Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH MATA KULIAH PENGANTAR ILMU SOSIOLOGI STRATIFIKASI SOSIAL: ANTARA DOSEN DAN MAHASISWA

OLEH KELOMPOK 6: 1. AIDIL FITRA JUFRI, 1106014072 2. ARSA ILMI, 110659272 3. I GUSTI NGURAH ADITIA TJANDRA ASMARA, 1106082501

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERISTAS INDONESIA 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Seperti yang kita ketahui, dalam kehidupan bermasyarakat terdapat kelompokkelompok masyarakat. Kelompok-kelompok yang muncul di masyarakat tersebut bisa disebabkan karena adanya kesamaan jabatan, pendidikan, jenis kelamin, warna kulit, usia dan sebagainya. Adanya pengelompokan masyarakat berdasarkan faktor kesamaan tersebut dinamakan stratifikasi sosial. Social stratification is a system by which a society ranks categories of people in a hierarchy. (Macionis 2008:252). Jadi stratifikasi sosial adalah sistem yang mengkategorikan masyarakat menjadi tingkatantingkatan tertentu. Stratifikasi sosial terjadi dimana saja, di semua lapisan masyarakat, namun berbedabeda faktor penyebabnya. Seperti yang disampaikan dalam Macionis (2008:252) bahwa social stratification is universal but variable. Startifikasi sosial ditemukan dimana saja, namun apa jenis stratifikasi sosial itu dan bagaimana stratifikasi sosial itu bervariasi. Stratifikasi sosial lebih nampak pada pengelompokan pada hal kekuasaan, materi dan pretise. (Macionis 2008:253). Sebagai contoh, orang yang mempunyai uang lebih akan mampu mengenyam pendidikan yang lebih baik dan kemudian mendapat pekerjaan yang baik pula sehingga ia mempunyai kekuasaan tertentu di lingkungannya. Sedangkan orang yang mempunyai sedikit uang, akan memilih untuk bekerja apa adanya yang penting menghasilkan uang dan tidak memikirkan mengenai prestise. Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan perlakuan dan perolehan akibat stratifikasi sosial yang dibentuk oleh sistem masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh lain yang kami sajikan adalah mengenai stratifikasi sosial yang terjadi di lingkungan kampus yaitu antara dosen dengan mahasiswa. Sistem

mengelompokkan dosen dan mahasiswa kedalam tingkatan-tingkatan tertentu. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa pengelompokan masyarakat didasarkan atas berbagai faktor. Pada contoh antara dosen dengan mahasiswa ini, faktor pembeda yang kami dapat tunjukkan adalah dari aspek status sosial, aspek kepemilikan, pendidikan, dan

kekuasaan. Jadi, dosen memiliki pendidikan lebih daripada mahasiswa, dosen juga memiliki kekuasaan lebih daripada mahasiswa dan itu semua bisa disebabkan juga karena faktor usia, dimana usia dosen yang memang lebih tua daripada mahasiswa sehingga ia memiliki waktu yang lebih lama untuk mengenyam pendidikan sehingga memperoleh kekuasaan, materi lebih dan sebagainya. Hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan Ralph Linton (Kamanto, 2004:85) bahwa usia merupakan faktor pembeda yang sudah merupakan kodrat sejak lahir dan kedudukan seseorang cenderung lebih tinggi ketika usianya lebih tua. Dan telah dijelaskan pula oleh Macionis (2008:255) bahwa stratifikasi sosial yang didasarkan pada perolehan secara kodrati dan pencapaian individu disebut sebagai sistem kelas. Dari faktor-faktor tesebut dapat dijelaskan pula mengenai adanya perbedaan perlakuan pada dosen dan mahasiswa akibat adanya sistem kelas pada stratifikasi sosial. Kami mengambil topik ini karena ingin menunjukkan bahwa stratifikasi sosial bila dilihat dengan perspektif konflik akan nampak bahwa stratifikasi sosial menimbulkan beberapa perlakuan yang menguntungkan pihak yang mempunyai kekuasaan, materi dan prestise lebih daripada yang tidak atau belum mendapatkan semua itu. Dan ingin menunjukkan pula mengenai faktor-faktor yang menimbulkan adanya stratifikasi sosial bisa berasal dari perolehan secara cuma-cuma dan ada pula yang merupakan hasil pencapaian dari individu.

