Anda di halaman 1dari 9

Kamis, 23 Februari 2012

Laporan Praktikum Teknik Pengolahan Pangan dan Teknik Pengolahan Hasil Pertanian

KALIBRASI ALAT UKUR KADAR AIR

Oleh : Arif K Wijayanto F14080013

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

A. PENDAHULUAN Kadar air merupakan salah satu parameter yang menentukan kualitas suatu komoditas pertanian. Kadar air adalah kunci penentu keawetan komoditas pertanian selama penyimpanan. Hal itu dikarenakan aktivitas biologi akan terjadi jika tersedia air (air aktivitas / water activity). Kadar yang terlalu tinggi akan menyebabkan mutu produk menjadi rendah dan mempercepat proses kerusakan, sedangkan kadar air yang terlalu rendah akan menyababkan kerugian terutama dalam hal berat dan biaya pengeringan (Soediatno, 2001). Pentingnya mengetahui kadar air suatu komoditas pertanian adalah untuk mengetahui waktu yang tepat untuk menghentikan proses pengeringan. Pengeringan terlalu lama selain pemborosan bahan bakar juga akan merusak mutu komoditas pertanian itu sendiri. Homogenitas dan banyaknya contoh yang diambil juga adalah dua hal yang penting dalam penentuan kadar air komoditas pertanian Pada umumnya, kadar air biji-bijian akan selalu berubah mengikuti perubahan kelembaban udara sekitarnya untuk mencapai kadar air kesetimbangan pada tingkat kelembaban tersebut. Pada kadar air kesetimbangan, maka air dalam biji-bijian tidak akan menguap ke lingkungan dan juga tidak akan menyerap air dari lingkungan pada titik kadar air dan RH tertentu. Kadar air padi sebagai komoditas pertanian penting, harus tetap terjaga agar kualitasnya tetap baik untuk dapat diolah dan dikonsumsi. Padi atau gabah dengan kadar air tinggi akan mudah rusak dan busuk ketika proses produksi maupun pasca produksi yang dilakukan kurang tepat. B. TUJUAN Praktikum ini bertujuan untuk : 1) Mengetahui dan mempelajari cara pengunaan alat ukur kadar air untuk biji-bijian. 2) Mengkalibrasi alat ukur kadar air yaitu dengan menbandingkan alat ukur kadar air metode sekunder (Kett Moisture Tester, Crown Grain Moisture Tester, dan metode kapasitansi) dengan alat ukur kadar air standar yaitu oven (metode primer). C. ALAT DAN BAHAN Peralatan : oven, timbangan analitik, grain moisture tester, cera tester, kett moisture tester, dan cawan Bahan : gabah kadar air rendah dan gabah kadar air tinggi

D. PROSEDUR PERCOBAAN Bahan percobaan yaitu gabah, dibuat pada dua tingkat kadar air, yaitu kelompok kadar air rendah (13-17% bb) dan kadar air tinggi (20-30% bb). Sebelum pengukuran kadar air, bahan dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (benda asing dan gabah hampa) untuk mengurangi penyimpangan pengukuran. Dalam praktikum ini pengukuran kadar air gabah dilakukan dengan dua metode yaitu :

1. Metode Primer Masing-masing bahan percobaan disediakan dalam dua tingkat kadar air yaitu kadar air rendah dan kadar air tinggi. Pengukuran kadar air dengan metode ini dilakukan dengan mengambil bahan secara acak dari masing-masing bahan percobaan sebanyak kira-kira 5 - 10 gr, kemudian dibersihkan dari benda asing dan gabah hampa. Sebelum dimasukkan ke dalam cawan, terlebih dahulu cawan diberi label dengan jelas, selanjutnya ditimbang sebagai berat A gram. Bahan yang sudah dibersihkan dimasukan ke dalam cawan tersebut dan ditimbang sebagai berat B gram. Proses selanjutnya dioven selama 72 jam pada suhu 100oC sampai berat bahan konstan. Pada akhir pengamatan contoh dikeluarkan dari oven dan ditimbang sebagai berat C gram. Perubahan kadar air contoh dihitung dengan persamaan : %bb = {(berat awal-berat akhir)/(berat awal)}x100% atau

( B A) (C A) x100 % dan ( B A)

%bk

= {(berat awal-berat akhir)/(berat akhir)}x100% atau

( B A) (C A) x100 % (C A)

2. Metode Sekunder Dari lot yang sama diambil contoh bahan secara acak kemudian diukur kadar air dengan Grain Moisture Tester, Cera Tester, dan Kett Moisture Tester. Ketiga alat tersebut memiliki prinsip pendeteksian kadar air yang berbeda. Berat contoh disesuaikan dengan spesifikasi instrument yang digunakan. Kadar air yang terukur dinyatakan dengan basis basah. 3. Tingkat Ketelitian Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kadar air bahan yang terukur dengan menggunakan metode primer dan sekunder. Prosesnya dengan mencari pola sebaran data menggunakan analisis regresi linear. Tingkat ketepatan dan ketelitian pengukuran ditunjukan dengan melihat nilai korelasi garis regresi (kecenderungan data). Nilai pengukuran yang baik jika nilai korelasinya lebih dari 95%, analisnya dilakukan dengan perhitungan berikut: y = ax + b dengan nilai R2 > 0.95 dimana : x = kadar air bahan dengan oven drayer y = kadar air bahan dengan grainer a = slope garis regresi b = nilai kadar air bahan pada kondisi garis regresi berpotongan dengan sumbu y

E. HASIL DAN PEMBAHASAN Data Hasil Pengamatan 1. Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur : Primer : Oven dan Timbangan Berat cawan + bahan (sebelum oven) (g) 8.6359 9.8345 8.9669 9.7080 9.1181 Berat cawan + bahan (setelah oven) (g) 7.5081 8.7135 7.8386 8.5979 7.9895 : Gabah : Tinggi

Ulangan 1 2 3 4 5

No cawan 56 50 60 51 57

Berat cawan (g) 3.6355 4.8332 3.9554 4.6891 4.0678

Kadar air (%bb) 22.5542 22.41417 22.51422 22.11839 22.34409

kadar air (%bk) 29.12255 28.88952 29.05593 28.40002 28.7732

Rata-rata

2.

Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur No cawan

: Gabah : Rendah : Primer : Oven dan Timbagan Berat cawan (g) Berat cawan + bahan (sebelum oven) (g) 9.4236 9.0943 9.4510 9.0171 8.9218 Berat cawan + bahan (setelah oven) (g) Kadar air (%bb) Kadar air (%bk)

Ulangan

1 2 3 4 5

59 53 52 65 66

4.3335 4.0271 4.4150 4.0568 3.8656 Rata-rata

8.7462 8.4249 8.7848 8.3561 8.2385

13.30819 13.21045 13.22875 13.32581 13.5141

15.35115 15.22125 15.24555 15.3746 15.62579

3.

Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur Ulangan Kadar air (%) 1 25.6

: Gabah : Tinggi : Sekunder : Crown 2 24.7 3 25.9 4 24.4 5 24.9 Rata-rata (%bb) 25.1

4.

Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur Ulangan Kadar air (%) 1 15.8

: Gabah : Rendah : Sekunder : Crown 2 15.0 3 15.1 4 15.2 5 15.1 Rata-rata (%bb) 15.2

5.

Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur Ulangan 1 20.4

: Gabah : Tinggi : Sekunder : KETT 2 20.5 3 20.9 4 20.6 5 20.1 Rata-rata (%bb) 20.5

Kadar air (%)

6.

Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur Ulangan Kadar air (%) 1 14.2

: Gabah : Rendah : Sekunder : KETT 2 14.5 3 14.5 4 14.3 5 14.5 Rata-rata (%bb) 14.4

7.

Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur Ulangan Kadar air (%) 1 20.4

: Gabah : Tinggi : Sekunder : Grain moisture tester tipe kapasitansi 2 19.6 3 20.7 4 20.4 5 20.7 Rata-rata (%bb) 20.4

8.

Nama Bahan Kelompok Kadar Air Metode Alat Ukur Ulangan Kadar air (%) 1 11.6

: Gabah : Rendah : Sekunder : Grain moisture tester tipe kapasitansi 2 11.9 3 11.8 4 12.2 5 12.2 Rata-rata (%bb) 11.9

Contoh perhitungan kadar air tinggi pada cawan no.50 dengan menggunakan metode primer (oven) :

%bb

= {(berat awal-berat akhir)/(berat awal)}x100%

(9.8345 4.8322 ) (8.7135 4.8322 ) x100 % (9.8345 4.8322 )

= 22.414 %

%bk

= {(berat awal-berat akhir)/(berat akhir)}x100%

(9.8345 4.8322 ) (8.7135 4.8322 ) x100 % (8.7135 4.8322 )

= 28.889 %

Grafik perbandingan kadar air bahan (gabah) dengan metode primer (oven) dan metode sekunder (Crown Moisture Tester, Kett Moisture Tester dan Grain moisture Tester) : Grafik 1.

Grafik hubungan KA dengan metode oven terhadap resistansi dengan Crown Moisture Tester
KA gabah dengan metode resitensi (%bb) 30 25 20 15 10 5 0 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 KA gabah dengan metode oven (%bb) y = 1.0793x + 0.8934 R = 0.9922

Grafik 2.

Grafik hubungan KA dengan metode oven terhadap resistansi dengan Kett Moisture Tester
KA gabah dengan metode resitensi (%bb) 25 20 15 10 5 0 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 KA gabah dengan metode oven (%bb) y = 0.6659x + 5.5603 R = 0.9922

Grafik 3.

Grafik hubungan KA dengan metode oven terhadap metode sekunder kapasitansi


KA gabah dengan metode resitensi (%bb) 25 20 15 10 5 0 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 KA gabah dengan metode oven (%bb) y = 0.9223x - 0.3217 R = 0.9955

E. PEMBAHASAN Metode pengukuran kadar air yang digunakan pada praktikum ini adalah metode primer (heating/oven) dan metode sekunder (resistansi dengan Kett Moisture Tester dan Crown Moisture Tester dan kapasitansi). Pada metode primer alat yang digunakan oven dan dibantu dengan timbangan analitik. Prosedur pengukuran kadar air dengan metode primer adalah sebelum contoh bahan dimasukkan ke dalam oven, bahan ditimbang. Cara kalibrasi timbangan analitik adalah membuat layar menunjukkan angka 0.0000, jika tidak maka harus direset. Oven telah dipanaskan terlebih dahulu dengan suhu tertentu (tetap), hingga bahan siap untuk dimasukkan ke dalam oven. Pada metode sekunder ada tiga alat yang digunakan, yaitu Crown grain moisture tester dan Kett moisture tester. Prosedur kalibrasi Crown grain moisture tester adalah, timbangan dikalibrasi terlebih dahulu dengan memposisikan jarum tepat di angka 0. Kemudian Grainer dihidupkan dengan menekan on, pilih select, pilih nomor urut gabah pada manual alat, kemudian tekan on. Untuk kalibrasi Kett moisture tester cukup melihat layar apakah jarum telah tepat di angka 0 atau tidak, kemudian alat telah dapat digunakan.

Gambar 1. Grain Moisture Tester

Gambar 2. Perangkat Grain Moisture Tester dengan metode kapasitansi

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan, didapatkan nilai kadar air rata-rata dengan metode oven untuk bahan berkadar air rendah yaitu 13.29 %bb dan 15.32 %bk, sedangkan untuk bahan berkadar air tinggi yaitu 23.82 %bb dan 31.27 %bk. Dengan Kett Moisture Tester didapatkan kadar air rata-rata untuk bahan berkadar air rendah yaitu 14.41 %bb dan 20.5 %bb untuk bahan berkadar air tinggi. Dengan Grain Moisture Tester Crown didapatkan kadar air rata-rata untuk bahan berkadar air rendah yaitu 15.24 %bb dan 25.1 %bb untuk bahan berkadar air tinggi. Kedua metode pengukuran tersebut dapat dilihat perbandingannya pada gambar grafik 1 dan grafik 2. Dari grafik tersebut didapatkan persamaan garis untuk grafik perbandingan kadar air bahan dengan oven dan Kett Moisture Tester yaitu y= 0.665x + 5.560, dengan R2 = 0.992. Persamaan garis untuk grafik perbandingan kadar air bahan dengan oven dan Grain Moisture Tester Crown yaitu y= 1.079x + 0.893, dengan R2= 0.992. Sedangkan persamaan garis untuk grafik perbandingan kadar air bahan dengan oven dan metode metode kapasitansi yaitu y=0.922x - 0.321, dengan R2= 0.995. N ilai regresi menunjukkan perubahan variasi/perubahan output yang dipengaruhi oleh input, sedangkan sisanya oleh variabel lain. Analisis ketepatan dan ketelitian pada alat yang digunakan dapat terlihat pada grafik. Analisis dilakukan dengan perhitungan y= ax+b dan melihat nilai korelasi garis regresi, dengan nilai R2>0.95, sehingga jika melihat data R2 pada grafik maka alat yang digunakan masih layak untuk digunakan. Nilai regresi tertinggi adalah pada hasil pengukuran dengan menggunakan metode kapasitansi, yaitu R2= 0.995.

F. KESIMPULAN Kalibrasi alat ukur yang dilakukan pada praktikum pengukuran kali ini adalah dengan membandingkan hasil data dari alat pada metode sekunder dengan hasil data dari metode primer melalui perbandingan pada data analisis korelasi garis regresi (R2) dengan syarat kelayakan alat dipenuhi bila R2 > 0,95. Berdasarkan data yang diperoleh, menunjukkan bahwa nilai regresi (R2) untuk tiga metode

yang digunakan telah memenuhi syarat kelayakan alat. Dengan demikian, ketiga alat yang dikalibrasi layak untuk digunakan.

DAFTAR PUSTAKA Soediatno, Supartono. 2001. Moisture Meter (Padi tester). Jurnal Elektronika dan Telekomunikasi, No. 1 Vol. 1, ISSN 1411-8289