Anda di halaman 1dari 1

Trend Bunuh Diri di Jepang

Sejarah Bunuh Diri di Jepang Bunuh diri (Jisatsu) memiliki beberapa sebutan dalam bahasa Jepang, diantaranya Jishi, Jigai, dan lain sebagainya. Akan tetapi, di Jepang lebih sering disebut dengan Jisatsu. Jisatsu berarti tindakan atau usaha untuk mengakhiri hidup atas inisiatif sendiri yang mengakibatkan kematian. Selain itu dikenal juga istilah Jisatsu Misui, yaitu tindakan bunuh diri yang tidak menyebabkan kematian atau bisa disebut sebagai percobaan bunuh diri. Berdasarkan catatan sejarah tertulis tertua di Jepang (Kojiki), kasus bunuh diri di Jepang dilakukan oleh Ototachibanahime dengan cara terjun di laut.Sejak saat itu kasus bunuh diri di Jepang tterjadi dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi jamannnya. Salah satu hal yang harus dicatat adalah banyak kasus bunuh diri yang dilakakukan dengan berbagai syarat dan dianggap sebagai bagian dari sesuatu yang luhur (bidan). Beberapa peristiwa bunuh diri terkenal dalam sejarah Jepang yang tercatat adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Ashikaga Ietoki pada pertengahan masa Kamakura (1284). Kemudian bunuh diri yang dilakukan oleh Oda Nobunaga pada peristiwa di kuil Honnoji (1582). Pada masa kindai kasus bunuh diri yang dilakukan oleh jenderal Nogi Maresuke dan istrinya (1912) yang mengiringi runtuhnya kekasisaran Meiji. Dalam wasiatnya dia melakukan bunuh diri sebagai bukti kesetiaannya kepada kaisar, menjadi perhatian masyarakat jepang saat itu. Faktor Penyebab Bunuh Diri di Jepang Berdasarkan data dari kepolisian nasional Jepang (NPA), tercatat pada tahun 2010 terdapat sebanyak 424 orang yang bunuh diri karena tidak mendapatkan pekerjaan. Sebelumnya, pada 2009, angka bunuh diri pengangguran adalah 354. Dalam laporan NPA disebutkan bahwa para pengangguran yang bunuh diri kebanyakan adalah mahasiswa atau sarjana. Pada 2009, angka mahasiswa pengangguran bunuh diri mencapai 23 orang. Angka ini bertambah pada 2010 dengan 53 orang, 130 persen lebih banyak. Selain itu, NPA juga menyebutkan angka bunuh diri pada para penjaga anak atau baby sitter juga meningkat. Pada tahun 2010, angka baby sitter yang bunuh diri sebanyak 157 orang, meningkat 44 persen dari tahun sebelumnya. Secara garis besar, faktor penyebab bunuh diri di Jepang adalah faktor ekonomi, kesehatan, sosial , dan lain sebagainya. Sebagai contoh, dengan kemerosotan ekonomi Jepang yang tengah krisis keuangan global tiga tahun lalu, dirasa sangat berat bagi orang-orang muda yang ingin memasuki dunia kerja, karena beberapa perusahaan memilih untuk mempekerjakan pekerja yang lebih berpengalaman ketimbang lulusan baru. Di antara mahasiswa lulus tahun lalu, 60 persen bisa bekerja dibandingkan dengan 68 persen tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan masyarakat terutama para pencari kerja yang merasa depresi karena tidak mendapatkan pekerjaan, hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ditambah lagi dengan terjadinya tsunami beberapa bulan yang lalu yang mengakibatkan banyak sektor industri menjadi lumpuh, sehingga banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya.