Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS STRUKTUR KARYA SASTRA NOVEL KEMARAU Karangan A.A.

Navis

1. TEMA Tema menurut Stanton dan Keny (dalam Nurgiyantoro, 2002 : 67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah karya sastra. Tema dalam novel Kemarau karangan A.A Navis adalah usaha seseorang untuk mengubah pola pikir agar lebih berpikiran maju dan berkeinginan untuk meningkatkan taraf hidup agar lebih baik. Masalah-masalah A. Masalah kekeringan Kekeringan yang melanda kampung ini sangat panjang, hingga sawah mereka rusak dan tak dapat digunakan lagi. Musim kemarau di masa itu sangatlah panjang. Hingga sawah-sawah menjadi rusak, tanahnya rengkah sebesar lengan. Rumpun padi jadi kerdil dan menguning sebelum padinya terbit (Kemarau, 1992 : 1 ) Setengah bulan setelah benih ditanam, bendar-bendar tak mengalirkan air lagi kerena hujan sudah lama tak turun (Kemarau, 1992 : 1) . B. Masalah pengingkaran janji Setiap orang tidak diperbolehkan untuk mengingkari janji yang telah dibuatnya. Karena janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar. Kemarin sore Acin tidak menyirami sawah bapak waktu bapak mengaji, kata anak itu dengan suara tertekan. Tapi Acin tidak bermaksud mungkir pak. (Kemarau ,1992 : 40 ) C. Masalah pola pikir Pola pikir masyarakat di kampung ini kebanyakan masih kurang maju dan salah. Bapak tidak melihat hakikat kehidupan petani di kampung ini rupanya. (Kemarau, 1992 : 7)

Bapak petani sebatang kara. Aku punya istri dan empat orang anak. Bebanku enam kali lebih berat dari bapak. (Kemarau, 1992 : 7) D. Masalah pencemaran nama baik Pencemaran nama baik ini terjadi stelah usaha seorang janda gagal untuk merebut hati seorang laki-laki yang menjadi idaman para wanita di kampung. Siapa lagi? Ia ingin memperkosaku juga. Adakah di antara mamak-mamk yang melihat si hidung belang itu memeluk seorang perempuan di pagi buta beberapa waktu yang lalu? (Kemarau, 1992 : 98)

2. FAKTA Fakta dalam karya sastra Novel Kemarau karya A.A Navis adalah sebagai berikut : Tokoh Tokoh menunjuk pada orang sebagai pelaku cerita. Abrams (1981 : 20) memaparkan tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki moral atau kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro, 2002: 165). A. Tokoh Utama Tokoh utama dalam novel ini adalah Sutan Duano. Selain itu ia juga berperan sebagai tokoh Protagonis. Sutan Duano adalah orang yang bijaksana dan suka menolong sesama. Usianya sekitar 50 tahun, badannya kekar dan tampangnya bersegi empat bagai kotak dan kulitnya yang hitam oleh bakaran sinar matahari. B. Tokoh Tambahan Tokoh-tokoh tambahan dalam novel ini sangat banyak, yaitu ada 56 tokoh. Di sini penulis hanya akan memberikan ulasan beberapa tokoh saja, yaitu : Wali Negeri Dia adalah seorang pemimpin di kampung, bijaksana, pemberani, tegas, dan berpikiran maju. Dia juga seorang politikus. Jangan kalian bikin gaduh. Nanti aku akan bertindak. Siapa saja yang memulai kegaduhan baru akan aku tindak dengan tegas. Ini perintahku. (Kemarau, 1992 : 99)

Sutan Caniago Dia adalah orang miskin di kampungnya, dia juga seorang petani yang mempunyai istri dan empat orang anak. Sutan caniago mempunyai watak mudah putus asa, berpikiran pendek dan dia juga orang yang mempunyai pendirian. Aku tidak bermain judi. Kalau di sini sangat sempit hidupku, mungkin di tempat lain Tuhan membukakan pintu rezeki selapang-lapangnya buatku. (Kemarau, 1992 : 7)

Acin Arin adalah seorang anak yang lugu, umurnya sekitar 12 tahun, serba ingin tahu, pintar dan periang. Pak, , mengapa Bapak mengangkut air dari danau ? kata seorang anak laki-laki 12 tahun pada Sutan Duano. (Kemarau, 1992 : 18) Barangkali hujan tak mau dibentak-bentak begitu. ( Kemarau, 1992 : 19)

Etek Saniah Etek saniah adalah seorang janda beranak satu. Dia adalah orang yang licik, pendendam dan pengadu domba. Apapun rela dibuatnya agar dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia juga merupakan tokoh antagonis dalam novel ini. Oo dengan ini kau bayar hutangmu padanya, ya? Untuk berapa kali dalam seribu rupiah. Seribu kali? Alangkah murahnya, kata Saniah pula dengan menyebut kata yang tak patut untuk didengar. ( Kemarau, 1992 : 98 ) Ia menarik rambutku, kata Saniah. Ia marah padaku karena mengintipnya berdendakan dengan hidung belang itu? (Kemarau, 1992 : 98)

Lembak Tuah Dia adalah seorang petani yang memiliki sawah terluas di kampungnya. Dia orangnya sombong, ingin segalanya dilakukan dengan mudah. Ah, itu akan merepotkan saja, Sutan Duano. Bagiku, tidakpun sawah itu memberi hasil, tidak apa-apa. Hasil sawahku yang terluas itu memberi hasil, tidak apa-apa. Hasil sawah yang lalu masih ada padaku. Memang sawahku yang terluas dikampung ini, tapi aku tak pernah ikut mengotorkan kaluku untuk mengerjakannya. Yang berkepentingan langsung

dengan hasil sawah itu, petani-petani itu. Merekalah Sutan Duano ajak, kata Lembak Tuah akhirnya. (Kemarau, 1992 : 14-15) Haji Tumbijo Haji Tumbijo merupakan orang yang mengenal Sutan Duano dengan baik. Dia adalah orang yang baik, bijaksana dan pintar. Aku akan mengubah hidupnya, kata Haji Tumbijo kepada Wali Negeri yang keheranan memandangnya. (Kemarau, 1992 : 4) Gudam Gudam adalah seorang janda beranak 2. Dia mempunyai sifat tabah dan penyayang. Tidak. Mantri sudah bilang. Aoni tak ada harapan. Kalau akan mati, biarlah di atas rumahku. (Kemarau, 1992 : 84) Mangkuto Mangkuto adalah saudara laki-laki Gudam. Dia adalah orang yang pelit, pengecut, dan tidak mau berkorban demi keluarganya. Dicarter? Alangkah mahalnya, kata Mangkuto. (Kemarau, 1992 : 82) Uwo Tinik Uwo Tinik adalah kusir yang menambangkan bendi Sutan Duano. Dia adalah orang yang suka mangkir akan janjinya, dan dia juga suka menjilat. Sekarang aku telah mungkir lagi (Kemarau, 1992 : 35) Oh, tidak ada orang di atas dunia ini yang hatinya sebaik guru, kata kusir itu memuji. (Kemarau, 1992 : 38) Rajo Bodi Dia adalah orang yang disegani di kampung. Dia adalah orang yang berpikiran pendek. Berpegangan pada adat, pasrah dan tidak mau berusaha. Ya Aku tahu. Tapi menurut pengetahuanku yang hampir 60 tahun hidup di dunia ini, tak pernah orang dulu-dulu mengerjakan sawahnya dua kali dalam setahun. Kenapa kita

menyalahi apa yang telah dilakakukan nenek moyang kita dulu. Nenek moyang kita dulu bukan orang bodoh. Mereka turun ke sawah di musim hujan bukan musim kemarau. (Kemarau, 1992 : 15-16)

Itulah tokoh-tokoh yang penulis sebutkan dengan mengambil kutipan-kutipan sebagai gambaran tokoh. Dan masih banyak tokoh-tokoh yang lain yaitu : Istri Sutan Caniago, Mak cik Uyun, Bagindo Renceh, Samin, Pono, Amah, Si Panjang Kumis, Mangkuto, Marayam, Haji Samsiah, Sutan Malakem, Atun, Sabai, Limah, Jiah, Siniaun, Mak Tonjok, Mak Sati, Buya Bidin, Lenggang Sutan, Utam, Si Ulun, Uwo Bile, Datuk Sanga, Penghulu Menan, Bibah, Rajinan, Uwo Rajo Mantari, Lena, PSK, Uwo Unap, Juru Tulis Wali Negeri, Mantri Juru Rawat, Kusir, Pandeka Sutan, Datuk Maninjau, Ungbang, Tan Sailan, Iyah, dan Arni.

Latar (setting) Latar yaitu segala petunjuk keterangan, awan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana terjadinya peristiwa dalam sebuah karya sastra (Sudjiman : 48) 1. Latar Waktu a) Waktu pagi dan sore Setiap pagi dan sore para petani selalu memandang langit, ingin tahu apakah hujan akan turun atau tidak. (Kemarau, 1992 : 1) Ia mulai dari subuh dan berhenti pada jam sembilan pagi. Lalu dimulainya lagi sesudah asar & dia berhenti pada waktu maghrib hampir tiba. (Kemarau, 1992 : 2) b) Di siang hari Setelah matahari sepenuhnya muncul di puncak bukit, di turutnya Sutan Caniago ke rumahnya. (Kemarau, 1992 : 11)

c) Di waktu subuh Ia melihat ke beker. Hari sudah hampir jam setengah 1. (Kemarau, 1992 : 69)

d) Di waktu malam hari Pada suatu malam setelah Sutan Duano sembahyang isya dan berzikir seperti terasanya diambilnya buku tafsir karangan Sudewo lagi. (Kemarau, 1992 : 69) 2. Latar Tempat a) Di sawah Tapi kalau hujan itu tak juga turun, apa sawah ini akan dibiarkan kekeringan? (Kemarau, 1992 : 20) b) Di jalan Ia berdiri cepat, dan secepat itu ia berlari meniti pematang demi pematang sawah menuju rumahnya. (Kemarau, 1992 : 23) c) Di sungai Engkau tahu Marayam? tanya seorang yang sedang mencuci rambutnya. (Kemarau, 1992 : 30) d) Di rumah Dan baru saja ia duduk, setelah istri Sutan Caniago membentangka tikar putih di lantai. (Kemarau, 1992 : 12) e) Di lepau-lepau Dan untuk membunuh rasa putus asa, mereka lebih suka main domino atau main kartu di lepan-lepan. (Kemarau, 1992 : 3) f) Di Masjid Mereka pergilah setiap malam ke Masjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. (Kemarau, 1992 : 1)

3. Latar Suasana a) Suasana sedih Muka Sutan Caniago masih juga keruh. Tapi ia berkata juga, Berapa Bapak Duano mau membelinya. (Kemarau, 1992 : 12) b) Suasana senang Setujuuuu, kata Arin berteriak. (Kemarau, 1992 : 23) c) Suasana tegang Engkau jangan main-main pula dengan aku, Mangkuto, kata Pandeka Sutan, salah seorang Keluarga Saniah yang juga hadir di situ. (Kemarau, 1992 : 97)

3. SARANA SASTRA Sarana sastra adalah cara-cara pengarang memilih dan mengatur butir-butir cerita sehingga tercipta bentuk-bentuk yang sanggup mendukung makna. 1) Judul Judul merupakan kepala karangan. Jadi judul dalam novel karya A.A Navis berikut ini adalah Kemarau. 2) Nada dan suasana - Nada : marah - Suasana : tegang Berikut kutipannya : Diam! Aku tidak menanyai kau! bentak Wali Negeri padanya. Nada : tenang Suasana : tenang, damai Berikut kutipannya : Cin, katanya dengan lemah lembut. Bapak bukan orang jahat yang suka naik lewat jendela. Percayalah.

Majas / Gaya Bahasa Majas adalah pengungkapan perasaan atau pikiran dengan menggunakan pilihan kata tertentu.