Anda di halaman 1dari 7

Motor Dua Kecepatan 1.

Kontroler dengan Dua Kecepatan, 2 Lilitan Tegangan saluran, pengasut pengasut multi-kecepatan AC dirancang untuk menyediakan kontrol bagi pengoperasian motor rotor sangkar pada dua, tiga, atau empat kecepatan konstan yang berbeda, bergantung pada kontruksinya. Penggunaan sebuah pengasut otomatis dan suatu pusat kontrol akan menghasilkan efisiensi kerja yang besar dan memberikan proteksi, baik untuk motor dan mesin tersebut, terhadap urutan yang tidak sesuai ataupun perubahan kecepatan yang terjadi terlalu cepat. Proteksi terhadap beban lebih motor di tiap kecepatan adalah perlu. Motor dengan lilitan terpisah mempunyai sebuah lilitan yang berbeda untuk tiap kecepatan yang diperlukan. Walaupun konstruksi dari motor jenis ini agak sedikit rumit dan oleh karenanya lebih mahal, akan tetapi kontrolernya relatif lebih mudah

Gambar 2.1 Diagram garis untuk pengasut motor 3 , 2 lilitan, 2 kecepatan, ukuran 2, 3,4, dan 5 Pada pengaturan kontrolnya di gambar 2.1, perhatikan bahwa motor dapat diasut pada kedua kecepatan, tetapi tombol STOP harus ditekan untuk berpindah dari kecepatan tinggi ke kecepatan rendah. Pengasut yang ditunjukkan pada gambar diatas dilengkapi dengan suatu interlock mekanis pengasut L dan H; interlock kontak bantu juga .Gambar 2.2 menunjukkan interlock antara tombol tombol tekan. Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa suatu perpindahan dapat

dilakukan tanpa menyentuh tombol STOP. Bagaimanapun juga, peralihan kecepatan yang cepat dan terus menerus dapat mengaktifkan relay beban lebih. Untuk mencegah hal ini, skema kontrolnya dapat dilengkapi dengan relay penunda-waktu yang akan menyediakan suatu jeda waktu antara perubahan perubahan kecepatan.

Gambar 2.2 Diagram elementer dari peng-interlock-an tombol tekan dan perpindahan antara 2 kecepatan tanpa berhenti Gambar 2.3 menunjukkan fungsi dari suatu rangkaian relay percepatan. Jika diinginkan kecepatan tinggi,maka tombol kecepatan tinggi ditekan, dan relay kontrol energized. Rangakaiannya terbentuk melalui kontak normally open yang berada dibawah tombol tekan HIGH yang terletak dari kontak 2 menuju kontak 3, yang mengakibatkan terbukanya kontak normally closed CR.

Gambar 2.3 Diagram elementer dari suatu pengasut dengan sebuah relay percepatanuntuk suatu motor 3, 2 lilitan, 2 kecepatan, terhubung

Kontak N.O. CR, (berada dibawah tombol tekan LOW) dari kontak 2 menuju kontak 4, meng-energize koil pengasut kecepatan-rendah L.melalui kontak kontak N.C. (TR danH). Sementara motor mengasut dengan kecepatan rendah, kontak CR menutup kontak bantu N.O. L untuk meng-energize relay pewaktuan (TR). Rangkaian tersebut terbentuk melalui kontak N.O. TR dan kontak 2. Ketika kontak delay-in-opening N.C. membuka setelah penundaan waktu tertentu, maka kontak delay-in-closing N.O. tertutup. Hasilnya adalah koil pengasut L membuka dan interlock N.C. L pada rangkaian koil H tertutup. Sekali koil H ter-energized, maka motor akan running pada kecepatan tinggi. Untuk mengasut motor pada suatu kecepatan rendah, tekanlah tombol-tekan LOW. Motor akan diasut pada kecepatan rendah dan meng-energized koil TR dan dibentuk melalui kontak N.O. TR. Kontak delay-in-opening N.C. sekarang terbuka, akan tetapi koil L terjalin melalui kontak N.C. CR. Untuk beralih ke operasi kecepatan tinggi, tombol HIGH dapat ditekan karena kontak N.O. delay-in-opening TR juga tertutup.

2. Kontroler 1Lilitan, 2 Kecepatan Beberapa aplikasi tertentu memerlukan fungsi suatu motor yang memiliki suatu lilitan yang diatur sedemikian rupa sehingga jumlah kutub dapat diubah dengan membalik sebagian arus - arus. Jika jumlah kutub digandakan, kecepatan motor akan terbagi separuh. Jumlah kutub dapat dipotong menjadi setengahnya dengan mengubah polaritas dari pasangan bolak balik dari kutub kutubnya, gambar 2.4 . Polaritas dari separuh kutub kutub dapat diubah dengan membalik arus pada separuh koil.

