Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 1

Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

PEMANFAATAN METODE LOG PEARSON III DAN MONONOBE
UNTUK JARINGAN DRAINASE
PERUMAHAN PURI EDELWEIS PROBOLINGGO
Ir. Sri Utami Setyowati, MT
ABSTRAK
Drainase adalah saluran untuk mengalirkan air kotor yang berasal dari rumah –
rumah dan air hujan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merencanakan dimensi dan
jaringan saluran setelah menghitung intensitas air hujan dan debit air kotor yang
nantinya akan masuk ke dalam saluran. Jika dimensinya sudah cukup lebar dan sesuai,
maka tidak akan terjadi banjir dan juga genangan.
Data yang digunakan dalam merencanakan saluran drainase adalah peta situasi
beserta topograpinya untuk menentukan arah aliran. Kemudian data curah hujan diambil
dari stasiun Wonoasih, Triwung, dan Jorongan dalam 10 tahun terakhir. Selanjutnya
dihitung dan uji konsistensi serta homogenitasnya, setelah itu dihitung juga curah hujan
maksimum dengan metode rata – rata aljabar dan curah hujan rencana dengan metode
log person tipe III. Setelah itu hitung intensitas curah hujan dengan rumus Mononobe,
debit air saluran dengan rumus rasional, dan mencari dimensi dengan rumus Manning.
Dari perhitungan, didapatkan dimensi yang berbentuk persegi dengan 5 ukuran
berbeda yaitu b = 1 m dan h = 0,5 m, b = 0,8 m dan h = 0,4 m, b = 0,7 dan h = 0,35 m,
b = 0,6 m dan 0,3 m. Selain itu didapatkan juga gorong – gorong dengan diameter 0,60
m; 0,70 m; 0,90 m; 1,00 m.
Kata kunci : Drainase, Log Pearson III, Mononobe
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam pembuatan tempat tinggal dan perumahan, perlu diperhatikan saluran
yang akan dibuat. Saluran drainase merupakan suatu jaringan untuk menampung
limpasan permukaan dan limbah rumah tangga. Perumahan Puri Edelweis dimana
perumahan ini merupakan salah satu perumahan besar di kota Probolinggo, masih
memiliki kekurangan dalam hal saluran drainase terutama saluran primernya. Masih
banyak terjadi kerusakan pada dinding salurannya dan dimensi salurannya kurang sesuai
dengan perencanaan.Berdasarkan uraian sebelumnya, maka akan direncanakan jaringan
drainase yang sesuai dengan daerah tersebut sehingga nantinya dapat berfungsi dengan
baik dan tidak merugikan mayarakat sekitar.
Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Berapa debit air kotor yang berasal dari perumahan Puri Edelweis?
2. Berapa besar kapasitas saluran dapat menampung air hujan dan air kotor yang
ada di perumahan Puri Edelweis?
3. Bagaimana dimensi saluran yang digunakan dalam jaringan drainase di
perumahan Puri Edelweis?
2 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
TINJAUAN PUSTAKA
Drainase
Drainase atau disebut juga saluran pembuangan memiliki fungsi sebagai saluran untuk
mengalirkan air buangan atau air kotor dan juga limbah yang berasal dari rumah. Dalam
bidang ketekniksipilan, secara umum drainase diartikan sebagai suatu tindakan untuk
mengurangi kelebihan air baik dari air hujan, rembesan, maupun irigasi.
Macam-macam Drainase
1. Menurut Asalnya, menurut asalnya drainase dibedakan menjadi saluran alam
(natural) dan saluran buatan (artificial).
2. Menurut Letak Saluran
1. Drainase Permukaan
a. Drainase Memanjang
b. Drainase Melintang
2. Drainase Bawah Permukaan
Drainase bawah permukaan mempunyai fungsi utama yaitu untuk menampung
dan membuang air yang masuk ke dalam strukur jalan, sehingga tidak sampai
menimbulkan kerusakan pada jalan (Suripin, 2004:272).
3. Macam Drainase Menurut Konstruksi
- Saluran terbuka
- Saluran tertutup
4. Menurut Fungsi Drainase
a) Single Purpose
b) Multi Purpose
Syarat – Syarat Perencanaan
Syarat itu meliputi tegangan geser, kecepatan ijin, tegangan geser, jenis aliran, dan
banjir rencana.
Data-data yang Dibutuhkan
Data-data yang dibutuhkan dalam perencanaan saluran drainase tersebut meliputi:
1. Data hidrologi, yaitu data curah hujan dari stasiun hujan yang terdekat dengan lokasi
2. Peta topografi
3. Peta situasi
Lay Out Jaringan Drainase
Penentuan lay out sistem drainase permukaan didesain berdasarkan hasil akhir peta
kontur.
Analisis Hidrologi
Penyiapan Data Curah Hujan
Data curah hujan yang digunakan dalam perencanaan drainase adalah data curah
hujan harian maksimum minimal 10 tahun terakhir dari 3 stasiun hujan terdekat.
(Loebis, 1984:8)
Uji Konsistensi
Uji konsistensi adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk mengecek konsisten
dan tidak konsistennya suatu data hujan yang akan digunakan dalam suatu perencanaan
(Soemarto, 1987:38).
Agar data hujan tersebut konsisten, maka harus dikalikan dengan faktor koreksi.
Rumus yang dipakai adalah :

tanγ
tanβ
fk = ………………. ..................................(2.a) (Soemarto, 1987 : 38)
Keterangan :
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 3
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

fk = Faktor koreksi.
tanβ = Arah garis lurus sebagai trend baru.
tanγ = Arah garis lurus sebagai trend lama.
Uji Homogenitas
Setelah uji konsistensi dilakukan maka dilanjutkan dengan uji homogenitas yaitu
suatu pengujian yang dilakukan untuk mengecek homogen atau tidak homogennya suatu
data yang akan digunakan dalam perencanaan. Suatu kumpulan data yang akan
dianalisis harus homogen.
Uji homogenitas dilakukan dengan meninjau apakah plot titik (N, TR) pada kertas
grafik homogenitas berada pada batas yang homogen.
Keterangan :
N = Jumlah data.
T
R
’ =
R
.x.T
R
R
10
sebagai ordinat. ..........................(Soemarto, 1987 : 38)
R
10
= Curah hujan rancangan dengan kala ulang 10 tahun.
R = Rata-rata curah hujan.
T
R
= Kala ulang untuk R.
Curah Hujan Daerah
Curah hujan daerah merupakan curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang
bersangkutan dan bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. Tinggi rata-rata curah
hujan didapatkan dengan mengambil harga rata-rata hitung (arithmetic mean) karena
data yang digunakan adalah curah hujan harian pada penakar hujan dalam areal tersebut.
Jadi :
¿
=
+ + +
=
n
1
1 n 3 2 1
n
d
n
d ...... .......... .d . .d . d
d …….. (2.b) (Soemarto, 1987 : 31)
Keterangan :
d = Tinggi curah hujan rata-rata areal
d
1
, d
2
, d
3
…….dn = Tinggi curah hujan pada pos penakar 1, 2, 3……n
n = Banyaknya pos penakar
Pengolahan Data
Curah Hujan Rancangan
Metode yang digunakan dalam menghitung curah hujan rancangan adalah Log Pearson
tipe III
a. Ubah data ke dalam bentuk logaritmis, X = log X
b. Hitung harga rata-rata :
Log X =
n
logXi
n
l i
¿
=
…………………. (2.c)
c. Hitung harga simpangan baku :
Si =
1 n
) X log (logXi
2
÷
÷
¿
………………… (2.d)
d. Hitung koefisien kepencengan.
Cs =
3
2
2)Si 1)(n (n
) X log (logXi n.
÷ ÷
÷
¿
………………… (2.e)
e. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ualang dengan rumus
4 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
f. Log X = Log X + G. S…………………… (2.f)
g. Harga G tergantung dari koefisien skew (Cs) dan tingkat probabilitasnya, pada
tabel yang merupakan nilai – nilai distribusi log pearson III.
h. Menghitung harga curah hujan rancangan dengan periode ulang tertentu dengan
antilog X.
i. X = Invers log X
Uji kecocokan
Penguji parameter digunakan untuk menguji kecocokan distribusi frekuensi
sampel data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan
atau mewakili distribusi frekuensi tersebut. Pengujian parameter yang sering dipakai
adalah uji Chi-Kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov.
Uji Chi-Kuadrat
Pengambilan keputusan dari uji ini menggunakan parameter X
2
, yang dapat dihitung
dengan rumus berikut :
( )
i
2
i i
G
1 i
2
h
E
E O
Σ X
÷
=
=
……………….. (2.g) (Suripin, 2004:57)
Keterangan :
2
h
X = Parameter Chi-Kuadrat terhitung.
G = Jumlah sub kelompok.
O
i
= Jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i.
E
i
= Jumlah nilai teoritis pada sub kelompok i.
Interpretasi hasil uji adalah sebagai berikut:
1. Apabila peluang lebih dari 5%, maka persamaan distribusi yang digunakan dapat
diterima.
4. Apabila peluang kurang dari 1%, maka persamaan distribusi yang digunakan tidak
dapat diterima.
5. Apabila peluang berada diantara 1-5%, maka tidak mungkin mengambil keputusan,
misal perlu data tambahan.
Uji Smirnov-Kolmogorov
Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non-parametric,
karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Prosedur
pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1. Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang
dari masing-masing data tersebut
X
1
= P(X
1
)
X
2
= P(X
2
)
X
3
= P(X
3
), dan seterusnya.
2. Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data
(persamaan distribusinya)
X
1
= P(X
1
)
X
2
= P(X
2
)
X
3
= P(X
3
), dan seterusnya
3. Dari kedua nilai tersebut, tentukan selisih terbesarnya antar peluang pengamatan
dengan peluang teoritis.
D = maksimum (P(X
n
) – P’(X
n
))
4. Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-kolmogorov test) tentukan harga D
o
.
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 5
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

Intensitas Curah Hujan
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Intensitas
Curah Hujan dapat dibuat dengan Rumus Mononobe, rumus ini digunakan apabila data
hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian. Rumus yang
digunakan adalah:
3
2
24
t
24
24
R
I
|
.
|

\
|
= ……………….(2.h) (Suripin, 2004 : 67)
Keterangan :
I = Intensitas curah hujan (mm/jam).
R24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm).
t = Lamanya curah hujan (jam).
Perhitungan Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan untuk mengalir
dari titik terjauh pada suatu daerah pengaliran menuju titik tertentu yang ditinjau
sehingga akan didapatkan debit yang maksimum. Waktu konsentrasi dapat dihitung
dengan membedakannya menjadi dua komponen yaitu waktu konsentrasi terdiri dari
waktu yang dibutuhkan oleh air hujan untuk mengalir diatas permukaan tanah ke
saluran yang terdekat (to) dan waktu yang diperlukan air hujan mengalir di dalam
saluran (td), sehingga :
d o c
.t . .t t + = (Suripin,2004 : 82)
Untuk to dapat dihitung dengan rumus :
|
|
.
|

\
|
=
S
n
L.x. .x.3,28.x.
3
2
to menit …………(2.i) (Suripin, 2004 : 82)
Sedangkan untuk td dapat dihitung dengan rumus :
60V
Ls
td = menit………………………….. (2.j) (Suripin, 2004 : 82)
Keterangan :
t
c
= Waktu konsentrasi dalam jam.
to = Waktu limpasan menuju saluran (menit).
td = Waktu aliran pada saluran dari satu titik ke titik lainnya (menit).
n = Angka kekasaran Manning
S = Kemiringan lahan.
L = Panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m).
Ls = Panjang lintasan lahan di dalam saluran/sungai (m).
V = Kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).
Debit Banjir Rancangan
Besarnya debit banjir rencana air hujan diatas permukaan tanah (limpasan hujan)
ke saluran air hujan air hujan yang ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Luas permukaan daerah aliran.
2. Jenis permukaan tanah.
3. Intensitas hujan yang terjadi.
4. Nilai koefisien kekasaran pengaliran
Perhitungan ini menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = C x I x A ……………..(2.k) (Suripin, 2004:79)
Keterangan :
6 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
Q = Debit banjir rencana (m/dt)
C = Koefisien pengaliran (tabel)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Daerah pengaliran (m
2
)
Jika A dalam Ha maka :
Q = 0,00278 x C x I x A…………..(2.l) (Suripin, 2004:79)
Debit Air Kotor
Debit air kotor adalah debit yang berasal dari buangan aktivitas penduduk seperti
mandi, cuci dan lain-lain baik dari lingkungan rumah tangga, bangunan (fasilitas) umum
atau instansi, bangunan komersial, dan sebagainya.
Tabel 1: Pembuangan Limbah Cair Rata-Rata Per Orang Setiap Hari
Jenis Bangunan
Volume Limbah
Cair
(liter/orang/hari)
Beban BOD
(gram/orang/hari)
Daerah Perumahan :
- Rumah besar untuk keluarga tunggal.
- Rumah tipe tertentu untuk keluarga tunggal.
- Rumah untuk keluarga ganda (rumah susun).
- Rumah kecil (cottage).
(Jika dipasang penggilingan sampah, kalikan
BOD dengan faktor 1,5)
-
400
300
240 – 300
200
-
100
80
80
80
Perkemahan dan Motel :
- Tempat peristirahatan mewah.
- Tempat parkir rumah berjalan (mobile home).
- Kemah wisata dan tempat parkir trailer.
- Hotel dan motel.
400 – 600
200
140
200
100
80
70
50
Sekolah :
- Sekolah dengan asrama.
- Sekolah siang hari dengan kafetaria.
- Sekolah siang hari tanpa kafetaria.
300
80
60
80
30
20
Restoran :
- Tiap pegawai.
- Tiap langganan.
- Tiap makanan yang disajikan.
120
25 – 40
15
50
20
15
Terminal transportasi :
- Tiap pegawai.
- Tiap penumpang.
60
20
25
10
Rumah sakit. 600 - 1200 30
Kantor 60 25
Teater mobil (drive in theatre), per tempat duduk. 20 10
Bioskop, per tempat duduk. 10 - 20 10
Pabrik, tidak termasuk limbah cair industri dan
cafeteria.
60 - 120 25
Sumber : Soeparman dan Suparmin, 2001:30
Analisis Hidrolika
Bentuk-bentuk Saluran Drainase
Dalam perencanaan ini, bentuk yang digunakan adalah :
1. Segiempat/persegi
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 7
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

Gambar 1: Penampang Persegi
2. Lingkaran

Gambar 2: Penampang Lingkaran
Perencanaan Dimensi Saluran
Rumus kecepatan rata-rata pada perhitungan dimensi penampang saluran menggunakan
rumus Manning, karena rumus ini mempunyai bentuk yang sederhana tetapi
memberikan hasil yang memuaskan. Untuk menghitung saluran dapat dihitung dengan
menggunakan rumus-rumus sebagai berikut :
Manning
V=
n
1
3
2
R .
2
1
S …………………….(2.m)
R=
P
A
…………………………….(2.n)
Q= V . A ………………………......(2.o)
Keterangan :
V = Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/detik)
Q = Debit banjir rencana (m
3
/dtk)
n = Koefisien kekasaran
R = Radius hidrolik
S = Kemiringan saluran
A = Luas saluran (m
2
)
P = Keliling basah saluran (m)
Tinggi Jagaan (Free Board)
Jagaan suatu saluran adalah jarak vertikal dari puncak saluran ke permukaan air
pada kondisi rencana. (Chow 1985:158 )
Kecepatan Maksimum dan Minimum yang Diijinkan
1. Kecepatan Maksimum adalah kecepatan rata-rata terbesar yang tidak akan
menimbulkan erosi pada tubuh saluran. (Chow 1984:164)
Kecepatan-kecepatan maksimum pada aliran sub kritis, dalam pemakaiannya
dianjurkan seperti dalam KP-03, 1986:39, sebagai berikut :
- Pasangan batu : 2 m/dt
- Pasangan beton : 3 m/dt
2. Kecepatan Minimum adalah kecepatan terendah yang tidak akan menimbulkan
sedimentasi dan mendorong pertumbuhan tanaman air dan ganggang. Untuk
D
h
8 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
x
y
D
d
r
kecepatan rata-rata yang diizinkan kurang dari 0,6 m/det biasanya cukup untuk
mencegah tumbuhnya tanaman air yang dapat menurunkan kapasitas angkut atau
kapasitas hantaran suatu saluran (KP-03, 1986:79).
Jenis Aliran
Aliran dikatakan kritis apabila kecepatan aliran sama dengan kecepatan kritis (
kecepatan yang diijinkan ). Jika kecepatan aliran lebih kecil daripada kecepatan kritis
(Fr < 1), maka alirannya disebut subkritis, sedangkan jika kecepatan alirannya lebih
besar daripada kecepatan kritis, maka alirannya disebut superkritis (Fr >
1).(Anggrahini,1997:47)
Parameter yang menentukan ketiga jenis aliran tersebut adalah bilangan Froude
(Fr) yaitu perbandingan antara kecepatan dengan gaya gravitasi. Bilangan Froude untuk
saluran didefinisikan sebagai :
(Anggrahini,1997:47)
Keterangan :
V = Kecepatan aliran (m/dt),
h = Kedalaman aliran (m),
g = Percepatan gravitasi (m/dt
2
)
Jenis-jenis Pasangan
Banyak bahan yang dapat dipakai untuk pasangan saluran. Tetapi pada prakteknya di
Indonesia hanya ada tiga bahan yang dianjurkan pemakaiannya:
- Pasangan batu
- Beton, dan
- Tanah (KP-03, 1986:36).
Bangunan Pelengkap
Gorong-gorong
Gambar 3: Gorong-gorong
g.x.h
V
Fr =
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 9
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

Metode Penelitian
Gambar 4: Metode Penelitian
PEMBAHASAN
Analisis hidrologi
Penyiapan data hujan
Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan bulanan maksimum
tiap tahun yaitu jumlah hujan harian dalam satu bulan lalu dijumlahkan. Setelah itu
dipilih curah hujan yang maksimum dalam satu tahun itu dilihat dari tiap bulannya .
START
Uji Konsistensi dan Homegenitas
Perhitungan Curah Hujan Daerah
Perhitungan Curah Hujan rancangan
Gambar Lay Out Jaringan
Perhitungan Luas Area
Perhitungan Debit Banjir Rencana
Gambar
Perhitungan Dimensi Saluran
Perhitungan Waktu Konsentrasi
Perhitungan Intensitas Curah Hujan
Metode Pelaksanaan
FINISH
Data Curah Hujan Peta Topografi
Jumlah Penduduk
Pengumpulan Data
Perhitungan Debit Kotor
10 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0.0 200.0 400.0 600.0 800.0 1000.0
Kumulatif rata - rata stasiun B dan C
K
u
m
u
l
a
t
i
f

s
t
a
s
i
u
n

A
Tabel 2: Curah Hujan Bulanan Maksimum Tiap Tahun
No Tahun STASIUN STASIUN STASIUN
WONOASIH JORONGAN TRIWUNG
1 1997 98 105 142
2 1998 92 54 118
3 1999 64 80 92
4 2000 96 91 84
5 2001 102 90 127
6 2002 87 76 118
7 2003 111 102 101
8 2004 199 78 11
9 2005 108 100 83
10 2006 85 63 75
104.200 83.900 95.100
Uji Konsistensi
Uji konsistensi yang dilakukan
a. Stasiun A terhadap stasiun B dan C.
b. Stasiun B terhadap stasiun A dan C.
c. Stasiun C terhadap stasiun A dan B.
a. Uji Konsistensi Stasiun Wonoasih Terhadap Stasiun Jorongan dan Stasiun
Triwung
Grafik 2: Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Wonoasih Terhadap Stasiun
Jorongan dan Triwung setelah Dikoreksi
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 11
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

b. Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Jorongan Terhadap Stasiun
Wonoasih dan Stasiun Triwung
Grafik 3: Uji Konsistensi Stasiun B Terhadap Stasiun A dan C
c. Uji Konsistensi Data Curah Hujan Triwung terhadap Stasiun Wonoasih dan
Stasiun Jorongan
Grafik 5: Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Triwung Terhadap Stasiun
Jorongan dan Wonoasih Setelah Dikoreksi
Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogen dan tidak suatu data yang
akan digunakan dalam perencanaan. Karena data hujan yang baik adalah data hujan
yang menunjukkan seragam dari waktu ke waktu, atau homogen.
Uji homogentitas dilakukan dengan meninjau apakah plot (N, Tr) pada grafik
homogenitas berada pada batas yang homogen.
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
0.0 200.0 400.0 600.0 800.0 1000.0
Kumulatif stasiun A dan B
K
u
m
u
l
a
t
i
f

S
t
a
s
i
u
n

C
R
2
= 0,997
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0,0 200,0 400,0 600,0 800,0 1000,0 1200,0
12 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
Grafik 6: Uji Homogenitas Stasiun Wonoasih, Jorongan, dan Triwung
Perhitungan Curah Hujan Daerah
Curah hujan daerah adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang
bersangkutan, bukan curah hujan pada satu titik tertentu. Data yang digunakan dalam
perhitungan ini adalah data akhir hasil konsistensi yang homogen. Dalam perencanaan
ini metode perhitungannya digunakan metode rata-rata aljabar karena data yang
digunakan merupakan data hujan harian maksimum tiap tahun.
Tabel 3: Perhitungan Curah Hujan Daerah
No Tahun STASIUN STASIUN STASIUN
RATA-
RATA
Wonoasih Jorongan Triwung
1 1997 98 105 142 115,000
2 1998 92 54 118 88,000
3 1999 64 80 92 78,667
4 2000 96 91 84 90,333
5 2001 102 90 127 106,333
6 2002 87 76 118 93,667
7 2003 111 102 101 104,667
8 2004 127.647 78 163.881 123,176
9 2005 69.276 100 118.279 95,852
10 2006 54.523 63 106.879 74,801
Pengolahan Data
Perhitungan Curah Hujan Rancangan
Metode Log Person
Setelah menghitung curah hujan daerah kemudian dihitung besarnya curah hujan
rancangan dengan Metode Log Pearson type III.
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 13
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

Tabel 4: Perhitungan Curah Hujan Daerah dengan Log Person Tipe III
Uji kecocokan
Uji Chi-Kuadrat
Uji Chi-Kuadarat digunakan untuk menentukan apakah persamaan distribusi yang telah
dipilih dapat mewakili distribusi statistik sampel data yang dianalisis.
Tabel 5: Perhitungan Chi-Kuadrat
n Tahun
X
empiris
X
teoritis
(X em-X t)2/X
t
a B c d e
1 1999 123,176 130,000 0,3582
2 2000 115,000 119,120 0,1425
3 2002 106,333 111,500 0,2394
4 2006 104,667 106,000 0,0168
5 2003 95,852 96,850 0,0103
6 2005 93,667 95,620 0,0399
7 2001 90,333 94,032 0,1455
8 1998 88,000 92,000 0,1739
9 2004 78,667 80,130 0,0267
10 1997 74,801 77,435 0,0896
970,496
∑x² 1,2428
Diperoleh ΣX
2
tabel = 14,067 (derajat kepercayaan 5 %)
ΣX
2
tabel lebih besar daripada ΣX
2
hitung, maka distribusi yang dipakai sesuai.
Uji Smirnov-Kolmogorov
Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non-
parametric, karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu.
Curah
Hujan
X P(%) Log X
Log X - Log X (Log X - Log
X)²
(Log X - Log
X)³
115 123,176 9,090909 2,091 0,108 0,0118 0,00127
88 115,000 18,182 2,061 0,079 0,0062 0,00049
78,667 106,333 27,273 2,027 0,045 0,0020 0,00009
90,333 104,667 36,364 2,020 0,038 0,0014 0,00005
106,333 95,852 45,455 1,982 0,000 0,0000 0,00000
93,667 93,667 54,545 1,972 -0,011 0,0001 0,00000
104,667 90,333 63,633 1,956 -0,026 0,0007 -0,00002
123,176 88,000 72,727 1,944 -0,038 0,0014 -0,00005
95,852 78,667 81,818 1,896 -0,086 0,0074 -0,00064
74,801 74,801 90,909 1,874 -0,108 0,0117 -0,00127
jumlah 19,821 jumlah 0,0427 -0,00008
Rata2 1,982 s 0,0689
Cs -0,03
14 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
Tabel 6: Uji Smirnov Kolmogorov
No Ch P P [ΔP]
Empiris Empiris Teoritis
1 123,176 9,091 6,0 0,031
2 115,000 18,182 11,3 0,069
3 106,333 27,273 26,0 0,013
4 104,667 36,364 30,9 0,055
5 95,852 45,455 58,0 -0,125
6 93,667 54,545 66,0 -0,115
7 90,333 63,636 70,2 -0,066
8 88,000 72,727 72,0 0,007
9 78,667 81,818 88,1 -0,063
10 74,801 90,909 97,0 -0,061
Dilihat dari tabel nilai ∆P yang paling maksimum adalah 0,069
Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-kolmogorov test)
n = 10
Do = 0,410----0,069 < 0,410 (Sesuai)
Perhitungan Waktu Konsentrasi
Contoh perhitungan blok NC saluran 7 - 8
1. Blok NC Saluran 7 - 8
2. Jenis saluran = Tersier→TR = 5 Tahun
3. Ls (panjang saluran) = 30,000 m
4. L (panjang limpasan) = 15,000
a. Jalan = 4,5 m (jarak as jalan ke saluran)
b. Blok = 15,000 m (panjang bagian belakang rumah ke saluran)
5. A (Luas) = 450,000 m2
a. Jalan = 135,000 m2
b. Blok = 450,000 m2
6. S (kemiringan limpasan)
a. Jalan = 0.02
b. Blok = 0,005
7. n (Koefisien kekasaran)
a. Jalan = 0.013
b. Blok = 0,02
8. C (koefisien limpasan)
a. Jalan = 0,8 aspal
b. Blok = 0,6
9. V (kecepatan rata-rata aliran dalam saluran)
Karena kecepatan rata-rata dalam saluran =
a. Jalan = 0,6 m/dt
b. Blok = 0,4 m/dt
10. R
24
(curah hujan maksimum harian selam 24 jam (mm))
a. Jalan = 109,647 mm.
b. Blok = 109,647 mm.
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 15
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

11. to (waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan (waktu limpasan)
menuju saluran terdekat)
|
|
.
|

\
|
=
S
n
L.x. .x.3,28.x.
3
2
to
|
|
.
|

\
|
=
S
n
L.x. .x.3,28.x.
3
2
to
jalan
|
|
.
|

\
|
=
0,020
0,016
6,000.x. .x.3,28.x.
3
2
to
jalan
= 1,095 menit
|
|
.
|

\
|
=
0,005
0,030
L12,750x. .x.3,28.x.
3
2
to
blok
= 1,025 menit.
12. td (waktu aliran pada saluran dari satu titik ketitik lainya)
60V
Ls
td = menit
60 = satuan konversi dari jam ke menit.
60.x.0,600
108,750
td
jalan
=
= 0,833 menit.
60.x.0,400
108,750
td
blok
=
= 1,25 menit
tc (waktu konsentrasi dalam jam)
d o c
.t . .t t + =
tc jalan = to + td
= 1,095 + 0,833
= 1.929 menit = 0,032 jam.
tc blok = to + td
= 1,025 + 1,25
= 2,275 menit = 0,038 jam.
Perhitungan Intensitas Curah Hujan
Untuk menghitung intensitas curah hujan digunakan rumus Mononobe, karena data
yang ada adalah data curah hujan harian.
Curah Hujan (R
24
) pada kala ulang 10 tahun = 117,489 mm.
Rumus Mononobe
3
2
24
t
24
24
R
I
|
.
|

\
|
= (Suripin,2004:67)
Keterangan :
I = Intensitas curah hujan (mm/jam).
R24 = Curah hujan maximum dalam 24 jam (mm).
t = Lamanya curah hujan (jam).
16 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
Contoh perhitungan
3
2
24
t
24
24
R
I
|
.
|

\
|
=
3
2
jalan
0,032
24
24
117,489
I |
.
|

\
|
=
= 376,817 mm/jam.
3
2
blok
0,038
24
24
117,489
I |
.
|

\
|
=
= 337,521 mm/jam
Debit Banjir Rancangan
Contoh perhitungan pada blok C1 saluran 7 – 8.
Jika A dalam Ha maka :
Q = 0,00278 x C x I x A
Q
blok
= 0,00278 x 0,600 x 337,521 x 0,045 = 0,025 m
3
/dtk.
Q
jalan
= 0,00278 x 0,800 x 376,817 x 0,014 = 0.011 m
3
/dtk.
Q
total
= 0,025 + 0,011
= 0,036 m
3
/dtk.
Debit Air Kotor
Debit air kotor diperhitungkan sebagai berikut:
Debit air buangan tiap orang = 300 lt/orng/hari
= 0,003472222 lt/org/jam
= 0,000003472 m
3
/org/detik.
Pada saluran 7 – 8
1. Jenis saluran : tersier
2. Jumlah rumah : 2 unit
3. Tipe rumah : 60
4. Banyaknya penghuni : 5 orang/rumah
5. Jumlah penghuni total : 10 orang
6. Debit air kotor (Q) : 10 x 0,000003472
: 0,0000347 m
3
/dtk.
Perhitungan Debit Kumulatif
Debit total saluran drainase adalah penjumlahan dari debit air hujan dan debit air
kotor dari rumah tangga.
Contoh perhitungan 1 untuk saluran 7 - 8
1. Saluran : 7 – 8
2. Saluran sebelumnya : -
3. Jenis saluran : Tersier
4. Limpasan dari : blok dan jalan
5. Debit aliran air hujan(Q1) :
- Blok : 0,025 m
3
/detik.
- Jalan : 0,010 m
3
/detik.
6. Debit aliran air kotor(Q2) : 0,0000347m
3
/detik
7. Debit total : Q1 + Q2
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 17
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

: (0,025+0,010) + 0,0000347
: 0,035 m
3
/detik.
Contoh perhitungan 2
1. Saluran : 8 – 9
2. Saluran sebelumnya : 7 – 8
3. Q 7 – 8 : 0,0367 m
3
/detik.
4. Jenis saluran : Sekunder
5. Limpasan dari : blok dan jalan
6. Debit aliran air hujan(Q1) :
- Blok : 0,042 m
3
/detik.
- Jalan : 0,016 m
3
/detik.
7. Debit aliran air kotor(Q2) : 0,0000694 m
3
/detik
8. Debit total : Q1 + Q2 + Q
7 - 8
: (0,042 + 0,016) + 0,035
: 0,093 m
3
/detik.
Perencanaan Dimensi Saluran
Contoh perhitungan untuk blok NC saluran 7 – 8
- Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls) =30,000 m
- Elevasi muka tanah asli di titik 7 = 17,640 m
- Elevasi muka tanah asli di titik 8 = 17,600 m
- Kemiringan tanah asli =
Ls
.elevasi.8 elevasi.7 ÷
=
000 , 30
600 , 17 640 , 17 ÷
m
= 0,0013
- Lebar (B) dicoba 0,80 m
- Dipakai tinggi (h) =
2
B
=
2
8 , 0
= 0,4 m.
- Luas penampang basah (A) = B.h
= 0,8.0,4
= 0, 32 m
2
- Keliling basah (P) = B+2h
= 0,8 + 2.0.4
= 1.6 m
-Jari-jari hidraulik (R) =
P
A
=
4 . 1
24 . 0
= 0.2 m
-Koefisien Kekasaran Manning
Dari tabel 2.9 untuk nilai n bata dalam adukan semen nilainya 0,025
- Kecepatan aliran dalam saluran (V)
18 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
V =
2
1
3
2
.x.s .x.R
n
1
=
2
1
3
2
0013 , 0 . . 2 , 0 . .
025 , 0
1
x x
= 0,493 m/dt
Kecepatan yang dizinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga
kecepatan aliran tidak memenuhi namun lebar bisa dipakai. Jadi
penyelesaiannya dengan cara mengurangi elevasi akhir sebesar 0.03 m.
- Kemiringan lahan (s) =
Ls
akhir .elevasi awal. elevasi ÷
=
000 , 30
570 , 16 ) 03 , 0 640 , 16 ( ÷ ÷
m
= 0,012
V =
2
1
3
2
.x.s .x.R
n
1
=
2
1
3
2
012 , 0 . . 20 , 0 . .
025 , 0
1
x x
= 1,478 m/dt
- Debit (Q
hitung
) = V x A
= 1,478 x 0,32
= 0,473 m/dt
- Q rencana = 0,035 m/dt
Karena debit hitung lebih besar dari debit rencana maka dimensi yang direncanakan
bisa dipakai.
- Bilangan froude (Fr) =
g.x.h
V
=
4 , 0 . . 8 , 9
478 , 1
x
= 0,747
Maka jenis aliran subkritis
- Tinggi jagaan (Fb)
Fb = 0.33 x h
= 0,33 x 0,4 = 0.14 m
- Elevasi Muka Air
 Muka Air Awal
= Elevasi tanah asli awal (titik 7) – 0,14
= 17.640 – 0,14
= 17,500 m.
 Muka Air Akhir
= Elevasi muka air awal (titik 7) – (Ls x s)
= 17,500 – (30,000 x 0,012)
= 17,460 m.
- Elevasi Dasar Pasangan
 Elevasi Dasar Pasangan Awal
= Elevasi muka air awal (titik 7) - h
= 17,500 – 0,40
= 17,100 m
 Elevasi Dasar Pasangan Akhir
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 19
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

x
y
D
h
r
a
= Elevasi muka air awal (titik 7) - (Ls x s)
= 17,500 – (30,000 x 0,012)
= 17,60 m
- Elevasi Atas Pasangan
 Elevasi Atas Pasangan Awal
= Elevasi muka air awal + Fb (titik 7)
= 17,500 + 0,14
= 17,640
 Elevasi Atas Pasangan Akhir
= Elevasi muka air akhir (titik 7) + Tinggi jagaan ( Fb )
= 17,46 + 0.14
= 17,60 m
Perencanaan Dimensi Gorong-gorong
Contoh Perhitungan Gorong-gorong pada saluran 12 – 71
1.
Blok = NB
2. Saluran titik awal = 38
3. Saluran titik akhir = 67
4. Jenis saluran = gorong-gorong
5. Saluran sebelumnya = 21 - 38 , 73 – 38 ( Q = 0,334 )
6. Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls) = 8,000 m
7. Elevasi muka tanah asli awal = 12,750 m
8. Elevasi muka tanah asli akhir = 12,710 m
Alternatif 1 :
 Jari-jari gorong-gorong dicoba (r) = 0,30 m
- A = 2,738 r²
= 2,738 0,30
2
= 0,246 m
2
- P = 4,5 r
= 4,5 . 0,30
= 1,35 m
- R = 0,608 r
= 0,608. 0,30
= 0,18
20 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
- Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli :
= (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls
=
8
71 , 12 75 , 12 ÷
= 0,005
- Koefisien Manning :untuk nilai n beton nilainya 0,013
- Kecepatan dalam saluran
V = S R
n
3
2
1
= 005 , 0 183 , 0
013 , 0
1
3
2
= 1,75 m/detik
Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga
diameter bisa dipakai.
Kontrol debit :
Q = V. A
= 1,75. 0,246
= 0,43 m3/dt > Q. Rencana ( dapat digunakan )
Alternatif 2 :
Fb = D – h h = 0.814 D (SNI)
= 0,60 – 0,48
= 0.12 m
y = 0,18 m
r = 0,30 cm
Cos a =
30
18
a = 53,15
o
β = 360 – 2 a
= 360 – 106 = 254
L =
2
360
2a
r x
=
2
360
254
r x
= 0.199
sin α =
r
x
sin 53,15 =
r
x
x = 0,799 r = 0,239
L =
2
1
xy
= 0,239 x 0,18x
2
1
= 0,022
L (A) = L + 2 L
= 0,199 + 2 x 0,022
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 21
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

= 0,243
P = r x 

2
360
= r x  2
360
254
= 1,31
R =
P
A
=
31 , 1
0,243
= 0,21
- Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli :
= (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls
=
8
71 , 12 75 , 12 ÷
= 0,005
Kontrol s
- Kecepatan aliran dalam saluran (V) =
2
1
3
2
.x.s .x.R
n
1
2 =
2
1
3
2
. . 21 , 0 . .
013 , 0
1
s x x
s = 0.00547
- Koefisien Manning : untuk nilai n beton nilainya 0,013
- Kecepatan aliran dalam saluran (V) =
2
1
3
2
.x.s .x.R
n
1
=
2
1
3
2
005 , 0 . . 21 , 0 . .
013 , 0
1
x x
= 1,94 m/dt
Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga
kecepatan aliran memenuhi.
- Kontrol Debit :
Q = V x A
= 1,94 x 0,243
= 0,45 m³/detik
- Debit rencana = 0,348 m³/detik
Debit hitung lebih besar dari debit rencana maka diameter dan kemiringan bisa
dipakai.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil perencanaan jaringan drainase Perumahan Puri Edelweis
Kota Probolinggo, dapat disimpulkan bahwa :
22 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31
1. Debit air kotor didapat dari debit air buangan tiap orang dikalikan banyaknya
penghuni tiap rumah. Seperti pada saluran 7 – 8 didapat debit air kotor =
0.0000347 m
3
/dtk.
2. Besaran kapasitas saluran dapat menampung air hujan dan air kotor diperoleh
dari perhitungan debit ( Q hitung ) dibanding terhadap debit rencana ( Q rencana
).
Seperti pada saluran 7 – 8 diperoleh :
- Debit ( Q hitung ) = 0,223 m/dtk
- Debit Rencana( Q rencana ) = 0,037m/dtk.
Karena debit hitung lebih besar dari debit rencana maka kapasitas saluran
terpenuhi dalam artian tidak akan terjadi banjir.
3. Lay Out Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis.
4. Dari perhitungan, didapatkan dimensi yang berbentuk persegi dengan 5 ukuran
berbeda yaitu b = 1 m dan h = 0,5 m, b = 0,8 m dan h = 0,4 m, b = 0,7 dan h =
0,35 m, b = 0,6 m dan 0,3 m. Selain itu didapatkan juga gorong – gorong
dengan diameter 0,60 m; 0,70 m; 0,90 m; 1,00 m.
Jumlah dimensi saluran
a. Dimensi saluran lebar 0,60 m dan tinggi 0,30 m = 6 buah
b. Dimensi saluran lebar 0,70 m dan tinggi 0,35 m = 22 buah
c. Dimensi saluran lebar 0,80 m dan tinggi 0,40 m = 20 buah
d. Dimensi saluran lebar 1,00 m dan tinggi 0,50 m = 21 buah
Jumlah dimensi gorong-gorong
a. Dimensi gorong-gorong Ø 0,60 m dan tinggi 0,488 m = 11 buah
b. Dimensi gorong-gorong Ø 0,70 m dan tinggi 0,570 m = 1 buah
c. Dimensi gorong-gorong Ø 0,90 m dan tinggi 0,733 m = 1 buah
= Lebar : 1,00 m ; Tinggi : 0.50 m
= Lebar : 0,60 m ; Tinggi : 0.30 m
= Lebar : 0,80 m ; Tinggi : 0.40 m
= Lebar : 0,70 m ; Tinggi : 0.35 m
Keterangan :
Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk 23
Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

d. Dimensi gorong-gorong Ø 1,00 m dan tinggi 0,814 m = 1 buah
Saran
1. Pelaksanaan saluran drainase sebagai fasilitas umum harus didahulukan sebelum
membangun rumah agar tidak terjadi banjir atau dilakukan secara bersamaan.
2. Gorong-gorong direncanakan untuk semua titik perlintasan.
3. Dalam perencanaan drainase, sangat penting untuk memperhatikan lay out dan
kontur agar tidak terjadi kesalahan dalam perencanaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim (1990), Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan SKSNI T-07-
1990, Jakarta: Departemen PU
Chow, Ven Te (1992), Hidrolika Saluran Terbuka, Terjemahan, Jakarta: Penerbit
Erlangga
Harto BR, Sri (2003), Analisis Hidrologi, Jakarta: PT. Gramedia
Soemarto, CD (2006), Hidrologi Teknik, Malang: PPMTT
Sosrodarsono dan Takeda (2006), Hidrologi Untuk Pengairan, Edisi ke Sepuluh,
Jakarta: Pradnya Paramita
Suripin (2004), Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan, Yogyakarta: Penerbit
ANDI.

2

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

TINJAUAN PUSTAKA
Drainase Drainase atau disebut juga saluran pembuangan memiliki fungsi sebagai saluran untuk mengalirkan air buangan atau air kotor dan juga limbah yang berasal dari rumah. Dalam bidang ketekniksipilan, secara umum drainase diartikan sebagai suatu tindakan untuk mengurangi kelebihan air baik dari air hujan, rembesan, maupun irigasi. Macam-macam Drainase 1. Menurut Asalnya, menurut asalnya drainase dibedakan menjadi saluran alam (natural) dan saluran buatan (artificial). 2. Menurut Letak Saluran 1. Drainase Permukaan a. Drainase Memanjang b. Drainase Melintang 2. Drainase Bawah Permukaan Drainase bawah permukaan mempunyai fungsi utama yaitu untuk menampung dan membuang air yang masuk ke dalam strukur jalan, sehingga tidak sampai menimbulkan kerusakan pada jalan (Suripin, 2004:272). 3. Macam Drainase Menurut Konstruksi  Saluran terbuka  Saluran tertutup 4. Menurut Fungsi Drainase a) Single Purpose b) Multi Purpose Syarat – Syarat Perencanaan Syarat itu meliputi tegangan geser, kecepatan ijin, tegangan geser, jenis aliran, dan banjir rencana. Data-data yang Dibutuhkan Data-data yang dibutuhkan dalam perencanaan saluran drainase tersebut meliputi: 1. Data hidrologi, yaitu data curah hujan dari stasiun hujan yang terdekat dengan lokasi 2. Peta topografi 3. Peta situasi Lay Out Jaringan Drainase Penentuan lay out sistem drainase permukaan didesain berdasarkan hasil akhir peta kontur. Analisis Hidrologi Penyiapan Data Curah Hujan Data curah hujan yang digunakan dalam perencanaan drainase adalah data curah hujan harian maksimum minimal 10 tahun terakhir dari 3 stasiun hujan terdekat. (Loebis, 1984:8) Uji Konsistensi Uji konsistensi adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk mengecek konsisten dan tidak konsistennya suatu data hujan yang akan digunakan dalam suatu perencanaan (Soemarto, 1987:38). Agar data hujan tersebut konsisten, maka harus dikalikan dengan faktor koreksi. Rumus yang dipakai adalah : tanβ fk  ………………. ..................................(2.a) (Soemarto, 1987 : 38) tanγ Keterangan :

Hitung koefisien kepencengan.e) (n  1)(n  2)Si 3 e. R = Rata-rata curah hujan..  d n d   1 ……....d 3 ....... Hitung harga simpangan baku : ………………… (2. R TR’ = 10 .(Soemarto.TR sebagai ordinat.. Tinggi rata-rata curah hujan didapatkan dengan mengambil harga rata-rata hitung (arithmetic mean) karena data yang digunakan adalah curah hujan harian pada penakar hujan dalam areal tersebut.Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 3 fk = Faktor koreksi. Suatu kumpulan data yang akan dianalisis harus homogen. Ubah data ke dalam bentuk logaritmis... (2..b) (Soemarto. Uji homogenitas dilakukan dengan meninjau apakah plot titik (N. TR) pada kertas grafik homogenitas berada pada batas yang homogen. (logXi  logX) 2 Cs = ………………… (2.dn = Tinggi curah hujan pada pos penakar 1. Jadi : n d .. tanγ Uji Homogenitas Setelah uji konsistensi dilakukan maka dilanjutkan dengan uji homogenitas yaitu suatu pengujian yang dilakukan untuk mengecek homogen atau tidak homogennya suatu data yang akan digunakan dalam perencanaan..d) n 1 d. 1987 : 38) R R10 = Curah hujan rancangan dengan kala ulang 10 tahun...  .. Curah Hujan Daerah Curah hujan daerah merupakan curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan dan bukan curah hujan pada suatu titik tertentu... 3……n n = Banyaknya pos penakar Pengolahan Data Curah Hujan Rancangan Metode yang digunakan dalam menghitung curah hujan rancangan adalah Log Pearson tipe III a....x. Hitung harga rata-rata : …………………. d3…….c) n c. n... X = log X b.... d2.. Keterangan : N = Jumlah data.. (2.. . TR = Kala ulang untuk R. 2..d 2 ..... tanβ = Arah garis lurus sebagai trend baru...  .. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ualang dengan rumus Si = Log X =  logXi il n  (logXi  logX) 2 . 1987 : 31) d 1 n 1 n Keterangan : d = Tinggi curah hujan rata-rata areal d1.. = Arah garis lurus sebagai trend lama.

maka persamaan distribusi yang digunakan tidak dapat diterima. (2. 2. yang dapat dihitung dengan rumus berikut : G O  E 2 i ………………. Menghitung harga curah hujan rancangan dengan periode ulang tertentu dengan antilog X. = Jumlah nilai teoritis pada sub kelompok i. 2004:57) X2  Σ i h i 1 Ei Keterangan : X2 = Parameter Chi-Kuadrat terhitung. i. X = Invers log X Uji kecocokan Penguji parameter digunakan untuk menguji kecocokan distribusi frekuensi sampel data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi tersebut. Dari kedua nilai tersebut.4 NEUTRON. Ei Interpretasi hasil uji adalah sebagai berikut: 1. Pengujian parameter yang sering dipakai adalah uji Chi-Kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov. D = maksimum (P(Xn) – P’(Xn)) 4. misal perlu data tambahan. maka tidak mungkin mengambil keputusan.g) (Suripin. Harga G tergantung dari koefisien skew (Cs) dan tingkat probabilitasnya.f) g. tentukan selisih terbesarnya antar peluang pengamatan dengan peluang teoritis. Log X = Log X + G. h G = Jumlah sub kelompok. Uji Chi-Kuadrat Pengambilan keputusan dari uji ini menggunakan parameter X2. Uji Smirnov-Kolmogorov Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non-parametric. . S…………………… (2. FEBRUARI 2009 : 20-31 f. Apabila peluang lebih dari 5%. Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-kolmogorov test) tentukan harga Do.. Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1. Apabila peluang kurang dari 1%. karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. pada tabel yang merupakan nilai – nilai distribusi log pearson III. Oi = Jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i. maka persamaan distribusi yang digunakan dapat diterima. 5. h. VOL.1. dan seterusnya. dan seterusnya 3. Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut X1 = P(X1) X2 = P(X2) X3 = P(X3). 4. Apabila peluang berada diantara 1-5%. Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data (persamaan distribusinya) X1 = P(X1) X2 = P(X2) X3 = P(X3). NO.9.

.h) 24  t  Keterangan : I = Intensitas curah hujan (mm/jam).2004 : 82) t c  . Luas permukaan daerah aliran. V = Kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).x.28. (2. 2004 : 82) 60V Keterangan : tc = Waktu konsentrasi dalam jam. 2004:79) Keterangan : 2 . 2. to = Waktu limpasan menuju saluran (menit).x. yaitu : 1.t o . Ls = Panjang lintasan lahan di dalam saluran/sungai (m).k) (Suripin. t = Lamanya curah hujan (jam). Rumus yang digunakan adalah: R  24  3 (Suripin. Perhitungan Waktu Konsentrasi Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan untuk mengalir dari titik terjauh pada suatu daerah pengaliran menuju titik tertentu yang ditinjau sehingga akan didapatkan debit yang maksimum.t d Untuk to dapat dihitung dengan rumus : 2 n  to   .j) (Suripin. 2004 : 82)  menit …………(2.(2. Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan membedakannya menjadi dua komponen yaitu waktu konsentrasi terdiri dari waktu yang dibutuhkan oleh air hujan untuk mengalir diatas permukaan tanah ke saluran yang terdekat (to) dan waktu yang diperlukan air hujan mengalir di dalam saluran (td).  .. (Suripin. td = Waktu aliran pada saluran dari satu titik ke titik lainnya (menit).3.(2.x. Nilai koefisien kekasaran pengaliran Perhitungan ini menggunakan rumus sebagai berikut : Q = C x I x A …………….i) 3  S  Sedangkan untuk td dapat dihitung dengan rumus : Ls td  menit…………………………. Jenis permukaan tanah. Intensitas Curah Hujan dapat dibuat dengan Rumus Mononobe. 4. 2004 : 67) I  24   ……………….Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 5 Intensitas Curah Hujan Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. L = Panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m). yang ada hanya data hujan harian. 3. rumus ini digunakan apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia. R24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm). Intensitas hujan yang terjadi.L. sehingga : (Suripin. n = Angka kekasaran Manning S = Kemiringan lahan. Debit Banjir Rancangan Besarnya debit banjir rencana air hujan diatas permukaan tanah (limpasan hujan) ke saluran air hujan air hujan yang ditentukan oleh beberapa faktor.

bentuk yang digunakan adalah : 1. Kantor Teater mobil (drive in theatre). bangunan (fasilitas) umum atau instansi.5) Perkemahan dan Motel : . FEBRUARI 2009 : 20-31 Q = Debit banjir rencana (m/dt) C = Koefisien pengaliran (tabel) I = Intensitas curah hujan (mm/jam) A = Daerah pengaliran (m2) Jika A dalam Ha maka : Q = 0.Sekolah dengan asrama.Hotel dan motel.Rumah kecil (cottage). bangunan komersial. 2001:30 Volume Limbah Cair (liter/orang/hari) 400 300 240 – 300 200 Beban BOD (gram/orang/hari) 100 80 80 80 400 – 600 200 140 200 300 80 60 120 25 – 40 15 60 20 600 .Tiap langganan. .00278 x C x I x A…………. Restoran : .6 NEUTRON. . NO. Tabel 1: Pembuangan Limbah Cair Rata-Rata Per Orang Setiap Hari Jenis Bangunan Daerah Perumahan : .Rumah besar untuk keluarga tunggal.1200 60 20 10 .Sekolah siang hari dengan kafetaria.9. Sekolah : .Sekolah siang hari tanpa kafetaria. . . Bioskop.Rumah tipe tertentu untuk keluarga tunggal. . per tempat duduk. dan sebagainya. tidak termasuk limbah cair industri dan cafeteria.Tiap pegawai.120 100 80 70 50 80 30 20 50 20 15 25 10 30 25 10 10 25 Analisis Hidrolika Bentuk-bentuk Saluran Drainase Dalam perencanaan ini. Sumber : Soeparman dan Suparmin. . (Jika dipasang penggilingan sampah.1.. 2004:79) Debit Air Kotor Debit air kotor adalah debit yang berasal dari buangan aktivitas penduduk seperti mandi.20 60 . VOL.Tiap pegawai. per tempat duduk. . kalikan BOD dengan faktor 1.Tiap makanan yang disajikan. Segiempat/persegi . . Terminal transportasi : . .Rumah untuk keluarga ganda (rumah susun).Tempat peristirahatan mewah. .Kemah wisata dan tempat parkir trailer.(2. Pabrik. cuci dan lain-lain baik dari lingkungan rumah tangga. .l) (Suripin.Tempat parkir rumah berjalan (mobile home). Rumah sakit.Tiap penumpang.

n) P Q= V . Untuk . 1986:39. Kecepatan Maksimum adalah kecepatan rata-rata terbesar yang tidak akan menimbulkan erosi pada tubuh saluran. sebagai berikut : . S 2 …………………….Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 7 Gambar 1: Penampang Persegi 2.(2..(2. A ……………………….Pasangan batu : 2 m/dt .(2.. karena rumus ini mempunyai bentuk yang sederhana tetapi memberikan hasil yang memuaskan.Pasangan beton : 3 m/dt 2. Untuk menghitung saluran dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut : Manning 2 1 1 3 V= R .o) Keterangan : V = Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/detik) Q = Debit banjir rencana (m3/dtk) n = Koefisien kekasaran R = Radius hidrolik S = Kemiringan saluran A = Luas saluran (m2) P = Keliling basah saluran (m) Tinggi Jagaan (Free Board) Jagaan suatu saluran adalah jarak vertikal dari puncak saluran ke permukaan air pada kondisi rencana... dalam pemakaiannya dianjurkan seperti dalam KP-03. (Chow 1985:158 ) Kecepatan Maksimum dan Minimum yang Diijinkan 1.m) n A R= ……………………………. Kecepatan Minimum adalah kecepatan terendah yang tidak akan menimbulkan sedimentasi dan mendorong pertumbuhan tanaman air dan ganggang. (Chow 1984:164) Kecepatan-kecepatan maksimum pada aliran sub kritis. Lingkaran D h Gambar 2: Penampang Lingkaran Perencanaan Dimensi Saluran Rumus kecepatan rata-rata pada perhitungan dimensi penampang saluran menggunakan rumus Manning..

VOL. 1986:36). g = Percepatan gravitasi (m/dt2) Jenis-jenis Pasangan Banyak bahan yang dapat dipakai untuk pasangan saluran. Bangunan Pelengkap Gorong-gorong x y r D d Gambar 3: Gorong-gorong .8 NEUTRON. h = Kedalaman aliran (m).1. sedangkan jika kecepatan alirannya lebih besar daripada kecepatan kritis.Tanah (KP-03. Jika kecepatan aliran lebih kecil daripada kecepatan kritis (Fr < 1).9. maka alirannya disebut superkritis (Fr > 1). Bilangan Froude untuk saluran didefinisikan sebagai : V (Anggrahini.Beton. FEBRUARI 2009 : 20-31 kecepatan rata-rata yang diizinkan kurang dari 0. Jenis Aliran Aliran dikatakan kritis apabila kecepatan aliran sama dengan kecepatan kritis ( kecepatan yang diijinkan ). maka alirannya disebut subkritis.h Keterangan : V = Kecepatan aliran (m/dt).1997:47) Fr  g.Pasangan batu .6 m/det biasanya cukup untuk mencegah tumbuhnya tanaman air yang dapat menurunkan kapasitas angkut atau kapasitas hantaran suatu saluran (KP-03. dan .1997:47) Parameter yang menentukan ketiga jenis aliran tersebut adalah bilangan Froude (Fr) yaitu perbandingan antara kecepatan dengan gaya gravitasi. NO.x.(Anggrahini. 1986:79). Tetapi pada prakteknya di Indonesia hanya ada tiga bahan yang dianjurkan pemakaiannya: .

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 9 Metode Penelitian START Pengumpulan Data Data Curah Hujan Peta Topografi Jumlah Penduduk Uji Konsistensi dan Homegenitas Gambar Lay Out Jaringan Perhitungan Curah Hujan Daerah Perhitungan Debit Kotor Perhitungan Curah Hujan rancangan Perhitungan Luas Area Perhitungan Intensitas Curah Hujan Perhitungan Waktu Konsentrasi Perhitungan Debit Banjir Rencana Perhitungan Dimensi Saluran Gambar Metode Pelaksanaan FINISH Gambar 4: Metode Penelitian PEMBAHASAN Analisis hidrologi Penyiapan data hujan Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan bulanan maksimum tiap tahun yaitu jumlah hujan harian dalam satu bulan lalu dijumlahkan. Setelah itu dipilih curah hujan yang maksimum dalam satu tahun itu dilihat dari tiap bulannya . .

0 200. Stasiun A terhadap stasiun B dan C.0 800.100 Uji Konsistensi Uji konsistensi yang dilakukan a.9.0 400.10 NEUTRON. a.1.rata stasiun B dan C Grafik 2: Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Wonoasih Terhadap Stasiun Jorongan dan Triwung setelah Dikoreksi .0 Kumulatif rata . FEBRUARI 2009 : 20-31 Tabel 2: Curah Hujan Bulanan Maksimum Tiap Tahun No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun STASIUN WONOASIH STASIUN JORONGAN STASIUN TRIWUNG 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 98 92 64 96 102 87 111 199 108 85 104. Stasiun B terhadap stasiun A dan C. Stasiun C terhadap stasiun A dan B. Uji Konsistensi Stasiun Wonoasih Terhadap Stasiun Jorongan dan Stasiun Triwung 1000 900 Kumulatif stasiun A 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0. b.0 600. c.0 1000. VOL. NO.900 142 118 92 84 127 118 101 11 83 75 95.200 105 54 80 91 90 76 102 78 100 63 83.

0 800.0 400. .0 Kumulatif stasiun A dan B Grafik 5: Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Triwung Terhadap Stasiun Jorongan dan Wonoasih Setelah Dikoreksi Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogen dan tidak suatu data yang akan digunakan dalam perencanaan. Tr) pada grafik homogenitas berada pada batas yang homogen. Karena data hujan yang baik adalah data hujan yang menunjukkan seragam dari waktu ke waktu. atau homogen.0 1000.0 1200.0 200.0 400.0 R2 = 0.0 600.0 800.997 Grafik 3: Uji Konsistensi Stasiun B Terhadap Stasiun A dan C c.0 1000.0 200. Uji Konsistensi Data Curah Hujan Triwung terhadap Stasiun Wonoasih dan Stasiun Jorongan 1400 Kumulatif Stasiun C 1200 1000 800 600 400 200 0 0.Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 11 b. Uji homogentitas dilakukan dengan meninjau apakah plot (N.0 600. Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Jorongan Terhadap Stasiun Wonoasih dan Stasiun Triwung 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0.

9.801 Wonoasih 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 98 92 64 96 102 87 111 127.333 106.279 106.176 95. FEBRUARI 2009 : 20-31 Grafik 6: Uji Homogenitas Stasiun Wonoasih.12 NEUTRON.667 123. Jorongan. Data yang digunakan dalam perhitungan ini adalah data akhir hasil konsistensi yang homogen. Tabel 3: Perhitungan Curah Hujan Daerah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun STASIUN STASIUN STASIUN RATARATA 115.276 54.647 69.879 Pengolahan Data Perhitungan Curah Hujan Rancangan Metode Log Person Setelah menghitung curah hujan daerah kemudian dihitung besarnya curah hujan rancangan dengan Metode Log Pearson type III. .1. dan Triwung Perhitungan Curah Hujan Daerah Curah hujan daerah adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan. VOL. bukan curah hujan pada satu titik tertentu.852 74.000 78.667 90.881 118.000 88. Dalam perencanaan ini metode perhitungannya digunakan metode rata-rata aljabar karena data yang digunakan merupakan data hujan harian maksimum tiap tahun.333 93. NO.523 Jorongan 105 54 80 91 90 76 102 78 100 63 Triwung 142 118 92 84 127 118 101 163.667 104.

000 -0.852 93.667 95. Uji Smirnov-Kolmogorov Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan nonparametric. maka distribusi yang dipakai sesuai.00049 0.818 90.0014 0.956 1.909 jumlah Rata2 2.633 72.Log X)² (Log X .00002 -0.333 104.00008 -0.620 94.000 96.061 2. .0168 0.667 95.00005 0. karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu.1739 0.00000 0.Log X Curah Hujan 115 88 78.852 93.801 9.333 106.0117 0.1425 0.108 jumlah s Cs 0.03 1.038 -0.0074 0.852 74.00009 0.727 81.982 0.364 45.0001 0.667 123.00005 -0.667 90.333 104.821 0.333 88.972 1.801 X P(%) Log X (Log X .176 115.0062 0.0118 0.0020 0.0689 Uji kecocokan Uji Chi-Kuadrat Uji Chi-Kuadarat digunakan untuk menentukan apakah persamaan distribusi yang telah dipilih dapat mewakili distribusi statistik sampel data yang dianalisis.500 106.027 2.0427 0.0000 0.2428 Diperoleh ΣX2 tabel = 14.667 74.020 1.0267 0.667 74.176 115.090909 18.0399 0.079 0.Log X)³ 123.667 90.108 0.032 92.896 1.455 54.000 80.000 106.00000 -0.0896 1.874 19.0014 0.182 27.086 -0.000 78.850 95.00064 -0.273 36.038 0. Tabel 5: Perhitungan Chi-Kuadrat n a 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun B 1999 2000 2002 2006 2003 2005 2001 1998 2004 1997 X empiris c 123.435 ∑x² (X em-X t)2/X t e 0.1455 0.120 111.545 63.000 106.0103 0.667 90.026 -0.944 1.2394 0.00127 0.067 (derajat kepercayaan 5 %) ΣX2 tabel lebih besar daripada ΣX2 hitung.3582 0.0007 0.333 88.333 93.000 119.Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 13 Tabel 4: Perhitungan Curah Hujan Daerah dengan Log Person Tipe III Log X .045 0.091 2.176 95.00127 -0.000 78.130 77.667 104.011 -0.982 1.801 970.496 X teoritis d 130.

007 -0.000 m2 6.055 -0.8 aspal a.069 < 0.801 Dilihat dari tabel nilai ∆P yang paling maksimum adalah 0.6 m/dt = 0.727 81.6 9. Blok 10.000 m 4. .818 90. Jalan = 4.2 72.182 27.0 0. Blok = 0.000 m2 a.333 104. Blok = 0.000 m2 b. Blok = 109.000 m (panjang bagian belakang rumah ke saluran) 5.069 Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-kolmogorov test) n = 10 Do = 0.5 m (jarak as jalan ke saluran) b.9 58. Jenis saluran = Tersier→TR = 5 Tahun 3.000 106.02 b.0 70.9.000 78.061 [ΔP] 123. V (kecepatan rata-rata aliran dalam saluran) Karena kecepatan rata-rata dalam saluran = a.0 66. Jalan = 0. R24 (curah hujan maksimum harian selam 24 jam (mm)) a.013 0. VOL.8 2.013 b.636 72.091 18. b. S (kemiringan limpasan) a. Ls (panjang saluran) = 30.410---- 0. Jalan = 0.125 -0. A (Luas) = 450.667 95.4 m/dt b. Blok = 450.176 115.1.063 -0.115 -0.0 88. Jalan = 135.667 74. Blok = 15.8 1.667 90.000 a. FEBRUARI 2009 : 20-31 Tabel 6: Uji Smirnov Kolmogorov No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ch Empiris P Empiris 9.333 88.005 7.455 54. Blok NC Saluran 7 .0 11.909 P Teoritis 6. n (Koefisien kekasaran) a.0 30. Blok = 0. NO.031 0. L (panjang limpasan) = 15.852 93. Jalan = 109.273 36.3 26.066 0.1 97.02 8. C (koefisien limpasan) = 0. Jalan b. Jalan = 0.545 63.647 mm.14 NEUTRON.364 45.069 0.410 (Sesuai) Perhitungan Waktu Konsentrasi Contoh perhitungan blok NC saluran 7 .647 mm.

28. R24 = Curah hujan maximum dalam 24 jam (mm).0.28.L.3. Perhitungan Intensitas Curah Hujan Untuk menghitung intensitas curah hujan digunakan rumus Mononobe. 108.2004:67) I  24   24  t  Keterangan : I = Intensitas curah hujan (mm/jam).x.275 menit = 0.x.400 = 1.t d tc jalan = to + td = 1. to (waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan (waktu limpasan) menuju saluran terdekat) 2 n  to   . t = Lamanya curah hujan (jam).600 = 0.030   to blok   .0.x.095 + 0.833 = 1.025 menit.x.t o .25 = 2.28.x.x.x. Curah Hujan (R24) pada kala ulang 10 tahun = 117.x.3. 3 0.x.005    = 1.095 menit 2 0.L.x.6.3. 108.3.020    = 1. 3 0.038 jam.  3  S  2 0. Rumus Mononobe R  24  3 (Suripin.x.016   to jalan   .929 menit = 0.  .750 td jalan  60.025 + 1.x.x.750 td blok  60.  3  S  2 n  to jalan   . 2 .Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 15 11. td (waktu aliran pada saluran dari satu titik ketitik lainya) Ls td  menit 60V 60 = satuan konversi dari jam ke menit.750x.000.489 mm.28.833 menit. karena data yang ada adalah data curah hujan harian.L12. tc blok = to + td = 1.25 menit tc (waktu konsentrasi dalam jam) t c  .032 jam. 12.

521 x 0.16 NEUTRON.00278 x 0. Debit aliran air kotor(Q2) : 0. VOL. Debit Air Kotor Debit air kotor diperhitungkan sebagai berikut: Debit air buangan tiap orang = 300 lt/orng/hari = 0.025 + 0.1.003472222 lt/org/jam = 0.489  24    24  0.0000347m3/detik 7. Jika A dalam Ha maka : Q = 0. Perhitungan Debit Kumulatif Debit total saluran drainase adalah penjumlahan dari debit air hujan dan debit air kotor dari rumah tangga.489  24  3    24  0. 2 3 2 2 117.025 m3/dtk.000003472 m3/org/detik. Banyaknya penghuni : 5 orang/rumah 5. FEBRUARI 2009 : 20-31 Contoh perhitungan R  24  3 I  24   24  t  I jalan 117.025 m3/detik. Jumlah rumah : 2 unit 3.0000347 m3/dtk. Tipe rumah : 60 4.8 1.800 x 376. 6. Contoh perhitungan 1 untuk saluran 7 .038  = 337. Q jalan = 0. Jenis saluran : tersier 2.9.014 Q total = 0.036 m3/dtk. Debit air kotor (Q) : 10 x 0.010 m3/detik.  Jalan : 0.045 = 0.011 = 0.032  = 376.521 mm/jam Debit Banjir Rancangan Contoh perhitungan pada blok C1 saluran 7 – 8.817 x 0. Limpasan dari : blok dan jalan 5.00278 x 0. Saluran sebelumnya :3. Jumlah penghuni total : 10 orang 6. Pada saluran 7 – 8 1. Q blok = 0. Debit total : Q1 + Q2 I blok  .600 x 337. NO.817 mm/jam. Jenis saluran : Tersier 4. Debit aliran air hujan(Q1) :  Blok : 0.00278 x C x I x A = 0.000003472 : 0. Saluran :7–8 2.011 m3/dtk.

010) + 0. 32 m2 . Debit total : Q1 + Q2 + Q7 .025 . Perencanaan Dimensi Saluran Contoh perhitungan untuk blok NC saluran 7 – 8 .640 m .600 m elevasi.0367 m3/detik.80 m B .0000694 m /detik 8.8.8 : (0. Saluran 2.0000347 : 0.8 = = 0.Kecepatan aliran dalam saluran (V) .093 m3/detik.600 = m 30.elevasi.042 + 0.0.Keliling basah (P) = B+2h = 0. 3 7.016 m3/detik.h = 0.0013 .042 m3/detik. Debit aliran air hujan(Q1) :8–9 :7–8 : 0.Dipakai tinggi (h) = 2 0.2 m -Koefisien Kekasaran Manning Dari tabel 2.4 = 0.000 = 0.4 = 0.640  17.8 + 2.0.4 = 1.025+0.24 = 1 .000 m .Luas penampang basah (A) = B.Kemiringan tanah asli = Ls 17.035 m3/detik. Jenis saluran 5.9 untuk nilai n bata dalam adukan semen nilainya 0.Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 17 : (0.035 : 0. Debit aliran air kotor(Q2) : 0. Q 7 – 8 4.Elevasi muka tanah asli di titik 7 = 17.7  . Saluran sebelumnya 3.6 m A -Jari-jari hidraulik (R) = P 0.  Jalan : 0. Limpasan dari 6.Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls) =30. : Sekunder : blok dan jalan :  Blok : 0.016) + 0.4 m.Elevasi muka tanah asli di titik 8 = 17. 2 .Lebar (B) dicoba 0.8 . Contoh perhitungan 2 1.

14 = 17.500 – 0.4 Maka jenis aliran subkritis .100 m  Elevasi Dasar Pasangan Akhir 2 1 V = .x.03)  16.2 .493 m/dt Kecepatan yang dizinkan antara 2 m/detik sampai 0.elevasi akhir .33 x h = 0.460 m.18 NEUTRON.s 2 n 2 1 1 3 = .025 = 0.9.747 .000 x 0.14 m .640 – 0.025 = 1.x.x.s 2 n 2 1 1 3 = .035 m/dt Karena debit hitung lebih besar dari debit rencana maka dimensi yang direncanakan bisa dipakai.012 2 0.473 m/dt .6 m/detik.Kemiringan lahan (s) = Ls (16.500 – (30.478 x 0.500 m.640  0.32 = 0.4 = 0.20 .012) = 17.478 m/dt .Elevasi Muka Air  Muka Air Awal = Elevasi tanah asli awal (titik 7) – 0.40 = 17. NO.Q rencana = 0.012 2 1 1 V = .x.Debit (Qhitung) = V x A = 1.R 3 .Elevasi Dasar Pasangan  Elevasi Dasar Pasangan Awal = Elevasi muka air awal (titik 7) .570 = m 30.1.h = 17. sehingga kecepatan aliran tidak memenuhi namun lebar bisa dipakai.Tinggi jagaan (Fb) Fb = 0.x. VOL.0.14 = 17.  Muka Air Akhir = Elevasi muka air awal (titik 7) – (Ls x s) = 17.x.R 3 .0.h 9. .x.0. Jadi penyelesaiannya dengan cara mengurangi elevasi akhir sebesar 0.000 = 0.03 m.0. V 1.8.478 = = = 0.0.x.x.x.Bilangan froude (Fr) g.33 x 0.  .0013 2 0. FEBRUARI 2009 : 20-31 1 . elevasi awal.

46 + 0.500 – (30.738 0.35 m R = 0. Saluran titik akhir = 67 4.246 m2 P = 4.5 .608 r = 0.14 = 17. Saluran sebelumnya = 21 .750 m 8.30 = 0.334 ) 6.500 + 0.608.302 = 0.60 m Perencanaan Dimensi Gorong-gorong Contoh Perhitungan Gorong-gorong pada saluran 12 – 71 = NB 1. Blok 2.(Ls x s) = 17. 0.000 x 0.30 m A = 2. Jenis saluran = gorong-gorong 5.60 m .Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 19 = Elevasi muka air awal (titik 7) . 73 – 38 ( Q = 0.30 = 1.640  Elevasi Atas Pasangan Akhir = Elevasi muka air akhir (titik 7) + Tinggi jagaan ( Fb ) = 17.14 = 17. Saluran titik awal = 38 3.Elevasi Atas Pasangan  Elevasi Atas Pasangan Awal = Elevasi muka air awal + Fb (titik 7) = 17. Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls) = 8.5 r = 4. 0. Elevasi muka tanah asli awal = 12.000 m 7.738 r² = 2.18 .012) = 17. Elevasi muka tanah asli akhir = 12.38 .710 m x y r D a h Alternatif 1 :  Jari-jari gorong-gorong dicoba (r) = 0.

6 m/detik.71 = 0. Kontrol debit : Q = V.183 3 0.75.75 m/detik Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0. 0.15 o β = 360 – 2 a = 360 – 106 = 254 2a L = x r 2 360 254 = x r 2 360 = 0.20 NEUTRON.199 x sin α = r x sin 53.239 x 0.005 0.199 + 2 x 0.15 = r x = 0.013 = 1.43 m3/dt > Q.022 .12 m y = 0.75  12.814 D (SNI) = 0.18x 2 = 0.9. NO.022 L (A) =L +2L = 0. A = 1. FEBRUARI 2009 : 20-31 - - Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli : = (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls 12.013 Kecepatan dalam saluran 1 2 V= R 3 S n 2 1 = 0. Rencana ( dapat digunakan ) Alternatif 2 : Fb = D – h h = 0.60 – 0. sehingga diameter bisa dipakai.18 m r = 0.246 = 0.239 1 L = xy 2 1 = 0.48 = 0.799 r = 0. VOL.005 = 8 Koefisien Manning :untuk nilai n beton nilainya 0.30 cm 18 Cos a = 30 a = 53.1.

x.013 = 1.45 m³/detik .Kecepatan aliran dalam saluran (V) = .x.0.Debit rencana = 0.00547 .Koefisien Manning : untuk nilai n beton nilainya 0.s 2 0. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil perencanaan jaringan drainase Perumahan Puri Edelweis Kota Probolinggo.348 m³/detik Debit hitung lebih besar dari debit rencana maka diameter dan kemiringan bisa dipakai.21 .x.243 = 1.s 2 n 2 1 1 3 2 = .94 m/dt Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0.x.x.x.005 2 0.0. .31 = 0.243 = 0.x.Kontrol Debit : Q =VxA = 1.R 3 .21 . dapat disimpulkan bahwa : . sehingga kecepatan aliran memenuhi.75  12.Kecepatan aliran dalam saluran (V) = .6 m/detik.R 3 .94 x 0.013 s = 0.243  P = x 2r 360 254 = x 2r 360 = 1.31 A R = P 0.71 = = 0.Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 21 = 0.005 8 Kontrol s 2 1 1 .Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli : = (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls 12.s 2 n 2 1 1 3 = .x.013 2 1 1 .0.21 .

Dimensi gorong-gorong Ø 0.50 m = 21 buah Jumlah dimensi gorong-gorong a.70 m. VOL. 1.7 dan h = 0.50 m = Lebar : 0. Jumlah dimensi saluran = 6 buah a.80 m dan tinggi 0.733 m = 1 buah . Seperti pada saluran 7 – 8 diperoleh : .488 m = 11 buah b.80 m . Debit air kotor didapat dari debit air buangan tiap orang dikalikan banyaknya penghuni tiap rumah.Debit ( Q hitung ) = 0. Dimensi saluran lebar 0. Tinggi : 0. Dimensi gorong-gorong Ø 0.22 NEUTRON.30 m b.35 m = 22 buah c. Seperti pada saluran 7 – 8 didapat debit air kotor = 0.40 m = Lebar : 0.4 m. Dari perhitungan.40 m = 20 buah d.60 m dan tinggi 0.35 m 4. 0.570 m = 1 buah c.9.00 m dan tinggi 0.90 m dan tinggi 0.70 m dan tinggi 0.223 m/dtk . Tinggi : 0. Dimensi gorong-gorong Ø 0.70 m dan tinggi 0. Dimensi saluran lebar 0. b = 0. 2.90 m.70 m .Debit Rencana( Q rencana ) = 0.30 m = Lebar : 0.35 m.6 m dan 0.3 m.8 m dan h = 0. FEBRUARI 2009 : 20-31 1.00 m. 3. 0.60 m.00 m . b = 0. Karena debit hitung lebih besar dari debit rencana maka kapasitas saluran terpenuhi dalam artian tidak akan terjadi banjir. didapatkan dimensi yang berbentuk persegi dengan 5 ukuran berbeda yaitu b = 1 m dan h = 0.60 m dan tinggi 0. Tinggi : 0. Besaran kapasitas saluran dapat menampung air hujan dan air kotor diperoleh dari perhitungan debit ( Q hitung ) dibanding terhadap debit rencana ( Q rencana ).0000347 m3/dtk. Keterangan : = Lebar : 1. Tinggi : 0. Dimensi saluran lebar 1. Selain itu didapatkan juga gorong – gorong dengan diameter 0.5 m. Dimensi saluran lebar 0. NO. Lay Out Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis.60 m .1. b = 0.037m/dtk.

. Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan SKSNI T-071990. Pelaksanaan saluran drainase sebagai fasilitas umum harus didahulukan sebelum membangun rumah agar tidak terjadi banjir atau dilakukan secara bersamaan. Terjemahan. sangat penting untuk memperhatikan lay out dan kontur agar tidak terjadi kesalahan dalam perencanaan. Yogyakarta: Penerbit ANDI. Hidrolika Saluran Terbuka. Jakarta: PT. Edisi ke Sepuluh. Jakarta: Pradnya Paramita Suripin (2004). Gramedia Soemarto. Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA Anonim (1990). Jakarta: Departemen PU Chow. CD (2006).814 m = 1 buah Saran 1. Sri (2003). Gorong-gorong direncanakan untuk semua titik perlintasan.Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 23 d. Malang: PPMTT Sosrodarsono dan Takeda (2006). Hidrologi Untuk Pengairan.00 m dan tinggi 0. Hidrologi Teknik. Dimensi gorong-gorong Ø 1. Dalam perencanaan drainase. 3. Jakarta: Penerbit Erlangga Harto BR. 2. Analisis Hidrologi. Ven Te (1992).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful