Anda di halaman 1dari 21

Sistem Pengaturan PERCOBAAN I KARAKTERISTIK KERJA SISTEM PNEUMATIK 1. OBYEKTIF 1. 2. Mengenal sistem pengaturan dengan komponen pneumatik.

Menentukan titik kerja komponen pneumatik. 2. TEORI DASAR Dewasa ini pemakaian sistem pengaturan automatik merupakan kebutuhan pokok pada pengendalian proses dalam suatu industri, terutama sejak digunakannya komputer sebagai unit pengendali yang dapat melakukan pengendalian secara terintegrasi. Sistem ini dipandang sangat menguntungkan karena selain menjanjikan ketelitian, kecepatan mengendalikan dan kontinyuitas produksi, dapat pula menggantikan operator yang bekerja pada lingkungan yang membahayakan keselamatannya. Mengingat bahwa pengendalian utama dari sistem pengaturan otomatis adalah komputer, secara keseluruhan sistem tersebut akan lebih mudah jika didisain dengan komponen yang mengkonsumsi type energi yang sama dengan unit pengendali yaitu energi listrik. Karena disamping mudah didapat, bentuk energi ini mudah dikonversikan kebentuk energi lainnya. Meskipun demikian untuk pertimbangan disain tertentu komponen sistem tidak seluruhnya menggunakan daya listrik, misalnya: komponen yang digunakan untuk menghasilkan daya dorong yang besar digunakan komponen hidrolik ( komponen yang digerakkan oleh minyak bertekanan ), komponen yang digunakan untuk mengatur aliran bahan kimia yang mudah terbakar digunakan komponen pneumatik ( komponen yang digerakkan dengan udara bertekanan ). Dalam industri pemakaian komponen komponen ini sangat beragam dann umumnya didisain sebagai satu kesatuan yang terintegrasi dengan unit pengendali utama.

Sistem Pengaturan

2.1 SISTEM PENGATURAN DENGAN KOMPONEN PNEUMATIK Sistem pengaturan dengan komponen pneumatik merupakan sistem pengaturna yang memerlukan sumber daya udara bertekanan. Karena itulah pada hakikatnya sistem ini merupakan sistem pengaturan tekanan udara yang keluarannya digunakan untuk mencatu atau menggerakkan komponen dari sistem lain yang lebih kompleks. Sistem ini banyak diterapkan dalam proses industri dibandingkan dengan sistem hidrolik, karena: biaya investasi relatif lebih murah, pengadaan sumberdaya yang diperlukan relatif lebih sederhana, dapat juga digunakan untuk mengatur daya yang besar, lebih bersih dan memberikan respons sistem yang cepat. Kekurangan utamanya adalah kebisingan yang dihasilkan dari pembuangan udara bertekanan. Sistem pengaturan dengan komponen pneumatik pada paket praktikum berikut ini digunakan untuk mempelajari sistem pengaturan tekanan udara, khususnya digunakan sebagai pencatu aliran udara bertekanan untuk proses berikutnya ( Gambar 1).

Gambar 1. Sistem Pengaturan Tekanan Dari Komponen Pneumatik Keterangan : BA = Buffer Accumulator

Tekanan udara dalam saluran merupakan variabel yang akan diatur (controlled variable) dinotasikan sebagai Px. Besarnya tekanan ini berubah sesuai dengan perubahan beban yang dinyatakan sebagai resistansi aliran Rz. Sistem Pengaturan tekanan tersebut dicatu oleh suatu sumber udara bertekanan dengan tekanan konstan PS. Untuk menghindari terjadinya perubahan yang mendadak dari tekanan

Sistem Pengaturan dalam saluran sebagai akaibat dari perubahan variabel pengatur Py ( dapat pula difungsikan sebagai gangguan ) atau perubahan beban Rz, pada saluran antara sumber, dan beban, dipasangkan sebuah tabung udara yang disebut sebagai Buffer-Accumulator.

2.2 KEADAAN TUNAK KOMPONEN PNEUMATIK Seperti juga pada pengertian umum dari keadaan tunak ( Steady State), keadaan tunak pada sistem diatas berarti bahwa tekanan sumber PS, tekanan udara dalam saluran PX, tekanan pengatur Py serta beban Rz adalah konstan untuk tiap perubahan waktu. Dalam hal ini keadaan tunak dapat ditentukan tanpa menggunakan buffer accumulator, karena sistem dapat dinyatakan sebagai pembagian tekanan. Seperti layaknya pembagian tegangan pada ragkaian tahanan ( Gambar 2 ), tekanan PX yang terletak antara tekanan sumber PS dan tekanan udara luar ( pressure ambient) Pamb = 0 dapat dinyatakan sebagai fungsi dari resistansi pneumatik Rcon ( resistansi pengatur ) dan Rz ( resistansi penerima aliran atau beban ), yaitu :

Gambar 2. Sistem Pengaturan Tekanan Digambarkan Sebagai Pembagian Tekanan dan Dibandingkan Dengan Pembagian Tegangan

2.3 KURVA KARAKTERISTIK dan TITIK KERJA (OPERATING POINT) Hubungan dari Px, Rz dan Rcon pada formulasi diatas memberikan gambaran hubungan saling bergantungan antara Px terhadap perubahan dari Rz dan Rcon. Melalui hubungan tersebut, dapatlah dideskripsikan keadaan Px yang mungkin nuntuk perubahan dari Rz dan Rcon, yaitu :

Sistem Pengaturan 1. Rz menyatakan beban dari sistem, jika beban ini bertambah besar ( nilai resistansi Rz diturunkan ), maka tekanan Px juga turun. 2. Penurunan tekanan Px dapat diatasi dengan mengatur resistansi Rcon, dimana jika Rcon diturunkan, maka Px akan naik kembali. 3. Harga resistansi dari Rcon tergantung dari tekanan penagtur Py, dimana jika tekanan Py turun maka valve akan lebih terbuka yang artinya resistansi Rcon turun. Kemungkinan kejadian diatas (a,b, dan c) menggambarkan suatu konsep pengaturan tekanan pada sekitar keadaan tunak, yang memberikan pengertian bahwa : emskipun terjadi perubahan beban Rz, tekanan Px dapat dijaga konstan pada keadaan tertentu melalui penagturna tekanan valve Py. Disamping itu, hubungan ketergantungan tersebut dapat pula dipakai untuk mendapatkan kurva hubungan antara Px dna Py untuk beberapa nilai Rz tertentu ( tetap), yang disebut sebagai kurva karakteristik komponen. Secara matematik hubungan antar variable itu dapat dikatakan bahwa Py adalah variabel bebas, Px variabel tak bebas dan Rz berfungsi sebagai parameter, atau dalam bentuk fungsi Px = f(Py ; Rz). Dengan memvariasi harga Pydan melakukan pengukuran tekanan Px untuk berbagai harga Rz, didapatkan beberapa kurva karakteristik dari komponen pneumatik dengan sumbu vertikal sebagai variable tak bebas Px dan sumbu horizontal sebagai variable bebas Py. Rangkaian percobaan untuk pengukuran karakteristik ini digambarkan pada Gambar 3. Kapasitas daya dan tekanan sumber Ps umumnya terbatas, sehingga perubahan bebanpun harus dibatasi pada nilai nilai yang masih mungkin untuk dicatu oleh sumber udara bertekanan. Dengan demikian perlu diperhitungkan dengan baik harga Px dan Py yang dioperasikan menurut beban normal ( beban rata- rata diantara harga maximum dan minimum ). Harga dari tekanan Px,Py dna resistansi Rz untnuk pengoperasian normal ini disebut sebagai titik kerja sistem pneumatik dan dinotasikan sebagai PxL, PyL dan resistansi RzL. Demikian pula untuk harga Rzmax dan Rzmin merupakan harga yang masih berada dalam range kerja dari sistem pencatu daya Ps. kurva karakteristik untuk tiga harga Rz ini digambarkan pada Gambar 4.

Sistem Pengaturan

Gambar 3: Rangkaian Pengukur Karakteristik Sistem Pengaturan Tekanan Keterangan: TF = Testing Facility ; PT =Pressure Transmitter; M =Measuring Device

Gambar 4. Kurva Karakteristik Dari Sistem Pengaturan Tekanan

2.4 ANALISA DESKRIPTIF DARI KURVA KARAKTERISTIK Telah dijelaskan diatas bahwa titik kerja normal dipilih menurut beban normal yang akan dioperasikan yaitu RzL. Dengan memilih harga Pxdan Py pada nilai standar dari sinyal pneumatik ( sekitar 0,6 bar), dapatlah ditentukan titik kerja normal dari sistem tersebut yang disimbolkan dengan huruf B.

Sistem Pengaturan Untuk melihat perubahan titik kerja serta tindakan apa saja yang perludilakukan agar harga variabel yang diatur ( controled variable) Px tetap pada nilai yang dikehendaki, dapat dilakukan analisa deskriptif sebagai berikut: 1. Diasumsikan pada keadaan awal sistem bekerja pada bagian normal yaitu Rz= RzL; Px = PxB dan Py = PyB (titik kerja B). jika beban diubah menjadi beban maximal ( Rz= Rzmax), maka titik kerja akan bergeser menjadi titik A1 dan harga Px turun menjadi Px1. 2. Titik kerja A1 bukan titik kerja yang diinginkan karena harga Px=Px1. Untuk mengembalikan harga Px ke harga semula (PxB), maka harga Py perlu diubah menjadi Py2 ( titik kerja A2 ). 3. Jika diinginkan mengubah titik kerja PxB menjadi Px1 tnapa melakukan perubahan pada beban ( Rz = RzL ), dilakukan dengan mencari titik A3 seperti pada gambar 5.1. Dengan demikian dapat ditentukan besarnya Py yang dibutuhkan agar PxB menjadi Px1.

Gambar 5. Sebagian Gambar Dari Kurva Karakteristik Sistem ( 1. Untuk Mencari Pz* dan 2. Untuk Mencari Kps)

a.

Perubahan titik kerja Px menjadi Px1 dapat pula dianggap berasal dari variable gangguan yang berubah pada beban yang seolah olah dilakukan penambahan harga Py sebesar Py. oleh karena itu Py ini disebut pula sebagai substitusi tekanan terhadap perubahan karena gangguan dan dinotasikan sebagai Pz* = Py.

Sistem Pengaturan b. Kurva karakteristik tersebtu dapat pula digunakan untuk mencari koefisien proporsional Kps dari komponen sistem pneumatik yang digunakan, yaitu dengan menarik garis singgung kurva pada titik kerja yang diinginkan. Harga dari Kps adalah tangen arah dari kurva tersebut yang dapat dihitung secara grafis ( gambar 5.2).

3. PERALATAN YANG DIPERLUKAN Untuk melakukan percobaan pengukuran karakteristik komponen

pneumatik yang digunakan sebagai sistem pengaturan tekanan, diperlukan beberapa peralatan ( tersusun atas beberapa komponen pneumatik ) yang sudah dirakit dalam bentuk modul dengan fungsi berbeda. Tiap percobaan untuk sistem pengaturan dengan komponen pneumatik dapat tersusun atas beberapa modul sesuai dengan keperluan serta tujuan dari percobaan yang dilakukan. Untuk percobaan pengukuran karakteristik sistem pneumatik ini digunakan enam buah modul, antara lain: NO 1 2 3 4 5 6 NAMA MODUL ( KOMPONEN) FILTER/AIR-PRESSURE SUPPLAY COMBINATION PRESSURE STEP CONTROLER PRESSURE-VOLTAGE TRANDUSDUCER,TRIPLE CONTROL VALVE THROTTLE VALVE BUFFER ACCUMULATOR KODE 744905 744912 744933 744941 744943 744943

3.1 SUSUNAN KOMPONEN SERTA FUNGSI TIAP MODUL 3.1.1 Modul Filter/Air-Pressure Supplay Combination (744905)

Sistem Pengaturan

Gambar 6. Panel Modul Filter/Air-Pressure Supplay Combination

Keterangan: Ukuran Panel Macam komponen : Tinggi 300 mm dan lebar 300 mm : Modul ini adalah 2 buah pencatu udara bertekanan yang tersusun atas kontroler tekanan yang dapat diatur, filter udara dan pengukur tekanan. Terdapat 4 buah terminal penghubung Rapit Acting Coupling NW7.2 dan 4 buah terminal penghubung Rapit-Acting Coupling NW5. Fungsi/Kegunaan : Digunakan untuk mengatur pencatu udara bertekanan ke sistem. Supplay udara yang bersal dari pembangkit udara bertekanan ( kompresor) dihubungkan melalui tekanan ini tidak boleh lebih dari 15 bar. Sedangkan udara bertekanan yang telah diatur ( dipakai untuk mencatu sistem) disediakan pada saluran energy 1 ( besarnya sekiatr 3 bar) dan saluran auxiliary energy ( besarnya sekitar 1.4 bar). 3.1.2 Modul Pressure Step Controller ( 744912)

Sistem Pengaturan

Gambar 7. Panel Modul Rpessure Step Controler

Keterangan : Ukuran Panel Macam Komponen : Tinggi 300 mm lebar 300 mm. : Modul ini tersusun atas 2 buah kontroler tekanan (010 bar), instrumen ukur tekanan dengan tampilan ganda ( range 0,2 1,0 bar) pada skala ( 0 100%), sakelar tongkat (toggle switch), valve selenoit 3/2-way, rele yang bekerja berdasarkan tiga keadaan ; No contact, OPERATING contact, IDLING contact, catu daya listrik, 6 buah soket ( connector) plug-in 4mm, 6 buah rapid action couplings NW5. Fungsi/Kegunaan : Kontroler di catu lewat saluran energy 1, harga setel tekanan ditampilkan pada instrumen ukur, valve 3/2-way digerakkan emlalui sakelar tongkat berfungsi untuk mengatur salah satu dari level tekanan yang akan dihubungkan pada saluran signal. Sakelar ini juga berfungsi menggerakkan rele guna mengatur start awal

Sistem Pengaturan dari recorder. Sumber daya listrik dipakai untuk mencatu komponen listrik yang ada dalam modul ini. 3.1.3 Modul Pressure-Voltage Transduce, Triple ( 744933)

Gambar 8. Panel Modul Pressure-Voltage Transducer, Triple

Keterangan : Ukuran(dimensi) Macam Komponen : Tinggi 300 mm dan lebar 300 mm. : Modul ini tersusun atas 3 buah transducer tekanan ( 010 bar) ketegangan (010 volt), 7 buah terminal penghubung Rapid-Acting Coupling NW5, 6 buah soket plug in 4 mm dan catu daya listrik. Funsi Kegunaan : Digunakan untuk mengubah tekanann ke tegangna listrik sehinggga pengukuran tekanan dapat dilakukan dengan alat ukur tegangan, disamping itu modul ini digunakan Referensi untuk titik keperluan pengukuran satu. pembuatan record dari respons sistem dengan recorder tegangan listrik. (ground) terhubung menjadi

Saluran energy 1 dan auxiliary energy diletakkan

10

Sistem Pengaturan hanya untuk tambahan fasilitas penyambungan dengan modul lain jika diperlukan. 3.1.4 Modul Control Valve ( 744941)

Gambar 9. Panel Modul Control Valve

Keterangan : Ukuran ( dimensi) Macam Komponen : Tinggi 300 mm dna lebar 500 mm. : Modul ini tersusun atas kontroler tekanan ( 0 1,6 bar ), instrumen ukur ( 0 1,6 bar ), valve kendali memakai valve position control, tekanan atur (0,2 1,0 bar), auxiliary energy 1,4 bar dan 7 buah Rapit-Acting Coupling NW5. Fungsi/Kegunaan : Untuk keperluan percobaan tertentu, tekanan yang berasal dari saluran energy 1 disalurkan lewat valve kendali dan diubah menjadi level tekanan lain yaitu energy 2. Valve kendali ini diatur oleh kontroler yang bekerja berdasarkan level tekanan yang ada pada saluran signal. Untuk keperluan pengoperasian kontroler ini diperlukan catu

11

Sistem Pengaturan tekanan yang berasal dari saluran auxiliary energy. Posisi dari valve kendali di indikasi secara mekanik. 3.1.5 Modul Throttle Valve (744942)

Gambar 10. Panel Modul Throttle Valve

Keterangan : Ukuran ( dimensi) Macam Komponen : Tinggi 300 mm dan lebar 400 mm. : Modul ini tersusun atas instrumen ukur (0 1,6 bar), 2 buag resistor pneumatik yang dapat diukur secara manual, sakelar tongkat, valve selenoit 3/2way, rele 3 keadaan ; NO contact, OPERATING contact, IDLING contact. Catu daya listrik, 6 buah socket plug-in 4 mm dan 8 buah Rapit-Action coupling NW5. Fungsi/Kegunaan : Dua buah resistor pneumatik difungsikan sebagai throttle valve pada saluran energy 2. Ke dua throttle valve dapat dioperasikan secara paralel melaluli valve selenoit 3/2-way menggunakan

12

Sistem Pengaturan sakelar tongkat. Sakelar ini dipakai pula sebagai penggerak rele untuk mengatur start recorder. Bersama sama dengan control valve (modul 744941), throttle valve bekerja sebagai pembagi tekanan ( pressure divider). Sumber daya listrik dipakai untuk mencatu komponen listrik yang ada dalam modul. 3.1.6 Modul Buffer Accumulator (744943)

Gambar 11. Panel Modul Buffer Accumulator

Keterangan : Ukuran ( dimensi) Macam Komponen : Tinggi 300 mm dan lebar 400 mm. : Modul ini tersusun atas sebuah tabung dengan volume 2000 cm3 dna tekanan maximum 10 bar. Dua buah valve berupa fast-closing valve yang dioperasikan secara manula serta 6 buah terminal penghubung Rapit-Acting Coupling NW5. Fungsi/Kegunaan : Tabung udara digunakan sebagai Accumulator yang dapat dihubungkan atau dilepas dari saluran

13

Sistem Pengaturan energy 2 dengan membuka atau menutup valve. Sebuah valve yang ada pada bagian kanan dipakai untuk membuang udara yang ada pada accumulator. Kedua valve ini disebut sebagai fastacting valve atau fast-closing valve karena untuk membuka atau menutup saluran cukup dengan memutar tombol valve sebesar 90o.

3.2 DIAGRAM BLOK DARI PERALATAN YANG DIGUNAKAN Dengan berorientasi pada panel modul yang digunakan, diagram blok dari percobaan untuk mendapatkan titik kerja dan kurva karakteristik sistem pengaturan dengan komponen pneumatik, digambarkan seperti gambar 12. Tekanan catu udara Ps di setel emnggunakan modul 744905, selanjutnya digunakan untuk mencatu modul control valve (744941) yang bekerja sama dengan modul throttle valve (744942) sebagai pembagi tekanan. Throttle valve ini mempunyai dua resistor Rz yang salah satunya selalu terhubung dengan saluran. Sebuah kontroler tekanan lengkap dengan instrumen ukur modul pressure step controller (744912), dipakai untuk mengatur tekanan Py dan terhubung dengan modul (744941). Tekanan yang akan diatur berada pada saluran yang menuju trottle valve, sedangkan buffer-accumulator dapat digunakan atau tidak.

14

Sistem Pengaturan

Gambar 12. Diagram Blok Percobaan Yang Berorientasi Pada Modul

3.3 DIAGRAM HUBUNGAN ANTAR PANEL

15

Sistem Pengaturan

Gambar 13. Diagram Hubungan Antar Panel Percobaan 1

4. PELAKSANAAN PERCOBAAN 4.1 MERAKIT PANEL UNTUK PERCOBAAN 1

16

Sistem Pengaturan 1. Sebelum melakukan percobaan baca lebih dahulu appendix 1. 2. Rakit hubungan antar panel seperti pada gambar 13. 3. Tutup semua sakelar ( pada posisi vertikal) modul 744943. 4. Hubungkan panel 744905 dengan kompressor. 4.2 SETTING TITIK KERJA Prosedur setting pada percobaan 1 ini merupakan prosedur standart yang selalu dilakukan untuk setiap percobaan dengan komponen pneumatik. 1. Pada panel 744912, pindahkan tongkat sakelar kekiri, selanjutnya setel (atur) tekanan kontrol hingga Py = 50 %, lihat hasilnya pada instrumen ukur tampilan sebelah kiri. 2. Pada panel 744941, setel ( atur) tekanan kontroler untuk Ps = 1.1, lihat hasilnya pada instruemn ukur. (1) Catatan : harga Ps boleh diatur mulai 1.1 s/d 1.6 bar. 3. Pada panel 744842, pindahkan tongkat sakelar keatas, setel resistansi pneumatik (throttle valve) Rz hingga tekanan Px yang tampak pada tampilan instruemn ukur menunjukkan Px = 0.6 bar. Kunci trottle valve tersebut dengan memutar cincin pengunci kearah berlawanan. 4.3 PERCOBAAN SEDERHANA 4..3.1 Pengaruh Perubahan Variable Atur Py 1. Setel (atur) titik kerja. 2. Panel 744912, turunkan Py perlahan-lahan mulai 50% sampai 0%, kemudian naikkan mulai 0% sampai dengan 100%, amati gerakan stem-indiaktor dari kontrol valve pada panel 744941, amati pula tekanan Px. 3. Tugas 1 : Berikan kesimpulan ( tuliskan hasilnya ). 4..3.2 Percobaan Dengan Gangguan 1. Setel (atur) titik kerja. 2. Panel 744942, putar sekrup resistansi Rz (throttle valve) bagian bawah searah dengan arah putaran jarum jam., kemudian ulangi untuk arah yang berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Amati Px. 3. Tugas 2 : Beriakn kesimpulan ( Tuliskan hasilnya) 4..3.3 Percobaan Dengan Buffer Accumulator

17

Sistem Pengaturan 1. Pastikan bahwa buffer accumulator (panel 744943) dalam keadaan kosong dan kedua sakelar dalam keadaan tertutup. Jika belum kosong, buka sakelar bagian kanan, tunggu beberapa saat, kemudian tutup kembali. 2. Setel (atur) titik kerja. 3. Panel 744943, buka sakelar bagian kiri dari accumulator, amati Px. 4. Tugas 3: Beriakn kesimpulan (tuliskan hasilnya). 5. Panel 744943, tutup sakelar bagian kiri dari accumulator, amati Px. 6. Tugas 4 : Berikan kesimpulan (tuliskan hasilnya) 7. Panel 744943, buka sakelar bagian kanan dari accumulator. 8. Panel 744943, tutup kedua sakelar dari accumualtor. 4.4 PERCOBAAN UNTUK MENDAPATKAN KURVA KARAKTERISTIK Dalam percobaan untuk menggambarkan kurva karakteristik, tidak diperlukan buffer accumulator dan pencatatan hasil pengamatan harus seteliti mungkin. Oleh sebab itu maka: 1. Untuk panel 744943, tutup kedua sakelar dari accumulator. 2. Gunakan panel 744933, untuk pengukuran tekanan dengan volt meter digital. 4..4.1 Pengukuran Karakteristik Untuk Beban Normal 1. Setel (atur) titik kerja. 2. Setel (atur) Py berturut-turut mulai 0%,10%, 20%, ,100% 3. Ukur harga Px dan catat hasilnya pada tabel 1. 4..4.2 Pengukuran Karakteristik Untuk Beban Minimum ( Rzmax) 1. Setel (atur) Py = 50%. 2. Atur Rz sedemikian rupa hingga harga Px = 0.4 bar, kunci Rz. (1) Catatan : Kedua harga diatas dapat dipilih sembarang. 3. Setel (atur) Py berturut-turut mulai 0%,10%,20%,,100%. 4. Ukur harga Px dan catat hasilnya pada tabel 1. 4..4.3 Pengukuran Karakteristik Untuk Beban Maximum (Rzmin) 1. Setel (atur) Py = 50% 2. Atur Rz sedemikian rupa hingga harga Px = 0.8 bar, kunci Rz. (1) Catatan : Kedua harga diatas dapat dipilih sembarang. 3. Setel (atur) Py berturut-turut mulai 0%,10%,20%,,100%.

18

Sistem Pengaturan 4. Ukur harga Px dan catat hasilnya pada tabel 1.

Tabel 1 : DATA HASIL PENGUKURAN KARAKTERISTIK Py (%) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Py (bar) 0.20 0.28 0.36 0.44 0.52 0.60 0.68 0.76 0.84 0.92 1.00 (Rz=RzB) Px(volt) (Rz=Rzmax) Px(volt) (Rz=Rmin) Px(volt)

Pada kolom 2 adri tabel 1, tampak bahwa pengukuran P y dalam (%) dikonversikan ke ( bar), proses konversi ini didapatkan melalui diagram konversi seperti pada tabel 2, berikut. Tabel 2 : Konversi Harga Sinyal Pneumatik Standar ke Skala %

19

Sistem Pengaturan

5. TUGAS YANG HARUS DIKERJAKAN 5.1 MENGGAMBARKAN KURVA KARAKTERISTIK Dari hasil yang telah didapatkan, gambarkan kurva karakteristik dari sistem untuk beban normal, beban maximum dan beban minimum, selanjutnya tentukan pula letak titik kerja B pada kurva. 5.2 EVALUASI KURVA KARAKTERISTIK .1 Jika dianggap sistem mula-mula bekerja pada titik kerja B, kemudian beban diubah menjadi beban maximum, tentukanlah : 1. 2. 1. 2. Berapa perubahan dari Px ( Px). Tentukan titik kerja yang baru ( nyatakan dalam koordiant Px dan Py). .2 Jika dianggap sistem bekerja pada titik kerja A1, tentukanlah: Perubahan Py yang diperlukan agar Px kembali ke Px = 0.6 bar. Tentukan titik kerja yang baru ( nyatakan dalam koordiant Px dan Py ). .3 Jika dianggap sistem mula-mula bekerja pada titik kerja B dan beban tetap pada beban normal, tentukanlah : 1. Perubahan Py yang diperlukan agar Px sama dengan kasus a.

20

Sistem Pengaturan 2. 1. 2. 3. Tentukan titik kerja yang baru, serta nilai substitusi dari beban ( Pz*). .4 Tentukanlah: Besarnya slope ( tangen arah) Kps pada titik kerja B. Dengan menggunakan Kps ini, hitunglah Py untuk kasus c. Berapa besar deviasi Py dibanding dengan hasil pada kasus c.

6. LAPORAN HASIL EVALUASI

21