Anda di halaman 1dari 14

TEORI DAN APLIKASI PEMBUATAN PAKAN TERNAK AYAM DAN ITIK Oleh : Eko Widodo Fakultas Peternakan Universitas

Brawijaya Malang E-mail: ekowidodo_nmt@yahoo.co.id

I. PENDAHULUAN Ternak ayam dan itik adalah sandaran hidup banyak masyarakat, khususnya di pedesaan. Umumnya, memang kalau di pedesaan bisa dianggap sebagai tabungan, yang setiap saat bisa dijual saat membutuhkan. Jutaan orang juga untuk kehidupan sehari-hari tergantung pada peternakan ayam dan itik ini. Pakan merupakan biaya terbesar dalam pemeliharaan ternak ayam maupun itik, biasanya berkisar 60-75% dari total biaya produksi. Oleh karena itu, sebagai salah satu dari 3 sendi usaha peternakan (bibit pakan manajemen), faktor pakan perlu mendapatkan perhatian khusus. Pilihan bibit ayam atau itik yang baik, artinya dihasilkan dari induk dan pejantan pilihan yang memiliki pertumbuhan yang cepat dan bobot badan yang tinggi akan menghasilkan keturunan yang memiliki potensi pertumbuhan yang cepat. Bibit yang baik mesti dipelihara dengan manajemen yang baik pula sehingga tidak terjangkit penyakit, tidak kepanasan/kedinginan dan tidak tertiup angin kencang atau dikandangkan dimalam hari sehingga tidak dimakan predator misalnya kucing atau anjing. Bibit yang baik dengan manajemen yang baik juga mesti didukung oleh pakan yang baik pula, agar potensi genetiknya bisa muncul menjadi ayam yang tumbuh dengan baik. Apa jadinya kalau ayam genetiknya baik dan dipelihara dengan manajemen yang baik tetapi tidak diberi pakan yang baik, yang terjadi adalah pertumbuhan terganggu karena dari input zat makanan yang terdapat dalam pakan yang diberikanlah ayam akan tumbuh. Secara teoritis, kebutuhan zat makanan akan dipenuhi dari pakan yang diberikan akan digunakan untuk hidup pokok (kebutuhan untuk bernapas, beraktivitas dan gerak misalnya), baru setelah terpenuhi maka zat makanan tersebut akan dirombak menjadi daging.

II. TENTANG BAHAN PAKAN Bahan pakan ternak adalah segala bahan yang dapat dimakan, yang bermanfaat dan tidak berbahaya terhadap kesehatan ternak unggas. Bila beberapa bahan pakan dicampur untuk memenuhi kebutuhan ternak maka akan menghasilkan pakan

sempurna/komplit. Sebenarnya bahan pakan ternak secara sederhana bisa digolongkan menjadi: 1. Bahan pakan asal tumbuhan, seperti tepung daun lamtoro, daun kelor, daun gamal dsb. 2. Bahan pakan asal hewan, seperti tepung ikan, tepung teri dsb

