Anda di halaman 1dari 21

RANGKUMAN MATERI ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN

Disusun oleh: Synthia Zaesalia Soetanto 12010011032

Preseptor: Fahmi Arief Hakim, dr., Sp.F.

UN I VE R

AS ISLAM B IT A S
UN G ND

UL TA S

T K EDOK

SMF ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN RS BHAYANGKARA SARTIKA ASIH BANDUNG 2012

RA N

FAK

MATERI STASE ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN


I. PROSEDUR MEDIKOLEGAL

1. Kewajiban Hukum Sebagai Dokter Dalam Membantu Proses Peradilan melakukan pemeriksaan yang diminta memberikan keterangan yang diperlukan disumpah melaksanakan prosedur hukum yang diperlukan

2. Bentuk Bantuan Dokter Umum Dalam Membantu Proses Peradilan Yaitu : membantu menentukan apakah tindak pidana atau bukan ketika masa penyelidikan (korban sudah mati/belum, menentukan cara

kematiannya, juga dapat mencari-mengumpulkan-dan menyelamatkan barang bukti sebagai sampel) Penyelidikan belum ditentukan apakah kasus merupakan tindak pidana. Penyidikan tahap pemeriksaan tindak pidana.

3. Prosedur Permintaan Bantuan Dokter (dari pihak berwenang) Pihak pemohon (penyelidik, penyidik, penyidik pembantu, jaksa, polisi militer) dalam bentuk surat diberikan kepada dokter disertai dengan pengiriman : jenazah *diberi label-segel / korban hidup buat Visum et repertum dalam bentuk tertulis hasil keterangan hanya dapat diberikan kepada pihak pemohon. # penyelidik polisi # penyidik minimal berpangkat Letnan Dua # penyidik pembantu minimal berpangkat Sersan Dua

II.

PENGANTAR ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Ilmu Kedokteran Forensik adalah salah satu cabang spesialistik ilmu kedokteran yang memanfaatkan ilmu kedokteran untuk membantu penegakkan hukum dan masalah-masalah di bidang hukum.

III.

PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK

1. Sistematika Pemeriksaan Luar Mayat Umur, jenis kelamin, ras, ciri-ciri fisik, tinggi badan, berat badan, dan status gizi Malformasi kongenital bila ada Deskripsi singkat tentang pakaian jika dicurigai ada penyebab kekerasan pada jenazah perubahan pakaian akan signifikan Deskripsi umum dari keadaan tubuh jenazah : o Tingkat dan distribusi rigor dan livor mortis o Panjang dan warna rambut, ada atau tidaknya rambut wajah o Keadaan mata dan warna nya o Adanya penampakan yang tidak biasa dari telinga, hidung, wajah o Ada atau tidak nya gigi o Adannya jaringan parut atau tato o Luka luka baru, bekas luka lama yang tidak berhubungan dengan kematian , adanya bukti intervensi medis ataupun bedah.

2. Tahapan Pemeriksaan Bedah Jenazah / OTOPSI o pemeriksaan awal yaitu kelengkapan surat-surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan dilakukan, o identifikasi jenazah agar pasti bahwa yang akan diotopsi benar-benar adalah jenazah yang dimaksudkan dalam surat-surat yang bersangkutan,

o mengumpulkan

keterangan-keterangan

yang

berhubungan

dengan

terjadinya kematian selengkap mungkin, o memeriksa apakah alat-alat yang diperlukan telah tersedia.
Peralatan : pisau dan scalpel, gunting bengkok besar, gunting kecil, pinset bergigi, dua retraktor, klem, probes dan sebuah forcep, talenan, gergaji, alat timbang besar , alat timbang kecil, gelas ukur, botol kecil yang terisi formalin 10% atau alkohol 70-80%, botol yang lebih besar yang berisi bahan pengawet yang sesuai, alat tulis/alat rekam, papan tulis kecil, kamera foto kertas atau formulirformulir isian/status, jarum jahit kulit serta benang kasar.

IV.

VISUM ET REPERTUM DAN SURAT KETERANGAN MEDIS Fungsi Visum Sementara Korban Hidup sebagai barang bukti medis yang berguna apabila diperlukan dalam proses peradilan. Fungsi VeR di Pengadilan sebagai alat bukti yang sah.

Visum Et Repertum

Surat Keterangan Medis

Pemohon adalah pihak berwenang, Pemohon adalah pasien dan diserahkan diserahkan kembali kepada pihak oleh pasien, masa berlaku hingga masa

berwenang tanpa boleh diketahui pihak tertentu, lain, masa berlaku dari awal hingga akhir proses peradilan

V.

EKSHUMASI Definisi dan Tatacara Pelaksaan Gali Kubur (Ekshumasi)

Penggalian mayat ( exhumation) adalah pemeriksaan terhadap mayat yang sudah dikuburkan dari dalam kuburannya yang telah disahkan oleh hukum untuk

membantu peradilan. Prosedur permintaan dari penyidik kepada dokter : harus tertulis *surat resmi.

Persiapan Gali Kubur Penyidik menghubungi dokter, petugas pemakaman, dinas pemakaman dan pihak keluarga/ahli waris korban sarana, daerah tempat pemeriksaan di amankan sebaiknya di pagi hari. Tata Cara Gali Kubur Dihadiri : penyidik, dokter, pemuka masyarakat setempat, pihak keamanan, petugas pemakaman, serta penggali kubur pastikan kuburan yang akan digali dilakukan dengan hati-hati agar tidak menambah kerusakan mayat contoh tanah diambil dengan jarak 30cm di keempat sisi mayat *utk toksikologi sebelum diangkat dibuat foto mayat dan peti.

VI.

THANATOLOGI

1. Definisi Mati : penghentian penuh menyeluruh dari semua fungsi vital tanpa kemungkinan dihidupkan kembali.

Istilah kematian mj Mati Somatik Suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada ketiga sistem utama yang bersifat menetap. #sistem saraf, pernafasan dan kardiovaskular Klinis : refleks (-), EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung (-) , gerakan pernafasan (-), suara pernafasan *auskultasi (-) Mati Suri (Apparent death, suspended animation) Suatu keadaan yang mirip dengan mati somatik, akan tetapi gangguan yang terdapat pada keiga sistim bersifat sementara. Contoh kasus pada sengatan listrik, tenggelam Mati Seluler atau kematian molekuler Kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Kematian seluler pada tiap organ/ jaringan tidak bersamaan.

Saraf pusat : dalam 5 menit, otot : kehilangan fungsi 4 jam pasca kematian somatis, spermatozoa : bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis, kornea : masih dapat ditransplantasikan, darah : masih dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca mati.

Mati Serebral Kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel, kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan sistem pernafasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat. Mati Batang Otak (MBO) Kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebellum, minimal berlangsung selama 15 menit.

2. Tanda-Tanda Kematian

DINI

LANJUT

- Pernafasan tidak ada, dinilai selama 10 menit - Tonus otot menghilang dan relaksasi - Pupil melebar, tidak bereaksi terhadap cahaya - Refleks kornea tidak ada - Refleks batuk, menelan dan muntah tidak ada - Berhentinya sirkulasi darah dan kulit pucat dinilai selama 15 menit

- Algor mortis (penurunan suhu) Rumus penghitungan saat kematian berdasarkan penurunan suhu : 98.6F suhu rektal 1.5 - Livor Mortis (lebam mayat) Terbentuk mulai 30 menit setelah postmortem *bila ditekan lebam hilang, dan maksimal 8-12 jam *bila

- Pembuluh darah retina mengalami ditekan lebam tidak hilang fiksasi segmentasi beberapa menit setelah - Rigor Mortis (kaku mayat) kematian. h. Pengeringan Muncul > 3-4 jam postmortem kornea maksimal 12 jam >24 jam kaku

menimbulkan kekeruhan dalam waktu menghilang

10

menit

yang

masih

dapat - Dekomposisi (pembusukan) # tanda pembusukan Perbandingan media pembusukan : Udara 1 hari = Air 2 hari = Tanah 8 hari - Mumifikasi Terjadi bila keadaan lingkungan menyebabkan pengeringan dengan cepat sehingga dapat menghentikan proses pembusukan. Jaringan akan menjadi gelap, keras dan kering di gurun - Adipocere Substansi organik seperti lilin yang dibentuk oleh bakteri anaerobik yang berasal dari hidrolisis jaringan lemak tubuh, berbau manis-tengik.

dihilangkan dengan meneteskan air mata.

# 17 tanda pembusukan :
Wajah dan bibir membengkak Mata menonjol Lidah terjulur Lubang hidung dan mulut mengeluarkan darah Lubang lainnya keluar isi seperti feses (usus), isi lambung dan partus (gravid) Badan gembung, bulla atau kulit ari terkelupas Aborescent pattern/marbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna kehijauan Pembuluh darah kulit melebar Dinding perut pecah Skrotum atau vulva bengkak Kuku terlepas Rambut terlepas Organ dalam membusuk Ditemukan larva lalat ; dapat ditemukan kira-kira 36-48 jam pasca kematian.

VII.

TRAUMATOLOGI FORENSIK

1. Jenis-Jenis Luka Klasifikasi Luka (Sampurna, 2004) o o o o o o o o o o o o o Luka lecet (tekan, geser, regang) = Vulnus excoriation Luka memar = Contusion Luka robek = Vulnus laceratum Patah tulang = Fraktura Luka iris = Vulnus schissum Luka tusuk = Vulnus punctum Luka bacok Luka tembak (masuk dan keluar) Luka bakar = Heat exhaution Luka suhu rendah (Frost bite), sangat jarang Luka tegangan listrik Luka tegangan tinggi listrik (petir) Luka korosif zat kimia asam atau basa

Deskripsi luka : lokasi, jumlah luka, bentuk luka ( lecet, memar, luka terbuka, celah, bintang, lonjong ), ukuran luka, koordinat/letak luka, sifat luka. Contoh deskripsi luka :
Luka Tusuk PADA BAGIAN PERUT KANAN ATAS DITEMUKAN SEBUAH LUKA YANG BERBENTUK CELAH BERUKURAN 3X1 CM APABILA DIRAPATKAN MEMBENTUK GARIS DENGAN PANJANG 3,5 CM. TITIK PUSAT LUKA BERADA 10 CM DARI GPD DAN 6CM DARI GARIS MENDATAR MELALUI PUSAR. SALAH SATU SUDUT LUKA TAJAM DAN SUDUT LAIN TUMPUL. TEPI LUKA RATA TIDAK TERDAPAT JEMBATAN JARINGAN DAN DASAR LUKA TIDAK DAPAT DITENTUKAN DENGAN PEMERIKSAAN LUAR. Luka Tembak PADA BAGIAN DADA KIRI ATAS TERDAPAT SEBUAH LUKA BERBENTUK BULAT BERDIAMETER 0,9 CM. YANG TERDIRI DARI LUBANG DAN CINCIN LECET. POSISI LUBANG TERHADAP CINCIN LECET KONSENTRIS. TITIK

PUSAT LUKA BERADA 110 CM DARI UJUNG TUMIT. DISEKITAR LUKA TERSEBUT TERDAPAT TATOASE. Luka Bacok PADA BAGIAN PERGELANGAN TANGAN KIRI SISI BELAKANG TERDAPAT SEBUAH LUKA TERBUKA DENGAN TEPI RATA BERUKURAN 3X1 CM. DASAR LUKA TERLIHAT TULANG, TEBING LUKA TERDIRI DARI URAT OTOT (TENDON), PEMBULUH DARAH YANG TERPUTUS, DAN JARINGAN BAWAH KULIT.

2. Perkiraan Umur Luka Luka lecet o Hari 1-3 o Hari 4-6 o Hari 7-14 : coklat-kemerahan : menjadi lebih gelap dan suram : pembentukan epidermis baru

o Beberapa minggu terjadi penyembuhan lengkap Luka memar o Hari 1 o Hari 2-3 o Hari 4-6 o > 1 minggu 4 minggu : bengkak, merah-kebiruan : biru-kehitaman : biru-kehijauan s/d coklat : menghilang atau sembuh

3. Derajat Luka disebutkan dalam kesimpulan *hukuman pidana berbeda tiap derajat Luka derajat satu (pasal 352 KUHP) : Luka tersebut TIDAK menyebabkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan/pencaharian Luka derajat dua (pasal 351(1) KUHP): luka tersebut TELAH menyebabkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan/ pencaharian untuk SEMENTARA WAKTU. Luka derajat tiga : Luka tersebut telah menyebabkan . (cantumkan salah satu kriteria luka pada pasal 90 KUHP*) *
- jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut - tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian - kehilangan salah satu panca indera - mendapat cacat berat - menderita sakit lumpuh - terganggunya daya fikir selama empat minggu lebih

- gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan

VIII.

ASFIKSIA DAN TENGGELAM

1. Definisi Asfiksia Suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea). Hipoksia : suatu keadaan dimana sel gagal untuk melangsungkan metabolisme secara efisien Asfiksia keadaan hipoksia yang disebabkan oleh PERNAFASAN Asfiksia pasti hipoksia, hipoksia belum tentu aksfiksia.

2. Kematian Akibat Tenggelam Air tawar Cepat diserap dalam jumlah banyak, hemodilusi sampai 72% sehingga terjadi hemolisis. Hemodilusi cairan di pembuluh darah >> tek. sistol dan dalam beberapa menit fibrilasi ventrikel. Air asin Terjadi hemokonsentrasi, cairan keluar sampai 42% jaringan paru : edema pulmonum berat dalam waktu singkat. Air asin dalam darah peningkatan Hematokrit dan Na plasma terjadi anoksia miokardium dan disertai peningkatan viskositas darah payah jantung kematian dalam 8-9 menit

Pemeriksaan luar Mayat dalam keadaan basah, mungkin berlumur pasir, lumpur dan bendabenda asing lain yang terdapat dalam air, kalau seluruh tubuh terbenam dalam air. Busa halus pada hidung dan mulut, kadang-kadang berdarah. Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang terdapat perdarahan atau perbendungan. Kutis anserina pada kulit permukaan anterior tubuh terutama pada ekstremitas akibat kontraksi otot erektor pili yang dapat terjadi karena rangsang dinginnya air.

Washer womans hand, telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput yang disebabkan karena imbibisi cairan ke dalam kutis dan biasanya membutuhkan waktu lama.

Cadaveric spasme, merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu korban berusaha menyelamatkan diri dengan memegang apa saja seperti rumput atau benda-benda lain dalam air.

Luka-luka lecet pada siku, jari tangan, lutut dan kaki akibat gesekan ada benda-benda dalam air. Puncak kepala mungkin terbentur pada dasar waktu terbenam, tetapi dapat pula terjadi luka post-mortal akibat benda-benda atau binatang dalam air.

IX.

KEJAHATAN SEKSUAL

1. Pemeriksaan Korban Kasus Perkosaan Yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan: Ijin tertulis untuk pemeriksaan Sebaiknya polisi & dokter memeriksa dalam waktu yang bersamaan Dokter didampingi perawat perempuan / bidan Dokter menjelaskan apa yang akan dilakukan dan manfaat

pemeriksaan

Dua aspek yang perlu diperhatikan : Bukti-bukti persetubuhan : robekan selaput dara cairan mani dan atau sel mani Tanda-tanda kekerasan : riwayat kehilangan kesadaran dengan obat-obatan luka-luka pada bagian tubuh yang lain

2. Variasi dan Bentuk Hymen

X.

PENGGUGURAN KANDUNGAN DAN PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI (INFANTICIDE)

1. Abortus dan Aspek Hukum Definisi (medis) : pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan sebelum usia kehamilan 20 minggu. Pandangan secara hukum tidak dinilai usia kandungannya, yang penting adalah ketika usaha pengguguran kandungan, kandungan masih dalam keadaan hidup.

2. Pemeriksaan Jenazah Neonatus Baru dilahirkan, belum dirawat? Tanda belum dirawat berlumuran darah, verniks caseosa, tali pusat belum dirawat Sudah/belum bernapas : o Letak diafragma o Makroskopik paru o Uji apung paru o Mikroskopik paru (projection) o Uji telinga tengah o Uji apung lambung usus

Tanda-tanda kekerasan bedakan dengan trauma kelahiran : Kaput suksedaneum, Sefalhematom, Fraktur tulang tengkorak, Perdarahan subdural

Penyebab kematian? Lain-lain: a. Viable/non viable? Viable : apabila janin belum memiliki kemampuan untuk hidup di luar kandungan tanpa peralatan khusus

Viabilitas : Usia gestasi >28 minggu, Berat badan >1000 gram, Panjang badan >35 cm, Lingkar kepala >23 cm, Cacat bawaan fatal (-)

Umur (bulan) 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Panjang badan (cm) 1x1 = 1 2x2 = 4 3x3 = 9 4 x 4 = 16 5 x 5 = 25 6 x 5 = 30 7 x 5 = 35 8 x 5 = 40 9 x 5 = 45

CUKUP BULAN : Usia gestasi Berat badan 37-42 minggu 3000 gram

Panjang badan 46-50 cm Lingkar kepala 33-34 cm

Ciri-ciri eksternal Daun telinga Kuku Rambut Lanugo Pusat penulangan (distal femur) Puting susu, areola Garis telapak kaki Kulit

b. Umur ekstrauterin? c. Golongan Darah, bila jenazah sudah busuk ambil dari rambut, kuku

3. Perbedaan Lahir Mati dan Lahir Hidup

LAHIR HIDUP

LAHIR MATI

hasil konsepsi yang tanpa memandang hasil

konsepsi

dengan

masa

masa kehamilan, setelah dilahirkan kehamilan 28 minggu/lebih, lahir spontan/tidak, masih/tidak lagi spontan/tidak meninggal dunia. kematian
tidak

berhubungan dengan plasenta, dan Tanda

ada

dapat bernapas/menunjukkan gejala pernapasan atau tanda-tanda yang hidup lain. lain.

