2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. 1st ed. satu muka.id/cdk . Bila tidak ada.DR.O. Hal 174-9.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Drg. DR. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . Bila terpisah dalam lembar lain. 1984.Prof.co. Swartz MN. Letjen Suprapto Kav. DR. Sjahbanar Zahir MSc. Temprint http://www. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. (021) 4208171.co. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. Philadelphia: WB Saunders. Gedung Enseval Jl. Suprapto Kav. Sri Oemijati. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Cermin Dunia Kedokt.Dr.co. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. kedokteran dan farmasi. . Jakarta 10510. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. Cempaka Putih. 4.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. 1990. London: William and Wilkins. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. 90 : 95-9). Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Tlp. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Dr. Jakarta 10510 P. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. PELAKSANA Sriwidodo WS. sebutkan semua.457-72. Dr. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. SpOrt. Dalam: Sodeman WA Jr.913X KETUA PENGARAH Prof. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. bila menggunakan bahasa Indonesia. 64: 7-10. . Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA .co. Kirby RL.Prof. Box 3117 JKT. eds. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran.4208171 E-mail : cdk@kalbe.H. Tlp. Baltimore.kalbe.Dodi Sumarna . Dr. Budi Riyanto W. Contoh : 1. SKM. akan diberitahu secara tertulis. 021 . Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta .kalbe. Drg. Erik Tapan . E-mail : cdk@kalbe. 4. Weinstein L.Prof. Bagian Periodontologi.id http: //www. 3.D . Siti Wuryan A Prayitno.Medical Rehabilitation.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Pathogenetic properties of invading microorganisms. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. P. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Kalbe Farma Tbk. 1974. Hendro Kusnoto.Prof.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. Soebianto PENCETAK PT. Gedung Enseval. hendaknya diberi keterangan mengenai nama.Prof. 2. Basmajian JV. Boenjamin Setiawan Ph. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Jl.O. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Laboratorium Ortodonti MScD. Oen L. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Bila pengarang enam orang atau kurang. Cempaka Putih. . diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Sodeman WA. Box 3117 JKT. bila tujuh atau lebih. PhD. . Letjen.

lys bso. 47-51 ppi. University of Indonesia. Medan. 13-15 dmr. Faculty of Medicine.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno.2004: 144. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. in Indonesia it is found in North Sulawesi. 144. Cermin Dunia Kedokt. Yvonne Siboe Dept. and retinoic acid are still debatable. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. particularly at the anterior commissure. Cermin Dunia Kedokt.fih Vertigo is a common complaint. Jakarta. North Sumatera and Bali.raa. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. 2004 . Jakarta. 144.2004. Lia Amalia Dept of Child Health. chronic cough. ribavirin. North Sumatra. L. can be due to vestibular system disorder. recurrent respiratory infections also may occur. Cipto Mangunkusumo General Hospital. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. There is still no accurate and successful management method for this problem .2004. of ENT. referred to dizziness or a sense of imbalance. Cermin Dunia Kedokt. paroxysms of chocking. treated with acupuncture and showed good improvement. The role of medications such as alphainterferon. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. of Acupuncture Dr. 144. Conventional treatment is still not satisfactory. The mainstay of treatment is surgical ablation. Adam Malik General Hospital. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. Firmansyah Dept. Rizalina A Asnir. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. acyclovir. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life.

dilakukan operasi . Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.7.7.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.2.1-5.10.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.7.11 3) Sinusitis kronik1.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.7.11-14 dan di negara sedang berkembang.11.1-11 Secara klinis. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.1-5. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. rinitis krustosa. sosial ekonomi rendah.12.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.12. Kokobasilus. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.1. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.7. 4 wanita dan 2 pria.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4. 144.11-15 SINONIM : Ozaena.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti.4.1-5.1-5.5. 7.11-14 dan di negara sedang berkembang. Adam Malik. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah. sehingga pengobatannya belum ada yang baku.11.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.20 Tetapi dari segi umur.12.11.10.7.7. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta.2.14.12.11-15 terutama pada usia pubertas. 2004 5 .18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.9. maka pengobatannya belum ada yang baku.1-5.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.7. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.7.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.12.16.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.12. Bacillus mucosus. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda.5.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.2.5.9.1-4.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.17 Cermin Dunia Kedokteran No.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4. Kata kunci : rinitis atrofi. umur berkisar dari 10-37 tahun.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong. vitamin A1. Diphteroid bacilli. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.7.11-15 terutama pada usia pubertas. rinitis fetida. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.7. Kuman lain adalah Stafilokokus.11.9. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.

terdapat anosmia yang jelas. rinoskleroma dan tbc.10 dan rinitis atrofi sekunder. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.9. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. c.5. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. atrofi konka.9. adanya krusta (kerak) berwarna hijau. b. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. midline granuloma.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5.16 12) Golongan darah. mukosa hidung tipis dan kering. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas.3. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. sekret purulen dan berwarna hijau. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau.4 g Na diborat 28.4. pemeriksaan darah rutin. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. terlihat rongga hidung sangat lapang.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik.15.7.12. keluhan anosmia belum jelas. ingus kental berwarna hijau. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b.3. Campuran : Na bikarbonat 28.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3.19 dan fibrosis dari tunika propria.12. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.10.10. Antara lain : a. epistaksis dan hidung terasa kering. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis.4.1. Larutan garam dapur d. krusta sedikit. rinitis kronik lepra. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. miasis hidung. jika krusta diangkat. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul).3 2) Obat cuci hidung. rontgen foto sinus paranasal. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a. mukosa tampak kemerahan dan berlendir.4.1. faringitis. sinusitis. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. 2004 . PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. lepra.11.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.8.13 . rongga hidung tampak lebar sekali. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala.4 g NaCl 56. kadang-kadang kuning atau hitam. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. gangguan penciuman (anosmi).16. sakit kepala. krusta banyak.17 10) Herediter5. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.11 Dapat berupa: perforasi septum.4. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. mukosa makin kering. Selain faktor-faktor di atas. hidung pelana.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. dapat ditemukan krusta di nasofaring.1.oleh karena itu secara patologi.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.5. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel.1-5. dilakukan dua kali sehari. warna makin pudar.3.3. 144.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.2. Mantoux test.21 KOMPLIKASI4. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. pemeriksaan Fe serum.

5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. Jakarta: EGC. Nose and Throat Diseases.A Synopsis of Otolaryngology. Hagrass. Farrington WT. bahan sintetis seperti Teflon. Ujung Pandang. Mangunkusumo E. 6.4. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. Kader MA. 349-51. Montgomery WW. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 1997. Hilger PA.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. 229. New York : Georg Thieme Verlag. 1985. Samiadi D. natrium bikarbonat. 1980.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. 4) Vitamin A 3 x 10. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. Naumann HH. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Groves J. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. J Laryngol Otol 1990 . Lobo CJ. Sherief SG. 26-7. Becker W. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. 16. Mewengkang N. 1993. 23. 499. 1986. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. Textbook of Ear. Ballenger JJ. Pfaltz CR.Hidung. Jakarta : FKUI. 12. Infective Rhinitis and Sinusitis. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. New York : Georg Thieme Publishers. 492. Pitfalls. Edisi ke 3.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. Kumar S. 193-411. Vol. Sutomo.Nose & Throat Diseases and Head . 90-2. 1992.Chen C. 113-4. 6th ed. Soetjipto D. Wood DG. Technique. 1993. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita.10-14. Weir N. 22. Sydney. J Laryngol Otol 1998. campuran Triosite dan Fibrin Glue. A Pocket Reference.106: 702-3. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. 9. Etiology and Management. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . 112 : 543-6. Ramalingam KK. Jilid 1. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. Samsudin. 1996. Bertrand B. Hiranandani NL. 144. 1994. Surgery of the Upper Respiratory System. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. Sreeramamoorthy B. 11. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. dermofit. Singapore : PG Publishing. 2nd ed. Gamea AM. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. 1-4.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. 1997. Cermin Dunia Kedokteran No. 14. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Doyen A. 173-82. 549-55. 218-21. 106 : 652-7. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. 381-2.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat.5. 1403-6. 10-5. 14th ed Singapore : ELBS. Ear.J Laryngol Otol 1992 .Hsu C. 10.3) Obat tetes hidung . Baser B. Hartley C. Maran AGD. Indication. 20. Penyakit Telinga . Tenggorok . Elloy P. Ujung Pandang: 1986. Edisi 13. Jiang R. 202-5.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Naumann HH. Madras : All India Publisher. Massegur H. Mangunkusumo E. 264-7. Oxford : Butterworth . 218-9. 221-2. Fundamental of Ear. 576-80. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. 1987. Rinitis Atrofi. 2004 7 . J Laryngol Otol 2000. 5.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. diobati sampai tuntas1-5. KEPUSTAKAAN 1. Throat and Ear. 18. setelah krusta diangkat. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. tulang. oestradiol dalam minyak Arachis 10.Heinemann. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. Hidung . 1996. Nose and Throat Diseases. Disease of the Nose. Calcutta : The New Book Stall. 40-1. 114 : 254-9. 2. 91-3. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. 104 : 404-7. 4th Bristol:Wright. Disease of the Nose. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. maka pengobatannya belum ada yang baku. Oleh karena etiologinya belum pasti. THT FKUI. 4/8/26-7. Laryngoscope 1996. A Short Practice of Otolaryngology. 15. Dalam : Boies (ed). Head and Neck Surgery. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. Maqbool M. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. 8. Jakarta : FKUI. C. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Elhamd KA. Kepala dan Leher. 12 : 325-33. Alih Bahasa : Wijaya. Buku Ajar Penyakit THT. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. 1992. 17.Edisi 6. 1997. 21.Atrophic Rhinitis-Pathology.000 U / ml. Grewal DS. Am J Rhinol 1998 . Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif.1.Neck Surgery.11-14 Sinha. 3. Throat and Ear and Head and Neck. 13. 19. 1996. 1994. 4. Sayed RH. Colman BH.Gray RF. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. 7.

Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. pemeriksaan fisis. infeksi saluran nafas kronik.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. walaupun tidak ganas. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. tetapi lokasi tersering adalah laring. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. rapuh.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti.4. kelainan imunologis.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. anak. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. berwarna kemerahan. hidung. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. higiene yang buruk. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. Kata kunci : papiloma laring. 144.2. 2004 . trakea dan paru. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. dan pertumbuhannya eksofilik. Cipto Mangunkusumo. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. mudah berdarah. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru.

Jackson I ditandai dengan sesak. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. Obat yang digunakan antara lain antivirus. dan podofilin topikal. dan pasien tampak mulai gelisah. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut.. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. mikrokauter. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. dan stridor inspirasi. dan kelainan imunologis. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring.8. dan mudah berdarah. tetapi tidak untuk lesi parenkim. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial.3. steroid. kriosurgeri. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah.5-18 tahun.17.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. sesak. retraksi suprasternal. Basheda dkk.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. carbondioxide laser surgery. dan terkadang gagal napas.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. serta pertumbuhannya eksofilik. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik.18-20 c. laringofissure. b. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. tetapi ada faktor lain yang berperan. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi.7. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. epigastrium. rapuh.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. stridor inspirasi ringan. paralisis pita suara. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. mikrolaringoskopi dengan diatermi. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. asma bronkial. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2.18 d. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. kemerahan. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. seperti kembang kol.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. 2004 9 . dan sianosis lebih jelas. 144. nodul pita suara atau kista laring kongenital. Cermin Dunia Kedokteran No. sianosis ringan. laringomalasea. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. mikrolaringoskopi langsung. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. infeksi saluran napas kronik. pemeriksaan fisis. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. hormon (dietilstilbestrol). tanpa sianosis. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976.

et al. Mounts P. 13. Laryngoscope 1998. Agung IB. 121:1386-91. 7. 18. Yasin AR. 100:1458-64. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Werkheven JA. 101:1162-6. 14. Lundwuist P. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. Smith RJH. Smith EM. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Rimell EM. Steinberg BM. 308:1261-4. Haglund S. 107:327-32 Green GE. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. 107:915-47. Topp WC. Laryngol and Otol 1994. ekstirpasi yang tidak sempurna. THT FKUI. Papilloma of the larynx in children. 33:1-12. 98:1324-9. 1977. Bajtai A. Elo J. 33:187-207. Laryngoscope 1992. tetapi dapat meluas ke trakea. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Cantell K. 119:554-7. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. White A.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. KEPUSTAKAAN 1. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. Shikowitz MJ. 2. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. dan paru. 3. Arch Otolaryngol 1981. Hamilton. 1982. Birzgalis AR. 12. 15. Hidvigi J. Chest 1991. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. A preliminary study. 108:226-9. Fairman DH. Abramson AL. Orlowski JP. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. h. Recurrent respiratory papillomatosis. Pediatric respiratory papillomatosis. Haliwell M. Otolaryngol Clin N Am 2000. Winkler B. Abramson AL. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. Kohlmoos HW. Leventhal B. Mehta AC. Harley C. Kashima H. diduga akibat tindakan trakeostomi. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. 16.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. 6. Dere H. Laryngoscope 1987. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Fagan JJ. 115:322-5. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Arch Otolaryngol 1995. Steinberg BM. Late recurrences of laryngeal papillomatosis.249-60.h.669-75. de Boer G. . 5. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. 102:580-3. 8. Derkay CS. Pignatari SSN. Laryngoscope 1997. Prognostic role of viral typing and cofactors. 97:678-85. Losin. 11:242-52. 144. 9. Derkay CS. Pou AM. 4. Ossof RH. Bristol General Hospital. 122:942-4. 19. Erisen L. Shoemaker DL. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. 102:300-10. Myers EN. Laryngoscope 1991. N Engl J Med 1983. The Manchester experience 1974-1992. Schneider PS. Steinberg BM. bronkus. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study.13 Meskipun jarang. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Mulloly VM. 20. 2004 . 10. Arch Otolaryngol 1995. Otolaryngol Clin N Am 2000. Bashida SG. Current Diagnosis and Treatment. Task force on recurrent respiratory papillomas. Gray SD. 17. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. 11. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Skripsi. Darrow DH. Bauman NM.

2004 11 .TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. maka epitel duktus juga ikut meradang.6%.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.5 tahun.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86.4. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya.3.10.5. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun. bagian tengah korpus hiod. dekade ke tiga 13.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.suprahioid : 24.4.4.4.intra lingual : 2.1% .13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.5 : . rata-rata pada usia 5.suprasternal : 12.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher. sehingga mengalami degenerasi kistik.1% . Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.1.1.4-10. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea. jika sering terjadi peradangan. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.9. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya. Adam Malik. merupakan 40% dari tumor primer di leher.5%.3.1.000 pasien anak.10. sehingga terbentuklah kista.11 Lokasi yang sering adalah1.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34. 144. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.13. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920.5.9. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.tirohioid : 60. pada dekade ke dua 20.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%.4%.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.10.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher.9% .

Simko MEJ. Buku Ajar Penyakit THT. 1997. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 381-2. Laryngol. Benign Tumors. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. 120 (5): 757-9. 144. Scheetz MD (eds. Waddell A. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 6th ed.submental : 2 .5. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. 760-7. Ransom ER.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. 1983 . KEPUSTAKAAN 1. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. Corry J et al. Colman BH. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Ballenger JJ. 114: 128-9. Aberrant thyroglossal cyst. Panje WR (eds. yaitu kista beserta duktusnya. 1. Kista brankial Lipoma1.. kepala dan leher hiperekstensi. 19. Jilid 1. 4. Congenital Neck Masses and Cysts.5. berbatas tegas. Head and Neck Surg. sampai tulang hioid. 12. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. Bailey JB. Disease of Nose. Johnson JT. Otolaryngol. 1362-69. Vol. Urben SL. Konsistensi massa teraba kistik. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Philadelphia : JB Lippincott Co. Otol. 2000. mudah digerakkan. kadangkadang lebih besar. eksisi sederhana. J. Lingual tiroid 2. Foramen sekum dijahit. Otol. Thyroglossal duct remnants.7. Maran AGD. Vol. 2004 . 2nd ed. A Handbook for Students and Practitioners. 10. 5. 13. Ellis PDM.). Hereditary Thyroglossal Duct Cyst.Otolaryngology. 1989. 755. 415-21. 1994. Suparjadi S. 1987. Hidung. Ujung Pandang. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. Philadelphia : WB Saunders Co. Singapore : ELBS. Tenggorok.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. 3. 1986. Cohen JI.Heinemann. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 1990. 1996. Damijanti T. Samsudin. 122: 1094-6. Laryngol. 4. bulat. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.11 Diagnosis Banding 1.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher.).1985. Benign diseases of the neck. Surgery of the Upper Respiratory System. 6. 14. Kohut RI et al. Kista dermoid 3. 7. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. 1996.2. 108 : 1105-7. Thawley S. otot lidah yang longgar dijahit. Throat and Ear and Head and Neck. 2.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Karmody CS. Vol. Massa Jinak Leher. Philadelphia : WB Saunders Co. Jakarta : EGC. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Robertson N et al. 295-6. Sobol M. korpus hioid.6. 1313-14. THT FKUI. Untuk fistula. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Edisi 6. Oxford : Butterworth . Philadelphia : Lea & Febiger. 183. Developmental Anomalies of the Neck. Leichtman LG. J. 88. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. benjolan akan terasa nyeri. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. posisi terlentang.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya.6.1. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. tidak nyeri. Pincu RL. Dalam Boies.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. Bluestone CD. O’Hanlon DM.infrahioid : 43 . aspirasi perkutan. Greinwald JH. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. 14th ed. 6/30/8-12. Edisi 13. 1997. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Branchial cleft anomalies. II. Dalam: Pediatric Otolaryngology. dibuat irisan memanjang di garis media. 2nd ed. Stool SE.9 Bila terinfeksi. Alih Bahasa : Wijaya C. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. Bila ada fistula. 2.suprahioid : 18 . Kepala dan Leher. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. Walsh N. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Saleh H. 11. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. 1987. 9. Oxford: Butterworth – Heinemann. thyroglossal cysts and fistulae. Penyakit Telinga. 1994. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. 8. Dalam : Head and Neck Surgery . Kejadian fistel ini antara 15-34%. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. antara lain insisi dan drainase. 5/16/14. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology.transhioid : 2 . 6th ed. Montgomery WW.

Rizalina A Asnir.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara. Adam Malik. radiasi dan pembedahan. Rumania. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.9. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. Guatemala.1.9. Kolumbia. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.1-7 Di Indonesia. trakea dan bronkus. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Salvador. 2004 13 . Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Rusia.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. Ukraina.1.1.2.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia. tapi endemik di beberapa negara di Asia.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. Cekoslovakia. 144.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif.8. Uganda.1. Nigeria. Sumatera Utara dan Bali.8. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis). Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). Amerika. India. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang.1.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia.7. Eropa dan Afrika.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.8.2. orofaring. Mesir. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. Philipina dan Indonesia. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah.2.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut. Sumatera Utara dan Bali.5. tetapi sering pada dewasa muda. Sumatera Utara dan Bali.6. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.2-4.11. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek.2 Belinoff melaporkan 94.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. subglotis.

8-11.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. Dimulai dengan cairan hidung encer. kemerahan. Kemudian terjadi invasi. histopatologi.14: . hiperplasi pseudo epiteliomatosa. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis.8 1. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.11.Rifampisin 450 mg/ hari . Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. serologi (test komplemen fiksasi. sering seperti rinitis biasa. Lepra b. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. test aglutinasi) dan imunokimia. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch.8. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz.2. 3. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari .15 Diagnosis Banding2. Atrofi. Pada stadium I. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. Infiltratif.710.2. Siprofloksasin. Stenosis.6. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma.Stadium III (Skleromatous.6. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik.Streptomisin : 0. Proses infeksi granulomatosa a. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . trakea dan bronkus. Klofazimin1.Stadium I (Kataralis. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. Sifilis.2.10 2. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. . . 144.1. faring. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. Bakteri : Tuberkulosis. Pada stadium II. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali.patologis yang khas. 2004 .3. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. sumbatan hidung yang berkepanjangan. Jamur : Histoplasmosis.Khloramphenikol. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas.5-1 g/ hari .1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. laring. limfosit dan histiosit. perluasan dan lamanya penyakit. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). dapat terjadi gangguan penciuman.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. Koksidioidomikosis c. Sarkoidosis 3.14. Russel body. bakteriologi. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk. Sporotrikosis.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.7. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak.12 1.7. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis.1. kemerahan. permukaan licin tanpa ulkus. mudah berdarah. radiasi dan tindakan bedah. sakit kepala. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2.8. tetapi hasilnya belum memuaskan.Stadium II (Granulomatous. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar.15 1. 2. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2. Blastomikosis.13. Dari pemeriksaan. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi. konsistensi padat.9.810.

Becker W.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm. Vol 17. Jilid I. 3. Ed X.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI.32/micro/v17n04. Wiratno dkk. 3.thedoctorsdoctor. Department of pathology. Ed VI.1 KEPUSTAKAAN 1. 1990. Oren I et al. 1994. 14. Desasouza S. h 457-66. Juli. faring dan telinga. Vol III.1. 5. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. 13. 1991. In A Short Practice of Otolaryngology. Buku Ajar penyakit THT. h 368-70. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung.162. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit.10. USA: WB Saunders Co. Rinoskleroma di RS. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Tjekeg M dkk.4. p. 1991. orofaring 2. Infectious disease of the paranasal sinuses. Dalam: Penyakit telinga. Balenger JJ. uvula. 1993. No 4. nose and throat diseases. htm Colman BH.129. New York: Thieme medical publishers inc. http//www. 15. Infective rhinitis and sinusitis. hidung.103.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . Great Britain: 1997. ed 13. 1990. Surabaya. 6. p. Vol IV. Cermin Dunia Kedokteran No. Laring. Hilger PA. Scleroma. Benign Tumours and Granulomas in Nose.1. Dr. 1997. Acute and chronic laryngeal infections. 11. Infections of the nose. 2089. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. Binarupa Aksara. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. Ed III. Jakarta.9 4. p. Sydney: March. 9. Nauman HH.htm.Sinus paranasal . kepala dan leher. Penyakit hidung. 12. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. 3. Agustus. Masna PW. kebutaan . Ramalingam KK. Monduzzi. Diseases of the nasal cavity. h 128-34. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. In: Otolaringology.14. Ed II. 7. h 210. PG Publishing.9. Wein N. p. 40. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. 1997. tenggorok. 603-7. Fried MP.afip. Ben-izhak O.com/diseases/rhinoscleroma.7. 4.Palatum mole. Pranowo S. Medan.Orbita : proptosis. http//www. 4. 10. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. ed IV. 1983. In Otolaryngology. Ed III. h 224556. Throat and Ear. 1851-52. Maran AGD. Montgomery WW. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. 1993. p. In Scott-Brown’s Otolaryngology. 61. Sreemamoorthy B. p. Dalam Boies (ed). 206-7. Kariadi Semarang. 2. In: Diseases of the nose. Ear. asfiksia dan kematian.muni. 16. Ed VI. Jakarta. 144. Longman Singapore Publ.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. Butterworth-Heinemann. Groves C. USA: WB Saunders Co. Vol III.atlases. atelektasis paru. 1980.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1.13. Organ sekitar hidung : . Chest. January. Suardana W. 8. ed I India: All India Publishers. http//www. Shapiro J. June 2000. Yigla M. Granuloma kronis pada muka. Chitale A. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Ahmad M. 2004 15 . Pfaltz CR. Wilson WR. 1998. throat and ear and head and neck. hidung.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Vol 1. EGC.

Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. seperti perokok berat. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. 144. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. kanker payudara dan kanker kulit. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. yakni 4. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. kulit hitam dan Hispanics. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. . Antara lain disebutkan faktor makanan. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. bangsa Korea. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini.7 kasus baru per tahun per 100.000 penduduk. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah.000 penduduk per tahun. diasin). di samping Mediteranian. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih.000 penduduk1. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. Cipto Mangunkusumo. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol.000. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. pola hidup. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Sebaliknya. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap.

Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV.5 per 100. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi.5 per 100. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18.000). Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. USG hati. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. seperti foto paru. debu kayu serta asap kayu bakar. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut.5 per 100. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. 2004 17 . Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Untuk menegakkan diagnosis. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). Pada 1966. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. Sedangkan pemeriksaan lain. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. terlebih pada stadium dini. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. capsid antigen dan early antigen. disusul oleh keturunan Melayu (6. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. 144. Selain gangguan motorik. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. telur asin. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr.000 penduduk). Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak.

No. Int J Cancer. Soetjipto D. Cancer in Asia and Pacfic. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Metode brakhiterapi. Ferlay J. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Parkin DM. Young J. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. 6. Epstein Barr virus. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. 52: 3048 –51. Pisani P. Henderson BE. Yusuf A. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. Syafril A. Ferlay J. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. France : IARC Scient. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. 1981. (Lihat lampiran/ halaman 19). yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. Nasopharyngeal cancer. ed. Parkin DM. and risk of nasopharyngeal carcinoma. p. bawah serta klavikula. Ho JHC. York: Oxford University Press. 7. p. IARC Press. 2004 . Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. Cancer Res. (Eds). In : Tjokronagoro A. Henderson BE. 4. YKI. Hildesheim A et al. 603 –18. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). Raymond L. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. 1990. bahkan setelah selesai terapi. Vol. 5. KEPUSTAKAAN 1. 144. 1992. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Susworo. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. 471–86. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. Himawan S. 2. Herbal medicine use. Yu MC. 80: 827–41. Ross RK. Lyon. Jakarta Indonesia 1988. Djakaria M. Whelan SL. 1996. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). N. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). karies gigi akan lebih mudah terjadi. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). 2nd. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. 143. Fachrudin D. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. 3. Publ. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. terutama pada kasus dini. Azis MF. Yu MC. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. Cancer Incidence in Five Continents. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. 1997. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 10: 15-24. Pengobatan radiasi. Cancer epidemiology and prevention.

Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 19 . Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3.LAMPIRAN : Gambar 1. 144. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.

Branhamella catarrhalis. 144. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam.3 %.04%. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”.1 %. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia.9 %.82%. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. usia 5-15 tahun 29. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. Departemen Kesehatan RI.11%. yakni sebesar 68. Branhamella catarrhalis 22. Streptococcus pneumoniae 3. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). Metoda penelitian cross-sectional. 2004 napasan atas maupun bagian bawah.5 % dan dewasa 23. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. termasuk Indonesia.8 %. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. Betalaktam. serta lebih dari 50% penyebabnya . 40% dan 80%.2%.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. 87. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. 53. Streptococcus sp.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang.5%. B.52%. Streptococcus β-hemolyticus. Streptococcus βhemolyticus 6.

