Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Difteri adalah suatu infeksi akut pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Lebih sering menyerang anak-anak. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Tetapi tak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan kerusakan saraf dan jantung. Di Amerika Serikat dari tahun 1980 hingga 1998, kejadian difteri dilaporkan rata-rata 4 kasus setiap tahunnya; dua pertiga dari orang yang terinfeksi kebanyakan berusia 20 tahun atau lebih. KLB yang sempat luas terjadi di Federasi Rusia pada tahun 1990 dan kemudian menyebar ke negara-negara lain yang dahulu bergabung dalam Uni Soviet dan Mongolia. Di Ekuador telah terjadi KLB pada tahun 199311994 dengan 200 kasus, setengah dari kasus tersebut berusia 15 tahun ke atas. Pada kedua KLB tersebut dapat diatasi dengan cara melakukan imunisasi massal. Kuman masuk melalui kulit melekat serta berkembnagbiak pada permukaan mukosa saluran pernapasan bagian atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes kesekeliling serta selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfe dan darah. Produksi toksin semakin banyak, daerah infeksi semakin lebar dan terbentuk eksudat fibrin. Gangguan pernapasan bisa terjadi dengan perluasan penyakit ke dalam laring atau cabang cabang transcobronkial. Toksin yang diedarkan tubuh bisa dapat menyebabkan kerusakan pada organ terutama jantung, saraf, dan ginjal. Untuk menekan angka kejadian difteri, salah satu cara yang dilakukan adalah menggalakkan imunisasi DPT secara lengkap, untuk mencegah virus Corynebacterium diphteriae masuk ke dalam tubuh. 1.2. Rumusan Masalah

a. Bagaimanakah konsep dan teori Difteri? b. Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan anak usia lima tahun? 1.3. Tujuan Penulisan

a. Menjelaskan konsep dan teori dari Difteri b. Menjelaskan proses pertumbuhan dan perkembangan anak usia pra sekolah khususnya berusia lima tahun. 1.4. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan ini adalah mahasiswa menjadi tahu tentang konsep dan teori penyakit anak Difteri dan mampu melakukan analisis kasus yang berkaitan dengan penyakit.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi

Penyakit difteria adalah suatu infeksi akut yang mudah menular, dan yang sering diserang terutama saluran pernafasan bagian atas, dengan tanda khas timbulnya pseudomembran. Kuman juga melepaskan oksotosin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal. (Ngastiyah:1997) Difteri adalah suatu infeksi akut pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Lebih sering menyerang anak-anak. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Tetapi tak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan kerusakan saraf dan jantung. Beberapa tahun yang lalu, difteri merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak tetapi sekarang sudah tidak lagi. (Mira N : 2009) Difteri merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya pada anak-anak, penyakit ini mudah menular dan menyerang terutama daerah saluran pernafasan bagian atas, penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat, selain itu penyakit itu bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi (dinkes- kab.tangerang : 2008) 2.2 Etiologi

Penyebab panyakit difteria adalah kuman Corynebacterium diphtheria, bersifat gram positif dan polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembang biak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksin yang sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak. Bakteri dapat ditemukan dalam sediaan langsung yang diambil dari hapusan tenggorok atau hidung. Basil difteria akan mati pada pemanasan suhu 60o C selama 10 menit, tetapi tahan hidup sampai beberapa minggu dalam es, air, susu dan lendir yang telah mengering. Terdapat 3 jenis basil, yaitu bentuk gravis, mitis, dan intermedius atas dasar perbedaan bentuk koloni dalam biakan agar (agar-agar) darah yang mengandung kalium telurit. Basil difteria mempunyai sifat : 1. Membentuk pseudomembran yang sukar diangkat, mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan yang meliputi daerah yang terkena, terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik, dan kuman 2. Mengeluarkan eksotosin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam diserap dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal dan jaringan saraf (toksin ini amat ganas ; 1/50 ml toksin dapat membunuh kelinci) Untuk mengetahui apakah tubuh mengandung antitoksin terhadap kuman difteria dilakukan uji kulit yang disebut dengan Uji Shick. Caranya adalah dengan menyuntikkan intrakutan 1/50 minimal letan dose (MLD) sebanyak 0.02 ml. jika positif akan terlihat merah kecoklatan selama 24 jam. 2.3 Epidemiologi

Penyakit ini muncul terutama pada bulan-bulan dimana temperatur lebih dingin di negara subtropis dan terutama menyerang anakanak berumur di bawah 15 tahun yang belum diimunisasi. Sering juga dijumpai pada kelompok remaja yang tidak diimunisasi. Di negara tropis variasi musim kurang jelas, yang sering terjadi adalah infeksi subklinis dan difteri kulit. Di Amerika Serikat dari tahun 1980 hingga 1998, kejadian difteri dilaporkan rata-rata 4 kasus setiap tahunnya; dua pertiga dari orang yang terinfeksi kebanyakan berusia 20 tahun atau lebih. KLB yang sempat luas terjadi di Federasi Rusia pada tahun 1990 dan kemudian menyebar ke negara-negara lain yang dahulu bergabung dalam Uni Soviet dan Mongolia. Faktor risiko yang mendasari terjadinya infeksi difteri dikalangan orang dewasa adalah menurunnya imunitas yang didapat karena imunisasi pada waktu bayi, tidak lengkapnya jadwal imunisasi oleh karena kontraindikasi yang tidak jelas, adanya gerakan yang menentang imunisasi serta menurunnya tingkat sosial ekonomi masyarakat. Wabah mulai menurun setelah penyakit tersebut mencapai puncaknya pada tahun 1995 meskipun pada kejadian tersebut dilaporkan telah terjadi 150.000 kasus dan 5.000 diantaranya meninggal dunia antara tahun 1990-1997. Di Ekuador telah terjadi KLB pada tahun 199311994 dengan 200 kasus, setengah dari kasus tersebut berusia 15 tahun ke atas. Pada kedua KLB tersebut dapat diatasi dengan cara melakukan imunisasi massal. 2.4 Klasifikasi

Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu : 1. Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan. 2. Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring. 3. Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).