3. Bahan tambahan lain seperti tepung kerang, tepung tulang, premik (produk campuran vitamin, mineral, asam amino dll) Bagian terpenting yang menjadi pertimbangan suatu bahan bisa dijadikan bahan pakan adalah: 1. komposisi kimianya Perlu diketahui bahwa komposisi zat makanan dalam suatu bahan pakan mungkin bervariasi, kalau bahan tersebut asal tanaman misalnya tergantung umur panen, varitas tanaman, pemupukan dsb. Disamping itu ada beberapa bahan pakan yang rentan untuk dipalsukan, misalnya bekatul dipalsukan dengan gilingan sekam, tepung ikan dipalsukan dengan hasil pembakaran tepung bulu dll. Tabulasi beberapa bahan pakan yang mungkin dipakai dinataranya seperti dalam tabel 1 atau bisa diperoleh dari tabel NRC, atau bahkan berbagai buku praktis.
TABEL 1. KOMPOSISI BAHAN PAKAN UNTUK UNGGAS BAHAN PAKAN  BEKATUL JAGUNG KUNING MENIR POLLARD SORGHUM TEPUNG GAPLEK TETES (TEBU) BUNGKIL BIJI KAPAS BUNGKIL KEDELE BUNGKIL KELAPA BUNGKIL WIJEN BUNGKIL.KC. TANAH T.IKAN (Herring)) T.IKAN LOKAL TEPUNG LAMTORO MINYAK KELAPA TEPUNG BATU DL Metionin GARAM KULIT KERANG L-lysin HCl PREMIX HARGA Rp 1000 2800 800 1800 900 300 500 1500 4000 2100 2500 3700 6500 5000 1500 8000 450 40000 200 250 40000 5000 EM Kkal/kg 2860 3370 3390 1300 3250 2970 1960 2100 2240 2200 1910 2200 2640 2650 828 8600 0 0 0 0 0 0 PK % 10.2 8.6 8.9 15 10 1.5 3 41 42 18.5 45 42 72 58 18.9 0 0 0 0 0 0 0 LK % 7 3.9 4 4 2.8 0.7 0.1 4.8 0.9 2.5 5 1.9 10 9 5.9 100 0 0 0 0 0 0 SK % 3 2 1 10 2 0.9 0 12 6 15 5 17 1 1 16.3 0 0 0 0 0 0 0 Ca % 0.04 0.02 0.03 0.14 0.03 0.18 0.9 0.18 0.29 0.2 2 0.2 2 5.5 0.05 0 40 0 0 37 0 25 P % 0.16 0.1 0.4 0.32 0.1 0.09 0.1 0.33 0.65 0.57 0.3 0.2 1.5 2.8 0 0 0 0 0 0 0 0 Lis % 0.71 0.2 0 0.3 0.2 0.03 1.6 2.9 0.64 1.3 1.8 6.4 5 0 0 0 0 0 80 0 Met % 0.27 0.18 0.27 0.17 0.13 0.09 0 0.6 0.65 0.29 1.4 0.5 2 1.8 0.55 0 0 90 0 0 0 0

Suatu bahan pakan dikatakan berkualitas apabila zat-zat makanan yang terkandung sesuai atau bahkan lebih tinggi dari standar, misalnya tabel di atas. Ada baiknya senantiasa menganalisakan bahan pakan yang akan digunakan sehingga hasil formulasi bisa riil dan lebih tepat. Hal ini bisa dilakukan dengan mendatangi dinas peternakan (beberapa daerah di

Jawa Timur sudah memiliki fasilitas laboratoriumnya) atau Fakultas Peternakan terdekat. Tentu diperlukan biaya, namun tidak semahal jika harus dianalisiskan ke lembaga swasta. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kadar air bahan pakan. Kadar air bahan pakan yang terlalu tinggi akan merugikan peternak dalam 2 aspek, yaitu: 1. Cepat rusak atau tidak bisa disimpan untuk waktu yang lama dan 2. Menurunkan kandungan nutrisi. Untuk alasan cepat rusak mudah dimengerti karena bahan pakan akan cepat ditumbuhi jamur. Alasan yang kedua tentang zat makanan mudahnya dijelaskan dalam diagram berikut:

Air Bahan Pakan Bahan kering (protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral)

Diagram tersebut mengilustrasikan bahwa jika kadar air dalam bahan pakan tinggi berarti kadar bahan keringnya menurun. Padahal zat-zat makanan yang penting untuk pertumbuhan, seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral terdapat dalam

bahan kering. Oleh karena itu, peternak perlu memiliki tabel standar sebagaimana perusahaan besar untuk mengontrol kualitas bahan pakan yang akan digunakan. Harga bahan pakan mungkin lebih murah, tetapi kalau kadar airnya diatas 14% akan mudah ditumbuhi jamur meski disimpan dengan baik.

