Anda di halaman 1dari 15

1

A. JUDUL:
Penentuan minyak dari Spent Bleaching Earth asal industri refinery minyak sawit

B. LATAR BELAKANG: Proses Pemucatan merupakan salah satu langkah yang penting dalam pengolahan minyak nabati (Young, 1987). Pemucatan dalam praktek refinery bertujuan untuk menghilangkan coloringbodies, pigmen, dll, selain itu berfungsi juga untuk menghilangkan sisa fosfolipid, lender, oksidasi tri-asil atau parsial-gliserol, logam yang terionisasi dan non-terionisasi (dikomplekskan), dan sisa sabun dari penetralan minyak. (Waldmann dan Eggers, 1991). Pada proses refinery Crude Palm Oil (CPO) pemucataan dilakukan dengan menggunakan bleaching earth (BE). Bleaching earth (BE) terdiri dari beberapa jenis antara lain: Ca-bentonit, simnit dan arang aktif. Pada umumnya industri refinery minyak nabati di Indonesia menggunakan Ca-bentonit sebagai bleaching agent pada proses bleaching CPO. Bentonit atau (MgCa)OAl2O35SiO28H2O adalah jenis mineral lempung, dengan komposisi kimianya 80% terdiri dari mineral monmorillonite (pembangun struktur bentonit) (Na.Ca)0,33, (Al.Mg)12Si4O10, (OH)2.nH2O (Rouquerol, 1999). Bahan galian ini bersifat lunak, dengan tingkat kekerasan satu pada skala Mohs, berat jenisnya berkisar antara 1,72,7, mudah pecah, terasa berlemak bila dipegang, mempunyai sifat mengembang apabila kena air (Szostak, 1992). Komposisi limbah terbesar pada industri refinery minyak nabati adalah Spent Bleaching Earth (SBE), Berdasarkan PP No. 18 tahun 1999, SBE dapat dikategorikan sebagai limbah Bahan Buangan Berbahaya (limbah B3). Limbah dari proses pemucatan minyak terdiri dari dua komponen utama yaitu minyak dan bentonit. Adapun minyak hasil recovery dapat digunakan menjadi metil ester (biodiesel), hal tersebut dikarenakan minyak sudah tidak lagi food grade artinya minyak sudah rusak (Young, 1987). Sementara itu, bentonit hasil recovery bisa dimanfaatkan kembali untuk pemucatan minyak pada industri refining CPO.

Industri refinery minyak nabati pada umumnya membuang SBE pada suatu lahan khusus (landfill). Padahal SBE memiliki kandungan minyak nabati yang tinggi yaitu 20-40% (Ong J.T.L, 1983), sehingga merupakan suatu bahan yang sangat potensial untuk dimanfaatkan, sehingga perlu dilakukan recovery. Diperkirakan bahwa sekitar 600.000 ton metric atau lebih BE dimanfaatkan di seluruh dunia dalam proses pemurnian didasarkan pada produksi di seluruh dunia (Kaimal et al, 2002). Pada proses pemucatan warna atau bleaching CPO, digunakan bleaching earth dengan kadar berkisar antara 0.5% hingga 2.0% dari massa total CPO yang diolah (Young, 1987 & Low et al., 1996). Dengan asumsi pada tahun 2007, jika CPO yang dipakai di Indonesia untuk proses bleaching sebesar 5 juta ton per tahun, maka dalam proses pemurnian CPO diperlukan bleaching earth sebesar 100.000 ton per tahun. Semakin banyak CPO yang di-bleaching maka jumlah SBE semakin meningkat pula, dan akan membutuhkan lahan yang luas untuk mengatasi limbah B3 ini secara landfill. Pemanfaatan limbah industri ini sangat penting dilakukan, terkait dengan besarnya potensi limbah yang dihasilkan, dan perkembangan industri refinery minyak nabati di Indonesia pada umumnya, khususnya di Riau yang semakin pesat pertumbuhannya. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan proses regenerasi SBE, agar dapat dimanfaatkan kembali untuk keperluan proses bleaching CPO.

C. PERUMUSAN MASALAH Wahyudi (2008), melakukan penelitian regenerasi SBE asal industri refineri minyak nabati dan meneliti kemampuan penyerapan adsorben bekas, akan tetapi tidak dilakukan proses recovery minyak pada penelitian ini. kelemahan yang teridentifikasi pada penelitian tersebut, yaitu tidak dilakukan proses pemucatan warna CPO dengan menggunakan bleaching earth bekas yang didaur ulang, begitu pula penentuan kualitas minyak atau CPO setelah di-bleaching tidak ada datanya. hal ini disebabkan penelitian ini hanya berupa studi saja.

Dalam penelitian Fikri dan Kusumadewi (2006), regenerasi SBE dengan menggunakan HCL dengan variasi konsentrasi 8, 10 dan 12 % v/v, dan temperature 190, 270, dan 350 oC. Kualitas pemucatan dengan konsentrasi HCl 8% minyak terlebih dahulu. Berdasarkan uraian tersebut diatas, pada penelitian ini akan dilakukan proses regenerasi pada SBE asal PT.Wilmar-Duri. Kemudian membandingkan aktivasi dengan menggunakan H3PO4, kelemahan-kelemahan yang ada pada penelitian sebelumnya dapat diatasi antara lain; pada optimalisasi proses aktivasi bleaching earth bekas akan dilakukan variasi konsentrasi aktivator H3PO4 ( 8; 10; 12; dan 16 %v/v) , waktu 30, 60 dan 90 menit serta suhu aktivasi 190oC, 210oC, 300oC. Penentuan daya jerap SBE hasil daur ulang ditentukan dengan bantuan methylen blue. Optimalisasi proses recovery minyak pada SBE dilakukan dengan menggunakan metode solvent extraction (hexan). terbaik dari SBE setelah melewati proses yang menggunakan bentonit hasil regenerasi pada perlakuan dan temperatur 190 oC dengan persen removal

diperoleh adalah 47,86 %. Akan tetapi pada penelitian ini tidak dilakukan recovery

D. TUJUAN Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh daya serap BE hasil recovery SBE asal PT Wilmar-Duri dengan menerapkan proses regenerasi menggunakan H3PO4.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN PKM-P (Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian)

F. KEGUNAAN Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk: 1. 2. mendapatkan BE yang dapat dimanfaatkan kembali untuk proses pemucatan CPO. mengurangi masalah pencemaran lingkungan akibat penumpukan SBE di areal landfill pabrik refineri CPO.

G. TINJAUAN PUSTAKA G.1 Bleaching Earth Bleaching Earth (BE) banyak digunakan pada proses bleaching atau pemucatan warna minyak sawit mentah atau CPO pada industri refining CPO sebagai bleaching agent. Proses bleaching bertujuan merubah warna CPO dari berwarna gelap coklat-kemerahan menjadi kuning muda jernih. Selain itu, adsorben ini juga dapat berfungsi untuk mencegah kerusakan minyak karena dapat mengadsorpsi pengotor-pengotor lain yang terdapat dalam CPO seperti sisa tandan, sejumlah kecil logam, dan pengotor yang berasal dari hasil oksidasi minyak yang biasanya berwarna gelap. Bleaching earth yang digunakan di industri tersebut ada beberapa jenis antara lain; bentonit, simnit dan arang aktif. Industri refinery minyak nabati di Indonesia umumnya menggunakan Ca-bentonit sebagai bleaching agent. Bentonit adalah istilah yang digunakan di dalam dunia perdagangan untuk jenis mineral lempung yang mengandung 80% mineral monmorillonit (Al2O3.4SiO2 x H2O). (Riyanto A, 1992). Jenis bahan galian yang mengandung mineral monmorillonit mempunyai ciri-ciri yaitu; berwarna putih keabu-abuan, kadangkadang berwarna krem, kilap lilin, lunak, plastis, sarang, dan apabila diraba terasa licin seperti sabun, sedangkan kalau dimasukkan kedalam air akan mengisap air tersebut sedikit atau banyak. Bila kena hujan singkapan bentonit berubah seperti bubur, sedangkan jika kekeringan akan menimbulkan rekahan-rekahan yang nyata (Dinas Pertambangan dan Energi, 2004).

Bentonit mempunyai sifat mengadsorpsi, karena ukuran partikel koloidnya sangat kecil dan memiliki kapasitas permukaan ion yang tinggi. Bentonit bersifat mudah mengembang di dalam air, karena adanya penggantian isomorphous pada lapisan oktohedral (ion Mg oleh ion Al) dalam mengimbangi adanya kelebihan muatan diujung kisi-kisinya.

Gambar G.1.1 Bentonit Adanya gaya elektrolisis yang mengikat kristal pada jarak 4,5 dari permukaan unitunitnya, dan akan tetap menjaga unit itu untuk tidak saling merapat. Pada pencampuran bentonit dengan air, adanya proses pengembangan membuat jarak antara setip unit makin melebar dan lapisannya menjadi bentuk serpihan, serta mempunyai permukaan luas jika dalam zat pengsuspensi. Oleh karena sifatnya ini, bentonit dapat dijadikan bleaching agent atau adsorben. G.2 Minyak Kelapa Sawit mentah (Crude Palm Oil) Buah kelapa sawit dapat diolah menjadi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dan minyak inti sawit. Minyak sawit mentah merupakan campuran dari dari senyawa trigliserida, digliserida, monogliserida, asam lemak bebas (FFA/Free fatty acids), dan juga mengandung senyawa non gliserida antara lain: senyawa phospatida, raffinase, pentosan, karoten, dan senyawa gossypol (berupa zat anti oksidan, vitamin A, D, dan E, sedikit air dan pengotor lainnya), serta hidrokarbon (sterol, keton, asam butirat, tokoferol) (Ketaren, 1986). Komposisi beberapa zat penyusun CPO sebagai berikut:

Tabel 1 Komposisi beberapa zat penyusun CPO NAMA ZAT Free Fatty Acid (FFA) Senyawa phospholipid dan phosphotida (berbentuk getah/gum) Pengotor Kulit/cangkang buah sawit (Shell) air dan pengotor lainnya (Moisture and Impurities) Logam Senyawa yang terbentuk dari hasil oksidasi CPO Total senyawa karotin (Carotenoids) Sumber: JitKangs, 2011 Senyawa phospatida yang terdapat dalam CPO merupakan senyawa lesitin yang terdapat dalam radikal asam lemak yang berbentuk suspensi koloid, sedangkan senyawa raffinase dan pentosan merupakan senyawa yang terbentuk dari hasil degradasi protein yang ada dalam CPO, jumlahnya kecil dan berbentuk suspensi. Senyawa karoten dalam CPO berbentuk pigmen (karotenoid) yang menyebabkan minyak berwarna kuning atau merah. Senyawa sterol bersifat netral dan tidak mudah tersabunkan. Senyawa hidrokarbon seperti sterol, keton, asam butirat, tokoferol, dan lain-lain menyebabkan CPO ber-bau dan ber-rasa. Senyawa gossypol berupa zat antioksidan, vitamin A, D, dan E (Ketaren, 1986). Zat warna yang terdapat dalam CPO terdiri dari zat warna alamiah dan zat warna dari hasil degradasi zat warna alamiah. Zat warna alamiah seperti dan karoten, xanthofil, khlorofil, gossyfil, dan anthocyanin yang menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning coklat, kehijau-hijauan dan kemerah-merahan. Sedangkan zat warna dari hasil degradasi zat warna alamiah biasanya menyebabkan CPO berwarna gelap. 300 ppm 0.01% Kecil sekali (Trace) 0.15% 0.50% Kecil sekali (Trace) 500 - 1000 mg/ke KADAR 3 - 5%

G.3 Proses Recovery Minyak Pada Spent Bleaching Earth Pada umumnya industri minyak akan membuang spent bleaching earth (SBE) pada suatu lahan. Tingginya kandungan minyak nabati pada spent bleaching earth sangat potensial untuk dimanfaatkan sehingga perlu dilakukan recovery, selain itu spent bleaching earth dapat dilakukan proses regenerasi untuk digunakan kembali dalam proses pemurnian minyak nabati. Limbah dari proses pemucatan minyak terdiri dari dua komponen utama yaitu minyak dan bentonit. Adapun minyak hasil recovery dapat digunakan menjadi metil ester (biodiesel), hal tersebut dikarenakan minyak sudah tidak lagi food grade artinya minyak sudah rusak (Young, 1987). Selain itu pemanfaatan bentonit setelah recovery ialah untuk penggunaan kembali pada proses pemucatan minyak dan juga untuk bahan baku briket. Pemanfaatan tersebut sangat baik karena potensi limbah yang sangat tinggi dengan seiring perkembangan industri pemurnian minyak sawit. Kheang et al (2006) telah melakukan penelitian mengenai proses pengambilan minyak dari spent bleaching earth (WAC dan NC) dengan dua metode yaitu solvent extraction (hexan) dan supercritical extraction (SC-CO2). Penelitian tersebut menunjukan bahwa kandungan minyak yang didapatkan dengan metode solvent extraction lebih besar dibanding supercritical extraction (SC-CO2) yaitu sebesar 30% (WAC). Pemanfaatan limbah industri. pemurnian minyak sangat penting dilakukan terkait dengan besarnya potensi limbah yang dihasilkan seiring dengan semakin pesatnya pertumbuhan industri pemurnian minyak. Rendemen minyak yang dihasilkan dari proses recovery dengan 2 jenis pelarut organik berkisar antara 16 sampai 21.74 % dari bobot limbah. Pelarut isopropanol memberikan nilai rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan n-hexan yaitu berkisar antara 18.75 sampai 21.74 % sedangkan n-hexan berkisar antara 16.11 sampai 17.74 %. Kepolaran pelarut organik selain berpengaruh terhadap rendemen juga berpengaruh terhadap kejernihan minyak. Nilai transmitten minyak (faktor pengenceran 100 kali) pada panjang gelombang 500 nm untuk minyak yang dihasilkan dari ekstraksi dengan menggunakan isopropanol berkisar antara 15.85

sampai 27.9 % sedangkan pada minyak hasil ekstraksi dengan n-hexan berkisar antara 87.45 sampai 93.55 %. Kadar asam lemak bebas pada minyak hasil recovery ini berkisar antara 13.15 20.9 % untuk semua jenis perlakuan. Bilangan peroksida minyak tidak terdeteksi untuk semua jenis perlakuan. Kadar abu yang terdapat pada minyak hasil recovery umumnya sangat kecil, untuk keseluruhan perlakuan bernilai kurang dari 1%. Nilai pH SBE setelah recovery berkisar antara 3.21 sampai 3.43. Bleach power bentonit hasil recovery ditunjukan dengan nilai % T pada minyak yang dipucatkan oleh bentonit tersebut. Nilai transmitten minyak (faktor pengenceran 50 kali) pada panjang gelombang 500 nm pada bentonit hasil recovery dengan isopropanol memiliki nilai antara 77.05 sampai 80% sedangkan bentonit hasil recovery dengan n-hexan berkisar antara 60.35 sampai 63.5%. G.4 Proses Regenerasi Spent Bleaching Earth Bleaching earth bekas atau spent bleaching earth (SBE) merupakan adsorben bekas pakai yang dihasilkan dari unit bleaching pada industri refining CPO. Limbah ini merupakan bahan berpotensi, karena selain kadar minyaknya cukup tinggi, limbah ini juga dapat di-regenerasi, sehingga dapat dimanfaatkan kembali (Young 1987, Tsai 2002, Kheang 2006, & Wambu, 2009). Jika diasumsikan harga pasaran bleaching earth baru berkisar antara US$ 380-US$ 500 per satu ton, dan harga CPO U$ 1000 per satu ton. Oleh karena itu, harga satu ton SBE dengan kandungan minyak 20% ditaksir adalah 0.17 x 1000 + 0.83 x 440 = US$ 535. Berdasarkan hal ini, proses recovery minyak dan regenerasi pada SBE sangat perlu dilakukan, karena hal ini dapat meminimalisasi jumlah limbah sekaligus menurunkan biaya produksi di industri minyak goreng. Pada prinsipnya bleaching earth bekas memiliki kemampuan adsorpsi yang rendah, tetapi jika di-regenerasi dengan cara pemanasan, dan penambahan media maka daya adsorpsinya akan meningkat. Proses regenerasi pada SBE dapat dilakukan secara fisika dan kimia. Proses daur ulang secara fisika dapat dilakukan dengan cara mengaktivasi bleaching earth bekas tersebut dengan metode pemanasan

(Wambu et al, 2009), dan proses daur ulang secara kimia dapat dilakukan dengan bantuan media activator, seperti asam phospat (H3PO4), hydrogen peroksida (H2O2). Bleaching earth bekas pada dasarnya merupakan campuran antara fresh bleaching earth dengan senyawa hidrokarbon yang berasal dari CPO. Senyawa hidrokarbon ini dengan proses pemanasan akan menjadi arang (coke). Arang yang terbentuk dengan bantuan asam phospat dapat meningkatkan permukaan aktif bleaching earth bekas yang diregenerasi. Dalam hal ini, bleaching earth bekas adalah kalsium-bentonit yang terdiri dari lebih 80% mineral monmorillonit mempunyai struktur bertingkat dan kapasitas pertukaran ion yang aktif di bagian dasar. Oleh karena itu, strukturnya dapat diganti seperti struktur bagian dasar dengan cara penambahan media pengaktif seperti H3PO4 atau H2O2. Bahan kimia tersebut akan menyebabkan penggantian ion-ion K+, Na+, dan Ca+2 serta H+ dalam ruang interlamelar, serta akan melepaskan ion-ion Al+3, Fe+3, dan Mg+2 dari kisi strukturnya sehingga menjadi lempung aktif. Aktivitas permukaan aktif adsorben bekas ini dipengaruhi oleh konsentrasi bahan kimia pengaktif, biasanya dipakai H3PO4. Selain pengaruh konsentrasi bahan kimia pengaktif, perlu diperhatikan sifat dasar, distribusi ukuran artikel, pH, dan nilai SiO2 atau Al2O3. Selain hal tersebut, beberapa faktor yang mempengaruhi proses regenerasi atau re-aktivasi yaitu suhu pemanasan, waktu pemanasan dan tekanan.

H. METODE PELAKSANAAN Pendekatan dan strategi yang digunakan untuk tercapainya tujuan penelitian ini yaitu semua data yang didapatkan disusun dalam bentuk tabel dan grafik yang menggambarkan hubungan antara variable proses dan variable respon yang diamati. Tabel 2 Hubungan antara variabel proses dan variabe; respon yang diamati URAIAN Masalah penelitian TAHAP KEMAJUAN Penentuan daya jerap BE dari limbah

10

refineri CPO Model dan variabel penelitian 1. Model eksperimental murni 2. Variabel parameter operasi antara lain: Temperatur aktivasi, konsentrasi asam phospat, waktu aktivasi, ukuran partikel Teknik pengumpulan data Teknik pengolahan data Hasil analisis dan interpretasi data Sampling sekali waktu, duplo Tabel dan grafik Pada proses aktivasi: 1. Konsentrasi asam phospat optimum 2. Waktu aktivasi optimum Generalisasi dan rekomendasi Diperoleh kondisi optimum variable proses pada regenerasi SBE

H.1 Tahap Percobaan H.1.1 Tahap persiapan bahan baku 1. SBE digerus hingga berukuran seragam yaitu 300 mesh. 2. Membuat larutan H3PO4 dengan variasi konsentrasi asam 8 % v/v, 10 % v/v, dan 12 % v/v. H.1.2 Tahap recoveri 1. SBE yang telah digerus sebanyak 50 gr diekstraksi menggunakan soklet 2. Pelarut yang digunakan adalah n-Heksana teknis pada suhu 72oC selama 5 jam sebanyak 500 mL.

11

H.1.3 Tahap Regenerasi 1. Bentonit bekas yang telah direcoveri sebanyak 40 gr diaduk dengan 250 ml H3PO4 selama 30, 60 dan 90 menit pada suhu ruang, kemudian disaring untuk memisahkan filtrat dari bentonit. 2. Bentonit yang telah disaring dikeringkan di dalam oven selama 24 jam pada suhu 105oC. 3. Bentonit digerus kembali kemudian dimasukkan ke dalam furnace dengan variasi temperatur 190oC, selama 24 jam. H.1.4 Tahap Analisa 1. BE yang telah diaktivasi kemudian dimasukkan ke dalam Glass cell yang berisi Metilen biru 2. Diletakkan ke dalam alat UV-VIS

I. No 1

JADWAL KEGIATAN Kegiatan Persiapan y Mengumpulkan data dan mengupdate seluruh artikel bahan yang terkait dengan penelitian y Pemesanan material penelitian dan persiapan penelitian Lokasi Penelitian 1 Lab. Dasar Teknik Kimia Bulan Ke2 4 5 6

y Perlakuan awal terhadap bahan baku limbah y Recoveri minyak pada

Lab. Dasar Teknik Kimia dan Lab Bahan Alam dan Mineral

12

SBE 3 Kondisi optimum regenerasi BE y Pengaruh konsentrasi H3PO4 y Pengaruh waktu pemasakan 4 5 6 Uji daya serap SBE dengan Metilen Blue Analisa data dan Pelaporan Penyusunan Laporan y Pembuatan laporan y Penggandaan y Seminar Lab. Dasar Teknik Kimia Lab. Dasar Teknik Kimia Lab. Dasar Teknik Kimia

J. No 1

RANCANGAN BIAYA Uraian Bahan habis pakai Asam pospat Aquades Metilen Biru SBE N-Heksana Liter Liter mL Kg Liter 1 30 500 2 1 Rp 2.000.000 Rp Rp Rp Rp 300.000 1.000 500 Rp 2.000.000 Rp Rp Rp Rp 30.000 250.000 300.000 Satuan Volume Harga Satuan Jumlah

13

Biaya Transportasi Total 2 Pekerjaan laboratorium Termometer Gelas beaker (100ml) Ayakan Pipet tetes Erlenmeyer (250ml) Wadah porcelen Furnace Sokhletasi Glass cell (100ml) Total 3 Analisa daya jerap SBE Uji daya jerap SBE dengan UV-VIS Total 4 Biaya Lain-lain Biaya Pembuatan laporan Biaya monitoring Ls Sampel 40 Unit Buah Unit Buah Buah Buah Unit Unit unit 3 10 1 5 5 9 1 1 6

Rp

Rp 1.000.000 Rp 3.580.000

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

22.500 38.600 200.000 1.000 125.000 30.000

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

67.500 386.000 200.000 5.000 625.000 270.000 300.000 300.000 480.000

Rp 300.000 Rp 300.000 Rp 80.000

Rp 2.633.500

Rp

50.000

Rp 200.000

Rp 200.000

Rp

300.000

Rp 1.500.000

14

Biaya Dokumentasi Ls Biaya tak terduga Total Total Biaya

Rp Rp

300.000 300.000

Rp 2.400.000 Rp 8.813.500

K. DAFTAR PUSTAKA Fikri, M.E., Kusuma., D, 2006, Regenerasi Bentonit Bekas Secara Kimia Fisika Dengan Aktivator Asam Klorida Dan Pemanasan Pada Proses Pemucatan CPO, http://student-research.umm.ac.id Kaimal, T.N.B., P. Vijayalakshmi, A.A. Laximi & B. Ramakinga, 2002, Process for simultaneous conversion of adsorbed oil to alkyl esters and regeneration of commercial spent bleaching earth for reuse, US Patent 0115875 A1 Low, K.S., Lee, C.K & Lee, T.S. 1996. Hexane-extracted Spent Bleaching earth as a sorbent for copper in aqueous solution, Bull. Environ.Contam.Toxicol; 56: 405-412., Ong, J.T.L., 1983. Oil recovery from spent bleaching earth and disposal of the extracted material. J. Amer. Oil Chem. Soc., 60: 314-315 Rouqurol, F., Rouquerol & J., Sing, K., 1999, Adsorption by powders & porous solids: principles, methodology and applications, Academic Press, London Szostak, R., 1992, Handbook of Molecular Sieves: Structures, Kluwer Academic Publishers, Netherland Wahyudi, Y, 2008, Sudi Penggunaan Kembali Bleaching Earth Bekas sebagai adsorben dalam Proses Refining CPO, Master Thesis, Teknik Lingkungan, ITB Waldmann, C., Eggers R, 1991, De-oiling contaminated bleaching clay by high pressure extraction, J. Amer. Oil Chem. Soc. 68, 922- 930 Young, F., 1987. Refining and fractionation of palm oil en: Gunston F. (Ed) Palm oil, 47, 51. The Society of Chemical Industri Publication, John Wiley and Sons Inc., New York Yusnimar, 2006., Pemanfaatan Bentonit Sebagai Adsorben Pada Proses Bleaching Minyak Sawit prosiding Nasional Teknik Kimia Teknologi Oleo dan Petrokimia Industri
ISSN: 1907-0500

15

L. LAMPIRAN L.1 NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK 1. Ketua Pelaksana Kegiatan Nama lengkap NIM Fakultas/Program studi Perguruan Tinggi 2. Nama Anggota Pelaksana a. Nama lengkap NIM Fakultas/Program studi Perguruan Tinggi b. Nama lengkap NIM Fakultas/Program studi Perguruan Tinggi : Elgina May Lestari : 0907114222 : Teknik/Teknik Kimia : Universitas Riau : Siti Rahmah : 0907136192 : Teknik/Teknik Kimia : Universitas Riau : Barkhatul Aulia : 0807121133 : Teknik/Teknik Kimia : Universitas Riau

L.2 NAMA DAN BIODATA DOSEN PEMBIMBING Nama lengkap dan gelar NIP Jabatan fungsional Jabatan struktural Fakultas/Program studi Perguruan Tinggi Bidang keahlian : Dra. Yusnimar, Msi, MPhil : 19620612 198803 2 002 : Ketua Prodi Teknik Kimia D3 : Kepala Lab. Kimia Analitik : Teknik/Teknik Kimia D3 : Universitas Riau : Asisten Ahli