Anda di halaman 1dari 18

KODE ETIK ENGINEER 1 Pengertian Profesionalisme, Profesional dan Profesi Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya

kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima panggilan tersebut untuk dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan (Wignjosoebroto, 1999). Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan materiilduniawi Dua pendekatan untuk mejelaskan pengertian profesi: 1. Pendekatan berdasarkan Definisi Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut. 2. Pendekatan Berdasarkan Ciri Definisi di atas secara tersirat mensyaratkan pengetahuan formal menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi ini merupakan lembaga yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional. Karena pandangan lain menganggap bahwa hingga sekarang tidak ada definisi yang yang memuaskan tentang profesi yang diperoleh dari buku maka digunakan pendekatan lain dengan menggunakan ciri profesi. Secara umum ada 3 ciri yang disetujui oleh banyak penulis sebagai ciri sebuah profesi. Adapun ciri itu ialah: - Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi. Pelatihan ini dimulai sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana. Sebagai contoh mereka yang telah lulus sarjana baru mengikuti pendidikan profesi seperti dokter, dokter gigi, psikologi, apoteker, farmasi, arsitektut untuk Indonesia. Di berbagai negara, pengacara diwajibkan menempuh ujian profesi sebelum memasuki profesi. - Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan. Pelatihan tukang batu, tukang cukur, pengrajin meliputi ketrampilan fisik. Pelatihan akuntan, engineer, dokter meliputi komponen intelektual dan ketrampilan. Walaupun pada pelatihan dokter atau dokter gigi mencakup ketrampilan fisik tetap saja komponen intelektual yang dominan. Komponen intelektual

merupakan karakteristik profesional yang bertugas utama memberikan nasehat dan bantuan menyangkut bidang keahliannya yang rata-rata tidak diketahui atau dipahami orang awam. Jadi memberikan konsultasi bukannya memberikan barang merupakan ciri profesi. - Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat. Dengan kata lain profesi berorientasi memberikan jasa untuk kepentingan umum daripada kepentingan sendiri. Dokter, pengacara, guru, pustakawan, engineer, arsitek memberikan jasa yang penting agar masyarakat dapat berfungsi; hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh seorang pakar permainan caturmisalnya. Bertambahnya jumlah profesi dan profesional pada abad 20 terjadi karena ciri tersebut. Untuk dapat berfungsi maka masyarakat modern yang secara teknologis kompleks memerlukan aplikasi yang lebih besar akan pengetahuan khusus daripada masyarakat sederhana yang hidup pada abad-abad lampau. Produksi dan distribusi enersi memerlukan aktivitas oleh banyak engineers. Berjalannya pasar uang dan modal memerlukan tenaga akuntan, analis sekuritas, pengacara, konsultan bisnis dan keuangan. Singkatnya profesi memberikan jasa penting yang memerlukan pelatihan intelektual yang ekstensif. Di samping ketiga syarat itu ciri profesi berikutnya. Ketiga ciri tambahan tersebut tidak berlaku bagi semua profesi. Adapun ketiga ciri tambahan tersebut ialah: - Adanya proses lisensi atau sertifikat. Ciri ini lazim pada banyak profesi namun tidak selalu perlu untuk status profesional. Dokter diwajibkan memiliki sertifikat praktek sebelum diizinkan berpraktek. Namun pemberian lisensi atau sertifikat tidak selalu menjadikan sebuah pekerjaan menjadi profesi. Untuk mengemudi motor atau mobil semuanya harus memiliki lisensi, dikenal dengan nama surat izin mengemudi. Namun memiliki SIM tidak berarti menjadikan pemiliknya seorang pengemudi profesional. Banyak profesi tidak mengharuskan adanya lisensi resmi. Dosen di perguruan tinggi tidak diwajibkan memiliki lisensi atau akta namun mereka diwajibkan memiliki syarat pendidikan, misalnya sedikit-dikitnya bergelar magister atau yang lebih tinggi. Banyak akuntan bukanlah Certified Public Accountant dan ilmuwan komputer tidak memiliki lisensi atau sertifikat. - Adanya organisasi. Hampir semua profesi memiliki organisasi yang mengklaim mewakili anggotanya. Ada kalanya organisasi tidak selalu terbuka bagi anggota sebuah profesi dan seringkali ada organisasi tandingan. Organisasi profesi bertujuan memajukan profesi serta meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Peningkatan kesejahteraan anggotanya akan berarti organisasi profesi terlibat dalam mengamankan kepentingan ekonomis anggotanya. Sungguhpun demikian organisasi profesi semacam itu biasanya berbeda dengan serikat kerja yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada kepentingan ekonomi anggotanya. Maka hadirin tidak akan menjumpai organisasi pekerja tekstil atau bengkel yang berdemo menuntut disain mobil yang lebih aman atau konstruksi pabrik yang terdisain dengan baik.

- Otonomi dalam pekerjaannya. Profesi memiliki otonomi atas penyediaan jasanya. Di berbagai profesi, seseorang harus memiliki sertifikat yang sah sebelum mulai bekerja. Mencoba bekerja tanpa profesional atau menjadi profesional bagi diri sendiri dapat menyebabkan ketidakberhasilan. Bila pembaca mencoba menjadi dokter untuk diri sendiri maka hal tersebut tidak sepenuhnya akan berhasil karena tidak dapat menggunakan dan mengakses obat-obatan dan teknologi yang paling berguna. Banyak obat hanya dapat diperoleh melalui resep dokter. sepuluh ciri lain suatu profesi (Nana 1997) : - Memiliki fungsi dan signifikasi sosial - Memiliki keahlian/keterampilan tertentu - Keahlian/keterampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah - Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas - Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama - Aplikasi dan sosialisasi nilai- nilai profesional - Memiliki kode etik - Kebebasan untuk memberikan judgement dalam memecahkan masalah dalam lingkup kerjanya - Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi - Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya. Tiga Watak Profesional Lebih lanjut Wignjosoebroto [1999] menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian jasa profesi (dan bukan okupasi) ialah - bahwa kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil; - bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat; - bahwa kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi. Ketiga watak kerja tersebut mencoba menempatkan kaum profesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap mempertahankan idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasai bukanlah komoditas yang hendak diperjual-belikan sekedar untuk memperoleh nafkah, melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat manusia. Kalau didalam peng-amal-an profesi yang diberikan ternyata ada semacam imbalan (honorarium) yang diterimakan, maka hal itu semata hanya sekedar tanda kehormatan (honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya dengan pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan saja.

Siapakah atau kelompok sosial berkeahlian yang manakah yang bisa diklasifikasikan sebagai kaum profesional yang seharusnya memiliki kesadaran akan nilai-nilai kehormatan profesi dan statusnya yang sangat elitis itu? Apakah dalam hal ini profesi keinsinyuran bisa juga diklasifikasikan sebagai bagian dari kelompok ini? Jawaban terhadap kedua pertanyaan ini bisa mudah-sederhana, tetapi juga bisa sulit untuk dijawab. Terlebih-lebih bila dikaitkan dengan berbagai macam persoalan, praktek nyata, maupun penyimpangan yang banyak kita jumpai didalam aplikasi pengamalan profesi di lapangan yang jauh dari idealisme pengabdian dan tegak nya kehormatan diri (profesi). Pada awal pertumbuhan paham profesionalisme, para dokter dan guru khususnya mereka yang banyak bergelut dalam ruang lingkup kegiatan yang lazim dikerjakan oleh kaum padri maupun juru dakhwah agama dengan jelas serta tanpa ragu memproklamirkan diri masuk kedalam golongan kaum profesional. Kaum profesional (dokter, guru dan kemudian diikuti dengan banyak profesi lainnya) terus berupaya menjejaskan nilai-nilai kebajikan yang mereka junjung tinggi dan direalisasikan melalui keahlian serta kepakaran yang dikembangkan dengan berdasarkan wawasan keunggulan. Sementara itu pula, kaum profesional secara sadar mencoba menghimpun dirinya dalam sebuah organisasi profesi (yang cenderung dirancang secara eksklusif) yang memiliki visi dan misi untuk menjaga tegaknya kehormatan profesi, mengontrol praktek-praktek pengamalan dan pengembangan kualitas keahlian/ kepakaran, serta menjaga dipatuhinya kode etik profesi yang telah disepakati bersama. Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, noprma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan,norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika. Etika dan etiket, Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Dalam bahasa Inggeris dikenal sebagai ethics dan etiquette. Antara etika dengan etiket terdapat persamaan yaitu: (a) etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket. (b) Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilkukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan. Adapun perbedaan antara etika dengan etiket ialah: (a) etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan

dalam sebuah kalangan tertentu. Misalnya dalam makan, etiketnya ialah orang tua didahulukan mengambil nasi, kalau sudah selesai tidak boleh mencuci tangan terlebih dahulu. Di Indonesia menyerahkan sesuatu harus dengan tangan kanan. Bila dilanggar dianggap melanggar etiket. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan. (b) Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Bila tidak ada orang lain atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Misalnya etiket tentang cara makan. Makan sambil menaruh kaki di atas meja dianggap melanggar etiket dila dilakukan bersama-sama orang lain. Bila dilakukan sendiri maka hal tersebut tidak melanggar etiket. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa. (c) Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Contohnya makan dengan tangan, bersenggak sesudah makan. Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar. (d) Etiket hanya memadang manusia dari segi lahirian saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik. Etika dan ajaran moral Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia. Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya). Fungsi etika Etika tidak langsung membuat manusia menjadi lebih baik, itu ajaran moral, melainkan etika merupakan sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan. Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis. Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme. Pluralisme moral diperlukan karena: (a) pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan;

(b) modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional; (c) berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masingmasing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup. Etika secara umum dapat dibagi menjadi etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar dan etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus. Etika khusus ini masih dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Etika sosial dibagi menjadi: (1) Sikap terhadap sesama; (2) Etika keluarga (3) Etika profesi misalnya etika untuk pustakawan, arsiparis, dokumentalis, pialang informasi (4) Etika politik (5) Etika lingkungan hidup serta (6) Kritik ideologi Etika adalah filsafat atau pemikiran kritis rasional tentang ajaran moral sedangka moral adalah ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dsb. Etika selalu dikaitkan dengan moral serta harus dipahami perbedaan antara etika dengan moralitas. Moralitas Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai suami atau isteri, sebagai pustakawan. Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adala sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber. Etika dan moralitas Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif. Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau nalar, pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian. Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal. Sistematis artinya membahas langkah demi langkah. Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya. Etika dan agama Etika tidak dapat menggantikan agama. Orang yang percaya menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu

memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut: (1) Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapu ia juga ingin mengertimengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama. (2) Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan. (3) Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggung-singgung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama. (4) Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena (5) itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia. Istilah berkaitan Kata etika sering dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos, iktikad dan kode etik atau kode etika. Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan. Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnya tidak etis menanyakan usia pada seorang wanita. Ethos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Maka ada ungkapa ethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya, misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasar yang tinggi terhadap pekerjaannya. Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalam menjalankan tugasnya. Etika terbagi atas 2 bidang besar yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum masih dibagi lagi menjadi prinsip dan moral dasar etika umum. Adapun etika khusus merupakan terapan etika, dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Etika sosial yang hanya berlaku bagi kelompok profesi tertentu disebut kode etika atau kode etik. Kode etik Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.

Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang telah bersatu dengan pikiran, jiwa dan perilaku tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk dari masing-masing orang bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga profesional merasa bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi adalah dia sendiri. Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat perkembangan zaman maka kode etik mungkin menjadi usang atau sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya kode etik tentang euthanasia (mati atas kehendak sendiri), dahulu belum tercantum dalam kode etik kedokteran kini sudah dicantumkan. Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kde etik tidak diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum. Sebagai contoh untuk Ikatan Dokter Indonesia terdapat Kode Etik Kedokteran. Bila seorang dokter dianggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik Kedokteran Indonesia, bukannya oleh pengadilan. Sifat kode etik profesional Kode etik adalah pernyataan cita-cita dan peraturan pelaksanaan pekerjaan (yang membedakannya dari murni pribadi) yang merupakan panduan yang dilaksanakan oleh anggota kelompok. Kode etik yang hidup dapat dikatakan sebagai ciri utama keberadaan sebuah profesi.Sifat dan orientasi kode etik hendaknya singkat; sederhana, jelas dan konsisten; masuk akal, dapat diterima, praktis dan dapat dilaksanakan; komprehensif dan lengkap; dan positif dalam formulasinya. Orientasi kode etik hendaknya ditujukan kepada rekan, profesi, badan, nasabah/pemakai, negara dan masyarakat. Kode etik diciptakan untuk manfaat masyarakat dan bersifat di atas sifat ketamakan penghasilan, kekuasaan dan status. Etika yang berhubungan dengan nasabah hendaknya jelas menyatakan kesetiaan pada badan yang mempekerjakan profesional. Kode etik digawai sebagai bimbingan praktisi. Namun demikian hendaknya diungkapkan sedemikian rupa sehingga publik dapat memahami isi kode etik tersebut. Dengan demikian masyarakat memahami fungsi kemasyarakatan dari profesi tersebut. Juga sifat utama profesi perlu disusun terlebih dahulu sebelum membuat kode etik. Kode etik hendaknya cocok untuk kerja keras Sebuah kode etik menunjukkan penerimaan profesi atas tanggung jawab dan kepercayaan masyarakat yang telah memberikannya.

Kode Etik Engineer di Indonesia


In Catatan Kurang Berguna on October 17, 2010 at 1:49 am

Etik atau etika mempunyai pengertian sebagai baku perilaku yang diterima secara bersama sekelompok orang peer dalam organisasi (profesi) tertentu. Pelanggaran terhadap etika berakibat dikeluarkannya pelanggar dari organisasi. Etika tidak mudah diubah dan dirancang untuk jangka panjang. Sebagai engineer, kode etik ditetapkan oleh sebuah organisasi profesi yang terdiri atas sekumpulan engineer. Organisasi profesi biasanya mewakili suatu regional tertentu, seperti organisasi profesi se-Indonesia, organisasi profesi seAsia-Pasifik, dan sebagainya. Organisasi profesi electrical engineeringyang sudah umum di dunia adalah Institute of Electrical and Electronics Engineers(IEEE). Organisasi engineer di Indonesia bernama Persatuan Insinyur Indonesia (PII). PII berdiri pada tanggal 23 Mei 1952 di Bandung. PII didirikan oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan Dr. Rooseno Soeryohadikoesoemo. PII memiliki jumlah anggota sekitar dua puluh ribu insinyur. Sebagai organisasi engineer di Indonesia, PII memiliki kode etik yang bernama Kode Etik Insinyur Indonesia Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia. Isi dari Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia adalah, PERTAMA, PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. Mengutamakan keluhuran budi. 2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia. 3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. 4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran. KEDUA, TUJUH TUNTUTAN SIKAP 1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan Masyarakat. 2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kempetensinya. 3. Insinyur Indinesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan. 4. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya. 5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing-masing. 6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi. 7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.

APLIKASI KODE ETIK ENGINEER DI INDONESIA Insinyur yang berdomisili di Indonesia secara tidak langsung sudah berada di bawah naungan PII, sehingga harus turut serta menjalankan Kode Etik Insinyur Indonesia. Aplikasi Kode Etik Insinyur Indonesia dapat dilihat pada perusahaanperusahaan yang bergerak di bidang engineering dan menggunakan jasa engineer. Sebagai individu yang bebas dan mandiri, setiap engineer di Indonesia secara sadar pasti akan melakukan empat prinsip dasar yang tertuang pada Kode Etik Insinyur Indonesia. Mengutamakan keluhuran budi merupakan prinsip dasar yang harus dilakukan hampir di seluruh organisasi profesi. Insinyur harus dapat menjadi problem solver atas kasus-kasus yang terjadi disekitarnya, khususnya yang berhubungan dengan bidang keilmuannya, hal ini tertuang pada poin dua dan tiga pada prinsip-prinsip dasar Kode Etik Insinyur Indonesia. Sebagai manusia pembelajar, setiap insinyur pasti memiliki keinginan untuk selalu berkembang dan mempelajari perubahan teknologi dari waktu ke waktu, hal ini tertuang pada poin terakhir dari prinsip-prinsip dasar Kode Etik Insinyur Indonesia. Pengaplikasian Kode Etik Insinyur Indonesia pada perusahaan yang bergerak di bidangengineering dapat dilihat pada contoh kasus berikut ini. Chevron adalah sebuah perusahaan asing di Indonesia yang bergerak pada bidang pertambangan minyak. Chevron terkenal di antara sesama perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan minyak sebagai perusahaan yang memegang teguh nilai-nilai yang dimiliki perusahaan. Nilai-nilai tersebut secara tidak langsung bersesuaian dengan Kode Etik Insinyur Indonesia. Salah satu nilai perusahaan yang bersesuaian dengan Kode Etik Insinyur Indonesia adalah Chevron senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat sekitar lingkungan kerja perusahaan. Hal ini terlihat dari usaha-usaha yang dilakukan perusahaan untuk sedapat mungkin tidak melakukan pencemaran terhadap lingkungan di sekitar lingkungan kerja perusahaan. Selalu ada usaha konservasi yang dilakukan oleh perusahaan untuk lingkungan sekitar. Perusahaan juga membuka peluang untuk masyarakat yang tinggal di daerah sekitar lingkungan kerja perusahaan untuk mendapatkan kesempatan kerja. Dana Corporate Social Responsibility(CSR) yang dianggarkan oleh perusahaan merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

PS : contoh kasus yang saya tuliskan di atas semata-mata hanya untuk perumpamaan.

Perbandingan Kode Etik Engineer Negara/Organisasi


March 11th, 2010 Related Filed Under Dalam dunia industri diperlukan suatu kode etik atau norma norma yang berlaku dalam sistem yang terdapat di dalam industri. Oleh karena itu seorang engineer harus mengerti dan mematuhi kode etik tersebut. Setiap negara tentu memiliki kode etiknya masing-masing dalam dunia industri. Hal ini diperlukan karena kode etik akan mencerminkan sikap negara itu sendiri. Seorang engineer haruslah kreatif dalam mengembangkan wawasanya di dunia industri. Engineer yang capable tentu akan dapat menciptakan ide-ide terbarukan yang nantinya akan berguna untuk kemajuan negara. Seorang engineer juga dituntut untuk selalu bersikap jujur dan bertanggung jawab terhadap pekerjaanya dan memiliki konsistensi yang tinggi dalam menjunjung profesinya. Rasa tanggung jawab akan membangun sikap pantang menyerah dalam menjalankan aktifitasnya sehingga setiap pekerjaannya akan memiliki nilai yang positif bagi masyarakat luas dan hasil dari pekerjaannya tersebut akan berguna bagi kelangsungan masyarakat, negara dan khususnya bagi seorang engineer itu sendiri.

Etika dalam Engineering


by ai

Esai ini adalah tugas yang saya buat untuk kuliah Etika Rekayasa dan Kapita Selekta. Mungkin bermanfaat kalau saya post di sini.

===================================================

Etika dalam Engineering Pendahuluan Etika dalam engineering adalah sekumpulan standar yang menentukan kewajiban engineer terhadap publik, klien, atasan, dan kepada profesinya itu sendiri. Etika akan menjadi pemandu untuk seorang engineer agar dapat meningkatkan kualitas pekerjaannya, sekaligus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan publik. Etika dalam engineering adalah konsep yang sangat luas. Di dalamnya, terdapat poinpoin yang bersifat teknik hingga nilai-nilai kemanusiaan yang harus selalu dijunjung oleh setiap engineer. Berbagai organisasi keprofesian dalam bidang engineering merumuskan kode etik yang berbeda-beda. Misalnya, kode etik untuk insinyur sipil dibuat oleh American Society of Civil Engineers (ASCE), dan kode etik untuk insinyur elektro dibuat oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Walaupun demikian, kode etik untuk seluruh profesi engineer memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan profesionalitas kerja.

Dalam bidang elektroteknik, IEEE telah merumuskan sepuluh poin kode etik bagielectrical and electronics engineers di seluruh dunia. 1. Bertanggung jawab dalam membuat keputusan yang konsisten terhadap keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan publik, serta menghindari sekaligus menyingkap faktor-faktor yang membahayakan publik dan lingkungan. 2. Menghindari konflik kepentingan dan menyingkap konflik kepentingan yang terjadi. 3. Selalu jujur dan realistis dalam membuat pernyataan atau perkiraan berdasarkan data yang tersedia. 4. Menolak penyuapan dalam segala bentuk. 5. Meningkatkan pemahaman tentang teknologi, aplikasinya, dan konsekuensinya. 6. Menjaga dan meningkatkan kompetensi teknis, serta hanya menerima pekerjaan teknis bila memiliki kualifikasi yang cukup (berdasarkan pelatihan atau pengalaman), atau bila telah mengungkapkan ketiadaan kualifikasi tersebut. 7. Mencari, menerima, dan memberikan kritik yang jujur terkait dengan pekerjaan teknis, dengan tujuan mengidentifikasi atau mengoreksi kesalahan, serta menghargai kontribusi dan karya orang lain secara baik dan benar.

8. Memperlakukan setiap orang secara adil tanpa mempertimbangkan ras, agama,


jenis kelamin, kecacatan, usia, atau kebangsaan.

9. Menghindari tindakan yang dapat melukai orang lain, properti yang dimilikinya,
reputasinya, atau pekerjaannya. 10. Membantu rekan kerja dalam pengembangan keprofesiannya dan mendukung mereka dalam mematuhi kode etik ini.

Berdasarkan sepuluh poin kode etik yang telah dirumuskan oleh IEEE, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya etika engineering adalah pedoman bagi engineer untuk menjaga tiga hal terpenting dalam profesinya: keselamatan, integritas, dan kompetensi. Keselamatan Bidang engineering adalah bidang yang menyangkut keselematan orang banyak dan lingkungan. Sebagai contoh, seorang insinyur sipil yang bekerja membangun jembatan, harus berupaya membangun jembatan sekokoh mungkin demi keamanan jutaan orang yang akan melintasinya. Masalahnya, konsep mengutamakan keselamatan dapat menghambat keuntungan finansial atau pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat menjerumuskan engineer untuk memilih mengorbankan aspek keselamatan. Sudah banyak musibah yang terjadi karena engineer di suatu perusahaan mengabaikan etika keselamatan demi meraih profit sebesar-besarnya. Salah satunya adalah peristiwa kecelakaan pesawat Adam Air di perairan Sulawesi pada tanggal 1 Januari 2007. Hasil investigasi menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan adalah kerusakan komponen-komponen pesawat, yang sebenarnya sudah diketahui oleh para engineer tetapi tidak ditindaklanjuti, karena penggantian komponen tersebut memakan biaya besar dan akan merugikan perusahaan. Pesawat pun dibiarkan terbang. Akibatnya, pesawat jatuh bersama ratusan penumpang di dalamnya. Di sini engineer melakukan pelanggaran etika yang serius, yaitu tidak menyingkap, apalagi menghindari, faktor yang membahayakan keselamatan. Ada pelajaran penting yang dapat diambil dari kejadian ini: jika sudah menyangkut keselamatan, engineer harus berani memperjuangkan opininya, dengan berpegang pada analisis teknis yang akurat, meski harus menentang kebijakan korporasi. Jika korporasi tidak mengikuti rekomendasi engineer, secara etika, engineer wajib melaporkannya kepada pihak berwenang. Hal ini disebut whistleblowing, dan sering menjadi dilema bagi engineer. Ada kalanya engineer harus melakukan hal-hal yang berbahaya untuk mengembangkan keilmuannya. Praktik ini sebenarnya tidak dianjurkan. Suatu tragedi pernah terjadi karena hal ini. Pada tanggal 26 April 1986, para engineers di sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di Chernobyl ingin mengetahui ambang batas keamanan reaktor pada skenario-skenario tertentu. Reaktor dipaksa bekerja pada kondisi-kondisi tidak normal dan menyalahi standar keselamatan. Akhirnya terjadilah ledakan yang dianggap sebagai kecelakaan reaktor nuklir terbesar sepanjang sejarah, membunuh ribuan orang (sebagian besar karena kanker), dan meninggalkan radiasi nuklir di Chernobyl sampai sekarang. Kecelakaan ini mengajarkan engineer untuk berhati-hati dalam bereksperimen. Prinsip yang harus dipegang adalah do it safely or do not do it at all. Integritas Sebagai orang yang memiliki pengetahuan teknis lebih daripada orang lain, wajar bagi seorang engineer untuk menerima tanggung jawab lebih di tempatnya bekerja. Pendapat seorang engineer sering dijadikan acuan untuk mengambil keputusan bisnis, misalnya memilih supplier. Oleh karena itu engineer sering dihadapkan dengan keadaan yang menguji integritasnya. Tidak jarang supplier menawarkan hadiah-hadiah atau bentuk penyuapan lain pada seorang engineer dengan tujuan meningkatkan peluangnya untuk memenangkan kompetisi

dengan supplier lain. Jika hal ini terjadi, engineer berkewajiban menolak segala bentuk hadiah dan penyuapan ini. Menurut para engineer ahli dari Texas A&M University, setidaknya ada empat alasan yang membuat penyuapan tidak diperbolehkan. Pertama, penyuapan merusak sistem ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi kapitalis berprinsip pada persaingan terbuka, di mana semua orang membeli produk terbaik dengan harga terbaik. Penyuapan mendorong orang untuk tidak membeli produk yang paling efisien. Kedua, penyuapan hanya menguntungkan pihak dengan sumber daya dana yang banyak. Hal ini merusak prinsip keadilan. Ketiga, penyuapan menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat kepada institusi yang melakukannya, dan pada akhirnya akan menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat secara keseluruhan. Keempat, penyuapan memperlakukan manusia sebagai komoditas yang integritasnya dapat diperjualbelikan. Kondisi ini membuat manusia kehilangan respek kepada sesamanya. Kesulitan utama dalam menyikapi penyuapan adalah tidak adanya batas yang jelas antara hadiah atau pemberian yang dapat digolongkan sebagai penyuapan dan yang tidak. Dalam hal ini, seorang engineer cukup berpatokan pada kode etik yang ditetapkan oleh tempatnya bekerja. Sebagai contoh, perusahaan IBM mendefinisikan penyuapan sebagai hadiah dari supplier, pelanggan, atau siapapun dalam lingkungan bisnis, kepada karyawan IBM atau keluarganya. Jika seorang engineer IBM menerima hadiah seperti yang disebutkan, ia harus segera melaporkannya pada manajer. Perusahaan lain seperti Texas Instruments mendefinisikan penyuapan sebagai hadiah yang berpotensial mempengaruhi keputusan bisnis penerimanya. Kebijakan perusahaan mengenai tempat penyuapan hendaknya dijadikan apapun salah satu pertimbangan perusahaannya, ketika engineer memilih bekerja. Walaupun demikian, kebijakan

seorang engineer harus menggunakan akal sehat untuk dapat mengenali tindak penyuapan. Nilai-nilai lain yang berkaitan dengan integritas dan harus dijaga oleh seorang engineeradalah kejujuran dan sikap tidak diskriminatif. Tentu saja kedua hal ini adalah nilai-nilai kebaikan universal yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tidak hanya engineer.Engineer, dalam kondisi apapun, tidak boleh meninggalkannya. Kompetensi Kunci dari pekerjaan seorang engineer adalah kompetensi teknis yang dimilikinya. Secara etika, engineer berkewajiban untuk secara terus-menerus berupaya meningkatkan pengetahuan teknisnya, misalnya dengan mengikuti pelatihan, konferensi, atau pendidikan formal. Mengapa peningkatan kompetensi engineer begitu penting? Pada tahun 1976, peneliti dari Swiss Federal Institute of Technology, Zurich, melakukan penelitian dengan menganalisis 800 kasus kegagalan engineering yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, dan mencari tahu penyebabnya. Ternyata, faktor utama yang memicu terjadinya kecelakaan-kecelakaan itu adalah insufficient knowledge, atau kurangnya pengetahuan. Faktor ini merupakan penyebab dari 36% kecelakaan yang terjadi, sementara faktor lain seperti kelalaian hanya sekitar 14%. Hasil ini membuktikan krusialnya pengetahuan dan kompetensi engineer bagi aspek keselamatan. Keselamatan bukanlah satu-satunya alasan bagi engineer untuk terus meningkatkan kompetensinya. Bagaimanapun juga, tujuan engineering adalah meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menggunakan

teknologi. Dapat dikatakan, kemajuan umat manusia berada di tangan engineer. Engineer dituntut untuk berinovasi, dan untuk berinovasi engineer harus memiliki kompetensi yang memadai. Kode etik engineer tidak memperbolehkan engineer mengerjakan pekerjaan di luar kompetensinya. Selain menurunkan kualitas hasil kerjanya, hal ini juga dapat berbahaya.Engineer hanya boleh menerima pekerjaan di luar kompetensinya jika ia telah menjelaskan kepada rekan kerjanya bahwa ia tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Menutup-nutupi kekurangan kompetensi bukan hanya tidak profesional, tetapi juga mencoreng integritas engineer. Kesimpulan Etika engineering harus selalu dijaga untuk menjaga kualitas pekerjaan seorang engineer. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya kegagalan engineering yang dipicu oleh kurangnya etika. Selain itu, etika

dalam engineering diperlukan untuk menjaga kehormatan profesi engineering itu sendiri. Bila engineer sanggup menjunjung etika dan memiliki kompetensi teknis yang memadai, engineering akan mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. KODE ETIK ENGINEER 2

1 Vote

Etik atau etika mempunyai pengertian sebagai baku perilaku yang diterima secara bersama sekelompok orang peer dalam organisasi (profesi) tertentu. Pelanggaran terhadap etika berakibat dikeluarkannya pelanggar dari organisasi. Etika tidak mudah diubah dan dirancang untuk jangka panjang. Sebagai engineer, kode etik ditetapkan oleh sebuah organisasi

profesi yang terdiri atas sekumpulan engineer. Organisasi profesi biasanya mewakili suatu regional tertentu, seperti organisasi profesi se-Indonesia, organisasi profesi se-Asia-Pasifik, dan sebagainya.

Pelanggaran terhadap kode etik a. pelanggaran terhadap perbuatan yang tidak mencerminkan respek terhadap nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi oleh profesi itu. b. pelanggaran terhadap perbuatan pelayanan jasa profesi yang kurang mencerminkan kualitas keahlian yang sulit atau kurang dapat dipertanggung-jawabkan menurut standar maupun kriteria profesional. Pengamalan dan Permasalahannya Proses penemuan dan pengembangan karya keinsinyuran tersebut apakah sudah mengindahkan nilai-nilai (moral) kemanusiaan ataukah justru mengabaikannya; Penerapan hasil karya keinsinyuran tersebut sebenarnya untuk apa, untuk siapa, dan bagaimana cara pengoperasiannya? 4 (empat) prinsip etika dasar profesi keinsinyuran sebagai berikut : a. menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk peningkatan kesejahteraan manusia; b. bersikap jujur dan tidak memihak, dan melayani dengan kesetiaan masyarakat, mereka majikan dan klien; c. berjuang untuk meningkatkan kompetensi dan prestise rekayasa profesi; d. mendukung masyarakat profesional dan teknis disiplin ilmu mereka

Organisasi engineer di Indonesia bernama Persatuan Insinyur Indonesia (PII). PII berdiri pada tanggal 23 Mei 1952 di Bandung. PII didirikan oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan Dr. Rooseno Soeryohadikoesoemo. PII memiliki jumlah anggota sekitar dua puluh ribu insinyur. Sebagai organisasi engineer di Indonesia, PII memiliki kode etik yang bernama Kode Etik Insinyur Indonesia Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia. Isi dari Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia adalah,

PERTAMA, PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. Mengutamakan keluhuran budi. 2. 1. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia. 3. 2. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. 4. 3. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.

KEDUA, TUJUH TUNTUTAN SIKAP 1. 1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan Masyarakat. 2. 2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kempetensinya. 3. 3. Insinyur Indinesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan. 4. 4. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya. 5. 5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing-masing. 6. 6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi. 7. 7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.

Penerapan Kode Etik Engineer Beserta Penerapan Kompetisinya dalam Masyarakat


Kita sebagai engineer hendaknya dapat menerapkan kompetensi kita dalam kehidupan bermasyarakat dengan berbagi macam cara. Kita sebagai engineer harus dapat menerapkan kode etik kita dengan sepatutnya dan menerapkannya dalam kehidupan kita dalam kehidupan sehari-hari dalam

bermasyarakat dengan cara kita mengembangkan kompetensi kita dengan cara mengeluarkan ide-ide dan menerapkannya dalam bentuk atau wujud sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak. Karena sesungguhnya kompetensi yang kita miliki akan sangat berguna bila kita gunakan dalam kehidupan bermasyarakat dan kita akan sangat merasa bahagia karena ide-ide kita tersebut digunakan oleh orang banyak.

Kode etik profesi


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sangsi yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum. Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaikbaiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.[1]
[sunting]