Anda di halaman 1dari 49

PEMANTAUAN EKOSISTEM DAN TEKNIK PENGAMATAN

Dalam MK ini akan diuraikan tentang :

A. PERANAN PENGAMATAN DALAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU


B. PENGAMBILAN SAMPEL DAN PROGRAM PEMANTAUAN C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESALAHAN DALAM PENGAMBILAN SAMPEL 1. Sifat Ketrampilan Petugas Pengamat 2. Keadaan LIngkungan Setempat 3. Sifat Sebaran Spasial Serangga D. METODE PENGAMBILAN SAMPEL 1. Metode mutlak 2. Metode nisbi 3. Metode indeks populasi

E. PENYUSUNAN PROGRAM PENGEMBILAN SAMPEL 1. Penentuan Unit Sampel 2. Penentuan Interval Pengambilan Sampel 3. Penentuan Ukuran Sampel 4. Desain atau Pola Pengambilan Sampel

5. Mekanik Pengambilan Sampel


F. PENGEMBANGAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL G. PROGRAM PENGAMATAN PETUGAS PERLINDUNGAN TANMAN DI INDONESIA 1. Metode pengamatan 2. Metode Pengembilan Contoh 3. Penilaian Kerusakan

A. PERANAN PENGAMATAN DALAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU


Dalam penerapan PHT, pengamatan ekosistem merupakan kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan dalam mengambil keputusan tentang pengendalian OPT. Hubungan antara Aras Pengambilan keputusan dengan kegiatan pemantauan sangat erat. Nilai Ambang Ekonomi yang ditetapkan tidak bermanfaat apabila tidak diikuti kegiatan pemantauan yang teratur dan dapat dipercaya. Sebaliknya program pemantauan tidak bermanfaat apabila tidak dikaitkan dengan suatu aras penentuan keputusan pengendalian seperti ambang ekonomi. Pemantauan adalah suatu kegiatan pengamatan yang dilakukan secara berkala pada suatu obyek di lokasi tertentu untuk kepentingan pengambilan keputusan. Pengamatan yang dilakukan secara insidentil yang tidak digunakan untuk pengambilan keputusan bukan merupakan kegiatan pemantauan Kaitan antara kegiatan pengamatan dan aras pengambilan keputusan PHT dapat dijelaskan melalui bagan sistem organisasi pelaksanaan PHT seperti berikut ini :

Proses Pengembilan Keputusan PHT

Analisis Ekosistem

Pengambilan Keputusan

Pengamatan

Tindakan

AGROEKOSISTEM

Agroekosistem merupakan sistem yang dikelola oleh petani dengan tujuan agar diperoleh produksi pertanian tinggi, populasi hama dan kerusakan tanaman dapat dipertahankan pada aras yang tidak merugikan, serta residu pestisida di makanan dan lingkungan dapat ditetapkan seminimal mungkin.

Agroekosistem bersifat dinamik, selalu berubah antar waktu dan antar tempat serta sangat peka terhadap pengaruh dari dalam dan luar ekosistem.
Agar sasaran pengelolaan agroekosistem tersebut dapat dicapai, diperlukan informasi tentang keadaan dan dinamika ekosistem yang diperoleh dari kegiatan pemantauan

Kegiatan pengamatan dilakukan bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keadaan ekosistem meliputi keadan cuaca, air, tanah, populasi hama dan penyakit, musuh alami, kerusakan tanaman, pertumbuhan tanaman dan lain-lain.
Berdasarkan hasil pengamatan, informasi yang diperoleh kemudian dianalisis dan kegiatan ini disebut Analisis Ekosistem. Hal-hal yang dianalisis diantaranya adalah apakah populasi hama sudah melebihi ambang ekonomi, populasi musuh alami apakah mampu memertahankan populasi hama dalam kedudukan keseimbangan, apakah kondisi cuaca apakah menguntungkan untuk perkembangan hama dan lain-lain. Hasil analisis merupakan masukan bagi pihak pengambil keputusan apakah petani, petugas lapangan dan lainnya untuk mengambil keputusan tentang bentuk tindakan pengelolaan yang perlu dilaksanakan terhadap ekosistem.

Pengambil keputusan merupakan lembaga atau perseorangan yang menetapkan keputusan dan rekomendasi yang perlu dilakukan untuk pengelolaan ekosistem termasuk tindakan pengendalian hama. Setelah diambil keputusan tentang tindakan pengelolaan ekosistem yang perlu dilakukan, keputusan tersebut segera langsung diterapkan di lapangan dalam bentuk tindakan pengelolaan. Tindakan pengelolaan tersebut dapat dalam bentuk pengendalian hama dengan pestisida kimia, teknik pengendalian hama lainnya atau tidakan pengelolaan ekosistem lainnya. Salah satu model pengambilan keputusan yang sederhana adalah Ambang Ekonomi dalam bentuk populasi hama atau intensitas kerusakan tanaman. Apabila data populasi hasil pemantauan menunjukan telah sama atau melampaui AE, keputusannya adalah segera dilakukan pengendalian kimia untuk mengembalikan populasi hama ke aras keseimbangan umumnya. Bila dibawah AE, tidak perlu dilaksanakan pengendalian kimiawi

Dalam pelaksanaan kegiatan pemantauan perlu ditetapkan siapa yang menjadi pelaksana pemantauan apakah petani atau petugas lapangan pemerintah yang ditugasi melakukan pemantauan seperti para POPT.
Idealnya apabila semua petani dan kelompok tani pernah memperoleh pelatihan pengamatan atau pelatihan PHT di SLPHT, tanggung jawab pemanatauan di tingkat lapangan adalah petani beserta kelompoknya. B. PENGAMBILAN SAMPEL DAN PROGRAM PEMANTAUAN Sampel atau contoh dalam pengertian statistik merupakan bagian suatu populasi atau universum. Populasi hama pada suatu tempat merupakan seluruh individu hama yang ada di tempat tersebut. Misal yang dimaksud populasi tanaman padi adalah seluruh tanaman padi yang ada pada suatu tempat. Sasaran program pengamatan adalah menghitung jumlah seluruh individu dari suatu populasi secara tepat. Tetapi untuk menghitung semua individu sangat sulit atau tidak mungkin dilaksanakan.

Dalam praktek pangamatan, petugas pengamat hanya mengamati sebagian kecil anggota populasi yang berupa sampel. Karene itu sebelum melakukan pengamatan para petugas pengamatan harus melakukan pengambilan sampel atau sampling. Dari data sampel dapat diduga sifat-sifat populasi termasuk jumlah individu dalam populasi Permasalahan penting yang dihadapi dalam setiap pengambilan sampel adalah menentukan jumlah anggota sampel yang tepat dan dapat mewakili keseluruhan anggota populasi. Apabila penentuan anggota sampel tidak benar, data sampel tidak dapat digunakan untuk menduga sifat populasi dengan tingkat ketepatan dan ketelitian yang tinggi. Dengan demikian kesimpulan yang diambil menjadi kurang tepat serta tidak sesuai dengan sifat populasi sesungguhnya.

Proses pengambilan sampel dan monitoring memerlukan teknik yang beragam tergantung pada jenis tanaman, jenis hama, atau organisme lain yang diamati. Ada dua syarat yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknik pengamatan dan pengambilan sampel yang dilakukan yaitu praktis dan dapat dipercaya. Praktis berarti metode pengamatan yang dilakukan sederhana, mudah dikerjakan dan tidak memerlukan peralatan dan bahan yang mahal, dan sedapat mungkin tidak mengambil waktu lama. Hasil pengamatan harus dapat dipercaya berarti metode tersebut akan menghasilkan data yang dapat mewakili atau menggambarkan secara benar tentang sifat populasi sesungguhnya. C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESALAHAN DALAM PENGAMBILAN SAMPEL Dalam pengambilan sampel banyak dijumpai sumber bias. Berikiut ini dikemukakan 3 sumber bias utama, yaitu:

1. Sifat Ketrampilan Petugas Pengamat

Keanekaragaman sifat, pengetahuan dan keterampilan petugas, petani yang melaksanakan pengamatan sangat mempengaruhi mutu data yang terkumpul serta terjadinya kesalahan yang tidak dapat dihindari. Hasil analisis dan kesimpulan yang diperoleh dari data semacam itu tentu saja akan menghasilkan kesimpulan yang salah dan rekomendasi tindakan pengendalian yang kurang tepat. Untuk menghidarinya: Diklat para petugas dan petani tentang bagaimana seharusnya seseorang nelakukan pengamatan ekosistem yang benar. Dibuat buku petunjuk dan standarisasi tabel pengamatan yang jelas dan mudah dilaksanakan oleh petugas atau petani pengamat, Petunjuk pengamatan meliputu kegiatan pengamatan di lapangan, pengisian tabel pengamatan, dan cara pelaporan ke lembaga pengambil keputusan. Untuk menjaga ketelitian pengamatan perlu dibatasi luas wilayah pengamtan yang menjadi tanggung jawab seorang pengamat hama sesuai dengan kemampuan dan waktu yang tersedia

2. Keadaan LIngkungan Setempat


Sumber bias lainnya yang tidak dapat dihindari adalah keadaan lingkungan setempat yang mempengaruhi aktivitas dan perilaku serangga yang diamati. Banyak jenis serangga aktif pada siang hari dan ada yang aktif pada malam hari, atau aktif pada jam-jam tertentu. Untuk mengurangi bias, waktu pengamatan harus disesuaikan dengan irama kehidupan serangga. 3. Sifat Sebaran Spasial Serangga

Sifat sebaran atau distribusi spasial individu serangga yang diamati di lapangan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam menetepkan metode pengambilan sampel. Ada 3 sifat sebaran serangga yang umum yaitu: (1) sebaran reguler atau rata yang mengikuti distribusi teoritik binomial positif, (2) sebaran random yang mengikuti distribusi teoritik Poisson, dan (3) sebaran mengelompok yang mengikuti sebaran teoritik binomial negatif.
Gambar berikut ini menunjukan perbedaan 3 jenis sebaran spasial serangga dengan menggambarkan satu individu serangga dengan satu titik.

