Anda di halaman 1dari 2

LENTERA DI BUKIT SENJA "Hei, aku sudah lama menunggumu melamun di tempat ini, ayo pulang senja sudah

hilang, kamu sudah tidak bisa melihat matahari lagi di sini" "Ahh Ian menggangguku saja, pulanglah dulu, aku menyusul sebentar lagi" "No, aku tidak mau jadi makan malam bundamu ya, lekas bangun!" "Tapi Ian, aku masih betah disini" rengekku manja. Zha, apa sih yang selalu ada di kepalamu ini haa? aku hanya tersenyum

mendapatkan tonyolan lembutnya. Senyum yang tetap aku pertahankan hingga saat ini. Aku dan Dian memulai hubungan kami dengan buruk pada awalnya, tapi entahlah mengapa kami bisa berubah haluan menjadi hingga seperti ini. Zha, selamat ya. Kamu memang pantas mendapatkannya. Bisakah kita berteman, mulai dari sekarang? aku memandang seseorang di depanku, penuh kebencian. Uluran tangan itu, akankah aku menyambutnya. Tidak. Aku menarik tangan Wita, menjauh dari orang itu. Aku benci dia. Zha tega banget sih, dia sudah berubah sejak perlombaan itu. Kenapa selalu menjauhi dia? aku terkejut dengan kalimat itu. Terkesan menyalahkanku. Kalau kamu tidak terima dengan sikapku tadi, silakan saja berbalik, berteman dengan dia dan jangan pernah dekat aku lagi! aku berteriak penuh emosi. Aku menjauh. Menghindar dari segala huru hara di sekolah ini. Bukit. Aku melampiaskan emosiku disana, bersaing dengan kerasnya angin yang berhembus. Aku lelah, terbaring di bawah gelombang angin yang menggerakkan daun-daun ringin. Zha. Sudah senja. Bangunlah pundakku bergetar. Sebuah tangan terasa memegangku dengan lembut. Aku membuka mataku. Hah, apa? Dian. Dari mana dia tahu aku di sini? Mataku terbelalak tidak percaya. Aku masih merasakan tangannya. Kamu? aku mengenyahkan tangannya dengan kasar dari pundakku. Sedang apa kamu di sini? aku melihat sekelilingku dengan was-was.

Tidak ada, aku hanya kebetulan saja naik ke bukit ini. Kemudian aku menemukanmu tidur sejak tadi siang hingga senja hilang dia begitu tenang menghadapiku. Tapi apa yang dia katakan tadi. Apa dia menungguku selama aku tidur di sini? Aku memandangnya penuh rasa curiga. Tidak mungkin, itu pasti hanya bualannya saja. Zha, kamu tahu. Aku tersiksa dengan sikapmu seperti ini. Sampai kapan akan tetap bertahan dengan keadaan seperti ini. Aku tahu, aku salah. Aku yang mulai semua cerita ini aku bingung harus bersikap bagaimana sekarang. Dia tidak menatapku. Pandangannya menerawang, jauh ke arah matahari senja yang sebentar terbenam. Aku ingin kita mulai dari awal. Aku hanya ingin mengukir kisah indah dalam hidupku. Termasuk dengan seseorang yang sejatinya adalah rival terberatku. Boleh aku mengulang semuanya? Dari awal? dia menatapku lekat. Aku melihat kesungguhan dimatanya. Aku berpikir sejenak. Aku.. aku mau pulang, sudah gelap. Maaf aku melangkah cepat menuruni bukit. Aku bingung. Aku tunggu Zha, besok saat senja, di sini suaranya terdengar sayup, tapi jelas di telingaku. Begitu percaya diri. Malam yang beteman bintang. Aku terbaring dengan keputusan bulatku. Lalu aku tertidur. ** Senja itu indah sekali ya? suaraku bergetar. Aku Zha Seseorang itu terkejut, menoleh ke arahku, mimik wajah tidak percaya, lalu tersenyum takjub. Aku Dian tanganku bersambut. Namanya berarti lentera, itu yang aku tahu. Memang benar, dialah lentera yang selalu menerangiku hingga saat ini, bahkan saat setelah 3 tahun ketiadaannya di dunia ini.