Anda di halaman 1dari 7

II.2 Uraian Bahan 1.

Tween 80 (6,7) : Polysorbatum 80 : Tween 80 : Cairan kental seperti minyak ; jernih, kuning muda hingga coklat muda, bau karakteristik, rasa pahit dan hangat. Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P dalam etil aseat P dan dalam metanol P, sukar larut dalam parafin cair dan dalam minyak biji kapas P. Bobot Kekentalan : Lebih kurang 1.08 g/ml : Antara 300 dan 500 sentistokes pada suhu 25C Penyimpanan Kegunaan HLB 2. Span 80 (6,7) : Sorbitolum monooleat : Span 80 : Cairan atau padat, kuning krem, bau dan rasa khas. : Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai emulgator fase air : 15

Nama resmi Nama lain Pemerian

Nama resmi Nama lain Pemerian

Kelarutan

: Larut dan terdispersi dalam minyak dan pelarut organik, dalam air biasanya tidak larut tetapi terdispersi

Penyimpanan Viskositas Kegunaan HLB 3. Air Suling (6)

: Dalam wadah tertutup rapat : 270 430 cp. : Sebagai emulgator fase minyak : 4,3

Nama resmi Nama lain RM / BM Rumus bangun Pemerian

: Aqua destillata : Air suling : H2O / 18,02 : H-O-H : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak berasa.

Pentimpanan Kegunaan 4. Parafin Cair (6)

: Dalam wadah tertutup baik : Sebagai fase air

Nama resmi Nama lain Pemerian

: Paraffinum Liquidum : Parafin cair : Cairan kental jernih,tidak berwarna, tidak memberikan berfluoresensi, tidak berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak berasa.

Kelarutan

: Tidak larut dalam air, dalam etanol (95 %)P, larut dalam kloroform dan dalam eter P.

Kekentalan Bobot per ml Penyimpanan Kegunaan HLB butuh II.3 Prosedur Kerja (1;32)

: Pada suhu 37,8C tidak kurang ari 55 cp. : 0,870 gr sampai 0,890 gr : Dalam wadah tertutup baik : Sebagai fase minyak : 10 (DOM), 9 o/w (RPS), 12 (Lachman)

1. Hitung jumlah Tween dan Span yang dibutuhkan untuk masing-masing harga HLB butuh. 2. Timbang masing-masing minyak, air, tween dan span sejumlah yang dibutuhkan. 3. Campurkan minyak dengan span dan air dengan tween lalu panaskan di atas penangas air sampai suhu 60C. 4. Tambahkan campuran minyak ke dalam campuran air dan segera di aduk dengan pengaduk listrik pada kecepatan dan waktu yang sama. 5. Masukkan ke dalam tabung sedimentasi dan beri tanda untuk masing-masing HLB. 6. Amati kestabilannya selama 1 minggu. 7. Catat pada harga HLB berapa emulsi relatif paling stabil.

BAB III METODE KERJA III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat-alat yang digunakan : III.1.2 Anak timbangan Batang pengaduk Cawan porselin Gelas kimia 250 ml Gelas ukur 10,0 ml Gelas ukur 100,0 ml Lemari es Mixer Pencatat waktu Pipet tetes Penangas air Timbangan Termometer

Bahan-bahan yang digunakan : Aluminium foil Aquadest Parafin cair - Span 80 - Tween 80

BAB V PEMBAHASAN

Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamika dari dua cairan yang pada dasarnya tidak saling bercampur atau campuran yang kuat dari dua cairan yang esensial yang tidak tercampurkan. Emulsi terdiri dari fase minyak dan fase air. Dalam percobaan ini yang menjadi fase minyak adalah parafin cair, emulgator fase minyak span 80, sedangkan fase air adalah air dan tween 80. Span ditambahkan ke parafin cair karena bersifat hidrofil. Dalam suatu pembuatan emulsi, pemilihan emulgator yang paling tepat adalah merupakan factor yang sangat penting karena baik tidaknya kestabilan dari emulsi sangat tergantung dari emulgator yang digunakan. Dalam percobaan ini digunakan kombinasi emulgator, yaitu span 80 dan tween 80 dengan HLB 11, 12, dan 13. Mekanisme kerjanya adalah menurungkan tegangan antarmuka cair dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan fase terdispersi. Pada kenyataannya , jarang sekali ditemukan HLB surfaktan yang persis sama dengan HLB butuh minyak, karena itu digunakan 2 kombinasi emulgator yang satu harganya rendah yaitu span 80 dan harga HLB tinggi yaitu tween 80. Kestabilan suatu emulsi adalah kemampuan suatu emulasi untuk

mempertahankan distribusi yang teratur dari fase terdispersi dalam jangka waktu yang lama. Penurunan stabilitas dapat dilihat jika terjadi campuran (Bj fase terdispersi lebih kecil dari Bj fase pendispersi ) hal ini menyebabkan pemisahan dari kedua fase emulsi.

Pencampuran antara fase air dan minyak dilakukan dengan suhu 600C agar kedua fase tersebut dapat tercampur dengan baik dan memiliki suhu lebur yang sama sehingga dapat diperoleh emulsi yang baik. Agar lebih homogen, dilakukan percobaan intermitten menggunakan mixer selama 2 menit. Pengocokan intermitten lebih efisien dari pada pengocokan biasa, karena adanya interpal waktu yang singkat untuk memuat salah satu fase tetesan pengocokan intermitten memberikan kesempatan pada fase minyak untuk terdispersi ke dalam fase air. Dari hasil pengamatan sampai hari kelima : Perubahan Warna Untuk HLB 11, terjadi perubahan warna dari putih susu menjadi warna putih keruh pada hari keempat. Untuk HLB 12, perubahan warna terjadi pada hari ketiga yaitu dari warna putih susu menjadi putih keruh sampai pada hari kelima. Untuk HLB 13, terjadi perubahan warna menjadi putih keruh pada hari kelima. Pemisahan Fasa Pada HLB 11 dan HLB 13 tidak terjadi pemisahan fasa pada hari pertama. Pada HLB 11 pemisahan fasa terjadi pada hari ketiga menjadi 2 fasa. Untuk HLB 12, terjadi perubahan volume pada hari pertama. Untuk HLB 13, terjadi perubahan volume pada hari ketiga. Berdasarkan pengamatan selama lima hari berturut-turut dapat dilihat bahwa hasil yang diperoleh kurang stabil. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan dari emulsi di antaranya :

- Suhu pemanasan tidak konstan - Perbedaan intensitas pengadukan - Pencampuran kurang merata - Kekompakan dan elastisitas fillm yang melindungi zat terdispersi Adapun parameter ketidakstabilan suatu emulsi dalam percobaan ini, yaitu: a. Flokulasi dan Creaming

Fenomena ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan oleh adanya energi permukaan bebas saja. Flokulasi adalah terjadinya kelompok-kelompok globul yang letaknya tidak beraturan di dalam suatu emulsi. Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan kosentrasi yang berbeda-beda di dalam suatu emulsi. Lapisan dengan konsentrasi yang paling pekat akan berada di sebelah atas atau di sebelah bawah tergantung dari bobot jenis fasa yang terdispersi. b. Koalesen dan demulsifikasi

Fenomena ini tejadi bukan semata-mata karena energi bebas permukaan tetapi juga karena tidak semua globul terlapis oleh film antar permukaan. Koalesen adalah terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar, sedangkan

demulsifikasi adalah proses lebih lanjut pada keadaan koalesen dimana kedua fasa ini terpisah kembali menjadi dau cairan yang tidak bercampur. Kedua fenomena ini tidak dapat diperbaiki kembali dengan pengocokan.