Sebaran Reguler

Sebaran Random

Sebaran Mengelompok

Untuk melihat serangga yang diamati termasuk dalam sebaran yang mana dapat dilihat dengan menbandingkan nilai rerata ( x ) dan varians (S2) kepadatan populasi perunit sampel. Apabila rerata sama dengan varians, sebaran cenderung random, sedangkan apabila rerata lebih besar daripada varians sebaran cenderung reguler, sebaliknya apabila varians lebih besar dari rerata sebaran cenderung mengelompok. Untuk melihat seberapa jauh intensitas pengelompokan serangga secara spasial digunakan banyak ukuran sebaran seperti indeks k dari distribusi binomial, nilai b dari Taylor, indeks dispersi (I) dan indeks dispersi lainnya

D. METODE PENGAMBILAN SAMPEL


Sampai saat ini untuk studi ekologi dan pelaksanaan program PHT dikenal 3 metode pokok pengambilan sampel yaitu metode mutlak (absolut), metode nisbi (relatif) dan indeks populasi.

1. Metode mutlak
Metode pengambilan sampel mutlak menghasilkan angka pendugaan populasi hama dalam bentuk jumlah individu per satuan unit permukaan tanah atau habitat serangga yang diamati. Dengan angka kepadatan populasi yang diperoleh tersebut langsung dapat dilakukan pendugaan kepadatan populasi pada suatu wilayah pengamatan. Dalam pelaksanaan sampling terlebih dahulu ditetapkan unit sampel, dalam hal ini berupa satuan luas permukaan tanah misal 1 x 1 m2. Semua serangga yang diamati dan berada pada unit sampel kemudian dikumpul dihitung jumlahnya. Untuk satu petak pengamatan biasanya diambil beberapa unit sampel. Kemudian dihitung angka rerata dari data yang terkumpul dari beberapa unit sampel.

Pada areal yang pertanaman yang telah teratur dalam baris dan kolom, unit sampel dalam bentuk tanaman atau rumpun juga dimasukan sebagai metode pengamatan mutlak.
Metode absolut paling baik dibandingkan dengan 2 metode sampling liannya karena memiliki ketelitian yang tinggi. Metode ini sangat dianjurkan untuk penelitian ekologi dan penentuan keputusan pengendalian 2. Metode nisbi Pengambilan sampel biasanya dengan menggunakan alat perangkap jebakan, perangkap lampu dan jaring ayunan. Ketelitian metode ini sangat rendah, karena mertode ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor anatara lain keadaan lingkungan sekitar alat perangkap, keadaan dan kemampuan Petugas Pengamat, waktu pengumpulan serangga dilakukan, dll. Metode nisbi dapat dimanfaatkan untuk memperoleh gambaran atau indikasi tentang kapan terjadi penerbangan maksikal guna upaya pengendalian

3. Metode indeks populasi

Apabila pada metode mutlak dan nisbi untuk menduga sifat populasi masih dikumpulkan dan dihitung individu serangga yang teramati, tetapi pada metode indeks populasi pengamat hanya mengukur dan menghitung apa yang ditinggalkan oleh serangga tersebut. Misalnya berupa kotoran, kokon, sarang dll. Pada pengamatan hama tikus adalah jumlah liang aktif atau liang mati.
Indeks populasi yang saat ini paling sering digunakan dalam program pengamatan rutin adalah besar kerusakan atau akibat serangan hama yang terjadi pada tanaman yang terserang. Angka tersebut sering dalam bentuk intensitas kerusakan berat serangan atau luas serangan hama. Angka angka yang dikumpulkan dengan metode ini bukan angka jumlah individu dari populasi melainkan merupakan gambaran populasi dalam bentuk suatu indeks Ketelitian metode ini sangat rendah sehingga tidak dapat digunakan sebagai penduga angka populasi sesungguhnya. Namun karena kepraktisannya dapat digunakan dalam proses keputusan dan dalam menaksir nilai kerusakan tanaman yang diderita.

E. PENYUSUNAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL


Dalam menyusun secara lengkap program pengambilan sampel pada suatu wilayah pengamatan, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menetapkan beberapa kriteria atau ketentuan tentang pengambilan sampel. Ketentuan-ketentuan tersebut meliputi penetapan tentang : 1. Unit Sampel 2. Interval Pengambilan Sampel 3. Ukuran Sampel 4. Desain Pengambilan Sampel 5. Mekanik Pengambilan Sampel 1. Penentuan unit sampel Unit sampel merupakan unit pengamatan yang terkecil. Pada unit tersebut diadakan ukuran dan penghitungan oleh pengamat terhadap individu serangga yang ada, dan apa yang ditinggalkan oleh serangga yang menjadi objek pengamatan atau variabel pengamatan. Beberapa variabel pengamatan dapat diperoleh dari unit sampel dapat berupa kepadatan atau populasi hama, populasi musuh alami, intensitas kerusakan dll

Untuk menentukan unit sampel yang digunakan dalam suatu progran pengembilan sampel diperlukan banyak pertimbangan statistik dan data pendukung yang cukup mewakili. Secaara toritik unit sampel seharusnya tidak ditentukan begitu saja. Secara statistik sebelum ditetapkan unit sampel perlu diketahui sifat sebaran spasial dan temporal serangga yang diamati, dan sebaran serangga antar bagian tanaman.

Menurut Morris (1955), beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu unit sampel antara lain:

a. Setiap unit dalam universum harus mempunyai peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel
b. Ukurannya harus stabil dan tidak dipengaruhi oleh perubahan habitat c. Harus ada cara untuk mengubah unit sampel tersebut ke unit area permukaan d. Mudah dikerjakan di lapangan e. Harus ada keseimbangan antara varians dan biaya pengambilan sampel. Unit sampel juga ditentukan oleh tujuan pengamatan dan informasi apa yang diinginkan dari lapangan. Misalnya, apabila diinginkan informasi tentang suatu hama yang menyerang seluruh bagian pohon, sebaiknya unit sampel adalah tanaman, sedangkan apabila yang dipelajari serangga pemakan daun, maka unit sampel dapat dibatasi hanya pada daun.

Ada berbagai jenis unit sampel yang saat ini digunakan dalam praktek pengamatan baik untuk penelitian atau untuk pengambilan keputusan pengendalian hama. Biasanya unit sampel dikembangkan berdasarkan sifat biologi serangga dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Unit sampel dapat berupa:
a. Unit yang langsung berhubungan dengan suatu luas daerah, misalnya luas permukaan tanah 1 x 1 m2, 1 x 2 m2 dll b. Unit beruypa suatu volume, misalnya volume tanah, satu ayunan jala ayun dll c. Unit sampel dalam bentuk bagian tanaman atau keseluruhan tanaman seperti rumpun, batang, satu daun, satu pelepah daun, 5 tanaman, dll. d. Unit sampel dalam bentuk satuan waktu seperti jumlah serangga yang tertangkap oleh pengisap D-vac selama 3 menit, jumlah serangga yang terhisap Farmcop selama 5 menit, jumlah ngengat tertangkap lampu selama 10 jam, dll. e. Unit sampel dalam bentuk stadia hamanya sendiri. Unit tersebut sering digunakan untuk mengadakan evaluasi terhadap musuh alami, misalnya berapa persentase larva hama yang terparasit, jumlah larva parasit per larva inang, dll.

2. Penentuan Interval Pengembilan Sampel

Interval pengambilan sampel merupakan jarak waktu pengamatan yang satu dengan waktu pengamatan yang berikutnya pada petak pengamatan yang sama.

Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan interval pengamatan antara lain tingkat tumbuh tanaman, daur hidup serangga yang diamati, tujuan pengambilan sampel, faktor cuaca dll.
Untuk serangga yang mempunyai siklus pendek dan kapasitas reproduksi tinggi, interval pengamatan harus pendek agar tidak kehilangan informasi lapangan. Demikian juga keadaan ini berlaku bagi komoditas tanaman yang peka terhadap serangan hama dan juga untuk jenis hama yang peningktan kerusakannya berjalan cepat Faktor yang harus diperhatiakn adalah tingkat ketelitian, ketersediaaan tenaga dan biaya pengamatan. Pada sebagian besar tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan pengambilan sampel oleh pengamat dilaksanakan satu minggu sekali.

Penentuan ukuran sampel

3. Penentuan ukuran sampel Dalam program pengambilan sampel dan pengamatan, peenentuan ukuran sampel atau jumlah unit yang harus diamati pada setiap waktu pengamatan sangat menentukan kualitas pengamatan. Penentuan ukuran sampel optimal merupakan hal yang kritis dan sulit sehingga perlu dilakukan secara hati-hati. Ukuran sampel optimal yaitu jumlah unit sampel yang harus diambil pada setiap kali waktu pengamatan, sehingga diperoleh data yang diperlukan guna mengambil kesimpulan yang benar dan dapat dipercaya

Ukuran sampel dipengaruhi oleh dua komponen utama yaitu varians (S2) yang menjelaskan distribusi data sampel, dan biaya pengambilan sampel yang terdiri ongkos tenaga dan alatalat pengamatan sampel

Secara umum dapat dikatakan semakin besar ukuran sampel (n) semakin dapat dipercaya harga penduga parameter populasi.

Menurut ahli statistik misalnya Southwood (1966), Elliot (1977) dan Karandinos (1976). Ukuran sampel sangat ditentukan oleh tingkat ketelitian yang diinginkan. Semakin tinggi ketelitian yang diinginkan semakin besar harga n (ukuran sampel). Tingkat ketelitian dapat dinyatakan dalam berapa besar derajat toleransi dalam membuat kesalahan.
Para ahli ekologi sudah menyepakati bahwa toleransi kesalahan untuk penelitianan ekologi populasi seperti studi dinamika populasi sebesar 10 % (nisbah antara standar eror dan rerata), sedangkan untuk tujuan-tujuan lain seperti untuk pengambilan keputusan pengendalian kesalahan dapat ditoleransikan mencapai 20 %. Kecuali ditentukan oleh risiko kesalahan, ukuran sampel sangat dipengaruhi oleh bentuk sebaran populasi hama atau kerusakan hama di lapangan. Ukuran sampel semakin sedikit apabila sebaran spsial hama merta atau regular, tetapi ukuran sampelo menjadi semakin besar apabila sebaran hamja atau kerusakan semakin mengelompok

Kendala terpenting yang menentukan berapa banyak unit sampel yang dapat diamati yaitu keterbatasan tenaga, waktu dan biaya. Pertimbngan statistik dan ekonomi merupakan dua hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pengamatan dan pengambilan sampel. 4. Desain atau Pola Pengambilan Sampel

Ada berapa pola yang dapat digunakan untuk menetapkan unit sampel agar sampel tersebut dapat mewakili keseluruhan anggota populasi, penentuannya dilaksanakan secarea acak atau random seperti dengan tabel random.
Apabila proses pengacakan langsung dilakukan pada populasi maka digunakan pola yang disebut acak sedrehana atau simple random sampling.

Dalam satu kebun cara ini dilakukan dengan memberi nomor pada semua pophon dan kemudian dipilih pohon sampel secara acak. Pengacakan juga dapat dilakukan dengan membagi derah yang akan diamati menjadi sepuluh petak secara random. Cara ini dapat menjamin bahwa pohon sampel dapat tersebar di seluruh daerah pengamatan.
Pola acak sederhana tidak efesien untuk digunakan pengambilan sampel pada suatu daerah yang keragaman soasial tinggi terutama satu tempat dengan tempat lain. Untuk meningkatkan efesiensi maka sebaiknya pola yang digunakan adalah pola acak berlapis atau stratified random sampling. Pola acak berlapis. Yaitu seluruh wilayah pengamatan dibagi dalam berapa lapis atau strata menurut sifat keanekaragaman tertentu, katakan umur tanaman. Diusahakan keragaman dalam stratum lebih rendah daripada keragaman antar stratum. Misalnya stratum 1 semua pohon muda, stratum 2 pohon yang berumur lebih tua dan seterusnya. Penentuan pohon yang akan menjadi anggota sampel ditetapkan secara random di dalam setiap stratum

Pola sampling acak berlapis merupakan pola yang paling baik untuk pengamatan hama. Menurut pengalaman bahwa pola keragaman atau variasi dat populasi hama dan kerusakannya sangat tinggi karena dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik dan abiotik
Secara statistik pengambilan sampel secara acak merupakan pola yang paling baik namun dalam pelaksanaan di lapangan sering kali tidak praktis dan mahal karena memerlukan waktu pengamatan yang lama dan juga jumlah pengamat lebih banyak.

Untuk mengurangi biaya pengamatan pengambilan sampel secara random lebih disederhanakan antara lain dengan pola pengambilan sampel sistematik. Disamping penentuan unit sampel, jumlah sampel yang diamati per petak pengamatan dalam sampling perlu juga ditetapkan rute perjalanan pengamat.

Rute perjalanan pengamat merupakan rute atau arah perjalanan pengamat dalam mengadakan pengamatan yangt mencakup seluruh tanaman pada petak pengamatan. Rute ini perlu ditentukan sebelumnya dan diushakan seluruh tanaman di petak memperoleh peluang yang sama untuk diamati. Rute dapat dilakuan sepanjang diagonal atau mengikuti baris selang berapa baris tertentu dan selanjutnya (lihat gambar). Setelah rute ditetapkan, ditentukan tanaman atau kelompok tanaman yang akan diamati. Pola ini dinamakan sistematik karena unit sampel pengamatan berjarak sama. Pelaksanaan sampling sistematik ini lebih menghemat waktu dan tenaga dibandingkan sampling secara random. Kesalahan statistik dapat terjadi apabila di lapangan terjadi keragaman yang bersifat sistematik. Agar risiko kesalahan dapat ditekan, pada setiap pengamatan diusashakan mencakup seluruh bagian petak pengamatan ke cuali baris pinggir

Pola Diagonal

Pola Zigzag

Pola Lajur Tanam

5. Mekanik Pengambilan Sampel


Mekanik pengambilan sampel serangga adalah teknik memperoleh, mengumpulkan serta menghitung individu serangga yang diamati atau bahan yang ditinggalkan oleh serangga. Mekanik sampling yang paling sering dilakukan oleh para pengamat adalah pengamatan dan penghitungan langsung individu serangga atau kerusakan tanaman yang dijumpai pada unit sampel yang telah ditentukan. Hasil penghitungan pengamatan langsung dimasukan pada blangko pengamatan untuk bahan laporan. Kelemahan teknik sampling ini terletak pada tingkat ketelitian, ketrampilan, kejujuran, dan kemampuan fisik pengamat. Morris (1966) membagi langkah-langkah mekanik pengambilan sampel populasi hama sebagai berikut:

a. Pengumpulan serangga dengan cara:


1) Langsung dengan tangan, perangkap serangga menfaatkan angin, cahaya, suara, bahan perekat, listrik, atau dengan perlakuan pestisida, dengan jaring ayun, dengan bantuan alat aspirator, dengan mengoyang tangan dan menampung serangga yang jatuh dengan menggunakan kain.

2) Tidak langsung dengan mengumpulkan contoh medium atau tempat serangga hidup seperti daun, batang, buah, tanah, air, udara dan kemudian diadakan ekstraksi untuk memperoleh serangga yang diamati. a. Ekstraksi serangga dapat dilakukan dengan: 1) Mengambil langsung dengan tangan (terutama untuk serangga daun)

2) Metode mekanik ( dengan ayakan tanah, pengapungan, penyikatan, dll)


3) Metode kimiawi (fumigan, repelen, anestik) 4) Metode perilaku dengan cahaya, panas, air hangat, dll b. Penghitungan serangga dapat dilakukan dengan: 1) Penghitungan langsung pada seluruh individu yang terkumpul dari setiap unit sampel

2) Menimbang atau mengukur volume serangga yang terkumpul karena jumlahnya yaang terlalu banyak dan berukuran kecil. Untuk itu harus ada rumus konversi dari unit volume menjadi unit jumlah

F. PENGEMBANGAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL

BERUNTUN
Untuk mempercepat proses pengambilan keputusan berdasar hasil pengamatan diperlukan teknik pengambilan sampel yang lebih praktis dan kurang memerlukan waktu yang lama. Salah satu teknik sampling yang memenuhi persyaratan tersebut adalah teknik pengambilan sampel beruntun atau sequential sampling. Berbeda dengan teknik konvensioanal yang memrlukan jumlah unit sampel yang tetap pada setiap pengamatan, teknik sampling beruntun tidak memerlukannya, karena unit sampel ditentukan oleh kepadatan populasi. Keputusan dapat berupa perlu pengendalian, bila populasi hama tinggi atau tidak perlu pengendalian bila populasi rendah. Apabila kepadatan populasi hama sedang jumlah unit sampel yang diamati menjadi lebih banyak Dalam pelaksanaan sampling beruntun di lapangn dilengkapi dengan alat bantu dalam bentuk seperti gambar dan/atau tabel dibawah ini, (yang telah dikembangkan oleh Shepard (1988) untuk pengamatan WBC)

Tanggal No. Sampel Jumlah Wereng Kumulatif Jumlah Predator Jumlah Wereng Terkonversi Batas Bawah

Lokasi Batas Atas

1 2

3
4 5 6 7 8 9

< 34 < 47 < 61 < 74 < 87 < 101

Pengambilan Sampel Diteruskan

Tidak Perlu Pengendalian

69> 83> 96> 109> 123> 136> Perlu Pengendalian

10
11 12 13

< 114
< 128 < 141 < 154

150>
163> 176> 190>

A. Perlu pengendalian

B. Pengambilan sampel diteruskan

C. Tidak perlu pengendalian

Gambar. Pengembilan Sampel Beruntun untuk Wereng Coklat Padi, Populasi/Rumpun

Pengambilan Sampel Rumpun Padi secara Diagonal


Untuk menyusun dan menetapkan program sampling beruntun untuk hama diperlukan informasi dasar yang diperoleh dari kegiatan penelitian, informasi tersebut anatara lain: 1. Sifat dan ukuran distribusi spasial individu serangga hama yang diamati. Perlu diketahui apakah distribusi bersifat random, reguler, atau mengelompok. Bila mengikuti distribusi binomial negatif perlu dihitung nilai k atau indeks binomial

