Anda di halaman 1dari 5

Fresh dari Jogyakarta: Pengaosan Mocopat Syafaat April 2011

REP | 18 April 2011 | 07:51 297 10 19 dari 19 Kompasianer menilai aktual

Tepat sehari sebelum malam bulan Purnama, dari jam 20.00 sampai jam 03.00 dini hari pagi di halaman TKIT Alhamdulillah, TK nya eyang Novia Kolopaking berlangsung pengaosan (pengajian) bersama Kiai Besar Emha Ainun Najib diiringi Grup Musik Kiai Kanjeng yang selalu memainkan nada-nadanya dengan cinta. Pengajian semacam ini yang kemasan maupun isinya berbeda dari pengajian kebanyakan diselenggarakan pula dikota lainnya setiap bulannya, ada kemarin di Jakarta, namanya Kenduri Cinta. Besok 18 April di Jombang, namanya Padangmbulan, besoknya lagi 19 April di Surabaya, namanya Bangbang Wetan. Acara dibuka dengan tilawah Al Quran lebih kurang 1 jam, kemudian dilanjutkan dengan sajian beberapa nomor dari Kiai Kanjeng. Nomor yang dibawakan di awal diantaranya Hasbunallah dan abcd, mantap sekali ini tembang, kalau mau tahu seberapa mantapnya, nanti segera saja meluncr ke Jombang atau Surabaya besok, siapa tahu akan dibawakan lagi. Ini ada sedikit review saja : Ritme Jawa : Ji Ro Lu Pat (1, 2, 3, 4) Ritme Ji ro lu pat ini juga terjadi di presiden2 kita, ji (pertama) Sukarno, ro (kedua) Suharto, Habibie bukan ketiga, karena Habibie hanya penggantinya, lu (ketiga) Gus Dur, Megawati bukan keempat, karena Megawati hanya meneruskan, dan pat (keempat) adalah SBY. Keempat presiden itu turun dengan cara yang ya begitu itu .Presiden pertama turun karena kudeta, presiden kedua turun karena diminta oleh rakyatnya turun, presiden ketiga turun karena sidang istimewa. Nah, bagaimana dengan presiden keempat?

Emha mengatakan, yang keempat ini dipastikan tidak akan turun dengan cara yang ke ji ro lu itu, kudeta tidak mungkin, rakyat menurunkan juga sekarang sudah ogah, sudah acuh tak acuh, mau diturunkan oleh sidang istimewa, masa iya tofik kiemas mau memimpin sidang menurunkan SBY, tidak mungkin juga. Lalu, yang keempat ini akan turun karena apa? Haha. karena turun sendiri. Bukan si mendoakan, tapi bisa saja karena pesawatnya jatuh, struk, atw, macem-macemlah. Rujak dengan pretensi Dawet Materi diatas dilanjutkan dengan beberapa materi lainnya yang begitu ngeh yang kalau dituliskan semua ya bikin kemeng ini jari. Biar Mas Helmy sekretarisnya yang meriview lengkapnya di blognya Buletin Mocopat Syafaat, monggo search aja. Berikutnya Emha menjelaskan tentang rujak dan dawet, jangan saat makan dawet kamu berharap merasakan rujak? akan kecewa kamu. Begitu juga sebaliknya, kalau itu rujak, jangan dirasakan sebagai dawet. Maksudnya, jangan penjelasan itu ditelan mentah-mentah, yang humor, yang kelakar, yang ilmu hukum, yang hipotesis sosial dan sebagainya jangan kelira-liru. Yang Kesetanan bukan Setan Indonesia itu memang kentara sekali sekulernya, contohnya ya itu, majelis ulama membuat fatwa ini dan itu, padahal tidak ada fatwa-fatwa pendahuluannya. Hal lainnya adalah ulama itu identik dengan ilmu agama, tidak mengilmui masalah pertanian, kemacetan lalu lintas, kriminalitas, media, dsb. Akibatnya, ketika ada ahmadiyah, apakah PB NU, PB Muhammadiyah memberikan penerangan kepada masyarakat? ketika terjadi kemacetan fatal di Merak apakah ada penerangan dari ulama? Ketika ada bom cirebon, apakah masyarakat dibuat tahu? Itu adalah tugas ulama padahal. Makanya dibentuk Nahdatul Muhammadiyah. Kembali ke soal sekuler, Indonesia itu dalam bernegara tidak melibatkan Tuhan benar-benar. Cuma melibatkan sifatnya saja, itu juga cuma satu : Ketuhanan yang Maha Esa. Apakah Ketuhanan itu Tuhan? Bukan, analoginya adalah kesetanan. Yang kesetanan pasti bukan setan, tapi manusia. Cuma kok tidak ada setan kemanusiaan ya, hehehe Indonesia belum ada Indonesia itu sejatinya belum ada, ibarat Indonesia adalah nasi, sudah tiga kali menanak nasi dibatalkan terus. Sukarno menanak nasi, baru mau mateng, sudah dibilang : ini nggak enak, terus di gliwangkan itu dari atas kompor, ganti orang, gantian Suharto yang disuruh menanak nasi, belum mateng, sudahdigliwangkan lagi, ganti lagi Gusdur, belum mateng digliwangkan lagi, nah ganti SBY yang katanya akannggilwang sendiri. Jadi, ada nasi tidak? tidak ada, wong belum mateng sudah dibuang menanak beras yang lain. Begitulah, jadi sudah ada Indonesia belum? Belum.

Perdikan Indonesiaraya (Indonesiaraya digabung, tidak dipisah Indonesia Raya) Indonesia itu nasibnya sama seperti Argentina, karena keduanya punya kesamaan yakni huruf tengahnya huruf N. Makanya harus diganti nama ini solusinya. Emha usul, namanya diganti jadi Indonesiaraya, ini yang benar.Wong sudah ada lagunya kok, di lagunya kan : Hiduplah Indonesiaraya, bukan Hiduplah Indonesia. Nah, karena demokrasi, republik, itu kan enggak jelas dulu dasar pemilihannya, dan terlalu kental unsur copasnya, maka usulnya berikutnya, sebaiknya bikin formula negara sendiri saja, jangan republik, tapi jangan juga kerajaan, ngarang saja, misalnya diberi nama Perdikan. Nah perdikan seperti apa. bulan depan datang saja ke Jogyakarta Mocopat syafaat berikutnya tanggal 17 Mei. Nahdhatul Muhammadiyah kumpul setiap Rabu Malam Mustowfa W Hasyim ditunjuk Emha untuk mengetuai ini, ditambah beberapa tokoh, dari guru besar sampai ahli IT untuk menjalankan organisasi bernama Nahdhatul Muhammadiyah ini. INi tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah, maupun NU. Nahdhatul Muhammadiyah visi besarnya adalah ewang-ewangi PBNU, PP Muhammadiyah, Al Irsyad dan semua ormas Islam di Indonesia untuk menyajikan data empirik dan faktual seputar persoalan di masyarakat. Jadi, ketika ada masalah seperti Bom Cirebon, Ahmadiyah, ada pihak dalam hal ini ulama, yang memberikan penerangan kepada masyarakat. Majelis ulama dan organisasi islam saat ini keliru, mengkotaki ulama hanya harus pinter dalil saja, padahal ulama harus bisa menjadi pendamping umaro (pemerintah) di semua sektor kehidupan. Harus dibagi-bagi, ada ulama yang ahli pertanian, agar bisa mengeluarkan fatwa pertanian, ada ulama yang ahli perrokokkan, agar bisa mengeluarkan fatwa rokok dengan ilmu, dan seterusnya. Mahasiswa Menggugat Disela-sela acara ada seorang ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dari salah satu kampus besar di Jogya yang maju ke atas panggung, lucu sekali dia, dengan nada emosi anak muda mahasiswa semester 6 mengatakan membenci beberapa hal yang disampaikan emha, padahal dia menelan ludahnya sendiri. Emha hanya manggut-manggut, dan kemudian memberikan respon yang begitu cantik, saya juga terpukau dengan respon Emha. Tapi dari peristiwa itu, saya jadi tahu, bisa jadi ada 1000 orang sama-sama menuntut ilmu, di tempat, waktu dan pembicara yang sama, tapi tidak semua 1000 orang itu terbuka hatinya dan menerima ilmu itu. Saya juga heran, perasaan microfonnya cukup keras, kedengeran sampai radius 500 meter, tapi dia menggugat hal-hal yang sebenarnya sudah disampaikan. Misalnya dia bilang begini : saya paling benci seperti pernyataan Emha itu yang memisah-misahkan, ulama dan agamanya, pemerintah dan pemerintahannya. Lah baru juga tadi Emha bilang, ulama dibagi-bagi menguasai semua sektor kehidupan, agar bisa mendampingi pemerintah.

Terus dia promosi, ayo semua kembali ke Muhammadiyah, karena Muhammadiyah AD ART nya bagus. Padahal tadi di awal dijelaskan, kita jangan terjebak oleh polarisasi kelompok, kembalilah pada substansi penyembahan kepada Allah SWT. Dan Emha juga mengkritik, PP Muhammadiyah dan PBNU yang tidak memberikan penerangan2 pada masalah2 yang meresahkan masyarakat. Buat Apa AD ART bagus kalau implementasinya nul.

Letto dan kekakuan orang Singapura Lalu Letto walau tanpa Noe tampil, sharing perjalanan dia konser di Singapura. Bahwa disana Indonesia sangat disambut, wah mereka puas tampil disana, dari audience singapura yang kakukaku, bisa dibuat cair oleh Noe & the band. Resepnya adalah karena sebelum manggung, di Jogya mereka bergladi resik dengan nama Caos Sajen, jadi main di studionya di Kadipiro, tapi personel kiai kanjeng yang diundang sebagai audience disuruh mencari kejelek-jelekannya, saking banyaknya, sampai seolah-olah jelek semua itu penampilannya. Puisi Rusak-Rusak Mustofa W Hasyim membawakan seperti biasa puisi ciptaannya. Sepanjang saya mengikuti Maiyahan Mocopat Syafaat ini setiap bulan dari pertama kali dulu, menurut saya ini puisi yang paling bagus. Haha ada judul doa pembunuh nyamuk, ada judul, serigala berbulu musang, sampai serigala berbulu ayam. walaupun kata-katanya konyol, tapi pesannya sangat dalam sekali.

Nyicil ke Allah Bahwa, kita bukan penentu tunggal takdir kita, dalam konteks pribadi maupun negara, pada hal-hal yang diluar batas kemampuan kita, sudah tawakal kepada Allah. Yakinlah, bahwa mekanisme diluar diri kita itu ada, Allah itu bisa membuat apa saja, menurunkan mekanisme apa saja. Kalau bangsa ini sudah terlalu bobrok, dan dengan jalan apapun kita tidak bisa menyelesaikan, sudah percayalah Allah punya mekanismenya sendiri. Kalau masalah pribadi kita terlalu berat, dan dengan jalan apapun kita tidak bisa menyelsaikan, sudah percayalah Allah punya mekanismenya sendiri. Yang penting kita terus nyicil ke Allah, ya dengan berdoa, menuntut ilmu, dsb.. An Nur 35 Kembali ditutup dengan lantunan Hasbunallah Wanimal Wakil dan seperti biasa renungan Sohibu Baiti acarapun berakhir dengan satu pesan penutup dari Emha, agar jamaah mencoba menghafalak Q.S. An Nur yang 2 bulan lalu di jlentrehkan maknanya panjang lebar, dihafalkan sebagaimana kita lazimnya menghafalkan ayat kursi selama ini. Semoga bermanfaat, ini cuma dhawet, jangan bayangkan rujak, nanti kecewa, nanti kesal sendiri.