Di samping itu, penyakit ini juga dibedakan menurut lokasi gejala yang dirasakan pasien : 1. Difteria faring dan tonsil Difteria ini paling sering dijumpai ialah sekitar 75%. Dalam keadaan ringan tidak terbentuk pseudomembran, dapat sembuh sendiri dan dapat membentuk kekebalan. Bila berat akan timbul gejala demam tetapi tidak tinggi, nyeri telan, terdapat pseudomembran yang mula-mula hanya ada bercak-bercak putih keabu-abuan dan cepat meluas ke daerah faring dan laring. Nafas berbau, timbul pembengkakan pada kelenjar regional sehingga leher membesar yang biasa disebut leher banteng atau bullneck. Dalam keadaan ini dapat tersedak (karena adanya kelumpuhan saraf telan atau palatum molle); suara serak serta stridor inspirasi walaupun belum terjadi sumbatan laring. 2. Difteria laring dan trakea Difteria ini merupakan yang terbanyak dan umumnya sebagai penjalaran dari difteria faring dan tonsil. Gejala sama dengan difteria faring hanya lebih berat. Pasien tampak sesak nafas hebat, stridor inspiratoir, sianosis, terdapat retraksi otot suprasternal dan epigastrium, pembesaran kelenjar regional. Pada pemeriksaan laring tampak kemerahan, sembab, banyak sekret dan permukaan tertutup oleh pseudomembran. Pada keadaan ini terdapat sumbatan jalan nafas yang berat sehingga memerlukan pembuatan jalan nafas buatan (trakeostomi). Untuk menentukan pengobatannya, pasien perlu diperiksa usapan tenggorok dan hidungnya guna menemukan kuman difteria. Untuk pengambilan usapan ini diperlukan 2 tabung reaksi yang diminta dari laboratorium. Tabung tersebut satu berisi 1 kapas lidi yang diperlukan untuk usapan tenggorokan, dan tabung dua berisi 2 kapas lidi untuk mengambil usapan pada lubang hidung kanan dan kiri (telah diberi tanda pada kapas lidi). Isikan ke dalam tabung tersebut 1ml NaCl; pada waktu memasukkan kapas lidi yang telah mengandung usapan tidak boleh terendam ke dalam cairan tersebut maka tabung harus selalu dalam posisi berdiri (maksid NaCl ini agar udara dalam tabung tetap lembab dan kuman tidak akan mati). Hapusan diulang setelah selesai pengobatan untuk menentukan penyembuhan pasien (dua kali berturut-turut hasilnya negatif). 2.5 Prognosis

Prognosis penyakit ini bergantung kepada : 1. Umur pasien. Makin muda usianya makin jelek prognosisnya. 2. Perjalanan penyakit. Makin terlambat diketemukan, makin buruk keadaanya. 3. Letak lesi difteria. Bila di hidung tergolong ringan. 4. Keadaan umum pasien, bila keadaan gizinya buruk, keadaanya juga buruk. 5. Terdapatnya komplikasi miokarditis sangat memperburuk prognosisnya. 6. Pengobatan, terlambat pemberian ADS, prognosis makin buruk. 2.6 Komplikasi

1. Pada saluran pernafasan : terjadi obstruksi jalan nafas dengan segala akibatnya. Bronkopnemonia, atelaktasis 2. Kardiovaskuler : miokarditis, yang dapat terjadi akibat toksin yang dibentuk kuman difteria. 3. Kelainan pada ginjal : nefritis. 4. Kelainan saraf : kira-kira 10% pasien difteria mengalami komplikasi yang mengenai susunan saraf terutama system motorik, dapat berupa: a. Paralisis/paresis palatum mole sehingga terjadi rinolalia (suara sengau), tersedak atau sukar menelan. Dapat terjadi pada minggu III b. Paralisis/paresis otot-otot mata : dapat mengakibatkan strabismus, gangguan akomodasi, dilatasi pupil atau ptosis yang timbul pada minggu III c. Paralisis umum yang dapat terjadi setelah minggu ke IV. Kelainan dapat mengenai otot muka, leher, anggota gerak dan yang paling berbahaya bila mengenai otot pernafasan. 2.7 Manifestasi klinis

Masa tunas : 2-7 hari. Gejala umum : terdapat demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala dan anoreksia, sehingga pasien Nampak sangat lemah. Gejala local : nyeri menelan, bengkak pada leher karena pembengkakan pada kelenjar regional : sesak nafas, serak sampai stridor jika penyakit telah pada stadium lanjut. Gejala akibat eksotosin tergantung bagian yang terkena misalnya mengenai otot jantung terjadi miokarditis dan bila mengenai saraf terjadi kelumpuhan. Bila difteria mengenai hidung (hanya 2% dari jumlah pasien difteria) gejala yang timbul berupa flu, secret yang keluar bercampur darah yang berasal dari pseudo-membran dalam hidung. Biasanya penyakit ini akan meluas ke bagian tenggorok pada tonsil, faring, dan laring. 2.8 Patogenesis

Penularan penyakit difteria adalah melalui udara (droplet infection), tapi juga dapat perantaraan alat atau benda yang terkontaminasi oleh kuman difteria. Penyakit dapat mengenai bayi tapi kebanyakan pada anak usia balita. Penyakit difteria dapat berat atau ringan tergantung dari virulensi, banyaknya basil, dan daya tahan tubuh anak. Bila ringan, hanya berupa keluhan sakit menelan dan akan sembuh sendiri serta dapat menimbulkan kekebalan pada anak jika daya tahan tubuhnya baik. Kuman masuk melalui kulit melekat serta berkembangbiak pada permukaan mukosa saluran pernapasan bagian atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes kesekeliling serta selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfe dan darah. Toksin ini merupakan suatu protein dengan berat molekul 62000 dalton, tidak tahan panas atau cahaya, mempunyai 2 fragmen yaitu fragmen A(Aminoterminal) dan fragmen B (Carboxyterminal) yang diikatkan dengan ikatan sufida. Fragmen diperlukan untuk melekatkan molekul toksin yang teraktivasi dari reseptor sel pejamu yang sensitive. Perlekatan ini mutlak agar fragmen A dapat melakukan penetrasi ke dalam sel. Kedua fragmen ini penting dalam menimbulkan efek toksik pada sel. Reseptor reseptor toksin difteri pada membrane sel terkumpul dalam suatu coated pit dan toksin mengadakan penetrasi dengan mengadakan endositosis. Proses ini memungkinkan toksin mencapai bagian dalam sel. Selanjutnya edosom yang mengalami asidifikasi secara alamiah ini dan mengandung toksin, memudahkan toksin untuk melalui membran edosom ke sitosol. Efek toksin pada jaringan tubuh manusia adalah hambatan pembentukan protein dalam sel. Pembentukan protein dalam sel dimulai dari penggabungan asam amino yang telah diikat oleh 2 transfer RNA yang menempati kedudukan P dan A daripada ribosom. Bila rangkaian asam amino ini ditambah dengan asam amino yang lain untuk membentuk polipeptida sesuai dengan cetakan biru RNA, diperlukan suatu proses translokasi. Translokasi ini merupakan pindahnya gabungan transfer RNA + dipeptida dari kedudukan A ke kedudukan P. Proses translokasi ini memerlukan enzim translokase. Toksin difteri mula mula menempel pada membran sel dengan bantuan fragmen A akan masuk dan mengakibatkan aktivitas enzim translokase melalui proses. NAD + EF2 (aktif) ADP ribosil-EF2 (inaktif) + H2 + Nicotinamid ADP ribosil EF2 yang inaktif

Hal ini menyebabkan translokasi tidak berjalan sehingga tidak terbentuk rangkaian polipeptida yang diperlukan, dengan akibat sel akan mati. Nekrosis tampak jelas di daerah kolonisasi kuman. Sebagai respon terjadi inflamasi lokal bersama sama dengan jaringan nekrotik membentuk bercak eksudat yang mula mula dilemmas. Produksi toksin semakin banyak, daerah infeksi semakin lebar dan terbentuk eksudat fibrin. Terbentuklah suatu membrane yang melekat erat yang berwarna abu kehitaman, tergantung dari darah yang terkandung. Selain fibrin, membran juga terdiri dari sel sel radang, eritrosit, dan sel sel epitel. Bila dipaksa melepas membrane akan terjadi perdarahan. Selanjtnya membran akan terlepas dengan sendirinya dalam periode penyembuhan . Kadang kadang terjadi infeksi sekunder dengan bakteri. Membran dan jaringan edematous dapat menyumbat jalan nafas. Gangguan pernapasan bisa terjadi dengan perluasan penyakit ke dalam laring atau cabang cabang transcobronkial. Toksin yang diedarkan tubuh bisa dapat menyebabkan kerusakan pada organ terutama jantung, saraf, dan ginjal. Antitoksin difteri hanya berpengaruh pada toksin yang bebas atau yang terarbsorsi pada sel. Terdapat periode laten yang bervariasi sebelum timbulnya manifestasi klinik. Miokardio toksin biasanya terjadi dalam 10 15 hari, manifestasi saraf pada umumnya terjadi setelah 3 7 minggu. Kelainan patofis yang menonjol adalah nekrosis toksis dan degeneralisasi hialin pada bermacam macam organ dan jaringan. Pada jantung tampak edema, kongesti, infiltrasi sel mononuclear pada serat otot dan fibrosis interstitial, pada saraf tampak neuritis toksin dengan degenerasi lemah pada selaput myelin. Nekrosis hati bisa disertai gejala hipoglikemi, kadang kadang tampak perdarahan adrenal dan nekrosis tubuler akut pada ginjal. Eksotosin bila mengenai otot jantung akan mengakibatkan miokarditis toksik atau jika mengenai jaringan saraf perifer sehingga timbul paralisis terutama otot-otot pernafasan. Selain itu, eksotoksin dapat juga menyerang vulva, kulit, mata, walaupun jarang terjadi. 2.9 Pemeriksaan dignostik Laboratorium : pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin. Pada urin terdapat albuminuria ringan. 2.10 Penatalaksanaan 1. Pengobatan umum, dapat perawatan yang baik, isolasi dan pebgawasan EKG yang dilakukan pada permulaan dirawat, 1 minggu kemudin dan minggu berikutnya sampai keadaannya EKG 2x berturut-turut normal. 2. Pengobatan spesifik

a. Antidiphtheria serum (ADS), 20.000 U/hari selama 2 hari berturut-turut dengan sebelumnya harus dilakukan uji kulit dan mata.
Bila ternyata pasien peka terhadap serum tersebut harus dilakukan desentisisasi dengan cara besredka, dengan cara : 0,05 ml dari larutan pengenceran 1:20 diberi secara SC 0,1 ml dari larutan pengenceran 1:20 diberi secara SC 0,1 ml dari larutan pengenceran 1:10 diberi secara SC 0,1 ml tanpa pengenceran diberi secara SC 0,3 ml tanpa pengenceran diberi secara IM 0,5 ml tanpa pengenceran diberi secara IM

