Anda di halaman 1dari 1

Teratogenik (teratogenesis) adalah istilah medis yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti membuat monster.

Dalam istilah medis, teratogenik berarti terjadinya perkembangan tidak normal dari sel selama kehamilan yang menyebabkan kerusakan pada embrio sehingga pembentukan organ-organ berlangsung tidak sempurna (terjadi cacat lahir).

Ada sejumlah bahan yang/diduga bersifat teratogenik pada manusia dan hewan, antara lain:

Radiasi ion (senjata atom, radioidine, dan terapi radiasi). Infeksi cytomegalovirus, virus herpes, parvovirus B-19, virus rubella, syphilis dan toksoplasmosis.

Ketidakseimbangan metabolisme, misalnya karena konsumsi alkohol selama kehamilan, kretinisme endemic, diabetes, defisiensi asam folat, hipertermia, fenilketonuria, reumatik dan penyakit jantung bawaan.

Komponen kimia obat dan lingkungan seperti 13-cis-retinoic acid, isotretionin (accutane), aminopterin, hormone androgenic, busulfan, kaptoril, enalapril, dan sebagainya. Kontak dengan komponen teratogenik bisa menyebabkan abnormalitas struktural yang

sangat beragam pada janin, seperti bibir sumbing, langit-langit mulut belah, dysmelia, anencephaly dan penyimpangan pada ventricular septal.
EFEK TERATOGENIK Teratologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perkembangan abnormal dan malformasi kongenital. Termasuk disini mempelajari klasifikasi, frekuensi, penyebab dan mekanisme
1,7

perkembangan janin dan embrio yang mengalami penyimpangan. Teratogenisitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu zat eksogen (disebut teratogen) untuk menimbulkan malformasi kongenital yang tampak jelas saat lahir bila diberikan selama
7

kehamilan. Efek teratogen yang terjadi tergantung dari : 1. Kepekaan genetis janin 2. Masa gestasi 3. Dosis obat yang diberikan 4. Kondisi ibu seperti umur, nutrisi, patologi