Anda di halaman 1dari 23

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

1

PEMANFAATAN METODE LOG PEARSON III DAN MONONOBE UNTUK JARINGAN DRAINASE PERUMAHAN PURI EDELWEIS PROBOLINGGO

Ir. Sri Utami Setyowati, MT

ABSTRAK

Drainase adalah saluran untuk mengalirkan air kotor yang berasal dari rumah – rumah dan air hujan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merencanakan dimensi dan jaringan saluran setelah menghitung intensitas air hujan dan debit air kotor yang nantinya akan masuk ke dalam saluran. Jika dimensinya sudah cukup lebar dan sesuai, maka tidak akan terjadi banjir dan juga genangan. Data yang digunakan dalam merencanakan saluran drainase adalah peta situasi beserta topograpinya untuk menentukan arah aliran. Kemudian data curah hujan diambil dari stasiun Wonoasih, Triwung, dan Jorongan dalam 10 tahun terakhir. Selanjutnya dihitung dan uji konsistensi serta homogenitasnya, setelah itu dihitung juga curah hujan maksimum dengan metode rata – rata aljabar dan curah hujan rencana dengan metode log person tipe III. Setelah itu hitung intensitas curah hujan dengan rumus Mononobe, debit air saluran dengan rumus rasional, dan mencari dimensi dengan rumus Manning. Dari perhitungan, didapatkan dimensi yang berbentuk persegi dengan 5 ukuran berbeda yaitu b = 1 m dan h = 0,5 m, b = 0,8 m dan h = 0,4 m, b = 0,7 dan h = 0,35 m, b = 0,6 m dan 0,3 m. Selain itu didapatkan juga gorong – gorong dengan diameter 0,60 m; 0,70 m; 0,90 m; 1,00 m.

Kata kunci : Drainase, Log Pearson III, Mononobe

PENDAHULUAN

Latar Belakang Dalam pembuatan tempat tinggal dan perumahan, perlu diperhatikan saluran yang akan dibuat. Saluran drainase merupakan suatu jaringan untuk menampung limpasan permukaan dan limbah rumah tangga. Perumahan Puri Edelweis dimana perumahan ini merupakan salah satu perumahan besar di kota Probolinggo, masih memiliki kekurangan dalam hal saluran drainase terutama saluran primernya. Masih banyak terjadi kerusakan pada dinding salurannya dan dimensi salurannya kurang sesuai dengan perencanaan.Berdasarkan uraian sebelumnya, maka akan direncanakan jaringan drainase yang sesuai dengan daerah tersebut sehingga nantinya dapat berfungsi dengan baik dan tidak merugikan mayarakat sekitar. Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Berapa debit air kotor yang berasal dari perumahan Puri Edelweis?

2. Berapa besar kapasitas saluran dapat menampung air hujan dan air kotor yang ada di perumahan Puri Edelweis?

3. Bagaimana dimensi saluran yang digunakan dalam jaringan drainase di perumahan Puri Edelweis?

2

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

TINJAUAN PUSTAKA

Drainase Drainase atau disebut juga saluran pembuangan memiliki fungsi sebagai saluran untuk mengalirkan air buangan atau air kotor dan juga limbah yang berasal dari rumah. Dalam bidang ketekniksipilan, secara umum drainase diartikan sebagai suatu tindakan untuk mengurangi kelebihan air baik dari air hujan, rembesan, maupun irigasi. Macam-macam Drainase

1. Menurut Asalnya, menurut asalnya drainase dibedakan menjadi saluran alam (natural) dan saluran buatan (artificial).

2. Menurut Letak Saluran

1. Drainase Permukaan

a. Drainase Memanjang

b. Drainase Melintang

2. Drainase Bawah Permukaan

Drainase bawah permukaan mempunyai fungsi utama yaitu untuk menampung dan membuang air yang masuk ke dalam strukur jalan, sehingga tidak sampai menimbulkan kerusakan pada jalan (Suripin, 2004:272).

3. Macam Drainase Menurut Konstruksi

Saluran terbuka

Saluran tertutup

4. Menurut Fungsi Drainase

a) Single Purpose

b) Multi Purpose

Syarat – Syarat Perencanaan Syarat itu meliputi tegangan geser, kecepatan ijin, tegangan geser, jenis aliran, dan banjir rencana. Data-data yang Dibutuhkan Data-data yang dibutuhkan dalam perencanaan saluran drainase tersebut meliputi:

1. Data hidrologi, yaitu data curah hujan dari stasiun hujan yang terdekat dengan lokasi

2. Peta topografi

3. Peta situasi

Lay Out Jaringan Drainase Penentuan lay out sistem drainase permukaan didesain berdasarkan hasil akhir peta kontur. Analisis Hidrologi Penyiapan Data Curah Hujan Data curah hujan yang digunakan dalam perencanaan drainase adalah data curah hujan harian maksimum minimal 10 tahun terakhir dari 3 stasiun hujan terdekat. (Loebis, 1984:8) Uji Konsistensi Uji konsistensi adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk mengecek konsisten dan tidak konsistennya suatu data hujan yang akan digunakan dalam suatu perencanaan (Soemarto, 1987:38). Agar data hujan tersebut konsisten, maka harus dikalikan dengan faktor koreksi. Rumus yang dipakai adalah :

fk

tanβ

tanγ

Keterangan :

(2.a)

(Soemarto, 1987 : 38)

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

3

fk

= Faktor koreksi.

tanβ

= Arah garis lurus sebagai trend baru.

tanγ

= Arah garis lurus sebagai trend lama.

