Anda di halaman 1dari 13

PENATALAKSANAAN  FARMAKO Antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih antara lain: 1. Cotrimoxazole 2. Fluoroquinolone 3.

Betalactam: Penicillin dan Cephalosporin 4. Aminoglycoside

1. TRIMETHOPRIM-SULFAMETHOXAZOLE y y Nama Generik : Co-trimoxazole Nama Dagang : Bactrim (Roche), Kaftrim (Kimia Farma), Inatrim (Indo Farma), Primadex (Dexa Medica), Sanprima (Sanbe), Triminex (Konimex)

Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Infeksi Saluran Pencernaa, Infeksi Saluran Pernapasan, Infeksi kulit

y y

Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap komponen obat, anemia megaloblastik Bentuk Sediaan : Tablet ( 80 mg Trimethoprim 400 mg Sulfamethoxazole Kaplet Forte (160 mg Trimethoprim 800 mg Sulfamethoxazole ) Sirup suspensi ( Tiap 5 ml mengandung 40 mg Trimethoprim 200 mg Sulfamethoxazole )

Dosis : Anak diatas 2 bulan : 6-12 mg trimethoprim/ kg/ hari, terbagi dalam 2 dosis (tiap 12 jam) Dewasa : 2 x sehari 2 tablet atau 2 x sehari 1 kaplet forte Efek Samping : mual, muntah, hilang nafsu makan, kemerahan pada kulit

Resiko Khusus : defisiensi G6PD, defisiensi asam folat, wanita hamil dan menyusui, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal.

2. CIPROFLOXACIN y y Nama Generik : Ciprofloxacin Nama Dagang : Ciproxin (Bayer), Interflox (Interbat), Nilaflox (Nicholas), Quidex (Ferron), Renator (Fahrenheit), Scanax (Tempo Scan Pasific) y Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Sinusitis Akut, Infeksi Kulit, Infeksi Tulang dan Sendi, Demam Typhoid, Pneumonia Nosokomial y y Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap Ciprofloxacin atau golongan quinolon lain Bentuk Sediaan : Tablet, kaplet (250 mg, 500 mg, 750 mg); Tablet lepas lambat ( 500 mg, 1000 mg ) y y Dosis : Dewasa : 250 mg tiap 12 jam Efek Samping : ruam kulit, diare, mual, muntah, nyeri perut, sakit kepala, susah tidur, jantung berdebar-debar, halusinasi y Resiko Khusus : Pasien dengan gangguan ginjal, Wanita hamil dan menyusui.

3. COTRIMOXAZOLE

Cotrimoxazole merupakan antibiotik sulfonamide kombinasi dari sulfamethoxazole dan trimethoprime. Antibiotik ini memiliki spektrum kerja yang luas, dan daya antibakteri trimetophrim sekitar 20-100 kali lebih kuat dibandingkan sulfamethoxazole. Mikroba yang peka terhadap kombinasi ini ialah: S. pneumonia, C. diphteriae, N. meningitis, 50-95% strain S.aureus, S. pyogenes, S. viridans, S. faecalis, E. coli, P. mirabilis, P. morganii, P. rettgeri, Enterobacter, Aerobacter spesies, Salmonella, Shigella, Serratia dan Alcaligenesspesies dan Klebsiella spesies. Di mana pada infeksi saluran kemih yang paling banyak berperan adalahE. coli, Proteus dan Klebsiella. Mekanisme kerja cotrimoxazole adalah dengan menghambat reaksi enzimatik pembentukan asam tetrahidrofolat (lihat gambar di bawah).

Sulfonamid/sulfamethoxazole menghambat masuknya molekul PABA (p-

amibobenzoic acid) ke dalam molekul asam folat Trimethoprim menghambat reaksi reduksi dari asam dihidrofolat menjadi asam

tetrahidrofolat Tetrahidrofolat tersebut penting untuk reaksi-reaksi pemindahan atom C, seperti pada sintesis basa purin dan asam amino. Trimethoprim menghambat enzim dihidrofolat reduktase secara selektif, mengingat enzim tersebut juga terdapat pada manusia. Resistensi terhadap cotrimoxazole lebih rendah dari pada terhadap masing-masing obat penyusunnya. Resistensi terhadao bakteri Gram-negatif disebabkan oleh adanya plasmid yang membawa sifat menghambat kerja obat terhadap enzim dihidrofolat reduktase. Secara farmakokinetik, rasio yang ingin dicapai antara kadar sulfamethoxazole dan trimethoprim dalam darah adalah 20:1. Karena Vd trimethoprim lebih besar daripada sulfamethoxazole, maka pada pemberian peroral rasio sulfamethoxazole dan trimethoprim adalah 5:1 (dengan harapan ketika mencapai darah rasionya menjadi 20:1). Trimethoprim cepat terdistribusi ke jaringan dan kira-kira 40% terikat pada protein plasma dengan adanya sulfamethoxazole. Kira-kira 65% sulfamethoxazole terikat pada protein plasma. Sampai 60% trimethoprim dan 25-50% sulfamethoxazole diekskresi melalui urin dalam 24 jam setelah pemberian. Cotrimoxazole digunakan untuk infeksi ringan saluran kemih bagian bawah. Dosis 160 mg trimethoprim dan 800 mg sulfamethoxazole setiap 12 jam selama 10 hari menyembuhkan

sebagian besar pasien. Pemberian dosis tunggal (320 mg trimethoprim dan 1600 mg sulfamethoxazole) selama 3 hari juga efektif untuk pengobatan infeksi akut saluran kemih yang ringan, infeksi kronik dan berulang pada saluran kemih. Efek samping dari cotrimoxazole antara lain: megaloblastosis, leukopenia, trombositopenia (pada orang dengan defisiensi folat), dermatitis eksfoliatif, sindroma Steven-Johnson, nekrolisis epidermal toksik (jarang), mual, muntah, sakit kepala, dll.

4. FLUOROQUINOLONE

Fluoroquinolone merupakan antibiotik yang memiliki spektrum terutama untuk bakteri Gram negatif (dayanya terhadap bakteri Gram positif relatif lemah). Walaupun dalam beberapa tahun terakhir telah dikembangkan fluoroquinolone baru yang berdaya antibakteri baik terhadap kuman Gram positif (S. pneumoniae dan S. aureus) serta untuk kuman atipik penyebab infeksi saluran napas bagian bawah (Chlamydia pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae, Legionella). Yang termasuk ke dalam golongan fluoroquinolone adalah ciprofloxacin, norfloxacin, levofloxacin, ofloxacin, moxifloxacin, dll. Fluoroquinolone mempunyai daya antibakteri yang sangat kuat terhadap E. coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus, H. influenzae, Providencia, Serratia, Salmonella, N. meningitidis, N. gonorrhoeae, B. catarrhalis dan Yersinia enterocolitica. Fluoroquinolone merupakan antibiotik bakterisidal yang bekerja dengan menghambat enzim topoisomerase II dan topoisomerase IV. Enzim topoisomerase II (= DNA gyrase) berfungsi untuk merelaksasikan DNA bakteri yang mengalamipositive supercoiling, sedangkan topoisomerase IV berfungsi dalam pemisahan DNA baru. Resistensi pada fluoroquinolone dapat terjadi melalui mekanisme berikut: Mutasi pada gen gyr A yang menyebabkan enzim gyrase A (topoisomerase II) tidak

dapat diduduki oleh molekul obat Perubahan pada permukaan sel kuman yang menghambat penetrasi obat Peningkatan mekanisme pemompaan obat keluar (efflux)

Fluoroquinolone terdistribusi dengan baik pada berbagai organ tubuh. Dalam urin, semua fluoroquinolone mencapai kadar yang melampaui kadar hambat minimal untuk kebanyakan kuman patogen selama minimal 12 jam. Waktu paruhnya relatif panjang sehingga cukup diberikan dua kali sehari. Kebanyakan fluoroquinolone dimetabolisme di hati dan diekskresikan melalui ginjal. Fluoroquinolone dapat digunakan untuk infeksi saluran kemih dengan/tanpa penyulit, termasuk yang disebabkan oleh kuman-kuman yang multiresisten dan P. aeruginosa. Efek samping yang ditimbulkan oleh fluoroquinolone antara lain: mual, muntah, sakit kepala, halusinasi, kejang, delirium (jarang), hepatotoksisitas (jarang), kardiotoksisitas (penutupan kanal kalium menyebabkan aritmia ventrikel/torsades de pointes) dll. Absorpsi fluoroquinolone dihambat oleh antasid dan preparat besi, oleh karena itu pemberiannya harus berselang 3 jam. Selain itu fluoroquinolone juga tidak boleh diberikan dengan teofilin dan obat-obat yang memperpanjang interval QTc. Obat ini tidak diindikasikan untuk anak di bawah 18 tahun dan wanita hamil.

5. BETALACTAM: Penicillin dan Cephalosporin

A. Penicillin Penicillin merupakan antibiotik spektrum luas yang memiliki mekanisme kerja sebagai berikut: Penicillin bergabung dengan penicillin-binding protein (PBP) pada kuman Terjadi hambatan sintesis dinding sel karena proses transpeptidase antra rantai peptidoglikan terganggu Aktivasi enzim proteolitik pada dinding sel

Terdapat beberapa klasifikasi penicillin, yaitu penicillin alami (penicillin G), aminopenicillin (amoxicillin dan ampicillin), penicillin anti stafilokokal (dicloxacillin, flucloxacillin), penicillin anti pseudomonal (ticarcilin) dan ureidopenicillin (piperacillin). Khusus untuk infeksi saluran kemih, yang sering digunakan adalah amoxicillin dan ampicillin. Absorpsi ampicillin pada pemberian peroral dipengaruhi oleh dosis dan ada tidaknya makanan. Adanya makanan akan menghambat absorpsi (hanya 40%). Sedankan absorpsi amoxicillin di saluran cerna lebih baik dibanding ampicillin (75-90% karena tidak dipengaruhi oleh makanan), dan mencapai kadar dalam darah 2 kali lebih tinggi dibanding ampicillin. Kedua obat ini memiliki ikatan protein 17-20% dan waktu paruh 1 jam. Efek samping yang dapat timbul antara lain reaksi alergik. Adapun mekanisme resistensi terhadap penicillin adalah sebagai berikutL: Pembentukan enzim betalaktamase Enzim autolisin kuman tidak bekerja Kuman tidak mempunyai dinding sel (misalnya mikoplasma) Perubahan PBP atau obat tidak dapat mencapai PBP

B. Cephalosporin Cephalosporin merupakan antibiotik yang resisten terhadap penisilinase, tetapi dapat dirusak oleh cephalosporinase. Obat ini menghambat sintesis dinding sel mikroba, yaitu pada reaksi

transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Cephalosporin aktif terhadap kuman Gram positif dan negatif, sesuai dengan derivat/generasinya: - Cephalosporin generasi 1 (cefazolin, cephradine), aktif terhadap kuman Gram positif dan bakteri penghasil penisilinase - Cephalosporin generasi 2 (cefamandole, cefuroxime), aktif terhadap kuman Gram negatif seperti H. influenzae, P mirabilis, E. coli danKlebsiella. Tidak efektif terhadap P. aeruginosa dan enterokokus. - Cephalosporin generasi 3 (cefotaxime, ceftriaxone), kurang aktif terhadap kuman Gram positif dibanding generasi pertama, tetapi jauh lebih aktif terhadap Enterobacteriaceae dan P. aeruginosa - Cephalosporin generasi 4 (cefepime), mempunyai spektrum lebih luas dibanding generasi 3, dan lebih stabil terhadap kuman penghasil betalaktamase. Untuk infeksi saluran kemih, semua generasi Cephalosporin di atas dapat digunakan, namun generasi 1 memiliki aktivitas yang lebih terbatas. Efek samping yang dapat timbul dari pemberian Cephalosporin antara lain: hipersensitifitas, nefrotoksisitas, dll.

6. AMINOGLYCOSIDE Aminoglycoside merupakan antobiotik dengan aktivitas yang terutama tertuju pada basil Gram-negatif seperti P. aeruginosa, Klebsiella, Proteusdan E. coli. Aminoglycoside bekerja dengan berikatan pada ribosom 30S sehingga menghambat sintesis protein (menyebabkan salah baca-misreading). Antibiotik ini bersifat bakterisidal. Berbagai derivat aminoglycoside adalah streptomisin, neomisin, kanamisin, paromomisin, gentamisin, tobramisin, amikasin, dll.

Obat ini sangat polar sehingga sukar diabsorpsi melalui saluran cerna. Oleh karena itu pemberiannya kebanyakan secara parenteral. Pada pemberian parenteral (IM), kadar puncak dicapai dalam waktu sampai 2 jam dan diekskresikan melalui ginjal terutama dengan filtrasi glomerulus. Pada infeksi saluran kemih, yang sering digunakan adalah gentamisin, netilmisin, tobramisin dan amikasin. Adapun mekanisme terbentuknya resistensi antara lain: Kegagalan penetrasi obat ke dalam kuman Rendahnya afinitas obat pada ribosom Inaktivasi obat oleh enzim kuman (fosforilase, adenilase, asetilase) yang dapat

ditansferkan melalui plasmid Efek samping dari pemberian aminoglycoside adalah: ototoksisitas, nefrotoksisitas, dan paralisis respiratorik (jarang)

7. PHENAZOPYRIDINE KOMPOSISI : Setiap kaplet mengandung Phenazopyridine HCl 100 mg. FARMAKOLOGI : Phenazopyridine HCl mempunyai efek analgesik topikal pada mukosa saluran kemih. Phenazopyridine HCl akan mengurangi gejala-gejala sakit, perih atau rasa terbakar urgensi, frekuensi dan lain-lain keadaan tidak enak yang timbul karena iritasi pada selaput lendir saluran kemih bagian bawah. Gejala-gejala ini dapat timbul karena adanya infeksi, trauma, pembedahan, tindakan endoskopik atau kateterisasi. Penggunaan obat ini hendaknya tidak memperlambat penentuan diagnosa dan pengobatan kausalnya. INDIKASI : Untuk mengurangi gejala-gejala sakit, perih atau rasa terbakar, urgensi, frekuensi dan lainlain keadaan tidak enak yang timbul karena infeksi pada selaput lendir saluran kemih bagian bawah. DOSIS : Anak-anak 6-12 tahun Dewasa Diminum setelah makan. : 3 x sehari 100 mg. : 3 x sehari 200 mg.

PERINGATANPERHATIAN : - Hati-hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui. - Penderita diberi informasi bahwa obat dapat menyebabkan urine berwarna merah.

EFEK SAMPING : Kadang-kadang dapat timbul keluhan sakit kepala, vertigo, nausea, hepatotoksik, renal failure dan rashes. Pada dosis berlebih dapat timbul efek samping berupa methemoglobinemia dan hemolytic anemia.

KONTRA INDIKASI : - Pada pasien yang hipersensitif terhadap Phenazopyridine HCl. - Pada pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal dan pasien hepatitis.

 NON FARMAKO Jus Ketimun

Jus mentimun merupakan salah satu pengobatan rumah paling berguna dalam pengobatan sistitis. Ini adalah diuretik yang sangat efektif. Secangkir jus ini, dicampur dengan satu sendok teh madu dan satu sendok makan air jeruk nipis segar, harus diberikan tiga kali sehari.

Daun Lobak

Jus dari daun lobak berharga dalam sistitis. Secangkir jus ini harus diberikan sekali dalam sehari, di pagi hari, selama dua minggu.

Bayam

Sejumlah 100 ml jus bayam segar, diambil dengan kuantitas yang sama tender air kelapa dua kali sehari, dianggap bermanfaat dalam pengobatan sistitis. Bertindak sebagai diuretik yang sangat efektif dan aman karena tindakan gabungan dari kedua nitrat dan kalium.

Lemon

Lemon telah terbukti berharga dalam sistitis. Sebuah sendok teh jus lemon harus diletakkan dalam 180 ml air mendidih. Kemudian harus dibiarkan dingin dan 60 ml air ini harus dilakukan setiap dua jam dari 8 pagi sampai 12 siang untuk perawatan kondisi ini. Hal ini memudahkan sensasi terbakar dan juga menghentikan pendarahan di Sistitis

Barley

Masing-masing setengah gelas bubur gandum, dicampur dengan mentega dan jus jeruk nipis setengah, adalah diuretik yang sangat baik. Hal ini bermanfaat dalam pengobatan sistitis, dan dapat diambil dua kali sehari.

Minyak Cendana

Minyak cendana juga dianggap berharga dalam penyakit ini. Minyak ini harus diberikan dalam dosis lima tetes pada awal dan berangsur-angsur meningkat sampai sepuluh untuk 30 tetes. Kemanjuran minyak ini dapat ditingkatkan dengan penambahan satu sendok teh biji karambol dicampur dalam segelas air, atau sepuluh gram jahe dicampur dalam secangkir air.

Menahan semua makanan padat, air atau air kelapa lembut

Pada awal sistitis akut, sangat penting untuk menahan semua makanan padat. Jika ada demam, pasien harus berpuasa tender air atau air kelapa selama tiga atau empat hari.

Sayuran mentah jus terutama jus wortel

Jika tidak ada demam, sayuran mentah jus, terutama jus wortel, harus diminum setiap dua atau tiga jam. Setengah gelas jus wortel harus dicampur dengan kuantitas yang sama air dan diambil pada satu waktu. Selama dua atau tiga hari, hanya buah-buahan matang dapat diambil tiga atau empat kali sehari.

Istirahat dan tetap hangat

Selama tiga atau empat hari sistitis akut, ketika pasien berada pada diet cairan, disarankan untuk istirahat dan tetap hangat. Rendam panggul dalam air panas untuk menghilangkan rasa sakit. Sakit dapat dihilangkan dengan merendam panggul dalam air panas. Atau, panas dapat diterapkan pada perut, dengan menggunakan handuk diperas di air panas dan menutupnya dengan handuk kering untuk mempertahankan kehangatan. Perawatan ini dapat dilanjutkan

selama tiga atau empat hari, dengan waktu yang rutin sampai peradangan mereda dan suhu kembali normal.

Oleskan kompres dingin di perut

Selama dua atau tiga hari, kompres dingin harus diterapkan ke perut. Sementara kompres panas dimaksudkan untuk menghilangkan rasa sakit, penggunaan kompres air dingin yang paling berharga dalam mengurangi kemacetan panggul dan meningkatkan aktivitas kulit. Perhatian, bagaimanapun, harus diambil untuk memastikan bahwa tidak menyebabkan kompres dingin.

IRIGASI KANDUNG KEMIH

Irigasi kandung kemih adalah tindakan mencuci kandung kemih dengan cairan yang mengalir. Tindakan ini dilakukan untuk memberi pengobatan, memanaskan mukosa kandung kemih, membersihkan kandung kemih. Persiapan pasien sama seperti persiapan pada pelaksanaan tindakan kateterisasi. Indikasi tindakan: Radang kandung kemih Peradangan saluran kemih bagian atas Peradangan kandung kemih Pasien menggunakan kateter.

Rendam duduk Rendam duduk adalah merendam daerah anus dan sekitarnya serta daerah genetalia. Tujuan tindakan ini ialah memberikan perawatan/penanggulangan untuk membersihkan luka dan untuk mengurang rasa sakit. Tindakan ini dilakukan untuk pasien dengan peradangan, luka terbuka-yang kotor pada daerah anus dan genetalia,

Persiapan alat dan bahan:  Zeil bak rendam duduk spiritus bakar dalam tempatnya

         

Korek api Termometer air Peniti Handuk Plester taunting . Bak steril bertutup berisi kain kasa dan pinset Cairan obat yang diperlukan (mis. kalium permanagat 4%) Selimut mandi Tirai

Cara mengaiar:       Pasien diberi tahu tentang tindakan yang akan dikerjakan. Alat-alat disiapkan dan diletakkan dekat pasien. Tirai dipasang. Perawat mencuci tangan. Zeil rendam duduk di flambir, kemudian diisi cairan obat sebanyak sepertiga bagian,, ukur suhu cairan dengan menggunakan termometer air, dengan suhu 40-43C Pasang Selimut mandi sampai menutupi seluruh bokong pasien, pakaian bawah pasien dilepaskan. Pakaian pasien bagian atas dilipat dan diberi peniti agar tidak terendam air. Pasien diminta untuk duduk di atas zeil selama 10-15 menit.  Bila sudah selesai, bokong pasien dikeringkan dengan handuk. Tutup luka dengan menggunakan kasa steril dan pinset, kemudian luka diplester. Pakaian bawah pasien dipakaikan kembali, selimut diangkat. Pasien dianjurkan untuk istirahat kembali di tempat tidur. Alat-alat dibereskan dan dibersihkan.

Referensi: 1. Syarif A et.al. Farmakologi dan Terapi. 5thed. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/antibiotik-untuk-infeksi-salurankemih/ www.farmasiku.com Brunner & Suddath.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC