Anda di halaman 1dari 6

Prosiding PPI Standardisasi 2008, 25 November 2008

STANDARDISASI MUTU KAYU UNTUK BAHAN PAPAN SEMEN


Oleh

IM Sulastiningsih1, Paribotro Sutigno2

Copyright @ Puslitbang BSN, salinan artikel ini dibuat oleh Puslitbang untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengembangan standar Copyright @ R&D of BSN, this copy issued by R&D for research, education and standard development

Abstrak
Papan semen menyerupai papan partikel yaitu hasil pengempaan campuran potongan kayu kecil dengan perekat. Perekat yang dipakai dalam papan semen adalah semen, sedangkan dalam papan partikel adalah perekat organik seperti urea formaldehida. Tidak semua jenis kayu sesuai untuk papan semen dan dikenal ada tiga macam mutu yaitu baik, sedang dan jelek. Pengujiannya dilakukan berdasarkan uji hidratasi, yaitu mengukur suhu maksimum yang terjadi pada saat reaksi antara semen kayu dan air. Bila suhu maksimum lebih dari 41C termasuk baik, 36C41C termasuk sedang dan kurang dari 36C termasuk jelek. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 73 jenis kayu, papan semen wol kayu yang dibuat dari jenis kayu yang tergolong baik tidak selalu sifatnya memenuhi persyaratan dan sebaliknya yang termasuk sedang dapat menghasilkan papan semen wol kayu yang sifatnya memenuhi persyaratan. Mengingat hal itu diusulkan penggolongan mutu kayu itu dilakukan berdasarkan pengujian sifat papan semen wol kayu meliputi keteguhan lentur dan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2. Bila kedua sifat tersebut memenuhi persyaratan berarti termasuk baik, bila yang memenuhi persyaratan hanya pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 saja berarti termasuk sedang, bila kedua sifat tersebut tidak memenuhi syarat berarti termasuk jelek. Kata kunci: mutu kayu, papan semen, standardasi

1 2

Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor Pakar kehutanan dari APKINDO

Prosiding PPI Standardisasi 2008, 25 November 2008

I.

PENDAHULUAN
Copyright @ Puslitbang BSN, salinan artikel ini dibuat oleh Puslitbang untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengembangan standar Copyright @ R&D of BSN, this copy issued by R&D for research, education and standard development

Papan semen adalah papan tiruan yang menggunakan semen sebagai perekatnya sedangkan bahan bakunya dapat berupa partikel kayu atau partikel bahan berlignoselulosa lainnya. Seperti halnya dengan papan partikel maka bentuk partikel untuk papan semen antara lain dapat berupa selumbar (flake), serutan (shaving), untai (strand), suban (splinter) atau wol kayu (excelsior). Papan semen mempunyai sifat yang lebih baik dibanding papan partikel yaitu lebih tahan terhadap jamur, tahan air dan tahan api (Maloney, 1977). Papan semen juga lebih tahan terhadap serangan rayap tanah dibanding bahan baku kayunya (Sukartana et al, 2000). Dengan demikian papan semen merupakan salah satu bahan bangunan yang tahan lama dalam penggunaannya sehingga biaya pemeliharaan rumah yang terbuat dari papan semen akan lebih murah. Di samping itu, industri papan semen dapat memanfaatkan kayu dengan ukuran yang kecil seperti limbah industri kayu, limbah eksploitasi, kayu hasil penjarangan dan kayu diameter kecil walau dari hutan tanaman sehingga pemanfaatan kayu dapat ditingkatkan. Industri papan semen sudah lama dikenal di Indonesia, tetapi perkembangannya lambat. Papan semen di samping memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan dibanding papan tiruan lainnya antara lain adalah berat dan penggunaannya lebih terbatas. Menurut Moslemi dan Pfister (1987) diperlukan waktu yang lama bagi papan semen untuk benar-benar mengeras sebelum mencapai kekuatan yang cukup. Kelemahan lainnya adalah tidak semua jenis kayu atau bahan berlignoselulosa dapat digunakan sebagai bahan baku papan semen karena adanya zat ekstraktif seperti gula, tanin dan minyak yang dapat mengganggu pengerasan semen dengan bahan baku tersebut. Berdasarkan kesesuaian jenis kayu sebagai bahan papan semen dikenal tiga macam mutu yaitu baik, sedang dan jelek. Pengujiannya dilakukan berdasarkan uji hidratasi, yaitu mengukur suhu maksimum yang terjadi pada saat reaksi antara semen, kayu dan air. Bila suhu maksimum lebih dari 41C termasuk baik, 36C41C termasuk sedang dan kurang dari 36C termasuk jelek. Berdasarkan pengalaman dalam pembuatan papan semen wol kayu ternyata tidak selalu penggolongan tersebut sesuai dengan sifat papan semen wol kayu yang dihasilkannya. Sifat papan semen wol kayu yang diuji menurut Standar Jerman adalah kerapatan, keteguhan lentur dan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2. Mengingat hal ini perlu ada cara lain untuk menetapkan mutu kayu untuk bahan papan semen. Dalam tulisan ini dikemukakan hasil penelitian terhadap 73 jenis kayu meliputi suhu hidratasi, pembuatan papan semen wol kayu dan pengujian sifatnya. II. BAHAN DAN METODE

Prosiding PPI Standardisasi 2008, 25 November 2008

Bahan yang dipakai dalam tulisan ini adalah data yang berasal dari laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Dalam laporan tersebut antara lain dikemukakan suhu hidratasi, kerapatan, pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 dan keteguhan lentur papan semen wol kayu. Data yang dikemukakan dalam tulisan ini meliputi 73 jenis kayu yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pengujian hidratasi dilakukan dengan menggunakan termos menurut metode Sandermann yang telah diubah (Kamil, 1970). Wol kayu dibuat dengan panjang 35-40 cm, lebar 3 mm dan tebal 0,3 mm. Papan semen wol kayu yang dibuat berukuran 30 cm x 30 cm x 2,5 cm dengan komposisi wol kayu 315 gram, semen 551 gram (175% dari berat wol kayu), larutan kalsium klorida (CaCl2) 2% atau suspensi kapur (Ca(OH)2) 2% sebanyak 600 ml sasaran kerapatannya adalah 0,46 g/cm3. Bahan papan semen wol kayu dicetak kemudian ditekan dan diapit selama 24 jam, kemudian dikeluarkan dan dibiarkan sampai mencapai kering udara dan selanjutnya diuji sifat fisis dan mekanisnya menurut Standar Jerman (DIN 1101-56, dalam Kamil, 1970). III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Copyright @ Puslitbang BSN, salinan artikel ini dibuat oleh Puslitbang untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengembangan standar Copyright @ R&D of BSN, this copy issued by R&D for research, education and standard development

Dari 73 jenis kayu yang diuji suhu hidratasinya ternyata 61 jenis kayu termasuk baik, 6 jenis kayu termasuk sedang dan 6 jenis kayu termasuk jelek. Pada Tabel 1 tercantum data keteguhan lentur papan semen wol kayu yang menunjukkan bahwa jenis kayu yang termasuk baik menurut uji hidratasi tidak selalu keteguhan lenturnya memenuhi persyaratan, sedangkan untuk jenis kayu yang termasuk sedang dan jelek, keteguhan lenturnya ada yang memenuhi persyaratan walaupun jumlahnya sedikit. Macam katalisator yang digunakan berpengaruh pada jumlah papan semen wol kayu yang keteguhan lenturnya memenuhi syarat. Penggunaan katalisator CaCl2 lebih banyak memenuhi syarat dibanding Ca(OH)2. Pada Tabel 2 tercantum data pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 papan semen wol kayu yang menunjukkan bahwa jenis kayu yang termasuk baik menurut uji hidratasi tidak selalu pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 memenuhi persyaratan, sedangkan untuk jenis kayu yang termasuk sedang dan jelek pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 ada yang memenuhi persyaratan walaupun jumlahnya sedikit. Tabel 1 Penggolongan Papan Semen Wol Kayu Berdasarkan Sifat Keteguhan Lentur Penggolongan Jenis Kayu Katalisator CaCl2 Katalisator Ca(OH)2

Prosiding PPI Standardisasi 2008, 25 November 2008

Berdasarkan Suhu Hidratasi Baik Sedang Jelek

Memenuhi Syarat 49 (80,3%) 4 (66,7%) 3 (50%)

Tidak Memenuhi Syarat 12 (19,8%) 2 (33,3%) 3 (50%)

Memenuhi Syarat 39 (64%) 2 (33,3%) 1 (16,7%)

Tidak Memenuhi Syarat 22 (36%) 4 (66,7%) 5 (83,3%)

Copyright @ Puslitbang BSN, salinan artikel ini dibuat oleh Puslitbang untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengembangan standar Copyright @ R&D of BSN, this copy issued by R&D for research, education and standard development

Tabel 2 Penggolongan Papan Semen Wol Kayu Berdasarkan Sifat Pengurangan Tebal Akibat Tekanan 3 kg/cm2 Penggolongan Jenis Kayu Berdasarkan Suhu Hidratasi Katalisator CaCl2 Memenuhi Syarat Katalisator Ca(OH)2

Tidak Memenuhi Tidak memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Syarat Baik 58 (95,1%) 3 (4,9%) 52 (85,2%) 9 (14,8%) Sedang 6 (100%) 0 (0%) 5 (83,3%) 1 (16,7%) Jelek 4 (66,7%) 2 (33,3%) 4 (66,7%) 2 (33,3%) Macam katalisator yang digunakan berpengaruh pada jumlah papan semen wol kayu yang pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 memenuhi syarat. Penggunaan katalisator CaCl2 lebih banyak memenuhi syarat dibanding Ca(OH)2. Bila data pada Tabel 1 dibandingkan dengan data pada Tabel 2 maka papan semen wol kayu lebih banyak yang memenuhi syarat pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2. Berhubung ada kekurangsesuaian antara hasil uji hidratasi dengan hasil uji sifat mekanis papan semen wol kayu maka akan ditelaah penggunaan hasil uji sifat mekanis untuk menilai mutu kayu sebagai bahan papan semen. Bila sifat keteguhan lentur dan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 memenuhi syarat maka mutu kayu tersebut termasuk baik. Bila sifat keteguhan lentur tidak memenuhi syarat sedangkan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 memenuhi syarat maka mutu kayu tersebut termasuk sedang. Bila sifat keteguhan lentur dan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 tidak memenuhi syarat maka mutu kayu tersebut termasuk jelek. Penggolongan mutu kayu sebagai bahan papan semen berdasarkan sifat mekanis tercantum pada Tabel 3. Tabel 3 Penggolongan Mutu Kayu untuk Bahan Papan Semen Berdasarkan Sifat Mekanis

Prosiding PPI Standardisasi 2008, 25 November 2008

Penggolongan mutu kayu Baik Sedang Jelek

Katalisator CaCl2 30 24 19

Katalisator Ca(OH)2 30 15 28
Copyright @ Puslitbang BSN, salinan artikel ini dibuat oleh Puslitbang untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengembangan standar Copyright @ R&D of BSN, this copy issued by R&D for research, education and standard development

Hasil penggolongan mutu kayu untuk bahan papan semen berdasarkan sifat mekanis (Tabel 3) menunjukkan bahwa dari 73 jenis kayu yang dibuat papan semen wol kayu dengan katalisator CaCl2 terdapat 30 jenis kayu yang bermutu baik, 24 jenis kayu bermutu sedang dan 19 jenis kayu yang bermutu jelek. Sedangkan yang dibuat dengan katalisator Ca(OH)2 terdapat 30 jenis kayu yang bermutu baik, 15 jenis kayu yang bermutu sedang dan 28 jenis kayu yang bermutu jelek. Bila data pada Tabel 3 dibandingkan dengan data pada Tabel 1 dan 2, ternyata lebih sedikit jenis kayu yang termasuk baik, sehingga lebih banyak yang termasuk sedang dan jelek. Hal ini menunjukkan bahwa penggolongan mutu kayu untuk papan semen berdasarkan pengujian sifat papan semen wol kayu lebih teliti daripada cara pengujian hidratasi. Berhubung ada perbedaan dalam macam katalisator, disarankan memakai Ca(OH)2 karena lebih mudah didapat dan lebih aman karena yang termasuk jelek lebih banyak. Perlu kiranya dikemukakan bahwa jenis kayu yang termasuk sedang dan jelek masih dapat diperbaiki sehingga setelah dibuat papan semen wol kayu, sifatnya memenuhi syarat. Karena yang mengganggu pengerasan semen adalah zat ekstraktif maka dengan mengurangi zat ini mutu kayunya akan lebih baik. Sebagai contoh kayu jati berdasarkan pengujian hidratasi termasuk sedang (Kamil, 1970) dan setelah dibuat papan semen wol kayu tanpa perlakuan pendahuluan hanya sifat pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 yang memenuhi syarat sedangkan sifat keteguhan lenturnya tidak memenuhi syarat. Setelah mengalami perlakuan pendahuluan berupa perendaman wol kayu dalam air dingin selama 24 jam atau dalam air panas selama 1 jam, papan semen wol kayu yang dihasilkan mempunyai sifat keteguhan lentur dan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 yang memenuhi syarat (Sutigno, 2000). IV. 1 KESIMPULAN Berdasarkan uji hidratasi terdapat 3 penggolongan mutu kayu sebagai bahan papan semen yaitu baik (suhu hidratasi lebih dari 41C), sedang (suhu hidratasi 36C-41C) dan jelek (suhu hidratasi kurang dari 36C). Penggolongan berdasarkan suhu hidratasi terdapat kelemahan sehingga tetap harus dibuat papan semen wol kayunya. Standardisasi mutu kayu untuk bahan papan semen dapat dilakukan berdasarkan sifat mekanis papan semen wol kayu yang dihasilkan yaitu suatu jenis kayu termasuk mutu baik untuk bahan papan semen apabila sifat keteguhan lentur dan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 memenuhi syarat. Bila sifat keteguhan lentur tidak memenuhi syarat sedangkan sifat pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 memenuhi syarat maka mutu kayu tersebut termasuk sedang. Bila sifat

Prosiding PPI Standardisasi 2008, 25 November 2008

keteguhan lentur dan pengurangan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 tidak memenuhi syarat maka mutu kayu tersebut termasuk jelek. Cara ini lebih teliti daripada cara pengujian hidratasi.
Copyright @ Puslitbang BSN, salinan artikel ini dibuat oleh Puslitbang untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengembangan standar Copyright @ R&D of BSN, this copy issued by R&D for research, education and standard development

V. 1

DAFTAR PUSTAKA

Kamil, N. 1970. Prospek Pendirian Industri Papan Wol Kayu di Indonesia. Pengumuman No. 95. Lembagalembaga Penelitian Kehutanan, Bogor 2 Kliwon,S., P. Sutigno dan R. Memed. 1980. Sifat Papan Wol Kayu Beberapa Jenis Kayu Indonesia. Laporan No. 145. Lembaga Penelitian Hasil Hutan, Bogor 3 Kliwon,S., P. Sutigno dan R. Memed. 1980. Sifat Papan Wol Kayu Beberapa Jenis Kayu Indonesia. Laporan No. 155. Balai Penelitian Hasil Hutan, Bogor 4 Maloney, T.M. 1977. Modern Particleboard & Dry-Process Fibreboard Manufacturing. Miller Freeman Publication, San Francisco, California 5 Moslemi,A.A. and S.C. Pfister. 1987. The Influence of Cement/Wood Ratio and Cement Type on Bending Strength and dimensional stability of Wood-Cement Composite Panels. Wood and Fiber Science 19:165-175 6 Sukartana,P., R. Rushelia and I.M. Sulastiningsih. 2000. Resistance of Wood-and Bamboo-Cement Boards to Subterranean Termite Coptotermes gestroi Wasmann (Isoptera: Rhinotermitidae). Wood-Cement Composites in the Asia-Pacific Region. ACIAR Proceedings No. 107: 62-65 , Canbera 7 Sutigno, P., S. Kliwon dan R. Memed. 1980. Sifat Papan Wol Kayu Jenis-Jenis Kayu Indonesia. Laporan No. 152. Lembaga Penelitian Hasil Hutan, Bogor Sutigno, P. 2000. Effect of Aqueous Extraction of Wood-Wool on the Properties of Wood-Wool Cement Board Manufactured From Teak (Tectona grandis). Wood-Cement Composites in the Asia-Pacific Region. ACIAR Proceedings No. 107: 24-28 , Canbera

Anda mungkin juga menyukai