Uji Homogenitas Setelah uji konsistensi dilakukan maka dilanjutkan dengan uji homogenitas yaitu suatu pengujian yang dilakukan untuk mengecek homogen atau tidak homogennya suatu data yang akan digunakan dalam perencanaan. Suatu kumpulan data yang akan dianalisis harus homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan meninjau apakah plot titik (N, TR) pada kertas grafik homogenitas berada pada batas yang homogen. Keterangan :

N = Jumlah data.

T R

R 10

R

T R

R 10

R

=

= Curah hujan rancangan dengan kala ulang 10 tahun.

= Rata-rata curah hujan. = Kala ulang untuk R.

.x.T

R sebagai

(Soemarto,

1987 : 38)

Curah Hujan Daerah Curah hujan daerah merupakan curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan dan bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. Tinggi rata-rata curah hujan didapatkan dengan mengambil harga rata-rata hitung (arithmetic mean) karena data yang digunakan adalah curah hujan harian pada penakar hujan dalam areal tersebut. Jadi :

d

d .

1

.d

2

.

.d

3

d

n

n

n

1

d

1

n

n

……

(2.b) (Soemarto, 1987 : 31)

Keterangan :

d

d 1 , d 2 , d 3 …….dn

n

= Tinggi curah hujan rata-rata areal = Tinggi curah hujan pada pos penakar 1, 2, 3……n

= Banyaknya pos penakar

Pengolahan Data Curah Hujan Rancangan Metode yang digunakan dalam menghitung curah hujan rancangan adalah Log Pearson tipe III

a. Ubah data ke dalam bentuk logaritmis, X = log X

b. Hitung harga rata-rata :

Log X =

n

l

i

logXi

n

…………………. (2.c)

c. Hitung harga simpangan baku :

Si =

(2.c) c. Hitung harga simpangan baku : Si =  (logXi  logX) 2 n 

(logXi

logX) 2

n

1

………………… (2.d)

d. Hitung koefisien kepencengan.

Cs =

n.

(logXi

logX)

2

(n

1)(n

2)Si

3

………………… (2.e)

e. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ualang dengan rumus

4

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

f. Log X = Log X + G. S…………………… (2.f)

g. Harga G tergantung dari koefisien skew (Cs) dan tingkat probabilitasnya, pada tabel yang merupakan nilai – nilai distribusi log pearson III.

h. Menghitung harga curah hujan rancangan dengan periode ulang tertentu dengan antilog X.

i. X = Invers log X

Uji kecocokan Penguji parameter digunakan untuk menguji kecocokan distribusi frekuensi sampel data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi tersebut. Pengujian parameter yang sering dipakai adalah uji Chi-Kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov.

Uji Chi-Kuadrat Pengambilan keputusan dari uji ini menggunakan parameter X 2 , yang dapat dihitung dengan rumus berikut :

X

2

h

G

Σ

i

1

O

i

E

i

2

E

i

………………

(2.g)

(Suripin, 2004:57)

Keterangan :

2

X h

G

O i

E i

= Parameter Chi-Kuadrat terhitung. = Jumlah sub kelompok. = Jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i. = Jumlah nilai teoritis pada sub kelompok i.

Interpretasi hasil uji adalah sebagai berikut:

1.

Apabila peluang lebih dari 5%, maka persamaan distribusi yang digunakan dapat

diterima.

4.

Apabila peluang kurang dari 1%, maka persamaan distribusi yang digunakan tidak

dapat diterima.

5.

Apabila peluang berada diantara 1-5%, maka tidak mungkin mengambil keputusan, misal perlu data tambahan.

Uji Smirnov-Kolmogorov Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non-parametric, karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

1. Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut X 1 = P(X 1 ) X 2 = P(X 2 ) X 3 = P(X 3 ), dan seterusnya.

2. Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data (persamaan distribusinya) X 1 = P(X 1 ) X 2 = P(X 2 ) X 3 = P(X 3 ), dan seterusnya

3. Dari kedua nilai tersebut, tentukan selisih terbesarnya antar peluang pengamatan dengan peluang teoritis.

D = maksimum (P(X n ) – P’(X n ))

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

5

Intensitas Curah Hujan Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu. Intensitas Curah Hujan dapat dibuat dengan Rumus Mononobe, rumus ini digunakan apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian. Rumus yang digunakan adalah:

I

R

24

24

t

24

2

3

……………….(2.h)

(Suripin, 2004 : 67)

Keterangan :

I = Intensitas curah hujan (mm/jam).

R24 = Curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm).

t = Lamanya curah hujan (jam).

Perhitungan Waktu Konsentrasi Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan untuk mengalir dari titik terjauh pada suatu daerah pengaliran menuju titik tertentu yang ditinjau sehingga akan didapatkan debit yang maksimum. Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan membedakannya menjadi dua komponen yaitu waktu konsentrasi terdiri dari waktu yang dibutuhkan oleh air hujan untuk mengalir diatas permukaan tanah ke saluran yang terdekat (to) dan waktu yang diperlukan air hujan mengalir di dalam saluran (td), sehingga :

t

c

.t . .t

o

d

Untuk to dapat dihitung dengan rumus :

to

 2 n   .x.3,28.x.L.x.    3  S 
 2
n
 .x.3,28.x.L.x.
3
S

menit …………(2.i)

(Suripin,2004 : 82)

(Suripin, 2004 : 82)

Sedangkan untuk td dapat dihitung dengan rumus :

td

Ls

menit…………………………

(2.j)

(Suripin, 2004 : 82)

60V

Keterangan :

 

t c

= Waktu konsentrasi dalam jam.

to

= Waktu limpasan menuju saluran (menit).

 

td

= Waktu aliran pada saluran dari satu titik ke titik lainnya (menit).

n

= Angka kekasaran Manning

S

= Kemiringan lahan.

L

= Panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m).

Ls

= Panjang lintasan lahan di dalam saluran/sungai (m).

V

= Kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).

 

Debit Banjir Rancangan Besarnya debit banjir rencana air hujan diatas permukaan tanah (limpasan hujan) ke saluran air hujan air hujan yang ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Luas permukaan daerah aliran.

2. Jenis permukaan tanah.

3. Intensitas hujan yang terjadi.

4. Nilai koefisien kekasaran pengaliran

Perhitungan ini menggunakan rumus sebagai berikut :

Q = C x I x A …………… Keterangan :

(2.k)

(Suripin, 2004:79)

6

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

Q

= Debit banjir rencana (m/dt)

C

= Koefisien pengaliran (tabel)

I

= Intensitas curah hujan (mm/jam)

A

= Daerah pengaliran (m 2 )

Jika A dalam Ha maka :

Q = 0,00278 x C x I x A…………

(2.l)

(Suripin, 2004:79)

Debit Air Kotor Debit air kotor adalah debit yang berasal dari buangan aktivitas penduduk seperti mandi, cuci dan lain-lain baik dari lingkungan rumah tangga, bangunan (fasilitas) umum atau instansi, bangunan komersial, dan sebagainya.

Tabel 1: Pembuangan Limbah Cair Rata-Rata Per Orang Setiap Hari

 

Volume Limbah

 
 

Jenis Bangunan

 

Cair

(liter/orang/hari)

Beban BOD

(gram/orang/hari)

Daerah Perumahan :

   

-

-

- Rumah besar untuk keluarga tunggal.

 

400

100

- Rumah tipe tertentu untuk keluarga tunggal.

300

80

- Rumah untuk keluarga ganda (rumah susun).

240

– 300

80

- Rumah kecil (cottage).

 

200

80

(Jika

dipasang

penggilingan

sampah,

kalikan

 

BOD dengan faktor 1,5)

 

Perkemahan dan Motel :

     

- Tempat peristirahatan mewah.

400

– 600

100

- Tempat parkir rumah berjalan (mobile home).

200

80

- Kemah wisata dan tempat parkir trailer.

 

140

70

- Hotel dan motel.

 

200

50

Sekolah :

     

- Sekolah dengan asrama.

   

300

80

- Sekolah siang hari dengan kafetaria.

 

80

30

- Sekolah siang hari tanpa kafetaria.

60

20

Restoran :

     

- Tiap pegawai.

 

120

50

- Tiap langganan.

25

– 40

20

- Tiap makanan yang disajikan.

 

15

15

Terminal transportasi :

     

- Tiap pegawai.

   

60

25

- Tiap penumpang.

 

20

10

Rumah sakit.

 

600

- 1200

30

Kantor

 

60

25

Teater mobil (drive in theatre), per tempat duduk.

 

20

10

Bioskop, per tempat duduk.

 

10

- 20

10

Pabrik, tidak termasuk limbah cair industri dan cafeteria.

60

- 120

25

Sumber : Soeparman dan Suparmin, 2001:30

Analisis Hidrolika

Bentuk-bentuk Saluran Drainase Dalam perencanaan ini, bentuk yang digunakan adalah :

1.

Segiempat/persegi

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

7

Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo 7 2. Lingkaran D Gambar 1: Penampang Persegi h Gambar

2. Lingkaran

D

Gambar 1: Penampang Persegi h
Gambar 1: Penampang Persegi
h

Gambar 2: Penampang Lingkaran Perencanaan Dimensi Saluran Rumus kecepatan rata-rata pada perhitungan dimensi penampang saluran menggunakan rumus Manning, karena rumus ini mempunyai bentuk yang sederhana tetapi memberikan hasil yang memuaskan. Untuk menghitung saluran dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut :

Manning

1

V= n

R

2

3

.

S

1

2

…………………….(2.m)

A …………………………….(2.n)

P

(2.o)

R=

Q= V . A ………………………

Keterangan :

V

= Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/detik)

Q

= Debit banjir rencana (m 3 /dtk)

n

= Koefisien kekasaran

R

= Radius hidrolik

S

= Kemiringan saluran

A

= Luas saluran (m 2 )

P

= Keliling basah saluran (m)

Tinggi Jagaan (Free Board) Jagaan suatu saluran adalah jarak vertikal dari puncak saluran ke permukaan air pada kondisi rencana. (Chow 1985:158 ) Kecepatan Maksimum dan Minimum yang Diijinkan

akan

1. Kecepatan

Maksimum

adalah

kecepatan

rata-rata

terbesar

yang

tidak

menimbulkan erosi pada tubuh saluran. (Chow 1984:164)

maksimum

dianjurkan seperti dalam KP-03, 1986:39, sebagai berikut :

Kecepatan-kecepatan

pada aliran sub kritis, dalam pemakaiannya

- Pasangan batu

: 2 m/dt

- Pasangan beton

: 3 m/dt

2. Kecepatan Minimum adalah kecepatan terendah yang tidak akan menimbulkan

ganggang. Untuk

sedimentasi

dan

mendorong

pertumbuhan

tanaman

air

dan

8

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

kecepatan rata-rata yang diizinkan kurang dari 0,6 m/det biasanya cukup untuk mencegah tumbuhnya tanaman air yang dapat menurunkan kapasitas angkut atau kapasitas hantaran suatu saluran (KP-03, 1986:79). Jenis Aliran Aliran dikatakan kritis apabila kecepatan aliran sama dengan kecepatan kritis ( kecepatan yang diijinkan ). Jika kecepatan aliran lebih kecil daripada kecepatan kritis (Fr < 1), maka alirannya disebut subkritis, sedangkan jika kecepatan alirannya lebih besar daripada kecepatan kritis, maka alirannya disebut superkritis (Fr >

1).(Anggrahini,1997:47)

Parameter yang menentukan ketiga jenis aliran tersebut adalah bilangan Froude (Fr) yaitu perbandingan antara kecepatan dengan gaya gravitasi. Bilangan Froude untuk saluran didefinisikan sebagai :

V Fr  g.x.h Keterangan :
V
Fr 
g.x.h
Keterangan :

V

= Kecepatan aliran (m/dt),

h

= Kedalaman aliran (m),

g

= Percepatan gravitasi (m/dt 2 )

(Anggrahini,1997:47)

Jenis-jenis Pasangan Banyak bahan yang dapat dipakai untuk pasangan saluran. Tetapi pada prakteknya di Indonesia hanya ada tiga bahan yang dianjurkan pemakaiannya:

- Pasangan batu

- Beton, dan

- Tanah (KP-03, 1986:36). Bangunan Pelengkap Gorong-gorong

D

x y r Gambar 3: Gorong-gorong
x
y
r
Gambar 3: Gorong-gorong

d

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

9

Metode Penelitian

START
START

Pengumpulan Data

Peta Topografi

9 Metode Penelitian START Pengumpulan Data Peta Topografi Data Curah Hujan Jumlah Penduduk Perhitungan Debit Kotor
9 Metode Penelitian START Pengumpulan Data Peta Topografi Data Curah Hujan Jumlah Penduduk Perhitungan Debit Kotor

Data Curah Hujan

Jumlah Penduduk

Perhitungan Debit Kotor

Perhitungan Debit Kotor

Perhitungan Debit Kotor
Perhitungan Debit Kotor
Data Curah Hujan Jumlah Penduduk Perhitungan Debit Kotor Uji Konsistensi dan Homegenitas Perhitungan Curah Hujan

Uji Konsistensi dan Homegenitas

Perhitungan Debit Kotor Uji Konsistensi dan Homegenitas Perhitungan Curah Hujan Daerah Gambar Lay Out Jaringan

Perhitungan Curah Hujan Daerah

Konsistensi dan Homegenitas Perhitungan Curah Hujan Daerah Gambar Lay Out Jaringan Perhitungan Curah Hujan rancangan

Gambar Lay Out Jaringan

Perhitungan Curah Hujan rancangan

Perhitungan Curah Hujan rancangan Perhitungan Luas Area
Perhitungan Curah Hujan rancangan Perhitungan Luas Area
Perhitungan Curah Hujan rancangan Perhitungan Luas Area

Perhitungan Luas Area

Perhitungan Luas Area
Perhitungan Curah Hujan rancangan Perhitungan Luas Area Perhitungan Intensitas Curah Hujan Perhitungan Waktu

Perhitungan Intensitas Curah Hujan

Perhitungan Luas Area Perhitungan Intensitas Curah Hujan Perhitungan Waktu Konsentrasi Perhitungan Debit Banjir

Perhitungan Waktu Konsentrasi

Perhitungan Waktu Konsentrasi Perhitungan Debit Banjir Rencana

Perhitungan Debit Banjir Rencana

Perhitungan Waktu Konsentrasi Perhitungan Debit Banjir Rencana

Perhitungan Dimensi Saluran

Gambar
Gambar

Metode Pelaksanaan

FINISH
FINISH

Gambar 4: Metode Penelitian

PEMBAHASAN Analisis hidrologi Penyiapan data hujan Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan bulanan maksimum tiap tahun yaitu jumlah hujan harian dalam satu bulan lalu dijumlahkan. Setelah itu dipilih curah hujan yang maksimum dalam satu tahun itu dilihat dari tiap bulannya .

10

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

Tabel 2: Curah Hujan Bulanan Maksimum Tiap Tahun

No

Tahun

STASIUN

STASIUN

STASIUN

   

WONOASIH

JORONGAN

TRIWUNG

1

 

1997 98

105

142

2

 

1998 92

54

118

3

 

1999 64

80

92

4

 

2000 96

91

84

5

 

2001 102

90

127

6

 

2002 87

76

118

7

 

2003 111

102

101

8

 

2004 199

78

11

9

 

2005 108

100

83

10

 

2006 85

63

75

   

104.200

83.900

95.100

Uji Konsistensi Uji konsistensi yang dilakukan

a.

Stasiun A terhadap stasiun B dan C.

b.

Stasiun B terhadap stasiun A dan C.

c.

Stasiun C terhadap stasiun A dan B.

a.

Uji Konsistensi Stasiun Wonoasih Terhadap Stasiun Jorongan dan Stasiun Triwung

1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 0.0 200.0 400.0 600.0
1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
0.0
200.0
400.0
600.0
800.0
1000.0
Kumulatif stasiun A

Kumulatif rata - rata stasiun B dan C

Grafik 2: Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Wonoasih Terhadap Stasiun Jorongan dan Triwung setelah Dikoreksi

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

11

b. Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Jorongan Terhadap Stasiun Wonoasih dan Stasiun Triwung 1000
b. Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Jorongan Terhadap Stasiun
Wonoasih dan Stasiun Triwung
1000
900
R 2 = 0,997
800
700
600
500
400
300
200
100
0
0,0
200,0
400,0
600,0
800,0
1000,0
1200,0

Grafik 3: Uji Konsistensi Stasiun B Terhadap Stasiun A dan C

c. Uji Konsistensi Data Curah Hujan Triwung terhadap Stasiun Wonoasih dan Stasiun Jorongan

1400 1200 1000 800 600 400 200 0 0.0 200.0 400.0 600.0 800.0 1000.0 Kumulatif
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
0.0
200.0
400.0
600.0
800.0
1000.0
Kumulatif Stasiun C

Kumulatif stasiun A dan B

Grafik 5: Uji Konsistensi Data Curah Hujan Stasiun Triwung Terhadap Stasiun Jorongan dan Wonoasih Setelah Dikoreksi

Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogen dan tidak suatu data yang akan digunakan dalam perencanaan. Karena data hujan yang baik adalah data hujan yang menunjukkan seragam dari waktu ke waktu, atau homogen. Uji homogentitas dilakukan dengan meninjau apakah plot (N, Tr) pada grafik homogenitas berada pada batas yang homogen.

12

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

12 NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31 Grafik 6: Uji Homogenitas Stasiun Wonoasih, Jorongan, dan

Grafik 6: Uji Homogenitas Stasiun Wonoasih, Jorongan, dan Triwung

Perhitungan Curah Hujan Daerah Curah hujan daerah adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan, bukan curah hujan pada satu titik tertentu. Data yang digunakan dalam perhitungan ini adalah data akhir hasil konsistensi yang homogen. Dalam perencanaan ini metode perhitungannya digunakan metode rata-rata aljabar karena data yang digunakan merupakan data hujan harian maksimum tiap tahun. Tabel 3: Perhitungan Curah Hujan Daerah

         

RATA-

No

Tahun

STASIUN

STASIUN

STASIUN

RATA

   

Wonoasih

Jorongan

Triwung

 

1

1997

98

105

142

115,000

2

1998

92

54

118

88,000

3

1999

64

80

92

78,667

4

2000

96

91

84

90,333

5

2001

102

90

127

106,333

6

2002

87

76

118

93,667

7

2003

111

102

101

104,667

8

2004

127.647

78

163.881

123,176

9

2005

69.276

100

118.279

95,852

10

2006

54.523

63

106.879

74,801

Pengolahan Data Perhitungan Curah Hujan Rancangan Metode Log Person Setelah menghitung curah hujan daerah kemudian dihitung besarnya curah hujan rancangan dengan Metode Log Pearson type III.

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

13

Tabel 4: Perhitungan Curah Hujan Daerah dengan Log Person Tipe III

       

Log X - Log X

(Log X - Log X)²

(Log X - Log X)³

Curah

X

P(%)

Log X

Hujan

   

115

123,176

9,090909

2,091

0,108

0,0118

0,00127

88

115,000

18,182

2,061

0,079

0,0062

0,00049

78,667

106,333

27,273

2,027

0,045

0,0020

0,00009

90,333

104,667

36,364

2,020

0,038

0,0014

0,00005

106,333

95,852

45,455

1,982

0,000

0,0000

0,00000

93,667

93,667

54,545

1,972

-0,011

0,0001

0,00000

104,667

90,333

63,633

1,956

-0,026

0,0007

-0,00002

123,176

88,000

72,727

1,944

-0,038

0,0014

-0,00005

95,852

78,667

81,818

1,896

-0,086

0,0074

-0,00064

74,801

74,801

90,909

1,874

-0,108

0,0117

-0,00127

jumlah

19,821

jumlah

0,0427

-0,00008

Rata2

1,982

s

0,0689

 

Cs

-0,03

Uji kecocokan Uji Chi-Kuadrat Uji Chi-Kuadarat digunakan untuk menentukan apakah persamaan distribusi yang telah dipilih dapat mewakili distribusi statistik sampel data yang dianalisis. Tabel 5: Perhitungan Chi-Kuadrat

     

X

X

(X em-X t)2/X

 

n

Tahun

empiris

teoritis

t

a

B

c

d

e

1

1999

123,176

130,000

0,3582

2

2000

115,000

119,120

0,1425

3

2002

106,333

111,500

0,2394

4

2006

104,667

106,000

0,0168

5

2003

95,852

96,850

0,0103

6

2005

93,667

95,620

0,0399

7

2001

90,333

94,032

0,1455

8

1998

88,000

92,000

0,1739

9

2004

78,667

80,130

0,0267

10

1997

74,801

77,435

0,0896

   

970,496

∑x²

1,2428

Diperoleh ΣX 2 tabel = 14,067 (derajat kepercayaan 5 %) ΣX 2 tabel lebih besar daripada ΣX 2 hitung, maka distribusi yang dipakai sesuai. Uji Smirnov-Kolmogorov Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non- parametric, karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu.

14

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

Tabel 6: Uji Smirnov Kolmogorov

No

Ch

P

P

[ΔP]

Empiris

Empiris

Teoritis

1

123,176

9,091

6,0

0,031

2

115,000

18,182

11,3

0,069

3

106,333

27,273

26,0

0,013

4

104,667

36,364

30,9

0,055

5

95,852

45,455

58,0

-0,125

6

93,667

54,545

66,0

-0,115

7

90,333

63,636

70,2

-0,066

8

88,000

72,727

72,0

0,007

9

78,667

81,818

88,1

-0,063

10

74,801

90,909

97,0

-0,061

Dilihat dari tabel nilai ∆P yang paling maksimum adalah 0,069 Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-kolmogorov test) n = 10 Do = 0,410----0,069 < 0,410 (Sesuai) Perhitungan Waktu Konsentrasi Contoh perhitungan blok NC saluran 7 - 8

1. Blok NC Saluran 7 - 8

2. Jenis saluran

= Tersier→TR = 5 Tahun

3. Ls (panjang saluran)

= 30,000 m

4. L (panjang limpasan)

= 15,000

a. = 4,5 m (jarak as jalan ke saluran)

b. = 15,000 m (panjang bagian belakang rumah ke saluran)

Jalan

Blok

5. A (Luas)

= 450,000 m2

a. Jalan

= 135,000 m2

b. Blok

= 450,000 m2

6. S (kemiringan limpasan)

a. Jalan

= 0.02

b. Blok

= 0,005

7. n (Koefisien kekasaran)

a. Jalan

= 0.013

b. Blok

= 0,02

8. C (koefisien limpasan)

a. Jalan

= 0,8 aspal

b. Blok

= 0,6

9. V (kecepatan rata-rata aliran dalam saluran) Karena kecepatan rata-rata dalam saluran =

a. Jalan

= 0,6 m/dt

b. Blok

= 0,4 m/dt

10. R 24 (curah hujan maksimum harian selam 24 jam (mm))

a. Jalan

= 109,647 mm.

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

15

11. to (waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan (waktu limpasan) menuju saluran terdekat)

 2 n  to   .x.3,28.x.L.x.    3  S 
 2
n
to
 
.x.3,28.x.L.x.
3
S
 2
n
  .x.3,28.x.L.x.
to jalan
3
S
2
0,016
.x.3,28.x.6,000.x.
to jalan
  
3
0,020
= 1,095 menit
2
0,030
.x.3,28.x.L12,750x.
to blok
3
0,005

= 1,025 menit. 12. td (waktu aliran pada saluran dari satu titik ketitik lainya)

td

Ls

60V

menit

60 = satuan konversi dari jam ke menit.

td jalan

108,750

60.x.0,600

td blok

= 0,833 menit.

108,750

60.x.0,400

= 1,25 menit tc (waktu konsentrasi dalam jam)

.t . .t tc jalan

t

c

o

d

= to + td

tc blok

= 1,095 + 0,833

= 1.929 menit = 0,032 jam.

= to + td

= 1,025 + 1,25

= 2,275 menit = 0,038 jam.

Perhitungan Intensitas Curah Hujan Untuk menghitung intensitas curah hujan digunakan rumus Mononobe, karena data yang ada adalah data curah hujan harian. Curah Hujan (R 24 ) pada kala ulang 10 tahun = 117,489 mm. Rumus Mononobe

I

R

24

24

t

24

2

3

(Suripin,2004:67)

Keterangan :

I = Intensitas curah hujan (mm/jam).

R24 = Curah hujan maximum dalam 24 jam (mm).

t = Lamanya curah hujan (jam).

16

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

Contoh perhitungan

I

R

24

24

t

24

2

3

I jalan

117,489

24

24

0,032

2

3

= 376,817 mm/jam.

I

blok

117,489

24

24

0,038

2

3

= 337,521 mm/jam

Debit Banjir Rancangan Contoh perhitungan pada blok C1 saluran 7 – 8. Jika A dalam Ha maka :

Q

Q blok

Q jalan

Q total

= 0,00278 x C x I x A

= 0,00278 x 0,600 x 337,521 x 0,045 = 0,00278 x 0,800 x 376,817 x 0,014

= 0,025 + 0,011

= 0,036 m 3 /dtk.

= 0,025 m 3 /dtk. = 0.011 m 3 /dtk.

Debit Air Kotor Debit air kotor diperhitungkan sebagai berikut:

Debit air buangan tiap orang = 300 lt/orng/hari

= 0,003472222 lt/org/jam

= 0,000003472 m 3 /org/detik.

Pada saluran 7 – 8

1. Jenis saluran

2. Jumlah rumah

3. Tipe rumah

4. Banyaknya penghuni

5. Jumlah penghuni total

6. Debit air kotor (Q)

: tersier : 2 unit : 60 : 5 orang/rumah : 10 orang : 10 x 0,000003472 : 0,0000347 m 3 /dtk.

Perhitungan Debit Kumulatif Debit total saluran drainase adalah penjumlahan dari debit air hujan dan debit air kotor dari rumah tangga. Contoh perhitungan 1 untuk saluran 7 - 8

1. Saluran

2. Saluran sebelumnya

: 7 – 8

:

-

3. Jenis saluran

: Tersier

4. Limpasan dari

: blok dan jalan

5. Debit aliran air hujan(Q1) :

Blok

: 0,025 m 3 /detik.

Jalan

: 0,010 m 3 /detik.

6. Debit aliran air kotor(Q2)

: 0,0000347m 3 /detik

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

17

: (0,025+0,010) + 0,0000347

: 0,035 m 3 /detik.

Contoh perhitungan 2

1. Saluran

: 8 – 9

2. Saluran sebelumnya

: 7 – 8

3. Q 7 – 8

: 0,0367 m 3 /detik.

4. Jenis saluran

: Sekunder

5. Limpasan dari

: blok dan jalan

6. Debit aliran air hujan(Q1) :

Blok

: 0,042 m 3 /detik.

Jalan

: 0,016 m 3 /detik.

7. Debit aliran air kotor(Q2)

8. Debit total

: 0,0000694 m 3 /detik

: Q1 + Q2 + Q 7 - 8

: (0,042 + 0,016) + 0,035

: 0,093 m 3 /detik.

Perencanaan Dimensi Saluran Contoh perhitungan untuk blok NC saluran 7 – 8

- Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls)

- Elevasi muka tanah asli di titik 7

- Elevasi muka tanah asli di titik 8

- Kemiringan tanah asli

=30,000 m

= 17,640 m = 17,600 m

=

elevasi.7 .elevasi.8 Ls

- Lebar (B) dicoba 0,80 m

B

- Dipakai tinggi (h) = 2

= 17,640 17,600 m

30,000

= 0,0013

=

0,8 = 0,4 m.

2

- Luas penampang basah (A)

- Keliling basah (P)

-Jari-jari hidraulik (R)

= B.h

= 0,8.0,4

= 0, 32 m 2

= B+2h

=

0,8 + 2.0.4

=

1.6 m

A

=

 

P

0.24

=

 

1.4

=

0.2 m

-Koefisien Kekasaran Manning Dari tabel 2.9 untuk nilai n bata dalam adukan semen nilainya 0,025

18

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

V

=

=

1

2

3

1

2

2

n

.x.R .x.s

1

0,025

.

x

3

.0,2 .

x

= 0,493 m/dt

.0,0013

1

2

Kecepatan yang dizinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga kecepatan aliran tidak memenuhi namun lebar bisa dipakai. Jadi

penyelesaiannya dengan cara mengurangi elevasi akhir sebesar 0.03 m.

- Kemiringan lahan (s) =

elevasi awal. .elevasi akhir

Ls

V

=

1

n

2 1

3

.x.R .x.s

2

=

(16,640 0,03) 16,570 m

30,000

= 0,012

=

1

0,025

.

x

.0,20

2

3

.

x

.0,012

1

2

= 1,478 m/dt

- Debit (Q hitung )

= V x A 1,478 x 0,32 0,473 m/dt = 0,035 m/dt

=

=

- Q rencana

Karena debit hitung lebih besar dari debit rencana maka dimensi yang direncanakan

bisa dipakai.

- Bilangan froude (Fr)

V 1,478 = = = 0,747 g.x.h 9,8. x .0,4
V 1,478
=
=
= 0,747
g.x.h
9,8.
x .0,4

Maka jenis aliran subkritis

- Tinggi jagaan (Fb) Fb = 0.33 x h = 0,33 x 0,4 = 0.14 m

- Elevasi Muka Air

Muka Air Awal

= Elevasi tanah asli awal (titik 7) – 0,14

= 17.640 – 0,14

= 17,500 m.

Muka Air Akhir

= Elevasi muka air awal (titik 7) – (Ls x s)

= 17,500 – (30,000 x 0,012)

= 17,460 m.

- Elevasi Dasar Pasangan

Elevasi Dasar Pasangan Awal

= Elevasi muka air awal (titik 7) - h

= 17,500 – 0,40

= 17,100 m

Elevasi Dasar Pasangan Akhir

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

19

= Elevasi muka air awal (titik 7) - (Ls x s)

= 17,500 – (30,000 x 0,012)

= 17,60 m

- Elevasi Atas Pasangan

Elevasi Atas Pasangan Awal

= Elevasi muka air awal + Fb (titik 7)

= 17,500 + 0,14

= 17,640

Elevasi Atas Pasangan Akhir

= Elevasi muka air akhir (titik 7) + Tinggi jagaan ( Fb )

= 17,46 + 0.14

= 17,60 m

Perencanaan Dimensi Gorong-gorong

Contoh Perhitungan Gorong-gorong pada saluran 12 – 71

1. Blok

2. Saluran titik awal

3. Saluran titik akhir

4. Jenis saluran

5. Saluran sebelumnya

6. Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (Ls)

7. Elevasi muka tanah asli awal

8. Elevasi muka tanah asli akhir

= NB = 38 = 67 = gorong-gorong

= 21 - 38 , 73 – 38 ( Q = 0,334 )

= 8,000 m

= 12,750 m = 12,710 m

D

x y r a
x
y
r
a

h

Alternatif 1 :

Jari-jari gorong-gorong dicoba (r) = 0,30 m

- A = 2,738 r²

= 2,738 0,30 2

= 0,246 m 2

- P = 4,5 r

= 4,5 . 0,30

= 1,35 m

- R = 0,608 r

= 0,608. 0,30

= 0,18

20

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

- Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli :

= (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls

= 12,75 12,71 = 0,005

8

- Koefisien Manning :untuk nilai n beton nilainya 0,013

- Kecepatan dalam saluran

V =

1 2 R 3 S
1
2
R
3
S

n

1 2 = 0,183 3 0,005 0,013 = 1,75 m/detik
1
2
=
0,183
3
0,005
0,013
= 1,75 m/detik

Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga diameter bisa dipakai.

Kontrol debit :

Q = V. A

= 1,75. 0,246

= 0,43 m3/dt > Q. Rencana ( dapat digunakan )

Alternatif 2 :

Fb = D – h = 0,60 – 0,48 = 0.12 m y = 0,18
Fb
= D – h
= 0,60 – 0,48
= 0.12 m
y = 0,18 m
r = 0,30 cm
18
Cos a = 30

a = 53,15 o

β = 360 – 2 a

L

r = 0,30 cm 18 Cos a = 30 a = 53,15 o β = 360

= 360 – 106 = 254

=

2a xr

2

360

= 254 xr

360

2

= 0.199

h = 0.814 D (SNI)

sin

α

sin 53,15

=

=

x

r

x

r

x = 0,799 r = 0,239

L

L

=D (SNI) sin α sin 53,15 = = x r x r x = 0,799 r

=

=

1

2 xy

1

0,239 x 0,18x 2

0,022

= L 53,15 = = x r x r x = 0,799 r = 0,239 L L =

(A)

+ 2 L

= = x r x r x = 0,799 r = 0,239 L L = =
= = x r x r x = 0,799 r = 0,239 L L = =

=

0,199 + 2 x 0,022

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

21

P

R

= 0,243

=

x

2

r

=

=

=

360

254

360

1,31

A

x2r

P

0,243

=

1,31

= 0,21

- Kemiringan pada dasar saluran menggunakan muka tanah asli :

= (Elevasi awal – Elevasi akhir)/ Ls

=

12,75 12,71 = 0,005

8

Kontrol s

-

Kecepatan aliran dalam saluran (V)

=

2

=

s

=

1

n

2 1

3

.x.R .x.s

2

1

.

x

0,013

0.00547

2 1

3

.0,21 .

x s

.

2

- Koefisien Manning : untuk nilai n beton nilainya 0,013

- Kecepatan aliran dalam saluran (V)

=

=

1

n

2

3

.x.R .x.s

1

2

1

0,013

.

x

.0,21

= 1,94 m/dt

2 1

3

.

x

.0,005

2

Kecepatan yang dijinkan antara 2 m/detik sampai 0,6 m/detik, sehingga

kecepatan aliran memenuhi.

- Kontrol Debit :

Q = V x A

= 1,94 x 0,243

= 0,45 m³/detik

- Debit rencana = 0,348 m³/detik Debit hitung lebih besar dari debit rencana maka diameter dan kemiringan bisa dipakai.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Berdasarkan hasil perencanaan jaringan drainase Perumahan Puri Edelweis Kota Probolinggo, dapat disimpulkan bahwa :

22

NEUTRON, VOL.9, NO.1, FEBRUARI 2009 : 20-31

1. Debit air kotor didapat dari debit air buangan tiap orang dikalikan banyaknya penghuni tiap rumah. Seperti pada saluran 7 – 8 didapat debit air kotor = 0.0000347 m 3 /dtk.

2. Besaran kapasitas saluran dapat menampung air hujan dan air kotor diperoleh dari perhitungan debit ( Q hitung ) dibanding terhadap debit rencana ( Q rencana ). Seperti pada saluran 7 – 8 diperoleh :

- Debit ( Q hitung ) = 0,223 m/dtk - Debit Rencana( Q rencana ) = 0,037m/dtk. Karena debit hitung lebih besar dari debit rencana maka kapasitas saluran terpenuhi dalam artian tidak akan terjadi banjir.

3. Lay Out Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis.

3. Lay Out Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis. Keterangan : = Lebar : 1,00 m ;
Keterangan :
Keterangan :

= Lebar : 1,00 m ; Tinggi : 0.50 m = Lebar : 0,60 m ; Tinggi : 0.30 m = Lebar : 0,80 m ; Tinggi : 0.40 m = Lebar : 0,70 m ; Tinggi : 0.35 m

4. Dari perhitungan, didapatkan dimensi yang berbentuk persegi dengan 5 ukuran

berbeda yaitu b = 1 m dan h = 0,5 m, b = 0,8 m dan h = 0,4 m, b = 0,7 dan h =

0,35 m,

b = 0,6 m dan 0,3 m. Selain itu didapatkan juga gorong – gorong

dengan diameter 0,60 m; 0,70 m; 0,90 m; 1,00 m.

Jumlah dimensi saluran

a. Dimensi saluran lebar 0,60 m dan tinggi 0,30 m

= 6 buah

b. Dimensi saluran lebar 0,70 m dan tinggi 0,35 m

= 22 buah

c. Dimensi saluran lebar 0,80 m dan tinggi 0,40 m

= 20 buah

d. Dimensi saluran lebar 1,00 m dan tinggi 0,50 m Jumlah dimensi gorong-gorong

= 21 buah

a. Dimensi gorong-gorong Ø 0,60 m dan tinggi 0,488 m

= 11 buah

b. Dimensi gorong-gorong Ø 0,70 m dan tinggi 0,570 m

= 1 buah

c. Dimensi gorong-gorong Ø 0,90 m dan tinggi 0,733 m

= 1 buah

Pemanfaatan Metode Log Pearson III dan Mononobe Untuk Jaringan Drainase Perumahan Puri Edelweis Probolinggo

23

d. Dimensi gorong-gorong Ø 1,00 m dan tinggi 0,814 m

Saran

= 1 buah

1. Pelaksanaan saluran drainase sebagai fasilitas umum harus didahulukan sebelum membangun rumah agar tidak terjadi banjir atau dilakukan secara bersamaan.

2. Gorong-gorong direncanakan untuk semua titik perlintasan.

3. Dalam perencanaan drainase, sangat penting untuk memperhatikan lay out dan

kontur agar tidak terjadi kesalahan dalam perencanaan. DAFTAR PUSTAKA Anonim (1990), Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan SKSNI T-07- 1990, Jakarta: Departemen PU Chow, Ven Te (1992), Hidrolika Saluran Terbuka, Terjemahan, Jakarta: Penerbit Erlangga Harto BR, Sri (2003), Analisis Hidrologi, Jakarta: PT. Gramedia Soemarto, CD (2006), Hidrologi Teknik, Malang: PPMTT Sosrodarsono dan Takeda (2006), Hidrologi Untuk Pengairan, Edisi ke Sepuluh, Jakarta: Pradnya Paramita Suripin (2004), Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan, Yogyakarta: Penerbit ANDI.