2. Batasan penggunaan bahan pakan Kenapa penggunaan bahan pakan perlu dibatasi? Alasannya adalah jika dipakai terlalu banyak akan berpengaruh negatif terhadap ternak. Pengaruh negatif tersebut bisa disebabkan oleh karena mengandung zat anti-nutrisi. Misalnya kedelai mentah kaya akan anti-tripsin sehingga menghambat pencernaan protein. Oleh karena itu, perlu perlakuan sebelum diberikan pada ternak misalnya dengan penyangraian selama 20-30 menit. Tetapi, penyangraian tidak hanya memerlukan proses dan tenaga kerja tambahan dan tentu saja ongkos tambahan untuk pegawai dan penyangraian. Untuk praktisnya, digunakanlah bungkil kedelai yaitu kedelai hasil samping pembuatan minyak kedelai. Batasan penggunaan bahan pakan juga diperlukan mengingat pakan ternak unggas umumnya hanya membolehkan kadar serat kasar 5-7% saja. Serat kasar memang dibutuhkan oleh ternak unggas, tetapi karena kemampuannya mencerna serat yang terbatas khususnya untuk ternak muda maka penggunaan bahan pakan kaya akan serat kasar mesti diatur. Tabel 2 dibawah bisa dijadikan acuan, biasanya peternak juga mendasarkan pada pengalaman yang mungkin berbeda dengan teori karena didasarkan pada tingkat keuntungan tertinggi.

TABEL. 2. MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN PAKAN UNTUK UNGGAS Bahan Pakan Jagung Sorgum Bekatul Menir Tepung gaplek Pollard Gandum Lemak/minyak Tetes Tp. daun lamtoro Kapur Kulit kerang Limbah udang Bungkil kedele Bungkil kacang Bungkil kelapa Bungkil biji kapas Tepung ikan Tepung bulu Tepung daging Tepung bekicot Starter 60 25 10 40 8 5 10 5 2 5 5 2 5 30 5 10 5 7 2 7 3 Petelur Grower 60 40 15 40 10 15 20 6 2 5 5 3 5 30 7.5 15 5 8 5 7 3 Layer 70 40 30 40 10 30 40 7 2 5 5 5 8 40 15 25 10 10 5 7 3 Pedaging Starter Finisher 60 70 25 40 10 10 40 40 8 10 15 20 10 30 5 7 2 2 5 5 5 5 1 3 5 5 30 40 5 7.5 15 15 2.5 5 7 10 5 5 7 7 3 3

III. TEORI PEMBUATAN PAKAN Dalam hal pembuatan pakan ini diperlukan pertimbangan khusus diantaranya: 1. Bahan pakan apa yang akan digunakan Untuk membuat pakan sendiri lebih sulit, terutama karena peternak umumnya memiliki pilihan terhadap jenis bahan pakan yang dipakai terbatas. Mungkin peternak memiliki hanya tidak lebih dari 8-10 jenis bahan pakan biasanya terdiri dari jagung, bekatul, tepung ikan, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tapioka, tepung kerang, kalsium

karbinat/tepung batu, dan premik. Hal ini berbeda dengan pabrik pakan besar seperti Phokphand atau Comfeed yang memiliki dana dan gudang yang besar mampu mengkoleksi 50 atau lebih jenis bahan pakan. Terlebih dalam pengadaan bahan pakan ternak kontinyuitas suplai dan ketersediaannya merupakan hal yang sangat penting. Suplai bahan pakan yang kontinyu dan bahan pakan tersebut selalu tersedia sepanjang tahun penting agar formula pakan yang dibuat nanti tidak terlalu sering berubah, karena pada prinsipnya ternak bisa diberikan pakan dengan kualitas yang sama tetapi tiap bahan pakan punya spesifikasi sendiri misalnya mengandung anti-nutrisi yang menyebabkan palatabilitas/tingkat kesukaan menurun dan berakibat konsumsi pakannya juga menurun. Padahal, konsumsi

pakan adalah langkah awal dari tercapainya produktifitas. Jika level konsumsi pakan tidak tercapai maka akan sulit punya tercapai target pertumbuhannya.

2. Tabel zat makanan yang terkandung dalam bahan pakan tersebut Untuk bisa menyusun pakan atau membuat formula pakan diperlukan komposisi zat makanan dari setiap bahan pakan yang mau dipakai. Komposisi tersebut untuk mudahnya perlu disusun dalam suatu tabel kalau bisa dalam suatu program spreadsheet semacam excel (program excel bisa digunakan untuk menyusun ransum). Pada saat mau menyusun formula, tabel seperti tabel 1 tersebut akan sangat membantu.

3. Tabel kebutuhan zat makanan Tabel kebutuhan zat makanan adalah spesifik dan berbeda menurut kebutuhannya berdasarkan jenis ternak (berbeda antara ayam dan itik misalnya), jenis produksi (untuk produksi daging atau telur) dan umur (karena pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh umur, juga produksi telur dipengaruhi oleh umur). Penggunaan ayam buras untuk produksi daging, atau ayam petelur jantan dan itik jantan sebagai ternak pedaging sebenarnya keluar dari kodrat. Hanya peternak Indonesia saja yang melihat ini peluang, walaupun ketiga ternak tersebut pertumbuhannya lambat dengan strategi pemberian pemberian yang tepat dan murah keuntungan masih bisa diperoleh. Keuntungan dalam usaha peternakan adalah orientasi peternak, jika untung maka banyak peternak lain yang ikut-ikutan memelihara ternak tersebut. Tabel 3 berikut bisa dijadikan acuan peternak untuk membuat formulasi pakan.

TABEL 3. KEBUTUHAN ZAT MAKANAN UNGGAS PEDAGING DAN PETELUR


Jenis Unggas   Ayam Pedaging Ayam Pedaging Ayam Petelur Ayam Petelur Ayam Petelur Ayam Petelur Ayam Petelur jantan Itik Itik Itik Itik jantan pedaging Itik jantan pedaging Ayam Buras Ayam Buras Periode / umur   Starter (0-3mg) Finisher (3-6mg) Starter (0-8mg) Grower (8-22mg) Layer1(22-52mg) Layer2(>52mg) 1 hari-dipotong (0-2mg) (2-7mg) Layer Starter (0-3mg) Finisher (3-7mg) Starter (0-3mg) Finisher (3-8mg)  EM Kkal/kg 2900 3100 2800 2600 2650 2650 2900 2900 3000 2900 2800 2900 2700 2800  PK % 22 20 19 16 17 15.5 19 22 16 15 22 16 18 15 Kebutuhan zat  makanan LK SK Ca % % % 5-8 3-5 0.9-1.1 5-8 3-5 0.9-1.1 4-6 4-5 0.9-1.1 4-6 5-6 0.9-1.1 4-6 4-6 3.3-3.8 4-6 4-6 3.5-3.8 5-8 5-8 5-8 4-6 5-8 5-8 4-7 4-7 4-5 3-5 3-5 4-6 3-5 3-5 3-6 3-6   P Lis Met % % % 0.7-0.9 1.1 0.5 0.7-0.9 1 0.38 0.6-0.8 0.85 0.3 0.6-0.8 0.6 0.25 0.7-0.9 0.73 0.34 0.7-0.9 0.6 0.25

0.9-1.1 0.6-0.8 0.85 0.3 0.65 0.4 0.9 0.4 0.6 0.3 0.65 0.3 2.75 0.4 0.6 0.27 0.65 0.4 0.9 0.4

0.6 0.3 0.65 0.3 0.9-1.1 0.7-0.9 0.6 0.25 0.9-1.1 0.7-0.9 0.6 0.25

4. Metode penyusunan/formulasi pakan Ada beberapa metode formulasi pakan, namun kali ini hanya akan dibahas 2 saja yaitu metode pearson square dan trial and error. Lebih lanjut akan dibahas secara lebih detil dalam sub-bab formulasi pakan.

5. Harga bahan pakan Pakan jadi/komplit yang dibuat peternak akan murah jika disusun dari bahan pakan yang berkualitas tetapi murah. Padahal fenomena umumnya adalah semakin murah harga bahan pakan kualitasnya semakin jelek atau paling tidak dibawah standar. Tepung ikan adalah ilustrasi yang paling mudah, biasanya harga tepung ikan ditentukan oleh kandungan proteinnya. Misalnya setiap% protein adalah Rp 100,- maka tepung ikan yang kandungan proteinnya 50% harganya Rp 5000,-/kg. Jika peternak ditawari dengan harga di bawah Rp 5000,-/kg perlu curiga kualitasnya.