11. kecuali terhadap Cefradin. 8. dan kotrimoksazol(4). Untuk kuman S.05) 2 (1.05%). Pseudomonas. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. Tabel 1. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. fermentasi karbohidrat. sakit menelan. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. 7.82) 5 (3. 2.4 % . khususnya terhadap kuman penyebab ISPA.93% dan 5. Escherichia.35%. yakni dengan mengukur zona hambatan. hiperemis. Proteus. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25.53) 2 (1.11%). Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. 10. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya.76) 1 (0. Streptococcus pneumoniae (3. 2004 21 . 3. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C.82) 4 (3. viridans sebanyak 54. sifat hemolisis agar darah.2%). Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.11) 5 (3.53) 1 (0. 4.2) 30 (22. dan uji-uji khusus lainnya. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. dan memerlukan terapi antimikroba.53) 2 (1. Antimikroba golongan betalaktam. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah.04%. Branhamella catarrhalis (22. 5. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. dan Haemophillus(2). 6. 144.9%). dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2). Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. yakni sebesar 68. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. Branhamella. berturut-turut 9. 9.9) 8 (6.46 %. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. Klebsiella.adalah virus(1). Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. Streptococcus non-haemolyticus (3.2 %. makrolida. Staphylococcus. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA.76) 1 (0.82%). B hemolyticus diperoleh 6. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. Streptococcus β-haemolyticus (6. 1. terhadap antimikroba golongan betalaktam. 12. Cermin Dunia Kedokteran No.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000).71 %. (Tabel 1). batuk.

Streptococcus pneumoniae 3. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT.33 0 0 0 0 20. 6. 1.33 3.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson.53 0. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini. Fachrudin D. 2.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68.0 20. Josodiwondo S.05 1.04 9. MKI 4 (2/3): 56-60.2%.67%. 2.05 )(10).52 87. pneumoniae Acinobacter spp.7 % dan 96. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia. sefalosporin 7.05 2. 1996. KEPUSTAKAAN 1.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.23 4.52 2. Streptococcus β-hemolyticus 6. Branhamella catarrhalis 22. 144. 2 (1): 6-12.76 0. 26.53 1.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. 60% dan 20%. 4. aureus Alkaligenes spp.12). 3. 9.04%. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala.48%. 5.0 80.5%. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi.82 3. 4. MKI 1987. 12. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3.82 3. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut . Cefoti = Cefotiam.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S.41 4. 5. Cefep = Cefepime. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin.Tabel 2. aeruginosa S. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. .2 22. Cefpi = Cefpirome.35 3.82 %.11 3. . Amx = Amoksisilin.. MKI 1996.7 %. β-haemolyticus S. . viridans B.82 30. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. Resistensi kuman S. Yeast (ragi) S. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya. Departemen Kesehatan R I. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. makrolid 15 %. catarrhalis S.0 %.9 %. 8. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. Cefrad = Cefradin. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. Ceftri = Ceftriakson.82%. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan.2 %.76 0. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi.viridans dan S.29 1.turut adalah Golongan B Laktam. Dwiprahasta I. pneumoniae S.57 5.93 6. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S. yakni sebesar 68. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.33 53. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. Abdoerachman H.53 1. amoksisilin dan ampisilin(2). Dirjen Binkesmas. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0. Makrolid dan Fluorokuinolon. Trihendrokesowo dkk. Sulb = Sulbenislin. 3. P. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan.04 %. aureus 0 %. Cefota = Cefotaksim.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. Tabel 3.23 0 3. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin.9 6. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2.87 5. 46(9): 467-76. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif.2 % dan 66. epidermidis PeG 2.7 %. 7. non-haemolyticus K. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No.11%.5 40.

Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Faks. Wibisono MY. : 021-4786 4646. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae.com Website : www. 1994. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.id Hotel Horison.id Bali International Convention Center Telp. Surakarta . Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika.id Karawaci.or. : 021-3928658. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. : 0751-37771.or. Padang Telp.co.id Bali.respina. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. : 022-2534115.com Hotel Sahid Jaya. Telp.: 021-79184052 Website: http://www. Telp.id Website : www. Batam Telp. 14:193-9.id Jakarta Convention Centre Telp. Surakarta. 6685006 Fax : 021-4535833. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt. Tarigan HMM. Suprihati.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. Sirot J. 7. : 021-330956. Bandung Telp.or. Jones A. Fax : 021-3914830 Website : www. Herman MJ. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.com.idai. : 0274-37430. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. 9.ac. rs.com/index.com. Slombe B. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Occurrence and Classsification.pluit@rad. Jakarta Telp.6. 5.or. Antibiotik Beta Laktam. J Internat Med Res 1986.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. 144.id Hotel Grand Hyatt. 10. 2004 23 . In : Rolinson GN. Bandung Telp.co. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. : 021-4532202. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Watson A. : 021-3919653. Beta Lactamase. 1988. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email. 12.1988. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. Sugito. : 021-5684085 ext. 6685070. 8.net Hotel Planet Holiday. : 022-2039086 / 2035042. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. : 0274-587555.3907703. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. 1242.org website : www. Batam Telp. Jakarta Telp.org KPP Bioteknologi ITB.pluit-hospital. Sirot S. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. 11. Fax : (021)-3913982 Website : www.net. Rai IB.kalbe.id Jakarta.net. Meeting on Respiratory Care Ind.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . roga@biotech. : (021)-3148610.internafkunand. Med Progr January 2003. Nukman R. Kariadi Semarang.id Hotel Sahid Jaya. Gedung AR Fachruddin.net.php Hotel Bumi Minang.idki. Tangerang Telp.or.com Web-site : www. : 021-31934636. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI .id Hotel Planet Holiday. Bali Telp.interna.obgyn-bandung. (eds). Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis.fkumy.itb. Yogyakarta Telp. : 0778-7024522. Saulnier P. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. Jakarta. : 0274-37430 Website: http://telmed. 6-17. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. Idajadi A. Laporan penelitian 1998. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. Hartono TE.

Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. cara yang digunakan untuk . Untuk itu. tengah. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Secara definisi. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. biasanya di atas 120 dB. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. alat-alat transportasi berat. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. Misalnya. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. dan lain sebagainya. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. Di telinga tengah ini. 144. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. penurunan kemampuan kerja. Anatomi Telinga Secara anatomi. sangat luas. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). dan dalam. Hal ini perlu diketahui. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar.

Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. pendengaran orang tersebut berkurang. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. pengeras suara. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). dsb). Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. di udara terbuka. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. 2). Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. atau kerusakan langsung organ Corti. 2004 25 . Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. kerusakan tulang-tulang pendengaran. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pada trauma akustik. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. Untuk menghindari kelelahan auditorik.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. 144. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. dan durasi. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. dengan kata lain. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. nilai ambang di atasnya. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. 3). Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. yaitu trauma akustik. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. dsb). maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. amplitudo. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Makin tinggi tekanan udara. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam.

jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. Untuk menilai ambang pendengaran. 4000. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. pengukuran impedance. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. dan sebagainya. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. 144. dan sebagainya. dan sebagainya. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. tes rekruitmen. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. . serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. disritmia jantung. Bila sudah terjadi kerusakan. 3000. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. spektrum suara. 2000. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. jenis kelamin. Weber. Pada skala frekuensi. Dari data observasi di lingkungan industri. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. Pada pemeriksaan fisik. dan 6000 Hz. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. Pemeriksaan telinga. getaran. Secara sederhana. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. durasi pajanan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. Namun perlu diingat. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. status kesehatan. meningkatnya tekanan darah. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. refleks pernapasan berupa takipneu. dan sering timbul tinitus. alat transmisi ke telinga. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. serta faktor-faktor lain seperti usia. trauma telinga karena agen fisik lainnya. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. frekuensi yang diuji. dilakukan pemeriksaan audiometri. hidung. spektrum bising. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. seperti faktor fisika lain berupa panas. hari ataupun lebih lama. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. berbicara dengan suara menggumam.setelah pajanan suara. dan pola pajanan temporal. durasi total pajanan. 1000. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang.

kondisi medis. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Jika dipergunakan alat bantu dengar. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. tanggal bekerja dan umur saat itu. barang atau jasa yang dihasilkan. riwayat pekerjaan. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. Suara yang asing. Penggunaan alat pelindung telinga. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). riwayat penyakit dahulu. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Pemeriksaan ini bersifat subyektif. riwayat pelatihan militer. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. keluhan utama. 144. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Selain itu. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. tinggi rendah dan irama percakapan. interupsi suara berulang. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. terutama pada lingkungan industri. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. durasi masing-masing pekerjaan. riwayat keluarga. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Cermin Dunia Kedokteran No. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini.

Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. Nilland J. KEPUSTAKAAN 1.uk/ environment/noise/health/page05.htm. 144. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. McGraw-Hill Book Comp. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini).gov. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Zenz C. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 2. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. New York : 1979. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. 2. In : Zenz C. 3rd ed. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. Occupational Medicine. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. February 6th. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. 2004. dan Hearing Conservation. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. http://www. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. 4. 2nd ed. Horvarth EP. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Edisi 5. St. Dickerson OB. Occupational Hearing Loss.defra. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. Mosby. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. 3. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. Food and Rural Affair. Louis : 1994 Soepardi ES. Handbook of Noise Control. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. (chief ed). Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. 2004 . Noise. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Harris CM (ed). Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. Iskandar N. Jakarta : 2001 Department for Environment. cermat. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut.penggunaan alat pelindung diri. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. In .

Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. tembakan. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur.1997). prevalensi NIHL 31. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. rerata akselerasi getar 4. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. Di Indonesia. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. Menurut WHO (1995). di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. suara katup mesin gas. 2004 29 . diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. 2.2 dB (Lusianawaty). Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. misalnya suara gergaji sirkuler. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. melainkan ada periode relatif tenang. 144. kipas angin. Di Quebec-Canada. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. gergaji sirkuler. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL.2m/dt2. dsb.1 – 108. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. suara katup gas. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. kebisingan di lapangan terbang dll 4.81% dengan paparan kebisingan 86.5 detik berturut-turut. 1000 atau 4000 Hz).16 %.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . meriam dll. suara dapur pijar. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di perusahaan plywood di Tangerang. mudah emosi.43%. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya.96 dB).14% dan gangguan keseimbangan saja 27. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. gangguan pendengaran saja 17.105 dB (Sundari.71%.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. Cermin Dunia Kedokteran No.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. 3. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000.

Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. 3.25 atau kurang 5. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. peningkatan nadi. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). Ketulian bersifat progresif. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. kelelahan. d. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. bising bernada tinggi sangat mengganggu. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. b.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. seperti letusan. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. c. ledakan dan Di Indonesia. gangguan psikologis.non-patologis . Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. Gangguan fisiologis Pada umumnya. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. kurang konsentrasi. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. susah tidur. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. 5. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. cepat marah. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. 144. 4.bersifat sementara . daya dengarnya akan pulih sempurna. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali.5 0.waktu pemulihan bervariasi . Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. 2004 . gangguan komunikasi dan ketulian. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. keselamatan tenaga kerja. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. seperti gangguan fisiologis. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. 1. Tabel 1.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. dan lain-lain. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. stres. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya.patologis . 2.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif.

kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. Bagi pengusaha Taat hukum. 3. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Problem dalam mendengarkan musik c. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. Berupa policy statement 3. Monitoring paparan bising 2. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. jadwal kerja . 6. 2. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. 2004 31 . Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. 144. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Tuli ini biasanya bersifat akut. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. ruang isolasi. Serta bisa mengurangi stres.lainnya. langit-langit dan lantai. cepat sembuh secara parsial atau komplit. Kontrol engineering dan administrasi 3. c. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Dilaksanakan oleh semua jajaran. mengurangi angka kesakitan. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. 5. 4. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). 6. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. 3. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. b. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. Dukungan manajemen 2. meningkatkan produktivitas. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. namun merupakan pedoman. 2. 7. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. hubungan baik dengan karyawan. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. Economic self-sufficiency handicap e. proaktif bukan reaktif. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Integrated dengan program K3 4. rotasi kerja. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. 1996): 1. 5. Problem komunikasi di tempat kerja b. kesejahteraan bukan santunan. 1994). tinitus. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. Bagi karyawan Mencegah ketulian. 1. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. mengurangi angka kecelakaan. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. Problem mencari arah/asal suara d. antara lain: 1. 5. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. Cermin Dunia Kedokteran No. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. bersifat menetap (irreversible). menunjukkan itikad baik. dan lain-lain). NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). misalnya : a. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan.

kecepatan putaran atau isolasi. Pre-employment 2. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. 4. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1.periksa data kalibrasi alat . Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. 2. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . diharuskan memakai . Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. 3. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). bila STS persisten atau membaik IV.jika karena penyakit.periksa tempat kerja . Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . 2. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1.Bila sudah memakai. b. tenaga mesin. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising.untuk baseline 14 jam bebas bising. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. Penempatan ke tempat bising 3. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. Exit Policy mengenai audiogram : 1. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. ukur tempat dan ruang kerja. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . . Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.paling lama dalam waktu 2 minggu . Mengatur jadual produksi 2. konsul THT Lakukan revisi baseline.setiap tahun dibandingkan dengan base-line .Bila belum menggunakan APD. ukur maximun dan minimumnya. berdasarkan lokasi tempat kerja.Bila perlu. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. Setiap tahun. beri petunjuk ulang .komunikasikan dengan karyawan tersebut . Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. Penjadualan pengoperasian mesin 4. Rotasi tenaga kerja 3. KONTROL . Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. yang sering juga disebut survei bising. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. mengencangkan bagian mesin yang longgar. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. 144. bila bising > 85 dB 4.periksa dokter . 5. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). pengukuran dengan peta. Annual monitoring 3. dan lain-lain. 2. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. atau menggunakan APD 2.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. 3. 2004 .periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . 4. SOP pengukuran harus ada dan jelas.. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Kecocokan. 5. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. bertujuan untuk : 1. konsulkan ke dokter THT . Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. 6. bila lebih dari 85 dB. menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. 2. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. Mengikuti peraturan III. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Base line atau data dasar : .bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). lakukan tahap selanjutnya c.I. contohnya : 1. memberi pelumas secara teratur. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. Evaluasi : . 7.

identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. PROGRAM AUDIT 1. Hasil pengukuran kebisingan. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. 2. 2. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. 144. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. misalnya pelatihan dan penyuluhan. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. Nyaman dipakai. 3.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. VI. Cermin Dunia Kedokteran No. dengan sasaran : 1.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. perusahaan harus menyediakan APD ini. Kemudahan pemakaian. 2. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. Audit Eksternal. Kontrol engineering dan administratif. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. biaya. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. 3. 3. 4. Beberapa tipe sumbat telinga : a. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. APD yang digunakan. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. Penyuluhan khusus. custom-molded type c. V. 2. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. formable type b. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. 5. 2004 33 . kesertaan supervisor dalam program. Tidak saja untuk melindungi pekerja. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. VII. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya.

10 Juli 2004 Website : http://telmed.Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 . 144.fkumy.

Bogor. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. perawatan luka operasi di stoma. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). Cermin Dunia Kedokteran No. humidifikasi buatan. sering saling tertukar. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. mengurangi efektifitas refleks batuk. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. 2004 35 . Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. bukan dari saluran napas bagian atas. pemeriksaan periodik kanul dalam. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Selanjutnya dikatakan. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. cara membersihkan kanul dalam. 144. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Berdasarkan permasalahan tersebut. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas.

mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. b). laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. Sebelum mengangkat kanul. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. Jika udara rumah kering. mungkin akan bermasalah. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. menggunakan lap atau kasa perban. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. sehingga perlu dilakukan pengisapan. 2). Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. saringan. kasa perban. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Cara membersihkan kanul dalam. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. sebagai berikut: 1). Beberapa jam pertama pasca bedah. penjepit. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Pada waktu ekspirasi. c). Sebelum melakukan pengisapan. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. Bila penderita bernafas spontan. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. dan cairan penggosok perak. Alat ini relatif lebih efisien. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. d). Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. b). Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). Akan timbul gangguan saat menelan. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. Dengan adanya trakeostomi. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. c). Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. jangan diberi tekanan negatif. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. 144. d). Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. panci bergagang. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Condensor humidifier. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Bila didapatkan sekret yang kental. siapkan alat-alat untuk resusitasi. 2004 .

rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. Gambar 1. Jika kanul dari perak telah memudar. 3).dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. 3). Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. 5). 1). Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. Setelah kanul dalam bersih. Angkat saringan dari panci bergagang. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. 4). dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. Gambar 2. Biasanya. didihkan kanul dalam selama 5 menit. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. 2004 37 . 3). oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. 4). 5). pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). 8). Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. 2b).2a). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Tarik kanul dalam ke belakang. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. Setelah air mendidih. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. kemudian bersihkan dan cuci. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. 144. ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. 2). Cermin Dunia Kedokteran No. dan tempatkan kembali saringan dalam panci. Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. 2). kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. tuangkan air dari panci. 6). oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. 7). Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun.

Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. 2004 . Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Bersihkan alat-alat dengan air sabun. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. 5). Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. 4). Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. 2). jika udara dalam rumah kering. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. 3). atau jika kanul teriritasi. 2). 3). Gambar 4. Lepaskan balon karet. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. tempatkan kasa di atas kanul. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. Gb. 4). Siapkan alat-alat. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. 144. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Di samping itu. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Jika mesin penghisap tidak didapat. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus.Cara melakukan : 1). semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap.4). Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi.

masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. Jika kasa tidak terlipat. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. cara membersihkan kanul trakea. Tracheostomy. menghisap discharge. throat and ear. A Textbook of ear. Bireell JF. 2. Paparella MM. 5th ed. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. merebus kanul dalam. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit.dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. 705-17. Me Dowall GD. In : Logan Turner's Diseases of the nose. Maran AGD. Bristol : John Wright and Sons Ltd. 6). 1). 1977 . Tokyo : Igaku Shoin Ltd. 1978 . Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. 5). dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. 2004 39 . Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. 4). 3). Adams GL. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. Tracheostomy. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum.5). 5th ed. Gambar 6. 144. panjangnya 6 inci. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. 1567-73. 5). Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. Me Klay K. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. Me Kailum JR. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. 2). KEPUSTAKAAN 1. Boies LR. nose and throat diseases. Cermin Dunia Kedokteran No. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. kasa 4 x 4 inci. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi.. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. 6). mengganti kanul.

Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. Complications and postoperative care after tracheostomy. 1955. Lee KJ. Co. 3rd ed. 1973. London : Butterworths. Steel PM. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. 11. 9. In: Paparella. 20. A preparation guide. Crawley BE. 1976 . Grooves. 95: 61-8. Wright D. Laryngo-tracheoplasty. 19.obgyn-bandung. Ann Otol 1980. Vol I. Ann Otol 1978 .. 1. Basic sciences and related disciplines. 13. 16. Bandung. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. London : Butterworths. Otolaryngology. 688-708. nose and throat. Lulenski GC. 107 : 114-6. (ed). 2nd ed. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. 4. 62 : 272-6. 6. 2nd ed. Basic sciences and related disciplines. Krikotirotomi. 144. 17. JAMA 1981.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Skripsi di Bagian THT/RSCM. 4th ed. The Otolaryngology board. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). Philadelphia: WB Saunders.3. 1971 : 31-61. Fundamental international techniques. Lulenski GC. Fujita S. Inc. Zorick FJ. 1973 : 170-96. Operative Surgery. 2004 . Vol. Tracheostomy and laryngotomy. Basic sciences. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. 18. In: Ballantyne J. Montgomery WW. 1979 . New York : Medical Examination Publ. 10. Arch Otolaryng 1981 . In : Ballantyne. Shumrick (eds). Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. Embriology and anatomy of the larynx. Evans CC. Scott-Brown's diseases of the ear. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Galood HD. Nose and throat. Toledo PS. Putney FJ. Philadelphia : WB Saunders Co. 88 : 589-97. 89 (suppl 73): 1-7. Shapiro RS. 1973. Shumrick DA. Tood GB. Montgomery WW. Olving JH. Siregar Z. Batsakis JC. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. Ann Otol 1975 . Evans JNG. 1973 . Otolaryngology. Ann Otol 1980. J Laryngol Otol 1981. Roth T. diaphragma and esophagus. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. vol I. Magilligon DJ. An atlas of head and neck surgery. Silicone tracheal canula. Paparella MM. 91: 355-61. 5. 15. Davies J. Feldman SA. (eds). 19 September 1981. Lore JM. (eds). Laryngoscope 1981. respiratory apparatus. Martin WM. Philadelphia : WB Saunders Co. Conway WA. 7. 14. 12. 84 : 781-6. 89 : 521-8. Vol II. 246 : 34750. 8. J Laryngol Otol 1974 . 87 : 99-108. Natvig K. Victor LD. Arch Otolaryngol. 242-8. An experimental study. 433-75. London : Edward Arnold Ltd.

serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. 144. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. Gambar 1.1) . unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness).TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. Bogor. 2004 41 . karena berjalan dengan kedua tungkainya. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. rasa oleng. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. tak stabil (giddiness. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh.

muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. 2004 . Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. 144. belajar dan daya ingat.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. 3. 5. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. vestibulum dan proprioseptik. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. serebelum) atau rasa melayang. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. nistagmus. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. mual dan muntah. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. Mabuk Udara 4. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. Skema Klasifikasi Vertigo 6. 2. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. (Skema) Oleh karena itu. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. 3). letak lesi dan penyebabnya. akibatnya akan timbul vertigo. timbul reaksi dari susunan saraf otonom. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. yang berkembang menjadi gejala mual. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan.(Gb. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System.

gagal jantung b. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. tujuh keliling. hipotensi. Dalam menghadapi kasus vertigo. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. kanamisin. paroksimal. kronik. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. salisilat. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. 7). Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. serebelum. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. Juga kemungkinan trauma akustik. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. goyang. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. Uji Romberg (Gb. c. Gambar 4. Cermin Dunia Kedokteran No. ketegangan. 2004 43 . Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Fungsi vestibuler/serebeler a. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. 144. hipoglikemi. kepala dan badan berputar ke arah lesi. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. hipertensi. berputar.duduk dan berdiri. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. hilang timbul. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. anemi. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. rasa naik perahu dan sebagainya. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. hipotensi. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya.batang otak. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. keletihan. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. penyakit jantung. Uji Unterberger. bising karotis. hipertensi. baik kelainan sistemik. vestibularis. progresif atau membaik. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. kongestif. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. penyakit paru juga perlu ditanyakan. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik.

9) Perhatikan adanya nistagmus. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. a. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.1. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Uji Babinsky-Weil (Gb.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. 144. 2004 . Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. Uji Tunjuk Barany e. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. jika ada gangguan vestibuler unilateral. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. Gambar 9.

Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. kampus visus. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. Foto Rontgen tengkorak. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. kemudian duduk tegak kembali. tahan selama 30 detik. Arteriografi. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. gangguan cara berjalan). lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. 2. iv im. dengan tes-tes Rinne. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. 2. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya).rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc.fungsi sensorik (hipestesi. leher. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. Gambar 9. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. bawah. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Sentral: tidak ada periode laten. Magnetic Resonance Imaging (MRI). VIII. Tabel 3. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. c.Elektromiografi (EMG). Weber dan Schwabach. tahan selama 30 detik. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. b. dan fungsi menelan. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. Stenvers (pada neurinoma akustik). dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). Pencitraan: CT Scan. a. 2004 45 . okulomotor. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. (Tabel 3).iv. berupa gerakan mata melirik ke atas. b.5 mg 1 dd 0. Antivert Phenergan. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). sensorik wajah. dan Schwabach memendek. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. 3.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. kemudian duduk tegak kembali. 144.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0.iv. otot wajah. SISI. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. Bekesy Audiometry. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. Pemeriksaan Penunjang 1. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. 4. pendengaran. Tone Decay. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). parestesi) dan serebeler (tremor.

Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. diuretik ringan bersama diet rendah garam. Syeban ZS. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. selain vertigo. hal. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. Vertigo. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. tanpa tahun.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Dalam: Joesoef AA. 144. Di awal sakit. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. 7. Joesoef AA. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. 3. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. Andradi S. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Perdossi. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. yang makin lama makin cepat. tanpa tahun. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). Seri edukasi. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. demikian juga gentamisin. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. Kelompok Studi Vertigo. 2002. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya.vestibularis. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. Monograf. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. diduga disebabkan oleh infeksi virus. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. 4. Diagnosis dan Terapi. 6. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. Aspek Neurologi dari Vertigo. KEPUSTAKAAN 1.. berhenti merokok.(eds. 2004 . Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. terapi profilaktik juga belum memuaskan. bisa alat dan saraf vestibuler. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. Duphar. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. Monograf. metronidaziol dan minosiklin. Patofisiologi. 5. membatasi asupan garam. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. Neurootologi klinis:Vertigo. Harahap TP. antiinflamasi nonsteroid. 14 Desember 1991.). asam nalidiksat. Sedjawidada R.1999. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. sedangkan kanamisin. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. tanpa tahun. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. 2. Obat penyekat alfa adrenergik. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. Tinjauan umum mengenai vertigo. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. diuretik loop.xiii-xxviii. Kusumastuti K.

pusing. termasuk di sini adalah : . Migren ekuivalen. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. mumet. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. . Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. otonomik (pucat. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. unstable). berlangsung beberapa menit atau hari. Labirin picu (trigger labyrinth). Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). rasa mengambang. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. 144. Arakhnoiditis pontoserebelaris. kelainan gigi/ odontogen.Vertigo posisional paroksismal benigna. Di antara serangan. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. penderita sama sekali bebas keluhan.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. kemudian menghilang sempurna. L. Epilepsi. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. 2004 47 . melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. sempoyongan. 2. Vertigo paroksismal 2. kemudian berangsur-angsur mengurang. dapat disertai gejala lain. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. pening. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. Cipto Mangunkusumo. 3. 3. tujuh keliling. Sindrom Cogan. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. tumor fossa cranii posterior. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. rasa melayang (1).Vertigo posisional paroksismal laten. mual. muntah) dan pusing (2). Yang tanpa disertai keluhan telinga. peluh dingin. Sindrom Lermoyes. kepala terasa enteng. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2).

: Hipertensi kronis. herpes zoster otikus. anemia. ensefalitis vestibularis. perdarahan. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. vertigo epidemika.Pemeriksaan otologik . Pemeriksaan tambahan : . TERAPI Terdiri dari : 1. b. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus.Radiologik dan Imaging . Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. visual. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. trauma. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. abses.Vertigo servikalis. dibedakan menjadi : 1. susunan vestibuloretikularis. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. fibrilasi atrium paroksismal. labirintitis akuta.Pemeriksaan neurologik . rudapaksa dengan perdarahan. 6. IV dan VI. DIAGNOSIS 1. di samping itu. pelagra. tumor serebelopontin. dan EKG. 2. Vertigo yang serangannya mendadak/akut.EEG. akan diproses lebih lanjut. d. Lues serebri. Epilepsi. otitis media dengan efusi. sindrom arteria vestibularis anterior. blok jantung. tumor. Hipoksia – Iskemia otak. 2004 4. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. 2. perdarahan labirin. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. trauma. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. Vertigo yang dipengaruhi posisi : .ENG . tumor. hipoglikemi. fobia. Kelainan psikiatrik: depresi. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. neurosa cemas. alergi. lues. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis.Hipotensi ortostatik . informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. intoksikasi obat. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. trombosis arteria serebeli posterior inferior. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. EMG. Intoksikasi. Anamnesis. ensefalitis. sindrom hiperventilasi. hipoglikemi. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. keadaan menstruasi-hamilmenopause. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. kelainan kardiovaskuler. Pemeriksaan khusus : . meningitis Tb. siringobulbi. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. : infeksi. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. dibedakan menjadi: 1. 2. benda asing. d. hipotensi ortostatik. Inti Vestibularis: infeksi. lesi labirin akibat bahan ototoksik.(2). atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. hipertensi kardiovaskular. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Dalam kondisi fisiologis/normal. unsteadiness. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. serangan vaskular. labirintitis kronis. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. Kelainan endokrin: hipotiroid. Nervus VIII. Penyakit SSP : a. 3. sklerosis multipleks. e. hematobulbi. dan vestibulospinalis. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. c. c.Psikiatrik 4. trauma.Audiometri dan BAEP . kelainan psikis. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. Infeksi : meningitis. berangsurangsur mereda. ETIOLOGI 1. Pemeriksaan fisik : . hipoparatiroid. Terapi kausal . sindrom pasca komosio. arteriosklerosis.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . 2. III. sklerosis multipleks. Tumor. labirintitis.Laboratorium .serangan akut.Pemeriksaan mata . otitis media purulenta akuta. f. sinkop. 5. kelainan okuler. e. 3. ensefalitis pontis. 3. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. vertigo postural. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. tumor medula adrenal. 48 Cermin Dunia Kedokteran No.Pemeriksaan fisik umum. kolesteatoma. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. neuritis n. 2.VIII. Telinga bagian luar : serumen. kelainan endokrin. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. dan proprioseptik. stenosis dan insufisiensi aorta. hidrops labirin (morbus Meniere ). Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. mabuk gerakan. b. sklerosis multipel. 144. sindrom sinus karotis. Trauma kepala/ labirin. Migren.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

Juga karena bahannya mudah didapat.7 2. var. Departeman Kesahatan RI. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. assamica dan irrawadiensis.3 Selain itu di negara-negara Barat. yaitu sinensis. 52 Cermin Dunia Kedokteran No.5. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. 144. tanaman teh Camellia sinensis O. kanker. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. 2004 . genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. irrawadiensis.K.2 Di masa sekarang. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. assamica. kariostatik serta hipokolesterolemik. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam.5. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu.49%. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3.3 Menurut Graham HN (1984). dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C.K. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3).Var. dengan harga obat-obatan yang mahal. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.

17 1. 5. 9. 2.75. 10. Daun teh dilayukan lebih dahulu.20 8.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C).02 0.3.477 µmol/l (kisaran 4.70 5.74 0. 6. 120.50 0.99 3.50 0.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.21 3. 19. Apabila proses fermentasi telah selesai.96 percobaan 430 µmol/l. 26. 5.23 4. 25.7 Tabel 2.93.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh.29 2.0).09 0. 2. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434.01 0. 1. 20. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4.40. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. 11. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. 9. epigalo katekin 3. 7. 15. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. setelah 60.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. 10.63 Trace Trace Trace 2. 16.15 0.09 4. 8. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan).57 3. kemudian diaduk selama 3 menit. 29.98 5.79 4. 18. 3.68 12.74 6.90 1.16 4.42 20. 8. Komposisi teh hijau(3) No. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4. 6. usia rata-rata 21. 17.enzim. 27.275-12. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. 2004 53 .03 0. 23.82. 13. 4.9. 12.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. 22. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu.70 0. 21. 144.83 4.110 µmol/l). katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin.62 35.1 tahun. 5 wanita. 13. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC). epigalo katekin galat sebesar 4. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7.50 0. 28. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.69 0. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.21 6. 12.7 3.86 1.31 0. 14. 14. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir. Komposisi teh hitam(3) No. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. 3.25 1. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. 1. 30. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2. 7. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%.56 0.84 4. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. 4. 24.85 0.43 1. 11.13 3. selanjutnya digulung dan dikeringkan. indeks massa tubuh: 24. Setelah 4 jam berpuasa. Pada proses ini.

Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. 173 : 304-312. Sutarmaji A. Brussel: 1995 . Antioksidan dan Penyakit Jantung. 3. 19. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Jakarta. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. Shimamura T. and Health Effects. Brants HA. Eur J Clin Nutr. 313 : 229. Nutr Rev. 21. Jufri M. Chow WH. Yang CS. Sellers TA. Yogyakarta. 6. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. 2. UGM Press. dan radikal peroksil. Antioxidants. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. 1999 : 11-2.20. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. Doyle TJ. Shinchi K. Thorpe G. 52 : 389-95. Drewnowski A. 1987 .13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. Environ Health Perspect. FMIPA UI. 17. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. Goldbohm RA. Preventive Medicine 1992. Shinchi K. 26 (6) : 769-75. Tuminah S. FMIPA UI. Yanai F. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. cet ke-4. Kono S. Mou TH. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. kolesterol LDL.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. 1996. Preventive Medicine. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Pradnya Paramita. 144 (2) : 175-82. Toda M. Prima Kardia Pers. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Nakachi K. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Tjitrosoepomo G. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Nutrition News. Blot WJ. O2•− . 1989 . McClendon JF. 1984 : 29-74.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. termasuk pada wanita post menopause. Suga K. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Oxidants. 1998.19 Selain itu pada wanita post menopause. Chen L. Van-Popel-G. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. 1-495. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. et al. 1994. Van-den Brandt – PA. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. 1996. 20. cet ke-2. Weststrate JA. Ikeda N. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. 1997. Letters in Applied Microbiology. 9. and Disease Prevention. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. 1-477. Jakarta. 18. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. 12. 1997. 13. 1997. 144. 128: 49-51. Lee MJ. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. 1997 : 82-3. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Hyderabad. 24. hal ini dapat dijelaskan. 14. 8. Cermin Dunia Kedokt. In Liss AR. Prog Clin Biol Rev. Consumption. 1996. 10. Nakayama M. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. Popkin BM. Nair MK. Maxwell S. 11. 52 : 1162-70. Jakarta. 7.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. et al. Imanishi K. Selain itu. 2001 : 1-15. Imai K. 5. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. cet ke-1. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Van den Berg H. Cancer Research 1992. Wakabayashi K. Crit Rev Food Sci Nutr. Zheng W. Folsom AR. Jakarta. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. baik teh hitam maupun teh hijau. 2004 . Am J Epidemiol. 1990. 21 : 526-31.05). 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. ILSI European Monograph Series. Jakarta. Graham HN. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. body weight. cet ke-1. 1-24. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). et al. Ferraro T. J Epidemiol. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Bag. Yang GY. Astuti M. 22. Zhi YW. 37 (8) : 739-60. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Teh juga telah diuji teratogenik. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Kono S. 1994. Jufri M. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. 11 : 3840. J Nat’l Cancer Inst.14-18 Diperkirakan. 6 (3) : 128-33. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. 1999. Kushi LH. Potensi Antioksidan pada Teh. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Langseth L. Japan. Hertog MG. Van Het Hof KH. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. 15. Nature 1954. 20 (2) : 1-6. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. Gershon-Cohen J. Baraas F. 55(2) : 31-43. Substansi seperti tanin (dari teh). National Institute of Nutrition. 16. Dirghantara E. Biokimia FKUI. Hong CP. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. McLaughin JK. Okubo S.54 g /200 g. 23. KEPUSTAKAAN 1. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. 88 (2) : 93-100.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. Baraas F.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Jakarta. Fluorine in Tea and Caries in Rats.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. 2000. Van Steenis CGGJ. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. Prima Kardia Pers. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. 4.

April 2001. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . 144. demam akut 2-7 hari. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. 2004 55 . 2001) .414 kematian(1). (Tabel 1). Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. dan mengisi informed consent. dirawat di rumah sakit.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. Cermin Dunia Kedokteran No. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. Sri Susilowati.871 kasus dan 1.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. Departemen Kesehatan RI. Faktor.

Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . Desember 1999. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding.74 3.44 10. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. 2. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. Muchlastriningsih E et al.7% dan derajat II sebanyak 44.16 6. KEPUSTAKAAN l. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. Med.53 1. 144. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26.19%.6849).7 11.Dit. tahun 1996: 32.61 100.42 3. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala.5% . dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif. Berita Epidemiologi. 1958. Departernen Kesehatan RI 2000. Profil Kesehatan Indonesia 1999. penderita berada pada derajat I dan II. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. Jakarta. Tabel 3.21%. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. 2004 .21 0.07 1.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. Trop. tahun 1998: 36.82%. Cassals J. 2001. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51.Jen. 3.53 0. J. Clarke DH. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Hyg. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .7% negatif.3 48. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51. Sub.1:1).7 100. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus.Tabel 1.50%. 7: 561. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. Data Kasus DBD 1999. Am. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.4 100. Tabel 2. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0.24%(5). tahun 1995: 50. hasil uji HI positif sebesar 51.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.3% positif dan 48. tahun 1997: 34. 2000.9 66. 4.3%.74 31. yaitu: tahun 1994: 34. Surveilans Dit. Tabel 4. 5.55 1.

Senin – Jumat (07.: (021) 428 73888-89. meskipun dapat dihentikan setiap saat. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. mual.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. sakit kepala.kalbe. artralgia.5%/minggu).Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. Jakarta – Indonesia Tlp. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. • Hipersensitif terhadap human albumin. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. terlindung dari cahaya. pruritus dan urtikaria. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. Fax.30) Cermin Dunia Kedokteran No. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). 2004 57 . 144. 3000 IU. fatigue. 10. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. suhu 2-8°C. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. Jl.00-15. : (021) 428 73680 Website : http://www. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. Jangan dibekukan dan dikocok. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. Suprapto. Letjend. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. Gedung Enseval. KALBE FARMA Tbk. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. 3000 IU dan 10. seperti: FeSO4.co. edema. diare.000 IU. 1998. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC.

144. Sumber: http://ivertigo. 2004 .html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral. Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.net.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 1990)./hearing/hrexam.

Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. dll. informatika yang berorientasi pada aplikasi. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. medical information science. aspek keamanan dan legalitas. Sebaliknya. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). (Dr. seperti: tanya jawab. seperti: computer science. kedokteran nuklir. 3. telekardiologi. information processing. dll. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. dan beberapa area yang lebih spesifik. sifat website pun sudah mulai berubah. dan informatics. teleradiologi. 4. dr HM Goh. dll. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. proses kontrol. radiologi. atau artificial intelligence. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. artikel kesehatan. computational linguistics. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. Biaya dan keuntungan sistem informasi. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. 144. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. Akhir-akhir ini. dan informatika terapan. 5. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. 2. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. seperti: proses pendaftaran pasien. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. health informatics.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dll. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. computer in medicine. contohnya: computational physics. dental informatics. dll. 2004 59 . melihat rekam medik dll. merawat data. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis.

Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut.co. J. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur.043 orang. setelah menyelesaikan acara ilmiah. RSIA HERMINA Daan Mogot . Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. Demikian dikatakan dr. (tampak dalam foto dr. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. dan infeksi. menghisap rokok. Wakil dari Indonesia. bisa diakses di http://www. 2004 . 6 .Jakarta. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. Demikian dikatakan dr. Pada topik yang diberi tanda Breaking News.id/seminar. Hotel Acasia. dan infeksi.Pudji Rahardjo. dan sebagainya. Kuala Lumpur.Hj. batu ginjal. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. eHealth Asia 2004.PD-KGH.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". 6 April 2004. Erik Tapan. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. 144. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. batu ginjal. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. 6 April 2004 Pada malam hari. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia.kalbe.co. dan sebagainya. dan Portal Kedokteran www. yang di klik rata-rata 2.id. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta.000 kali per hari. Sp. Laporan lengkap dari simposium. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Kuala Lumpur. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. Dalam sambutan tertulisnya. SpPD-KGH. Tele-education kesehatan via satellite. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. Studio mini Jakarta Eye Center. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. Untuk itu kita jangan sampai lengah. APAMI Board Meeting. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. Pudji Rahardjo. menghisap rokok. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Hotel Acasia. Mohammad Taha bin Arif. RS Mitra International. J.Pudji Rahardjo. Sp. membuka acara eHealth Asia 2004.kalbe.PD-KGH.

16 % (WKNPG : 2. Dr. Menurut Budi Sampurna. radiasi dan operasi. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. dari kiri ke kanan: dr.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). Hotel Borobudur Jakarta. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan.5 %) dan wanita 11. Danial Abadi. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. Arifin Limoa. enterosit dan kolonosit. Sp. Jakarta. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. SPS(K). Demikian dikatakan dr.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. Sebabnya. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. 144. Slamet Suyono. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. Jakarta. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. 25 . MM dan Prof. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. SpS(K). Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. Hotel Mandarin Oriental . Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09.9 %). Cermin Dunia Kedokteran No. Prof. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. 27 .00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global.02 % (WKNPG : 5.PD. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. dr. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Zubairi Djorban. Seminar IT PERMAPKIN. Jakarta. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. karena dapat mencegah atrofi villi usus. SpPD. Bali International Convention Center. 2004 61 . tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Sie. Jakarta. dr. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat.Jakarta. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. 23 . menjadi terapi yang bersifat spesifik. SpS(K). KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. Dr. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). Demikian dijelaskan Handi Irawan. di Jakarta selama 2 hari. H. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. 24 Mei 2004. termasuk dari Kalbe Group. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. dr.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. Ed. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. Seminar Integrated Hospital Marketing. Amiruddin Aliah. SpS(K)). tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. 25 . KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. K.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004.26 Mei 2004. Demikian dikatakan Prof. Hotel Shangri La Jakarta. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress.

Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. 362: 1699-707 brw 0. 95%CI: 1. Lancet 2003.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre.9) di kalangan bukan perokok. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).5.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. 0. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5.93) maupun saat bangkit (1.4 g IVIg/kg. kemudian dimatikan selama 12 minggu. 31 di antaranya fraktur femur. selama 48 minggu. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No. mereka di amati selama rata-rata 1. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition). Lancet 2003. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0.7 tahun. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. 0.bb/hari selama 5 hari. 0.8.7. Setelah 90 hari mereka dievaluasi. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali.13 – 4.0 (paling empuk).44 kali (95%CI: 2. 0. Selama periode studi. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal. 1. 116 di antaranya juga diberi 500 mg. nyeri saat berbaring (p=0.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0. p<0.0 (paling keras) sampai 10. 0. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita.059). Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik. berat badan.97 – 3.9). penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk. 2004 .36.50 – 2. tinggi badan. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.4-0. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.3. sepanjang tahun 1997-2000.10.8).93. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama.6. Daerah frontal. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan.99) juga terhadap keluhan respirasi (0. Sejumlah 233 pasien mendapat 0. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0.9) dan keluhan mukosal (0.3 – 0. p<0. juga di korteks temporal anterior bilateral. Lancet 2004. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0.9 ± 0. baik di tempat tidur (odds ratio 2.2 – 0.89.6.24 – 3.7.24 – 8. skala kekerasan kasur berkisar dari 1.9) dan keluhan muskuloskeletal (0. sex. risiko frakturnya 4. 0. Sekelompok peneliti di Montreal. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.7 – 0. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0.5 – 0.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol.5 – 0. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100). 144.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2. 0. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1.0001) tidak tergantung usia. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2. 95%CI 0.52.95 (95%CI: 1.4. Lancet 2003.8) dan bukan perokok (0.6.

trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. p=0. stroke non fatal. BMJ 2004. p=0. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. OR=1.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. 95%CI 0. 36.56-0.35. (OR 1.93. data diolah dari 207 (53%) peserta.011).92. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral.62.27-9. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan.65.03). p=0. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. p=0. 95%CI 0.64. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. 192 menggandakan dosisnya.18 – 0. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak. Pemantauan dilakukan setelah 12.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. dan pasien menolak punksi lumbal. demikian juga risiko infark miokard non fatal.15.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari. 2004 63 .40.55-1.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. Risk ratio penggunaan prednisolon 0.72. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut.9. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. N Engl J Med 2004.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya.89 (95%CI: 1. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. jalan kaki.bb trimetoprim. p=0. logrank x2 5. 406 sebagai kontrol. 95%CI 0. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol. N Engl J Med 2004.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. 144. 48 dan 60 bulan kemudian. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan.bb sulfametoksazol iv dan 2 g.06). 0. Saat gejalanya mulai memburuk.95 (95%CI 0.68.15 – 1.41. risiko infark miokard non fatal. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera. Kematian. 6. 95%CI 0.4. Di akhir percobaan.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo.91. p=0.88. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.09).003). Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. 24. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . p=0. 95%CI: 0. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. Lancet 2004. emboli paru.97-2. 100 mg/kg. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo.71). stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0.07-3.46 – 0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo.

E C 4. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. 9.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 6. E A 3. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 8. 10. 144. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. 9. D D 2. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. JAWABAN RPPIK : 1. 3. 7. 4. 5. B B 5. 2004 . 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful