P. 1
Buku Geger Talangsari Lengkap

Buku Geger Talangsari Lengkap

4.0

|Views: 1,730|Likes:
Dipublikasikan oleh Indra Anugrah
Buku Talangsari terlengkap, berikut juga dokumen-dokumen mengenai peristiwa, serta kesaksian pelaku sejarah langsung.
Buku Talangsari terlengkap, berikut juga dokumen-dokumen mengenai peristiwa, serta kesaksian pelaku sejarah langsung.

More info:

Published by: Indra Anugrah on Nov 24, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

Sections

Buku Geger Talangsari

Page 1

Buku Geger Talangsari
PENGANTAR Balai Pustaka KARYA ini, hasil pekerjaan penelitian lapangan yang dilakukan oleh Widjiono Wasis, yang disusun dan ditulis -menurut Ramadhan K.H.- dengan gaya yang ganjil, tidak konvensional, lancar, dan jarang terdapat dalam buku-buku serupa mengenai penelitian peristiwa. Penulis telah mengeluarkan biaya dan perhatian yang luar biasa, termasuk waktu yang sangat panjang dalam proses penelitian yang tidak selalu berjalan lancar, sampai akhirnya berhasil menyuguhkan karya ini. Yang cukup menarik ialah penutup dari karya ini, mengedepankan islah sebagai pokok untuk menyelesaikan setiap perselisihan -seberapa pun kadamya- demi kedamaian dan persatuan serta untuk menghindari perpecahan yang tidak berujung. Semoga buku ini mampu memberikan sumbangan yang berarti. Balai Pustaka

PENGANTAR RAMADHAN K.H.
Sebuah Pertimbangan SEORANG sahabat baru, Saudara Widjiono Wasis menyuguhkan sebuah naskah yang ternyata mengikat perhatian saya, menyebabkan saya ingin terus membacanya. la mencantumkan judul pada naskahnya itu GEGER TALANGSARI, Serpihan Gerakan Darul Islam. Di bulan Februari 1989 telah terjadi peristiwa yang menggegerkan di Cihideung, Lampung. Rombongan pejabat muspika diserang dan Kapten Soetiman dibunuh. Kelanjutannya adalah bentrokan fisik antara rakyat bersama tentara dan polisi dengan mereka yang membunuh petugas negara itu; yang bemama Warsidi menjadi pembicaraan orang, termasuk sejumlah pengikutnya. Dan kemudian Warsidi pun diakhiri hidupnya dengan tembakan peluru, sementara sejumlah orang juga jadi korban. Tak jelas benar berapajumlahnya. Peristiwa ini menjadi perhatian Wasis, terutama -seperti diceritakannya sendiri kepada saya-, karena adanya pro-kontra mengenai kasus ini. Ada pihak yang ingin mengungkit dan mempersoalkan, tetapi kata Wasis, masyarakat setempat menolaknya dengan keras. Selain itu, -masih kata dia, gegeran Talangsari punya ciri dan cara yang unik, tentang perkembangan sejarah perjuangan Islam di Indonesia. Wasis tergerak hatinya untuk mengadakan penelitian tentang peristiwa ini, yang bagaimana pun juga menyangkut keyakinan hidup, agama, Islam. Dan kalau sudah bicara tentang ini, kita jadi ingat, apa hubungan peristiwa ini dengan Darul Islam (DI), dengan NII (Negara Islam Indonesia), dengan ajaran atau pandangan hidup tokoh-tokoh berpengaruh yang berkaitan atau seperti berkaitan dengan ini, semisal SM Kartosoewirjo, Daoed Beureuh, Ibnu Hajar, Kahar Muzakkar, dengan peristiwa Cicendo, pembajakan Woyla, Tragedi Tanjung Priok. Hampir satu tahun Wasis bekerja untuk mendapatkan gambaran yang dirasakannya pantas dan bisa dipertanggungjawabkannya di hadapan umum. la mulai bekerja untuk ini di bulan Mei 2000 dan dianggapnya selesai di bulan April 200 1, dengan terhitung 2 ( dua) bulan mengadakan penelitian lapangan di Lampung, sekian waktu di sejumlah perpustakaan dan tempat bacaan lainnya, http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari dan 3 (tiga) bulan menu1iskan hasil penelitiannya. Syukur bahwa ia menaruh perhatian banyak pada sejarah, terutama sejarah kontemporer, pada buku-buku biografi dan otobiografi, pada hasil-hasil wawancara orang, dan juga pada dunia sastra. Dengan latar belakang itu ia diringankan oleh pengetahuannya yang sudah dimilikinya. Ada pula disebutnya hasil pekerjaannya yang sudah pemah ia hidangkan kepada umum, antaranya Ensiklopedi Nusantara (1989/PT. DianRakyat),AlmanakJagad Raya (1992/PT. Dian Rakyat) di samping duabuah buku lainnya yang agak menyimpang dari perhatiannya yang utama, tetapi pasti menjadi sasaran penerbit: Kamus Bisnis ( 1994/PT. Dian Rakyat) dan Ensiklopedi Pelajar (1995/PT. Dian Rakyat). *** Saya sendiri jauh dari menguasai materi yang digarap oleh peneliti muda Wasis ini. Akan tetapi, hasil pekerjaan peneliti lapangan ini rasanya cukup menarik perhatian umum seperti saya, dengan susunan dan cara penulisannya, gayanya yang ganjil, jarang terdapat di dalam buku-buku yang serupa mengenai penelitian peristiwa, tidak konvensional dan lancar. Pengetahuannya dan pendiriannya mengenai Islam mencolok, termasuk mengenai islah, sebagai penyelesaian persoalan. Dan yang menyebabkan saya berani memberikan komentar atas hasil pekerjaan Sdr. Wasis ini, adalah sekurang-kurangnya adanya keterangan Letjen (Purn.) A.M. Hendropriyono yang pemah menangani peristiwa ini sewaktu masih menjadi Komandan Korem Garuda Hitam -Lampung, dengan pangkat Kolonel waktu itu. Letjen (Pum.) itu mengemukakan kepada saya, bahwa data-data yang didapat dan diangkat oleh Sdr. Wasis adalah benar. Harap diingat bahwa A.M. Hendropriyono tampak tidak kunjung henti menambah ilmunya di pelbagai pendidikan. Mengemukakan begitu, berarti mempertaruhkan reputasinya sebagai intelektual. *** Kesimpulan Wasis setelah ia mengadakan penelitian lapangan dengan cara mengadakan wawancara dengan sejumlah orang yang dianggapnya penting untuk memberikan kesaksian, ialah bahwa peristiwa itu bukan pemberontakan. Kelompok Warsidi bukan gerakan separatis seperti yang kini ( th 2001) ada di Aceh atau yang di Maluku dan Irian Jaya. Dia juga bukan aliran sesat yang timbul tenggelam. Kelompok Warsidi juga bukan gerakan makar. Tanda-tanda makar tidak ditemukannya pada kelompok ini, seperti diceritakannya kepada saya. Mereka tidak melengkapi diri dengan senjata-senjata organik, sejenis atau setingkat militer. Kelompok ini, menurut Wasis, lebih tepat disebut sebagai gerakan pengacau keamanan yang membuat kerusuhan dalam skala besar, setelah merasa bersalah membunuh seorang petinggi militer di daerah tersebut. Tentunya pekerjaan penelitian seperti yang dilakukan Wasis ini mengeluarkan tenaga dan menyita waktu yang tidak sedikit. "Hal terberat tapi sekaligus terindah", kata peneliti ini, "adalah mencari tokoh-tokoh pengikut Warsidi", orang yang berperan dalam peristiwa yang pemah menggegerkan Lampung 12 tahun yang lalu itu. Namun, penelitian seperti ini, -termasuk mengenai peristiwa yang menyedihkan di Lampung itu-, tentunya tidak berhenti sampai di sini. Sumbangan kerja peneliti lain ditunggu oleh banyak pihak. *** Ramadhan K.H. Jakarta, 5 Juni 2001

Page 2

DASAR PEMIKIRAN
DI MASA lalu, ada banyak peristiwa. Terlebih jika menyangkut kehidupan politik di Indonesia, sedikit saja ada gejolak, orang langsung berteriak, pasti ada orang Islam berontak. Nyatanya memang demikian. Apalagi setelah muncul berbagai peristiwa, beruntun seperti diatur, kapan harus.bergerak dan http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari kapan tidak. Munculnya rentetan peristiwa itu memancing orang untuk berspekulasi, menghubung-hubungkan peristiwa satu dengan yang lain. Tragedi Tanjung Priok 1984 misalnya, dikait-kaitkan dengan Peristiwa Talangsari Lampung 1989. Malahan membias jauh, menyebut-nyebut berbagai peristiwa gegeran di sejumlah tempat. Peristiwa Cicendo Bandung 1981, peristiwa pembajakan Woyla 1981, peristi wa Haurkoneng sampai ke teror Warman yang tewas 1981, seluruhnya di gebyah uyah, sama. Spekulasi tersebut agaknya jauh panggang dari api. Kaitan peristiwa satu dengan yang lain, tak saling berhubungan secara langsung dan oleh karenanya tak cukup sekedar dugaan. Masing-masing kejadian punya karakter dan tokoh yang berbeda. Akar persoalannya juga berlainan, tidak saling berkait, satu dan lainnya. Tanjung Priok misalnya, memunculkan tokoh dadakan yang bemama Amir Biki. Tentu berbeda dengan geger di Talangsari, Lampung, yang menokohkan Warsidi. Huru hara Tanjung Priok, mungkin lebih pas disebut sebagai musibah dari pada tragedi perjuangan umat. Di sana, tak tergambar ada nuansa skenario atau alur cerita yang mengawali dan mengakhirinya. Kejadiannya begitu mendadak dan meledak tiba-tiba. Jika dari peris- tiwa itu, kemudian membawa korban dan memunculkan sejumlah pahlawan, tentu soal lain. Kasus Cicendo dan kasus Imron, juga punya karakter yang berbeda lagi. Kedua peristiwa itu merupakan gerakan protes atas suatu kebijakan. Cuma cara mengekspresikannya agak tak lazim, membajak kapal terbang dengan kekerasan. Peristiwa Lampung bukan gerakan protes, juga bukan kecelakaan yang datangnya tiba-tiba. la jauh dari nuansa Cicendo, Imron dan Tanjung Priok. Bahkan juga tidak sama dengan geger Haurkoneng, apalagi gerakan Warman yang senantiasa menebar teror, kapan dan di mana saja. Lampung punya ciri dan cara yang berbeda, sekaligus unik. Peristiwanya, tempatnya, orang-orangnya, dramaturginya, historisnya, seluruhnya saling berkait secara sistematis, terencana dan teratur. Di Lampung ada gegeran. Ada angkaramurka yang tak terkendali. Ada gerombolan yang tak memahami; "di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung". Di Lampung, ada rojopati. Ada jelujur benang merah, antara Warsidi dan gerakan Nll. Antara mereka dan suatu daerah yang bemama Ngruki. Tak cuma itu, di sana juga ada gairah orang-orang yang ingin mewujudkan mimpi, mendirikan sebuah perkampungan antik, sebagai "basis perjuangan"-nya. Dan dari peristiwa Lampung, juga lahir gerakan rujuk antar petikai bernama islah. Uniknya, gerakan islah itu justru lahir dari mereka, orang-orang yang menciptakan gegeran itu sendiri. itulah renik-pernik, centang-perenang yang mendasari mengapa buku Geger Talangsari ini terbit dan mengapa kini ada di tangan Anda. Menyoal Angka Buku ini, sekaligus merupakan jawaban saya, untuk berbagai pertanyaan seputar teka-teki Peristiwa Lampung 1989 dan permasalahannya. Yang menarik dari Peristiwa Lampung ialah pertanyaan tentang berapakah jumlah korban Talangsari, baik yang hidup maupun yang sudah pupus. Siapa yang membunuh mereka, bagaimana cara membunuhnya, alatnya, saksinya, waktunya dan seabreg pertanyaan lain yang tak henti-henti ingin diketahui orang. Oleh sebab itu, ketika ada segelintir orang meneriak- kan angka,jumlah korban peristiwa Talangsari, beberapa media masa berebut menayangkan temuan tersebut. Tak seorang pun bertanya, dari mana asal angka itu, bagai- mana cara mendapatkannya dan menggunakan tolok ukur apa, sehingga angka itu muncul.

Page 3

Bagian 1 - Senjakala Lampung Tengah
http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari SENJAKALA LAMPUNG TENGAH Tonggak Sejarah LAMPUNG, 1989. Inilah daerah lumbung, gudang pangan bagi Sumatera, juga seanteronya. Kesuburan alam disana adalah berkah bagi warga penghuninya. Tak hanya beras dan palawija, tebu, tembakau, karet, coklat, kopi dan vanili juga tumbuh merebak. Komoditas andalan sejak zaman dahulu adalah lada. Salah satu jenis rempah, primadona pasar Eropa. Ketika Portugis menduduki Malaka 1511, lada hitam Lampung menjadi rebutan. Perselisihan dan silang-sengketa tak terelakkan. Bahkan palawija berwarna hitam itu mengundang permusuhan antarmanusia, tak kenal bangsa. Lampung-Portugis bertikai tak kenal hari. Perseteruan kian bertambah tinggi. Balon peperangan pecah. Adu kekuatan berlangsung dua tahun: 1518-1520. Lampung dibantu Palembang, menang. Portugis tunggang-langgang hingga terjengkang. Sejak saat itu, Eropa tak berminat lagi menginjakkan kakinya ke tanah penghasil lada di ujung Sumatera ini. Hubungan dagang Lampung-Palembang mengembang, tetapi terhalang oleh kesultanan Banten yang tak boleh diabaikan. Kesultanan Banten dan Palembang memang tak pernah akur. Perdagangan lada yang membaik di Eropa, menjadikan dua kesultanan ini kehilangan akal. Mereka melupakan norma-norma yang telah ditanamkan oleh para leluhurnya melalui ajaran-ajaran agama. Padahal, Lampung punya kepentingan terhadap dua kesultanan yang tengah bersitegang itu. Berabad tahun silam, Banten dan Lampung merupakan satu kesatuan wilayah, tatkala Jawa dan Sumatera belum dibelah oleh amarah Krakatau yang me1egenda. Itu sebabnya, meski Selat Sunda memisahkan daratannya, hubungan antar-kedua daerah tak pemah berubah. Banyak penduduk Banten pindah ke wilayah itu membuka huma, berladang di sana. Pengaruh Kesultanan Banten kian menguat terhadap Lampung, setelah Fatahil1ah mempersunting Putri Sinar Alam, anak Ratu Pugung (sekarang wilayah Jabung, Lampung Tengah). Dari perkawinan ini lahir seorang anak bemama Hurairi yang kelak bemama Haji Muhammad Zaka Wa1iul1ah Ratu Darah Putih, bergelar Minak Kejala Ratu. Dia ini1ah pendiri Keratuan Darah Putih yang berpusat di Kauripan (termasuk Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan) dan merupakan cikal bakal pejuang Lampung yang terkenal, Raden Intan. Sewaktu berlangsung perang Banten-Pa1embang pada 1596-1608, keberpihakan Lampung terapung- apung di antara dua kepentingan. Sesama penghasil lada,dengan bursa pemasaran di Palembang, hubungan Lampung-Pa1embang barus baik. Namun perkawinan Putri Sinar Alam dengan Fatahillah penguasa Banten juga tak boleh rusak. Dilema itu baru terpecahkan ketika Banten menyerang Palembang. Perkawinan Banten-Lampung agaknya bernuansa politik Fatahillah, untuk memperoleh dukungan Lampung. Kesultanan Banten memang sudah lama mengkhawatirkan Palembang akan mengambil alih perdagangan lada dari Lampung. Palembang memang sejak lama menjadi salah satu bandar lada bagi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bangka. Malah diperkirakan Palembang akan memperluas pasokan lada dari Tulang Bawang di Lampung. Bila dibiarkan, bisa membahayakan Banten. Sebab, selama ini Lampung merupakan satu-satunya pemasok lada terbaik bagi Banten untuk konsumsi Eropa. Bandar Banten pada saat itu memang telah berkembang menjadi pelabuban dagang penting di belahan Barat Nusantara. pedagang-pedagang Eropa dan Asia melakukan pemasaran barang-barang mereka di pelabuban ini dan pulangnya membawa basil bumi, seperti: lada, merica, pala, dan bahkan jahe serta barang-barang lainnya.

Page 4

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari

Page 5

Sementara itu, VOC (Kompeni Dagang Belanda) yang tengah menjelajahi Asia Tenggara berlabuh di Teluk Lampung untuk memantau perdagangan rempah di sana. Perusahaan dagang Belanda itu kabarnya sudah lama mengincar komoditas 'emas hitam' nya Lampung. Kapal pertama singgah di sana dan menduduki Pulau Sebesi 23 Agustus 1624. Tapi tak bertahan lama, kekacauan dan wabah penyakit menolakkan kembali kapal mereka. Baru pada tahun 1661, Belanda datang lagi dengan dua kapa1 yang lebih besar, berlabuh di Teluk Semangka. VOC punya alasan mengapa tidak mendarat di pelabuhan Banten dan bemiaga di bandar itu. Harga lada di Banten saat itu 15 Teals, padahal jika dibeli di Lampung-daerah asa1nya, cuma seharga 7 sampai 9 Teals saja. Alasan seperti inilah yang membuat pedagang Eropa tak berhubungan langsung dengan Banten dan lebih memilih berlabuh di Lampung. Namun, untuk langsung berdagang di sana, tidak mudah. Pengaruh kesultanan Banten yang sudah lama terjalin akrab menjadi penghalang. Lebih-Iebih setelah Sultan Ageng Tirtayasa memimpin Banten. Hubungan Lampung-Banten seperti tak bisa dipisahkan. Tentu saja ini menyulitkan dan mengganjal keinginan Kompeni menguasai Lampung. Bahkan Belanda semakin yakin tidak mungkin bisa menguasai Lampung tanpa menundukkan Banten, terlebih-lebih setelah permintaannya untuk mendirikan pelabuhan kecil di Lampung ditolak keras oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sejak itu Belanda menaruh kesumat dengan penguasa Banten tersebut. Dari Kesultanan Banten diperoleh kabar, ada konflik antara Tirtayasa dengan Sultan Haji, putranya sendiri yang sedang berselisih paham. Belanda cepat-cepat menemui Sultan Haji dan menghasut agar segera mengambil alih kekuasaan. Pengaruh VOC ditelan mentah oleh anak durhaka itu. Dengan bantuan Belanda. Sultan Haji membunuh orang tuanya. Setelah Sultan Ageng Tirtayasa tewas, ia mengangkat dirinya menjadi Sultan Banten, menggantikan sang ayah. Sebagai imbalan, VOC mendapat hak monopoli atas perdagangan lada. Sejak saat itu, Lampung-negeri tempat lahir Raden Intan silih berganti menjadi wilayah eksplorasi dan eksploitasi VOC, Belanda, Inggris, dan kembali lagi ke tangan Belanda sampai Jepang mendudukinya tahun 1942. Selama kurun itu, perlawanan para petani dan ontran-ontran rakyat senantiasa mewamai Bumi Ruwa Jurai, Lampung. Perlawanan Raden Intan. Ada perlawanan melegenda. Raden Intan dan pewarisnya membuat ontran-ontran. Raja Negararatu di dekat Kalianda itu menampik perlakuan Belanda yangsemena-mena. Sebagaibangsawan yang memiliki darah Fatahillah, pendiri Banten, Raden Intan tak bisa diam. la kemudian mbalelo dan terang-terangan menabtih genderang perang. Pertarungan demi pertarungan meletup. Korban kedua belab pibak berjatuhan. Di mana-mana rakyat bicara tentang perlawanan. Mereka sibuk dengan senjata terapang, badik, beladau, penduk, dan payan. Cangkul dan sabit mereka tinggalkan. Sawah dan ladang terabaikan. Musim tuai pun tak memberi basil yang berarti. Tak banyak petani, Kompeni juga rugi. Akhimya, Belanda melakukan perdamaian. Kekuasaan Raden Intan dipulihkan. Bahkan beliau berhak menerima pensiunan dari Belanda. Untuk menjaga keselamatan rakyatnya, tawaran itu diterima. Namun sebagai panutan, raja yang bergelar Dalom Kusuma Ratu IV itu pantang mengkhianati aspirasi arus bawah. Diam-diam ia mengatur perlawan rakyat di berbagai tempat, sementara dirinya berdamai dengan Kompeni. Namun, taktik dua muka itu tak ber tahan lama. Belanda tak mudah dikecoh, dia cepat mengendus gelagat sang pangeran. Segera serdadu dikerahkan untuk menangkap sang pemimpin yang saat itu sedang sakit. Dengan siasat pura-pura menyerah, raja Negararatu itu mempersilahkan serdadu Belanda beristirahat. Sementara http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari serdadu terlelap, ia memerintahkan anak buahnya agar mengatur siasat penyergapan. Pada 13 Desember 1825, pertempuran pecah. Dalam bentrokan itu komandan pasukan Belanda, Lelievre, tewas. Operasi penangkapan Raden Intan I gaga1 total. Tigatahun kemudian (1828), Raden Intan wafat. Dia digantikan putranya, Raden Irnba II gelar Kusuma Ratu (1828-1834). Raden Imba tetap melanjutkan semangat perjuangan ayahandanya. Raja muda ini berhasil menanarnkan pengaruh ke raja-raja dan sultan-sultan lainnya untuk melawan. Belanda merasa terancam. Asisten Residen Dubois, dalarn suratnya kepada Gubemur Jenderal, menganjurkan agar segera menumpas kekuatan kepala-kepala suku di Lampung dan menangkapRaden Imba II. Maka tahun l832, sebuah kapal perang dan tiga kapal penjelajah berkekuatan 300 orang serdadu Belanda, dibantu 100 orang narapidana, menyerang Lampung. Penyerangan ini sia-sia, malah Kapten Hoffman, komandan perangnya, hanya pulang nama. Belanda kesetanan dan marah besar. Hatinya bagaikan api, tak sabar dan segera mengadakan penyerangan berikutnya dengan kekuatan yang lebih besar. Namun yang ini pun kecewa, karena tak menghasilkan apa-apa. Belanda kembali ke barak dengan tangan hampa, tanpa membawa Raden Imba. Belanda kian sasar dan hatinya penasaran. Penyerangan yang ketiga dimulai 25 September 1834. Kal ini serangan dipimpin Kolonel Elout dengan 21 opsir yang berpengalaman. Belanda menurunkan 800 serdadu istimewa, dilengkapi senjata yang lebih besar. Meriam-meriam besar dan kecil dibawa serta untuk menumpas Raja muda di Negararatu itu. Penumpasan itu memakan waktu lebih dari satu bulan dan berhasil merebut benteng Raja Gepah meskipun tetap tak berhasil menangkap Raden Imba II yang bisa meloloskan diri dengan meminta bantuan Raja Lingga. Sayang, penguasa Lingga itu berkhianat. Raja penjilat kompeni tersebut menyerahkan tokoh pujaan Lampung ke tangan Belanda. Raden Imba dibawa ke Batavia kemudian dibuang ke Pulau Timor hingga ajal1838. Meski Belanda berhasil membasmi sang pahlawan, semangat perlawanan rakyat Lampung terhadap penjajah tak pemah menggantung. Putra Raden Imba II, menggantikan kedudukannya melanjutkan jihad melawan Belanda. Putra mahkota ini kelak dinobatkan sebagai Raden Intan II. Dia kemudian menghiasi perang panjang Belanda-Lampung, berlangsung hingga 1856 sampai kepemimpinan digantikan keturunan berikutnya. Setelah perang panjang, pada 5 Oktober 1856 Raden lntan II masuk perangkap, ketika memenuhi undangan Raden Ngerapat. Bersama seorang pengikutnya, dia dicegat dan ditangkap oleh keparat. Di sana, di tangan Raden Ngerapat, kusuma 'bangsa Lampung itu mati terhormat. Jenazahnya segera diusung ke hadapan Toean Kolonel Waleson. Dua kiai ternama didatangkan untuk memberi kesaksian. "Betoel Toean, ini Raden Intan, Allahu akbar" . Gerilya rakyat tetap semangat meskipun pemimpinnya ditangkap. Pergerakan mereka bagaikan angin yang menyelinap ke hutan-hutan pedalaman. Per lawanan dari desa ke desa silih bermunculan. Namun, amarah rakyat sia-'sia menghadapi organisasi militer Belanda yang sudah sangat terlatih. Setiap ada ontran-ontran dan gegeran cepat ditumpas. Meskipun demikian, pemerintahan kolonial tak pernah bisa tenang memerintah daerah penghasil rempah-rempah itu. Pada tahun 1890 ketika keadaan di Lampung benar - benar dianggap aman, Belanda baru memutuskan untuk membuka perkebunan besar-besaran. Sampai pada setengah abad kemudian, Jepang datang dan mengusir penjajah zalim itu, hingga Indonesia merdeka. Senjakala Lampung Tengah Sernbi1an belas' tahun setelah Indonesia rnerdeka, Larnpung rnandiri sebagai propinsi tersendiri (18 Maret .1964). Larnbang daerahnya berbentuk perisai dengan unsur-unsur padi dan lada (hasil bumi), laduk, payan, golok dan tombak (senjata tradisional), gong ( demokrasi), sigar (keagungan budaya), http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 6

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari dan payung jurai (tempal berteduh). Yang terakhir itu bermakna akomodatif, siapa pun boleh datang dan berteduh serta berlindung di situ, suatu kesadaran bahwa Bumi Lampung telah dihuni oleh penduduk pribumi dan pendatang. Oleh karenanya, moto provinsi ini ialah Sang Bumi Ruwa Jurai. Gubernur pertama Lampung, Kusno Danu Upoyo, cuma dua tahun menjabat (1964-1966). Penggantinya berturut-turut adalah Zainal Abidin Pagaralam (1966- 1973), R. Sutiyoso (1973-1978), Yasir Hadibrata (1978- 1988) yang akhirnya digantikan oleh Poedjono Pranyoto. Baru setahun Poedjono menjadi penguasa, di Lampung terjadi huru-hara dan tangisan duka anak manusia yang berontak di kaki Gunung Balak. Persisnya, di Cihideung, dusun Talangsari III, Way Jepara, Lampung Tengah. Kabupaten Lampung Tergah seluas 9.189,5 kilo meter persegi, dengan Ibu kota Metro, merupakan basis pangan bagi provinsi ini. Lebih dari 60 % kebutuhan konsumsi di provinsi dipasok oleh Lampung Tengah. Selain padi, palawija, dan hasil perkebunan lainnya, di Gunung Waja dan Sukadana -keduanya wilayah Lampung Tengah- juga terdapat deposit besi yang cukup besar. Tak pelak, banyak orang yang mengadu nasib ke wilayah paling ujung daratan Sumatera itu. Gelombang pendatang yang terus membandang di tanah seberang itu, kian mengundang orang-orang Jawa yang berpenghasilan kurang dan hidupnya menyandang hutang, lantaran tanah pertanian mereka kian menyempit dan menggersang. Dengan demikian Lampung tak hanya daerah lumbung. la juga daerah kantung, daerah tampungan bagi orang-orang buangan, baik yang terbuang karena perilaku sosial J;naupun yang terlempar oleh kondisi ekonomi. Di sana mereka aman dari kejaran hukum dan lilitan utang. Maka, apa yang mereka terima di kawasan penghasil rempah dan palawija itu merupakan pilihan yang baik, dibanding kehidupan sebelumnya. Kehadiran para pendatang dari Jawa itu temyata semakin meningkat dan kian membludak. Pada tahun 1922, terdapat 5.500 pendatang dari Jawa. Akan tetapi, delapan tahun kemudian jumlahnya menjadi 33 ribu jiwa. Membanjirnya pendatang ini menyebabkan orang-orang Jawa semakin menyelusup jauh ke pedalaman wilayah yang masih dikuasai satwa gajah Sumatera ini. Lampung Tengah mulai dirambah sejak 1935, terutama di daerah Metro. Bahkan pada tahun 1941 di daerah ini lebih banyak pendatang dari pada penduduk aslinya. Keberhasilan kaum pendatang menyebabkan pemerintah pusat melanjutkan kebijakan transmigrasi di kawasan penghasil gula bagi Indonesia ini. Pada mulanya sempat terjadi ketegangan antara pemerintah dengan penduduk asli. Maklum, pemerintah pusat berkeinginan menempatkan orang-orangnya, para birokrat pemerintahan tanpa mempedulikan kepentingan adat yang didukung oleh putra-putra daerah. Sebagian besar tokoh masyarakat yang merasa ditinggalkan oleh pemerintah pun meniup-niupkan suara, "Belanda saja memperhatikan adat istiadat, masa pemerintahan sendiri membatasi?" Perang dingin pun mulai semilir. Ketegangan ini memuncak 20 Desember 1956 ketik, penduduk asli Sukadana di dekat Way Jepara, Lampung Tengah, mengirim resolusi dan mosi ke pemerintah pusat Dan akhimya, justru pada tahun 1959 pemerintah pusat tidak mengakui eksistensi kepemimpinan adat. Keadaar kian memanas. Sikap pemerintah itu mencerminkan dukungan terhadap program transrnigrasi yang merupakar kesinambungan dari kolonisasi yang dinilai luar biasa, efektivitasnya. Pemerintah saat itu memang rapuh. Kabinetnya, bongkar pasang dan silih berganti. Ketidakpuasan kelompok aspirator NII (Negara Islam Indonesia) pun merebak di mana-mana dengan kekuatan bersenjatanya, yakni TII (Tentara Islam Indonesia) dan gerakan Darul Islam. Pemerintah berusaha membungkarnnya dengar kekerasan bersenjata dan mencap mereka sebaga pemberontak. Sementara itu, kalangan militer yang terkena demobilisasi juga dikawatirkan akan bergabung dengan pemberontak yang pengaruhnya cukup kuat d Jakarta dan Jawa

Page 7

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Barat. Maka, untuk menangkal jangan sampai korban demobilisasi bergabung dengan DI/TII, pemerintal meluncurkan program Biro Rekonstruksi Nasiona (BRN). Untuk mengawasinya, Kementerian Pertahanan RI juga menggulirkan program Korps Cadangan Nasional (KCN) yang beranggotakan militer aktif Umurnnya mereka dikirim ke daerah terpencil di Sumatera Selatan, dengan maksud menjadi pelopor pembangunan sekaligus membawa unsur keamanan. Temyata di lapangan, program ini menyimpang dari rencana. Maka, pemerintah terpaksa mengambil sejumlah kebijakan. Pada tahun 1956 daerah Lampung rrengah dinyatakan tertutup untuk transmigrasi. Alasannya, sudah terlalu padat jurnlah penduduknya. Meski demikian, penduduk Jawa yang tergiur oleh cerita-cerita keberhasilan para trasmigran, diam-diam merembes dan merambah ke hutan-hutan Lampung. wilayah sasaran para transmigran swakarsa tersebut antara lain, kawasan hutan lindung Gunung Balak karena kesuburan tanahnya. Maka sejak 1960 kawasan cagar alam seluas 20 ribu hektar sudah dirambah pendatang yang tersebar di 1 desa baru, dengan jumlah sekitar seratus ribu jiwa (1970). Upaya pemerintah untuk reboisasi hutan lindung dan memindahkan para 'muhajirin' sia-sia. Penduduk bersikeras tak mau pergi. Mereka rela mati demi tanah yang telah mereka ugeri. Sejengkal tanah, sejari bumi, akan mereka pertahankan sampai titik darah penghabisan. Maka, ketika aparat pamong praja datang, penduduk pun "menghunus pedang dan parang. Akhimya suara tong-tongan berkumandang, " Ono rojo pati, ...ono rojo pati, " bisik dari mulut ke mulut. Pembunuhan telah terjadi. Akhimya Pemerintah Daerah merasa perlu mengakomodasikan aspirasi para pendatang yang telah turut, meningkatkan pendapatan daerah itu. Ketiga belas desa transmigran spontan dan swakarsa, resmi disahkan menjadi desa persiapan. Gubemur Lampung waktu itu R. Sutiyoso, tergopoh-gopoh mengeluarkan Surat Keputusan membentuk Kecamatan Gunung Balak dan melegalisir desa-desa baru tersebut (1974). Beberapa tahun kemudian keputusan itu ditinjau ulang malahan dibatalkan karena banjir bandang melanda Lampung. Waduk Way Jepara dangkal akibat penggundulan hutan lindung. Padahal proyek irigasi itu mampu mengairi 22.000 hektar sawah di sana. Penghijauan kembali harus dilakukan dan para perambah hutan harus dipindahkan, sukarela atau terpaksa. Meskipun teramat sangat alot dan memakan perundingan yang berkepanjangan, toh, akhirnya penghuni Gunung Balak bersedia dipindahkan ke Lampung Utara. ltu pun dengan mengerahkan TNI-AD ( waktu itu ABRI) yang turut membantu mempersiapkan lahan bagi mereka (1986). Tetapi sekitar seribu keluarga masih bertahan karena menunggu selesai panen. Namun, biar sudah sekian kali musim tuai, mereka tak kunjung pergi. Sebaliknya, pendatang baru terus menyelusuk masuk ke wilayah Gunung Balak yang telah diputuskan untuk dikosongkan itu. Kian lama jurnlah mereka kian meruah. Pemerintah tak sabar. Peringatan demi peringatan tak mereka hiraukan. Akhimya pada 19 November 1988 dilakukan operasi, melibatkan puluhan petugas. Rumah-rumah harus dibongkar. Penghuninya dipaksa meninggalkan pemukiman. Yang bertahan "diamankan". Pondok-pondok dan bangunan yang ada dirobohkan, malah, kalau perlu, dibakar. Konon, ada sekitar seribu hunian terkena operasi 'kemanusian' yang oleh penduduk diartikan 'pembinasaan'. Maka, Kecamatan Grinung Balak tak pemah tegak. Peta almanak Lampung batal menampung wilayah administrasi yang baru dipersiapkan itu. Sebaliknya, petugas mengharu biru penduduk. Pondok-pondok dan bangunan yang susah payah mereka dirikan harus dirobohkan dan dimusnahkan, sampai rata mencium tanah. http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 8

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Inilah awal dendam, mengapa rakyat pedalaman, membenci aparat pemerintah. Maka ketika ada orang yang dengan lantang menyatakan bahwa pemerintah telah zalim dan PancasiIa tidak sah, rakyat pun gegap, gempita menyambutnya. Ada dendam di Lampung Tengah. Anak -anak tak lagi berlari-lari dengan tawa jenaka. para Ibu tak tampak seperti biasa, menghabiskan sisa senja dengan celoteh, remeh. Sebaliknya, kesumat melekat di mana-mana. Dendam di dada menumbuhkan gregetan. Ontran-ontran dan gegeran, sewaktu-waktu bisa terulang. Tembang megatruh kenestapaan mulai dilantunkan. Kecerah-ceriaan kian meredup, menggulung matahari yang nyaris terkatup. ltulah gambaran Lampung Tengah, di mana, Cihideung bersimpuh pada tengara 1989.

Page 9

Bagian 2 - Babad Talangsari
BABAD TALANGSARI III Puisi Gegeran AMARTA adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem, karto raharjo, maksudnya ialah negeri yang kaya raya, tenteram, dan sejahtera. Penghuninya hidup dalam keadaan yang serba ada, segalanya mudah dan semuanya bisa. Tentu ini hanya ada di dunia para dalang, yang sedang menggambarkan tentang kejayaan negeri bayang-bayang, yakni, negeri yang penghuninya mendapat jaminan dan perlindungan tidak hanya dari penguasa, tetapi juga alam sekitarnya. Dalam bayangan penulis, semasa kecil, gambaran para dalang itu sesungguhnya menceritakan dunia nyata tentang jawa, orang-orangnya, suasananya, juga kehidupannya. Negeri Amarto[a] yang digambarkan dengan setting Jawa, tiada lain ialah Tanah Jawa, di indonesia. Gambaran yang cukup sederhana, terutama bagi seorang yang hanya tahu tentang wayang di masa kecilnya. Tetapi mungkin saja, Jawa dulu dan Jawa sekarang berbeda. Sebagian penduduknya sudah banyak yang menyeberang, melanglang ke negeri orang, mening- ga1kan Jawa yang tak lagi "gemah ripah lohjinawi, toto tentrem dan karto raharjo". Jawa masa lalu tinggal kenangan, masa kini ditinggal orang. . Sukidi (40 th. ) agaknya bukan mewakili J awa masa lalu. Kini, dia telah berada di negeri Sang Bumi Ruwa Jurai, Lampung, meninggalkan Jawa, 28 tahun sudah, mengikuti jejak para transmigran. Cukup mapan dia, setidaknya bila dibanding dengan kehidupan ~asa la1unya di Jawa yang semakin tak memberi harapan. Di sini, di Dusun Talangsari III, Kec. Way Jepara, Lampung Tengah, Sukidi cukup punya harkat, martabat dan derajat. Dia diho~ati, ma1ahan djangkat menj~di tokoh masyarakat. Awalnya, dengan berbekal sebongkah harapan, Sukidi melangkah dari Banyuwangi, Jawa Timur, menuju ~ampung. Kala itu, tahun 1972, pada saat bumi Lampung masih belum ¥epenuhan transmigian, Sukidi menepis pandangan; "makan nggak ~akan, asal kumpul", menjadi "kumpul nggak kumpul, asal makan". Dengan semangat bulat, ia berangkat, menuju Way Jepara di Lampung Tengah, meninggalkan sanak kadang dan handai taulan. Way Jepara adalah satu dari 23 Kecamatan yang a4a di Lampung Tengah. Daerah seluas 240 km2 ini mempunyai 20 kelurahan dan: sekitar 80 ribu jiwc;1, berdasarkan sensus tahun 1989. Dari 20 kelurahan itu, satu di antaranya bemama Rajabasa Lama. Di Kelurahan Rajabasa lama inilah, Talangsari III, sebuah dusun kecil itu berada. Agaknya dusun yang luasnya cuma 40 hektar ini tak akan dikenal orang kalau saja tak terjadi gegeran antara anak manusia yang menghebohkan itu. Talangsari juga tak bakal disebut jika tak ada kelompok yang membadut menantang pemerintah, mencerca kebijakan dan mengumbar kejahatan. Sulit dipercaya, tetapi ini nyata. Babat Alas http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Way Jepara saat Sukidi datang tahun 1972, tentu saja tidak sama dengan Way Jepara masa kini. Pada saat itu, Way Jepara masih merupakan kawasan hutan yang tak setiap jengkal tanah mampu dljamah orang. Masih banyak hutan yang dijadikan istana hewan buruan, Untuk mengubah hutan menjadi hunian, tidak sembarang orang boleh mengatakan gampang. Hanya orang-orang pilihan dan tahan ujian yang mampu melakukannya. Sukidi membabat alas Talangsari, setelah menemukan lokasi yang cocok untuk dijadikan daerah hunian. Di suatu kawasan yang penuh dengan pohon durian, Sukidi tertarik untuk menjadikannya tempat tinggal. Dalam bayangan Sukidi, tempat inilah yang kelak akan menjadi daerah terbaik. Alasannya, selain suhur, daerah tersebut memiliki unsur tanah merah dan tidak berpasir, sebagaimana umumnya tanah di Lampung. Orang Banyuwangi ini segera mencari tahu pemilik tanah. Dari kantor desa diperoleh kahar, tanah pilihan Sukidi tersebut, temyata milik Amir Puspa Mega, kepala desa Rajabasa Lama,penduduk asli yang dikenal banyak memiliki harta peninggalan keluarga. Amir puspa segera akur dengan Sukidi yang berminat ingin mengolah lahan perawan itu. Bersama Sudjarwo dan Ngatidjan? teman seperjuangannya, Sukidi mulai menebang hutan menyiapkan daerah hunian. Pohon kecil, pohon besar ditumbangkan, belantara menjadi terang. Sepetak dijadikan pemukiman, sepetak lainnya dijadikan lahan pertanian. Dalam sejarah Talangsari, ketiga orang inilah yang dianggap sebagai cikal bakal lahimya sebuah perkampungan yang kelak bemama Dusun Talangsari III. Cihideung Membabat alas tidaklah mudah. Hanya pekerja keras dan bermata awas .yang bisa melakukan pekerjaan ini. tidak semua orang punya kemampuan seperti mereka. tak cuma cerita, sudah banyak orang melakukan pekerjaan yang sama, tetapi kandas tak membawa hasil. Cerita tentang cikal bakal Cihideung, dusun satu agar dengan Talangsari misalnya, punya pengalaman menarik. Konon, beberapa waktu sebelum Sukidi membabat kebon duren Talangsari, ada sekelompok orang yang juga ingin menjadikan kawasan perawan untuk dijadikan hunian. Tanpa sebab yang jelas, mereka meninggalkan kawasan itu setelah sempat memberi nama Cihideung. Kabarnya, orang-orang tersebut berasal dari daerah pasundan, Jawa Barat. Pembukaan Cihideung kemudian dilanjutkan penduduk setempat, tetapi juga gagal dan akhirnya ditinggal. Kurang lebih dua tahun setelah Sukidi bekerja keras membuka kebon duren Talangsari, datang rombongan baru meneruskan pembukaan kawasan Cihideung. Kali ini tiada aral, mereka berhasil dan menjadikannya tempat hunian dengan nama yang sama, Cihideung. Mereka itu ialah keluarga Jayus, yang mengaku berasal dari daerah asal Sukidi, Banyuwangi. Membuka hutan seperti ini sudah lazim bagi orang-orang Jawa yang datang ke Lampung. Cara demikian dianggap paling menguntungkan kedua belah pihak. Pemilik tanah diuntungkan karena tanah mereka menjadi punya nilai ekonomis, bisa menjadi lahan pertanian atau lahan perkebunan dan bila dijual harganya tidak serendah manakala masih menjadi hutan belantara. Bagi pengolah tanah juga untung. Tanpa harus mengeluarkan uang, dia bebas menggarap tanah seperti milik sendiri. Penggarap akan membagi hasil panen, hanya bila tanah tersebut menghasilkan sesuatu. Kondisi seperti itulah yang dialami Sukidi dan teman-temannya. Malah, mereka punya kesempatan rnembeli sebagian lahan yang mereka garap itu. Amir Puspa Mega menawarkannya dengan cara cicilan, seberapa Sukidi mampu. Dengan cara inilah Sukidi bersama teman-temannya kini memiliki beberapa hektar tanah impiannya. Pada kenyataannya, tanah Amir Puspa seluas kurang lebih 25 hektar, hanya tinggal 6 hektar yang belum terbeli oleh Sukidi dan

Page 10

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari kawan-kawannya, yang kini menjadi warga Talangsari III. Untuk bisa memiliki tanah garapan, Sukidi bersama teman-temannya membeli dengan cara patungan. Misalnya, satu hektar seharga Rp30.000,00 dirombong oleh 30 orang. Berarti satu orang hanya dikenakan .Rp 1000 saja. Tetapi, tanahnya tidak langsung dibagi. Tunggu dulu, sampai bisa membeli secara agak lebih luas agar bisa dibagi rata sesuai tabungan masing-masing yang tercatat dalam buku Sukidi. Tanah Amir Puspa tergolong baik. Ciri-cirinya berwarna merah kehitaman, tak berpasir, Dibanding tanah merah, tanah berpasir lebih murah, cuma Rp10.000,00 per hektar. Bagi Sukidi, mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli tanah bukan perkara gampang. Pada zaman itu, kehidupan sulit mendera. seluruh rakyat. Orang cuma berpeluang untuk mengisi perut. Sukidi bersama teman-temannya, pergi dari kampung ke kampung untuk menjadi buruh cangkul di ladang- ladang penduduk agar memperoleh upah. Waktu 3 hari untuk buruh cangkul.dan 4 hari untuk bekerja di lahan Amir Puspa. Kala mendapat uang Rp 100,00 separuh ditabung, separuh lainnya dibelikan macam-macam kebutuhan pokok. Misalnya, minyak tanah dan gaplek. Gaplek itulah bahan makanan pokok mereka sehari-hari.

Page 11

Makan Tiwul Bagi Sukidi, tiwul merupakan makanan utama, sumber tenaga untuk menjalani aktivitas kehidupannya sehari-hari. Nasi olahan dari gaplek ini mereka namakan nasi uleng. Cara membuatnya sederhana. Gaplek kering direndam, kemudian ditumbuk hingga menjadi tepung, lalu dijemur. Tepung gaplek ini dimasak dengan campuran kacang-kacangan dan sedikit beras untuk menambah rasa nikmat. Olahan bahan seperti inilah yang disebut nasi uleng. Cara hidup seperti ini umumnya juga. ditiru oleh pengikut Sukidi lainnya. Pada awalnya pengikut Sukidi hanya 3 orang, setelah 28 tahun, jumlah penduduk Sukidi sudah lebih dari 100 KK. Tukar Wilayah Ini kisah nyata dua kelurahan, Rajabasa Lama dan Pelabuhan Ratu, saling tukar wilayah. Alasannya? Ada satu dusun milik Rajabasa Lama, letaknya jauh dan justru mendekat ke Pelabuhan Ratu. Sebaliknya, ada satu dusun milik Pelabuhan Ratu, letaknya dekat ke Rajabasa Lama. Dusun Umbul Kacang, milik Rajabasa Lama, tempatnya menjauh, sekitar 25 km dari kelurahan induknya, lebih dekat ke Pelabuhan Ratu. Bila hendak ke Umbul Kacang, para petugas sering melewati beberapa wilayah Pelabuhan Ratu yang cenderung mendekat ke Desa Rajabasa Lama. Demikian halnya bagi Kelurahan Pelabuhan Ratu yang mempunyai wilayah sangat jauh dari Kantor Desa. Wilayah itu bemama Dusun Cihideung yang berbatasan langsung dengan Dusun Kebon Duren Sukidi, di kelurahan Rajabasa Lama. Akibat lokasi yang jauh, para petugas kelurahan merasa sulit jika mengunjungi dusunnya masing-masing. Maka untuk memudahkan administrasi dan pengawasan, pimpinan kedua kelurahan itu bersepakat tukar wilayah. Kesepakatan tukar wilayah tersebut berlangsung pada Juli 1988. Umbul Kacang ikut Pelabuhan Ratu dan Cihideung menjadi milik Rajabasa Lama. Cihideung dan Kebon Duren letaknya bergandengan, bahkan berbatasan satu pagar. Masyarakat Rajabasa Lama berunding, mereka sepakat, kedua wilayah kecil itu digulung menjadi satu. Gabungan dua wilayah itulah yang kemudian menjadi satu dusun bemama Talangsari III. Dengan adanya kejadian itu, sesungguhnya Cihideung tinggal nama dan Kebon Duren tinggal cerita.

Talangsari III http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Kalau saja Amir Puspa Mega, orang asli Lampung itu tidak ngotot memutuskan sebuah nama Talangsari, untuk semua wilayah yang berada di sisi Selatan Jalan Propinsi yang melintas di wilayahnya, mungkin wilayah itu sudah bernama. salah satu nama daerah yang ada di Banyuwangi. Pasalnya, sangat jarang perintis hunian baru di Lampung tidak membawa serta nama kampungnya ke wilayah rintisan. Oleh sebab itu, tak perlu heran bila tanah Lampung bagaikan tanah Jawa yang dipindah, tidak hanya orang- orangnya, tetapi juga kampung halamann:ya. Di Lampung ada Pekalongan, ada Blambangan, ada juga Sukoharjo dan Wanosobo, malahan di Lampung Tengah ada kecamatan yang bernama Surabaya. Mungkin pada suatu ketika akan ada dusun yang bemama Jakarta, boleh jadi. Talangsari III, sebuah nama permintaan Amir Puspa Mega pada saat menjabat Kepala Desa. Bagi orang Lampung, kata talang dan umbul bukan hal baru. Ada beberapa wilayah yang bernama umbul, misalnya Umbul Puk atau Umbul Hujan Mas di Pakuan Aji. Mungkin masih lebih banyak lagi nama-nama serupa yang belum terdaftar. Bila ada beberapa rumah yang mengelompok terdiri dari 5 atau 6 rumah di peladangan, maka kelompok hunian itu disebut umbul. Dan bila beberapa umbul itu bertambah, maka dengan sendirinya menjadi talang. Kumpulan talang itulah yang disebut dusun, cikal bakal sebuah desa. Jadi, Talangsari III adalah urutan dari nama Talangsari I, Talangsari II yang sudah ada jauh sebelum Sukidi membuka kebon durian Amir Puspa Mega. Talangsari III adalah gabungan dua dusun dari dua kelurahan yahg berbeda. Dusun seluas lebih kurang 40 hektar itu mirip pulau kecil. la dikelilingi sebuah kali bemama Sungai Beringin melingkari wilayah penghasil coklat terbaik di daerah itu. Untuk mendatangi "dusun pulau" ini, dihubungkan oleh lima jembatan yang melintas sungai selebar sekitar dua. setengah meter. Jembatan-jembatan itulah yang dahulu dirusak oleh gerombolan Warsidi, untuk menyiasati aparat agar terhalang datang. Pada mulanya masing-masing punya otoritas dan kewibawaan. Penggabungan itu baru terjadi sekitar 4 bulan sebelum huru-hara meletus. Secara administrasi mungkin tak ada masalah. Tetapi secara sosial, tampaknya ada yang mengganjal, terutama bagi orang-orang tertentu yang kemudian merasa kehilangan hak martabat kewilayahan, setelah harus bergabung satu nama menjadi Talangsari III. Apalagi di bawah komando Sukidi yang mereka kenal sebagai orang yang biasa-biasa saja. Agaknya, masalah ini juga menjadi pemicu, mengapa Warsidi tak menggubris ketika Sukidi meminta surat-surat administrasi kelengkapan diri. Namun sebagai kepala dusun, Sukidi tetap menjalankan fungsinya. Dia mulai mendata administrasi dusun. Data penduduk, surat-surat kepemilikan tanah dan segala kegiatan warga mulai didaftar, termasuk menyoal kehadiran Warsidi dan kelompoknya yang belum melaporkan identitas diri kepada pamong. Tetapi baru dua atau tiga bulan menjalankan kegiatan, Sukidi mendapat gangguan dan perlawanan. Berbagai perilaku aneh yang tak lazim dipertontonkan pada Sukidi. Sikap kurang bersahabat dan mengesankan permusuhan juga diembuskan oleh Warsidi dan kelompoknya. Sukidi risih dan sangat bersedih tatkala menyadari bahwa Warsidi semakin tak terkendali. Api benci mulai dinyalakan. Di dalam dada mereka, hanya ada satu kalimat,. sumpah serapah dan caci maki yang jauh dari berserah diri.

Page 12

Bagian 3 - Kronologi Gegeran
GEGER TALANGSARI Kronologi Gegeran

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari PERJALANAN waktu tak mampu dijangkau bahkan oleh Sukidi sekalipun. Pria setengah baya, Kepala Dusun Talangsari III, way Jepara, Lampung Tengah itu ketenangannya tiba-tiba terusik oleh tamu misterius. tamu tersebut datang bersama kelompoknya, tanpa assalamu 'alaikum kepada tuan rumah. Padahal mereka tidak sekadar bertamu, malah kemudian menetap. Merasa dilecehkan, Sukidi mengingatkan tamunya. Namun ia segera mendapat jawaban yang sama sekali tak ia mengerti. "Ini bumi Allah, hanya kepada Allah, kita menghormat", jawab sang tamu menggurui. Merasa dilecehkan, Sukidi mengingatkan tamunya. Namun, ia segera mendapat jawaban yang sama sekali tak ia mengerti. "Ini burni Allah, hanya kepada Allah, kita menghormat", jawab sang tamu menggurui. Belakangan Sukidi baru mengetahui bahwa tamu misterius itu, bernama War, Anwar, atau Warsidi alias Anwar Warsidi, seorang yang ditokohkan menjadi pemimpin kelompok pengajian bern"ama Jama'ah .Mujahiddin Fisabilillah. Kelompok Kecil Kelompok Warsidi di Talangsari punya kaitan historis dengan kelompok kecil yang ada di Jakarta Kabarnya, yang inembidani kelompok kecil Jakarta itu ialah Nurhidayat, Ahmad Fauzi, Wahidin, dan Sudarsono. ,Serpihan pemuda tanggung yang tengah menggebu belajar agama ini, hatinya tak tentram ketika melihat hukum di Indonesia tak lagi ditegakkan berdasar Islam. Mereka merasakan ada kezaliman yang telah merusak bangsa dai1 negaranya. Oleh karena itu, hukum Islam harus ditegakkan. Caranya? Mula-mula harus merapikan barisan atau saf. Kemudian berjamaah, menggalang kekuatan hingga menjadi bangunan yang kokoh. Ibarat pohon yang akarnya menghujam ke bumi, tak mudah tercerabut oleh tiupan-tiupan angin besar atau kecil. Dari jamaah tersebut, berkembanglah keinginan membuat perkampungan muslim, yang bebas dari campur tangan penguasa zalim. Di sanalah mereka akan tenang menjalankan perintah agama dengan baik. Inilah embrio terwujudnya mimpi besar, tegaknya Negara . Islam di Indonesia-tegaknya NII, yang senantiasa ingin. dihidup-hidupkan oleh pendukung serta simpatisannya. Untuk mewujudkan mimpinya, kelompok Jakarta ini memberlakukan doktrin tiga tahap. Pertama, mentakfirkan selain dia. Artinya, bagi yang tidak mengikuti hukum Allah, kafir. Termasuk ulama sekalipun, bila menghalangi mereka dalam menegakkan hukum Allah, halal darahnya. Kedua, menolak Pancasila sebagai azas. Alasanya, pemerintah dengan Pancasilanya telah menjauhkan umat dari perilaku Islam. Ketiga, puasa.selang-seling selama 40 hari, membaca wirid dan salat ma1am berjamaah supaya jiwanya siap menjadi syahid. Bagi yang lulus menyelesaikan doktrin tahap ini, berhak hijrah ke Lampung bergabung dengan Warsidi. Dari mereka, Ulama Jamaah Mujahiddin Fisabilillah lahir dari mereka pula peristiwa berdarah itu ditabur. Warsidi Tak Terkendali Setelah kelompok Jakarta bergabung, suara Warsidi makin nyaring. Masyarakat setempat menggambarkan, perilaku Anwar Warsidi dan kelompoknya semakin tak terkendali. Setiap khotbahnya selalu menyalakan api permusuhan, menentang pemerintah dan mencerca Pancasila. Pemerintah dikatakannya sebagai orang-orang kafir yang kerjanya cuma mengkorup uang rakyat. Oleh sebab itu, haram hukumnya memakan uang gaji dari pegawai negeri. Dengan sendirinya, juga tak perlu membayar pajak, apalagi wajib. Pemah Sukidi mengajak gotong-royong mengeras- kan jalan desa. " Qur 'an tak mengajarkan orang gotong-royong", jawab mereka segera. Ajakan siskamling pun mendapat jawaban serupa sehingga sangat tak di- mengerti banyak orang, termasuk alasan, mengapa mengambil tanaman penduduk tanpa izin. Sejak itu, masyarakat menjadi tak tenang. Hari-hari mereka dilalui dengan resah dan ketakutan, setelah sejumlah anak buah Warsidi mendatangi Sukidi dengan membawa-bawa golok dan pedang. Tanda-tanda perang mulai digelar. http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 13

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Sebagian penduduk, satu demi satu meninggalkan harta miliknya, mengungsi. Termasuk keluarga Sukidi sudah pindah ke dusun lain, menjauhkan diri dari tetor gerombolan. Melihat ini, Sukidi tak kuat. la segera melaporkannya kepada Amir Puspa Mega, Kepala Desa Rajabasa Lama, atasannya. Amir Puspa Mega bersama Sukidi kemudian melanjutkan ke Kecamatan Way Jepara, melaporkan tabiat Anwar Warsidi yang meresan banyak orang. Dari sinilah lolongan panjang gerombolan Warsidi mulai terdengar. Malah, gaungnya memecah langit hingga ke negeri seberang. Tangisan duka Talangsari mulai didengungkan. Malapetaka itu menyisakan duka, tidak saja bagi Warsidi dan pengikutnya, tetapi juga masyarakat desa yang tak berdosa, sampai kini. *** KRONOLOGI GEGERAN Episode : GUGURNYA KAPTEN SOETIMAN ADA gegeran di ladang penduduk. seseorang uring-uringan. Harta miliknya hilang. Serumpun bambu melayang. Pada suatu ketika di hari yang berbeda, terdengar lagi suara orang-orang kehilangan kelapa. Bukan omong kosong apalagi berita bohong, beberapa penduduk melapor, kali ini kehilangan singkong. Kabar angin itu benar-benar sampai ke telinga Sukidi. Sebagai kepala dusun, dia tak bisa diam apalagi membisu. Sukidi menyelidik, membuka mata lebar-lebar dan juga telinganya. Diperoleh kabar, ada warga baru di rumah Jayus bertabiat tak lazim yang telah mengubah adat, boleh mengambil milik orang tanpa izin. Serangkaian kejadian aneh itulah awal drama Talangsari III dibeber. Sang Kepala Dusun bertandang, menyelisik ke rumah Jayus. Benar, di sana sudah nongol muka-muka baru yang tak jelas usul dan asalnya. Ketika ditanya identitas, mereka mengelak. Anehnya mereka tidak memungkiri saat disinggung soal tanaman penduduk. "Ini burni Allah, semua orang berhak menikmati", celetuk salah seorang dari mereka. Celetukan itu temyata menjadi buah-bibir dan masalah, tidak hanya bagi aparat, tetapi juga masyarakat, bahkan sampai kini berkepanjangan. Berikut ini urutan kejadian yang membawa petaka tersebut. Sengaja dituturkan secara rinci, agar bisa memberi gambaran yang pas tentang peristiwa yang dianggap menghebohkan bagi perjalanan politik di Indonesia itu. Data detail tuturan seperti ini ternyata masih belum banyak terkuak dan diketahui masyarakat luas, sehingga apa yang berkembang di masyarakat, seringkali berbeda dengan fakta yang sebenarnya. Tuturan ini berdasarkan fakta dan data lapangan yang berhasil dihimpun langsung dari nara .sumber, baik berupa wawancara maupun dokumen asli. *** KRONOLOGINYA Rabu Wage,1l Januari 1989 1.. Sukidi dan Mansur mengirim surat kepada Amir Puspa Mega. Isinya: pada puku1 20.00 (malam Jumat), Jayus warga Cihideung menerima tamu dari Jakarta, sebanyak 15 orang, laki-laki dan perempuan. http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 14

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari 2.. Tamu-tamu tersebut hendak mengadakan pengajian hari Jumat dipimpin seorang kiai bernama Pak War. Para pendatang itu tidak membawa identitas dan tidak melapor kepada aparat setempat. 3.. Malah, kabarnya, pada Jumat berikutnya akan didatangkan lagi tamu-tamu dari Malaysia. Kamis Kliwon, 12 Januari 1989 1.. Pukul 10.00 (pagi hari). Berdasarkan laporan Sukidi, Amir Puspa Mega mengirim surat kepada Zulkifli Maliki, Camat Way Jepara, tentang situasi Cihideung. Di dalam amplop, dilampirkan surat Sukidi, yang melaporkan situasi dusunnya. 2.. Pukul11.30 (menjelang Lohor). Hari itu juga, melalui surat, Zulkifli memanggil Kepala Desa agar segera menghadap Camat Way Jepara, dengan membawa: Jayus, Pak War, Mansur, dan Sukidi. Dalam surat panggilan itu, Zulkifli memerintahkan kepala Desa harus segera menghentikan dan melarang pengajian yang mendatangkan orang-orang dari luar daerah, apalagi tanpa permsi kepada aparat setempat. 3.. Pukul 16.30 (bakda Asar). Beberapa menit setelah membaca surat dari Camat, Warsidi segera mengirim jawaban berupa surat ketikan. Isinya ringan, seperti tanpa beban. "Yth. Bapak Camat Way Jepara di tempat. Dengan hormat, Bahwa surat yang kami terima, sudah kami ketahui isinya. Perlu diketahui kami dalam kesibukan, dalam mengisi pengajian di berbagai tempat. Oleh sebab itu kami tidak bisa datangke Kantor Bapak. Kami sebagai orang Islam yang sangat menjunjung tinggi Sunnatulloh dan Sunnaturrosul dalam sebuah Hadist dikatakan: SEBAIK-BAIKNYA UMARO IALAH YANG MEN- DATANGI ULAMA DAN SEBURUK-BURUKNYA ULAMA YANG MENDATANGI UMARO. Oleh karenanya kami mengharap kedatangan Bapak di tempat kami untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Demikian harap maklum ... Semoga Allah memberi hidayahNya. Hormat kami, Ttd. ( ...War ...)".4.. Zulkifli mengaku, seperti kena tampar ketika membaca surat Warsidi yang isinya meminta dirinya yang datang dan bukan sebaliknya. la tak menyangka, suratnya akan mendapat balasan seperti itu. Jum'at Legi, 13 Januari 1989 1.. Pukul 15.00 Untuk memenuhi permintaan Warsidi, Zulkifli bersama rombongan: Kades Rajabasa Lama, Kades Labuhan Ratu, Kadus Talangsari III, Kadus Kelahang dan beberapa staf lain datang ke lokasi. 2.. Pada pertemuan itu, Zu1kifli mempertanyakan maksud hadis yang dikutip Warsidi dalam suratnya. Kiai War tidak segera menjawab. Setelah mukanya menoleh ke kiri dan ke kanan, beberapa pengikutnya curna menganggukkan kepala. "Pokoknya itu ada di hadis", kata Warsidi kemudian. 3.. Zulkifli menggambarkan, pertemuan yang berlangsung satu jam di rumah panggung itu tidak bersahabat dan menegangkan. Menurut Zulkifli, ada sekitar 30 orang di bangunan tersebut. Malah dari arah belakang, Zulkifli mendengar seseorang berbisik: "Bunuh saja Camat itu". 4.. Sebelum pamit, Zulkifli mengundang Warsidi untuk menemuinya di kantor Camat. Kabarnya, Kiai War berjanji akan memenuhi undangan itu, hari Sabtu, 14 Januari 1989. Sabtu Pahing, 14 Januari 1989

Page 15

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari 1.. Pagi itu Zulkifli menunggu Kiai War dari Cihideung. Tetapi sampai siang, bahkan hingga sore, Warsidi tak kunjung datang. 2.. Kiai War ingkar janji, bukan sementara, malahan selamanya. Selasa Kliwon, 17 Januari 1989 1.. Dari Pesantren Al Islam, di Desa Labuhan Ratu I, terdengar kabar ada seorang bemama Usman membuat gara-gara. Guru pesantren ini mengusir Kiai Junaidi, pemilik Pesantren Al Islam yang pemah menolongnya, beberapa waktu sebelumnya. 2.. Drama pengusiran terhadap tuan rumah ini berdampak panjang. Belakangan diketahui, dari surat rahasia Usman, pengambilalihan pondok, ternyata ada kaitannya dengan Warsidi yang sering mondar-mandir ke tempat itu. 3.. Usman, pria kerempeng kelahiran Semarang, 13 September 1960, punya sejarah anti pemerintah. Pada tahun 1985, ia divonis Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta, 1 tahun penjara, karena menghina Presiden Soeharto. 4.. Ketika hendak diadili, dari mulutnya keluar kata-kata: "Saya tidak percaya pengadilan berhala. Di Mahkamah Allah nanti kita buktikan siapa yang benar", sanggah Usman di depan pengadilan. 5.. Selepas menjalani hukuman, Usman menghilang. Belakangan diketahui, dia sudah ada di Pondok Al Islam, milik Kiai Junaidi yang ia kudeta itu. 6.. Bersama pengurus Yayasan Al Islam, Kades Labuhan Ratu I melaporkan Usman ke kantor Camat Way Jepara, Lampung. Jumat Kliwon, 27 Januari 1989 1.. Sepuluh hari setelah membaca surat dari Al Islam, Zulkifli melapor kepada, Kapten Soetiman, Dan Rarnil Way Jepara. 2.. Dalam laporannya, Zulkifli meminta Soetiman agar segera memeriksa Usman sekaligus memanggil Jayus berikut Anwar Warsidi, pemimpin kelompok Mujahiddin Cihideung. 3.. Di dalam surat itu juga disebutkan bahwa Jayus dan Warsidi pemah dipanggil Camat, tetapi tidak mau datang. Malah ia mengancam akan membunuhnya, ketika rombongan Camat mendatangi markas mereka. Sabtu Legi, 28 Januari 1989 1.. Darah Sang Kapten bergolak ketika mendapat laporan seperti itu. Hari itu juga, Komandan Militer Way Jepara ini segera memangil Usman, Warsidi,dan Jayus, melalui surat. 2.. Dalam suratnya, Kapten Soetiman memberi kelonggaran kepada mereka sampai hari Rabu, 1 Februari 1989. Namun, Warsidi cs tetap tak datang, malah menantang. Rabu Kliwon, 1 Februari 1989 1.. Amir Puspa Mega, Lurah Rajabasa Lama, melapor kepada Soetiman tentang kegiatan Warsidi. 2.. Menurut Lurah tersebut, Warsidi dan anak buahnya, semakin hari http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 16

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari menunjukkan kegiatan-kegiatan aneh, seperti belajar memanah, latihan beladiri, dan merakit bahan peledak dari botol bekas minuman anggur Kamis Legi, 2 Februari 1989 1.. Oleh Soetiman, informasi lurah tersebut segera dipalorkan ke Kodim Metro, Ibu kota Lampung Tengah. Dari atasannya di Kodim, Soetiman mendapat tugas memantau lokasi dan mengamankan situasi. 2.. Sementara itu, diam-diam, Sukidi menyelinap mendekat lokasi. Dari balik semak, Sukidi melihat kejadian aneh. Ada sejumlah anak muda mengenakan seragam pangsi hitam, dengan ikat kepala. Mereka bersenjata pedang, celurit, golok, dan panah. 3.. Kejadian itu dilaporkan kepada Dan Ramil Soetiman. Minggu Wage, 5 Februari 1989 1.. Soetiman tak mau kehilangan momentum. la segera memerintahkan 2 orang anggotanya, Serma Dahlan dan Kopda A. Rahman menuju lokasi. 2.. Dua utusan itu menghubungi perangkat desa Baheram, Sukidi, Poniran, dan Supar. Masing-masing sebagai Pamong, Kadus, RW, dan RT. 3.. Malam itu, sekitar pukul 23.30, mereka mendekat ke lokasi dan menangkap 6 pemuda tanggung (satu lepas), yang dicurigai. Dari mereka, disita sekarung anak.panah, 5 golok, 2 pedang, dan 2 born molotov. 4.. Mereka bernama Sardan bin Sakip (15 th.), Mujiono bin Sadik (15 th.), Parman bin Bejo (19 th.), Sidik bin Japar (16 th.), Saroko bin Basir (16 th.). Seorang lagi benama Sadar alias Joko berhasil melarikan diri dalam perjalanan menuju kantor Kelurahan. 5.. Parapemuda tanggung, berusia belasan tahun itu, mengaku berasal dari Bandar Agung, Labuhan Maringgai, Lampung Tengah, kecuali Saroko, yang mengaku berasal dari Teluk Betung. 6.. Setelah tak berhasil mengorek keterangan dari mereka, pihak kelurahan segera mengangkutnya ke Koramil. Aparat Koramil pun tak berhasil menginterogasi mereka. Kabarnya, mereka sangat teguh memegang sumpah setianya untuk berdiam diri dan menutup mulut. 7.. Menjelang subuh, mereka kemudian dikirim ke Korem 043 GATAM, di Bandar Lampung. Senin Kliwon, 6 Februari 1989 1.. Pukul 01.00 ( dini hari) Warsidi terbelalak ketika mendengar pengikutnya ditangkap. Kepada Fadhillah dia memerintahkan untuk merebut kembali anak buahnya yang ditahan aparat. Malam itu juga, Fadhillah berangkat dengan 12 orang pasukan terlatih. Segala kebutuhan dipersiapkan. Golok, panah, dan peledak termasuk seperangkat pakaian dikemas. Mereka berjalan kaki berkilo-kilo meter menerobos belukar menuju Koramil Way Jepara. 2.. Pukul 06.00 (pagi hari). Fadhillah Cs. sampai tujuan. Sebelum beraksi, ia mendengar kabar bahwa semua tahanan Talangsari sudah dikirim ke Korem GATAM di Bandar Lampung. Fadhillah berunding dengan anak buahnya dan sepakat melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung. Namun, sebelumnya mereka harus ke Sidorejo dahulu, singgah di rumah Zamzuri untuk beristirahat dan mengatur siasat. Dari markas Zamzuri di Sidorejo itulah mereka merencanakan penyerangan ke Bandar Lampung, pada sore hari. 3.. Pukul 11.00 (siang). Kasdim Metro, Mayor E.O. Sinaga bersama rombongan datang di Kelurahan Rajabasa Lama, bermaksud ingin bertemu langsung dengan Kiai War. Dari kantor kelurahan Rajabasa Lama, rombongan Kasdim itu dipandu Kapt. Soetiman, beriringan menuju sarang Warsidi, yang berjarak sekitar 7 km. Iring-iringan rombongan dibagi tiga regu, yakni regu Korarnil, regu Kasdim, dan regu Camat. Kapten Soetiman dengan sepeda motor berada paling depan, memimpin rombongan, disusul 2 jeep kendaraan Kasdim, kemudian diikuti Camat Zulkifli beserta perangkat desa. 4.. Pukul 11.30 (tengah hari). Rombongan memasuki lokasi. Suasana sepi, seperti tak ada penghuni. Sayup-sayup terdengar suara sepeda motor Kapten Soetiman dimatikan. Bersamaan dengan matinya mesin sepeda motor itu, http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 17

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari tiba-tiba seorang pemuda bertenak. " Allahu Akbar ...," dan sebilah demi sebilah anak panah melesat dari balik semak menuju ke arah Soetiman. Suara takbir itu disambut susul-menyusul, bagaikan nyanyian Perang Sabil. Puluhan anak buah Warsidi bertabur, keluar dari rumah-rumah bambu sambil mengacungkan senjata pembunuh, menyerang rombongan. Mayor Sinaga terkesima, mulutnya cuma bisa ternganga, "mundur ...!", teriaknya memerintahkan anak buahnya agar meninggalkan lokasi. Seketika itu, kendaraan Sinaga berbelok arah dengan menerjang-terjang pepohonan, laju meninggalkan lokasi. Berbeda dengan Sinaga, yang selamat Kapten Soetiman menjadi bulan-bulanan anak buah Warsidi yang tengah kesetanan. la dikejar-kejar, tubuhnya dikoyak-koyak, dan lehemya ditebas sampai tewas. 5.. Pukul 12.30 (setelah satat Lohor). Di musala Jayus, terjadi pro dan kontra sesama jamaah. Suasana pondok Warsidi menjadi tak mengental lagi. Persatuan antar jamaah buyar setelah sadar bahwa mereka telah membunuh aparat keamanan. Tidak semua anggota Warsidi setuju dengan kejadian itu. Mereka yang tak punya nyali kemudian meninggalkan perkampungan Warsidi, melalui berbagai jalur: Pakuan Aji, Talangsari, dan Kelahang. Masyarakat sekitar menggambarkan ada ketakutan yang menghantui wajah mereka setelah terjadi pembunuhan aparat. Pada saat terjadi eksodus, Warsidi mengirim utusan untuk mencari Fadhillah agar segera kembali ke Cihideung. 6.. Pukul 15.30 (usai sholat Ashar). Jenazah Soetiman dikubur. Fadhillah datang menemui Warsidi. Menurut pengakuan Fadhillah, Warsidi memerintahkannya untuk mengubah strategi, setelah menyadari Soetiman tewas ditangan anak buahnya. Fadhillah harus menciptakan huru-hara di seluruh Lampung agar aparat sibuk dan tidak berkonsentrasi ke Cihideung. Sore itu Fadhillah berangkat ke Sidorejo menemui pasukannya dengan seonggok beban. 7.. Pukul 19.30 Fadhillah berangkat. Niatnya sudah bulat, perang. Di kepalanya tak ada kata lain, "Hidup mulia atau mati syahid". Dari rumah Zamzuri di Sidoredjo, mereka hendak ke Korem GATAM di Bandar Lampung. Dan, jalur yang akan mereka tempuh ialah melalui Sribawono ke jurusan Panjang yang berjarak sekitar 90 km. Untuk mempercepat perjalanan, mereka menyewa angkutan umum. Tetapi sayang, di dalam kendaraan yang hendak mereka sewa, ada seorang anggota ABRI, Pratu Budi Waluyo yang tetap ingin ikut meskipun Fadhillah telah membujuknya agar Sang Pratu mau mengerti. Akhirnya Budi Waluyo sepakat dibawa serta. Dalam perjalanan, mereka berdialog, saling memperkenalkan diri. "Jadi Bapak tahu kejadian tadi siang di Cihideung?". Budi Waluyo dengan gagah menjawab: "Saya ikut menyerang, di sana". Mendengar kata-kata itu, Fadhilah gelap mata. Pedangnya segera dihujamkan ke dada Budi Waluyo hingga tewas. Menyadari ada pembunuhan, sopir angkutan lari meninggalkan kendaraannya. Fadhillah bersama pasukan membawa kendaraan tersebut menuju ibu kota Lampung dan menebar teror sampai pagi. 8.. Pukul 20.00 Sementara Fadhillah membuat kerusuhan suasana di Cihideung mencekam. Aparat tengah bermuram durja sambil merancang untuk mengambil jenazah Soetiman dengan paksa, setelah tak ada tanda-tanda damai dari Warsidi. Selasa Legi, 7 Februaii 1989 1.. Pukul 01.00 Satu tim pasukan khusus, mengintai lokasi. 2.. Pukul 03.00 Petugas memperingatkan Warsidi berulang-ulatlg melalui pengeras suara megaphoen agar segera menyerahkan jenazah Soetiman. Tak ada reaksi Warsidi bahkan juga tak ada tanda-tanda kompromi. Himbauan dan peringatan seperti itu terkesan tak lagi dihiraukan. Ketika pagi mulai menyeruak, seseorang dari balik dinding memberi komando jihad. Bersamaan dengan itu, orang-orang Warsidi berhamburan keluar sambil membawa panah dan golok menyerang petugas. Tentu saja, ini perbuatan sia-sia karena aparat tak mungkin membiarkan mereka melakukan penyerangan yang mecmbabi buta seperti itu. 3.. Pukul 07.00 Loso (60 th) dan Kamarudin (30 th), warga Pakuan Aji yang menjadi pemandu garis depan, mendengar ada orang merintih-rintih di dalam sebuah pondok. Kedua orang ini mencari tahu dari mana suara itu berasal. Belakangan diketahui, seseorang membacok anggotanya sendiri, ketika hendak http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 18

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari menyerah ke aparat. Kamarudin malah melihat, bangunan rumah bambu itu kemudian dibakar oleh anak buah Warsidi. 4.. Pukul 11.30 (menjelang Lohor). Kobaran api yang melahap pondok Warsidi beserta isinya baru bisa dipadamkan. Kini, setelah sebelas tahun berlalu, masyarakat Talangsari III mulai diresahkan oleh sekelompok orang yang mengkais kembali luka lama. Para tokoh masyarakat dan juga para pengasuh Pesantren di Wilayah Lampung Tengah, menduga ada "pemain baru", bertopeng kemanusiaan membela Warsidi. Kejahatan memang selalu satu kamar dengan kebenaran, walaupun tidakpemah akur.

Page 19

Bagian 4 - Sekilas Tentang Anwar Warsidi
SEKILAS TENTANG ANWAR WARSIDI FITRAHNYA, tidak ada manusia jelek, apalagi jahat, karena ia adalah cahaya Ilahi. Sifat keilahian, senantiasa mahabaik, lagi sempurna. Yang ada ialah manusia membiarkan hatinya kosong, sehingga setan atau anasir jahat lainnya mengisi dan merusak kalbu. Penghuni kalbu itulah yang menentukan apakah orang "menjadi" malaikat atau setan. Itu sebabnya, raja semesta alam memerintahkan kita agar selalu ingat kepada-Nya, supaya anasir jahat tidak pemah punya kesempatan menjadi penghuni kalbu. Apakah Warsidi, tokoh yang hendak kita bicarakan ini, termasuk yang membiarkan kalbunya kosong melompong dari cahaya keilahian? Suatu pertanyaan ! yang tak mudah dijawab. Tetapi, indikasinya bisa kita ukur, misalnya dengan berbagai pendapat orang-orang yang mengenal dirinya. Di satu pihak, orang menyebut kebaikannya lainnya mengatakan kekurangannya. Ragam cerita dari berbagai pihak, yang belum banyak terkuak dalam media tulis ini, akan melengkapi kisah tokoh kontraversial, Anwar Warsidi. Marsudi Menuturkan Marsudi (65 th.) mungkin satu-satunya nara sumber paling pas untuk didengar penuturannya. Marsudi ialah adik Warsidi, dari 9 orang keturunan Marto Pawiro, ayah kandung mereka. Dari 9 bersaudara itu, hanya Marsudi yang paling sering hidup bersama Warsidi. Bahkan hingga detik-detik terakhir saat kematian "sang imam", Marsudi tetap setia .mendampinginya. Usia dua kakak beradik ini juga tak terpaut jauh, hanya selisih 4 tahun. Sekalipun lebih tua, Marsudi mengaku, adiknya jauh lebih cepat dewasa dibanding dirinya. Tak hanya itu, sifat sabar dan baik hati juga dimiliki Warsidi. Kata Marsudi, adiknya itu sejak kecil sudah dicintai dan kata-katanya diturut oleh teman-temannya. Masih seputar itu, Warsidi sangat dikenal sebagai seseorang yang rajin dan pekerja keras. Sayang, sekolahnya cuma sampai di SD. Selanjutnya mereka hanya mengaji pada seorang ustad desa bernama Kiai Sirot. Dari Kiai Sirot inilah mereka mendapatkan dasar-dasar agama dengan baik. Berbekal sedikit pengetahuan agama itulah mereka berangkat ke Lampung, menyusul Maryumi, kakak perempuannya yang sudah mapan sebagai transmigran di Lampung. Di sana juga ada Marjudi (Muhammad Judi), kakak Maryumi yang menjadi transmigran, sejak 1939. Warsidi lahir di desa kecil bemama Sebrang Rowo, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah tahun 1939, sebagai anak terakhir. Kakak-kakaknya bernama: Marjudi, Maryumi, Marsandi, Marsiyah, Marsidi, http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Marsudi, Suwandi, Dulbahri. Dua kakaknya yang terakhir, Suwandi dan Dulbahri, telah meninggal dunia sebelum keluarga mereka boyong ke Lampung Tengah. Kabarnya, Maryumi sangat membenci Warsidi, setelah adik kandungnya itu berguru kepada seorang kiai bernama Anwaruddin. Pasalnya, Warsidi tiba-tiba menjadi aneh. Bahkan, Maryumi dikatakan kafir, setelah ia menasihatinya agar tidak berguru lagi kepada .Anwaruddin. Di mata Warsidi, kiai Anwar tergolong ulama besar, berilmu tinggi dan karena itu wajib ditaati kata-katanya. Warsidi memilih meninggalkan Maryumi dan mengikuti ke mana Kiai Anwar pergi. Sejak itu mereka mulai menjauh dan meniti jalan masing-masing. Anwaruddin ialah seorang guru ngaji di Bandarjaya, Batanghari, Lampung sejak 1965. Pertemuan dua anak manusia ini bukan di tempat pengajian, tetapi di sebuah masjid di Bandarjaya itu. Ketika Warsidi hendak menunaikan salat, matanya terkesima melihat seseorang yang telah menyelesaikan salatnya, terkesan sangat khusuk. Warsidi memperkenalkan diri. Dari perkenalan itu ia menyimpulkan, Anwaruddin bukan orang sembarangan. Lebih-lebih setelah Anwaruddin membeberkan kisah hidupnya kepada Warsidi. Warsidi memutuskan menjadi murid kiai yang baru ia kenal itu. Seluruh ucapan "gurunya" juga ingin ia tiru, termasuk perilaku Anwaruddin yang pemah membunuh orang kafir. Menurut Anwaruddin, membunuh orang kafir tidak berdosa dan memeranginya ialah perbuatan jihad. Dalam pandangan kiai pujaan Warsidi itu, pemerintah juga digolongkan sebagai orang kafir. Warsidi semakin banyak mengetahui pandangan-pandangan gurunya. Misalnya, pemerintahan thoghud harus diperangi dan diganti dengan. pemerintahan Islam. Bagi siapa yang tidak sama dengan dia dap tidak menjalankan syariat Islam dengan baik, kafir, Sayang, nasib menentukan lain. Pertemuan mereka terhalang. Sang guru ditangkap dan dipenjara 'karena mencerca Bung Karno yang kala itu masih berkuasa. Masih untung, sang guru asal Banyumas itu segera dilepas sebelum putusan pengadilan jatuh, tertolong oleh peristiwa G 30/S PKI. Selepas dari penjara, Anwaruddin diusir oleh masyarakat karena ucapan dan tingkah lakunya tak membuat sejuk umat. Anwaruddin pindah ke Kogan Lima, Lampung Utara. Warsidi bersama Juwariah istrinya, juga ikut boyong ke daerah baru, mengikuti sang guru. Hanya berbekal menjual sepetak tanah, satu-satunya harta, Warsidi menjalani hidup bersama gurunya sebagai orang usiran. Akhirnya, kehidupan Warsidi semakin jauh dari kakak-kakaknya, kecuali Marsudi. Setahun setelah menjadi orang usiran, Anwaruddin meninggal dunia. Warsidi segera bertindak menggantikan posisi Anwaruddin, termasuk menggantikannya sebagai suami bagi janda sang guru. Sejak itu, nama Warsidi berubah menjadi Anwar Warsidi. Tambahan " Anwar" diambilnya dari namaAnwaruddin, semata-mata agar citra guru besarnya itu tetap melekat dalam dirinya. Setelah kematian gurunya, Warsidi hijrah ke Pakuan Aji. Selain karena soal ekonomi, masyarakat juga tak lagi berkenan dengan keberadaan Warsidi dan keluarganya. Tetapi tak lama di Pakuan Aji, ia kemudian pindah ke Labuhan Ratu menjadi buruh koret di ladang-ladang penduduk sambil terus mengajar ngaji bagi penduduk setempat. Di sanalah ia bertemu Jayus yang kemudian memboyongnya ke Cihideung. Di Cihideung, Warsidi membawa serta Marsudi, satu-satunya kakak yang paling mengerti kondisinya. Bersama Marsudi, dia membangun tempat kegiatan yang berasal dari hibah Jayus, untuk dipersiapkan sebagai pusat pengajian massal. http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 20

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Belum berkembang, apalagi berbuah, badai malapetaka datang. Sebuah cita-cita musnah sia-sia, bersama mimpi-mimpinya yang tak sampai. Cerita Dari Pakuan Aji Kisah Warsidi masih berlanjut. Kali ini datang dari Pakuan A ji, daerah yang pemah ia singgahi. Kepala desa Pakuan Aji bemama Ismed Inonu (42 th). Seorang pria kelahiran Pakuan Aji dan merupakan bagian dari yang sedikit penduduk asli Lampung yang masih tinggal di daerah tersebut. Pada saat Warsidi berjaya menjadi kiai Cihideung, Ismed sebagai tukang ojek yang mondar-mandir mengantar jamaah, keluar masuk Talangsari. Kala itu, hanya dari arah Pakuan Aji, lokasi Warsidi mudah ditempuh. Ismed mengaku tahu banyak ihwal tokoh Jawa yang paling menghebohkan daerah Lampung tersebut. Kata Ismed, kedatangan Warsidi di Pakuan Aji seperti angin, tanpa permisi. Sekali waktu datang, kali lain hilang. Budaya tak melapor diri agaknya sudah tradisi bagi tokoh ini. Masyarakat mengenalinya, pertama kali di daerah Umbul Puk, masib wilayah Pakuan Aji, tahun 1987. Warsidi kemudian pindah ke Umbul Hujan Mas, menggarap kebon lada milik Marsan dengan cara bagi basil. Dari mulut Marsan, Ismed Inonu mendengar cerita aneh tentang Anwar Warsidi. Kata Marsan, ucapan-ucapan Pak War sering ngelantur tak karuan. Misalnya, ia ingin punya anak yang bertanduk dan berekor. Pemah pula Warsidi berteriak-teriak tanpa sebab yang jelas di kerumunan orang. Itu juga sebabnya, Ismed tidak percaya ketika orang-orang mengatakan, kini Warsidi menjadi kiai di Cihideung dan banyak santri belajar mengaji kepadanya. Meski demikian, Ismed sempat terkesima ketika banyak tamu dari luar kota, keluar masuk. Cihideung dan mengaku hendak belajar ngaji ke Kiai Warsidi. Tetapi, kekaguman Ismed tidak bertahan lama. Kabar angin pun segera semilir. Tersiar kabar, tamu-tamu Warsidi ternyata membawa masalah. Ada penduduk di sekitar wilayah marah-marah. Pasalnya, tanaman mereka dijarah. Ada singkong hilang. Ada bambu ditebang. Bahkan buah kelapa sering melayang. Masyarakat menjadi tak tenang. Ismed segera bertandang, mencari dengar dari beberapa orang. Mereka kernudian rnernbenarkan kabar angin yang diceritakan orang. Kepada penduduk Pakuan Aji, Isrned mewanti-wanti agar sernakin hati-hatidengan Warsidi. Tidak lama setelah itu, Warsidi benar-benar rnenjadi buah bibir di tengah rnasyarakat Pakuan Aji. Sebagian besar penduduk rnenyaksikan tarnu-tarnu Warsidi, mernbawa-bawa pedang dan juga belajar rnelontar panah di tengah sawah. Tak curna itu, rnereka juga belajar merakit bahan peledak dari botol-botol kosong yang diisi bensin, serbuk gergaji, dan bubuk korek api. Para pemudanya giat berlatih silat, di kepalanya terikat kain bertuliskan jihad. Kian hari, anak buah Warsidi kabarnya sernakin tak terkendali. Warga rnenjadi tidak tenang, untuk apa senjata-senjata perang itu digalang. Isrned juga tak bisa menjelaskan bagairnana seorang buruh koret seperti Warsidi rnendadak rnenjadi kiai, lalu rnenyerukan pembuatan panah dan rnernpelopori perakitan born di tempat terpencil seperti Cihideung. Teka-teki itu akhimya tersingkap, setelah Warsidi dan anak buahnya rnembuat heboh, rnernbunuh Danrarnil Way Jepara, ketika berkunjung ke rnarkas Warsidi. Kapten Soetirnan ditangkap, tubuhnya dikoyak panah beracun dan lehernya ditebas hingga tewas. Mayat pemirnpin rornbongan itu ditahan dan disandera. Peristiwa tersebut rnengagerkan banyak orang, kabutnya tak hanya http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 21

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari rnenggelapkan langit Larnpung, tetapi juga meredupkan langit rnanca negara. Kisah pernbantaian Kapten Soetirnan, Danramil Way Jepara inilah klimaks, bagi teka-teki 'Cerita Dari Pakuan Aji'.

Page 22

Pengakuan Mushonif dan Fadhillah Warsidi pada awalnya sangat diharapkan bisa menjadi pemersatu bagi suatu kelompok yang tengah bertikai karena kelompok Nll pada masa itu sedang terburai dan terpecah belah. Sesama anggota Nll bahkan para pemimpinnya tak lagi bersatu, malah cenderung saling ancam hendak membunuh lainnya. Pada situasi seperti itu, satu-satunya tokoh yang masih bisa diharap menjadi pemersatu hanya , Warsidi, meski mereka akui belum cukup syarat, layaknya seorang tokoh besar di lingkungan Nll. Apa boleh buat, ltulah komentar Mushonif dan juga kesan yang tersirat dari centa Fadhillah. Kelompok Ngruki di Jawa Tengah memang sedang r kehilangan tokoh besar Abdullah Sungkar yang kabur ke Malaysia. Padahal, Nll Lampung yang diharapkan bisa menampung jamaah Ngruki lagi kisruh, lantaran para pengurusnya bertikai saling berebut pengaruh untuk menjadi ketua. Mereka ialah Muhammad Rifai dan Zainal Arifin. Keduanya mengangkat dirinya menjadi pemimpin Nll wilayah Lampung. Sementara itu, ada satu kelompok kecil di Jakarta yang tengah bermimpi membangun suatu kawasan untuk dijadikan perkampungan muslim, sebagaimana yang ada di Malaysia. Mereka yang di Jakarta itu ialah Sudarsono, Nurhidayat, dan Achrnad Fauzi. Kelompok-kelompok bingung inilah yang kelak kemudian dianggap sebagai cikal-bakal meletusnya geger Talangsari di Lampung Tengah itu. Sementara kelompok-kelompok bingung itu mencari sosok pemimpin, Warsidi berpeluang menjadi pilihan mereka. Mengapa Warsidi terpilih? Mushonif menyatakan, Warsidi punya tempat, meskipun tidak terlalu luas, Lahan 1,5 hektar di kawasan Cihideung dinilai cukup untuk satu kegiatan awal. Alasan lain, Lampting dianggap tidak terlalu jauh dari Jakarta, dibanding harus ke NTB, misalnya. Pemuda Mushonif (24 th.), saat Cihideung-meletus, sesungguhnya tidak secara langsung terlibat kegiatan Warsidi. Saat itu, dia bersama Usman mengajar di pesantren Al Islam di Labuhan Ratu, tak jauh dari Cihideung, melihat Warsidi merupakan sosok yang gigih memperjuangkan cita-cita Islam. Di mata Mushonif, Warsidi termasuk tokoh yang pantas diikuti karena ucapan dan tindakannya sejalan. Lebih dari itu, Mushonif juga kagum setelah mendengar bahwa seorang Warsidi berkeinginan hendak membangun suatu "Perkampungan Muslim". Meskipun belakangan diketahuinya semua itu sesungguhnya akal-akalannya Darsono, yang mengeksposnya ke Lampung. Mushonif tak pemah membayangkan, hubungannya dengan Warsidi akan membawanya ke penjara, hingga 10 tahun di Nusakambangan. Di depan pengadilan, pria berkacamata ini geram dan melontarkan caci maki kepada aparat, serta sumpah serapah terhadap pemerintahan Orde Baru yang dianggapnya jahat dan zalim. Berbeda dengan Mushonif, Fadhillah sejak awal sudah mengagumi Warsidi. la melukiskan, Warsidi ialah tokoh yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Seluruh hidup Warsidi, menurut Fadhillah, diperuntukkan bagi perjuangannya. Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang ajal, Warsidi menyatakan, lebih baik mati syahid daripada menyerah kepada kaum kafir. Sifat teguh Warsldi inilah yang mengilhami Fadhillah untuk tetap menjadikannya sebagai tokoh idola bagi dirinya. Kebaikan Warsidi, kata Fadhillah, sulit diukur dan dicari padanannya. Contohnya, suatu hari, ketika Fadhilah. sedang melarikan diri ke tengah hutan, orang pertama yang mau http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari menemuinya hanyalah Anwar Warsidi. Kata Fadhillah, ucapan-ucapannya menyentuh kalbu, bagaikan puisi para pujangga yang mampu menyinari remang-remangnya belantara. Warsidi menawarkan agar Fadhilah bergabung bersama teman-teman seperjuangan. "Berjuang tidak bisa sendiri", kata Warsidi. "Kalau masih ada kawan, mengapa bersendiri di hutan?". Inilah antara lain kata-kata yang terlontar dari mulut Warsidi, saat menemuinya di tengah hutan, kala itu. Hati Fadhillah benar-benar runtuh. Dan tak lama kemudian, dia memboyong keluarganya bergabung dengan Warsidi, menghadang masa depan. Di Cihideung, bersama tokoh pujaannya itu. Fadhillah menunggu pemimpin sejati. Pemimpin yang tak meninggalkan umatnya sebagaimana Abdullah Sungkar yang kabur ke Malaysia, juga pemimpin yang tak sembarang mengangkat diri sendiri, menjadi imam, seperti Zainal Arifin atau Muhamad Rifai. Meskipun pemimpin ideal itu tak kunjung datang, sampai malapetaka Cihideung merenggut semua keluarganya, menjadl tumbal bagl harapannya yang gagal, Fadhillah tetap hormat dan mencintai Warsidi sampai kini. Warsidi, Mbedagol Istilah mbedagol mungkin tidak lazim bagi masyarakat umum. Namun, untuk kelompok tertentu di daerah Jawa Tengah, sudah biasa terdengar. Istilah ini digunakan terutama untuk menyebut orang-orang yang keras kepala, egois, tak mau menerima pendapat orang lain, dan fanatik. Demikianlah kesan yang terungkap dari Suryadi ( 49 th. ), ketika menceritakan pengalaman hidupnya bersama Warsidi, beberapa tahun di Cihideung, Lampung Tengah. Suryadi orang Solo, Jawa Tengah, lari ke Lampung sungguh tak punya rencana tinggal di Cihideung, lebih-lebih bertemu seseorang yang bemama Anwar Warsidi. Awal pertemuannya dimulai dari rumah Marsan di Hujan Mas, Pakuan Aji. Cukup singkat, menjadi buruh koret di peladangan lada. Pengikut Abdullah Sungkar dari Ngruki, Jawa Tengah yang melarikan diri ke Lampung lantaran dikejar-kejar aparat ini, tak banyak mempedulikan Warsidi, karena sejak awal pertemuannya tidak ada tanda-tanda kecocokan dalam hati. Meskipun demikian, hubungan mereka berlanjut hingga ke Cihideung, rumah keluarga Jayus. Suryadi dipercaya membuat genteng di perusahaan Jayus. Sedangkan Warsidi bertugas memakmurkan musala Jayus, sambil merancang cita-citanya untuk mendirikan sebuah perkampungan muslirn yang digagas Darsono Cs di J akarta. Menurut pengakuan Suryadi, mengapa .Warsidi tak pemah cocok dengannya, karena pandangan Warsidi selalu berlawanan. Warsidi seringkali mengatasnamakan Alquran dan Sunah Rasul, meski sesungguhnya ucapan seperti itu, belum layak keluar dari orang sekelas Warsidi. Tokoh kontroversial ini sering mengkafirkan orang-orang yang selain dia. Menzalimkan pemerintah, membatalkan Pancasila, dan menghalalkan darah ulama, bila tak sejalan dengannya. Suryadi menggambarkan, Warsidi ialah tokoh yang mbedagol, sulit disentuh pendapat orang lain. Ada saja jawaban yang segera keluar dari mulutnya, manakala orang lain mengingatkan. Misalnya, ketika diingatkan soal membaca Alquran, Warsidi menjawab, "Kita bukan orang Arab, maka wajar kalau salah membaca". Renik pernik seperti itulah yang membuat Suryadi nyaman tinggal di Cihideung bersama tokoh Warsidi dan segera memutuskan pergi, setahun sebelum tragedi meletus. Warsidi Makan Belakangan Pada awalnya, Warsidi di mata Arifin bin Karyan (44 th.), hanyalah manusia biasa yang tak banyak kelebihannya. Namun semakin lama bersama Warsidi, la http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 23

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari tak bisa tidak mengagumi tokoh langka ini. Bertambah hari, Arifin semakin betah di kompleks Cihideung itu. Hatinya menjadi merasa tenteram, setelah lama gelisah tak menentu, saat sebelum kenal Warsidi. Di Talangsari inilah Arifin menemukan kehidupannya meskipun akhimya harus kehilangan seluruh keluarganya. Arifin bersama istri dan dua anaknya, serta satu sepupunya, berangkat dari Tanjung Priok Jakarta, menuju Lampung. Selain ingin meningkatkan harkatnya, ia juga berkeinginan mencari ketenteraman untuk menjalankan perintah gama. Di Lampung, dia disambut dengan suka cita oleh jamaah lain yang datang lebih dulu dari dirinya. Kesan seperti itulah yang hingga kini masih terasa. Saat itu, seorang yang bemama Warsidi memperkenalkan diri sebagai pemimpin pengajian. Kata Arifin, Warsidi terkesan sebagai sosok yang sederhana, penuh perhatian dan tanggung jawab. Istri Warsidi, setiap pagi selalu mendatangi jamaah dan menanyakan apakah segala kebutuhan untuk hari ini sudah tercukupi, misalnya beras dan lain-lain. Bila waktu makan, anak-anak harus makan terlebih dulu, selanjutnya para ibu dan kemudian disusul para bapak. Warsidi selalu makan paling belakang setelah semua jamaah selesai. Demikianlah cerita Arifin bin Karyan yang sempat hidup beberapa bulan bersama komunitas Warsidi. Ada pro dan kontra, menyoal Warsidi. Ada simpati dan caci maki. Pelangi kehidupan Warsidi menyisakan kenangan bagi banyak orang, terutama pengikut setianya. Sosok Warsidi menjadikan ilham bagi para petualang. Hanya petualang yang tak membiarkan hatinya kosong melompong dari cahaya ilahi, yang menang. Selebihnya, hanya petualang-petualang yang akan menjadi pecundang.

Page 24

Bagian 5 - Biarkan Meraka Bicara
BIARKAN MEREKA BICARA KETIKA buku ini disusun, ada kabar yang menyatakan, di kawasan Gunung Balak kini dalam keadaan tidak aman. Kelaparan dan kemiskinan melanda Lampung Tengah, menjadikan penduduknya dicekam ketakutan begal, perampokan, dan penjarahan. Padahal di daerah ini, nara sumber buku Geger Talangsari hendak diambil. Kabar lain juga menyatakan, masyarakat setempat tidak mau bicara pada pihak yang dicurigai akan menjual Talangsari melalui berbagai LSM, yang kabarnya sering beroperasi di wilayah Talangsari. Kenyataan di lapangan jauh berbeda. Masyarakat setempat cukup kooperatif dan bersahabat. Mereka bercerita apa adanya tentang Warsidi dan Talangsari, pada 11 tahun lalu, kurang lebih. Dari celoteh mereka tergambar ada kesedihan, gregetan, dan juga kemarahan. Tonil tentang Warsidi mengisahkan banyak hal yang tak mudah dicerna oleh masyarakat desa. Teka-teki kehidupannya yang telah menyusahkan banyak orang masih misteri. Apa yang selama ini mencuat di media massa, soal Warsidi dan Talangsari, masih merupakan wacana yang belum teruji, apalagi terbukti. Masyarakat merasa dibohongi dan dipecundangi tentang infomasi Talangsari, tentang Warsidi yang mirip dagelan Jawa yang belum selesai. Masyarakat juga ingin menuturkan yang sejujurnya, tentang berbagai kejadian, Pada 11 tahun lalu. Oleh karena itu, biarkan mereka bicara!

SUKIDI Mantan Kepala Dukuh Talangsari III. Kini, sesepuh .masyarakat di wilayahnya. SUKIDI tentu tidak mebayangkan, kelak namanya bakal dikenal orang dan http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari dicatat dalam lembaran sejarah di negeri ini. Petani asal Banyuwangi, Jawa Timur ini, berada di Lampung sudah sejak 1972. Kala itu cita-citanya cuma satu, hidup mempunyai lahan sendiri, sesuatu yang sangat sulit ia peroleh bila tetap tinggal di kampung halamannya, Banyuwangi. Pria pekerja keras seperti Sukidi memang bukan pemimpi. Sebab, selama hampir 28 tahun di Tanah Lampung, kini ia memiliki 1,5 hektar lahan pekarangan untuk rumah dan 1,5 hektar lainnya untuk sawah dan ladang perkebunannya. Makmur? Tentu saja belum. Tetapi, untuk ukuran masyarakat dusun sekecil itu, cukup terhormat. Buktinya, setelah belasan tahun didaulat menjadi kepala Dusun, kini ia tetap dijadikan sesepuh. Dijadikan tempat berlabuh dan tempat mengadu untuk berbagai urusan kampung. Ketika itu seorang warganya mengeluh, tanaman singkongnya raib dijarah orang. Tak lazim, ada singkong hilang sebab semua penduduk mempunyai tanaman ubi kayu itu. Sukidi menyelidik, untuk menguak teka-teki. Ternyata ada warga baru yang mengubah adat, mengambil tanaman orang tanpa izin. Tabiat warga baru tersebut menjadi buah bibir, bukan hanya di masyarakat, tetapi meluas hingga ke kantor desa. Gegeran orang-orang kecil ini sungguh tak disangka akan menjadi besar dan meluas. Dari masalah kecil itu, temyata bisa mengakibatkan puluhan nyawa melayang, malah jeritan mereka berkumandang hingga ke negeri seberang. Sukidi, orang kecil yang hidup di dusun kecil ini pun ikut kondang. Pria 48 tahun inilah narasumber utama yang pantas dijadikan referensi, ihwal petualangan Warsidi. Dialah orang pertama sebagai pamong, yang mendapat perlakuan sangat tidak hormat dari imam rnisterius, pencipta ontran-ontran Lampung Tengah, II tahun silam. Bagaimana ceritanya Anda bisa kenal Warsidi? Awalnya saya hanya kenal Jayus, karena dia teman main voly waktu masih muda. Saya kenal Warsidi setelah RW Rasemin menceritakan bahwa di rumah Jayus ada tamu yang sudah cukup lama tetapi tidak mau lapor. Kepada Rasernin saya katakan agar tamu itu melengkapi identitas diri. Rasernin tidak berhasil. Saya mendatangi Jayus. Di sana sudah ada sekitar lima orang tamu yang tidak membawa identitas. Ditanya asal usul dan tujuannya, mereka tidak mau mengaku. Dari Jayus diperoleh nama, salah satu daritamunya itu bemama Pak War. Beberapa hari kemudian ada kabar bahwa tamu Jayus semakin bertambah, malah bertingkah aneh-aneh. Belakangan saya baru tahu, itulah Warsidi dan kelompoknya. Itu terjadi 15 Desember 1988. Berapa jumlah mereka waktu itu? Ketika saya mengadakan cek langsung, cuma ada 5 orang yang tidak saya kenal. Saya beri nasihat agar melengkapi identitas supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka mengatakan iya, meskipun bohong sampai sekarang. Apa kesan pertama kali bertemu Warsidi? Biasa-biasa saja, seperti umumnya orang. Tidak ada tanda-tanda aneh, hanya saja ia sangat tertutup. Saya mendengar, ia pemah di Pakuan Aji, desa tetangga sebelah. la tinggal di rumah Marsan dan menjadi buruh koret di kebun lada Pak Marsan itu. Warsidi kabamya jenis orang yang suka berpindah-pindah tempat. Bahwa kemudian dia menetap di Cihideung karena Jayus mengizinkannya tinggal di situ dan memberikan sebidang tanah seluas 1,5 hektar untuk suatu kegiatan kepada Warsidi. Bersama-sama peng- ikutnya, Warsidi membangun tempat itu katanya untuk pengajian. Dari pengajian itulah masyarakat tahu ada caci-maki dan celaan yang dituju kan kepada pemerintah. Jayus terrnasuk orang kaya? Biasa saja sama seperti saya, petani di desa sini. Bedanya dia punya usaha genteng dan punya musala kecil. Di situ Jayus dan Warsidi menjalankan http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 25

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari kegiatannya. Saya kenal baik dengan keluarga Jayus karena memang sama-sama dari Jawa. Apa nama musholah itu? Orang-orang di sini menyebutnya Langgar Jayus. Yang membangun langgar itu dulu Pak Karmo, orang tua Jayus. Saya tahu persis keluarga Jayus karena mereka termasuk lama di sini. Setelah Warsidi datang bersama rombongannya, langgar tersebut diberi nama Musholah Mujahiddin. Setelah ada Warsidi, bagaimana situasinya? Masyarakat banyak yang mengeluh. Mereka resah, kurang senang dengan perilaku warga baru itu. Ucapannya tak lazim didengar, misalnya: pemerintah kafir. Pancasila batal. Mereka juga mengkafirkan siapa pun yang tidak mendukungnya. Yang sangat menyakitkan hati masyarakat ialah tanaman rakyat dipanen tanpa izin. Kalau ditegur, mereka segera mengancam. Ini semua saya laporkan pada Pak Amir Puspamega, Kepala Desa Rajabasa Lama. Oleh Pak Lurah, saya diminta meningkatkan kewaspadaan. Saya bentuk team ronda malam bersama pamong desa secara bergilir. Sejak itu tiap hari banyak laporan dari masyarakat bahwa yang datang ke rumah Jayus bertambah banyak. Berapa lama suasana seperti itu berlangsung? Hampir dua bulan rnasyarakat di sini tegang. Banyak anak buah Warsidi rnernbawa-bawa golok dan rnengayun-ayunkannya di jalanan tanpa sebab. Masyarakat juga rnelihat ternpat untuk berlatih rnernanah dan berlatih bela diri. Terakhir ada laporan bahwa rnereka rnengurnpulkan botol-botol kosong, katanya untuk dibuat born. Oleh karena itu, penduduk sernakin ketakutan, lebih-lebih setelah rnereka rnelarang penduduk tidak boleh rnernbawa senter pada rnalam hari dan tidak boleh rnelaksanakan ronda. Dengan larangan itu, penduduk tarnbah tak rnengerti. Apa tindakan Pak Sukidi? Saya datang ke tempat mereka, berdua dengan Babinsa. Rupanya mereka tak berkenan. Mereka menyindir dengan kata-kata yang tak pantas. Seorang jamaah bahkan sengaja melintas di depan Babinsa dan kentut di depannya. Ini benarbenar terjadi. Saya sangat kawatir kalau-kalau Pak Babinsa itu marah, pasti bahaya bagi kami. Melihat suasana sudah tegang, saya segera minta pamit. Tetapi sampai di luar, sepeda motor saya raib. Saya bertanya tak ada yang menjawab. Saya nyalakan senter mencarinya, ternyata sudah mereka buang ke pinggir Kali Beringin. Saya ambil. Baru beberapa langkah menjalankan sepeda motor, datang dua orang memegang tangan saya dan berkata: "Pak Kidi, besok kalau datang lagi, jangan berdua. Tanggung!". Kata-kata mereka sudah tidak saya pedulikan lagi, saya tancap gas. Tetapi, mereka mengejar. Saya ketakutan, tancap gas lagi, kabur. Saya melihat jam, saat itu sudah pukul 11.00 malam. Sejak itu, banyak orang bilang bahwa saya dicari orang-orang Warsidi hendak dibunuh. Keluarga saya mengungsi dan saya tidak lagi pulang ke rumah sebab rumah saya ditunggui mereka. Mengapa tidak lapor ke polisi atau aparat lainnya? Paginya, 3 Februari 1989, pas hari Jumat, saya lapor ke Desa, lalu Desa melaporkan ke Kecamatan. Malamnya (malam Sabtu), dari Kecamatan meluncur dua orang, Babinsa dan Kaur Pemerintahan ke lokasi untuk berdialog dengan Warsidi. Situasi tambah panas. Mereka diancam dengan golok, sabit dan celurit oleh anak buah Warsidi. Mereka ngeri dan segera kabur, meninggalkan lokasi. Hari Minggu, 5 Februari 1989 utusan dari Way Jepara datang lagi. Serma Dahlan dan Koptu Rachman minta ditemani. Saya bersama Baheram, juga RT dan RW menemani mereka memantau lokasi. Pukul 11 malam kami berangkat secara diam-diam pada malam itu, ada 10 orang anak buah Warsidi menguasai pos jaga. Setelah kami intip, langsung kami tangkap. Berhasil ditangkap 6 orang berikut pedang golok, celurit, bom molotov, serta sekarung anak panah, Karena penduduk banyak yang minta panah tersebut, hanya 53 buah saja yang tinggal sebagai barang bukti.

Page 26

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Setelah itu bagaimana situasinya ? Malam itu juga, setelah ada penangkapan, warga saya menyaksikan ada beberapa anak buah Warsidi meninggalkan lokasi. Seperti pindah, mereka membawa serta segala peranti dapur, tikar, bantal, dan lain-lain. Mereka menuju ke arah desa Pancasila. Jumlahnya tidak bisa dihitung karena gelap. Yang jelas, saat itu, warga saya melihat orang-orang Warsidi meninggalkan lokasi sambil membawa serta barang-barangnya. Pada hari apa waktu itu? Senin, 6 Februari 1989. Saya ingat betul. Karena pada siang harinya sekitar pukul 10.00, saya diminta mengikuti rombangan Kasdim Bapak Sinaga, ke lokasi. Katanya hendak memberikan pengarahan langsung dengan Warsidi. Rombong- an dipimpin oleh Pak Soetiman. Komandan Ramil itu naik sepeda motor paling depan. Pak Kasdim naik Jeep, disusuhombongan yang juga naik Jeep di belakang Kasdim. Pak Camat naik motor di belakang rombongan saya. Sebelum masuk lokasi, Pak Soetiman dicegat gerombolan Warsidi. Pak Soetiman kemudian diberondong panah dari semak dan dari pos jaga. Saya melihatnya ngeri sekali. Kabarnya Soetiman menembak, sebelum masuk? Itu bohong. Saya melihat sendiri. Saya berani disumpah, itu bohong. Soetiman belum menembak, sudah dipanah. Malah Pak Kasdim masih di dalam kendaraan berteriak-teriak supaya Pak Timan mundur, tetapi suasana sudah tidak terkend ali. Masing-masing kemudian berusaha menyelamatkan diri. Saya masih ingat betul waktu itu Pak Timan baru turun dari motor, lalu diserang dengan teriakan "AllahuAkbar, AllahuAkbar. Kapir kamu ", saya melihat betul waktu itu. Malah ketika saya lari ke arah Timur bertemu tentara yang kena panah di dadanya. Saya lihat Sertu Yatin merintih-rintih kesakitan, cepat-cepat saya seret masuk ke mobil. Waktu itu saya di samping Pak Kasdim, hanya dia yang saya dengar mengeluarkan tembakan ke atas. Kasdim menyuruh mundur, tetapi jeep-nya tidak bisa karena terhalang. Akhimya jeep itu memutar dan menerobos kebun singkong, lari meninggalkan lokasi. Sampai di situlah cerita saya. Selanjutnya saya bertahan di kantor kelurahan hingga peristiwa Talangsari itu selesai. Mengapa bertahan di kantor kelurahan? Kalau saya keluar, sangat bahaya. Mereka mengatakan ini gara-gara Sukidi. Jadi, mereka mencari saya terus, katanya akan dibunuh. Untuk memantau situasi, saya percayakan beberapa warga yang berhubungan terus-menerus dengan saya. Dari laporan warga, saya mengetahui, siang itu terjadi lagi rombongan yang lari meninggalkan lokasi Warsidi. Warga saya menceritakan, anak buah Warsidi yang keluar lokasi itu benar-benar seperti pindah. Laki-laki, perempuan, dan anak-anaknya pun dibawa pergi. Jumlah mereka yang pergi meninggalkan Warsidi diperkirakan sekitar 70 sampai 80 orang. Sambil berjalan keluar, mereka mengatakan: "Jangan ikut Warsidi lagi. Kita ini ingin hidup. Orang Islam kok membunuh. Kita nggak mau mati, kita ingin hidup". Jadi, seperti orang pindah? Betul, semua penduduk saya menyaksikan itu seperti orang pindah. Tadinya saya berpikir, di tempat Warsidi itu sudah kosong. Paling hanya dedengkotnya saja yang masih tinggal di sana. Semua rakyat tahu, mereka itu banyak yang pindah. ltu yang lewat Talangsari, belum yang melalui Pakuan Aji dan yang menuju Kelahang. Pokoknya pasti banyak yang sudah meninggalkan Warsidi. Setelah peristiwa yang menggegerkan dunia itu rampung, kini aparat dituduh melanggar HAM oleh beberapa LSM. Bagaimana itu? . Jelas menurut saya itu tidak adil dan malah terbalik. Yang melanggar HAM itu bukan aparat, tetapi Warsidi dan pendukungnya itu. Yang dibunuh duluan aparat negara, namanya Soetiman. Siapa pun dia, Soetiman itu sah sebagai aparat negara. Lalu atasan Soetiman merasa bertanggung jawab. Mendengar anak buahnya dibunuh dan mayatnya disandera, ia segera bertindak ingin mengambil http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 27

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari jenazah. Namun, dia dihalangi, malah diperangi dan terjadi pertempuran. Apa itu salah? Jadi kebelinger kalau mereka itu mau memperkarakan aparat. Lalu bagaimana dengan Pratu Budi Waluyo, Serma Sudargo, Serda Arifin Sembiring, Lurah Santoso Arifin yang mereka bunuh dengan kejam di Gunung Balak, Sidoredjo itu ? Wah, jelas itu nggak bisa. Seluruh warga saya pasti tidak senang dengan itu dan mereka pasti siap memberi keterangan. Apalagi setelah mereka merasa menjadi korban keganasan Warsidi. Masyarakat merasa dirugikan, diresahkan dan derita itu masih dirasakan sampai sekarang. Karni seharusnya yang berhak menuntut karena karni dirugikan dan dikorbankan. Contoh pengorbanan masyarakat itu seperti apa ? Sampai sekarang, kalau ada masyarakat Talangsari III yang hendak melamar pekerjaan, selalu dipersoalkan keterlibatannya dengan kasus Warsidi dan dicari-cari alasan untuk dipersulit. Itu kan sangat menyakitkan. Yang jelas, seluruh rakyat Talangsari III kompak akan mengadakan pembelaan. Dan ini tidak main-main karena seluruh rakyat merasa dirugikan. Malah mungkin kami akan balik menuntut. Kami betul-betul sudah siap. Seluruh desa siap menuntut balik bila situasinya terus memanas, Kelihatannya beberapa LSM masih ngotot, mengungkit-ungkit soal Talangsari III ltu hak rnereka. Tapi, rnenurut saya, sebaiknya jangan cari rnasalah karena rakyat pasti akan rnarah. Tidak percaya ? Lihatlah nanti ! .Rakyat karni sudah ingin hidup tenterarn, aman, dan darnai. Itulah tuntutan dan darnbaan rnasyarakat Talangsari III. BIARKAN MEREKA BICARA SURYADI la mengaku pengikut setia Abdullah Sungkal: Beberapa tahun bersama Warsidi, kedamaiannya hilang. la segera hengkang, meninggalkan Warsidi setahun sebelum ditumpas Pemerintah. Da'i asal Solo ini terkesan serba ringan, terutama ringan bicara, ringan senyum, bahkan mungkin ringan tubuhnya. Jalannya cepat, berjingkat-jingkat, seperti mengejar yang pemah hilang. Sekalipun ringan bicara, orang lain tak mudah menebak apa yang ada dalam pikirannya. Karena pria 49 tahun ini mampu mengatakan "tidak", sekalipun dalam hatinya berkata "ya". Inilah yang membedakan Suryadi dan KH. Abdullah Sungkar, yang serba blak-blakan, mengatakan apa adanya. Bila menurutnya seseorang telah berbuat zalim, tak boleh dikatakan selain itu. Termasuk Soeharto, tatkala masih berkuasa sekalipun. KH. Abdullah Sungkar ialah perintis pengajian Usrohdi Desa Ngruki, Solo, Jawa Tengah. Dan Suryadi berguru kepadanya, walaupun sekali lagi, dia mampu mengatakan tidak. Bagaimana bisa bergabung dengan Abdullah Sungkar? Awalnya, saya tertarik pada muridnya Kiai Sungkar. Setelah saya mengikuti pengajian Kiai Sungkar, temyata bagus dan betah, sampai dibubarkannya pengajian itu. Inti ajaran Kiai Sungkar ialah keteguhan iman dan disiplin. Jangan pernah goyah terhadap ketetapan Allah. Inilah yang saya dapatkan dari pengajian Ngruki saat itu. Sayang pengajian itu tidak berumur panjang, Abdullah Sungkar curiga akan dipenjara lagi oleh Pemerintah, dia lalu pergi. Terakhir baru ada kabar dia sudah di Malaysia. Sejarah Anda sampai ke Lampung? Setelah pengajian dibubarkan, saya ke Jakarta, ke rumah Khusnul, salah seorang murid Abdullah Sungkar. Di rumah Khusnul sudah banyak kelompok jamaah lain. Saya kurang pas karena pandangan mereka terlalu keras, bertolak belakang dengan hati saya. Saya kembali ke Solo, belum sempat istirahat ada kabar bahwa saya dicari aparat. Saya bergegas pergi ke Semarang, menuju http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 28

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari rumah Thoha. Di sana sudah ada Budiman. Bersama Budiman inilah saya ke Lampung, menuju rumah Hassan Tito di Braja Dewa. Lurah Braja Dewa saat itu bemama Ibu Sakeh, seorang wanita yang dinikahi Roja'i. Roja'i adalah seorang anggota NII versi Ajengan Masduki yang sudah berbaikan dengan gubernur NII Lampung yang bemama Zaenal Arifin. Saat itu yang menjadi camat untuk Way Jepara ialah Warsidi. Hassan Tito itu siapa ? Dia pemimpin kelompok jamaah NIl. Di rumahnya banyak tamu, antara lain dari Temanggung dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah. Tidak lama saya di situ, kemudian diajak ke rumah Dalhari Nurmanto di Karang Anyar, Labuhan Maringgai, bertani sambil mengajar ngaji anak-anak. Tetapi di sana juga tidak lama. Hassan Tito mengajak lagi pergi ke suatu tempat baru namanya Umbul Hujan Mas, tahun 1986. Di Umbul Hujan Mas itulah saya bertemu Warsidi dan bersamanya, selama hampir 3 bulan mengolah lahan pertanian lada, milik Marsan. Apa yang Anda ketahui tentang Warsidi? Dia bercerita tentang dirinya. Lahir dari seorang petani di Magelang, Jawa Tengah bernama Pak Marto Pawiro. Saudaranya banyak, dia anak terakhir dari 9 bersaudara. la hijrah ke Lampung bersama orang tuanya tatkala masih remaja kecil, sebagai transmigran di daerah Metro Lampung Tengah. Suatu hari di sebuah masjid di Metro, dia melihat seorang ustad yang tampak khusuk menjalankan salat. Warsidi tertarik dan ingin menjadi muridnya. Ustad yang dikagumi Warsidi itu bernama Anwaruddin, sampai kemudian menjadi guru kebanggaan Warsidi. Sejak itu, Warsidi mengikuti ke mana gurunya pergi. Ketika gurunya meninggal, Warsidi menggantikan kedudukan Anwaruddin, temasuk menggantikannya sebagai suami janda sang guru. Bahkan namanya diganti menjadi Anwar Warsidi agar bisa mewarisi ilmu Anwaruddin. Warsidi kemudian berpindah-pindah tempat sampai ke Umbul Hujan Mas dan bertemu saya di sana. Bagaimana Warsidi bisa ke Cihideung? Jarak Umbul Hujan Mas dengan Cihideung tidak fjauh. Apalagi kalau memintas jalan, hanya Ibeberapa menit saja. Warsidi sering salat Jumat di masjid Pak Jayus, orang Banyuwangi yang sudah lama berdomisili di sana. Mereka sering berbincang. Tak lama setelah itu, Jayus menawarkan tempat di dekat masjid untuk Warsidi. Sayapun ikut pindah dan menjadi karyawan Pak J ayus, untuk membuat genteng, sambil tetap melanjutkan profesi saya sebagai da'i. Sebegitu jauh dengan Warsidi, apa yang Anda ketahui tentang ajaran Warsidi? Warsidi tidak mengajarkan sesuatu, tetapi pandangannya, menurut saya, sangat bahaya. Suatu hari, dia mengatakan kepada saya, tentang "kalimah toyibah " Laa illaha ilallah". Dia mengartikan, Laa illah itu sama dengan tidak ada Allah. Orang yang tidak percaya kepada Allah itu artinya kosong, tidak bertuhan, sama dengan PKI. Sedangkan ilallah itu sama dengan mengenal Allah, artinya kaffah. Jadi kalau mau mengenal Allah, orang harus kosong dulu, harus kosong dulu, baru diisi Allah artinya baru menjadl Islam kaffah. "Kudu nyebut PKI disik, baru mengko biso dadi Islam", begitu kata Warsidi. Kalau ini diceritakan pada orang yang tidak ngerti agama, pasti berbahaya. Disumpah sampai akherat pun, ini pasti tidak benar. Kabarnya ia tidak akur dengan pemerintah? Sebenamya cara bicaranya itu yang membuat tidak akur dengan pemerintah. Cukup banyak juga yang disc;lmpaikan selama saya berkumpul dengan dia. Antara lain begini hukum, selain hukum Allah, kafir. Hormat bendera, musyrik. Gotong royong, bit'ah. Pemerintah kita itu Thoghud dan hukumnya batal diikuti. Pandangan-pandangan seperti itulah yang membuat saya tidak betah dengan dia. Dalam batin saya, belum pantas orang seukuran Warsidi bicara-bicara masalah begituan karena pengetahuannya tentang agama masih rendah sekali. Saya kemudian meninggalkan dia dan berdakwa di luar Cihideung, ke Sidoredjo, Gunung Terang, Karang Anyardan juga ke Desa Pancasila, hingga tahun 1988.

Page 29

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Setelah itu Anda ke mana ? Saya kembali ke rumah Dalhari Nurmanto, di Karang Anyar, Labuhan Maringai, Lampung Timur karena saya difitnah oleh Benny salah seorang pengikut Warsidi. Dia mengatakan, saya itu ingkar sunnah, tidak salat lagi, Islam saya batal, dan lain-lain. Termasuk haram hukumnya mengikuti orang yang sudah murtad, seperti saya. Maka daerah-daerah binaan saya yang tadinya sudah mapan berpaling menuju ke tempat Warsidi. Sejak itu saya tidak mendengar lagi perkembangannya, sampai terjadi huru-hara Cihideung 1989. Apa kesan terakhir tentang Warsidi? Warsidi itu orangnya, ya pokoknya mbedagol begitulah. Orang harus malu mengikuti apa yang dia inginkan. Kalau mau mengikutinya, Warsidi sangat baik dengan orang tersebut. Nyawanya pun seakan-akan dia berikan pada orang yang mau ikut dia. Tetapi kalau orang tidak mau mengikuti dia, jadinya juga sebaliknya, dijahati, difitnah, dirusak bahkan mungkin kalau blsa dibunuhnya. Termasuk saya yang diperlakukan seperti itu. Kalau diingatkan Warsidi itu ada saja jawabnya. Pernah sekali saya ingatkan dengan mengutip suatu ayat Alquran. "Wong Jowo wae kok, nganggo boso Arab barang. Wong jowo, yo wong jowo, nganggo boso Jowo wae". (Orang jawa kok berbahasa Arab. Orang Jawa, ya perggunakan bahasa Jawa saja", kata Warsidi berkilah. Malah ada yang lebih parah, karena kita bukan orang Arab, kalau kita baca Alquran, boleh salah. ltu kata dia, sewaktu bersama-sama di Cihideung. Marsudi Kakak kandung Warsidi. Selalu mengaku satu- satunya algojo yang menebas leher Soetiman hingga tewas. Bangga? SETELAH sekian lama Peristiwa Talangsari berlau, kini Marsudi sudah berusia 65 tahun. Pria berkulit pucat, berwajah keriput ini tampak tak seseram tindakannya ketika membunuh Soetiman tanpa rasa dosa, sebelas tahun lalu. Di sudut matanya, masih menyisakan air mata berkaca-kaca, seakan menyimpan sejarah panjang, hidupnya yang kian muram. Tetapi di bibimya yang tipis, bicaranya masih ringan seperti tak punya beban. Itu sebabnya suaranya tetap lantang ketika diajak bicara soal masa lalunya, soal pemerintah, soal agama bahkan soal Warsidi, adik kandung yang ia banggakan. Senin Kliwon, 6 Februari 1989 pagi, suasana pondok Warsidi di Dusun Cihideung sesungguhnya sudah dalam keadaan tegang karena malam Senin sebelumnya ada 5 orang anggota jamaah ditangkap petugas. Warsidi memerintahkan jamaahnya untuk siaga penuh, kalau-kalau ada penangkapan susulan. Sekitar pukul 11.00 siang, Soetiman bersama rombongan datang memasuki lokasi, tanpa memberi tanda-tanda damai. Seseorang lalu berteriak menyerukan takbir, lainnya menyusul dan menyambut kedatangan Danramil Soetiman dengan seperangkat alat pembunuh. Marsudi mengira, Soetiman hendak mengadakan penangkapan ulang. Ketika salah seorang anak buah Warsidi meneriakkan takbir, yang tergambar di benak Warsidi ialah isyarat perang. Melibat Soetiman terhuyung-buyung sambil mengacung-acungkan pistol tidak berbunyi, Marsudi segera mengejarnya. dan sekali tebas di pundak Soetiman, Danramil itu sempat mengbindar dan melarikan diri. Marsudi mengejar. Tebasan susulan dari Marsudi yang tengah kesetanan tepat mengenai tengkuk sebelah belakang Soetiman, prajurit pemberani itu, tak bisa menghindar lagi, tubuhnya limbung, menghempas bumi, mencium tanah dan tewas seketika. Marsudi, alias Pak Su, bin Marto Pawiro, membeberkan perbuatannya itu, tuntas tanpa hijab di depan pengadilan. Kepada Majelis Hakim, Marsudi tak tunjukkan rasa sesal apalagi rasa bersalah. Kepada Lilis, kakak kandung Warsidi yang dijerat pasal 110 (1) jo 107 ayat 1 jo pasal 55 ayat 1 KUHP itu juga menceritakan kisah hidupnya, tuntas dan gamblang.

Page 30

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Benar, Anda yang membacok Soetiman waktu itu ? Iya, saya yang membacok Soetiman. Saya melihat dia sudah kena panah, tetapi masih mengacung-acungkan senjata. Waktu itu senjatanya tidak berbunyi lagi. Dia mau lari, lalu saya kejar .dan saya sabet punggungnya dengan golok. Masih lari juga. Saya kejar lagi. Sekali ini saya sabet lehernya, langsung jatuh. Seterusnya, anak-anak yang ngurusi dia. Mengapa Soetiman dibunuh ? Dia menembak-nembak mau menangkap kita, masa dibiarkan. Anak-anak sudah ditangkapi pada malam Senin itu. Ada lima orang yang dibawa dan belum kembali. Sekarang dia datang, pasti akan menangkap lagi, jadi kita bunuh saja. Apalagi suasananya sudah kacau dan tidak menentu, jadi saya tidak bisa berpikir lain. Setelah membunuh Soetiman, Anda menyesal ? Tidak. Katau soal itu, dari dulu saya tidak pemah menyesal karena dia yang salah. Dia yang datang ke tempat kami. Dia yang memerangi kami, kami cuma mempertahankan diri. Mempertahankan diri itu baik kalau mati jadi syahid. Jadi, kami tidak salah karena kami diperangi, ditangkapi. Itu sebabnya saya tidak menyesal membunuh Soetiman. Warsidi waktu itu ada di mana ? Di masjid. Dia selalu di masjid, berdoa untuk jamaah, malah di saat-saat terakhir, dia jarang pulang. Pagi hari, ketika tentara sudah mengepung pondok, saya ikut bergerak, tetapi tertembak. Saya terus lari ke masjid. Di masjid, Warsidi melihat darah. Dia marah. Saya masih ingat Warsidi bilang : "Lho Kang, kok kowe wis koyo ngono, saiki gantian aku sing perang ", dia meloncat. Sejak itu saya berpisah, tidak melihat dia lagi. Saya pingsan di masjid, setelah sadar saya sudah dibungkus tikar oleh tentara dan dilempar ke mobil. Saya bangun sudah ada di rumah sakit. Apa kesan terakhir tentang Warsidi ? Banyak orang bilang, wajah Warsidi mirip saya. Di desa kalau orang mencari saya, sering keliru dengan Warsidi. Mana yang muda dan mana yang tua, sulit dibedakan. Kelebihan dia, kalau sudah bicara, orang langsung tertarik. Saya baru melihat orang seperti itu. Warsidi itu sangat sabar, malah sabar-sabarnya orang. Sebenarnya dia itu orang yang baik. Tapi, banyak orang yang mengatakan dia sering menghina pemerintah. Bagaimana itu? Memang banyak orang salah kaprah, bicara keras katanya jelek. Warsidi itu tidak punya salah apa-apa. Dia hanya ingin menegakkan agama berdasarkan Quran dan Hadis warisan Rasul. Itu saja. Jadi, sama sekali nggak nyimpang. Sejak mulai dari Pak Anwaruddin ya begitu. Warsidi dan saya itu penerus Pak Anwar yang. sudah pecah dengan pemerintah, sejak dulu. Oleh sebab itu, ketika saya ditanya hakim soal Pancasila, saya jawab: Pancasila itu batal. Sebab, gaweane menungso. Bayar pajak juga batal, di Islam tidak ada pajak. Yang ada zakat, infak, dan sodaqoh. Soal pemerintah, saya katakan, pamong lebih jahat daripada garong. Sebab, kalau garong, hanya jahat pada orang kaya. Tapi pamong jahatnya kepada siapa saja, termasuk jahat kepada orang miskin. Ketika hakim menawarkan pembela, saya jawab: " Allah dan Rasul akan menemani dan membela saya'. Akhimya, hakim mengatakan, saya tidak dihukum lama, cuma seumur hidup. Dia bertanya, apa kamu sanggup? Saya katakan, "Dua kali seumur hidup, saya sanggup. Karena itu hanya sebentar". Apa yang Bapak inginkan dalam hidup ini ? Setelah Warsidi tidak ada, saya hanya ingin mati. Harusnya saya saja yang mati. Lebih cepat, lebih bagus karena saya tidak punya apa-apa. Beda dengan Warsidi, punya harapan besar. Bahkan, dia diharapkan bisa menjadi pemimpin. Tetapi sayang, dia mati duluan. Bapak masih punya istri? Sekarang tidak. Dulu saya punya istri dua kali. Istri pertama namanya http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 31

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Fathonah, mendapat tiga anak: Chiril Anam, Ikhya' , dan Nurhidayat. Lalu kami dicerai oleh orang tuannya karena tidak senang saya ikut ngaji seperti ini, apalagi setelah tahu saya ngaji di tempat Anwaruddin. Terpaksa saya lepas meskipun masih saling mencintai. Istri kedua bernama Juminah punya 4 anak. Juminah inilah yang saya ajak ke Cihideung bersama Warsidi. Waktu kejadian, Juminah mati bersama dua anak saya. Yang hidup tinggal dua: Subur dan Surip. Bagaimana cerita tentang Kiai Anwaruddin, guru ngaji yang Bapak sebut tadi? Kiai Anwaruddin itu memang guru saya dan juga guru Warsidi. Ketemunya di Masjid Batanghari, Metro, melalui kakak ipar saya, Zainuddin. Dasarnya saya dan Warsidi sudah mengagumi Kiai yang punya wawasan luas itu. Sayangnya, Kiai itu bentrok dengan masyarakat di sekitar Masjid, kemudian berpindah-pindah tempat. Setahun kemudian Kiai Anwar meninggal dunia. Istrinya dikawin Warsidi. Tidak lama, Warsidi ada masalah dengan masyarakat, dia pindah ke Kotabumi dan saya kembali ke Metro. Sampai akhimya Warsidi menemukan tempat baru di Cihideung. Kemudian saya bersama Warsidi membangun tempat itu, sampai terjadi peristiwa. Apa kesan Bapak terhap Kiai Anwaruddin ? Orang pintar dan pemberani. la bilang, Soekarno itu zalim. Dia kemudian ditahan di Metro tahun 1965. Tetapi, sebelum pengadilan menjatuhkan vonis, G 30/S PKI meletus sehingga dia tidak jadi diadili dan bebas. Setelah bebas, murid-muridnya tidak mau mengakui sehingga bentrok, yang akhirnya pindah tempat sampai ke Lampung Utara. Dengan Pak Harto bagaimana ? Kiai Anwar itu belum sampai Pak Harto, terus meninggal. Lalu digantikan adik saya Warsidi. Kalau Kiai Anwar mengatakan zalim pada Pak Karno, Warsidi mengatakan zalim pada Pak Harto. Mereka itu sama-sama zalim sama-sama jahat. Dan orang jahat, apalagi pemerintahan yang jahat, tidak boleh diikuti. Itu sebabnya kita keras terhadap pemerintahan jahat itu. Terus kita disalahkan. Kita dimusuhi dan jadinya seperti ini. Bapak lahir di mana ? Saya lahir di Desa Sebrang Rowo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bapak saya bernama Marto Pawiro, petani yang mempunyai 9 anak. Saya anak ke-6 dan Warsidi anak yang terakhir. Mereka bemama: Marjudi, Maryuni, Marsandi, Marsiyah, Marsidi, Marsudi, Suwandi, Dul Bahri, dan terakhir Warsidi. Bapak saya membawa kami bertransmigrasi ke daerah Lampung, menyusul Maryumi, kakak saya yang lebih dulu berada di sana. Di Metro itu kami berkenalan dengan Kiai Anwaruddin. Sekarang Bapak tinggal di mana ? Sekarang saya ada di Metro, di rumah mertua saya, Ibu Yomi. Setelah 10 tahun dipenjara di Nusakambangan, saya ingin menjalani masa tua saya di Batanghari, Metro, Lampung Tengah.

Page 32

Bagian 6 - Ahmad Sarikun
BIARKAN MEREKA BICARA ACHMAD SARIKUN Dipercaya Warsidi, untuk membangun markas di Gedung Wani, Lampung Tengah. DESA Gedung Wani, sekitar 25 km dari Cihideung, Talangsari III, sebelas tahun lalu hendak dijadikan salah satu pusat gerakan melawan pemerintah oleh Warsidi. Rencana itu kandas karena bangunan pondok bambu yang belum lama didirikan dibakar massa, hanya beberapa hari setelah kejadian Cihideung meletus. Kabarnya, masyarakat setempat yang sedang marah sudah lama curiga terhadap Sarikun (pengikut setia "Warsidi) yang tiba-tiba berperilaku aneh. Misalnya, http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari beberapa anaknya yang sekolah di SD Negeri dipaksa terhenti. Pasalnya, hanya yang diajarkan Warsidilah yang benar. Inti ajaran Warsidi mengatakan: inilah zaman yang persis ketika Nabi masih hidup. Perang dihalalkan untuk menegakkan keadilan. Belakangan baru diketahui Sarikun sudah berbaiat kepada Warsidi dan merelakan sebagian tanahnya untuk dijadikan pusat gerakan. Di tanah seluas 1 hektar inilah bangunan markas Warsidi itu didirikan. Masyarakat marah, tidak ingin massanya kelak bernasib seperti Talangsari III. Sabtu Pahing, 18 Februari 1989 pagi, mereka rame-rame membakar gubuk perjuangan itu. Di Gedung Wani inilah Achrnad Sarikun (60 th.) menetap menjalani masa tuanya, selepas dari rumah tahanan Nusakambangan. Berikut wawancaranya. Bisa berkenalan dengan Warsidi, bagaimana? Saya mendengar dari orang-orang, di Cihideung ada pengajian bagus. Setelah datang dan melihat sendiri, saya cocok dan tertarik mengikutinya Memang saya akui pengetahuan agama saya sangat kurang. Itu sebabnya, begitu masuk dalan kelompok Warsidi, rasanya terus cocok. Apa yang membuat cocok? Pertama suasananya, sangat enak seperti dalam keluarga. Kemudian cara menerangkannya, saya merasa Cocok. Saya langsung memahami dan mengerti bahwa agama Islam itu seperti ini. Mengerti rukun yang lima, harus dipegang teguh dan diamalkan. Dari sana, saya merasa menjadi Islam yang benar. Tiga kali pengajian, apa saja yang sudah diperoleh ? Sebenarnya baru mempelajari syahadat, yang lain belum. Memang waktunya sangat singkat dan rasanya cepat sekali. Saya tidak menyangka akan terjadi seperti itu. Kejadian itu benar-benar musibah dan ujian bagi saya. Kenapa memilih datang ke Warsidi, kok bukan ke tempat lain, pondok pesantren misalnya ? Bukan soal pesantren. Saya ingin ngaji, ketempatnya di sana. Saya pikir, yang namanya ngaji ya sama saja. Karena saya anggap baik, maka saya mengajak istri dan keluarga saya ke sana. Lalu ada kejadian itu. Saya sungguh tidak tahu, kalau akan terjadi peristiwa yang menyedihkan itu. Mungkin saya tidak akan datang ke sana. Katanya Anda termasuk yang dipercaya Warsidi untuk membangun markas Gedung Wani ? Sebenarnya istilah markas itu tidak ada. Itu bikinan wartawan saja. Lagi pula yang kami bangun itu untuk musala. Tetapi, memang teman-teman saya yang dari Cihideung bila hendak ke sini, ya inilah tempat mereka. Termasuk tempat untuk menginap bagi mereka yang sering datang kesini, mengunjungi saya. Mungkin karena saya dianggap lebih tua dari mereka, jadi sering dikunjungi. Hubungan saling kunjung seperti inilah yang membuat saya senang dan merasa terhormat. Pergaulan mereka kompak dan saling peduli dengan sesama teman. Perilaku seperti ini tidak saya jumpai di luar kelompok Warsidi. Kalau begitu, pengajian Warsidi baik? Saya tidak melihat ada kejelekan di sana. Mereka ngajar agama, itu kan baik namanya. Kalau kemudian ada perselisihan dengan masyarakat, lalu aparat jadi terlibat, itu yang saya tidak tahu asal-usulnya. Saya hanya tahu yang baik-baik saja. Wong saya ingin ngaji kok. Kabarnya kelompok itu anti Pancasila dan melawan Pemerintah ? Saya tidak bisa menilai itu. Apalagi di sana saya belum begitu lama. Memang kelihatan situasinya terasa tegang. Tadinya, saya kira situasi tersebut biasa-biasa saja karena banyak orang, jadi selalu macam-macamlah. Saya tidak http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 33

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari menyangka situasinya menjadi cepat berubah. Kejadian itu kok saya lihat seperti kecelakaan. Setelah terjadi peristiwa menyedihkan itu, bagaimana pendapat Pak Sarikun ? Itu pengalaman hidup saya yang sangat berat dan menyedihkan. Apalagi anak saya mati menjadi korban di sana. Saya sangat sedih dengan peristiwa itu. Bapak menyalahkan siapa, Warsidi atau Pemerintah ? Saya rasa dua-duanya salah. Sebab, tidak akan terjadi apa-apa bila masing-masing tidak ingin menangnya sendiri. Dari pihak Warsidi, apa yang salah ? Jamaah tidak ada yang ngatur. Mereka berjalan sendiri-sendiri. Pada saat peristiwa terjadi, mestinya mereka tidak melawan dan menuruti perintah untuk menyerah. Sebenamya kesalahan yang paling besar adalah mereka tidak mau menyerah. Saya sendiri tidak tahu mengapa mereka tidak mau menyerah. Apa ada yang melawan ? Saya melihat dari kelompok Jakarta itu yang banyak melakukan perlawanan dan sangat keras pendiriannya. Disuruh keluar rumah, tidak mau. Disuruh menyerah malah melawan. Coba kalau mereka turuti, pasti tidak banyak korban. Buktinya saya tidak diapa-apakan, istri saya juga. Waktu itu istri saya bersama Ruminah tidak boleh keluar, tapi nekat. Pak Su (Marsudi), yang sudah tidak berdaya karena tertembak, sampai sekarang masih hidup. Siapa yang melarang ke luar rumah ? Ya, Si Alex yang dari Jakarta itu. Saya sendiri sebenarnya tidak banyak tahu soal mereka. Dan, juga tidak jelas benar siapa-siapa mereka itu. Dari kelompok Warsidi, selain Alex siapa yang melawan? Sebenarnya banyak juga, tetapi yang paling kelihatan melawan, semua dari Jakarta yang dipimpin Alex. Merekadisuruh melawan aparat dan tidak boleh menyerah. Akhimya kan Alex mati dan Usman juga mati bersama keluarganya. Pada saat ditangkap, apa Bapak disiksa ? Nggak, cuma ditendang dan disuruh jongkok, lalu dibawa ke Korem. Saat itu kalau semua orang mau keluar dan menuruti perintah, saya rasa pasti tidak terjadi perang seperti itu. Dari pihak aparat, di mana salahnya ? Mereka itu menembak-nembak. Jadi, menambah suasana takut. Mungkin karena takutnya itu mereka tidak bisa lagi berpikir sehat sehingga ngawur dan ngajak mati bersama-sama. ltu hanya perkiraaan saya yang belum tentu benar. Bapak tahu ada yang ditembak? Jujur saya tidak melihat sendiri. Saya hanya mendengar suara tembakan. Saya tidak tahu ada yang ditembak atau tidak karena waktu itu saya tiarap dan melihat ke bawah. Saya dikumpulkan dan terus dibawa entah ke mana saya sudah lupa. Apa Bapak tahu siapa yang membakar gubug-gubug itu? Saya benar-benar nggak tahu, soalnya kejadiannya sangat cepat. Tiba-tiba api cepat membakar rumah itu. Dengan situasi yang sudah sangat panik, mana mungkin orang ingat siapa yang membakar atau siapa yang tertembak. Ada kabar, yang membakar rumah itu Alex? Mungkin juga, sebab waktu itu saya tidak melihat. Memang katanya kaki Alex sudah tertembak. Dan hanya Alex yang tahu bahan bakar bensin itu untuk bom molotov. Cuma sekarang, kenapa Alex membakar gubug yang ada jamaahnya di sana? Kalau memang benar dia, kira-kira apa ya alasannya? Nah, itu kan nggak jelas. Jadi, saya tidak bisa mengomentari ini. Berapa banyak yang mati saat itu? Saya tidak tahu. Yang jelas anak saya Yusuf ikut mati di sana dan sampai http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 34

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari sekarang saya tidak tahu di mana kuburnya. Jamaah Warsidi itu menempati berapa rumah? Saya ingat ada 4 bangunan rumah, satu masjid. Tiap rumah isinya tidak sama. Ada yang 15, 20, sampai 25 orang. Mungkin kalau dijumlah ada sekitar 100 orang, kurang lebih... Dari sejumlah itu, apa mati semua ? Ya tidak. Buktinya saya masih hidup. Cuma saya tidak tahu berapa yang masih hidup. Sekarang aparat dituduh bersalah oleh kelompok tertentu. Apa komentar Bapak? Kalau saya, tidak mau menuduh dan tidak mau mengatakan salah karena mereka melaksanakan tugas. Sekarang kan sudah terjadi islah, apalagi yang dipersoalkan. Siapa yang ber-islah Waktu itu dari aparat diwakili Hendropriyono karena dia komandan Korem Lampung saat peristiwa itu terjadi. Dari pihak Warsidi, diwakili Darsono, juga saya dan masih ada beberapa lagi yang lain. Saya anggap itu sudah cukup karena sesuai dengan ajaran Islam, setahu saya islah itu cara yang paling benar. Alasannya apa ? Ya alasannya, ajaran Islarn itu tidak ada dendarn. Itu kalau saya, yang lain saya tidak tahu. Karena kita manusia bagaimana pun tetap ada salahnya. Yang keliru dibetulkan, yang salah dimaafkan, ya sudah. Kalau saya begitu. Kabarnya islah itu karena uang ? Tidak benar itu. Kalau waktu itu karena uang, saya pasti tidak datang dan tidak mau. Itu kalau saya, orang lain, saya tidak tabu.

Page 35

FADHILLAH Punya peran penting pada saat huru-hlira Lampung Tengah. Dialah panglima perang GPK Warsidi yang lerhasil membuat " keos ", daerah di ujung selatan pulau Sumatera ini. KETIKA ditangkap, Fadhillah mengaku bernama Sugito. Tetapi, masyarakat Pakuan Aji, yang menangkapnya 8 Februari 1989, sehari setelah peristiwa Talangsari, tak mudah dikecoh. Sugito kurang licin dalam bersiasat. Pria kelahiran 13 Desemher 1959 di Tawangmangu Solo Jawa Tengah itu, akhirnya mengaku bernama Fadhillah, panglima perang GPK Warsidi yang telah membuat ontran-ontran sepanjang malam di ibu kota Lampung, sesaat sebelum gegeran Talangsari berlangsung. Fadhillah punya kenangan khusus bila mengingat kejadian itu. Lelaki berperangai "keras" ini mengaku sangat mencintai Warsidi karena Warsidilah yang hanyak menaruh perhatian pada saat ia buron dari kampung halamannya, tersasar hingga Lampung. Fadhillah memang termasuk salah seorang yang diburu aparat. Dialah satu pengikut fanatik Abdullah Supgkar pimpinan Pondok Ngruki, Solo, yang berhasil melarikan diri ke Malaysia. Abdullah Sungkar oleh pemerintah dicap sehagai tokoh fundamentalis, keras terhadap yang menurutnya tidak sesuai ajaran Alquran dan Hadist. Bagi Sungkar tidak ada yang boleh ditutup-tutupi, yang benar harus dikatakan benar dan yang salah apa lagi. Oleh sebab itu, baginya tidak ada halangan ketika ia mengatakan "kafir" pada pemerintah dan "thoghud" terhadap undang-undangnya. Pandangan Kiai Sungkar inilah yang memancar dan menghiasi kehidupan Fadillah.

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Bagaimana sampai begitu fanatik dengan Abdullah Sungkar ? Tahun 1985, di Solo ada pengajian, Usroh namanya. Saya mengikuti pengajian itu. Tambah hari semakin tertarik, akhirnya bersimpati sampai sekarang, terutama pada kiai-nya, yaitu Bapak Abdullah Sungkar. Saya sangat tertarik kepada beliau karena dialah tokoh agama yang paling pantas diteladani. Ilmunya tinggi, santun, dan penyayang pada semua orang terkenal jujur dan tidak munafik sebagaimana banyak ulama lainnya. Memang dia dibenci pemerintah Mungkin karena sering mengkritik dan sering mengatakan pemerintahan Orde Baru tidak sah karena tidak berjalan di atas reI Alquran dan Hadist. Pak Sungkar mau ditangkap, tetapi di berhasil menyelamatkan diri ke Malaysia. Kok Anda bisa ke Lampung, bagaimana ceritanya ? Setelah tidak berhasil menangkap ustad Sungkar pemerintah marah. Pengajian dibubarkan, seluruh pengikutnya dicari dan ditangkapi, termasuk saya juga akan ditangkap. Baik saya kabur ke Lampung bersama keluarga karena di sana banyak teman pengajian serupa. Saya tinggal di rumah Dalhari Nurmanto di Karang Anyar, Labuhan Maringgai, Lampung Timur, sampai pengajian pecah. Pimpinannya menjadi dua Moch.Rifai dan Zainal Arifin. Sebelum pecah, pengajian NIl Lampung dipimpin Abdul Kodir Barozak. Setelah Abdul Kodir Barozak masuk penjara, pimpinan diambil alih Zainal Arifin. Tapi, Dalhari Nurmanto uring-uringan karena dia tidak masuk dalam kepengurusan jamaah. Dalhari marah, kemudian menunjuk pemimpin baru, Moch. Rifai itu. Setelah pecah, jamaah bingung, termasuk Warsidi yang menjadi bawahan Zainal Arifin, juga ikut bingung. Warsidi pergi, tidak mau lagi gabung dengan keduanya. Saya masih tinggal di rumah Dalhari, diajak membunuh Zainal Arifin, alasannya, Arifin juga mau membunuhnya. Saya tidak mau, karena Islam melarang membunuh sesama muslim. Dalam kondisi seperti itu saya putuskan untuk uzlah (mengasingkan diri) ke hutan supaya tidak bergabung dengan orang yang saling ingin membunuh. Pindah ke hutan, bagaimana maksudnya ? Ada sebidang tanah milik jamaah, boleh ditempati. Hubungan saya dengan mereka sementara putus. Sehari-hari saya mencari kayu dan menjualnya untuk hidup. Saat kondisi saya seperti itu, Warsidi datang, menemui saya dan membujuk agar saya bergabung dengan jamaah lain di tempatnya. Dia bilang: "Kalau masih ada kawan, mengapa sendiri di hutan. Kita berkumpul dulu sambil menunggu pemimpin". Saya ke sana dan akhimya bergabung. Apa yang Anda ketahui tentang Warsidi ? Dia orang baik dan juga calon pemimpin yang baik. Saat itu Warsidi sudah menjadi Camat NII Lampung, yang ditunjuk Zainal Arifin. Di Cihideung inilah Warsidi membina jamaah yang datang dari berbagai daerah di Jawa, termasuk dari Ngruki dan Jakarta. Apa saja yang dilakukan Warsidi saat itu ? Membangun tempat, yang tadinya rumah biasa dibuat menjadi panggung, meminta kejelasan kepada Zainal Arifin maupun Moch. Rifai, tetapi dari keduanya tidak ada jawaban yang tegas. Dalam keadaan tidak jelas seperti itu diputuskan untuk mencari dan mendatangkan Abdullah Sungkar dari Malaysia ke Lampung. Sayang, sebelum Bapak Sungkar datang, sudah lebih dulu terjadi peristiwa itu. Akhimya, Zainal Arifin juga ditangkap, bukan sebagai pengikut Warsidi, tetapi dikaitkan dengan NII. Moch. Rifai sampai sekarang belum ketahuan nasibnya. Seberapa jauh hubungan Warsidi dengan NII ? Memang kami ini jamaah NII, tetapi kami sudah tidak bicara NII lagi pada saat itu karena jamaah Waisidi sudah berbaur dengan banyak kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda. Bagi kami yang penting mempersiapkan suatu perkampungan muslim dulu, selebihnya akan bergerak dari bawah tanah. Berapa lama Anda mengikuti Warsidi ? Sebenarnya tidak lama. Tetapi, saya kenal dia sudah sejak di Labuhan Maringgai. Kemudian, kami bertemu di Cihideung ini untuk membangun , tempat http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 36

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari pengajian seluas 1,5 hektar, wakaf dari Pak Jayus. Selain itu, saya juga punya tugas membantu Pak Sarikun di Gedung Wani, membangun bedeng untuk musala. Bedeng Gedung Wani itulah yang akhimya dibakar oleh masyarakat. Bagaimana Anda mengikuti perkembangan Cihideung, sementara Anda juga di Gedung Wani ? Saya tetap mondar-mandir, Cihideung-Gedung Wani dan tetap berhubungan dengan beberapa orang penting. Misalnya, dengan Ibu Sakeh, yang menjadi lurah di Desa Brajadewa. Lurah Brajadewa itu menjadi anggota jamaah Warsidi, karena Rojai, Suaminya, sudah lama menjadi aktivis NII. Dari kantor kecamatan, Ibu Sakeh memperoleh informasi bahwa aparat akan menertibkan Warsidi. Informasi itu disampaikannya ke Cihideung dan Warsidi segera memerintahkan jamaah untuk siap siaga. Pos-pos kamling harus dijaga oleh orang pondok. Masyarakat dilarang ikut menjaga pos. Tak lama setelah itu (Minggu malam, 5 Februari. 1989), ada 5 jamaah ditangkap petugas. Warsidi marah. Malam itu juga saya diperintah untuk segera merebut tahananan sampai dapat. Tapi, sebelum saya berhasil menemukan 5 orang yang ditangkap itu, siangnya sudah terjadi insiden. Kapten Soetiman terbunuh dan suasana pondok mulai mencekam. Cara Anda mencari 5 anak buah yang ditangkap itu ? Malarn itu juga saya berangkat, bersarna 12 orang jalan kaki berkilo-kilo, lengkap dengan segala peralatan. Golok, pedang panah, dan born molotov kami siapkan. Pukul 06.00 pagi, kami baru sampai di Koramil Way Jepara. Sebelum masuk Koramil, sudah banyak orang berkerumun. Dari orang itu. saya mendengar bahwa tahanan yang ditangkap katanya sudah dipindah ke Korem. Kami kemudian berniat segera ke Korem di Tanjung Karang. Kalau misalnya tahanan masih ada di Koramil, apa yang Anda lakukan ? Rencananya, akan saya minta baik-baik. Kalau tidak bisa, saya rebut dengan kekerasan. Pokoknya harus direbut. Tetapi karena mereka tidak ada di sana, kami putuskan untuk mencarinya ke kota. Sebelum berangkat ke Korem Lampung, kami sepakat singgah ke rumah Pak Zamzuri di Sidoredjo untuk mengatur siasat. Kira-kira pukul, dua siang, sebelum kami berangkat, datang utusan dari Cihideung, Beny dan Sholeh. Dari mereka, saya tahu bahwa di Pondok telah terjadi clash. Saya cepat kembali, sampai di sana sekitar pukul empat sore. Suasana sepi dan sangat tegang, mayat Soetiman kemudian kami kubur. Kami mengadakan rapat, Warsidi memutuskan supaya tidak lagi konsentrasi pada ke-5 orang yang ditahan itu. Strategi diubah agar diadakan penyerangan di pos-pos komando ABRI. Intinya kami harus membuat kerusuhan dan teror di seluruh Lampung supaya konsentrasi ABRI tidak memusat ke Cihideung. Pertimbangannya, karena sudah membunuh ABRI, maka pasti akan ada penyerangan ke kompleks. Sebab itu, teror Lampung harus dibuat. Strategi Anda untuk menteror Lampung ? Dari Cihideung saya kembali ke Sidorejo menemui 11 orang pasukan kami. Di sana kami berunding dan sepakat harus mengobrak-abrik Korem sekaligus akan melepas 5 teman kami yang ditahan di sana. Karena jarak Sidorejo dan Korem Lampung itu sangat jauh, maka diputuskan untuk mencarter mobil angkutan dari Sribawono ke Panjang. Di dalam rnobil ada seorang angggota ABRI, Pratu Budi Waluyo, sebagai penumpang. Ketika mobil mau dicarter, dia tidak mau turun dan ingin ikut saja. Dalam perjalanan, kami berkenalan. Saya bertanya: "Bapak tahu ada kejadian di Cihideung?". la mengatakan tahu, malah mengaku ikut ke sana. Karena pengakuannya itu, saya langsung bunuh dia. Sopir ketakutan dan lari bersama kernetnya meninggalkan kami. Dibunuh, caranya ? Teman-teman memegang dari belakang, Lalu saya tusuk perut dan dadanya sampai rnati. Mayatnya kami tinggal di dekat kebon sawit di Wrekan. Karena sopimya lari, kendaraan disetir teman saya. Sampai di Tanjung Karang, ia mengeluh setirnya tidak enak. Ketika ada Polisi menghadang, saya keluarkan golok, malah akan kami tabrak. Tetapi, Polisi mungkin ngeri, akhirnya minggir. Kami melanjutkan perjalanan untuk membakar kantor Lampung Pos. Saya lempar bom Molotov,untung tidak rneledak.

Page 37

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Kenapa Anda menyatroni Lampung Pos. Apa hubungannya ? Memang tidak ada hubungannya. Cuma, dia itu koran yang paling banyak bohongnya. Dibom saja biar kapok. Dasar mau selamat, bomnya tidak meledak. Perjalanan berlanjut, tetapi sopirnya mengeluh dan tidak sanggup lagi. Akhirnya, kendaraan ditinggal di daerah Tigeneneng, antara jalan Natar dan Metro. Kami berpencar. Saya sendiri berjalan kaki, hendak kembali ke pondok. Sampai di Cihideung, Selasa sore sekitar pukul 8 malam. Kondisi pondok sudah hancur. Bagaimana bisa masuk, sedangkan saat itu, Cihideung ditutup bahkan dijaga ketat ? Di lokasi malam itu, saya tidak melihat seorang pun penjaga ada disana. Saya baru tahu bahwa sebenarnya waktu itu ada banyak penjaga. Setelah saya di Korem, tentara-tentara di Korem berkata: "Oh, jadi yang datang malam-malam itu. kamu. Saya tahu, tapi saya tidak mau menembak," katanya. Malam, ketika saya datang memang dalam keadaan hujan deras, licin, dan gelap. Air kali yang biasa saya gunakan mandi, meluap, dan banjir. Saya lelah dan tertidur di puing-puing bekas rumah yang terbakar. Sebenarnya saya sudah tahu situasi Cihideung dari keluarga Pak Sarikun ketika saya mampir.ke Gedung Wani sebelum masuk Cihideung. Tetapi, saya penasaran ingin membuktikan sendiri. Kira-kira pukul 05.00 pagi, saya bangun dan menyusur kali yang menuju arah Pakuan Aji. Niatnya hendak ke Jakarta. Sampai di Pakuan Aji, saya ditangkap masyarakat, diserahkan ke aparat setelah mereka menghajar saya. Selama di Korem, Anda bertemu Hendropriyono ? Ya. Saya masih ingat. Waktu saya di sel, saya tidak boleh keluar, termasuk mau kencing dan bahkan ketika mau berak. Akhirnya saya sengaja berak di dalam sel. Waktu itu Pak Hendro lewat, dia nengok saya. Mungkin kotoran saya tercium. Dia melihat kotoran itu. "Kamu berak di sini ?", katanya sambil nunjuk-nunjuk. "Terus, mau berak di mana ? pintunya dikunci!", jawab saya. Saat itu juga penjaganya dimarahi dan langsung disuruh ngepel. Setelah itu saya disuruh ke kantornya. Dia bertanya sana-sini dan kalau ada tamu, saya dikenalkan tamu-tamunya itu. Akrab sekali dia. Hendro pernah memukul Anda ? Tidak pernah. Dia malah bilang kepada anak buahnya. Sebenarnya orang-orang ini adalah orang-orang yang punya keyakinan bahwa hanya dirinyalah yang berjuang di jalan Allah. Jangan ada yang memukul lagi kecuali punya alasan tepat, katanya. Setelah itu saya dipindah ke Raja Basa selama 2 bulan. Kemudian dikirim ke Nusakambangan, sampai dibebaskan. *** SUDARSONO Mengaku sebagai penggagas terciptanya panah, beracun bagi kelompok gerakan Warsidi 1989. Dia juga salah seorang pemimpin Jamaah Mujahiddin Fisabillah, yang mengilhami gagasan lahirnya "Perkampungan Muslim" di Lampung. DARSONO masih mempertahankan ciri khas, berjidad hitam, mengesankan banyak sujud. Bicaranya ceplas-ceplos seakan-akan anti basa basi. Matanya tajam, penuh selidik, tak mudah percaya orang. Pria kelahiran Deli, Sumatera, 21 April 1963, asal Jawa ini mengaku ingin cepat mati saja, daripada melihat Islam tak lagi ditegakkan sebagaimana sunnah Rasul. Lontaran kata-katanya menyiratkan keprihatinannya tentang perkembangan Islam di Indonesia. Dari sana lahir gagasan mendirikan perkampungan muslim -model Darsono, di Cihideung Talangsari III, Lampung Tengah. Gagasannya itu kandas dan bahkan bermasalah hingga kini, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi ribuan orang, entah sampai kapan. Masih ada satu lagi gagasan Darsono, yang membuatnya dikenal sebagai http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 38

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari pencipta panah beracun. Teman-temannya mengakui, di dunia ini cuma Darsono yang mampu menciptakan panah model Cihideung itu. Bentuknya khusus dan unik. Bahan bakunya pun sederhana. Ruji-ruji becak yang sudah tak terpakai dirakit sampai berbentuk mirip anak panah. Bila tak ada jeruji becak, sepotong bambu kecil pun masih bisa digunakan sebagai penggantinya. Tentu saja, pria penuh semangat ini tak menyangka kelak gagasannya membuahkan sesuatu yang tak pernah, ia kehendaki, menyusahkan banyak orang, menyakitkan banyak pihak. Ternyata, buah karya tak selalu berbuah manis. "Mas" Darsono, inilah contohnya. Bagaimana awal lahirnya gagasan untuk mendirikan perkampungan muslim di Talangsari itu ? Sebagai seorang muslim, saya sangat sedih melihat perkembangan Islam seperti ini. Dalam suatu pengajian ketika bertemu Nurhidayat pemikiran dan gagasan saya ternyata sejalan dengannya. Di pengajian itu bertemu juga Usman yang berasal dari pengajian Usroh Ngruki, Solo Usman kecewa dengan Abdullah Sungkar gurunya yang kabur ke Malaysia, meninggalkan murid-muridnya, termasuk dia. Akhirnya pengajian Ngruki bubar, seluruh pengikutnya dikejar-kejar intel untuk ditangkap. Mereka yang selamat pindah ke Lampung, ikut Warsidi dan menyelenggarakan pengajian yang sama, seperti di Ngruki. Ketika itu saya dan Nurhidayat ingin membuat perkampungan Islam. Usman menyambutnya dengan menawarkan dua lokasi. Di Lampung dan di NTB. Saya pilih Lampung, selain karena dekat dengan Jakarta, mayoritas penduduknya orang-orang Jawa. Bertemu usman di mana? Dia pengikut pengajian tetap Abu Sulaiman Mahmud, ulama mantan sekretaris Daoed Beureueh, guru besar pengajian itu. Antara Abu Sulaiman Mahmud dengan Abdullah Sungkar masih satu jalur di basis Negara Islam. Di situlah saya bertemu Usman. Dia tertarik dengan ide saya mendirikan perkampungan Islam. Untuk mewujudkan keinginan itu, saya adakan pertemuan di daerah Cibinong, Bogor. Usman membawa lima utusan dari Lampung. Terbentuklah dewan amir. Dewan itu memilih seorang amir musyafir. Saya memilih Usman, lainnya memilih Nurhidayat. Dalam pemilihan itu, saya kalah suara 1 :4, maka Nurhidayatlah yang dilantik sebagai amir musyafir. Alasan mereka, Nurhidayat berada di Jakarta, sedangkan Usman di Lampung. Setelah pelantikan, kemudian disepakati, siapa-siapa yang berbak merekomendasi keberangkatan jamaah ke Lampung. Mereka itu ialah Nurhidayat, Fauzi, dan saya sendiri. Fauzi bergabung dengan Anda, bagaimana ceritanya ? Begini embrio pembentukan Lampung itu saya awali dengan membentuk shaf Ada 4 shaf, Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Masing-masing shaf ada yang memimpin. Shaf Abu Bakar dipimpin Haris Amir Fallah, Shaf Umar dipimpin Arifin Agule, Shaf Ustman, saya sendiri, sedangkan Shaf Ali dipimpin Nurhidayat. Terus terang ide ini nyontek pola Darul Arqam di Malaysia. Ternyata sistim shaf, tidak kompak dan akhirnya bubar. Tingga Nurhidayat dan saya. Lalu kami ketemu Fauzi dan Wahiddin di Condet, tempat pengajian orang-orangnya Abdullah Sungkar. Fauzi dan Wahiddin inilah yang direncanakan untuk mengisi shaf yang kosong itu. Tapi belum terealisir, keburu peristiwa Lampung meledak. Seberapa jauh Anda dan Fauzi mengenal lokasi Lampung ? Saya sudah 3 kali ke Lampung. Fauzi sekali, saya ajak ke sana. Sebab itu, Fauzi tidak banyak tahu situasi dan perkembangan Lampung. Waktu saya meninjau lokasi, saya jalan kaki dari Sidoredjo ke Cihideung lewat Gunung Balak. Di Cihideung ada sekitar 1,5 hektar tanah yang direncanakan .sebagai pusat kegiatan, sedangkan yang di Sidoredjo dan di Gedung Wani direncanakan untuk pos persinggahan. Untuk urusan Lampung, sepenuhnya diserahkan Pak Warsidi, sedangkan Nurhidayat bagian Jakarta. Fauzi yang belum tahu banyak soal Lampung masih melakukan konsolidasi. Itu sebabnya ia selalu bilang, gara-gara saya, ia masuk penjara, katanya. Jadi kalau Fauzi sering bercerita banyak soal peristiwa http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 39

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Lampung, itu karena ia banyak membaca koran. Tetapi, secara langsung ia sendiri tidak banyak tahu. Kapan terakhir Anda ke Lampung ? Beberapa hari sebelum kejadian, salah seorang jamaah Lampung ke Jakarta memberi laporan bahwa Camat Way Jepara memanggil Warsidi. Tetapi, Warsidi menjawab sebaik-baik umaro mendatangi ulama dan seburuk-buruk ulama yang mendatangi umaro. Saya bersama Nurhidayat berangkat ke Lampung untuk mencari jalan keluarnya. Dalam pertemuan itu disepakati, Warsidi akan memenuhi surat panggilan Camat. Skenarionya, bila pengajian dibubarkan, maka jamaah dikembalikan ke asalnya masing-masing. Tetapi setelah saya kembali ke Jakarta, rencana Warsidi berubah. Mereka tetap ngotot, menolak panggilan Camat. Kabarnya, setelah Camat tak berhasil mendatangkan Warsidi, ia menyerahkan urusan itu ke Koramil. Setelah Koramil bertindak itulah peristiwa Cihideung meletus. Komandannya dibunuh dan mayatnya mereka sandera. Sore harinya, Sofyan datang mengabarkan bahwa di Cihideung telah terjadi insiden. Ketika itu juga saya mau berangkat ke Lampung, ditahan Nurhidayat. Sejak itulah komunikasi dengan mereka terputus. Setelah itu Anda kemana ? Saya buron dan baru tertangkap setelah 6 bulan kemudian. Di dalam tahanan, selama 4 bulan saya disiksa. Benar-benar saya merasakan kekejamannya aparat Soeharto. Sebentar-sebentar saya disetrum, mula-mula dengan dinamo, kalau belum puas mereka mengambil alat pelumpuh. Sebagai penutup, biasanya saya benar-benar disetrum dengan listrik. Setelah disiksa 4 bulan, saya diadili dengan ancaman hukuman mati, kemudian turun menjadi seumur hidup, dan terakir vonis 17 tahun penjara. Pada kenyataannya saya menjalani hukuman hanya 9 tahun. Berkah reformasi, saya dilepas dan bisa menikmati kemerdekaan di alam bebas. Kabarnya, Anda bersama teman-teman telah melakukanIslah. Apa itu ? Islah dalam hal ini ialah perjanjian damai (azam) untuk membebaskan teman-teman yang dikurung di Nusakambangan, melalui usulan Hendropriyono (saat itu sebagai menteri), kepada Presiden, malah termasuk usulan grasi buat Husein Al-Habsy (kasus Candi Borobudur), Sudiyatno (kasus Komando Jihad), Afwan (kasus pesantren kilat), dan Marsudi. (kakak kandung Warsidi). Alhamdulillah, semua berhasil. Islah itu terjadi setelah para korban Peristiwa Talangsari (baik dari pihak Warsidi maupun dari pihak ABRI) bertemu dengan Hendropriyono. Dari hasil pertemuan itu disepakati, Hendropriyono membantu proses permohonan grasi untuk para narapidana kasus Lampung. Keputusan lainnya, Hendro memberi lapangan pekerjaan berupa tambak udang di Lampung untuk 32 orang, termasuk 28 orang di Bima. Dengan Islah ini, seluruh korban dan keluarganya telah menyelesaikan masalah dan telah damai secara Islam. Karena itu, seluruh eks narapidana kasus Lampung tidak ingin kasusnya diungkit-ungkit lagi. Tapi ada yang mempersoalkan Islah itu, misalnya Nurhidayat. Komentar Anda ? Saya sangat menyesalkan sikap dan tindakan Nurhidayat, yang membuat friksi dan fitnah yang dampaknya sangat memalukan. Fitnah yang berkembang menyebut, seakan-akan teman-teman telah terbeli, padahal Nurhidayat sendiri yang paling banyak memakan uang dengan menjual kasus Lampung itu. Friksi ini telah dimanfaatkan pula oleh beberapa LSM untuk mencari keuntungan sendiri. Misalnya, Komite Smalam pimpinan Fikri Yasin dan LSM pimpinan Yopi Lasut yang menggebu-gebu mencampuri kasus Lampung. Padahal pada waktu di penjara, ia dan kawan-kawan sama sekali tidak menyuarakan hak mereka, apalagi memberi bantuan. Yang ia bantu justru orang- orang PKl, Timor Timur, lrian Jaya, PRD, dan seputar kelompok itu saja. *** ISMED INONU http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 40

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Kepala Desa Pakuan Aji, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur SEBELAS tahun lalu, Ismed Inonu masih menjadi tukang ojek yang sering mengantar jamaah Warsidi ke lokasi Cihideung. Tetapi, kini menjadi Kepala Desa Pakuan Aji, suatu daerah yang masih berbatasan langsung dengan Cihideung Talangsari III, tempat Warsidi besama kelompoknya menghimpun kekuatan melawan pemerintah. Untuk mencapai markas Warsidi, saat itu jarak paling dekat adalah lewat jalur Pakuan Aji. Bila ditempuh dengan ojek sepeda motor hanya sekitar 10 menit lamanya. Oleh sebab itu, jamaah yang hendak ke Cihideung lebih memilih jalur Pakuan Aji, meskipun ada beberapa jalur lain yang juga bisa menghubungkan markas Warsidi. Pria 42 tahun ini, asli Pakuan Aji. Kabarnya, ia termasuk salah seorang yang tahu banyak soal tokoh kontroversial itu. Berikut penuturannya. Apa yang Anda ketahui tentang Warsidi ? Saya mengenal Warsidi sebagai seorang buruh koret di kebun. Karena itu, saya tidak percaya ketika banyak orang dari Jawa mengatakan bahwa, akan ke Cihideung untuk mengaji kepada Kiai Warsidi. Tamu-tamu dari Jawa itu semakin banyak dengan tujuan yang sama. Kabarnya mereka malah menetap bersama Warsidi di pondok itu. Keramaian Cihideung tentu saja menarik perhatian banyak orang. Malah, kemudian ada kabar bahwa, orang-orang yang datang ke tempat Warsidi membuat masalah dengan warga sekitar. Tanamannya sering hilang dicuri orang. Bambu, kelapa, dan bahkan singkong sering melayang. Terakhir diketahui jamaah Warsidi tak hanya menjarah tanaman masyarakat, tetapi malah meresahkan karena khotbah-khotbahnya tak lazim didengar oleh telinga orang desa. Dalam khotbahnya, Warsidi mengatakan apa saja ? Mengatakan pemerintah zalim, Pancasila batal, yang tidak berjamaah dengan Warsidi, kafir. Menghormati bendera itu dosa. Masih banyak lagi istilah-istilah yang tidak dimengerti oleh masyarakat di sini. Oleh sebab itu, anak-anak muda di sini saya larang datang dan ikut ngaji di tempat Warsidi. Apalagi, setelah diketahui mereka itu anti pemerintah. Anti Pemerintah, bagaimana ? Dipanggil Kepala Desa tidak mau. Disuruh rapat dan gotong-royong menolak. Ronda, katanya tidak penting. Malah mereka berlatih silat dan, membuat panah, katanya untuk membunuh kafir. Ketika didatangi aparat dia beringas, rombongan diserang. Komandan Ramil Pak Soetiman dibunuh dan mayatnya disandera. Masyarakat Pakuan Aji banyak yang ikut membantu aparat ketika hendak mengambil jenazah Pak Soetiman. Siapa saja yang ikut aparat ke lokasi Warsidi ? Loso dan Kamarudin. Mereka diminta aparat untuk menjadi penunjuk jalan, karena dua orang itu tahu persis situasi pondok. Kata Loso, orang-orang Warsidi itu beringas dan sangat kejam. Selain menyerang aparat, mereka juga menyerang anggotanya yang hendak melarikan diri. Malah sampai ada yang dibacok telinganya, gara-gara akan menyerah kepada aparat. Loso dan Kamarudin juga menceritakan, bahwa ia telah melihat orang-orang Warsidi membakar pondok mereka sendiri. Menurut Anda, mengapa mereka membakar kelompoknya sendiri ? Saya hanya dengar dari Loso dan Kamarudin, mereka mengatakan yang keluar murtad dan Islamnya batal. Daripada murtad masuk neraka, lebih baik mati syahid, masuk surga. Waktu kejadian, Anda di mana ? Saya bersama-sama masyarakat ikut nonton. Waktu itu jam 07.00 pagi, saya manjat pohon. Di bawah pohon itu saya melihat ada seorang anggota Brimob, ngumpet. Saya tanya, "Kenapa tidak ditembak saja itu orang-orang Warsidi". http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 41

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Dia bilang, istrinya lagi hamil tua. Terpaksa berangkat, karena perintah tugas, katanya. ***

Page 42

Bagian 7 - K.H. Muhammad Ichsan
BIARKAN MEREKA BICARA K.H. MUHAMMAD ICHSAN Pimpinan Pondok Pesantren Roudhatul Hidayah, Desa Mengandung Sari, Jabung, Lampung Timur PASANTREN Roudhatul Hidayah ialah salah satu pondok yang secara tidak langsung terimbas dampak kegiatan Warsidi. Lolongan Warsidi ternyata terdengar hingga radius 30 km, di mana lembaga pendidikan Islam ini berada. Ketika itu Kiai Muhammad Ichsan merasa terusik, karena Warsidi mengirim orang-orangnya untuk menghentikan ritual-ritual yang biasa dilakukan di pesantennya. Tahlilan dan juga mauludan, misalnya, mereka minta agar tidak lagi dilakukan. Alasannya, acara seperti itu tidak ada dalam Islam. Perbuatan kiai pondok ini dinilai mengada-ada dan hukumnya bithah dholalah. Karuan saja kiai NU, penganut tarekat Qodiriyah Nahsyabandiyah ini berkerut dahinya. Semenjak di pesantren hingga setua itu belum menemukan dalil yang melarang tahlilan, apalagi yang menyebut bit'ah dholalah. Yang dia temukan justru sebaliknya. Bila tahlil diterjemahkan sebagai suatu rangkaian zikir, maka bukan saja tuntunan Rasul, malahan perintah Allah. Apa reaksi Pak Kiai waktu itu ? Wah ..., saya sangat tidak setuju dan banyak yang marah waktu itu. Untung dia segera pergi dan tidak kembali lagi. Kalau tidak, saya juga tidak tahu apa jadinya. Apa yang Kiai tahu tentang Warsidi ? Saya mendengar khabar, dia mengambil tanaman masyarakat, tanpa merasa bersalah. Mengatakan yang selain kelompok dia, kafir, termasuk ulama sekalipun, bila tidak mendukungnya. Melawan pemerintah dan mempersiapkan senjata perang seperti bom molotov, pedang, dan panah-panah beracun. Masih banyak lagi kabar lain yang mengkhawatirkan umat. Tadinya saya tidak percaya. Setelah ada yang datang ke sini dan melarang tahlil seperti itu, saya baru percaya. Apa ada jamaah Kiai yang menjadi korban Warsidi ? Ada, motornya dirampas dan dibawa ke hutan. Tadinya dia hanya melihat-lihat saja karena ada gegeran dan rame-rame. Pas rame-ramenya datang naik motor. Sampai di situ dia dibacok. Mati ? Nggak mati. Bisa melarikan diri, tetapi akhirnya motornya dirampas oleh kelompok itu dan dibawa lari ke hutan. Jadi, gerakan Warsidi sudah bukan di Talangsari saja, malah sudah meluas sampai ke Sidoredjo. Di sana bikin gegeran, ramai sekali. Satu minggu kemudian masyarakat menemukan motor tersebut di hutan. Nah, orang yang punya motor kemudian mendapat fitnah bahwa dia termasuk gerombolan Warsidi. Ditangkap, lalu saya bantu mengeluarkannya. Orang itu bernama Husni warga NU, di daerah sini. Apa ciri khas kelompok Warsidi itu ? Cirinya, kalau orang tidak mau ikut dia dikatakan kafir dan halal darahnya. http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Inilah yang membahayakan. Banyak saksi rnata yang rnengetahui sendiri perilaku gerakan Warsidi itu. Ada yang lucu, kalau orang sudah masuk ke sana, dia itu terus jadi ngawur. Suka ngambil tanaman orang tanpa izin. Anak-anak yang sekolah disuruh keluar oleh orang tuanya. Cara bicaranya juga jadi ngelantur. Hal itu sernakin jelas setelah gerakan Warsidi membuat rnarkas di Gedung Wani yang tak jauh dari sini, sebab orang sini juga ada yang ikut. Yang terakhir, mereka malah membunuh Soetiman, Danramil Way Jepara. Mengapa mereka membunuh ? Mereka menganggap, membunuh aparat itu sah, karena termasuk golongan kafir. Jadi, ketika dipanggil ke Koramil, mereka tidak mau dan mengatakan ularna itu tidak baik rnendatangi umaro. Itu hanya alasan Warsidi yang ingin membunuh orang. Mereka sudah mempersiapkan diri membuat panah, bom, dan lain sebagainya, termasuk latihan beladiri. Kiai bisa di sini, bagaimana asal-usulnya ? Dahulu, di daerah ini banyak maksiatnya. Perjudian, maling, garong, pokoknya mo-limo itu ada semuanya. Maling di daerah sini memang aman, tapi perjudian luar biasa. Adu jago, dari anak kecil sampai orang tua ada. Cara bicara rnereka kotor dan jorok. Saya melihat ini prihatin dan sedih. Kalau terus-menerus begini, rusak umat ini. Akhirna, saya mulai rnasuk dan ngajar mengaji anak-anak. Satu-dua, sampai akhirnya banyak seperti sekarang. Terus ? Saya mendirikan majelis taklim ibu-ibu. Yang pertama ada 3 orang ibu-ibu, lama-lama .bertambah banyak. Alhamdulillah. Setelah sekian tahun, ada hasilnya. Masyarakat bertambah baik. Kegiatan keagamaan mereka jalankan, tetapi kemudian muncul kelompok Warsidi itu. Apa saja yang dilakukan kelompok Warsidi saat itu ? Mula-mula ikut pengajian. Di dalam pengajian itulah mereka mengadakan tanya-jawab. Lama-lama terjadi perdebatan, jamaah menjadi bingung, masyarakat tidak senang. Lebih-lebih setelah mereka melarang acara Isra' Mi'raj. Dia bilang, itu bid'ah. Merayakan Maulud Nabi, juga bid'ah. Orang berkirim doa untuk orang mati dibilang sesat dan tidak akan sampai. Pokoknya macam-macamlah, sampai gegeran dengan saya. Menurut Kiai yang seperti itu bagaimana ? Jelas tidak diterima masyarakat dan menimbulkan kerawanan sosial. Terbukti, akhirnya peristiwa pemberontakan itu meletus, yang sekarang menyengsarakan banyak orang. Mereka tadinya ingin ikut mengajar di sini. Tapi nggak jadi karena ada bentrokan itu. Selain itu apa lagi yang mereka katakan ? Mereka mengajak masyarakat, agar mengikuti kelompok Warsidi, karena inilah saatnya di mana orang sudah harus menjalankan ajaran Islam secara murni dan benar. Oleh karena itu, bagi yang tidak mau mengikutinya, berarti tidak mau menegakkan Islam. Orang seperti itu, katanya, batal Islamnya dan kafir hukumnya. Orang kafir selalu mengerjakan yang musyrik, yakni yang dilarang Islam, Kata dia, menghormat yang selain Allah itu jelas musyrik. Contohnya menghormat bendera. Jadi sampai soal menghormat bendera juga dipersoalkan. Warsidi bersama kelompoknya ditumpas, apa pendapat Kiai ? Kami dari kalangan pondok pesantren sangat berterimakasih kepada aparat yang segera bertindak. Sebab kalau tidak, kami akan bertindak sendiri. Kalau itu terjadi, maka korban pasti lebih banyak lagi. Saat itu kalau kami tidak ditahan aparat, kami bertindak dan pasti akan terjadi tawuran besar. Kini orang-orang tertentu, dari kalangan LSM kabarnya mempersalahkan aparat. Bagaimana menurut Kiai ? Kami-kami pasti tidak senang. Mengapa aparat dipersalahkan. Kalau boleh, kami akan ikut menjadi pembelanya. Karena jelas waktu itu gerombolan Warsidi sangat meresahkan rakyat. Mestinya aparat itu harus diberikan penghargaan, http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 43

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari bukan sebaliknya. Apa bentuk pembelaan Kiai ? Bagaimana orang itu maunya, akan kami ladeni. Pokoknya lahir batin, kami tidak rela kalau aparat yang menumpas Warsidi itu dianggap salah. Kami tidak rela betul. Karena sangat tidak pantas orang yang telah berjasa kepada rakyat dipersalahkan. Saya rasa mereka-mereka itu (maksudnya sejumlah LSM?), hanya akan membuat kerok Lampung saja. Apa Kiai sudah tahu, kini ada pihak-pihak yang hendak memperkarakan aparat keamanan ? Saya sudah baca berita-berita di surat kabar. Dan saya sangat tidak cocok dengan berita-berita seperti itu. Saya sanggup menjadi saksi kalau diperlukan. Saya sudah ngecek di lapangan. Seluruh orang Lampung, terutama masyarakat sekitar Talangsari dan masyarakat Pondok Pesantren sudah siap menjadi pembela aparat keamanan. Kami siap mengajukan bukti-bukti bahwa Warsidi itu menyengsarakan rakyat, mengadakan perlawanan dan pemberontakan. Apa komentar Kiai terhadap LSM seperti itu ? Saya minta kalau mau mengungkit-ungkit kembali, silahkan. Tapi bicaralah yang benar, jangan menipu rakyat dengan berita-berita bohong seperti itu. Telitilah dulu dan tanya pada masyarakat, apa kata mereka itulah yang benar. Apalagi pada saat itu, terjadi peperangan. Mereka harus tahu apa itu hukum perang. Bagi Islam, hukum perang itu bagaimana ? Perang itu terjadi apabila masing-masing pihak menyerang. Jadi, yang gugur di situ, ya sudah. Namanya gugur dalam perang. Asalkan jangan menganiaya dan memerangi orang yang tidak mau berperang. Berperang melawan kejahatan itu sangat baik. "Waquljaa'al haqqu wazahaqul baatil, innal baatila kaana zahuuqaa ". Artinya, kebenaran pasti datang dan kejahatan pasti sirna. *** K.H. MARZUKI THOHIR Pimpinan Pondok Pesantren Miftakhul Hudda dan Pondok Pesantren Miftakhul Fallah. Way Jepara, Lampung Timul: la salah seorang anggota DPRA Lampung Timur KIAI Marzuki Thohir, 60 tahun, punya pengalaman unik dengan tokoh kontraversial Warsidi. Kiai salaf yang kini dipercaya mewakili umatnya di DPRD Lampung Timur itu, mngurut dada ketika dirinya disebut kiai kafir oleh Warsidi Cs, hanya karena berpandangan yang tidak sama dengan tokoh ontran-ontran Cihideung itu. Kini setelah 11 tahun, dalam ingatan pemilik 2 pesantren ini, serasa baru kemarin. Masih terngiang di telinganya mendengar nyanyian anak-anak kecil "ayo bikin panah, untuk membunuh kafir", ketika Marzuki melintas di hadapan anak-anak itu, pada suatu ketika di tahun 1989. Kiai Marzuki, mengesankan seorang ulama yang tangkas berpikir dan cerdas berbicara. Yang tersenyum bukan cuma bibirnya, namun sorot matanya juga seakan memancarkan senyuman. Perutnya tipis mengangkat bahunya yang bidang. Seperti lukisan spiritual seorang tokoh yang lebih mementingkan luasnya hati, ketimbang besamya waduk. Ketika ditemui di rumahnya, 5 km. dari sarang Warsidi, raut wajah Kiai Marzuki, masih menyiratkan kenangan lama. Bisa dijelaskan, bagaimana hal itu bisa terjadi ? Saat itu jamaah yang mengikuti pengajian saya, sudah banyak. Hingga ke http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 44

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari daerah Cihideung, di Talangsari itu, termasuk jamaah yang ada di musholah Jayus. Pengajian yang sudah berjalan dengan baik di hati masyarakat, digugat. Yang berbeda dengan kelompok Warsidi, kafir. Tentu saja termasuk saya, karena saya yang merintis di sana, sebelum Warsidi berkembang biak. Lebih jauh tentang Warsidi, apa yang Kiai ketahui ? Yang jelas, seluruh masyarakat tidak cocok dengan dia, seperti minyak dan air. Kelompok Warsidi terang-terangan menentang dan melawan pemerintah. Komplek yang mereka tempati, diberinya nama Pondok AI Mahdil Aqwal, artinya sebuah tempat untuk menggalang kekuatan. Mereka juga menghalalkan harta milik orang lain yang dianggap kafir dan bebas mengambil tanpa perlu ijin pemiliknya. Kabarnya, mereka juga mengadakan latihan perang ? Memang begitu. Malah sebelum peristiwa Talangsari, saya melihat banyak anak -anak yang membuat panah. Sambil mengatakan: " Ayo kita buat panah, untuk membunuh kafir" .Padahal ketika itu saya sedang melintas di hadapan mereka. Tetapi dikatakan begitu. Jadi syair nyanyian anak-anak sudah seperti itu ? Waktu itu saya benar-benar sangat prihatin. Anak-anak yang tidak mengerti masalah, sudah diajari membenci dan membunuh. Penduduk juga tidak mengerti, mengapa mereka membuat panah dan mengapa yang tidak mendukung dikatakan kafir. Suasana AI Mahdil Aqwal, benar-benar sudah berlangsung di sana. Alhamdulillah, aparat cepat bertindak. Tapi, mengapa aparat digugat dan disalahkan ? Sudahlah, kebenaran akan tetap menang, tidak perlu sangsi. Gugatan tanpa dasar, merupakan kejahatan. Kita akan bela kebenaran. Apalagi masalah Talangsari adalah masalah rakyat. Biarlah rakyat yang akan bicara dan membelanya. Mereka yang menggugat-gugat aparat, itu liar. Ada kepentingan lain dan tidak murni untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Mereka hanya memperalat mahasiswa, mencari uang untuk kepentingan diri sendiri. Kalau diteruskan, mereka akan berhadapan dengan penduduk dan masyarakat pesantren. Ada kabar, pihak-pihak tertentu akan mengadakan suatu acara di lokasi Warsidi. Apa pendapat Kiai ? Kalau acara seperti itu bisa menimbulkan kerusuhan lagi, pasti kami akan membubarkannya. Seharusnya acara seperti itu tidak perlu diadakan, sebab kegunaannya bagi rakyat tidak ada. Lebih baik menyelesaikaan masjid yang kini sedang dibangun di sana. Masyarakat akan senang, karena selama ini masyarakat sudah lelah dengan adanya peristiwa Warsidi itu. Jangan lagi menambah beban masyarakat yang sudah susah. Rakyat Talangsari dan sekitarnya, bisa marah. Tentang Al Mahdil Aqwal, apa masyarakat tahu ? Sebenarnya sudah. Malah saya pernah ngotot. Saya katakan, Al Mahdil Aqwal yang ada di Cihideung itu, bentuk lain pemberontakan kepada pemerintah melalui lembaga keagamaan, pesantren. Itu akan memecah belah dan merugikan. Pemerintah akan mengatakan bahwa pesantren selalu menjadi tukang berontak dan buat onar. Apa ciri-ciri mereka ? Kalau menggunakan ayat, cuma sepotong lalu diperdalam dan dihidup-hidupkan sebagai kebenaran Islam. Begitu juga dengan hadistnya. Sebentar-sebentar bicara jihad dan mati syahid. Semua menjadi kafir, kecuali kelompoknya. Selalu menghubungkan hadits pada apa saja yang orang lain lakukan. Beda Al Mahdil Aqwal dan Pesantren itu apa ? Pesantren jelas sebagai tempat belajar para santri untuk memperdalam pengetahun Islam. Sedangkan pondak Al Mahdil Aqwal, dipergunakan sebagai tempat menghimpun kekuatan untuk memberontak. Oleh sebab itu, mereka membuat bom, panah, latihan ilmu-ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu tenaga dalam lainnya.

Page 45

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari

Page 46

Dengan hilangnya Warsidi dan kelompoknya, bagaimana kehidupan masyarakat kini ? Masyarakat benar-benar berterimakasih kepada aparat pernerintah yang sudah berhasil menumnpas kegiatan Warsidi yang tak akur dengan warga. Warsidi sering mengejek masyatakat sebagai rnanusia yang tidak berjalan di atas rel Alquran dan Hadis Rasulullah. Pernah saya sampaikan ke Pak Danrem di Lampung, bahwa ini akibat dari cara-cara memahami Alquran dan Hadis yang tidak menggunakan ilmu alat. Orang akan mudah menuding orang lain sebagai kafir dan harus diperangi. Ini sangat membahayakan perkembangan kehidupan Islam itu sendiri. Tentang ulama dan umaro, yang disoal Warsidi itu ? Itu anak kecil yang baru tahu agama. Pengertiannya tidak sesederhana itu. Kita harus lihat keperluan dan konteknya apa. Jadi, jangan asal bicara. Dari dulu selalu membahas soal-soal begituan. Kalau orang Islam masih berpandangan sesempit itu, pasti tidak bisa maju. Berapa lama Pak Kiai pernah bersinggungan dengan Warsidi dan kelompoknya ? Sebelum ada Warsidi, pengajian saya sudah sampai di Cihideung dan lancar. Mereka datang dan ikut bergabung. Ketika saya menerangkan hukum wajib, mereka protes dan mengatakan, pengajian saya keluar dari hukum Islam. Menurut mereka berjamaah itu wajib. Sedangkan saya mengatakan, tidak. Sebab yang wajib itu sholatnya, bukan jamaahnya. Sejak itu, kami berpisah. Setelah kejadian itu, apa tindakan Kiai ? Saya tegaskan pada umat, siapa yang ideologinya sama dengan saya, boleh ikut, yang lain silahkan pisah. Akhirnya kami berjalan sendiri-sendiri. Saya pernah mengatakan mereka ini bahaya. Akhirnya terbukti, mereka membentuk kelompok Al Mahdil Aqwal itu. KaIau masih ingat, waktu itu ada berapa orang ? Waktu saya masih di sana, ada 15 sampai 20 orang. Setelah itu saya tidak tahu lagi. Mungkin sudah bertambah banyak lagi. Bagaimana dengan jumlah yang pernah mereka sebut hingga ratusan ? Jelas, mereka itu bohong. Menggunakan ukuran apa pun, tempat seperti itu, tak akan memuat ratusan orang. Tak akan ada orang percaya. Saat pertama berkenalan dengan Warsidi, apa kesan Bapak. Adakah ciri-ciri keulamaannya ? Sepengetahuan saya, ilmu agamanya masih dangkal. Terutama dalam penguasaan Alquran, termasuk cara membacanya. Kesan saya, Warsidi itu termasuk tipe orang-orang yang hanya bermodal nekad. Kini banyak LSM yang bergentayangan menyoal Talangsari. Apa pendapat Kiai ? Kalau ingin mendapat penghormatan dari masyarakat, mereka harus bicara jujur. Tidak mengatakan benar jika tahu ada kesalahan. Saya kira, orang-orang yang mengatasnamakan LSM itu orang-orang yang kwalitasnya masih rendah. Itulah sebabnya gerakan mereka sering di luar nalar, ngawur dan tidak bermutu. Ada pendapat, Warsidi Cs itu patut dibela karena mereka teraniaya. Menurut Kiai bagaimana ? Kalau yang ngomong itu orang-orang di Lampung Kota atau malah di Jakarta sana sebaiknya jangan dianggap. Mereka umumnya tidak tahu masalah. Mereka hanya ngarang. Cari uang tidak gampang. Dengan mengatasnamakan LSM, lalu berteriak, mereka bisa gampang mendapatkan uang. Pesan Kiai ? Sekali lagi saya ingin menyatakan, Warsidi dan kelompoknya itu tidak akur http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari dengan masyarakat setempat. Mereka seperti minyak dan air. Kehadiran mereka tidak dikehendaki. Selain menyakiti hati, mereka juga mengancam dan menakut-nakuti rakyat. Bahkan mereka juga menipu. Berdalih dagang genteng, tetapi setelah uang diserahkan, genteng tidak dikirim. Saya, salah satunya yang kena tipu tersebut. *** A.M. Hendropriyono Mantan Komandan KOREM 043 Garuda Hitam Lampung, kena serimpung. Dicerca oleh para pencari untung. Tetapi didukung orang sekampung, hingga ke ujung dusun. ORANG boleh berang, malah boleh tidak percaya. Tetapi, ini kisah nyata Hendropriyono, keloro-loro, lari tergopoh-gopoh ke ujung Dusun Talangsari, mencari anak buah yang mati digorok Warsidi. Padahal, dia bisa saja menjadi perkutut yang tinggal manggung di sangkar sambil menghitung hari. Situasi gawat, minggat. Situasi untung, bergabung. Dijamin aman dan pasti nyaman. Tanggung jawab pun menjadi ringan, malah mungkin bisa cuci tangan. Kini, Hendro tak bisa menghindar dan pasti juga tak nyaman. Setelah sebelas tahun peristiwa Lampung, ia diserimpung oleh orang-orang yang mencari untung. Achmad Fauzi bin Isnan, misalnya. Seseorang yang oleh Sudarsono, dinilai tidak banyak tahu soal Lampung, tetapi paling berbusa bibirnya bila menyoal Lampung, tak henti-henti mencari peluang agar mendapat "proyek" dari Hendro. Ketika suatu hari, salah seorang sahabatnya bertanya tentang kegiatannya, Fauzi dengan bangga, menjawab: "Sekarang sedang mengerjakan proyek, menginjak kaki Hendro", kata Fauzi sambil mengulum senyum. Memang kemudian, proyek Fauzi itu berhasil, Masyarakat segera teropini, setelah Fauzi mencari-cari "aib" Hendro dan membeber-beberkannya di media massa. Pada saat Fauzi sedang menari-nari kegirangan karena merasa berhasil bisa menginjak Hendro sebenamya penyusunan buku ini sedang memulai bab A.M. Hendropriyono. Pada bab ini, rencana semula hendak mewawancara langsung dengan A.M.Hendropriyo seputar peristiwa Lampung. Akan tetapi, apa yang diucapkannya, ternyata hampir sama dengan hasil survey penulis di lapangan dan juga hampir sama dengan naskah yang disodorkannya kepada penulis saat wawancara. Maka, penulis segera memutuskan untuk memuat naskah tersebut, apa adanya. Berbagai alasan mengapa naskah asli, tulisan Hendropriyono ini dimuat lengkap ialah untuk memberikan hak jawab secara langsung kepada masyarakat, atas berita ya senantiasa menyoal dirinya. Di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, tempat kediaman Hendropriyono, nampak tak pernah sepi dari urusan Lampung. Sudah tak terhitung lagi bila tamu datang selalu saja mengaku paling banyak tahu soal Lampung. Seorang teman berkelakar: "Rumah Hendro seperti layaknya kantor Pemda Lampung Sebentar-sebentar, orang datang, bukan saja urusan Warsidi di Talangsari, tetapi berbagai urusan Lampung juga disodorkan kepada Hendro", katanya. *** EKSKLUSIF DAN TERORIS Laporan dari Mayor Abdul Azis SENIN, 6 Februari 1989, di Bandar .Lampung. saya, Abdullah Makhmud Hendropriyono, berpangkat Kolonel, Komandan KOREM 043 Garuda Hitam Lampung, ketika baru kembali dari Palembang mengikuti rangkaian kegiatan ABRIi Masuk Desa, menerima laporan dari Kepala Seksi Operasi Mayor Abdul Azis bahwa seorang Komandan Koramil bernama Kapten Soetiman, disandera oleh suatu kelompok misterius di suatu lokasi yang terletak di dusun Talangsari III http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 47

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari desa Rajabasa Lama kecamatan Way Jepara, pada saat melakukan kunjungan di suatu lokasi, bersama rombongan Camat Way Jepara. Tujuan kunjungan ialah untuk menemui kelompok yang menurut laporan warga setempat, dipimpin oleh seorang yang bemama WARSIDI, yang selama 2 ( dua ) bulan terakhir, telah meresahkan masyarakat karena kehidupannya yang eksklusif dan melakukan kegiatan-kegiatan tanpa komunikasi sosial yang baik dengan warga desa. Sejak kedatangan "orang-orang asing", rombongan demi rombongan dari pulau Jawa, menimbulkan konflik-konflik dengan rakyat setempat. Konflik-konflik awal dimulai dari hal-hal kecil, seperti pencurian hasil tanaman rakyat oleh para pemukim baru yang tak dikenal itu, sampai ancaman fisik terbadap kepala dusun di sana. Jadilah mereka sebagai suatu komunitas baru yang muncul mendad yang mengundang banyak pertanyaan bagi wara setempat. Semakin lama bentuk konflik makin membesar dan memuncak. Lebih-lebih setelah Kepala Dusun SUKIDI didatangi 5 (lima) orang tak dikenal dengan membawa senjata parang dan golok, mengaku kelompok Warsidi mengancam hendak membunuh Sukidi. Warga Talangsari III tidak bisa menerima perlakuan demikian karena Sukidi ialah seorang tokoh pilihan rakyat. Masyarakat desa Rajabasa Lama bersama masyarakat Pakuan Aji, desa tetangga terdekat, mulai bersiap-siap, untuk mengbadapi segala kemungkinan, sambil melaporkan dan meminta aparat setempat untuk mengambil langkah-langkah penertiban. Panggilan beberapa kali yang dilakukan Kepa. Desa Amir Puspa Mega, atasan Sukidi, sampai kedatangan Camat, sebagai umaro mengbadap "ulama" Warsidi, tidak membuahkan hasil. Sebingga apa dan siapa kelompok tanpa legalitas dan pernaskahan itu pun tetap kabur, tidak jelas. Namun demikian, para penanggung jawab daerah tetap sabar dan mengikuti kehendak Warsidi yang katanya berpedoman kepada Hadis Nabi yaitu: "Sejelek-jeleknya ulama dan sebaik-baiknya umara, umara lah yang barus menghadap ulama". Maka berangkatlah Camat Way Jepara Drs. Zulkifli ke tempat Warsidi untuk yang kedua kali. Namun, kali ini dengan rombongan pejabat daerah lainnya yang terdiri atas Kasdim Mayor Oloan Sinaga, Kapolsek, Kepala Desa Pakuan Aji, Kepala Dusun Talangsari III dan beberapa orang lain yang semuanya pejabat penanggung jawab daerah, ditambah sopir-sopir. Mereka mengendarai dua , buah jeep dan sepeda-sepeda motor mendekati lokasi Warsidi di Cihideung. Rombongan diserbu dengan parang dan golok oleh ratusan "jamaah" serta hamburan anak-anak panah yang dilesatkan dari berbagai penjuru. Rombongan memilih mundur meninggalkan gerombolan Anwar Warsidi yang sedang mengamuk itu, untuk menghindari jatuhnya korban, karena tujuan mereka ke sana untuk berdialog. Tetapi, mereka terus dikejar oleh para penyerang sehingga Kapten Soetiman tertangkap dan Sertu Yatin menderita luka parah. Dilanjutkan ke Pangdam Laporan dari Mayor Abdul Azis ini saya lanjutkan ke Pangdam II Sriwijaya, Mayjen TNI R.Sunardi, yang sedang berada di Bandar Lampung, dalam rangka peresmian lapangan tenis baru untuk Korem GATAM. Panglima Sunardi memerintahkan saya agar segera membebaskan Kapten Soetiman dan melanjutkan usaha penertiban sesuai permintaan rakyat, yang sudah mengajukan berkali-kali kepada Kodim Lampung Tengah. Proses panjang usaha-usaha aparat pemerintah dan jajaran ABRI tingkat Kecamatan dalam menyelesaikan ketegangan yang semakin membara dianggap oleh para Kepala Desa dan Dusun setempat, berjalan sangat lamban. Karenanya jika keadaan kelak makin tidak menentu, rakyat desa bertekad untuk menyelesaikannya sendiri. Ketika para pemuka masyarakat dan jajaran apa keamanan sedang melakukan pertemuan koordinasi kediaman Kepala Desa Rajabasa Lama, diterima kabar dari http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 48

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Kasrem Letkol Purbani bahwa Kapten Soetiman telah tewas dibunuh dan jenazahnya di tangan Warsidi. Diterima berita pula bahwa Pratu Budi Waluyo juga telah dibunuh oleh kelompok Warsidi yang lain di Sidorejo bersama seorang penumpang sipil, di suatu kendaraan umum. Kelompok itu merampas mobil colt "Wasis" angkutan umum dan membawa kabur kendaraan tersebut setelah sopirnya bernama Sabrawi serta kernetnya yang bernama Matsari melarikan diri. Dengan kendaraan rampasan itu mereka melakukan pelemparan bom molotov ke kantor Harian Lampung Post, di kota Bandar Lampung. Atas semua kejadian tersebut jelas terlihat bahwa kelompok Warsidi bukan suatu kumpulan spiritual apalagi suatu jamaah pengajian Islam yang luhur, karena mereka telah melakukan keonaran dengan aksi-aksi kriminal yang bersasaran tak terbatas. Aksi-aksi onar yang bersasaran tak terbatas bisa disebut teror dan istilah ini semakin sesuai untuk semua perbuatan yang mereka lakukan kemudian yaitu ketika pada keesokan harinya tanggal 7 Februari 1989, terjadi lagi pembunuhan akibat bentrokan fisik terhadap Kepala Desa Sidoredjo (Santoso Arifin) dan kepala Pos Polisi (Serma Pol Sudargo) dan melukai berat Serda Pol Arief Sembiring, ketika para petugas itu sedang mengusut perampasan colt angkutan yang mereka lakukan malam harinya. Upaya Penertiban Bersama Rakyat Unsur-unsur Muspida Propinsi dan Kabupaten Lampung Tengah termasuk saya dengan pengawalan 3 peleton tentara dan 1 peleton Brimob bergerak pada pagi hari bakda subuh 7 Februari 1989 menuju Cihideung dan menuju Sidoredjo. Ke Cihideung untuk menghadapi Warsidi dan ke Sidoredjo untuk menghentikan teror yang dilakukan oleh kelompok mereka yang dipimpin oleh Sugito dan Riyanto, yang ketika itu bersenjata api rampasan berupa dua pucuk pistol dari almarhum Serma Pol. Sudargo dan Serda Pol. Arief Sembiring yang luka parah. Bentrok fisik di Cihideung tak terhindarkan dan Warsidi tewas. Sedangkan dari pihak ABRI beberapa orang menderita luka berat, seorang diantaranya berpangkat bintara. Seperti halnya yang dialami rombongan Camat Zulkifli dan Oloan Sinaga, serangan Warsidi terhadap rombongan kami, mereka lakukan dengan berteriak -teriak, sambil melesatkan anak panah beracun dari berbagai penjuru, termasuk dari sebagian pasukannya yang berada pada kedudukan pertahanan di tanah, yang telah mereka gali sedalam dada. Anak-anak panah yang digunakan terbuat dengan baik dari ruji-ruji sepeda dan sebagian ada pula yang terbuat dari bambu. Bentrokan fisik antara kedua pasukan tak terhindarkan, sementara pengikut Warsidi bagaikan orang kerasukan setan berteriak-teriak. Dari dua belah pihak memekikkan gema : ". ..AllahuAkbar ", seolah-olah rebutan untuk meng claim bahwa pihaknyalah berjalan dalam ridha Allah SWT. Ketika suasana demikian hiruk pikuk dan suara megaphone untuk menghimbau kelompok Warsidi agar menghentikan perlawanannya dan usaha mengendalikan gerakan massa menjadi sukar, tiba-tiba bilik-bilik mukiman Warsidi, terbakar. Pasukan segera bergerak cepat menuju ke arah pondok-pondok tersebut bersama masyarakat Rajabasa Lama, Talangsari III Pakuan Aji memadamkan kobaran api dan sekaligus menyelamatkan korban. Namun tidak semua orang dapat kita selamatkan dari kobaran api karena mereka yang berada di dalam pondok dilarang keluar dan diancam penjaga dari kelompok mereka sendiri: "Jangan ada yang keluar dan menyerah kepada kaflr. Kita akanmati syahid di sini bersama-sama". Sehingga tatkala api mulai menyala, banyak di antara mereka yang tak berani keluar dari pondok yang terbakar itu. Di antara mereka yang tertolong adalah seorang perempuan berna Widaningsih yang diselamatkan bersama-sama dengan beberapa kawannya oleh salah seorang

Page 49

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari anggota ABRI yang berjibaku masuk ke dalam api yang tengah mengganas. Seorang remaja perempuan, anak Warsidi bernama Toyibah, melompat keluar lewat jendela, tetapi segera diikuti oleh ayunan parang dari arah dalam yang membabat telinga dan sisi kanan kepalanya. Anak tersebut dapat dievakuasi dan diselamatkan jiwanya, setelah ditangani kemudian oleh para dokter di RS Abdul Muluk. Tak seorang pun pengikut Warsidi bisa kita kenali sebab memang semenjak awal kedatangan mereka, tidak membawa pernaskahan apa-apa. Malah kemudian diketahui bahwa nama-nama mereka hampir semuanya diganti. Sebagai contoh, Sugito adalah nama lain dari Fadhillah. Belakangan, salah seorang bekas rekan Warsidi memberi kesaksian, bahwa yang membakar pondok-pondok di Cihideung itu ialah pengikut Warsidi sendiri. Keberingasan yang Meluas Pada tanggal 9 Februari 1989 bari Kamis lebih kurang pukul 09.00 WIB sekelompok pengikut Warsidi menyerbu KODIM Lampung Tengah. Mereka turun dari sebuah kendaraan umum sewaan dan melemparkan bom-bom molotov, mengenai sepeda motor Serma Kanten sampai terbakar. Bom berikutnya dilempar ke arah pos penjagaan, tetapi meleset dan hanya mengenai papan nama Primkopad, sehingga api menjilat bangunan tersebut. Sementara itu, salah seorang penyerang., berhasil merebut senjata api M-16 dari Pratu Supriadi di pos jaga. Namun serangan dapat dipatahkan oleb para anggota ABRI di sana dan senjata dapat direbut kembali. Korban yang jatuh di pibak ABRI ialah seorang tamtama luka parah. Pada bari yang sama rakyat di pasar Metro dibuat gempar, karena sekelompok anggota Warsidi mengamuk di tempat itu dan menjarah barang-barang dagangan yang ada. Serta merta pasar menjadi ditutup beberapa hari kar suasana keamanan yang mencekam. Pada bakda Asar hari Kamis itu, sekelompok pengikut Warsidi bersenjata golok dan celurit, memasuki RS Mardi Waluyo, Metro. Mereka mencari anggota-anggota ABRI yang dirawat inap di sana. Akan tetepi gagal karena penjagaan di rumah sakit tersebut telah kita perkuat sebelumnya, sehingga dalam perkelahian dengan Satpam rumah sakit yang bernama Kadar, salah seorarig dari penyerang dapat tertangkap. Tidak semua dari mereka yang berbuat onar Lampung sejak 6 Februari itu dapat tertangkap. Oleh karena itu, mulai 8 Februari 1989, pengacauan yang mereka perbuat pun cenderung meluas ke luar dari Cihideung, Talangsari III, dan dari Sidoredjo. Hal ini terlihat dari aksi-aksi mereka tersebut, yang semakin beringas sampai ke Metro Ibukota Lampung Tengah. menjarah pasar, bahkan sampai berani hati untuk memasuki rumah sakit. Demi melindungi dan menentramkan rakyat, kami melakukan koordinasi dan pertemuan dengan para tokoh agama dan tokoh-tokoh informal daerah guna menilai apa gerangan sebenarnya gerakan yang dilakukan Warsidi itu. Kesimpulan yang diambil saat itu ialah gerakan Warsidi dilakukan oleh kelompok oknum-oknum jamaah "Negara Islam Indonesia" yang menyempal Garis perjuangan NII, sebenarnya saat itu telah berbeda jauh dengan strategi kekerasan yang dalam sejarah terbukti telah menimbulkan korban rakyat, terutama umat Islam sendiri yang. sangat banyak. Akibat dari meluasnya aksi kekerasan Warsidi, muncul reaksi pembersihan oleh rakyat secara semesta di seluruh Propinsi Lampung, sehingga tertangkaplah Zaenal Arifin yang kemudian menjadi tertuduh sebagai Gubernur NIl (Negara

Page 50

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Islam Indonesia) Propinsi Lampung beserta segenap personil jajarannya. Keterangan yang diperoleh dari Zaenal Arifin dan kawan-kawannya, membuktikan bahwa pembiasan gerakan Warsidi dari perjuangan NII merupakan suatu gerakan serpihan. Penyerpihan Warsidi konon karena provokasi Nurhidayat Cs. yang dikenal sebagai kelompok empat, yang berkedudukan di Jakarta, sehingga ia lalu berpaling dari Zaenal Arifin. Nurhidayat adalah tertuduh yang paling bertanggung jawab terhadap rencana mendirikan "basis perjuangan" dengan cara kekerasan, melalui Warsidi yang semula seorang lugu, memiliki 1,5 hektar tanah wakaf dari Jayus di Cihideung. ***

Page 51

Bagian 8 - Menghitung Angka
MENGHITUNG ANGKA Apa arti sebuah angka ? Kalau kata-kata, tak lagi bermakna. Angka, bisa berarti apa saja, juga bisa tak berarti apa-apa. Angka adalah keniscayaan. Siapa mengusai angka, ia tergolong Manusia utama. Siapa mempermainkan, ia akan tercela.. TIBA-TIBA saja, angka menjadi punya makna, ketika segelintir orang rnenyoal dirinya. Padahal, peristiwanya sendiri telah berlalu hampir sebelas tahun sudah tatkala Talangsari, Way Jepara, menjerit teraniaya akibat sekelompok kecil. anak bangsa membuat gara-gara. Warsidi, bersama kelompoknya tak "menjunjung langit", ketika mereka memijak bumi Talangsari, pada Februari 1989. Masyarakat Talangsari resah, kedamaiannya terkoyak oleh tamu-tamu misterius yang belum memahami adab. Konflik kecil memuncak tak terkendali. Peperangan harga diri berobah menjadi perang hidup atau mati. Sejumlah orang menjadi korban dan sejumlah lainnya menjadi tumbal. Korban drama Talangsari inilah yang dikais-kais, kembali oleh segelintir orang, atas nama kelompok tertentu dan untuk kepentingan tertentu pula. Tetapi, warga masyarakat Talangsari dan sekitarnya sudah hafal dengan perilaku mereka. Masyarakat tak lagi percaya dengan mereka, malah menyatakan, pengungkit-ungkit Talangsari itu digambarkan sebagai orang-orang pencari untung. Menjual Talangsari, untuk kepentingan diri sendiri. Pengais angka tersebut memang getol menyebar-nyebarkan temuannya, melalui berbagai media, setelah lebih dari sepuluh tahun peristiwa Talangsari berlalu. Ternyata tak semua media percaya pada temuan mereka. Dari puluhan media di negeri ini, cuma beberapa yang sudi menyebar-nyebar isu tentang jumlah angka yang mereka temukan. Apalagi pengkaisan angka tersebut, terasa lebih bermuatan politis, ketimbang pembelaan hak azasi manusia. Agaknya, aroma kebenaran tetap tidak sama dengan aroma dusta, sekalipun dibalut pakaian kemanusiaan. Angka yang dipersoalkan itu, tentang tewasnya gerombolan Warsidi yang berontak di Talangsari, Way Jepara, Larnpung Tengah 1989. sebelas tahun lalu. Namun ketika zaman reformasi datang, ketika rakyat tak lagi takut ditangkap, apalagi dipenjara, euforia mengeluarkan pendapat menjadi gaya hidup sebagian orang. lnilah yang menyemangati beberapa orang menengok kembali masa lalu, tentang tragedi Talangsari yang mereka anggap belum selesai. Agaknya target dari spekulasi mereka ialah agar dirinya dikenal masyarakat, sebagai "pahlawan HAM". Mereka mulai menghitung dan memunculkan deretan angka 246 orang gerombolan Warsidi tewas dalam insiden Talangsari, 11 tahun lalu. Temuan versi pencari untung itu ternyata menjadi masalah karena jumlah yang mereka kuak, http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari berselisih jauh dengan temuan masyarakat setempat, pada saat peristiwa terjadi. Ketika itu, sehari setelah gegeran, masyarakat Talangsari melaporkan kepada pemerintah bahwa ada 27 orang gerombolan Warsidi tewas. Jumlah ini kemudian dilansir oleh seluruh media massa baik nasional ataupun intemasional. Dunia pers kita pun adem-ayem terhadap angka tersebut. Hingga tahun 1998, sepuluh tahun kemudian, datanglah isu baru dari sekelompok orang yang menyoal Talangsari menemukan sejumlah angka baru. Beberapa pers kita pun mencoba mengangkat isu baru itu. Misalnya Harian Merdeka, 11 Oktober 1998, menyebut ada 4 pondok terbakar. Tiap pondok dihuni rata-rata 100 orang: anak-anak, orang dewasa laki-laki serta perempuan, mati terpanggang. Artinya ada 400 orang, menjadi korban. GATRA, majalah mingguan 22 Agusutus 98, juga mengutip sejumlah angka. Ada 246 penduduk sipil terbunuh, dalam insiden Talangsari mengiringi robohnya 4 bangunan pondok yang rata-rata berukuran 6x9 meter, terbakar. Kedua terbitan itu tak mempersoalkan bagaimana angka-angka itu muncul tiba-tiba setelah sepuluh tahun peristiwa berlalu. Bagaimana cara menghitungnya dan ada nuansa apa di balik penguakan angka itu ? Agaknya tak menjadi soal. Bahwa kemudian soal angka menimbulkan masalah, agaknya juga soal lain. Temyata sebuah angka bisa menjadikan orang mulia atau nista, utama atau tercela. Ribut -ribut soal penguakan angka itulah yang antara lain, menyemangati penulis buku ini untuk ikut membuktikan sendiri, mencari informasi dan datang ke lokasi. Di kawasan Gunung Balak, Way Jepara, yang sekarang menjadi Lampung Timur, ternata banyak hal bisa dikuak. Termasuk menyoal angka. Bukan sekadar kira-kira atau kata orang, akan tetapi bisa dihitung berdasarkan logika. Datang ke Lokasi Cihideung kini mungkin beda dengan Cihideung masa lalu. Paling tidak, situasi dan suasananya. Kini yang tampak hanya hamparan ilalang, daunnya menjurai-jurai seakan mengikuti ke mana angin berlalu. Lepas, tak berbeban. Di antara lambaian ilalang itu, masih ada satu. atau dua pohon kelapa yang tersisa. Pohonnya tinggi menjulang ke langit, seakan ingin berlari meninggalkan bumi yang tak lagi damai, tempat orang bertikai. Ditaksir usianya sekitar 20 tahun, bahkan bisa lebih. Sehingga segera terbayang saat gegeran Talangsari terjadi, dialah saksi hidup yang tak mungkin dusta. Sayang, ia tak bisa bicara. Berada di lokasi, tiba-tiba ada perasaan malu menghitung angka, khawatir kalau-kalau salah. Pada situasi seperti itu, teringat masih ada ukuran yang bisa dipercaya, dialah logika. Bersama penduduk mulailah menapak tilas dan berlogika. Mula-mula membuat peta lokasi. Kemudian mendata; berapa luasnya Cihideung sebelum menjadi Talangsari. Berapa luas tanah yang dihadiahkan kepada Warsidi. Berapa jumlah bangunan rumah atau pondok di hamparan tanah keluarga Jayus saat itu. Terakhir, berapa luas bangunan yang mereka buat untuk hunian anggota yang datang dari berbagai tempat itu. Dari sanalah, ditemukan sejumlah angka. Luas Cihideung, berkisar antara 25 hingga 30 hektare. Jayus dan keluarganya memiliki 5 hektar. Dihadiahkan hektare untuk suatu kegiatan kelompok yang dipimpin Warsidi. Di tanah seluas 1,5 hektare itulah Warsidi menjalankan kegiatannya dan membangun rumah panggung dari bambu, berukuran 6 x 9 meter, untuk rumah tinggal. Di sebelahnya masih ada 3 bangunan lain masing-masing rumah Jayus, rumah Marsudi dan rumah Pardi. Di tempat itu mereka menetap ingin membentuk suatu komunitas hidup, sambil bercita-cita besar, untuk berdirinya suatu perkampungan muslim. Mimpi http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 52

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari berubah menjadi keinginan mengembangkan suatu "basis perjuangan NII" setelah ada kelompok ke Jakarta yakni Sudarsono, Nurhidayat, Fauzi d Wahidin, datang ke Cihideung, kepincut oleh iming iming "Tuan" Usman yang mengaku insinyur menawarkan lokasi untuk hijrah. Dan Cihideung, Lampung Tengah itulah pilihannya Ini data baku, yang bisa diperoleh siapa saja. Da data baku tersebut, semua orang kemudian bisa dengan, mudah berlogika. Adakah sebuah bangunan berukurn 6 x 9 meter (mirip rumah petak di Jakarta), bisa memuat 100 orang bahkan lebih, dalam kehidupan berumah tangga ada suami, ada istri, ada anak-anak dan malah ada mertua, cucu bahkan ponakan. Dalam kondisi seperti itu, orang kemudian bertanya, bagaimana posisi mereka tidur, di mana membuat dapur untuk memasak bagi 100 orang lebih, di setiap pondoknya. Juga dipertanyakan, bagaimana mereka mendapat bahan makanan bagi kehidupan 400 orang, tiap hari ? Harap dicatat ini bukan kehidupan darurat, dalam sebuah perkemahan yang sementara. Tetapi, kehidupan jamaah Warsidi berada dalam komunitas perkampungan yang relatif menetap. Setelah dikonfirmasi dengan banyak pihak, ternyata rata-rata tiap pondok hanya 25 hingga 30 orang saja penghuninya. Achmad Sarikun, salah seorang jamaah Warsidi yang fanatik, bersama istrinya menjelaskan. Menurut Sarikun, dirumah Warsidi ada sekitar 20sampai 25 orang. Sedangkan di tempat Marsudi, Jayus dan Pardi, rata-rata 15 sampai 20 orang. Dari hitungan Sarikun, bila dijumlah, maka seluruh jamaah Warsidi ada sekitar 100 orang yang menetap di komplek itu. Jumlah ini mendekati logika. Karena, ketika Zulkifli datang ke pondok Warsidi, Camat yang diancam hendak dibunuh itu, mengatakan ada 25 hingga 30 orang, terkesan penuh pada posisi duduk. Keterangah Zulkifli dibenarkan oleh Sukidi, yang beberapa kali datang ke lokasi tersebut. la tidak bisa berkomentar, bagaimana bangunan seperti itu bisa diisi lebih dari 100 manusia, yang juga punya hajat hidup sebagaimana manusia normal lainnya.

