Anda di halaman 1dari 10

Kajian reguler Forum Kajian Ulumul Hadis (FOKUS) Mesir Kamis, 1 Maret 2012

Oleh: Fathimatuzzahro Surjana2

Hadis Dha'f1

A. Prolog Dalam kehidupan kita sehari-hari hadis memiliki peranan yang sangat penting dan kita pun tidak akan bisa jauh darinya karena hadis merupakan sumber dan rujukan umat Islam kedua setelah al-Quran. Menindaklanjuti kajian kemarin yang menjelaskan tentang pengantar dan sejarah perkembangan ilmu hadis serta pembahasan tentang hadis shahh, hadis hasan dan aplikasinya, maka saat ini penulis akan menyajikan sebuah tema yang sangat urgen karena memiliki peran dalam kehidupan masyarakat muslim yaitu pembahasan tentang hadis dha'f. Hadis dha'f adalah hadis lemah, hadis yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu'allaq, mudallas, munqathi', dan mu'dhal) yang di riwayatkan oleh orang yang tidak adil atau orang yang tidak kuat ingatannya dan mengandung kejanggalan atau cacat. Indahnya bahasa yang digunakan, luasnya isi yang di paparkan, dan dalamnya hikmah yang bisa diambil, alasan inilah yang menjadikan kaum muslimin sering berlomba untuk mengkajinya. Di samping itu banyak sekali hujatan, celaan juga kritikan dari pihak lain seperti kalangan orientalis dan liberalis yang mana mereka dengan mudah men-dhaf-kan hadis. Oleh karena itu insya Allah penyusun akan menjelaskan dengan detail seputar hadis dha'f dan pembagiannya. B. Definisi Hadis Dha'f dan Hukum Meriwayatkannya 1. Definisi hadis dhaf Dha'f secara etimologi adalah lawan dari qawiyy (kuat). Sedangkan dalam istilah ilmu hadis, hadis dhaf adalah hadis yang tidak bekumpul di dalamnya sifat hadis shahh dan sifat hadis hasan.3 Atau dengan ungkapan lain, hadis dha'f adalah hadis yang tidak terdapat di dalamnya syarat-syarat hadis shahh dan syarat-syarat hadis hasan.4 Menurut Ibnu Hibban hadis dhaf terbagi menjadi 49 bagian, kemudian terbagi lagi menjadi beberapa bagian menurut Ibnu Shalah. Sebab pembagian ini karena hilangnya satu sifat atau lebih dari sifat-sifat dan syarat-syarat diterimanya sebuah hadis. Syarat penerimaan hadis ada enam, yaitu: a. Ittishl al-sanad (bersambung sanadnya)5
Dipresentasikan dalam pertemuan ketiga Forum Kajian Ulumul Hadis (FOKUS) Mesir di sekretariat FOSMAGATI, Kamis, 1 Maret 2012. 2 Penulis adalah seorang mahasiswi tingkat akhir program sarjana di fakultas ushuluddin, jurusan hadis, Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. 3 Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrb al-Rw fi Syarh Taqrb al-Naww, Mathba'ah Dar al-Hadis, Kairo, 2010, h. 141. Hadis shahh adalah hadis musnad yang bersambung sanadnya dengan periwayatan perawi yang adil dan dhbith, dan diterimanya dari perawi yang adil dan dhbith sampai akhir sanad dan tidak ada syadz serta tidak juga ber-illat. Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung dan diriwayatkan oleh rawi yang adil namun tidak sempurna ingatannya dan matannya tidak mengandung syadz atau cacat. 4 Al-Nawawi, Qaw'id al-Tahdts, h. 108. 5 Ittishl as-sanad adalah setiap rawi dari perawinya telah mengambil secara langsung dari atasnya yaitu dari awal sanad sampai akhir sanad.
1

Perawi yang adil 6 Perawi yang dhbith7 Mutba'ah f mastr8 Matan yang tidak mengandung syadz9 Matan yang tidak mengandung 'illat 10 Dari sini kita bisa lihat jika sebuah hadis ada salah satu syaratnya atau sifatnya yang tidak terpenuhi maka hadis tersebut termasuk hadis dha'f. Dengan demikian pembagian hadis dha'f berdasarkan hilangnya satu atau lebih dari syarat penerimaan hadis terbagi menjadi beberapa kategori, dan kami ringkas sesuai penjelasan yang terkenal dan sangat dibutuhkan untuk mengetahuinya, dan secara global yaitu sebagai berikut: 1. Kategori yang disebabkan karena hilangnya sanad (terputus) yaitu mencakup: hadis mu'allaq, munqathi', mursal, mudallas, mu'dhal.11 2. Kategori yang disebabkan karena hilangnya sifat adil terbagi menjadi empat yaitu: hadis maudh', matrk, munkar, mubham.12 3. Kategori yang disebabkan karena hilangnya sifat dhbith terbagi menjadi lima yaitu mencakup: hadis mudarraj, maqlb, mudhtharib, mushahhaff dan muharraf.13 b. c. d. e. f.

Adil adalah setiap rawi dari perawinya yang sifatnya sebagai seorang muslim yang balig dan berakal yang tidak fasiq dan menjaga harga diri. 7 Makna dari dhbith yaitu seorang rawi yang tidak lalai, hafal jika hadis berupa hafalan dan akurat jika hadisnya berupa tulisan serta yang bisa menguasai makna hadis. 8 Mutba'ah fl mastr adalah ta'addud al-thuruq yakni mendatangkan banyak jalan 9 Makna syadz secara etimologi bertentangan atau asing. Sedangkan menurut istilah adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqah yang bertentangan dengan yang lebih tsiqah. 10 'Illat adalah sebuah istilah bagi kecacatan tersembunyi dalam sebuah hadis. Sedangkan dilihat dari lahirnya selamat. Lihat, Sayyid Abdul Majid al-Ghaury, Mu'jam al-Mushthalaht al-Hadtsiyyah, Dar Ibn Katsir, Beirut, cet. I, 2007, h. 49, 268 dan 453. 11 Hadis mu'allaq adalah hadis yang dihapus dari awal sanadnya seorang perawi atau lebih secara berturut-turut. Hadis munqathi' adalah hadis yang terputus sanadnya dan terjadi dimana saja. Hadis mursal menurut muhaditsn adalah hadis yang diangkatkan oleh tabiin kepada Rasulullah Saw. Sedangkan menurut para fuqaha` adalah hadis yang sanadnya terputus dari semua tempat. Hadis mudallas adalah hadis yang yang menyembunyikan cacat dalam sanad dan menampakkan seperti baik. Hadis mu'dhal adalah hadis yang gugur dari sanadnya dua perawi atau lebih secara berturut-turut. 12 Hadis maudh' secara etimologi berarti meletakkan sesuatu. Sedangkan secara epistemologi adalah hadis yang dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya terdapat perawi yang memiliki kemungkinan untuk berdusta dan disandarkan kepada Rasulullah Saw. Hadis matrk adalah hadis yang di dalamnya terdapat perawi yang dituduh berdusta dan tidak diketahui kebenarannya kecuali dari segi yang lain dan berbeda dengan qaw'id yang terkenal atau hadis yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh berdusta, boleh jadi dia melakukan dan boleh jadi tidak. Hadis munkar adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang cacat berupa lalai atau lengah atau hilang ingatan atau fasiq atau orang yang meriwayatkan sebuah sanad dha'f yang berlawanan dengan yang tsiqah. Hadis mubham adalah hadis yang di matannya atau sanadnya ada seorang rawi atau banyak baik laki-laki atau perempuan yang tidak diketahui identitasnya. 13 Hadis mudarraj adalah hadis sisipan atau hadis tambahan yakni kata-kata yang dimasukkan ke dalam hadis apa yang bukan berasal dari hadis tersebut, tetapi diduga dari hadis tersebut. Hadis maqlb adalah pergantian lafaz-lafaz pada sanad atau matan dengan mengedepankan atau mengakhirkannya. Hadis mudhtharib adalah hadis yang berlawanan sanadnya atau matannya baik dilakukan oleh seorang atau banyak rawi dengan cara bermacam-macam dan tidak dapat dikuatkan oleh lainnya, atau hadis yang tidak memiliki kedhbith-an. Hadis mushahhaf adalah hadis yang berubah satu huruf atau lebih dengan menitikberatkan letak titik dalam sebuah tulisan, contohnya: kata murajim dibaca muzahim. Hadis muharraf adalah hadis yang berubah karena bentuk yang menitikberatkan perubahan harakat atau sukunnya tetapi tulisanya tetap. Contohnya busyair menjadi basyir.

4. Kategori yang disebabkan karena terdapat syadz. Dan ini hanya mencakup satu macam yaitu hadis syadz. 14 5. Kategori yang disebabkan karena terdapat 'illat, hanya mencakup satu bagian yaitu hadis mu'allal.15 Hadis dha'f pun mempunyai tingkatan-tingkatan tersendiri seperti halnya hadis shahh dan hadis hasan. Tingkatan hadis dha'f antara satu dengan yang lainnya itu berbeda sesuai dengan tingkatan hadis yang paling rendah dan yang paling tersembunyi. Shihhah al-shahh adalah shighat yang menunjukkan bahwa tingkatan hadis ini adalah auha (yang paling rendah) seperti halnya dalam hadis shahh adalah menggunakan ashah atau a'la martib. Salah satu pentingnya kita mengetahui tingkatan hadis dha'f adalah untuk bisa mentarjih sebagian asnid dengan asnid lainya dan bisa membedakan antara yang shahh dan yang tidak shahh. Dengan demikian tingkatan hadis dha'f yaitu sebagai berikut: Auha asnid ahlil bait yaitu: dari Amr ibn Syamir, dari Jabir al-Ja'fi, dari Haris al-A'war, dari Ali ibn Abi Thalib. Auha asnid al-Umariyyin yaitu: dari Muhammad ibn Abdillah ibn al-Qasim ibn Umar ibn Hafsh ibn Ashim dari bapaknya dari kakeknya. Auha asnid Abi Hurairah yaitu: dari al-Sara ibn Ismail, dari Daud ibn Yazid al-Audi, dari bapaknya, dari Abi Hurairah. Auha asnid Aisyah yaitu: nuskhah ahli Bashrah dari Haris ibn Syabal, dari Ummu Nu'man, dari Aisyah. Auha asnid ibn Mas'ud yaitu: dari Syarik, dari Abi Fazarah, dari Abi Zaid, dari Mas'ud. Auha asnid Anas ibn Malik yaitu: dari Daud ibn Muhbir, dari Qahdzim, dari bapaknya, dari Aban ibn Abi Ayyas, dari Anas ibn Malik. Auha asnid ahli Makkah yaitu: dari Abdullah ibn Maimun al-Qadah, dari Syihab ibn alKhurasy, dari Ibrahim ibn Yazid al-Khury, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas. Auha asnid ahli Yaman yaitu: dari Hafsh ibn Umar al-Adny, dari Hikam ibn Aban, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas. Auha asnid Ibn Abbas yaitu: dari Muhammad ibn Marwan, dari Kalabi, dari Abi Shalih, dari Ibn Abbas. Auha asnid ahli Misr yaitu: dari Ahmad ibn Muhammad ibn al-Hajjaj ibn Rusydi, dari bapaknya, dari kakeknya, dari Qurrah ibn Abdirrahman. Auha asnid ahli Syam yaitu: dari Muhammad ibn Qais al-Mashlub, dari Ubaid ibn Zahr, dari Ali ibn Zaid, dari Qasim dari Abi Umamah. Auha asnid ahli Khurasan yaitu: dari Abdurrahman ibn Mulihah, dari Nasyhal bin Said, dari Dhahak dari Ibn Abbas. Menurut imam syaikhul Islam al-Hafizh ibn Hajar al-Asqalany berkata: 16 " !!!! , "

Hadis syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang menyalahi atau bertentangan dengan orang yang lebih utama darinya. 15 Hadis mu'allal secara etimologi berasal dari kata 'alla yaitu yang mencakup tiga kaidah yang benar yaitu: # takarrur atau takrir yaitu minum yang kedua kalinya atau minum setelah dahaga. # 'aiq ya'uq adalah sebuah kejadian yang menjadikan pemiliknya sibuk dengan suatu perkara. # dha'ifun fi syay` adalah sakit atau lemah. Sedangkan menurut epistemologi hadis mu'allal adalah khabar yang secara lahir selamat tetapi setelah diteliti terdapat penyakit atau cacat. Lihat, Umar Muhammad Abdul Mun'im al-Farmawy, Dirst f Ilmi 'Ilal al-Hadits, cet. I, 2009, h. 17, 21 dan 22. 16 Jalaluddin al-Suyuthi, op. cit., h. 142.

14

2. Hukum meriwayatkan hadis dha'f Menurut para ulama ahli hadis hukum meriwayatkan hadis dha'f ketika hadisnya berkaitan dengan hukum-hukum maka mereka syadd (keras). Tetapi ketika hadis berkaitan dengan hadis targhb wa tarhb atau hadis yang berkaitan dengan keutamaan amal maka mereka tasahhul (toleransi). Ketika para sahabat meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. dan berhubungan dengan hukum halal, haram, dan sunnah maka sangat keras. Tetapi ketika berhubungan dengan fadhil aml atau maw'izh (hadis nasehat) dan tidak ada kaitanya dengan hukum maka diperbolehkan untuk mengamalkannya. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum meriwayatkan hadis dha'f, apakah boleh untuk diamalkan atau tidak, menjadi tiga pendapat yaitu sebagaimana tercantum di bawah ini:17 a. Tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik hadisnya berkaitan dengan hukum syariah ataupun tentang fadhil a'ml atau maw'izh (tentang nasehat). Pendapat pertama ini menurut pembesar para huffzh dan para muhadditsn seperti Bukhari dan Muslim. Sesungguhnya agama Islam itu agama yang tidak mengambil sesuatu kecuali dari alQuran dan al-sunnah al-tsbitah. Dan hadis dha'f tidak termasuk ke dalam hadis tsabitah . Dan ketika kita mengambilnya dan mengamalkannya berarti menambah sesuatu di agama tanpa adanya ilmu, dalil dan hujah yang kuat karena termasuk ke dalam munhi yaitu sesuatu yang terlarang. Sebagaimana firman Allah swt: 18 " " Artinya: "dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui". " ........ " Artinya: "wahai orang-orang yang beriman!! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita maka telitilah kebenaranya. Oleh sebab itu pemilik pendapat ini tidak boleh mengambil dan mengamalkannya kecuali jika derajatnya naik menjadi hadis hasan lighairihi. 20 b. Boleh mengamalkanya secara mutlak. Sebab boleh diambilnya jika tidak ada lagi hadis yang lainya dan tidak ditemukan di hadis shahh dan hadis hasan maka boleh untuk mengmbil dan mengamalkannya, karena hadis dha'f itu lebih disenangi dari pada pendapat seseorang. Dan harus diperhatikan karena yang dimaksud dengan dha'f menurut Ahmad ibn Hanbal yaitu bukanlah dha'f yang sangat lemah tetapi di dalamnya hanya karena ada 'illat yang tidak dijadikan dalam ruang lingkup hadis matrk (hadis yang dituduh berdusta) akan tetapi hadis yang lebih dekat ke derajat hasan menurut imam Tirmidzi. c. Boleh mengamalkan hadis dha'f jika berkaitan dengan fadhil a'ml, mawa'izh, qashash, targhb wa tarhb. Akan tetapi jika hadis dha'f berkaitan dengan akidah seperti sifat-sifat Allah, sifat jaiz dan sifat mustahil atau berkaitan dengan hukum syar'iyyah seperti halal, haram, hukum jual beli, nikah , talak dan yang lainya maka tidak boleh untuk diamalkan kecuali dengan hadis shahh dan hadis hasan dan tidak boleh tasahul (toleransi) .
19

Faruq Humadah, al-Manhaj al-Islmiy f Jarh wa Ta'dl, Mathba'ah Dar al-Salam, Kairo, 2008, h. 343. QS. Al-Isra`: 36. 19 QS. Al-Hujurat: 6. 20 Hadis hasan lighairihi adalah hadis dha'f yang ke-dhaf -annya bisa diterima karena diriwayatkan dari beberapa jalan sehingga sampai ke derajat hasan meskipun ke-hasan-annya itu bukan berdasarkan sanadnya sendiri melainkan berdasarkan sanad lain.
18

17

Dari penjelasan di atas maka tampaklah ada sebagian hadis yang dibolehkan untuk diambil dan diamalkan, tentunya harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku dan para ulama tidak menjadikan syarat -syarat tersebut ada dalam satu tempat akan tetapi tersebar di berbagai kitab dan setiap orang berbeda-beda dalam menyampaikannya, kemudian Ibn Hajar menyimpulkan syarat tersebut seperti tercantum di bawah ini:21 1. Dhaf yang dimaksud bukanlah dha'f yang syadd. Dan keluar dari syarat tersebut jika diriwayatkan oleh pembohong, orang yang dituduh berdusta, atau banyak lalai, lupa dan fasik. Al-Hafidz Shalahuddin al-'Alai sepakat dengan syarat ini. 2. Tidak meyakini ketetapannya dalam beramal tetapi meyakini untuk lebih berhati-hati dan tidak menyandarkanya kepada Rasulullah Saw. dari apa yang tidak diucapkannya. Hadis dha'f pun punya ciri-ciri tersendiri dalam shghah yang digunakan karena hadis dha'if tidak menggunakan kata-kata jazm seperti qla atau fa'ala dan lain sebagainya. Akan tetapi memakai shghah tamrdh atau tadh'f seperti yuhka, yurwa atau qla. C. Pembagian hadis dha'f (al-akhbr al-marddah) Pembagian hadis dha'f (al-akhbr al-marddah) yang disebabkan karena jatuh (ketidak-adaan rawi pada sanad), yaitu meliputi dua bagian: pertama, kejatuhan yang jelas (suqth zhhir) dan kedua, kejatuhan yang tersembunyi (suqth khafiyy). 1. Kejatuhan yang jelas (suqth zhhir) a. Hadis mu'allaq22 Secara etimologi hadis mu'allaq adalah isim maf'ul dari 'allaqa yaitu menggantung sesuatu yang menjadikan ujung akhirnya menempel dan ujung awalnya tidak menempel. perumpamaan ini diibaratkan seperti lampu yang menempel di atas atap sebagaimana dia menempel ujungnya di atap dan sebagian dari yang lainya tidak ada dasar untuk menjadikanya pusat menempel. Sedangkan secara epistemologi hadis mu'allaq adalah hadis yang jatuh atau dihapus atau gugur dari awal sanadnya seorang rawi atau lebih secara berturut-turut dengan kejatuhan yang jelas dan tidak tersembunyi. Hadis mu'allaq dinamakan hadis yang jatuh di awal sanad seorang rawi atau lebih sehingga menjadikan hadisnya itu tidak memiliki dasar untuk dijadikan pusat berpijaknya seperti halnya lampu yang ada di atap atau tembok. Dari definisi di atas maka gambaran hadis mu'allaq boleh jadi sanad yang dihapus oleh rawi dalam sebuah hadis satu rawi atau lebih dari awal sanad atau dihapus semuanya dari awal sanadnya dan langsung dari Rasulullah Saw. Atau boleh jadi sang rawi menghapus semua sanadnya kecuali sahabat seperti berkata Bukhari: dari Abi Hurairah dari Rasulullah Saw. Hadis mu'allaq ini bisa bergabung dengan hadis mu'dhal dalam sanad di sebuah hadis apabila jatuh di awal sanad dua rawi atau lebih berturut-turut, akan tetapi dengan syarat jatuhnya di awal sanad. Contoh hadis mu'allaq yaitu: : : , . . Status hukum hadis mu'allaq dan hukum mengamalkanya yaitu: hadis mu'allaq adalah hadis dha'f karena jatuh di sanadnya dan tidak diketahui 'ain (sang perawi) dan keadaannya. Sedangkan syarat diterimanya sebuah hadis yaitu apabila adil dalam agamanya, dhbith pada
21

Syamsuddin al-Sakhawi, Fath a-Mughts bi Syarh Alfiyah al-Hadits, h. 268 dan Jalaluddin al-Suyuthi, op. cit., h. 196. 22 Al-khusyu'i al-Khusyu'i Muhammad al-Khusyu'i, Ulm al-Hadits, 2008, h. 67 dan 68.

hafalan. Kalau tidak diketahui 'ain dan halnya bagaimana bisa tahu akan dhbith dan adilnya??? Sehingga dengan demikian hukum hadisnya adalah dha'f. Hukum umum hadis mu'allaq adalah dha'f, tetapi ada sebagian hadis mu'allaq yang hukumnya shahh, seperti hadis-hadis mu'allaqt yang ada di shahh Bukhari dan Muslim dan ini tidak termasuk ke dalam hukum hadis dha'f karena memenuhi syarat-syarat pemilik dua shahh dan shghah yang digunakan adalah shghah tamrdh dan itu adalah tingkatan paling rendah hadis mu'allaq di dua shahh akan tetapi tidak sampai ke tingkatan dha'f yang tidak bisa dijadikan hujjah, karena hadisnya terdapat di kitab yang disifati dengan shahh maka di bolehkan mengambilnya dan mengamalkanya. b. Hadis mursal Secara etimologi hadis mursal jama'nya adalah marsl yaitu dengan menetapkan huruf "ya" dan aslinya diambil dari kata al-ithlaq (pengiriman). Sedangkan secara epistemologi ada dua definisi; - Menurut para muhadditsn yaitu hadis yang diangkat oleh tabiin kepada Rasulullah Saw. baik itu tabiin besar ataupun tabiin kecil.23 - Menurut para fuqaha` yaitu hadis yang terputus sanadnya dari semua tempat. Contoh para perawi yang terkenal me-mursal-kan hadis dari Madinah adalah Sa'id ibn al-Musayyab, dari Makkah 'Atha` ibn Abi Rab'ah, dari Mesir Sa'id ibn Abi Hila, dari Syam Mahkul al-Damasyqi, dari Bashrah al-Hasan ibn Abi al-Hasan, dari Kuffah Ibrahim ibn Yazid ibn an-Nakh'i. Dan di antara marsil ini yang paling shahh adalah marsil dari Madinah yaitu Sa'id ibn al-Musayyab. Dalilnya yaitu karena Sa'id adalah salah satu anak dari sahabat yaitu bapaknya bernama al-Musayyab dan dia termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam bai'at arridhwan. Para ulama berbeda pendapat mengenai status hukum hadis mursal dan hukum mengamalkanya sebagai berikut: a. Tidak boleh dijadikan hujah secara mutlak. Ini adalah pendapat jumhur muhadditsn. b. Tidak boleh dijadikan hujah kecuali jika memenuhi tiga syarat yaitu: pertama, jika diriwayatkan oleh pembesar tabiin. Kedua, jika diriwayatkan oleh orang yang selalu tsiqah bukan yang majhl atau mubham. Dan yang ketiga jika sesuai dengan hadis-hadis para huffazh dan tidak bertentangan. c. Boleh di jadikan hujah secara mutlak baik dari tabiin besar atau kecil. Dan ini adalah pendapat imam Abu Hanifah, imam Ahmad dan imam Malik. Sebab yang menjadikan para ulama berbeda pendapat dalam status hukum hadis mursal adalah karena hadis mursal adalah hadis yang erat hubunganya dengan para sahabat dan ini tidak akan mungkin terjadi karena sahabat terkenal dengan adilnya. c. hadis mu'dhal Secara etimologi mu'dhal diambil dari al-i'dhal yitu sulit atau susah. Sedangkan menurut istilah, hadis mu'dhal adalah hadis yang gugur sanadnya dua perawi atau lebih berturut-turut. Dari definisi di atas dapat digambarkan mu'dhal itu boleh jadi hadis yang gugur sanadnya secara lengkap karena banyak jatuhnya rawi yang berurutan sehingga para perawi langsung mengatakan dari Rasulullah Saw. Boleh jadi hadis yang jatuh sanadnya tabiin atau