2. Batas atas (m2) dan batas bawah (m1) untuk penentuan keputusan. Biasanya batas populasi atas digunakan Ambang Pengendalian. Nilai batas bawah diambil nilai yang sedikit di bawah Ambang Pengendalian. (Pendigo, 1980 secara konservatif menentukan nilai batas bawah sebesar 2/3 dari nilai Ambang Pengendalian atau nilai batas atas)
3. Tingkat toleransi berbuat kesalahan dalam bentuk alpha () dan beta (). Alpha merupakan risiko berbuat kesalahan keputusan yang dilakukan sat mengeluarkan keputusan tidak dikendalikan padahal seharusnya dikendalikan. Kesalahan beta merupakan risiko berbuat kesalahan apabila diputuskan pengendalian hama padahal tidak perlu dikendalian Dua garis linier atau garis keputusan didapatkan dari persamaan regresi linier sebagai berikut: d1 = bn h1 (garis bawah) d2 = bn h2 (garis atas)

Untuk memperoleh b, h1, dan h2 digunakan rumus Water (1955)


m2-m1

b = ------------------------------------- ; log em2 logem1 1- log e ------------

h1 =-----------------------------------log em2 log e m1 1- log e --------

h2 =- -----------------------------------log e m2 log em1

G. PROGRAM PENGAMATAN PETUGAS PERLINDUNGAN TANMAN DI INDONESIA

Program pengamatan dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui jenis dan kepadatan populasi OPT, luas dan intensitas serangan OPT, daerah penyebaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, petugas diharapkan dapat menanalisis data dan informasi secara dini untuk menentukan langkahlangkah penanganan usahatani selanjutnya 1. Metode pengamatan Pengamatan OPT dilakukan dengan dua cara , yaitu Pengamatan Tetap dan Pengamatan Keliling.

a. Pengamatan petak tetap


Pengamatan tetap bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi dan musuh alami serta intensitas serangan. Petak contoh ditetapkan untuk 3 jenis tanaman utama. Untuk komoditas terluas 2 petak contoh, sedangkan dua komoditas lainnya masing-masing 1 petak contoh. Petak contoh ditentukan secara purposive, sehingga mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan dalam hal teknik bercocok tanam, waktu tanam dan penggunaan varietas.

b. Pengamatan keliling Pengamatan keliling atau patroli bertujuan untuk mengetahui tanaman terserang dan terancam, luas pengendalian, serta mencari informasi tentang penggunaan, peredaran dan penyimpanan pestisida. Pelaksanaannya dengan menjelajahi wilayah pengamatan. Sebelum melaksnakan pengamatan, petugas disarankan menemui petani/kelompok tani atau sumber lain yang layak dipercaya untuk memperoleh informasi tentang adanya serangan OPT dan kegiatan pengendalian di wilayah kerjanya. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan daerah yang dicurigai dan mengkonsentrasikan pengamatannya. Penentuan daerah yang dicurigai didasarkan pada kerentanan varietas yang ditanam terhadap OPT utama di daerah tersebut, stadia pertumbuhan tanaman dan jaraknya terhadap sumber serangan.

Serangan di daerah yang dicurigai diambil 3 petak contoh yang dianggap paling mewakili untuk hamparan tersebut (dengan metode diagonal). Tiap unit contoh diamati 10 rumpun.

2. Metode Pengembilan Contoh


Pengambilan contoh pada pengamatan OPT (padi dan palawija) dilakukan dengan metode diagonal. Pada pengamatan tepap tiap contoh ditentukan tiga unit contoh yang terletak di titik perpotongan garis diagonal petak contoh (A) dan di pertengahan potongan-potongan garis garis diagonal yang terpanjang (B dan C). Tiap unit contoh diamati 10 rompun. Pengamatan rumpun contoh dimulai pada rumpun ke-5 dengan interval 5 langkah. Seadangkan bila petak contoh kecil pengamatan rumpun contoh dengan bentuk hurup U. Dari petak contoh itu diamatai intensitas serangan, kepadatan populasi OPT dan kepadatan populasi Musuh alami Sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai, interval waktu pengamatan untuk pengamatan tetap ditentukan satu minggu dan dilaqporkan setiap dua minggu.

C C A
A

B
B

Pengamatan keliling di hamparan yang dicyrigai, diamati tiga petak contoh yang tertletak pada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongan garis diagonal tersebut (B) dan (C). Dalam setiap petak contoh pengamatan diamati 10 rumpun/tanaman contoh yang diambil seperti pada pengamatan tetap

3. Penilaian Kerusakan Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejala serangan OPT yang sifatnya sangat beragam. Kerusakan tanaman oleh serangan OPT dapat berupa kerusakan mutlak (atau yang dianggap mutlak) dan tidaak mutlak. a. Kerusakan mutlak Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau yang dianggap mutlak digunakan rumus sebagai berikut: a I =- -----------------a+B I = Intensitas serangan a = banyaknya contoh (daun, pucuk, buah, tunas, tanaman, rumpun tanaman) yang rusak mutlak atau dianggap mutlak b = banyaknya contoh yang tidak rusak (tidak menunjukan gejala)

Pada komoditas tanaman pangan, rumus tersebut digunakan untuk menilai keruskan mutlak, pada tunas, maalai, gabah, rumpun tanaman/bagian tanaman sebagai bertikut;
1. Padi : Penggerek batang (tunas dan malai), gajur (tunas), tikus ( tunas dan malai), walang sangit (gabah), ulat grayak (malai), babi hutan (rumpun), burung (malai) orong-orong (tunas), uret (tunas), siput murbei (rumpun), penyekit blas (leher malai dan batang), tungro (rumpun), kerdil kuning (rumpun), daun jingga (rumpun), kerdil hampa (malai), dan penyakit kembang api (malai)

2. Jagung : Lalat bibit (tunas), penggerek batang (tanaman), penggerek tongkol (tongkol), uret (taanaman), kumbang landak (tongkol), babi hutan (batang dan tongkol), nematode (tanaman), burung (tongkol), penyakit bulai (tanaman), busuk tongkol (tongkol) dan penyakit gosong bengkak (tongkol)

3. Ubi kayu Tikus (tanaman), Babi hutan (tanaman), uret (tanaman), tungau (tanaman), Penyekit layu (tanaman) dan busuk bakteri batang (tanaman) 4. Ubi jalar Hama boleng (umbi), babi hutan (tanaman), dan virus (tanaman) 5. Kacang tanah

Tikus (rumpun), babi hutan (rumpun), penyakit virus belang (rumpun), sapun(rumpun), gapong (polong), nematoda layu akar (rumpun), nematoda buncak akar (rumpun), layu bakteri (rumpun), virus mosaik (tanaman), virus kacang bergaris (tanaman), dan virus belang (tanaman)
6. Kedelai Lalat kacang (tuna), kepik hijau (polong), penggerek polong (polong), kepik coklat (polong), nematoda layu (tanaman) penggerek pucuk (tanaman), tikus (tanaman), pengisap polong (polong), babi hutan (tanaman), penggerek batang (tanaman)

lanjutan kedelai nematoda buncak akar (tanaman), penyakit busuk pangkal batang (tanaman), virus mosaik (tanaman), virus mosaik kuning kedelai (tanaman), virus belang samar (tanaman), busuk arang (tanaman), busuk rhizoctonia (tanaman), virus kerdil (tanaman), virus kacang mosaik kuning (tanaman) dan virus katai (tanaman) 7. Kacang hijau Lalat kacang (tunas), kepik hijau (polong), penggerek polong (polong), tikus (polong dan tanaman), babi hutan (tanaman), penyakit virus mosaik (tanaman), busuk semai (tanaman), nematoda layu akar (tanaman), nematoda buncak akar (tanaman), sapu (tanaman), dan pengisap polong (polong)

8. Sorghum
Penggerek batang (tanaman), tikus (malai), babi hutan (tanaman), dan burung (malai)

b. Kerusakan Tidak Mutlak Untuk menilai serangan OPT yang tidak menimbulkan kerusakan mutlak digunakan rumus sebagai berikut: Z

( ni x vi )
i=0 I = ------------------------------ x 100 % ZxN Keteranagan:

I = intensitas N = jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh dengan skala kerusakan Vi
Vi = nilai skala kerusakan contoh ke-I

N = jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh yang diamati


Z = Nilai skala kerusakan tertinggi

Rumus tersebut di atas digunakan untuk menilai serangan OPT pada tanaman sebagai berikut: Padi : Penyakit blas (daun), bakteri hawar daun (daun), hawar pe;epah daun, bakteeri daun bergaris, bercak coklat (daun), bercak daun coklat bergaris (daun), Bacterial red stripe (daun), ulat grayak (daun), hama putih palsu (daun), belalang (daun), ulat daun (daun), wereng batang cokloat (rumpun), kepinding tanah (rumpun), lalat daun (daun), dan penyakit bakanae (tunas).

Jagung : Belalang (daun), ulat grayak (daun), penyakit karat (daun), hawar pelepah (pelepah daun), penyakit bercak daun (daun), dan penyakit hawar daun (daun)
Ubi kayu: Penyakit hawar ubi kayu (daun), kudos (daun), antraknose (daun), bercak coklat (daun), dan bercak Phylosticta (daun) Kac Tanah: Ulat grayak (daun), pelipat daun (daun), penyakit bercak daun (daun), karat (daun) dan wereng (rumpun)

Kedelai

Ulat jengkal (daun), kumbang kedelai (daun), belalang (daun), ulat tanah (daun), ulat grayak (daun), kutu daun (daun), kutu kebul (daun), penggulung daun (daun), kumbang tanah kuning (daun), penyakit bisul bakteri (daun), karat (daun) dan penyakit hawar bakteri (daun)

Kacang hijau :

Penggulung daun (daun), penyskit bercak daun (daun), kudis (batang, daun, polong), hawar bakteri (daun), bisul bakteri (daun), dan embun tepung (daun) Belalang (daun) dan penyakit hawar pelepah (pelepah daun)

Sorghum