Gambar 2.4 (A) 8 kutub untuk kecepatan rendah; (B) 4 kutub untuk kecepatan tinggi

Jika suatu medan stator terletak datar seperti pada gambar diatas, dapat dilihat bahwa medan stator yang terjadi harus dapat menggerakkan rotor dua kali jarak pada A di B dalam jumlah waktu yang sama; dikarenakan itu, ia harus berjalan lebih cepat. Semakin berkurangnya jumlah kutub yang terdapat di stator, maka makin tinggi rpm kecepatan suatu motor. Suatu motor tiga fasa dapat dibelit hingga enam ujung dapat ditarik keluar. Dengan membuat hubungan hubungan yang tepat dengan ujung ujung ini, lilitan lilitan tersebut dapat dihubung delta seri atau wye paralel. Jika lilitan tersebut sedemikian rupa hingga hubungan delta seri akan memberikan kecepatan tinggi dan hubungan paralel wye akan memberikan kecepatan rendah, walaupun rating dayanya sama pada kedua kecepatan itu. Motor motor kutub konsekuen memiliki sebuah lilitan tunggal untuk dua kecepatan. Tap tap tambahan dapat diambil dari lilitan untuk mengijinkan penyambungan ulang dari sejumlah kutub kutub stator yang berbeda. Kisaran kecepatan dibatasi hingga suatu perbandingan sebesar 1 : 2, misalnya 600 1200 rpm atau 900 1800 rpm.

Gambar 2.5 Tabel koneksi untuk motor 3 berdaya konstan, lilitan tunggal, dua kecepatan Berdasarkan tabel koneksi motor pada gambar 2.5, perhatikan bahwa untuk operasi kecepatan rendah, T1 terhubung ke L1, T2 dengan L2, T3 dengan L3, sedang T4, T5, dan T6 terhubung bersama sama. Untuk operasi kecepatan tinggi, T6 dihubungkan ke L1, T4 ke L2, T5 ke L3, sedangkan semua ujung ujung motor yang lain dibiarkan terbuka. Gambar 6.6 menggambarkan suatu pengasut selektif multi-kecepatan ukuran 1 yang dihubungkan untuk penggunaan

bersama dengan motor berdaya konstan yang dapat dihubungkan ulang (reconnectable). Kontrolnya adalah suatu pusat tiga-elemen,cepat-lambatberhentiyang terhubung untuk mengasut baik kecepatan rendah ataupun tinggi. Sebagai tambahan, kecepatan dapat diubah dari cepat ke pelan atau dari pelan ke cepat tanpa terlebih dahulu menekan tombol stop. Jika pertimbangan pertimbangan alat tersebut mengharuskan untuk menghentikan motor sebelum mengubah kecepatan, maka fitur ini dapat ditambahkan ke rangkaian kontrol dengan membuat penyambungan D, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.6 A dan B dengan garis putus putus. Penyambungan untuk lampu indikator juga diberikan pada gambar tersebut. Gambar 2.6 (A) Diagram pengkawatan dan (B) Diagram garis dari suatu pengasut magnetik, dua kecepatan untuk motor liliatn tunggal

Suatu skema kontrol tipe paksa (compelling-type) ditunjukkan

pada

gambar 2.7. Kontroler ini dirancang sedemikian rupa sehingga sang operator harus menjalankan motor itu pada kecepatan rendah. Kontroler ini tidak dapat dialihkan ke kecepatan tinggi hingga ia telah running.

Gambar 2.7 Rangkaian kontrol dua kecepatan dengan menggunakan suatu relay pemaksa Ketika tombol slow ditekan, pengasut kecepatan-rendah S dan relay kontrol FRenergized. Sekali motor telah running, ditekannya tombol fast akan menyebabkan pengasut kecepatan-lambat berhenti sementara pengasut kecepatantinggi pick-up melalui kontak kontak N.C. pengasut kecepatan-rendah dan kontak kontak N.O. dari relay kontrol FR. Jika tombol fast ditekan dalam upaya untuk mengasut motor, tidak akan terjadi apa apa dikarenakan kontak kontak N.O. dari relay kontrol FR akan mencegah pengasut kecepatan-tinggi agar tidak energize. Ketika tombol fast ditekan, ia tidak membuat satu rangkaian tapi ia hanya memutuskan rangkaian. Ini adalah bentuk lain dari pengasutan berurutan. Ketika suatu kontroler multi-kecepatan dipasang, ahli listrik (electrician)tersebut harus memeriksa secara hati hati untuk memastikan bahwa fasa fasa tidak secara sengaja terbalik antara lilitan kecepatan rendah dan tinggi. Ahli listrik tersebut harus memeriksa pengkawatannya, atau mesin yang akan digunakan tersebut harus tidak terhubung dengan motor hingga suatu inspeksi operasional selesai dilakukan. Untuk memilih kecepatan, baik itu rendah atau tinggi, dilakukan dengan suatu saklar pemilih (selector switch) dua-posisi. Arah putarannya dipilih dengan menggunakan tombol tekan maju atau mundur. Ketika kontak daya F atau R ditutup, arus disuplai untuk kontrol kontrol rendah-tinggi. Misalkan saklar pemilih berada di posisi tinggi, kontaktor L energized yang akan mengasut motor

pada kecepatan rendah. Bersamaan dengan itu, koil relay pewaktuan TR juga energized. Ketika kontak delay-in-opening N.C. membuka setelah waktu tunda tertentu, kontak N.O. TR menutup pada waktu yang bersamaan juga. Hal ini menyebabkan kontaktor L de-energized dan interlock N.C. L mengenergized kontaktor H. Motor sekarang berjalan pada kecepatan tinggi. Motor tersebut tentunya dapat pula diasut pada kecepatan rendah sebelum ia beralih ke kecepatan tinggi.

Gambar 2.8 merupakan diagram elementer dari suatu kontroler pembalik, dua kecepatan.

Arif Widiyanto/TL 3A/04 1310020024