1.2

Permasalahan 1. Faktor faktor yang menunjukkan adanya stratifikasi sosial antara dosen dengan mahasiswa 2. Faktor-faktor tersebut dapat muncul karena faktor usia yang merupakan faktor kodrati 3. Secara sosiologis, adanya stratifikasi sosial antara dosen dan mahasiswa ini dapat dikaji dengan perspektif konflik (Karl Marx dalam Macionis 2008:263)

1.3

Pertanyaan 1. Apa saja faktor yang menunjukkan adanya stratifikasi sosial antara dosen dengan mahasiswa?

2. Mengapa faktor-faktor tersebut dapat muncul sebagai faktor penyebab stratifikasi sosial antara dosen dan mahasiswa? 3. Bagaimana analisis adanya stratifikasi sosial antara dosen dan mahasiswa dengan perspektif sosiologi?

1.4

Hipotesa 1. Faktor pembedanya dai segi pendidikan, kekuasaan, status sosial, dan aspek kepemilikan 2. Faktor tersebut muncul karena faktor usia 3. Dapat dikaji dengan perspektif sosiologi konflik oleh Karl Marx

BAB II TEORI DAN KONSEP

2.1

Konsep dan teori Konsep yang perlu dikaji adalah konsep mengenai sistem kelas. Sistem kelas adalah stratifikasi sosial yang berdasar pada keturunan dan juga prestasi individu (Macionis 2008:255). Dijelaskan bahwa kelas sosial lebih bersifat terbuka daripada kasta karena tidak ada lagi penggolongan masyarakat berdasarkan warna kulit, jenis kelamin, latar belakang keluarga dan sebagainya. Pada salah satu konsep sistem kelas, dijelaskan mengenai meritokrasi. Meritocracy refers to social stratification based on personal merit (earned) (Macionis 2008:255). Meritokrasi merupakan stratifikasi sosial yang berdasar kepada capaian dari individu. Capaian disini yang dimaksud adalah pengetahuan, kemampuan dan usaha. Jadi pada meritokrasi yang murni, posisi sosial benar-benar dipandang atau dibedakan atas dasar kemampuan dan usaha seseorang. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan atau usaha seseorang juga dipengaruhi oleh faktor diluar pencapaian individu. Faktor ini disebut faktor kodrati seperti yang dijelaskan Ralph Linton (Kamanto, 2004:85) bahwa sejak lahir orang mempunyai sejumlah status tanpa memandang perbedaan individu dan kemampuan. Sebagai faktor yang dicontohkan oleh Linton adalah usia, jenis kelamin, hubungan kekerabatan dan keanggotaan dalam kelompok. Jadi faktor-faktor yang kita peroleh sejak lahir tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempemgaruhi apa yang kita usahakan untuk kita capai seperti kekuasaan, pendidikan, kekayaan dan sebagainya. Para ahli sosiologi menyampaikan pula teori-teorinya jika dihubungkan dengan stratifiikasi sosial. Contohnya adalah teori konflik dari Karl Marx. Dijelaskan bahwa, stratification divides societies in classes, benefiting some categories of people at the expense of others (Karl Marx dalam Macionis 2008:263). Jadi stratifikasi sosial yang merupakan pengkategorikan masyarakat berdasarkan faktor-faktor tertentu telah memunculkan perlakuan-perlakuan berbeda pada kelompok-kelompok tertentu. Akibat faktor-faktor pencipta strata sosial yang mengelompokkan mereka, pihakpihak tertentu baik secara sengaja maupun tidak sengaja memberikan perlakuan

berbeda antara kelompok satu dengan yang lainnya. sebagai contoh, kelompok orangorang pintar akan lebih dihargai daripada kelompok orang-orang yang tidak bersekolah. Dan perlakuan yang mereka dapatkan akan nampak kontras. Kelompok berpendidikan akan lebih mudah mendapatkan fasilitas tertentu daripada kelompok yang tidak bersekolah. Jadi intinya, akibat adanya faktor yang dimiliki suatu individu baik yang diperoleh secara kodrati maupun pencapaian, akan mempengaruhi perilaku atau perlakuan orang lain terhadap individu tersebut sehinga muncullah diskriminasi yang kemudian menguntungkan salah satu pihak yang mempunyai kelebihan dalam stratifikasi sosial yang tercipta di masyarakat

BAB III HASIL PENGAMATAN

3.1

Hasil Pengamatan Dari hasil pengamatan kami dalam hal menunjukkan adanya stratifikasi sosial antara dosen dengan mahasiswa, memang nampak beberapa simbol atau faktor yang menjadi pencipta dan dampak dari stratifikasi sosial antara dosen dengan mahasiswa. Tampak bahwa adanya beberapa faktor, pertama, faktor pendidikan. Kebanyakan dosen memiliki pendidikan antara S2 dan S3. Sangat berbeda dengan mahasiswa yang saat ini masih menempuh S1. Selain itu, dari segi kekuasaan. Karena dosen memiliki pendidikan yang lebih tinggi, maka mereka memiliki kekuasaan lebih. Seperti, memberi perintah pada mahasiswanya dan memiliki kuasa untuk memerintah orangorang disekitarnya. Yang ketiga, dari segi status sosial. Status dosen adalah sebagai dosen yang dianggap oleh orang-orang sekitar sebagai orang yang terhormat dan terpelajar. Yang terakhir adalah dari segi kepemilikan bisa dilihat dari ruangan tempat dosen berkumpul yang diberikan oleh pihak universitas merupakan ruangan yang nyaman, tenang, ber-AC dan bersih. Berbeda dengan mahasiswa yang berkumpul dengan duduk-duduk di plasa dan selasar yang juga merupakan tempat lalu lalang mahasiswa lain. Para dosen pun diberi minuman ketika ia masuk kelas atau diberi kursi yang lebih empuk daripada mahasiswanya. Tempat parkir pun juga menunjukkan adanya startifikasi sosial dari segi kepemilikan antara dosen dengan mahasiswa. Dosen diperbolehkan parkir didalam, di tempat yang teduh dan terdapat park signs yang jelas. Berbeda dengan lapangan parkir mahasiswa, yang mahasiswa sendiri harus memutar balik dan bersusah payah mencari posisi parkir yang teduh dan mudah. Selain itu, toilet yang berada di ruangan dosen, lebih bersih, luas, indah dan lengkap karena ada shower. Berbeda dengan mahasiswa yang toiletnya biasa saja dan malah cenderung sedikit kotor dan bau. Dari segi kepemilikan yang lainnyapun, hampir semua dosen memiliki mobil dan berpakaian lebih rapi dan tampak branded daripada mahasiswanya.

Dari kesemuanya itu, menunjukkan bahwa memang ada perbedaan tingkatan sosial antara dosen dengan mahasiswa yang memungkinkan adanya pemberian fasilitas secara lebih mudah kepada dosen daripada mahasiswa.

BAB IV ANALISA KASUS

1.5

Analisa Kasus Pada kasus dosen dan mahasiswa yang merupakan salah satu contoh adanya stratifikasi sosial di lingkungan kampus. Seperti yang sudah dijelaskan mengenai sistem kelas adalah stratifikasi sosial yang berdasar pada keturunan dan juga prestasi individu (Macionis 2008:255). Dijelaskan bahwa kelas sosial lebih bersifat terbuka daripada kasta karena tidak ada lagi penggolongan masyarakat berdasarkan warna kulit, jenis kelamin, latar belakang keluarga dan sebagainya. Pada hubungan antara dosen dan mahasiswa, kami tidak lagi menjumpai penggolongan berdasarkan faktorfaktor yang dijumpai dalam kasta seperti warna kulit, jenis kelamin, keturunan dan sebagaianya. Di lingkungan kampus terdapat dua status sosial yang utama atau inti yaitu dosen dan mahasiswa. Penggolongan tersebut didasarkan atas karena memang adanya perbedaan status, lalu pendidikan, kekuasaan dan secara material. Pada salah satu konsep sistem kelas, dijelaskan mengenai meritokrasi. Meritocracy refers to social stratification based on personal merit (earned) (Macionis 2008:255). Meritokrasi merupakan stratifikasi sosial yang berdasar kepada capaian dari individu. Seperti yang telah dijelaskan diatas, penggolongan dosen dan mahasiswa adalah berdasarkan pendidikan, kekuasaan dan material. Dan dapat kita ketahui juga bahwa semua aspek itu merupakan suatu pencapaian dari individuyaitu dosen. Pencapaian dari dosen itulah yang kemudian menciptakan starta sosial di kampus antara dosen dan mahasiswa. Pendidikan merupakan capaian yang juga adalah usaha serta kemampuan dari dosen untuk kemudian menyandang status pendidik. Mahasiswa sendiri sekarang baru mencapai proses untuk mencapai status yang mereka inginkan. Dari capaian pendidikan tersebut, dia mendapat status sosial sebagai dosen, sebagai orang terpelajar yang patut dihormati. Karena adanya status sebagai dosen tersebut, mereka kemudian memiliki suatu kekuasaan atas hal-hal tertentu atas mahasiswanya dan orang-orang disekitarnya. Sehingga kemudian capaian berikutnya atas statusnya sebagai dosen adalah material berupa fasilitas yang diberikan kepada mereka atau material yang mereka mampu usahakan untuk mereka dapat.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan atau usaha seseorang juga dipengaruhi oleh faktor diluar pencapaian individu. Faktor ini disebut faktor kodrati seperti yang dijelaskan Ralph Linton (Kamanto, 2004:85) bahwa sejak lahir orang mempunyai sejumlah status tanpa memandang perbedaan individu dan kemampuan. Salah satu faktor yang dicontohkan oleh Linton adalah usia. Dalam hal ini, dosen memiliki pendidikan, kekuasaan dan kekayaan lebih karena melihat usia yang mereka yang kebanyakan jauh melebihi mahasiswanya. Clinton juga menjelaskan bahwa semakin tua usia seseorang, kedudukannya pun semakin tinggi. Rata-rata dosen memiliki usia yang tidak lagi muda. Perjalanan mereka dalam mencapai berbagai hal seperti pendidikan juga sudahlah lama dan panjang, sehingga menimbulkan adanya status yang memberikan mereka kekuasaan dan materi yang lebih daripada mahasiswa. Usia yang memang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan pengalaman dan jam terbang juga kemudian mempengaruhi stratifikasi sosial antara dosen dan mahasiswa. Jadi kesimpulannya, usia adalah hal yang paling berpengaruh dalam menenetukan suatu pencapaian individu. Para ahli sosiologi menyampaikan pula teori-teorinya jika dihubungkan dengan stratifiikasi sosial. Contohnya adalah teori konflik dari Karl Marx. Dijelaskan bahwa, stratification divides societies in classes, benefiting some categories of people at the expense of others (Karl Marx dalam Macionis 1998:263). Jadi akibat adanya faktor yang dimiliki suatu individu baik yang diperoleh secara kodrati maupun pencapaian, akan mempengaruhi perilaku atau perlakuan orang lain terhadap individu tersebut sehinga muncullah diskriminasi yang kemudian menguntungkan salah satu pihak yang mempunyai kelebihan dalam stratifikasi sosial yang tercipta di masyarakat. Bisa kita lihat pada kasus dosen dan mahasiswa, karena status yang dimiliki yaitu dosenyang jelas memiliki pendidikan, kekuasaan dan materi lebih daripada mahasiswa, menimbulkan perlakuan khusus pada mereka. Seperti contohnya, mahasiswa biasa nongkrong di selasar yang panas dan duduk-duduk di lantai yang kotor. Sedangkan dosen, ruangannya ber-AC dan ada Office Boy/Girl yang rutin membersihkan ruangannya secara khusus. Selain itu, ketika masuk ke kelas, dosen diberi minum, sedangkan mahasiswa tidak. Dan hal yang paling nampak adalah dari segi tempat parkir. Dosen parkir di dalam, dengan tempat parkir yang ada park sign yang jelas, sedangkan mahasiswa parkir di luar dengan harus memutar balik mobilnya dan mencari tempat parkir yang kosong. Dosen pun memiliki kuasa untuk meminta

tolong pada mahasiswanya dan mahasiswa pasti akan sebisa mungkin memenuhi keinginan dosen karena rasa hormat, sungkan dan sebagainya. Semua itu merupakan efek dari dosen yang memiliki pendidikan dan kekuasaan lebih. Faktor lebih yang dimiliki dosen tersebut kemudian menimbulkan perlakuan yang menguntungkan mereka sebagai wujud rasa hormat, sungkan atau bahkan terpaksa dari berbagai pihak seperti mahasiswa.

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan 5.1.1 Ringkasan 1. Adanya stratifikasi antara dosen dan mahasiswa disebabkan oleh berbagai faktor tertentu dan yang paling nampak adalah faktor pencapaian individu yaitu pendidikan yang kemudian menimbulkan kekuasaan individu atas orang lain dan penghasilan sejumlah materi. 2. Faktor yang disebabkan karena pencapaian individu terseabut tidak dapat dipisahkan atas faktor yang muncul secara kodrati, seperti usia yang membuat merekayaitu dosen, memiliki jam terbang yang lebih lama daripada mahasiswa, sehingga pencapaian yang didapat pun berbeda. 3. Adanya faktor-faktor tersebut menimbulkan stratifikasi sosial yang kemudian menimbulkan perlakuan khusus dari orang-orang sekitar dan memberikan keuntungan bagi salah satu pihak yang mempunyai faktor lebihdalam hal ini dosen.

5.1.2 Kritik 1. Bahwa teori konflik yang disampaikan oleh Marx kemudian memberi anggapan bahwa stratifikasi sosial hanyalah penyebab konflik akibat adanya pihak yang diuntungkan. Padahal dari sisi lain, pihak-pihak tersebut dapat bekerjasama dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik 2. Keuntungan ynag dianggap didapat oleh pihak tertentu dari segi perspektif konflik, sebenarnya merupakan reward atas pencapaian dari individu. Jadi pada intinya tidak seluruhnya merupakan keuntungan, namun memang kebanyakan adalah reward atas pencapaian merekadalam hal ini dosen yang memang memiliki jam terbang yang lebih untuk meningkatkan kualitas mereka

5.2

Saran 1. Seharusnya memang segala simbol-simbol yang nampak secara langsung maupun tidak langsung, simbol yang berupa perlakuan ataupun simbolsimbol fisik, lebih diminimalisir atau setidaknya tidak dilebih-lebihkan, untuk menghindari terjadinya konflik. Karena pada dasarnya, mahasiswa maupun dosen merupakan warga kampus yang memiliki hak yang sama atas apa yang sudah mereka berikan.

DAFTAR PUSTAKA

John J.Macionis.2008.Sociology,12th edition. New Jersey:Pearson Prentice Hall. Chapter 10. Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi, edisi revisi, Jakarta: Penerbit FEUI.