Telp.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI .idai. 8. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. 7.3907703.obgyn-bandung. : (021)-3148610. Hartono TE.1988. 5. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae. 2004 23 .id Bali.id Hotel Planet Holiday.org website : www.6. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Sirot S. Amsterdam : Excerpta Medica 1980.com/index.net.or. Kariadi Semarang. : 0274-587555.or.php Hotel Bumi Minang. Tangerang Telp. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. Fax : (021)-3913982 Website : www. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. Herman MJ. Nukman R.id Website : www. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. Bali Telp.id Jakarta. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa.id Bali International Convention Center Telp.idki. Faks. Wibisono MY. 11. Bandung Telp. Jakarta Telp. : 0751-37771. Slombe B. Suprihati. 12.: 021-79184052 Website: http://www. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. : 021-3919653. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr.id Hotel Horison. rs.interna. Antibiotik Beta Laktam. Idajadi A. Batam Telp. 6-17. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int.respina. Jakarta. 1994.pluit-hospital.or. Telp. : 021-4786 4646.

Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. alat-alat transportasi berat. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. penurunan kemampuan kerja. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. Untuk itu. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. dan dalam. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. biasanya di atas 120 dB. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. 144. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Misalnya. Secara definisi. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. sangat luas. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. tengah. dan lain sebagainya. Hal ini perlu diketahui. Di telinga tengah ini. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). cara yang digunakan untuk . Anatomi Telinga Secara anatomi. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan.

amplitudo. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. 2004 25 . Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. Untuk menghindari kelelahan auditorik. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. Makin tinggi tekanan udara. kerusakan tulang-tulang pendengaran. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. 2). dengan kata lain. dan durasi. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. 3). Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. pengeras suara. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. yaitu trauma akustik. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. atau kerusakan langsung organ Corti. pendengaran orang tersebut berkurang. dsb). di udara terbuka. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. 144. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Pada trauma akustik. nilai ambang di atasnya. dsb). Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga.

jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. dan sebagainya. frekuensi yang diuji. meningkatnya tekanan darah. dan 6000 Hz. dan sebagainya. Untuk menilai ambang pendengaran. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. . durasi pajanan. Pemeriksaan telinga. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. 4000. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. pengukuran impedance. Pada skala frekuensi. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. spektrum bising. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. dilakukan pemeriksaan audiometri. dan pola pajanan temporal. hari ataupun lebih lama. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. jenis kelamin. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. getaran. 144. Bila sudah terjadi kerusakan. Pada pemeriksaan fisik. trauma telinga karena agen fisik lainnya. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. serta faktor-faktor lain seperti usia. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. berbicara dengan suara menggumam. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. alat transmisi ke telinga. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. spektrum suara. 1000. status kesehatan. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. tes rekruitmen. dan sering timbul tinitus. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. Dari data observasi di lingkungan industri. 3000. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. dan sebagainya. 2000. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). Namun perlu diingat. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. hidung. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. disritmia jantung. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan.setelah pajanan suara. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. Weber. Secara sederhana. refleks pernapasan berupa takipneu. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. durasi total pajanan. seperti faktor fisika lain berupa panas. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga.

144. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. Penggunaan alat pelindung telinga. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. keluhan utama. Cermin Dunia Kedokteran No. riwayat pelatihan militer. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. Jika dipergunakan alat bantu dengar. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). tanggal bekerja dan umur saat itu. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. riwayat penyakit dahulu. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. tinggi rendah dan irama percakapan. kondisi medis. durasi masing-masing pekerjaan. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. riwayat pekerjaan. interupsi suara berulang. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. Selain itu. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. terutama pada lingkungan industri. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. riwayat keluarga. Suara yang asing. barang atau jasa yang dihasilkan. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2).

2. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. 2004 . 144. Noise. Nilland J. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. 3. KEPUSTAKAAN 1. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Occupational Hearing Loss. Dickerson OB. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. 2. 2004. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. 2nd ed. 4. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.htm. In . Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Louis : 1994 Soepardi ES. http://www. February 6th. Mosby. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. Handbook of Noise Control. Edisi 5.uk/ environment/noise/health/page05. New York : 1979. McGraw-Hill Book Comp. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. cermat. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. St. Horvarth EP. (chief ed). Jakarta : 2001 Department for Environment. In : Zenz C. Occupational Medicine. Iskandar N.penggunaan alat pelindung diri.defra. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. 3rd ed. dan Hearing Conservation. Zenz C. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Harris CM (ed). Food and Rural Affair. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar.gov. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. 28 Cermin Dunia Kedokteran No.

Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. prevalensi NIHL 31.1 – 108. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. misalnya suara gergaji sirkuler. 1000 atau 4000 Hz). 2. 144. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31.81% dengan paparan kebisingan 86. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1.2 dB (Lusianawaty). bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. kipas angin. gangguan pendengaran saja 17. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.43%.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. Di perusahaan plywood di Tangerang.105 dB (Sundari.96 dB). suara katup mesin gas.1997). Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Di Indonesia. tembakan. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. mudah emosi. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. meriam dll. 2004 29 . Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 .14% dan gangguan keseimbangan saja 27. dsb. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. kebisingan di lapangan terbang dll 4. Menurut WHO (1995).16 %. Di Quebec-Canada.2m/dt2.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. 3. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. suara katup gas. Cermin Dunia Kedokteran No. melainkan ada periode relatif tenang. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. gergaji sirkuler. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. suara dapur pijar. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. rerata akselerasi getar 4.71%.5 detik berturut-turut. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.

b. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan.waktu pemulihan bervariasi . Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. cepat marah. seperti letusan. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. susah tidur. ledakan dan Di Indonesia. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. bising bernada tinggi sangat mengganggu. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. keselamatan tenaga kerja. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. d. dan lain-lain. 1. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . c. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat.non-patologis . • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. stres. 3. 5. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. Gangguan fisiologis Pada umumnya. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. 144. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. 4. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. peningkatan nadi. Tabel 1. kurang konsentrasi. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari.25 atau kurang 5. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba.5 0. 2.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki.patologis . 2004 . namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. daya dengarnya akan pulih sempurna. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. seperti gangguan fisiologis. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. gangguan psikologis. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Ketulian bersifat progresif. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a.bersifat sementara . kelelahan. gangguan komunikasi dan ketulian.

Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. Berupa policy statement 3. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. kesejahteraan bukan santunan. c. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. Problem mencari arah/asal suara d. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. 2004 31 . Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. namun merupakan pedoman. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. rotasi kerja. 1. Kontrol engineering dan administrasi 3. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. 5. 5. langit-langit dan lantai. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. proaktif bukan reaktif. hubungan baik dengan karyawan. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. 2. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. bersifat menetap (irreversible). oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. cepat sembuh secara parsial atau komplit. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. 5. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. 1994). AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. 3. dan lain-lain). 3. 2. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. 144. Monitoring paparan bising 2. misalnya : a. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri.lainnya. tinitus. 4. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. antara lain: 1. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. Integrated dengan program K3 4. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. Economic self-sufficiency handicap e. menunjukkan itikad baik. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. Bagi karyawan Mencegah ketulian. b. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. mengurangi angka kesakitan. jadwal kerja . tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. 1996): 1. Dilaksanakan oleh semua jajaran. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. ruang isolasi. Tuli ini biasanya bersifat akut. Dukungan manajemen 2. Serta bisa mengurangi stres. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. Cermin Dunia Kedokteran No. 6. 7. Problem komunikasi di tempat kerja b. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). 6. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. mengurangi angka kecelakaan. Problem dalam mendengarkan musik c. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). meningkatkan produktivitas. Bagi pengusaha Taat hukum. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d.

memberi pelumas secara teratur. Mengikuti peraturan III. 3. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. bila bising > 85 dB 4. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification.Bila sudah memakai. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. beri petunjuk ulang . mengencangkan bagian mesin yang longgar. Kecocokan. kecepatan putaran atau isolasi.jika karena penyakit.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. 3. diharuskan memakai . b. 2. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja.I. 2. 144. 4. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. 2. Penjadualan pengoperasian mesin 4. 2004 . Pre-employment 2. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. bila STS persisten atau membaik IV. konsulkan ke dokter THT .Bila perlu. bila lebih dari 85 dB. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). berdasarkan lokasi tempat kerja.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . konsul THT Lakukan revisi baseline. Evaluasi : .komunikasikan dengan karyawan tersebut . Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. ukur tempat dan ruang kerja. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . SOP pengukuran harus ada dan jelas.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. pengukuran dengan peta. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1.paling lama dalam waktu 2 minggu . contohnya : 1. Mengatur jadual produksi 2. Exit Policy mengenai audiogram : 1. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. ukur maximun dan minimumnya.periksa tempat kerja . Rotasi tenaga kerja 3. yang sering juga disebut survei bising.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . Setiap tahun. tenaga mesin. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). lakukan tahap selanjutnya c. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. dan lain-lain. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. 4. 7. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising.Bila belum menggunakan APD. Annual monitoring 3.periksa data kalibrasi alat .periksa dokter . Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. atau menggunakan APD 2.. . KONTROL . Base line atau data dasar : . Pre-employment/preplacement/Baseline 2. 6. bertujuan untuk : 1.untuk baseline 14 jam bebas bising. menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. Penempatan ke tempat bising 3. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. 5. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). 2. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. 5.setiap tahun dibandingkan dengan base-line .

Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. 2. Beberapa tipe sumbat telinga : a. perusahaan harus menyediakan APD ini. Audit Eksternal. VI. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. 4. Kontrol engineering dan administratif. VII. V. APD yang digunakan. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. 144. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. misalnya pelatihan dan penyuluhan. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. Tidak saja untuk melindungi pekerja. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. dengan sasaran : 1. 3. Nyaman dipakai.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. Cermin Dunia Kedokteran No. formable type b. Kemudahan pemakaian. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. 5. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. 2004 33 . tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. custom-molded type c. 2. biaya. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. 2. 3. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. 2. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. 3. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. Hasil pengukuran kebisingan. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. PROGRAM AUDIT 1. Penyuluhan khusus. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. kesertaan supervisor dalam program. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya.

fkumy.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. 10 Juli 2004 Website : http://telmed. 2004 .Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta.

Cermin Dunia Kedokteran No. Bogor. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Berdasarkan permasalahan tersebut. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. humidifikasi buatan. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. perawatan luka operasi di stoma. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. pemeriksaan periodik kanul dalam. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). sering saling tertukar. Selanjutnya dikatakan. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. bukan dari saluran napas bagian atas. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. 144. 2004 35 . PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. mengurangi efektifitas refleks batuk. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. cara membersihkan kanul dalam. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara.

begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. Condensor humidifier. panci bergagang. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. 2004 . penjepit. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. kasa perban. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. d). trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. Jika udara rumah kering. Bila didapatkan sekret yang kental. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. menggunakan lap atau kasa perban. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Bila penderita bernafas spontan. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). jangan diberi tekanan negatif. Cara membersihkan kanul dalam. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. d). PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. 2). saringan. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Pada waktu ekspirasi. Sebelum melakukan pengisapan. b). Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. Alat ini relatif lebih efisien. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. c). setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Sebelum mengangkat kanul. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. 144. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. Akan timbul gangguan saat menelan. Beberapa jam pertama pasca bedah. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. siapkan alat-alat untuk resusitasi. Dengan adanya trakeostomi. sehingga perlu dilakukan pengisapan. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. dan cairan penggosok perak. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. b). kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. mungkin akan bermasalah. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. sebagai berikut: 1). dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. c). Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin.

6). 3).2a). Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. tuangkan air dari panci. Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Biasanya. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. Setelah kanul dalam bersih. didihkan kanul dalam selama 5 menit. 2). 2). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. kemudian bersihkan dan cuci. 4). Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. 4). 144. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. 2b). oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Jika kanul dari perak telah memudar. 3). Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. Setelah air mendidih. dan tempatkan kembali saringan dalam panci. oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. Tarik kanul dalam ke belakang. 8). 5). Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. 1). Gambar 2. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. Angkat saringan dari panci bergagang. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. 7). Gambar 1. 3). Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. 5). kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. Cermin Dunia Kedokteran No. Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. 2004 37 . Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1).

2004 . Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin.4). Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. 2). Gb. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. tempatkan kasa di atas kanul. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. 144. Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. 3). Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 4). khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. 3). Jika mesin penghisap tidak didapat. Gambar 4. Lepaskan balon karet. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. jika udara dalam rumah kering. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. atau jika kanul teriritasi. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat.Cara melakukan : 1). Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Di samping itu. 5). 2). 4). mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. Siapkan alat-alat. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi.

1977 . Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. 1978 . 4). Jika kasa tidak terlipat. 5). 5th ed. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. Tracheostomy. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. 144. 2. throat and ear. Boies LR. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. Adams GL. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. cara membersihkan kanul trakea. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. Me Kailum JR. 5th ed. Cermin Dunia Kedokteran No. 2). 3). kasa 4 x 4 inci. Maran AGD. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. 1567-73. Gambar 6. Me Dowall GD. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. panjangnya 6 inci. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. mengganti kanul. KEPUSTAKAAN 1. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum.5). Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. Bristol : John Wright and Sons Ltd. nose and throat diseases. merebus kanul dalam. In : Logan Turner's Diseases of the nose. A Textbook of ear. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. Bireell JF. Paparella MM. 705-17. 6). Me Klay K. 5).dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. 2004 39 .. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. Tracheostomy. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. menghisap discharge. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. 6). 1).

1976 . 89 : 521-8. Embriology and anatomy of the larynx. 89 (suppl 73): 1-7. Co. Conway WA. 9. In: Paparella. Shumrick DA. New York : Medical Examination Publ. 4. Martin WM. Laryngo-tracheoplasty. 1973 : 170-96. (eds). In: Ballantyne J. Montgomery WW. Basic sciences. Philadelphia : WB Saunders Co. 4th ed. 6. 433-75. Nose and throat. Bandung. 18. The Otolaryngology board. 95: 61-8. Ann Otol 1978 . Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. Philadelphia : WB Saunders Co. vol I. 688-708. Natvig K. 246 : 34750. Operative Surgery. Arch Otolaryng 1981 . Fundamental international techniques. 87 : 99-108. Vol. Steel PM. Galood HD. 3rd ed. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Grooves. 1973 . Olving JH. 8. Otolaryngology. Shumrick (eds). Davies J. 13. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. J Laryngol Otol 1974 . Montgomery WW. 17. diaphragma and esophagus. Laryngoscope 1981. Arch Otolaryngol. Basic sciences and related disciplines.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. (eds). 19. An atlas of head and neck surgery. Paparella MM. In : Ballantyne. Lee KJ. Ann Otol 1980. Inc. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. Victor LD. Batsakis JC. Tracheostomy and laryngotomy. Magilligon DJ.. Vol II. London : Edward Arnold Ltd. 2nd ed. 62 : 272-6. (ed). Putney FJ. Evans JNG.obgyn-bandung. 144. London : Butterworths. 107 : 114-6. J Laryngol Otol 1981. An experimental study. Ann Otol 1980. 1979 . Scott-Brown's diseases of the ear. 1. Otolaryngology. 2004 . 5. 2nd ed. Toledo PS. Ann Otol 1975 . 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. Lore JM. 7. 91: 355-61. A preparation guide. Silicone tracheal canula. Vol I. Roth T. 1971 : 31-61. 19 September 1981. 242-8. London : Butterworths. 15. Lulenski GC. Complications and postoperative care after tracheostomy. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. 84 : 781-6. Crawley BE. Shapiro RS. Lulenski GC. 10. JAMA 1981. 14. 20. 11. 12. 1955. Fujita S. Tood GB. Philadelphia: WB Saunders. nose and throat.3. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. Zorick FJ. Krikotirotomi. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). 88 : 589-97. Evans CC. Siregar Z. 16. Feldman SA. Wright D. Skripsi di Bagian THT/RSCM. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. 1973. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. respiratory apparatus. Basic sciences and related disciplines. 1973.

Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. 2004 41 . sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. 144. Bogor.1) .TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. Gambar 1. tak stabil (giddiness. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. rasa oleng. karena berjalan dengan kedua tungkainya. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan.

muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. 3. Mabuk Udara 4. timbul reaksi dari susunan saraf otonom.(Gb. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. letak lesi dan penyebabnya. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. vestibulum dan proprioseptik. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). 144. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. 5. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. yang berkembang menjadi gejala mual. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. 3). atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. belajar dan daya ingat. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. akibatnya akan timbul vertigo. Skema Klasifikasi Vertigo 6. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. mual dan muntah. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). (Skema) Oleh karena itu. serebelum) atau rasa melayang. 2. nistagmus. 2004 . Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda.

Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. hipertensi.duduk dan berdiri. ketegangan. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. salisilat. hipotensi. berputar. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. kanamisin. Fungsi vestibuler/serebeler a. 7).ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. Gambar 4. hipotensi. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. kronik. Uji Romberg (Gb. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. penyakit paru juga perlu ditanyakan. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. keletihan. progresif atau membaik. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. bising karotis. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Dalam menghadapi kasus vertigo. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. tujuh keliling. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Uji Unterberger. Juga kemungkinan trauma akustik. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. anemi. vestibularis. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. goyang. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. hilang timbul. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. rasa naik perahu dan sebagainya. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. kongestif. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. Cermin Dunia Kedokteran No. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. 144. hipertensi.batang otak. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. gagal jantung b. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. hipoglikemi. serebelum. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. baik kelainan sistemik. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. kepala dan badan berputar ke arah lesi. penyakit jantung. 2004 43 . Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. paroksimal. c.

Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. 9) Perhatikan adanya nistagmus.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. jika ada gangguan vestibuler unilateral. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. a. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. Uji Tunjuk Barany e. Gambar 9. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. Uji Babinsky-Weil (Gb. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup.1. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. 2004 . Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb.

Weber dan Schwabach. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit.Elektromiografi (EMG). Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. dengan tes-tes Rinne.iv. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral.fungsi sensorik (hipestesi. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Foto Rontgen tengkorak. VIII. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. leher. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. a. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. Arteriografi.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. 2004 45 . Pencitraan: CT Scan. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. 4. kampus visus. Magnetic Resonance Imaging (MRI). tahan selama 30 detik. dan Schwabach memendek. pendengaran. Stenvers (pada neurinoma akustik). penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. Bekesy Audiometry.iv. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. Tone Decay. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). b. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Tabel 3. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. berupa gerakan mata melirik ke atas. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im.5 mg 1 dd 0. tahan selama 30 detik. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. otot wajah. 3. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. kemudian duduk tegak kembali. Pemeriksaan Penunjang 1. 144.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. c.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. Antivert Phenergan. 2. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. b. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. dan fungsi menelan.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. iv im. okulomotor. parestesi) dan serebeler (tremor. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. Gambar 9. Sentral: tidak ada periode laten. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. SISI. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. bawah. (Tabel 3). Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. 2. sensorik wajah. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. gangguan cara berjalan). kemudian duduk tegak kembali. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal.

terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. terapi profilaktik juga belum memuaskan. Andradi S. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. Joesoef AA. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. 2. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. yang makin lama makin cepat. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. demikian juga gentamisin. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. Perdossi. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. 2004 . Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. tanpa tahun. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). 14 Desember 1991. 5. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. hal.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. diuretik ringan bersama diet rendah garam. 2002. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. 4. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. diduga disebabkan oleh infeksi virus. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. 3. Aspek Neurologi dari Vertigo.vestibularis. Di awal sakit. metronidaziol dan minosiklin. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. 144. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup.1999.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. tanpa tahun. diuretik loop. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Kelompok Studi Vertigo.).(eds. Kusumastuti K. membatasi asupan garam. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. Monograf. Obat penyekat alfa adrenergik. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. Vertigo.. Duphar. tanpa tahun. antiinflamasi nonsteroid. Neurootologi klinis:Vertigo. Dalam: Joesoef AA. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. asam nalidiksat. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Sedjawidada R. 6. Monograf. bisa alat dan saraf vestibuler. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. Tinjauan umum mengenai vertigo. Diagnosis dan Terapi. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Syeban ZS. KEPUSTAKAAN 1. sedangkan kanamisin. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan.xiii-xxviii. Patofisiologi. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. Harahap TP. Seri edukasi. selain vertigo. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. 7. berhenti merokok. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral.

peluh dingin. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. Cipto Mangunkusumo. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. rasa mengambang. muntah) dan pusing (2). penderita sama sekali bebas keluhan. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. pening. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. mumet. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. Migren ekuivalen. tujuh keliling. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). Di antara serangan. Labirin picu (trigger labyrinth). DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. kemudian menghilang sempurna. sempoyongan. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. tumor fossa cranii posterior. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. 3. rasa melayang (1). Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. kemudian berangsur-angsur mengurang. Arakhnoiditis pontoserebelaris. . Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. 144. kelainan gigi/ odontogen. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. Sindrom Cogan. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. Epilepsi. 2. termasuk di sini adalah : . Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. kepala terasa enteng.Vertigo posisional paroksismal laten. Vertigo paroksismal 2.Vertigo posisional paroksismal benigna. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. mual. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. 3. Yang tanpa disertai keluhan telinga. 2004 47 . Sindrom Lermoyes. dapat disertai gejala lain. unstable). PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. berlangsung beberapa menit atau hari. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . L. otonomik (pucat. pusing.

Pemeriksaan neurologik . trauma. mabuk gerakan. siringobulbi.EEG. herpes zoster otikus. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. perdarahan labirin. hipotensi ortostatik. sindrom hiperventilasi. Epilepsi. perdarahan. vertigo epidemika. Lues serebri.VIII. susunan vestibuloretikularis. 2. Intoksikasi. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. IV dan VI. meningitis Tb. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom.Pemeriksaan mata .Pemeriksaan fisik umum. intoksikasi obat. hidrops labirin (morbus Meniere ). ETIOLOGI 1. kelainan okuler. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. ensefalitis. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.Psikiatrik 4. alergi. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. dibedakan menjadi: 1. : Hipertensi kronis. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . fibrilasi atrium paroksismal. sindrom sinus karotis. hematobulbi. otitis media dengan efusi. labirintitis. Nervus VIII. f. anemia. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. 2004 4. hipoglikemi. hipoglikemi. d. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. Migren. keadaan menstruasi-hamilmenopause. kolesteatoma. pelagra. 2. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. dan vestibulospinalis. otitis media purulenta akuta. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. sindrom arteria vestibularis anterior. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. sindrom pasca komosio. blok jantung.Laboratorium .(2). Pemeriksaan fisik : . labirintitis akuta. : infeksi. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. hipertensi kardiovaskular. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. c. 2. tumor medula adrenal. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. ensefalitis vestibularis. EMG. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. benda asing. visual. d. labirintitis kronis. trombosis arteria serebeli posterior inferior. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. serangan vaskular. dibedakan menjadi : 1.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . sklerosis multipleks. vertigo postural. sklerosis multipel. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. trauma. e. sklerosis multipleks. 3. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. Tumor. arteriosklerosis. akan diproses lebih lanjut. neurosa cemas.Vertigo servikalis. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak.serangan akut. sinkop. di samping itu. dan proprioseptik. rudapaksa dengan perdarahan. abses. lues. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. Anamnesis. b. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. tumor. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. Dalam kondisi fisiologis/normal. Kelainan endokrin: hipotiroid. b. e. 3. kelainan kardiovaskuler. Penyakit SSP : a. Telinga bagian luar : serumen. Inti Vestibularis: infeksi. tumor.Radiologik dan Imaging . DIAGNOSIS 1. III. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. 144. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. c. kelainan endokrin. 5.ENG . Infeksi : meningitis. berangsurangsur mereda. unsteadiness. Pemeriksaan tambahan : . kelainan psikis.Audiometri dan BAEP . TERAPI Terdiri dari : 1. hipoparatiroid. Kelainan psikiatrik: depresi. 6. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Pemeriksaan khusus : . neuritis n. 3.Pemeriksaan otologik . cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. Terapi kausal . Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. dan EKG. lesi labirin akibat bahan ototoksik. trauma. ensefalitis pontis. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. tumor serebelopontin. 2. stenosis dan insufisiensi aorta. Trauma kepala/ labirin. 2.Hipotensi ortostatik . fobia. Hipoksia – Iskemia otak. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

7 2. dengan harga obat-obatan yang mahal. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis. tanaman teh Camellia sinensis O.49%.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. var. 52 Cermin Dunia Kedokteran No.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen.5. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. Departeman Kesahatan RI. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. Juga karena bahannya mudah didapat.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. yaitu sinensis. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. assamica dan irrawadiensis. 2004 . dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C.3 Menurut Graham HN (1984). anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. irrawadiensis.Var.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). kanker. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3).K. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung.5.3 Selain itu di negara-negara Barat. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim.K. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. kariostatik serta hipokolesterolemik. assamica. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas.2 Di masa sekarang. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 144.

kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC).enzim. 12.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1.43 1. kemudian diaduk selama 3 menit. Komposisi teh hitam(3) No. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. 7. 30.84 4.01 0. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. 4.99 3. 1. 11.20 8. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l.42 20. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu. selanjutnya digulung dan dikeringkan. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang.02 0. 16. 5 wanita.09 4. 9. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten. 2. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4.23 4.74 6. 8.56 0. 12. 28.7 Tabel 2. 24.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0.93. 3. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%.477 µmol/l (kisaran 4.50 0. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki.90 1. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda. Daun teh dilayukan lebih dahulu.21 6.82.83 4. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No.62 35. 144.31 0. 29. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2.68 12. 120. 13.03 0.86 1. 19. 6.25 1. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). 7. 20. epigalo katekin 3.85 0.7 3. 8. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme.50 0.50 0.13 3.57 3.75. setelah 60. 22. epigalo katekin galat sebesar 4.16 4. 17. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. 14. 2004 53 . 2. 13. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. 1.98 5. Apabila proses fermentasi telah selesai.110 µmol/l). 25.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek.275-12. 9. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434. 5.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. 15. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4.3.17 1.21 3. 10. 21.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2. usia rata-rata 21. 11.70 5. 4. Komposisi teh hijau(3) No.0). 3.70 0.15 0.29 2. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus. 14. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir. biasanya dilakukan selama 2-4 jam. 10.74 0.40. 26. 6.69 0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah.09 0. 23. Pada proses ini. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. Setelah 4 jam berpuasa.9.63 Trace Trace Trace 2.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C). 18. 27.1 tahun. indeks massa tubuh: 24.79 4. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri.96 percobaan 430 µmol/l. 5.

Jakarta. Sellers TA. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. 2.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. termasuk pada wanita post menopause. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. Yanai F. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Baraas F. Am J Epidemiol.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Goldbohm RA. Lee MJ. et al. Van Steenis CGGJ. 23. Ikeda N. Shimamura T. J Nat’l Cancer Inst. Tjitrosoepomo G. 1996. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. cet ke-1. Hyderabad. 17. Doyle TJ. 1994. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Prima Kardia Pers. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. Kushi LH. cet ke-2. McLaughin JK. 6. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. Jufri M. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. National Institute of Nutrition. 16. Eur J Clin Nutr.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. Jakarta. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Preventive Medicine. 4. Environ Health Perspect. Substansi seperti tanin (dari teh). Japan. 144 (2) : 175-82. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Hertog MG. 1989 .20. Nutrition News. 2004 . 18. Consumption.14-18 Diperkirakan. Mou TH. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Sutarmaji A. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. 1990. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Cancer Research 1992. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. Yang GY. FMIPA UI. O2•− . Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Chen L. Langseth L. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Gershon-Cohen J. Shinchi K. Prog Clin Biol Rev. 1-495. 13. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).54 g /200 g. 173 : 304-312. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. Jakarta. baik teh hitam maupun teh hijau. hal ini dapat dijelaskan. 2000. Graham HN. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. Kono S. Tuminah S.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. 1997. 5. Jakarta. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. 15. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. cet ke-1. Kono S. ILSI European Monograph Series. 1-477. Yang CS. 8. 9. In Liss AR. 2001 : 1-15. and Health Effects. Popkin BM. 14. 11. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. Letters in Applied Microbiology. Drewnowski A. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. 26 (6) : 769-75.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. Van den Berg H.19 Selain itu pada wanita post menopause. Selain itu. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. Blot WJ. 20. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. dan radikal peroksil. UGM Press. 1997 : 82-3. 1999 : 11-2. 1987 . Bag. Shinchi K. Astuti M. Dirghantara E. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. 55(2) : 31-43. Fluorine in Tea and Caries in Rats. Yogyakarta. Baraas F. Brussel: 1995 .05). Antioxidants. Preventive Medicine 1992. 1997. 88 (2) : 93-100. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Chow WH. kolesterol LDL. cet ke-4. 1996. McClendon JF. Nature 1954. Zhi YW. 1-24. Jufri M. Van-den Brandt – PA. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Brants HA. Zheng W. et al. Crit Rev Food Sci Nutr. Toda M. Nakayama M. Pradnya Paramita. 24. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. FMIPA UI. Imai K. Okubo S. Jakarta. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. 1999. Potensi Antioksidan pada Teh. Ferraro T. Folsom AR. KEPUSTAKAAN 1. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Nair MK. 1997. 3. et al. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. 313 : 229. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Van Het Hof KH. 1998. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. 6 (3) : 128-33. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. Van-Popel-G. Nutr Rev. Nakachi K. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Thorpe G.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. Oxidants. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. Teh juga telah diuji teratogenik. 52 : 389-95. 19. Hong CP. 7. Biokimia FKUI. 1984 : 29-74. 144. 20 (2) : 1-6. Imanishi K. 10. Cermin Dunia Kedokt. Maxwell S. Wakabayashi K. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. 12. and Disease Prevention. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Weststrate JA. 52 : 1162-70. 21 : 526-31. BMJ (27 July) [Medline] 1996. 37 (8) : 739-60. Suga K. 1994. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. body weight. 1996. J Epidemiol.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. 21. Jakarta. 128: 49-51. Prima Kardia Pers. 11 : 3840. 22.

April 2001. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. Sri Susilowati.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. (Tabel 1). Faktor. demam akut 2-7 hari. 2001) . Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. dan mengisi informed consent. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. dirawat di rumah sakit. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50.871 kasus dan 1. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. 144.414 kematian(1). Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. 2004 55 . Cermin Dunia Kedokteran No. Departemen Kesehatan RI. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun.

7 100. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding. Berita Epidemiologi. 2001.74 3. tahun 1998: 36.50%. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21.9 66. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. 2004 .55 1. Am. 56 Cermin Dunia Kedokteran No.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.82%.3%. 3.53 1.74 31.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51. Desember 1999.Tabel 1. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. Tabel 2.24%(5). Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .16 6.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. Jakarta.7% negatif. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI.1:1). ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus.3% positif dan 48.42 3. Sub. tahun 1997: 34.6849). Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51. 1958. Muchlastriningsih E et al.5% . Departernen Kesehatan RI 2000.Jen. Med. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. yaitu: tahun 1994: 34.Dit. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan. Cassals J. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes.44 10. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. Tabel 3. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. 2. Data Kasus DBD 1999. tahun 1995: 50. KEPUSTAKAAN l. Trop. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.4 100.21%. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998. Clarke DH.3 48. Hyg. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) .7% dan derajat II sebanyak 44. tahun 1996: 32. Profil Kesehatan Indonesia 1999. Tabel 4.7 11. Surveilans Dit.61 100. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. 4. penderita berada pada derajat I dan II. J. 7: 561. hasil uji HI positif sebesar 51. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.19%.53 0. 144.07 1. 5. 2000.21 0.

suhu 2-8°C.5%/minggu). terlindung dari cahaya. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. 3000 IU dan 10. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT.co. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. Suprapto. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. Jangan dibekukan dan dikocok. sakit kepala.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. • Hipersensitif terhadap human albumin. meskipun dapat dihentikan setiap saat.00-15. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. Fax. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. : (021) 428 73680 Website : http://www. edema. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia.30) Cermin Dunia Kedokteran No. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. 10. Senin – Jumat (07. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. Letjend. pruritus dan urtikaria. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. 144. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. Gedung Enseval. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%.: (021) 428 73888-89. 1998. seperti: FeSO4. 3000 IU. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. mual. Jakarta – Indonesia Tlp. Jl.000 IU. diare. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. 2004 57 . KALBE FARMA Tbk. fatigue.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. artralgia.kalbe. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula).

144. Sumber: http://ivertigo. 1990). 2004 ./hearing/hrexam.net.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral. Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.

Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. (Dr. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. dll. dll. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). sifat website pun sudah mulai berubah. 3. contohnya: computational physics. dental informatics. aspek keamanan dan legalitas. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. computational linguistics. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. computer in medicine. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. 2004 59 . Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. artikel kesehatan. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. 4. dll. medical information science. teleradiologi. atau artificial intelligence. radiologi. seperti: tanya jawab. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. seperti: proses pendaftaran pasien. dan informatics.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). health informatics. information processing. Biaya dan keuntungan sistem informasi. Sebaliknya. Akhir-akhir ini. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. dll. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. dan informatika terapan. telekardiologi. dll. 144. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. 5. merawat data. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. dr HM Goh. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. melihat rekam medik dll. informatika yang berorientasi pada aplikasi. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. seperti: computer science. dan beberapa area yang lebih spesifik. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. proses kontrol. 2. kedokteran nuklir.

mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia.co. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. RS Mitra International.id. Mohammad Taha bin Arif. APAMI Board Meeting. membuka acara eHealth Asia 2004. Demikian dikatakan dr. 2004 . menghisap rokok.Jakarta. dan infeksi. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. bisa diakses di http://www.PD-KGH. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. dan sebagainya. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Hotel Acasia. J. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang.co. J. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. Wakil dari Indonesia. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. 6 April 2004. Laporan lengkap dari simposium. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Tele-education kesehatan via satellite. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. SpPD-KGH. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta.Pudji Rahardjo. RSIA HERMINA Daan Mogot . yang di klik rata-rata 2.PD-KGH. Sp. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Kuala Lumpur. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. batu ginjal.043 orang. menghisap rokok. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. batu ginjal.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur.kalbe. 6 April 2004 Pada malam hari. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. 144. (tampak dalam foto dr. dan Portal Kedokteran www. dan infeksi.Hj. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Demikian dikatakan dr. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No.kalbe.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. Sp.Pudji Rahardjo. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. eHealth Asia 2004. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern.000 kali per hari. Dalam sambutan tertulisnya. setelah menyelesaikan acara ilmiah. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. Pudji Rahardjo. Erik Tapan. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. Studio mini Jakarta Eye Center.id/seminar. Kuala Lumpur. Untuk itu kita jangan sampai lengah. Hotel Acasia. dan sebagainya. 6 . dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia.

Dr. SpS(K)). Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. Sp.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta.Jakarta. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM.PD.5 %) dan wanita 11. Hotel Borobudur Jakarta. dr.26 Mei 2004. dr. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. 25 . 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). tetap menjaga kelangsungan fungsi usus.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. karena dapat mencegah atrofi villi usus. 27 . di Jakarta selama 2 hari.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. 24 Mei 2004. Jakarta. Bali International Convention Center. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. 23 . KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. Seminar IT PERMAPKIN.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. K. dr. Hotel Mandarin Oriental . Jakarta. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. Dr. Demikian dikatakan dr. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. Ed. MM dan Prof. 144. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. termasuk dari Kalbe Group. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. Prof. Jakarta.16 % (WKNPG : 2.02 % (WKNPG : 5. 25 . lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. SpPD. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Jakarta. menjadi terapi yang bersifat spesifik. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. H. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Slamet Suyono.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. Sebabnya. Amiruddin Aliah. Seminar Integrated Hospital Marketing. Danial Abadi. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. SpS(K). Demikian salah satu yang ditekankan Prof. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. enterosit dan kolonosit.9 %). Zubairi Djorban. radiasi dan operasi. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. Arifin Limoa. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. SpS(K). SPS(K). KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. Hotel Shangri La Jakarta. Menurut Budi Sampurna. 2004 61 . dari kiri ke kanan: dr. Sie. Demikian dikatakan Prof. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN).

93. Setelah 90 hari mereka dievaluasi.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. 1. 0. Lancet 2003. tinggi badan.bb/hari selama 5 hari.4 g IVIg/kg. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. p<0.8. sex. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. 116 di antaranya juga diberi 500 mg. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).4. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah. baik di tempat tidur (odds ratio 2. 0. 2004 .9) dan keluhan muskuloskeletal (0.97 – 3.8). Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1.4-0. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor.0 (paling keras) sampai 10. 362: 1699-707 brw 0. Lancet 2003.52. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. Daerah frontal. kemudian dimatikan selama 12 minggu. 0. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi.95 (95%CI: 1.10.24 – 8.6. 31 di antaranya fraktur femur. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk. 0. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0.13 – 4.7 tahun. sepanjang tahun 1997-2000.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2. Sekelompok peneliti di Montreal.9).0 (paling empuk). temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition).3.7.8) dan bukan perokok (0.50 – 2.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.7. Lancet 2003. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami.93) maupun saat bangkit (1.9 ± 0.5 – 0.6. selama 48 minggu. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal.36. 95%CI: 1.2 – 0. 0. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. Lancet 2004.24 – 3.9) di kalangan bukan perokok.5.89. 0. 144.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya. risiko frakturnya 4. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.7 – 0. 95%CI 0.0001) tidak tergantung usia. 0.059). 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%). mereka di amati selama rata-rata 1.6.44 kali (95%CI: 2. Sejumlah 233 pasien mendapat 0. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita. berat badan.3 – 0. p<0.9) dan keluhan mukosal (0. Selama periode studi.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0. juga di korteks temporal anterior bilateral.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras.99) juga terhadap keluhan respirasi (0. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre. nyeri saat berbaring (p=0.5 – 0. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2.

p=0. demikian juga risiko infark miokard non fatal. jalan kaki.40. p=0. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo.003).15. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. 95%CI: 0. Di akhir percobaan. risiko infark miokard non fatal.55-1. 0.09). Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. Pemantauan dilakukan setelah 12. Saat gejalanya mulai memburuk.88.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan.bb sulfametoksazol iv dan 2 g. logrank x2 5.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. (OR 1. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya. data diolah dari 207 (53%) peserta. p=0.15 – 1.011).65. Lancet 2004. p=0. p=0. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004.4. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.71).72. 95%CI 0. 2004 63 . N Engl J Med 2004.9. dan pasien menolak punksi lumbal.93.07-3.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya.68. Kematian.18 – 0. 6. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna.27-9. 95%CI 0. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera.62.64.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . OR=1.06). 406 sebagai kontrol. 144.46 – 0. BMJ 2004. 48 dan 60 bulan kemudian.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. stroke non fatal.bb trimetoprim. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut.35. N Engl J Med 2004. p=0.97-2. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol. emboli paru.41.56-0. Risk ratio penggunaan prednisolon 0. 100 mg/kg. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. 24. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. 36. 95%CI 0.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan.92.91.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo. p=0.03).89 (95%CI: 1. 192 menggandakan dosisnya.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. 95%CI 0.95 (95%CI 0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo.

144. B B 5. 3. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . 9. 10. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. 4. 6. 8. E C 4. JAWABAN RPPIK : 1. 2004 . E A 3. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. 7.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. 10. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. 9. 5. D D 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful