Anda di halaman 1dari 46

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Betapa penting dan besar manfaatnya asuransi dalam masa pembangunan dewasa ini terutama dalam usaha menyerap modal swasta melalui premi asuransi yang didapat dari para pemegang polis. Dengan mulai tampak adanya perubahan dalam cara berfikir sebagian besar bangsa Indonesia, dari tradisional ke modern maka tiba saatnya dunia perasuransian di Indonesia untuk mengembangkan usahanya. Kebutuhan manusia akan perlindungan baik itu terhadap dirinya maupun barangbarangnya (asset) sudah semakin besar. Hal ini dipengaruhi kondisi keamanan di negara kita yang perlu dijaga serta didukung tingginya tingkat pengetahuan manusia. Salah satu produk yang dimiliki manusia adalah asuransi. Perkembangan pesat. Ini asuransi menunjukkan sendiri di Indonesia kebutuhan berkembang sangat tingginya

masyarakat adanya asuransi. Jika kita memperhatikan konsep asuransi maka hal tersebut jelas dapat memberikan perlindungan lebih pada nasabahnya. Orang yang mengikuti asuransi akan mendapat jaminan atas ganti kerugian barangbarangnya jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan (avengement). Berdasarkan perkembangannya, terdapat beberapa jenis asuransi di antara asuransi kerugian dan asuransi jiwa. Kedua asuransi tersebut sering disebut dengan asuransi non syariah. Selain itu juga terdapat asuransi syariah yang berdasarkan pada hukum Islam. Sebenarnya dalam hukum Islam sendiri masih terdapat pertentangan mengenai halal atau haramnya produk asuransi. Dalam praktek asuransi syariah juga masih belum sepenuhnya sesuai dengan syariat Islam sehingga batasan antara asuransi non syariah dengan asuransi syariah sangat tipis. Asuransi syariah diharapkan dapat mengatasi pertentangan mengenai halal atau haramnya produk asuransi dan dapat diterapkan di Indonesia tanpa menyalahi syariat Islam.

. 1.2 TUJUAN PENULISAN 1

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


1. Untuk mengetahui sudut pandang hukum Islam tentang asuransi. 2. Untuk mengetahui perbedaan antara asuransi syariah dengan asuransi non syariah. 3. Memenuhi salah satu tugas Akuntansi Syariah. 1.3 MANFAAT PENULISAN 1. Bagi masyarakat pada umumnya, diharapkan bisa menambah wawasan tentang asuransi syariah. 2. Bagi nasabah asuransi pada umumnya, diharapkan bisa memberikan pandangan lebih luas tentang keuntungan dan kerugian asuransi syariah dan asuransi konvensional. 3. Bagi pengamat asuransi, diharapkan dapat mengetahui pendapatpendapat yang ada tentang asuransi konvensional jika dipandang dari sudut hukum Islam. 4. Bagi mahasiswa, diharapkan dapat memahami lebih dalam tentang asuransi, baik asuransi syariah maupun asuransi konvensional. 1.4 METODE PENULISAN Dalam penulisan makalah ini, penyusun menggunakan metode studi pustaka dengan mencari sumber-sumber yang relevan melalui internet, buku-buku yang terkait dengan materi akuntansi syariah, khususnya dalam hal ini materi mengenai asuransi syariah.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 SEJARAH ASURANSI SYARIAH Perkembangan asuransi dalam sejarah Islam sudah lama terjadi. Praktik asuransi Islam atau pada jaman Nabi Muhammad SAW disebut 2

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


dengan Al-Alqila pertama dilakukan pada masa Nabi Yusuf as, yaitu pada saat ia menafsirkan mimpi dari raja Fir'aun. Tafsiran yang ia sampaikan bahwa Mesir akan mengalami masa 7 panen yang melimpah dan diikuti dengan masa 7 tahun paceklik. Untuk menghadapi masa sulit itu, Nabi Yusuf as menyarankan agar menyisihkan sebagian dari hasil panen pasa masa 7 tahun pertama. Saran Nabi Yusuf as tersebut ini diikuti Raja Fir'aun, sehingga masa sulit tersebut dapat ditangani dengan baik. Praktik Al-Alqila yang dilakukan oleh masyarakat Arab dilakukan dimana sekelompok orang membantu untuk menanggung orang lain yang terkena musibah. Nabi Muhammad SAW membuat ketentuan dalam pasal khusus pada Konstitusi Madinah mengenai praktik ini, yaitu pada Pasal 3 isinya, yaitu: Orang Quraisy yang melakukan perpindahan (ke Madinah) melakukan pertanggungan bersama dan akan saling bekerja sama membayar uang darah diantara mereka. Sebelum abad ke-14 asuransi telah dilakukan oleh orang-orang Arab sebelum datangnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Orang-orang Arab yang mahir dibidang perdagangan telah melakukan perdagangan di Negara lain melalui jalur laut. Untuk melindungi barangbarang dagangannya ini mereka mengasuransikannya dengan tidak menggunakan bunga dan riba. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiri telah melakukan asuransi ketika melakukan perdagangan di Mekkah. Suatau ketika Nabi Muhammad SAW turut dalam perdagangan di Mekkah dan seluruh armada perdagangannya terpecah belah oleh suatu bencana, hilang di padang pasir. Kemudian para pengelola usaha yang merupakan anggota Dana Kontribusi membayar seluruh barang dagangan, termasuk harga unta dan kuda yang hilang, kepada para korban yang selamat dan keluarga korban yang hilang. Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu berdagang dengan modal dari Siti Khodijah juga telah menyumbangkan dana pada Dana Kontribusi tersebut dari keuntungan yang diperolehnya. Pada paruh abad ke-20 di beberapa Negara Timur Tengah dan Afrika telah mulai mencoba mempratekkan asuransi dalam bentuk takaful yang kemudian berkembang pesat hingga ke negara-negara penduduk non muslim sekalipun di Eropa dan Amerika. 2.2 PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM ASURANSI SYARIAH

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Kata asuransi berasal dari bahasa Inggris, insurance, yang dalam bahasa Indonesia telah menjadi popular dan diadopsi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan padanan kata pertanggungan. Echols dan Shadilly memaknai kata insurance dengan (a) asuransi, (b) jaminan. Dalam bahasa belanda biasa disebut dengan istilah assurantie (asuransi) dan verzekering (pertanggungan). Dalam kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 246 dijelaskan bahwa yang dimaksud asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian (timbal balik), dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya, karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya, karena suatu peristiwa tak tentu (onzeker vooral). Definisi asuransi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992 tentang usaha perasuransian Bab 1 Pasal 1: Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Dalam bahasa Arab, asuransi dikenal dengan istilah at-tamin, penanggung disebut muammin, tertanggung disebut muamman lahu atau mustamin. At-tamin diambil dari amana yang artinya memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman dan bebas dari rasa takut. Ahli fikih kontemporer Wahbah az-Zuhaili mendefinisikan asuransi berdasarkan pembagiannya. Ia membagi sauransi dalam dua bentuk, yaitu at-ta;min at-taawuni dan at-tamin bi qist sabit. At-tamin atta;awuni atau asuransi tolong-menolong adalah kesepakatan sejumlah orang untuk membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah seorang diantara mereka mendapat kemudaratan. At-tamin bi qist sabit atau asuransi dengan pembagian tetap adalah akad yang mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian apabila peserta asuransi mendapat kecelakaan, ia diberi ganti rugi. Dalam Ensiklopedia Hukum Islam digunakan istilah at-takaful alijtimaI atau solidaritas yang diartikan sebagai sikap anggota masyarakat Islam yang saling memikirkan, memerhatikan dan membantu mengatasi kesulitan, anggota masyarakat Islam yang satu merasakan penderitaan yang lain sebagai penderitaannya sendiri dan keberuntungannya adalah juga keberuntungan yang lain. Hal ini sejalan dengan HR. Bukhari Muslim: Orang-orang yang beriman bagaikan sebuah bangunan, antara satu bagian dan bagian yang lainnya saling menguatkan sehingga melahirkan suatu kekuatan yang besar dan HR. Bukhari Muslim lainnya, Perumpamaan orang-orang mukmin dalam konteks solidaritas ialah bagaikan satu tubuh manusia, jika salah satu anggota tubuhnya merasakan kesakitan maka seluruh anggota tubuhnya yang lain turut merasa kesakitan dan berjaga-jaga (agar tak berjangkit pada anggota yang lain). Pengertian di atas tidak dapat dijadikan landasan hukum yang kuat bagi asuransi syariah, karena tidak mengatur keberadaan asuransi berdasarkan prinsip syariah, serta tidak mengatur tentang teknis pelaksanaan administrasinya. Dasar Hukum Pedoman untuk menjalankan usaha asuransi syariah terdapat dalam Fatwa Dewan Asuransi Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Fatwa DSN No 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah. Fatwa tersebut dikeluarkan karena regulasi yang ada tidak dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan kegiatan asuransi syariah. Tetapi Fatwa Dewan Asuransi Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Fatwa DSN No 21/DSNMUI/ X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah ini tidak mempunyai kekuatan hukum dalam Hukum Nasional karena tidak termasuk dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Agar ketentuan asuransi syariah memiliki kekuatan hukum, maka perlu dibentuk peraturan yang termasuk peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia meskipun dirasa belum memberi kepastian hukum yang lebih kuat, peraturan tersebut yaitu: 5 kegiatan asuransi dalam kaitannya kegiatan

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


1. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 426/KMK.06/2003 tentang Perijinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Ketentuan yang menjadi dasar mendirikan asuransi syariah dalam Pasal 3 Keputusan Menteri ini menyebutkan bahwa: setiap pihak dapat melakukan usaha asuransi atau usaha reasuransi berdasarkan prinsip syariah Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tercantum dalam Pasal 3 dan Pasal 4 mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh ijin usaha perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah. Pada Pasal 33 mengenai pembukaan kantor cabang dengan prinsip syariah dari perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah. 2. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 424/KMK.06/2003 Tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Ketentuan yang berkaitan tercantum dalam Pasal 1518 mengenai kekayaan yang diperkenankan harus dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah. 3. Keputusan Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan Nomor 4499/LK/2000 Tentang Jenis, Penilaian, dan Pembatasan Investasi Perusahaan Reasuransi dengan Sistem Syariah. Landasan dasar asuransi syariah adalah sumber dari pengambilan hukum praktik asuransi ayariah. Karena sejak awal asuransi syariah dimaknai sebagai wujud dari bisnis pertanggungan yang didasarkan pada nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam, yaitu Al-Quran dan sunnah Rasul, maka landasan yang dipakai dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan metodologi yang dipakai oleh sebagian ahli hukum Islam. a. Al-Quran Diantaranya ayat-ayat Al-Quran yang mempunyai muatan nilai yang ada dalam praktik asuransi adalah: Surah Al-Maidah ayat 2 . 6

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya Ayat ini memuat perintah (amr) tolong-menolong antar sesama manusia. Dalam bisnis asuransi, nilai ini terlihat dalam praktik kerelaan anggota (nasabah) perusahaan asuransi untuk menyisihkan dananya agar digunakan sebagai dana sosial (tabarru). Dana sosial ini berbentuk rekening tabarru pada perusahaan asuransi dan difungsikan untuk menolong salah satu anggota (nasabah) yang sedang mengalami musibah (peril). Surah Al-Baqarah ayat 185 Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dalam konteks bisnis asuransi, ayat tersebut dapat dipahami bahwa dengan adanya lembaga asuransi, seseorang dapat memudahkan untuk menyiapkan dan merencanakan kehidupannya dimasa mendatang dan dapat melindungi kepentingan ekonominya dari sebuah kerugian yang tidak disengaja.

Surah Ali Imran ayat 145 dan 185 Artinya: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya (QS. Ali Imran:145) Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (QS. AliImran:185) Kedua ayat diatas menjelaskan bahwa kematian (ajal) adalah sesuatu yang bersifat pasti adanya dan akan menimpa bagi sesuatu yang memiliki nyawa (nafs), termasuk di dalamnya manusia. Seorang manusia tidak dapat melepaskan dirinya dan berlari dari kematian. Dalam hal ini kewajiban yang harusnya dilakukan oleh manusia adalah meminimalisasikan kerugian yang diakibatkan oleh kematian dengan cara melakukan perlindungan jiwanya untuk kepentingan ahli waris. 7

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Karena seseorang melakukan perlindungan jiwanya dengan berasuransi akan meringankan beban ekonomi ahli waris yang ditinggalkannya. Sebaliknya orang yang tidak melakukan proteksi pada dirinya secara tidak langsung akan memberikan beban bagi keluarga. Yang ditinggalkannya karena tidak ada dana yang tersimpan dalam bentuk tabungan untuk keperluan hidup dimasa mendatang. a. Al-Hadist Hadist Tentang Aqilah [ ] : ) ( ) . ) Artinya: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, dia berkata: Berselisih dua orang wanita dari suku Huzail, kemudian salah satu wanita tersebut melempar batu ke wanita yang lain sehingga mengakibatkan kematian wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Maka ahli waris dari wanita yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasulullah SAW., maka Rasaulullah SAW memutuskan ganti rugi dari pembunuhan terhadap wanita tersebut dengan pembebasan seorang budak laki-laki atau perempuan, dan memutuskan ganti rugi kematian wanita tersebut dengan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh aqilahnya (kerabat dari orang tua laki-laki). HR. Bukhari.

2.3 ASURANSI DALAM SUDUT PANDANG HUKUM ISLAM Perkembangan asuransi di Indonesia sudah berjalan dengan sangat pesat dan bahkan sudah memasyarakat di Indonesia. Diperkirakan juga banyak umat Islam terlibat di dalamnya. Di kalangan umat Islam, ada anggapan bahwa asuransi non syariah yang banyak berkembang tidak Islami. Orang yang melakukan asuransi sama halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. Oleh karena itu, permasalahan tersebut perlu juga ditinjau dari sudut pandang agama Islam. Allah lah yang menentukan segala-galanya dan memberikan rezeki kepada makhlukNya, sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya: Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. (Q.S HUd : 6). dan siapa (pula) yang memberikan 8

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


rezekinya kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? (Q.S. An-Naml : 64). Dan kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (kami menciptakan pula) makhluk makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya (Q.S. Al-Hijr : 20). Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segala-galanya untuk keperluan semua makhluk-Nya, termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah telah menyiapkan bahan mentah, bukan bahan matang. Manusia masih perlu mengolahnya, mencarinya dan mengikhtiarkiannya. Melibatkan diri ke dalam asuransi, adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk menghadapi masa depan dan masa tua. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan tegas dalam nash, maka masalahnya dipandang sebagai masalah ijtihad, yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya perbedaan pendapat sukar dihindari. Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. Yang paling mengemuka perbedaan tersebut terbagi tiga, yaitu: 1. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya (termasuk asuransi jiwa). Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq, Abdullah Al-Qalqii (Mufti Yordania), Yusuf Qadhawi dan Muhammad Bakhil Al-MuthI (Mutfti Mesir). Alasan-alasan yang mereka kemukakan adalah: Asuransi sama dengan judi. Asuransi mengandung unsur-unsur tidak pasti. Asuransi mengandung unsur riba/renten. Asuransi mengandung unsur pemerasan, karena pemegang polis, apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya akan hilang premi yang sudah dibayar atau dikurangi. Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktekpraktek riba. Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai. Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis, dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah.

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


1. Asuransi konvensional diperbolehkan. Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. Wahab Khalaf, Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam pada fakultas Syariah Universitas Syria), Muhammad Yusuf Musa (Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Cairo Mesir), dan Abd. Rakhman Isa (pemegang Kitab Al-Muamallha A-Hadistah Wa Ahkamuha). Mereka beralasan: Tidak ada nash (Al-Quran dan Sunnah) yang melarang adanya asuransi. Ada kesepakatan dan kerelaan dari kedua belah pihak. Saling menguntungkan kedua belah pihak. Asuransi dapat menaggulangi kepentingan umum, sebab premipremi yang terkumpul dapat diinvestasikan untuk proyekproyek yang produktif dan pembangunan. Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil). Asuransi termasuk koperasi (Syirkah TaAwuniyah). Asuransi dianalogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti Taspen. 1. Asuransi yang bersifat sosial diperbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan. Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Kairo). Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula halnya dengan alasan kelompok kedua, dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh). Alasan golongan yang mengatakan asuransi syuhbat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak haramnya asuransi itu. Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat ada saat ini, masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan, sehingga sukar untuk menentukan, yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar. Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh, tentu jalan itulah yang pantas dilalui. Jalan alternatif baru yang ditawarkan, adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam atau yang dikenal dengan asuransi syariah. Dalam keadaan begini, sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW: Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yang tidak meragukan kamu. 10

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

2.4

PERBEDAAN

ANTARA

ASURANSI

SYARIAH

DAN

KONVENSIONAL Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional, diantaranya adalah : a. Akad asuransi konvensional adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak, pihak penanggung dan pihak tertanggung. Kedua kewajiban ini adalah kewajiban tertanggung membayar premi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi peristiwa yang diasuransikan. b. Akad asuransi ini adalah akad muawadhah, yaitu akad yang di dalamnya kedua orang yang berakad dapat mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya. c. Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan tertanggung pada waktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil. d. Akad asuransi ini adalah akad idzan (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahaan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung.

Sedangkan, asuransi syariah memiliki beberapa ciri, diantaranya adalah sebagai berikut: a. Akad asuransi syariah adalah bersifat tabarru, sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. Atau jika tidak tabarru, maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah keuntungan hasil mudhorobah bukan riba. b. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapatkan imbalan, dan kalau ada imbalan, sesunguhnya imbalan tersebut 11

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


didapat melalui izin yang diberikan oleh jamaah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama). Dalam asuransi syariah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil menurut izin jamaah seperti dalam asuransi takaful. Akad asuransinya syariah bersih dari gharar dan riba. c. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental. Suatu asuransi diperbolehkan mencari syarI jika tidak

menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. Inilah sepuluh prinsip dasar dalam mekanisme pengelolaan asuransi syariah. Dan alangkah indahnya sepuluh prinsip ini, apabila diimplementasikan secara baik dalam asuransi syariah, yaitu: 1. Prinsip Tauhid Tauhid merupakan prinsip dasar dalam asuransi syariah. Karena pada haekekatnya setiap muslim harus melandasi dirinya dengan tauhid dalam menjalankan segala aktivitas kehidupannya, tidak terkecuali dalam bermuamalah (baca ; berasuransi syariah). Artinya bahwa niatan dasar ketika berasuransi syariah haruslah berlandaskan pada prinsip tauhid, mengharapkan keridhaan Allah SWT. Sebagai contoh dilihat dari sisi perusahaan, asas yang digunakan dalam berasuransi syariah bukanlah semata-mata meraih keuntungan, atau menangkap peluang pasar yang sedang cenderung pada syariah. Namun lebih dari itu, niatan awalnya adalah untuk mengimplementasikan nilai-nilai syariah dalam dunia asuransi. Sedangkan dari sisi nasabah, berasuransi syariah adalah bertujuan untuk bertransaksi dalam bentuk tolong menolong yang berlandaskan asas syariah, dan bukan semata-mata mencari Allah SWT perlindungan apabila terjadi musibah. Dengan demikian, maka nilai tauhid terimplementasikan pada industri asuransi syariah. berfirman : Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51 : 56). 2. Prinsip Keadilan

12

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Prinsip kedua yang menjadi nilai-nilai dalam pengimplementasian asuransi syariah adalah prinsip keadilan. Artinya bahwa asuransi syariah harus benar-benar bersikap adil, khususnya dalam membuat pola hubungan antara nasabah dengan nasabah, maupun antara nasabah dengan perusahaan asuransi syariah, terkait dengan hak dan kewajiban masing-masing. Asuransi syariah tidak boleh mendzalimi nasabah dengan hal-hal yang akan menyulitkan atau merugikan nasabah. Ditinjau dari sisi asuransi sebagai sebuah perusahaan, potensi untuk melakukan ketidak adilan sangatlah besar. Seperti adanya unsur dana hangus (pada saving produk), dimana nasabah yang sudah ikut asuransi (misalnya asuransi pendidikan) dengan periode tertentu, namun karena suatu hal ia membatalkan kepesertaannya di tengah jalan. Pada asuransi syariah, dana saving nasabah yang telah dibayarkan melalui premi harus dikembalikan kepada nasabah bersangkutan, berikut hasil investasinya. Bahkan terkadang asuransi syariah merasa kebingungan ketika terdapat dana-dana saving nasabah yang telah mengundurkan diri atau terputus di tengah periode asuransi, lalu tidak mengambil dananya tersebut kendatipun telah dhubungi baik melalui surat maupun melalui media lainnya. Mau dikemanakan dana ini? Karena dana tersebut bukanlah milik asuransi syariah, namun milik nasabah. Namun telah bertahun-tahun diberitahu atau dihubungi, nasabah bersangkutan tidak juga mengambilnya. Hal ini tentu berbeda dengan asuransi pada umumnya. Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah/ 5 : 08). 3. Prinsip Tolong Menolong Semangat tolong menolong merupakan aspek yang sangat penting dalam operasional asuransi syariah. Karena pada hekekatnya, konsep asuransi syariah didasarkan pada prinsip ini. Dimana sesama peserta bertabarru atau berderma untuk kepentingan nasabah lainnya yang 13

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


tertimpa musibah. Nasabah tidaklah berderma kepada perusahaan asuransi syariah, peserta berderma hanya kepada sesama peserta saja. Perusahaan asuransi syariah bertindak sebagai pengelola saja. Konsekuensinya, perusahaan tidak berhak mengklaim atau mengambil dana tabarru nasabah. Perusahaan hanya mendapatkan dari ujrah (fee) atas pengelolaan dana tabarru tersebut, yang dibayarkan oleh nasabah bersamaan dengan pembayaran kontribusi (premi). Perusahaan asuransi syariah mengelola dana tabarru tersebut, untuk diinvestasikan (secara syariah) lalu kemudia dialokasikan pada nasabah lainnya yang tertimpa musibah. Dan dengan konsep seperti ini, berarti antara sesama nasabah telah mengimplementasikan saling tolong menolong, kendatipun antara mereka tidak saling bertatap muka. Allah SWT berfirman : Dan bertolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan permusuhan. (QS. Al-Maidah : 2). 4. Prinsip Kerjasama Antara nasabah dengan perusahaan asuransi syariah terjalin kerjasama, tergantung dari akad apa yang digunakannya. Dengan akad mudharabah musytarakah (nanti akan dijelaskan tersendiri mengenai akad ini dalam pembahasan khusus akad), terjalin kerjasama dimana nasabah bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal) sedangkan perusahaan asuransi syariah sebagai mudharib (pengelola/ pengusaha). Apabila dari dana tersebut terdapat keuntungan, maka akan dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati, misalnya 40% untuk perusahaan asuransi syariah dan 60% untuk nasabah. Ketika kerjasama terjalin dengan baik, nasabah menunaikan hak dan kewajibannya, demikian juga perusahaan asuransi syariah menunaikan hak dan kewajibannya secara baik, maka akan terjalin pola hubungan kerjasama yang baik pula, yang insya Allah akan membawa keberkahan pada kedua belah pihak. 5. Prinsip Amanah Amanah juga merupakan prinsip yang sangat penting. Karena pada hakekatnya kehidupan ini adalah amanah yang kelak harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. Perusahaan dituntut 14 dosa dan

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


untuk amanah dalam mengelola dana premi. Demikian juga nasabah, perlu amanah dalam aspek resiko yang menimpanya. Jangan sampai nasabah tidak amanah dalam artian mengada-ada sesuatu sehingga yang seharusnya tidak klaim menjadi klaim yang tentunya akan berakibat pada ruginya para peserta yang lainnya. Perusahaan pun juga demikian, tidak boleh semena-mena dalam mengambil keuntungan, yang berdampak pada ruginya nasabah. Dan transaksi yang amanah, akan membawa pelakunya mendapatkan surga. Rasulullah SAW bersabda : () Seorang pebisnis yang jujur lagi amanah, (kelak akan dikumpulkan di akhirat) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada. (HR. Turmudzi). 6. Prinsip Saling Ridha (An Taradhin) Dalam transaksi apapun, aspek an taradhin atau saling meridhai harus selalu menyertai. Nasabah ridha dananya dikelola oleh perusahaan asuransi syariah yang amanah dan profesional. Dan perusahaan asuransi syariah ridha terahdap amanah yang diembankan nasabah dalam mengelola kontribusi (premi) mereka. Demikian juga nasabah ridha dananya dialokasikan untuk nasbah-nasabah lainnya yang tertimpa musibah, untuk meringankan beban penderitaan mereka. Dengan prinsip inilah, asuransi syariah menjadikan saling tolong menolong memiliki arti yang luas dan mendalam, karena semuanya menolong dengan ikhlas dan ridha, bekerjasama dengan ikhlas dan ridha, serta bertransaksi dengan ikhlas dan ridha pula. 7. Prinsip Menghindari Riba Riba merupakan bentuk transaksi yang harus dihindari sejauhjauhnya khususnya dalam berasuransi. Karena riba merupakan sebatilbatilnya transaksi muamalah. Tingkatan dosa paling kecil dari riba adalah ibarat berzina dengan ibu kandungnya sendiri. Kontribusi (premi) yang dibayarkan nasabah, harus diinvestasikan pada investasi yang sesuai dengan syariah dan sudah jelas kehalalannya. Demikian juga dengan sistem operasional asuransi syariah juga harus menerapakan konsep sharing of risk yang bertumpu pada akad tabarru, sehingga menghilangkan unsur riba pada pemberian manfaat asuransi syariah (klaim) kepada nasabah. 8. Prinsip Menghindari Maisir. 15

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Asuransi jika dikelola secara konvensional akan memunculkan unsur maisir (gambling). Karena seorang nasabah bisa jadi membayar premi hingga belasan kali namun tidak pernah klaim. Di sisi yang lain terdapat nasabah yang baru satu kali membayar premi lalu klaim. Hal ini terjadi, karena konsep dasar yang digunakan dalam asuransi konvensional adalah konsep transfer of risk. Dimana perusahaan asuransi konvensional ketika menerima premi, otomatis premi tersebut menjadi milik perusahaan, dan ketika membayar klaim pun adalah dari rekening perusahaan. Sehingga perusahaan bisa untung besar (makala premi banyak dan klaim sedikit), atau bisa rugi banyak (ketika premi sedikit dan klaimnya banyak). 9. Prinsip Menghindari Gharar Gharar adalah ketidakjelasan. Dan berbicara mengenai resiko, adalah berbicara tentang ketidak jelasan. Karena resiko bisa terjadi bisa tidak. Dan dalam syariat Islam, kita tidak diperbolehkan bertransaksi yang menyangkut aspek ketidak jelasan. Dalam asuransi (konvensional), peserta tidak mengetahui apakah ia mendapatkan klaim atau tidak? Karena klaim sangat bergantung pada resiko yang menimpanya. Jika ada resiko, maka ia akan dapat klaim, namun jika tidak maka ia tidak mendapakan klaim. Hal seperti ini menjadi gharar adanya, karena akad atau konsep yang digunakan adalah transfer of risk. Sedangkan jika menggunakan aspek sharing of risk, ketidak jelasan tadi tidak menjadi gharar. Namun menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai, yang apabila terjadi sesama nasabah akan saling bantu membantu terhadap peserta lainnya yang tertimpa musibah, yang diambil dari dana tabarru yang dikelola oleh perusahaan asuransi syariah (bukan dari dana perusahaan). 10.Prinsip Menghindari Risywah Dalam menjalankan bisnisnya, baik pihak asuransi syariah maupun pihak nasabah harus menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari aspek risywah (sogok menyogok atau suap menyuap). Karena apapun dalihnya, risywah pasti akan menguntungkan satu pihak, dan pasti akan ada pihak lain yang dirugikan. Nasabah umpamanya tidak boleh menyogok oknum asuransi supaya bisa mendapatkan manfaaat (klaim). Atau sebaliknya perusahaan tidak perlu menyogok supaya mendapatkan premi (kontribusi) asuransi. Namun semua harus dilakukan secara baik, transparan, adil dan dilandasi dengan ukhuwah islamiah. 16

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

Dibandingkan asuransi konvensional, asuransi syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal, diantaranya : a. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi non syariah, maka hal itu tidak mendapat perhatian. b. Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong menolong). Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah yang lain, yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi non syariah bersifat tadabuli (jual beli antara nasabah dengan perusahaan). c. Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharobah). bunga. d. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi non syariah, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut. e. Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana diambil dari rekening tabaru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong menolong bila ada peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam asuransi non syariah, dana pembayaran klaim diambil dari rekening perusahaan. f. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi non syariah, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim nasabah tak memperoleh apa-apa. Sedangkan pada asuransi non syariah, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem

17

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Selain terdapat beberapa perbedaan di atas, ternyata masih terdapat kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah, diantaranya: Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridhaan dari masingmasing pihak. Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota. Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifat mustamir (terus). Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesekapatan masing-masing pihak. Setelah melihat dari perbandingan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar syariah yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. Hal itu dikarenakan banyaknya penyimpangan-penyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut. 2.5 MANFAAT MENGGUNAKAN ASURANSI SYARIAH Dengan lahirnya asuransi syariah tersebut, maka ada beberapa manfaat yang hendak dicapai. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi syariah, yaitu: 1) Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepeneganggungan di antara anggota. 2) Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam saling tolong menolong. 3) Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat. 4) Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak. 5) Juga meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu dan biaya. 6) Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu, dan tidak perlu mengganti/membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tertentu, dan tidak perlu mengganti/membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti.

18

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


7) Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa atau berhentinya akad. 8) Menutup Loss of Corning Power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi (bekerja). 2.6 PERJANJIAN ASURANSI SYARIAH DAN PELAKSANAANNYA A. Akad Kata akad berasal dari lafal Arab al'aql yang mengandung arti perikatan atau perjanjian. Menurut terminologi fikih, kata akad diartikan sebagai pertalian ijab dan qabul. Ijab yaitu pernyataan melakukan ikatan, sedangkan qabul yaitu pernyataan penerimaan ikatan yang sesuai dengan kehendak syariah dan berpengaruh pada perikatan yaitu dilakukannya hak dan kewajiban para pihak yang melakukan perjanjian. Sesuai dengan kehendak syariah, seluruh perikatan yang dilakukan para pihak dianggap sah apabila sejalan dengan syariah yaitu berdasar Al-Quran dan Al-Haddist dan ini harus disetujui serta diberitahukan kepada calon nasabah asuransi. Akad yang dituangkan dalam perjanjian asuransi secara tertulis dalam bahasa arab disebut al-wa'du al-maktub. Secara umum dinamakan polis. Beberapa akad yang terdapat dalam asuransi syariah, yaitu akad tabarru (tolong-menolong), akad mudharabah (bagi hasil), dan jenis akad tijarah (akad yang menuju tujuan komersial) yaitu akad al-musyarakah (partnership ), alwakala (pengangkatan wakil / agen), al-waidah (akad penitipan), asy-syirkah (berserikat), al-musahamah (kontribusi) yang dibenarkan secara syar'i dalam asuransi syariah. Pada awal penerimaan premi, asuransi syariah menerapkan 2 bentuk akad, yaitu akad tabungan investasi dan akad kontribusi. Akad tabungan investasi berdasarkan pada prinsip al-mudharabah (bagi hasil) dan akad kontribusi menerapkan prinsip hibah. Akad kontribusi inilah yang menjadi dasar penggunaan premi untuk dana tabarru atau dana tolong-menolong atau dana pembayaran klaim. Hibah dilakukan secara berjamaah yang mengandung efek saling menanggung. Besarnya hibah 5%-10% dari total premi dan selebihnya 95%-90% akan masuk dalam tabungan nasabah asuransi. 19

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

B. Sistem Operasional Asuransi Syariah Sistem operasional asuransi syariah dilandasi prinsip-prinsip, yaitu rasa saling bertanggung jawab, kerja sama, dan saling membantu, serta saling melindungi para nasabah asuransi dan perusahaan. Perusahaan asuransi bertindak oleh sebagai para mudharib, yaitu puhak shahibul yang mal diberi untuk yang kepercayaan sesuai nasabahnya serta sebagai

mengelola uang premi dan mengembangkan dengan jalan yang halal dengan syar'i memberikan santunan kepada mengalami musibah sesuai dengan akad. Berdasarkan akad yang disepakati, perusahaan dan nasabah mempunyai hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Kewajiban tertanggung adalah membayar uang premi sekaligus di muka atau secara angsuran secara berkala. Uang premi yang diterima perusahaan dipisahkan atas rekening tabungan dan rekening tabarru. Sementara itu, hak tertanggung di antaranya adalah mendapatkan uang pertanggungan atau klaim serta bagi hasil jika ada, dengan mudah dan cepat. Kewajiban perusahaan asuransi adalah memegang amanah yang diberikan para peserta dalam hal mengatasi risiko yang kemungkinan mereka alami. Perusahaan juga menjalankan kegiatan bisnis dan mengembangkan dana tabungan yang dikumpulkan sesuai dengan hukum syariah. Sementara itu dana tabarru yang telah diniatkan sebagai dana kebajikan atau derma yang diperuntukkan bagi keperluan para nasabah yang terkena musibah. Hak perusahaan asuransi syariah di antaranya menerima premi, mengumpulkan dan mempergunakannya untuk kegiatan bisnis serta mendapatkan bagi hasil dari kegiatan usaha yang dijalankan. Premi pada asuransi syariah jiwa dan asuransi syariah kerugian berbeda. Pada asuransi jiwa, premi yang dibayarkan peserta terdiri atas unsur tabungan dan tabarru. Unsur tabarru diambil dari tabel mortalita yang besarnya tergantung pada usia dan masa perjanjian. Besarnya unsur tabungan antara 0,75%-1,2%. Untuk asuransi syariah kerugian unsur premi hanya mengandung unsur tabarru yang besarnya merujuk pada rate standar yang ditetapkan Dewan Asuransi Indonesia. Perusahaan dan peserta memperoleh keuntungan dari hasil surplus underwritting kegiatan investasi dan pengembangan usaha dengan 20

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


prinsip mudharabah dan prinsip lainya atas petunjuk Dewan Syariah Nasional. Dana dan tersebut peserta berasal dalam dari bentuk dana peserta. Pembagian atau sistem keuntungan didasarkan atas akad awal yang telah disepakati antara perusahaan presentase pembagian tertentu, seperti 60% : 40%, yaitu 60% bagian untuk perusahaan dan 40% untuk peserta dari pendapatan bersih setelah dikurangi berbagai macam biaya beban asuransi. Bagian perusahaan ini diambil sebagai biaya operasional sebelum menjadi profit perusahaan. Prinsip underwritting asuransi syariah untuk menyeleksi risiko secara implisit tergabung 2 elemen penting, yaitu seleksi dan pengklasifikasian. Seleksi adalah proses perusahaan dalam mengevaluasi permintaan asuransi oleh calon peserta untuk menentukan batas risiko yang dimiliki calon peserta. Pengklasifikasian adalah proses penetapan individu ke dalam kelompok individu yang sekiranya mempunyai kemungkinan kerugian yang sama atau berdasar jenis asuransi syariah yang sama. Namun, penekanan utama underwritting adalah harus bersifat wasathon, yaitu penekanan pada rasa keadilan bagi nasabah dan perusahaan. Besaran premi ditentukan dari hasil seleksi risiko yang dilakukan underwritting atas permintaan calon tertanggung. Tarif premi yang ideal adalah tarif yang bisa menutupi klaim serta keuntungan yang diperoleh perusahaan. Pembayaran klaim pada asuransi syariah diambil dari dana tabarru semua peserta. Perusahaan sebagai mudharib wajib menyelesaikan proses klaim secara cepat, tepat dan efisien serta tidak merugikan tertanggung dalam pelaksanaan klaim tersebut. 2.7 KONDISI ASURANSI SYARIAH DI INDONESIA Kondisi Asuransi Syariah di Indonesia Data Departemen Keuangan menunjukkan market share asuransi syariah pada tahun 2001 baru mencapai 0.3% dari total premi asuransi nasional. Dibidang aturan hukum saat ini sedang digodog aturan khusus mengenai asuransi syariah yang diharapkan dapat memberi dampak yang signifikan sebagaimana dampak dari UU Perbankan tahun 1998. Hambatan Pengembangan Asuransi Syariah Instrumen tidak dikenal masyarakat luas

21

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Anggapan masyarakat Indonesia pengurusn klaim asuransi menyulitkan Instrumen Asuransi kalah bersaing dengan isntrumen investasi seperti surat berharga Asuransi syariah belum tersosialisasikanluas seperti perbankan syariah Peluang pengembangan Asuransi Syariah Alternatif pilihan proteksi bagi pemeluk agama Islam yang menginginkan produk yang sesuai dengan hukum Islam

Perkembangan Perbankan Islam menuntut peranan asuransi


syariah untuk pengamanan aset dan transaksi perbankan. Beberapa kebijakan Asuransi pemerintah Syariah yang adalah mendukung ditetapkannnya perkembangan syariah.

kewajiban agar asuransi haji dikelola oleh perusahaan asuransi

2.8

PEMBINAAN

DAN

PENGAWASAN

ASURANSI

SYARIAH

DI

INDONESIA Dalam Keputusan Presiden RI Nomor. 40 Tahun 1989 Tentang Usaha di Bidang Asuransi Kerugian, diatur bahwa yang berwenang mengadakan pembinaan dan pengawasan usaha asuransi adalah Menteri Keuangan. Pembinaan dan pengawasan tersebut ditujukan untuk semua perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi dan perusahaan Broker Asuransi dan Adjuster Asuransi. Terdapat lembaga syariah yang melakukan pembinaan dan pengawasan perusahaan asuransi syariah di Indonesia, yaitu Dewan Pengawas Syariah, Dewan Syariah Nasional, dan Badan Arbitrase Syariah Nasional. 1. Dewan Pengawas Syariah Perusahaan yang beroperasi berdasarkan sistem syariah. setiap perusahaan asuransi syariah, harus membentuk Dewan Pengawas 22

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Syariah. Pembentukan, pengangkatan, dan pemberhentian pengurus Dewan Pengawas Syariah adalah berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham setelah mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional. Salah satu tugas Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi pelaksanaan keputusan Dewan Syariah Nasional di perusahaan syariah tersebut. Fungsi Dewan Pengawas Syariah adalah: a. Melakukan pengawasan secara periodik pada perusahaan syariah yang berada di bawah pengawasannya. b. Berkewajiban perusahaan c. Melaporkan Nasional anggaran. mengajukan syariah kepada usul-usul pimpinan produk 2 kali pengembangan perusahaan dan dalam dan

Dewan Syariah Nasional. perkembangan operasional 1 tahun perusahaan syariah yang diawasinya kepada Dewan Syariah sekurang-kurangnya

d. Merumuskan

masalah-masalah

yang

memerlukan

pembahasan pembahasan Dewan Syariah Nasional. Peran utama para ulama dalam Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi jalannya operasional sehari-hari perusahaan syariah agar selalu sesuai dengan ketentuan syariah. 2. Dewan Syariah Nasional Dewan Syariah Nasional adalah badan yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia untuk menangani berbagai masalah yang berhubungan dengan aktifitas perusahaan syariah seluruh Indonesia. Tugas Dewan Syariah Nasional adalah: a. Menumbuhkembangkan penerapan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan keuangan khususnya. b. Mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan keuangan. c. Mengeluarkan fatwa atas produk atau jasa keuangan syariah. Wewenang Dewan Syariah Nasional adalah: a. Mengeluarkan fatwa yang terkait Dewan Pengawas Syariah di masing-masing perusahaan syariah dan menjadi dasar hukum pihak terkait.

23

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


b. Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan bagi peraturan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, seperti Departemen Keuangan dan Bank Indonesia, dan lain-lain. c. Memberikan rekomendasi dan atau mencabut rekomendasi namanama yang duduk dalam Dewan Pengawas Syariah pada perusahaan syariah. d. Mengundang para ahli untuk menjelaskan suatu masalah yang diperlukan dalam pembahasan ekonomi syariah, termasuk otoritas moneter dalam dan luar negeri. 3. Badan Arbitrase Syariah Nasional ( Basyarnas ) Lembaga yang melakukan penyelesaian sengketa keperdataan secara syariah berdasarkan Al-Quran dan Al-Haddizt terhadap sengketa lembaga keuangan syariah (termasuk Perusahaan Asuransi Syariah) dengan pemerintah, lembaga keuangan lainnya, ataupun masyarakat. Badan ini merupakan penyelesaian sengketa yang dipilih secara sukarela oleh para pihak yang bersengketa.

2.9 KELEMAHAN-KELEMAHAN PRAKTEK ASURANSI SYARIAH Seperti yang telah dikemukakan, asuransi pada umumnya atau yang sering disebut dengan asuransi konvensional masih terdapat pandangan mengenai halal atau haramnya asuransi tersebut dari sudut pandang hukum Islam. Untuk mengatasi adanya perbedaan pendapat tersebut, maka dimunculkanlah asuransi syariah yang berdasarkan pada hukum Islam. Lahirnya asuransi syariah juga karena adanya kelemahankelemahan dalam asuransi konvensional yang bertentangan dengan ajaran Islam. Asuransi syariah di Indonesia pada umumnya dipandang masih bersifat konvensional yang bertentangan dengan ajaran Islam. Hal tersebut menimbulkan masalah mengenai halal dan haramnya asuransi tersebut dari sudut pandang hukum Islam. Kelemahan-kelemahan asuransi syariah saat ini tampak dari: A. Akad Mengandung Gharar (Ketidakjelasan) 24

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Akad asuransi syariah masih ada yang mengandung hal-hal yang kurang pasti atau gharar. Maksudnya masing-masing pihak penanggung dan tertanggung tidak mengetahui secara pasti jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia ambil, pada waktu melangsungkan akad. Walaupun saat ini beberapa perusahaan asuransi syariah mampu mengetahui dengan pasti seberapa besar akan menerima uang (premi) dari nasabahnya yang akan disetorkan ke rekening dana seluruh peserta (tabarru), namun nasabah atau pihak perusahaan asuransi syariah masih belum bisa mengetahui atau menentukan dengan pasti berapa klaim yang akan diterima nasabah. Kalaupun ada, semuanya masih berupa perkiraan atau asumsi. Padahal seharusnya akad ini merupakan akad yang jelas, berapa yang harus dibayar dan apa yang akan didapat3. Dan akad yang bersifat gharar ini hukumnya diharamkan di dalam syariah Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini: dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli dengan cara melempar batu dan jual beli dengan cara gharar. (H.R Muslim). B. Akad Penundukan Kelemahan kedua dari asuransi syariah saat ini adalah masih terdapat akad idzan. Maksudnya adalah akad yang merupakan penundukan pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Pihak yang kuat lebih dominan terletak pada pihak perusahaan karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung. Syarat-syarat yang di buat oleh pihak perusahaan asuransi syariah telah dibakukan pada akadnya atau perjanjiannya. Perjanjian yang telah dibakukan tersebut menimbulkan posisi perusahaan asuransi syariah menjadi lebih kuat dibandingkan dengan nasabah atau pesertanya. Hal tersebut menyebabkan pertentangan dengan prinsip keadilan yang sesuai dengan syariat Islam. C. Mengandung Unsur Pemerasan Penerapan asuransi syariah pada prakteknya masih seringkali terjadi unsur pemerasan. Ketika nasabah atau para pemegang polis tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya, seringkali uang premi yang sudah dibayar jadi hangus atau hilang dan pihak asuransi juga tidak memberikan surat pemberitahuan mengenai hal tersebut. Seharusnya premi yang sudah diberikan oleh peserta dikembalikan sesuai dengan kesepakatan bagi hasil pada awal perjanjian. Selain itu para pihak harus 25

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


saling bertanggung jawab, yang berarti peserta asuransi takaful memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk membantu dan menolong peserta lain yang mengalami musibah atau kerugian dengan niat ikhlas, karena memikul tanggung jawab dengan niat ikhlas adalah ibadah. D. Mengandung Unsur Penipuan Dalam klausul perjanjian yang dibuat oleh pihak asuransi syariah biasanya masih ada yang kurang ditonjolkan saat penawaran. Demikian juga dengan resiko-resiko buruk yang akan terjadi, dan umumnya disembunyikan oleh pihak asuransi syariah. Terdapat beberapa peserta yang kemudian jera berurusan dengan perusahaan asuransi syariah yang cenderung tidak pernah mau berkompromi (hanya manis ketika menawarkan di awal). Seharusnya peserta dan pihak asuransi syariah saling melindungi penderitaan satu sama lain, yang berarti bahwa peserta asuransi syariah atau takaful akan berperan sebagai pelindung bagi peserta lain yang mengalami gangguan keselamatan berupa musibah yang dideritanya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Quraisy ayat 4 yang artinya: (Allah) yang telah menyediakan makanan untuk menghilangkan bahaya kelaparan dan menyelamatkan/mengamankan mereka dari mara bahaya ketakutan. Di antara sabda Rasulullah yang mengandung maksud perlunya saling melindungi adalah: Tidaklah sah iman seseorang itu kalau ia tidur nyenyak dengan perut kenyang sedangkan jirannya menatap kelaparan. (HR. al-Bazar). Dengan begitu maka asuransi takaful merealisir perintah Allah SWT dalam Al-Quran dan Rasulullah SAW dalam al-Sunnah tentang kewajiban saling melindungi di antara sesama warga masyarakat. E. Diinvestasikan pada Lembaga Ribawi Perusahaan asuransi syariah masih menginvestasikan dana peserta kepada pihak lain atau lembaga yang menjalankan usaha dan bisnis dengan praktik ribawi, dimana lembaga tersebut menggunakan system bunga dalam pendapatannya. Bunga inilah yang nantinya akan diperoleh oleh pihak perusahaan asuransi dan sebagiannya menjadi uang yang akan diterima atau dibayarkan kepada peserta asuransi bila ada yang melakukan klaim kepada mereka. Ketika perusahaan asuransi syariah menanamkan investasinya pada perusahaan dengan cara bunga atau riba maka hal tersebut menjadikan sebuah titik haram. Berarti ketika seorang muslim ikut asuransi syariah tersebut maka pada hakikatnya 26

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


orang tersebut sedang melakukan transaksi pembungaan uang alias riba yang mutlak haramnya. Dan dalam hal penerapan asuransi syariah di Indonesia, masih bersifat batil atau masih menerapkan sistem penawaran non syariah dalam hal sistem bagi hasilnya (nisbah). Dimana perusahaan asuransi syariah menerapkan sistem tawar menawar dalam menentukan prosentase yang notabene tawar menawar tersebut masih termasuk kedalam unsur jual beli.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Asuransi Islam adalah produk dari para ulama dan pelaku bisnis islam yang mencoba mencari bentuk asuransi alternatif yang dikarenakan melihat bahwa institusi asuransi barat mengandung unsur-unsur yang tidak sejalan dengan beberapa aspek ketentuan hukum Islam. Asuransi Islam akan tetap berkembang apabila dikelola dengan sangat baik sesuai dengan sistem muamalah. Asuransi syariah merupakan salah satu intrumen transaksi, yang secara sistem operasional disesuaikan dengan syariah Islam. Sehingga akad, mekanisme pengelolaan dana, mekanisme operasional perusahaan, budaya perusahaan (shariah corporate culture), marketing, produk dsb harus sesuai dengan syariah. Namun yang perlu digaris bawahi juga adalah, bahwa asuransi syariah tidak semata-mata harus menjalankan sistem operasionalnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Namun lebih dari itu, ia juga harus mengimplementasikan suatu nilai yang menjadi jantung dari prinsip-prinsip syariah. 27

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

3.2 SARAN Dengan banyaknya kelemahan-kelemahan yang terkandung dalam asuransi konvensional menurut ajaran hukum Islam (syariah) tersebut maka dianjurkan untuk menggunakan asuransi syariah yang didasarkan pada ajaran Islam, sehingga bagi nasabah khususnya yang beragama Islam tidak menimbulkan dosa. Hal ini disebabkan asuransi syariah merupakan asuransi yang lebih halal karena didasarkan ajaran Islam meskipun keuntungan yang diperoleh tidak sebesar pada asuransi non syariah.

DAFTAR PUSTAKA Gemala Dewi. SH., LL.M., Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, Edisi Revisi. Penerbit Kencana Prenada Media Group, Jakarta. 2006. Muashudi. H., SH., MH., Hukum Asuransi. Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung.1998. Purwosutjipto, 1983. www.google.co.id www.hukumonline.com Wikipedia Indonesia Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Perasuransian. Fatwa DSN 21/DSN-MUI/X/2001 tentang PEDOMAN ASURANSI SYARIAH. HMN., SH, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia (Hukum Pertanggungan), Penerbit Djambatan, Jakarta,

Wirdianingsih, 2005, Bank Dan asurnsi Islam Di Indonesia, Prenada


Media, Jakarta, Hlm. 224.

Hasan Ali AM, 2004, Asuransi Dalam Perspektif Hukum Islam, Suatu
Tinjauan Historis,Teoritis, dan Praktis, cet 1, Prenada Media, Jakarta, Hlm. 68. 28

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Afzalur
Rahman, 1996, Doktrin Ekonomi Islam, jilid 4,

diterjemahkan oleh Soeroyo dan Nastangin, Dana Bakti Wakaf, Yogyakarta, Hlm. 44.

Abdullah

Amrin, di

2006, Tengan

Asuransi Asuransi

Syariah

Keberadaan Elex

dan Media

Kelebihannya

Konvensional,

Komputindo, Jakarta, Hlm. 2. PSAK Syariah 101-108

www.bapepam.go.id www.prudential.co.id
PT. Asuransi Syariah Mubarakah Cabang Jogjakarta

Gemala, Dewi, Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, Edisi Revisi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm 135

LAMPIRAN

1. Format Laporan Keuangan Asuransi Syariah.


a) NERACA PERUSAHAAN ASURANSI JIWA PT I. NERACA SYARIAH Bukan Konsolidasi Per Triwulan Tahun (dalam jutaan rupiah) Tahun Triwulan N o. (1 ) URAIAN (2) AKTIVA Investasi Deposito SAK (3) SAP (4)

Berjangka

dan

Sertifikat

29

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 Deposito Saham Obligasi dan Medium Term Notes Surat Utang Negara Sertifikat Bank Indonesia Unit Penyertaan Reksadana Penyertaan Langsung Bangunan dengan Hak Strata atau Tanah dengan Bangunan untuk investasi Pinjaman Polis Pembiayaan Murabahah Pembiayaan Mudharabah Investasi Lain Jumlah Investasi Bukan Investasi 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 Kas dan Bank Tagihan Premi Penutupan Langsung Tagihan Reasuransi Tagihan Hasil Investasi Bangunan dengan Hak Strata atau Tanah dengan Bangunan untuk dipakai sendiri Perangkat Keras Komputer Aktiva Tetap Lain Aktiva Lain Jumlah Bukan Investasi JUMLAH AKTIVA PASIVA Kewajiban Utang 30 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


2 4 2 5 2 6 2 7 2 8 2 9 3 0 3 1 3 2 3 3 3 4 3 5 3 6 3 7 3 8 Pinjaman Subordinasi Modal Sendiri 3 9 4 0 4 1 4 2 Modal Disetor Agio Saham Cadangan Kenaikan (Penurunan) Surat Berharga 31 Jumlah Kewajiban 0.00 0.00 Dana Tabarru' *) Tabungan Peserta Cadangan Atas Utang Klaim Utang Reasuransi Utang Komisi Utang Pajak Biaya Yang Masih Harus Dibayar Utang Zakat Utang Lain Jumlah Utang Cadangan Teknis 0.00 0.00

Premi

Yang

Belum

Merupakan Pendapatan Cadangan Klaim Jumlah Cadangan Teknis 0.00 0.00

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


4 3 4 4 4 5 4 6 4 7 4 8 JUMLAH PASIVA 0.00 0.00 Selisih Penilaian Aktiva Tetap Saldo Laba Selisih Penilaian Berdasar SAK & SAP Kekayaan Yang Tidak Diperkenankan Jumlah Modal Sendiri 0.00 0.00

Catatan: Dana Tabarru' adalah Cadangan Premi *) Risiko Cek Balance 0.00 0.00

b) Hasil Investasi PERUSAHAAN ASURANSI JIWA PT II. HASIL INVESTASI SYARIAH Bukan Konsolidasi Per Triwulan Tahun (dalam rupiah) Tahun No . (1 ) URAIAN (2) AKTIVA Investasi 32 Triwulan (3) jutaan

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Deposito 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Berjangka dan Sertifikat

Deposito Saham Obligasi dan Medium Term Notes Surat Utang Negara Sertifikat Bank Indonesia Unit Penyertaan Reksadana Penyertaan Langsung Bangunan dengan Hak Strata atau Tanah dengan Bangunan untuk investasi Pinjaman Polis Pembiayaan Murabahah Pembiayaan Mudharabah Investasi Lain Beban Investasi Jumlah Hasil Investasi

0.00

c) Laporan Rugi Laba PERUSAHAAN ASURANSI JIWA PT III. LAPORAN LABA RUGI SYARIAH Bukan Konsolidasi Per Triwulan Tahun (dalam rupiah) Tahun No . (1) 1 2 3 4 5 6 7 URAIAN (2) PENDAPATAN Pendapatan Premi Premi Reasuransi Penurunan (Kenaikan) CAPYBMP *) a. CAPYBMP tahun/triwulan lalu b. CAPYBMP tahun/triwulan berjalan Jumlah Pendapatan Premi Neto 0.00 Triwulan (3) jutaan

33

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Hasil Investasi Imbalan Jasa DPLK/Jasa Manajemen Lainnya Pendapatan Lain Jumlah Pendapatan BEBAN Beban Asuransi Klaim dan Manfaat a. Klaim dan Manfaat Dibayar b. Klaim Reasuransi d. Kenaikan (Penurunan) Dana Tabarru' d.1. Dana Tabarru' tahun/tiwulan berjalan d.2. Dana Tabarru' tahun/triwulan lalu e. Kenaikan (Penurunan) Tabungan Peserta e.1. Tabungan Peserta tahun/triwulan berjalan e.2. Tabungan Peserta tahun/triwulan lalu f. Kenaikan (Penurunan) Cadangan Klaim f.1. Cadangan Klaim tahun/triwulan berjalan f.2. Cadangan Klaim tahun/triwulan lalu Jumlah Beban Klaim dan Manfaat Biaya Akuisisi a. Beban Komisi - Tahun Pertama b. Beban Komisi - Tahun Lanjutan c. Beban Komisi - Overriding d. Beban Lainnya Jumlah Biaya Akuisisi Pemasaran Umum dan Administrasi Hasil (Beban) Lain Jumlah Beban LABA (RUGI) SEBELUM ZAKAT ZAKAT LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PAJAK PENGHASILAN LABA SETELAH PAJAK 0.00 0.00 0.00

0.00

0.00

0.00

28 29 30 31 32 33 34 35 36

0.00 0.00

Catatan: CAPYBMP *) Pendapatan

= Cadangan Atas Premi Yang Belum Merupakan

34

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

d) Rasio Kesehatan Keuangan Syariah (A) IV. RASIO KESEHATAN KEUANGAN SYARIAH A. BATAS TINGKAT SOLVABILITAS Per Triwulan Tahun (dalam rupiah) Keterangan Tahun Triwulan

jutaan

A . Tingkat Solvabilitas Kekayaan Yang Diperkenankan Kewajiban (kecuali Pinjaman Subordinasi) Jumlah Tingkat Solvabilitas B . Batas Tingkat Solvabilitas Minimum (BTSM) Kegagalan Pengelolaan Kekayaan (Schedule A) Proyeksi Arus Kekayaan dan Kewajiban (Schedule B) Kekayaan dan Kewajiban Dalam Setiap Jenis Mata Uang (Schedule C) Beban Klaim Yang Terjadi dan Beban Klaim Yang Diperkirakan (Schedule D) Ketidak-cukupan Premi Akibat Perbedaan Hasil Investasi Yang diasumsikan dengan Hasil Investasi Yang Diperoleh (Schedule E) Risiko Reasuradur (Schedule F) Jumlah BTSM C . D . Rasio Pencapaian Solvabilitas (dalam %) *) Jumlah Tingkat Solvabilitas dibagi dengan Jumlah *) BTSM 35 #DIV/0! Kelebihan Solvabilitas (Kekurangan) Batas Tingkat 0.00 0.00 0.00

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

e) Rasio Kesehatan Keuangan Syariah (B) PERUSAHAAN ASURANSI JIWA PT V. RASIO KESEHATAN KEUANGAN SYARIAH B. RASIO SELAIN BATAS TINGKAT SOLVABILITAS Per Triwulan Tahun (dalam jutaan rupiah ) Tahun No . (1 ) 1 Uraian (2) Likuiditas a. Kekayaan Lancar b. Kewajiban Lancar c. Rasio (a : b) Perimbangan 2 Investasi dengan Triwulan (3)

#DIV/0!

Kewajiban a. Investasi SAP b. Cadangan Teknis c. Utang Klaim Retensi Sendiri c. Rasio [a : (b + c)]

#DIV/0!

36

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Perimbangan Modal 3 Kecelakaan Premi Diri, Neto dengan Asuransi dan

Sendiri

(untuk

Kesehatan,

Ekawarsa) a. Premi Neto b. Modal Sendiri SAK c. Rasio (a : b) Pendapatan Investasi Neto a. Pendapatan Investasi Neto b. Rata-rata Investasi c. Rasio (a : b) Rasio Beban Klaim, Beban Usaha, dan

#DIV/0!

#DIV/0!

Komisi a. Beban Klaim Neto b. Beban Usaha c. Komisi Neto d. Pendapatan Premi Neto e. Rasio I = a : d f. Rasio II = b : d g. Rasio III = c : d h. Rasio I + Rasio II + Rasio III Rasio Perubahan Modal Sendiri a. Modal Sendiri Tahun/Triwulan Berjalan b. Modal Sendiri Tahun/Triwulan Lalu c. Perubahan Modal Sendiri (a - b) d. Rasio (c : b)

#DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

0.00 #DIV/0!

1. Skema Takaful.

37

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

38

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Gambar. 7 Skema Permintaan Asuransi Syariah

39

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Studi kasus di PT. Asuransi Syariah Mubarakah Cabang
Yogyakarta: Pak Abdul adalah peserta Asuransi Syariah Mubarakah Cabang Yogyakarta dengan menggunakan produk wadiah investasi mudharabah dengan rincian sebagai berikut:

40

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


Keterangan 1 :

A. Manfaat Asuransi sesuai dengan permintaan Peserta/Pemegang


Polis minimal Rp. 1.000.000,-. B. Masa Asuransi tergantung dari permintaan Peserta / Pemegang Polis.

C. Cara Pembayaran Premi Wadiah adalah Sekaligus, Peserta


Pemegang Polis dapat menambah Wadiahnya dengan melakukan perubahan Polis. Keterangan 2 : 1. Cara Menghitung Bagi Hasil (kolom 3). Bagi Hasil dengan asumsi 10%.

a) Usia peserta berumur 30 thn = Rp. 50.000.000,- x Rp. 0,- = Rp. 0,(Nilai Rp. 0,- diperoleh karena Bagi Hasil dihitung mulai usia peserta ke-2)

b) Usia peserta berumur 31 thn = Rp. 50.000.000,- x 10% = Rp.


5.000.000,-

c) Usia peserta berumur 32 thn = Rp. 55.000.000,- x 10% = Rp.


5.500.000,-

d) Usia peserta berumur 33 thn = Rp. 60.500.000,- x 10% = Rp.


6.050.000,-

e) Usia peserta berumur 34 thn = Rp. 66.550.000,- x 10% = Rp.


6.655.000,f) Usia peserta berumur 35 thn = Rp. 73.250.000,- x 10% = Rp. 7.320.000,g) Usia peserta berumur 36 thn = Rp. 80.525.500,- x 10% = Rp. 8.052.550,h) Usia peserta berumur 37 thn = Rp. 88.578.050,- x 10% = Rp. 8.857.80,-

i) Usia peserta berumur 38 thn = Rp. 97.435.855,- x 10% = Rp.


9.743.586,j) Usia peserta berumur 39 thn = Rp.107.179.441,-x 10% = Rp.10.717.944,-

k) Usia peserta berumur 40 thn = Rp.117.897.385,-x 10% =


Rp.129.687.123,Jadi Total Bagi Hasil Peserta umur 30 thn s/d 40 thn = 79.687.123,41 Rp.

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

1. Nilai Tunai Awal Thn (kolom 4).


Nilai Tunai Awal Thn = Bagi Hasil + Nilai Tunai Umur x a. Peserta berumur 30 thn :Rp. 0,- + Rp. 50.000.000,- :Rp. 50.000.000,Bagi Hasil nilainya Rp. 0,- karena diperoleh dari keterangan diatas ( Bagi Hasil dihitung mulai usia peserta yang ke 2). b. Peserta berumur 31 thn = Rp.50.000.000,- + Rp.5.000.000,- = Rp. 55.000.000,c. Peserta berumur 32 thn = Rp. 55.000.000,- + Rp. 5.500.000,- = Rp. 60.500.000,d. Peserta berumur 33 thn = Rp. 60.500.000,- + Rp.6.050.000,- = Rp. 66.550.000,-

e. Peserta berumur 34 tahun = Rp. 66.550.000,- + Rp. 6.655.00,= Rp.73.250.000,-

f. Peserta berumur 35 thn Rp.73.250.000,- + Rp.7.320.500,- =


Rp.80. 525.500,-

g. Peserta berumur 36 tahun : Rp. 80.525.500,- + Rp.8.052.550,= Rp. 88.578.050,h. Peserta berumur 37 tahun : Rp. 88.578.050,- + Rp.8.857.805,= Rp. 97.435.855,i. Peserta berumur 38 tahun : Rp. 97.435.855,- + Rp. 9.743.586,= Rp. 107.179.441,-

42

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


j. Peserta berumur 39 tahun = Rp. 107.179.441 + Rp.10.717.944 = Rp. 117.897.385 k. Peserta berumur 40 thn = Rp. 117.897.385,- + Rp.11.789.738,= Rp. 129.687.123,-

1. Premi Taawun (kolom 5).

43

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

Jadi Total Premi Taawun peserta umur 30 thn s/d 39 thn = Rp. 3.165.000,- (usia peserta umur 40 thn tidak dihitung atau nilainya Rp. 0,karena Premi Taawun berakhir sebelum masa asuransi habis).

2. Jumlah Premi Taawun (kolom 6). Jumlah Premi Taawun = Premi Taawun + Jumlah Premi Taawun umur x. a. Peserta berumur 30 thn = Rp. 300.000,- + Rp. 0,- = Rp. 300.000,b. Usia peserta berumur 30 thn = Rp.300.000,- + Rp.302.500,- = Rp. 602.500,c. Usia peserta berumur 30 thn = Rp. 602.500,- + Rp.303.500,- = Rp. 906.000,d. Usia peserta berumur 30 tahun : Rp. 906.000,-+ Rp. 305.000,: Rp.1.211.000,e. Usia peserta berumur 30 tahun = Rp. 1.211.000,-+ Rp.307.500,- = Rp. 1.518.500,f. Usia peserta berumur 30 tahun = Rp1.518.500,- + Rp. 314.500,- = Rp. 1.833.000,g. Usia peserta berumur 30 thn = Rp.1.833.000,- + Rp. 318.500,-= Rp.2.151.500,h. Usia peserta berumur 30 thn = Rp.2.151.500,- + Rp. 328.000,- = Rp. 2.479.500,i. j. Usia peserta berumur 30 thn = Rp.2.479.500,- + Rp. 339.500,- = Rp. 2.819.000,Usia peserta berumur 30 thn = Rp. 2.819.000,- + Rp. 346.000,- = Rp. 3.165.000,1. Santunan meninggal dunia biasa (kolom 7). Santunan Meninggal Dunia Biasa = Manfaat Asuransi X 100%. ( 100% adalah sudah asumsi dari PT). 44

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam


a. Usia peserta berumur 30 thn = Rp. 50.000.000,- X 100% = Rp. 50.000.000,b. Usia peserta berumur 31 thn = Rp. 50.000.000,- X 100% = Rp. 50.000.000,(Santunan Meninggal Dunia Biasa peserta berumur 30 s/d 39 thn sama yaitu Rp. 50.000.000,- X 100% Rp. 50.000.000,-). 1. Santunan Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan (kolom 8 ). Santunan Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan = Manfaat Asuransi X 200%. ( 200% adalah sudah asumsi dari PT). a. Usia peserta berumur 30 thn = Rp. 50.000.000,- X 200% = Rp. 100.000.000,b. Usia peserta berumur 31 thn = Rp. 50.000.000,- X 200% = Rp. 100.000.000,( Santunan meninggal dunia peserta berumur 30 s/d 39 thn sama yaitu Rp. 50.000.000,- X 200% Rp. 100.000.000,-). Jawaban dari studi kasus prodak wadiah investasi mudharabah diatas adalah = 1. Asumsi Tingkat Hasil Investasi = 10%. Rp. 50.000.000 x 10% = Rp. 5.000.000,-

2. Selisih Keuntungan = Nilai Tunia Akhir (Total Premi Wadiah +


Total Premi Taawun). Rp.129.687.123,- ( Rp.50.000.000,- Rp. 3.165.000,-) = Rp. 76.522.123,3. Santunan Meninggal Dunia Biasa = 100% X Manfaat Asuransi. 100% X Rp. 50.000.000,- = Rp.50.000.000,-

4. Santunan Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan = 200% X Manfaat


Asuransi. 200% X Rp. 50.000.000,- = Rp.100.000.000,5. Premi Wadi'ah = Manfaat Asuransi. Rp. 50.000.000,- = Rp.50.000.000,6. Premi Ta'awun Peserta Berumur X (misal usia peserta berumur 30 thn).

45

Penerapan Asuransi Syariah dalam Islam

7. Nilai Tunai = Total Premi Wadi'ah + Jumlah Bagi Hasil


Penggunaan Wadiah ( disini Pengguna Wadiah tidak ada, maka nilainya = Rp. 0,-) Sehingga nilai tunai = Rp. 50.000.000 + Rp 79.687.123 Rp. 0,- = Rp.129.687.123,-

46