XI.

TOKSIKOLOGIK FORENSIK

Pemeriksaan luar Bau tercium dapat diperoleh petunjuk racun apa yang kiranya ditelan oleh korban menekan dada mayat untuk menentukan apakah ada suatu bau yang tidak biasa keluar dari lubang-lubang hidung dan mulut. Pakaian dapat ditemukan bercak-barcak yang disebabkan oleh tercecernya racun yang ditelan atau oleh muntahan. Lebam mayat Warna lebam mayat yang tidak biasa juga mempunyai makna Perubahan warna kulit Pada hiperpigmentasi atau melanosis dan keratosis pada telapak tangan dan kaki pada keracunan arsen kronik, kulit berwarna kelabu kebirubiruan akibat keracunan perak (Ag) kronik, kulit akan berwarna kuning pada keracunan tembaga (Cu) dan fosfor akibat hemolisis juga pada keracunan insektisida hidrokarbon dan arsen karena terjadi gangguan fungsi hati. Kuku Keracunan arsen kronik dapat ditemukan kuku yang menebal yang tidak teratur Rambut. keracunan talium, arsen, air raksa dan boraks. Sklera Tampak ikterik pada keracunan dengan zat hepatotoksik seperti fosfor, karbon tetraklorida.

1. Tanda-Tanda Korban Keracunan Makanan, Alkohol, Narkoba, CO, Sianida, Arsen

ALKOHOL Pada orang hidup : bau alkohol yang keluar dari udara pernapasan awal lakukan pemeriksaan kadar alkohol darah Korban mati tidak khas : ditemukan gejala-gejala yang sesuai dengan asfiksia, seluruh organ menunjukkan tanda perbendungan, darah lebih encer, berwarna merah gelap, mukosa lambung.

CO Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan lebam mayat berwarna merah terang (cherry pink colour) yang tampak jelas bila kadar COHb mencapai 30% atau lebih.

SIANIDA Sianosis pada wajah dan bibir, busa keluar dari mulut, dan lebam mayat berwarna terang, karena darah vena kaya akan oksi-Hb.

ARSEN Korban mati keracunan akut. Pada pemeriksaan luar ditemukan tandatanda dehidrasi. Bila korban cepat meninggal setelah menghirup arsen, akan terlihat tanda-tanda kegagalan kardiorespirasi akut. Bila meninggalnya lambat, dapat ditemukan ikterus dengan anemia hemolitik, tanda-tanda kerusakan ginjal berupa degenerasi lemak dengan nekrosis fokal serta nekrosis tubuli.

XII.

IDENTIFIKASI FORENSIK DAN ODONTOLOGI FORENSIK 1. Prinsip Identifikasi Bencana Massal (Mass Disaster) Disaster Victim Identification (DVI) Metode utama (primer) dalam identifikasi finger print, dental reord, DNA Analysis. Metode sekunder dalam identifikasi Data medis (co/ : ciri fisik) dan properti korban (cincin, kalung, baju, dll) IDENTIFIKASI POSITIF bila : terdapat 1 data primer dengan / tanpa data sekunder, ataupun minimal 2 data sekunder. 2. Format Pink Form dan Yellow Form ( dipegang saat pembagian tugas) Pink Form data post-mortem : data yang diperoleh pada jenazah atau kerangka yang tidak dikenal pada saat penanganan korban di TKP maupun di kamar jenazah.

Yellow Form data ante-mortem : informasi lengkap dari keluarga ataupun orang terdekat tentang orang hilang selama masih hidup (ciri fisik yang pernah dilihat, properti, dll).

PS : pemegang pink form dan yellow form akan bertemu di akhir identifikasi dicocokkan identifikasi jenazah berhasil.

3. Fungsi dan Peran Odontologi Forensik Dalam Identifikasi Jenazah Why? Karena gigi merupakan bagian tubuh yang paling kuat/keras, tahan terhadap pembusukan, lapuk pada suhu 200C dan menjadi abu pada suhu 450 C. Menurut Sims (1972) 2 orang yang punya gigi identik adalah 1 : 2 milyar. Fast, economical and un-arguable !!

XIII.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM FORENSIK SEDERHANA

1. Prosedur Pemeriksaan Sperma

2. Prosedur Pemeriksaan Darah

3. Prosedur Pemeriksaan Alkohol Alat/bahan: Mangkuk Conway Sampel darah/urine Reagen Anti ( larutkan 3.70 gm

Kalium dikromat kedlm air 150 ml, tambahkan 280 ml asam sulfat dan terus diaduk,encerkan dengan 500 ml akuades Kalium Karbonat jenuh

Cara kerja : Letakkan 2 ml reagen anti kedalam ruang tengah mangkuk conway Sebarkan 1 ml darah/urine kedalam ruang sebelah luar 1 ml Kalium karbonat jenuh dalam ruang sebelah luar pada sisi yang berlawanan Tutup sel mikrodifusi, goyangkan Biarkan berdifusi selama 1 jam pada suhu ruang Amati perubahan warna pada reagen anti

Hasil Pemeriksaan : Warna kuning kenari berarti hasil (-) Perubahan warna kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80%, sedangkan warna hijau kekuningan sekitar 300%

4. Prosedur Pemeriksaan Strip Test Narkoba

NARKOBA URINE Alat/bahan : Urine sample, Test Kit urine

5. Prosedur Pemeriksaan CO Dalam Darah PEMERIKSAAN CO Uji Formalin (Eachlolz-Liebmann) Dasar reaksi : Terbentuknya koagulat berwarna merah terang pada darah dengan COHb >30% saturasi Alat/Bahan : Hasil : (+) endapan berwarna merah terang (-) endapan berwarna kecoklatan 2 tabung reaksi Larutan Formalin 40% Darah sampel dan darah kontrol

Cara Kerja : Masing-masing tabung diisi 5 ml darah sampel dan darah kontrol Tambahkan 2 ml Formalin 40% ke tiap tabung Biarkan beberapa saat hingga terbentuk koagulat/endapan

XIV.

HUKUM KESEHATAN DAN HUKUM KEDOKTERAN 1. Undang-undang Praktek Kedokteran UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran (Putusan MK No. 4/PUU- V/2007 tentang Pengujian UUPK terhadap UUD45) Informed Consent Persetujuan yang diberikan oleh pasien/keluarga atas dasar penjelasan mengenai

tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. (Pasal 1a PERMENKES No.585/MENKES/PER/IX/1989) 2. Malpraktek Medik dan Pencegahannya Definisi: Dokter atau orang yang ada dibawah perintahnya dengan sengaja atau kelalaian melakukan perbuatan (aktif atau pasif) dalam praktik kedokteran pada pasiennya dalam segala tingkatan yang ,elanggar standar profesi, standar prosedur, prinsip-prisnip

professional kedokteran atau dengan melanggar hukum (tanpa wewenang) karena tanpa informed cosent atau diluar informed consent tanpa SIP atau STR, tidak sesuai dengan kebutuhan medis pasien dengan menimbulkan kerugian bagi tubuh, kesehatan fisik, mental, dan atau nyawa pasien sehingga membentuk pertanggungjawaban hukum bagi dokter. Upaya Pencegahan Malpraktek Dokter harus menyadari akan hak setiap pasien, ia berhak untuk mengetahui penyakit apa yang dideritanya, prosedur diagnostik apa yang perlu dilakukan, metode mana yang akan dipakai untuk pengobatan penyakitnya serta bagaimana prognosisnya. Di dalam melakukan pemeriksaan terhadap pasien, haruslah sesuai dengan standar yang telah disepakati oleh organisasi profesi dan fakultas dimana ia dididik menjadi dokter; mulai dari anmnesa yang baik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, terapi yang diberikan dan jangan melupakan rekam medis ( medical record) Ketika akan melakukan tindakan yang mengandung risiko, misalnya operasi atau prosedur diagnostik perlu dibuat suatu formulir persetujuan atas tindakan tersebut serta risiko yang dapat terjadi. Jika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, segera hubungi organisasi profesi (IDI), karena di dalam organisasi tersebut terdapat badan yang khusus menangani masalah yang berkaitan atau yang diduga malpraktek. Adapun badan tersebut adalah MKEK (Majelis Kehormatan Etika Kedokteran) dan BPA (Badan Pembelaan Anggota).