Anda di halaman 1dari 9

PENUGASAN BLOK SISTEM GERAK

FRAKTUR

Disusun oleh:

Marqum Mushthafa Putri Nastiti

(10711016) (10711059)

Tutorial Turor

:7 : dr. Dina

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2011

ANALISIS IDENTITAS Identitas Alamat Umur Agama Pekerjaan Tinggi / BB : Galuh Mega Ratna : Plembon Kidul Logandeng Playen : 19 tahun, 6 bulan : Islam : Mahasiswa : 158 cm / 43 kg

Pada pasien tersebut tidak menjurus ke dalam penyakit tertentu. Karena penyakit yang dialami oleh pasien tersebut adalah fraktur pada bagian medialis maleolus os tibia dekstra yang disebabkan karena trauma akibat jatuh pada motor. Pasien memiliki kebiasaan mengirim SMS sambil mengendarai motor. Karena konsentrasi terpecah maka dia tidak sadar menabrak pembatas jalan. Jadi kebiasaan pasien tersebut yang menyebabkan pasien mengalami kecelakaan tersebut.

ANALISIS ANAMNESIS Dari anamnesis yang kami lakukan pada pasien yang mengalami fraktur tersebut ditemukan gejala-gejala seperti berikut:

Keluhan Utama : Patah tulang pada bagian sendi ankel pada kaki kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang : Anamnesis Sistem : 1.Cerebrospinal 2.Kardiovaskuler 3.Respirasi 4.Digesti : pusing (-), pingsan ( + ), nyeri yang sangat : dada sesak ( + ), keringat dingin ( + ) : sesak nafas ( - ) : nafsu makan turun ( + ), mual muntah ( - ) Patah tulang pada bagian sendi ankel pada kaki kanan. Patah tulang sejak 2 bulan yang lalu. Pasien tidak mengalami pusing, dada berdebar, ataupun keringat dingin. Rasa sakit akut pada saat kejadian karena menahan sakit pasien pingsan. Selama mengalami fraktur tidak bisa melakukan kegiatan seperti biasanya.

5.Uropoetika 6.Integumentum 7.Muskuloskeletal

: menstruasi lancar, BAK BAB lancar : ada bengkak, merah pada bagian patah, : tidak bisa digerakkan pada bagian yanga patah.

Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak pernah mengalami fraktur sebelumnya. Sebelum fraktur mengalami jatuh dari motor.

Riwayat Penyakit Keluarga: Keluarga tidak pernah mengalami fraktur serupa.

Kebiasaan Pola hidup tergolong bagus, asupan gizi sangat mencukupi. Sering mengirim SMS sambil mengendarai motor.

Dari data tersebut pasien mengalami fraktur pada bagian mata kaki/ engkel kaki. Pada saat pasien jatuh dari motor, pasien mengalami pingsan karena tidak tahan menahan rasa sakit. Pasien juga tidak mengalami gangguan sistemik akibat dari fraktur tersebut selain pingsan yang kami sebutkan tadi. Pasien tidak mengalami jantung berdebar, sesak nafas ataupun gagguan pada saluran pernafasannya. Sistem pencernaan, urogenital juga tidak mengalami gangguan. Pada bagian fraktur terjadi bengkak, perubahan sudut anguler, nyeri tekan, dan ada kemerahan pada bagian yang mengalami fraktur.

Keadaan yang dialami pasien disebabkan oleh sebatas trauma lokal pada satu tempat saja dan tidak terjadi pada berbagai macam tempat. Sehingga bagian yang mengalami trauma adalah bagian yang mengalami benturan pada badan jalan dan trotoar, yaitu bagian ekstremitas tungkai bawah, sehingga hanya pada bagian ini yang mengalami fraktur

Secara umum keadaan pasien baik, tidak ada ganguan sistemik yang membahayakan tubuh. Pada bagian mata kaki tempat jatuh pertama, menurut pasien mengalami bengkak dan sangat sakit bila dicoba digerakkan. Dengan data tersebut dapat diajukan diagnosis pasien mengalami patah tulang pada bagian tungkai bawah. Dan diharapkan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen.

ANALISIS HASIL PEMERIKSAAN FISIK Berikut adalah pemeriksaan-pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien dengan kasus diatas: Vital Sign Pemeriksaan Look, Feel, Movement

ANALISIS HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG Pada pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen dapat dilihat perubahan morfologi bagian tulang, khususnya bagian maleolus, dan terjadi dislokasi pada bagian tulang tibianya. Dilihat pada foto rontgen terjadi fraktur pada bagian maleolus medialis. Patah tulang yang terlihat adalah patah tulang yang complete. Jenis fraktur pada kasus ini ada fraktur comminuted. Pada hasil rontgen dapat dilihat : Tidak tampak soft tissue swelling. Trabekulasi tulang baik Facies artikularis licin Tak tampak pada garis fraktur pada maleolus os tibia dekstra dalam fiksasi internal 2 buah nail and wire, aposisi dan aligment cukup, tak tampak lesi litik dan sklerotik ANALISIS DIAGNOSIS Dari data diatas dapat diagnosis pasti bahwa pasien mengalami fraktur pada bagian maleolus medialis os tibia dextra. Diagnosis tersebut sudah tepat karena sudah menggunakan pemeriksaan penunjang yang sudah memenuhi syarat gold standard pada kasus patah tulang. Joint space tidak melebar atau menyempit Tak tampak osteofit. Tampak corakan brankovaskuler normal Kedua sinus costophrenicus lancip Sistema tulang yang tervisualisasi intact.

Diagnosis kerja : Rasa nyeri pada bagian sendi engkel bagian kaki kanan. Terjadi deformintas pada bagian yang mengalami trauma. Adanya bengkak pada bagian engkel. Adanya kemerahan pada bagian yang mengalami trauma.

Pasien tidak mampu menggerakan pergelangan kakinya.

Pada pemeriksaan penunjang menggunakan foto rontgen mengarahkan pada fraktur maleolus medialis eksterna bagian dekstra.

ANALISIS PENATALAKSANAAN

Bantuan Hidup Dasar (BHD) Saat menangani pasien pertama kali, di tempat kejadian, hal yang perlu dilakukan adalah Bantuan Hidup Dasar (BHD) / Basic Life Support agar tidak terjadi kerusakan organ vital yang dapat membuat nyawa seseorang tidak tertolong. Penatalaksanaan Bantuan Hidup Dasar meliputi: SRS ABC (Safety, Respons, Shout Airway, Breathing, Circullation)

Safety Respon

: apabila korban berada di tengah jalan, dievakuasi ke tempat yang lebih aman. : menggoyangkan tubuh pasien, memanggil pasien untuk mengecek kesadaran pasien.

Shout for help : meminta bantuan, bisa dengan memanggil ambulans atau para ahli. Airway : membebaskan jalan nafas, mengecek apakah ada yang menghalangi jalan nafas. Breathing : mengecek pernapasan. Lihat gerakan dada, rasakan hembusan nafas dengan merarahkan pipi kita ke arah mulut korban. Dengarkan suara nafas dengan mengarahkan telinga kita ke arah korban. Circulation (arteri karotis) : meraba denyut nadi, biasanya di daerah pembuluh darah yang ada di leher

Pada saat anamnesis, pasien menyatakan bahwa sesaat terjadi kecelakaan ia masih dalam keadaan sadar, itu berarti pasien hanya perlu penanganan safety untuk mengevakuasi pasien ke tempat yang lebih aman. Sebenarnya untuk pasien yang sadar, pemeriksaan RSABC, tidak harus dilakukan, namun karena pada kasus ini tidak lama setelah pasien melihat kondisi pergelangan kakinya yang mengalami deformitas, pasien kaget dan mendadak tidak sadarkan diri. Jadi pada kondisi ini juga harus dilakukan pemeriksaan RS-ABC. Berdasarkan

penjelasan dari pasien, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan Respons negatif (-), karena pasien baru sadarkan diri saat sudah tiba di rumah sakit. Yang harus diperhatikan saat evakuasi pasien yang tidak sadarkan diri dari tempat kejadian sampai ke pusat kesehatan terdekat adalah tetap menjaga jalan nafasnya (Airway) tetap lapang.

Penanganan Pingsan Membaringkan pasien dengan posisi terlentang. Meninggikan tungkai lebih dari tinggi dari jantung. Melonggarkan pakaian, mencopot barang yang sekiranya menghambat pernafasan. Beri udara segar, jauhkan dari kerumunan orang banyak. Periksa apabila ada kemungkinan cedera lain. Korban diistirahatkan beberapa saat. Memberi aroma-aroma yang dapat mnegembalikan kesadaran. Apabila pasien masih tidak sadarkan diri, maka sebaiknya hubungi ambulan atau dibawa ke pusat kesehatan terdekat.

Untuk mengurangi rasa nyeri dan juga mencegah kondisi kerusakan jaringan lunak yang bertambah buruk karena fraktur, pembidaian dapat dilakukan di tempat kejadian. Jika tidak ada alat untuk membidai, bisa digunakan benda apa saja yang ada di sekitar tempat kejadian yang memenuhi syarat sebagai alat bidai lalu lakukan pembidaian sesuai prosedur. Atau bisa dilakukan pembebatan anggota gerak yang sakit dibebatkan ke anggota tubuh yang sehat.

Diagnosis Fraktur Look (Inspeksi) dilihat apakah jenis fraktur terbuka/tertutup. Ada perubahan warna (kemerahan/kebiruan). Ada bengkak, memar, perubahan bentuk, perdarahan, deformitas dll.

Feel -

(Palpasi) Cek ada nyeri tekan atau tidak (perhatikan ekspersi wajah pasien juga). Raba pada daerah yang mengalami trauma, apakah terasa hangat, bengkak. Raba pada bagian distal ekstremitas yang mengalami trauma apakah terasa dingin. Raba pulsasi arteri, cek apakah teraba lemah atau tidak.

Cek capillary refill pada ujung-ujung jari. Cek apakah ada efusi atau tidak. Cek apakah ditemukan tanda-tanda krepitasi atau tidak. Cek ada benjolan atau tidak pada permukaan tulang yang dirasa sakit oleh pasien.

Move (Gerakan) Range of Motion (ROM) ROM aktif : Seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh pasien sendiri secara aktif. ROM pasif : Dokter/perawat melakukan gerakan persendian pasien sesuai dengan rentang gerak yang normal (klien pasif).

Saat melakukan semua pemeriksaan diatas, jangan lupa untuk membandingkan anggota tubuh sebelah kanan dengan kiri.

Apabila, dari pemeriksaan fisik yang dilakukan sudah dapat menegakkan diagnosa fraktur, maka untuk penanganan pertama dapat dilakukan imobilisasi badan bagian tubuh yang dicurigai mengalami fraktur dengan cara pembidaian.

Prinsip Prosedur Pembidaian Mempersiapkan kondisi pasien. Mempersiapkan alat. Meluruskan posisi anggota gerak korban yang mengalami fraktur secara perlahan dan hati-hati. Melakukan pembidaian minimal meliputi 2 sendi (proksimal,distal) dari daerah fraktur. Mengikat bidai di atas/bawah luka fraktur. Jangan mengikat tepat pada daerah yang dicurigai fraktur. Sebaiknya dilakukan ikatan pada beberapa titik. Jangan mengikat eterlalu kuat karena dapat mengganggu sirkulasi pada ekstremitas yang dibidai. Pastikan pembidaian telah mencegah pergerakan dari daerah yang dicurigai fraktur. Pada fraktur di daerah tungkai bawah, biasanya dapat dilakukan pembalutan dengan merekatkan tungkai yang cedera dengan bagian yang tidak terluka. Pembalutan bisa dilakukan dengan mitela

Pemeriksaan Foto Rontgen Selain untuk memastikan diagnosis fraktur, juga penting untuk evaluasi hasil terapi. Prinsip pemeriksaan foto rontgen menggunakan prinsip Role of 2, yaitu: 2 Sendi terlihat distal dan proksimal. 2 posisi AP dan lateral. 2 occation sebelum dan sesudah terapi. 2 sisi kanan dan kiri.

Pada pemeriksaan foto rontgen terhadap kasus fraktur diatas, prinsip role of 2 sudah ditegakkan. Dua sendi distal dan proximal tampak pada foto. Foto juga difoto dari sisis lateral dan AP dan juga disertai dengan foto sebelum dan sesudah terapi. Terapi yang dilakukan oleh pasien adalah terapi Open Reduction Internal Fixation (ORIF). ORIF akan meng-imobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan nail and wire kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang pada fraktur secara bersamaan. Fiksasi tulang dengan ORIF dilakukan 2 hari pasca kecelakaan.

Penatalaksanaan ORIF

Penatalaksanaaan Pasca ORIF Setelah dilakukan fiksasi dengan metode ORIF selama 2 bulan, dilakukan pemeriksaan foto

rontgen kembali. Dari hasil pemeriksaan foto rontgen ini, tampak pada maleolus medialis os tibia dextra yang mengalami fraktur comminuted telat bersatu kembali, oleh karena itu pelepasan nail dan wire dilakukan. Lalu, kemudian dilakukan pemasangan gips pada pasien. dilakukan pemasangan gips untuk tetap mempertahankan posisi tulang yang masih belum begitu stabil ....

Pemasangan Gips

Terapi Farmakologik Terapi farmakologik yang diberikan kepada pasien pada kasus ini adalah

Terapi Non Farmakologik

Selain terapi farmakologik, dilakukan juga terapi non farmakologik terhadap pasien sebagai faktor yang menunjang keberhasilan dari penyembuhan pasien. Terapi non farmakologik yang diberikan berupa: Edukasi kepada pasien untuk selalu memantau gerakan sendinya. Sendi-sendi pada daerah kakinya harus tetap digerakkan, walaupun hanya gerakan halus, untuk mencegah terjadinya kekauan sendi. Menyuruh pasien untuk melatih otot utnuk melatih otot Ambulasi, bisa dengan menggunakan walker atau axillary crutches, sebagai alat bantu berjalan untuk pasien.

Prognosis Prognosis dalam kasus ini baik, karena pengangan pertama pada pasien cukup

FRAKTUR MALEOLUS MEDIALIS OS TIBIA DEXTRA

Anda mungkin juga menyukai