Anda di halaman 1dari 2

Penelitian Terbaru tentang Kepiting (2)

Makassar, (KBSC) Bayam ini diekstrak kemudian kandungan hormon molting yang terdapat pada bayam disuntikkan pada pangkal kaki kepiting. Hal ini dilakukan karena pangkal kaki kepiting mempunyai bagian yang lunak serta memiliki pembuluh darah, sehingga memudahkan kerja hormonal untuk molting. Hasilnya cangkang yang dulunya keras akan menjadi lunak setelah disuntikkan dengan hormon molting yang terdapat pada bayam tadi, sehingga memudahkan konsumen untuk mengonsumsinya. Selain itu, nilai nutrinya juga lebih tinggi karena mengandung chitosan dan karotenoid yang terdapat pada cangkang kepiting. Ibu kelahiran Makassar 23 Januari 1965 ini tidak sendiri. Ia bersama timnya dari Balai Riset Budidaya Perikanan Air Payau Kabupaten Maros. Lokasi penelitian mereka di Balai Riset Budidaya Perikanan Air Payau di desa Bontoloe, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar. Saat ini kami masih uji coba melakukan tahap laboratorium dalam skala kecil dan kelak ditindaklanjuti dalam skala besar. Insya Allah tahun depan kita sudah dapat mengenalkannya kepada masyarakat, harap Ibu yang medapat gelar doktornya di Institut Pertanian Bogor ini. Selama ini kepiting diburu secara liar oleh para nelayan di perairan nusantara. Apalagi permintaan pasar ekspor yang mengutakamakan kepiting betina yang masih bertelur. Penangkapan kepiting secara liar ini telah mengakibatkan populasi kepiting menurun dan mengganggu ekosistem alam. Oleh karena itu, perempuan yang akrab dipanggil Ibu Yus ini, mengharapkan adanya pembudidayaan kepiting oleh masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan ini. Kalau kepiting diburu terus di alam, maka itu akan habis. Jadi kita memang harus mengadakan pembenihan, ujar ibu yang memakai jilbab ini. Menurutnya banyak daerah yang berpotensi untuk mengembangkan usaha budidaya kepiting ini, misalnya memberdayakan kembali tambak udang yang ada di Kabupaten Barru. Secara ekonomi budidaya kepiting ini akan mengahasilkan keuntungan yang besar karena merupakan komoditas ekspor yang menjanjikan. Saat ini, di Sulsel jenis kepiting yang cocok untuk dibudidayakan yakni kepiting bakau dan kepiting rajungan. Kedua jenis kepiting ini dapat dijumpai dengan mudah di alam. Kepiting bakau dapat ditemukan di alam terbuka dan sebagian kecil telah dibudidayakan oleh masyarakat. Biasanya terdapat di beberapa daerah aliran sungai, dan sawah-sawah petani. Sedangkan kepiting rajungan dapat hidup di beberapa habitat, termasuk tambak-tambak ikan di perairan pantai yang mendapat masukan air laut dengan baik. Kepiting ini juga dapat hidup pada kedalaman 0-6 meter.

Petambak kepiting tak perlu menunggu lama untuk memanen kepitingnya. Cukup dalam waktu tiga bulan kepiting yang dibudidayakan ini sudah dapat dipanen. Kepiting sudah bisa di disuntikkan dengan hormon molting setelah berumur kurang lebih satu bulan atau ukuran kepiting sudah mencapai 7 cm. Setelah molting ukuran kepiting ini dapat bertambah menjadi 9-10 cm atau mencapai pembesaran 30 persen. Setelah itu dipelihara lagi sampai kurang lebih satu bulan. Kedua jenis kepiting ini umumnya dijual dalam bentuk segar, sedangkan untuk ekspor daging kepiting ini umumnya dalam bentuk daging beku yang dikemas dalam kaleng. Membudidayakan kepiting dengan sendirinya dapat memberikan keuntungan secara ekonomi maupun sosial. Industri kepiting membutuhkan tenaga kerja yang banyak, mulai dari penangkapan, pengumpul, dan pembudidaya. Dari banyaknya proses ini membutuhkan tenaga kerja yang tak sedikit. Bila usaha ini dapat merangsang bisnis desa maka mengurangi arus urbanisasi dari desa ke kota. Tahun depan kita mencoba untuk uji coba secara lapangan kepada masyarakat. Hitung-hitung mencoba untuk berpartisipasi mencipatakan lapangan kerja itu cita-cita mulianya, ujar dosen yang telah merangkumkan bukunya yang berjudul ''Mengenal Kepiting Komersil di Dunia'' ini. (h.m.dahlan abubakar - ProFiles - bersambung) Diposkan oleh SULTAN DARAMPA di 4/30/2011 10:33:00 AM

http://sulawesichannel.blogspot.com/2011/04/penelitian-terbaru-tentang-kepiting-2.html 24/02/2012