Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK Nama NIM Hari/Tanggal Kelompok Waktu Asisten PJP : Atikah Bararah : F24080076 : Kamis/10-3-2010

: A/Kamis Siang : 13.45 : Catharina : Dr. Irmanida B. SSi, MSi

PENGENALAN KEMBALI ALAT-ALAT LABORATORIUM I. Prinsip Percobaan Prinsip percobaan ini adalah Titrimetri, yaitu salah satu cara analisa kuantitatif secara klasik yang bertujuan untuk menentukan jumlah suatu zat atau komponen zat (Harjadi, 1986). Dalam titrimetri, larutan analat direaksikan dengan suatu pereaksi hingga zat-zat tersebut mencapai keadaan ekivalen atau saling menghabiskan. Volume larutan yang digunakan dalam titrimetri harus benar-benar disiapkan dan diukur dengan teliti, karena itulah analisis titrimetri termasuk bagian dalam analisis volumetrik (Kenkel, 2002). Reaksi yang dijalankan untuk mengekivalenkan analat dengan pereaksi adalah titrasi. Suatu larutan (titrat) ditambahkan (dititrasi dengan) larutan lain dari buret (titran) sampai jumlah zat-zat yang direaksikan menjadi ekivalen. Sebelum titrasi dilakukan, larutan titran harus ditandardisasi dulu (Pierce,1971). II. Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah untuk pengenalan alat dan teknik menggunakannya dalam analisis. III. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah seperangkat alat gelas dan alat timbang. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah kirstal asam oksalat, Kristal boraks, Kristal NaOH, larutan HCL dan beberapa indicator yaitu indicator Jingga Metil, Metil Merah, Fenolftalien (PP) dan Bromtimol Biru (BTB). IV. Prosedur Percobaan Pertama kali yang dilakukan dalam percobaan adalah inventarisasi alat. Hal ini penting untuk menjaga jumlah dan keawetan alat-alat yang digunakan selama praktikum. Inventarisasi alat dilakukan dengan mencocokkan jumlah dan jenis alat dengan borang atau daftar yang sudah disediakan di setiap meja praktikum. Setelah itu dilakukan penimbangan Kristal asam oksalat, boraks, dan NaOH untuk membuat larutan 50 ml; 0.1 M. Langkah-langkah yang dilakukan untuk penimbangan yaitu pertama dihitung dulu

berapa gram Kristal yang akan digunakan sesuai dengan konsentrasi larutan yang diinginkan, lalu ditimbang di ruang timbang. Setelah didapat kristal yang massanya sesuai dengan perhitungan, barulah larutan dibuat. Kristal dilarutkan dulu dalam gelas piala lalu larutan dituang ke labu takar 50 ml. Gelas piala dibilas dengan aquades dan air bilasannya dituang lagi ke labu takar tersebut. Selanjutnya kedalam labu takar ditambahkan aquades hingga volume larutan tepat 50 ml. Untuk larutan HCl sudah disediakan di laboratorium. Percobaan selanjutnya adalah standardisasi HCl dan NaOH sebagai calon larutan baku untuk titrasi. Langkah-langkah standardisasi HCl yaitu larutan asam oksalat yang sudah dibuat dipipet 10 ml ke dalam erlenmeyer, sementara larutan HCl 50 ml 0.1 M dipindahkan ke dalam buret volumetrik titrasi. Indikator PP diteteskan sebanyak 5 tetes ke dalam larutan asam oksalat. Lalu asam oksalat dititrasi perlahan-lahan dengan HCl dan dihentikan ketika sudah muncul berkas merah muda setiap tetes HCl bercampur dengan asam oksalat, yang berarti larutan di erlenmeyer sudah ekivalen. Setelah titrasi dihentikan, jumlah volume HCl yang terpakai dapat dibaca dari buret. Titrasi ini dilakukan sebanyak 6 kali pengulangan. Sedangkan untuk standardisasi NaOH, larutan titrat yang digunakan adalah boraks dan titrannya NaOH. Indicator yang diteteskan ke dalam boraks adalah BTB yang akan mengubah warna awal larutan menjadi biru. Langkah percobaannya sama dengan standardisasi HCl dan juga diulang sebanyak 6 kali pengulangan. Titrasi dihentikan ketika warna larutan di erlenmeyer tepat berubah menjadi hijau dan volume titran terpakai dicatat. Percobaan selanjutnya adalah titrasi. Ada dua titrasi yang akan dilakukan, yang pertama adalah titrasi NaOH oleh HCL. NaOH yang sudah dibuat dipipet 10 ml ke dalam erlenmeyer, sementara HCl 50 ml 0.1 M, yang akan digunakan sebagai titran, dipindahkan ke buret. NaOH diteteskan indikator PP menjadi berwarna ungu. Setelah itu NaOH dititrasi perlahan-lahan hingga terjadi perubahan warna menjadi bening dan titrasi dihentikan. Volume HCl yang terpakai dicatat. Percobaan ini diulang sebanyak 6 kali pengulangan. Selanjutnya titrasi HCl oleh NaOH dilakukan dengan cara yang sama, namun kali ini sebagai titratnya adalah HCl dan titrannya NaOH. Indikator yang diteteskan adalah BTB sehingga warna awal larutan adalah kuning. Titrasi dihentikan ketika warna larutan tepat berubah menjadi biru dan volume titran terpakai dicatat. Percobaan ini juga diulang sebanyak 6 kali pengulangan. Setelah semua percobaan dilakukan, dalam standardisasi masing-masing dihitung konsentrasi titran yang digunakan. Sedangkan pada titrasi dihitung konsentrasi akhir ratarata dari larutan di erlenmeyer. Standardisasi asam oksalat dengan NaOH berarti dihitung konsentrasi NaOH yang digunakan untuk ekivalen dengan asam oksalat, sedangkan standardisasi boraks dengan HCl dihitung konsentrasi HCl-nya. Pada titrasi, yang dihitung adalah konsentrasi larutan NaOH atau HCl yang terdapat di erlenmeyer setelah ekivalen dengan titran. V. Data dan Hasil Pengamatan A. Perhitungan Larutan 1. Pembuatan Larutan Asam Oksalat 50 ml; 0.1 M Massa kristal asam oksalat yang digunakan:

BM Asam oksalat (H2C2O7) = 138 gr/mol Konsentrasi Larutan = 0.1 M Volume Larutan = 50 ml = 0.05 L Mol asam oksalat = Konsentrasi x Volume = 0.1 M x 0.05 L = 0.005 mol Massa asam oksalat (gr) = 0.005 mol x 138 gram yang ditimbang 1 mol = 0.69 gram 2. Pembuatan Larutan Boraks 50 ml; 0.1 M BM Boraks (Na2B2O7) = 179.6 gr/mol Konsentrasi Larutan = 0.1 M Volume Larutan = 50 ml = 0.05 L Mol Boraks = Konsentrasi x Volume = 0.1 M x 0.05 L = 0.005 mol Massa boraks (gr) = 0.005 mol x 179.6 gram yang ditimbang 1 mol = 0.898 gram 3. Pembuatan Larutan NaOH 50 ml; 0.1 M BM NaOH = 40 gr/mol Konsentrasi Larutan = 0.1 M Volume Larutan = 50 ml = 0.05 L Mol Boraks = Konsentrasi x Volume = 0.1 M x 0.05 L = 0.005 mol Massa NaOH (gr) = 0.005 mol x 40 gram yang ditimbang 1 mol = 0.2 gram 4. Pembuatan Larutan HCL B. Standardisasi Titran 1. Titrasi Asam Oksalat oleh NaOH Titran : NaOH Konsentrasi (C) Asam Oksalat = 0.1 N

Titrat

: Asam Oksalat

Volume (V) Asam Oksalat Reagen : PP (Phenolphtalien)

= 10 ml

CNaOH = (V x C)Asam Oksalat / VNaOH terpakai Perubahan Warna : Bening ke Merah Muda Tabel Data Hasil Percobaan
Ulangan 1 2 3 4 5 6 Rataan Volume Awal NaOH (ml) 0.00 6.80 9.70 11.75 17.95 19.00 Volume Akhir NaOH (ml) 1.90 8.80 11.75 12.25 19.00 20.65

Volume NaOH Terpakai (V) (ml) 1.90 2.00 2.05 0.50 1.05 1.65 1.53

Konsentrasi NaOH (N) 0.5263 0.5000 0.4878 2.0000 0.9524 0.6061 0.8454

Perubahan warna yang terjadi: Contoh perhitungan konsentrasi NaOH (Ulangan 1)


CNaOH = (V x C)Asam Oksalat / VNaOH terpakai = (10 ml x 0.1 N) / 1.90 ml = 0.5263 N

2. Titrasi Boraks oleh HCl Titran Titrat : HCl : Boraks Konsentrasi (C) Boraks = 0.1 N Volume (V) Boraks = 10 ml Reagen : BTB (Bromtimole Blue)

CHCl = (V x C)Boraks / VHCl terpakai Perubahan Warna : Biru ke Hijau Tabel Data Hasil Percobaan 2
Ulangan 1 2 3 Volume Awal HCl (ml) 0.00 8.90 0.20 Volume Akhir HCl (ml) 29.50 29.50 29.80

Volume HCl Terpakai (V) (ml) 29.50 20.60 29.60

Konsentrasi HCl (N) 0.0339 0.0485 0.0338

4 5 6 Rataan

9.30 0.00 9.80

29.80 29.80 29.80

20.50 29.80 20.00 25.00

0.0488 0.0336 0.0500 0.0414

Contoh perhitungan konsentrasi HCl (Ulangan 1)


CHCl = (V x C)Boraks / VHCl terpakai = (10 ml x 0.1 N) / 29.50 ml = 0.0339 N

C. Titrasi Larutan (Penentuan Konsentrasi Titrat) 1. Titrasi NaOH oleh HCl Titran Titrat : HCl : NaOH Konsentrasi HCl = 0.0414 N (Berdasarkan standardisasi) Volume NaOH Indikator : PP = 10 ml

CNaOH = (V x C)HCL Terpakai / VNaOH Perubahan Warna : Ungu ke Bening

Tabel Data Hasil Percobaan 3


Ulangan 1 2 3 4 5 6 Rataan Volume Awal HCl (ml) 0.00 10.51 21.00 0.20 9.80 31.51 Volume Akhir Volume HCl Terpakai HCl (ml) (V) (ml) 9.31 19.35 29.60 9.65 19.50 40.77 9.31 8.84 8.60 9.45 9.70 9.26 9.19 Konsentrasi NaOH (N) 0.0385 0.0366 0.0356 0.0391 0.0402 0.0383 0.0919

Contoh perhitungan konsentrasi NaOH (Ulangan 1)


CNaOH = (V x C)HCL terpakai / VNaOH = (9.31 ml x 0.0414 N) / 10 ml = 0.0385 N

2. HCl oleh NaOH Titran Titrat : NaOH : HCL Konsentrasi NaOH = 0.8454 N (Berdasarkan standardisasi) Volume HCL Indikator : BTB
Volume NaOH Terpakai (V) (ml) 11.03 10.59 10.48 10.61 10.70 10.67 10.68 Konsentrasi HCl (N) 0.9325 0.8953 0.8860 0.8970 0.9046 0.9020 0.9029

CHCl = (V x C)NaOH Terpakai / VHCl Perubahan Warna : Kuning ke Biru


Volume Awal NaOH (ml) 6.50 17.53 28.12 1.41 12.02 22.72 Volume Akhir NaOH (ml) 17.53 28.12 38.60 12.02 22.72 33.39

= 10 ml

Ulangan 1 2 3 4 5 6 Rataan

VI. Pembahasan Pada percobaan pertama yaitu standardisasi NaOH, rataan konsentrasi NaOH setelah dihitung menunjukkan hasil yang kurang akurat. Rataan konsentrasi (dalam satuan Normal) NaOH yang didapat yaitu 1.6909 N. Data ini terlalu berbeda ketika dibandingkan dengan data konsentrasi HCl yang didapatkan dari titrasi HCl dengan NaOH, yaitu 0.1068 N.