0,1 ml tanpa pengenceran diberi secara IV b. Antibiotic. Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta diberikan penisilin prokain 50.000 U/kg bb/ hari sampai 3 hari bebas demam. Pada pasien yang dilakukan trakeostomi ditambahkan kloramfenikol 75 mg/kg bb/hari dibagi 4 dosis. c. Kortikosteroid, untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat membahayakan, dengan memberikan perdnison 2 mg/kg bb/hari selama 3-4 minggu. Bila terjadi sumbatan jalan nafas yang berat dipertimbangkan trakeostomi. Bila pada pasien difteria terjadi komplikasi paralisis/paresis otot, dapat diberikan striknin mg dan vitamin b1 100 mg tiap hari selama 10 hari. 2.11 Pencegahan Memberikan kekebalan pada anak-anak dengan cara : 1. Imunisasi DPT/HB untuk anak bayi. Imunisasi di berikan sebanyak 3 kali yaitu pada saat usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. 2. Imunisasi DT untuk anak usia sekolah dasar (usia kurang dari 7 tahun). Imunisasi ini di berikan satu kali. 3. Imunisasi dengan vaksin Td dewasa untuk usia 7 tahun ke atas. 4. Hindari kontak dengan penderita langsung difteri. 5. Jaga kebersihan diri. 6. Menjaga stamina tubuh dengan makan makanan yang bergizi dan berolahraga cuci tangan sebelum makan. 7. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. 8. Bila mempunyai keluhan sakit saat menelan segera memeriksakan ke Unit Pelayanan Kesehatan terdekat. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH (USIA 5 TAHUN) Pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia 5 tahun ini termasuk pada masa pra sekolah. Diantaranya adalah fisik, motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosialisasi, kognitif, hubungan keluarga. Fisik : Pada usia ini frekuensi nadi dan pernapasan menurun sedikit demi sedikit demi sedikit. Berat badan pada anak usia prasekolah ini rata-rata 18,7 kg. Mempunyai tinggi badan rata-rata 110 cm. Pemunculan gigi geligi permanen dapat terjadi pada tahap ini. Penggunaan tangan primer terbentuk (kira-kira 90% adalah pengguna tangan kanan).

Motorik kasar : Pada tahap ini anak dapat meloncat dan melompat pada kaki yang bergantian Melempar dan menangkap bola dengan baik Dapat meloncat keatas Bermain skate dengan keseimbangan yang baik Dapat berjalan mundur dengan tumit dan jari kaki Melompat dari ketinggian 12 inci dan bertumpu pada ibu jari kaki Keseimbangan pada kaki bergantian dengan mata tertutup.

Motorik halus Dapat mengikat tali sepatu Dapat menggunakan gunting, alat sederhana atau pensil dengan sangat baik Dapat menggambar, meniru gambar permata dan segitiga, menambahkan tujuh sampai sembilan bagian dari gambar garis, mencetak beberapa huruf, angka, atau kata seperti nama panggilan. Bahasa Mempunyai perbendaharaan kata kira-kira 2100 kata Menggunakan kalimat dengan enam sampai delapan kata, dengan semua bagian bicara Menyebutkan koin (missal nikel, perak) Menyebutkan empat atau lebih warna Menggambarkan gambar atau lukisan dengan banyak komentar dan menyebutkannya satu per satu Mengetahui nama-nama hari dalam seminggu, bulan, dan kata yang berhubungan dengan waktu lainnya Mengetahui komposisi artikel, seperti sepatu terbuat dari. Dapat mengikuti tiga perintah sekaligus

Sosialisasi Kurang memberontak dibandingkan dengan sewaktu berusia 4 tahun Lebih tenang dan berhasrat untuk menyelesaikan urusan Tidak terbuka dan terjangkau dalam hal pikiran dan perilaku seperti pada tahun-tahun sebelumnya

Mandiri tetapi dapat dipercaya; tidak kasar; lebih bertanggung jawab Mengalami sedikit rasa takut; mengandalkan otoritas luar untuk mengendalikan dunianya Berhasrat untuk melakukan sesuatu dengan benar dan mudah; mencoba untuk hidup berdasarkan aturan Menunjukkan sikap lebih baik Memperhatikan diri sendiri dengan total kecuali untuk gigi, kadang-kadang perlu pengawasan dalam berpakaian atau hygiene. Tidak siap untuk berkonsentrasi pada pekerjaan-pekerjaan yang rumit atau cetakan yang kecil karena sedikit rabun jauh dan koordinasi tangan-mata belum halus. Permainan asosiatif; mencoba untuk mengikuti aturan tetapi curang untuk menghindari kekalahan Kognitif Mulai mempertanyakan apa yang dipikirkan orangtua dengan membandingkannya dengan teman sebaya dan orang dewasa lain Menunjukkan prasangka dan bias dalam dunia luar Lebih mampu memandang perspektif orang lain, tetapi mentoleransi perbedaan daripada memahaminya Mulai menunjukkan pemahaman tentang penghematan angka melalui penghitungan objek tanpa memandang pengaturan Menggunakan kata berorientasi waktu dengan peningkatan pemahaman tentang penghematan angka melalui penghitungan objek tanpa memandang pengaturan Menggunakan kata berorientasi waktu dengan peningkatan pemahaman Sangat ingin tahu tentang informasi faktual mengenai dunia Hubungan keluarga Senang bersama orang tua Lebih sering mencari orangtua daripada usia 4 tahun untuk keamanan dan ketenangan, khususnya bila memasuki sekolah Mulai menanyakan pikiran dan prinsip orangtua Mengidentifikasi dengan kuat orangtua dengan jenis kelamin yang sama, khususnya anak laki-laki dengan ayah mereka Menikmati aktivitas seperti olahraga, memasak, berbelanja, bersama orangtua, dengan jenis kelamin yang sama

Pengaruh difteri terhadap tumbuh kembang bayi yang berusia 5 tahun Penyakit Difteri yang diderita An. B menunjukkan gejala diantaranya: 1. Pilek. An.B dibawa ke poli anak dengan keluhan pilek sudah 1 minggu suara serak. Serak pada anak dikarenakan adanya inflamasi di daerah nasal dan terdapat akumulasi sekret di daerah nasal dan tenggorokannya. 2. Sesak. Dari hasil pemeriksaan didapatkan tarikan dinding dada dan leher sapi (bullneck). Hal ini dikarenakan adanya peradangan pada laring dan inflamasi di daerah saluran nafas. 3. Sulit menelan. Anak kesulitan menelan karena adanya pembengkakan pada daerah tenggorokan sehingga timbul rasa tidak nyaman pada daerah tenggorokan dan anak tidak bisa makan. Hal ini terlihat pada berat badan anak yang mengalami penurunan yaiti sebelum anak sakit BBnya = 18 kg dan setelah sakit = 14 kg. Penyakit difteri yang diderita An. B sebabkan karena anak tersebut sering membeli makanan di pinggir jalan dan keluarga tidak terlalu memperhatikan menganggap penyakit ini suatu hal yang biasa. Dan ini merupakan penyakit yang pertama kalinya yang diderita oleh An. B. Selain gejala-gejala tersebut di atas, anak sulit untuk mengungkapkan dan menjelaskan kata-katanya tentang apa yang dia rasakan dan dia alami tentang penyakitnya kepada orang tuanya. Hal ini karena anak masih berusia 5 tahun. Apalagi anak tersebut seoarng anak laki-laki yang tidak mudah untuk bercerita kepada ibunya. Rasa tidak enak badan, sakit atau ketidaknyamanan yang dirasakan cenderung di ekspresikan dengan diam hal ini terlihat juga pada saat dilakukan pemeriksaan anak cenderung diam dan kurang respon terhadap petugas kesehatan. Penurunan berat badan pada An. B merupakan suatu indikator dari tumbuh kembang anak tersebut. An. B mengalami penurunan berat badan dikarenakan anak sulit menelan. Adanya inflamasi pada daerah nasal dan laring menimbulkan akumulasi sekret berlebih sehingga membuat rasa nyeri dan tidak nyaman di daerah tenggorokan. Selain itu pembengkakan pada daerah tenggorok juga mengakibatkan saluran tenggorok dan kerongkongan menyempit sehingga kesulitan untuk menelan. Hal ini mengakibatkan asupan nutrisi anak menjadi tidak adekuat, dan berespon pada penurunan berat badan si anak. Karena penurunan berat badan, anak ini otomatis mengalami gangguan tumbuh kembangnya kerana pemenuhan nutrisi dan gizi menjadi berkurang. Pada perkembangan sosial anak tersebut berada pada tahap perkembangan inisiatif vs rasa bersalah. Tetapi pada An. B dia cenderung diam dan tidak kritis terhadap kondisi lingkungan disekitarnya. Disini terlihat dia tidak memberikan respon terhadap tindkan yang dilakukan oleh dokter maupun perawat. Pada tahap psikoseksual anak ini seharusnya berada pada fase falik. Namun pada An. B mengalami gangguan perkembangan yaitu pada usia sebayanya yang sudah berusia 5 tahun, yakni dia ternyata masih mengompol.

BAB 3 ANALISIS KASUS An B, umur 5 tahun laki laki, BB: 14 kg, datang ke poli anak dengan keluhan pilek sudah 1 minggu, suara serak, sulit menelan. Dari hasil pemeriksaan didapatkan tarikan dinding dada, leher sapi (bullneck), RR: 31x/menit N:110 S: 37,9 C terdengar stridor. Dari riwayat imunisasi diketahui An B tidak lengkap mendapatkan imunisasi DPT. Swab tenggorokan (+)/KN=(+). An B terlihat diam tetapi kooperatif terhadap tindakan yang diberikan dan memiliki riwayat masih mengompol waktu malam hari. 3.1 Asuhan Keperawatan 3.1.1.2 Riwayat Kesehatan a. Sesak b. Riwayat penyakit sekarang Pasien datang ke poli anak dengan keluhan pilek sudah 1 minggu, suara serak, sulit menelan. Dari hasil pemeriksaan didapatkan tarikan dinding dada, leher sapi (bullneck), c. Riwayat Kesehatan sebelumnya d. Riwayat penyakit dulu - Penyakit yang pernah diderita: Pasien pernah sakit demam - Operasi: Sebelumnya pasien tidak pernah menjalani operasi - Alergi: Pasien tidak alergi dengan apapun - Imunisasi: BCG : umur 2 bulan Polio: DPT: 2 bln, 4 bln, 6 bulan e. Riwayat kesehatan keluarga - Penyakit yang pernah diderita keluarga: Keluarga tidak pernah menderita penyakit serupa - Lingkungan rumah dan komunitas:Pasien tinggal di kawasan industri - Perilaku yang mempengaruhi kesehatan: Pasien sering membeli makanan di pinggir jalan - Persepsi keluarga terhadap penyakit: Keluarga menganggap penyakit yang diderita anaknya sebagai suatu hal yang biasa f. Riwayat nutrisi Nafsu makan Pola makan Minum : nafsu makan baik : 3x/hari : 2000 cc/hari Campak: 9 bulan Hepatitis: 1 bulan Keluhan utama

Pantangan Makanan : tidak ada pantangan makanan Menu makanan g. Riwayat pertumbuhan BB saaat ini BB lahir : 14 kg : 3,3 kg LK TB : 51 cm : 110 kg : nasi

Panjang lahir

: 50 cm

LD LLA

: :

BB sebelum sakit: 18 kg h. Riwayat Perkembangan Pengkajian perkembangan (DDST) :

Tahap perkembangan sosial : Anak berada pada tahap perkembangan inisiatif vs rasa bersalah. Tetapi pada An B dia cenderung diam, tidak memberikan reaksi terhadap setiap tindakan yang diberikan kepadanya. Tahap perkembangan psikoseksual : Pada usia ini seorang anak berada pada fase falik. Tapi pada An B dia mengalami gangguan perkembangan yaitu pada usianya yang sudah 5 tahun, dia ternyata masih mengompol.

3.1.1.3 Observasi dan Pemeriksaan Fisik a. Tanda Vital:

TD Nadi RR Suhu

: 110/80 : 110 : 31 : 37,9 oC b. Sistem Pernafasan (B1)

- Sesak - Batuk

: ada : (+)

- Suara nafas : stridor - tarikan dinding dada : dibagian supra strenal - Lain lain : Pasien pilek, suara serak, terdapat pembesaran tonsil (bullneck), dan terdapat pseudomembran

Masalah Keperawatan : Bersihan jalan nafas tak efektif dan Pola nafas tak efektif c. Sistem kardiovaskuler (B2) - Irama jantung : reguler - S1/ S2 : tunggal

- Suara jantung : normal - CRT : < 2 detik

- Nyeri dada : tidak ada - Akral : hangat dan kering

Masalah Keperawatan : tidak terdapat masalah keperawatan d. Sistem Persyarafan (B3) - GCS: Eye: 4 : tidak ada : tidak : 8 jam/hari tidak terdapat masalah keperawatan Verbal: 5 Motorik: 6

- Refleks patologis - Keluhan pusing - Istirahat/ tidur

Masalah Keperawatan :

e. Sistem Perkemihan (B4) - Keluhan kencing - Produksi urine - Intake cairan Masalah Keperawatan f. Sistem Pencernaan (B5) - Diet : TKTP Frekuensi makan konsistensi : 3x/ hari : lunak : pasien masih mengompol saat malam hari : 500 ml/hari : 1500ml/hari : Tidak ditemukan masalah warna : kuning bau : khas

- Nafsu makan : menurun - BAB - Lain-lain : 1x/ 2 hari

: Makanan yang disajikan hanya dimakan sebanyak 3 sendok

Masalah Keperawatan : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh g. Sistem Muskulo skeletal dan Integumen (B6) - pergerakan sendi - kelainan ekstremitas : tidak ada - kulit - turgor : tidak ada masalah : baik : bebas

Masalah Keperawatan : tidak terdapat masalah keperawatan h. Sistem endokrin - Hiperglikemia - hipoglikemia Masalah Keperawatan i. Pemeriksaan penunjang Swab tenggorokan (+)/KN=(+). : tidak : tidak : Tidak ditemukan masalah

3.1.1.4 Analisis Data No. 1. DS : ibu klien Mengeluhkan pilek minggu, suara serak DO : suara nafas stridor 2. DS : klien mengeluhkan sesak nafas DO : Terdapat tarikan dinding dada di suprasternal Akumulasi sekret Difteri Laring Peradangan laring Pembengkakan Saluran nafas Pola nafas tidak efektif sudah 1 Data Etiologi Difteri Daerah nasal Inflamasi nasal Masalah Bersihan jalan napas tak Efektif

RR : 31x/menit Nadi : 110x/menit

Menyempit Sesak

3.

DS : klien mengeluhkan sulit menelan DO : A : BB: 14kg B : Alb: 2,5 mg/dl C : pasien tampak kurus D : 3 sendok setiap kali makan DS : DO:Pasien hanya diam saat tenaga medis datang DS : ibu pasien mengatakan bahwa dia sudah seminggu tidak masuk kerja DO : ibu terlihat menemani anaknya sepanjang hari

Difteri

Perubahan nutrisi kurang dari

Sulit menelan

kebutuhan tubuh

Intake kurang

Berat badan turun

4.

Suasana baru, tindakan medis Ketakutan - biaya perawatan - kurangnya informasi - peran ortu & saudara kandung

Ketakutan

5.

Perubahan proses keluarga

Perubahan proses Keluarga

3.2. Intervensi Keperawatan Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil : Bersihan jalan napas tak efektif b.d akumulasi sekret : Klien mempertahankan jalan napas yang adekuat :

- Anak dapat bernapas dengan normal RR: 30-40x/menit - Jalan napas tetap bersih dibuktikan dengan tidak ada stridor. - Tidak ada tarikan dinding dada pada bagian Supra strenal. Intervensi Keperawatan Rasional 1. Berikan O2 melalui nasal canul sebanyak 2 1. Untuk membantu klien dalam pemenuhan O2. liter. 2. leher sedikit ekstensi dari hidung menghadap 2. Beri posisi terlentang dengan kepala pada ke atas memudahkan anak bernapas posisi leher sedikit ekstensi dan hidung menghadap 3. Mencegah aspirasi karena volume yang besar ke atas dari sputum dapat tiba tiba mengental. 3. Berikan nebulasi dengan alat dan larutan yang tepat sesuai dengan ketentuan. Observasi anak dengan ketat setelah terapi aerosol 4. Aspirasi sekresi dari jalan napas sesuai 4. Membatasi penghisapan diperlukan untuk kebutuhan, batasi setiap penghisapan sampai 5 detik memungkinkan reoksigenasi dengan waktu cukup diantara tindakan 5. Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan 6. Berika ekspetoran bila diresepkan

5. Fisioterapi dada bertujuan untuk merontokkan secret 6. Ekspetoran berfungsi untuk mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria hasil : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d : Klien menunjukkan kebutuhan nutrisi yang adekuat : nyeri saat menelan.

- Anak mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untuk mempertahankan berat badan yang sesuai dengan usia - Tidak ada tanda-tanda malnutrisi Intervensi Keperawatan Rasional 1. Berikan diet TKTP sesuai dengan kondisi klien 1. Memperbaiki nutrisi anak. 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyediakan makanan lembut. 3. Sediakan susu lebih banyak. 4. Berikan minum yang sering. 2. Makanan yang lembut membantu anak untuk mudah menelan. 3. Membantu perbaikan nutrisi 4. Memelihara kebersihan mulut dan membantu 5. Berikan penjelasan mengenai nutrisi yang kelancaran eliminasi adekuat 5. Mendorong anak untuk meningkatkan nutrisinya 6. Aturlah pemberian makanan dalam porsi yang 6. Mencegah anak agar tidak bosen dan mencegah sedikit tapi sering terjadinya anoreksia 7. Timbanglah berat badan setiap hari 7. Menilai indikator terpenuhinya kebutuhan nutrisi 8. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak bila tidak bisa makan peroral 8. Memasang NGT bila diperlukan Diagnosa Keperawatan Tujuan : Ketakutan anak b.d lingkungan asing dan prosedur tindakan : Klien tidak merasa takut lagi dengan lingkungan runah sakit dan prosedur tindakan dengan tenang sesuai

Kriteria hasil : Anak tidak takut lagi dan dapat melakukan akivitas dengan usia, minat, kondisi,dan tindakan kognitif Intervensi Keperawatan 1. Kaji tingkat dan penyebab ansietas pada anak Rasional 1. Penyebab dan tingkat kecemasan dapat mempengaruhi asuhan keperawatan yang diberikan pada anak 2. Agar anak leebih mengenal lingkungan sekitarnya yang baru sehingga dapat mengurangi ansietasnya 3. Penjelasan yang diberikan diharapkan dapat mengubah pikiran yang takut akan prosedur 2. Berikan gambaran pada anak mengenal sekitar tindakan dan alat yang digunakan lingkungan Rs. (ruang perawatan) 4. Sikap perawat yang sabar dan telaten akan mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan kecemasan anak dapat menurun

3. Berikan penjelasan pada anak sebelum melakukan prosedur tindakan dan alat yang digunakan

4. Memberi pengarahan bagi perawat yang merawat anak agar selalu sabar dan telaten terhadap tingkah laku anak Diagnosa Keperawatan : Perubahan proses keluarga b.d penyakit anak

Tujuan : Keluarga mengurangi pengurangan ansietas dan peningkatan kemampuan dalam melakukan koping serta lebih sabar dalam menerima kondisi yang ada Kriteria hasil :

- Orang tua mengajukan pertanyaan yang tepat, mendiskusikan kondisi dan perawatan anak dengan tenang serta terlibat secara positif dalam perawatan anak - Keluarga melanjutkan untuk mencapai tujuan pengobatan - Keluarga mencari dukungan yang dibutuhkan. Intervensi Keperawatan Rasional 1. Kenali kekhawatiran dan kebutuhan orang tua 1. Untuk memberikan informasi dan dukungan 2. Gali perasaan keluarga dan masalah sekitar 2. Untuk meringankan beban orang tua yang hospitalisasi dan penyakit anak mengkhawatirkan keadaan anaknya 3. Jelaskan tentang terapi dan perilaku anak 3. Dengan adanya penjelasan prosedur tindakan dan tujuannya akan mengurangi ansietas orang tua 4. Dengan dukungan akan membuat orang tua lebih sabar dan tabah dalam menerima kondisi yang ada 5. Dengan terlibatnya orang tua dan keluarga akan 4. Beri dukungan sesuai dengan kebutuhan mengurangi kecemasan

5. Anjurkan perawatan yang bepusat pada keluarga dan anjurkan anggota keluarga aga terlibat dalam perawatan anak

6. Untuk menurunkan ansietas

6. Tekankan kecepatan pemulihan Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria hasil : Pola nafas tidak efektif b.d proses inflamasi : Klien menunjukkan fungsi pernafasan normal : Anak dapat bernafas normal RR:30-40x/menit Rasional 1.Untuk mempertahankan agar jalan nafas tetap terbuka

Intervensi Keperawatan 1. Posisikan untuk efisiensi ventilasi yang maksimum (missal jalan nafas terbuka, ekspansi paru maksimum)

2. Berikan posisi yang nyaman (missal posisi fowler 2.Posisi fowler tinggi dapat mengurangi sesak nafas yang tinggi) 3.Untuk mempertahankan jalan nafas agar tetap 3. Gunakan bantal dan bantalan secukupnya terbuka 4. Tingkatkan istirahat dan tidur dengan 4.Meminimalkan penggunaan energi penjadwalan 5. Ajarkan pada anak dan keluarga tentang tindakan yang mempermudah upaya pernafasan 5.Melatih kemandirian gangguan pola nafas Diagnosa keperawatan : PK Tujuan Kriteria hasil : Miokarditis : tidak terjadi tanda-tanda miokarditis :

dalam

mengurangi

- Pemerikasaan EKG dalam batas normal - Nadi normal 90-100x/menit Intervensi keperawatan Rasional 1. Kolaborasi 1. Untuk dengan dokter untuk pemberian ADS sedini mencegah penyebaran bakteri lebih jauh lagi. mungkin 2. Penting 2. Mengobserva untuk mengetahui kondisi klien. si kondisi pasien. Nadi, suhu, RR.

