Anda di halaman 1dari 7

Abstrak

Fluidisasi merupakan salah satu teknik pengontakan fluida baik gas maupun cairan
dengan butiran padat. Pada fluidisasi kontak antara fluida dan partikel padat terjadi dengan baik
karena permukaan kontak yang luas. Praktikum ini bertujuan untuk menentukan pressure drop
yang melalui fixed bed dan fluidized bed, menjelaskan persamaan Ergun dan menyelidiki kondisi
permulaan fluidisasi.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Adapun tujuan percobaan fluidisasi ini yaitu sebagai berikut :
1) Menentukan pressure drop yang melalui fixed bed dan fluidized bed.
2) Menjelaskan persamaan Ergun
3) Menyelidiki kondisi permulaan fluidisasi.

1.2 Landasan Teori
Fluidisasi merupakan salah satu teknik pengontakan fluida baik gas maupun
cairan dengan butiran padat. Pada fluidisasi kontak antara fluida dan partikel
padat terjadi dengan baik karena permukaan kontak yang luas. Teknik ini banyak
digunakan di industri kimia dengan penggunaannya meningkat pesat pada dekade
terakhir ini. Jika suatu fluida melewati partikel unggun yang ada dalam tabung,
maka aliran tersebut memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan
menimbulkan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika
kecepatan superficial naik.
Pada kecepatan superfisial rendah, unggun mula-mula diam. Jika kemudian
kecepatan superficial dinaikkan, maka pada suatu saat gaya seret fluida
menyebabkan unggun mengembang dan tahanan terhadap aliran udara mengecil,
sampai akhirnya gaya seret tersebut cukup. Untuk mendukung gaya berat partikel
unggun. Kemudian unggun mulai bergerak dan kondisi ini disebut minimum
fluidization. Kecepatan superfisial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya
fluidisasi disebut minimum fluidization velocity (v
'
mf
). Sedangkan porositas dari
unggun ketika fluidisasi benar-benar terjadi dinamakan minimum fluidization
porosity (s
mf
). Sementara itu pressure drop sepanjang unggun akan tetap
walaupun kecepatan superfisial dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun
per satuan luas.
Jika kecepatan fluida di atas v
'
mf
, unggun akan mulai mengembang
(bubbling) dan kondisi ini dinamakan aggregative fluidization. Kenaikan
kecepatan superfisial yang ekstrim tinggi dapat menyebabkan tumbuhnya
gelembung yang sangat besar, memenuhi seluruh tabung dan mendorong
terjadinya slugging bed. Pada saat ini pressure drop mungkin melampaui berat per
satuan luas karena adanya interaksi partikel dengan dinding tabung. Jika densitas
fluidanya lebih besar dan partikel unggun lebih kecil kemungkinan unggun dapat
tertahan dalam keadaan mengembang lebih stabil (particulate fluidization).
Partikel unggun yang lebih ringan, lebih halus dan bersifat kohesif sangat sukar
terfluidisasi karena gaya tarik antar partikel lebih besar daripada gaya seretnya.
Sehingga partikel cenderung melekat satu sama lain dan gas menembus unggun
dengan membentuk channel.
1.2.1 Karakteristik Unggun Terfluidakan
Karakteristik unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik
antara penurunan tekanan (P) dan kecepatan superficial (V0). Untuk keadaan yang
ideal, kurva hubungan berbentuk seperti apa yang diberkan didalam gambar :

Gambar 1. Kurva karakteristik fluidisasi ideal
Garis A dan B didalam grafik menunjukan hilang tekan pada daerah unggun diam
(porositas unggun).
Garis B dan C menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan.
Garis D dan E menunjukkan hilang tekan dalam daerah unggun diam pada waktu
menurunkan kecepatan alir fluida.
Harga penurunan tekanannya, untuk kecepatan alir fluida tertentu sedikit lebih
rendah dari pada saat awal operasi.
1.2.2 Penentuan Pressure Drop pada Fixed Bed
Untuk menentukan pressure drop yang melalui fixed bed dapat dinyatakan
dengan menggunakan persamaan berikut:

)
3

1
x
P
D
L .
2
'
v 1,75.
3

2
1
x
2
P
D
L . .v' 150.
P

+
A
=

'
+

'

mf
mf
(1)
Dengan: D
p
= Diameter partikel
Q = Viskositas fluida
AL = Tinggi unggun
s = Porositas unggun
v
'
mf
= Kecepatan fluidisasi minimum
Jika laju alir Q diukur dalam liter/det dan v
1
adalah kecepatan superficial
dalam m/det, maka:
A
Q.10
v
3
'

= (2)
1.2.3 Penentuan Pressure Drop dan Kecepatan pada Fluidisasi Minimum
Untuk memprediksi pressure drop saat fluidisasi dimulai dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan berikut:
) ).g 1
L
P
f p mf
mf
= (3)

Dengan: L
mf
= Tinggi unggun pada saat mulai fluidisasi
s
mf
= Porositas unggun pada saat mulai fluidisasi
p
p
= Densitas partikel
p
f
= Densitas fluida
g = Gaya gravitasi
Untuk memprediksi kecepatan fluidisasi minimum dengan menggunakan
persamaan berikut :
) ) ) )
0

.g . D
.
N 1 150.
.
N 1,75.
f p f
3
p
3
mf
2
s
mf Re, mf
3
mf s
2
mf Re,
=

+ (4)
Dengan:
Q
p
f
mf
'
P
mf Re,
. v . D
N =
Dan D
p
= Diameter partikel
v'
mf
= Kecepatan fluidisasi minimum
p
f
= Densitas fluida
Q = Viskositas fluida
J
s
= Faktor bentuk

1.2.4 Faktor Bentuk
Faktor bentuk adalah perbandingan luas permukaan bola pada volume
tertentu dengan luas permukaan partikel pada volume yang sama. Faktor bentuk
untuk partikel tidak teratur susah ditentukan. Untuk material yang sering dipakai
mempunyai nilai 0,7 < J
s
< 0,9.



1.2.5 Pengukuran Kecepatan Fluidisasi Minimum
Pengukuran kecepatan fluidisasi minimum dapat diperoleh dari grafik
pressure drop versus superficial velocity, yaitu merupakan titik potong antara
bagian kurva yang naik dan bagian kurva yang datar.

Gambar 2. Grafik hubungan Superficial velocity vs pressure drop

DAFTAR PUSTAKA
Mc Cabe, W.L., J.C Smith and P. Harriot, Unit Operation of Chemical
Engineering, 5
th
edition, McGraw-Hill Book Co. Inc., New York, 1985
Geankoplis, C.J., Transport Process and Unit Operation, 3
rd
edition, Prentice Hall
Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 1993
Kunii, daizo and Levenspiel, octave., Fluidization Engineering,
2nd
edition. United
state of America. 1991.
Heri., S.,Dr. Ir. Operasi Teknik Kimia I. Jurusan Fakultas Teknologi Industri ITB.
1986
Brown, G.G., Unit Operation, John Willey E. Sons Inc., New York, 1985
Tim Penyusun, Penuntun Praktikum Laboratarium Teknik Kimia I, pekanbaru :
Universitas Riau, 2011.