Anda di halaman 1dari 16

www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.

com |

1
Kerangka Pengembangan Kurikulum Ekonomi dan Keuangan Islam di Indonesia

Prof. Dr. Veithzal Rivai
(Ketua MES-VR Consulting Business Management)

A. Pendahuluan
Kita tahu bahwa Indonesi dengan penduduk muslim terbesar didunia sehingga memerlukan
perhatian khusus di bidang ekonomi, tetapi kenyataannya kita tidak menjadikan ekonomi Islam
sebagai acuan utama untuk mensejahterakan umatnya. Kita tahu pula bahwa kehadiran kegiatan
ekonomi disebabkan karena ada kebutuhan dan keinginan manusia, namun cara memenuhi
kebutuhan dan cara mendistribusikan kebutuhan selama ini didasari oleh filosofi yang berbeda,
sehingga menimbulkan berbagai sistem dan praktik ekonomi yang berbeda, dan hingga saat ini tidak
berhasil melepaskan dari keterpurukan dan keterbelakangan ekonomi. Perbedaan ini tidak terlepas
dari pengaruh filsafat, agama, ideologi, dan kepentingan politik yang mendasari suatu negara
menganut sistem tersebut. Untuk pemenuhan kebutuhan diperlukan Ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia mencapai tujuan dan sarana yang
memiliki kegunaan alternatif. Ilmu ekonomi sebagai studi yang mempelajari cara manusia mencapai
kesejahteraan dan mendistribusikannya. Kesejahteraan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang
memiliki nilai dan harga, mencakup barang dan jasa yang diproduksi dan dijual oleh pelaku bisnis.
Kita tahu bahwa ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang dilandaskan pada al Quran dan
Hadits, sehingga lebih menjamin akan akuntabilitasnya sepanjang para penyelenggarakan
senantiasa berpegang teguh pada ajaran islam secara kaffah dan menjunjung tinggi kejujuran,
amanah, transparan serta tetap dikelola secara profesional, sehingga dapat menjamin bahwa
dengan mengterapkan secera sungguh-sungguh dapat dipastikan bahwa ekonomi islam adalah akan
terjamin pula akan akuntabilitasnya.
Jika disimak perjalanan Rasul di dalam membangun perekonomian Madinah, maka ada tiga hal
mendasar yang harus mendapat perhatian dan jika ingin menerapkannya dalam konteks Indonesia
kontemporer. Ketiga hal tersebut adalah landasan filosofis, prinsip operasional, dan tujuan yang
ingin dicapai dalam sebuah sistem ekonomi.
Secara filosofis, sistem ekonomi islam adalah sebuah sistem ekonomi yang dibangun di atas
nilai-nilai Islam, dimana prinsip tauhid yang mengedepankan nilai-nilai Ilahiyyah menjadi inti dari
sistem ini. Ekonomi bukanlah sebuah entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebuah bagian kecil dari
bingkai ibadah kepada Allah Subhanahuataala. Rasulullah telah berhasil menanamkan secara kuat di
dalam benak para sahabat bahwa berekonomi pada hakekatnya adalah beribadah kepada Allah.
Sehingga, sebagai sebuah ibadah, ada rambu-rambu yang harus ditaati agar dapat diterima di sisi
Allah Subhanahuataala. Dan yang namanya ibadah, harus pula dikerjakan secara maksimal dan
tidak asal-asalan. Wajarlah jika kemudian para pedagang Muslim mampu menyebar ke seluruh
penjuru dunia untuk berdagang sekaligus berdakwah. Pantas pula jika Adam Smith, yang dianggap
sebagai bapaknya ekonomi kapitalis, menganggap bahwa contoh terbaik masyarakat berperadaban
tinggi yang kuat secara ekonomi dan politik adalah masyarakat Arab (Madinah) di bawah pimpinan
Muhammad. Oleh karena itu, mengadopsi nilai-nilai moralitas Islam dalam sistem ekonomi kita
merupakan syarat mutlak untuk membangun sistem ekonomi Indonesia yang kuat dan berkah.
Kemudian selanjutnya, harus disadari bahwa salah satu prinsip utama berjalannya sistem
ekonomi islam pada tataran operasional adalah prinsip keadilan (al-adl). Islam adalah adil dan adil
itu adalah Islam. Diharamkannya bunga juga dalam bingkai keadilan. Kebijakan Rasul untuk
membuka pasar baru juga dalam konteks keadilan. Jika mekanisme pasar berjalan dalam bingkai
keadilan, maka intervensi pemerintah tidak diperlukan. Hal ini dapat dilihat ketika Rasulullah
menolak permintaan para sahabat, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, untuk
menurunkan harga pada saat harga bergerak naik. Intervensi malah justru menciptakan
ketidakadilan. Tetapi sebaliknya, jika terjadi kolusi antara oknum penguasa dan kalangan dunia
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

2
bisnis, maka akan terjadi ketidakseimbangan pasar yang akan menyebabkan kehancuran
perekonomian. Untuk itu, intervensi negara menjadi sebuah kebutuhan. Jadi, tindakan pemerintah
atau negara dalam mengintervensi perekonomian harus dilakukan dengan kacamata keadilan
Kehadiran ilmu ekonomi bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan kepada
umat, kesejahteraan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang memiliki nilai dan harga yang
mencakup barang dan jasa yang diproduksi dan kemudian dijual oleh pelaku bisnis, dan dalam
perspektif Islam, ada beberapa pengertian tentang ekonomi Islam, yaitu:
1. Ilmu yang mempelajari perilaku muslim (yang beriman) dalam masyarakat Islam yang
mengikuti Al-Quran, Al-Sunnah, Ijma dan Qias. al-Quran dan al-Sunnah merupakan sumber
utama agama Islam, sedangkan hadits, ijma dan qias merupakan pelengkap Al-Quran dan
Hadits.(Metwally:1995).
2. Ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai
Islam. Sejauh mengenai masalah pokok kekurangan, hampir tidak terdapat perbedaan apapun
antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi modern. Andaipun ada perbedaan itu terletak pada
sifat dan volumenya (Mannan: 1993).
3. Menurut M. Akram Khan, bertujuan untuk mengkaji tentang kebahagian hidup manusia yang
dicapai dengan mengorganisasikan sumber daya alam atas dasar bekerja sama dan partisipasi.
Definisi tersebut mencakup dimensi normatif (kebahagian hidup di dunia dan akhirat) serta
dimensi positif (mengorganisir sumber daya alam). Sedangkan menurut Ash-Shidiqy ekonomi
Islam adalah respon pemikir muslim terhadap tantangan ekonomi masa tertentu, untuk usaha
keras ini mereka dibantu oleh al-Quran dan al-Sunnah, akal (ijtihad) dan pengalaman.
4. Menurut M. Umer Chapra, sebuah pengetahuan yang membahas upaya mewujudkan
kebahagian manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas yang berada
dalam koridor yang mengacu pada pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan individu
atau tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesimbangunan dan tanpa ketidakseimbangan
lingkungan (Budi Setyanto,et al: 2006).
Dengan demikian ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari
masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam.
Islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Universal berarti bahwa Islam
diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia di muka bumi dan dapat diterapkan dalam setiap waktu
dan tempat sampai akhir zaman. Komprehensif artinya bahwa Islam mempunyai ajaran yang
lengkap dan sempurna (syumul). Kesempurnaan ajaran Islam, dikarenakan Islam mengatur seluruh
aspek kehidupan manusia, tidak saja aspek spiritual (ibadah murni), tetapi juga aspek muamalah
yang meliputi ekonomi, sosial, politik, hukum, dan sebagainya.
Al-Quran secara tegas mendeklarasikan kesempurnaan Islam tersebut. Ini dapat dilihat dalam
beberapa ayat, seperti pada surah al Anam (6: 38):
!. _. `,: _ _ .L ,L, ,>!.> | '. >l!:. !. !.L _ ..>l _. ,`_: . _|| , _:>
__
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua
sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-
Kitab, Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Surah Al-Maidah (5: 3):
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

3
!!., _.] `.., l> .-: < :l >' _.> ..l1l _,., ,,l >' -.,, . _.
, !.. :| ,.ll> :!L.! >..> `!:.: , .. _s .>`..l ,>' ..-. .!-.
_ls l _1`.l .!-. _ls . .`-l 1. < | < .,.: ,!1-l _
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-
binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang
mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah
haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena
mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada
mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Dalam surah lain surah an Nahl (16: 89):
, -,. _ _ . .,: ,l. _. .. !.:> ., .,: _ls ,.> !.l. .,ls ..>l !..,,. _>l
,`_: _.> .> _:, _,.l`..ll __
(dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka
dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat
manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Kesempurnaan Islam ini tidak saja disebutkan dalam Al Quran, namun juga dapat dirasakan baik
itu oleh para ulama dan intelektual muslim sampai kepada non muslim. Seorang orientalis paling
terkemuka bernama H.A.R Gibb mengatakan, Islam is much more than a system of theologi its a
complete civilization (Islam bukan sekedar sistem theologi, tetapi merupakan suatu peradaban yang
lengkap), sehingga menjadi tidak relevan jika Islam dipandang sebagai agama ritual semata, apalagi
menganggapnya sebagai sebuah penghambat kemajuan pembangunan (an obstacle to economic
growth). Pandangan yang demikian, disebabkan mereka belum memahami Islam secara utuh.
Sebagai ajaran yang komprehensif, Islam meliputi tiga pokok ajaran, yaitu Aqidah, Syariah dan
akhlak, Hubungan antar aqidah, syariah dan akhlak dalam sistem Islam terjalin sedemikian rupa
sehingga merupakan sebuah sistem yang komprehensif.
Aqidah adalah ajaran yang berkaitan dengan keyakinan dan kepercayaan seseorang terhadap
Tuhan, Malaikat, Rasul, Kitab dan rukun iman lainnya. Akhlak adalah ajaran Islam tentang prilaku
baik-buruk, etika dan moralitas. Sedangkan syariah adalah ajaran Islam tentang hukum-hukum yang
mengatur tingkah laku manusia.
Syariah Islam terbagi kepada dua yaitu ibadah dan muamalah. Ibadah diperlukan untuk
menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan khaliq-Nya. Muamalat dalam
pengertian umum dipahami sebagai aturan mengenai hubungan antar manusia.
Merupakan aspek penting yang terkait dengan hubungan antar manusia adalah ekonomi.
Ajaran Islam tentang ekonomi memiliki prinsip-prinsip yang bersumber Alquran dan Hadits. Prinsip-
prinsip umum tersebut bersifat abadi, seperti prinsip tauhif, adil, maslahat, kebebasan dan tangung
jawab, persaudaraan, dan sebagainya.
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

4
Prinsip-prinsip ini menjadi landasan kegiatan ekonomi di dalam Islam yang secara teknis
operasional selalu berkembang dan dapat berubah sesuai dengan perkembanga zaman dan
peradaban yang dihadapi manusia.
Perlu diingat bahwa mengapa Indonesia belum berhasil mensejahterakan rakyatnya?. Hal ini
tidak terlepas dari sistem ekonomi yang dianut, kita telah terbuai dengan ekonomi neoklasik, yang
menonjolkan individualisme dalam pola pikir, yang selanjutnya di-ejewantahkan dalam bentuk yang
lebih ekstrim dan individualistik yang mempersulit upaya peningkatan efisiensi, karena efisiensi
membutuhkan partisipasi semua pihak dalam berbagai dimensi kegiatan. Sementara itu bagi
masyarakat yang beragama, yang dalam hal ini yang beragama Islam, pasti akan menolak paham
tersebut, seperti firman Allah SWT dalam surah al-Israa (17: 85):
..l:`. _s _l _ _l _. . _ !. .. _. l-l | ,l __
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

dan surah Maryam (19: 17):
,.>! _. .: !,!> !.l.! !,l| !.>' _:.. !l :, !,. _
Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami
kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Islam bukan hanya sekedar agama dalam pengertian yang sempit, akan tetapi merupakan
sebuah sistem kehidupan yang komprehensif dan sempurna, yang mengatur semua aspek
kehidupan, baik asosial, ekonomi dan politik maupun kehidupan yang bersifat ritual, seperti firman
Allah SWT dalam Surah an-Nahl (16:89)
Dalam Islam, kesejahteraan dapat dioptimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan
dengan baik. Untuk ini, setidaknya ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam ekonomi Islam, yaitu:
1. Sumber (Epistimology), Sumber utama rujukan adalah al-Quran dan al-Sunnah
2. Tujuan Kehidupan, Manusia sebagai khalifahTullah di muka bumi di mana segala bahan yang ada
di bumi dan langit diperuntukan bagi manusia, serta untuk beribadah kepada Allah
Subhanahuataala, sebagaimana FirmanNya dalam surah An-Nahl, (16:12-13):
>. `l _,l !.l _.:l .1l `>.l ,>.`. .:.!, _| _ .l: ., ,1l _l1-,
_ !. : l _ _ !l.>: ..l _| _ .l: , ,1l _`.,
Dan dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu
ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), Dan dia
(menundukkan pula) apa yang dia ciptakan untuk kamu di bumi Ini dengan berlain-lainan
macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.

dan surah Az-Dzariyaat, (51: 56)
!. 1l> _>' _. | .,-,l __
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

3. Konsep Harta sebagai Wasilah. Harta bukanlah segala-galanya, krena Tujuan hidup manusia
yang sebenarnya adalah seperti firman Allah SWT dalam Surah al-Anam (6:162):
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

5
_ | _.. _>. _!,>: _.!.. < , _,..-l __
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam.