23

Tabiin besar yaitu orang yang bertemu dengan sekelompok sahabat dan banyaknya periwayatan diambil dari para sahabat. Tabiin kecil adalah orang yang bertemu dengan sekelompok sahabat akan tetapi banyaknya periwayatan diambil dari para tabiin.

sahabat sehingga dari tabi tabiin langsung ke Rasulullah Saw. Contonya yaitu imam Malik dari Rasulullah Saw., atau boleh jadi hadis yang jatuh pada sanadnya tabiin atau tabi tabiin. Contoh hadis mu'dhal yaitu: : " " Status hukum hadis mu'dhal dan hukum mengamalkanya yaitu: hadis mu'dhal adalah hadis dha'f karena sebab jatuhnya rawi pada sanad. Dan cara untuk mengetahui hadis itu termasuk hadis mu'dhal adalah dengan mengumpulkan semua jalan hadis dan harus mengetahui tahun lahir dan tahun wafatnya para perawi. d. Hadis munqathi' Secara etimologi munqathi' merupakan isim maf'ul dari inqatha'a yaitu terpisah atau terputus. Sedangkan secara epistemology ada beberapa definisi sebagai berikut: # definisi pertama: adalah hadis yang jatuh di tengah sanadnya satu rawi atau banyak dan kejatuhan tidak berturut-turut. Keluar dari definisi ini adalah hadis mursal, mu'allaq dan mu'dhal. Definisi ini merupakan definisi yang paling ahsan diterima. # definisi kedua: adalah hadis yang terputus sanadnya dan terjadi dimana saja. Contoh dari hadis munqathi' yaitu: : "

" Dikatakan oleh al-Hakim bahwasanya hadis ini termasuk contoh dari macam hadis munqathi' karena tidak diketahui dua perawi (rajulain) antara Abi al-A'la ibn al-Syakhir dan syadad ibn Aus. Cara untuk mengetahui hadis itu termasuk hadis munqathi' yaitu ada empat kategori: y Harus mengetahui biografi setiap rawi terutama tahun lahir dan tahun wafatnya. y Harus mengetahui apakah dia dan rawi itu saling bertemu atau tidak, karena ada sebagian rawi yang tidak mungkin untuk bertemu, seperti perawi dari Mesir meriwayatkan dari perawi Irak tetapi dia tidak pernah rihlah ke Irak atau tidak pernah rihlah dari Irak ke Mesir. Oleh karena itu keduanya tidak bisa disatukan. y Perawi dengan jelas menggunakan shighah balaghan dari fulan. y Harus ada nas dari para ulama bahwasanya rawi ini tidak mendengar dari syekhnya dan tidak adanya pertentangan di dalamnya. Status hukum hadis munqathi' dan hukum mengamalkanya yaitu hadis munqathi' adalah hadis dha'f karena disebabkan jatuhnya rawi di sanad dan tidak diketahui 'ain juga hal-nya secara bersamaan sehingga menjadi dha'if dan dusta. Sedangkan syarat diterimanya hadis harus adil dan dhbith. 2. Kejatuhan yang tersembunyi (suqth khafiyy) a. Hadis mudallas Secara etimologi adalah isim maf'ul dari dallasa yaitu tersembunyi atau kegelapan, yaitu bercampurnya antara kegelapan dan cahaya sehingga menyebabkan tertutupnya sesuatu dari pandangan. Secara epistemologi adalah hadis yang menyembunyikan cacat dalam sanad dan menampakkan yang baik. Para muhadditsn sepakat mengelompokkan hadis mudallas ke dalam kelompok kejatuhan tersembunyi, karena hadis ini menutupi aib yang ada di dalamnya sehingga seakanakan hadisnya baik, seperti sebagian pedagang yang menyembuntikan aib barang dagangannya dari pembeli.
7

Hadis mudallas terbagi menjadi dua bagian, yaitu:24 1. Tadls isnd Yaitu rawi yang meriwayatkan hadis dari seseorang, bertemu dan semasa dengannya dan sang rawi mencantumkan nama syekhnya padahal dia tidak mendengar langsung darinya. Sghah yang digunakan dalam hadis tadls pun bukan akhbaran, haddatsan, dan sghah lainnya yang serupa dengannya, tetapi menggunakan sghah qla fuln atau 'an fuln. Pembagian tadls isnd ada empat secara global yaitu: tadls al-taswiyyah, tadls 'athaf, tadls qitha' dan tadls sukt:25 Contoh hadis tadls isnd yaitu: " , : : " . Tadls isnd secara umum makruh dan banyak para ulama yang sangat membencinya, salah satunya yaitu Syu'bah karena tadls itu saudara dari dusta. Dengan demikian Status hukum tadls isnd yaitu ada dua pendapat, diantaranya yaitu: apabila hadis tersebut menggunakan shghah qla atau 'an dan tidak ada yang menjelaskan mereka mendengar atau tidak dan tidak bersambung maka hukumnya sama seperti hadis mursal. Ini adalah pendapat yang lebih utama. apabila di dalam hadis tersebut menggunakan shghah haddatsan, sami'tu atau akhbaran dan mendengar darinya dan bersambung sanadnya maka hukumnya diterima dan bisa untuk dijadikan hujah. 2. Tadls syuykh Adalah rawi yang meriwayatkan hadis dari seorang syekh, dia mendengar darinya dan dia memberikan nama atau panggilan atau gelar atau sifat atau nasab ke kabilahnya atau Negara asalnya yang awalnya tidak terkenal menjadi terkenal. Orang yang paling banyak men-tadls adalah Ahlu Kuffah. Adapun Ahlu Baghdad tidak ada kecuali Abu Bakar Muham ibn Muhammad ibn Sulaiman al-Baghindy al-Wasithy dan dialah orang yang pertama kali mentadls. Tujuan adanya tadls syuykh yaitu mencakup sebagai berikut: 1. Karena syekhnya lebih muda umurnya atau lebih tua sedikit dari sang murid. 2. Karena syekhnya dha'f dan sang murid sengaja menyembunyikan nama syekh atau panggilannya dengan tujuan untuk menutupi keadaannya yang lemah sehingga tidak terlihat dia mengambil dari golongan orang yang dhu'af`. 3. Karena syekhnya panjang umur menyebabkan bukan hanya pentadls yang mendengarkan darinya tetapi ada juga orang lain yang mendengar. 4. Seorang murid yang mendengar banyak hadis dari syekh kemudian diubah tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan syekh supaya tidak terkenal lagi karena sang murid tidak senang menyebutkan banyaknya hadis yang di riwayatkan oleh satu orang saja.
Istitah Abdul Hamid Abdul Hamid, Dirst f Ulm al-Hadits, Kairo, 2009 dan Al-Khusyui al-Khusyui Muhammad al-KhusyuI, Ulm al-Hadts, 2008. 25 Makna dari tadls al-taswiyyah adalah seorang rawi yang meriwayatkan dari seorang syekh kemudian menggugurkannya dan menjatuhkannyan, karena boleh jadi lemah atau lebih muda umurnya atau menurut dia tsiqah tetapi dha'f menurut yang lainnya. Makna tadlis 'athaf yaitu: seorang rawi secara terang-terangan dalam periwayatan hadis dari seorang syekh kemudian menambahkan satu orang syekh lagi padahal dia tidak mendengar dari syekh tersebut. Makna tadlis qitha' yaitu seorang rawi yang menggugurkan sghah periwayatan dan hanya menyebutkan nama syeknya saja. Tadls ini disebut tadls al-hadzf. Tadls sukt adalah seorang rawi yang menyebutkan shghah periwayatan seperti haddatsan kemudian diam dan setelah itu baru menyebutkan nama syekhnya.
24

Contoh tadls syuykh yaitu: : " " : Status hukum tadls syukh ini para muhadditsn berbeda pendapat dan perbedaan ini sesuai dengan perbedaan tujuan sang rawi dalam men-tadls. Apabila rawi men-tadls dengan tujuan menutupi yang dha'f supaya terlihat shahh dan bisa diterima maka hukumnya haram, karena di dalamnya ada penipuan. Adapun kalau tujuan men-tadls-nya dikarenakan syekhnya lebih muda umurnya atau yang lainnya maka hukumnya tidak haram melainkan makruh karena sang rawi menyebutkan syekh dengan sesuatu yang tidak diketahui sehingga menjadikannya dalam posisi yang majhl 'ain dan halnya maka hadisnya tidak diterima kecuali jika diketahui dia adalah seorang yang adil dan dhbith. b. Mursal khafiy Mursal khafiy menurut istilah adalah seorang yang meriwayatkan sebuah hadis dari seseorang yang ia temui atau semasa tetapi ia tidak mendengar darinya dan tidak bertemu dengannya.26 Contoh hadis mursal khafiy yaitu: " Mursal khafiy ini adalah salah satu cabang dari hadis mursal dan cabang yang lainya yaitu seperti mursal jaliy dan mursal shahabiy.27 Perbedaan hadis mursal khafiy dan hadis mudallas sangatlah dalam, karena hadis mudallas adalah hadis yang dikhususkan bagi seorang rawi yang diketahui pertemuannya, adapun yang sezaman tetapi tidak bertemu maka disebut mursal khafiy. Dan bagi yang berpendapat bahwa tadls adalah yang sezaman tetapi tidak bertemu maka masuk di dalamnya definisi hadis mursal. Tetapi yang benar antara kedua definisi hadis tersebut berbeda. Yang dimaksud pertemuan dalam tadls itu tanpa menyebutkan sezaman. Maka para ulama sepakat bahwa periwayatan orang-orang mukhadram28 seperti Abu Utsman al-Nahdy, Qais ibn Hazim dari Nabi Saw. ini termasuk ke irsl bukan ke tadls. Dan kalaupun orang yang sezaman dan sudah cukup maka mereka termasuk ke dalam kelompok mudallisn karena sezaman dengan Nabi Saw. tapi tidak diketahui apakah bertemu atau tidak. D. Kitab-kitab Hadis Dha'f 1. Kitab Trkh Baghdd oleh Abu Bakar Ahmad ibn Ali ibn Tsabit ibn Ahmad ibn Mahdi alBaghdady (392-463). 2. Kitab Adhu'af al-Trkh al-Kabr oleh Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah al-Bukhari (194-256). 3. Kitab al-Dhu'af` wa al-Matrkn oleh Abu al-Hasan Ali ibn Umar ibn Ahmad ibn Mahdi ibn Mas'ud ibn Nu'man ibn Abdillah al-Darquthni (305 -385). 4. Kitab Mzn al-I'tidl oleh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman ibn Abdillah al-Dzahabi (748-1374).

Ibn Hajar al-Asqalany, Nuzhah al-Nazhar f Taudhh Nukhbah al-Fikr, Mathba'ah Dar al-Bashair, Kairo, cet. 1, 2011 h. 85. 27 Makna mursal jaliy adalah seseorang yang meriwayatkan terputus karena tabiin tidak menyebutkan orang yang dihapus dan kita mengetahui dengan pasti bahwa antara tabiin dan Rasul tidak semasa sehingga tidak mungkin untuk bertemu. Makna mursal shahabiy yaitu apabila seorang sahabat yang namanya tercantum tetapi ia tidak tahu kejadian dan peristiwanya dan ia tidak mendengar, melihat, menghafal dan menyaksikan dengan sebab boleh jadi ia terakhir masuk islamnya. 28 Al-Mukhadhram adalah orang yang sezaman dengan Rasulullah Saw. dan sudah masuk Islam tetapi tidak bertemu.

26

5. Kitab Lisn al-Mzn oleh Syihabuddin Abu Fadhl Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ali ibn Mahmud ibn Ahmad ibn Ahmad ibn Kanany al-Asqalany (773852). E. Epilog Hadis dha'f adalah hadis yang paling penting untuk diperhatikan dan dianalisa supaya bisa mengatasi semua problematika terutama problem yang datang dari kelompok yang berusaha untuk mengacak-acak agama Islam. Hadis dha'f dengan pembagiannya yang sangat banyak dan detail semoga kita bisa membedakan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Harapan penulis, meski tulisan ini jauh dari kata sempurna semoga bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Amin. Wallahu a'lam

Daftar Pustaka Al-Qur`an al-karim Al-Asqalani, Ibn Hajar, Nuzhah al-Nazhar f Syarh Nukhbah al-Fikr, Mathba'ah Dar alBashair, cet. I, 2011 Al-Farmawi, Umar Muhammad Abdul Mun'im, Dirst f Ulm 'Ilal al-Hadts, cet. I, 2009 Al-Ghaury, Sayyid Abdul Majid, Mu'jam al-Mushthalaht al-Hadtsiyyah, Dar Ibn Katsir, Beirut, cet. I, 2007 Al-Khusyu'i, al-Khusyu'i al-Khusyu'i Muhammad, Ulm al-Hadts, 2008 Al-Nawawy, qawid al-Tahdts Al-Sakhawy, Syamsuddin, Fath Mughts bi Syarh Alfiyahal-Hadts Al-Suyuthi, Jalaluddin, Tadrb al-Rw fi Syarh Taqrb al-Naww, Mathba'ah Dar al-Hadis, Kairo, 2010 Hamid, Istitah Abd al-Hamid abdul, Dirst f Ulm al-Hadts, Kairo, 2009 Hasyim, Ahmad Umar, Dirst f Mushtalah al-Hadts wa al-Rijl Humadah, Faruq, al-Manhaj al-Islmiy fi al-Jarh wa al-Ta'dl, Mathba'ah Dar al-Salam, Kairo, 2008 Shalah , Utsman ibn Mufti Shalahuddin ibn, al-Muqaddimah ibn al-Shalah, Mathba'ah Dar alFikr, Beirut, cet. XV, 2009

10