IV. Praktek pembuatan formula pakan Seperti telah dijelaskan bahwa hanya 2 metode yang akan diuraikan: 1. Metode pearson square/segi empat pearson, prinsipnya adalah: a. menentukan dahulu standar pakan jadi yang ingin dibuat (hanya 1 zat makanan saja, misalnya proteinnya 20%) b. mencari 2 bahan pakan dengan ketentuan bahan pertama memiliki protein diatas 20% (misalnya bungkil kedelai dengan protein 45%) dan bahan kedua dibawah 20% (misalnya jagung dengan protein 9%) jika diketahui ingin menyusun pakan jadi sebanyak 72 kg, maka selanjutnya buat segi empat berikut: Bungkil kedelai 45% 11 (selisih 9 dan 20) = 11/36 x 72 = 22 kg

20

Jagung

9%

25 (selisih 45 dan 20) = 25/36 x 72 = 50 kg 36 (jumlah antara 11 dan 25)

Dari perhitungan tersebut di atas maka bisa diperoleh formula bahwa bungkil kedelai yang digunakan adalah 22 kg dan jagungnya 50 kg. Perhitungan ini memang sederhana, tetapi banyak kelemahannya, yang utama adalah hanya 1 zat makanan (misalnya dalam contoh di atas adalah protein) saja yang bisa dihitung dengan tepat (20%).

2. Metode trial and error (coba dan salah) artinya kalau salah ya dicoba hitung lagi. Berdasarkan alat perhitungannya maka bisa menggunakan kalkulator atau program excel. Tentu saja dengan menggunakan excel akan jauh lebih mudah. Untuk mengingatkan, apapun metode yang digunakan memerlukan 2 hal: 1. Tabel komposisi zat makanan dari bahan penyusun pakan, memang baru memuat beberapa yang mungkin digunakan di Indonesia seperti terlihat dalam Tabel 1. 2. Tabel kebutuhan zat makanan untuk unggas yang bersangkutan (termasuk harganya), untuk ayam ras memang sudah ada standarnya tetapi untuk ayam buras dan ternak lokal lain mengacu pada label produk yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan pakan atau sebagaimana tertuang dalam Tabel 3. 3. Mempertimbangkan batasan penggunaannya

2.1. Prosedur penyusunan ransum dengan kalkulator a. buatlah tabel dengan jumlah kolom sebanyak zat makanan yang ingin diketahui dan dengan jumlah baris sebanyak jumlah bahan pakan yang ingin digunakan sebagai berikut:
BAHAN  HARGA Rp/kg EM Kkal/kg PK LK SK % % % Ca % P % Lis Met % %

b. sandingkan tabel komposisi dengan tabel tersebut untuk memudahkan perhitungan.

c. mulailah memilih bahan pakan yang hendak digunakan sesuai yang ada tersedia saat itu, lalu menghitung dengan mengalikan proporsi dibagi 100 dikalikan dengan komposisi yang sesuai kolomnya.

BAHAN 

BEKATUL JAGUNG KUNING BUNGKIL BIJI KAPAS BUNGKIL KEDELE BUNGKIL KELAPA T.IKAN LOKAL TEPUNG LAMTORO MINYAK KELAPA GARAM KULIT KERANG PREMIX TOTAL STANDAR KUALITAS

10 50

HARGA EM Rp/kg Kkal/kg 10/100 x 800= 80 268 1500

PK LK SK % % %

Ca %

P %

Lis %

Met %

dst

dst

100 48 35 2.83.8 0.71.0

misalnya

2750

17

1.0 0.3

d. jumlahkan hasilnya

e. bandingkan dengan standar, kemudian evaluasi apakah sudah sesuai (matching). Jika belum rubahlah proporsinya hingga didapat hasil yang ideal.

2.2. Prosedur penyusunan ransum dengan software Microsoft Excel Secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Pilih bahan yang akan dipakai boleh mengacu pada Tabel 1 atau yang lain, sebaiknya menggunakan lebih dari 6 jenis bahan pakan supaya jika bahan pakan yang satu kekurangan zat "A" mungkin bisa ditutupi oleh bahan pakan yang lain (supplementary effect). Masukkan datanya dalam Microsoft excel. Contohnya lihat Gambar berikut:

b. Buatlah kopi tabel kolom 1, lalu dibawahnya masukkan standar kebutuhan zat makanannya sesuai jenis ternak yang dipelihara (dalam hal ini dipilih ayam petelur layer), bisa mengacu pada Tabel 3. atau yang lainnya dan cantumkan proporsinya. Setelah proporsinya ditentukan, buatlah

rumusnya misalnya seperti contoh berikut:

c. Bayangkan bahwa pakan jadi yang hendak disusun adalah dalam formula 100%. Maka total proporsi nanti harus seratus. Lihat Gambar berikut:

d. Jika proporsi sudah ditemukan, itulah sebenarnya formula pakan jadi saudara. Jadi tinggal berapa kilogram pakan yang hendak disusun, dikalikan dengan formula itu ketemu berapa bahan pakan yang diperlukan. (Ternyata minyak kelapa, DL Methionin dan L Lisin tidak diperlukan untuk menyusun pakan karena kebutuhan ternak sudah terpenuhi dengan baik). Hasil akhir formulasi dapat dilihat dalam Gambar berikut (fokus pada bagian yang diarsir/highlighted) dengan asumsi pakan jadi yang ingin dibuat adalah 1000 kg atau 1 ton:

Sebenarnya kesederhanaan metode formulasi ini terletak pada penggunaan perkalian dan penjumlahan saja, tetapi jika digunakan kalkulator akan sangat menjemukan karena perubahan proporsi berdampak pada pengulangan perhitungan dari awal. Oleh karena itu, perlu digunakan program software Microsoft Excel untuk solusinya.

V. Pakan untuk penggemukan ayam dan itik Dalam bab ini akan diberikan formula yang dipakai oleh beberapa peternak. Sekali lagi jika ingin dicek apa sesuai kebutuhan bisa digunakan program excel, tetapi peternak dasarnya bukan kebutuhan tetapi keuntungan. Itik jantan diberi BR1 atau 411 selama 1 minggu pertama, kemudian pakan dirubah menjadi campuran antara jagung 30 bagian, bekatul 20 bagian dan BR1 atau konsentrat 411 sampai umur 7 minggu.

VI. Praktek pembuatan/pencampuran pakan Formulasi pakan yang baik, juga harus dibuat/dicampur dengan cara yang benar untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal. Yang dimaksud dengan cara yang benar adalah proses pencampuran yang merata/homogen. Setelah berhasil

membuat formulasi, beberapa bahan pakan terpilih akan dicampur baik secara manual atau dengan mesin. Agar pencampuran bisa berlangsung dengan baik dan homogen/merata. Mulanya bahan pakan harus dalam kondisi yang sama, maksudnya semua dalam ukuran yang sama atau sebaiknya digiling dan tidak ada yang butiran dengan alat sederhana seperti dalam Gambar 1.

Gambar 1. Mesin giling butiran/grinder (kiri) dan penyiapan bahan pakan (kanan)

Kemudian bahan pakan yang akan digunakan disiapkan semua terlebih dahulu baru setelah itu dicampur secara manual. Jika volumenya lumayan banyak diatas 50 kg misalnya pencampuran bisa menggunakan sekop/pacul.

Gambar 2. Pencampuran secara manual (kiri) dan menggunakan pacul (kanan)

Jika telah dicampur, maka bisa langsung diberikan pada ternak dalam bentuk tepung atau diproses lebih lanjut menjadi bentuk pellet yang secara sederhana dicetak menggunakan gilingan untuk membuat sambel pecel/getuk lindri. Hanya jika ini dilakukan bahan perlu dibasahi/dikukus dulu. Setelah itu perlu dilakukan proses penjemuran atau pengeringan kembali kemudian disimpan lebih lanjut sebelum diberikan pada ternak.

Demikian semoga tulisan ini bermanfaat. Malang, 25 April 2010