Islam sebagai ad-din mengandung ajaran yang komprehensif dan sempurna yang mengatur
seluruh kehidupan manusia, termasuk aspek muamalah, sebagaimana firman Allah SWT dalam: (1)
Surah Al-Maaidah (5:3); (2) Surah Al-Anam (6:38), dan (3) Surah An-Nahl (16:89) dan bahkan ayat
yang terpanjang dalam al-Quran justru tentang perekonomian, yaitu ayat 282 dalam surah al-
Baqarah, yang menurut Ibnu Arabi ayat ini mengandung 52 hukum/masalah ekonomi).
Nabi Muhammad menyebut, ekonomi adalah pilar pembangunan dunia. Sebagaimana sabdanya:
Hendaklah kamu kuasai bisnis, karena 90 % pintu rezeki ada dalam bisnis/perdagangan.
(H.R.Ahmad).
Ash-Shiddiqy, meneliti 700 judul buku yang membahas ekonomi Islam, demikian pula Ahmad
Khan mengutip 1621 tulisan tentang Ekonomi Islam. Pada dasarnya, seluruh kitab fiqh Islam
membahas masalah muamalah, contoh: Imam Syafii, Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah. Sekitar 1/3
isi kitab tersebut berisi tentang kajian muamalah. Oleh karena itulah maka Umer Ibrahim Vadillo
menyatakan, bahwa 1/3 ajaran Islam tentang muamalah.
Tetapi disayangkan, dalam waktu sekitar 7 abad (abad 13 s/d pertengahan abad 20), ajaran
ekonomi Islam diabaikan oleh umat Islam sendiri. Akibatnya ekonomi Islam terbenam dan
mengalami kebekuan, akibatnya ummat Islam tertinggal dan terpuruk dalam bidang ekonomi.
Terutama sejak abad 18 sd abad 20. Proses ini berlangsung lama, sehingga paradigma dan sibghah
ummat Islam menjadi terbiasa dengan sistem kapitalisme yang akhirnya mengkristal dalam
pemikiran ummat Islam. Padahal ekonomi Islam adalah ajaran yang harus diikuti dan diamalkan,
seperti firman Allah SWT dalam surah al-Jatsiyah (45:18):
. ,..l-> _ls -,. _. . !-,.! _,.. ,> _.] .l-, _
Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka
ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui.

Dalam ekonomi Islam, etika agama sangat kuat melandasi hukumnya. Etika ekonomi Islam
meliputi lebih dari seperlima ayat-ayat yang dalam Al-Quran. Jika Kapitalisme menonjolkan sifat
individualisme dari manusia, dan Sosialisme pada kolektivisme, maka Islam menekankan empat
sifat sekaligus yaitu: (1) Kesatuan; (2) Keseimbangan; (3) Kebebasan; dan (4) Tanggungjawab.
Manusia sebagai khalifatullah di dunia tidak mungkin bersifat individualistik karena semua kekayaan
yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi.
Sistem ekonomi Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin,
dan melarang penumpukan kekayaan yang berlebihan, simak firman Allah SWT dalam surah al-
Humazah (104: 2):
_.] _.- !. .::.s _
Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

dan Islam menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial simak Firman
Allah SWT dalam surah al-Hasyr (59: 7):
!. ,! < _ls .]. _. _> _1l < _.ll _.] _1l _...,l _,>...l _ _,,.l _ >, ]:
_,, ,!,.s >.. !. `>.., `_.l :.`> !. >.. .s ..! 1. < | < .,.: ,!1-l _
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

6
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang
berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar
di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka
terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Sebagai muslim, kita harus yakin bahwa al-Quran dan as-Sunnah telah mengatur kehidupan
ekonomi dan Allah telah menyediakan semua kebutuhan manusia dan mempersilahkan manusia
untuk memanfaatkannya, seperti firman-Nya dalam surah Al Bagarah (2: 29):
> _.] _l> >l !. _ _ !-,.> . _.`. _|| ,!..l _.. _,. ,... > _>, ,`_: ,l. __
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Dan sebagai muslim dituntut untuk menerapkan keislamannya dalam seluruh aspek kehidupan,
termasuk ekonomi serta mempelajari ekonomi Islam mutlak, dan selanjutnya disosialisasikan serta
diterapkan.
Ekonomi Islam bertujuan untuk mencapai al-falah di dunia dan akhirat, artinya untuk meraih
akhirat yang hanasah melalui dunia yang hasanah, seperti firman Allah SWT dalam syurah an-Nahl
(16:12-13), sebagaimana dikemukakan di atas.
Bagi Islam, kesejahteraan sosial dapat dioptimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan
dengan seadil-adilnya. Serta semua harta adalah milik Allah, sebagaimana Firman Allah SWT dalam
surah al-Baqarah (2: 284), dan surah al-Hadid (57:7), sebagaimana telah dikemukakan di atas.
Ekonomi Islam adalah ilmu yang multidimensi/interdisiplin, komprehensif dan saling terintegrasi,
dan juga ilmu yang rasional, dengan ilmu ini manusia dapat mengatasi berbagai masalah untuk
mencapai falah.
Falah yang dimaksud adalah mencakup keseluruhan aspek kehidupan manusia, yang meliputi
aspek spiritualitas, moralitas, ekonomi, sosial, budaya, serta politik baik yang dicapai didunia
maupun di akhirat. Ekonomi Islam memiliki empat nilai utama, yaitu: Rabbaniyyah, Ahlaq,
Kemanusian dan Pertengahan, di mana nilai-nilai ini menggambarkan kekhasan atau keunikan
yang utama bagi ekonomi Islam, yaitu:
1) Ekonomi Ilahiah, meraih ridha Allah dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat
Islam, seperti firman Allah SWT dalam surah al-Mulk (67:15):
> _.] _-> `>l _ l: :.! _ !,!.. l _. . ,l| ':.l _
Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan
makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah)
dibangkitkan.

Seorang muslim tidak boleh menumpuk harta, seperti Firman Allah SWT dalam surah al-
Baqarah, (2: 188):
l!. >l. >., _L.,l!, l.. !, _|| ,!>' l!.l !1, _. _. _!.l .!, `.. .l-.
__
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan
jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

7
kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat)
dosa, padahal kamu Mengetahui.

2) Ekonomi Ahlaq, ekonomi Islam memadukan antara ilmu dan ahlaq, sesuai sabda Rasulullah saw:
Sesungguhnya tiadalah aku diutus, melainkan hanya untuk menyempurnakan ahlaq, (al-
Hadits).
3) Ekonomi Kemanusiaan, karena menghargai manusia adalah bagian dari prinsip Ilahiah, yang
perlu hidup dengan pola yang Rabbani dan sekaligus manusiawi, sehingga ia mampu
melaksanakan kewajibannya kepada Tuhannya, kepada dirinya, kepada keluarganya, dan
kepada sesama manusia, seperti Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2: 30):
:| _! ., >.l.ll _.| _sl> _ _ ,l> l! `_-> !, _. ..`, !, ,`. ,!..] _> _,..
..> '_.1. ,l _! _.| `ls !. .l-. _
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui."

4) Ekonomi Pertengahan, ekonomi Islam berlandaskan pada prinsip keseimbangan yang adil
Ekonomi Islam memiliki sifat ekonomi Rabbani dan Insani. Disebut ekonomi Rabbani karena
sarat dengan arahan dan nilai-nilai Ilahiah. Dikatakan ekonomi Insani karena sistem ekonomi ini
dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia.
Seorang muslim, apakah ia sebagai pembeli, penjual, penerima upah, pembuat keuntungan dan
sebagainya, harus berpegang pada tuntunan Allah SWT seperti Firman NYA dalam surah an-Nisaa
(4: 29):
.,`, < > >.s _l> _... !,-. __
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu[286], dan manusia dijadikan bersifat lemah.
Pemilikan kekayaan pribadi harus berperan sebagai investasi untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, seperti firmanNYA dalam surah al Hasyr (59:7), sebagaimana telah
dikemukakan di atas.
Islam menolak penguasaan kekayaan hanya oleh beberapa orang saja. Seperti Sabda Rasulullah
, "Masyarakat punya hak yang sama atas air, padang rumput dan api" (Al Hadits). Demikian pula
firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2: 281):
1. !., _`->. , _|| < . _. _ _. !. ,. > `,lL`, __
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua
dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap
apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Munculnya peradaban Islam yang mandiri di masa yang akan datang tergantung pada cara umat
Islam masa kini memandangnya. Islam sangat concern terhadap hak tenaga kerja, Rasulullah
bersabda "Bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya kering," Sabda tersebut mengisyaratkan
betapa hak-hak pekerja harus mendapat jaminan yang cukup dan Islam melarang bekerja pada
bidang yang tidak diizinkan oleh syariat Islam.
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

8
Ekonomi Islam memiliki komitmen yang sangat kuat pada pengentasan kemiskinan, penegakan
keadilan; pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba, dan pelarangan spekulasi mata uang sehingga
dapat menciptakan stabilitas perekonomian, serta lebih adil, mengajarkan konsep yang unggul
dalam menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional. Sistem ekonomi Islam telah
terbukti ampuh dan lebih resisten di masa krisis.
Ekonomi Islam luar biasa tangguhnya, sehingga dalam mengamalkan tidak boleh sepotong-
potong, simak firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2: 208):
!,!., _.] `.., l>: _ l.l ! `-,.. ,L> _.L,:l ..| l .s _,,. __
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu
turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

dan surah al Baqarah (2: 85):
. .. ,.> _l.1. >.. `>> !1, >.. _. >.,: `.L. ,l. .!, .`-l | .!, _..
>... > >: ,ls `>>| `... _-,, ..>l _`>. _-,, !. ',> _. `_-, .l:
.. | _> _ :,>l !,..l , ..,1l :`, _|| .: ,.-l !. < _.-, !.s l.-. __
Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan
daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan
membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu
tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. apakah kamu beriman kepada
sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang
yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari
kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu
perbuat.

Mengamalkan ekonomi Islam akan mendatangkan manfaat yang besar bagi umat Islam itu
sendiri, Pertama, mewujudkan integritas seorang muslim yang kaffah. Kedua, menerapkan dan
mengamalkan ekonomi Islam untuk meraih keuntungan duniawi dan ukhrawi. Ketiga, bernilai
ibadah. Keempat, mengamalkan ekonomi Islam melalui lembaga yang Islami. Kelima, mengamalkan
ekonomi Islam melalui produk-produk yang islami, Keenam, mengamalkan ekonomi Islam berarti
mendukung gerakan amar maruf nahi munkar.
B. Faedah Mengamalkan Ekonomi Islam
Keberadaan ekonomi islam akan memberikan faedah yang besar bagi umat Islam itu sendiri,
Pertama, mewujudkan integritas seorang muslim yang kaffah, sehingga Islamnya tidak lagi persial.
Kedua, menerapkan dan mengamalkan ekonomi islam melalui bank, asuransi, reksadana, leasing,
anjak piutang, pegadaian, atau bisnis lainnya yang Islami, akan memperoleh keuntungan duniawi
dan ukhrawi. Ketiga, praktek ekonomi berdasarkan Islam bernilai ibadah, karena telah
mengamalkan syariah Allah Swt. Keempat, mengamalkan ekonomi Islam berarti mendukung
kemajuan lembaga ekonomi umat Islam sendiri. Kelima, mengamalkan ekonomi Islam dengan
membuka tabungan, deposito atau menjadi nasabah Asuransi Islami, berarti mendukung upaya
pemberdayaan ekonomi umat Islam itu sendiri, sebab dana yang terkumpul di lembaga keuangan
Islami itu dapat digunakan umat Islam untuk mengembangkan usaha-usaha kaum muslimin.
Keenam, mengamalkan ekonomi Islam berarti mendukung gerakan amar maruf nahi munkar, sebab
dana yang terkumpul tersebut hanya boleh dimanfaatkan untuk usaha-usaha atau proyek proyek
halal.
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

9
Merupakan solusi penting yang harus diperhatikan pemerintahan dalam merecovery ekonomi
Indonesia adalah penerapan ekonomi Islam. Ekonomi Islam memiliki komitmen yang kuat pada
pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba, dan
pelarangan spekulasi mata uang sehingga menciptakan stabilitas perekonomian.
Ekonomi Islam lebih menekankan keadilan, mengajarkan konsep yang unggul dalam
menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional. Fakta ini telah diakui oleh banyak
pakar ekonomi global, seperti Rodney Shakespeare (United Kingdom), Volker Nienhaus (Jerman),
dsb.
Pemerintah hendaknya memberikan perhatian besar kepada sistem ekonomi Islam yang telah
terbukti ampuh dan lebih resisten di masa krisis. Sistem ekonomi Islam yang diwakili lembaga
perbankan syariah telah menunjukkan ketangguhannya bisa bertahan karena ia menggunakan
sistemi hasil sehingga tidak mengalami negative spread sebagaimana bank-bank konvensional.
Ekonomi Islam belum menjadi perhatian pemerintah. Sistem ini mempunyai banyak keunggulan
untuk diterapkan, Ekonomi Islam bagaikan pohon tumbuhan yang bagus dan potensial, tapi
dibiarkan saja, tidak dipupuk dan disiram. Akibatnya, pertumbuhannya sangat lambat, karena
kurang mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan pihak-pihak yang berkompeten, seperti
Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan dan Industri, BAPENAS, DPR dan Menteri yang terkait
lainnya.
Kita perlu belajar banyak pada keberhasilan Malaysia mengembangkan ekonomi Islam secara
signifikan dan menjadi teladan dunia internasional, adalah disebabkan karena kebijakan yang
secara serius mengembangkan ekonomi Islam. Mereka tampil sebagai pelopor kebangkitan ekonomi
Islam, dengan kebijakan yang sungguh-sungguh membangun kekuatan ekonomi berdasarkan
prinsip syariah. Indonesia yang jauh lebih dulu merdeka dan menentukan nasibnya sendiri, kini
tertinggal jauh dari Malaysia.
Kebijakan Malaysia ketika dengan sistem ekonomi Islam, mampu mengangkat ekonomi
Malaysia setara dengan Singapura. Tanpa kebijakan mereka, tentu tidak mungkin ekonomi Islam
terangkat seperti sekarang, tanpa kebijakan mereka tidak mungkin terjadi perubahan pendapatan
masyarakat Islam secara signifikan. Mereka bukan saja berhasil membangun perbankan, asuransi,
pasar modal, tabungan haji dan lembaga keuagan lainnya secara sistem syariah, tetapi juga telah
mampu membangun peradaban ekonomi baik mikro maupun makro dengan didasari prinsip nilai-
nilai Islami.
Aplikasi ekonomi Islam bukanlah untuk kepentingan ummat Islam saja. Penilaian sektarianisme
bagi penerapan ekonomi Islam seperti itu sangat keliru, sebab ekonomi Islam yang konsen pada
penegakan prinsip keadilan dan membawa rahmat untuk semua orang tidak diperuntukkan bagi
ummat Islam saja, dan karena itu ekonomi Islam bersifat inklusif.
C. Filsafah Ekonomi Islam
Filsafat ekonomi, merupakan dasar dari sebuah sistem ekonomi yang dibangun. Berdasarkan
filsafat ekonomi yang ada dapat diturunkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai, misalnya tujuan
kegiatan ekonomi konsumsi, produksi, distribusi, pembangunan ekonomi, kebijakan moneter,
kebijakan fiskal, dsb.
Filsafat ekonomi Islam didasarkan pada konsep triangle: yakni filsafat Tuhan, manusia dan alam.
Kunci filsafat ekonomi Islam terletak pada manusia dengan Tuhan, alam dan manusia lainnya.
Dimensi filsafat ekonomi Islam inilah yang membedakan ekonomi Islam dengan sistem ekonomi
lainnya kapitalisme dan sosialisme. Filsafat ekonomi yang Islami, memiliki paradigma yang relevan
dengan nilai-nilai logis, etis dan estetis yang Islami yang kemudian difungsionalkan ke tengah
tingkah laku ekonomi manusia. Dari filsafat ekonomi ini diturunkan juga nilai-nilai instrumental
sebagai perangkat peraturan permainan (rule of game) suatu kegiatan.
Dasar perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah pada
falsafahnya, yang terdiri dari nilai-nilai dan tujuan. Dalam ekonomi Islam, nilai-nilai ekonomi
bersumber Alquran dan hadits berupa prinsip-prinsip universal. Di saat sistem ekonomi lain hanya
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

10
terfokus pada hukum dan sebab akibat dari suatu kegiatan ekonomi, Islam lebih jauh membahas
nilai-nilai dan etika yang terkandung dalam setiap kegiatan ekonomi tersebut. Nilai-nilai inilah yang
selalu mendasari setiap kegiatan ekonomi Islam.
Bangunan Ekonomi Islam didasarkan pada fondasi utama yaitu tauhid. Fondasi berikutnya,
adalah syariah dan akhlak. Pengamalan syariah dan akhlak merupakan refleksi dari tauhid. Landasan
tauhid yang tidak kokoh akan mengakibatkan implementasi syariah dan akhlak terganggu.
Dasar syariah membimbing aktivitas ekonomi, sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.
Sedangkan akhlak membimbing aktivitas ekonomi manusia agar senantiasa mengedepankan
moralitas dan etika untuk mencapai tujuan. Akhlah yang terpancar dari iman akan mebnentuk
integritas yang membentuk good corporate governance dan market diciplin yang baik.
Dari fondasi ini muncul 10 prinsip derivatif sebagai pilar ekonomi Islam, yang meliputi: (1)
Tauhid; (2) Maslahah; (3) adil; (4) Khlafah; (5) ukhuawah; (6) kerja dan produktivitas; (7)
kepemilikan; (8) kebebasan dan tanggung jawab; (9) jaminan social; dan (10) Nubuwwah (siddiq;
amanah; tabliq dan fathonah)
D. Standar Kurikulum Ekonomi Islam
Perkembangan Bisnis Islami yang sangat cepat saat ini membutuhkan SDM Islami (SD Insani)
profesional dan berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan pelaku bisnis/usaha. Sebagaimana
di atas telah dikemukakan, bahwa kebutuhan SDM Islami tersebut, sampai saat ini belum diimbangi
dengan supply yang memadai.
Pada tataran teoritis dan konseptual, kita masih merasakan sangat kekurangan pakar ilmu
ekonomi Islam yang sekaligus mendalami ilmu ushul fikh, fikih muamalah.
Ketika menjadi persoalan akademik, maka peran perguruan tinggi menjadi sangat penting dalam
pemecahannya. Untuk menghasilkan sumber daya insani yang berkualitas dan professional,
perguruan tinggi tidak saja dituntut menyiapkan pengembangan kurikulum dan perumusan silabi
yang tepat dan memadai, tetapi bagaimana output lulusannya memiliki basis kompetensi yang baik
dan bermutu yang dibutuhkan pasar.
Dengan adanya perubahan yang serba cepat dalam Bisnis Islam yang merupakan bagian
integral dari sistem ekonomi Islam itu sendiri, sudah sepatutnya perguruan tinggi harus
mempersiapkan output lulusan yang mampu menjawab tantangan ini. Lulusan perguruan tinggi
harus memiliki kualitas yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
industri keuangan Islam saat ini.
Langkah yang dilakukan beberapa perguruan tinggi tersebut tentu saja merupakan hal yang
sangat positif di tengah ketiadaan upaya secara sistematis dari pemerintah, khususnya yang
menangani pendidikan tinggi, baik Diknas maupun Depag Namun upaya pengembangan prodi atau
konsentrasi ekonomi Islam secara terpisah (masing-masing) oleh seluruh Perguruan Tinggi
tersebut menimbulkan perbedaan kurikulum antar satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi
lainnya untuk program studi yang sama.
Penyusunan kurikulum ekonomi Islam oleh masing-masing perguruan tinggi secara sendiri-
sendiri didasarkan karena latar belakang akademik para pengajarnya yang berbeda dan
mengabaikan kebutuhan pasar dan lebih celakanya, kurikulum tersebut disusun oleh bukan ahlinya.
Dampak negative dirasakan oleh lulusan dengan standar kompetensi yang tidak setara dan tidak
berorientasi pada kompetensi, mutu dan kebutuhan pasar, dan jelas di sini yang dirugikan adalah
lulusan sebagai pencari kerja.
Kesetaraan, kesamaan kurikulum dan silabus Program Studi Ekonomi Islam mutlak diperlukan,
sehingga minimal akan diperoleh adanya standar kompetensi dan standar mutu lulusan sehingga
akan memudahkan bagi setiap lulusan untuk berkompetiti dan dunia kerja, yang akhirnya akan
melahirkan bisnis Islam yang bermutu karena dikelola/diurus oleh manusia yang bermutu yang
dilahirkan dari lembaga pendidikan yang bermutu pula.
Tentu disadari pula bahwa lulusan yang bermutu ini adalah merupakan hasil dari proses
pendidikan bermutu yang diberikan tenaga kependiidkan/guru/dosen yang bermutu pula.
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

11
Konsekuensi negative dari kurikulum, perguruan tinggi, dosen, buku teks yang kurang bermutu
niscaya harapan akan melahirkan SDM Islami bermutu jauh panggang dari api, hal ini berlaku pula
bagi perguruan tinggi yang tertelat di kota-kota kecil, di sinilah peran pemerintah yang dalam hal ini
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan diperlukan.
E. Permasalahan Mandasar Ekonomi Islam Indonesia dan SDM Islami
Permasalahan mendasar yang dihadapi oleh para pakar maupun praktisi ekonomi Islam adalah
terbatasnya kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang memiliki penguasaan ilmu ekonomi
yang berbasis pada syariah Islamiyyah. Terbatasnya jumlah SDM yang memenuhi kualifikasi
tersebut mendorong berbagai pihak yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap ekonomi Islam
untuk mengambil langkah-langkah yang bersifat solutif. Diantara langkah-langkah tersebut,
membangun institusi pendidikan ekonomi Islam yang berkualitas tentu menjadi pilihan yang tidak
dapat ditawar lagi, kendatipun kendala yang dihadapi pun tidaklah mudah. Diperlukan kerja keras
dan perencanaan yang matang, agar output yang dihasilkan mampu menjawab berbagai
permasalahan yang ada.
Tingginya kebutuhan SDM ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi syariah semakin dapat
diterima oleh masyarakat. Kendatipun harus diakui bahwa ketika berbagai pemikiran dan konsep
ekonomi syariah ini pertama kali diperkenalkan, kemudian diimplementasikan dalam berbagai
institusi ekonomi, sementara itu masih ada sebagian dari umat Islam banyak yang ragu dan tidak
percaya. Munculnya sikap semacam ini sebagai refleksi dari pemahaman bahwa ajaran agama Islam
hanya mengatur pola hubungan yang bersifat individual antara manusia dengan Tuhannya saja, dan
tidak mengatur aspek-aspek lain yang berkaitan dengan mu`amalah yang berhubungan dengan
interaksi dan pola kehidupan antar sesama manusia. sesungguhnya ajaran Islam adalah ajaran yang
bersifat komprehensif dan universal, dimana tidak ada satu bidang pun yang luput dari perhatian
Islam, termasuk bidang ekonomi tentunya. Berkembangnya wacana ekonomi Islam sebagai sistem
alternatif perekonomian yang ada, tidak lepas dari kekeliruan sejumlah premis ekonomi
konvensional, terutama dalam masalah rasionalitas dan moralitas. Ilmu ekonomi konvensional sama
sekali tidak mempertimbangkan aspek nilai dan moral dalam setiap aktivitas yang dilakukannya,
sehingga tidak mampu menciptakan pemerataan dan kesejahteraan secara lebih adil. Yang terjadi
justru ketimpangan dan kesenjangan yang luar biasa.
Landasan Filosofis Ekonomi Islam pada dasarnya, ada tiga yang melekat pada ekonomi Islam,
yaitu: Pertama, inspirasi dan petunjuk pelaksanaan ekonomi Islam bersumber dari al-Quran dan
Sunnah Nabi SAW, sehingga tidak boleh ada satu aktivitas perekonomian pun, baik produksi,
distribusi, maupun konsumsi yang bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah. Demikian pula
berbagai kebijakan dan regulasi yang dikeluarkan, sepatutnya selaras dan sejalan dengan kedua
sumber hukum tertinggi dalam ajaran Islam. Kedua, perspektif dan pandangan-pandangan ekonomi
syariah mempertimbangkan peradaban Islam sebagai sumber, sehingga kondisi yang terjadi di masa
kejayaan peradaban Islam memmengaruhi terhadap pembentukan perspektif dan pandangan
ekonomi Islam, untuk kemudian dikomparasikan dengan sistem konvensional yang ada, yang
selanjutnya diterapkan pada kondisi saat ini. Ketiga, bahwa ekonomi Islam bertujuan untuk
menemukan dan menghidupkan kembali nilai-nilai, prioritas, dan etika ekonomi komunitas muslim
pada periode awal perkembangan Islam (M Yasir Nasution, 2002).
1. Macam Bisnis Islami
Seperti dikemukakan di atas, bisnis Islami tidak semata dibidang Ekonomi, Keuangan dan
perbankan saja, akan tetapi lebih luas dari hal di atas, sehingga kehadiran Kurikulum Program Studi
Ekonomi Islam, juga untuk mengisi semua kebutuhan bisnis, seperti:

Bidang Usaha Bank & Keuangan Bidang Usaha Non Keuangan
1 Bank 1 Lermbaga Pendidikan
2 Leasing 2 Konsultan
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

12
3 Asuransi 3 Rumah Sakit
4 Dana Pensiun 4 Rumah Makan
5 Pegadaian 5 Yayasan social
6 Anjak Piutang 6 Koperasi
7 Pasar Modal 7 Notaris
8 BMT 8 Penasihat Hukum
9 Pasar Keuangan 9 Psikolog
10 Dana Reksa 10 Kontraktor
11 Lembaga keuangan Mikro 11 Perdagangan
12 Lembaga Pembiayaan islami 12 Perindustrian
13 Perkebunan
14 Kehutanan
15 Pertanian
16 Akuntan Publik
17 Hotel
dan lain-lain dan lain-lain

Diakui bahwa, dalam banyak kesempatan, ketika berbicara masalah ekonomi Islam lebih banyak
menyoroti masalah perbankan saja, hal inipun tentu tidak salah mengingat demikian kuatnya
dukungan Bank Indonesia dalam upaya mengatasi keterbatasan SDM berbasis Ekonomi Islam untuk
memenuhi kebutuhan untuk bisnis Perbankan yang saat ini tidak kurang dari kisaran 40.000 orang.
Di satu sisi pertumbuhan dan perkembangan Bank Islam sangat pesat, akan tetapi tidak diimbangi
dengan ketersediaan SDM yang memadai sesuai dengan kebutuhan, sehingga banyak bank yang
menempuh jalan pintas dengan membajak dari Bank Islam lainnya ataupun merekrut dari Bank
Konvensional yang belum memiliki ruh bisnis islami.
2. Potret, Tantangan dan Harapan
a) Potret dan Tantangan
1) Terbatasnya literatur berupa text books tentang ekonomi Islam*.
2) Terbatasnya pakar ekonomi dan intelektual (guru) baik di perguruan tinggi maupun di
sekolah menengah yang memahami ilmu ekonomi Islam.
3) Unemployment Rate yang belum mencapai target
4) Kesenjangan Ekonomi (Wealth & Income Disparity)
5) Lack of Implementation of Ethics & Moral in Economic Activities
6) Lack of Knowledge Based Management
7) Optimizing Natural Resources
8) Optimizing Domestic Market Potential
9) Adanya standar mutu (modul/materi, pengajar, lembaga pendidikan/training provider,
lembaga sertifikasi).
10) Berbagai jenis bank islam memunculkan kebutuhan kualifikasi SDM yang beragam.
11) Investor di bidang pendidikan perbankan/keuangan Islam pengembangan lembaga
pendidikan yang ada dan penambahan lembaga pendidikan yg secara khusus memenuhi
kebutuhan Bisnis Islam.
12) Sosialisasi kepada masyarakat akan pilihan alternatif program pendidikan/karir di bidang
bisnis Islam.
13) Terbatasnya pakar ekonomi Islam Indonesia yang menulis tentang ilmu ekonomi Islam.
14) Terbatasnya perguruan tinggi yang menawarkan program studi
ekonomi/keuangan/perbankan/bisnis islam pada semua strata S1/S2/S3
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

13
15) Berbedanya kurikulum standard yang menggabungkan pembelajaran operational
financial/business skill dan Islamic skill
16) Jumlah dosen/pengajar yang kompeten dalam ekonomi/keuangan/ perbankan/bisnis
islam masih terbatas
17) Kurangnya pemahaman pakar ekonomi pada nilai-nilai akidah dan akhlak serta hukum
Islam, sehingga keberpihakan dan pengetahuan tentang ekonomi Islam belum begitu
besar.
18) Terbaginya institusi induk dalam system pendidikan Indonesia, yaitu Departemen
Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Diknasbud) dan Departemen Agama (Depag),
sehingga untuk kasus ekonomi Islam ini masih belum focus dalam perencanaan dan
sinkronisasinya dengan dunia usaha.
b) Harapan
1) Terlahir manusia yang berEtika, Moral yang Luhur, amanah
2) Tercipta Corporate Governance
3) Tercipta Transparency
4) Terarah pada Real Sector Development
5) Tahun 2020 porsi Ekonomi Islam mencapai 20%
6) Terbentuk Undang-undang dual economic system
7) Bersatunya semua potensi ekonomi Islam dalam satu wadah
3. Problematika Yang Dihadapi Pencari Kerja
a) Program Studi Ekonomi Syariah-Kementerian Agama
1) Kalah berkompetisi dalam mengikuti seleksi dilingkungan Bank
2) Unggul dari sisi fiqh Muamalah
3) Belum tersedianya konsentrasi sesuai kebutuhan dunia kerja/bisnis
b) Program Studi Ekonomi Konvensional
1) Unggul dalam muatan keilmuan
2) Sangat lemah dalam muatan Bisnis Islami, akan tetapi dengan sedikit upaya masih
unggul dalam kompetisi seleksi dilingkungan dunia kerja
c) Program Studi Ekonomi Islam-Kemendiknas
1) Lebih percara diri dalam berkompetisi
2) Memiliki kedalaman dalam muatan ilmu dan fiqh muamalah
4. Kontroversi Kurukulum
a) Program Studi Ekonomi Syariah-Kementerian Agama
1) Kurikulum dengan penekanan lebih pada Fiqh Muamalah
2) Kedalaman Materi yang belum setara dengan Prodi Ekonomi Islam
3) Kurikulum lebih bersifat umum dan relative belum tersedianya konsentrasi sesuai
kebutuhan dunia kerja/bisnis
b) Program Studi Ekonomi Konvensional
1) Kurikulum tidak mendukung untuk kemajuan Ekonomi/bisnis islam
2) Kurikulum dan silabus banyak menyesatkan
c) Program Studi Ekonomi Islam-Kemendiknasbud
1) Kurikulum dan Silabus dibangun sebagai perpaduan dari Program Studi Pembangunan
dan Program Studi Manajemen
2) Kurikulum dan silabus telah dikaji dalam berbagai seminar dan Lokakarya (Perguruan
Tinggi Muhammadyah se Indonesia 13-14 Februari 2009; Forum Rektor Indonesia;
Forum Dekan Fakultas Ekonomi; Lokakarya dengan Praktisi dan akademisi 25 Me1 2009
di FEB-UGM) serta yang menghadirkan pembicara dari beberapa Negara yang telah
memiliki Program Studi Ekonomi Islam
F. Solusi
1. Single Kurikulum Untuk Program Studi Ekonomi Islam-Kemendiknasbud
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

14
a) Cukup satu Kurikulum dan Silabus Program Studi Ekonomi Islam
b) Lengkapi dengan beberapa konsentrasi sesuai dengan kebutuhan pasar, seperti:
1) Perbankan Islam
2) Keuangan dan Investasi Islam
3) Kepemimpinan Islam
4) Islamic Human Capital (SDM Islami)
5) Pemasaran Islami
6) Risiko Bisnis Islami
7) Jasa-Jasa Islami
8) Dan lain-lain
c) Khusus untuk Program S1 dan S2, kepada Mahasiswa diberi peluang untuk memilih jalur
penyelesaian studi (skripsi/tesis; buniness plan, dll)
2. Kurikulum Syariah -Kementerian Agama
a) Penekanan kurikulum hendaknya lebih spesifik (mungkin dari sisi fiqh Muamalah)
b) Kurikulum yang ada dibuat lebih spesifik dengan konsentrasi yang spesifik pula untuk
memenuhi kebutuhan pasar
3. Pendirian/pembukaan program studi baru dilingkungan Kemendiknasbud sudah merupakan
langkah baru, akan tetapi masih sangat kental dengan birokrasi yang menghambat
4. Perlu diperlakukan dengan kebijakan khusus untuk mempercepat penerbitan Program Studi baru
5. Perlu keadilan dalam pemberian kemudahan membuka kelas paralel, sebagaimana yang saat ini
telah dinikmati oleh beberapa Perguruan Tinggi Negeri dengan kelas jauh, seperti: UGM, UNAIR,
UNPAD, ITB dan lain-lain
6. memperbanyak riset, dan penelitian tentang ekonomi Islam, baik yang berskala mikro maupun
makro.
7. mengembangkan networking yang lebih luas dengan berbagai institusi pendidikan ekonomi
Islam lainnya, lembaga-lembaga keuangan dan non keuangan
8. Perlu motivasi untuk akademisi dan praktisi menulis buku teks dengan subsidi khusus

Referensi:
An Nabhani, Taqiyyudin. 1990. An Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam. Beirut : Darul Ummah. Cetakan
IV.
Ali Mutasowifin, 2003. Menggagas Strategi Pengembangan Perbankan Islam di Pasar Non Muslim
dalam Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 3 No. 1, September 2003: 25-39
Abdul Azis Thaba,1996, Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru, Jakarta: Gema Insani Press.
Bahtiar Effendy,1998, Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia, Jakarta: Penerbit Paramadina.
Baihaqi Abd. Madjid ,2004, Kesadaran Baru Berekonomi Islam http://
www.bmtlink.web.id/newpage21.htm as retrieved on 11 Dec 2004 17:17:05 GMT. accessed,
16 Desember 2004.
Chapra, Umer. 2000. The Future of Economics : An Islamic Perspektive, The Islamic Foundation,
UK.
Chapra, Umar. 2000. Sistim Moneter Islam. Terj. Ikhwan Abidin basri. Gema Insani Press. Jakarta.
Deliarnov, 1997, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Raja Grafindo Perkasa, Jakarta.
Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan - Bank Indonesia. 2000. Ringkasan Pokok-Pokok
Hasil Penelitian Potensi, Preferensi dan Perilaku Masyarakat terhadap Bank Islam di Pulau
Jawa. Jakarta: Bank Indonesia.
Dixon, Rob. 1992. Islamic Banking. The International Journal of Bank Marketing. 10 Ekonomi Islam
di Indonesia, Bukan Alternatif tapi Keharusan http://
www.eramoslem.com/br/fo/4a/14171,1,v.html, accessed 17 Desember 2004.
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

15
Erol, Cengiz, Erdener Kaynak, and El-Bdour Radi. 1990. Conventional and Islamic Banks: Patronage
Behaviour of Jordanian Customers. The International Journal of Bank Marketing. 8 (4).
Eldine, Achyar, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, Jurnal Ilmiah, www.uika.bogor.ac.i
Fuad Mohd Fachruddin, 1983, Riba Dalam Bank, Koperasi, Perseoran & Asuransi, Almaarif,
Bandung.
Gerrard, Philip, and J. Barton Cunningham. 1997. Islamic Banking: a Study in Singapore. The
International Journal of Bank Marketing. 15 (6).
Koesters, Paul Heinz, 1987, Tokoh-tokoh Ekonomi Mengubah Dunia Pemikiran-pemikiran yang
Mempengaruhi Hidup Kita, Gramedia, Jakarta.
Kahf, Monzer, Ekonomi Islam (Telaah analitik Terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam). Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 1995.
Lunati, M. Teresa, Ethical Issues in Economics, from Altruism to Cooperation to Equality, St. Martens
Press, New York, 1997.
Lewis, Mervyn K. 1999. The Cross and the Crescent: Comparing Islamic and Christian Attitudes to
Usury. Iqtisad: Journal of Islamic Economics. 1 (1).
Metwally, Teori dan Model Ekonomi Islam. Jakarta : PT. Bangkit Daya Insana. 1995
Merzagamal,Islam dan Ilmu Ekonomi, PenulisLepas.com,07 September 2006
Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Mustafa Edwin Nasution, et al edisi I tahun 2006
Muhammad Abdul Mannan, 1993, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, PT. Dana Bhakti Wakaf .
Nagvi, Syed Nawab Haider, Ethics and Economics, An Islamic Synthesis, The Islamic Foundation,
London, 1981.
Page, H. 1985. In Restraint of Usury. The Lending of Money at Interest. London: Chartered Institute
of Public Finance and Accountancy.
Quthub, Muhammad.2001.Islam Agama Pembebas,Mitra Pustaka,Yogyakarta
Qardhawy, Yusuf. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. Jakarta : Robbani Press, 2004
Rivai, Veithzal. 2007. Bank and Financial Management (Jakarta: RajaGrafindo Persada)
Rivai, Veithzal. 2008. Islamic Financial Management (Jakarta: RajaGrafindo Persada)
Rivai, Veithzal. 2009. Islamic Economics (Jakarta: Bumi Aksara)
Rivai, Veithzal 2009, Islamic Human Capital (Jakarta: RajaGrafindo Persada)
Rivai, Veithzal 2010, Islamic Financial Management, Jilid 1 (Jakarta: Ghalia)
Rivai, Veithzal 2011, Islamic Transactiion Kaw in Business (Jakarta; Bumi Aksara)
Robert L. Heilbroner, 1986, Tokoh-Tokoh Besar Pemikir Ekonomi, UI Press.
Samuelson, Paul A. & Nordhaus, William D., 1999, Mikroekonomi, Alih Bahasa: Haris Munandar dkk.,
Erlangga, Jakarta.
Swedberg, Richard, Max Weber and the Idea of Economic Sociology, Princeton UP, Princeton, 1998
Triono, Dwi Condro. Mata Uang Negara Khilafah. Media Politik dan Dakwah Al Waie. No. 70. Tahun
VI. Juni 2006.
Weber, Max, The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism, Charles Scribners Sons, New York,
1958
Zainul Arifin, Prinsip-prinsip Operasional Bank IslamWednesday, 22 November 2000
www.tazkiaonline.com
Ziauddin sardar. 1987. Islamic Future: The Shape of Ideas to Come. Edisi Indonesia: Masa Depan
Islam (Jakarta: Pustaka)


---------
www.shariaeconomy.blogspot.com,www.jaharuddin.blogspot.com |

16
Article ini disampaikan pada saat Workshop Arsitektur Ilmu Ekonomi Islam di Uin
Syarif Hidayatullah Jakarta. 28 Februari 2012.