Page 53

Eksodus Ramai-ramai menghitung jamaah Warsidi, tak mungkin bisa melupakan peristiwa penting tentang eksodus jama'ah, yang tak lagi taat pada imam. Kejadiannya begitu cepat. Malah sebagian penduduk sempat merasa takut, ketika serombongan jama'ah keluar melewati perkampungan masyarakat. Mereka mengira jamaah Warsidi hendak menyerang perkampungan. Peristiwa ini benar-benar tak terlupakan, karena kisahnya cukup unik. Saat itu, masyarakat melihat ada serombongan orang-orang Warsidi, menuju ke desa mereka. Masyarakat bersembunyi di balik bilik atau di semak belukar. Belakangan baru diketahui, ternyata mereka cuma numpang lewat. Pada saat itu terdengar suara: "Sudah jangan lagi ikut Warsidi, orang Islam kok membunuh. Kita ini ingin hidup. Pemerintah kok dilawan". Kata-kata seperti inilah yang hingga kini masih sering menjadi celoteh masyarakat Talangsari yang berangsur-angsur membaik kondisi mereka, setelah bertahun-tahun dicekam ketakutan dan mendapat stigma jahat, gara-gara peristiwa Warsidi. Dari Pakuan Aji, juga diperoleh kabar hampir senada. Sehari sebelum kejadian, ada gerakan eksodus meninggalkan Warsidi. Gerakan ini dilakukan oleh orang-orang yang protes, karena menyesalkan terjadinya pembunuhan. Mereka melihat bagaimana Kapten Soetiman yang datang bersama rombongan diterjang panah dan golok sampai menemui ajal setelah ditebas lehernya oleh Marsudi. Tak seluruhnya setuju atas tindakan brutal Marsudi. Mereka yang tidak sepaham, lalu meninggalkan perkampungan impian. Dengan adanya peristiwa eksodus itu, menurut masyarakat setempat, otomatis jumlah mereka semakin sedikit. Kalau seluruh jamaah Warsidi ada 100 orang, atau katakanlah lebih. Maka yang tertinggal, tentu berkurang. Sukidi pernah http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari menyebut angka 70 sampai 80 orang yang pergi melewati Talangsari III. Sedangkan Ismed Inonu, menyebut 50 orang malah bisa lebih, melewati Pakuan Aji'. Itu pun belum terhitung yang ke arah Kelahang. Siapa pun, agaknya tak mungkin bisa menghitung dengan pasti berapakah jumlah korban gegeran Talangsari. Sehingga ketika ada pihak yang mengklaim sesuatu jumlah, masyarakat setempat menyatakan,. itu angka dusta. Korban peristiwa Warsidi masih misteri. Namun ada baiknya biarkan sejumlah angka terus bergulir dan mengalir. Karena siapa dusta dia akan celaka. Versi Kontras Kontras, menggolongkan korban gegeran di Talangsari, Way Jepara Lampung Tengah, 7 Februari 1989, sebagai orang hilang. Menurut Kontras, berdasarkan laporan dari ahli waris, ada 29 orang hilang di Talangsari. Mereka, terakhir terlihat di komplek perkampungan jamaah di Cihideung, Dusun Talangsari III, Kelurahan Rajabasa Lama, Way Jepara, Lampung Tengah. ***

Page 54

Bagian 9 - Kesaksian Loso & Kamarudin
KESAKSIAN LOSO DAN KAMARUDIN Dua orang saksi mata, berdiri di garis paling depan ketika peristiwa gegeran Talangsari 1989, berlangsung. Mereka, penduduk sipil warga Pakuan Aji, menjadi pemandu jalan bagi aparat yang hendak mengambil jenazah Kapten Soetiman, dari tangan Warsidi. SAMPAI mati pun peristiwa Talangsari 1989, tak akan terhapus dari ingatannya. Masih terbayang di benak mereka, kejamnya gerombolan Warsidi yang tega membantai kelompoknya sendiri, ketika ada yang hendak menyelamatkan diri dari kobaran api yang menjilat-jilat tubuh kelompok itu. Jeritan ratap dan tangis dari dalam gubuk bambu itu, meruntuhkan hati Loso dan Kamarudin, dua orang saksi yang melihat langsung peristiwa sedih, cara mati suatu kaum yang dibantai saudaranya sendiri. Loso, kini berusia 60 tahun sedangkan Kamarudin, 30 tahun. Dua warga sipil dari Desa Pakuan Aji ini, sebelas tahun lalu mendapat tugas dari A. Syamubi, Kepala Desa Pakuan Aji untuk mendampingi aparat mengambil jenazah Kapten Soetiman, dari tangan kelompok GPK Warsidi di kompleks Cihideung, Talangsari III, Way Jepara, Lampung Tengah. Loso menjadi penunjuk jalan bagi regu Letnan Untung, sedangkan Kamarudin mengikuti regu Letnan Sunamo. Loso yang hingga kini masih jadi petani, dipercaya karena dia seorang Kepala Dusun Suka Putra III, menguasai benar kawasan Cihideung di Talangsari III itu. Dusun Suka Putra III, Desa Pakuan Aji, memang berbatasan langsung dengan Cihideung. Oleh karena itu, tak heran ia dipilih menjadi penunjuk jalan bagi aparat yang hendak mengambil jenazah dari kelompok aneh itu. Menurut pengakuan Loso, ketika mereka mendekati kompleks Warsidi, regu Untung langsung mendapat serangan sengit. Mereka dihujani panah beracun oleh orang-orang yang histeris bagaikan kesetanan. Di tengah-tengah kancah peperangan itu, telinga Loso dipecah oleh suara tangisan dan jerit memilukan dari sebuah pondok yang tak jauh dari dirinya. Jeritan itu ternyata suara beberapa orang anggota Warsidi yang dibacok oleh kelompoknya sendiri, ketika hendak lari meninggalkan gerombolannya.

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari

Page 55

Tentu saja Loso tak bisa berbuat banyak menghadapi situasi yang demikian itu. Dari sekian banyak korban yang dibantai oleh kelompok mereka, terdapat seorang gadis yang berhasil diselamatkan. Dia bernama Toyibah, kabarnya ia anak kandung Warsidi yang berhasil lolos dari maut. Ketika itu Toyibah melompat melalui jendela, namun disabet golok dari arah dalam hingga mengenai telinga dan pundaknya sampai bercucuran darah. Loso menyelamatkannya dengan cepat dan menyerahkan kepada aparat untuk dikirim ke Rumah Sakit Abdul Muluk di Bandar Lampung, bersama korban lain dari pihak aparat yang disambar panah beracunnya kelompok Warsidi. Kisah sedih Loso pun dialami Kamarudin, seorang yang juga dipercaya untuk memandu aparat yang hendak mengambil jenazah Kapten Soetiman dari sarang Warsidi. Kamarudin memandu regu Letnan Sunamo. Kala itu, Kamarudin melihat langsung bagaimana aksi kelompok Warsidi dengan panah beracunnya, membabi buta memanahi aparat yang mendekati mereka. Keganasan mereka ternyata tak hanya kepada aparat. Bila kelompoknya ada yang hendak melarikan diri, dikejar dan dibantai sebagaimana membantai musuh. Tentu saja perbuatan seperti itu tak mudah dimengerti, apalagi oleh Kamarudin yang ketika itu .baru berusia belasan tahun. Tak cuma itu, Kamarudin juga menyaksikan sebuah pondok berisi anak-anak yang menjerit-jerit ketakutan, dibakar oleh mereka. Tak ada yang mampu menyelamatkan kejadian itu karena pintu-pintunya dikunci dan dijaga oleh mereka, sampai terbakar hangus. Kesaksian ini baru terungkap setelah 11 tahun peristiwa mengerikan di Talangsari itu berlalu. Sesungguhnya memang tidak mudah menghubungi dua orang saksi mata yang terlibat langsung di kancah peperangan itu. Bahkan, telah dua kali penulis berupaya datang ke Pakuan Aji, ingin menemui dua saksi mata tersebut. Namun, berbagai alasan dan hambatan ada saja yang menggagalkan pertemuan itu. Setelah tak lagi berharap bisa mendapatkan keterangan dari mereka, penulis memutuskan untuk melupakan dua narasumber penting tersebut. Pada saat proses penulisan buku ini, secara tak diduga datanglah kedua orang itu: Loso dan Kamarudin, dua orang saksi mata warga Pakuan Aji, yang terlibat langung di garis depan bersama aparat yang hendak melepaskan jenazah Kapten Soetiman dari tangan Warsidi. Mereka menyerahkan dua lembar surat kesaksiannya kepada Kepala Desa Pakuan Aji, untuk diserahkan kepada penulis. Dan berikut ini, surat kesaksian mereka. Attachment Size surat_kamarudin.gif 95.77 KB surat_laso.gif 188.59 KB

Bagian 10 - Kisah Panah Beracun
KISAH PANAH BERACUN Dalam dunia mimpi, apa pun bisa terjadi. Yang tak mungkin di dunia nyata, sangat mungkin baginya. Tak ada yang mustahil bagi dunia pemimpi. Semua serasa bisa. Semua menjadi mudah KETIKA dunia pewayangan mengalami peperangan, mereka yang ke medan laga juga

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari menggunakan berbagai macam senjata. Rupa-rupa senjata digunakannya. Para ksatria menggunakan panah dan keris sedangkan para sudra menggunakan terampang, badik, tombak, atau golok untuk membacok. Panah digunakan untuk dilepas pada musuh yang jauh tempatnya, sedangkan keris digunakan untuk peperangan jarak pendek. Kedua senjata ini terhitung yang paling sempurna. Ada yang berasal dari sesuatu benda ajaib, misalnya dan taring Betara Kala. Namun, sebaik-baik senjata adalah yang berasal dari pemujaan tapa-brata dan pembenan para dewa Umumnya, para dewa memberi hadiah panah kepada anak keturunan Pandawa, karena Pandawa dikenal sebagai ahli pertapa dan pemuja. Dari sanalah mereka memperoleh senjata panah dengan kesaktian yang beranekaragam. Tak jarang beberapa jenis panah memiliki kesaktian yang melebihi batas. Misalnya, ada panah yang bisa berganti wujud dan bisa memagut bagaikan paruh burung Ardadeli. Bahkan, ada panah yang bisa menutup teriknya matahari, mengubah terang benderangnya dunia menjadi gelap gulita. Raja dari segala senjata adalah panah cakra Prabu Kresna. la dihormati dan ditakuti oleh seluruh benda yang bernama senjata. Segala kesaktian tunduk pada senjata cakra. Tersebutlah dalam sebuah kisah. Tatkala Prabu Arjunasastra hendak dipanah dengan senjata cakra, maka raja agung binatoro-sakti madraguna itu keder, takut hingga bertriwikramalah Sang Prabu, menjadi raksasa titisan Wisnu untuk menandingi kesaktian cakra. Karena hanya kepada Dewa Wisnu sajalah senjata itu tunduk dan takluk bagaikan hamba sahaya. Ini menggambarkan bahwa panah bukan sembarang senjata, apalagi barang mainan. Malah pada saat perang Baratayuda, panah cakra itu digunakan oleh. Prabu Kresna untuk menghadang sanghyang surya. Ketika panah dilepas ke angkasa, ia melesat menembus langit, menutup matahari. Bumi menjadi gonjang-ganjing, siang menjadi muram, tampak seperti malam. Tipu muslihat ini digunakan pada waktu Arjuna bersumpah akan mati membakar diri, bila hari itu tak berhasil membunuh Jayadrata. Karena sumpah itu, maka Jayadrata disembunyikan Kurawa agar terhindar dari ancaman Arjuna. Namun, sial bagi Kurawa. Ketika sinar matahari tampak suram, Jayadrata ingin mengintai matinya Arjuna dari persembunyiannya. Perbuatan Jayadrata ini diketahui oleh Prabu Kresna. Maka, berkatalah ia kepada Arjuna agar segera melepas panahnya kepada sang pengintai. Panah dilepas dan terpenggallah kepala Jayadrata. Setelah peristiwa itu terjadi, Prabu Kresna tak lagi menutupi matahari dengan panah cakranya. Seluruh alam tampak terang-benderang sebagaimana sediakala. Sorak sorai mewarnai kehidupan bumi. Kemenangan ada pada pihak Pandawa. Keangkaramurkaan pupus bersama gerombolan Kurawa. Tentu saja ini adalah penggalan kisah dari dunia bayang-bayang, dunianya para pemimpi. Panah Beracun Sudarsono, tentu tak ada hubungannya dengan Dursosono, ksatria penuh ceria yang hidup di dunia bayang-bayang negeri Kurawa, diAstinapura. Darsono, bahkan juga tak sedang bemimpi ketika ia memutuskan untuk membuat panah, meskipun kemudian panah buatannya itu bermasalah. Pemuda Jawa, kelahiran Belawan, Medan ini, baru berusia 26 tahun ketika senjata panah ciptaannya itu temyata bisa merenggut banyak nyawa. Hingga sekarang, tak sedikit pun ia menunjukkan rasa sesal apalagi sedih tentang senjata ciptaannya itu. Malah, justru ia bangga karena merasa bisa menjalankan perintah agama. Rasulullah saw, menurut Sudarsono, pernah menyerukan agar orang mukmin belajar silat, berenang, memanah, dan merancak kuda. Berbekal pada hadis yang masih dipertanyakan keabsahannya oleh banyak kalangan ini, Darsono kemudian mengajarkan cara membuat panah kepada para pengikutnya. Tak masalah absah atau tidak. Inilah cara Darsono memahami dan menerjemahkan seruan

Page 56

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Rasul yang mulia itu. Panah Darsono memang agak kurang lazim. Selain bahan dasarnya yang antik, cuma dari jeruji becak, bentuknya pun unik. Panjangnya tak lebih dari 30 cm. Pada ujungnya yang lancip diberi pengait dari bahan semacam timah. Ekornya dijurai-jurai dari tali rafia 7 lembar yang disisir menjadi serabut. Untuk melontar panah antik ini, Darsono tak kekurangan akal. Cukup dengan cangkang katapel, dilengkapi sepasang karet elastis yang bisa melar hingga sedepa. Dari katapel inilah anak panah pembawa maut itu melesat sejauh lebih kurang 200 meter. Tetapi, panah antik itu tak akan dikenal orang bila tak ada masalah. Istilah panah beracun tiba-tiba menjadi populer ketika media massa melansir berita tentang pemberontakan Warsidi, yang menggunakan senjata panah mengandung racun. Beberapa kalangan sempat meragukan benar tidaknya panah ini beracun. Sebab, ketika punggung Sertu Yatin dipagut anak panah itu, ternyata tidak ditemukan racun oleh tim dokter yang mengobatinya. Namun, Sudarsono, ketika dikonfirmasi tentang ini mengatakan bahwa racun itu bukan isapan jempol. Dia menceritakan bagaimana jeruji becak itu kemudian menjadi senjata yang mematikan. Pada awalnya memang tidak terbayang sampai ke soal racun. Malah, idenya pun sederhana, ia hanya ingin membuat paser. Tetapi, sahabatnya yang mengaku diri sebagai "BOS" alias " Amir Musafir" bernama Nurhidayat, ngotot supaya dibentuk menjadi mirip anak panah. Alex, sabahat Sudarsono yang ada di Tanjung Priok, setelah tahu perkembangan buru-buru menginformasikan bahwa dirinya bisa mendapatkan racun getah poh. Menurut Alex, racun getah poh hanya bisa didapatkan melalui ritual khusus dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mengeluarkan racun itu dari pohonnya. Mula-mula getah dideres, setelah kering getah tersebut dijadikan bubuk. Dari bubuk getah poh, ujung panah itu direndam hingga menjadi panah beracun. Setelah yakin panah sudah memiliki racun, bagian yang mengandung racun segera diberi selongsong berupa slang plastik kecil untuk melindungi pemakainya dari sengatan racun getah poh itu. Konon racun ini aslinya untuk membunuh binatang-binatang jahat pengganggu tanaman, umpamanya babi, badak, atau gajah. Menurut penciptanya, panah beracun ini kebanyakan, dibuat di Jakarta. Selebihnya dilanjutkan di Lampung oleh Alex dan anak buahnya. Namun, sebelum berhasil membuat yang lebih banyak lagi, keburu peristiwa meletus. Sekalipun demikian, Sudarsono mengatakan, tentang jumlah yang sudah berhasil dibuat, tak lebih dari seribu bilah. Panah yang telah diekspor ke Lampung inilah yang diuji coba oleh anak buah Warsidi untuk menghakimi Kapten Soetiman, Danramil Way Jepara, sebelum ditebas Marsudi, kakak kandung sang imam dan hasilnya menakjubkan. Kini panah beracun tinggal cerita. Orang boleh menganggap apa saja atau boleh menjadikan ia apa pun juga. Buah karya Sudarsono, yang ia klaim sebagai terjemahan dari seruan Rasul yang mulia tentang perintah memanah, merancak kuda, berolah-silat bahkan berenang, agaknya. bisa menjadi tarbiah bagi kita ,semua untuk lebih arif dan bijak dalam memahami seruan-seruan mulia Islam itu. ***

Page 57

Bagian 11 - Spiritual di Tanah Lampung
SPIRITUAL DI TANAH LAMPUNG http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari ladang lain belalang, lain orang lain cara bertandang. Itu juga sebabnya warna-warni kehidupan spiritual sudah lama dilakukan orang. Bukan saja sekarang, tetapi dari zaman ke zaman. MENCARI Tuhan adalah keniscayaan. Karena tidak ada sesuatu makhluk pun yang tidak berasal dari-Nya. Disadari atau diingkari, ditolak atau diterima, ujung perjalanan makhluk pasti berada di suatu tempat, dari mana asal pemberangkatannya. Berasal dari Tuhan, kembalinya pun kepada Tuhan jua. Perjalanan makhluk, bagaikan menghitung bijih tasbih. Dari bulir pertama, berhenti di bulir terakhir. Disana, kita tidak bisa membedakan mana bulir pertama atau mana yang terakhir. Karena ternyata kita berada di ujung yang sama, cuma berbeda tempat. Kita tidak sedang pergi, berlari meninggalkan Dia. Kita sedang dalam perjalanan kembali kepada-Nya. Dialah Allah, Tuhan seru sekalian alam. Dan kita semua adalah pelaku spiritual yang sedang berjalan menuju ke tempat asal. Yang membedakannya ialah cara menjalankan spiritual. Cara itulah yang menghasilkan kualitas dari pelakunya, termasuk kelas utama atau rendahan. Kelas kemalaikatan atau kesetanan. Karena hanya yang berkualitas dan tahu jalan yang berhak sampai pada suatu tatanan untuk "bertemu" Tuhannya. Yang kelas rendahan, apalagi yang. cuma ikut-ikutan jalannya pasti sempoyongan dan sasar dari tujuan. Biasanya, spiritualis seperti ini punya suara paling lantang. Tak ada kebenaran kalau bukan dirinya atau mungkin kelompoknya. Dialah jago bin jagonya kebenaran. Kelompok seperti ini umumnya bermasalah. Tidak saja bagi orang lain, bahkan juga dirinya. Lampung, tidak hanya kota lada, tetapi juga kota spiritual. Sejarah mencatat berbagai agama telah lama singgah dan berlabuh di sana. Pengaruh Banten yang Islami, Sriwijaya yang Hindu, dan Eropa yang Kristiani, telah mewarnai kehidupan spiritual penduduknya hingga ke pelosok desa. Data yang berhasil dihimpun menggambarkan bahwa gairah spiritual tumbuh subur di ujung Selatan Pulau Sumatera itu. Berikut ini daftar nama-namanya. Attachment Size spirit00006.gif 194.88 KB

Page 58

spirit_00005.gif 33.6 KB spirit_00007.gif 162.72 KB

Bagian 12 - Seputar Negara Islam
SEPUTAR NEGARA ISLAM "Laa ikraha fzddien ...dst. Artinya: Tidak ada paksaan dalam agama (!slam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. " (AI-Baqarah, 256.) . ISLAM tak pemah memaksa orang, harus hidup menurut cara Islam atau menurut cara lain. Harus beragama Islam atau memeluk agama lain. Bahkan Islam tak pernah mengharuskan orang supaya tunduk di bawah pemerintahan Islam sekalipun. Sebab, "telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah". Ini mengisyaratkan bahwa Islam tidak disebar dengan cara kekerasan apalagi paksaan. Islam juga tidak diperkenalkan melalui tajamnya pedang dan derasnya tumpahan darah. Akan tetapi, yang terjadi ialah sebaliknya. Opini dunia memutar seolah-olah Islam disebar dengan cara jorok. Menyerbu, menyerang, dan menghunuskan pedang kepada semua orang yang tidak mau menerima Islam. Padahal, Islam http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari justru mengajarkan "satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit". Rasulullah saw, senantiasa memberikan tarbiah kepada umatnya, cara memperkenalkan Islam ialah mempertontonkan akhlaqul karimah. Menumbuhkan indahnya akhlak dalam setiap dada manusia. Yang demikian itulah senjata bagi setiap muslim, pecinta Rasul, pengamal seruan mulia. Alquran menegaskan, kehadiran Islam itu " li tukhrijannas minazzulumati illannur - untuk mengeluarkan manusia dari kezaliman kepada kebebasan, dari kegelapan kepada cahaya". Islam datang untuk mengubah cara berpikir dan cara hidup manusia dari kebodohan kepada kejayaan. Dari kekejaman kepada kesantunan. Sejarah mencatat bahwa Islam telah banyak menyumbangkan perubahan dasar kualitas kehidupan zaman. Kehadirannya telah melukiskan perjalanan hidup manusia dari kurun ke kurun. Islam telah menyelamatkan bumi dari ancaman kegelapan menjadi tegaknya peradaban. la penebar cara hidup mulia kepada semua manusia. Arnold Toynbe, dalam bukunya Dakwah kepada Islam, mengungkapkan perilaku orang-orang Islam yang dicintai pemeluk agama lain. Dia menceritakan bahwa setelah tentara Islam yang dipimpin Abu Ubaidah sampai di lembah Urdu, para penduduk yang beragama Kristen dan menetap di situ menulis surat kepada orang-orang Arab yang Islam. "Wahai semua orang Islam, kalian lebih kami cintai daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, mampu bersikap lembut kepada kami, mencegah kesewenangan yang menimpa kami, dan mau menjaga diri kami. Tapi, orang-orang Romawi itu menindas kami dan bumi kami". Mereka menyampaikan isi hatinya kepada orang-orang Islam bahwa dirinya lebih senang dengan orang-orang Islam daripada kesewenang-wenangan orang-orang Greek itu. Para penduduk kota dicekam ketakutan dan saling menutup pintu agar tentara Heraclius tidak menjarah dan menyakitinya. Negara Islam Indonesia Rangkaian kisah tersebut, boleh jadi salah satu contoh bahwa Islam tidaklah menakutkan, apalagi ancaman. Islam layak menjadi pemimpin karena mampu mengayomi semua umat dan melindungi semua agama. Inilah yang mendasari mengapa negara Islam menjadi cita-cita suci oleh sebagian orang. Mereka meyakini bahwa Islam mampu melindungi seluruh umat yang tertindas, apa pun warna kulitnya, keyakinannya, serta bahasa pergaulannya. Islam akan meluruskan jalan hidup mereka di dunia dan di akhirat. Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah saw., 14 abad yang lalu, membentuk Darul Islam atau Negara Madinah. Rasulullah mendatangi para kabilah dan mereka mendukung dakwah yang dijalankan Rasul. Merekad disebut Anshar, rakyat yang mendukung perjuangan tanpa ikut berhijrah secara fisik bersama-sama beliau. Madinah menjadi Darul Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. Beliau menjadi pemimpin kaum muslimin ketika itu. Di bawah kepemimpinan beliaulah kejayaan manusia, jasmani dan rohani tegak. Banyak kalangan mengatakan bahwa zaman keemasan manusia pernah ada. Dan itu hanya di zaman Rasulullah saw. tatkala memimpin umatnya. Kini zaman keemasan seperti itu tetap didambakan oleh seluruh makhluk yang bernama manusia. Zaman seperti itu tengah ditunggu kedatangannya dan diyakini oleh banyak pihak akan tegak kembali. Mereka tengah menunggu tegaknya sunnah Rasul yang II, yakni datangnya zaman Madani. Sejarah Indonesia juga pernah mengenal Darul Islam, yaitu gerakan yang mencita-citakan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), yang dipelopori http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 59

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari oleh SM Kartosoewirjo. Pelopor Darul Islam ini ingin mengejawantahkan perjuangan Rasulullah yang mendirikan Negara Madinah. Kartosoewirjo ingin menerapkan cara Rasulullah menjalankan pemerintahan Islam, yang dapat melindungi semua kepentingan. Dusun Cisampang, Desa Cidugaleun, Kecamat Leuwisari, Tasikmalaya, Jawa Barat, 7 Agustus 1949 atau 12 Syawal 1368, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo proklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia, meskipun mendapat tantangan dan hambatan serta masalah hingga kini dan entah sampai kapan. Attachment Size dii_00008.gif 74.92 KB dii_00009.gif 33.65 KB dii_00010.gif 74.84 KB

Page 60

Bagian 13 - Gerakan Darul Islam
GERAKAN DARUL ISLAM Darul Islam telah ditumpas. Pengikutnya pun telah dilibas. Dan terpidananya, akhirnya diberi amnesti oleh Pemerintah Republik Indonesia, tahun 1962. DARUL Islam masih ada. Mereka menyebut dirinya Jamaah Dl, sebagai wadah bekas anggota DI-TII yang telah dilibas dan diberi amnesti tersebut. Mereka bergerak seperti angin, tak tampak di permukaan, meski selalu ada. Jalur dakwah tetap sebagai jalur lintasnya. Melalui dakwah itulah aspirasi tegaknya Negara Islam Indonesia bisa dikumandangkan. Gerakan dakwah yang telah mereka lakukan sembunyi-sembunyi itu tampak berjalan efektif. Pengkaderan anggota baru terus tergalang. Siapa dianggap loyal dan telah memadai segera dibaiat sebagai anggota NIl baru oleh para senior yang sudah diberi mandat. Uniknya, sering terjadi para senior yang membaiat sebetulnya tidak ada sangkut paut langsung dengan tokoh-tokoh Dl di masa lalu. Darul Islam berasal dari kata DAR AL-ISLAM. Artinya, Rumah Islam, Rumah Yang Damai, Keluarga Islam, Keluarga Yang Damai. Dengan pengertian yang lebih luas, Darul Islam bisa berarti Kawasan atau Negara Islam. Tetapi, pengertian Darul Islam secara umum ialah bagian Islam dari dunia yang di dalamnya, keyakinan dan pelaksanaan syariat Islam serta peraturan-peraturannya, wajib dijalankan. Lawan Darul Islam ialah Darul Harb, yang berarti wilayah perang atau dunia kaum kafir yang harus dimasukkan ke dalam Dar Al- Islam. Dalam kenyataan sejarah pergerakan Islam, hampir di seluruh dunia, ketika umat Islam terjepit dan kemudian berupaya membebaskan diri, pengertian Darul Islam menjadi ekstrem. Berdasarkan pemahaman itu Darul Islam di Indonesia diartikan sebagai gerakan mendirikan Negara Islam Indonesia dengan paksa dan kekerasan. Secara fakta, pemberontakan umat Islam hanya muncul di wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hanya kemudian, mereka melakukan perubahan-perubahan itu dengan cara-cara kekerasan. Itulah sebabnya, mengapa lahimya Darul Islam di Indonesia berbeda antara satu daerah dan daerah lainn ya. Di Aceh misalnya, Darul Islam muncul lantaran tuntutan agama. Di Sulawesi Selatan, akibat demobilisasi bekas gerilya sesudah 1950. Di Kalimantan Selatan, soal harga diri yang dianggap telah dilecehkan. Di Jawa Barat dan

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Jawa Tengah, didasari adanya tuntutan keadilan. Masyarakat Islam di Indonesia akhirnya dengan mudah menerima kutukan, baik dari pemerintah maupun dari sejumlah partai politik, atas dosa-dosa pemberontakan Darul Islam. Ternyata masalahnya bukan cuma pertentangan ideologi negara, melainkan juga karena peranan dan susunan tentara, serta kekuasaan pemerintah pusat dan perkembangan sosial ekonomi di daerah pedesaan. Semua itu ikut berperan dan mempengaruhi lahimya gerakan Darul Islam. Pada masa awal Revolusi Kemerdekaan, para pemimpin Islam tunduk kepada permufakatan UUD '45 dan Pancasila serta mengakui Republik Indonesia sebagai satu-satunya negara yang sah. Padahal, di balik itu mereka sesungguhnya berharap bahwa sesudah kekalahan Belanda dalam perang revolusi, Indonesia akan diubah menjadi Negara Islam. Mereka yakin bahwa Darul Islam akan lahir mengingat semua perjuangan dilakukan oleh rakyat Muslim.tetapi, demi perjuangan gagasan mendirikan negara Islam ditunda dulu. Inilah yang kemudian menjadi bumerang dan api dalam sekam yang menggerogoti eksistensi pemerintahan Republik Indonesla. Kesimpulannya adalah Darul Islam berusaha mendirikan Negara Islam Indonesia. Satu-satunya yang paling gemilang ialah gerakan Darul Islam Jawa Barat, tempat NII diproklamirkan 7 Agustus 1949 oleh SM Kartosoewirjo. Gerakan ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Aceh. Sebaran DI kabarnya sampai ke Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, dan Halmahera. Di sejumlah daerah, pemberontakan gerakan Darul Islam tetap ulet lagi mencolok dan tersebar menyelimuti hampir semua wilayah dalam waktu yang cukup lama. Barulah pada awal 1960-an, Tentara Indonesia berhasil menumpas berbagai pemberontakan ini. Di Jawa Barat penumpasannya 1962, di Kalimantan Selatan 1963, dan di Sulawesi sekitar 1965. Di daerah-daerah yang lainnya tidak sampai memakan waktu lama. Kekacauan di Jawa Tengah berakhir 1955, sementara di Aceh, yang baru memulai tahun 1953 itu masih sulit dibendung. Baru tahun 1957 tercapai 'kompromi' dan pemberontak-pemberontak itu akhimya menyerah pada tahun 1962. Runtuhnya Darul Islam Secara internasional, ternyata Darul Islam tidak mendapat dukungan. Bahkan, negara-negara Islam di Timur Tengah ataupun kawasan dunia lainnya tak memberikan angin segar. Kalaupun ada yang tertarik, sifatnya perorangan dan sangat terbatas langkahnya. Van Kleev misalnya, seorang bekas tentara Belanda yang telah masuk Islam, menyatakan simpatinya dan ia ingin membantu melalui jalur diplomasi luar negeri. Kabarnya Van Kleev dalam kiprahnya telah mengirimkan surat diplomatik perihal permohonan bantuan ke Amerika Serikat dan juga negara-negara lain, yang dipandang punya potensi untuk itu. Namun, hingga gerakan DI berakhir, tak satu negara pun yang sudi membantu. Runtuhnya DI juga dipercepat oleh berbagai hal, antara lain turunnya kebijakan Nasir yang menginstruksikan militer untuk segera menumpas berbagai pemberontakan; Berkhianatnya sejumlah tokoh DI ke pangkuan RI seperti yang terjadi atas Hasan Saleh (Aceh) dan Bahar Mattaliu (Sulawesi Selatan); Kurangnya senjata yang dimilikinya juga melemahkan spirit dalam berjuang. Unsur lain yang sangat dominan melemahkan DI ialah umat Islam tidak bersatu. Bahkan, oleh orang Islam sendiri DI dianggap sebagai pengacau keamanan dan mengancam disintegrasi bangsa. Darul Islam sendiri sering melakukan

Page 61

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari kekerasan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Kartosoewirjo. Praktis pada waktu itu hanya barisan Hisbullah dan Sabilillah yang tinggal. Bagi mereka yang tidak setuju Islam sebagai kekuatan politik, soal DI ini merupakan alat pemukul paling ampuh terhadap berbagai gerakan yang muncul dari kalangan Islam. Tokoh Masyumi, seperti M. Natsir yang semula banyak bicara soal perlunya sebuah negara Islam bagi umat Islam malah tidak mendukung gerakan DI. Strategi "pagar betis" dalam operasi teritorial TNI, akhirnya berhasil melumpuhkan DI/TII hingga gulung tikar. Meskipun secara fisik DI telah musnah, kemunculanya kembali sebagai gerakan yang hendak mendirikan Negara Islam di masa Orde Baru Indonesia membuktikan bahwa riwayat DI belumlah berakhir. ***

Page 62

Bagian 14 - Serpihan Darul Islam
SERPIHAN DARUL ISLAM SETELAH Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Proklamator Negara Islam Indonesia tiada, imam NII dipegang Kahar Muzakkar sampai tahun 1965. Kemudian dilanjutkan Daud Beureuh atau Tengku Muhammad Daud Beureueh hingga tahun 1980. Akan tetapi, setelah para tokoh utama meninggal dunia dan pimpinan beralih ke angkatan berikutnya, mulailah terjadi perselisihan pendapat dan paham tentang siapakah yang berhak dan pantas melanjutkan tugas sebagai pemimpin Negara Islam Indonesia, DI-TII. Sekitar tahun 1978-1979, Darul Islam pecah ke dalam dua kubu. Pertama, kubu Jamaah Fillah, diketuai oleh Djadja Sujadi. Kedua, Jamaah Sabilillah, dipimpin oleh Adah Djaelani Tirtapradja. Kedua tokoh ini merupakan petinggi militer TII, sebagai Anggota Komandemen Tertinggi (AKT) yang diangkat langsung oleh Kartosoewirjo. Karena "tidak boleh ada dua Imam", Djadja Sujadi dibunuh oleh Adah Djaelani. Adah Djaelani dimasukkan ke penjara pada tahun 1980 dan perpecahan dalam Jamaah Sabilillah tak dapat dicegah. Darul Islam terburai menjadi beberapa kelompok dengan ketuanya masing-masing. Celakanya, pimpinan kelompok yang satu dengan lainnya saling membatalkan dan saling tidak mengakuinya. Di antara buraian itu, ada satu kelompok yang dipimpin oleh Abdullah Sungkar dan mempunyai pengaruh luas. Basis kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, terutama Solo dan Yogyakarta. Kelompok ini menjadikan Pondok Pesantren Ngruki di Solo sebagai basis pengkaderan. jamaahnya, Kemudian ditebar ke berbagai wilayah bila dianggap telah mampu. Banyak kadernya yang sudah tersebar di berbagai wilayah dan berusaha menghidupkan kembali gerakan Darul Islam. Salah satunya ialah yang bergabung dengan Warsidi di Talangsari, Cihideung, Lampung. Kelompok Atjeng Kurnia, wilayahnya meliputi Bogor, Serang, Purwakarta, dan Subang. Sementara Ajengan Masduki membangun kejamaahan di Jakarta dan Lampung. Pembinaan terhadap jamaahnya bukan hanya dalam aqidah, syari 'ah, dan siyasah, melainkan juga dalam bidang militer. Sebagai instruktur diambil dari mereka yang sudah pernah terjun di dalam Perang Mujahidin Afghanistan. Masih ada seorang tokoh tua yang bernama Abdul Fatah Wirananggapati. Tokoh ini, juga punya pengikut yang cukup banyak dan tersebar di berbagai daerah. Wirananggapati bukan hanya seorang tokoh tua, dialah pembuka simpul tersebarnya Darul Islam hingga ke tanah rencong, Aceh, pada masa http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Kartosoewirjo masih ada. Di antara serpihan-serpihan Darul Islam itu, ada seorang tokoh bernama Gaos Taufik yang membangun pengaruhnya di Sumatera. Pengikut Gaos dipersiapkan menjadi jundullah atau tentara Allah di daerah pedalaman Sumatera, kalau-kalau suatu waktu terjadi revolusi di Indonesía. Kelompok ini disebut-sebut mempunyai hubungan erat dengan mujahidin Moro di Filipina dan mujahidin Pattani di Thailand. Tahun 1990-an, terjadi lagi perselisihan paham dalam tubuh Darul Islam. Ketika itu, Adah Jaelani melimpahkan kekuasaannya kepada Abu Toto atau Toto Salam. Menurut beberapa sumber, Toto Salam tidak pernah terdaftar sebagai anggota DI, tetapi selalu memakai nama NII. Dengan segala kemampuannya, ia melanjutkan pewarisan kepemimpinan Darul Islam yang membawahi jamaah sekitar 50.000 orang. Di bawah pengaruhnya, Abu Toto mendirikan Al-Zaytun, sebuah mega proyek Pondok Pesantren, di Desa Mekar Jaya, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat. Mega proyek yang menempati "ribuan" hektare tanah ini, membuat iri beberapa tokoh Darul Islam lainnya. Sejak itu, sesungguhnya sendi-sendi moral perjuangan Darul Islam sudah terpuruk dan meringkuk. Kesatuan perjuangannya tidak lagi mengental, tetapi buyar bersama ambisi pribadi-pribadi. Karena itu, apa yang dikenal rakyat Indonesia tentang Darul Islam di kemudian hari, sesungguhnya ialah Darul Islam produk dari manusia-manusia yang kurang berkualitas. Darul Islam masa kini ialah Darul Islam produk sempalan-sempalan NII yang senantiasa mengklaim dirinya sebagai "pewaris tunggal" penerus Kartosoewirjo. *** ADUL FATAH WIRANANGGAPATI Seorang santri yang ingin jadi tentara. Pemegang amanah KUKT dari SM. Kartosoewirjo, sejak tahun 1949 hingga sekarang. ABDUL Fatah Wirananggapati, menyiratkan seorang tokoh Darul Islam tulen. Sebagai seorang Darul Islam ia mengatakan bahwa hingga kini dirinya belum pernah menyerah. Pria kelahiran Kuningan 1923 ini, kendati telah berusia lanjut, kata-katanya menyiratkan semangat Darul Islam yang tak pernah lelah, apalagi kalah. Semangatnya dibangun di atas kakinya yang tetap tegak, menyangga seonggok tubuhnya yang tinggi ramping, gambaran seorang tokoh yang lebih mementingkan isi kepala dibanding isi perutnya. Oleh sebab itu, ringan tubuhnya masih terlihat dari cara kakinya melangkah dengan cepat, secepat kata-katanya bila berbicara. Cita-citanya untuk menjadi tentara terkabul ketika santri ini bertemu SM Kartosoewirjo di hutan Loyang, Jatibarang, Jawa Barat, tahun 1951. Saat itu, Kartosoewirjo tengah menggalang kekuatan, menyusun barisan untuk meneguhkan berdirinya NII yang belum lama ia proklamirkan. Imam besar Darul Islam itu menjadikan Wirananggapati sebagai seorang Tll berpangkat kolonel. Suatu pangkat yang tak mudah diperoleh, bahkan bagi orang-orang dekat Kartosoewirjo sekalipun. Inilah yang membuat iri hati tokoh DI lainnya, seperti Adah Djaelani dan Haji Abidin atau Ajengan Masduki. Adah Djaelani merupakan seorang pejabat Anggota Komandement Tertinggi (AKT) dan termasuk salah seorang saksi sejarah ketika Kartosoewirjo memproklamasikan berdirinya NII di negeri ini. Kepada Abdul Fatah Wirananggapati, sang Imam tak cuma memberi pangkat kolonel. Kartosoewirjo malah mengangkatnya menjadi pejabat KUKT (Kuasa Usaha Komandement Tertinggi), suatu jabatan yang setara dengan AKT (Anggota Komandemen Tertinggi) atau KSU (Kepala Staf Umum) yang kelak pada situasi tertentu bisa mewakili atau malah menggantikan kedudukan Kartosoewirjo

Page 63

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari sebagai imam NII. Lebih jauh tentang Abdul Fatah Wirananggapati. Berikut petikan wawancaranya. Sebagai pejabat KUKT tugas Bapak sebenarnya apa ? Sebagai penghubung di dalam ataupun di luar negeri. Untuk tugas diplomatik ke luar, saya pikir, lebih dulu harus menata urusan dalam negeri. Percuma kalau dalam negeri belum beres. Oleh sebab itu, saya segera konsolidasi dengan tokoh-tokoh Islam di daerah yang punya semangat sama. Di Aceh ada Tengku Daud Beureueh, seorang pemimpin daerah yang disegani oleh Pemerintah RI, selain oleh kalangannya sendiri. Ke sana saya menemuinya dan menjelaskan bahwa negara Islam telah lahir di Indonesia bernama NII dan telah diproklamasikan oleh Kartosoewirjo, pada 7 Agustus 1949. Apa komentar Tengku Daud Beureueh, ketika itu ? Alhamdulilllah. Sebab sebelum itu Tengku mengatakan mau mengadakan pemberontakan kepada RI. Saya bilang, sekarang kan sudah ada Negara Islam Indonesia, mengapa tidak bergabung saja dengan NII yang sudah diproklamasikan oleh Imam Kartosoewirjo. Kalau Tengku berontak, bughot jadinya. Tapi, kalau Tengku bergabung dengan NII tidak kena hukum bughot. Mendengar pertimbangan itu, Daud Beureueh senang dan langsung menyatakan ingin mendukung. Dia segera dibaiat sebagai Panglima NII Divisi V Cik Di Tiro. Di saat yang hampir bersamaan, Pemerintah RI mengirim beberapa utusan ke Aceh untuk merangkul Tengku Daud Beureueh, tetapi mereka tidak berhasil. Karena tokoh Aceh itu sudah bergabung dengan Negara Islam Indonesia. Alasan Bapak, mengapa ke Aceh dan bukan ke daerah lain ? Karena Aceh sebagai daerah Serambi Mekah, daerah Islam. Untuk kepentingan diplomasi ke Luar Negeri, melalui Aceh lebih dekat atau malah lebih mudah. Setidaknya, bila ingin, misalnya ke Malaka, Penang, Trenggano, Johor, atau ke Negeri Sembilan Malaysia, akan lebih efektif. Aceh menjadi prioritas, karena saat itu Tengku Daud sudah siap-siap hendak bughot-menyerang Pemerintah RI. Untung belum terjadi sehingga bisa diajak ke NII. Setelah itu Bapak ke mana ? Kembali ke Jakarta. Saya mau pulang sendiri, tetapi tidak boleh. "Panglima harus dikawal dan diantar", kata Tengku. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta itu saya diantar oleh Mayor Ilyas Lebai atas perintah Tengku Daud. Saya dibawa ke rumah Hasan Gayo di Mangga Besar II, Jakarta. Hasan Gayo ini ternyata mata-mata RI dan diam-diam melaporkan, sehingga saya ditangkap. Siang malam saya diperiksa dan didakwa melakukan kejahatan politik. Seluruh dokumen disita, dijadikan bukti. Akhimya, saya dibuang ke Nusakambangan hingga 1962. Siapa saja dari kalangan DI yang menyerah ? Semua pasukan DI pendukung Pak Karto, termasuk Adah Djaelani itu. Setelah Pak Karto tertangkap, keadaan memang berubah dan menjadi kacau. Saya juga disuruh menyerah, tetapi saya tidak mau. Akhirnya, saya dikucilkan oleh mereka. Jadi, ketika Ali Murtopo membagi-bagi kue Orde Baru untuk membungkam orang-orang DI, saya tidak diajak serta. Dan, akhirnya orang-orang DI yang menyerahkan diri itu umumnya kaya. Malah termasuk Adah Djaelani, punya perusahan dan apartemen besar di Jakarta. Setelah keluar dari Nusakambangan, kegiatan Bapak apa ? Saya kembali ke masyarakat dan menjadi guru ngaji. Lain dengan mereka, umpamanya Danu, Ateng, H. Abidin, dan lain-lain lagi, mereka rata-rata menjadi pengusaha. Menurut saya DI harus diperjuangkan dengan mempertajam ilmu pengetahuan dan mempertinggi akhlak. Oleh karena itu, saya lebih memilih jadi guru ngaji. Karena dengan cara inilah, kader-kader baru DI bisa menjadi berkualitas di masa depan. Bagaimana dengan tokoh muda DI sekarang ? Mereka orang-orang yang semangatnya tinggi, hanya saja akhlaknya mesti http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 64

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari dijaga, masih payah. Contohnya, Nurhidayat. Kalau dia bisa menjaga akhlaknya, mungkin dia bisa menjadi kader yang baik. Nurhidayat itu harus bertobat. Lihatlah, dia itu di mana-mana membuat susah orang, karena ulahnya membuat gerakan di Lampung 1989 itu. Saya sudah melarang supaya tidak membuat gerakan di Lampung, tapi dia nekat. Akhirnya banyak orang dibuat menderita, terutama orang-orang yang dia datangi di Bandung. Mereka itu binaan saya dan semuanya ditangkap. Mengapa Bapak melarang kelompok Nurhidayat ke Lampung ? Mereka ke Lampung itu harus punya alasan dan aturan yang jelas. Di Lampung itu mau apa? Untuk apa membuat gerakan di sana? Pemimpinnya siapa. Saya pun tidak mengenalnya. Kalau untuk dakwah seharusnya mereka mempertinggi akidah dan keilmuan, bukan mempersiapkan diri untuk gerakan perang seperti itu. Dalang kerusuhan Lampung itu Nurhidayat yang menghasut Warsidi. Jadi, Nurhidayat itu anak durhaka yang ambisius. Karena geger Talangsari itu, saya ikut terseret masuk bui lagi dengan tuduhan sebagai tokoh DI di balik Nurhidayat. Bapak bangga jadi tokoh NII ? Tentu saja sebab NII tidak hanya milik DI, tetapi milik semua kita orang Islam. Lihatlah naskah proklamasinya. Di sana ada Syahadat, Basmalah, dan Hamdalah. Itu kan milik semua orang Islam. Masalah negara bagi saya bukan soal nama, tetapi masalah Daulah. Daulah Islam dan berlaku tegaknya hukum Islam. Itu saja. Siapa sesungguhnya yang paling berhak menggantikan Kartosoewirjo ? Sebenarnya sudah ada undang-undang dan Anggaran Dasar NII. Bila Imam berhalangan, maka calon penggantinya haruslah orang yang cakap dan purbawasesa. Mereka diambil dari AKT, KSU, dan KUKT. Di antara mereka diambil yang tertua. Menurut saya Adah Djaelani cocok. Tapi, Adah sudah menyerah. Oleh karena itu, maka harus diserahkan kepada yang belum menyerah. Kiai Masduki juga cocok, karena diajuga tokoh tua. Apalagi dia hafal Alquran, tetapi akhlaknya kurang baik untuk ukuran seorang imam. Contohnya, di depan orang lain dia menyatakan Abdul Fatah Wirananggapati paling cocok menjadi imam, tetapi di belakang, dia menyusun kekuatan sendiri. Itu kan namanya kurang baik dan tidak benar. Akhirnya terbukti, di antara mereka ada konflik dan pecah menjadi tiga kelompok. Adah Djaelani berkelompok dengan Toto Abu Salam. Tachmid dengan Mia Ibrahim, sedangkan Ajengan Masduki dengan Gaos Taufik. Gaos, katanya berbaiat dengan Daud Beureuh. Berapa kira-kira jumlah anggota atau pendukung NII sekarang ? Saya tidak tahu, tapi pendukung secara ideologis, saya kira sekarang ini meliputi hampir semua orang Islam. Mereka menunggu tegaknya Darul Islam. Sesungguhnya masih banyak, seperti Suryanegara Mansyur. Dia itu kan orang NII, kalau tidak mau dibilang tokoh NII. *** ABDULLAH SUNGKAR Kiai Abdullah Sungkar, mempunyai ciri khas yang hingga kini masih melekat di ubun-ubun bekas para santri dan pengikutnya. la pantang mengatakan benar, bila apa yang dilihatnya salah. Pemerintahan Soeharto, acap kali dibuat kalang kabut dengan pernyataan-pernyataannya yang dinilai banyak kalangan, terlalu keras dan ekstrem. SUATU hari, subuh. Di mesjid kecil, sisi Timur kompleks Kusumoyudan, kampus Universitas Tjokroaminoto, Jl. Asrama No.22, Surakarta, seorang ustad berapi-api, menghangatkan suasana subuh yang hanya dihadiri tak lebih 8 orang. "Memang dimulai dari sedikit, lama-lama akan menjadi banyak," kata sang ustad, menggembirakan pengurus mesjid yang berkali-kali minta maaf atas

Page 65

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari sepinya peserta kuliah subuh itu. Pada kali yang lain, bersama istri dan anaknya, sang ustad pagi-pagi sudah sampai di panti anak-anak tuna netra. Ke sana, sang ustad membawa lontong untuk dimakan bersama-sama dengan penderita tuna netra itu, sambil mendengarkan ceramah yang juga disampaikannya dengan berapi-api. Entah sudah berapa kali, ustad ini tetap menyalakan api khotbahnya pada keadaan apa pun, sepi atau ramai, dilihat orang atau tidak. Dialah K.H. Abdullah Sungkar, tokoh NII yang mempunyai perawakan tegap, berkulit putih, bersih. Kata-katanya selalu memompakan semangat yang tak mengenal aroma basa-basi dalam setiap hujah ceramahnya. Ceramah-ceramah Abdullah Sungkar dinilai banyak kalangan bernada keras dan membahayakan. la tak pernah ragu mengkritik pemerintah di saat banyak orang tak lagi berani bersuara. Bagi Sungkar, berkata benar adalah keniscayaan, sekalipun harus dibayarnya dengan sering keluar masuk tahanan. Itu sebabnya setiap berkhotbah, tak hanya pengikutnya yang hadir tetapi para intel gelap juga tak pernah ketinggalan. Karena itu, nama Abdullah Sungkar senantiasa tercatat paling atas sebagai tokoh ekstrem kanan yang harus diberangus dan diringkus. Tak aneh bila ia tiba-tiba menghilang dan berkucing-kucingan dengan aparat. Bersama Abu Bakar Ba'syir, ia mendirikan Pesantren Al-Mukimin di Solo Selatan, pada awal 1973. Pesantren ini dilengkapi dengan pendidikan sekolah umum dan sebuah studio Radio Dakwah Islam (Radis). Pesantrennya maju pesat, begitu juga dengan radionya. Inilah pesantren Ngruki yang pernah berjaya di tengah sempitnya Abdullah Sungkar memperjuangkan keyakinannya. Pada suatu hari, ketika rencana penangkapan Abdullah Sungkar dilakukan di Pesantren Ngruki. Sejumlah petugas sudah berjaga-jaga di sekeliling pondok. Sebagian lain memasuki pondok untuk menggerebek dan menangkap Kiai Sungkar. Konon, dengan mengenakan kain.sarung dan dibonceng sepeda motor, Abdullah Sungkar keluar melalui pintu gerbang pondok yang dijaga ketat petugas keamanan. la keluar Pondok Ngruki, kemudian dengan naik bus langsung ke Jakarta. Itulah hari terakhimya di Surakarta, hari terakhir di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki yang dibangunnya. Suatu pelarian yang fantastis. Di sebuah tempat di Malaysia, ia bercerita kepada penulis bahwa di saku kemejanya hanya ada uang Rp 10.000,00. Dengan bekal Rp 10.000,00 itulah ia berangkat ke Jakarta, kemudian ke Pakanbaru (Riau) dan menyeberang hingga ke Malaysia. Ada juga versi cerita yang lain. Sebelum ke Malaysia, Abdullah Sungkar disembunyikan oleh "Kelompok Condet", yaitu kelompok pengajian yang dibinanya atau yang berada di bawah pengaruhnya. Mereka adalah kader-kader muda pelanjut estafet perjuangan Negara Islam Indonesia. Tokoh-tokohnya, antara lain Aus Hidayat, Ibnu Thoyyib, Haryono, Dodi Achmad Busubul, Mukhliansyah, dan Nurhidayat. Nama terakhir ini pada tahun 1988 disetujui sebagai "Imam Musafir" yang berencana membangun poros Jakarta-Cihideung, Talangsari. Teman-teman Imam Musafir itu, antara lain Sudarsono, Fauzi Isnan, Sukardi, Maulana Latif, Alex, dan Joko yang kesemuanya berhubungan kerja untuk membangun "basis perjuangan" di atas konsep "perkampungan Islam" Warsidi di Cihideung, Talangsari, Lampung. Di Malaysia, Abdullah Sungkar mula-mula memilih tempat persembunyian yang jauh dari kota besar. Nyaris di pedalaman dan tidak banyak yang tahu. la kemudian http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 66

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari disusul oleh 'sahabatnya' pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin, yaitu Abu Bakar Ba'asyir, sama-sama menyembunyikan diri di antara petani di pedalaman Malaysia itu. Tidaklah gampang mencari jejak para pelarian politik yang bersembunyi di negara asing. Di negara itu, mereka mendapat perlindungan penuh dari pemerintah setempat. Begitu juga dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Tetapi, melalui jasa-jasa baik A.Halim Abbas dan Helmi Al-Mascaty dari Jamaah Al-Arqam Malaysia, kedua orang Islam yang bersembunyi itu berhasil ditemukan penulis. Kami berangkat dengan sebuah mobil mewah berwarna hitam, dari Kuala Lumpur menuju ke Negeri. Sembilan. Melewati hutan lebat dan sejumlah perkampungan, sampailah kami di sebuah gubuk di tepi jalan kecil. Menjelang magrib ketika itu ada dua orang lelaki dengan jenggot dan kumis serta cambang yang sudah memutih, mendorong gerobak kecil berisi sejumlah alat pertanian ada dalam gerobak itu. Tak salah lagi, merekalah dua tokoh 'Ngruki' yang kami cari-cari itu. Abdullah Sungkar langsung menyampaikan kritiknya dengan menunjukkan ayat-ayat Alquran yang siap dibukanya seketika itu juga. "Saya hanya minta satu kepada pemerintah. Tolong berikan saya tempat, satu pulau kecil saja. Saya akan membina pemukiman Islam dan insya Allah akan menjadi contoh seperti apa Islam yang benar itu," katanya. la masih belum percaya ketika dikatakan bahwa pemerintah sudah 'berubah'. Semua tahanan ekstrem kiri dan kanan sudah dibebaskan oleh Pemerintah Habibie. la tetap tidak percaya. Beberapa hari dari pertemuan itu, kedua orang tersebut bergegas ke Airport. Masing-masing dengan kopornya. Mereka menyempatkan diri berfoto ria sebelum terbang menuju Arab Saudi. Sejak itulah nama Abdullah Sungkar tak lagi banyak disebut orang. Pada awal tahun 2000, Sungkar diam-diam kembali ke Indonesia. Baru beberapa bulan tinggal di Bogor, Jawa Barat, ia menderita sakit dan meninggal dunia. Inna Lillahi wa inna Ilaihi raji'un. ***

Page 67

Bagian 15 - Ngruki dan Talangsari
NGRUKI DAN TALANGSARI BAGI kebanyakan orang luar kota Surakarta atau kota Solo, Jawa Tengah, tentu tak mudah menyebut kata Ngruki. Apalagi nama itu tak menggambarkan sebuah pengertian apa pun. Padahal, di desa itulah sebuah kelompok pengajian Usroh Ngruki dan sebuah pondok pesantren yang bemama Al-Mukrnin, berdomisili. Dari sana sejumlah kader Islam dicetak dan dibentuk. Para penegak sunnah Rasul itulah yang kelak kemudian ditebar ke sejumlah tempat. Salah satunya ialah yang bergabung menjadi kelompok Warsidi di Cihideulig, Talangsari III, Way Jepara, Lampung Tengah. Pondok Pesantren Al-Mukmin didirikan sekitar 1973 oleh Abdullah Sungkar bersama Abu Bakar Ba' asy, dua orang ulama di kawasan Jawa Tengah. Pada awalnya menempati sebuah lokasi mesjid di Jalan Sukohardjo, sisi Selatan kota Surakarta. Selain pondok pesantren, .di sana juga dihidupkan sebuah stasiun radio bemama Radis (Radio Dakwah Islam). Satu-satunya radio non komersial, bersaing di puluhan radio swasta niaga ketika itu,. seperti Radio

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari ABC, Rama, PTPN, Panca, dan sejumlah radio swasta niaga lainnya. Meskipun non-niaga, Radis mampu menghidupi dirinya sendiri mela1ui sumbangan sejumlah donatur dan menyedot sejumlah pendengar setia, bahkan fanatik. Radio ini hanya menyiarkan dakwah Islam semata-mata, baik melalui pelajaran-pelajaral1 agamaIslam maupun siaran langsung untuk mendengarkan ceramah-ceramah Abdullah Sungkar di berbagai tempat pengajian. Pada waktli-waktu tertentu, siaran Radio diselingi dengan lagu-lagu kasidah dan lagu-lagu melayu. Radio ini tetap berdiri meski tanpa iklan. Selain tidak menerima penyiar putri, semua petugas Radio Radis harus meJlgikuti pengajian malam yang diasuh oleh dua tokoh pimpinan pondok tersebut. Inti pengajian, ialah membahas pengertian Islam, aturan.aturannya, sejarahnya, dan yang paling utama ialah bagaimana menjalankan perintah Islam berdasarajaran Rasulullah. Dalam ha1 mengajar, kedua tokoh tersebut masih dibantu oleh sejumlah ulama, seperti Kiai Hasan Basri, Amir S.H., Abdullah Thofel, dan kiai-kiai kota Surakarta lainnya. Pengajian Ngruki inilah yang kemudian dikenal sebagai kelompok Pengajian Usroh (penga.jian keluarga), yang bermasalah baik bagi pemerintah maupun bagi pengikut Sungkar pada umumnya. Anehnya kelompok pengajian ini berkembang pesat, bebas, dan tak terbatas. Bahkan, perkembangannya demikian cepat hingga dikenal ke mana-mana. Karena berkernbang dernikian pesat, lokasi yang sernula lapang seakan tampak menyempit. Oleh karena itu, lokasi dipindahkan ke suatu tempat yang lebih luas. Apalagi dari hari ke bari pengikut pengajian dan juga para santri bertambah terus memenuhi Pondok Pesantren AI-Mukrnin. Sekitar awal 1974, lokasi dipindah ke Ngruki. Ngruki adalah nama dusun di kelurahan Tipes, tidak jauh dari terminal bus dalam kota Surakarta di belahan selatan. Sejak pindah ke lokasi inilah, radio Radis dan kelompok Sungkar mulai disantroni penguasa setempat. Pernerintah mehilai Sungkar terlalu keras dalam menyampaikan ceramah dan ajaran-ajarannya kepada para pengikutnya. Agaknya, pemerintah tak mau, menanggung risiko apalagi bereksperimen terhadap ulama yang telah mempunyai banyak pengikut ini. Langkah Sungkar kemudian dihalangi hingga tersandung-sandung. Terakhir, malah ia akan diringkus. Sungkar tak rnau berisiko. Dia segera rnengarnbil langkah seribu, menghilang. ke negeri seberang Malaysia adalah negeri yang ditujunya. Setelah sang kiai menghilang, bukan hanya para pendiri melainkan pondok itu sendiri selalu dalam baying bayang ketakutan. Pernerintah mernberi warna tersendiri terhadap Pondok Pesantren AI-Mukmin sebagai salah satu tempat untuk mencetak kader-kader ekstrern yang sangat membahayakan negara. Di sana tidak hanya mendidik orang-orang mengenal Tuhannya, tetapi juga mendidik orang agar mengenal politik. Ideologi negara dipertandingkan dengan ideologi agama. Padahal, jumlah para santri dan anggota pengajian Usroh Ngruki semakin banyak. Tak cuma lokal, tetapi juga berasal dari berbagai penjuru. Umumnya mereka belum mengetahui bahwa ada berbagai rintangan yang telah menghadang perjalanan Al-Mukmin maupun pengajian Usroh itu. Justru mereka semakin terpukau dan tertarik dengan ajaran-ajaran yang diberikan. Keberadaan mereka akhirnya tak nyaman lagi, karena seringnya pondok digerebek oleh aparat secara tiba-tiba. Pimpinan pondok pun mulai silih berganti. Pernah dijabat Amir S.H., Farid Ma'ruf, dan terus ganti berganti. Jumlah santri lebih dari 5.000-an dengan sistem pendidikan sekolah umum dan sekolah agama Islam. Pada saat-saat seperti itu Abu Bakar Ba'syir ikut menghilang, dan ternyata ia telah menyusul seniornya, Abdullah Sungkar, ke Malaysia. Pondok Ngruki menjadi muram setelah beberapa pemimpinnya hilang. Hasan Basri meninggal, meskipun kegiatan pengajian dan pondok pesantren Al-Mukmin Ngruki tetap berlangsung http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 68

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari seperti tak pernah ada masalah. Para santri dari Ngruki banyak yang hijrah ke berbagai tempat. Sebagian mendirikan pondok pesantren sendiri, yang lain bergabung menjadi tenaga pengajar pada pesantren yang sudah ada. Secara resmi kegiatan pengajian dibubarkan. Para pengikutnya diamankan atau ditangkap oleh yang benvajib. Tak semua tertangkap, yang berhasil lolos kemudian lari menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka menuju Lampung, setelah mengetahui bahwa di Lampung masih ada tempat untuk bergabung. Mereka berkumpul kembali menyambung tali Usroh. Dari sinilah awal kisah Geger Talangsari, Lampung, dimulai. Pada avvalnya hanya beberapa saja yang datang ke Talangsari, untuk bergabung dengan Warsidi yang hendak menjadikan Cihideung sebagai "perkampungan Islam". Setelah dianggap aman, mereka secara berangsur memboyong keluarganya hijrah ke tanah harapan baru itu. Di sana mereka bertemu, antara lain dengan kelompok NII Lampung yang tengah bingung. Juga bertemu dengan kelompok Jakarta yang sedang linglung, mencari tempat untuk "basis perjuangannya. Talangsari, ternyata tak cuma menarik bagi kelompok Ngruki dan kelompok Lampung yang sama-sama bingung. Kelompok Jakarta yang dimotori oleh Nurhidayat, Achmad Fauzi, Wahidin, dan Sudarsono ternyata juga bernafsu mengangkanginya. Dua kelompok (Ngruki dan Lampung) itulah yang akhirnya terprovokasi oleh kelompok Jakarta untuk membangun basis perjuangannya, melanjutkan cita-cita Negara Islam Indonesia yang belum selesai. Suatu cita-cita yang kandas, karena ambisi perjuangannya dilakukan dengan kekerasan, mendapat reaksi yang juga keras dari masyarakat Talangsari III dan Pakuan Aji, yang didukung pemerintah bersama alat negara setempat. Satu cita-cita yang dikemas mengatasnamakan Islam, sekilas tampak ideal di negeri yang mayoritas muslim ini. Perjuangan atas nama Islam ialah perjuangan agama. Kejayaan agama tak pernah mengenal tajamnya pedang. Madinatun Naby ditegakkan Rasulullah hanya dengan jalan menajamkan akhlakul karim. ***

Page 69

Bagian 16 - Di Balik Bayang-bayang Warsidi
DIBALIK BAYANG-BAYANG WARSIDI WARSIDI tidak sendiri, karena tidak ada kehidupan dalam kesendirian. Manusia butuh pengakuan. Semakin banyak yang mengakui, semakin kukuh keberadaannya. Warsidi pun demikian. la menjadi ada dan dikenal, karena ada orang-orang yang menjadikannya dikenal. Padahal, kehidupan petani kecil dan buruh karet ini jauh dari kemungkinan bisa diakui apalagi dikenal oleh banyak kalangan. Sebagai pemimpin kelompok yang mengatasnamakan pengajian, sesungguhnya dia lebih ditokohkan oleh pengikutnya untuk menjadi tokoh spiritual daripada mengajar ngaji, sebagaimana lazimnya proses belajar-mengajar di dunia pengajian. Menurut penuturan sebagian pengikutnya, tokoh ini kurang menguasai banyak hal, terutama soal baca dan tulis ilmu Alquran. Oleh karena itu, jangan pernah berharap banyak darinya untuk bisa menjelaskan kandungan Alquran-Hadis berdasar kajian kitab. Warsidi lebih tepat menjadi simbol pemersatu bagi kelompoknya dibanding sebagai tokoh intelektual yang mempunyai gagasan besar, misalnya bercita-cita membangun Islamic Village sebagai basis perjuangan Islam. Siapa arsitek yang menjadikan Warsidi sehingga ia menjadi tokoh penting di http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari kawasan Cihideung itu? Lalu bagaimana reaksi mereka terhadap aksi Warsidi yang kemudian bermas.a1ah? Berikut'ini sekilas tokoh-tokoh di balik bayang-bayang Warsidi. *** USMAN Tokoh misterius tulen yang berhasil menjadikan Warsidi sebagai boneka Cihideung. Anehnya, setiap langkah Insinyur Cihideung ini selalu mengundang persoalan dan mendatangkan masalah. Mengapa? Warsidi berubah total sejak Ir. Usman menetap di pondoknya. Padahal, sebelumnya pondok Cihideung itu sepi dan biasa-biasa saja. Usman, tokoh yang masih belum jelas asal usulnya ini, mampu mewarnai pondok dan menghidupkanya, tidak sekadar sebagai tempat ngaji, tetapi juga tempat caci maki, lampiasan rasa benci terutama kepada yang tidak sepaham dengannya. Tak perduli kiai, pemerintah, atau siapa saja yang tidak mendukungnya, ia jadikan musuh untuk diperangi. Itu sebabnya mengapa mulutnya tak pemah ragu menyemburkan kata-kata kafir, zalim, thogut, dan lain sebagainya kepada "musuh-musuh" nya itu. Sebelum bergabung dengan Warsidi, pria kelahiran Semarang 13 September 1960 ini menjadi guru di Pondok Pesantren Al Islam, sekitar 1 km arah utara, dari pondok Warsidi. Al Islam hanyalah pesantren kecil, milik Kiai Junaedi yang belum lama ia singgahi. Usman kabamya termasuk seorang yang pandai bicara dan pintar menarik perhatian orang. Tetapi, karena jiwanya yang tak pernah tentram, Usman kerap bentrok dan bertikai dengan Kiai Junaedi sehingga ia diusir. Usman meninggalkan pesantren, tetapi tak sendiri. Sepuluh anak santri Al Islam diboyong serta ke tempat Warsidi di Talangsari. Sejak itulah suasana pondok semakin hidup. Khotbah-khotbahnya juga semakin mempunyai nilai. Sayang, nilai yang dilontarkan dalam khotbahnya membangkitkan kebencian dan permusuhan. Usman terang-terangan mengejek Pancasila. la melarang jamaah membayar pajak atau iuran desa, menghormat bendera merah-putih dianggapnya kafir, menjadi pegawai negeri pun haram. Keberadaan Usman sangat mempengaruhi pola pikir dan cara pandang Warsidi. la dijadikan pembina utama bagi jamaah Cihideung. Usman, bagi jamaah Cihideung, merupakan tokoh intelektual bergelar insinyur. Oleh karena itu, bom molotov Talangsari disebut-sebut hasil rekaan insinyur ini. Bom malotov ini dipakai kelompok Warsidi ketika bentrok dengan rakyat dan alat negara. Begitu pun ketika mengadakan teror di sejumlah tempat, bom molotov juga digunakan. Bom tersebut dibuat dari botol kosong yang diisi serbuk gergaji dan bensin, serta dilengkapi sumbu penyulut. Benda ini efektif digunakan untuk menimbulkan kebakaran pada sasaran dekat. Usman diperkirakan sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab setelah Warsidi dan diduga tewas bersama jamaah ketika terjadi bentrokan. Sebelum di Cihideung, Usman disebut-sebut sebagai aktivis anti pemerintah. la banyak berceramah di berbagai tempat, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada jamaah Usroh. Tersebutlah pada April 1985, lelaki ini divonis Pengadilan Negeri Sleman Yogyakarta 1 tahun penjara atas dakwaan menghina Soeharto, yang dilakukan di Temanggung, Sleman, Klaten, dan Magelang. Sejak itu namanya hilang dan baru muncul setelah terjadi Geger Talangsari. Tidak banyak yang tahu, apakah melalui Usman gerakan Warsidi membuka komunikasi dan jaringan dengan tokoh-tokoh di luar Lampung. Hanya setelah Usman bergabung, para pendatang dari Jakarta dan Pulau Jawa lainnya banyak http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 70

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari hijrah ke markas Warsidi di Cihideung. *** NURHIDAYAT Pernah menjadi pegawai bea cukai. la juga dikenal sebagai seorang karateka, tetapi memilih hídup sebagai avonturir. Drama penangkapan tokoh unik ini cukup seru. Ketika peristiwa Cihideung meletus, Nurhidayat baru berusia sekitar 30 tahun. la lahir di Jakarta tanggal 26 Maret 1959, anak kedua dari 4 bersaudara, pasangan Abdul Muthalib dan Ning Suhami. Masa kecilnya tidak begitu mengembirakan. Ayahnya kena sanering dan melego seluruh harta miliknya. Nur kecil ikut ibunya hijrah ke Cilimus, Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Sementara itu, ayahnya seorang purnawirawan ABRI, tetap di Jakarta, mengais nafkah dengan membuka bengkel di Tanah Abang. Bertubuh kurus dan kerempeng dan jauh dari ideal, begitu kondisinya. Nurhidayat kecil sering sakit-sakitan, sehingga senantiasa tampak sebagai anak yang lemah. Selisih umur 17 tahun dari kakak-kakaknya menyebabkan ia menjadi tumpahan kasih sayang. Akibatnya, bocah sakit-sakitan ini menjadi manja, cengeng, cepat putus asa dan penuh ketergantungan. Menginjak remaja, menjadi pemalu, rendah diri, dan penakut. Di kalangan kawan-kawannya di SMP dan SMA Cirebon, Nur remaja menjadi bahan olok-olokan dan sasaran godaan. Oleh karena itu, bocah kolokan ini, ketika mengenal olahraga karate, tumbuh semangatnya untuk bisa menutupi segala kekurangannya melalui olahraga. la berlatih beladiri secara sungguh-sungguh. Setelah SMA, ketika kembali ke Jakarta, ia mengikuti kakaknya seorang perwira menengah polisi, yang kemudian membimbingnya sehingga ia tumbuh menjadi karateka tangguh. Dunia karate mulai menjanjikan masa depan. Gelar juara karate se Jakarta Selatan diraihnya. Dan karirnya di kelas 60 kg mengantarkannya menjadi karyawan bea cukai (1980). la bertugas di Tanjungbalai Karimun. Sayangnya, di tempat tugas yang sepi itu Nur berkenalan dengan minuman keras dan obat-obatan. Teler dan bolos kerja menjadi kebiasaan barunya. Sejak itu, prestasinya mulai ambruk. Pikirannya jadi melantur. Kemiskinan akibat sanering, penggusuran bengkel ayahnya, kekalahan-kekalahannya, semuanya berakumulasi, membuatnya frustasi dan merasa diperlakukan tidak adil. Masih untung Nur melarikan diri ke agama, hingga menjadikan agama sebagai suatu kesenangan baru baginya. Sudah banyak ustad ia datangi, termasuk banyak pengajian yang ia ikuti. la berkesimpulan bahwa keadilan dan hukum Islam harus ditegakkan. Akhirnya, pekerjaan di bea cukai ia lepas, begitu pula status pegawai negerinya. Nurhidayat kemudian lebih memilih menjadi pedagang. Suatu pekerjaan yang ia nilai lebih terhormat daripada harus menjadi pegawai negeri yang ia pahami sebagai pekerjaan orang-orang kafir. Nurhidayat bersama teman-temannya kemudian mendirikan kelompok pengajian. Sejumlah anak-anak muda, termasuk Sudarsono dan Fauzi pun ikut bergabung dan saling mendukung. Dalam struktur organisasi yang lebih luas, Nurhidayat masuk dalam saf Ali, bahkan sebagai Amir Musafir atau Amir Perjalanan yang fungsinya memimpin perjalanan jamaah dari berbagai daerah, hijrah ke http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 71

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Cihideung. Kelompok pengajian ini, secara intens membina kader-kadernya menjadi militan melalui beberapa tahapan doktrin yang intinya membenci pemerintah Orde Baru. Lantas ada pula tahapan berpuasa selang-seling selama 40 hari, membaca wirid secara intensif, serta salat tengah malam berjamaah. Mereka yang dinilai berhasil kemudian dikirim ke Lampung untuk bergabung dengan Warsidi, membangun basis perjuangan di Cihideung. Setelah terjadi Geger Talangsari, Nurhidayat ditangkap aparat dalam suatu penggerebekan di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, akhir Februari 1989. Ketika itu, ia bersama rekan-rekannya bersembunyi di sebuah rumah kontrakan milik Haji Armad. Nurhidayat berupaya kabur melalui atap genting. Aparat tak mudah dikadali dan drama penangkapan Nurhidayat berakhir di atas genting. Kepada petugas ia mengaku bernama Abdullah, meskipun akhirnya ia mengatakan nama yang sebenamya, Nurhidayat. Dari rumah kontrakan itu petugas menyita satu ember anak panah beracun dan seperangkat busur sebagai alat pelontarnya. Sejumlah bom molotov dan bahan-bahan kimia serta peta-peta lokasi beberapa tempat di daerah juga turut disita. *** SUDARSONO Termasuk salah seorang yang paling banyak disebut, terutama bila orang berbicara tentang Talangsari dan Warsidi. Meskipun tak pernah menetap apalagi tinggal di Talangsari, pria bertubuh tegap ini mempunyai peran penting bagi perjuangan hidup Warsidi. Dialah yang memberi inspirasi munculnya panah beracun, sekaligus ikut mengontrol kegiatan jamaah di Talangsari, Lampung. Sudarsono lahir di Belawan, Deli Serdang, Sumatera Utara, 21 April 1963. Ayahnya seorang TNI berpangkat Sersan Mayor. Meskipun lahir di Sumatera, Darsono lebih senang menyebut dirinya asli Jawa Timur. Aktivitas organisasinya diavvali dari Mesjid Al Falah di Surabaya, sebagai pengurus BKPMI (Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia). Tamat SLA, ia hijrah ke Jakarta (1983), kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Wiraswasta As Syafi'iyah (STWA) dan Universitas Terbuka. Darsono tak meneruskan studinya karena berbagai alasan. Terutama setelah STWA dilebur ke dalam Universitas Islam As Syafi'iyah. la kemudian bergabung dan aktif di LSP (Lembaga Studi Pembangunan), LSM pimpinan Adi Sasono. Selain itu, Sudarsono juga aktif dalam kelompok pengajian kampus bemama Farmi (Forum antar mahasiswa Islam). Dari kegiatan pengajian inilah, Darsono bertemu dengan Nurhidayat, Fauzi, dan beberapa lainnya untuk membentuk suatu wadah Tril kelak dikenal sebagai "kelompok kecil" di Jakarta. Kelompok inilah yang berhubungan langsung dengan kegiatan Warsidi di Talangsari. Dari kelompok ini pula lahir gagasan mendirikan perkampungan muslim, sebagai basis perjuangan tegaknya Darul Islam di Indonesia. Darsono memilih Talangsari sebagai pusat kegiatan, antara lain karena lokasinya dipandang strategis dan mudah ditempuh dari segala arah, termasuk dari Jakarta. Lebih dari itu, tokoh Warsidi, dianggap sebagai sosok yang mempunyai potensi. la dianggap bisa mewujudkan Islamic Village yang ia gagas. Bagi Darsono, peristiwa ini sangat menyedihkan karena telah menghancurkan cita-citanya itu. Darsono pun menjadi buronan. la pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, menyelamatkan diri dari kejaran aparat. Akhirnya Darsono tertangkap setelah Marfaid Harahap, sahabatnya sendiri, menjebaknya dan melaporkannya kepada aparat.

Page 72

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari

Page 73

Bersamaan dengan itu, beberapa temannya juga tertangkap. Sukardi kena tembak kakinya. Heriyanto, Ridwan, Maulana, Dede Syaifuddin serta Abdullah Fatah Qosim, juga kena ciduk. *** AHMAD FAUZI ISNAN Kisah hidupnya unik. Lahirdari keluarga militer, namun tak membekas sedikit pun kesantunannya terhadap militer. la malah membuka front, membentuk kekuatan untuk mengadili Militer. Ada apa ? Ketika peristiwa Cihideung meletup, ia baru berusia 22 tahun. Namun perannya dalam kelompok Warsidi cukup penting. Bersama Nurhidayat, Sudarsono, dan Wahidin, ia termasuk pemrakarsa pembentukan perkampungan jamaah di Cihideung yang diwarnai perlawanan kepada pemerintah. Fauzi sebetulnya berasal dari keluarga yang sejak lama tinggal di Lampung. Masa kecilnya ia lewatkan di suatu kompleks militer, tempat ayahnya bertugas sebagai anggota TNI AD. Dia lahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Di kompleks GATAM (Garuda Hitam) Lampung itulah, Fauzi dibesarkan. Masa kecil Fauzi sudah mengenal ajaran-ajaran Islam, termasuk membaca Al Quran dan menulis bahasa Arab. Hal ini karena lingkungan keluarganya memang dekat dengan agama. Orang tuanya mendorong ia dan saudaranya yang lain untuk dekat dengan agama. Setelah menamatkan SMP-nya pada tahun 1982, Fauzi melanj utkan ke salah satu SMA di Tanjungkarang. Tapi, tahun kedua ia keluar dari sekolah itu. Fauzi kemudian pindah ke Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, hingga lulus tingkat Aliyah. Kemudian ia pindah ke Jakarta dan diterima bekerja di Biro Pusat Statistik (BPS). Di BPS, mendapat ikatan dinas di Akademi Ilmu Statistik (AIS), dan lulus 1988. Namun, setelah lulus, Fauzi justru tak pernah masuk kantor. Dia lebih memilih mengikuti pengajian-pengajian. Di sinilah ia berkenalan dengan Sudarsono dan Nurhidayat. Mereka, melalui pertemuan di Ciloto, Jawa Barat, Maret 1988, membentuk organisasi yang diproyeksikan sebagai basis untuk menegakkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) di Talangsari, Lampung. Kumpulan jamaah ini sempat pecah, kemudian dapat bersatu kembali di bawah pengaruh Wahidin yang mempunyai basis jamaah di Condet, Jakarta Timur. Setelah Darsono memperkenalkannya kepada Warsidi, kabamya Fauzi bersama Nurhidayat menipu puluhan orang untuk dikirim ke Lampung. Orang-orang itulah yang menjadi korban Geger Talangsari yang menghebohkan sampai ke mancanegara 1989 lalu. Kini, Fauzi mempunyai versi sendiri tentang peristiwa di Cihideung. Menurut Fauzi, kejadian di Cihideung Talangsari bermula dari kelompok Usroh (kelompok pengajian) yang berencana membuat perkampungan Islam, setelah terpecah-pecah. Saat itu, Warsidi menawarkan sebidang tanah di Cihideung sebagai basis perkampungan Islam. Sekitar Desember 1988, jama'ah Usroh yang berasal dari Solo, Bandung, dan Jakarta, mulai didatangkan ke Cihideung, bergabung dengan Warsidi. Konsentrasi massa yang jumlahnya lebih dari 100 orang itu, menurut Fauzi menimbulkan kecurigaan aparat. Pada tanggal 6 Februari 1989, Danramil Soetiman, yang mengendarai dua buah jip dan delapan motor, datang ke perkampungan Warsidi. Mengira hendak diserbu jamaah yang menetap di perkampungan itu menyerang dengan menggunakan panah. Akhirnya, Soetiman

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari tewas. Malam harinya, tentara mengepung perkampungan jamaah. Peperangan pun terjadi setelah subuh mulai menyingsing, sedangkan di Sidoredjo terhadap kepala desa Arifin Santoso, diakuinya atas perintah Warsidi. Tentang tewasnya Pratu Budi, menurut Fauzi, aparat itu dibunuh jamaah Warsidi di luar Cihideung, ketika sama-sama menumpang sebuah kendaraan umum. Pembunuhan dilakukan karena jamaah sangat benci dengan tentara, dan begitu melihat Pratu Budi mengenakan pakaian seragam, langsung dibunuh. Keterangan Fauzi ini ternyata diperoleh darí berita di koran dan juga kata orang. Sebab, ketika peristiwa berlangsung Fauzi berada di suatu tempat di Jakarta. Malah menurut Darsono, karib seperjuangannya, Fauzi sesungguhnya tidak tahu apa-apa soal Cihideung atau Talangsari. Datang ke tempat itu pun, kata Darsono, cuma sekali. Meskipun Fauzi mengaku secara lisan kepada penulis, telah dua kali datang ke Talangsari. Soal benarkah apa yang diungkap oleh Fauzi, karena ia sendiri tidak berada di sana, masih silang sengketa. Menurut beberapa temannya, Fauzi tergolong suatu sosok pribadi yang aneh. Fauzi secara psikologis masih sangat labil dalam berpikir dan bertindak. Bahkan, ia pun tega menohok kawan seiring dan menggunting dalam lipatan. Yang jelas, hubungan Fauzi dengan kawan-kawannya selalu retak dan tidak akur. Buktinya, setelah mereka ke luar dari penjara (1999), Fauzi mempelopori terjadinya islah sebagai cara penyelesaian kasus ini, tetapi kemudian dikhianatinya sendiri dengan membentuk Koramil (Komite Korban Kekerasan Militer) Lampung yang terus mencoba membuka kembali kasus Cihideung. Hanya karena ada masalah pribadi dengan Hendropriyono. Hal ini dianggap pengkhianatan oleh Sudarsono dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Jamaah Islah. Menurut rekannya ini kasus Lampung sudah ditutup karena kedua belah pihak, baik korban dari pihak jamaah Warsidi maupun militer, sudah melakukan Islah perdamaian. *** RIYANTO Di mata Warsidi, ada dua orang yang pantas menjadi panglima. Salah satunya ialah Riyanto. Riyanto inilah yang kemudian bersama Fadhillah alias Sugito. la dipercaya Warsidi untuk memimpin teror Lampung, sebelas tahun lalu. Sekilas orang tak akan percaya bahwa Riyanto, yang kini telah berusia 48 tahun ini juga bisa beringas. Malah keberingasannya dinilai oleh banyak orang sebagai sesuatu yang cukup "mengerikan". Di tanah Lampung, sebelas tahun lalu ketika terjadi huru-hara Warsidi, orang yang melakukan huru hara itu salah satunya ialah Riyanto. Bersama Fadillah, Riyanto berhasil memimpin anggotanya menciptakan gegeran Lampung 1989. Perkenalannya dengan Warsidi berawal dari cerita Aminuddin, seorang sahabatnya, yang menyatakan bahwa di Lampung, telah berdiri sebuah tempat perjuangan untuk bisa mewujudkan tegaknya Negara Islam. Bagi Riyanto, cerita itu tidak menarik bila tidak melihat langsung kenyataannya. la segera berangkat ke Lampung untuk membuktikan cerita sahabatnya itu. Di sana ia melihat kebenaran bahwa ada sekelompok orang yang sepaham, sedang gigih memperjuangkan cita-cita tegaknya Negara Islam. Riyanto kepincut dan memutuskan ingin segera berjuang bersama Warsidi untuk merajut masa depan yang gemilang. la bergabung dengan rombongan Alex, yang memboyong istri dan tiga anaknya dari Tanjung Priok, berangkat menuju tanah harapan meninggalkan Jakarta yang penuh kenangan. Riyanto telah menjalani takdir untuk hidup bersama orang-orang yang belum ia http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 74

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari kenal, termasuk Warsidi. Riyanto juga harus menjalani takdirnya ketika ada 5 anggota Warsidi tertangkap aparat, dan Warsidi memerintahkan untuk merebutnya kembali dari tangan aparat itu. Dari sanalah sejarah buram hidupnya mulai dirajut. Bersama Fadhilah dan sejumlah anak buahnya, la menjadi tokoh rojo pati membunuh orang yang tak ia ingini, serta mengacau keamanan yang menyusahkan banyak pihak. Setelah dibebaskan dari Nusakambangan, tak banyak orang mengetahui kegiatan Riyanto. Tetapi, tokoh ontran-ontran Lampung ini acap kali muncul jika ada pihak yang mengusik soal Talangsari. Misalnya, ketika Fauzi Isnan menyatakan bahwa korban Talangsaritelah mendapat sejumlah uang, rumah, tanah bahkan sapi. Riyanto tersinggung dan langsung menulis surat bantahannya ke berbagai media. Dalam suratnya itu, Riyanto malah membeberkan aib dan bejatnya moral Fauzi. Surat Bantahan Riyanto Bantahan Riyanto ini dimuat Majalah Panji Masyarakat, 3 Mei 2000. la menyatakan bahwa tidak benar korban Talangsari telah mendapat uang, rumah, tanah,bahkan sapi, seperti yang dituduhkan Fauzi Isnan melalui berbagai media pers. Menurut Riyanto, justru Fauzilah yang paling banyak mengeruk keuntungan dari islah yang disepakati bersama Hendropriyono tahun 1998. Fauzi telah meminta satu kendaraan Kijang untuk kepentingan para korban melalui Yayasan Bunaiya, tetapi kendaraan tersebut telah disalahgunakan dan bahkan telah dijualnya. Diakuinya bahwa beberapa orang korban Talangsari memang telah menerima santunan dari Hendropriyono, tetapi itu untuk mereka yang baru bebas dari penjara, sedangkan Fauzi sudah menerima jauh lebih banyak dari itu. Riyanto mengingatkan bahwa jika Fauzi tidak menghentikan kegiatannya yang memfitnah dan meresahkan para korban Talangsari, Fauzi sendiri akan menemui kesulitan yang besar. ZAMZURI Secara tidak langsung, Zamzuri punya peran cukup penting, bagi perjuangan Warsidi. Orang kaya Sidoredjo ini tak cuma dihormati, tetapi juga dicintai, terutama mereka yang tengah bergairah memperjuangkan cita-citanya mendirikan "Negara Islam " di Lampung. Padahal, jarak antara rumah Zamzuri di Sidoredjo dan tempat tinggal Warsidi di Cihideung, terhitung tidak dekat, sekitar 30 km. Bedanya, Zamzuri berada di tengah kota Sidoredjo, Warsidi tinggal di belantara ladang Cihideung. Di rumah Zamzuri inilah para aktivis Cihideung itu sering singgah. Tak heran, rumah Zamzuri tak pernah sepi pengunjung yang membuat curiga dan iri banyak orang, terutama aparat keamanan wilayah. Kalau saja tidak terjadi gegeran di Sidoredjo yang membawa korban sejumlah aparat serta penduduk setempat, mungkin saja nama Zamzuri tidak tercatat dalam lembaran hitam kota lada ini. Gegeran di kaki Gunung Balak itu menyiratkan, betapa tidak harmonisnya hubungan antara aparat dengan kelompok Warsidi yang sejak lama telah menyatakan "perang" terhadap pemerintah. Gegeran itu berbuntut panjang.dan membawa malapetaka, tidak saja Zamzuri dan kelompoknya tetapi juga orang-orang kecil yang tengah mengemban tugas. Kisahnya, berawal dari kecurigaan aparat yang mencium aroma tidak beres di rumah Zamzuri. Ketika hendak memeriksa rumah tokoh tersebut, dari dalam muncul salah seorang anak buah Zamzuri berteriak dan mengejar petugas tersebut. Kejar mengejar itu berhenti setelah polisi memberi tembakan peringatan. Tetapi, tidak diperkirakan bahwa anak buah Zamzuri tersebut kemudian merebut senjata aparat, meski pada akhirnya ia tewas diterjang peluru petugas. Mengetahui anak buahnya tewas, Zamzuri dan teman-temannya panas. Dari dalam http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 75

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari rumah segera berhamburan mengejar Dargo, polisi yang menembak korban tersebut. Insiden Gunung Balak ini merenggut nyawa Dargo (Dansek Gunung Balak), Santosa Arifin (Lurah Sidoredjo), Giono (Guru SMP Muhammadiyah) serta beberapa korban luka dari kelompok pengajian Warsidi. Zamzuri, kemudian diadili dan dibui di Nusakambangan selama lebih sepuluh tahun, sebelum dibebaskan atas perjuangan islah dari teman-temannya. Kini, pria Gunung Kidul, Yogyakarta yang lahir tahun 1942 dan tergolong sukses di kawasan Gunung Balak Lampung itu, menuai hari tuanya di bekas puing-puing kejayaan masa lalunya di Sidoredjo. Kehidupan penjara telah membawanya ke alam spiritual yang lebih mapan dalam hidupnya. Masa lalunya adalah harta yang tak akan pernah hilang, Sedang masa kini ialah amanah yang harus dijalaninya dengan kesadaran untuk tidak lancung dalam ujian yang kedua kalinya. Kepada penulis ia mengaku masih harus belajar. lebih banyak lagi untuk mengenal kehidupan. Menurutnya, tidak ada sesuatu yang sia-sia di mata Tuhan. Apa pun yang telah ia jalani, tidak mungkin tanpa sepengetahuan Allah. la menyadari, semua kejadian yang menimpanya, pasti kehendak-Nya dan itu pasti pilihan terbaik bagi dirinya. Oleh karena itu, ketika mendengar ada sejumlah orang yang ingin mengadakan tuntutan kepada aparat, karena menganggap aparatlah yang salah, Zamzuri mengatakan, tidak ingin ikut campur. la malah menyatakan, jika ingin menuntut, sesungguhnya siapakah yang harus dituntut. Sebab para aparat, hanya menjalankan tugas yang memang sudah menjadi tanggungjawabnya. Bagi Zamzuri, kebenaran tidak akan bisa tertipu, dia senantiasa akan datang bersama orang-orang yang mencintai perdamaian. ***

Page 76

Bagian 17 - Islah Sebuah Alternatif
ISLAH SEBUAH ALTERNATIF PERDAMAIAN, dambaan semua orang. Bahkan seluruh makhluk Tuhan membutuhkan anugerah damai. Hanya dengan damai, perjalanan menuju ke suatu tempat bisa selamat. Itu sebabnya tidak hanya perorangan atau kelompok, bahkan tingkatan negara pun, sejatinya selalu mendambakan anugerah damai itu. Segala cara dicoba, berbagai jalan ditempuh untuk mencari format menuju damai. Islam telah mengajarkan jalan damai dengah cara islah jika terjadi perselisihan, pertikaian atau permusuhan. Format damai cara islah ini pun telah dilakukan bahkan oleh para nabi-nabi, ketika hendak menyelesaikan suatu masalah. Tetapi di negeri ini, islah hanya populer sebagai wacana para da'i ketika mengajar ngaji atau berdakwa. Hanya di kalangan terbatas seperti pesantren atau perguruan Islam, wacana islah dikenal. Selebihnya, islah hanya tersimpan dalam buku-buku catatan agama, selayaknya jimat, hanya dibuka jika diperlukan. Ketika bangsa ini sedang sekarat didera pertikaian dan perselisihan yang tak kunjung selesai, ketika kita sudah bosan mendengar cekcok sesama saudara, kita pernah dikejutkan oleh berita tentang orang-orang yang mengadakan rujuk damai dengan cara islah. Inilah ejawantah rekonsiliasi yang didambakan banyak orang, meskipun belum banyak dimengerti orang. Ejawantah rekonsiliasi yang bernama islah itu, dilakukan oleh "kelompok Lampung" tahun 1998, di Jakarta. Suatu kelompok yang dahulu terlibat per selisihan dan pertikaian yang melahirkan geger Talangsari 1989. Ketika itu Fauzi Isnan, mantan jamaah Warsidi bersama teman-temannya, mencetuskan http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari gagasan islah di depan Hendropriyono, mantan petinggi Korem Garuda Hitam Lampung, saat pertikaian berlangsung. Hendro menyambut gagasan Fauzi setelah dijelaskan maksud dan tujuan islah AM. Hendropriyono segera didaulat sebagai fasilitator terselenggaranya islah tersebut. Semangat Hendropriyono tentang islah, juga disambut oleh AM Fatwa, yang saat itu sebagai penanggungjawab asimilasi dua tokoh peristiwa Lampung, Fauzi dan Nurhidayat. Melalui AM Fatwa, pertemuan antara Hendropriyono dengan 14 orang matan jamaah Warsidi, berlangsung mulus dan menghasilkan berbagai hal tak hanya material tetapi juga moral yang selama itu telah terkoyak oleh angkaramurka. Menurut Yani Wahid, penggagas buku ini, pertemuan dua pihak yang dulu saling berseberangan itu, berlangsung sangat akrab, seperti layaknya tak pemah terjadi silang sengketa pada masa lalunya. "Kita sedang menjalani takdir. Kita pun sedih karena peristivva Talangsari harus terjadi. Hanya saja, bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari masa lampau yang tidak kita inginkan itu. Kita perlu memberi makna di masa kini dengan bersama-sama melakukan sesuatu yang bermanfaat, demikian Hendropriyono memulai pembicaraan serius setelah cukup berbasa-basi. Para tokoh kasus Talangsari, Lampung, yang hadir antara lain, Sudarsono, Fauzi Isnan, Sukardi, Dede Saifuddin dan Maulana Latif. Terjadinya pertemuan islah itu, menurut berbagai pihak, merupakan peristiwa sejarah tersendiri bagi Indonesia yang tengah centang perenang. Belum pernah terjadi sebelumnya, bahwa seorang pejabat tinggi terpanggil untuk bertemu dengan pihak-pihak yang bisa dikategorikan sebagai anggota Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Maka, apa yang dilakukan Hendropriyono menjadi fenomena. Dialah satu-satunya jenderal dan bahkan seorang pejabat negara, yang sudi berhubungan dengan pihak "lawan dan korban", mempelopori rekonsiliasi damai, bernama islah, sukarela tanpa paksa. Agenda utama islah ialah berupaya membebaskan narapidana dari rumah tahanan. Pada awalnya, Hendropriyono hanya sanggup menolong pembebasan narapidana untuk 3 orang saja. Tetapi Darsono berteriak, lebih baik tidak, bila tidak semua dibebaskan. Darsono menuntut agar 15 orang teman-temannya yang ada di Nusakambangan turut dibebaskan. Berkah perdamaian itulah akhirnya seluruh pesakitan Lampung itu, boleh lega menghirup udara kebebasan. Cahaya perdamaian telah hidup di dada mereka. Antara jamaah Warsidi, masyarakat Way Jepara dan pihak aparat yang diwakili AM Hendropiryono, hari itu berazam, untuk meninggalkan masa suram menuju ke masa depan yang lebih punya nilai. Mereka adalah pejuang islah yang telah melaksanakan ajaran Islam, "Islahul-Mu'amalah". Dasar Moral Islah Dasar moral Islah tidak ngambang, apalagi ngawur. Kalimat-kalimat islah sudah sering kita dapatkan dalam Al Quranul Karim. Islah artinya perdamaian atau "perbaikan". Perintah islah secara umum ialah perbaikan menyeluruh mencakup tashlihul-aqidah (perbaikan aqidah), tashlihul-ibadah (perbaikan ibadah), tashlihul-akhlaq (perbaikan akhlak), tashlihul-iqtishodiyah (perbaikan ekonomi), tashlihul-siyasah (perbaikan sistem politik) dan lain-lain. Perintah-perintah ini lebih menitikberatkan pada peningkatan yaitu kesungguhan untuk memperbaiki yang sudah baik. Tetapi perintah secara khusus ialah memperbaiki yang rusak, yang mencakup tashlihul-mu'amalah (perbaikan hubungan mu'amalah) yaitu mengakhiri keadaan yang dirusak oleh suasana pertengkaran, permusuhan, perselisihan, hujat-menghujat, iri dengki dan lain sebagainya. Khusus untuk mencapai yang terakhir dalam pelaksanaannya mempersyaratkan adanya keadaan psikologi tertentu yaitu kelayakan moral keadaban (al-hilm) yang secara garis besar mencakup watak-watak seperti kesabaran, pengekangan http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 77

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari nafsu, pemaaf dan terbebas dari emosi nekat dan kepala batu. Islah tidak dapat terjadi apabila salah satu pihak masih tergoda oleh semangat jahiliyah (hamiyat al jahiliyah) dan perbuatan jahiliyah (amr al jahiliyah), yaitu kegelapan atau nafsu setan yang menjadi ciri bagi mereka yang tidak mengetahui bagaimana membedakan antara yang baik dan buruk, yang tak pernah meminta maaf atas kejahatan yang telah mereka lakukan, yang tuli terhadap kebaikan, bisu terhadap kebenaran dan buta terhadap kenyataan. Dalam pandangan Alquran, kegelapan dan nafsu setan adalah penyebab permusuhan yang tiada henti-hentinya dan penyebab kesengsaraan serta bencana yang tak terhitung banyaknya dalam sejarah peradaban manusia. Ketika terjadi pertengkaran hebat nyaris berbunuhan antara dua suku terbesar di Madinah, Aus dan Hazrat, Nabi saw. cepat-cepat bertindak melerai mereka dengan perkataannya: "Hai orang-orang yang beriman, betapa beraninya engkau melupakan Tuhan. Kalian telah tergoda lagi oleh seruan jahiliyah (bi da wa al-jahiliyah). Ingatlah aku berada di sini di antara kalian. Ingatlah, Tuhan telah membimbing ke dalam Islam, memuliakan kaliah sehingga ikatan jahiliyah terputus darikalian, melepaskan kalian dari kekufuran dan menyebabkan kalian bersahabat satu sama lain". Demikian Nabi saw mengislahkan mereka dengan nasihat sampai mereka menyadari bahwa mereka tergoda oleh setan, kemudian mereka saling berangkulan dan menangis. (Lihat, Shirah Nabawi, Ibnu Ishaq). Lain lagi yang ditempuh Nabi saw ketika telah terjadi pertumpahan darah. Nabi tidak hanya mencukupkan nasihat untuk menutup semangat persaingan dan keangkuhan kelompok, melainkan dengan klarifikasi dan rehabilitasi. Sebagai contoh adalah yang terjadi pada tahun 8 H, yaitu ketika sepasukan tentara di bawah pimpinan Khalid bin Walid masih terbawa perasaan marah dan membunuhi kelompok suku Banu Jadhimah padahal masa perang telah usai. Nabi saw menempuh jalan islah dengan mengutus Ali bin Abu Thalib disertai perintah : "Segeralah pergi kepada orang-orang itu, selidikilah dengan teliti peristi\va itu, serta hentikanlah kebiasaan jahíliyah itu!". Ali pun bergegas menuju lokasi kejadian dengan membawa banyak uang guna dibayarkan sebagai pengganti darah yang tumpah dan harta benda yang hilang. Yang dimaksud dengan kebiasaan jahiliyah oleh Nabi ialah ketidakmampuan menahan diri dari perasaan marah yang masih ada pada diri Khalid dan pasukannya. Kedua contoh kasus di atas, merupakan praktik islah di zaman Rasulullah saw. Dengan jalan islah itu, Nabi saw menciptakan kembali iklim persaudaraan, perdamaian dan persatuan serta mengakhiri iklim persengketaan dan permusuhan. Dan memang, ajaran atau konsep islah pada hakekatnya merupakan cara praktis mengatasi fragmentasi politik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Rasulullah saw juga menerapkan esensi ajaran ini dalam peristiwa Futuh Makkah atau pembebasan kota Makah. Rasulullah saw berhasil mengantarkan perubahan untuk memerdekakan semua penduduk Makkah dengan pengampunan yang menutup semua celah pertentangan dan permusuhan. Pada masa reformasi sekarang ini, kita sebagai umat yang besar, seolah-olah kehilangan tempat berpijak, seolah-olah Islam mengajarkan umatnya menjadi penuntut dan penghukum, bukan manusia-manusia pemaaf yang memiliki meta strategi dalam menghadapi masa depan. Kita seharusnya juga merenungkan kebijakan Rasul menghadapi orang Thaif yang telah mengusir dan menghujani Rasulullah dengan lemparan batu. Atau ambillah hikmah meta strategi Rasul dalam membangun kembali kesatuan masyarakat pada peristiwa futuh makkah yang pantang memberi malu kepada Abu Sofyan, orang terkenal yang terang-terangan memusuhi beliau dan umat Islam hampir selama dua puluh tahun. Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang telah ditempuh Rasul, yang memancarkan hikmah islah untuk mengembalikan martabat dan kehormatan semua pihak dalam damai, kehormatan setiap orang yang tak lagi bermusuhan, kehormatan lembaga bersama http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 78

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari seperti Masjidil-Haram. Sebagai nilai, ajaran islah ini akan selalu muncul untuk dijadikan rujukan semua pihak di kalangan umat yang ingin memperbaiki keadaan agar menjadi lebih baik dan atau memperbaiki hubungan yang rusak akibat perselisihan, pertengkaran maupun permusuhan. Di tengah-tengah teriakan tentang penegakan HAM dan Demokrasi sangat memungkinkan munculnya kelompok yang menuntut pengusutan berbagai kasus masa lalu melalui pengadilan HAM. Namun dari, kompleksnya persoalan, mungkin sangat tidak efektif dari segi apa pun karena dapat mengarah pada ketidakadilan baru yang dijustifikasi oleh lembaga formal. Banyak sekali contoh bahwa di ruang pengadilan malah lahir kezaliman baru yang diabsahkan tanpa kita pemah mampu meluruskannya kembali. Oleh karena itu pilihan untuk menerapkan konsep islah yang mempakan konsep religius itu bisa jadi lebih tepat dalam rangka menutup semua cerita "ketololan politik" masa lalu yang menyebabkan tipisnya solidaritas dan silaturahmi antar eksponen bangsa. Dalam konsep ini, nilai utama yang diperintahkan adalah perbaikan hubungan untuk menyatukan kembali masyarakat yang terlibat konflik. Tujuannya bukan pengadilan melainkan pemulihan harkat dan kehormatan, baik kehormatan pribadi, lembaga, maupun kehormatan para pemimpin masyarakat. Dalam kondisi masyarakat Indonesia seperti sekarang ini, konsep islah menemukan urgensinya sebagai ajang perbaikan hubungan dan pembudayaan silaturahmi nasional serta ajang klarifikasi kasus-kasus lama yang dianggap sebagai represi struktural di masa lalu. Dalam konteks moral Islam, pihak-pihak yang terlibat berusaha saling mengobati dan mengembangkan keteladanan dalam kesabaran dan kasih sayang (táwashau bis-shabri wätawashau bil-marhamah) ***

Page 79

Bagian 18 - Tanggapan Seputar Islah
TANGGAPAN SEPUTAR ISLAH KONFLIK sosial dan politik yang berkepanjangan akan berdampak pada jatuhnya martabat bangsa dan negara. Pasca Orde Baru ini, pada hakikatnya seluruh lapisan masyarakat mendambakan agar konflik-konflik di tingkat elite politik maupun konflik antar masyarakat dapat segera diakhiri dan diselesaikan dengan baik. Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas bangsa Indonesia memiliki posisi tersendiri dalam memberikan tuntunan maupun mengembangkan budaya penyelesaian konflik dengan cara-cara yang terhormat dan bermartabat. Salah satu konsep yang diajarkan Islam ia1ah konsep moral agar mereka yang berselisih menyelesaikannya dengan islah. Yaitu merekat kembali tali silatutahmi, saling memaafkan, dan memusyawarahkan apa-apa yang bisa dilakukan bersama. Konsep inilah yang diperkenalkan dan dijadikan landasan moral oleh kelompok Islah Kasus Lampung. Niat mereka itu dapat dipandang sangat mulia karena bukan saja ingin menyelesaikan konflik yang pernah mereka alami, melainkan juga seka1igus dapat menyumbang bagi penciptaan iklim Sosial yang rukun dan damai dalam masyarakat Indonesia yang sedang. bergejolak sekarang ini. Akan tetapi, memasyarakatkan konsep islah bukanlah hal yang mudah. Apalagi di tengah-tengah kusutnya isu penegakan dan pengadilan HAM sebagai cara yang dianggap terpenting sekarang ini. Ada misalnya yang menyesalkan sikap memaafkan dari anggota masyarakat. Dikatakannya hal itu sebagai hak individu. Namun bukan berarti pemerintah berdiam diri. Negara wajib menuntut Kedudukan hukum harus dikedepankan karena telah terjadi pelanggaran. Bagi http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari orang seperti itu pendekatan hukum dianggap yang terpenting. Tetapi bagi Arifin, mantan tahanan politik kasus Talangsari, lain lagi. Arifin mengatakan, yang penting ialah pembebasan teman-temannya yang masih dipenjara, dibantu memperoleh pekerjaan dan santunan pada keluarga-keluarga korban yang membutuhkan. Tentang pilihan Islah, Arifin mengatakan: "Kami telah bertemu langsung dengan Pak Hendro (mantan Danrem Lampung). Dengan dia kami saling memaafkan. Kami memilih hukum penyelesaian dengan cara Islam yakni islah yang tidak saling melakukan penuntutan. Apalagi saling balas dendam yang dilarang agama Islam". Arifin mengakui kenangan pahit atas kejadian Talangsari. Anak dan istrinya ikut meninggal dalam peristiwa itu. "Kalau mengikuti hukum kafir, maka kehendak hati maunya berontak. Tetapi saya meyakini, sampai kiamat pun keadilan. dan penegakan hukum tidak pemah tercapai selama masih menggunakan hukum thaghut buatan manusia," katanya. (Lampung Pos, 5 September 1998). Isu HAM yang baru muncul sekarang tentunya sangat sulit dan boleh jadi tidak tepat untuk mengukur iklim politik masa lalu yang bernuansa politik kekerasan. Kasus Lampung sebagai kasus masa lalu bisa sangat "empuk" dijadikan sasaran tembak atas nama penegakan HAM. Namun siapakah yang diuntungkan melalui isu itu, sungguh sesuatu yang perlu dicermati. Justru pihak-pihak yang terlibat langsung kejadian Talangsari merasa perlu menempuh jalan lain yaitu islah, bukan pendekatan hukum. Mereka menggugat LSM. tanggapan seputar islah ke mana saja mereka selama ini, kok tiba-tiba sekarang baru muncul sebagai pembela Warsidi dan kasusnya? Apa dulu mereka pernah peduli terhadap jamaah Warsidi yang terlunta-lunta, yang menjadi janda, yang kehilangan usaha, yang meringkuk dalam penjara dan lain-lain. Mengapa baru sekarang ingin bertindak seperti pejuang dan seolah-olah kasus ini menjadi penting di mata mereka?" kata Sudarsono. Menurut Sudarsono, buat apa mengungkap masa lalu jika ujung-ujungnya tidak memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan pelaku/korban peristiwa itu sendiri tanggapan seputar islah Kami muak dengan cara-cara LSM tertentu yang hanya cari muka di depan penyandang dana internasional untuk mengobok-obok Indonesia atas nama HAM", tegasnya. Sudarsono dan mantan napol lainnya berharap sikap arif dan gentleman yang telah dilakukan Hendropriyono terhadap kasus Lampung melalui pendekatan bantuan kegiatan usaha/ekonomi dapat dilakukan oleh para pembesar lainnya agar para korban politik masa lalu tidak dijadikan obyek komoditas politik kelompok tertentu yang ujung-ujungnya tidak untuk kemanfaatan para korban dan keluarganya. (Republika, 10 September 1998). Banyak orang memang meragukan siapa yang diuntungkan dengan usaha-usaha pengungkapan seperti yang dimaui mereka yang gandrung isu hak-hak asasi manusia (HAM). Lebih jauh berikut ini penjelasan, sikap dan pembelaan para mantan narapidana kasus GPK Warsidi tentang Islah yang mereka lakukan serta tanggapan masyarakat luas. Attachment Size kliping_talangsari_00727.gif 100.37 KB kliping_talangsari_00728.gif 100.49 KB

Page 80

Bagian 19 - Mereka Yang Dibebaskan
MEREKA YANG DIBEBASKAN Artinya dipenjara? Orang yang hidupnya diberi tanda batas. Mereka ditentukan, tak lagi menentukan. Mereka diatur dan tak lagi boleh mengatur. Sungguh tak terbayangkan. Mereka yang dulunya bebas menentukan pilihan dan kehendak, yang tak seorang pun mencegah ke mana suka, kini semua itu sirna. Tak bisa lagi makan dan minum sesuai selera. Tak lagi bercampur anak, istri dan orang-orang tercinta.

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari Kini mereka dihadang peraturan yang ditegakkan oleh para sipir penjara Yang bisa ramah disuatu ketika, tetapi juga bisa marah sampai tak terkira. Yang bisa baik, dalam tutur kata bak seorang pendeta, tetapi jika anda coba-coba lari, peluru tajamnya yang bicara. Jika tak cukup bermental baja sangat mudah seseorang akan mengalami kegoncangan jiwa, depresi, histeria, takut, was-was dan perasaan tak berdaya. Ah, bagaimana lagi mereka yang harus menjalani hukuman bertahun-tahun bahkan seumur hidup? Tentunya waktu akan menyeret ke suatu kesudahan yang tidak dapat terperkirakan. Tak seorang pun ingin dipenjara. Juga mereka yang terlibat kerusuhan Talangsari, Way Jepara, Lampung Tengah itu. Apa lagi penjara Nusakambangan. Dede Saefuddin, Sukardi, Maulana Latif, tak pemah bercita-cita masuk penjara. Tidak juga kawan-kawannya yang lain yang berada di LP. Nusakambangan. Maka, ketika mereka menghadiri acara islah dengan. Menteri Transmigrasi, AM. Hendropriyono, pertama-tama yang mereka minta ialah pembebasan teman-temannya yang masih dipenjara di LP.Nusakambangan. "Semula Pak Hendro hanya berniat membantu pembebasan beberapa orang saja yang kategori politik. Tidak termasuk narapidana Lampung yang terlibat pembunuhan dan teror. Namun setelah kami minta tolong dan Saudara Fauzi menawarkan untuk islah akhirnya Pak Hendro setuju dan meminta agar data-data mereka yang masih dipenjara segera dicari. Pak Hendro dalam kapasitasnya selaku Menteri akan memproses pembebasannya." kata Dede Saefuddin dalam suatu wawancara dengan penulis. Menurut Dede, malam itu disetujui agar esok hari beberapa orang pergi ke LP.Nusakambangan untuk menyampaikan berita islah serta mulai menghimpun data-data siapa saja teman-teman narapidana Lampung yang belum dibebaskan. "Kalau tidak salah yang ditugaskan menghimpun data-data dan menyampaikannya kepada pak Hendro adalah saudara Maulana Latif", katanya. Keinginan agar para tahanan politik segera dibebaskan agaknya sedang menggema, menjadi semacam agenda pertama reformasi. Bukan hanya mantan napi yang menyerukan pembebasan, tetapi banyak pihak di masyarakat, termasuk ormas-ormas Islam dan tokoh-tokoh Islam. Tetapi seruan akan tinggal sebagai seruan jika tidak ada pihak yang secara serius mengajukan prosesnya. Proses pembebasan tahanan, apalagi narapidana yang perkaranya telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap ternyata tidaklah sederhana. Harus ada pihak yang secara resmi meminta, kemudian dibahas melalui rapat-rapat intern departemen yang terkait untuk memastikan apakah pembebasan itu mungkin dilakukan dan dapat dibenarkan menurut Undang-undang atau peraturan yang berlaku. Waktu itu, Jaksa Agung HA. Muhammad Ghalib, SH memberi isyarat bahwa amnesti dapat diberikan dengan catatan: 1. Tidak termasuk terpidana penjara di atas 10 tahun. 2. Membuat pernyataan setia kepada negara Kesatuan RI. 3. Berjanji tidak akan melakukan kegiatan yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Reformasi yang penuh euforia terus berjalan. Namun tidak secara otomatis para narapidana politik dapat dibebaskan. Tidak juga pada Hari Kemerdekaan, tanggal 17 Agustus 1998. Tersentuh oleh tanggungjawab yang muncul di tengah-tengah keinginan dan tuntutan untuk islah, akhirnya Menteri Transmigrasi, AM. Hendropriyono memenuhi janjinya. Melalui suratnya Nomor: R-O28/Mentras/O8/1998 tanggal 21 Agustus 1998, Menteri Transmigrasi dan PPH memohonkan percepatan pembebasan Napol Korban Peristiwa Lampung kepada Presiden Republik Indonesia Tidak cukup dengan surat, AM. Hendropriyorio juga melobi langsung kepada Jaksa Agung RI, M. Ghalib Menteri Kehakiman Muladi, Menhankam (Pangab) Wiranto dan Ketua MA, Sarwata. Hasilnya, Jaksa Agung RI melalui suratnya Nomor: R-196/A/D/9/1998 Tanggal 23 September 1998 turut menyarankan kepada Presiden untuk menyetujui permohonan Menteri Transmigrasi dan PPH perihal amnesti. Napol peristiwa Lampung atas nama Fauzi dkk. Barulah sebulan kemudian, Menteri Sekretaris Negara, Akbar Tandjung, melalui suratnya No: R-311 M.Sesneg/10/1998 Tanggal 26 Oktober 1998 berkirim surat kepada Menko Polkam, Menteri Kehakiman, Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI menyampaikan tentang petunjuk Presiden http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 81

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari agar usul pemberian rehabilitasi kepada eks Napol perisrtiwa lampung atas nama Fauzi dkk dibantu prosesnya. Kenyataan ini membuktikan bahwa pembebasan narapidana politik Islam walaupun pada era reformasi tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang. Birokrasinya sangat berbelit, dari bawah ke atas lalu ke bawah lagi dan berproses lagi ke atas untuk kemudian baru bisa ditandatangani oleh Presiden RI. Pada proses pembebasan sejumlah narapidana kasus Lampung ini Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie baru menetapkan dan menandatangani keputusannya untuk memberikan grasi setelah melalui proses yang alot apalagi saat itu Undang-undang Subversi memang belum dicabut. Tetapi akhirnya melalui Kepres Nomor : 101/0 Tahun 1998 tanggal 31 desember 1999, Presiden memberikan grasi kepada para narapidana kasus Lampung yang diperjuangkan Menteri Transmigrasi itu. MEREKA YG DIBEBASKAN : 1.. FAUZI bin ISNAN, yang dengan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta, Nomor 04/Subv/Pid/90/PT.DKI tanggal 26 Maret 1990, telah dijatuhi pidana penjara selama 20 (dua puluh tahun). 2.. SUDARSONO al. MASDAR, yang dengan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor: 05/Subv/Pid/90/PT.DKI tanggal 30 April 1990 telah dijatuhi pidana penjara selama 17 (tujuh belas) tahun. 3.. FADHILLAH al. SUGITO bin WIRYOPERWITO yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor: 160/Pid/B/Subv/1989/PN.TK, tanggal 7 Nopember 1989 telah dijatuhi pidana penjara seumur hidup. 4.. TARDI NURDIANSYAH, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor 102/Pid/B/Subv/89/PN.TK tanggal 21 Desember 1989 telah dijatuhi pidana penjara selama 17 (tujuh belas) tahun. 5.. SUGENG YULIANTO al. SUGIMIN, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor 161/Pid/B/Subv/1989/PN.TK tanggal 7 Nopember 1989 telah dijatuhi pidana penjara selama seumur hidup. 6.. RIYANTO, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor: 191/Pid/B/Subv/1989/PN.TK tanggal 4 Januaru 1990 telah dijatuhi pidana seumur hidup. 7.. HARIYANTO YUSUF, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor 102/Pid/B/Subv/1989/PN.TK tanggal 6 Nopember 1989 telah dijatuhi pidana penjara seumur hidup. 8.. FACHRUDDIN al. SUKIRNA, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor: 193/PidTB/Subv/1989/PN.TK tanggal 21 Desember 1989 telah dijatuhi pidana penjara seumur hidup. 9.. ZAMZURI bin MUH. RAJI yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor: 145/Pid/B/Subv/1989/PN.TK tanggal 25 Oktober 1989 telah dijatuhi pidana penjara seumur hidup. 10.. MUH. MUSHANNIF, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor: 194/Pid/B/Subv/89/PN.TK tanggal 20 Desember 1989 telah dijatuhi pidana penjara selama 20 (duapuluh) tahun. 11.. ARIFIN bin KARYAN, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor 195/Pid/B/Subv/89/PN.TK tanggal 18 Desember 1989 telah dijatuhi pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun. 12.. ABADI ABDULLAH, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor 196/Pid/B/Subv/89/PN.TK tanggal 19 Desember 1989 telah dijatuhi pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun. 13.. MUNJAENI, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang No: http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 82

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari 187/Pid/B/Subv/89/PN.TK tanggal 30 Oktober 1989 telah dijatuhi pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun. 14.. SHOLIHIN, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor 53/Pid/B/Subv/89/PN.TK tanggal 25 Agustus 1990 telah dijatuhi pidana penjara selama 13 (tiga belas) tahun. 15.. SRI HARYADI, yang dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Nomor 163/Pid/Subv/B/1989/PN.TK tanggal 30 Oktober 1989 telah dijatuhi pidana penjara seumur hidup. Pembebasan itu disambut suka cita. Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan A.M. Hendropriyono juga turut bergembira menyambut kedatangan mereka di Masjid Muhajirin Departemen Transmigrasi dan PPH Jakarta. Dalam Acara Syukuran yang diliput secara luas oleh pers nasional, A.M. Hendropriyono mengungkapkan bahwa seluruh tahanan politik Islam akan dipercepat pembebasannya. Karena landasan moral Islah. "Mereka ini bukan penjahat, perampok, maling dan garong. Mereka ini masuk penjara karena politik dan di sinilah ada kesalahpahaman dengan pemerintah soal kebijakan". Tentang pembebasan itu, sebagai bukti bahwa islah merupakan gerakan moral yang bisa mengetuk hati para penguasa atau masyarakat luas. Departemen Transmigrasi, menurut Hendro, berniat menerima hak-hak sosial politik para tapol tersebut. Karena, umumnya mereka merupakan orang-orang yang miskin dan susah. "Para tapol berhak diberi tawaran transmigrasi seperti rakyat yang lain", katanya. Semua sudah terjadi. Penyelesaian melalui Islah dalam kasus Talangsari menjadi kenyataan. Mereka yang semula dianggap bermusuhan, kini berangkulan. Yang kuat membantu yang lemah. Yang tak punya pekerjaan diberi pekerjaan. Yang ingin usaha dagang diusahakan modal. Memang, tak semua bisa puas. Ada saja pengganggu dan peragu. Ada yang menuntut terlalu banyak. Ada yang mencari-cari dalih untuk tetap menghidupkan silang sengketa. Tetapi dari kasus ini dan cara penyelesaiannya, kita diingatkan satu hal bahwa kita perlu menimba sebanyak mungkin kearifan dari sabda-sabda Ilahiah dalam rangka mengakhiri anarki berkepanjangan. Mereka yang tewas dari kedua belah pihak, telah gugur sebagai syuhada di medan perang. Tiada kata siapa yang menang dan siapa yang kalah, sebab yang menang hanyalah kebenaran. Moral Islah yang diserukan sangat layak menjadi solusi atas situasi konflik sosial politik tak kunjung reda sekarang ini. Kita tertegun seolah pilihan memang hanya satu jalan :.... selesaikan dengan cara menelusuri jalan-Nya. ***

Page 83

Bagian 20 - Seluir Kata Akhir
SELUIR KATA AKHIR DEMOKRASI mensyahkan adanya hak hidup yang setara di depan umum atas keanekaragaman pandang dalam aneka dimensi, betapapun besar kadar perbedaannya. Akan tetapi, realitasnya selalu mengandung berbagai aspek dasar yang memungkinkan lahirnya konflik pandang. Sejauh disertai kesadaran, "berbeda itu rahmat" maka perbedaan itu bisa saja berarti "kenikmatan". Walaupun ternyata menghargai perbedaan bukanlah perkara gampang. Inilah yang sering mengakibatkan, timbulnya berbagai tindakan keras sporadis. Kasus Lampung, boleh jadi merupakan klimak dari berbagai masalah-masalah di atas. Selama Orde Baru, memang tidak sedikit sudah kita jumpai kekerasan sporadis http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari yang muncul dari tengah-tengah umat. Yang memprihatinkan ialah kekerasan sporadis itu sering menjadi acuan yang tidak mendasar atas nama idealisme Islam. Ada dua unsur dasar yang sering kali terlupakan. Padahal unsur-unsur tersebut, tak jarang memberi peluang munculnya berbagai tragedi bangsa di negeri ini. Pertama ialah egosentrisme manusia dan yang kedua ialah menyangkut fanatisme ideologi. Kedua unsur tersebut bisa jadi sangat berbahaya di tengah-tengah wacana yang mendikotomikan antara umat Islam dan negara. Unsur itulah yang senantiasa hadir dalam berbagai kasus kekerasan politik di Indonesia. Egosentrisme Manusia Egosentrisme merupakan kekayaan yang melekat pada diri manusia. la mempunyai fungsi, antara lain menjadi pembeda manusia dari makhluk lainnya sesama manusia ciptaan Tuhan. Padahal selain ego keakuan, manusia juga butuh orientasi kemasyarakatan. Artinya pada saat keakuan manusia itu berperan, sesungguhnya di saat yang sama kebutuhan sosialisai manusia juga ikut berperan. Manusia memiliki kedua-duanya. Masalahnya ialah kadar dominasi, manakah yang lebih kuat, keakuannya atau kemasyarakatannya, hidup untuk dirinya atau untuk selain dari itu. Walaupun manusia diberi kebebasan bahkan untuk menentukan dirinya itu siapa dan menjadi apa, namun sebaik-baik manusia ialah yang tahu dirinya dan segera menentukan sikap untuk menjadi apa. Sebab batas antara egosentrisme dengan sosialisme teramat tipis yang rentan kendali dan tak aman dari pujian sehari-hari. Hitam putih manusia, memang tak mudah dikenali. Akan tetapi tindakan dan sikapnya tak bisa ditutupi, apalagi diingkari. Cepat atau lambat, ia akan menunjukkan jati dirinya, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Kelompok Warsidi dari dusun kecil Talangsari III, sering terdengar bahwa segala yang ada di bumi milik Allah. Oleh karena itu di antara anggota Warsidi ada yang merasa syah, bila mengambil tanaman di sekitar komplek Cihideung, karena tanaman juga milikAllah. Juga dari sana sering terdengar, siapa yang tidak mengikuti dirinya batal Islamnya dan kafir hukumnya. Termasuk pemerintah atau orang-orang yang tidak mendukung diri dan kelompoknya. Sesungguhnya tindakan dan perilaku seperti itu tergolong suatu sikap individualistik, egois dan petunjuk besarnya sifat keakuannya. Malah Warsidi menolak ketika camat Way Jepara, meminta dirinya segera datang ke kantor kecamatan. "Sebaik-baiknya umaro yang mendatangi ulama dan seburuk-buruknya ulama datang ke tempat umaro", jawabnya ketika camat meminta Warsidi datang ke kantor kecamatan. Fanatisme Ideologi Ideologi tidak pernah mati. Konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan politik selalu dilatarbelakangi oleh mencuatnya perbedaan ideologi. Indonesia ternyata lahan subur bagi pertarungan ideologi besar: Nasionalis, Komunis dan Islam. Sebagai bangsa, kita punya pengalaman kolektif tentang kekerasan atas nama ideologi. Belum habis kekerasan zaman penjajahan, perang kemudian terjadi, dan terus berlangsung hingga Jepang habis. Orang-orang tua kita bicara tentang merdeka atas dasar apa. Bendera merah putih menjadi satu-satunya pemersatu di atas berbagai perbedaan ideologi ditingkat perumusan dasar negara. Tetapi, disaat bangsa ini tengah menegakkan bendera merah putih, pasukan Belanda masuk kembali. Kekerasan terjadi lagi, yang ditembak mati, digranat, dilempar dari kendaraan dalam keadaan tangan terikat dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Sehingga kita mengenal kekerasan bagai mengenal keluarga sendiri. Tak terkecuali orang-orang yang hidupnya jauh dari kota. Desa adalah ketenteraman. Tetapi, banyak yang bisa menceritakan dengan suara ketakutan bagaimana rasanya hidup di desa yang terkepung gerilya DI/TII atau http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 84

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari ketika desa-desa di Madiun disatroni oleh orang-orang PKI. "Kita merdeka tetapi bermusuhan dengan sesama bangsa sendiri", rumah rakyat dibakar, anak-anak menjerit ketakutan, dan orang-orang tembak-menembak dari jarak yang amat dekat. Sama-sama nekat dan itu semua berlangsung atas nama ideologi yang dipahami secara fanatik. Tahun 1955, bangsa ini untuk pertama kalinya melakukan eksperimen menuju demokrasi. Jangan lagi perbedaan ideologi diselesaian dengan senjata tetapi dengan pemilihan umum. Senjata diganti dengan suara. Hasilnya tak ada yang benar-benar menang sehingga DPR hasil pemilu paling demokratis pun tak mampu menghasilkan apa-apa kecuali pertengkaran elite dan akhirnya diselesaikan oleh palu godam kekuasaan. Ideologi-ideologi ternyata terlalu kaku menghadapi kenyataan. Marhaenisme Soekarno tak bisa mengikuti realitas baru pertumbuhan kelas menengah dan kelas atas, memisahkan semakin jauh nilai persatuan dan kesatuan. Komunisme tidak bisa menanggulangi ambruknya sistem ekonomi komando dan sistem politik otoriter. Dan Islam, sungguh sangat naif dibawa oleh orang-orang yang kesulitan dengan kemajemukan bangsa dan kemajemukan umatnya sendiri. Tetapi fanatisme ideologi tidak pernah berhenti. Pemerintah Orde Baru tampil dan lagi-lagi terjebak ingin melibas semua ideologi atas nama ideologi juga, yaitu ideologi negara yang seharusnya tetap menjadi milik negara. Umat Islam yang sudah telanjur tercekoki oleh pandangan ideologis yang kurang menghargai kemajemukan akhimya terjebak dalam pengkotakan antara Islam dan Pancasila. Memilih Islam disangka tidak berpancasila. Dan sebaliknya berpancasila seolah seperti meninggalkan ideologi Islam. Pada kasus Talangsari dan kasus-kasus Islam lainnya, kita menemukan aura keterjebakan itu. Mereka menolak Pancasila seperti menolak kekafiran. Dalam situasi demikian, fanatisme ideologi Islam pun menemukan lahan yang subur. Tingkah pemaksaan ideologis oleh negara menjadi pemicu lahirnya banyak kelompok sempalan yang mengabsahkan eksistensinya juga dengan jalan kekerasan. Maka di masa Orde Baru lahirlah sejumlah pahlawan-pahlawan romantik keislaman. Mereka membangun fanatisme ideologi keislaman ke kalangan pengikutnya dengan minimnya pemahaman tentang Islam secara menyeluruh. Doktrin kembali kepada kemurnian Islam seperti yang akhirnya ditemukan oleh aparat keamanan ketika menggerebek jamaah Mujahidin Fisabilillah Cihideung, misalnya ternyata penjabaran dari kemurnian tersebut melahirkan darah dan kematian. Dokumen tentang doktrin kemurnian itu seperti diungkap oleh Majalah Tempo berbunyi : "Ternyata Islam tidak seperti yang kita alami. Kita diisi oleh versi NU, versi Muhammadiyah, Darul Hadist. Mereka tak mencerminkan Islam yang sebenarnya, bukan Islami". Dalam perjalanan sejarah Indonesia, sekte-sekte ideologi Islam dengan garis keras yang sering dijuluki sebagai sempalan, cukup banyak. Disebut sempalan karena dianggap menyempal dari arus utama umat yang pada umumnya diwakili oleh NU atau Muhammadiyah. Lalu konotasi sempalan diberikan terhadap sikap yang keras, penentang, revolusioner dan fundamentalis. Stigma demikian, sebetulnya bernadakan vonis seolah-olah kelompok kecil yang menyempal dari arus utama umat, juga secara otomatis tidak toleran dan tidak moderat. Malah terdakwa sebagai telah melakukan penyimpangan dari ajaran dan keyakinan keagamaan yang baku. Tidak semua salah, juga tidak seluruhnya benar. Tetapi satu kenyataan bahwa ideologi apapun memang kaku bila dihadapkan pada realitas yang berkembang. Kekakuan ideologi menciptakan dikotomi dan keretakan sosial. Umat dan bangsa terbelah antara tradisionalis dan modernis, antara nasionalisme Islam dan nasionalisme sekuler, kooperatif dan non-kooperatif dan lain sebagainya. Sebabnya mudah dikenali bahwa dalam ideologi orang mengira hanya ada satu kebenaran yang boleh diyakini, yang selain itu dianggap lawan. Maka keanekaragaman harus dibasmi. Pluralisme dianggap tidak perlu, menjengkelkan dan banyak cingcong. Kebenaran seolah tinggal pakai, tanpa diketahui persis prosesnya. Padahal dengan cara itu, http://www.talangsari.org/book/export/html/46

Page 85

11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari kebenaran hanya produk dari luar yang dipaksakan tanpa pencarian dari dalam. Mencari Solusi Ideologi memang tak mati-mati. Tetapi Islam tidak semata-mata mengandung ajaran ideologis. Justru Islam ingin membuka cara berfikir yang tertutup dan fanatis. Dengan ideologi tertutup umat sudah banyak menyingkirkan orang yang kita sapa sebagai "sekuler", "abangan", "tidak istikhomah" dan lain sebagainya. Memang sudah lama Islam berada di pinggir panggung politik nasional. Tetapi pertumbuhan pendidikan telah membuka peluang untuk berada di tengah-tengah pentas. Dan pada saat itu dituntut pola pikir yang objektif, tidak boleh lagi berfikir subjektif, orang "kita" dan "mereka" tanpa alasan yang cermat. Islam sudah ada di mana-mana dalam berbagai tugas dan karir. Mereka ada di birokrasi dan tentara. Bukan hanya di desa sebagai pedagang atau petani. Oleh karena itu, para politisi dan pejuang Islam harus.mengakhiri pendekatan ideologis yang melihat politik sebagai pertarungan Islam dan non Islam apalagi Islam dan negara. Para pemimpin Islam harus memahamkan kepada umatnya untuk meningkatkan tensi kreatif dan etos keilmuan dalam rangka memanfaatkan ruang idealisme dan realitas. Karena itu definisi dan sasaran politik umat tidak lagi hanya berorientasi pada simbol-simbol. Misalnya menempatkan Islam berhadapan dengan negara atau mengislamkan negara menjadi Islam. Yang substantif ialah memaksimalkan peran kekhalifahan setiap orang Islam untuk memberi manfaat kepada orang lain sebagai sama-sama umat manusia yang mendambakan keadilan dan kemakmuran. Harus ada konsesus di tengah-tengah umat untuk tidak lagi memakai kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Indonesia kita saat ini menantikan solusi yang punya kandungan kebajikan bagi semua warganya. Kesalehan dan kezaliman tetap bisa berlangsung pada pribadi yang sama, karena itu toleransi kesetiaan kepada sumpah bersatu sebagai bangsa, meningkatkan ilmu dan teknologi, serta mengembangkan semangat berkompromi adalah solusi terbaik untuk menghindarkan bangsa kita dari perpecahan dan penderitaan yang tiada berujung. Itulah Islah. ***

Page 86

Bagian 21 - Dokumen
Attachment dokumen_talangsari_lampung_1.jpg dokumen_talangsari_lampung_2.jpg dokumen_talangsari_lampung_3.jpg dokumen_talangsari_lampung_4.jpg dokumen_talangsari_lampung_5.jpg dokumen_talangsari_lampung_6.jpg dokumen_talangsari_lampung_7.jpg dokumen_talangsari_lampung_8.jpg dokumen_talangsari_lampung_9.jpg Size 40.21 KB 49.22 KB 35.92 KB 45.48 KB 50.6 KB 37.55 KB 28.38 KB 34.4 KB 48.22 KB

dokumen_talangsari_lampung_10.jpg 28.14 KB dokumen_talangsari_lampung_11.jpg 57.5 KB dokumen_talangsari_lampung_12.jpg 51.7 KB dokumen_talangsari_lampung_13.jpg 20.58 KB http://www.talangsari.org/book/export/html/46 11/24/2008 11:19:02 AM

Buku Geger Talangsari

Page 87

dokumen_talangsari_lampung_14.jpg 46.38 KB dokumen_talangsari_lampung_15.jpg 47.59 KB dokumen_talangsari_lampung_16.jpg 46.41 KB dokumen_talangsari_lampung_17.jpg 44.81 KB dokumen_talangsari_lampung_18.jpg 49.39 KB dokumen_talangsari_lampung_19.jpg 25.26 KB dokumen_talangsari_lampung_20.jpg 24.95 KB dokumen_talangsari_lampung_21.jpg 45.81 KB dokumen_talangsari_lampung_22.jpg 46 KB dokumen_talangsari_lampung_23.jpg 34.17 KB dokumen_talangsari_lampung_24.jpg 34.17 KB dokumen_talangsari_lampung_25.jpg 63.86 KB dokumen_talangsari_lampung_26.jpg 26.7 KB

Bagian 22 - Tamat
Foto-foto Attachment Abdul_Fatah02492.jpg Abdullah_Sungkar_02511.jpg AM_Hendropriyono_02500.jpg bendorit_02494.jpg Size 14.44 KB 11.76 KB 20.41 KB 11.78 KB

Ditangkap_Penduduk_02496.jpg 22.71 KB Fadhillah_02497.jpg Gardu_02498.jpg Gardu_Racun_02499.jpg Ismed_Marzuki_02501.jpg Jembatan_02503.jpg 12.13 KB 22.84 KB 23.19 KB 20.33 KB 24.57 KB

Koramil_Way_Jepara_02504.jpg 17.41 KB Lokasi_02505.jpg Panah_Racun_02507.jpg Pesantren_Ngruki_02506.jpg Pos_Polisi_02508.jpg sarikun_02493.jpg Senjata_02509.jpg Soetiman_02495.jpg Sudarsono_02510.jpg 21.1 KB 23.67 KB 18.54 KB 21.37 KB 19.19 KB 17.48 KB 13.32 KB 12.27 KB

http://www.talangsari.org/book/export/html/46

11/24/2008 11:19:02 AM

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->