3. Anjurkan 3. pasien untuk istirahat selama 3 minggu atau sampai dapat mempercepat pemulihan pasien. hasil EKG 2 kali berturut-turut normal. Diagnosa keperawatan : PK : Trakeostomi Tujuan : mencegah efek samping dari trakeostomi Menghilangkan katakutan anak terhadap tindakan trakeostomi. Kriteria hasil : - Tidak ada suara stridor - Anak rileks Intervensi keperawatan 1. si tanda vital pasien

Istirahat

Rasional Awa 1. Penting untuk tahu kondisi pasien 2. Anak dengan trakeostomi memiliki kemungkinan untuk merasa rendah diri. Beri

2. kan dukungan psikolgi

3.

Secret yang menumpuk akan menganggu pernapasan.

3. watan trakestomi

Pera

Diagnosa keperawatan : Gangguan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan b.d kebiasaan mengompol pada malam hari Tujuan : anak tidak mengompol pada malam hari kriteria hasil :

- ibu bisa menyebutkan cara-cara yang telah diajarkan - anak bisa menahan berkemih saat malam hari

1. Tanyakan eliminasi

Intervensi Keperawatan pada ibu riwayat

Rasional kebiasaan 1. Untuk mengeyahui umur berapa mulai toilet training dan penggunaan pempers 2. Untuk mengajarkan anak lebih teratur dalam berkemih

2. Anjurkan pada ibu untuk melatih anak dalam 3. Mencegah anak berkemh pada malam hari berkemih

3. Ajarkan ibu tentang pentingnya pengaturan


pemberian air minum dan toilet training

WOC

Corynebacterium difteria Kontak dg orang/barang terkontaminasi Masuk melalui GIT dan saluran nafas
Aliran sistemik

Penetrasi ke sel dengan endositosis Pelepasan eksotoksin Melepas pseudomembran Difteri Daerah Nasal Inflamasi membrane nasal Sekresi hidung Daerah laring Peradangan laring pembengkakan Jantung Miokardium Kerusakan mitokondria Ginjal Daerah kulit, Telinga, vulvovagina, konjungtiva

Daerah Tonsil Pembesaran tonsil Bull neck MK : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Resiko hipertermi

Hipertermi

Pembengkakan

MK : bersihan jalan nafas tidak efektif

nyeri telan

Saluran udara menyempit

MK: Perubahan untrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Kerusakan jaringan miokardium peradangan miokarditis

Nekrosis, tubular akut dan perdarahan adrenal

Eritema di kulit Kemerahan pada mata,edema palpebra, otitis eksterna

sesak

Stridor

MK : gangguan integritas kulit

MK : pola nafas tak efektif

PK:miokarditis

Hospitalisasi
Keluarga -biaya perawatan - kurangnya informasi - peran ortu & saudara kandung MK : perubahan proses keluarga Anak Lingkungan baru Tenaga kesehatan Penggunaan alat medis & tindakan MK: Ketakutan

BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan Difteri adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang sangat menular, disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae ditandai dengan pembentukan psedomembran pada kulit atau mukosa. Berdasarkan tempat atau lokasi jaringan yang terkena infeksi, difteri dapat dibagi menjadi tiga, antara lain yaitu Difteri hidung, Difteri faring dan tonsil, Difteri laring. Difteri laring merupakan difteri yang paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas. Untuk mengurangi angka kejadian penyakit difteri, Indonesia telah mencanangkan imunisasi vaksin DPT yang diberikan tiga kali. Dimana DPT 1 diberikan umur 2 bulan, DPT 2 umur 3 bulan, DPT 3 umur 4 bulan, dan ada juga vaksin ulangan yang dikenal dengan booster.

4.2 Saran Saran yang bias disampaikan oleh penulis antara lain : 4. Sebagai perawat diharapkan dapat mengerti dan paham tentang penyakit difteri dan dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien yang terjangkit difteri 5. Sebagai perawat yang profesional diharapkan juga dapat paham tentang imunisasi DPT dan dapat melakukan asuhan keperawatan berupa imunisasi dengan tepat

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Apakah penyakit difteri itu?. Diakses pada http://www.anakku.net/2006/12/05/contentapakah-penyakit-difteri-itu/

25

Maret

2010

dari

Anonim. 2006. Penyakit Difteri. Diakses pada 25 Maret http://www.bayisehat.com/immunization-mainmenu-36/64-penyakit-difteri.html

2010

dari

Anonim. 2008. DIFTERI, mengancam jiwa anak kita !! Diakses pada 25 Maret 2010 dari http://dinkes-kabtangerang.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=97:difterimengancam-jiwa-anak-kita-&catid=2:beritaterbaru&Itemid=9

Anonim.2006 Penyakit Difteri. Diakses pada 25 Maret http://www.bayisehat.com/immunization-mainmenu-36/64-penyakit-difteri.html

2010

dari

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC. Hal 21-31

Novia, Mira. 2009. Dapat Timbulkan Kematian Jika Tidak Ditangani Dengan Segera. Diakses pada 25 Maret 2010 dari http://www.surabayaehealth.org/dkksurabaya/berita/difteri-bagaimanapenularan-dan-pencegahannya

NSW Health. 2006. Informasi Tentang Penyakit Difteri. Diakses pada 25 Maret 2010 dari http://www.health.nsw.gov.au/resources/publichealth/immunisation/dtpa/dtpa_immunisation_consen t_ind.pdf

Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi. 2008. Difteria. http://www.surveilans.org/general.php? tpl=en&id=10

Wong, Donna L., 2003. Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC