Anda di halaman 1dari 62

KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)

C. Maksud dan Tujuan

Maksud dari KTA adalah memperbaiki, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas tanah (fisik, kimia) dan air sebagai sarana untuk tercapainya peningkatan tarap hidup manusia Tujuan KTA, adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan serta menurunkan/menghilangkan dampak negatif pengelolaan lahan seperti erosi, sedimentasi dan banjir, dengan cara : Menutup tanah agar terlindung dari daya dispersi air hujan Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap penghancuran agregat. Mengatur aliran permukaan sehingga mengalir dengan kekuatan yang tidak merusak Menghambat aliran permukaan dan menambah kapasitas infiltrasi.

KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. Prinsip-prinsip dalam KTA

Mengusahakan agar kapasitas infiltrasi tanah tetap besar sehingga jumlah aliran permukaan dapat dikurangi Mengurangi laju aliran permukaan sehingga daya pengikisannya terhadap permukaan rendah dan material yang terbawa aliran dapat diendapkan. Mengusahakan agar daya tahan tanah terhadap daya tumbuk atau penghancuran agregat tanah oleh butir hujan tetap ada. Mengusahakan agar pada bagian-bagian tertentu dari tanah dapat menjadi penghambat atau menahan partikel yang terangkut aliran permukaan agar terjadi pengendapan yang tidak jauh dari tempat pengikisan.

JENIS-JENIS KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA) A. Pengendalian Erosi dan Sedimentasi secara Mekanis

Prinsipnya : Mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga daya kikis dan daya angkutnya melemah Memperluas aliran permukaan untuk meresap ke dalam tanah. Jenis-jenis pengendali erosi-sedimentasi secara mekanis Pengendali erosi : teras gulud, teras buntu (rorak), teras kredit, teras individu, teras kebun, teras datar, teras batu, teras bangku, Saluran Pembuangan Air (SPA) dan saluran drainase Pengendali sedimentasi : Terjunan, penendali jurang, pengendali sisi jalan, pengendali tebing jalan, pengendali tebing sungai, Dam penahan, Dam pengendali, sumur resapan dan embung.

JENIS-JENIS KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Erosi secara Vegetatif

Yaitu pengendalian erosi yang didasarkan pada peranan tanaman yang ditanam atau tumbuh dan berkembang pada tanah tersebut, terutama kemampuannya dalam mengurangi daya pengikisan dan penghanyutan ketika berlangsung aliran permukaan. Tujuan : Melindungi tanah terhadap daya perusak tetesan air hujan dan mengurangi jumlah air hujan yang langsung sampai di permukaan tanah. Melindungi tanah terhadap daya angkut dari aliran permukaan Menambah kapasitas infiltrasi

JENIS-JENIS KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Erosi secara Vegetatif

Jenis-jenis Penendalian erosi secara vegetatif : Penanaman dengan tanaman rumput (strip rumput) Penanaman dengan penutup tanah (Cover crop) Penanaman tanaman tanggul angin (wind breaks) Pertanaman lorong (alley cropping) Penanaman searah kontur (contour planting)

JENIS-JENIS KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


C. Pengendalian Erosi secara Agronomis

Yaitu suatu rangkaian kegiatan pengendalian erosi selama musim tanam dalam pengelolaan tanaman yang sudah dimulai sejak persiapan.

Tujuan :
Kondisi tanah dan pertanaman yang mampu mengurangi erosi Mendapatkan kondisi pertanaman yang aman (terhadap serangan hama dan penyakit tanaman) Efisiensi penggunaan saprodi Jenis-jenis antara lain : tumpangsari, pengolahan tanah dan penanaman menurut kontur, pemberian mulsa dan Wanatani

JENIS-JENIS KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. Pengendalian Erosi secara Kimiawi

Yaitu pengendalian erosi yang didasarkan atas usaha penambahan bahan kimiawi yang bersifat organik maupun anorganik ke dalam tanah untuk memperbaiki/memulihkan sifat fisik dan kimiawi tanah. Tujuan : Memantapkan agregat tanah Menurunkan keasaman tanah dan pengaruh buruk dari unsur-unsur beracun Meningkatkan ketersediaan hara. Jenis-jenis antara lain : Penggunaan soil conditioner, pengapuran dan pemupukan

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis
1.

Teras Gulud Tujuan : menahan laju aliran dan endapan menuju ke lereng bawah Persyaratan Teknis Kemiringan lereng : 10 15 %, Kedalaman tanah > 30 cm Jenis erosi : erosi permukaan Penggunaan lahan : tanaman semusim Diterapkan pada tanah yang memiliki daya infiltrasi tinggi Diperlukan SPA untuk mengalihkan aliran permukaan ke sungai Diterapkan pada lokasi dengan ketersediaan tenaga kerja dan modal terbatas

Gambar Teknis Teras gulud

Guludan kecil

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan) 2. Parit Buntu (Rorak = Teras saluran) Tujuan : meningkatkan jumlah persediaan air tanah, menahan tanah yang tererosi dari bidang olah Persyaratan Teknis Kemiringan lereng : 3 - 10 %, kedalaman tanah > 30 cm Jenis erosi : erosi permukaan Penggunaan lahan : tanaman kayu, tekstur tanah kasar Diterapkan pada tanah dengan permeabilitas cepat Dapat dikombinasikan dengan mulsa vertikal untuk memperoleh kompos. Umumnya rorak berukuran P = 1 - 2 M, L = 25 50 Cm dan dalam 20 30 Cm

Gambar Teknis Parit Buntu

1. Rorak dapat dibuat pada bagian lereng atas dari areal tanaman 2. Rorak dapat diisi dengan mulsa slot untuk mengurangi sedimentasi dan meningkatkan kesuburan tanah 3. Pembuatan rorak dapat mengakibatkan pengurangan luas lahan sebesar 3 10 % 4. Sedimen yang tertampung dalam rorak buntu dapat dipergunakan untuk membumbun tanaman

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan)

3. Teras Kredit (Ridge Terrace)


Tujuan : untuk memperbesar daya tampung air dan endapan lama kelamaan akan terbentuk teras yang lebih sempurna Persyaratan Teknis Kemiringan lereng : 3 - 10 %, kedalaman tanah > 30 cm Jenis erosi : erosi permukaan Penggunaan lahan : tanaman semusim, Diterapkan pada tanah dengan daya infiltrasi tanah dan permeabilitas tinggi Sebaiknya diterapkan pada daerah yang tidak sering terjadi hujan lebat, tenaga kerja cukup banyak dan tidak ada kanal yang peka longsor

Gambar Teknis Teras Kredit

1. Teras Kredit merupakan bangunan KTA berupa guludan tanah sejajar kontur, bidang olah tidak diubah dari kelerengan tanah asli. 2. Tidak cocok diterapkan pada tanah yang peka longsor 3. Sedimen yang tertampung dapat dikembalikan pada bidang oleh atau untuk meninggikan guludan 4. Arah pengolahan tanah dimulai dari bagian lereng bawah 5. Mengakibatkan pengurangan luas lahan 10 20 %

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan) 4. Teras Individu
Merupakan bangunan KTA berupa teras yang dibuat hanya pada tempattempat yang akan ditanami tanaman pokok. Teras ini dibuat sejajar kontur dan membiarkan bagian lainnya tetap seperti keadaan semula. Tujuan : untuk mengendalikan erosi permukaan yang terjadi akibat penanaman tanaman pokok Persyaratan Teknis Kemiringan lereng : 10 50 %, kedalaman tanah > 30 cm Jenis erosi : erosi permukaan Penggunaan lahan : tanaman kayu dg tanm. penutup tanah Ukuran teras P = 2 m, L = 1 M, atau sesuai keperluan tiap jenis tanaman. Tanah disekeliling teras individu tidak diolah atau ditanami rumput. Tanah urugan dipadatkan di bagian tepi, khususnya di bawah lereng, diberi patok-patok penguat (trucuk)

Gambar Teknis Teras Individu

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan)

4. Teras Kebun
Merupakan bangunan KTA berupa teras yang dibuat hanya pada bagian lahan yang akan ditanami tanaman tertentu, dibuat sejajar kontur dan membiarkan bagian lainnya tetap seperti keadaan semula, yang biasanya ditanami tanaman penutup tanah Tujuan : untuk mengendalikan erosi permukaan yang terjadi akibat penanaman tanaman tertentu Persyaratan Teknis Kemiringan lereng : 10 30 %, kedalaman tanah > 30 cm Jenis erosi : erosi permukaan Penggunaan lahan : tanaman kayu dg tanm. penutup tanah Talud teras ditanami dengan tanaman penutup tanah/rumput

Gambar Teknis Teras Kebun

1. Tanah urugan dipadatkan dan permukaan tanah dibuat miring ke arah dalam +/- 1 % 2. Dibawah talud dibuat selokan teras atau saluran buntu dengan panjang 2 m, lebar 20 cm dan dalam 10 cm

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan) 5. Teras Datar Merupakan bangunan KTA berupa tanggul tanah sejajar kontur dengan kelerengan lahan tidak lebih dari 3 % dan dilengkapi dengan saluran di atas dan di bawah tanggul. Tujuan : untuk mengendalikan erosi permukaan, memperbaiki pengaliran air dan pembasahan tanah. Persyaratan Teknis Kemiringan lereng : < 3 %, kedalaman tanah > 30 cm Jenis erosi : erosi permukaan Penggunaan lahan : tanaman semusim Kondisi permukaan tanah tidak berbatu Curah hujan rendah Tanah mudah menyerap air.

Gambar Teknis Teras Datar

1. Tanah digali menurut garis kontur dan tanah galiannya ditimbunkan ke tepi luar 2. Teras dibuat sejajar dengan garis kontur 3. Dilengkapi saluran air, baik dibawah maupun di atas guludan 4. Lebar guludan atas 0,37 0,5 M, lebar dasar guludan bawah menyesuaikan kemiringan guludan 5. Guludan ditanami rumput makanan ternak

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan) 6. Teras Batu
Merupakan suatu teknik KTA dengan memanfaatkan batu yang ada dipermukaan lahan untuk membuat dinding dengan jarak yang sesuai, disepanjang garis kontur, pada lahan miring. Tujuan : Memanfaatkan batu-batu yang ada dipermukaan lahan, agar lahan dapat dimanfaatkan sebagai bidang olah Mengurangi kehilangan tanah dan air, serta untuk menangkap tanah yang meluncur dari bagian atas, sehingga secara bertahap akan terbentuk teras bangku. Mengurangi kemiringan lahan untuk memberi bidang olah, konservasi tanah dan mekanisasi pertanian Persyaratan Teknis Diterapkan pada lahan yang banyak tersedia kerikil dan batu Dapat digunakan untuk persiapan pembangunan teras bangku

Gambar Teknis Teras Batu

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan) 7. Teras Bangku (Bench Terrace)
Merupakan serangkaian dataran yang dibangun sepanjang kontur pada interval yang sesuai. Tujuan : Untuk menyerap aliran permukaan dan mengendalikan erosi Untuk membuat bidang olah pada lahan miring Persyaratan Teknis Sesuai untuk daerah pertanian dengan lereng curam dengan kedalaman tanah yang cukup. Sesuai pada lereng yang tajam dg sistem pertanian inensif Bila terdapat teknik pengendalian erosi yang lebih muraj, maka teras bangku tidak perlu diterapkan.

Gambar Teknis Teras Bangku

1. Lebar ; tergantung dari besarnya lereng, kedalaman tanah, tanaman dan pola tanamnya. Lebar teras bangku miring keluar biasanya tidak melebihi setengah dari jarak antar hillside ditches. 2. Tampingan; Rasio tampingan atas dengan lereng adalah 1 : 0,5 dan rasio tampingan bawah dengan lereng adalah 1 : 1 0,5. 3. Tampingan teras bangku miring ke luar harus ditutup rumput secara rapat dan merata.

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis 8. Saluran Pembuangan Air (SPA) Merupakan saluran yang terletak/memotong teras ke arah lereng, berfungsi untuk menampung kelebihan air hujan yang tidak meresap ke dalam bidang olah teras, untuk dialirkan ke tempat yang lebih rendah secara aman terkendali. Tujuan : Untuk mengendalikan kecepatan aliran permukaan, sehingga erosi jurang dapat dihindari serta mengurangi dara erosi aliran permukaan. Persyaratan Teknis Dapat memanfaatkan saluran alami atau batas pemilikan Merupakan bangunan pelengkap teras, dan perlu dilengkapi dengan bangunan terjunan

Gambar Teknis Saluran Pembuangan Air (SPA)

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


A. Pengendalian Erosi secara Mekanis (Lanjutan) 9. Saluran Drainase Merupakan suatu bangunan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga air hujan yang jatuh dan menjadi aliran permukaan dapat ditampung dan dialirkan atau dibuang secepatnya ke tempat yang aman. Tujuan : Untuk mengalirkan air secepatnya ke tempat yang aman dan mengurangi penyebab timbulnya erosi jurang Persyaratan Teknis Karena harus menampung air dari aliran permukaan, maka ukuran saluran makin ke bawah, makin lebar. Pada lahan yang telah diteras, kelebihan air dari bidang olah teras dialirkan ke saluran drainase melalui peresapan teras.

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis

1. Bangunan Terjunan Air (Drop Stucture) Merupakan bangunan terjunan yang dibuat pada tiap jarak tertentu pada SPA (tergantung kemiringan lahan) dan dapat dibuat dari batu, beton, kayu atau bambu. Tujuan : Untuk mencegah agar air yang mengalir tidak mengikis dasar atau tebing saluran. Persyaratan Teknis Kemiringan lereng : > 3 % Jenir erosi : erosi jurang Penggunaan lahan : tanaman semusim

Gambar Teknis Bangunan Terjunan Air (Drop Structure)

Bangunan Terjunan dari Bambu

Bangunan Terjunan dari Batu

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan) 2. Pengendali Jurang Merupakan bangunan KTA berupa bendungan kecil lolos air yang dibuat pada parit-parit melintang alur dengan kontruksi bronjong batu, kayu/bambu atau pemasangan batu spesi. Tujuan : Untuk memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air yang mengakibatkan terjadinya jurang/parit Mencegah bertambahnya luas kerusakan lahan akibat melebarnya jurang/parit Mengendalikan erosi, lumpur/sedimen & air dari daerah atas Memperbaiki kondisi tata air daerah sekitarnya

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan) 2. Pengendali Jurang Persyaratan Teknis : Kemiringan lereng : +/- 30 % Jenis erosi : erosi jurang/parit Daerah kritis dengan tangkapan air maksimal 10 Ha Lebar dan kedalaman jurang/alur/parit maksimal 3 x 3 m Panjang jurang/alur/parit maksimal 250 m Kemiringan jurang/alur/parit maksimal 5 %

Gambar Teknis Pengendali Jurang

Kondisi Awal

Pengendali jurang dengan Bambu

Gambar Teknis

Pengendali Jurang dengan batu

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan)
3. Pengendali Sisi Jalan Tujuan : Mengalirkan air limpasan secepatnya ke tempat yang aman Mengurangi timbulnya erosi sisi jalan

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan)
4. Pengendali Tebing Jalan Tujuan : Mengurangi bahaya longsoran yang disebabkan oleh pemotongan lereng untuk jalan Mengurangi bahaya longsoran yang disebabkan oleh pengelupasan bagian luar tanah urugan Mengurangi kecuraman lereng pada tebing jalan

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan)
5. Pengendali Tebing Sungai Merupakan : Bangunan yang dibuat untuk mengamankan tebing sungai dari gerusan air sungai dan aliran di atasnya

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan) 6. Dam Penahan Merupakan Bendungan kecil lolos air dengan kontruksi bronjong batu/trucuk bambu/kayu, yang dibuat pada alur jurang dengan tinggi maksimal 4 m Tujuan : Untuk mengendalikan endapan dan aliran permukaan dari daerah tangkapan air di bagian hulu Untuk meningkatkan permukaan air tanah di bagian hilir Persyaratan Teknis : Kemiringan lereng : 15 - 35 %, Jenis erosi : erosi permukaan Daerah tangkapan air sekitar 30 Ha, lokasi dam di tempat yang stabil.

Gambar Teknis Dam Penahan

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan)

7. Dam Pengendali Tipe Busur Merupakan Bendungan berbentuk lengkung atau busur, yang dibuat pada lembah atau alur sungai, sehingga areal di bulu bendung tersebut dapat menjadi waduk yang dapat menampung air dan sebagai tempat pengendapan sedimen terangkut hasil erosi dari daerah tangkapannya. Tujuan : Untuk mengendapkan sedimen terangkut Untuk menampung air yang ditujukan untuk pengairan

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


B. Pengendalian Sedimentasi secara Mekanis (Lanjutan) 7. Dam Pengendali Tipe Busur Persyaratan Teknis : Tempat-tempat di bagian hulu DAS kritis Di lembah bukit dg tingkat pengikisan tanah yang tinggi Luas daerah tangkapan maksimal 250 Ha Fluktuasi debit musim hujan dan kemarau yang cukup besar Lokasi harus terletak pada daerah yang stabil

Gambar Teknis Dam Pengendali Tipe Busur

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


C. Konservasi Air secara Mekanis
1. Sumur Resapan Merupakan teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat sehingga menyerupai sumur gali dengan kedalaman tertentu, berfungsi menampung air hujan yang jatuh dari atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya ke dalam tanah. Tujuan : Meresapkan air hujan ke dalam tanah Mengurangi air limpasan Mencegah adanya genangan air Mempertahankan muka air tanah agar tidak makin menurun Mencegah amblesan tanah akibat pengembilan air tanah Mengurangi konsentrasi pencemaran air

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


C. Konservasi Air secara Mekanis
1. Sumur Resapan (Lanjutan) Persyaratan Teknis : Kemiringan lereng kurang dari 25 % Formasi batuan atau tanah harus mampu meloloskan air Kondisi permukaan lahan telah berubah menjadi kedap air Jarak antara bangunan sumur resapan air dengan tangki septik dan sumur gali minimal 5 m, sedangkan jarak antar sumur resapan air minimal 2 m. Permukaan air tanah cukup dalam dari permukaan tanah, sehingga permukaan air tanah berada di bawah dasar sumur resapan air Penggunaan lahan : kawasan budidaya, pemukiman, dll

Gambar Teknis Sumur Resapan Air

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


C. Konservasi Air secara Mekanis (Lanjutan) 2. Embung Merupakan bangunan konservasi air berbentuk kolam berfungsi untuk menampung air hujan dan air limpahan atau air rembesan pada lahan sawah tadah hujan yang berdrainase baik. Tujuan : sebagai tempat persediaan air di musim kemarau, mengendalikan limpasan, serta dapat digunakan untuk berbagai keperluan (pertanian, peternakan dan rumah tangga) Persyaratan Teknis : Kemiringan lereng : 0 30 %, Penggunaan lahan : lahan tadah hujan Tekstur tanah liat s/d liat berdebu, Curah hujan kekurangan air sebesar 50 1000 mm/th

Gambar Teknis Embung

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis
1. Penanaman Rumput Merupakan penanaman rumput pada hillside ditches, pada tampingan teras bangku atau berupa strip rumput (Grass barier) Tujuan : Menstabilkan hillside ditches dan mengurangi biaya pemeliharaan Menghemat tenaga kerja pada kegiatan pemberantasan gulma Mencegah erosi pada sisi atas ditch dan secara bertahap mengurangi kelerengan Persyaratan Teknis : Untuk perlindungan sisi miring dan tepi ditch, rumput ditanam dengan jarak 30 cm x 30 cm Penanaman rumput bermuda dilakukan dengan perbanyakan stek batang, ditutup tanah, sehingga dapat memadatkan tanah

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan) 2. Penanaman Searah Kontur (Contour cropping) Merupakan cara penanaman tanaman yang searah garis kontur yaitu garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama pada tanah yang berlereng/miring. Tujuan : Menghambat kecepatan aliran permukaan Memperbesar peresapan air permukaan ke dalam tanah Menghemat biaya, tenaga dan waktu Persyaratan Teknis : Pada tanah dengan kemiringan 3 6 %, penanaman secara kontur sebaiknya tidak melebihi panjang 100 m, saluran pembuangan penting untuk diperhatikan

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan) 2. Penanaman Searah Kontur (Contour cropping) Persyaratan Teknis : Pada tanah dengan kemiringan 8 %, dianjurkan agar panjangnya tidak melebihi 65 m, saluran pembuangan penting untuk diperhatikan Penanaman secara kontur tidak efektif dilaksanakan pada tanah yang mempunyai kemiringan kurang dari 3 % dan lebih dari 8 % s/d 25 %

Gambar Teknis Penanaman Searah Kontur

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan)
3. Tanaman Penutup Tanah (Cover crop) Merupakan tanaman penutup tanah biasanya jenis leguminoseae atau rumput-rumputan (graminae), berfungsi sebagai pelindung tanah. Tujuan : Mengurangi penyinaran matahari yang langsung dipermukaan tanah, untuk megurangi evaporasi Mencegah energi tetesan air hujan Memperlambat energi aliran air dipermukaan Memperbesar peresapan air permukaan ke dalam tanah Menambah bahan organik tanah (seresah) Menambah zat hara N ke dalam tanah Menyediakan makanan ternak, meningkatkan pendapatan

Gambar Teknis Tanaman Penutup Tanah

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan) 4. Pertanaman Lorong (Alley cropping) Merupakan teknik konservasi tanah secara vegetatif dimana tanaman pangan atau tanaman pokok ditanam pada loronglorong yang dibentuk oleh pagar tanaman, seperti tanaman legum pohon atau semak. Tujuan : Mengendalikan tingkat erosi Memperbesar peresapan air permukaan ke dalam tanah Menghasilkan pupuk hijau atau mulsa untuk mendukung pertumbuhan tanaman pangan Memperbaiki kondisi tanah dan kehidupan mikroorganisme tanah serta fiksasi Nitrogen secara biologis oleh tanaman

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan) 5. Penanaman dalam Strip/Penanaman dalam Jalur Merupakan suatu sistem bercocok tanam dengan beberapa jenis tumbuhan, ditanam dalam jalur/strip yang berselang seling, disusun memotong lereng/menurut kontur. Tujuan : Mengendalikan penghanyutan tanah oleh aliran permukaan Mempercepat proses perbaikan fiika tanah Meningkatkan kesuburan tanah karena bertambahnya kandungan bunga tanah yang berasal dari akumulasi daun berbagai jenis tanaman (palawija, rumput & tanaman keras) Meningkatkan hasil tanaman pangan yang dibudidayakan

Gambar Teknis Penanaman dalam Strip

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan)
6. Hutan Rakyat Merupakan hutan yang dimiliki oleh rakyat, baik perorangan, kelompok maupun badan hukum dan terletak di luar kawasan hutan negara. Tujuan : Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menyediakan bahan baku industri, memperluas lapangan kerja serta meningkatkan mutu lingkungan Persyaratan Teknis : Didominasi oleh jenis tanmn kayu-kayuan, baik murni/campuran Kerapatan tanaman lebih dari 600 pohon/ha (jarak tanam 5 m x 3 m), tergantung dari umur tegakan serta tumbuh merata pada lahan milik

Gambar Teknis Hutan Rakyat

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan)
6. Agroforestry Merupakan sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan tanaman produksi, tanaman pertanian dan tanaman hutan atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yang sama Tujuan : Meningkatkan pendapatan per satuan lahan Erosi dapat ditekan karena ruang tumbuh terisi semua Hama dan penyakit tanaman lebih dapat dikendalikan Biaya perawatan tanaman dapat dihemat Meningkatkan kesejahteraan petani & perbaikan lingkungan

Gambar Teknis Agroforestry

Persyaratan Teknis : 1. Jenis tanaman dipilih jenis yang sudah dikenal 2. Pertumbuhannya cepat dan telah diketahui bagaimana cara menanam, memelihara dan memungut hasil 3. Tanah tidak tergenang air (lahan kering)

PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN AIR (KTA)


D. KTA Secara Vegetatif dan Agronomis (Lanjutan)
6. Mulsa Vertikal Merupakan pemanfaatan limbah tanaman baik berasal dari serasah gulma, cabang, ranting, batang maupun daun-daun bekas tebangan dengan memasukannya ke dalam saluran atau alur dibuat menurut kontur. Tujuan : Mengendalikan aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi Menampung dan mengendalikan aliran sedimen di sepanjang saluran teras dan bidang olah Memanfaatkan sisa tanaman secara mudah dan efisien Memperkaya pupuk organik (humus) Menekan kehilangan unsur hara

Gambar Teknis Mulsa Vertikal

KEARIFAN BUDAYA LOKAL

SAUR SEPUH
GUNUNG GAWIR CINYUSU SAMPALAN PASIR DATARAN LEBAK LEGOK SITU LEMBUR WALUNGAN BASISIR KAIAN AWIAN RUMATEUN KEBONAN TALUNAN SAWAHAN CAIAN BALONGAN PULASARAEUN URUSEUN RAWATEUN JAGAEUN

Sekian & Terima Kasih

DESIGEN BY AKI HARUN